LITERATURE REVIEW TEKNOLOGI PERBAIKAN TANAH
Disusun oleh:
Arraya Fredericko Romanza (22035020063)
Dosen Pengampu:
Himatul Farichah S.T., [Link].
NIP. 199312262020122013
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK DAN SAINS
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
2024
BAB I
PENGERTIAN
1.1 Vibro Compaction
Pengertian:
Vibro compaction adalah metode pemadatan tanah granular (seperti pasir dan kerikil)
dengan menggunakan alat getar (vibroflot) yang dimasukkan ke dalam tanah untuk
meningkatkan densitas dan stabilitas tanah.
Prinsip Kerja:
• Vibroflot dimasukkan ke dalam tanah hingga kedalaman tertentu.
• Alat menghasilkan getaran horizontal dan vertikal yang menyebabkan butiran
tanah bergerak dan menyusun lebih rapat.
• Air pori keluar selama proses, membantu pemadatan.
1.2 Dynamic Compaction
Pengertian:
Dynamic compaction adalah teknik pemadatan tanah dengan menjatuhkan beban berat
dari ketinggian tertentu ke permukaan tanah secara berulang untuk meningkatkan
densitas tanah.
Prinsip Kerja:
• Beban berat (biasanya 10–40 ton) dijatuhkan dari ketinggian 10–30 meter ke
permukaan tanah.
• Energi tumbukan merambat ke dalam tanah, menyebabkan rekonsolidasi dan
pergeseran partikel tanah.
• Proses diulang dalam pola tertentu untuk mencapai pemadatan yang merata.
1.3 Rapid Impact Compaction (RIC)
Pengertian:
RIC adalah metode pemadatan tanah dengan menggunakan palu hidrolik yang dijatuhkan
secara cepat dan berulang ke plat baja di permukaan tanah, menghasilkan getaran vertikal
impulsif untuk memadatkan tanah.
Prinsip Kerja:
• Palu hidrolik dijatuhkan ke plat baja sebanyak 40–60 kali per menit.
• Getaran dan impuls merambat ke bawah, memadatkan lapisan tanah hingga
kedalaman sekitar 6–10 meter.
• Alat ini dipasang pada ekskavator, memungkinkan mobilitas dan fleksibilitas
tinggi.
1.4 Latar Belakang
Pada proyek konstruksi di atas tanah lunak, seperti rawa atau endapan lempung,
diperlukan metode perbaikan tanah untuk meningkatkan daya dukung dan mengurangi
penurunan (settlement). Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah
Prefabricated Vertical Drain (PVD) yang dikombinasikan dengan beban awal atau
surcharge. Kombinasi ini dapat mempercepat proses konsolidasi dan meningkatkan
stabilitas tanah sebelum struktur utama dibangun[1]. Penerapan metode ini tidak terbatas
pada proyek jalan, namun juga banyak digunakan pada proyek non-jalan, seperti
pelabuhan, kawasan industri, bandara, hingga fondasi tangki penyimpanan.
1.5 Pengertian Prefabricated Vertical Drain (PVD)
PVD adalah material drainase vertikal buatan pabrik yang dipasang ke dalam tanah lunak
untuk mempercepat proses pelepasan air pori selama konsolidasi[2]. Biasanya terdiri dari
inti polimer berbentuk strip yang dilapisi oleh filter geotekstil. PVD membantu
mengurangi waktu konsolidasi primer dari bertahun-tahun menjadi beberapa bulan saja.
Tujuan utama PVD adalah mempercepat jalur aliran air pori dari dalam tanah ke
permukaan atau saluran horizontal.
1.6 Pengertian Surcharge
Surcharge adalah beban tambahan sementara yang diberikan di atas tanah lunak untuk
mempercepat proses konsolidasi sebelum pembangunan struktur permanen dilakukan.
Beban ini biasanya lebih besar dari beban struktur yang akan dibangun, sehingga tanah
"dipaksa" untuk mengalami penurunan lebih cepat dan stabilitas tanah dapat
ditingkatkan.[3]
Dengan memberikan surcharge, kelebihan tekanan air pori terdisipasi lebih cepat
melalui PVD, dan konsolidasi tanah terjadi dalam waktu yang lebih singkat.
1.7 Aplikasi PVD dan Surcharge untuk Proyek Non-Jalan
Meskipun metode ini banyak digunakan untuk perbaikan tanah dasar jalan, penerapan
PVD dan surcharge sangat penting dalam proyek non-road, terutama untuk struktur yang
memerlukan kestabilan tinggi seperti:
• Pelabuhan dan dermaga
• Bandara (runway dan apron)
• Tangki penyimpanan cairan (tank farm)
• Gudang besar dan kawasan industri reklamasi
• Gedung bertingkat di atas tanah lunak
Setiap aplikasi tersebut memerlukan kontrol penurunan yang baik dan kestabilan jangka
panjang, sehingga metode kombinasi PVD dan surcharge menjadi solusi yang ekonomis
dan efektif.
1.8 Keunggulan Metode
• Mempercepat waktu konsolidasi hingga 90%
• Biaya lebih rendah dibanding metode perbaikan mekanis (seperti stone column)
• Metode praktis untuk area luas
• Cocok untuk jenis tanah lempung lunak dan jenuh air
BAB II
PRINSIP KERJA
2.1 Vibro Compaction
Vibro Compaction merupakan metode perbaikan tanah yang bekerja berdasarkan prinsip
pemadatan melalui getaran. Alat utama yang digunakan adalah vibroflot, yaitu alat
berbentuk silinder panjang yang menghasilkan getaran horizontal dan sebagian vertikal
saat dimasukkan ke dalam tanah. Metode ini cocok untuk tanah berbutir seperti pasir
lepas, kerikil, dan urugan granular, dan tidak efektif untuk tanah lempung karena sifat
kohesifnya yang tinggi.
Mekanisme kerja vibro compaction adalah sebagai berikut:
• Vibroflot dimasukkan ke dalam tanah hingga kedalaman tertentu.
• Alat menghasilkan getaran dengan frekuensi tinggi, menyebabkan partikel tanah
bergerak, menyusun ulang, dan menjadi lebih padat.
• Selama proses berlangsung, air pori terdorong keluar melalui ruang antar partikel
tanah.
• Jika perlu, dapat ditambahkan air atau pasir tambahan untuk membantu proses
pemadatan dan mengisi rongga yang terbentuk.
Metode ini meningkatkan kepadatan relatif, menurunkan daya serap air, dan
meningkatkan daya dukung tanah serta mengurangi risiko likuifaksi.
2.2 Dynamic Compaction
Dynamic Compaction bekerja berdasarkan prinsip pemadatan melalui energi tumbukan
dari beban berat yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu. Biasanya digunakan untuk
pemadatan tanah pada proyek skala besar atau pada lokasi bekas timbunan, urugan, atau
lahan reklamasi.
Mekanisme kerjanya:
• Beban berat (10–40 ton) dijatuhkan dari ketinggian 10–30 meter ke permukaan
tanah.
• Energi kinetik yang dihasilkan menciptakan gelombang tegangan dalam tanah,
yang menyebabkan partikel tanah bergerak dan menyusun ulang menjadi lebih
padat.
• Proses dijalankan dalam beberapa tahapan (pass) dengan pola tertentu untuk
memastikan cakupan pemadatan yang merata.
Dynamic compaction efektif untuk tanah dengan kepadatan rendah, urugan, dan tanah
campuran. Pemadatan bisa tercapai hingga kedalaman 5–10 meter, tergantung berat
beban dan ketinggian jatuh.
2.3 Rapid Impact Compaction (RIC)
Rapid Impact Compaction atau RIC adalah pengembangan dari dynamic compaction
yang memanfaatkan palu hidrolik yang dijatuhkan ke plat baja dengan frekuensi tinggi.
Palu ini biasanya dipasang pada lengan ekskavator, membuat metode ini cepat, mobile,
dan fleksibel untuk berbagai jenis lahan.
Prinsip kerja RIC:
• Palu hidrolik memukul plat baja yang diletakkan di atas tanah, sebanyak 40–60
kali per menit.
• Setiap pukulan menciptakan getaran dan tekanan ke dalam tanah, menyebabkan
pemadatan hingga kedalaman 6–10 meter.
• Proses dilakukan dalam pola grid, dan sering dikombinasikan dengan sistem
monitoring untuk mengontrol hasil pemadatan.
RIC sangat cocok untuk proyek dengan waktu terbatas dan ruang sempit seperti
pelabuhan, kawasan industri, atau pemadatan urugan baru. Getaran lateral lebih kecil
dibanding dynamic compaction, sehingga lebih aman untuk area urban.
2.4 Mekanisme Konsolidasi Tanah Lunak
Tanah lempung lunak mengandung kadar air tinggi dan permeabilitas rendah, sehingga
saat dibebani, air pori tidak bisa langsung keluar[4]. Proses konsolidasi adalah keluarnya
air pori secara bertahap, sehingga tegangan efektif tanah meningkat dan tanah menjadi
lebih padat serta stabil.
Namun, tanpa bantuan, proses ini bisa berlangsung bertahun-tahun. Oleh karena itu, PVD
dan surcharge digunakan untuk mempercepat proses ini.
2.5 Cara Kerja Prefabricated Vertical Drain (PVD)
PVD dipasang secara vertikal ke dalam tanah dengan jarak dan kedalaman tertentu. Inti
PVD berfungsi menyalurkan air pori dari dalam tanah ke permukaan atau saluran
horizontal (sand blanket atau geotextile layer)[5].
Langkah Kerja PVD:
1. PVD dipasang menggunakan mandrel (alat dorong) hingga kedalaman tertentu.
2. Setelah dipasang, beban surcharge diberikan di atas permukaan.
3. Air pori dari dalam tanah mengalir horizontal ke PVD → naik ke permukaan →
tekanan air pori berkurang → konsolidasi dipercepat.
Dengan jarak antar PVD yang tepat (misalnya 1.0–1.5 meter), jalur aliran air menjadi
lebih pendek dibandingkan hanya dengan aliran vertikal alami.
2.6 Peran Beban Surcharge
Surcharge adalah beban tambahan yang sengaja diberikan untuk mempercepat pelepasan
air pori dan penurunan tanah.
Fungsi Surcharge:
• Mempercepat terjadinya settlement (penurunan tanah)
• Mengurangi risiko penurunan diferensial pasca pembangunan
• Digunakan dalam kombinasi PVD agar waktu konsolidasi jauh lebih singkat
Contoh: Jika tanpa PVD & surcharge waktu konsolidasi tanah lunak adalah 5 tahun,
maka dengan kombinasi keduanya bisa turun menjadi 6–9 bulan.
2.7 Skema Mekanisme PVD dan Surcharge (Deskripsi)
Bayangkan tanah lunak setebal 10 meter. PVD dipasang secara vertikal dengan jarak 1.2
meter. Di atasnya diletakkan beban tanah timbun setebal 3 meter (sebagai surcharge).
Maka:
• Air pori di tengah tanah yang awalnya hanya bisa keluar vertikal kini bisa
“melintir” ke PVD keluar secara horizontal dan vertikal
• Konsolidasi berlangsung lebih cepat dan merata
• Setelah tekanan air pori turun dan settlement stabil, beban surcharge bisa
diangkat/dimanfaatkan sebagai bagian struktur
2.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas
• Jarak antar PVD
• Kedalaman dan panjang PVD
• Jenis tanah dan permeabilitasnya
• Tebal dan berat beban surcharge
• Waktu tinggal (dwell time) surcharge
• Jenis material filter pada PVD
PVD mempercepat aliran air pori secara horizontal, sedangkan surcharge “memaksa”
tanah untuk melakukan konsolidasi lebih cepat. Kombinasi ini sangat efektif untuk
proyek non-jalan yang membutuhkan waktu singkat dan kontrol penurunan maksimal.
BAB III
STUDI KASUS
3.1. Studi Kasus 1: EVALUASI SETTLEMENT MENGGUNAKAN
SURCHARGE PRELOADING DENGAN PVD PADA PROYEK DI
BANDUNG SELATAN
3.1.1. Latar Belakang
Proyek ini menghadapi tantangan tanah kurang ideal untuk konstruksi, sehingga tim
memilih metode Surcharge Preloading yang dikombinasikan dengan PVD
(Prefabricated Vertical Drain). Teknik ini melibatkan:
• Pemasangan timbunan tanah setinggi 9,2 meter sebagai beban preload.
• Instalasi PVD sedalam 28 meter dengan pola segitiga dan jarak antar drainase 1,2
meter.
• Durasi proses perbaikan tanah mencapai 548 hari (sekitar 1,5 tahun).
Hasil di Lapangan:
• Penurunan tanah yang tercatat hanya 1,297 meter, lebih rendah dari perkiraan.
• Analisis numerik menggunakan program komputer mengungkap adanya tekanan
air berlebih (0,229 T/m²) di lapisan tanah setelah 548 hari, mengindikasikan
potensi penurunan lanjutan.
• Diprediksi penurunan tambahan akan mencapai 2,31 meter (90% konsolidasi)
pada hari ke-813,4 jika proses dilanjutkan.
Temuan Kritis:
1. Kesenjangan antara desain dan realita: Ada dugaan ketidakakuratan dalam
perhitungan awal atau kesalahan teknis saat pemasangan PVD dan timbunan.
2. Durasi proyek: Waktu 548 hari dinilai kurang optimal untuk mencapai
konsolidasi maksimal.
3. Pemantauan tekanan air: Tekanan air yang tersisa menjadi indikator penting
untuk evaluasi keamanan struktur.
Proyek ini menyoroti pentingnya validasi desain di lapangan dan pemantauan real-
time parameter tanah selama proses konsolidasi. Temuan ini bisa menjadi pembelajaran
berharga untuk proyek serupa, terutama di wilayah dengan karakter tanah lunak seperti
Bandung Selatan.
3.1.2. Rumusan Masalah
1. Berapa besar penurunan tanah yang terjadi jika dipadatkan menggunakan metode
surcharge preloading dengan PVD?
2. Berapa besar excess pore water pressure pada yang telah diperbaiki menggunakan
metode surcharge preloading dengan PVD?
3. Apa penyebab hasil perbaikan tanah dengan metode surcharge preloading dengan
PVD pada proyek ini kurang maksimal?
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui besar penurunan tanah yang terjadi setelah pemadatan menggunakan
metode surcharge preloading dengan PVD.
2. Mengetahui besar excess pore water pressure pada tanah yang telah diperbaiki
menggunakan metode surcharge preloading dengan PVD.
3. Mengetahui penyebab hasil perbaikan tanah dengan metode surcharge preloading
dengan PVD pada proyek ini kurang maksimal.
3.1.3. Surcharge preloading dengan PVD
Tidak semua tanah pada suatu lokasi sesuai dengan kebutuhan bangunan yang akan
berdiri di atasnya. Ada kalanya, suatu proyek harus dilakukan pada lokasi dengan kondisi
tanah yang tidak memadai. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk perbaikan tanah
adalah prakonsolidasi atau preconsolidation. Konsep dasar dari prakonsolidasi ialah
konsolidasi itu sendiri, yaitu proses keluarnya air dari dalam pori-pori tanah. Tujuan
utamanya ialah mengonsolidasikan tanah sehingga penurunan tanah di masa depan menjadi
lebih sedikit. Akibat tercapainya konsolidasi ini, tanah yang tadinya lunak menjadi lebih
layak padat dan memungkinkan untuk mendirikan bangunan di atasnya. Cara paling
sederhana yang dapat ditempuh untuk melakukan prakonsolidasi adalah dengan
memberikan beban di atas lapisan tanah yang ingin dikonsolidasikan. Metode ini umumnya
disebut surcharge preloading. Cara ini umumnya memakan waktu yang cukup lama,
sehingga muncullah kombinasi surcharge preloading dengan PVD yang mampu
mengonsolidasi tanah dalam waktu relatif lebih cepat. Tanpa adanya PVD, aliran air keluar
dari tanah akan menuju ke atas sesuai ketebalan lapisan tanah seperti pada Gambar Adanya
PVD akan menyebabkan konsolidasi menjadi lebih cepat, karena kandungan air yang
berada dalam radius influence point PVD bergerak secara horizontal ke arah PVD untuk
keluar melalui PVD, sehingga jarak yang ditempuh untuk keluar lebih pendek seperti pada
Gambar
PVD telah terbukti dapat mempercepat waktu konsolidasi suatu lapisan tanah. Dalam
peneilitian Gunawan et al. (2020), suatu lapisan tanah setebal 21 m yang diberi beban
timbunan setinggi 5 m akan mencapai derajat konsolidasi 90% dalam waktu 68,54 bulan.
Sementara itu dengan bantuan PVD, derajat konsolidasi 90% dicapai hanya dalam 9,68
bulan. Studi kasus lain yang berlokasi juga di Bandung Selatan oleh Wilson dan Susilo
(2018), menyimpulkan bahwa PVD membuat konsolidasi lapisan tanah 30 meter yang
awalnya sebesar 0,2602 meter menjadi 0,2132 meter.
Han (2015) menyatakan bahwa influence equivalent diameter (de) suatu PVD dinyatakan
seperti persamaan berikut.
Untuk PVD dengan pola persegi: de = 1,13s
Untuk PVD dengan pola segitiga: de = 1,06s
di mana s = jarak spasi antar PVD.
Prativi et al. (2019), dalam penelitiannya menyatakan bahwa semakin dekat jarak antar
PVD, maka semakin cepat pula suatu tanah untuk mencapai derajat konsolidasi tertentu.
Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa pada saat instalasi PVD menggunakan mandrel,
tanah di sekitar PVD menjadi terganggu dan menyebabkan terjadinya smearing effect,
seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Smearing effect menyebabkan timbulnya smearing
zone, yaitu zona yang terganggu akibat pemasangan PVD menggunakan mandrel. Pada
zona ini, konduktivitas hidrolik suatu tanah mengalami penurunan. Konduktivitas
hidrolik tanah undistrubed lebih besar 1,03 sampai 1,25 kali dibandingkan dengan tanah
pada daerah smear zone (Tran-Nguyen dan Edil, 2019).
Penggunaan PVD tidak selalu berjalan dengan lancar. Penyebab utamanya adalah
menurunnya permeabilitas PVD, sehingga kemampuan PVD untuk mendisipasi air
menjadi menurun. Akibatnya, waktu yang diperlukan PVD untuk mendisipasi seluruh air
di dalam lapisan tanah menjadi bertambah. Salah satu penyebab utamanya adalah
tertekuknya PVD. Penelitian Bo et al. (2016), menyatakan bahwa tekukan menjadi
penyebab utama berkurangnya kemampuan PVD dalam mengeluarkan air. PVD yang
terlipat mengalami penurunan kemampuan mengeluarkan air hingga sebesar 75% hingga
90%. Kendati demikian, besarnya penurunan dan peningkatan dipengaruhi oleh banyak
faktor lain seperti jarak antar PVD, jumlah tekukan, dan ketajaman tekukan. Selain
tertekuk, faktor lain yang dapat menyebabkan penurunan kinerja PVD adalah terjadinya
clogging. Umumnya, tanah lunak memiliki ukuran butiran yang relatif lebih besar
dibandingkan tanah lempung yang kaku. Seringkali, butiran tanah ikut terbawa oleh air
ketika air bergerak menuju PVD. Akan tetapi, butiran-butiran ini tidak dapat masuk ke
dalam filter membran PVD karena ukurannya yang besar. Akibatnya, butiran-butiran ini
menumpuk dan menutup jalan masuk air ke dalam PVD [6]. Selain itu menurut Chai dan
Carter (2011), pemasangan PVD yang terlalu lama juga akan menyebabkan berkumpulnya
partikel-partikel tanah di depan membran filter PVD. Disarankan PVD digunakan
maksimal selama enam bulan.
3.1.4. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama, data-data tanah dari lokasi
proyek, serta data PVD di lapangan dikumpulkan. Kemudian, data-data tersebut
digabungkan untuk kemudian diolah. Selanjutnya, data-data tersebut dimasukkan ke
dalam program beda hingga untuk dilakukan analisis. Hasil dari program berupa
penurunan dan besarnya excess pore water pressure. Hasil-hasil tersebut kemudian
dibandingkan dengan data lapangan, lalu digunakan untuk mengambil kesimpulan.
3.1.5. HASIL DAN PEMBAHASAN
Proyek gedung ini berlokasi di Bandung Selatan. Data ini tidak melampirkan data ukuran
bangunan, sehingga ukuran bangunan proyek ini diambil berdasarkan ukuran yang
terdapat pada aplikasi Googlearth seperti pada Gambar 6. Berdasarkan aplikasi tersebut,
didapatkan ukuran bangunan kurang lebih 30×60 meter. Proyek ini memiliki data tanah
berupa 1 buah titik bor dengan kedalaman 60 meter, 3 buah titik sondir dengan
kedalaman 25 30 meter, dan 1 buah titik CPTu dengan kedalaman 30 meter, serta hasil
uji laboratorium. Berdasarkan data bor, didapatkan pula bahwa muka air tanah terdapat
pada kedalaman 1 meter di bawah permukaan tanah. Rekap parameter tanah ditampilkan
dalam Tabel 1. sampai Tabel 3.
Hasil rekap tersebut kemudian dimasukkan ke dalam program beda hingga untuk dilakukan
analisis, untuk dibandingkan dengan kondisi penurunan di lapangan. Besarnya penurunan
di lapangan dinyatakan dengan settlement plate terdekat, yaitu SP38. Berdasarkan hasil
analisis menggunakan program beda hingga, derajat konsolidasi 90% pada titik SP38
dicapai pada hari ke-813,4 dengan besar penurunan total 2,43 meter. Sedangkan pada hari
titik tengah timbunan, derajat konsolidasi 90% dicapai pada hari ke-819,8 dengan besar
penurunan total 3,317 meter, sedangkan grafik penurunan total pada Gambar 8. Penurunan
terbesar terjadi pada lapisan 1 dan lapisan 2, yaitu pada kedalaman 0 sampai 21 meter,
seperti ditunjukkan Gambar 9. Adapun hasil analisis pada titik SP38 diuraikan
Nilai excess pore water pressure di permukaan tanah titik SP38 pada hari ke-548 adalah
sebesar 0,229 T/m2. Ini berarti air yang ada di dalam pori-pori tanah belum terdisipasi
seutuhnya. Air dalam pori-pori tanah masih mungkin terdisipasi dan mengakibatkan
terjadinya konsolidasi lebih jauh. Air baru terdisipasi seluruhnya pada hari ke-813,4, di
mana nilai excess pore water pressure pada titik SP38 telah bernilai 0 T/m2. Grafik nilai
excess pore water pressure
Berdasarkan hasil analisis, konsolidasi 90% pada tengah timbunan terjadi pada hari ke-
819,8 dan pada lokasi SP38 terjadi pada hari ke-813,4. Ini berarti, kondisi pada tanah akhir
perbaikan di lapangan pada hari ke-548 belum terkonsolidasi seutuhnya. Akan tetapi,
pelaksanaan perbaikan tanah di lapangan sudah dihentikan. Maka diduga terdapat
kesalahan dalam pelaksanaan perbaikan tanah di lapangan, ataupun dalam perhitungan
desain karena proses perbaikan tanah telah dihentikan ketika tanah baru mengalami
penurunan sebesar 1,297 meter. Adapun nilai derajat konsolidasi 90% dicapai pada hari
ke-813,4, dengan penurunan sebesar 2,43 meter. Dengan demikian, tanah masih dapat
mengalami penurunan lagi seiring dengan penambahan beban bangunan yang akan
didirikan di atasnya.
3.2. Metode Pelaksanaan Perbaikan Tanah Menggunakan Metode Preloading
dan Prefabricated Vertical Drain (PVD) Pada Pembangunan Jalan Lingkar
Utara Lamongan
3.2.1. Latar Belakang
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, ada kalanya juga diperlukan suatu
metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan di lapangan. Khususnya
pada saat menghadapi kendala-kendala yang diakibatkan oleh kondisi
lapangan yang tidak sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu penerapan
metode pelaksanaan konstruksi yang sesuai di lapangan akan sangat
membantu dalam penyelesaian proses pekerjaan konstruksi. Seperti pada
proyek pembangunan Jalan Lingkar Utara Lamongan ini merupakan daerah
tanah lunak yang memiliki kandungan air yang cukup tinggi dan tingkat
kompresi yang tinggi. Pembangunan jalan ini bertujuan sebagai pengganti
jalan nasional yang baru, dikarenakan pada jalan nasional saat ini memiliki
sudut (existing). Jadi sudut itu dapat menyebabkan kemacetan dan arus lalu
lintas yang padat dapat menyebabakan keamananya berkurang, apabila
kendaraan berat melintas
pada jalan yang memiliki sudut itu akan membuat badan kendaraanya
bergerak dari kiri dan kanan, maka dari itu dibuatlah jalan lingkar utara
lamongan sebagai pengganti jalan nasional. Pada pembangunan jalan lingkar
utara lamongan ini menggunakan metode Prefabricated Vertical Drain (PVD),
yaitu metode umum yang digunakan untuk memampatkan lapisan tanah lunak
dengan kapasitas daya dukung tanah dasar yang rendah. Sehingga tanah dasar
tersebut dapat memenuhi syarat sebagai landasan konstruksi di atasnya. Pada
pekerjaan pembangunan jalan nasional ini direncanakan akan selesai pada
akhir tahun 2024, maka dari itu proses penurunan tanah diusahakan secepat
mungkin. Dengan dipilihnya menggunakan metode Prefabricated Vertical
Drain (PVD) ini, diharapkan dapat mempercepat proses settlementnya, yang
tadinya bisa 7 tahun dapat dipercepat dengan menggunakan metode
Prefabricated Vertical Drain (PVD) menjadi 45 hari. Berdasarkan hal tersebut
maka diperlukan suatu metode rekayasa geoteknik untuk mempercepat
terjadiya proses penurunan tanah tersebut. Adapun salah satu cara penulis
yang dapat diterapkan untuk percepatan waktu penurunan konsolidasi adalah
dengan menggunakan metode Prefabricated Vertical Drain dan Preloading,
diharapkan dengan menggunakan metode Prefabricated Vertical Drain dan
Preloading maka besarnya penurunan setelah masa konstruksi dapat
dipercepat dan diperkecil, waktu konsolidasi dipercepat dan daya dukung
tanah diperbesar.
3.2.2. Metode Pelaksanaan
Pekerjaan Tahap pertama, sebelum memulai pelaksanaan proyek
pembangunan, harus ditentukan terlebih dahulu metode pelaksanaannya. Pada
tingkat organisasi proses perencanaan pelaksanaan suatu proyek kontruksi
sangat penting untuk menentukan terlebih dahulu metode kontruksi karena
setiap jenis metode kontruksi menawarkan karakteristik pekerjaan yang
berbeda-beda. Menentukan jenis metode kontruksi yang dipilij akan sangat
membantu menentukan jadwal proyek. Metode kontruksi yang berbeda
memiliki cakupan dan durasi pekerjaan yang berbeda. Terdapat faktor-faktor
yang mempengaruhi sifat lingkup pekerjaan yang akan dilakukan dan hal ini
harus diperhatikan dan diperhitungkan, yaitu :
1. Sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk
melaksanakan metode pelaksanaan kontruksi.
2. Ketersediaan peralatan yang mendukung pelaksanaan metode kontruksi
yang dipilih.
3. Bahan dan material yang cukup
4. Waktu pelaksanaan yang singkat disbanding lainnya
5. Biaya yang efisien
Oleh karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi pengerjaan, seperti ; desain
bangunan, lokasi pekerjaan dan ketersediaan dari tenaga kerja, bahan, dan
peralatan.
B. Perencanaan Timbunan Preload
Salah satu hal penting yang menentukan keberhasilan metode preloading
dengan PVD adalah dalam hal perencanaan timbunan preload. Preload harus
direncanakan sesuai dengan beban kontruksi (contruction load) dan beban
kerja (work load) yang akan berada diatas tanah dasar. Pembebanan awal
(preloading) akan menyebabkan tanah memampat dan stabil dalam menerima
beban.
C. Vertical Drain
Untuk mempercepat proses perbaikan, pemendekan saluran drainase
umumnya merupakan metode yang efektif, yaitu dengan memasang lubang
drainase didalam tanah. Drainase vertikal yang terbuat dari bahan yang sangat
mudah dipasang. Jarak antar masing masing saluran vertikal yaitu 1 meter
dengan kedalaman 18 meter. Jadi untuk saluran vertikal ini, panjang saluran
dipadatkan sebelum saluran vertikal tersebut dipaksa masuk ke dalam tanah
hingga kedalaman yang diinginkan. Pertama tanah diisi pasir yang menjadi
lapisan drainase dan tempat penampungan air. Setelah itu, kolom drainase
vertikal didorong kedalam tanah. Kemudian, pasir tersebut ditimbun hingga
ketinggian sesuai dengan preload atau surcharge pada lahan yang dipasang
vertical drain.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengajuan persiapan kerja Pekerjaan persiapan merupakan tahap awal
pekerjaan sebelum memulai pekerjaan, agar seluruh pekerjaan yang akan
dilakukan terlaksana sesuai rencana dan menghindari terjadinya kegagalan
sistem akibat benda tajam yang dapat merusak material pada saat proses
preloading dan PVD.
a. Pemeriksaan Pada tahap awal sebelum dilaksanakan pekerjaan, penyedia
jasa melakukan pengukuran dan pemeriksaan detail kondisi lokasi
pekerjaan terhadap gambar rencana.
b. Gambar Kerja (Shop Drawing) Pembuatan gambar kerja (shop drawing)
oleh Penyedia Jasa dibuat sesuai gambar desain dan menyesuaikan kondisi
awal lapangan hasil pemeriksaan.
c. Pembuatan Titik Acuan (Benchmark) Pembuatan titik acuan (benchmark)
harus dengan menggunakan patok kayu dan diwarnai dengan warna yang
cukup terang serta diberi nama agar mudah dipahami oleh semua pihak.
d. Pada area kerja yang mempunyai CBR < 3 dan dalam kondisi jenuh maka
sebelum dilakukan penimbunan area kerja tersebut perlu dipasang
geotekstil separator terlebih dahulu.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari perbaikan tanah menggunakan metode Preloading dan prefabricated
Vertical Drain (PVD) pada proyek pembangunan jalan lingkar utara lamongan, maka dapat
ditarik kesimpulkan sebagai berikut :
1. Metode drainase vertikal Prefabricated Vertical Drain (PVD) pada proyek ini
menggunakan formasi segi empat dengan jarak pemasangan antar PVD 1 meter dengan
kedalaman 15 meter.
2. Output hasil perencanaan preloading disertai PVD berupa tinggi timbunan preloading
yakni 6 meter dengan beban rencana operasional 20+70 kPa, dan pada area Platform untuk
mencapai penurunan konsolidasi 90% dibutuhkan waktu 45 hari, dengan penurunan 0,9 m.
3. Kombinasi kedua metode yang digunakan sebagai solusi pemecahan masalah perbaikan
tanah serta memberikan dampak yang signifikan terhadap proses pada konstruksi yakni
mampu mempersingkat waktu proses konsolidasi tanah dan menaikkan stabilistas tanah
timbunan pada area yang akan dijadikan platform.
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut.
Evaluasi Settlement Menggunakan Surcharge Preloading dengan PVD pada Proyek di
Bandung Selatan
Proyek gedung di Bandung Selatan ini terletak pada lokasi dengan lapisan tanah yang
lunak di bagian atasnya. Terbukti berdasarkan rekap parameter, tanah pada kedalaman 0
sampai 21 meter termasuk tanah lunak.
Berdasarkan hasil analisis program beda hingga, besar penurunan pada titik SP38 untuk
mencapai nilai konsolidasi 90% adalah sebesar 2,43 meter. Besarnya konsolidasi 90% ini
dapat dicapai dalam 813,4 hari, jika menggunakan tahapan pembebanan seperti yang
dilakukan di lapangan.
Berdasarkan hasil analisis program beda hingga, nilai excess pore water pressure pada
permukaan tanah titik SP38 ketika perbaikan tanah dihentikan atau hari ke-548 adalah
sebesar 0,229 kPa.
Proses perbaikan tanah dihentikan ketika penurunan di lapangan sebesar 1,297 meter.
Nilai ini masih belum mencapai besar penurunan untuk konsolidasi 90%, di mana
besarnya derajat konsolidasi yang dicapai adalah sebesar 53,37%.
Besarnya penurunan tanah di lapangan mengalami penyimpangan dari besarnya
penurunan hasil analisis program beda hingga dan terjadi akibat beberapa kemungkinan.
Sliding dan proses perbaikan tanah yang terlalu lama diduga menjadi faktor yang
kemungkinan besar menyebabkan terjadinya hal ini. Faktor lain yang mungkin
memengaruhi adalah clogging atau buckling pada PVD.
Tanah mengalami penurunan yang drastis setelah memasuki hari ke-365. Penulis
menduga hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan, seperti adanya lapisan tanah yang
berubah menjadi normally consoldiated akibat penambahan beban pada tahapan tersebut,
atau dimulainya konsolidasi sekunder. Adapun saran untuk pengembangan penelitian ini
lebih lanjut adalah sebagai berikut.
Analisis selanjutnya dapat melakukan pengecekan terhadap kapasitas PVD, serta
pelaksanaan instalasinya di lapangan, seperti jarak dan kedalaman.
Dampak clogging dapat diperhitungkan lebih lanjut dalam analisis selanjutnya.
Untuk analisis selanjutnya, disarankan memperhitungkan konsolidasi sekunder.
Kombinasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan beban surcharge merupakan solusi
efektif untuk mempercepat konsolidasi tanah lunak pada proyek non-jalan. Metode ini
terbukti dapat mengurangi waktu konsolidasi, mengendalikan penurunan tanah, dan
meningkatkan stabilitas sebelum pembangunan struktur berat. Dengan penerapan yang
tepat, metode ini dapat meningkatkan efisiensi waktu dan biaya proyek secara
keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Purnomo, A., et al., 'Geotechnical Solutions in North Jakarta Reclamation Project,'
Jurnal Teknik Sipil, vol. 18, no. 2, pp. 110–119, 2021.
[2] Wibowo, A., and Santosa, R., 'Performance of Vertical Drain in Airport
Construction, Indonesia,' Procedia Engineering, vol. 171, pp. 1234–1240, 2020.
[3] Indrawan, H., and Mulyadi, D., 'Pengaruh Prefabricated Vertical Drain dan Surcharge
terhadap Konsolidasi Tanah Lempung,' Jurnal Konstruksi, vol. 6, no. 1, pp. 55–64,
2020.
[4] Rahmawati, D., 'Studi Aplikasi PVD pada Tanah Lunak untuk Proyek Industri,'
Jurnal Geoteknik Indonesia, vol. 9, no. 3, pp. 87–95, 2019.
[5] Iskandar, R., 'Teknologi Perbaikan Tanah Menggunakan Vertical Drain dan
Surcharge,' Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil, pp. 201–207, 2021.
[6] Wijaya, B., and Nugroho, R., 'Aplikasi PVD dan Surcharge pada Proyek
Pelabuhan,' Jurnal Infrastruktur Maritim, vol. 5, no. 2, pp. 44–51, 2022.
[7] Firdaus, M. A., 'Analisis Konsolidasi dengan Metode Prefabricated Vertical Drain,'
Jurnal Mekanika Tanah dan Pondasi, vol. 4, no. 1, pp. 22–30, 2020.
[8] Susilo, Y., and Dewi, A., 'Studi Kasus PVD untuk Proyek Kawasan Industri
Reklamasi,' Jurnal Teknik Sipil Nusantara, vol. 7, no. 4, pp. 189–198, 2023.
[9] Pratama, D., 'Efektivitas PVD dan Surcharge dalam Percepatan Konsolidasi,' Jurnal
Teknologi Konstruksi, vol. 11, no. 1, pp. 66–72, 2020.
[10] Lestari, F., 'Evaluasi Proyek Bandara Menggunakan Prefabricated Vertical Drain,'
Jurnal Infrastruktur Transportasi, vol. 3, no. 2, pp. 99–107, 2022.
[11] A. M. Hidayati, D. M. Dodiek, and W. Ardana, “KOMBINASI PRELOADING
DAN PENGGUNAAN PRE-FABRICATED VERTICAL DRAINS UNTUK
MEMPERCEPAT KONSOLIDASI TANAH LEMPUNG LUNAK (STUDI
KASUS TANAH LEMPUNG SUWUNG KANGIN),” 2008.
[12] Y. Lu, “Predicting deformation of PVD improved deposit under vacuum pressure
and surcharge load,” 2019.
[13] M. C. Yapriadi, I. Sumarli, and D. A. Iskandar, “EVALUASI SETTLEMENT
MENGGUNAKAN SURCHARGE PRELOADING DENGAN PVD PADA
PROYEK DI BANDUNG SELATAN,” 2020.
[14] P. Jalan, T. Pekanbaru -Padang, E. Surya Pratama, and T. E. Wulandari, “N o 1 T a
h u n 2 0 2 4 ANALISIS KONSOLIDASI MENGGUNAKAN PRELOADING
DAN PREFEBRICATED VERTICAL DRAIN (PVD) PADA PROYEK.”
[15] R. A. 1✉ and S. Wulandari, “PERBAIKAN TANAH LEMPUNG LUNAK
DENGAN METODE PREFABRICATED VERTICAL DRAIN (PVD).”
[16] M. C. Yapriadi, I. Sumarli, and D. A. Iskandar, “EVALUASI SETTLEMENT
MENGGUNAKAN SURCHARGE PRELOADING DENGAN PVD PADA
PROYEK DI BANDUNG SELATAN,” 2020.