0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Teori dan Klasifikasi Hipertensi

Dokumen ini membahas hipertensi, termasuk definisi, klasifikasi, manifestasi klinis, faktor risiko, patofisiologi, dan komplikasinya. Hipertensi adalah kondisi tekanan darah tinggi yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung. Faktor risiko meliputi keturunan, usia, jenis kelamin, stres, dan gaya hidup tidak sehat.

Diunggah oleh

ibs.pkujatinom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Teori dan Klasifikasi Hipertensi

Dokumen ini membahas hipertensi, termasuk definisi, klasifikasi, manifestasi klinis, faktor risiko, patofisiologi, dan komplikasinya. Hipertensi adalah kondisi tekanan darah tinggi yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung. Faktor risiko meliputi keturunan, usia, jenis kelamin, stres, dan gaya hidup tidak sehat.

Diunggah oleh

ibs.pkujatinom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori Hipertensi


1. Pengertian
Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan penyakit darah tinggi adalah keadaan
dimana tekanan darah berada diatas normal atau optimal yaitu 120 mmHg untuk sistolik
dan 80 mmHg untuk [Link] ini dikategorikan sebagai the silent disease karena
penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan
darahnya. Hipertensi terjadi dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus bias
memicu stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan merupakan penyebab utama gagal
ginjal kronik (Purnomo, 2009).
Hipertensi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah
arteri secara terus menerus lebih dari suatu periode (Udjianti, 2010 h.107). Hipertensi
didiagnosis bila tekanan darah sistolik (TDS) ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolic
(TDD) ≥ 90 mmHg. Hipertensi yang sering dialami lansia adalah hipertensi sistolik
terisolasi atau isolated systolic hypertension (ISH) adalah bila TDS ≥ 140 mmHg
sedangkan TDD ≤ 90 mmHg (Darmojo, 2010).

2. Klasifikasi hipertensi
a. Klasifikasi berdasarkan etiologi
Klasifikasi hipertensi berdasarkan etiologi menurut Wijaya dan Putri (2013 h.52) :
1) Hipertensi essensial (primer)
Merupakan 90% dari kasus penderita hipertensi, dimana sampai saat ini belum
diketahui penyebabnya secara pasti. Beberapa factor yang berpengaruh dalam
terjadinya hipertensi essensial, seperti : factor genetic, stress dan psikologis, serta
factor lingkungan dan diet (peningkatan penggunaan garam dan berkurangnya
asupan kalium dan kalsium).
2) Hipertensi sekunder
Pada hipertensi sekunder, penyebab dan patofisiologi dapat diketahui dengan jelas
sehingga lebih mudah untuk dikendalikan dengan obat-obatan. Penyebab
hipertensi sekunder diantaranya berupa kelainan ginjal seperti tumor, diabetes,
kelainan adrenal, kelainann aorta, kelainan endokrin lainya seperti obesitas,
resistensi insulin, hipertiroidtisme, dan pemakaian obat-obatan seperti kontrasepsi
oral dan kortikosteroid.
b. Klasifikasi berdasarkan derajat hipertensi :
Hipertensi menurut Adib (2009) dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasi tekanan
darah orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yaitu sebagai berikut :
Tabel [Link] Tekanan Darah Orang Dewasa Berusia ≥18 Tahun
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolic (mmHg)
Normal <130 <85
Normal tinggi 130-139 85-89
Hipertensi
Stadium 1 ( ringan) 140-159 90-99
Stadium 2 (sedang) 160-179 100-109
Stadium 3 (berat) 180-209 110-119
Stadium 4 (sangat
≥210 ≥120
berat)
Sumber : Adib (2009)
Derajat hipertensi berdasarkanThe SeventhReport of The Joint National Committee
on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure(JNC
VII) :
Table 2. Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII
Tekanan Sistolik Tekanan Diastolic
Derajat
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 dan <80
Pre hipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥160 atau ≥100
Sumber :Wijaya dan Putri (2013)
Batasan hipertensi pada orang dewasa berdasarkan tekanan darah sistolik dan
diastolic menurut perhimpunan hipertensi Indonesia (PHI), yaitu :
Table 3. Klasifikasi hipertensi menurut PHI
Tekanan Sistol Tekanan Diastol
Kategori
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 dan <80
Pre hipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi tahap 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi tahap 2 ≥160-179 atau ≥100
Hipertensi Sistol
≥140 dan ≤90
Terisolasi
Sumber : Sani, 2008

3. Manifestasi Klinis Hipertensi


Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada
seseorang dengan tekanan darah yang normal hipertensi yaitu sakit kepala, pusing,
gelisah, jantung berdebar, perdarahan hidung, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah,
telinga berdenging, tekuk terasa berat, berdebar dan sering kencing di malam hari. Gejala
akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai meliputi gangguan penglihatan, saraf,
jantung, fungsi ginjal dan gangguan serebral (otak) yangmengakibatkan kejang dan
perdarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, ganguan kesadaran
hingga koma (Wijaya dan Putri, 2013 h.55).

4. Faktor Risiko Hipertensi


Faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi antara lain(Potter, 2010 h.206) :
a. Keturunan
Faktor keturunan dari orang tua berperan penting dalam menentukan status anak
tersebut menderita hipertensi atau tidak. Semakin dekat hubungan darah atau
keturunan seseorang dengan orang yang menderita hipertensi, akan meningkatkan
risiko orang tersebut terkena hipertensi. Riwayat keluarga dengan hipertensi atau
keturunan terbukti sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi. Orang dengan orang
tuanya (ayah, ibu, kakek, nenek) yang memiliki riwayat hipertensi berisiko terkena
hipertensi sebesar 4,04 kali dibandingkan dengan orang yang memiliki orang tua tanpa
menderita hipertensi.
b. Umur
Umur merupakan salah satu faktor risiko terjadinya [Link] hipertensi
meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan biasanya pada umur ≥40
[Link] darah cenderung meningkat mulai umur remaja awal hingga remaja
akhir dan menjelang dewasa [Link] meningkat lebih nyata selama
pertumbuhan dan pematangan fisik umur dewasa akhir sampai umur tua karena sistem
sirkulasi darah [Link] pembuluh darah sering mengalami penyumbatan,
dinding pembuluh darah menjadi keras dan tebal serta elastisitasnya berkurang dan
menyebabkan tekanan darah menjadi [Link] pada umur kurang dari 35
tahun dapat meningkatkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur.

c. Jenis Kelamin
Jenis kelamin diduga berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Laki-laki cenderung
memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi karena memiliki gaya hidup
yang tidak sehat, misalnya minum minuman beralkohol dan kebiasaan merokok.
Sebelum menepouse, perempuan memiliki hormon esterogen yang berfungsi
meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). HDL yang tinggi pada
perempuan mampu mencegah terjadinya proses aterosklerosis yang dapat
menyebabkan terjadinya hipertensi. Akan tetapi setelah menopause tekanan darah
perempuan akan meningkat, bahkan jauh lebih tinggi daripada laki-laki. Setelah umur
65 tahun kejadian hipertensi pada wanita akan lebih tinggi daripada laki-laki yang
disebabkan oleh faktor hormonal.
d. Stres
Tekanan mental akibat stres dapat memicu penurunan aliran darah ke jantung sehingga
meningkatkan risiko kematian terutama pada orang dengan penyumbatan arteri
sebelumnya. Stres meningkatkan kebutuhan akan oksigen karena tekanan darah dan
kecepatan detak jantung meningkat. Pada waktu yang sama, pengerasan arteri
menghambat aliran darah dengan lebih parah.
Keterkaitan antara stres dengan hipertensi bisa disebabkan karena adanya rangsangan
saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara [Link] stres
berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap.
e. Ras
Orang Afrika dan Amerika cenderung memiliki frekuensi hipertensi lebih tinggi
dibandingkan orang [Link] pada orang berkulit hitam paling sedikit dua
kalinya pada orang berkulit putih sehingga hipertensi lebih berat pada ras kulit hitam.
Mortalitas pasien laki-laki berkulit hitam dengan tekanan darah diastolik 115 atau
lebih, sehingga 3,3 kali lebih tinggi daripada laki-laki berkulit putih, dan 5,6 kali bagi
wanita berkulit putih. Kecenderungan populasi ini terhadap hipertensi dihubungkan
dengan faktor genetik dan lingkungan.
f. Kebiasaan Merokok
Hipertensi banyak ditemukan pada orang dengan kebiasaan merokok, kandungan
kimia yang ada dalam rokok dapat memperparah kondisi hipertensi [Link]
yang terkandung dalam rokok dapat merusak lapisan dinding arteri berupa [Link]
yang terbentuk dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga
meningkatkan tekanan [Link] nikotin di dalam rokok dapat meningkatkan
hormon epinefrin yang dapat membuat pembuluh darah arteri [Link]
monoksida dari pembakaran rokok mengakibatkan jantung bekerja lebih keras untuk
menggantikan pasokan oksigen ke jaringan tubuh. Jantung yang bekerja lebih keras
akan menyebabkan curah jantung juga meningkat sehingga tekanan darah naik. Sekitar
50% kejadian hipertensi dapat dicegah dengan menghilangkan faktor kebiasaan
merokok.
g. Kurang Aktivitas Fisik
Kurang aktivitas fisik atau olahraga yang tidak ideal akan meningkatkan risiko
terjadinya obesitas yang merupakan salah satu faktor risiko hipertensi. Orang yang
aktivitas fisiknya atau olahraganya kurang memiliki risiko terkena hipertensi sebesar
4,73 kali dibandingkan dengan orang yang memiliki kebiasaan olahraga yang ideal
atau aktivitas fisik yang cukup. Aktivitas fisik yang cukup dan olahraga yang ideal
dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah, oleh
karenanya sering dihubungkan dengan kejadian hipertensi. Selain itu, aktivitas fisik
atau olahraga juga berkaitan dengan peran obesitas pada hipertensi.
Faktor resiko tersebut sesuai dengan penelitian Arifin dkk (2016) yang meneliti
tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada kelompok
lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Petangi Kabupatan Badung, penelitian tersebut
mnyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara genetik, jenis kelamin,
olahraga, dan stress dengan kejadian hipertensi pada lansia.
5. Patofisiologi Hipertensi
Tekanan darah adalah tekanan yang diberikan oleh darah pada dinding pembuluh
darah. Pengaturan tekanan darah adalah proses yang komplek menyangkut pengendalian
ginjal terhadap natrium dan retensi air, serta pengendalian system saraf terhadap tonus
pembuluh darah. Ada dua factor utama yang mengatur tekanan darah, yaitu darah yang
mengalir dan tahanan pembuluh darah [Link] yang mengalir ditentukan oleh
volume darah yang dipompakan oleh ventrikel kiri setiap kontraksi dan kecepatan denyut
[Link] vaskuler perifer berkaitan dengan besarnya lumen pembuluh darah
[Link] sempit pembuluh darah, makin tinggi tahan terhadap aliran [Link],
semkain menyempit pembuluh darah, semakin meningkat tekanan darah.
Dilatasi dan kontraksi pembuluh-pembuluh darah dikendalikan oleh system saraf
simpatis dan sistem renin-angiostensin. Apabila system saraf simpatis dirangsang,
katekolamin seperti epineprin dan norepinephrine akan dikeluarkan. Kedua zat kimia ini
menyebabkan kontraksi pembuluh darah meningkatnya curah jantung dan kekuatan
kontraksi [Link] halnya pada system renin-angiotensin, yang apabila distimulasi
juga menyebabkan vasokontriksi pada pembuluh-pembuluh darah (Baradero, 2008
h.51).Pada lanjut usiapatofisiologi terjadinya hipertensi berbeda dengan yang terjadi pada
dewasa muda. Factor yang berperan terhadap terjadinya hipertensi pada lanjut usia adalah
(Darmojo, 2010) :
a. Renin : Tingginya kadar renin menyebabkan vasokontriksi dan peningkatan volume
darah (akibat meningkatnya retensi garam dan cairan pada ginjal), mengakibatkan
tingginya kadar tekanan darah.
b. Peningkatan sensitivitas terhadap asupan garam : Dengan bertambahnya usia semakin
sensitif terhadap peningkatan atau penurunan kadar natrium. Ini menyebabkan
penurunan fungsi ginjal dengan penurunan perfusi ginjal dan laju filtrasi
[Link] elastisitas pembuluh darah perifer : Akibat proses menua akan
meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer yang mengakibatkan hipertensi
sistolik.
c. Penurunan elastisitas pembuluh darah perifer akibat proses menua akan meningkatkan
resistensi pembuluh darah perifer yang pada akhirnya mengakibatkan hipertensi
sistolik saja (ISH).
d. Perubahan ateromatous : Akibat proses menua menyebabkan disfungsi endotel yang
berlanjut pada pembentukan berbagai sitokin dan substansi kimiawi lain yang
kemudian menyebabkan resorbi natrium di tubulus ginjal, meningkatkan proses
sklerosis pembuluh darah perifer dan keadaan lain berhubungan dengan kenaikan
tekanan darah.

6. Pathway
7. Komplikasi Hipertensi
Menurut Aspiani (2015 h.220) hipertensi memiliki potensi menjadi komplikasi berbagai
[Link] hipertensi tersebut diantaranya adalah stroke hemoragik, penyakit
jantung hipertensi, penyakit arteri koronaria, aneurisma, gagal ginjal, dan ensefalopati
hipertensi.
a. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah pecah sehingga aliran darah yang
normal menjadi terhambat sehingga darah merembes pada suatu daerah di otak dan
merusaknya. Sekitar 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada pasien hipertensi.
Pembuluh darah menjadi lemah dan mudah pecah akibat tekanan pada pembuluh darah
yang lebih besar pada penderita [Link] pembuluh darah di otak dapat
menyebabkan sel-sel otak yang seharusnyamendapatkan asupan oksigen dan nutrisi
yang dibawa melalui pembuluh darah tersebut menjadi kekurangan dan akhirnya mati.
b. Penyakit Jantung
Bertambahnya beban jantung akibat meningkatnya resistensi terhadap pemompaan
darah dari ventrikel kiri terjadi seiring dengan tekanan darah yang [Link]
tersebut juga mengakibatkan hipertrofi ventrikel kiri untuk meningkatkan
[Link] ditandai dengan bertambahnya ketebalan dinding, fungsi ruang
yang memburuk, dan dilatasi ruang jantung.
c. Penyakit Arteri Koronari
Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya arteri koronaria, bersama dengan
diabetes [Link] terbentuk pada percabangan arteri yang ke arah arteri koronaria
kiri, arteri koronaria kanan, dan jarang pada arteri [Link] darah mengalami
obstruksi permanen akibat akumulasi plak atau [Link] gas dan
nutrisi ke miokardium terhambat akibat sirkulasi kolateral berkembang di sekitar
obstruksi [Link] sirkulasi kolateral sebagai penyedia suplai oksigen
yang adekuat ke sel yang berakibat terjadinya arteri koronaria.
d. Aneurisma
Aneurisma dapat terjadi karena pelebaran pembuluh darah akibat dinding pembuluh
darah aorta terpisah atau disebut aorta [Link] kepala yang hebat serta sakit di
perut sampai pinggang bagian belakang dan di ginjal adalah gejala dari penyakit
aneurisma. Aneurisma pada perut dan dada penyebab utamanya pengerasan dinding
pembuluh darah karena proses penuaan (aterosklerosis) dan tekanan darah tinggi
memicu timbulnya aneurisma.
e. Gagal Ginjal
Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis dimana terjadi kerusakan ginjal yang
progresif dan tidak dapat diperbaiki dari berbagai [Link] satunya pada bagian
yang menuju [Link] terjadinya hipertensi pada gagal ginjal kronis
karena penimbunan garam dan air, atau sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAA).
f. Ensefalopati Hipertensi
Ensefalopati hipertensi merupakan suatu keadaan peningkatan parah tekanan arteri
disertai dengan mual, muntah, dan nyeri kepala yang belanjut ke koma dan disertai
tanda klinik difisit [Link] tidak segera ditangani ensefalopati hipertensi dapat
berlanjut menjadi stroke, ensefalopati menahun, atau hipertensi maligna dengan sifat
reversibilitas jauh lebih lambat dan jauh lebih meragukan.
8. Penatalaksanaan
a. Farmakologis
Terapi farmakologis merupakan terapi dengan menggunakan obat-obatan yang dapat
membantu menurunkan serta menstabilkan tekanan darah, serta menurunkan risiko
terjadinya komplikasi akibat hipertensi.
Berdasarkan Syamsudin (2011h.33) Obat anti hipertensi dapat dibagi :
1) Diuretik Tiazid
Diuretik tiazid seperti hidroklorotiazid sering diberikan sebagai terapi hipertensi
baris [Link] tiazid adalah diuretik dengan potensi menengah yang dapat
menurunkan tekanan darah, dimulai dengan peningkatan ekskresi natrium dan air
sehingga volume ekstrasel menurun diikuti dengan penurunan isi sekuncup jantung
dan aliran darah [Link]-obat ini melawan retensi natrium dan air yang dapat
terjadi bersama obat lain yang digunakan dalam pengobatan hipertensi.
2) Beta Blocker
Beta blocker memblok beta-adrenoseptor dan biasanya digunakan sebagai terapi
hipertensi baris [Link] diklasifikasikan menjadi reseptor beta-1 dan
reseptor [Link] beta-1 dapat ditemukan di ginjal, dan utama pada
[Link] beta-2 dapat ditemukan di jantung, dan banyak terdapat pada
paru-paru, pembuluh darah perifer, dan otot [Link] beta juga dapat
ditemukan di otak. Stimulasi reseptor beta pada otak dan perifer akan menyebabkan
peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis akibat pelepasan neurotransmitter. Efek
akhirnya adalah peningkatan cardiac output, peningkatan tahanan perifer dan
peningkatan sodium yang diperantarai aldosteron dan retensi air. Terapi beta
blocker akan mengantagonis semua efek tersebut sehingga terjadi penurunan
tekanan darah.
3) ACE Inhibitor
Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEi) adalah obat yang diberikan
sebagai terapi anti hipertensi yang dianjurkan ketika obat baris pertama merupakan
kontraindikasi atau tidak [Link] menurunkan tekanan darah dengan
mengurangi resistensi vaskular perifer tanpa meningkatkan curah jantung,
kecepatan dan kontraktilasi.

4) Alpha Blocker
Alpha blocker memblok adrenoseptor alfa-1 [Link] blocker terdiri dari
doksazosin, prazosin, dan [Link]-obat ini menurunkan resistensi vaskular
perifer dan menurunkan tekanan darah arterial dengan menyebabkan relaksasi otot
polos arteri dan [Link]-obatan ini dapat menyebabkan perubahan curah jantung,
aliran darah ginjal, dan kecepatan filtrasi glomerulus sehingga takikardia jangka
panjang dan pelepasan renin tidak [Link] samping yang muncul dapat berupa
hipotensi postural yang sering terjadi pada pemberian dosis pertama kali.
b. Non Farmakologis
Penatalaksanaan hipertensi secara non farmakologis menurut Aspiani (2015 h.218 )
antara lain :
1) Diet Rendah Garam
Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler tubuh yang memiliki fungsi
menjaga keseimbangan cairan dan asam basa tubuh serta berperan dalam transmisi
saraf dan kontraksi [Link] natrium berlebih dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan edema dan/atau
hipertensi.
2) Diet Rendah Lemak
Konsumsi lemak berlebih dapat meningkatkan risiko kejadian hipertensi, terutama
lemak jenuh. Konsumsi lemak jenuh berlebih dapat mengakibatkan kadar lemak
dalam tubuh meningkat, terutama kolesterol. Kolesterol yang berlebih akan
menumpuk pada dinding pembuluh darah sehingga mengakibatkan aliran darah
tersumbat dan tekanan darah menjadi meningkat.
3) Berhenti Merokok
Kandungan nikotin di dalam rokok sangat berbahaya. Nikotin akan masuk ke dalam
aliran darah dan masuk ke otak. Otak memberikan sinyal kepada kelenjar adrenal
untuk melepaskan hormon adrenalin. Hormon adrenalin akan menyempitkan
pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat. Gas karbon monoksida dapat
menyebabkan pembuluh darah tegang dan kondisi kejang otot sehingga tekanan
darah [Link] sebanyak 2 batang mampu meningkatkan 10 mmHg tekanan
darah sistolik dan diastolik. Peningkatan tekanan darah akan menetap hingga 30
menit setelah berhenti menghisap rokok. Pada saat efek nikotin hilang secara
perlahan, maka tekanan darah juga menurun perlahan. Namun, pada perokok berat,
tekanan darah akan selalu berada pada level tinggi.
4) Manajemen Stres
Stres adalah respon alami dari tubuh dan jiwa seseorang pada saat seseorang
mengalami tekanan dari lingkungan. Stres berkepanjangan akan menyebabkan
ketegangan dan kekhawatiran terus-menerus. Hal tersebut dapat merangsang tubuh
mengeluarkan hormon adrenalin yang menyebabkan jantung menjadi berdetak lebih
cepat dan kuat sehingga tekanan darah meningkat.
5) Olahraga
Dalam ambardani (2009), secara psikologis, olahraga dapat meningkatkan mood,
mengurangi resiko pikun, dan mencegah depresi. Secara social, olahraga dapat
mengurangi ketergantungan pada orang lain, mendapat banyak teman, dan
meningkatkan produktivitas. Olahraga dan latihan pergerakan secara teratur sangat
penting bagi lansia karena dapat menanggulangi masalah akibat perubahan fungsi
tubuh, dan olahraga sangat berperan penting dalam pengobatan tekanan darah
tinggi. Salah satu olahraga untuk lansia adalah senam bugar lansia, senam bugar
lansia mampu meningkatkan kesegaran jasmani, mendorong jantung bekerja secara
optimal, melancarkan sirkulasi darah, memperkuat otot, mencegah pengeroposan
tulang, membakar kalori, mengurangi stress dan menurunkan tekanan darah.

9. Diit hipertensi
a. Diet Hipertensi diberikan kepada pasien dengan tekanan darah di atas normal
1) Tujuan diet
a) Membantu menurunkan tekanan darah
b) Membantu menghilangkan penimbunan cairan dalam tubuh atau edema atau
bengkak
2) Syarat diet:
a) Makanan beraneka ragam mengikuti pola gizi seimbang
b) Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita
c) Jumlah garam disesuaikan dengan berat ringannya penyakit dan obat yang
diberikan

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian secara Umum
a. Identitas Pasien
Hal-hal yang perlu dikaji pada bagian ini yaitu antara lain: Nama, Umur, Jenis
Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Agama, Status Mental, Suku, Keluarga/orang
terdekat, alamat, nomor registrasi.
b. Riwayat atau adanya factor resiko
1) Riwayat garis keluarga tentang hipertensi
2) Penggunaan obat yang memicu hipertensi
c. Aktivitas / istirahat
1) Kelemahan,letih,napas pendek,gaya hidup monoton.
2) Frekuensi jantung meningkat
3) Perubahan irama jantung
4) Takipnea
d. Integritas ego
1) Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau marah
kronik.
2) Faktor faktor stress multiple (hubungan, keuangan yang berkaitan dengan
pekerjaan).
e. Makanan dan cairan
1) Makanan yang disukai, dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak,
tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng,keju,telur)gula-gula yang
berwarna hitam, kandungan tinggi kalori.
2) Mual, muntah.
3) Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat atau menurun).
f. Nyeri atau ketidak nyamanan
1) Angina (penyakit arteri koroner /keterlibatan jantung)
2) Nyeri hilang timbul pada tungkai.
3) Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
4) Nyeri abdomen.

Pengkajian Persistem
a. Sirkulasi
1) Riwayat hipertensi, ateroskleorosis, penyakit jantung koroner atau katup dan
penyakit cerebro vaskuler.
2) Episode palpitasi,perspirasi.
b. Eleminasi
1) Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi atau obtruksi atau
riwayat penyakit ginjal masa lalu.
c. Neurosensori
1) Keluhan pusing.
2) Berdenyut, sakit kepala subokspital (terjadi saat bangun dan menghilang
secara spontan setelah beberapa jam).
d. Pernapasan
1) Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja
2) Takipnea, ortopnea, dispnea noroktunal paroksimal.
3) Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.
4) Riwayat merokok
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
c. Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokontriksi

3. Intervensi
 Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK
1. Intervensi : Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional : Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
2. Intervensi : Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit
kmepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang,
redupkan lampu kamar, tekhnik relaksasi.
Rasional : tindakan yang menurunkan tekanan vascular serebral dan yang
memperlambat atau memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan
sakit kepala dan komplikasinya
3. Intervensi : Hilangkan atau minimalkan aktivitas fase kontriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejam saat bab, batuk panjang,
membungkuk
Rasional : aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit
kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular cerebral
 Dx 2 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
1. Intervensi : kaji respon pasien terhadap aktivitas,perhatikan frequency nadi
lebih dari 20 kali per menit diatas frequency istirahat : peningkatan tekan darah
yang nyata selama atau sesudah aktivitas ( tekanan sistolik meningkat 40 mmhg
atau tekanan diastolic meningkat 20 mmhg) dispnea atau nyeri dada :
kelemahan dan keletihan yang belebihan :pusing atau pingsan.
Rasional : menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologi
terhadap stress, aktivitas bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja
yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2. Intervensi : instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy, misalnya
menggunakan kursi saat mandi,duduk saat menyisir rambut atau menyikat
gigi,melakukan aktivitas dengan perlahan.
Rasional : teknik memghemat energy mengurangi penggunaan energy, juga
membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
 DX 3 : Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokontriksi
1. Intervensi: pantau [Link] pad kedua tangan atau paha untuk evaluasi
[Link] ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.
Rasional : perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih
lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular. Hipertensi berat
diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan diastolic
sampai 130, hasil pengukuran diastolic diatas 130 dipertimbangkan sebagai
penigkatan pertama, kemudian [Link] sistolik juga merupakan
faktor resiko yang di tentukan untuk penyakit cerebrovaskular dan penyakit
iskemi jantung bila tekanan diastolic 90-115.

DAFTAR PUSTAKA
Budi, setiya. (2008). Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Aliha Bahasa James Veldman. EGC.
Jakarta
Carpenito Lynda Juall (2008), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Decker DL.(2008). Social Gerontology an Introduction to Dinamyc of [Link] Brown and
Company. Boston
Doenges marilynn (2008), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Evelyn [Link] (2011), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT Gramedia,
Jakarta.
Nugroho.W. (2012). Keperawatan Gerontik. Gramedia. Jakarta
Rahardjo, Agus. (2010), Kedaruratan Medik: Pedoman Penatalaksanaan Praktis, Binarupa
Aksara, Jakarta.
Rokhaeni (2012), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Sunyoto. (2015), Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan gawat Darurat Medis, Binarupa
Aksara, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai