0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Tafsir QS. An-Nisa’ dan Al-Hajj: Analisis

Makalah ini membahas tafsir QS. An-Nisa’ (4): 163 dan QS. Al-Hajj (22): 52 dengan fokus pada legitimasi kenabian Muhammad SAW dan perlindungan wahyu dari gangguan setan. Tiga mufassir, yaitu Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al-Mishbah, memberikan perspektif berbeda mengenai ayat-ayat tersebut, menyoroti kesinambungan wahyu dan integritas kenabian. Analisis ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman teologis yang relevan dengan konteks modern.

Diunggah oleh

molekulstore26
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Tafsir QS. An-Nisa’ dan Al-Hajj: Analisis

Makalah ini membahas tafsir QS. An-Nisa’ (4): 163 dan QS. Al-Hajj (22): 52 dengan fokus pada legitimasi kenabian Muhammad SAW dan perlindungan wahyu dari gangguan setan. Tiga mufassir, yaitu Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al-Mishbah, memberikan perspektif berbeda mengenai ayat-ayat tersebut, menyoroti kesinambungan wahyu dan integritas kenabian. Analisis ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman teologis yang relevan dengan konteks modern.

Diunggah oleh

molekulstore26
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TAFSIR JALALAIN, IBNU KATSIR, DAN AL-MISHBAH PADA QS.

AN-
NISA’ (4): 163 DAN QS. AL-HAJJ (22): 52

1. Pendahuluan

Studi tafsir Al-Qur'an memiliki posisi vital dalam memahami pesan Ilahi,
khususnya terkait tema teologis dan kenabian. Dua ayat yang menjadi
fokus pembahasan ini, yaitu QS. An-Nisa’ (4): 163 dan QS. Al-Hajj (22): 52,
memberikan landasan penting mengenai kesinambungan wahyu dan
perlindungan Allah terhadap otentisitas pesan yang dibawa para nabi. QS.
An-Nisa’ ayat 163 berfungsi sebagai legitimasi historis atas risalah Nabi
Muhammad SAW yang berada dalam satu garis kontinuum dengan nabi-
nabi terdahulu, mulai dari Nuh a.s. hingga para nabi Bani Israil. Sementara
itu, QS. Al-Hajj ayat 52 menjawab keraguan mendasar mengenai proses
penyampaian wahyu, menegaskan bahwa para nabi adalah manusia yang
diuji, namun senantiasa dijaga (ma'shum) oleh Allah dari intervensi yang
dapat mencederai kemurnian agama.

Dalam makalah ini, kedua ayat tersebut akan dibedah secara sistematis
mulai dari aspek kebahasaan, konteks historis (asbābun nuzūl), hingga
analisis tafsir. Pembahasan akan memperkaya wawasan dengan
mengkomparasikan pandangan tiga mufassir otoritatif yang mewakili era
dan pendekatan berbeda: Tafsir Jalalain (klasik-ringkas), Tafsir Ibnu Katsir
(klasik-riwayat), dan Tafsir Al-Mishbah (kontemporer-kontekstual).
Tujuannya adalah menghasilkan pemahaman yang tidak hanya teologis-
dogmatis, tetapi juga relevan dengan nalar kritis mahasiswa di era
modern.

2. Pembahasan I: QS. An-Nisa’ (4): 163 – Legitimasi dan


Universitas Wahyu

Ayat ini merupakan proklamasi Ilahi yang menegaskan bahwa fenomena


kenabian Muhammad SAW bukanlah sebuah inovasi atau hal baru yang
terputus dari sejarah, melainkan kelanjutan dari tradisi wahyu yang telah
mapan sejak Nabi Nuh a.s.

2.1 Teks Ayat dan Terjemahan

Teks Arab:

۞ ‫ِإ َّن آ َأ ْو َح ْي َن آ ِإ َل ْي َك َك َم آ َأ ْو َح ْي َن آ ِإ َل ٰى ُنو ٍح َوٱل َّن ِب ِّيۦ َن ِم ۢن َب ْع ِد ِهۦ ۚ َو َأ ْو َح ْي َن آ ِإ َل ٰٓى ِإ ْب َٰر ِهي َم َو ِإ ْس َم ٰـ ِعي َل َو ِإ ْس َح ٰـ َق َو َي ْع ُقو َب َوٱ ْل َأ ْس َبا ِط َو ِعي َس ٰى َو َأ ُّيو َب َو ُيو ُن َس َو َه ٰـ ُرو َن‬
‫َو ُس َل ْي َم ٰـ َن ۚ َو َءا َت ْي َنا َدا ُوۥ َد َز ُبو ًرا‬
Terjemahan (Kementerian Agama RI):

"Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad)


sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi
setelahnya. Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq,
Ya'qub dan keturunan(-nya), Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Kami
telah memberikan (Kitab) Zabur kepada Daud." 1

2.2 Asbābun Nuzūl (Sebab Turunnya Ayat)

Ayat ini turun di Madinah sebagai respons terhadap polemik teologis yang
dilancarkan oleh tokoh-tokoh Yahudi. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari
Ibnu Abbas r.a., bahwa beberapa ulama Yahudi, di antaranya Sukain dan
Adi bin Zaid, mendatangi Rasulullah SAW dan berkata:

"Wahai Muhammad, kami tidak mengetahui bahwa Allah menurunkan


wahyu kepada manusia (siapapun) setelah Musa.".3

Pernyataan ini bertujuan untuk menolak kenabian Muhammad SAW dan


juga Isa a.s. Maka, Allah menurunkan ayat ini untuk membantah klaim
mereka, dengan menegaskan bahwa wahyu terus berlanjut kepada nabi-
nabi setelah Nuh, termasuk nabi-nabi yang dihormati oleh Yahudi sendiri
seperti Daud dan Sulaiman. Argumen ini mematahkan logika mereka: jika
mereka mengakui Daud menerima wahyu, menolak wahyu kepada
Muhammad SAW adalah sikap inkonsisten.

2.3 Status Makkiyah/Madaniyyah

Ayat ini dikategorikan sebagai Madaniyyah.

 Alasan: Konteks pembicaraan adalah perdebatan dengan Ahli Kitab


(Yahudi) yang merupakan ciri khas periode Madinah. Selain itu,
Surah An-Nisa’ secara keseluruhan adalah surah Madaniyyah yang
banyak memuat hukum-hukum sosial kemasyarakatan pasca-hijrah.

2.4 Penafsiran Tiga Ulama

A. Tafsir Jalalain (Imam Jalaluddin Al-Mahalli & As-Suyuthi)

Tafsir ini memberikan penjelasan yang sangat ringkas dan fokus pada
aspek gramatikal:

 Kata kamā (sebagaimana) ditafsirkan sebagai tasybih


(penyerupaan). Artinya, hakikat wahyu yang diterima Nabi
Muhammad SAW adalah sama dengan wahyu para nabi terdahulu
dalam hal esensi dan sumbernya.5

 Jalalain menjelaskan Al-Asbāṭ secara literal sebagai anak-cucu Nabi


Ya’qub, dan Zabūr sebagai kitab yang diberikan kepada Nabi Daud.
Penafsiran ini memudahkan pembaca untuk menangkap makna
dasar ayat tanpa uraian teologis yang panjang.

B. Tafsir Ibnu Katsir


Ibnu Katsir menggunakan pendekatan bil-ma’tsur (berbasis riwayat) untuk
memperkuat argumen teologis:

 Posisi Nuh a.s.: Beliau menjelaskan mengapa Nuh disebut


pertama kali, bukan Adam. Nuh adalah Rasul pertama yang diutus
ke bumi untuk membawa syariat baru dan peringatan kepada kaum
musyrik, sedangkan Adam adalah Nabi yang hidup saat manusia
masih bertauhid. Ini menegaskan bahwa Muhammad SAW adalah
pelanjut estafet risalah dalam menghadapi kekufuran. 2

 Bantahan untuk Yahudi: Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat ini


adalah hujjah (argumen) telak bagi Yahudi. Jika mereka
mempercayai kenabian Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Daud, maka
mereka wajib mempercayai Muhammad SAW karena sumber
wahyunya adalah Allah yang sama.

 Makna Zabur: Beliau mencatat bahwa Zabur adalah kitab yang


berisi Mawa'izh (nasihat), hikmah, dan puji-pujian, berbeda dengan
Taurat atau Al-Qur'an yang memuat hukum syariat (halal-haram).

C. Tafsir Al-Mishbah (M. Quraish Shihab)

Prof. Quraish Shihab memberikan perspektif yang lebih luas tentang


makna "wahyu":

 Hakikat Wahyu: Beliau menjelaskan bahwa wahyu secara bahasa


berarti "isyarat yang cepat". Dalam Al-Qur'an, wahyu tidak hanya
untuk nabi, tapi juga bisa berupa naluri (kepada lebah), ilham
(kepada ibunda Musa), atau isyarat. Namun, dalam ayat ini, wahyu
bermakna khusus: komunikasi syariat kepada para Rasul. 7

 Kesatuan Agama: Quraish Shihab menyoroti "Benang Merah"


agama samawi. Penyebutan deretan nama nabi menunjukkan
bahwa Islam bukanlah agama baru, melainkan penyempurna dari
satu mata rantai ajaran Tauhid yang sama.

 Konteks Modern: Beliau mengajak pembaca memahami bahwa


penolakan terhadap Nabi Muhammad sering kali karena fanatisme
golongan (seperti Yahudi Madinah), bukan karena kurangnya bukti
kebenaran.

2.5 Analisis Komparatif

 Persamaan: Ketiga mufassir sepakat bahwa ayat ini adalah


legitimasi kenabian Muhammad SAW sebagai bagian dari mata
rantai nabi-nabi Allah.

 Perbedaan:
o Jalalain fokus pada makna leksikal untuk pemula.

o Ibnu Katsir fokus pada pembelaan akidah (apologetika) terhadap


kritik Yahudi dengan menggunakan sejarah nabi.

o Al-Mishbah fokus pada makna substantif "wahyu" dan relevansinya


dengan konsep kesatuan agama-agama samawi.

2.6 Komentar Penulis (Refleksi Mahasiswa)

Ayat ini mengajarkan kita tentang inklusivitas Islam. Alih-alih memutus


hubungan dengan masa lalu, Islam justru merangkul sejarah nabi-nabi
terdahulu (Ibrahim, Musa, Isa) sebagai bagian integral dari imannya. Bagi
mahasiswa Muslim saat ini, ayat ini menjadi dasar untuk membangun
dialog antar-iman yang sehat: kita memiliki "titik temu" (kalimatun sawa')
berupa asal-usul wahyu yang sama. Penolakan terhadap satu nabi (seperti
Muhammad SAW) pada hakikatnya adalah pengingkaran terhadap sistem
kenabian itu sendiri.

Hikmah Teologis: Allah tidak pernah membiarkan manusia tanpa


panduan. Wahyu adalah bukti kasih sayang Allah (Rahmaniyyah) yang
mengalir terus-menerus sepanjang sejarah manusia hingga ditutup
sempurna oleh Nabi Muhammad SAW.

3. Pembahasan II: QS. Al-Hajj (22): 52 – Integritas Wahyu dan


Ujian Kenabian

Ayat ini membahas tema yang sangat sensitif dan sering disalahpahami,
yaitu tentang "gangguan setan" dalam proses pewahyuan atau dakwah
nabi. Ayat ini penting untuk memahami konsep ‘ismah (perlindungan)
para nabi.

3.1 Teks Ayat dan Terjemahan

Teks Arab:

‫َو َم آ َأ ْر َس ْل َنا ِمن َق ْب ِل َك ِمن َّر ُسو ٍل َو َلا َن ِب ٍّى ِإ َّل آ ِإ َذا َت َم َّن ٰٓى َأ ْل َقى ٱل َّش ْي َٰط ُن ِف ٓى ُأ ۡم ِن َّي ِت ِهۦ َف َين َس ُخ ٱل َّل ُه َما ُي ۡل ِقى ٱل َّش ْي َٰط ُن ُث َّم ُي ۡح ِك ُم ٱل َّل ُه َءا َٰي ِت ِهۦ ۗ َوٱل َّل ُه َع ِلي ٌم َح ِكي ٌم‬
Terjemahan (Kementerian Agama RI):

"Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi
sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali apabila dia mempunyai suatu
keinginan, setan pun memasukkan (godaan-godaan) ke dalam
keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan
itu, dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha
Mengetahui, Mahabijaksana." 9

3.2 Asbābun Nuzūl dan Kisah Gharaniq


Ayat ini sering dikaitkan dengan peristiwa kontroversial yang dikenal
sebagai kisah Gharaniq (Ayat-ayat Setan).

 Narasi: Diriwayatkan bahwa saat Nabi di Mekkah membacakan


Surah An-Najm, beliau sangat ingin kaumnya beriman. Ketika
sampai pada ayat yang menyebut berhala (Latta, Uzza, Manat),
setan diisukan menyisipkan kalimat pujian: "Itulah burung-burung
yang tinggi (gharaniq), dan syafaatnya diharapkan." Kaum
musyrikin pun senang dan ikut bersujud.11

 Koreksi Wahyu: Malaikat Jibril kemudian menegur bahwa kalimat


itu bukan dari Allah. Maka turunlah ayat Al-Hajj: 52 ini (meskipun
surah Al-Hajj umumnya Madaniyah, ayat ini turun terkait peristiwa
Mekkah atau sebagai penguat di kemudian hari) untuk menjelaskan
bahwa gangguan semacam itu dihapus (naskh) oleh Allah.

3.3 Status Makkiyah/Madaniyyah

Para ulama berbeda pendapat mengenai surah Al-Hajj, namun mayoritas


menganggap ayat 52 ini memiliki nuansa Makkiyah karena terkait
dengan peristiwa di Mekkah, atau Madaniyyah yang berfungsi
menjelaskan hukum umum tentang gangguan setan yang dialami seluruh
nabi, tidak hanya Muhammad SAW. Sifatnya Mukhtalifah (campuran).13

3.4 Penafsiran Tiga Ulama

Perbedaan tajam terjadi dalam memahami kata tamanna dan validitas


kisah Gharaniq.

A. Tafsir Jalalain

 Makna Tamanna: Jalalain secara eksplisit menafsirkan tamanna


sebagai "membaca" (qara'a). Jadi, "apabila rasul membaca, setan
memasukkan (godaan) ke dalam bacaannya".

 Sikap pada Kisah Gharaniq: Tafsir ini menerima kisah Gharaniq


dan memasukkannya dalam uraian tafsir. Dijelaskan bahwa setan
melontarkan kalimat pujian berhala ke lisan Nabi tanpa beliau
sadari, lalu Allah menghapusnya.12 Ini mencerminkan pendekatan
tafsir yang sangat tekstual terhadap riwayat yang beredar.

B. Tafsir Ibnu Katsir

 Kritik Riwayat: Sebagai ahli hadis, Ibnu Katsir mengutip riwayat-


riwayat Gharaniq namun memberikan catatan kritis bahwa semua
jalur riwayatnya adalah mursal (terputus, tidak sampai ke saksi
mata langsung). Namun, beliau tidak menolaknya secara total
karena banyaknya jalur periwayatan mengindikasikan adanya "asal"
kejadian.14
 Makna Tamanna: Beliau condong pada makna "membaca"
(tilaawah), sesuai dengan konteks gangguan saat pembacaan ayat.

 Mekanisme Perlindungan: Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah


membatalkan (yansakh) apa yang dilontarkan setan, sehingga Al-
Qur'an tetap terjaga. Ini adalah ujian bagi keimanan manusia.

C. Tafsir Al-Mishbah (M. Quraish Shihab)

Quraish Shihab mengambil posisi kaum modernis dan rasionalis yang


menolak keras kebenaran kisah Gharaniq.

 Penolakan Kisah: Menurutnya, mustahil Nabi yang ma’shum


(terjaga) memuji berhala, bahkan dalam ketidaksadaran. Itu
bertentangan dengan prinsip tauhid dan integritas wahyu. Beliau
menilai riwayat tersebut lemah atau palsu.10

 Makna Tamanna: Beliau memilih makna tamanna sebagai


"bercita-cita" atau "berkeinginan keras".

o Tafsirnya: Setiap Nabi memiliki keinginan kuat agar umatnya


beriman. Saat keinginan itu muncul, setan masuk menggoda
dengan membisikkan agar Nabi sedikit "berkompromi" dalam
dakwah demi menarik simpati massa, atau memprovokasi umat
agar salah paham.

o Allah kemudian meneguhkan hati Nabi dengan ayat-ayat yang


tegas, menghilangkan keraguan dan bisikan kompromi tersebut. 17

3.5 Analisis Komparatif

Aspek Jalalain Ibnu Katsir Al-Mishbah

Arti Membaca Membaca / Berharap Bercita-cita /


Tamann (Qara'a) Berkeinginan
a

Kisah Menerima Mengutip dengan Menolak


Gharani sebagai fakta kritis (Mursal) (dianggap
q palsu)

Bentuk Setan Gangguan pada Bisikan


Godaan menyisipkan bacaan/pendengaran kompromi
kata di lisan dalam hati/cita-
Nabi cita
3.6 Komentar Penulis (Refleksi Mahasiswa)

Penulis lebih condong pada pandangan Prof. Quraish Shihab. Menafsirkan


tamanna sebagai "cita-cita" terasa lebih logis dan menjaga kemuliaan
Nabi. Setan tidak bisa mengintervensi wahyu (teks Al-Qur'an), tetapi
setan sangat bisa mengganggu persepsi manusia atau membisikkan
strategi kompromi ke dalam hati da'i.

Ayat ini memberikan kenyamanan psikologis bagi kita: bahwa para nabi
pun mengalami godaan dan kesulitan dalam misi mereka. Namun, Allah
menjamin bahwa kebenaran (Al-Haqq) memiliki mekanisme koreksi diri.
Segala upaya setan (hoaks, distorsi) untuk mengaburkan kebenaran pada
akhirnya akan sirna (fayansakhullah) oleh kekuatan fakta dan wahyu
Allah.

Hikmah Teologis: Allah menjamin kesucian Al-Qur'an (Inna nahnu


nazzalna al-dzikra...). Gangguan setan hanyalah ujian temporer untuk
memisahkan siapa yang imannya berpenyakit dan siapa yang imannya
kokoh. Integritas Al-Qur'an yang ada di tangan kita hari ini adalah hasil
dari penjagaan ketat Allah tersebut.

Daftar Pustaka & Referensi:

Laporan ini disusun berdasarkan sintesis data dari berbagai sumber tafsir
dan literatur terkait.1

Karya yang dikutip

1. Qur'an Kemenag, diakses Desember 14, 2025,


[Link]
from=7&to=176

2. Tafsir Surat An-Nisa' ayat 163 - Learn Quran Tafsir, diakses


Desember 14, 2025, [Link]
nisa'/ayat-163

3. Tafsir Surah An-Nisa - 163 - [Link], diakses Desember 14, 2025,


[Link]

4. Asbabun Nuzul Surat An-Nisa' Ayat 163 - Imam as Suyuthi : Allah


Menegaskan Bahwa Seluruh Rasul-Nya Semua Mendapat Wahyu,
Tidak Seperti Anggapan Yahudi Yang Mengatakan Setelah Musa
Tidak Ada Wahyu › [Link] - Media Komunitas Muslim, diakses
Desember 14, 2025,
[Link]
nisa-ayat-163-imam-as-suyuthi
5. Tafsir Jalalain - Surah An Nisa' (Melayu) | PDF | Agama & Spiritualitas
- Scribd, diakses Desember 14, 2025,
[Link]
Nisa-Melayu

6. Surat An-Nisa Ayat 163 Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir | Baca di
TafsirWeb, diakses Desember 14, 2025, [Link]
[Link]

7. Terjemahan dan Tafsir Quran surah An-Nisa' ayat 163 dalam Bahasa
Indonesia, diakses Desember 14, 2025, [Link]

8. Arti Surat An-Nisa' Ayat 163 dalam Alquran dan Tafsirnya |


[Link], diakses Desember 14, 2025,
[Link]
dalam-alquran-dan-tafsirnya-20bxU1fhySQ

9. Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya


guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. -
Qur'an Kemenag, diakses Desember 14, 2025,
[Link]
from=1&to=77

10. Surah Al-Hajj - 52-54 - [Link], diakses Desember 14,


2025, [Link]

11. Asbabun Nuzul Surah al-Hajj - Alislamu, diakses Desember 14,


2025, [Link]

12. [Link] - Quranic Science: Context of Revelation - (‫)للواحدي‬


‫ أسباب نزول آيات القر آن الكريم‬, diakses Desember 14, 2025,
[Link]
SoraName=22&Ayah=52&search=yes&img=A&LanguageID=2

13. Al-Quran Surat Al-Hajj Tafsir Ayat Ke-52 - Muslim -


[Link], diakses Desember 14, 2025,
[Link]

14. Tafsir Surat Al-Hajj ayat 52, diakses Desember 14, 2025,
[Link]

15. Surah Al-Hajj Verse 52 - [Link], diakses Desember 14,


2025, [Link]

16. HISTORIOGRAFI KISAH GHARA

17. Tafsir Al-Mishbah Jilid 09 -Dr. M. Quraish [Link], diakses


Desember 14, 2025, [Link]
%20Al-Mishbah%20Jilid%2009%20-Dr.%20M.%20Quraish
%[Link]

18. Al-Quran Surat An-Nisa Tafsir Ayat Ke-163 - Muslim -


[Link], diakses Desember 14, 2025,
[Link]

19. BAB I PENDAHULUAN - Digital Library UIN Sunan Gunung Djati


Bandung, diakses Desember 14, 2025,
[Link]

#37 | KISAH GHARANIQ | Buletin | [Link], diakses Desember 14,


2025, [Link]

Anda mungkin juga menyukai