LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI (RBD)
Pembimbing Akademik: M. Syafwani., [Link]., [Link]., [Link]
Pembimbing Klinik: Norhayah, [Link]., Ns
Disusun oleh:
Muhammad Haris, [Link]
NPM: 2514901110046
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN 2025
LAPORAN PENDAHULUAN
RISIKO BUNUH DIRI
A. Pengertian
Risiko bunuh diri adalah resiko untuk menciderai diri sendiri yang dapat mengancam
kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku
untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuih diri disebabkan karena stres yang
tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping
yang digunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa alasan individu mengakhiri
kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres,
perasaan terisolasi, dapat terjadi kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan
hubungan yang berarti, perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan
hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri Keputusan. (Amira et al., 2024)
B. Etiologi
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab dan pemicu terjadinya risiko bunuh
diri, yaitu (Putri, 2024) :
1. Faktor predisposisi
a. Genetik
Perilaku bunuh diri merupakan sesuatu yang diturunkan dalam keluarga kembar
monozigot memiliki resiko dalam melakukan bunuh diri.
b. Hubungan Neurokimia
Neurotransmiter adalah zat kimia dalam otak dari sel ke saraf, peningkatan dan
penurunan neurotransmitter mengakibatkan perubahan perilaku. Yang dikaitkan
dengan perilaku bunuh diri adalah dopamine, neuroepineprin, asetilkoln, dan
asam amino.
c. Diagnosis Psikiatri
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri
mengalami gangguan jiwa. Ada 4 gangguan jiwa yang beresiko menimbulkan
individu untuk bunuh diri adalah gangguan mood, penyalahgunaan zat,
skizofrenia, dan gangguan kecemasan.
2. Faktor Psikologis
a. Kebencian terhadap diri sendiri
Bunuh diri merupakan hasil dari bentuk penyerangan atau kemarahan terhadap
orang lain yang tidak diterima dan dimanifestasikan atau ditunjukkan pada diri
sendiri.
b. Ciri kepribadian
Menyatakan bahwa depresi karena kehilangan sesuatu yang dicintai,
keputusasaan, kesepian, dan kehilangan harga diri.
C. Tanda dan Gejala
Menurut (Omnia et al., 2023) tanda dan gejala risiko bunuh diri meliputi mempunyai
ide bunuh diri, mengungkapkan keinginan untuk mati, mengungkapkan rasa bersalah
dan keputusasaan, menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat
patuh), memiliki riwayat percobaan bunuh diri, verbal terselubung (berbicara tentang
kematian, menanyakan tentang obat dosis mematikan), status emosional (harapan,
penolakan, cemas meningkat, panik, marah, dan mengasingkan diri), kesehatan mental
(secara klinik, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis, dan menyalahgunakan
alkohol), dan kesehatan fisik (biasanya pada pasien penyakit kronis atau terminal).
D. Jenis-Jenis Bunuh Diri
Adapun jenis-jenis dari bunuh diri, yaitu sebagai berikut (Omnia et al., 2023) :
Bunuh diri egoistic Bunuh diri altruistik Bunuh diri anomik
Bunuh diri ini merupakan Bunuh diri ini merupakan Bunuh diri ini merupakan
akibat dari seseorang yang akibat dari pada adat dan akibat dari lingkungan
mempunyai hubungan kebiasaan dari masyarakat yang tidak dapat
sosial yang buruk memberikan kenyamanan
bagi individu
E. Fase Bunuh Diri
Menurut (Sanada et al., 2024) perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang
diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Suicidal Ideation: pada tahap tidak ada aksi atau tindakan, bahkan klien pada tahap
ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan.
2. Suicidal Intent: klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit
untuk melakukan bunuh diri.
3. Suicidal Threat: klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yang dalam
bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya.
4. Suicidal Gesture: klien menunjukkan parilaku destruktif yang diarahkan pada diri
sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada
percobaan untuk melakukan bunuh diri.
5. Suicidal Attempt: perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin
mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan. Walaupun
demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.
F. Rentang Respon Risiko Bunuh Diri
Adatif Transisi Maladatif
Peningkatan diri Pertumbuhan Perilaku destruktif Pencideraan diri Bunuh diri
peningkatan beresiko diri tak langsung
Keterangan (Yusuf, et, al., 2015):
1. Peningkatan diri adalah individu yang mempunyai pengharapan, keyakinan, serta
kesadaran diri
2. Pertumbuhan peningkatan berisiko, merupakan rentang posisi perilaku yang masih
normal dialami individu yang mengalami perkembangan perilaku
3. Perilaku destruktif diri tak langsung adalah setiap usaha untuk merusak keadaan fisik
individu dan dapat mengarah kepada kematian, seperti: perilaku merusak, mengebut,
berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam aktivitas yang berisiko tinggi,
penyalahgunaan zat, perilaku menyimpang secara social, dan perilaku yang
menyebabkan stress
4. Pencederaan diri adalah tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri dan
dilakukan secara sengaja, tanpa bantuan orang lain, serta menyebabkan cedera yang
cukup parah pada tubuh.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan agresif secara langsung dilakukan pada diri sendiri yang
bertujuan untuk mengakhiri kehidupan
G. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal
MRS (masuk rumah sakit), informan, tanggal pengkajian, No Rumah Sakit dan
alamat pasien
b. Alasan masuk RS
Umumnya klien risiko bunuh diri dibawa ke rumah sakit karena keluarga merasa
tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien yang membahayakan
diri sendiri, ketakutan terhadap tindakan klien yang akan membahayakan orang
lain dan lingkungan, gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa
ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
c. Keluhan utama
Tanyakan pada keluarga/pasien hal yang menyebabkan pasien dan keluarga
datang ke rumah sakit. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah,
dan perkembangan yang dicapai.
d. Faktor predisposisi
− Faktor biologis
− Faktor psikologis
− Faktor sosial budaya
e. Faktor presipitasi
− Faktor biologis
− Lingkungan
− Stress sosial/budaya
− Faktor psikologik
− Mekanisme koping (regresi, proyeksi, menarik diri)
− Sumber koping
− Perilaku halusinasi
f. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tanda – tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah),
berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan pasien.
g. Status mental
1. Penampilan : tidak rapi, tidak serasi
2. Pembicaraan : terorganisir/berbelit-belit
3. Aktivitas motorik : meningkat/menurun
4. Alam perasaan pasien: sedang sedih, marah, takut, putus asa
5. Afek : sesuai/maladaprif
6. Interaksi selama wawancara: kontak mata, sikap, kooperatif atau tidak
7. Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai
dengan informasi
8. Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak berfungsi dengan baik
dan dapat mempengaruhi proses pikir
9. Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis
10. Memori: ingatan pasien jangka panjang dan jangka pendek
11. Tingkat kesadaran
12. Kemampuan konsentrasi dan berhitung
13. Kemampuan penilaian
14. Daya tilik diri
2. Pohon Masalah
Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri, orang
lain dan lingkungan; bunuh diri (Akibat)
Risiko bunuh diri (Masalah)
Ketidakefektifan koping individu (Penyebab)
3. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko bunuh diri
b. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri dan orang lain
c. Ketidakefektifan koping individu
4. Rencana Tindakan Keperawatan
NO No Diagnosa SLKI SIKI
Diagnosa
Keperawa
tan
1. D.0085 Risiko Bunuh Setelah dilakukan Pencegahan Bunuh
intervensi
diri Diri (I.14538)
keperawatan
selama 3 x 24 jam,
maka kontrol diri Observasi
meningkat, dengan
• Setelah
kriteria hasil: dilakukan
1. Verbalisasi intervensi
keinginan keperawatan
bunuh diri
menurun selama 3 x 24
jam, maka
2. Verbalisasi
isyarat bunuh kontrol diri
diri menurun meningkat,
3. Verbalisasi dengan kriteria
ancaman hasil:
bunuh diri
menurun • Verbalisasi
keinginan
4. Verbalisasi
rencana bunuh bunuh diri
diri menurun
menurun
• Verbalisasi
isyarat bunuh
diri menurun
• Verbalisasi
ancaman
bunuh diri
menurun
• Verbalisasi
rencana bunuh
diri menurun
Terapeutik
• Libatkan
dalam
perencanaan
perawatan
mandiri
• Libatkan
keluarga
dalam
perencanaan
perawatan
• Lakukan
pendekatan
langsung dan
tidak
menghakimi
saat membahas
bunuh diri
• Berikan
lingkungan
dengan
pengamanan
ketat dan
mudah
dipantau (mis:
tempat tidur
dekat ruang
perawat)
• Tingkatkan
pengawasan
pada kondisi
tertentu (mis:
rapat staf,
pergantian
shift)
• Lakukan
intervensi
perlindungan
(mis:
pembatasan
area,
pengekangan
fisik), jika
diperlukan
• Hindari
diskusi
berulang
tentang bunuh
diri
sebelumnya,
diskusi
berorientasi
pada masa
sekarang dan
masa depan
• Diskusikan
rencana
menghadapi
ide bunuh diri
di masa depan
(mis: orang
yang
dihubungi, ke
mana mencari
bantuan)
• Pastikan obat
ditelan
Edukasi
• Anjurkan
mendiskusikan
perasaan yang
dialami kepada
orang lain
• Anjurkan
menggunakan
sumber
pendukung
(mis: layanan
spiritual,
penyedia
layanan)
• Jelaskan
tindakan
pencegahan
bunuh diri
kepada
keluarga atau
orang terdekat
• Informasikan
sumber daya
masyarakat
dan program
yang tersedia
• Latih
pencegahan
risiko bunuh
diri (mis:
latihan asertif,
relaksasi otot
progresif)
Kolaborasi
• Kolaborasi
pemberian
obat
antiansietas,
atau
antipsikotik,
sesuai indikasi
• Kolaborasi
tindakan
keselamatan
kepada PPA
• Rujuk ke
pelayanan
kesehatan
mental, jika
perlu
DAFTAR PUSTAKA
Amira, Hendrawati, Maulana, I., & Rosidin, U. (2024). EFEKTIVITAS DIALECTICAL
BEHAVIOR THERAPY (DBT) PADA PASIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI
LITERATURE REVIEW. MANUJU: MALAHAYATI NURSING JOURNAL, 6, 3060–
3077.
Omnia, M. M., Niman, S., Sihombing, F., Widiantoro, F. X., Parulian, S., Parahyangan, K. B.,
& Barat, B. (2023). Depresi dan ide bunuh diri pada dewasa muda. 11(1), 103–110.
Putri, A. (2024). Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ide Bunuh Diri pada Perempuan
Dewasa Awal Analysis of Factors Influencing Suicidal Ideation in Early Adult Women
Abstrak. 11(02), 844–864.
Sanada, Amelia, I., Margatot, D. I., & Suyatno. (2024). KLASIK TERHADAP
PERUBAHAN TINGKAT GEJALA HALUSINASI. Jurnal Ilmu Kesehatan, 2, 39–48.
Banjarmasin, 18 Desembber 2025
Ners Muda
Muhammad Haris, [Link]
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
(M. Syafwani., [Link]., [Link]., [Link]) (Norhayah, [Link]., Ns)