Program K3 UPT Laboratorium Kesehatan
Program K3 UPT Laboratorium Kesehatan
KABUPATEN LAHAT
TAHUN 2025
PROGRAM KERJA KESEHATAN & KESELAMATAN
KERJA (K3)
UPT LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH
DAERAH LAHAT
BAB I
PENDAHULUAN
1. Umum
Laboratorium terpadu memiliki komitmen tinggi untuk menerapkan
misi institusi, fungsi laboratorium yang strategis, kolaboratif, dan
berintegritas bagi dosen, mahasiswa, instansi, dunia industry serta
masyarakat luas. Tidak hanya penelitian dan riset, dalam bidang
pendidikan Laboratorium Terpadu ITK juga melayani praktikum
mahasiswa internal dan eksternal ITK serta pengembangan kegiatan
SDM melalui pelatihan atau workshop sesuai dengan lingkup bidang dan
kompetensi. Dalam keberjalanannya, Laboratorium Terpadu
mengutamakan keselamatan kerja di laboratorium.
Untuk menunjang tercapainya keselamatan kerja, Laboratorium
Terpadu ITK dilengkapi dengan beberapa fasilitas keselamatan seperti
Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hidran, fire alarm system, tanda jalur
evakuasi, titik kumpul darurat, dan kotak P3K. Sebagai bentuk komitmen
Laboratorium Terpadu ITK terhadap keselamatan kerja, dalam
keberjalanannya, didasarkan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970
tersebut juga merupakan dasar dalam Pedoman K3 Laboratorium ini.
Dimana pedoman ini menjelaskan mengenai beberapa prosedur K3,
prosedur apabila terjadi kecelakaan kerja, pelaksanaan P3K,
penanggulangan bencana dan beberapa hal lain yang berlaku di
laboratorium.
Dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan,
Pasal 165 dinyatakan bahwa “Pengelolaan tempat kerja wajib melakukan
segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan,
pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja”.
Keselamatan kerja merupakan suatu upaya penting dalam
meningkatkan mutu pelayanan laboratorium serta memberikan
lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pasien, pengunjung dan
petugas serta mencegah terjadinya bahaya kebakaran, kecelakaan dan
penyakit akibat [Link] berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu
upaya mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya
yang dilaksanakan secara terintergrasi dan menyeluruh, oleh karena itu
penyelenggaraan K3 laboratorium lebih efektif, efisien dan terpadu.
Upaya kesehatan dan keselamatan kerja adalah upaya
penyeresaian antara kapasitas, beban kerja dan lingkungan kerja agar
setiap tenaga kerja/personel dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat disekelilingnya agar
dapat produktif kerja yang optimal. Upaya keselamatan dan kesehatan
kerja merupakan berbagai upaya kesehatan yang dilaksanakan secara
paripurna dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan dan
produktifitas kerja seluruh tenaga kerja/personel laboratorium.
2. MAKSUD DAN TUJUAN
a. Maksud
Agar seluruh personel UPT Laboratorium Kesehatan Daerah
Kabupaten Lahat dapat mengetahui, memahami tentang Kesehatan
dan keselamatan kerja Laboratorium Kesehatan daerah dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawab di masing-masiing unit kerja
b. Tujuan
Agar seluruh personel UPT Laboratorium Kesehatan Daerah
Kabupaten Lahat mampu dan mahir dalam melaksanakan kegiatan/
pelayanan sesuai dengan ketentuan Kesehatan dan Keselamatan
Kerja Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Lahat. Sehingga
dapat mencegah terjadinya kecelakaan akibat kerja dan penyakit
akibat kerja serta kewaspadaan terhadap bencana, supaya dapat
memberikan pelayanan secara optimal, aman dan nyaman kepada
pasien, pengunjung, keluarga dan lingkungan, sehingga dapat
meningkatkan produktifis, mutu dan citra UPT Laboratorium
Kesehatan Daerah Kabupaten Lahat.
3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penulisan program kerja Kesehatan dan Keselamatan
Kerja RSUD Lahat, sebagai berikut :
a. Bab I Pendahuluan
b. Bab II Rencana Pelaksanaan
c. Bab III Penutup
4. Dasar
a. Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
b. Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
c. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No. 5 Tahun 1996:
Mengatur Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3) yang juga berlaku di laboratorium.
d. Peraturan Pemerintah (PP) No. 50 Tahun 2012: Tentang penerapan
Sistem Manajemen K3, menekankan pada penerapan manajemen
risiko di tempat kerja.
e. Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 43 Tahun 2013: Mengatur
tentang Penyelenggaraan Laboratorium Klinik, mencakup prosedur
penanganan alat, bahan, dan pengelolaan limbah di laboratorium medis
BAB II
PROGRAM KERJA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)
DI UPT LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH KABUPATEN LAHAT
2. SASARAN
Seluruh personel UPT Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Lahat dan Tim
Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana UPT Laboratorium
Kesehatan Daerah Kabupaten Lahat, diharapkan dapat mengerti, memahami dan
mampu melaksanakan pelayanan kesehatan pada pasien, pengunjung/ pengantar
pasien, masyarakat dalam keadaan lingkungan yang aman, sehat dan produktif.
3. PROGRAM KEGIATAN
Kegiatan Kesehatan keselamatan kerja UPT Laboratorium Kesehatan Daerah
Kabupaten Lahat sebagai berikut :
5. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu pelaksaaan program K3 UPT Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten
Lahat, sebagai berikut :
NO KEGIATAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOV DES
1 Pengembangan
kebijakan
K3LAB
Pembentukan √ √ √ √
atau revitalisasi
organisasi
K3LAB
2 Melakukan
audit:
Audit fasilitas √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kebersihan
tangan
Audit √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kepatuhan
petugas
melakukan
kebersihan
tangan
Audit √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
pemakaian
APD
Monitoring √ √
evaluasi :
-pelaksanaan
penggunaan
antimikroba
3 Edukasi & √ √
sosialisasi PPI
4 Rapat √ √ √ √
koordinasi
dengan
manajemen
5 Rapat TIM PPI √ √ √ √
6 Membuat √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
laporan
6. SUMBER DANA
Sumber dana pada Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) UPT
Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Lahat adalah APBD
BAB III
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM
Safety Biasanya
helmet atau digunakan pada
helm proyek pekerja proyek
konstruksi, migas,
dan industri yang
berisiko tinggi
lainnya.
Fungsinya untuk melindungi telinga dari kebisingan atau tekanan. Alat pelindung
telinga antara lain;
memblokir
saluran telinga
untuk
membuat
perlindungan
pendengaran
terhadap
kebisingan yang ada
di
lingkungan sekitar.
Penutu Digunakan dengan
p
telinga atau cara menutupi
semua
earmuff bagian telinga dan
dilengkapi dengan
headband sebagai
penahan.
Alat ini bekerja dengan cara menyalurkan udara bersih atau menyaring polusi
agar tidak masuk ke dalam sistem pernapasan. Fungsinya adalah untuk melindungi
organ pernapasan dari mikroorganisme, bahan kimia, debu, kabut (aerosol), asap,
uap, gas, dan sebagainya.
Alat yang termasuk di dalamnya antara lain;
pengendara
sepeda motor, pekerja
pabrik, tukang kayu,
seniman grafiti, dll yg
memerlukan
perlindungan
ekstra dari resiko
udara
berpolusi.
Masker Cocok digunakan untuk
double filter pekerja pabrik, tukang
kayu, seniman grafiti,
dan lain sebagainya
yang memerlukan
perlindungan ekstra
dari resiko udara
berpolusi.
Masker Digunakan
sebagai perlindungan
pernafasan bagi
pemakai dari partikel-
partikel biologis seperti
bakteri dan virus dari
udara, sehingga dapat
membantu mencegah
penularan penyakit
infeksi
saluran pernafasan.
Fungsinya untuk melindungi kaki dari terkena cairan panas atau dingin,
uap panas, suhu yang ekstrem, serta bahan kimia berbahaya dan jasad
renik. Pelindung kaki juga dapat melindungi dari risiko tertusuk benda tajam,
tertimpa benda berat, dan tergelincir.
Alat yang masuk di dalamnya antara lain;
Safety Digunakan
shoes pada
pekerjaan
industry,
peleburan,
konstruksi
bangunan,
dan
pengecoran
logam.
Sepatu Digunakan
boot untuk pekerja
yang berada
di area basah
(becek atau
berlumpur).
5) Pakaian Pelindung
Sabuk
pengaman
tubuh
(harness)
7) Pelampung
Rompi
keselamatan
atau life vest
b. Safety Sign
1) Jalur evakuasi
Titik kumpul darurat atau assembly point merupakan sebuah tempat atau
lokasi yang digunakan oleh sekelompok orang yang berada di area bencana
untuk berkumpul. Hal ini digunakan untuk memudahkan proses upaya
evakuasi dan juga mempermudah bagi petugas untuk mencatat korban
selamat.
Titik kumpul di laboratorium terpadu sendiri terletak di halaman parkir
sebelah utara gedung.
c. Alat Keselamatan Kebakaran
1) Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR adalah alat pemadaman api yang bisa dibawa atau dijinjing dan
digunakan oleh satu orang sendiri. APAR sendiri memiliki standar
penempatan yang sesuai dengan Permenakertrans No. PER. 04/MEN/1980
tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api
Ringan. Poin-poinnya adalah sebagai berikut:
1. Tempatkan APAR di tempat yang mudah diakses dan tidak terhalang
benda lain.
2. Pasang APAR pada dinding minimal 15 cm dari atas lantai atau idealnya
125 cm dari atas lantai.
3. Lengkapi dengan tanda APAR yang dapat dipasang tepat di atas APAR.
4. Jarak pemasangan APAR satu dengan lainnya adalah 15 meter atau
dapat disesuaikan dengan saran yang diberikan oleh ahli K3.
2) Hydrant
3) Alarm kebakaran
BAB V
SANITASI RUANG DAN PERALATAN LABORATORIUM
1. Kondisi lantai secara umum harus bersih, kedap air, tidak licin, rata sehingga mudah
dibersihkan dan tidak ada genangan air.
2. Dinding tembok, jendela, langit-langit, kerangka bangunan, perpipaan, lampu-lampu
dan benda lain yang berada di sekitar ruang pengujian harus dalam kondisi bersih.
3. Kondisi umum bangunan harus memperhatikan aspek pencahayaan dan ventilasi
yang baik. Ventilasi harus tersedia dengan cukup dan berfungsi dengan baik.
Pencahayaan atau penerangan hendaknya tersebar secara merata dan cukup di
semua ruangan, namun hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak
menyilaukan.
4. Semua peralatan yang digunakan untuk pengujian harus selalu diperhatikan
kebersihannya, dan juga penanganannya harus hati-hati karena kebanyakan
peralatan laboratorium mudah pecah.
5. Setelah penggunaan alat gelas dan non gelas selesai atau pekerjaan telah selesai
semua peralatan tersebut dibersihkan dan ruangan yang digunakan harus
dibersihkan dengan bahan saniter. Air yang digunakan dalam pencucian alat
hendaknya air yang bersih yang memenuhi persyaratan sanitasi, sehingga
mencegah kontaminasi. Air bersih mempunyai ciri-ciri antara lain tidak berasa, tidak
berwarna, dan tidak berbau.
BAB VI
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT
1. Gempa Bumi
a. Jangan panic
2. Kebakaran
Api dapat muncul dikarenakan ada 3 unsur segitiga api yaitu adanya
bahan/material, panas dan oksigen.
1) Jangan panik.
5) Tutup pintu untuk menghambat api membesar dengan cepat (jangan dikunci).
6) Gunakan tangga darurat.
3) Posisi berdiri searah dengan arah angin dan arahkan nozzle ke pusat titik api
5) Semprot nozzle yang dipegang ke arah kiri dan kanan api, agar media yang
disemprotkan merata hingga api padam
c. Prosedur Pemeliharaan APAR
1) Setiap alat pemadam api ringan harus diperiksa 2 (dua) kali dalam setahun,
yakni pemeriksaan dalam jangka 6 (enam) bulan dan pemeriksaan dalam
jangka 12 (dua belas) bulan. Di laboratorium terpadu, pemeriksaan APAR
dilakukan secara berkala setiap 1 bulan sekali bersamaan dengan inspeksi
berkala perbulan.
2) Jika perlengkapan APAR rusak atau cacat saat ditemui dalam pemeriksaan,
maka segera perbaiki atau diganti dengan APAR yang baik. Laporkan kepada
bagian Sarana dan Prasarana Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten
Lahat.
3) Setiap APAR dilakukan percobaan secara berkala dengan jangka waktu tidak
lebih dari 5 tahun.
4) Melakukan kontrol rutin dan membuat kartu kontrol yang dilakukan oleh
petugas yang ditunjuk.
1. Mudah meledak
Bahan yang pada suhu dan tekanan standar (25 ‘C, 760 mmHg) dapat meledak
atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan
tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan di sekitarnya.
Contoh : Asetilen, Diazo, Nitroso, Nitro, Alkil Polinitro, Oksim, Azo, N-Nitroso
2. Mudah terbakar
3. Reaktif
Suatu bahan yang dapat melepaskan banyak panas atau menimbulkan api
ketika bereaksi dengan bahan kimia lainnya, terutama bahan-bahan yang sifatnya
mudah terbakar meskipun dalam keadaan hampa udara.
4. Sifat racun bagi manusia, yang dapat menyebabkan keracunan atau sakit yang
cukup serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.
5. Korosif
c. Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk B3 bersifat asam dan sama
atau lebih besar dari 12,5 untuk B3 yang bersifat basa.
6. Berbahaya (harmful)
Suatu bahan baik berupa padatan, cairan ataupun gas yang jika terjadi kontak
atau melalui inhalasi ataupun oral dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan
sampai tingkat tertentu.
7. Iritasi (irritant)
Bahaya gas bertekanan yaitu bahan ini bertekanan tinggi dan dapat meledak
bila tabung dipanaskan/terkena panas atau pecah dan isinya dapat menyebabkan
kebakaran.
BAB VIII
KETENTUAN PEMBUANGAN LIMBAH KIMIA
Semua bahan kimia berbahaya diwajibkan memiliki MSDS, hal ini diatur
dalam berbagai peraturan seperti keputusan menteri Kesehatan nomor 472 tahun 1996,
keputusan menteri tenaga kerja nomor 187 tahun 1999, PP 74 tahun 2001 tentang B3
dan keputusan menteri perindustrian no 87 tahun 2009 tentang global harmonized
system (GHS).
1. Iritasi, yaitu terjadinya luka bakar setempat akibat kontak bahan kimia dengan
bagian tubuh.
2. Korosif kerusakan jaringan.
3. Timbulnya alergi, tampak sebagian bintik-bintik merah kecil atau gelembung berisi
cairan atau gangguan pernapasan (tersumbat dan pendek-pendek).
4. Pernapasan terganggu, seperti sulit bernapas sehingga terasa tercekik atau
aspiksian karena kekurangan oksigen akibat diikat oleh gas thinner seperti : nitrogen
dan karbon dioksida.
5. Timbulnya keracunan sistemik, yaitu bahan kimia yang dapat mempengaruhi
bagian-bagian tubuh seperti merusak hati, ginjal, susunan syaraf dan lain-lain.
6. Kanker, akibat paparan bahan kimia sehingga merangsang pertumbuhan sel-sel
yang tidak terkendali dalam bentuk tumor ganas.
7. Kerusakan atau kelalaian janin yang ditandai oleh kelahiran dalam keadaan cacat
atau kemandulan.
8. Pneumokoniosis, yaitu timbunan debu dalam paru-paru sehingga kemampuan paru-
paru untuk menyerap oksigen menjadi kurang akibatnya penderita mengalami nafas
pendek.
Pembuangan limbah
1. Limbah Cair
a. Limbah jangan dibuang di wastafel maupun lingkungan sekitar karena akan
mencemari dan berbahaya bagi lingkungan.
b. Buang limbah di wadah/tempat pembuangan limbah sementara yang
disediakan di setiap ruang laboratorium.
c. Jika wadah/tempat pembuangan limbah sementara sudah terisi ± 75%, PLP
limbah akan mengangkut dan mengganti wadahnya dengan yang baru.
d. Dalam pengangkutan limbah, petugas perlu menggunakan alat pelindung diri
seperti coverall, masker, kaca mata safety, sepatu boots, dan sarung tangan.
e. Limbah cair yang dihasilkan akan dilakukan pengangkutan dan pengolahan oleh
pihak ketiga yang sudah ditunjuk oleh Laboratorium Kesehatan Daerah
Kabupaten Lahat.
2. Limbah Padat
a. Limbah padat yang dihasilkan oleh laboratorium dikemas jadi satu dan
diletakkan di tempat yang sudah ditentukan oleh petugas laboratorium.
b. Limbah yang dihasilkan akan dilakukan pengangkutan dan pengolahan oleh
pihak ketiga yang sudah ditunjuk oleh Laboratorium Kesehatan Daerah
Kabupaten Lahat.
BAB IX
PENUTUP
Mengetahui,
Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Daerah
Kabupaten Lahat
Martina,[Link].,MKM
NIP :197608071998032002