Program Manajemen Fasilitas Klinik Medika
Program Manajemen Fasilitas Klinik Medika
KLINIK PRATAMA
CIBORELANG MEDIKA
Jl. Raya Ciborelang No 40 Jatiwangi-Majalengka Kode Pos: 45454 HP 0812-2227-7336
Email : ciborelangmedika@[Link]
1
KLINIK PRATAMA
CIBORELANG MEDIKA
Jl. Raya Ciborelang No 40 Jatiwangi-Majalengka Kode Pos: 45454 HP 0812-2227-7336
Email : ciborelangmedika@[Link]
KEPUTUSAN
PENANGGUNG JAWAB KLINIK PRATAMA CIBORELANG MEDIKA
NOMOR 005/SK/KLCM/VII/2023
TENTANG
PROGRAM MANAJEMEN FASILITAS
KLINIK PRATAMA CIBORELANG MEDIKA
2
Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016
Nomor 598);
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang
Keselamatan Pasien (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2017 Nomor 308);
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 tentang
Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2017 Nomor 857);
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 31 Tahun 2018 tentang
Aplikasi Sarana, Prasarana, Dan Alat Kesehatan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 1012);
15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2018 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019
Nomor 19);
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2019 tentang
Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi di Lingkungan
Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2019 Nomor 919);
17. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan
Nomor 6 Tahun 2021 tentang Tata Cara Dan Persyaratan
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 294);
18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14
tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk
pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko
Sektor Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2021 Nomor 316);
19. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30
Tahun 2022 tentang Indikator Nasional Mutu Pelayanan
Kesehatan Tempat Praktik Mandiri Dokter dan Dokter Gigi,
Klinik, Pusat Kesehatan Masyarakat, Rumah Sakit,
Laboratorium Kesehatan, dan Unit Transfusi Darah (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 1054);
3
20. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2022 tentang
Akreditasi Pusat Kesehatan Masyarakat, Klinik,
Laboratorium Kesehatan, Unit Transfusi Darah, Tempat
Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat Praktik Mandiri Dokter
Gigi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor
1207);
21. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 186/Men/1999
Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja;
22. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Nomor 10/KPTS/M/2000 Tahun 2000 tentang
Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran
pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
23. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
HK.01.07/MENKES/503/2020 tentang Komite Nasional
Keselamatan Pasien;
24. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
HK.01.07/MENKES/537/2020 tentang Komite Nasional
Keselamatan Pasien;
25. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 11 Tahun
2021 tentang Sistem Kesehatan Daerah;
MEMUTUSKAN
Menetapkan : KEPUTUSAN PENANGGUNG JAWAB KLINIK PRATAMA
CIBORELANG MEDIKA TENTANG PROGRAM MANAJEMEN
FASILITAS KLINIK PRATAMA CIBORELANG MEDIKA
KESATU : Kebijakan implementasi Program Manajemen Fasilitas Klinik
Pratama Ciborelang Medika sebagaimana tercantum dalam
Lampiran Keputusan ini.
KEDUA : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan implementasi
Program Manajemen Fasilitas Klinik dilaksanakan secara
menyeluruh di Klinik Pratama Ciborelang Medika.
4
KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan
ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan
diadakan perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Jatiwangi
Pada tanggal : 01 Juli 2023
PENANGGUNG JAWAB
KLINIK PRATAMA CIBORELANG MEDIKA,
dr. DWINANTA
5
LAMPIRAN : KEPUTUSAN PENANGGUNG JAWAB
KLINIK PRATAMA CIBORELANG
MEDIKA
NOMOR 005/SK/KLCM/VII/2023
TANGGAL : 01 Juli 2023
TENTANG : PROGRAM MANAJEMEN FASILITAS
KLINIK PRATAMA CIBORELANG
MEDIKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sebagai pelayanan fasilitas Kesehatan pratama dalam menjalankan
fungsi dan tugasnya Klinik Pratama Ciborelang Medika wajib memenuhi
ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku. Untuk mencegah
terjadinya resiko penyakit akibat kerja yang disebabkan karena fasilitas/dari
pelayanan yang diberikan di klinik maka Klinik Ciborelang Medika mempunyai
Program Manajemen Fasilitas di Lingkungan Klinik Pratama Ciborelang
Medika. Diharapkan dengan Program ini dapat memberikan perlindungan bagi
pasien dan pengunjung serta anggota yang bertugas dalam Klinik Pratama
Ciborelang Medika.
Untuk itu perlu penyusunan Program Manajemen Fasilitas sebagai
panduan dalam pengelolaan K3 di Klinik Pratama Ciborelang Medika.
B. TUJUAN PEDOMAN
1. Memberikan pedoman kepada petugas Klinik Pratama Ciborelang Medika
khususnya petugas yang bertanggung jawab dengan Fasilitas dan
Keselamatan Klinik
2. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi petugas klinik dari
kemungkinan bahaya dari faktor yang membahayakan kesehatan.
C. SASARAN PEDOMAN
Dengan adanya pedoman ini diharapkan semua petugas dapat
mencegah terjadinya bahaya yang disebabkan oleh fasilitas di dalam klinik.
6
E. BATASAN OPERASIONAL
Program Manajemen Fasilitas meliputi :
1. Keselamatan dan Keamanan
2. Bahan Berbahaya dan Beracun B3 serta Limbah B3
3. Penanggulangan Bencana
4. Sistem Proteksi Kebakaran
5. Peralatan medis
6. Sistem Utilitas yang meliputi : listrik, air, Gas Medis serta sarana sanitasi
7. Sampah Domestik dan Limbah
Secara khusus Program Manajemen Fasilitas berupaya untuk
mengurangi dan mengendalikan bahaya dan resiko, mencegah kecelakaan dan
cedera serta memelihara kondisi yang aman.
7
BAB II
STANDAR KETENAGAAAN
B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Adapun distribusi ketenagaan di seluruh lingkungan Klinik Ciborelang
Medika yang meliputi Dokter, perawat, Petugas Administrasi dan petugas
kebersihan.
8
BAB III
STANDAR FASILITAS
A. DENAH RUANGAN
9
B. STANDAR FASILITAS
Tabel 3.1 Jenis Peralatan Program Manajemen Fasilitas
Klinik Pratama Ciborelang Medika
NO. JENIS PERALATAN STANDAR JUMLAH ALAT
1. SET ALAT PEMADAM API 2 2
RINGAN
2. SET ALAT SPIIL KIT 2 2
3. BAHAN BERBAHAYA DAN 10 10
BERACUN
4. TEMPAT SAMPAH INFEKSIUS 5 5
DAN NON INFEKSIUS
10
8) CAIRAN STERIL
9) BAYCLIIN
10) PORSTEX
4. TEMPAT SAMPAH 1) TEMPAT SAMPAH 10
INFEKSIUS DAN NON INFEKSIUS ADA 5
INFEKSIUS 2) TEMPAT SAMPAH NON
INFEKSIUS ADA 5
11
BAB IV
TATA LAKSANA PROGRAM MANAJEMEN FASILITAS
12
2) Bahan berbahaya : penanganan, penyimpanan, dan penggunaan
bahan radioaktif dan bahan berbahaya lainnya harus dikendalikan
dan limbah bahan berbahaya dibuang secara aman;
3) Manajemen Emergensi Tanggapan terhadap wadah, bencana dan
keadaan emergensi direncanakan dan efektif;
4) Pengamanan kebakaran properti dan penghuninya dilindungi dari
kebakaran dan asap;
5) Peralatan medis peralatan dipilih, dipilihara dan digunakan
sedemikian rupa untuk mengurangi risiko;
6) Sistem utilitas Listrik, air dan sistem pendukung lainnya dipelihara
untuk meminimalkan risiko kegagalan pengoperasian;
7) Rencana tersebut ditulis dan di up to date yang merefleksikan
keadaan sekarang atau keadaan terkini dalam lingkungan klinik.
Ada proses untuk mereview dan mengupdate;
e. Komite risiko fasilitas/lingkungan yang kompeten mengawasi
perencanaan dan pelaksanaan program untuk mengelola risiko
dilingkungan pelayanan program pengawasan meliputi :
1) Merencanakan semua aspek dari program;
2) Melaksanakan program;
3) Mendidik staf;
4) Memonitor dan mengevaluasi uji coba program;
5) Melakukan evaluasi dan revisi program secara berkala;
6) Memberikan laporan tahunan ke badan pengelola tentang
pencapaian program;
7) Menyelenggarakan pengorganisasian dan pengelolaan secara
konsisten dan terus menerus;
8) Klinik membuat monitoring yang menyediakan data insiden, cidera
dan kejadian lainnya yang mendukung perencanaan dan
pengurangan risiko lebih lanjut;
14
- Pembuangan limbah berbahaya yang benar sesuai dengan SPO yang
ada,
- Peralatan dan prosedur perlindungan yang benar pada saat
penggunaaan, ada tumpahan (spill) atau paparan (exposure).
- Pendokumentasian meliputi izin dan perizinan/lisensi atau ketentuan
persyaratan lainnya.
- Pemasangan label yang benar pada bahan dan limbah berbahaya.
d. Klinik memastikan bahwa setiap badan usaha yang menggunakan bahan–
bahan berbahaya harus mempunyai lembar data pengaman;
e. Setiap bahan berbahaya dan beracun (B3) pada wadah atau kemasan
harus dicantumkan penandaan yang meliputi nama dagang, bahan aktif,
isi berat netto, kalimat peringatan dan tanda atau simbol bahaya;
f. Klinik memastikan bahwa bahan berbahaya dan beracun tersebut
terpisah dari bahan–bahan lain dan jauh dari api;
g. Klinik harus mengetahui sifat dan karakteristik dari penanganan,
penyimpanan dan penggunaan B3 tersebut yang meliputi :
1) Identifikasi Potensial Bahaya
a) Identifikasi dan penilaian risiko dilaksanakan oleh petugas yang
berkompeten (Petugas terkait, Gudang, Laboratorium, radiologi dan
Apotik)
b) Penentuan penanganan bahan/material dilaksanakan secara manual
atau mekanis ditetapkan berdasarkan hasil identifikasi
2) Sistem Pengangkutan, Penyimpanan dan Pembuangan
a) Sistem pengangkutan bahan material yang diterima untuk
pemindahan dari pengangkutan ke dalam gudang dilakukan secara
manual yang dilaksanakan dengan perlakuan yang benar guna
menghindari tumpahan atau ceceran.
b) Pemindahan ini dilakukan dengan tenaga manusia dengan
mempergunakan alat bantu troli. Pemindahan secara mekanis pada
umumnya tidak dilakukan mengingat berat bahan yang diangkut
tidaklah terlalu berat.
c) Penyimpanan
- Untuk penyimpanan bahan kimia harus dipersiapkan tempat
khusus menurut spesifikasi (jenis)
- Penyimpanan bahan–bahan kimia tidak dibenarkan dicampur
dengan bahan lainnya (gudang/penempatan harus terpisah dari
bahan lain) dilengkapi dengan label B3 dan MSDS yang sesuai
15
- Setiap bahan material yang disimpan di dalam gudang diberi label
yang jelas sesuai dengan spesifikasi, khusus dengan bahan–bahan
B3 harus diberi label peringatan yang jelas untuk diketahui
bahaya dari masing–masing bahan dan cara penanganan.
3) Pemindahan dan Penggunaan
a) Dalam pengambilan bahan material dari gudang untuk dipergunakan
di lokasi kerja harus memperhatikan aspek K3 (menghindari
tumpahan, kebocoran, ceceran dan kerusakan) sesuai dengan
petunjuk pedoman teknis yang berlaku
b) Petugas pelaksana yang menangani pemindahan dan penggunaan
harus memperhatikan aspek K3 dan harus mengenakan APD, alat
bantu yang memadai dan apabila terjadi tumpahan atau ceceran
pada saat pemindahan harus ditangani sesuai dengan instruksi kerja
dan pedoman kerja yang berlaku.
4) Pengendalian Barang–Barang Rusak dan kadaluwarsa
Bahan–bahan yang diindentifikasi telah mengalami kerusakan dan
kadaluwarsa ditempatkan di tempat yang aman secara khusus, tidak
dapat dipergunakan, tercatat dan penanganannya harus sesuai dengan
instruksi kerja
5) Pembuangan dan Penyimpanan
Barang bekas yang dinyatakan tidak dapat dipergunakan lagi harus
disimpan sesuai ketentuan yang berlaku, ditempatkan secara khusus
dan tercatat agar tidak dipergunakan lagi.
a) Khusus wadah bekas bahan B3 harus diberi label dengan jelas
sesuai sifat bahan tersebut (beracun, iritasi, korosif dan lain–lain)
b) Wadah bekas bahan kimia cair disimpan dan tidak dibenarkan
dipakai untuk kegiatan lain
c) Penanganan limbah padat dan limbah cair sesuai dengan Peraturan
Perundangan yang berlaku (Peraturan Lingkungan Hidup).
d) Melaksanakan sosialisasi penanganan, penyimpanan dan
penggunaan bahan berbahaya dan beracun (B3) kepada seluruh
karyawan dalam bentuk pelatihan, penyuluhan dan lain–lain;
e) Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi
ketentuan dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), termasuk
penggunaan alat pelindung diri (APD), serta selalu mengacu pada
pencegahan dan pengendalian infeksi;
16
f) Seluruh staf klinik harus bekerja sesuai dengan standar profesi,
pedoman/panduan dan standar prosedur opersional yang berlaku,
serta sesuai dengan etika profesi, visi misi, tujuan dan tata nilai
Klinik Pratama Ciborelang Medika.
4. Penanggulangan Bencana
a. Klinik membuat rencana dan program penanganan kedaruratan dan
program menanggapi bila terjadi kedaruratan komunitas, wabah dan
bencana alam atau bencana lainnya. Rencana tersebut berisikan proses
untuk :
a) Menetapkan jenis, kemungkinan dan konsekuensi dari bahaya,
ancaman dan kejadian
b) Menetapkan peran Klinik dalam kejadian tersebut
c) Strategi komunikasi pada kejadian
d) Pengelolaan sumber daya pada waktu kejadian, termasuk alternatif
tempat pelayanan
e) Pengelolaan kejadian klinis pada waktu kejadian, termasuk alternatif
tempat pelayanan
f) Identifikasi dan penugasan peran dan tanggungjawab staf pada waktu
kejadian
g) Proses untuk mengelola keadaan darurat/kedaruratan bila terjadi
pertentangan antara tanggungjawab staf secara pribadi dengan
tanggungjawab Klinik dalam hal penugasan staf untuk pelayanan
pasien.
b. Klinik melakukan uji coba/simulasi penanganan/menanggapi
kedaruratan, wabah dan bencana.
Rencana kesiapan menghadapi bencana diujicoba melalui :
a) Uji coba tahunan seluruh rencana penanggulangan bencana baik
secara internal maupun sebagai bagian dan dilakukan bersama
dengan masyarakat atau
b) Uji coba sepanjang tahun terhadap elemen kritis dari c) sampai
dengan g) dari rencana tersebut
c. Bila Klinik mengalami bencana secara nyata, mengaktifasi rencana yang
ada, dan setelah itu diberi pengarahan yang tepat, dan situasi ini
digambarkan setara dengan uji coba tahunan.
17
5. Sistem Proteksi Kebakaran
a. Klinik melaksanakan program untuk memastikan bahwa seluruh
penghuni di Klinik aman dari kebakaran, asap dan kedaruratan lainnya;
b. Klinik menjamin penghuni klinik tetap aman sekalipun terjadi
kebakaran atau asap dengan melaksanakan program antara lain :
a) Pencegahan kebakaran melalui pengurangan risiko kebakaran, seperti
penyimpanan dan penanganan secara aman bahan mudah terbakar,
termasuk gas medik, seperti oksigen
b) Bahaya yang terkait dengan setiap pembangunan didalam atau
berdekatan dengan bangunan yang dihuni pasien
c) Jalan keluar yang aman dan tidak terhalang bila terjadi kebakaran
d) Sistem peringatan dini, sistem deteksi dini, seperti, deteksi asap
(smoke detector), alarm kebakaran, dan patroli kebakaran,
e) Mekanisme penghentian/supresi (suppression) seperti selang air,
supresan kimia (chemical suppressants) atau sistem penyeburan
(spinkler).
c. Klinik secara teratur melakukan uji coba pengamanan kebakaran dan
asap, meliputi setiap peralatan yang terkait untuk deteksi dini dan
penghentian (suppression) dan mendokumentasikan hasilnya;
d. Rencana pengamanan kebakaran klinik mengidentifikasi :
a) Frekuensi pemeriksaan, uji coba dan pemeliharaan sistem
perlindungan dan pengamanan kebakaran, sesuai ketentuan
b) Rencana evakuasi yang aman dari fasilitas bila terjadi kebakaran atau
ada asap.
c) Proses untuk melakukan uji coba semua bagian dari rencana, dalam
jangka waktu 12 bulan
d) Pendidikan yang perlu bagi staf untuk dapat melindungi secara efektif
dan mengevakuasi pasien bila terjadi kedaruratan dan
e) Partisipasi semua staf dalam uji coba pengamanan kebakaran
sekurang-kurangnya setahun sekali.
e. Seluruh pemeriksaan, uji coba dan pemeriksaan didokumentasikan
f. Larangan Merokok
a) Klinik membuat larangan merokok dengan menggunakan stiker–stiker
disetiap ruangan dan membuat larangan merokok di peraturan Klinik;
b) Klinik menyusun dan mengimplenmentasikan kebijakan larangan
merokok terhadap pasien, keluarga, staf dan pengunjung tanpa
terkecuali;
18
c) Klinik secara teratur melakukan monitoring larangan merokok kepada
setiap pasien, keluarga, staf dan pengunjung yang kedapatan merokok
disekitar lingkungan klinik. Lingkungan Klinik adalah semua Ruang
Unit Kerja yang ada didalam batas Pagar Klinik;
d) Bagi pasien, keluarga, staf dan pengunjung yang kedapatan merokok
akan diberikan pengarahan dan masukan oleh tim Program
Manajemen Fasilitas serta membayar denda Rp. 50.000;
e) Klinik melindungi kesehatan masyarakat, sudah seharusnya bebas
dari asap rokok karena asap rokok dapat menimbulkan penyakit yang
fatal dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat
penggunaan rokok;
f) Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau
terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang
sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan
dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.
6. Peralatan Medis
a. Pengadaan Alat Medis
1) Klinik merencanakan dan mengimplementasikan program untuk
pengadaan alat medis untuk menjamin ketersediaan dan
berfungsi/layak pakainya peralatan medis tersebut;
2) Fasilitas yang rusak atau sudah tidak dapat diperbaiki kembali
segera dimutasi kebagian logistik dan dibuat berita acara pergantian
barang oleh bagian teknisi medis;
3) Untuk penambahan (pengadaan) alat medis baru disebabkan oleh:
- Adanya alat baru yang diperlukan pada pelayanan medis
- Kurangnya fasilitas alat medis yang diperlukan, sehingga
mengajukan penambahan alat medis yang baru kepada
Penanggung Jawab Klinik. Penanggung Jawab Klinik melakukan
koordinasi dengan unit kerja untuk menentukan spesifikasi alat
yang ingin diadakan.
- Penanggung Jawab Klinik menyetujui permohonan melalui
Administrasi dan Keuangan untuk pengadaan alat medis yang
baru.
4) Untuk penggantian alat yang lama :
19
- Pergantian alat medis harus diajukan oleh pengguna kepada
Penanggung Jawab yang menyatakan bahwa alat tersebut
sudah tidak layak pakai tidak dapat dipergunakan lagi.
- Mengajukan permohonan pergantian alat yang lama oleh
pengguna kepada Penanggung Jawab Klinik melalui adminitrasi
dan keuangan.
5) Setiap pergantian dan pengadaan barang yang dilakukan pencatatan
ke inventaris alat masing–masing bagian.
b. Pemeliharaan Alat Medis
1) Klinik merencanakan dan mengimplementasikan program untuk
pemeriksaan, uji coba dan pemeliharaan peralatan medis dan
mendokumentasikan hasilnya. Untuk menjamin ketersediaan dan
berfungsi/layak pakainya peralatan medis,
- Melakukan inventarisasi peralatan medis
- Melakukan pemeriksaan peralatan medis secara teratur
- Melakukan uji coba peralatan medis sesuai dengan penggunaan
dan ketentuaannya
- Melaksanakan pemeliharaan preventif.
2) Klinik mengumpulkan data hasil monitoring terhadap program
manajemen peralatan medis. Data tersebut digunakan dalam
menyusun rencana kebutuhan jangka panjang Klinik untuk
peningkatan dan penggantian peralatan;
3) Setiap kerusakan pada fasilitas Klinik segera dibuat memo
permintaan perbaikan barang atau memo permintaan pergantian
barang;
4) Fasilitas yang sudah tidak dapat diperbaiki kembali segera dimutasi
kebagian logistik dan dibuat berita acara pergantian barang;
5) Pemeriksaan hasil uji coba dan setiap kali pemeliharaan
didokumentasikan.
6) Pengadaan dan pergantian alat medis dilaksanakan oleh bagian
logistik, bekerja sama dengan bagian teknisi medis;
7) Setiap pergantian dan pengadaan barang yang dilakukan pencatatan
ke inventaris alat masing–masing bagian;
8) Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan
rapat rutin bulanan minimal satu bulan sekali;
9) Laporan intern dan ekstern dilakukan setiap bulan
c. Penggunaan Produk dan Peralatan yang dalam proses penarikan
20
1) Klinik mempunyai sistem penarikan kembali produk/peralatan;
2) Klinik mempunyai proses identifikasi, penarikan dan pengembalian
atau pemusnahan produk dan peralatan medis yang ditarik oleh
pihak pabrik atau supplaier;
3) Klinik membuat prosedur yang mengatur penggunaan setiap produk
atau peralatan yang ditarik kembali;
4) Pengendalian dalam penggunaan barang-barang rusak dan
kadaluarsa harus diidentifikasi secara benar, barang yang sudah
rusak atau kadaluarsa disimpan ditempat yang aman secara khusus,
tidak dipergunakan, tercatat dan penanganannya harus sesuai
dengan instruksi kerja;
5) Pemeliharaan alat medis merupakan suatu upaya yang dilakukan
agar peralatan kesehatan tersebut dapat bertahan lebih lama;
6) Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan
rapat rutin bulanan minimal satu bulan sekali;
7) Laporan intern dan ekstern dilakukan setiap bulan.
7. Sistem Utilitas
a. Air minum dan listrik yang tersedia 24 jam sehari, tujuh hari seminggu,
melalui sumber reguler atau alternatif, untuk memenuhi kebutuhan;
b. Klinik memiliki proses emergensi untuk melindungi penghuni Klinik dari
kejadian terganggunya, terkontaminasi atau kegagalan sistem
pengadaan air minum dan listrik
c. Klinik melakukan uji coba sistem emergensi dari air minum dan listrik
secara teratur sesuai dengan sistem dan hasilnya didokumentasikan
untuk menghadapi keadaan emergensi tersebut, Klinik :
- Mengidentifikasi peralatan, sistem dan tempat yang potensial
menimbulkan risiko tertinggi terhadap pasien dan staf (sebagai contoh,
mengidentifikasi area yang memerlukan pencahayaan, pendinginan,
dan air bersih untuk membersihkan dan mensterilkan perbekalan)
- Melakukan asesmen dan meminimalisasi risiko dari kegagalan sistem
pendukung di tempat-tempat tersebut
- Merencanakan sumber darurat listrik dan air bersih untuk tempat
tersebut dan kebutuhannya
- Melakukan uji coba ketersediaan dan keandalan sumber darurat listrik
dan air
- Mendokumentasikan hasil uji coba
21
- Memastikan bahwa pengujian alternatif sumber air dan listrik
dilakukan minimal/sekurang-kurangnya setiap tahun atau lebih sering
jika diharuskan oleh peraturan perundangan atau kondisi sumber
listrik dan air. Kondisi sumber listrik dan air yang mengharuskan
peningkatan frekuensi pengujian meliputi : Perbaikan berulang dari
sistem air, Seringnya kontaminasi terhadap sumber air, jaringan listrik
yang tidak bisa diandalkan dan, Padamnya listrik yang tak terduga dan
berulang
d. Klinik melakukan identifikais sistem listrik, limbah, ventilasi, gas medis
dan sistem kunci lainnya secara teratur diperiksa, dipelihara, dan bila
perlu ditingkatkan untuk menghindari bahaya.
e. Klinik mempunyai proses sistem pemeriksaan yang teratur dan
melakukan pencegahan dan pemeliharaan lainnya. Selama uji coba,
perhatian ditujukan pada komponen kritis (sebagai contoh, swiches
dan relays) dari sistem tersebut.
f. Sumber listrik emergensi dan cadangan diuji coba dalam lingkungan
yang direncanakan dan mensimulasikan beban aktual yang
dibutuhkan. Peningkatan dilakukan sesuai kebutuhan, misalnya
penambahan pelayanan listrik diarea yang punya peralatan baru.
g. Petugas atau otoritas yang ditetapkan memonitor mutu air secara
teratur
- Klinik menyusun proses pemantauan kualitas air secara teratur,
meliputi pemeriksaan biologis/biological air yang digunakan untuk
hemodialis.
- Pemantauan dapat dilakukan oleh staf yang ditunjuk oleh
Penanggung Jawab Klinik, seperti staf dari Kesling.
h. Klinik mengumpulkan data hasil monitoring program manajemen
sistem utilitas/pendukung.
- Data tersebut digunakan untuk merencanakan kebutuhan jangka
panjang klinik untuk peningkatan atau penggantian sistem
utiliti/pendukung.
- Pemantauan sistem yang esensial/penting membantu Klinik
mencegah terjadinya masalah dan menyediakan informasi yang
diperlukan untuk membuat PENETAPAN dalam perbaikan sistem
dan dalam merencanakan peningkatan atau penggantian sistem
utiliti/pendukung. Data hasil monitoring didokumentasikan.
22
8. Sampah Domestik dan Limbah
a. Penyediaan tempat sampah terpilih antar organik dan non organik dan
dilengkapi oleh tutup.
b. Tempat sampah dilapisi oleh kantong plastic hitam.
c. Penyediaan masker, sarung tangan rubberb Gloves dan sepatu boots
bagi petugas kebersihan.
d. Menyediakan Cuci tangan memakai sabun setelah mengelola sampah.
B. METODE
Metode pelaksanaan Program Manajemen Fasilitas dalam lingkungan
Klinik Ciborelang Medika adalah dalam SOP sebagai berikut :
1. Keselamatan dan Keamanan
2. Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) serta Limbah B3.
3. Penanggulangan Bencana
4. Sistem Proteksi Kebakaran
5. Peralatan Medis
6. Sistem Utilitas meliputi listrik, air dan gas medis serta sarana sanitasi
7. Pengelolaan sampah domestik dan limbah.
C. LANGKAH KEGIATAN
NO PROGRAM CARA MELAKSANAKAN KET
25
d) Memberikan label pada
Pemasangan label
tuas-tuas kontrol sistem
utilitas untuk membantu
pemadaman darurat secara
keseluruhan atau sebagian.
e) Mendokumentasikan hasil- Hasil pengujian
hasil pengujian.
f) Memeriksa air bersih dan Pemeriksaan
air limbah. laboratorium
7 Sampah domestic dan limbah
a) Penyediaan tempat sampah Penyediaan tempat
terpilih antar organik dan sampah
non organik dan dilengkapi
oleh tutup.
b) Tempat sampah dilapisi Penyediaan plastik
oleh kontong plastic hitam. hitam
c) Penyediaan masker, sarung Penyediaan APD
tangan rubberb Gloves dan
sepatu boots bagi petugas
kebersihan.
d) Menyediakan Cuci tangan Penyediaan wastafel
memakai sabtu setelah
mengelola sampah.
26
D. JADWAL KEGIATAN
Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Program Manajemen Fasilitas
2 Penilaian risiko V
3 Pengendalian risiko terhadap bahaya keamanan staff klinik, V
pasien, keluarga dan pengunjung.
4 Pemeriksaan Kesehatan berkala V V V V V V V V V V V V
5 Pemberian Imunisasi V V
6 Perilaku hidup bersih dan sehat V V V V V V V V V V V V
7 Pengelolaan sarana dan Prasarana V V V V V V V V V V V V
27
2. Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) serta Limbah B3
Tahun 2023
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Identifikasi dan inventarisasi bahan dan limbah B3. V
28
3. Penanggulangan Bencana (emergensi)
Tahun 2023
No Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Mengidentifikasi risiko kondisi darurat dan bencana V V
2 Menentukan analisis risiko bencana yang sering terjadi V
3 Pengendalian kondisi darurat atau bencana V
4 Menyediakan alat/sarana dan prosedur keadaan darurat V V V V V V V V V V V V
5 Menilai kesesuaian, penempatan dan kemudahan V
mendapatkan alat keadaan darurat.
6 Memasang tanda pintu darurat sesuai dengan standart dan V
pedoman teknis
7 Simulasi kondisi darurat dan bencana V
4. Proteksi Kebakaran
Tahun 2023
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Mengidentifikasi daerah berisiko kebakaran dan ledakan. V
2 Proteksi kebakaran secara aktif V
29
5. Peralatan Medis
Tahun 2023
No Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
30
5 Mendokumentasikan hasil-hasil pengujian. V V V V V V V V V V V V
31
BAB V
LOGISTIK
32
BAB VI
KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN PROGRAM
33
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
34
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
35
BAB IX
PENUTUP
PENANGGUNG JAWAB
KLINIK PRATAMA CIBORELANG MEDIKA,
dr. DWINANTA
36