BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1 PERATURAN DAN PERUNDANGAN
Pada tahun 1991, Pemerintah Orde Baru melakukan perubahan
mendasar pada pengelolaan pelabuhan melalui serangkaian Peraturan
Pemerintah (Nomor 56 s.d. 59 Tahun 1991). Tujuannya adalah untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan. Perubahan ini
mengalihkan status Perusahaan Umum (Perum) Pelabuhan Indonesia I-IV
menjadi Perseroan Terbatas (Persero), yang kemudian dikenal sebagai PT.
Pelindo I-IV (Persero). Meskipun menjadi Persero, kepemilikan saham tetap
dikuasai penuh oleh Pemerintah (melalui Kementerian Keuangan, yang
kemudian dialihkan ke Kementerian BUMN), dengan pembinaan teknis
operasional berada di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut,
Departemen Perhubungan. Pada fase ini, PT. Pelindo I-IV (Persero)
bertindak rangkap sebagai regulator (mengawasi penggunaan lahan)
sekaligus operator (mengoperasikan lahan) pelabuhan nasional dan
internasional.
Secara bersamaan dengan pembentukan Persero, Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 memperkenalkan
desentralisasi pengelolaan pelabuhan. Pelabuhan jenis nasional dan
internasional tetap menjadi kewenangan Pemerintah Pusat (PT. Pelindo),
namun pengelolaan pelabuhan lokal dan regional diserahkan kepada
Pemerintah Daerah sebagai implementasi Otonomi Daerah. Hal ini
menciptakan pembagian kelembagaan dalam pengelolaan pelabuhan
berdasarkan jenis dan cakupan pelabuhan.
Perkembangan signifikan terjadi pada tahun 2008 dengan
diundangkannya Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
(PP Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan). Regulasi ini membawa
dua perubahan fundamental: pertama, membuka peluang bagi pihak
swasta (investor) untuk melaksanakan kegiatan pengusahaan pelabuhan
setelah mendapatkan izin sebagai Badan Usaha Pelabuhan (BUP). Kedua,
dan yang paling krusial, adalah pengurangan kewenangan PT. Pelindo
(Persero) yang kini hanya terbatas sebagai operator pelabuhan. Fungsi
regulator dialihkan sepenuhnya kepada Otoritas Pelabuhan (OP), yaitu
lembaga pemerintah yang bertugas mengatur, mengendalikan, dan
mengawasi kegiatan kepelabuhanan komersial. Meskipun tidak secara
eksplisit menyebut "privatisasi", substansi hukum UU No. 17 Tahun 2008
mengindikasikan adanya kebijakan pemerintah menuju privatisasi kegiatan
pengusahaan di pelabuhan.
2.2 PENDEKATAN TEKNIS
Pendekatan teknis dalam perencanaan pelabuhan laut merupakan
proses multidisiplin yang mengintegrasikan analisis geoteknik, hidrolika
laut, dan rekayasa struktur untuk menghasilkan sistem pelabuhan yang
aman, efisien, serta berkelanjutan. Tahapan awalnya melibatkan studi
karakteristik fisik wilayah pesisir, termasuk topografi dasar laut, sifat tanah
dasar, serta dinamika gelombang dan arus, yang menjadi dasar dalam
penentuan lokasi, tata letak, dan tipe struktur pelabuhan.
2.2.1 Data Batimetri (Kedalaman Laut)
Data Batimetri didefinisikan sebagai cabang ilmu yang mempelajari
pengukuran kedalaman dan pemetaan topografi dasar. Proses Batimetri
meliputi tiga tahapan utama: pemeruman (pengukuran kedalaman)
menggunakan perangkat akustik, pengolahan data guna memperoleh nilai
kedalaman yang terkorkesi, serta visualisasi data tersebut menjadi peta
batimetri. Peta ini secara spesifik menampilkan kontur dan morfologi dasar
perairan, yang sangat krusial untuk menunjang keselamatan navigasi
pelayaran, perencanaan pembangunan infrastruktur maritim, dan
kepentingan penelitian oseanografi.
2.2.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bengkalis
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bengkalis
merupakan dokumen perencanaan spasial yang berfungsi sebagai
pedoman dalam pengelolaan pemanfaatan ruang wilayah secara terpadu,
berkelanjutan, dan berkeadilan. RTRW ini disusun untuk mengarahkan
pengembangan wilayah sesuai potensi sumber daya alam, kondisi
lingkungan, serta kebutuhan sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan
Peraturan Daerah Kabupaten Bengkalis Nomor 11 Tahun 2021 tentang
RTRW Kabupaten Bengkalis Tahun 2021–2041, struktur ruang wilayah
Bengkalis dirancang untuk memperkuat fungsi kota Bengkalis sebagai
pusat kegiatan wilayah, dengan pengembangan kawasan pesisir,
pelabuhan, industri, dan pariwisata secara terencana. Pola ruang wilayah
mencakup zona lindung, seperti kawasan hutan mangrove dan sempadan
pantai, serta zona budidaya yang meliputi kawasan permukiman, pertanian,
dan infrastruktur maritim. Selain itu, RTRW ini juga menetapkan arah
pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut, dan udara guna
meningkatkan konektivitas antar pulau dan wilayah hinterland di Riau.
Dengan demikian, pelaksanaan RTRW Kabupaten Bengkalis menjadi dasar
strategis bagi pengendalian pemanfaatan ruang, perizinan pembangunan,
serta perencanaan proyek infrastruktur, termasuk pengembangan kawasan
pelabuhan dan industri pesisir yang berwawasan lingkungan.
Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang
Gambar 2.2 Peta Rencana Pola Ruang
Gambar 2.3 Peta Pemetaan Kawasan Strategis Kabupaten
2.2.3 DATA ARAH ANGIN
Data Arah Angin didefinisikan sebagai informasi mengenai arah
asal tiupan angin, yang merupakan unsur cuaca fundamental dan krusial,
terutama dalam konteks operasional penerbangan. Data ini diukur dalam
satuan derajat kompas (0° hingga 360°) dan biasanya dianalisis bersama
kecepatan angin menggunakan metode Windrose (mawar angin). Hasil
analisis tersebut menunjukkan dominasi arah dan frekuensi kejadian angin
dari berbagai penjuru, informasi yang sangat vital untuk menjamin
keselamatan dan efisiensi prosedur lepas landas dan pendaratan pesawat.
2.2.4 DATA PASANG SURUT AIR LAUT
Analisis data pasang surut air laut memiliki peran krusial dalam
perencanaan dan desain pelabuhan karena menentukan batas elevasi
yang aman bagi konstruksi dan aktivitas maritim. Data ini digunakan untuk
menetapkan tinggi muka air laut rencana, menentukan elevasi dermaga,
serta merancang sistem alur pelayaran yang mampu menampung kapal
dengan berbagai ukuran pada kondisi pasang dan surut ekstrem.
2.2.5 DATA GELOMBANG
Data gelombang merupakan kumpulan informasi kuantitatif yang
menggambarkan karakteristik fisik dari gelombang laut, yang digunakan
untuk memahami dinamika perairan serta mendukung kegiatan
perencanaan dan perancangan struktur pantai maupun pelabuhan. Data ini
mencakup parameter utama seperti tinggi gelombang signifikan (Hs),
periode gelombang (T), arah datang gelombang (θ), dan distribusi energi
gelombang, yang diperoleh melalui pengamatan lapangan menggunakan
alat seperti wave buoy, Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP), atau
sistem radar gelombang, serta melalui pemodelan numerik berbasis data
meteorologi dan topografi laut.
2.2.6 DATA PENYELIDIKAN TANAH
Data penyelidikan tanah merupakan komponen krusial dalam
perencanaan dan pelaksanaan proyek konstruksi karena memberikan
gambaran menyeluruh tentang kondisi geoteknik suatu lokasi, termasuk
jenis lapisan tanah, kedalaman muka air tanah, nilai daya dukung, dan
karakteristik fisik lainnya. Metode Standard Penetration Test (SPT)
digunakan untuk memperoleh nilai N-SPT pada interval kedalaman tertentu,
yang kemudian dianalisis untuk menentukan kapasitas dukung tanah dan
kedalaman tanah keras sebagai acuan desain pondasi tiang pancang. Data
ini tidak hanya membantu dalam memilih jenis pondasi yang tepat apakah
pondasi dangkal atau dalam tetapi juga berperan penting dalam
menghindari risiko kegagalan struktur akibat kondisi tanah yang tidak stabil
atau tidak seragam. Penyelidikan tanah juga mencakup interpretasi
stratigrafi tanah, identifikasi potensi liquefaction, dan penentuan parameter
teknis untuk simulasi perhitungan struktur, sehingga hasilnya menjadi dasar
yang kuat bagi perancang dan pelaksana proyek untuk membuat keputusan
teknis yang aman dan efisien.
Gambar 2.4 Data Drilling Log BH - 01
2.2.7 KARAKTERISTIK KAPAL
Karakteristik kapal merupakan aspek penting dalam desain dan
operasional kapal yang mencakup dimensi utama (panjang, lebar, tinggi),
bentuk lambung, kapasitas muatan, sistem propulsi, dan stabilitas dinamis.
Stabilitas kapal sangat dipengaruhi oleh distribusi berat, titik berat (center
of gravity), titik apung (center of buoyancy), dan momen pemulih (righting
moment), yang menentukan kemampuan kapal untuk kembali ke posisi
tegak setelah terganggu oleh gelombang atau perubahan beban. Selain itu,
karakteristik seperti freeboard (jarak antara permukaan air dan dek utama)
dan koefisien bentuk kapal seperti block coefficient dan prismatic coefficient
berperan dalam efisiensi hidrodinamika, konsumsi bahan bakar, dan
keamanan pelayaran. Karakteristik ini menjadi dasar dalam perencanaan
rute, pemilihan mesin, pengaturan muatan, dan penentuan jenis pelayaran
yang sesuai, baik untuk kapal penumpang, kapal barang, maupun kapal
khusus.
2.2.8 PERENCANAAN ALUR PELAYANAN BARANG DAN KAPAL DI
PELABUHAN
Perencanaan alur pelayanan barang dan kapal di pelabuhan
merupakan proses strategis yang bertujuan untuk mengatur dan
mengoptimalkan seluruh aktivitas logistik dan operasional pelabuhan, mulai
dari kedatangan kapal, proses sandar, bongkar muat barang, hingga
keberangkatan kapal secara efisien dan terkoordinasi. Perencanaan ini
melibatkan analisis terhadap kapasitas dermaga, jenis dan volume barang,
serta pola kedatangan kapal berdasarkan data historis dan proyeksi trafik.
Dengan menggunakan pendekatan simulasi dan pemodelan alur,
perencana pelabuhan dapat mengidentifikasi potensi kemacetan,
menentukan waktu pelayanan optimal, dan menyusun jadwal sandar yang
efisien. Pentingnya integrasi sistem informasi logistik dan komunikasi antar
stakeholder seperti operator pelabuhan, agen kapal, dan otoritas pelabuhan
untuk memastikan kelancaran operasional dan transparansi data.
2.2.9 PEMILIHAN STRUKTUR
Pemilihan struktur merupakan tahap krusial dalam perencanaan
bangunan karena menentukan sistem struktur yang paling sesuai dengan
fungsi bangunan, kondisi tanah, beban kerja, efisiensi biaya, dan
kemudahan pelaksanaan konstruksi. Dalam jurnal “Pemilihan Sistem
Struktur Bangunan Berdasarkan Kriteria Teknis dan Ekonomis” dari
Universitas Diponegoro, dijelaskan bahwa proses ini melibatkan analisis
komprehensif terhadap berbagai alternatif sistem struktur seperti rangka
beton bertulang, struktur baja, dan sistem pracetak, yang masing-masing
memiliki keunggulan dan keterbatasan tergantung pada konteks proyek.
Kriteria teknis yang dipertimbangkan meliputi kekuatan, kekakuan,
keandalan terhadap beban gempa, serta integrasi dengan sistem
arsitektural dan utilitas bangunan. Sementara itu, aspek ekonomis
mencakup efisiensi penggunaan material, biaya konstruksi, waktu
pelaksanaan, dan biaya pemeliharaan jangka panjang. Jurnal ini
menggunakan pendekatan pembobotan dan analisis multi-kriteria untuk
menentukan sistem struktur yang paling optimal bagi bangunan bertingkat
menengah, sehingga hasilnya tidak hanya memenuhi standar teknis, tetapi
juga memberikan nilai tambah dari sisi efisiensi dan keberlanjutan.