0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan24 halaman

Pengaruh Inquiry-Based Learning pada Motivasi Siswa

Dokumen ini adalah proposal skripsi yang membahas pengaruh pendekatan Inquiry-Based Learning terhadap motivasi belajar siswa dalam penyelesaian tugas penelitian sejarah di SMAN 8 Medan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan aktif siswa dan kemampuan berpikir kritis melalui metode pembelajaran yang lebih partisipatif. Diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran sejarah dan motivasi siswa.

Diunggah oleh

arilsiregar402
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan24 halaman

Pengaruh Inquiry-Based Learning pada Motivasi Siswa

Dokumen ini adalah proposal skripsi yang membahas pengaruh pendekatan Inquiry-Based Learning terhadap motivasi belajar siswa dalam penyelesaian tugas penelitian sejarah di SMAN 8 Medan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan aktif siswa dan kemampuan berpikir kritis melalui metode pembelajaran yang lebih partisipatif. Diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran sejarah dan motivasi siswa.

Diunggah oleh

arilsiregar402
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENGGUNAAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS

INQUIRY-BASED LEARNING TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM


PENYELESAIAN TUGAS PRAKTEK PENELITIAN SEJARAH KELAS X SMAN 8
MEDAN

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Untuk Mememenuhi Syarat

Mata Kuliah Penelitian Pendidikan Sejarah

OLEH:

Armyla Sari Harahap 3233121034

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pembelajaran adalah proses terus-menerus dimana peserta didik secara aktif


mengkontruksi pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungan (Fisisk, sosial,
digital), pengalaman, serta teknologi. Dalam era Society 5.0, pembelajaran tidak hany fokus pada
aspek kognitif, tetapi juga pengembangan keterampilan abad ke- 21 seperti kreativitas, pemikiran
kritis, kolaborasi,, dan literasi digital sekaligus membangun kesadaran sosial dan etika. - Selain
itu, Pembelajaran modern mencangkup adaptasi terhadap personalisasi dengan pemanfaatn data
(data driven learning), fleksibilitas jalur belajar (misalnya belajar mandiri), serta kolaborasi
manusia mesin (Human AI) dalam proses pendidikan. Dari persfektif psikologi belajar
kontemporer, pembelajran juga dipandang sebagai modifikasi kemampuan seseorang melalui
pengalaman, perubahan yang stabil dalam kompetensi sebagai hasil dari interaksi dengan dunia
(lingkungan sosial fisik). (A M. , 2014)

Pembelajaran sejarah bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam


memahami hubungan antara peristiwa masalalu, masa kin, dan masa depan melalui penguatan
keterampilan berpikir historis. Dengan memanfaatkan sumber-sumber sejarah yang beragam,
peserta didik dilatih untuk menganalisis bukti, nerpikir kritis, memahami sebab akibat, serta
menafsirkan perubahan dan keberlanjutan dalam proses sejarah. Pembelajaran ini juga diarahkan
untuk menumbuhkan nilai kebangsaan, toleransi, dan apresiasi terhadap keragaman budaya
Indonesia, sekaligus membentuk karakter pelajar yang reflektif dan mampu mengambil pelajaran
dari pengalaman sejarah untuk menghadapi tantagan kehidupan modern. (A M. , 2014)

Pembelajaran kontruksivise adalah pendekatan yang menekankan bahwa pengetahuan di


bangun secara aktif oleh peserta didik melalui pengalaman langsung, interaksi dengan lingkunga,
serta proses refleksi terhadap apa yang yang mereka alami. Dalam pandangan kontruksivisme,
belajar bukanlah menerima informasi secara pasif, melainkan aktivitas membangun makna secara
bertahap melalui keterlibatan mental dan sosial. Ketika dkaitkan dengan Inquiry- Based Learning,
proses kontruksi pengetahuan tersebut diperkuat melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi,
pengajuan pertanyaan, dan pemecahan masalah yang dilakuakn siswa secara mandiri dan
kolaboratif. Inquiry-Based Learning menjadi kerangka operasional kontruksivisme Karen
amemberikan struktur belajar yang memungkinkan siswa menemukan konsep yang
memungkinkan siswa menumukan konsep melalui proses inkuiri. Melalui tahapan seperti
merumuskan masalah, mengumpulkan data, menganalisis informasi, hingga menarik kesimpulan,
siswa mengontruksi pemahaman mereka sendiri secara bermakna. Dengan demikian , pembelajarn
kontruksivisme berbasis IBL merupakan proses belajar yang berpusat pada siswa, menuntut
keterlibatan aktif, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta mengembangkan kemampuan berpikir
kritis dan reflektif melalui pengalaman investigatif. (Kurniasih, 2015)

Dalam praktiknya, proses pembelajaran sejarah di sekolah masih sering berlangsung secara
konvensional, yaitu berpusat pada guru dan berorientasi pada hafalan fakta-fakta sejarah. Model
pembelajaran seperti ini membuat siswa cenderung pasif, kurang termotivasi, dan menganggap
pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran yang membosankan serta tidak relevan dengan kehidupan
mereka. Rendahnya motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah juga terlihat ketika
mereka dihadapkan pada tugas penelitian sejarah. Banyak siswa yang kesulitan dalam
merumuskan masalah, mencari sumber, dan menganalisis data sejarah karena belum terbiasa
berpikir kritis dan mandiri hal tersebut menjadi masalah dalam hasil belajar siswa dan tingkat
motivasi belajar siswa. Padahal, kemampuan melakukan penelitian sederhana merupakan bagian
penting dari pembelajaran sejarah yang menekankan pada proses berpikir historis (historical
thinking). (Kurniasih, 2015)

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan model
pembelajaran berbasis inkuiri (Inquiry-Based Learning). Model ini menempatkan siswa sebagai
subjek aktif dalam proses belajar, di mana mereka didorong untuk mengajukan pertanyaan,
mencari data, menganalisis informasi, serta menyimpulkan hasil penyelidikan secara mandiri.
Dalam konteks pembelajaran sejarah, pendekatan inkuiri membantu siswa memahami sejarah
melalui proses ilmiah, bukan sekadar menghafal. Siswa belajar menelusuri sumber-sumber
sejarah, menemukan makna di balik peristiwa, dan membangun interpretasi berdasarkan bukti.
Penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri diyakini dapat meningkatkan motivasi belajar
siswa, karena memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menantang. Siswa merasa lebih
tertantang untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan sendiri, serta lebih
terlibat dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar yang meningkat akan berpengaruh positif
terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas penelitian sejarah, baik dari segi
ketekunan, tanggung jawab, maupun kreativitas dalam mengolah informasi sejarah. (Hamdani,
2011)

Berdasarkan uraian tersebut, diperlukan penelitian untuk mengetahui pengaruh


pembelajaran berbasis Inquiry-Based Learning terhadap motivasi belajar siswa dalam
penyelesaian tugas penelitian sejarah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sejarah, khususnya dalam upaya menumbuhkan
motivasi belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa melalui penerapan model pembelajaran yang
aktif dan partisipatif.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian yang telah dijelaskan,
maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Pembelajaran sejarah di sekolah masih cenderung berpusat pada guru (teacher-centered),
sehingga siswa menjadi pasif dan kurang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Motivasi belajar siswa dalam menyelesaikan tugas penelitian sejarah masih rendah,
terlihat dari minimnya antusiasme, kurangnya rasa ingin tahu, serta keterlambatan dalam
penyelesaian tugas.
3. Model pembelajaran yang digunakan guru belum sepenuhnya mendorong siswa untuk
berpikir kritis, meneliti, dan menemukan konsep secara mandiri.
4. Belum banyak guru sejarah yang menerapkan model Inquiry-Based Learning secara
konsisten sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
5. Masih perlu dibuktikan secara empiris apakah penerapan model Inquiry-Based Learning
memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar siswa dalam konteks
pembelajaran sejarah, khususnya pada tugas penelitian.
C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, adapun batasan masalah
dalam penelitian ini adalah “Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Berbasis Inquiry-Based
Learning Terhadap Motivasi Belajar Siswa Dalam Penyelesaian Tugas Praktek Penelitian Sejarah
Kelas X SMAN 8 MEDAN”.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusam masalah dalam penelitian
adalah sebagai berikut:
1. Bagimana penerapan model pembelajaran berbasis Inquiry-Based Learning dalam
pembelajaran sejarah?
2. Bagaimana tingkat motivasi belajar siswa dalam penyelesaian tugas penelitian sejarah
sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Inquiry-Based Learning?
3. Apakah terdapat pengaruh signifkan antara penerapan model pembelajaran berbasis
Inquiry-Based Learning terhadap motivasi belajar siswa dalam penyelesaian tugas
penelitian sejarah?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Inquiry-Based Learning dalam
pembelajaran sejarah
2. Untuk megetahui tingkat motivasi belajar siswa dalam menyelesaikan tugas penelitian
sejarah sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran berbasis Inquiry-Based
Learning
3. Untuk menganalisi pengaruh pembelajaran berbasis Inquiry-Based Learning terhadap
motivasi belajar siswa dalam penyelesaian tugas Penelitian sejarah
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi Guru
Diharapkan dapat memberikan alternative strategi pembelajaran sejarah yang lebih aktif
dan bermakna untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
2. Bagi Siswa
Diharapkan dapat membantu meningkatkan semanagat, keaktifan, dan kemempuan
berpikir kritis dalam menyelesaian tugas penelitian sejarah.
3. Bagi Sekolah
Diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan pembelajaran
berbasis riset dan penerapan model inovaif di kelas.
4. Bagi Penelitian Lain
Dapat menjadi referens atau dasar bagi penelitian lanjutan mengenai penerapan model
pembelajaran berbasis Inquiry dalam bidang lainnya.
5. Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian ilmiah dalam bidang pendidikan
sejarah, khusunya terkait efektivitas model pembelajaran berbasis Inquiry-Based
Learning dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka

1. Inquiry-Based Learning (IBL)

merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai


pusat aktivitas belajar melalui proses penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah.
Pendekatan ini berlandaskan pada teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan
terbentuk melalui pengalaman langsung dan keterlibatan aktif siswa dalam membangun
pemahamannya sendiri. Dalam IBL, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi
berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan,
menginvestigasi fenomena, mencari bukti, serta membangun kesimpulan berdasarkan data yang
mereka peroleh. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih bermakna karena siswa tidak
hanya menerima informasi, tetapi menemukan sendiri konsep melalui aktivitas investigatif.

Secara operasional, Inquiry-Based Learning memiliki beberapa tahapan penting, antara


lain: (1) orientasi masalah, yaitu ketika guru memunculkan fenomena atau persoalan yang
memicu rasa ingin tahu siswa; (2) perumusan pertanyaan atau hipotesis, yang mendorong siswa
menentukan arah penyelidikan; (3) pengumpulan data, melalui observasi, eksperimen, membaca
sumber, ataupun diskusi; (4) analisis dan interpretasi data; serta (5) penarikan kesimpulan
berdasarkan bukti yang ditemukan. Tahapan ini memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir
kritis, kreatif, dan sistematis. Selain itu, IBL memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan
metakognitif, yaitu kemampuan mengelola cara belajar mereka sendiri melalui refleksi terhadap
proses penyelidikan yang dilakukan.

Inquiry-Based Learning juga memiliki dampak positif terhadap berbagai aspek


perkembangan peserta didik, termasuk motivasi, kemandirian, dan keterampilan berpikir tingkat
tinggi. Ketika siswa dilibatkan dalam proses penyelidikan yang relevan dengan kehidupan nyata,
mereka cenderung lebih termotivasi karena merasa proses belajar memberikan tantangan dan
kesempatan untuk mengeksplorasi hal yang menarik bagi mereka. Selain itu, IBL memungkinkan
terbangunnya pembelajaran kolaboratif melalui diskusi kelompok, berbagi temuan, dan kerja sama
dalam menganalisis data. Penerapan IBL juga sejalan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka yang
menekankan kemampuan bernalar kritis dan pemecahan masalah. Dengan demikian, IBL menjadi
pendekatan yang sangat relevan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada mata
pelajaran yang menuntut kegiatan penelitian, seperti penelitian sejarah di tingkat SMA.

2. Motivasi Belajar

Motivasi belajar merupakan dorongan internal maupun eksternal yang menggerakkan


individu untuk melakukan aktivitas belajar, mempertahankan usaha, serta mencapai tujuan
pembelajaran. Menurut perspektif psikologi pendidikan, motivasi memiliki peran penting dalam
menentukan intensitas, arah, dan ketekunan seseorang dalam proses belajar. Motivasi belajar tidak
hanya berkaitan dengan keinginan untuk memperoleh hasil akademik yang baik, tetapi juga terkait
dengan kebutuhan untuk memahami materi, rasa ingin tahu, dan kepuasan pribadi ketika mencapai
kemajuan. Dengan demikian, motivasi belajar menjadi faktor kunci yang memengaruhi kualitas
proses dan hasil belajar siswa di berbagai jenjang pendidikan.

Secara umum, motivasi belajar dipengaruhi oleh dua jenis faktor, yaitu motivasi intrinsik
dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik muncul dari dalam diri siswa, seperti minat terhadap
materi, keinginan untuk menguasai pengetahuan, atau rasa senang ketika berhasil menyelesaikan
tugas. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik berasal dari faktor luar, seperti pemberian penghargaan,
nilai, dukungan orang tua, maupun metode pembelajaran yang digunakan guru. Teori Self-
Determination (Deci & Ryan) menekankan bahwa motivasi intrinsik berkembang ketika
kebutuhan dasar individu yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan terpenuhi. Oleh karena
itu, lingkungan belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinisiatif,
menunjukkan kemampuan, dan merasa dihargai akan mendorong meningkatnya motivasi belajar.

Motivasi belajar juga memiliki dampak langsung terhadap perilaku belajar, seperti
ketekunan, konsentrasi, dan strategi belajar yang digunakan siswa. Siswa dengan motivasi tinggi
cenderung mampu mengatur diri dalam belajar, berani menghadapi tantangan, serta tidak mudah
menyerah ketika menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas. Sebaliknya, siswa dengan motivasi
rendah umumnya menunjukkan kurangnya keterlibatan, cepat bosan, dan sulit menyelesaikan
tugas secara optimal. Dalam konteks pembelajaran modern, strategi guru dalam memilih metode
pembelajaran termasuk metode berbasis Inquiry-Based Learning sangat berpengaruh terhadap
meningkat atau menurunnya motivasi belajar. Ketika metode pembelajaran menantang, relevan,
dan melibatkan siswa secara aktif, maka motivasi belajar akan tumbuh lebih kuat sehingga
berdampak pada hasil belajar yang lebih baik.

B. Penelitian Relevan

Keterbaruan dari penelitian saya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Metode


Pembelajaran Berbasis Inquiry-Based Learning terhadap Motivasi Belajar Siswa dalam
Penyelesaian Tugas Praktek Penelitian Sejarah Kelas X SMAN 8 Medan” dibandingkan dengan
jurnal “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Motivasi Belajar Sejarah Siswa Kelas XI
SMA Negeri 12 Pekanbaru” terletak pada perluasan konteks, subjek, dan arah kajian penelitian.
Jurnal sebelumnya menitikberatkan pada penerapan model pembelajaran inkuiri untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran sejarah di kelas. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa model inkuiri efektif dalam menumbuhkan semangat dan
keterlibatan siswa terhadap materi sejarah. Sementara itu, penelitian dengan judul baru ini
menghadirkan kebaruan dengan mengembangkan penerapan model Inquiry-Based Learning bukan
hanya pada aktivitas belajar di kelas, tetapi juga dalam konteks penyelesaian tugas praktik
penelitian sejarah, di mana siswa dilatih untuk berpikir ilmiah, mencari data, menganalisis sumber,
serta menyusun laporan penelitian sejarah secara mandiri.

Selain itu, kebaruan penelitian ini juga terletak pada perbedaan subjek yang diteliti. Jika
penelitian sebelumnya dilakukan pada siswa kelas XI, penelitian ini diterapkan pada siswa kelas
X yang baru memulai pembelajaran sejarah di tingkat SMA. Hal ini memberikan perspektif baru
mengenai efektivitas model inkuiri dalam membangun motivasi belajar sejak tahap awal
pendidikan menengah. Dari sisi teori dan praktik, penelitian ini memperluas fungsi Inquiry-Based
Learning tidak hanya sebagai metode pembelajaran yang menumbuhkan motivasi belajar dalam
konteks pembelajaran teoritis, tetapi juga sebagai pendekatan berbasis riset (research-based
learning) yang mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis, keterampilan penelitian, dan
kemandirian belajar siswa. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru bagi
pengembangan pembelajaran sejarah yang lebih aktif, kontekstual, dan berorientasi pada
peningkatan motivasi serta kemampuan penelitian siswa.
C. Kerangka Berpikir
Pembelajaran sejarah menuntut siswa untuk tidak hanya menghafal fakta, tetapi juga
mengembangkan kemampuan berpikir historis melalui kegiatan seperti analisis sumber,
penyelidikan bukti, dan penyusunan interpretasi sejarah. Salah satu pendekatan yang mendukung
proses tersebut adalah Inquiry-Based Learning (IBL), yang berorientasi pada proses penyelidikan
(inquiry), perumusan pertanyaan, pengumpulan bukti, serta penarikan kesimpulan berdasarkan
data yang ditemukan siswa. Menurut konstruktivisme (Piaget & Vygotsky), pengetahuan
dibangun melalui aktivitas mental dan interaksi sosial. IBL sejalan dengan prinsip tersebut karena
memberi ruang bagi siswa untuk membangun pemahaman sejarah melalui proses aktif, kolaboratif,
dan reflektif. Tahapan IBL orientation, questioning, investigation, analysis, conclusion, dan
reflection memungkinkan siswa terlibat langsung dalam proses penelitian sejarah, seperti
observasi lapangan, pengumpulan data, dan analisis sumber.
Proses pembelajaran berbasis inquiry memberikan autonomy, competence, dan relatedness
(Ryan & Deci, SDT), yang merupakan tiga kebutuhan psikologis utama penyusun motivasi belajar.
Ketika siswa memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan sendiri, mencari data lapangan,
dan menyelesaikan tugas sejarah secara mandiri, motivasi intrinsik mereka meningkat karena
merasa memiliki kendali terhadap proses belajar (autonomy), mampu menguasai tugas
(competence), dan mendapatkan dukungan dari guru serta kelompok belajar (relatedness).
Pendekatan IBL juga terbukti meningkatkan dimensi motivasi belajar seperti ketekunan,
keaktifan, minat terhadap materi, serta semangat dalam menyelesaikan tugas penelitian sejarah.
Dengan demikian, semakin optimal penerapan IBL dalam pembelajaran sejarah, semakin tinggi
pula motivasi belajar siswa dalam penyelesaian tugas praktik penelitian sejarah. Oleh karena itu,
penelitian ini didasarkan pada kerangka berpikir bahwa pendekatan pembelajaran IBL secara
langsung berpengaruh positif terhadap peningkatan motivasi belajar siswa, khususnya pada tugas
praktik penelitian sejarah yang membutuhkan kemampuan penyelidikan, analisis bukti, serta
ketelitian akademik.

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Hipotesis Alternatif (H₁), Terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan pendekatan
pembelajaran berbasis Inquiry-Based Learning (IBL) terhadap motivasi belajar siswa dalam
penyelesaian tugas praktik penelitian sejarah.
2. Hipotesis Nol (H₀), Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan pendekatan
pembelajaran berbasis Inquiry-Based Learning (IBL) terhadap motivasi belajar siswa dalam
penyelesaian tugas praktik penelitian sejarah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena tujuan utama penelitian adalah
mengukur pengaruh penggunaan model pembelajaran Inquiry-Based Learning terhadap motivasi
belajar siswa secara objektif dan terukur. Pendekatan kuantitatif dipilih sesuai dengan karakteristik
penelitian yang ingin menguji hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan variabel terikat,
melalui pengolahan data numerik berupa skor angket, skor aktivitas, dan perbedaan nilai pretest
serta posttest. Pemilihan pendekatan ini relevan dengan hakikat penelitian eksperimental dalam
pendidikan, di mana peningkatan motivasi belajar dapat diamati melalui perbandingan angka
sebelum dan sesudah perlakuan. Pemilihan pendekatan ini juga konsisten dengan teori-teori
motivasi dan pembelajaran di Bab II, terutama dalam pembahasan Self-Determination Theory
(Ryan & Deci) dan teori-teori konstruktivisme serta inquiry learning.

Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi-experimental atau eksperimen semu, sebab
kondisi lapangan tidak memungkinkan pengacakan kelas secara menyeluruh. Dalam setting
sekolah, kelas sudah terbentuk secara administratif, sehingga peneliti tidak dapat membagi peserta
secara acak seperti pada eksperimen murni. Oleh karena itu, quasi-experimental menjadi pilihan
metodologis paling tepat karena tetap memberi kesempatan untuk melihat dampak intervensi
secara terukur, meskipun tanpa randomisasi penuh. Selanjutnya, desain eksperimen yang
digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design, yakni desain di mana hanya terdapat satu
kelompok yang diberikan pengukuran awal, diberikan perlakuan, dan kemudian dilakukan
pengukuran akhir. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin melihat perubahan motivasi
sebelum dan sesudah penerapan model IBL dalam konteks pembelajaran sejarah.

Pemilihan desain ini juga didasarkan pada pertimbangan objektivitas dan kemudahan
dalam mengukur pengaruh perlakuan. Dengan mengukur motivasi belajar siswa sebelum
perlakuan, peneliti memperoleh gambaran awal mengenai tingkat motivasi dasar siswa. Setelah
perlakuan IBL diterapkan, perubahan motivasi dapat dianalisis melalui skor posttest. Kejelasan ini
menjadikan desain One Group Pretest–Posttest sebagai desain yang paling sesuai dengan tujuan
eksperimen berbasis pembelajaran di kelas. Selain itu, desain ini menghindari kebutuhan akan
pembentukan kelompok kontrol yang mungkin menimbulkan hambatan administratif di sekolah.
Creswell (2014) menerangkan bahwa desain ini adalah desain yang paling efektif untuk menilai
perubahan langsung setelah intervensi pembelajaran diberikan.

Dalam konteks pembelajaran sejarah di kelas X SMAN 8 Medan, penggunaan desain


eksperimen ini sangat penting karena pembelajaran sejarah selama ini cenderung bersifat
konvensional dan berpusat pada guru. Saya sendiri telah menguraikan pada Bab I bahwa
rendahnya motivasi belajar siswa ketika mengerjakan tugas penelitian sejarah berkaitan dengan
minimnya eksplorasi aktif yang mendorong rasa ingin tahu dan kemandirian siswa. Dengan
demikian, eksperimen IBL pada satu kelompok memungkinkan peneliti untuk melihat sejauh mana
intervensi pedagogis mampu mengubah pola tersebut.

Selain itu, pemilihan model quasi-experimental ini juga sejalan dengan karakteristik
Inquiry-Based Learning itu sendiri, yang menekankan kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan
pemecahan masalah. IBL bukan sekadar model pembelajaran, tetapi juga merupakan pendekatan
ilmiah yang membutuhkan ruang eksperimen di kelas. Ketika siswa terlibat dalam proses inquiry,
mereka berinteraksi secara langsung dengan sumber belajar, membuat pertanyaan, dan menarik
kesimpulan. Oleh karena itu, penelitian yang mengkaji pengaruh IBL terhadap motivasi belajar
siswa secara logis membutuhkan desain penelitian yang dapat menangkap perubahan tersebut
secara empiris. Bagian teori dalam proposalmu, khususnya teori konstruktivisme, teori inquiry
learning, serta teori ARCS, menjadi rujukan metodologis penting mengapa pendekatan
eksperimental sangat tepat digunakan.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 8 Medan, yakni salah satu sekolah menengah
atas negeri yang memiliki karakteristik populasi belajar heterogen. Pemilihan sekolah ini bukan
tanpa alasan; masalah yang saya gambarkan di latar belakang mengenai rendahnya motivasi
belajar siswa ketika menyelesaikan tugas penelitian sejarah secara langsung muncul dari kondisi
pembelajaran di sekolah ini. Sebagaimana kamu paparkan, pembelajaran sejarah masih cenderung
berpusat pada guru sehingga siswa kurang terlibat secara aktif dalam menemukan makna dari
kegiatan belajar sejarah. Dengan demikian, sekolah ini merupakan lokasi yang paling relevan
secara empiris untuk meneliti dampak model pembelajaran IBL.
Selain relevansi tematik, SMAN 8 Medan dipilih karena keterbukaan guru sejarah untuk
berkolaborasi dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis IBL. Dalam penelitian eksperimen
pendidikan, faktor kolaboratif seperti kesiapan guru, ketersediaan waktu, dan dukungan
manajemen sekolah merupakan aspek penting yang mempengaruhi keberhasilan implementasi
model pembelajaran baru. Dukungan ini memungkinkan peneliti untuk melaksanakan perlakuan
secara maksimal, mulai dari tahap perencanaan pembelajaran, pelaksanaan IBL, hingga evaluasi
pascaperlakuan. Sekolah yang bersedia bekerja sama akan memberikan ruang eksperimental yang
nyaman bagi peneliti dan meminimalisir hambatan administratif.

Waktu penelitian dijadwalkan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025. Penentuan
waktu ini mempertimbangkan keluasan materi sejarah yang bersinggungan langsung dengan tugas
penelitian sejarah, serta kesiapan guru untuk mengalokasikan beberapa pertemuan pembelajaran
untuk penerapan model IBL. Semester genap umumnya lebih fleksibel dibanding semester ganjil,
karena sebagian besar kegiatan administrasi sekolah sudah selesai, sehingga memungkinkan
pelaksanaan eksperimen pendidikan secara lebih tenang dan terstruktur. Selain itu, siswa pada
semester genap umumnya sudah memiliki adaptasi akademik yang stabil, sehingga perubahan
motivasi lebih mudah diukur.

Pemilihan waktu penelitian juga mempertimbangkan urutan materi dalam kurikulum


Merdeka yang memuat kegiatan penelitian sejarah sebagai bagian integral dari capaian
pembelajaran sejarah. Siswa kesulitan dalam melakukan penelitian sejarah, dan kondisi ini paling
sering muncul ketika materi penelitian sejarah mulai dipelajari. Oleh karena itu, penelitian
dilaksanakan pada saat yang strategis agar model IBL dapat memberi pengaruh langsung pada
kegiatan penelitian sejarah oleh siswa. Dengan demikian, momen pelaksanaan penelitian sesuai
dengan kebutuhan dan konteks kelas yang sedang mempelajari keterampilan ilmiah dalam sejarah.

Selain itu, pemilihan waktu penelitian pada semester genap juga memberikan ruang bagi
peneliti untuk melakukan triangulasi data secara lebih komprehensif. Observasi, dokumentasi, dan
wawancara informal dapat dilakukan dengan lebih tenang tanpa terganggu oleh kegiatan besar
sekolah seperti penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, atau agenda sekolah lainnya.
Keseluruhan faktor ini menjadikan lokasi dan waktu penelitian selaras dengan tujuan penelitian
serta selaras dengan konteks permasalahan yang saya identifikasi.
C. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 8 Medan pada tahun
ajaran 2024/2025. Populasi ini dipertimbangkan berdasarkan karakteristik homogenitas program
pembelajaran sejarah yang diterapkan pada seluruh kelas X. Setiap siswa di kelas X menerima
materi sejarah yang sama sesuai kurikulum Merdeka, sehingga populasi ini dianggap cocok
sebagai dasar untuk memilih sampel penelitian. Dalam penelitian pendidikan, populasi yang
homogen mempermudah proses penarikan sampel karena karakteristik akademik antar kelas tidak
menunjukkan perbedaan signifikan. Populasi ini juga relevan dengan permasalahan motivasi
belajar yang saya identifikasi berasal dari pengalaman siswa kelas X dalam menyelesaikan tugas
penelitian sejarah.

Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan
sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Dalam studi
quasi-eksperimental, purposive sampling sering digunakan karena peneliti tidak dapat mengacak
peserta secara penuh. Satu kelas X dipilih sebagai sampel penelitian karena kelas tersebut
memenuhi sejumlah kriteria seperti kesiapan guru sejarah untuk bekerja sama, keterbatasan
motivasi belajar siswa dalam tugas penelitian sejarah, serta tingkat keaktifan belajar yang beragam.
Kelas ini dianggap mewakili kondisi umum populasi dan sesuai untuk melihat pengaruh IBL
terhadap motivasi belajar siswa. Teknik purposive sampling didukung literatur metodologis yang
menyatakan bahwa pengambilan sampel berdasar pertimbangan konteks sangat penting dalam
penelitian eksperimen di sekolah.

Selain itu, pemilihan satu kelas sebagai sampel juga mempertimbangkan stabilitas
dinamika pembelajaran. Kelas yang dipilih merupakan kelas yang memiliki pembelajaran sejarah
pada jadwal yang memungkinkan penerapan model IBL dalam beberapa pertemuan beruntun tanpa
gangguan kegiatan sekolah lainnya. Faktor ini penting karena proses penerapan model
pembelajaran IBL membutuhkan kontinuitas aktivitas seperti merumuskan pertanyaan,
mengumpulkan data, menganalisis sumber, dan menarik kesimpulan. Keseluruhan kegiatan ini
harus berlangsung secara berurutan agar siswa dapat mengalami proses inquiry secara utuh.
Dengan demikian, kelas yang stabil dalam jadwalnya akan memudahkan peneliti melakukan
penelitian secara sistematis.
Penentuan sampel juga dilakukan berdasarkan pertimbangan jumlah siswa yang ideal
untuk eksperimen pendidikan. Kelas dengan jumlah siswa terlalu besar akan menyulitkan
observasi aktivitas inquiry, sedangkan kelas yang terlalu kecil akan kurang representatif karena
variasi motivasi belajar lebih sedikit. Kelas yang dipilih memiliki jumlah siswa yang moderat dan
cukup representatif untuk observasi tingkah laku belajar, keterlibatan dalam inquiry, serta respons
terhadap intervensi pembelajaran. Hal ini sejalan dengan kebutuhan penelitian yang kamu
sebutkan bahwa siswa harus mengalami proses inquiry secara aktif agar peningkatan motivasi
dapat terlihat secara empiris.

Teknik purposive sampling juga memungkinkan peneliti menjaga kualitas intervensi


pembelajaran karena kelas yang dipilih tidak memiliki jadwal padat yang dapat menghambat
kelancaran penerapan model IBL. Dalam penelitian eksperimen pendidikan, kualitas pelaksanaan
intervensi sangat menentukan validitas hasil penelitian. Oleh karena itu, pemilihan kelas
berdasarkan pertimbangan praktis sekaligus teoretis menjadikan teknik ini paling tepat dalam
penelitian ini. Dengan demikian, populasi dan sampel penelitian ini memenuhi syarat metodologis
untuk penelitian quasi-eksperimental yang bertujuan mengukur pengaruh pembelajaran berbasis
inquiry terhadap motivasi siswa.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dirancang secara komprehensif untuk
memperoleh informasi yang akurat mengenai motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah
diterapkannya pembelajaran berbasis Inquiry-Based Learning (IBL). Teknik utama yang
digunakan adalah angket, observasi, dan dokumentasi, yang masing-masing saling melengkapi
sehingga menghasilkan data yang lebih valid dan kuat. Penggunaan beberapa teknik sekaligus
merupakan strategi penting dalam penelitian eksperimen pendidikan agar perubahan yang terjadi
setelah perlakuan dapat diukur secara objektif dan tidak hanya bergantung pada satu jenis data.
Teknik angket digunakan sebagai teknik utama untuk mengukur motivasi belajar siswa secara
kuantitatif. Angket ini diberikan dalam dua tahap, yaitu sebelum perlakuan (pretest) dan sesudah
perlakuan (posttest). Penyusunan pernyataan angket mengacu pada indikator motivasi belajar yang
telah dijelaskan dalam landasan teori proposalmu, terutama indikator menurut Uno (2016), seperti
ketekunan, minat belajar, keaktifan siswa, semangat menyelesaikan tugas, dan aspirasi akademik.
Setiap indikator diterjemahkan dalam bentuk pernyataan skala Likert, sehingga siswa dapat
menilai tingkat persetujuan mereka terhadap pernyataan tersebut. Dengan demikian, teknik angket
memungkinkan peneliti memperoleh gambaran kuantitatif mengenai kondisi motivasi belajar
siswa.

Selain angket, teknik observasi digunakan untuk mengamati secara langsung perilaku dan
keaktifan siswa selama pembelajaran IBL berlangsung. Observasi berfokus pada keterlibatan
siswa dalam tahapan inquiry seperti merumuskan pertanyaan, menjelajahi sumber sejarah,
berkolaborasi dengan teman dalam diskusi, serta menarik kesimpulan dari hasil penyelidikan.
Pengamatan ini dilakukan menggunakan lembar observasi terstruktur sehingga peneliti dapat
mencatat pola perilaku siswa atau perubahan sikap yang mungkin tidak terdeteksi oleh angket.
Selanjutnya, teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan bukti pendukung dalam bentuk
foto kegiatan pembelajaran, salinan tugas penelitian sejarah siswa, video proses inquiry jika
memungkinkan, dan dokumen terkait lainnya. Dokumentasi ini memiliki peran penting dalam
menunjukkan secara visual bagaimana penerapan model IBL berlangsung, serta memperlihatkan
hasil kerja siswa setelah melalui proses inquiry. Selain sebagai data pendukung, dokumentasi juga
berfungsi sebagai bukti objektif perbedaan kondisi siswa sebelum dan sesudah pembelajaran
berbasis inquiry diterapkan. Penggunaan ketiga teknik pengumpulan data tersebut memberikan
gambaran yang lebih komprehensif mengenai perubahan motivasi belajar siswa. Angket memberi
data kuantitatif utama, observasi memberikan data perilaku, dan dokumentasi memberikan bukti
visual. Dengan demikian, teknik pengumpulan data dalam penelitian ini telah disusun secara
sistematis, relevan dengan tujuan penelitian, dan selaras dengan pendekatan kuantitatif serta model
pembelajaran IBL yang menjadi dasar penelitian.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data secara
akurat dan terukur. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah angket motivasi belajar, lembar
observasi, RPP IBL, dan pedoman dokumentasi. Angket motivasi belajar disusun berdasarkan
indikator motivasi menurut teori Uno (2016). Angket ini terdiri dari pernyataan positif dan negatif
yang disusun dengan menggunakan skala Likert. Setiap pernyataan berkaitan dengan aspek-aspek
seperti ketekunan, minat, semangat, keaktifan, dan tujuan belajar siswa. Instrumen kedua yaitu
lembar observasi disusun untuk mencatat perilaku siswa selama proses pembelajaran berbasis
inquiry berlangsung. Lembar observasi memuat indikator-indikator aktivitas inquiry yang telah
kamu uraikan sebelumnya, termasuk kemampuan merumuskan pertanyaan, mencari informasi,
melakukan analisis sederhana, berkolaborasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Setiap
indikator diberi skala rating sehingga memungkinkan peneliti menilai tingkat keterlibatan siswa.
Dengan adanya lembar observasi ini, peneliti dapat melihat apakah proses inquiry berlangsung
secara optimal dan apakah siswa terlibat aktif dalam setiap langkah inquiry sebagaimana dituntut
oleh model IBL

Instrumen ketiga adalah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) berbasis Inquiry-Based


Learning yang digunakan sebagai panduan utama dalam memberikan perlakuan. RPP ini disusun
berdasarkan struktur pembelajaran IBL yang mencakup orientasi masalah, pengumpulan data,
analisis informasi, dan penyusunan kesimpulan. RPP menjadi instrumen penting untuk
memastikan bahwa perlakuan (treatment) yang diberikan kepada siswa berjalan konsisten dan
tidak berubah-ubah dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya. Dengan adanya RPP, peneliti
menjaga standar pelaksanaan pembelajaran sehingga intervensi dapat dikatakan valid secara
eksperimen. Instrumen berikutnya adalah pedoman dokumentasi yang dipakai untuk
mengumpulkan bukti-bukti pelaksanaan pembelajaran seperti foto kegiatan, dokumentasi hasil
tugas siswa, dan catatan guru. Instrumen ini digunakan untuk memastikan bahwa proses
pembelajaran tercatat dengan baik dan dapat dievaluasi kembali setelah penelitian selesai.
Dokumentasi juga berfungsi sebagai bukti pendukung bahwa proses inquiry benar-benar dilakukan
sesuai prosedur. Seluruh instrumen penelitian ini menjalani uji validitas dan reliabilitas sebelum
digunakan. Uji validitas dilakukan melalui expert judgement, sementara reliabilitas diuji
menggunakan Cronbach Alpha. Dengan demikian, instrumen penelitian yang digunakan dalam
studi ini tidak hanya sahih secara teori, tetapi juga teruji konsisten sehingga layak digunakan
sebagai alat pengumpul data.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan statistik kuantitatif
untuk melihat apakah terdapat perbedaan signifikan antara motivasi belajar siswa sebelum dan
sesudah mengikuti pembelajaran berbasis inquiry. Langkah pertama dalam analisis data adalah
pengolahan data mentah dari angket pretest dan posttest menjadi skor total. Skor tersebut
kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat rata-rata, standar deviasi, dan sebaran data.
Analisis deskriptif ini memberikan gambaran umum mengenai kondisi motivasi siswa sebelum
perlakuan diberikan. Setelah analisis deskriptif, dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas
menggunakan Kolmogorov-Smirnov atau Shapiro-Wilk. Uji normalitas diperlukan untuk
mengetahui apakah data mengikuti distribusi normal, karena distribusi normal merupakan syarat
utama sebelum melakukan uji t. Jika data berdistribusi normal, peneliti dapat melanjutkan analisis
dengan uji t berpasangan.

Langkah utama dalam analisis data ialah paired sample t-test, yang digunakan untuk
membandingkan skor pretest dan posttest pada kelompok yang sama. Uji t dipilih karena desain
penelitian menggunakan One Group Pretest–Posttest Design. Jika nilai signifikansi < 0,05, maka
terdapat perbedaan bermakna antara hasil sebelum dan sesudah perlakuan, yang berarti
pembelajaran IBL berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Body-note: desain ini
sesuai dengan yang kamu gunakan dalam proposal. Setelah uji t dilakukan, hasilnya
diinterpretasikan dengan mengaitkan temuan statistik terhadap teori-teori yang telah dijelaskan
dalam Bab II proposal. Misalnya, peningkatan motivasi dijelaskan melalui teori Self-
Determination yang menyatakan bahwa autonomy dan competence dapat meningkat melalui
kegiatan inquiry. Hal ini membuat analisis data tidak hanya berhenti pada angka statistik, tetapi
juga menghubungkan data dengan teori. Akhirnya, hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik,
tabel, dan narasi analitis, sehingga pembaca dapat memahami perubahan yang terjadi serta makna
dari temuan tersebut dalam konteks pembelajaran sejarah. Berikut rumus-rumus yang digunaan
dalam teknik analisis data pada penelitian ini:

1. Rumus Validitas Isi (Content Validity Index / CVI)

Digunakan ketika instrumen dinilai oleh ahli (expert judgment).

a. Rumus CVI untuk tiap item (I-CVI):

[\text{I-CVI} = \frac{\text{Jumlah ahli yang memberi rating “relevan”}}{\text{Total ahli}}]

Kriteria:

 I-CVI ≥ 0,78 → item valid


 I-CVI < 0,78 → item perlu direvisi
b. Rumus validitas isi keseluruhan (S-CVI):

[\text{S-CVI} = \frac{\sum \text{I-CVI}}{\text{Jumlah item}}]

2. Rumus Reliabilitas (Cronbach Alpha)

Digunakan untuk menilai konsistensi internal angket motivasi belajar.

[\alpha = \frac{k}{k - 1} \left(1 - \frac{\sum \sigma_{i}^{2}}{\sigma_{t}^{2}}\right)]

Keterangan:

 ( \alpha ) = nilai reliabilitas Cronbach Alpha


 ( k ) = jumlah item
 ( \sigma_{i}^{2} ) = varians masing-masing item
 ( \sigma_{t}^{2} ) = varians total

Kriteria:

 α ≥ 0,70 → instrumen reliabel


 α < 0,70 → instrumen harus diperbaiki

3. Triangulasi Teknik (Tidak Berbasis Rumus, namun menggunakan pola konsistensi data)

Untuk penelitian Anda, triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan:

[\text{Data Angket} ; \leftrightarrow ; \text{Observasi} ; \leftrightarrow ; \text{Dokumentasi}]

Konsistensi dinyatakan valid jika:

[\text{Pola Angket} = \text{Pola Observasi} = \text{Pola Dokumentasi}]

Contoh:
Jika angket menunjukkan peningkatan motivasi → observasi menunjukkan peningkatan keaktifan
inquiry → dokumentasi mendukung aktivitas pembelajaran, maka triangulasi dinyatakan kuat.
4. Member Checking (Non-Rumus)

Member checking hanya dijelaskan prosedurnya: [\text{Interpretasi Peneliti} \longrightarrow


\text{Dikonfirmasi oleh Guru Sejarah}]

G. Validitas / Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui uji validitas, reliabilitas, dan triangulasi
teknik pengumpulan data. Uji validitas dilakukan melalui validitas isi, di mana ahli menilai
kesesuaian setiap item dalam angket dengan indikator motivasi belajar. Validitas ini memastikan
bahwa angket benar-benar mengukur motivasi siswa dan tidak melenceng ke variabel lain. Setelah
angket dinyatakan valid, dilakukan uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha untuk menilai
konsistensi internal instrumen. Nilai alpha di atas 0,70 menunjukkan bahwa instrumen reliabel dan
dapat digunakan tanpa kekhawatiran inkonsistensi. Reliabilitas ini sangat penting dalam penelitian
kuantitatif karena menentukan apakah instrumen mampu memberikan hasil yang stabil.
Keabsahan data juga diperkuat melalui triangulasi teknik, yaitu mencocokkan data dari angket,
observasi, dan dokumentasi. Jika ketiga teknik tersebut menunjukkan pola perubahan yang
konsisten, maka hasil penelitian dinyatakan lebih valid. Misalnya, apabila angket menunjukkan
peningkatan motivasi dan observasi menunjukkan peningkatan keaktifan inquiry, maka validitas
semakin tinggi. Selain itu, dilakukan member-checking informal dengan guru sejarah. Peneliti
meminta guru meninjau kembali catatan observasi dan dokumen pembelajaran untuk memastikan
bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan kondisi nyata di kelas. Dengan strategi validitas ini,
penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hasilnya dapat dipercaya sebagai
gambaran objektif pengaruh pembelajaran IBL terhadap motivasi belajar siswa.

H. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari empat tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan,
tahap analisis, dan tahap pelaporan. Tahap persiapan dimulai dengan penyusunan instrumen
penelitian, penyusunan RPP berbasis IBL, pengajuan izin penelitian, dan uji coba instrumen.
Tahap ini penting untuk memastikan bahwa segala aspek penelitian siap dilaksanakan dengan baik
dan instrumen yang digunakan valid serta reliabel. Tahap pelaksanaan dimulai dengan pretest
motivasi belajar. Setelah itu, pembelajaran IBL diterapkan selama beberapa pertemuan yang telah
direncanakan. Selama pelaksanaan pembelajaran, peneliti melakukan observasi dan dokumentasi.
Setelah seluruh rangkaian pembelajaran selesai, peneliti melakukan posttest untuk mengetahui
perubahan motivasi siswa. Tahap analisis dilakukan dengan mengolah data pretest, posttest,
observasi, dan dokumentasi menggunakan teknik analisis statistik dan interpretasi kualitatif
pendukung. Uji t dilakukan untuk melihat apakah terdapat perbedaan signifikan. Hasil analisis
kemudian diinterpretasikan melalui teori-teori dalam proposalmu. Pada tahap pelaporan, peneliti
menyusun hasil penelitian dalam bentuk laporan lengkap yang mencakup kesimpulan, implikasi,
dan saran bagi guru, sekolah, dan peneliti lain. Prosedur yang sistematis ini memastikan bahwa
penelitian dilakukan secara runtut dan sesuai kaidah metodologi ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA

A, M. (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu . Bandung: Remaja Rosdakarya.

A, S. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

A, S. (2019). Evaluasi Pembelajaran . Jakarta: Bumi Aksara.

A.M, S. (2018). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.

Arikunto. (2019). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta .

Djamarah, S. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Kurniasih, I. &. (2015). Ragaman Model Pembelajaran: Teori dan Praktik di Sekolah . Jakarta:
Kata Pena.

M, H. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia
Indonesia.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.

Asrial, A., Syahrial, S., Kurniawan, D. A., Perdana, R., & Septiasari, R. (2019). Pengembangan
perangkat pembelajaran model inquiry untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.
Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 7(2), 123–132.

Hidayat, T., & Wijayanti, A. (2020). Penerapan model pembelajaran inquiry untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan
Pengembangan, 5(6), 802–810.

Putra, Z. H., & Abdullah, R. (2018). Pengaruh model inquiry terhadap motivasi belajar dan
kemampuan pemecahan masalah siswa. Jurnal Teknologi Pendidikan, 20(1), 45–57.
Ramdani, A., Jufri, A. W., & Gunawan, G. (2020). Integrasi pembelajaran berbasis inkuiri untuk
meningkatkan kemampuan penelitian peserta didik. Jurnal Pijar MIPA, 15(1), 1–7.

Wahyuni, S., & Sinaga, P. (2018). Efektivitas model inquiry dalam meningkatkan keterampilan
proses sains dan motivasi belajar siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 14(2), 82–90.

Fitriani, W., & Huda, N. (2022). Implementasi pembelajaran berbasis inkuiri untuk
meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa. Jurnal Kajian Pembelajaran dan
Keilmuan, 8(1), 55–64.

Saputro, A. D., & Mulyani, S. (2023). Pengaruh problem-based dan inquiry learning terhadap
motivasi belajar siswa di era Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan Indonesia, 12(3), 211–220.

Yuliana, R., & Hartati, S. (2024). Analisis efektivitas model inquiry-based learning dalam
meningkatkan kemampuan penelitian siswa SMA. Jurnal Inovasi Pendidikan, 9(1), 1–10.

Anda mungkin juga menyukai