PEDOMAN PROGRAM RABIES
LOGO PUSKESMAS
DINAS KESEHATAN KOTA/KABUPATEN X
PUSKESMAS ABCD
ALAMAT, NO TELP
TAHUN X
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit menular akut yang meneyrang
susunan saraf pusat pada hewan berdarah panas dan manusia yag ditularkan melalui
saliva (anjing, kucing, dan kera) yang terinfeksi rabies dengan jalan gigitan, cakaran,
atau melalui luka terbuka. Sumber penular penyakit rabies adalah anjing sebagai
sumber penular utama dan dapat juga ditularkan oleh kucing dan kera. Di luar negeri
rabies juga dapat ditularkan melalui gigitan serigala, kelelawar, sigung, dan rakun.
Faktor risiko penularan rabies adalah sarana trasnportasi khususnya pelabuhan
yang tidak resmi, hewan peliharaan yang tidak divaksinasi di daerah tertular, hewan
liar di daerah tertular, pekerja yang berisiko (dokter hewan, penangkap anjing, petugas
laboratorium, pemburu, dll.), dan wisatawan ke daerah tertular tapi tidak diberi pre
exposure.
Daya serang virus rabies yaitu setelah virus rabies masuk ke dalam tubuh manusia
melalui gigitan hewan (anjing), selama sekitar 2 minggu virus akan tetap tinggal di
tempat masuk dan/atau di dekat tempat gigitan. Kemudian virus akan bergerak
mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan perubahan
fungsinya. Sepanjang perjalanan ke toak, virus rabies akan berkembang biak. Saat
sampai di otak dengan jumlah virus yang maksimal lalu menyebar luas ke semua
bagian neuron. Virus akan masuk ke sel-sel limbik, hipotalamus, dan batang otak.
Selanjutnya virus akan bergerak ke seluruh organ dan jaringan tubuha lainnya untuk
berkembang biak.
Pertolongan pertama pada penderita rabies dapat dilakukan cara-cara seperti,
mencuci bekas gigitan hewan dengan sabun/detergent di bawah air mengalir selama
10-15 menit, memberi obat antiseptik pada luka gigitan (obat merah, alkohol 70%, dll),
mengubungi rabies center untuk pertolongan selanjutnya. Pencegahan rabies dapat
dilakukan dengan memberikan vaksin rabies pada hewan peliharaan setiap satu tahun
sekali.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Sebagai pedoman dalam pencegahan dan penatalaksanaan penyakit rabies
dalam upaya menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit rabies.
2. Tujuan Khusus
a. Terlaksananya proses pengelolaan program rabies mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi.
b. Tersosialisasinya program rabies ke masyarakat.
c. Terpenuhinya sarana dan prasaran kegiatan program rabies.
d. Memberikan pedoman bagi pelaksana program rabies dan petugas kesehatan
lainnya dalam penatalaksanaan penyakit rabies.
C. Sasaran
1. Penanggung jawab P2P.
2. Penanggung jawab program rabies.
3. petugas medis dan paramedis.
4. Seluruh staf puskesmas
5. Jejaring puskesmas.
6. Pasien penderita rabies dan keluarganya.
7. Masyarakat.
D. Ruang Lingkup
Berdasarkan Modul Pelatihan Penanggulanngan Rabies, Subdit Zoonosis
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2008 berikut adalah pedoman
pelayanan penyakit rabies:
1. Penemuan pasien terduga penyakit rabies.
2. Pemeriksaan.
3. Penatalaksanaan awal.
4. Pencatatan dan pelaporan penderita.
5. Monitoringn dan evaluasi.
6. Rujukan ke jejaring puskesmas.
E. Batasan Operasional
Batasan operasional pencegahan dan penatalaksanaan meliputi upaya kesehatan
perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM).
BAB II
PENGORGANISASIAN DAN JADWAL KEGIATAN
A. Ketenagaan
1. Dokter penanggung jawab pelayanan medis di poli umum dan UGD yang
bertanggung jawab dalam hal pengobatan berjumlah satu orang.
2. Penanggung jawab program rabies yang bertanggung jawab dalam pelayanan
rabies di poli umum.
3. Petugas paramedis lain yang membantu pelaksanaan pelayanan rabies di UGD.
4. Perawat atau bidan desa/pustu yang bertanggung jawab di wilayah masing-
masing untuk penanganan pertama kasus gigitan hewan yang berpotensi rabies.
B. Fasilitas dan Kelengkapan
Dalam pelaksanaan pelayanan pencegahan dan penatalaksanaan rabies antara
lain:
a. Ruang pelayanan dengan ventilasi yang cukup.
b. Buku register pelayanan UGD
c. Rekam medis
d. ATK
e. APD
f. Sabun
g. Antiseptik (alkohol 70% atau povidon iodine)
h. Vaksin Anti Rabies (VAR)
C. Jadwal Kegiatan
Pelaksanaan pelayanan program rabies di UGD dilaksanakan 24 jam setiap hari.
BAB III
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Metode
Metode tata laksana pelayanan rabies meliputi:
1. Penanganan luka gigitan hewan terduga rabies.
2. Pemberian VAR
B. Langkah Kegiatan
Langkah kegiatan pencegahan dan penata laksanaan penyakit rabies mengikti sikul
P1-P2-P3 dengan rincian sebagai berikut:
1. Perencanaan (P1)
Sosialiasasi penanganan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan
penemuan pasien yang terduga terinfeksi penyakit rabies.
2. Pelaksanaan dan Penggerakan (P2)
Pelaksanaan kegiatan P2 rabies dilakukan sewaktu-swaktu jika ada kasus. Prinsip
penanganan awal GHPR adalah segera:
a. Setiap ada kasus GHPR harus ditangani dengan cepat dan sesegera
mungkin. Untuk mengurangi/mematikan virus rabies yang masuk pada luka
gigitan, usaha yang paling efektif adalah mencuci luka bekas gigitan dengan
air mengalir dan sabun atau detejen selama 10-15 menit kemudian diberi
antiseptik (alkohol 70%, povidone iodines, dll).
b. Anamnesis (waktu dan tempat kejadian, ada tidaknya kontak atau gigitan,
terjadi di daerah tertular/terancam/bebas, apakah didahului tindakan
provokatif, hewan yang menggigit menunjukkan gejala rabies, penderita
gigitan hewan pernah divaksinasi kapan, hewan penggigit pernah divaksinasi
dan kapan)
c. Pemeriksaan fisik.
d. Rujuk pasien ke fasyankes.
3. Penilaian, pengawasan, dan penatalaksanaan (P3)
a. Pencatatan dilakukan pasien menjadi terduga rabies hingga pasien dirujuk ke
jejaring fasyankes.
b. Pelaporan dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota X.
c. Evaluasi dilaksanakan setiap tahun dan hasilnya dibahas dalam pertemuan
untuk selanjutnya digunakan sebagai penyusunan rencana kebutuhan dalam
menetapkan metode yang lebih efektif dan efisien pada periode berikutnya.
BAB IV
LOGISTIK
Logistik program rabies adalah sebagai berikut:
1. VAR
2. Sarung tangan
3. Sabun
4. Antiseptik
5. Rekam medis pasien
BAB V
PENUTUP
Pedoman pencegahan dan penatalaksanaan program rabies ini digunakan sebagai
acuan dalam pelaksanaan pelayanan di Puskesmas ABCD deiperlukan komitmen dan
kerjasama semua pihak. Hal tersebut akan menjadikan pelayanan semakin optimal dan
dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas ABCD.