0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan31 halaman

Norma dan Nilai dalam Sosiologi

Makalah ini membahas tentang norma dan nilai dalam masyarakat, termasuk pengertian, ciri-ciri, fungsi, dan klasifikasi norma. Selain itu, makalah ini juga menjelaskan tentang nilai sebagai ukuran dalam berperilaku yang bersifat dinamis dan hasil interaksi sosial. Penulis berharap makalah ini memberikan manfaat dan inspirasi bagi pembaca.

Diunggah oleh

Mutiara Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan31 halaman

Norma dan Nilai dalam Sosiologi

Makalah ini membahas tentang norma dan nilai dalam masyarakat, termasuk pengertian, ciri-ciri, fungsi, dan klasifikasi norma. Selain itu, makalah ini juga menjelaskan tentang nilai sebagai ukuran dalam berperilaku yang bersifat dinamis dan hasil interaksi sosial. Penulis berharap makalah ini memberikan manfaat dan inspirasi bagi pembaca.

Diunggah oleh

Mutiara Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

SOSIOLOGI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Sosiologi


Guru Pengampu : Tiara Nurmadani S. Pd

OEH:
NURHASANAH
(10.1)

PEMERINTAH PROVINSI BANTEN


DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIT PELAKSANA TEKNIS
SMA NEGERI 14 KAB. TANGERANG
Jln. Raya Daon Perum Sukatani, Rajeg, Tangerang 15540 ☎ (021) 59351426
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-
Nyalah makalah ini dapat penulis selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Dalam makalah ini, penulis membahas mengenai sejarah ISLAM DI NUSANTARA,
Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada guru pengampu yang telah turut
memberikan kontribusi dalam penyusunan Makalah ini. Tentunya, tidak akan bisa
maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebagai penyusun, kami
menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan maupun tata bahasa
penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati menerima
saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah [Link] berharap
semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk
pembaca.

Tangerang, 22 Mei 2025

Nurhasanah

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................
2
DAFTAR ISI……….................................................................................................. 3
BAB I : NORMA…………........................................................................................
4
1.1 Pengertian Norma........................................................................................
4
1.2. Cici-Ciri......................................................................................................
6
1.3 Fungsi.......................................................................................................... 6
1.4 Klasifikasi ...................................................................................................
6
1.5 Sifatnya........................................................................................................
7
1.6 Aspek-Aspeknya..........................................................................................8
1.7 Daya
ikat.......................................................................................................9
BAB II : NILAI..........................................................................................................
7
2.1 Pengertian Nilai...........................................................................................
7
2.2 Ciri-Ciri...................................................................................................... 8
2.3 Fungsi.......................................................................................................... 9
2.4 Macam-Macam..........................................................................................
10
2.5 Nilai Menurut Prof Notonegoro.................................................................11

3
BAB III : PENUTUP................................................................................................
10
3.1 Kesimpulan .......................................................................................
........ 10

1. NORMA

a) Pengertian Norma

Norma berasal dari kata _norm_ yang berarti "patokan, pedoman, atau pokok kaidah".
Norma secara gari besar merupakan aturan. Aturan adalah sejumlah perangkat yang
mengikat masyarakat mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh
dilakukan. Norma seperti rambu-rambu bagi masyarakat, di mana setiap tingkah laku
memiliki aturan, baik yang sifatnya privasi atau berhubungan dengan orang lain. Norma
adalah istilah lain dari aturan.

b) Ciri-Ciri
Di dalam norma terdapat beberapa ciri-ciri yaitu sebagai berikut:
1. Ada yang Tertulis dan Tidak Tertulis
Norma itu memiliki ciri tertulis, maksudnya adalah ada bukti autentik secara fisik bahwa
norma tersebut ada dan nyata. Norma yang tidak tertulis adalah norma yang ditaati
bersama, tetapi aturannya tidak ada bukti secara fisik.

2. Merupakan Hasil Kesepakatan

4
Norma merupakan hasil kesepakatan bersama, maksudnya norma bisa diciptakan karena
adanya kesepakatan dan kesanggupan masyarakat dalam melaksanakan norma.
Contohnya, ketika di suatu kampung memutuskan untuk membuat aturan setiap
masyarakat ditugaskan melaksanakan ronda. Norma ini bisa berjalan saat semua
masyarakat menyepakati aturan yang dibuat oleh tokoh masyarakat.

3. Ada yang menjalankan


Menjalankan adalah memahami, mengakui, dan menaati suatu aturan. Norma bisa
dikatakan berjalan jika masyarakat mengikuti norma. Jika norma ada, tetapi masyarakat
tidak menjalankannya disebut anomi, artinya norma tidak berfungsi. Contohnya, siswa
diwajibkan menggunakan seragam sesuai dengan hari, sepatu warna hitam, dan rambut
tidak panjang bagi laki-laki.

4. Pelanggaran Dapat Dikenakan Sanksi


Ciri norma selanjutnya adalah jika ada masyarakat yang melanggar akan dikenakan
sanksi. Norma sepatutnya ditaati. Contohnya, tidak menggunakan helm saat
mengendarai motor, maka polisi akan memberikan sanksi berupa surat tilang.

5. Bersifat Dinamis
Dinamis adalah keadaan yang terus berubah dan mudah menyesuaikan diri. Norma
bersifat dinamis, artinya berubah sesuai dengan perubahan zaman.

6. Merupakan Produk Hasil Berpikir


Membuat norma bukan sekedar memutuskan suatu perkara. Akan tetapi, menetapkan
norma yang berlaku harus melewati proses berpikir karena norma itu adalah cara
menyikapi suatu perubahan. Contohnya, aturan yang diterbitkan oleh presiden yang
berkoordinasi dengan menteri kesehatan dan pertahanan mengenai PPKM saat masa
pandemi merupakan cara menyikapi seseorang dalam menghadapi perubahan. Norma
tersebut ditetapkan demi keselamatan masyarakat secara bersama-sama.

c) Fungsi Norma
5
Dari banyaknya tulisan di atas norma juga memiliki fungsi yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai Pedoman dalam Kehidupan Masyarakat
Norma merupakan pedoman, artinya petunjuk, kumpulan ketentuan dasar yang memberi
arah, hal pokok yang menjadi dasar (pegangan dan petunjuk). Agar masyarakat dapat
terarah dan tidak chaos, maka diperlukan adanya norma dalam hidup.

2. Dapat Menciptakan Keteraturan Sosial


Keteraturan di sini maksudnya kondisi masyarakat yang tertib. Dengan adanya norma,
perilaku masyarakat dapat terarah dan searah sesuai dengan bentuk idealnya masyarakat.

3. Menciptakan Masyarakat yang Harmonis


Norma diciptakan untuk menciptakan keadilan dalam masyarakat. Dengan terciptanya
keadilan, kondisi masyarakat akan harmonis dan tenteram.

4. Sebagai Sarana untuk Mencapai Tujuan


Tujuan dapat tercapai jika tidak ada gangguan dalam masyarakat. Dengan adanya norma,
dapat meminimalkan gangguan dan mudah tercapainya suatu tujuan.
5. Memberikan Batasan dalam Berperilaku
Norma memiliki fungsi membatasi, artinya masyarakat tidak dapat seenaknya melakukan
segala hal tanpa adanya batasan. Dengan batasan ini setidaknya perilaku masyarakat
dapat terkontrol.

6. Mengatur Tingkah Laku Masyarakat


Dengan adanya norma, terciptalah masyarakat yang memiliki keseragaman dalam
berperilaku. Maksud dari keseragaman dalam berperilaku adalah kondisi masyarakat
yang taat akan hukum.

d) Klasifikasi Norma
[Link] Sifatnya
 Formal
Norma formal berarti norma yang melembaga dan memiliki bukti tertulis. Biasanya yang
membuat norma ini, yaitu pihak yang berwenang seperti pemerintah atau lembaga.
Norma formal bersifat resmi dan mengikat, masyarakat diwajibkan mematuhi aturan.

6
 Non Formal
Norma nonformal merupakan norma yang dijalankan atas kesadaran masyarakat untuk
menjalankan norma tersebut. Norma ini tidak ada bukti tertulis dan tidak diketahui orang
yang membuat norma tersebut. Contoh norma yang tidak tertulis adalah ketika
berpakaian saat menghadiri suatu acara. Ketika kita hendak pergi ke pesantren, kita akan
menggunakan pakaian yang sopan dan menutup aurat. Contoh norma Formal KHUP
(Kitab Undang-undang Hukum Pidana) dan peraturan pemerintah yang bisa dimulai
dari bupati hingga presiden.

[Link] Aspek-aspeknya
 Norma Agama
Norma agama adalah bentuk norma berupa ajaran yang ditaati oleh masyarakat. Norma
agama bersumber dari Tuhan. Setiap agama memiliki normanya masing-masing. Jika ada
yang melanggar norma agama, disebut berdosa. Sanksi yang diberikan tidak diberikan
secara langsung. Contoh norma agama, yaitu setiap umat beragama wajib melakukan
ibadah, apabila tidak akan mendapatkan dosa.

 Norma Kesopanan
Norma kesopanan berkaitan erat dengan tata krama, etika, dan sopan santun. Dalam
norma kesopanan tidak ada sanksi setegas norma agama atau norma formal. Norma
kesopanan adalah satu-satunya norma yang tidak bisa diterapkan secara instan.
kesopanan adalah bentuk habituasi, bukan norma instan. Contoh norma kesopanan adalah
bagaimana bersikap ketika bertemu dengan orang yang lebih tua.

 Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani, jika berbicara tentang
hati nurani, akan berbicara tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jika hati
nuraninya sudah tidak peka, seseorang tidak akan tahu norma kesusilaan. Sanksi
beratnya, dicemooh dan dikucilkan oleh masyarakat. Contoh norma kesusilaan,
diantaranya membantu orang lain yang membutuhkan, jujur dalam perkataan dan
perbuatan, serta meminta maaf jika berbuat kesalahan.

7
 Norma Hukum
Norma hukum adalah norma yang dibuat oleh pemerintah atau lembaga resmi
pemerintah. Sanksi yang diberikan dalam norma hukum bersifat tegas. Norma hukum
bersifat universal.

e) Sifat Sifat norma hukum berdasarkan undang-undang,di antaranya sebagai


berikut:
1. Perintah
Perintah berisi kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat.
2. Larangan
larangan adalah kewajiban untuk tidak di melakukan sesuatu.
3. Pembebasan
Pembebasan yaitu pembolehan untuk tidak melakukan sesuatu.
4. Pembebasan
Pembebasan yaitu pembolehan untuk tidak melakukan sesuatu.
5. Izin
Izin artinya adanya pembolehan khusus meski secara umum dilarang.
Contoh dari norma hukum adalah menaati lalu lintas, membayar pajak tepat waktu, dan
menggunakan atribut lengkap di sekolah.

f) Berdasarkan Daya Ikat


Norma berdasarkan daya ikat adalah norma yang didasarkan pada beratnya suatu sanksi
diberikan. Semakin tinggi norma, maka sanksi yang diberikan akan semakin berat.
Berikut ini dijelaskan macam-macam norma berdasarkan daya ikat.

 Adat Istiadat
Adat istiadat memiliki daya ikat yang kuat. Ketika seseorang melakukan pelanggaran
adat istiadat, ia akan diberikan sanksi keras. Adat istiadat sifatnya mutlak, seluruh
anggota harus menaati norma info dengan baik.

 Cara
Cara merupakan bentuk perilaku yang biasa dilakukan oleh seseorang dalam suatu
hubungan. Jika ada seseorang melanggar cara, sanksi berupa teguran atau celaan dari

8
orang yang bersangkutan. Contohnya, cara makan yang baik adalah menggunakan tangan
kanan.

 Kebiasaan
Kebiasaan adalah perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang. Sanksi yang diberikan
dalam norma ini berupa teguran yang lebih keras daripada cara. Adapun si pelaku
dianggap orang yang bersalah. Contoh kebiasaan adalah saat anak muda ketika lewat di
depan orang yang lebih tua tidak membungkukkan badan sebagai tanda hormat atau tidak
mengucapkan kata "permisi", maka anak muda itu akan disebut sebagai orang yang tidak
beretika.

 Tata kelakuan
tata kelakuan merupakan kebiasaan yang sifatnya lebih [Link] kelakuan di sebut juga
alat pengawas bagi masyarakat yang bersumber dari ajaran filsafat atau ideologi suatu
masyarakat. Tata kelakuan bersifat lokal, sehingga masyarakat diharapkan menaati tata
kelakuan yang berlaku. Contoh tata kelakuan adalah larangan untuk berjudi dan
minuman keras.

2. NILAI
a) Pengertian Nilai
NiN berasal dari bahasa Inggris yaitu value yang berarti "suatu yang berharga". Nilai
adalah suatu ukuran dalam melakukan aktivitas ukuran dalam hal yang dianggap baik
oleh masyarakat setempat titik nilai juga seperti suatu ajuran dalam berperilaku titik nilai
sifatnya tidak formal karena nilai merupakan hasil konstitusi masyarakat. Nilai memiliki
dua sifat yaitu, baik yang berarti nilai berguna bagi kehidupan masyarakat dan diinginkan
serta nilai tidak baik adalah suatu nilai Dianggap tidak memiliki manfaat. Ada beberapa
tokoh yang berpendapat yaitu sebagai berikut:
 Soedjono Soekanto
9
Menurutnya merupakan suatu konsep abstrak yang memiliki dua makna yang berbeda di
satu sisi terdapat nilai baik yang membawa masyarakat menjadi terinspirasi Adapun nilai
tidak baik akan membawa masyarakat pada kondisi konflik. Jadi,menurutnya nilai
memiliki dua sisi yang berbeda.
 Wood
Menurut wood, nilai merupakan sebuah petunjuk nilai ini sifatnya sudah berlangsung
lama dari dahulu dan turun- temurun. Menurutnya, nilai itu dapat dijadikan sebagai
arahan masyarakat dalam bertindak hingga mencapai suatu kepuasan.
a) Horton dan Hunt
Menurut Horton dan Hunt, nilai merupakan gagasan mengenai Apakah tindakan yang
dilakukan seseorang itu penting atau malah sebaliknya.
 Koentjaranigrat
Menurut Koentjaranigrat, nilai merupakan wujud budaya yang memiliki fungsi sebagai
pedoman bagi musik manusia dalam kehidupan masyarakat. Wujud budaya ini
diinginkan, Terkadang juga tidak diinginkan oleh masyarakat. Hal ini bergantung pada
anggapan mengenai baik dan tidak baiknya suatu hal dalam masyarakat .
Kerajaan-Kerajaan Islam: Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Aceh, dan
Mataram memperkuat posisi dan pengaruh Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan ini
menjadi pusat pemerintahan dan penyebaran agama Islam.
Peran Kesultanan: Kesultanan-kesultanan ini berperan aktif dalam menyebarkan dan
melindungi agama Islam.

b) Ciri-Ciri Nilai
Nilai memiliki sejumlah ciri-ciri, yaitu sebagai berikut:
1. Bersifat Dinamis
Nilai selalu berubah mengikuti perubahan zaman. Jika masyarakat semakin berkembang,
nilai juga akan mengikuti perkembangan masyarakat.

2. Berbentuk Abstrak
Nilai berupa konsep atau kebiasaan yang ditaati masyarakat. Tanpa harus ada bukti yang
tertulis, nilai sudah dijalankan oleh masyarakat. Contohnya, keinginan untuk saling

10
membantu tidak ada aturan baku dalam tulisan, tetapi kebiasaan tersebut sudah menjadi
suatu kebiasaan kehidupan masyarakat.

3. Mengandung Kualitas Moral


Pada dasarnya nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik dan tidak baik. Hal yang
berhubungan dengan yang baik disebut dengan kualitas moral. Sebagai contoh, seorang
anak yang berbakti dan menghormati orang tuanya.

4. Hasil Interaksi
Nilai lahir dalam masyarakat dan merupakan hasil dari proses interaksi. Tanpa ada
interaksi, tidak akan ada hasil atau produk Nilai merupakan produk dari difusi,
akulturasi, dan sosialisasi.

5. Turun-temurun
Nilai juga diwariskan dari satu generasi ke generasi lain melalui proses sosialisasi yang
dilakukan oleh orang tua. Contohnya, tradisi tedak siten yang dilakukan saat anak
pertama kali belajar menginjakkan kaki ke tanah.

c) Fungsi Nilai
Nilai dalam menunjang kehidupan masyarakat memiliki fungsi, yaitu sebagai berikut:
 Mengarahkan masyarakat dalam bertingkah laku. Contohnya, seorang kakak yang
harus menjaga adiknya dan adik yang harus taat kepada orang tua dan kakaknya.

 Alat solidaritas, nilai sebagai sarana bahu-membahu satu sama lain. Jika ada yang
terkena musibah, kita bisa memberi bantuan.

 Sebagai pengawas dan pengontrol perilaku masyarakat. Artinya nilai dapat


mengawasi sesuai atau tidaknya perilaku kita. Nilai juga dijadikan sebagai
pengontrol manyimpang atau tidaknya seseorang.

d) Macam-Macam Nilai
1. Nilai Sosial

11
Nilai sosial merupakan nilai yang ada pada masyarakat. Nilai sosial maksudnya kembali
pada hakikat manusia makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan
membutuhkan bantuan orang lain. Contohnya, selalu tolong menolong.

2. Nilai Mendarah Daging


Nilai mendarah daging artinya nilai telah menjadi bagian dari individu. Bagian di sini
artinya sudah menjadi kepribadian dari individu tersebut. Seseorang menjalankan nilai
mendarah daging itu cirinya alamiah, tanpa ada proses berpikir dalam menjalankannya.
Jika seseorang melanggar nilai, ia akan merasa bersalah dan menyesal. Contohnya, orang
tua merasa gagal mendidik jika melihat anak sendiri melakukan pelanggaran terhadap
nilai dan norma yang berlaku.

3. Nilai Dominan
Nilai dominan merupakan nilai yang dianggap paling penting dibandingkan dengan nilai
sosial, nilai mendarah daging, nilai ekstrinsik, dan nilai intrinsik. Tidak semua nilai dapat
dikatakan dominan. Ada ukuran tertentu yang mengategorikan bahwa nilai tersebut
bagian dari nilai dominan, di antaranya sebagai berikut.
 Jumlah orang yang menganut nilai tersebut.
 Seberapa lama nilai tersebut dipakai oleh masyarakat.
 Adanya perasaan bangga saat melaksanakan nilai tersebut.

Contoh nilai dominan, Tanzia merupakan anak seorang buruh bangunan yang tidak
melanjutkan sekolah. Namun, ia tetap selalu belajar apa pun ilmunya. Menurutnya,
belajar itu bukan hanya ketika sekolah, tetapi belajar memiliki makna lebih dan dapat
berguna untuk kehidupan masa depan.

4. Nilai Ekstrinsik
Nilai ekstrinstik merupakan sebuah nilai yang terbentuk karena pengaruh dari lingkungan
sehingga pandangan masyarakat akan sangat memengaruhi secara garis besar akan suatu
hal. Contohnya, kita sebagai warga negara multikultural tidak ada istilah suatu kelompok
yang superior, tetapi semuanya sama.

5. Nilai Intrinsik

12
Nilai intrinsik merupakan kebalikan dari nilai ekstrinstik. Subjektivitas dalam nilai ini
sangat tinggi, semuanya bersumber dari dalam individu. Contoh nilai ini yaitu adanya
HAM (Hak Asasi Manusia).

e) Nilai Menurut Profesor Notonegoro


1. Nilai Materiel
Nilai ini berhubungan dengan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh fisik dan bentuknya
nyata. Contoh dari nilai material adalah makanan, kesehatan, pakaian, dan tempat
tinggal.

2. Nilai Vital
Nilai vital merupakan nilai yang menunjang segala aktivitas manusia. Contohnya, saat
kita akan memulai aktivitas belajar mengajar di sekolah, ada beberapa nilai vital yang
dibutuhkan, seperti buku tulis, bolpoin, ponsel, dan alat tulis lainnya.

3. Nilai Rohani
Nilai rohani merupakan sebuah nilai yang dibutuhkan oleh kebutuhan rohani atau batin
manusia. Contohnya melakukan ibadah. Nilai rohani terdiri atas empat macam, yaitu
sebagai berikut.
 Nilai kebenaran
Nilai kebenaran adalah suatu nilai yang sumbernya berasal dari logika, pikiran, dan nalar.
Semua bentuk nilai.

 Nilai keindahan
Nilai keindahan berhubungan dengan nilai estetik. Nilai ini bersifat universal. Namun,
dalam nilai keindahan ini akan terdapat perbedaan pendapat, bergantung pada orang yang
menilainya.

 Nilai Moral
Nilai moral adalah nilai yang berhubungan dengan baik dan buruk yang kemudian
biasanya dijadikan sebagai pedoman. Sebagian orang menyebutkan nilai moral sebagai
nilai kebajikan. Nilai moral juga merupakan sistem penilaian yang bersumber dari

13
kehendak atau karsa. Intinya nilai moral ini adalah nilai yang baik. Contohnya, bertutur
kata yang sopan dan lemah lembut kepada orang yang lebih tua.

 Nilai Religius
Nilai religius merupakan nilai yang memiliki sumber mutlak yaitu dari Tuhan Yang Maha
Esa. Contohnya seseorang beribadah sesuai.

 Nilai Rekreasi
Nilai rekreasi merupakan nilai selingan untuk mengisi waktu senggang. Meskipun
selingan, nilai rekreasi memiliki kegunaan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan
rohani. Contohnya, melakukan olahraga.

3. KETERATURAN SOSIAL
a) Pengertian Keteraturan Sosial
Keteraturan sosial merupakan keadaan yang menunjukkan hubungan di antara setiap
anggota berlangsung secara harmonis, tertib, serta damai. Setiap anggota masyarakat
menaati nilai dan norma yang berlaku.

b) Syarat Berlangsungnya Keteraturan Sosial


Untuk berlangsungnya keteraturan sosial, terdapat syarat yang harus dipenuhi, di
antaranya sebagai berikut.
 Norma yang Sesuai dengan Kebutuhan Masyarakat
Aturan yang dibutuhkan masyarakat akan menjadikan masyarakat taat akan hukum.
Sebagai contoh, aturan 5M pandemi. Mayoritas masyarakat menaati aturan tersebut
karena butuh aturan yang dapat mengendalikan keadaan chaos di masyarakat.
 Ada Aparat yang Mengontrol Jalannya Norma
Jika norma sudah ada, tetapi tidak ada aparat yang mengontrol, tidak menutup
kemungkinan banyak masyarakat yang melanggar norma. Jika ada aparat, masyarakat
akan menaatinya sehingga keadaan menjadi teratur.
 Kesadaran Setiap Anggota Masyarakat
Masyarakat sadar pentingnya suatu norma karena tidak dapat dipungkiri masih banyak
orang yang melanggar norma. Namun, norma mem banyak manfaat dalam kehidupan
sosial.
14
c) Bentuk-Bentuk Keteraturan Sosial
1. Tertib Sosial
Tertib sosial adalah kondisi masyarakat harmonis, Keadaan harmonis dapat terjadi ketika
perilaku masyarakat selaras dengan nilai dan norma yang berlaku. Masyarakat tanpa
harus diminta menaati aturan yang berlaku. Kondisi tertib sosial dapat tercapai jika
terdapat nilai dan norma yang jelas serta masyarakat sadar dan memahami arti dari nilaj
dan norma tersebut. Contohnya, ketika jadwal pembagian Bantuan Langsung Tunai
(BLT) yang dihadiri oleh sejumlah orang, mereka berusaha untuk tertib dengan antre
untuk mengambil BLT.

2. Pesan
Order merupakan keadaan masyarakat mengakui serta mematuhi nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat. Dalam tahap order, masyarakat sudah paham dan mengakui
pentingnya suatu norma. Contohnya, menjelang hari kemerdekaan, semua warga di
Kampung Cipaku bersama-sama bekerja bakti membersihkan lapangan yang akan
dijadikan tempat upacara bendera dan perlombaan.

3. Ajeg
Ajeg adalah kondisi keteraturan sosial terjadi secara berulang-ulang dan konsisten. Setiap
individu terus melakukannya secara konsisten. Contohnya, seorang penjaga kereta api
yang selalu berangkat tiap hari bergantian dengan temannya karena penjagaan pintu
kereta api harus selalu diawasi selama 24 jam.

4. Tiang
Pola adalah gambaran umum yang tetap di dalam masyarakat. Karena sudah terbiasa
dengan aturan tersebut. Contohnya, ketika masih sekolah siswa harus menghormati guru.
Namun, ketika sudah menjadi alumni, tetap menghormati gurunya ketika bertemu.

4. SOSIALISASI
a) Pengertian Sosialisasi
Beberapa pengertian sosialisasi menurut para ahli berikut.
1) Bruce J. Cohen Sosialisasi adalah suatu proses saat manusia mempelajari bagal mana
tata cara hidup yang baik. Tujuannya adalah individu tersebut dapat memperoleh
15
kepribadian agar dapat berfungsi dengan baik, dengan kata lain membekali diri agar
dapat diterima dalam masyarakat.
2) Koentjaraningrat Sosialisasi merupakan serangkaian proses yang dilalui oleh individu
sejak kecil sampai dewasa dan berkembang, serta ber-hubungan mengenal dan dapat
beradaptasi dengan lingkungan
3) Charlotte Buhler Sosialisasi berarti seseorang berpikir bagaimana ia dapat me miliki
peran dan berfungsi dalam [Link] dengan menyesuaikan diri bagaimana
individu dapat hidup dan dapat terhubung dengan cara berpikir kelompok. Menurutnya,
setiap orang akan terus menerus belajar agar bisa mendapatkan semua itu.
b) Tujuan Sosialisasi
Proses sosialisasi memiliki tujuan, yaitu sebagai berikut.
 Mudah Beradaptasi dengan Lingkungan
Ketika mempelajari nilai dan norma, tujuannya agar seseorang dapat beradaptasi dengan
mudah, secara umum sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh masyarakat.
 Seseorang dapat Mengetahui Perannya
Saat seseorang sudah mengerti nilai dan norma dan sudah dapat beradaptasi, tahap
selanjutnya adalah mengetahui perannya. Contohnya, saat seorang remaja mulai
bergabung dengan organisasi masyarakat seperti karang taruna, awalnya remaja tersebut
akan beradaptasi. Setelah beradaptasi, remaja tersebut paham perannya di karang turunan
tersebut

c) Tahapan Sosialisasi
Tahap sosialisasi yaitu tahap persiapan atau tahap prepatory stage yang dimana adalah
tahap seorang anak mulai mengenal dunia. Tahap ini biasanya dialami oleh manusia yang
baru dilahirkan. Dalam tahap prepatory stage, seorang anak baru mulai belajar mengenal
kedua orang tuanya. Pada awalnya, anak mencapkan Sekolah menjadi agen yang sering
diandalkan oleh keluarga agar anak bisa berperilaku sesuai dengan nilai dan norma serta
dapat berperilaku sesuai dengan harapan. Sekolah erat dengan pendidikan, guru menjadi
roda penggerak dalam agen ini. Selain guru yang mengajarkan dan memberi contoh,
terdapat mata pelajaran yang dapat mendukung sosialisasi yaitu mata pelajaran Sosiologi,
Pendidikan Pancasila, serta Pendidikan Agama, dan Budi Pekerti.

d) Agen Sosialisasi

16
Media sosial adalah agen sosialisasi yang sangat berpengaruh bagi masyarakat Indonesia
saat ini, khususnya anak muda (remaja). Media massa seperti mata pisau yang memiliki
dua sisi. Satu sisi media sosial berperan positif, dimana seseorang dengan mudahnya
mempelajari nilai-nilai dan norma yang sifatnya terkini. Individu dengan mudahnya
melakukan habituasi terhadap perubahan. Akan tetapi, di sisi lainnya media sosial
menjadi bumerang. Alih-alih dijadikan sebagai agen sosialisasi positif, media sosial dapat
menjadikan individu yang tadinya baik menjadi tidak baik. Banyak kasus terjadi hanya
karena pengaruh dari media sosial. Pada akhirnya perlu pengawasan dari pihak orang tua
dan pengendalian diri dari individu masing-masing agar media sosial dapat menjadi agen
yang bersifat positif.

e) Tipe Sosialisasi
Terdapat dua tipe sosialisasi dalam mayarakat, yaitu sebagai berikut.
1) Formal
Sosialisasi tipe formal dilakukan oleh lembaga formal. Sebagai contoh, pendidikan dan
lembaga pemerintah yang ditugaskan untuk menyosialisasikan segala bentuk nilai,
norma, dan kebijakan. Saat Anda di sekolah akan dibiasakan dengan peraturan masuk
pukul tujuh pagi. Hal ini memiliki tujuan agar individu dapat menjadi pribadi yang
disiplin dan tidak
membuang-buang waktu.

2) tidak resmi
Sosialisasi informal ini dapat dilakukan melalui lingkungan, sifatnya pun tidak formal.
Bahkan, dalam sosialisasi informal ini lebih santai tetapi bermakna, Contohnya,
kumpulan teman sepermainan dan arisan. Mengapa arisan bisa masuk dalam sosialisai
informal? Karena dengan arisan biasanya antaranggota akan terjalin hubungan erat
sehingga akan memunculkan rasa saling memiliki, minimal memiliki simpati antar-
anggota dan maksimal memiliki empati.

f) Bentuk Sosialisasi
Berdasarkan bentuknya, sosialisasi dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1) Primer
Sosialisasi dengan bentuk primer adalah sosialisasi yang didapatkan ketika kecil. Jika
dikorelasikan dengan tahapan sosialisasi, sosialisasi primer termasuk tahapan prepatory
17
stage. Jadi, segala sesuatu (nilai, norma atau ajaran lainnya) yang diperoleh ketika kecil
dinamakan sosialisasi primer. Contohnya, sejak kecil kita akan diberi tahu oleh orang tua
cara makan yang baik, yaitu tidak menggunakan tangan kiri dan tidak mengeluarkan
suara saat mengunyah.
2) Sekunder
Sosialisasi sekunder adalah sosialisasi lanjutan dari primer. Ketika individu sudah
memasuki usia remaja, segala sesuatu bentuk ajaran akan diklasifikasikan pada
sosialisasi sekunder. Contoh sosialisasi sekunder berupa teman bermain dan lingkungan
masyarakat.

5. PENYIMPANGAN SOSIAL
a) Pengertian Penyimpangan Sosial
Penyimpangan sosial merupakan salah satu bentuk perilaku masyarakat. Perilaku tersebut
merupakan bentuk pelanggaran terhadap nilai dan norma yang berlaku dalam
masyarakat. Anda mungkin lebih mengenal istilah ini sebagai pelanggaran. Perilaku
menyimpang bukan hanya melekat pada orang dewasa, tetapi saat ini pelaku
penyimpangan bisa juga berasal dari remaja. Beberapa ahli mengungkapkan pengertian
penyimpangan sosial sebagai berikut.
1) John Lewis Gillin dan John Phiillip Gillin
Menurut mereka, perilaku menyimpang adalah bentuk perilaku yang melanggar nilai dan
norma yang berlaku, baik itu di ruang lingkup yang kecil seperti keluarga atau pun ruang
lingkup yang besar seperti masyarakat. Mereka berpendapat apabila seseorang
melakukan penyimpangan, akan memudarkan solidaritas kelompok. Hal ini bisa terjadi
karena seseorang sudah tidak memiliki perilaku yang sama.

2) Paul B. Horton
Paul B. Horton menyatakan bahwa perilaku menyimpang merupakan bentuk perilaku
individu yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai
contoh, Gheraldytahu bahwa peraturan di sekolahnya adalah semua siswa harus hadir
pada saat kegiatan Jumat Bersih. Namun, Gheraldy bersama teman-temannya bolos dan
bermain ke lapangan sepak bola.

3) Bruce J. Cohen

18
Menurutnya perilaku menyimpang merupakan bentuk perilaku individu yang tidak
berhasil menyesuaikan diri dengan keinginan masyarakat ataupun kelompok dalam
masyarakat. Kegagalan atau ketidaksanggupan seseorang dalam beradaptasi merupakan
bentuk penyimpangan. Contohnya, Asti merupakan seorang siswa pindahan. Di sekolah
barunya, ia harus pulang pukul 16.00, sedangkan di sekolah sebelumnya ia pulang pukul
14.00. la sulit untuk menyesuaikan untuk pulang sekolah lebih lama, hal tersebut
membuatnya sering kali kabur dari sekolah ketika pukul 14.30 ketika pergantian
pelajaran dan guru belum masuk kelas. Hal tersebut merupakan bentuk penyimpangan
sosial akibat gagal dalam penyesuaian diri di lingkungan baru.

b) Ciri-Ciri Penyimpangan Sosial


1) Penyimpangan Dapat Diterima dan Dapat Ditolak
Tidak semua bentuk penyimpangan ditolak. Ada bentuk penyimpangan yang diterima
oleh masyarakat. Penyimpangan yang diterima oleh masyarakat disebut dengan
penyimpangan positif, sedangkan pe-nyimpangan yang ditolak disebut dengan
penyimpangan negatif.

2) Penyimpangan Harus Dapat Didefinisikan


Maksud penyimpangan ini adalah, setidakanya ada acuan mengapa perilaku tersebut
disebut penyimpangan. Masyarakat harus bisa me-netapkan standar perilaku
menyimpang dan tidak. Jika masyarakat sudah menentukan standar, setiap ada individu
yang melanggar acuan standar tersebut dicap sebagai perilaku menyimpang.

3) Penyimpangan Relatif dan Mutlak


Penyimpangan relatif adalah penyimpangan yang frekuensi terjadi nya hanya sewaktu-
waktu, sedangkan penyimpangan mutlak adalah penyimpangan terlalu sering dilakukan
dan semua norma sosial telah mendukung.

4) Penyimpangan terhadap Budaya Nyata atau Budaya Lokal


Budaya nyata adalah kebiasaan yang dihidupi anggota masyarakat pada kesehariannya.
Contohnya, orang-orang seringkali tidak meng-gunakan helm saat mengendarai sepeda
motor ke tempat tujuan yang dekat. Adapun budaya ideal mewajibkan anggota
masyarakat untuk menggunakan helm saat mengendarai sepeda motor.

19
5) Terdapat Norma-Norma Penghindaran dalam Penyimpangan
Norma penghindaran, yaitu perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan
tanpa menentang nilai-nilai tata kelakuan.

6) Penyimpangan Sosial bersifat Adaptif


Seiring berkembangnya zaman, perilaku menyimpang merupakan bentuk penyesuaian
kebudayaan dengan perubahan sosial.

b) Faktor Penyebab Penyimpangan Sosial


Penyimpangan sosial disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut.
1) Secara Teori
 Dari banyaknya kasus yang terjadi, ucapan adalah jendela dari suatu kejadian.
Sebaiknya jagalah ucapan. Jika bermanfaat, baik untuk diucapkan. Jika hal
tersebut dapat menyakitkan dan tidak bermanfaat, lebih baik diam.

 Sub budaya Menyimpang


Subbudaya menyimpang merupakan sebuah faktor penyebab perilaku menyimpang.
Seseorang melakukan perilaku menyimpang ketika terbiasa dengan lingkungannya yang
menyimpang. Contohnya, seorang remaja yang tadinya tidak merokok bisa menjadi
perokok aktif karena lingkungan tempat ia tinggal dan temannya sudah terbiasa merokok.
Jadi, yang menentukan seseorang melakukan penyimpangan adalah lingkungan, yaitu
lingkungan yang sudah menyimpang dengan nilai dan norma dari awal

 Sosialisasi Tidak Sempurna


Sosialisasi tidak sempurna maksudnya adalah ada agen sosialisasi yang hilang.
Hilangnya agen utama dalam sosialisasi menyebabkan adanya kepincangan. Pincang di
sini artinya individu tidak secara menyeluruh mendapatkan ajarannya. Contohnya,
seorang anak yang salah satu orang tuanya meninggal, atau seorang anak yang
ditinggal bekerja jauh oleh orang tuanya. Mengapa hal itu bisa menjadi faktor penyebab
penyimpangan sosial? Karena selain belum sempurnanya nilai yang disampaikan, juga
tidak adanya pengawas bagi anak dalam berperilaku sehari-hari.

2) Secara Umum
20
 Menjadi Saksi Perilaku Penyimpangan
Seseorang menjadi menyimpang karena ia menjadi saksi dalam perilaku menyimpang.
Maksudnya, individu tersebut secara langsung melihat penyimpangan itu terjadi.
Mengapa bisa menjadi menyimpang? Ini karena intensitas seseorang melakukan suatu
penyimpangan. Contohnya, seorang anak tidak pernah melakukan bolos sekolah, tetapi
hampir setiap jam istirahat banyak anak yang menerobos "jalan rahasia" untuk bolos
sekolah. Suatu saat, anak tersebut akan melakukan hal tersebut meskipun tidak sering,
minimalnya seseorang akan mencoba melakukan perilaku menyimpang itu.

 Anomi
Anomi artinya kondisi masyarakat seolah-olah hidup tanpa norma. Masyarakat yang
anomi dapat dicirikan dengan keadaan chaos. Masyarakat anomi sering disebut dengan
masyarakat tanpa norma. Mengapa demikian? Karena seringnya masyarakat melakukan
pelanggaran terhadap suatu norma. Jadi, seolah-olah masyarakat sudah tidak memiliki
norma lagi. Pernahkah Anda mendengar istilah "aturan ada untuk dilanggar". Jika
masyarakat terus mengikuti istilah tersebut, tidak menutup kemungkinan akan terjadi
anomi.

 Kurang Tegasnya Aparat


Saat norma sudah banyak dilanggar, terkadang peran aparat sangat dibutuhkan.
Dibutuhkan di sini artinya sikap aparat yang tegas dan tidak pernah memandang latar
belakang sosial dan SARA. Jika aparat tidak tegas dan memihak, pelanggaran akan terus-
menerus terjadi tanpa ada rasa menyesal dari masyarakat selaku pelaku penyimpangan.

c) Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial


Penyimpangan sosial dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:
1) Penyimpangan Positif
Penyimpangan positif merupakan salah satu bentuk penyimpangan yang memiliki
dampak atau pengaruh baik bagi masyarakat. Jika seseorang melakukan penyimpangan
ini, ia memperoleh manfaat dan dikategorikan sebagai penyimpangan yang baik. Contoh
penyimpangan positif, misalnya seorang istri dapat bekerja dan mandiri. Hal ini
merupakan bentuk penyimpangan karena pada hakikatnya yang memiliki tanggung jawab
untuk menafkahi adalah laki-laki atau [Link], ketika seorang perempuan maju
21
menjadi pemimpin. baik pemimpin di suatu perusahaan, daerah, atau lembaga sering kali
dianggap sebagai hal yang tidak biasa atau menyimpang, karena konstruksi di
masyarakat menyatakan bahwa laki-laki merupakan pemimpin.

2) Penyimpangan Negatif Penyimpangan negatif merupakan bentuk penyimpangan


yang memberikan dampak. Selain berdampak tidak baik bagi pelaku penyimpangan, juga
berdampak pada masyarakat. Pada dasarnya penyimpangan negatif merupakan bentuk
penyimpangan pada umumnya. Contoh penyimpangan negatif, antara lain seorang pelajar
yang sering bolos sekolah, melakukan tindakan kriminal, serta perbuatan pelanggaran
nilai dan norma lainnya.

3) Penyimpangan Primer
Penyimpangan primer merupakan bentuk penyimpangan yang masih bisa diterima oleh
masyarakat. Secara umum, masyarakat tidak terkena dampak negatif dari penyimpangan
ini. Perilaku penyimpangan primer merupakan perilaku yang merugikan diri sendiri.
Penyimpangan primer juga dilakukan sesekali atau masuk pada intensitas jarang
sehingga masyarakat masih memberi label wajar terhadap perilaku penyimpangan
primer. Contohnya, seorang siswa menyontek ketika ulangan, siswa tersebut menyontek
hanya di saat ujian, berarti ia hanya melakukan sesekali. Lalu, siapa yang rugi? Tentu
siswa itu sendiri karena dengan menyontek sama saja dengan berbohong pada diri sendiri
dan membodohi diri sendiri.

4) Penyimpangan Sekunder
Penyimpangan sekunder merupakan bentuk penyimpangan yang pelakunya sudah tidak
bisa diterima oleh masyarakat. Pelaku melakukan penyimpangan berkali-kali sehingga
masyarakat tidak bisa menerima perbuatan tersebut. Penyimpangan sekunder juga
merugikan orang lain. Penyimpangan ini dapat dikategorikan sebagai pelanggaran
terhadap nilai dan norma yang sifatnya berat Contohnya, mencuri, korupsi, dan
membunuh.

5) Penyimpangan Individu
Penyimpangan individu merupakan bentuk penyimpangan yang dilakukan seorang diri.
Cirinya ia hanya melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Contohnya,

22
mengonsumsi narkoba dan minuman keras. Di sekolah, contohnya yaitu individu tidak
mematuhi tata tertib sekolah, bolos, dan menyontek ketika ulangan.

6) Penyimpangan Kelompok
Penyimpangan kelompok adalah bentuk penyimpangan yang dilakukan untuk melakukan
suatu penyimpangan. Contohnya, perampokan.

7) Penyimpangan Campuran
Penyimpangan campuran merupakan bentuk penyimpangan yang terjadi pada individu
dan kelompok. Maksudnya, individu bergabung dengan kelompok untuk melakukan
penyimpangan. Contohnya, seorang remaja bergabung dengan geng motor. Dengan
bergabungnya dengan geng motor, ada kombinasi antara individu (seorang remaja) dan
geng motor yang merupakan kelompok.
d) Bentuk penyimpangan sosial
Penyimpangan sosial ada beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut:
1) Mengonsumsi Narkoba dan Minuman Keras
Narkoba merupakan akronim dari narkotika, psikotropika, dan obat terlarang. Narkoba
merupakan suatu zat atau obat, baik yang bersifat alamiah, sintesis, maupun semisintesis
yang dapat menimbulkan efek penurunan kesadaran, dan halusinasi.
 Macam-Macam Narkoba
(1) Narkotika golongan I terdiri atas ganja, opium, dan tanaman kokain. Efek yang
diberikan ketika mengonsumsi ini adalah kecanduan.
(2) Narkotika golongan II terdiri atas morfin dan alfaprodina. Jenis narkotika golongan II
ini dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan asalkan sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
(3) Narkotika golongan III memiliki efek ketergantungan yang ringan dan banyak
digunakan sebagai pengobatan serta terapi. Akan tetapi, di bawah tindakan medis dan
dosis yang tepat tidak digunakan dengan bebas tanpa pengawasan.
(4) Narkotika jenis sintesis ini adalah bentuk narkotika yang diproses secara rumit.
Contohnya, amfetamin.
(5) Narkotika jenis semisintesis ini merupakan jenis narkotika yang bahan utamanya
alami, tetapi diolah dengan proses lain. Contohnya, morfin, heroin, dan kodein.
(6) Narkotika jenis alamiah adalah narkotika yang bersifat alami dan bisa langsung
digunakan. Contohnya, ganja.

23
 Faktor Penyebab Seseorang Mengonsumsi Narkoba
(1) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan merupakan salah satu indikator penyebab seseorang melakukan
perbuatan baik atau tidak baik. Terutama dalam hal-hal tidak baik faktor lingkungan
berdampak signifikan menjadi framing, baik bagi anak-anak maupun dewasa. Faktor
lingkungan tentunya menjadi hal penting yang perlu diperhatikan ke arah mana
lingkungan memberi dampak bagi seseorang. Terutama dalam penyalahgunaan barang-
barang terlarang yang tentunya tidak hanya merugikan dirinya, tetapi juga secara hukum.

(2) Kondisi Keluarga


Kondisi keluarga merupakan bagian dari penyebab mengapa seseorang memilih
mengonsumsi narkoba. Faktor ini biasanya berkaitan dengan masalah pribadi dalam
keluarganya. Sebagai contoh, kita sering mendengar akibat perceraian orang tua (broken
home). Kemudian, mereka yang kesulitan menceritakan permasalahannya kepada orang
lain, dengan berbagai alasan mereka memilih narkoba sebagai pelampiasan. Oleh karena
itu, keharmonisan sebuah keluarga perlu dijaga agar terhindar dari perbuatan negatif,
terutama narkoba.

(3) Kurangnya Pendidikan Agama


Pendidikan agama sejak dini sangat dibutuhkan untuk membentengi diri dari hal-hal
negatif. Bukan hanya untuk permasalahan narkoba, pendidikan agama merupakan filter
seseorang mengetahui secara hukum agama kehalalan dan haramnya suatu perbuatan.
Oleh karena itu, pendidikan agama tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan umum
lainnya.

(4) Keinginan untuk Mencoba


Keinginan untuk mencoba tentunya pernah dirasakan semua orang, baik dalam perbuatan
yang diperbolehkan ataupun yang dilarang. Hal ini berhubungan erat dengan pentingnya
pendidikan agama. Rasa ingin mencoba, terutama untuk kalangan remaja merupakan
sebuah kodrat yang wajar. Hal tersebut hanya baik dalam hal positif. Keinginan mencoba
dalam perbuatan negatif sudah semestinya dibentengi dengan pengetahuan tentang risiko,
baik secara hukum maupun agama.

(5) Mendapat Tekanan


24
Lingkungan bermain dengan teman atau kelompok salah satu penyebab seseorang
mengonsumsi narkoba. Bukan karena keinginan sendiri mengikuti tren atau gaya, tetapi
juga akibat dari tekanan aturan kelompok ataupun menjadi syarat agar diterima, diakui
dalam per-gaulan, dan dianggap orang dewasa.

 Cara Menanggulangi Konsumsi Narkoba


(1) Pengawasan dari Pihak Orang Tua
Pengawasan orang tua mempunyai peran penting dalam pe nanggulangan bahaya
narkoba. Pengawasan di sini lebih menekan kan kepada terpenuhinya kebutuhan anak
dari segi kasih sayang. Sangat penting mengetahui kondisi stres anak dan membantu
memberikan solusi alternatif pada setiap kondisi yang dihadapi seorang anak. Oleh sebab
itu, pengawasan orang tua kepada anak akan mudah diterima. Selanjutnya anak akan
terhindar dari bujukan bahwa narkoba bisa menyelesaikan masalah.

(2) Lebih Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta


Proses pencarian jati diri kerap menjadi dilema ketika keseimbangan emosional tidak
diiringi dengan keseimbangan spiritual. Oleh sebab tu, pendekatan terhadap Tuhan Sang
Maha Pencipta menjadi sebuah benteng setiap remaja yang tengah sibuk mencari jati
dirinya. Dengan demikian, pada saat ekspektasinya tidak sesuai dengan realita, seorang
anak tidak akan menjadikan narkoba ataupun hal negatif lainnya sebagai Melibatkan
Tokoh Masyarakat dalam Segala Hal, Peran tokoh masyarakat dalam penanggulangan
bahaya narkoba sangat dibutuhkan. Sebagai contoh, tokoh masyarakat membuat
pemantauan keamanan yang melibatkan lembaga hukum. Ketenangan dan keamanan
umum akan terpantau. Jika ada anak-anak di lingkungan yang disinyalir menggunakan
narkoba dapat diketahui secepatnya. Oleh sebab itu, peran tokoh masyarakat menjadi
harapan untuk membentuk generasi yang hebat, tangguh, dan bebas dari pengaruh
narkoba.

 Faktor Seseorang Kecanduan Alkohol


(1) Faktor Pergaulan
Faktor pergaulan merupakan satu pemicu yang cukup rentan dalam masa perkembangan
remaja. Faktor inilah yang biasanya menjadi penyebab banyaknya penyimpangan sosial.
25
Sebagai contoh, anak-anak SMP sudah berani merokok di tempat umum. Hal ini
merupakan contoh kecil yang mengkhawatirkan. Tentunya pergaulan inilah yang harus
diawasi orang tua ataupun pihak-pihak lembaga terkait.

(2) Media
Dampak positif dari media tentunya memudahkan kita mengakses informasi dan
berinteraksi. Tidak hanya media cetak, tetapi hampir semua kalangan dapat dengan
mudah mengakses. Adanya ponsel yang canggih menjadi faktor perkembangan informasi
yang membawa perubahan, baik perilaku ataupun etika dan norma. Adanya media yang
mudah diakses menjadi faktor masyarakat mudah mendapatkan informasi dari
mancanegara mengenai perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku di negara Indonesia.
Maka, penyimpangan sosial seperti terjembatani kebebasannya. Hal ini terjadi karena
tidak adanya pengawasan atau kontrol yang berlaku saat mengakses suatu media.

(3) Lingkungan Keluarga


Lingkungan keluarga, terutama orang tua, menjadi sosok penting dalam pengaruh
perilaku remaja. Remaja yang melakukan penyimpangan sosial banyak berawal dari
ketidakpuasan dalam lingkungan keluarganya. Mereka lebih memilih mencari perhatian
di luar lingkungan keluarga. Misalnya, kelompok teman sebaya ataupun pelarian bebas
lainnya membawa remaja kepada perilaku menyimpang. Oleh karena itu, peran keluarga
dalam mendukung perkembangan seorang anak dengan memberikan contoh yang baik
sangat berarti dan harus diterapkan sebagai kontrol perilaku.

(4) Faktor Psikologis


Faktor psikologis sering terjadi akibat tuntutan yang tidak sesuai dengan kapasitas atau
kemampuan seseorang. Faktor inilah yang sering terjadi dan menjadikan remaja yang
labil memilih alkohol sebagai pelariannya. Sebagai contoh, orang tua menuntut seuatu
yang tidak sejalan dengan kemauan anak. Hal itu dapat menjadi pemicu utama
psikologis. Anak mulai terganggu, apalagi dalam masa krisis identitas, remaja kesulitan
berinteraksi dan bersosialisasi.

 Cara Menanggulangi Kecanduan Alkohol


(1) Pola Hidup Sehat

26
Pola hidup sehat menjadi upaya penanggulangan ataupun upaya menghindari kecanduan
alkohol. Pola sederhana ini bisa dilakukan dengan berolahraga teratur, membiasakan
memakan makanan sehat, dan menghindari begadang. Dengan pola hidup sehat, akan
tercipta perubahan yang mendorong untuk menghindari kebiasan tidak baik dan
menyadari bahwa kesehatan merupakan investasi lahir batin.
(2) Mencari Support
Support atau dukungan dari orang-orang sekitar sangatlah dibutuhkan dalam pemulihan
dari kecanduan alkohol. Support ini berkaitan erat dengan pola hidup sehat, selain
pemulihan fisik, pemulihan mental juga dibutuhkan. Lingkungan yang mendukung
contohnya adalah masuk dalam lingkungan relawan, organisasi sekolah, mendapat teman
curhat, saudara, sampai guru spiritual untuk mendapatkan bimbingan dalam agama.
Dengan cara tersebut akan mudah beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru dan lupa
dengan kebiasaan tidak baik sebelumnya.

(3) Filterisasi Pergaulan


Membatasi pergaulan dengan teman yang mengonsumsi alkohol merupakan bagian dari
upaya berhenti mengonsumsi alkohol. Ini menjadi poin penting yang pertama harus
dilakukan, apa pun konsekuensinya. Namun, bukan berarti kita memutuskan hubungan
pertemanan dengan teman yang masih mengonsumsi alkohol tetapi kita lebih kepada
memberikan pengaruh positif agar teman kita sama-sama belajar menghindari alkohol,
misalnya berkumpul di tempat yang dilarang mengonsumsi alkohol.

(4) Banyak Melakukan Kegiatan Positif


Melakukan kegiatan positif sebagai upaya pemulihan dari mengonsumsi alkohol dapat
dilakukan dengan mengisi waktu dalam kegiatan kebersamaan. Contohnya, rekreasi
bersama keluarga, melakukan kerja bakti, belajar dengan komunitas keagamaan,
mengasah keterampilan, dan melakukan kegiatan positif lainnya. Langkah ini merupakan
terapi yang sederhana, tetapi berefek pada pemulihan dari kebiasaan tidak baik.

 Tawuran
Tawuran merupakan bentuk kekerasan atau perkelahian antarsiswa dengan jumlah yang
banyak. Masih sering terjadi, bahkan merenggut banyak jiwa. Kasus ini sulit
diselesaikan.

27
 Faktor Penyebab Tawuran
(1) Sulit Menyesuaikan dengan Kondisi Sosial
Kesulitan menyesuaikan diri dengan kondisi sosial sering menjadi pemicu terjadinya
keributan antarpribadi maupun kelompok. Ini terjadi akibat tidak seimbangnya kesadaran
dan keharmonisan antara tuntutan dan lingkungan yang mengakibatkan frustasi,
ketegangan, dan sulit mengendalikan emosi sehingga berdampak merugikan
lingkungannya. Dengan memahami penyesuaian diri dalam kondisi sosial, seseorang
dituntut untuk hidup secara wajar dalam lingkungannya dan mampu melakukan
penyesuaian diri yang setaraf dengan usianya.

(2) Kondisi Lingkungan Keluarga Kondisi lingkungan keluarga yang tidak berfungsi
sebagai teladan menjadi faktor utama kenakalan remaja. Figur lingkungan keluarga sehat
akan menjamin keamanan anak-anaknya, baik perilaku me nyimpang kepada orang lain
ataupun perilaku menyimpang kepada dirinya sendiri. Faktor lingkungan keluarga yang
tidak harmonis akan menimbulkan motivasi seseorang melakukan tawuran dan berpikir
dengan kekerasanlah masalahnya akan selesai.

(3) Kondisi Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah merupakan tempat belajar


membentuk karakter. Kita sering melihat terjadi tawuran antarsekolah, padahal di sekolah
mereka dituntut untuk belajar. Ini tentunya menjadi permasalahan yang harus ditangani
dengan serius. Intinya sekolah tidak hanya fokus pada kepandaian akademis, tetapi juga
sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan membentuk moral dan emosi anak.

(4) Dendam yang Diturunkan Dendam yang turun-temurun biasanya menjadi pemicu
tawuran remaja. Paradigma yang salah bahwa dendam berlanjut dari senior ke juniornya.
Mata rantai dendam ini harus segera dipecahkan, Sekolah harus memberi ruang lebih
agar lingkungan sekolah lebih kondusif dalam pengembangan potensi.

(5) Tidak Dapat Mengontrol Emosi Sulitnya mengontrol emosi atau kelabilan emosi
menjadi penyebab terjadinya tawuran. Tidak semua orang membenarkan aksi tawuran
Hanya saja dikarenakan labilnya emosi sehingga seseorang dengan mudah terdoktrin.
Mereka menganggap ikut dalam aksi tawuran merupakan ciri kesetiakawanan.

(6) Krisis Identitas


28
Krisis identitas ini biasa terjadi pada remaja yang tengah mencari jati dirinya. Krisis
identitas merupakan kondisi yang mudah emosi, mudah frustasi, merasa cemas, serta
menyakiti dirinya sendiri atau-pun orang lain. Hal ini juga yang menjadi pemicu
pelampiasan anak remaja terhadap aksi tawuran. Krisis ini membutuhkan dukungan dan
motivasi agar bisa melewati perubahan dalam hidup sehingga timbul kepercayaan diri
dan kenyamanan identitasnya.

 Cara Menanggulangi Tawuran


(1) Arahkan Anak untuk Melakukan Hal Positif Mengarahkan anak dalam melakukan hal
positif merupakan upaya sederhana dalam menanggulangi aksi-aksi tawuran atau
penyimpangan sosial lainnya. Mengarahkan anak dalam kegiatan positif dapat dilakukan
di sekolah dengan melakukan kegiatan ekstrakurikuler, kepramukaan, serta terlibat dalam
kegiatan sosial seperti menjadi relawan.

(2) Kembalikan Fungsi Keluarga


fungsi keluarga sebagai dasar pembentukan karakter menjadi poin penting dalam
menanggulangi aksi tawuran, Peran keluarga kembali menghidupkan nilai-nilai toleransi
antarsaudara dalam keluarga. Upaya tersebut menjadi nilai positif yang membawa
dampak baik terhadap lingkungannya. Dengan mengembalikan fitrah keluarga, aksi
intoleran atau tawuran akan terhindar

(3) Menanamkan Paradigma Bahwa Kekerasan


Tidak untuk Menyelesaikan Masalah, Problem solving merupakan upaya pencegahan
yang harus dilatih kepada setiap anak didik. Seorang anak dituntut belajar meng
identifikasi dan menemukan solusi efektif dalam setiap pemecahan masalah. Paradigma
kekerasan dalam penyelesaian msalah me-rupakan paradigma yang harus dibuang jauh-
jauh. Selain merugikan, ersebut jauh lebih tidak bermoral. paradigma tersebut

(4) Menumbuhkan Sikap Simpati dan Empati


Menumbuhkan sikap simpati dan empati bisa dimulai dari lingkungan keluarga.
Contohnya, menyayangi hewan peliharaan, memberi bantuan kepada saudara yang
membutuhkan, dan ikut mendoakan saudara yang terkena musibah. Hal-hal sederhana
itulah yang mesti dibangun, baik di lingkungan sekolah ataupun keluarga. Dengan

29
perasaan empati, seorang anak akan menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai
persoalan.

30

Anda mungkin juga menyukai