0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan38 halaman

Strategi Efektif Belajar Bahasa Inggris

Dokumen ini membahas strategi belajar Bahasa Inggris, termasuk definisi, jenis-jenis, dan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi tersebut. Strategi belajar terdiri dari berbagai pendekatan yang membantu siswa dalam proses pembelajaran, dan dibagi menjadi kategori langsung dan tidak langsung. Selain itu, faktor seperti jenis kelamin, status ekonomi, dan motivasi belajar juga berperan penting dalam pemilihan strategi belajar yang efektif.

Diunggah oleh

Wahyu Gasti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan38 halaman

Strategi Efektif Belajar Bahasa Inggris

Dokumen ini membahas strategi belajar Bahasa Inggris, termasuk definisi, jenis-jenis, dan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi tersebut. Strategi belajar terdiri dari berbagai pendekatan yang membantu siswa dalam proses pembelajaran, dan dibagi menjadi kategori langsung dan tidak langsung. Selain itu, faktor seperti jenis kelamin, status ekonomi, dan motivasi belajar juga berperan penting dalam pemilihan strategi belajar yang efektif.

Diunggah oleh

Wahyu Gasti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Strategi Belajar Bahasa Inggris

1. Pengertian Strategi Belajar Bahasa Inggris

Kata strategi berasal dari Bahasa Latin strategia, yang diartikan

sebagai seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Strategi

pembelajaran menurut Frelbreg dan Driscoll (dalam Syahputra, 2014)

dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi

pelajaran pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam

konteks yang berbeda pula.

Gerlach dan Ely (dalam Syahputra, 2014) menyatakan bahwa

strategi belajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk

menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran

tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat

memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Dick dan Carey (dalam

Syahputra, 2014) berpendapat bahwa strategi pembelajaran tidak hanya

terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya

materi atau paket pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri dari semua

komponen materi pelajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk

membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Adapun Oxford (1990) secara rinci menjelaskan strategi belajar

sebagai tindakan tertentu yang dilakukan oleh pembelajar untuk


17
18

menjadikan pembelajaran lebih mudah, cepat, menyenangkan, mandiri,

efektif, dan dapat diarahkan oleh diri sendiri.

Berdasarkan uraian tentang strategi belajar bahasa tersebut, dapat

disimpulkan bahwa strategi belajar Bahasa Inggris merupakan suatu cara

yang dipilih seorang pembelajar Bahasa Inggris untuk membantu proses

belajar bahasanya, sehingga proses belajar Bahasa Inggris menjadi lebih

mudah, efektif, menyenangkan, serta diarahkan oleh diri sendiri (self-

directed). Penggunaan strategi belajar Bahasa Inggris dapat membantu

penyimpanan, penyerapan, dan penggunaan informasi yang berkaitan

dengan Bahasa Inggris yang sedang dipelajarinya.

2. Jenis-jenis Strategi Belajar Bahasa

Naiman (1978) mengemukakan 10 strategi belajar yang mengacu

pada teori stern (1975), yaitu;

a. Strategi perencanaan :strategi belajar positif

b. Strategi aktif: pendekatan aktif dalam tugas belajar

c. Strategi empatik

d. Strategi formal: bagaimana mempelajari bahasa

e. Strategi eksperimantal

f. Strategi semantik

g. Strategi praktis: keinginan untuk mempraktekan

h. Strategi komunikasi: keinginan untuk menggunakan bahasa dalam

kehidupan yang nyata.


19

i. Strategi monitor: monitor sendiri dan mengkritik penggunaan

bahasa

j. Strategi internalisasi : pengembangan bahasa kedua

Disamping sepuluh jenis tersebut, beberapa peneliti lain

mengelompokkan strategi belajar menjadi empat jenis (O’Malley dan

Chamot, 1990). Empat jenis strategi belajar tersebut diantaranya:

a. Kognitif

strategi kognitif berhubungan dengan daya pikir pembelajar dalam

mengolah bahan belajar mengajar.

b. Meta-kognitif

Strategi meta-kognitif berhubungan dengan taktik atau cara

pembelajar untuk menghadapi dan mengelola bahan belajar

mengajar.

c. Afektif

Strategi efektif berhubungan dengan sikap dan perasaan pembelajar

dalam menghadapi proses belajar pembelajar.

d. Sosial

Strategi sosial berhubungan dengan kerjasama pembelajar dengan

sejawatnya dalam mencapai tujuan belajar.

Oxford (1990) secara lebih spesifik mengklasifikasikan strategi

belajar dalam konteks belajar bahasa atau yang dikenal sebagai strategi
20

belajar bahasa (language learning strategies) menjadi dua kategori

utama, yaitu strategi langsung (direct strategy) dan strategi tidak

langsung (indirect strategy). Oxford menjelaskan bahwa strategi

langsung melibatkan penggunaan bahasa target atau bahasa yang

dipelajari secara langsung untuk memfasilitasi proses belajar. Strategi

langsung terdiri atas strategi memori, strategi kognitif, dan strategi

kompensasi. Strategi tidak langsung memberikan dukungan tidak

langsung dalam pembelajaran bahasa yang dilakukan dengan cara-cara

seperti; memfokuskan perhatian, merencanakan, mengevaluasi,

mengendalikan kecemasan, mencari kesempatan, meningkatkan

kerjasama dan empati. Strategi tidak langsung terdiri atas strategi

metakognitif, strategi afektif, dan strategi sosial.

Berikut adalah gambaran mengenai pembagian strategi belajar

yang dikemukakan oleh Oxford (1990):

a. Memori

Strategi belajar memori digunakan oleh pembelajar dengan

memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman belajar sebelumnya.

Strategi belajar ini banyak melibatkan ingatan dan proses

pembelajaran yang menggunakan daya ingat. Daya ingat tersebut

terdiri dari empat indikator yaitu:

1) Creating Mental Linkages mencakup pengelompokkan

(Grouping), menghubungkan (Associating) dan penempatan kata

baru ke dalam sebuah konten.


21

2) Penggunaan gambar dan suara (applying images and sounds)

mencakup penggunaan perumpamaan (Using Imagery), pemetaan

semantic (semantic mapping), Menggunakan kata kunci (Using

Key Word) dan melambangkan suara dalam ingatan (representing

sound inmemory)

3) Pengkajian ulang dengan baik (Reviewing Well) dengan

menggunakan pengkajian yang terstruktur

4) Mempraktekan (Employing) dengan menggunakan respon fisik

atau perasaan (Sense)

Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang

terdapat dalam strategi belajar Memori:

Gambar 2.1. Diagram strategi-strategi Memori (Oxford, 1990, hal. 39)

b. Kognitif

Strategi kognitif adalah segala perilaku pembelajar dalam proses

belajar mengajar yang behubungan dengan penggunaan daya pikir


22

pembelajar. Strategi kognitif terdiri dari empat aspek penyusunnya

yaitu:

1) Practicing yang terdiri dari pengulangan (Repeating), latihan

formal dengan suara (formally practicing with sound), mengenali

dan menggunakan formula, penggabungan (recombining) dan

berlatih secara natural (Practicing Naturalistically).

2) Menerima dan meneruskan pesan (receiving and sending

message) yang tediri dari menemukan ide-ide lebih cepat (getting

the idea quickly), menggunakan media dalam penerimaan pesan

(using resources for receiving an message).

3) Menganalisa dan memahami (analizing and reasoning) yang

terdiri dari penalaran deduktif (reasoning deducatively),

menganalisa pernyataan (analizing expressions), menganalisa

dengan jelas (analizing contrastively), penerjemahan (translating)

dan mengubah (transferring).

4) Membuat struktur input dan output yang terdiri dari membuat

cacatan (taking notes), membuat ringkasan (summarizing) dan

menandai (highlighting).

Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang

terdapat dalam strategi belajar kognitif:


23

Gambar 1.2 Diagram strategi-strategi Kognitif (Oxford, 1990, hal. 44)

c. Kompensasi

Strategi belajar kompensasi digunakan oleh pembelajar yang telah

memiliki keterampilan- keterampilan yang cukup tinggi. Strategi

belajar ini biasanya dimanfaatkan untuk menanggulangi beberapa

keterbatasan dalam berbahasa. Strategi kompensasi ini terdiri dari

aspek-aspek dari berikut:

1) Kemampuan dalam menerka (Guessing intelligently) dengan

menggunakan petunjuk linguistik (linguistic clues) dan petunjuk

lainnya (other clues).

2) Mengatasi keterbatasan dalam berbicara dan menulis

(Overcoming limitation in speaking and writing) yang terdiri dari


24

beralih ke bahasa yang lebih dikuasai, mendapatkan bantuan,

menggunakan ekspresi dan bahasa tubuh, menghindari praktek

komunikasi, memilih topik, penyesuaian dan pendekatan,

menemukan kata baru dan menggunakan pemakaian kata-kata

atau sinonim/persamaan kata.

Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang

terdapat dalam strategi belajar kompensasi:

Gambar 2.3. Diagram strategi-strategi Kompensasi (Oxford, 1990, hal. 48)

d. Meta-kognitif

Strategi meta-kognitif adalah segala perilaku pembelajar yang

berhubungan dengan teknik atau cara pembelajar untuk menghadapi


25

dan mengelola bahan belajar mengajar. Dalam penelitian ini, strategi

meta-kognitif diwujudkan berbagai macam kegiatan yang dapat

dimasukan ke dalam tiga kategori berikut:

1) Pemfokusan belajar dengan penundaan kesimpulan dan

hubungannya, pemusatan perhatian dan menciptakan

pembicaraan agar fokus dalam belajar.

2) Menyusun kegiatan belajar mengajar dengan menentukan bahasa,

pengorganisasian, menyusun sasaran dan tujuan, identifikasi

tujuan, perencanaan peran bahasa dan mencari kesempatan untuk

praktek.

3) Mengevaluasi proses belajar mengajar dengan pengawasan dan

evaluasi diri sendiri

Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang

terdapat dalam strategi belajar meta-kognitif:

Gambar 2.4. Diagram strategi-strategi Meta-Kognitif (Oxford1990, hal.


137)
26

e. Afektif

Strategi afektif adalah segala perilaku pembelajar yang berhubungan

dengan sikap dan perasaan pembelajar dalam menghadapi proses

belajar.

1) Menurunkan kecemasan yang terdiri dari relaksasi progresif,

menggunakan musik dan tertawa

2) Memotivasi diri dengan membuat pernyataan positif, mengambil

resiko dengan bijak dan penghargaan terhadap diri sendiri

3) Menganalisa kondisi emosional dilakukan dengan

memperhatikan apa yang tubuh kita rasakan, menggunakan

checklist, menulis pembelajaran bahasa dan mendiskusikan

perasaan dengan orang lain

Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang

terdapat dalam strategi belajar afektif:

Gambar 2.5. Diagram strategi-strategi Afektif (Oxford, 1990, hal. 141)


27

e. Sosial

Strategi sosial adalah segala perilaku pembelajar yang berhubungan

dengan kerja sama pembelajar dengan sejawatnya dalam mencapai

tujuan belajar. Strategi ini diwujudkan dalam tiga kegiatan, yaitu:

a. Bertanya sebagai bentuk klarifikasi dan perbaikan

b. Bekerja sama dengan orang lain atau yang ahli di bidangnya

c. Berempati dengan sesama sebagai bentuk pengembangan budaya

dan menjadi peka terhadap sesama.

Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang

terdapat dalam strategi belajar sosial:

Gambar 2.6. Diagram strategi-strategi Sosial (Oxford, 1990, hal. 145)

Enam klasifikasi strategi belajar bahasa dari Oxford terbagi kedalam

dua jenis, yaitu strategi langsung dan tak langsung, namun keenam

klasifikasi dalam dua strategi tersebut, tetap saling berkaitan dan


28

mendukung satu sama lain. Oxford (1990) mengibaratkan keterkaitan

strategi langsung dan tidak langsung ibarat seseorang aktor yang sedang

melakukan pertunjukan di panggung dan sutradara yang bekerja di

belakang panggung. Keduanya saling bekerjasama dan tidak dapat

dipisahkan.

Dalam penelitian ini teori strategi belajar yang akan digunakan adalah

teori dari Oxford (1990) yang terdapat pada bukunya yang berjudul

Language learning strategy: What every teacher should know. Teorinya

secara spesifik membahas strategi belajar dalam konteks belajar bahasa.

Taksonomi strategi belajar bahasa dari Oxford (1990) telah diuji dengan

confirmatory factor analysis (CSA) hasilnya mengindikasikan bahwa 6

strategi belajar bahasa versi Oxford, paling konsisten digunakan oleh

responden dari 517 universitas, (Hsiao dan Oxford, 2002).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Strategi Belajar

Strategi belajar bahasa telah disebutkan sebagai elemen penting

dalam keberhasilan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua

maupun bahasa asing. Strategi belajar sendiri sangat dipengaruhi oleh

banyak faktor-faktor, seperti;

a. Jenis Kelamin

Politzer (1983) menemukan bahwa wanita menggunakan

strategi belajar bahasa lebih signifikan dibandingkan laki-laki, hal

ini terkait dengan kekuatan interaksi sosial wanita tersebut. Temuan


29

ini juga hampir sama dengan temuan Oxford (1989).

b. Kesukuan

Hirschamn (1995) menyatakan bahawa bangsa China

memiliki kekuatan dagang dan puncak-puncak ekonomi di

Indonesia dan di Asia Tenggara. Hal itu membawa konsekuensi

kepada siswa keturunan China untuk belajar lebih sering dalam

bahasa Inggris. Politzer dan McGoarty (1985) menyimpulkan bahwa

pelajar-pelajar Asia memiliki kompetensi yang tinggi dalam

linguistik dan komunikasi.

c. Status Ekonomi

Mukattash (1980) dan Abdan (1991) mengatakan bahwa orang

tua kelas menengah di Saudi Arabia memasukkan anaknya ke

sekolah swasta dengan uang sekolah yang tinggi untuk memperoleh

fasilitas belajar termasuk belajar bahasa Inggris yang memadai.

Yang (1983) melaporkan bahwa orang kaya sanggup mengirim

anaknya keluar negeri untuk belajar bahasa Inggris sebagai bahasa

asing.

d. Akademik

Oxford (1995) mengatakan bawa ada dua jenis tujuan belajar

bahasa: bahasa akademik dan bahasa sosial, dimana bahasa

akademik lebih sulit dibandingkan dengan bahasa sosial. Cummins

(1982) mengatakan untuk sukses dalam bahasa akademik akan

memakan waktu yang sangat lama dibandingkan dengan pencapaian


30

kesuksesan untuk bahasa sosial.

e. Tipe Sekolah

Gardner dan Macintyre (1993) mendukung teori tentang

strategi belajar bahasa yang dikaitkan dengan variabel tipe sekolah

dimana tipe sekolah tersebut berinteraksi dengan cara-cara untuk

mempengaruhi kemampuan bahasa secara umum dalam bahasa

asing maupun bahasa kedua.

f. Gaya Belajar

Strategi belajar bahasa tidak beroperasi dengan sendirinya,

namun dihubungkan secara langsung oleh gaya belajar bawaan yang

telah ada pada diri setiap individu dan faktor-faktor lain yang

berkaitan dengan kepribadian. Dapat dikatakan bahwa gaya belajar

berkontribusi terhadap kecenderungan individu untuk memilih

strategi belajar tertentu. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan

bahwa gaya belajar berpengaruh secara signifikan terhadap

pemilihan strategi belajar (Carson & Longhini, dalam Chang, 2005;

Ehrman & Oxford, 1990; Ehrman & Oxford, 1995; Jie & Xiaoqing,

2006).

g. Motivasi Belajar Bahasa

Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong

terjadinya proses belajar. (Dimyati & Mudjiono, 2006). Kekuatan

belajar disini berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian

tujuan. Motivasi belajar siswa datang dari diri siswa dan orang lain
31

(misal dari teman, guru/pendidik dan orang tua/keluarga). Dalam

diri siswa terkadang tampak segan untuk belajar karena tidak

mengetahui kegunaan mata pelajaran dan memiliki masalah dalam

pergaulan dengan teman sekolahnya ataupun bahkan dengan

keluarganya. Terdapat juga siswa yang rajin dan bersemangat

belajar tinggi walaupun keadaan di sekitar mengganggu konsentrasi

belajar siswa (Fatma, 2011). Oleh karena itu, dengan adanya

motivasi belajar pada diri seorang siswa maka segala kendala dan

hambatan yang dihadapi dalam belajar tidak akan mampu

menghambat proses belajar siswa yang bersangkutan. Pada tahap ini

siswa tersebut akan terdorong untuk mencari cara dalam mengatasi

kendala dan hambatannya dalam proses belajar dengan berbagai

tindakan, salah satunya adalah dengan menggunakan strategi belajar.

Di awal-awal perkembangannya, fokus penelitian mengenai

strategi belajar bahasa bertujuan untuk mengidentifikasi atau

mengklasifikasikan jenis strategi belajar bahasa (Griffiths, 2003).

Menurut Green dan Oxford (1995), sejumlah penelitian terdahulu

lebih banyak menyelidiki hubungan antara penggunaan strategi

belajar bahasa dengan prestasi atau tingkat penguasaan bahasa

Inggris, kemudian penelitian-penelitian selanjutnya lebih

berkonsentrasi pada faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan

strategi belajar bahasa, seperti motivasi, baik intrinsik maupun

ekstrinsik (Chang, 2005); (Liao dalam Yu, 2005), target belajar


32

bahasa, orientasi karir, usia, jenis kelamin dan kecemasan. (Ehrman

& Oxford, 1990); (Randic & Bobanovic, 2006). Penelitian lain

mengenai penggunaan strategi belajar juga meninjaunya dari gaya

belajar perseptual, yang terdiri atas gaya belajar visual, auditori,

kinestetik, taktil individu dan kelompok, sebagaimana dikemukakan

oleh Reid (dalam Bull & Ma, 2001); Carson & Longhini (2002); Lo

(2006).

Penelitian ini melanjutkan penelitian terkait faktor faktor yang

mempengaruhi penggunaan strategi belajar Bahasa Inggris dan pada

variabel gaya belajar dan motivasi belajar Bahasa Inggris.

Terkait dengan variabel gaya belajar. Setiap individu

mempelajari bahasa dengan cara yang berbeda-beda, ada yang lebih

mudah menyerap informasi melalui penglihatan (visual), ada yang

melalui pendengaran (auditory) (Reid dalam Zhenhui, 2001).

Banyak penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa gaya

belajar yang dimiliki individu memiliki pengaruh signifikan

terhadap penggunaan strategi belajar bahasa (Carson & Longhini,

2002), (Ehrman & Oxford, 1990), (Ehrman & Oxford, 1995), (Lo,

2006), (Brown dalam Jie & Xiaoqing 2006) menyatakan bahwa

strategi belajar bahasa tidak beroperasi dengan sendirinya, Strategi

belajar bahasa dipengaruhi oleh gaya belajar dan berbagai

karakteristik individual lainnya. Meskipun demikian ada juga

penelitian yang membantah adanya perbedaan signifikan dalam


33

penggunaan strategi belajar ditinjau dari gaya belajarnya, Saragih

dan Kumara (2000) dari 62 respondennya yang digolongkan dalam

4 gaya belajar melalui Perceptual Learning Styles Preference

Questionnare (PLSPQ) menemukan bahwa tidak ada perbedaan

signifikan penggunaan strategi belajar bahasa ditinjau dari gaya

belajar. Perbedaan temuan dalam beberapa penelitian sebelumnya,

menunjukkan bahwa perlu dilakukan penelitian-penelitian lanjutan

untuk mengkonfirmasi temuan-temuan sebelumnya, sehingga faktor

gaya belajar ini dipilih sebagai faktor yang diteliti.

Motivasi belajar bahasa dipilih karena dari keseluruhan

variabel yang diteliti, motivasi belajar memiliki pengaruh yang

terbesar terhadap penggunaan strategi belajar bahasa, (Oxford &

Nyikos dalam Tabanlioglu, 2003). Pelajar yang memiliki motivasi

belajar yang tinggi lebih sering menggunakan strategi belajar

dibandingkan pelajar dengan motivasi yang rendah.

B. Gaya Belajar

1. Pengertian Gaya Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), gaya memiliki arti

tingkah laku, gerak gerik dan sikap, sedangkan belajar diartikan

sebagai; berusaha memeroleh kepandaian atau menuntut ilmu. Skinner

(1958) menjelaskan pengertian belajar yakni suatu proses adaptasi atau

penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.


34

Sedangkan menurut Slameto (2005), belajar adalah suatu proses usaha

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri

dalam interaksi dengan lingkungannya.

Setiap manusia di dunia ini memiliki gaya tersendiri dalam

berbusana, berbicara dan juga gaya hidup yang berbeda antara satu

sama lain. Begitu pula dengan gaya belajar, keanekaragaman cara

siswa dalam belajar disebut dengan gaya belajar, ada pula yang

menyebutnya dengan modalitas belajar. Setiap siswa memiliki gaya

belajarnya sendiri, hal itu diumpamakan seperti tanda tangan yang khas

bagi dirinya sendiri (Ginnis, 2008).

Menurut Porter dan Hernacki (2013) gaya belajar seseorang

adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian

mengatur serta mengolah informasi Sedangkan menurut Nasution

(2008) yang dinamakan gaya belajar adalah cara yang konsisten yang

dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau

informasi, cara mengingat, berfikir dan memecahkan soal. Adapun

menurut Gunawan (2003) pengertian gaya belajar adalah cara yang

lebih kita sukai dalam melakukan kegiatan berfikir, memproses dan

mengerti suatu informasi.

Mulyono (2012) menjelaskan setiap individu mempunyai gaya

belajar yang berbeda. Tidak semua orang mengikuti cara yang sama.

Masing-masing menunjukkan perbedaan, namun para peneliti dapat


35

menggolongkannya. Gaya belajar berkaitan erat dengan pribadi

seseorang, yang dipengaruhi oleh pembawaan, pengalaman,

pendidikan, dan riwayat perkembangannya.

Menurut Reid (dalam Peacock, 2000) gaya belajar adalah

suatu cara yang alami, hampir seperti kebiasaan, dan cara yang paling

disukai oleh individu dalam menyerap, memproses dan

mempertahankan informasi. Gaya belajar yang satu tidak dapat

dikatakan lebih baik dari gaya belajar yang lainnya, karena setiap gaya

belajar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing (Felder dan

Brent, 2005).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah

suatu modalitas yang dimiliki setiap pembelajar, yang bisa digunakan

dalam melakukan kegiatan berfikir, memproses dan mengerti suatu

informasi. Gaya belajar sangat terkait secara kognitif, afektif pada

karakter dan perilaku seseorang. Gaya belajar berbeda dengan strategi

belajar, strategi belajar terkait dengan bagaimana menggunakan suatu

cara atau metode yang sesuai dengan tugas, materi, tujuan maupun

target belajarnya. Tidak semua orang sadar bahwa mereka

menggunakan gaya belajar ataupun strategi belajar yang berbeda-beda,

ketika strategi belajar sangat mungkin dipelajari ataupun dijadikan

desain suatu proses belajar, Gaya belajar diperoleh secara lebih

alamiah.
36

2. Jenis-jenis Gaya Belajar

a. Gaya belajar visual (visual learning)

Seseorang dengan gaya belajar visual akan belajar lebih baik

dengan melihat kata-kata dalam buku, seperti dalam buku bahan

ajar ataupun tulisan di papan tulis. Mengingat dan memahami

instruksi dapat dilakukan dengan lebih baik dengan cara membaca.

Pembelajar dengan gaya belajar ini tidak perlu ceramah seperti

halnya pembelajar auditori. Belajar sendiri dengan buku sudah

cukup bagi pembelajar tipe ini (Reid, 1984).

b. Gaya belajar auditori (auditory learning)

Seseorang dengan gaya belajar auditori akan belajar lebih baik

dengan mendengarkan kata-kata yang diucapkan, mendengarkan

ceramah. Mengingat dan memahami instruksi terutama dalam

materi yang baru dapat dilakukan dengan lebih baik dengan cara

membaca lantang serta menggerakkan bibir saat membaca.

Pembelajar dengan gaya belajar ini akan lebih diuntungkan dalam

pembelajaran yang didominasi mendengarkan, ceramah dan diskusi.

Belajar sendiri dengan membuat rekaman, berdiskusi ataupun

mengajari teman serta bercakap-cakap dengan guru merupakan hal

yang sangat membantu belajar bagi pembelajar tipe ini (Reid, 1984).

c. Gaya belajar kinestetik (kinesthetic learning)

Seseorang dengan gaya belajar kinestetik akan belajar lebih

baik dengan pengalaman yang melibatkan seluruh bagian tubuh.


37

Mengingat dan memahami instruksi dapat dilakukan dengan lebih

baik dengan cara berpartisipasi aktif secara fisik dalam suatu

kegiatan, seperti; kegiatan lapangan dan bermain peran . Pembelajar

dengan gaya belajar bisa mengkombinasikan aktifitas

mendengarkan rekaman yang disertai gerakan-gerakan tubuh untuk

mendukung pembelajar tipe ini (Reid, 1984).

d. Gaya belajar taktil (tactile learning)

Seseorang dengan gaya belajar taktil dibedakan dari gaya

belajar kinestetik, meskipun sama-sama terkait dengan penggunaan

anggota badan, pembelajar dengan gaya belajar taktile akan belajar

lebih baik dengan pengalaman yang melibatkan kerja tangan dan

sensori rabaan dari tangan. Mengingat dan memahami instruksi

dapat dilakukan dengan lebih baik dengan kegiatan belajar di

laboratorium dengan melibatkan sentuhan dan kerja tangan, seperti;

membuat model, puzzle dan lain-lain. Mencatat materi saat

mendengarkan merupakan salah satu kegiatan belajar yang

mendukung pembelajar tipe ini (Reid, 1984).

e. Gaya belajar kelompok (group learning)

Seseorang dengan gaya belajar kelompok akan belajar lebih

baik setidaknya saat belajar dengan satu orang lain. Begitu pula saat

mengerjakan tugas-tugas, pembelajar dengan gaya ini akan lebih

sukses mengerjakannya dalam kelompok. Pembelajar dengan gaya

belajar kelompok menggangap penting nilai kebersamaan serta


38

interaksi dengan orang lain. Mengingat dan memahami instruksi

dapat dilakukan dengan lebih baik dengan kegiatan belajar

kelompok, yang membuat si pembejar mendapatkan informasi dari

teman kelompoknya. Stimulan kelompok mendukung pembelajar

tipe ini, Reid (1984)

f. Gaya belajar individual (individual learning)

Seseorang dengan gaya belajar individual merupakan kebalikan

dari gaya belajar kelompok. Pembelajar tipe ini akan merasa

nyaman saat belajar dan mengerjakan tugas-tugas sendirian.

Mengingat dan memahami instruksi dapat dilakukan dengan lebih

baik saat belajar sendirian, Reid (1984)

Menurut Reid (1984), setiap pelajar memiliki gaya belajar yang

paling dominan (primary/majorlearning style) dan terkadang dibarengi

dengan gaya belajar yang tidak terlalu dominan secondary/minor

learning style) yang digunakan dalam menyerap informasi. Pembelajar

yang memiliki gaya belajar mayor dan minor biasa lebih berhasil

dalam belajar karena bisa lebih fleksibel dalam proses belajar.

Gaya belajar yang digunakan dalam penelitian ini adalah gaya

belajar sensori dari Reid (1987) yang terdiri dari enam macam gaya

belajar visual, auditori, kinestetik, taktil, individual dan kelompok.

Alasan kenapa klasifikasi gaya belajar yang digunakan adalah teori dari

Reid adalah karena klasifikasi ini awalnya didesain untuk melihat

kecenderungan gaya belajar seorang pembelajar bahasa Inggris sebagai


39

bahasa asing maupun bahasa kedua (Obralic & Akbarov, 2012).

Mengingat bahwa variabel tergantung dalam penelitian ini adalah

strategi belajar Bahasa Inggris, maka skala gaya belajar akan lebih

tepat menggunakan skala yang didesain secara khusus untuk melihat

gaya belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing maupun bahasa

kedua.

C. Motivasi Belajar Bahasa Inggris

1. Pengertian Motivasi Belajar Bahasa Inggris

Motivasi berasal dari kata bahasa latin “movere” yang artinya

“bergerak”, motivasi sering diartikan sebagai yang menggerakkan

seseorang untuk melakukan atau berbuat sesuatu. (Dörnyei &Ushioda,

2011).

Menurut Uno (2008) pada dasarnya motivasi adalah usaha yang

didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia

terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil

atau tujuan tertentu.

Amabile, Hill, Hennessey, & Tighe (1994) menjelaskan motivasi

intrinsik sebagai suatu kecenderungan yang ada secara alamiah dalam

diri seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan menunjukkan

kemampuannya karena pekerjaan itu diminati dan menimbulkan suatu

kepuasan tertentu.

Ryan dan Deci (2000) juga menyatakan bahwa motivasi intrinsik


40

mengacu pada ketertarikan atau kesenangan personal yang mendorong

individu melakukan sesuatu; sementara motivasi ekstrinsik mengacu

pada hasil atau manfaat yang akan diperoleh dengan melakukan perilaku

atau tindakan tertentu. Teori ini dikenal dengan teori determinasi diri,

self-determination theory (SDT). Dapat disimpulkan bahwa motivasi dan

belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar

merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara

potensional terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang

dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Soemanto (2006) menambahkan bahwa adanya motives atau

motif-motif menimbulkan need. Maksudnya ketika seseorang

mendapatkan motivasi tertentu maka orang itu berusaha memenuhi

kebutuhan tersebut. Oleh karena motives dipandang sebagai wujud

khusus dari proses motivasi dan need diartikan sebagai keadaan yang

menimbulkan motivasi.

Sedangkan pengertian motivasi menurut pakar psikologi adalah

suatu proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan

mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Jadi dalam bahasa

sederhananya motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan kita

melangkah, membuat kita melangkah, dan menentukan kita akan

melangkah (Samosir, 2011).

Kemudian Woldkowski dan Jaynes (2004) menjelaskan motivasi

belajar pada mulanya adalah suatu kecenderungan alamiah dalam diri


41

manusia, tapi kemudian terbentuk sedemikian rupa dan secara

berangsur-angsur, tidak hanya sekedar menjadi penyebab dan mediator

belajar tetapi juga sebagai hasil belajar itu sendiri.

Lebih lanjut dalam konteks pembelajaran bahasa, Motivasi

merefleksikan kekuatan (power) untuk mencapai tujuan (Oxford &

Shearin, 1994). Selanjutnya, kekuatan ini terefleksi di dalam orientasi

motivasi yang berakar dari keinginan untuk mencapai tujuan, sikap

positif terhadap pembelajaran bahasa dan perilaku usaha (effortful

behaviours). Sedangkan Gardner (2006) mengemukakan motivasi

belajar bahasa asing maupun bahasa kedua adalah suatu dorongan untuk

belajar bahasa baru yang dihubungkan dengan usaha, gairah belajar dan

sikap positif terhadap pembelajaran bahasa terkait. unsur motivasi yang

memiliki peran penting dalam proses pembelajaran bahasa, yaitu: 1)

tujuan, 2) keinginan mencapai tujuan, 3) sikap positif terhadap

pembelajaran bahasa, dan 4) perilaku maupun usaha dalam suatu

tindakan yang bertujuan. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan yang

berhubungan dengan pembelajaran bahasa, Gardner (1984).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi

belajar Bahasa Inggris merupakan suatu dorongan yang muncul didalam

diri manusia yang ditandai dengan suatu tingkah laku ataupun usaha

untuk mencapai penguasaan suatu bahasa tertentu, dalam hal ini Bahasa

Inggris sebagai bahasa kedua maupun bahasa asing.


42

2. Aspek-aspek Motivasi Belajar Bahasa

Teori motivasi secara umum menjelaskan, kenapa seseorang

melakukan apa yang mereka lakukan. Motivasi belajar bahasa

merepresentasikan situasi yang unik, bahkan didalam psikologi motivasi

sekalipun, (Dörnyei dan Ushida, 2011). Lebih lanjut Dörnyei dan Ushida

memaparkan bahwa bahasa mempunyai peran yang sangat unik secara

personal maupun sosial. Bahasa sebagai sebuah bagian integral dari

manusia mencakup hampir seluruh aktivitas mental seseorang. Bahasa

merupakan unsur terpenting dalam sistem komunikasi dan juga

merupakan alat pengorganisasian sosial. Dalam konteks bahasa asing

maupun bahasa kedua, bahasa mempunyai fungsi tambahan untuk

masuk dalam tatanan sosial masyarakat, budaya dan sumber-sumber

materi dari masyarakat penutur asli bahasa tersebut.

Penelitian motivasi belajar bahasa (bahasa asing maupun bahasa

kedua), tetap mendasarkan pada teori besar tentang motivasi, yaitu teori

determinasi diri, self-determination theory (SDT) dari Deci dan Ryan

(1985). Pengembangan teori determinasi diri dalam bidang penerimaan

bahasa kedua, second language acquisition (SLA). Salah satunya

dilakukan oleh Noel (dalam Ardasheva, 2012). Noel membagi SDT

kedalam tujuh aspek yaitu: Amotivasi, tiga tipe motivasi intrinsik dan

tiga tipe motivasi ekstrinsik. Lebih lanjut bagian-bagian motivasi

intrinsik dalam SDT menurut Noel dapat dijelaskan sebagai berikut; a)

motivasi intrinsik yang muncul dari stimulasi, misalnya saat seseorang


43

ingin belajar suatu bahasa karena keindahan estetika bahasa tersebut saat

ia mendengarnya. b) motivasi intrinsik yang muncul karena pencapaian.

Seperti saat seseorang mengalami perasaan positif ketika berhasil

memahami sesuatu hal yang sulit dalam konteks bahasa baru yang dia

pelajari. c) motivasi intrinsik yang muncul karena pengetahuan. Perilaku

yang muncul karena didorong oleh keinginan untuk memperoleh

pengetahuan baru tentang bahasa yang baru, maupun pengetahuan yang

baru melalui kemampuan berbahasa di bahasa yang baru. Sedangkan

pada Motivasi ekstrinsik, Noel membaginya sebagai berikut; a) Motivasi

Ekstrinsik karena tata nilai, seperti suatu kewajaran untuk bisa lebih dari

satu bahasa. b) Motivasi ekstrinsik yang muncul dari tekanan yang

terinternalisasi kedalam diri seseorang (Pengaturan Introjeksi), seperti

perasaan ingin menghindari rasa bersalah atau keinginan untuk membuat

orang lain terkesan. c) Pengaturan eksternal, perilaku yang terdorong

oleh faktor dari luar dirinya, seperti; hukuman, hadiah ataupun pujian.

Kemudian yang menjadi rangkaian terakhir dalam SDT adalah amotivasi,

yang merupakan kebalikan dari faktor intrinsik dan ekstrinsik dalam

orientasi motivasi. Amotivasi merujuk pada situasi dimana seseorang

melihat tidak ada hubungan antara tindakan mereka dengan konsekuensi

dari tindakannya tersebut. Konsekunsi tersebut dilihat sebagai sesuatu

yang tidak dapat mereka kendalikan, sehingga saat mereka sadar,

mereka segera ingin menghentikan tindakannya tersebut, Deci dan Ryan

(1985).
44

Tujuh aspek dari Noel yang diuraikan diatas tersebutlah yang

kemudian dirangkum dan disimplifikasi oleh Ardasheva, Tong and

Tretter (2012), dengan tetap mendasarkan pada SDT. Adapun aspek-

aspek tersebut adalah;

a. Motivasi intrinsik

Menurut Ryan dan Deci (2009), Motivasi intrinsik adalah

keinginan untuk mencapai sesuatu dengan tanpa adanya

kemungkinan pengaruh dari faktor-faktor luar seperti penghargaan

maupun hal-hal lainnya. Motivasi intinsik merupakan tipe motivasi

yang paling menentukan.

b. Pengaturan introjeksi

Pengaturan introjeksi adalah perilaku yang ditunjukkan

untuk menyenangkan orang lain atau dikarenakan keterpaksaan,

seperti saat seorang murid mengerjakan sebuah tugas karena

mereka merasa harus melakukannya dan mungkin merasa bersalah

apabila mereka tidak melakukannya (misalnya: mengerjakan

pekerjaan rumah). Pengaturan introjeksi ini masih terkait dengan

reward dan punishment, akan tetapi yang membedakannya dengan

pengatura eksternal adalah tingkat internalisasinya yang lebih tinggi

(Ryan dan Deci, 2009)

c. Pengaturan ekstrinsik.

Berbanding terbalik dengan motivasi intrinsik, pengaturan

ekstrinsik didapatkan dari pengaruh luar, seperti rewards dan


45

punishment, dibedakan dari pengaturan introjeksi karena ketiadaan

internalisasi dalam tipe ini (Ryan dan Deci,2009).

Penelitian ini akan menggunakan aspek-aspek motivasi belajar Bahasa

Inggris menurut Ardhasheva, Tong dan Treter (2012), yaitu; Motivasi

Intrinsik, Pengaturan Introrejeksi dan Pengaturan Ekstrinsik.

D. Perbedaan Penggunaan Strategi Belajar Bahasa Inggris

Ditinjau Dari Gaya Belajar

Menurut Reid (dalam Peacock, 2000) gaya belajar adalah suatu cara

yang alami, hampir seperti kebiasaan, dan cara yang paling disukai oleh

individu dalam menyerap, memproses dan mempertahankan informasi.

Reid (1984) mengklasifikasikan gaya belajar dalam beberapa jenis, yaitu;

gaya belajar visual, auditori, kinestetik, taktil, individu, dan kelompok.

Orang yang memiliki gaya belajar visual memiliki kebutuhan yang

tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum

mereka memahaminya. Mereka lebih mudah menangkap lewat materi

bergambar.

Gaya belajar auditori biasanya disebut juga sebagai gaya belajar

pendengar. Pada umumnya, seorang anak yang memiliki gaya belajar

auditori ini senang mendengarkan ceramah, diskusi, berita di radio, dan

juga kaset pembelajaran. Mereka senang belajar dengan cara mendengarkan

dan berinteraksi dengan orang lain.


46

Gaya belajar kinestetik biasanya disebut juga sebagai gaya belajar

gerak. Bagi pembelajar kinestetik, membaca dan mendengarkan merupakan

kegiatan yang membosankan. Instruksi-instruksi yang diberikan secara

tertulis maupun lisan seringkali mudah dilupakannya. Mereka memiliki

kecenderungan lebih memahami tugas-tugasnya bila mereka mencobanya

serta menggunakan seluruh anggota tubuhnya dalam belajar

Gaya belajar kelompok dimiliki orang yang merasa mudah

memahami sesuatu melalui stimulasi kelompok, berdiskusi, peer-teaching

menjadi suatu kegiatan yang membantunya dalam belajar. Sebaliknya orang

dengan gaya belajar individual lebih nyaman belajar sendirian, belajar dan

mengerjakan tugas-tugas sendirian. Mengingat dan memahami instruksi

dapat dilakukan dengan lebih baik saat belajar sendirian

Gaya belajar yang terakhir adalah gaya belajar taktil, orang dengan

gaya belajar ini akan belajar lebih baik dengan pengalaman yang

melibatkan kerja tangan dan sensori rabaan dari tangan. Mengingat dan

memahami instruksi dapat dilakukan dengan lebih baik dengan kegiatan

belajar di laboratorium dengan melibatkan sentuhan dan kerja tangan.

Dengan berbagai macam gaya belajar tersebut, seorang pembelajar

dapat menyesuaikan strategi belajar bahasa Inggris sesuai dengan gaya

belajar yang disukai. Semakin seseorang paham akan gaya belajar yang

sesuai dengan dirinya, maka seorang pembelajar akan semakin sering

mencoba berbagai strategi belajar bahasa yang terkait dengan gaya belajar

tersebut.
47

Lebih lanjut, perbedaan penggunaan strategi belajar ditinjau dari

gaya belajarnya dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh

Tabanlioglu (2003) yang menemukan bahwa gaya belajar visual berkaitan

dengan penggunaan strategi afektif, gaya belajar auditori berkaitan dengan

penggunaan strategi memori, kognitif, afektif dan sosial, sementara gaya

belajar individual berkaitan dengan penggunaan strategi kompensasi.

Gaya belajar dan strategi belajar bahasa adalah dua hal yang

berbeda, namun keduanya berkaitan erat satu sama lain. Keduanya

memiliki elemen afektif dan kognitif serta merupakan prediktor keahlian

berbahasa (language proficiency). Menurut Brown (dalam Jie & Xiaoqing,

2006), strategi belajar bahasa tidak beroperasi dengan sendirinya, namun

dihubungkan secara langsung oleh gaya belajar bawaan yang telah ada pada

diri setiap individu dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan

kepribadian. Dapat dikatakan bahwa gaya belajar berkontribusi terhadap

kecenderungan individu untuk memilih strategi belajar tertentu. Sejumlah

hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar berpengaruh secara

signifikan terhadap pemilihan strategi belajar (Carson & Longhini, dalam

Chang, 2005, (Ehrman & Oxford, 1990), (Ehrman & Oxford, 1995), (Jie &

Xiaoqing, 2006). Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa

terdapat kaitan antara gaya belajar visual, auditori, individual dan kelompok

terhadap penggunaan strategi belajar bahasa; misalnya, Tabanlioglu (2003)

menemukan bahwa gaya belajar visual berkaitan dengan penggunaan

strategi afektif, gaya belajar auditori berkaitan dengan penggunaan strategi


48

memori, kognitif, afektif dan sosial, sementara gaya belajar individual

berkaitan dengan penggunaan strategi kompensasi. Rossi-Le (dalam Hsu,

2007) menemukan bahwa individu yang belajar dengan gaya kelompok

biasanya menggunakan strategi sosial.

Penelitian Saragih dan Kumara (2009) membantah temuan

penelitian-penelitan sebelumnya mengenai adanya perbedaan yang

signifikan pada strategi belajar yang digunakan oleh individu-individu

dengan gaya belajar yang berbeda. Hasil penelitian yang dilakukan Saragih

dan Kumara menunjukkan penggunaan strategi belajar tidak berbeda

ditinjau dari gaya belajarnya (F = 0,067, p > 0,05). Hasil ini menunjukkan

bahwa subjek dengan gaya belajar visual, auditori, individual maupun

kelompok menggunakan seluruh strategi belajar bahasa yang lebih kurang

sama, baik dalam frekuensi penggunaan maupun jenisnya.

Penelitian ini akan menguji kembali perbedaan penggunaan strategi

belajar ditinjau dari gaya belajarnya menurut teori Reid, dengan objek

penelitian yang berbeda, hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui lebih

lanjut terkait perbedaan penggunaan strategi belajar bahasa ditinjau dari

gaya belajarnya.
49

E. Hubungan Antara Motivasi Belajar Bahasa Inggris dengan

Strategi Belajar Bahasa

Ryan dan Deci (2009) juga menyatakan bahwa motivasi intrinsik

mengacu pada ketertarikan atau kesenangan personal yang mendorong

individu melakukan sesuatu; sementara motivasi ekstrinsik mengacu pada

hasil atau manfaat yang akan diperoleh dengan melakukan perilaku atau

tindakan tertentu. Teori ini dikenal dengan teori determinasi diri, self-

determination theory (SDT).

Woldkowski dan Jaynes (2004) menjelaskan motivasi belajar pada

mulanya adalah suatu kecenderungan alamiah dalam diri manusia, tapi

kemudian terbentuk sedemikian rupa dan secara berangsur-angsur, tidak

hanya sekedar menjadi penyebab dan mediator belajar tetapi juga sebagai

hasil belajar itu sendiri. Kemudian Soemanto (2006) menambahkan bahwa

adanya motives atau motif-motif menimbulkan need. Maksudnya ketika

seseorang mendapatkan motivasi tertentu maka orang itu berusaha

memenuhi kebutuhan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut diketahui bahwa motivasi belajar

merupakan sesuatu yang alamiah muncul dari dalam diri seseorang. Ketika

motivasi belajar tersebut muncul, orang tersebut akan terus berusaha

mewujudkan keinginannya dengan segala upaya dan cara. Pada saat

seorang pembelajar memiliki motivasi belajar yang kuat, baik itu motivasi

belajar dalam bentuk intrinsik maupun ekstrinsik, maka pembelajar tersebut

akan terus berusaha memaksimalkan proses belajarnya, termasuk


50

didalamnya penggunaan strategi belajar. Oleh karena itu seseorang yang

memiliki motivasi belajar yang tinggi secara tidak langsung juga akan

memiliki strategi belajar yang beraneka. Hal ini tidak lain adalah untuk

memaksimalkan hasil belajarnya. Woldkowski dan Jaynes (2004)

menjelaskan motivasi belajar adalah suatu kecenderungan alamiah dalam

diri manusia, yang menjadi penyebab dan mediator belajar, dan juga

sebagai hasil belajar itu sendiri.

Saragih dan Kumara (2009) dalam penelitiannya menemukan bahwa

strategi belajar bahasa yang digunakan oleh pelajar dengan tingkat motivasi

intrinsik tinggi, sedang dan rendah berbeda secara signifikan. Pelajar

dengan motivasi intrinsik tinggi lebih sering menggunakan seluruh strategi

belajar bahasa, dibandingkan pembelajar dengan motivasi intrinsik sedang

dan rendah. Motivasi sangat erat kaitannya dengan dorongan atas sesuatu.

Motivasi belajar melingkupi: 1) adanya hasrat dan keinginan berhasil, 2)

adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, 3) adanya harapan dan cita–

cita masa depan, 4) adanya penghargaan dalam belajar, 5) adanya kegiatan

yang menarik dalam belajar, 6) adanya lingkungan yang kondusif (Uno,

2007). Lebih lanjut, Chang (2005) juga menjelaskan bahwa variabel

motivasi memiliki pengaruh yang besar terhadap penggunaan strategi

belajar bahasa. Pelajar yang memiliki motivasi yang tinggi lebih banyak

menggunakan strategi belajar dibandingkan pelajar dengan motivasi yang

rendah.
51

Lebih lanjut dalam konteks motivasi belajar bahasa, Gardner (2006)

mengemukakan motivasi belajar bahasa asing maupun bahasa kedua adalah

suatu dorongan untuk belajar bahasa baru yang dihubungkan dengan usaha,

gairah belajar dan sikap positif terhadap pembelajaran bahasa terkait.

Peranan motivasi belajar adalah dapat mengarahkan pembelajar melakukan

usaha-usaha secara lebih giat untuk belajar bahasa baru (Harré dan Gilelett,

1994), kemudian motivasi yang tinggi mendorong pembelajar mencari dan

menentukan strategi belajar yang sesuai dengan kondisi dirinya dan

kemampuan kebahasaan yang menjadi sasaran belajarnya, Gillett (1994),

menjelaskan lebih lanjut bahwa motivasi mendorong seorang pembelajar

berusaha mencari dan menentukan strategi metakognitif yang

memungkinkannya belajar dengan mudah.

Dari poin-poin yang diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan

bahwa motivasi belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua maupun

bahasa asing akan mendorong seseorang untuk memilih strategi-strategi

belajar yang sesuai dengan dirinya sehingga bisa dikatakan tinggi

rendahnya motivasi belajar Bahasa Inggris akan mempengaruhi

kemampuan seseorang dalam menggunakan strategi belajar Bahasa Inggris,

sehingga siswa dengan motivasi belajar Bahasa Inggris tinggi seharusnya

lebih banyak menggunakan strategi belajar Bahasa Inggris daripada siswa

dengan motivasi Bahasa Inggris belajar sedang maupun rendah.


52

F. Landasan Teori

Oxford (1990) menjelaskan bahwa strategi belajar merupakan

tindakan tertentu yang dilakukan oleh pembelajar untuk menjadikan

pembelajaran lebih mudah, cepat, menyenangkan, mandiri, efektif, dan

lebih dapat ditransfer ke situasi yang baru. Terdapat beberapa jenis strategi

belajar bahasa Inggris, diantaranya: 1) Memori, 2) Kognitif, 3)

Kompensasi, 4) Meta-kognitif, 5) Afektif, dan 6) Sosial. Penggunaan

strategi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, dalam penelitian ini akan

mengkaji dua faktor yaitu gaya belajar dan motivasi belajar.

Strategi belajar Bahasa Inggris dalam penelitian ini berfungsi

sebagai variabel tergantung, sedangkan gaya belajar dan motivasi belajar

Bahasa Inggris dalam penelitian ini berfungsi sebagai variabel bebas.

Menurut Reid (dalam Peacock, 2000) gaya belajar adalah suatu cara

yang alami, hampir seperti kebiasaan, dan cara yang paling disukai oleh

individu dalam menyerap, memproses dan mempertahankan informasi.

Gaya belajar yang satu tidak dapat dikatakan lebih baik dari gaya belajar

yang lainnya, karena setiap gaya belajar memiliki kelebihan dan

kekurangan masing-masing (Felder & Brent, 2005). Gaya belajar sensori

dari Reid terdiri dari enam macam gaya belajar visual, auditori, kinestetik,

taktil, individual dan kelompok.

Dari beberapa teori dapat dilihat adanya perbedaan penggunaan

strategi belajar ditinjau dari gaya belajarnya. Gaya belajar visual berkaitan

dengan penggunaan strategi afektif, gaya belajar auditori berkaitan dengan


53

penggunaan strategi memori, kognitif, afektif dan sosial, sementara gaya

gelajar individual berkaitan dengan penggunaan strategi kompensasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Rossi-Le (dalam Hsu, 2007) yang juga

membahas hubungan gaya belajar dengan strategi belajar, menemukan

bahwa individu yang belajar dengan gaya kelompok biasanya

menggunakan strategi sosial.

Hubungan antara motivasi belajar Bahasa dengan penggunaan

strategi belajar salah satunya dapat ditemukan dalam penelitian Chang

(2005) yang menjelaskan bahwa variabel motivasi memiliki pengaruh yang

besar terhadap penggunaan strategi belajar bahasa. Pelajar yang memiliki

motivasi yang tinggi lebih banyak menggunakan strategi belajar bahasa

dibandingkan pelajar dengan motivasi yang rendah.

Kerangka pikir penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan

jumlah penggunaaan strategi belajar Bahasa Inggris pada kelompok-

kelompok siswa dengan gaya belajar tertentu pada tiap kelompok dan

hubungan penggunaaan strategi belajar Bahasa Inggris dengan tingkat

motivasi belajar Bahasa Inggrisnya. Berikut adalah gambar kerangka pikir

dalam penelitian ini.


54

Gaya Belajar (X1)


1. Gaya Belajar Visual
2. Gaya Belajar Audiotori
3. Gaya Belajar Kinestetik
4. Gaya Belajar taktil Strategi Belajar (Y)
1. Strategi Memori
5. Gaya Belajar Kelompok
2. Strategi Kognitif
6. Gaya Belajar Individu
3. Strategi Kompensasi
4. Strategi
Metakognitif
Motivasi Belajar (X2)
5. Strategi Afektif
1. Motivasi Intrinsik
6. Strategi Sosial
2. Pengaturan Introjeksi
3. Pengatura Ekstrinsik

Keterangan:
= Arah pengaruh variabel menunjukkan perbedaan atau hubungan

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

G. Hipotesis

Berdasarkan penjabaran telaah pustaka dan landasan teori

sebelumnya, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan penggunaan strategi belajar Bahasa

Inggris, pada siswa-siswi SMP Budi Utama ditinjau dari

kelompok gaya belajarnya.

2. Terdapat hubungan positif antara tingkat motivasi belajar

Bahasa Inggris yang [Link] penggunaan strategi

belajar Bahasa Inggris pada siswa-siswi SMP Budi Utama.

Semakin tinggi motivasi belajar Bahasa Inggris seseorang,

semakin tinggi pula penggunaan strategi belajar Bahasa

Inggrisnya, semakin rendah motivasi belajar Bahasa Inggris

seseorang, semakin rendah pula penggunaan strategi belajar

Bahasa Inggrisnya.

Anda mungkin juga menyukai