BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Strategi Belajar Bahasa Inggris
1. Pengertian Strategi Belajar Bahasa Inggris
Kata strategi berasal dari Bahasa Latin strategia, yang diartikan
sebagai seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Strategi
pembelajaran menurut Frelbreg dan Driscoll (dalam Syahputra, 2014)
dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi
pelajaran pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam
konteks yang berbeda pula.
Gerlach dan Ely (dalam Syahputra, 2014) menyatakan bahwa
strategi belajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk
menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran
tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat
memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Dick dan Carey (dalam
Syahputra, 2014) berpendapat bahwa strategi pembelajaran tidak hanya
terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya
materi atau paket pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri dari semua
komponen materi pelajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk
membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Adapun Oxford (1990) secara rinci menjelaskan strategi belajar
sebagai tindakan tertentu yang dilakukan oleh pembelajar untuk
17
18
menjadikan pembelajaran lebih mudah, cepat, menyenangkan, mandiri,
efektif, dan dapat diarahkan oleh diri sendiri.
Berdasarkan uraian tentang strategi belajar bahasa tersebut, dapat
disimpulkan bahwa strategi belajar Bahasa Inggris merupakan suatu cara
yang dipilih seorang pembelajar Bahasa Inggris untuk membantu proses
belajar bahasanya, sehingga proses belajar Bahasa Inggris menjadi lebih
mudah, efektif, menyenangkan, serta diarahkan oleh diri sendiri (self-
directed). Penggunaan strategi belajar Bahasa Inggris dapat membantu
penyimpanan, penyerapan, dan penggunaan informasi yang berkaitan
dengan Bahasa Inggris yang sedang dipelajarinya.
2. Jenis-jenis Strategi Belajar Bahasa
Naiman (1978) mengemukakan 10 strategi belajar yang mengacu
pada teori stern (1975), yaitu;
a. Strategi perencanaan :strategi belajar positif
b. Strategi aktif: pendekatan aktif dalam tugas belajar
c. Strategi empatik
d. Strategi formal: bagaimana mempelajari bahasa
e. Strategi eksperimantal
f. Strategi semantik
g. Strategi praktis: keinginan untuk mempraktekan
h. Strategi komunikasi: keinginan untuk menggunakan bahasa dalam
kehidupan yang nyata.
19
i. Strategi monitor: monitor sendiri dan mengkritik penggunaan
bahasa
j. Strategi internalisasi : pengembangan bahasa kedua
Disamping sepuluh jenis tersebut, beberapa peneliti lain
mengelompokkan strategi belajar menjadi empat jenis (O’Malley dan
Chamot, 1990). Empat jenis strategi belajar tersebut diantaranya:
a. Kognitif
strategi kognitif berhubungan dengan daya pikir pembelajar dalam
mengolah bahan belajar mengajar.
b. Meta-kognitif
Strategi meta-kognitif berhubungan dengan taktik atau cara
pembelajar untuk menghadapi dan mengelola bahan belajar
mengajar.
c. Afektif
Strategi efektif berhubungan dengan sikap dan perasaan pembelajar
dalam menghadapi proses belajar pembelajar.
d. Sosial
Strategi sosial berhubungan dengan kerjasama pembelajar dengan
sejawatnya dalam mencapai tujuan belajar.
Oxford (1990) secara lebih spesifik mengklasifikasikan strategi
belajar dalam konteks belajar bahasa atau yang dikenal sebagai strategi
20
belajar bahasa (language learning strategies) menjadi dua kategori
utama, yaitu strategi langsung (direct strategy) dan strategi tidak
langsung (indirect strategy). Oxford menjelaskan bahwa strategi
langsung melibatkan penggunaan bahasa target atau bahasa yang
dipelajari secara langsung untuk memfasilitasi proses belajar. Strategi
langsung terdiri atas strategi memori, strategi kognitif, dan strategi
kompensasi. Strategi tidak langsung memberikan dukungan tidak
langsung dalam pembelajaran bahasa yang dilakukan dengan cara-cara
seperti; memfokuskan perhatian, merencanakan, mengevaluasi,
mengendalikan kecemasan, mencari kesempatan, meningkatkan
kerjasama dan empati. Strategi tidak langsung terdiri atas strategi
metakognitif, strategi afektif, dan strategi sosial.
Berikut adalah gambaran mengenai pembagian strategi belajar
yang dikemukakan oleh Oxford (1990):
a. Memori
Strategi belajar memori digunakan oleh pembelajar dengan
memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman belajar sebelumnya.
Strategi belajar ini banyak melibatkan ingatan dan proses
pembelajaran yang menggunakan daya ingat. Daya ingat tersebut
terdiri dari empat indikator yaitu:
1) Creating Mental Linkages mencakup pengelompokkan
(Grouping), menghubungkan (Associating) dan penempatan kata
baru ke dalam sebuah konten.
21
2) Penggunaan gambar dan suara (applying images and sounds)
mencakup penggunaan perumpamaan (Using Imagery), pemetaan
semantic (semantic mapping), Menggunakan kata kunci (Using
Key Word) dan melambangkan suara dalam ingatan (representing
sound inmemory)
3) Pengkajian ulang dengan baik (Reviewing Well) dengan
menggunakan pengkajian yang terstruktur
4) Mempraktekan (Employing) dengan menggunakan respon fisik
atau perasaan (Sense)
Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang
terdapat dalam strategi belajar Memori:
Gambar 2.1. Diagram strategi-strategi Memori (Oxford, 1990, hal. 39)
b. Kognitif
Strategi kognitif adalah segala perilaku pembelajar dalam proses
belajar mengajar yang behubungan dengan penggunaan daya pikir
22
pembelajar. Strategi kognitif terdiri dari empat aspek penyusunnya
yaitu:
1) Practicing yang terdiri dari pengulangan (Repeating), latihan
formal dengan suara (formally practicing with sound), mengenali
dan menggunakan formula, penggabungan (recombining) dan
berlatih secara natural (Practicing Naturalistically).
2) Menerima dan meneruskan pesan (receiving and sending
message) yang tediri dari menemukan ide-ide lebih cepat (getting
the idea quickly), menggunakan media dalam penerimaan pesan
(using resources for receiving an message).
3) Menganalisa dan memahami (analizing and reasoning) yang
terdiri dari penalaran deduktif (reasoning deducatively),
menganalisa pernyataan (analizing expressions), menganalisa
dengan jelas (analizing contrastively), penerjemahan (translating)
dan mengubah (transferring).
4) Membuat struktur input dan output yang terdiri dari membuat
cacatan (taking notes), membuat ringkasan (summarizing) dan
menandai (highlighting).
Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang
terdapat dalam strategi belajar kognitif:
23
Gambar 1.2 Diagram strategi-strategi Kognitif (Oxford, 1990, hal. 44)
c. Kompensasi
Strategi belajar kompensasi digunakan oleh pembelajar yang telah
memiliki keterampilan- keterampilan yang cukup tinggi. Strategi
belajar ini biasanya dimanfaatkan untuk menanggulangi beberapa
keterbatasan dalam berbahasa. Strategi kompensasi ini terdiri dari
aspek-aspek dari berikut:
1) Kemampuan dalam menerka (Guessing intelligently) dengan
menggunakan petunjuk linguistik (linguistic clues) dan petunjuk
lainnya (other clues).
2) Mengatasi keterbatasan dalam berbicara dan menulis
(Overcoming limitation in speaking and writing) yang terdiri dari
24
beralih ke bahasa yang lebih dikuasai, mendapatkan bantuan,
menggunakan ekspresi dan bahasa tubuh, menghindari praktek
komunikasi, memilih topik, penyesuaian dan pendekatan,
menemukan kata baru dan menggunakan pemakaian kata-kata
atau sinonim/persamaan kata.
Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang
terdapat dalam strategi belajar kompensasi:
Gambar 2.3. Diagram strategi-strategi Kompensasi (Oxford, 1990, hal. 48)
d. Meta-kognitif
Strategi meta-kognitif adalah segala perilaku pembelajar yang
berhubungan dengan teknik atau cara pembelajar untuk menghadapi
25
dan mengelola bahan belajar mengajar. Dalam penelitian ini, strategi
meta-kognitif diwujudkan berbagai macam kegiatan yang dapat
dimasukan ke dalam tiga kategori berikut:
1) Pemfokusan belajar dengan penundaan kesimpulan dan
hubungannya, pemusatan perhatian dan menciptakan
pembicaraan agar fokus dalam belajar.
2) Menyusun kegiatan belajar mengajar dengan menentukan bahasa,
pengorganisasian, menyusun sasaran dan tujuan, identifikasi
tujuan, perencanaan peran bahasa dan mencari kesempatan untuk
praktek.
3) Mengevaluasi proses belajar mengajar dengan pengawasan dan
evaluasi diri sendiri
Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang
terdapat dalam strategi belajar meta-kognitif:
Gambar 2.4. Diagram strategi-strategi Meta-Kognitif (Oxford1990, hal.
137)
26
e. Afektif
Strategi afektif adalah segala perilaku pembelajar yang berhubungan
dengan sikap dan perasaan pembelajar dalam menghadapi proses
belajar.
1) Menurunkan kecemasan yang terdiri dari relaksasi progresif,
menggunakan musik dan tertawa
2) Memotivasi diri dengan membuat pernyataan positif, mengambil
resiko dengan bijak dan penghargaan terhadap diri sendiri
3) Menganalisa kondisi emosional dilakukan dengan
memperhatikan apa yang tubuh kita rasakan, menggunakan
checklist, menulis pembelajaran bahasa dan mendiskusikan
perasaan dengan orang lain
Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang
terdapat dalam strategi belajar afektif:
Gambar 2.5. Diagram strategi-strategi Afektif (Oxford, 1990, hal. 141)
27
e. Sosial
Strategi sosial adalah segala perilaku pembelajar yang berhubungan
dengan kerja sama pembelajar dengan sejawatnya dalam mencapai
tujuan belajar. Strategi ini diwujudkan dalam tiga kegiatan, yaitu:
a. Bertanya sebagai bentuk klarifikasi dan perbaikan
b. Bekerja sama dengan orang lain atau yang ahli di bidangnya
c. Berempati dengan sesama sebagai bentuk pengembangan budaya
dan menjadi peka terhadap sesama.
Berikut gambar yang menunjukkan aktifitas belajar yang
terdapat dalam strategi belajar sosial:
Gambar 2.6. Diagram strategi-strategi Sosial (Oxford, 1990, hal. 145)
Enam klasifikasi strategi belajar bahasa dari Oxford terbagi kedalam
dua jenis, yaitu strategi langsung dan tak langsung, namun keenam
klasifikasi dalam dua strategi tersebut, tetap saling berkaitan dan
28
mendukung satu sama lain. Oxford (1990) mengibaratkan keterkaitan
strategi langsung dan tidak langsung ibarat seseorang aktor yang sedang
melakukan pertunjukan di panggung dan sutradara yang bekerja di
belakang panggung. Keduanya saling bekerjasama dan tidak dapat
dipisahkan.
Dalam penelitian ini teori strategi belajar yang akan digunakan adalah
teori dari Oxford (1990) yang terdapat pada bukunya yang berjudul
Language learning strategy: What every teacher should know. Teorinya
secara spesifik membahas strategi belajar dalam konteks belajar bahasa.
Taksonomi strategi belajar bahasa dari Oxford (1990) telah diuji dengan
confirmatory factor analysis (CSA) hasilnya mengindikasikan bahwa 6
strategi belajar bahasa versi Oxford, paling konsisten digunakan oleh
responden dari 517 universitas, (Hsiao dan Oxford, 2002).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Strategi Belajar
Strategi belajar bahasa telah disebutkan sebagai elemen penting
dalam keberhasilan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua
maupun bahasa asing. Strategi belajar sendiri sangat dipengaruhi oleh
banyak faktor-faktor, seperti;
a. Jenis Kelamin
Politzer (1983) menemukan bahwa wanita menggunakan
strategi belajar bahasa lebih signifikan dibandingkan laki-laki, hal
ini terkait dengan kekuatan interaksi sosial wanita tersebut. Temuan
29
ini juga hampir sama dengan temuan Oxford (1989).
b. Kesukuan
Hirschamn (1995) menyatakan bahawa bangsa China
memiliki kekuatan dagang dan puncak-puncak ekonomi di
Indonesia dan di Asia Tenggara. Hal itu membawa konsekuensi
kepada siswa keturunan China untuk belajar lebih sering dalam
bahasa Inggris. Politzer dan McGoarty (1985) menyimpulkan bahwa
pelajar-pelajar Asia memiliki kompetensi yang tinggi dalam
linguistik dan komunikasi.
c. Status Ekonomi
Mukattash (1980) dan Abdan (1991) mengatakan bahwa orang
tua kelas menengah di Saudi Arabia memasukkan anaknya ke
sekolah swasta dengan uang sekolah yang tinggi untuk memperoleh
fasilitas belajar termasuk belajar bahasa Inggris yang memadai.
Yang (1983) melaporkan bahwa orang kaya sanggup mengirim
anaknya keluar negeri untuk belajar bahasa Inggris sebagai bahasa
asing.
d. Akademik
Oxford (1995) mengatakan bawa ada dua jenis tujuan belajar
bahasa: bahasa akademik dan bahasa sosial, dimana bahasa
akademik lebih sulit dibandingkan dengan bahasa sosial. Cummins
(1982) mengatakan untuk sukses dalam bahasa akademik akan
memakan waktu yang sangat lama dibandingkan dengan pencapaian
30
kesuksesan untuk bahasa sosial.
e. Tipe Sekolah
Gardner dan Macintyre (1993) mendukung teori tentang
strategi belajar bahasa yang dikaitkan dengan variabel tipe sekolah
dimana tipe sekolah tersebut berinteraksi dengan cara-cara untuk
mempengaruhi kemampuan bahasa secara umum dalam bahasa
asing maupun bahasa kedua.
f. Gaya Belajar
Strategi belajar bahasa tidak beroperasi dengan sendirinya,
namun dihubungkan secara langsung oleh gaya belajar bawaan yang
telah ada pada diri setiap individu dan faktor-faktor lain yang
berkaitan dengan kepribadian. Dapat dikatakan bahwa gaya belajar
berkontribusi terhadap kecenderungan individu untuk memilih
strategi belajar tertentu. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan
bahwa gaya belajar berpengaruh secara signifikan terhadap
pemilihan strategi belajar (Carson & Longhini, dalam Chang, 2005;
Ehrman & Oxford, 1990; Ehrman & Oxford, 1995; Jie & Xiaoqing,
2006).
g. Motivasi Belajar Bahasa
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong
terjadinya proses belajar. (Dimyati & Mudjiono, 2006). Kekuatan
belajar disini berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian
tujuan. Motivasi belajar siswa datang dari diri siswa dan orang lain
31
(misal dari teman, guru/pendidik dan orang tua/keluarga). Dalam
diri siswa terkadang tampak segan untuk belajar karena tidak
mengetahui kegunaan mata pelajaran dan memiliki masalah dalam
pergaulan dengan teman sekolahnya ataupun bahkan dengan
keluarganya. Terdapat juga siswa yang rajin dan bersemangat
belajar tinggi walaupun keadaan di sekitar mengganggu konsentrasi
belajar siswa (Fatma, 2011). Oleh karena itu, dengan adanya
motivasi belajar pada diri seorang siswa maka segala kendala dan
hambatan yang dihadapi dalam belajar tidak akan mampu
menghambat proses belajar siswa yang bersangkutan. Pada tahap ini
siswa tersebut akan terdorong untuk mencari cara dalam mengatasi
kendala dan hambatannya dalam proses belajar dengan berbagai
tindakan, salah satunya adalah dengan menggunakan strategi belajar.
Di awal-awal perkembangannya, fokus penelitian mengenai
strategi belajar bahasa bertujuan untuk mengidentifikasi atau
mengklasifikasikan jenis strategi belajar bahasa (Griffiths, 2003).
Menurut Green dan Oxford (1995), sejumlah penelitian terdahulu
lebih banyak menyelidiki hubungan antara penggunaan strategi
belajar bahasa dengan prestasi atau tingkat penguasaan bahasa
Inggris, kemudian penelitian-penelitian selanjutnya lebih
berkonsentrasi pada faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan
strategi belajar bahasa, seperti motivasi, baik intrinsik maupun
ekstrinsik (Chang, 2005); (Liao dalam Yu, 2005), target belajar
32
bahasa, orientasi karir, usia, jenis kelamin dan kecemasan. (Ehrman
& Oxford, 1990); (Randic & Bobanovic, 2006). Penelitian lain
mengenai penggunaan strategi belajar juga meninjaunya dari gaya
belajar perseptual, yang terdiri atas gaya belajar visual, auditori,
kinestetik, taktil individu dan kelompok, sebagaimana dikemukakan
oleh Reid (dalam Bull & Ma, 2001); Carson & Longhini (2002); Lo
(2006).
Penelitian ini melanjutkan penelitian terkait faktor faktor yang
mempengaruhi penggunaan strategi belajar Bahasa Inggris dan pada
variabel gaya belajar dan motivasi belajar Bahasa Inggris.
Terkait dengan variabel gaya belajar. Setiap individu
mempelajari bahasa dengan cara yang berbeda-beda, ada yang lebih
mudah menyerap informasi melalui penglihatan (visual), ada yang
melalui pendengaran (auditory) (Reid dalam Zhenhui, 2001).
Banyak penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa gaya
belajar yang dimiliki individu memiliki pengaruh signifikan
terhadap penggunaan strategi belajar bahasa (Carson & Longhini,
2002), (Ehrman & Oxford, 1990), (Ehrman & Oxford, 1995), (Lo,
2006), (Brown dalam Jie & Xiaoqing 2006) menyatakan bahwa
strategi belajar bahasa tidak beroperasi dengan sendirinya, Strategi
belajar bahasa dipengaruhi oleh gaya belajar dan berbagai
karakteristik individual lainnya. Meskipun demikian ada juga
penelitian yang membantah adanya perbedaan signifikan dalam
33
penggunaan strategi belajar ditinjau dari gaya belajarnya, Saragih
dan Kumara (2000) dari 62 respondennya yang digolongkan dalam
4 gaya belajar melalui Perceptual Learning Styles Preference
Questionnare (PLSPQ) menemukan bahwa tidak ada perbedaan
signifikan penggunaan strategi belajar bahasa ditinjau dari gaya
belajar. Perbedaan temuan dalam beberapa penelitian sebelumnya,
menunjukkan bahwa perlu dilakukan penelitian-penelitian lanjutan
untuk mengkonfirmasi temuan-temuan sebelumnya, sehingga faktor
gaya belajar ini dipilih sebagai faktor yang diteliti.
Motivasi belajar bahasa dipilih karena dari keseluruhan
variabel yang diteliti, motivasi belajar memiliki pengaruh yang
terbesar terhadap penggunaan strategi belajar bahasa, (Oxford &
Nyikos dalam Tabanlioglu, 2003). Pelajar yang memiliki motivasi
belajar yang tinggi lebih sering menggunakan strategi belajar
dibandingkan pelajar dengan motivasi yang rendah.
B. Gaya Belajar
1. Pengertian Gaya Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), gaya memiliki arti
tingkah laku, gerak gerik dan sikap, sedangkan belajar diartikan
sebagai; berusaha memeroleh kepandaian atau menuntut ilmu. Skinner
(1958) menjelaskan pengertian belajar yakni suatu proses adaptasi atau
penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
34
Sedangkan menurut Slameto (2005), belajar adalah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya.
Setiap manusia di dunia ini memiliki gaya tersendiri dalam
berbusana, berbicara dan juga gaya hidup yang berbeda antara satu
sama lain. Begitu pula dengan gaya belajar, keanekaragaman cara
siswa dalam belajar disebut dengan gaya belajar, ada pula yang
menyebutnya dengan modalitas belajar. Setiap siswa memiliki gaya
belajarnya sendiri, hal itu diumpamakan seperti tanda tangan yang khas
bagi dirinya sendiri (Ginnis, 2008).
Menurut Porter dan Hernacki (2013) gaya belajar seseorang
adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian
mengatur serta mengolah informasi Sedangkan menurut Nasution
(2008) yang dinamakan gaya belajar adalah cara yang konsisten yang
dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau
informasi, cara mengingat, berfikir dan memecahkan soal. Adapun
menurut Gunawan (2003) pengertian gaya belajar adalah cara yang
lebih kita sukai dalam melakukan kegiatan berfikir, memproses dan
mengerti suatu informasi.
Mulyono (2012) menjelaskan setiap individu mempunyai gaya
belajar yang berbeda. Tidak semua orang mengikuti cara yang sama.
Masing-masing menunjukkan perbedaan, namun para peneliti dapat
35
menggolongkannya. Gaya belajar berkaitan erat dengan pribadi
seseorang, yang dipengaruhi oleh pembawaan, pengalaman,
pendidikan, dan riwayat perkembangannya.
Menurut Reid (dalam Peacock, 2000) gaya belajar adalah
suatu cara yang alami, hampir seperti kebiasaan, dan cara yang paling
disukai oleh individu dalam menyerap, memproses dan
mempertahankan informasi. Gaya belajar yang satu tidak dapat
dikatakan lebih baik dari gaya belajar yang lainnya, karena setiap gaya
belajar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing (Felder dan
Brent, 2005).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah
suatu modalitas yang dimiliki setiap pembelajar, yang bisa digunakan
dalam melakukan kegiatan berfikir, memproses dan mengerti suatu
informasi. Gaya belajar sangat terkait secara kognitif, afektif pada
karakter dan perilaku seseorang. Gaya belajar berbeda dengan strategi
belajar, strategi belajar terkait dengan bagaimana menggunakan suatu
cara atau metode yang sesuai dengan tugas, materi, tujuan maupun
target belajarnya. Tidak semua orang sadar bahwa mereka
menggunakan gaya belajar ataupun strategi belajar yang berbeda-beda,
ketika strategi belajar sangat mungkin dipelajari ataupun dijadikan
desain suatu proses belajar, Gaya belajar diperoleh secara lebih
alamiah.
36
2. Jenis-jenis Gaya Belajar
a. Gaya belajar visual (visual learning)
Seseorang dengan gaya belajar visual akan belajar lebih baik
dengan melihat kata-kata dalam buku, seperti dalam buku bahan
ajar ataupun tulisan di papan tulis. Mengingat dan memahami
instruksi dapat dilakukan dengan lebih baik dengan cara membaca.
Pembelajar dengan gaya belajar ini tidak perlu ceramah seperti
halnya pembelajar auditori. Belajar sendiri dengan buku sudah
cukup bagi pembelajar tipe ini (Reid, 1984).
b. Gaya belajar auditori (auditory learning)
Seseorang dengan gaya belajar auditori akan belajar lebih baik
dengan mendengarkan kata-kata yang diucapkan, mendengarkan
ceramah. Mengingat dan memahami instruksi terutama dalam
materi yang baru dapat dilakukan dengan lebih baik dengan cara
membaca lantang serta menggerakkan bibir saat membaca.
Pembelajar dengan gaya belajar ini akan lebih diuntungkan dalam
pembelajaran yang didominasi mendengarkan, ceramah dan diskusi.
Belajar sendiri dengan membuat rekaman, berdiskusi ataupun
mengajari teman serta bercakap-cakap dengan guru merupakan hal
yang sangat membantu belajar bagi pembelajar tipe ini (Reid, 1984).
c. Gaya belajar kinestetik (kinesthetic learning)
Seseorang dengan gaya belajar kinestetik akan belajar lebih
baik dengan pengalaman yang melibatkan seluruh bagian tubuh.
37
Mengingat dan memahami instruksi dapat dilakukan dengan lebih
baik dengan cara berpartisipasi aktif secara fisik dalam suatu
kegiatan, seperti; kegiatan lapangan dan bermain peran . Pembelajar
dengan gaya belajar bisa mengkombinasikan aktifitas
mendengarkan rekaman yang disertai gerakan-gerakan tubuh untuk
mendukung pembelajar tipe ini (Reid, 1984).
d. Gaya belajar taktil (tactile learning)
Seseorang dengan gaya belajar taktil dibedakan dari gaya
belajar kinestetik, meskipun sama-sama terkait dengan penggunaan
anggota badan, pembelajar dengan gaya belajar taktile akan belajar
lebih baik dengan pengalaman yang melibatkan kerja tangan dan
sensori rabaan dari tangan. Mengingat dan memahami instruksi
dapat dilakukan dengan lebih baik dengan kegiatan belajar di
laboratorium dengan melibatkan sentuhan dan kerja tangan, seperti;
membuat model, puzzle dan lain-lain. Mencatat materi saat
mendengarkan merupakan salah satu kegiatan belajar yang
mendukung pembelajar tipe ini (Reid, 1984).
e. Gaya belajar kelompok (group learning)
Seseorang dengan gaya belajar kelompok akan belajar lebih
baik setidaknya saat belajar dengan satu orang lain. Begitu pula saat
mengerjakan tugas-tugas, pembelajar dengan gaya ini akan lebih
sukses mengerjakannya dalam kelompok. Pembelajar dengan gaya
belajar kelompok menggangap penting nilai kebersamaan serta
38
interaksi dengan orang lain. Mengingat dan memahami instruksi
dapat dilakukan dengan lebih baik dengan kegiatan belajar
kelompok, yang membuat si pembejar mendapatkan informasi dari
teman kelompoknya. Stimulan kelompok mendukung pembelajar
tipe ini, Reid (1984)
f. Gaya belajar individual (individual learning)
Seseorang dengan gaya belajar individual merupakan kebalikan
dari gaya belajar kelompok. Pembelajar tipe ini akan merasa
nyaman saat belajar dan mengerjakan tugas-tugas sendirian.
Mengingat dan memahami instruksi dapat dilakukan dengan lebih
baik saat belajar sendirian, Reid (1984)
Menurut Reid (1984), setiap pelajar memiliki gaya belajar yang
paling dominan (primary/majorlearning style) dan terkadang dibarengi
dengan gaya belajar yang tidak terlalu dominan secondary/minor
learning style) yang digunakan dalam menyerap informasi. Pembelajar
yang memiliki gaya belajar mayor dan minor biasa lebih berhasil
dalam belajar karena bisa lebih fleksibel dalam proses belajar.
Gaya belajar yang digunakan dalam penelitian ini adalah gaya
belajar sensori dari Reid (1987) yang terdiri dari enam macam gaya
belajar visual, auditori, kinestetik, taktil, individual dan kelompok.
Alasan kenapa klasifikasi gaya belajar yang digunakan adalah teori dari
Reid adalah karena klasifikasi ini awalnya didesain untuk melihat
kecenderungan gaya belajar seorang pembelajar bahasa Inggris sebagai
39
bahasa asing maupun bahasa kedua (Obralic & Akbarov, 2012).
Mengingat bahwa variabel tergantung dalam penelitian ini adalah
strategi belajar Bahasa Inggris, maka skala gaya belajar akan lebih
tepat menggunakan skala yang didesain secara khusus untuk melihat
gaya belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing maupun bahasa
kedua.
C. Motivasi Belajar Bahasa Inggris
1. Pengertian Motivasi Belajar Bahasa Inggris
Motivasi berasal dari kata bahasa latin “movere” yang artinya
“bergerak”, motivasi sering diartikan sebagai yang menggerakkan
seseorang untuk melakukan atau berbuat sesuatu. (Dörnyei &Ushioda,
2011).
Menurut Uno (2008) pada dasarnya motivasi adalah usaha yang
didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia
terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil
atau tujuan tertentu.
Amabile, Hill, Hennessey, & Tighe (1994) menjelaskan motivasi
intrinsik sebagai suatu kecenderungan yang ada secara alamiah dalam
diri seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan menunjukkan
kemampuannya karena pekerjaan itu diminati dan menimbulkan suatu
kepuasan tertentu.
Ryan dan Deci (2000) juga menyatakan bahwa motivasi intrinsik
40
mengacu pada ketertarikan atau kesenangan personal yang mendorong
individu melakukan sesuatu; sementara motivasi ekstrinsik mengacu
pada hasil atau manfaat yang akan diperoleh dengan melakukan perilaku
atau tindakan tertentu. Teori ini dikenal dengan teori determinasi diri,
self-determination theory (SDT). Dapat disimpulkan bahwa motivasi dan
belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar
merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara
potensional terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang
dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.
Soemanto (2006) menambahkan bahwa adanya motives atau
motif-motif menimbulkan need. Maksudnya ketika seseorang
mendapatkan motivasi tertentu maka orang itu berusaha memenuhi
kebutuhan tersebut. Oleh karena motives dipandang sebagai wujud
khusus dari proses motivasi dan need diartikan sebagai keadaan yang
menimbulkan motivasi.
Sedangkan pengertian motivasi menurut pakar psikologi adalah
suatu proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan
mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Jadi dalam bahasa
sederhananya motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan kita
melangkah, membuat kita melangkah, dan menentukan kita akan
melangkah (Samosir, 2011).
Kemudian Woldkowski dan Jaynes (2004) menjelaskan motivasi
belajar pada mulanya adalah suatu kecenderungan alamiah dalam diri
41
manusia, tapi kemudian terbentuk sedemikian rupa dan secara
berangsur-angsur, tidak hanya sekedar menjadi penyebab dan mediator
belajar tetapi juga sebagai hasil belajar itu sendiri.
Lebih lanjut dalam konteks pembelajaran bahasa, Motivasi
merefleksikan kekuatan (power) untuk mencapai tujuan (Oxford &
Shearin, 1994). Selanjutnya, kekuatan ini terefleksi di dalam orientasi
motivasi yang berakar dari keinginan untuk mencapai tujuan, sikap
positif terhadap pembelajaran bahasa dan perilaku usaha (effortful
behaviours). Sedangkan Gardner (2006) mengemukakan motivasi
belajar bahasa asing maupun bahasa kedua adalah suatu dorongan untuk
belajar bahasa baru yang dihubungkan dengan usaha, gairah belajar dan
sikap positif terhadap pembelajaran bahasa terkait. unsur motivasi yang
memiliki peran penting dalam proses pembelajaran bahasa, yaitu: 1)
tujuan, 2) keinginan mencapai tujuan, 3) sikap positif terhadap
pembelajaran bahasa, dan 4) perilaku maupun usaha dalam suatu
tindakan yang bertujuan. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan yang
berhubungan dengan pembelajaran bahasa, Gardner (1984).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi
belajar Bahasa Inggris merupakan suatu dorongan yang muncul didalam
diri manusia yang ditandai dengan suatu tingkah laku ataupun usaha
untuk mencapai penguasaan suatu bahasa tertentu, dalam hal ini Bahasa
Inggris sebagai bahasa kedua maupun bahasa asing.
42
2. Aspek-aspek Motivasi Belajar Bahasa
Teori motivasi secara umum menjelaskan, kenapa seseorang
melakukan apa yang mereka lakukan. Motivasi belajar bahasa
merepresentasikan situasi yang unik, bahkan didalam psikologi motivasi
sekalipun, (Dörnyei dan Ushida, 2011). Lebih lanjut Dörnyei dan Ushida
memaparkan bahwa bahasa mempunyai peran yang sangat unik secara
personal maupun sosial. Bahasa sebagai sebuah bagian integral dari
manusia mencakup hampir seluruh aktivitas mental seseorang. Bahasa
merupakan unsur terpenting dalam sistem komunikasi dan juga
merupakan alat pengorganisasian sosial. Dalam konteks bahasa asing
maupun bahasa kedua, bahasa mempunyai fungsi tambahan untuk
masuk dalam tatanan sosial masyarakat, budaya dan sumber-sumber
materi dari masyarakat penutur asli bahasa tersebut.
Penelitian motivasi belajar bahasa (bahasa asing maupun bahasa
kedua), tetap mendasarkan pada teori besar tentang motivasi, yaitu teori
determinasi diri, self-determination theory (SDT) dari Deci dan Ryan
(1985). Pengembangan teori determinasi diri dalam bidang penerimaan
bahasa kedua, second language acquisition (SLA). Salah satunya
dilakukan oleh Noel (dalam Ardasheva, 2012). Noel membagi SDT
kedalam tujuh aspek yaitu: Amotivasi, tiga tipe motivasi intrinsik dan
tiga tipe motivasi ekstrinsik. Lebih lanjut bagian-bagian motivasi
intrinsik dalam SDT menurut Noel dapat dijelaskan sebagai berikut; a)
motivasi intrinsik yang muncul dari stimulasi, misalnya saat seseorang
43
ingin belajar suatu bahasa karena keindahan estetika bahasa tersebut saat
ia mendengarnya. b) motivasi intrinsik yang muncul karena pencapaian.
Seperti saat seseorang mengalami perasaan positif ketika berhasil
memahami sesuatu hal yang sulit dalam konteks bahasa baru yang dia
pelajari. c) motivasi intrinsik yang muncul karena pengetahuan. Perilaku
yang muncul karena didorong oleh keinginan untuk memperoleh
pengetahuan baru tentang bahasa yang baru, maupun pengetahuan yang
baru melalui kemampuan berbahasa di bahasa yang baru. Sedangkan
pada Motivasi ekstrinsik, Noel membaginya sebagai berikut; a) Motivasi
Ekstrinsik karena tata nilai, seperti suatu kewajaran untuk bisa lebih dari
satu bahasa. b) Motivasi ekstrinsik yang muncul dari tekanan yang
terinternalisasi kedalam diri seseorang (Pengaturan Introjeksi), seperti
perasaan ingin menghindari rasa bersalah atau keinginan untuk membuat
orang lain terkesan. c) Pengaturan eksternal, perilaku yang terdorong
oleh faktor dari luar dirinya, seperti; hukuman, hadiah ataupun pujian.
Kemudian yang menjadi rangkaian terakhir dalam SDT adalah amotivasi,
yang merupakan kebalikan dari faktor intrinsik dan ekstrinsik dalam
orientasi motivasi. Amotivasi merujuk pada situasi dimana seseorang
melihat tidak ada hubungan antara tindakan mereka dengan konsekuensi
dari tindakannya tersebut. Konsekunsi tersebut dilihat sebagai sesuatu
yang tidak dapat mereka kendalikan, sehingga saat mereka sadar,
mereka segera ingin menghentikan tindakannya tersebut, Deci dan Ryan
(1985).
44
Tujuh aspek dari Noel yang diuraikan diatas tersebutlah yang
kemudian dirangkum dan disimplifikasi oleh Ardasheva, Tong and
Tretter (2012), dengan tetap mendasarkan pada SDT. Adapun aspek-
aspek tersebut adalah;
a. Motivasi intrinsik
Menurut Ryan dan Deci (2009), Motivasi intrinsik adalah
keinginan untuk mencapai sesuatu dengan tanpa adanya
kemungkinan pengaruh dari faktor-faktor luar seperti penghargaan
maupun hal-hal lainnya. Motivasi intinsik merupakan tipe motivasi
yang paling menentukan.
b. Pengaturan introjeksi
Pengaturan introjeksi adalah perilaku yang ditunjukkan
untuk menyenangkan orang lain atau dikarenakan keterpaksaan,
seperti saat seorang murid mengerjakan sebuah tugas karena
mereka merasa harus melakukannya dan mungkin merasa bersalah
apabila mereka tidak melakukannya (misalnya: mengerjakan
pekerjaan rumah). Pengaturan introjeksi ini masih terkait dengan
reward dan punishment, akan tetapi yang membedakannya dengan
pengatura eksternal adalah tingkat internalisasinya yang lebih tinggi
(Ryan dan Deci, 2009)
c. Pengaturan ekstrinsik.
Berbanding terbalik dengan motivasi intrinsik, pengaturan
ekstrinsik didapatkan dari pengaruh luar, seperti rewards dan
45
punishment, dibedakan dari pengaturan introjeksi karena ketiadaan
internalisasi dalam tipe ini (Ryan dan Deci,2009).
Penelitian ini akan menggunakan aspek-aspek motivasi belajar Bahasa
Inggris menurut Ardhasheva, Tong dan Treter (2012), yaitu; Motivasi
Intrinsik, Pengaturan Introrejeksi dan Pengaturan Ekstrinsik.
D. Perbedaan Penggunaan Strategi Belajar Bahasa Inggris
Ditinjau Dari Gaya Belajar
Menurut Reid (dalam Peacock, 2000) gaya belajar adalah suatu cara
yang alami, hampir seperti kebiasaan, dan cara yang paling disukai oleh
individu dalam menyerap, memproses dan mempertahankan informasi.
Reid (1984) mengklasifikasikan gaya belajar dalam beberapa jenis, yaitu;
gaya belajar visual, auditori, kinestetik, taktil, individu, dan kelompok.
Orang yang memiliki gaya belajar visual memiliki kebutuhan yang
tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum
mereka memahaminya. Mereka lebih mudah menangkap lewat materi
bergambar.
Gaya belajar auditori biasanya disebut juga sebagai gaya belajar
pendengar. Pada umumnya, seorang anak yang memiliki gaya belajar
auditori ini senang mendengarkan ceramah, diskusi, berita di radio, dan
juga kaset pembelajaran. Mereka senang belajar dengan cara mendengarkan
dan berinteraksi dengan orang lain.
46
Gaya belajar kinestetik biasanya disebut juga sebagai gaya belajar
gerak. Bagi pembelajar kinestetik, membaca dan mendengarkan merupakan
kegiatan yang membosankan. Instruksi-instruksi yang diberikan secara
tertulis maupun lisan seringkali mudah dilupakannya. Mereka memiliki
kecenderungan lebih memahami tugas-tugasnya bila mereka mencobanya
serta menggunakan seluruh anggota tubuhnya dalam belajar
Gaya belajar kelompok dimiliki orang yang merasa mudah
memahami sesuatu melalui stimulasi kelompok, berdiskusi, peer-teaching
menjadi suatu kegiatan yang membantunya dalam belajar. Sebaliknya orang
dengan gaya belajar individual lebih nyaman belajar sendirian, belajar dan
mengerjakan tugas-tugas sendirian. Mengingat dan memahami instruksi
dapat dilakukan dengan lebih baik saat belajar sendirian
Gaya belajar yang terakhir adalah gaya belajar taktil, orang dengan
gaya belajar ini akan belajar lebih baik dengan pengalaman yang
melibatkan kerja tangan dan sensori rabaan dari tangan. Mengingat dan
memahami instruksi dapat dilakukan dengan lebih baik dengan kegiatan
belajar di laboratorium dengan melibatkan sentuhan dan kerja tangan.
Dengan berbagai macam gaya belajar tersebut, seorang pembelajar
dapat menyesuaikan strategi belajar bahasa Inggris sesuai dengan gaya
belajar yang disukai. Semakin seseorang paham akan gaya belajar yang
sesuai dengan dirinya, maka seorang pembelajar akan semakin sering
mencoba berbagai strategi belajar bahasa yang terkait dengan gaya belajar
tersebut.
47
Lebih lanjut, perbedaan penggunaan strategi belajar ditinjau dari
gaya belajarnya dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh
Tabanlioglu (2003) yang menemukan bahwa gaya belajar visual berkaitan
dengan penggunaan strategi afektif, gaya belajar auditori berkaitan dengan
penggunaan strategi memori, kognitif, afektif dan sosial, sementara gaya
belajar individual berkaitan dengan penggunaan strategi kompensasi.
Gaya belajar dan strategi belajar bahasa adalah dua hal yang
berbeda, namun keduanya berkaitan erat satu sama lain. Keduanya
memiliki elemen afektif dan kognitif serta merupakan prediktor keahlian
berbahasa (language proficiency). Menurut Brown (dalam Jie & Xiaoqing,
2006), strategi belajar bahasa tidak beroperasi dengan sendirinya, namun
dihubungkan secara langsung oleh gaya belajar bawaan yang telah ada pada
diri setiap individu dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan
kepribadian. Dapat dikatakan bahwa gaya belajar berkontribusi terhadap
kecenderungan individu untuk memilih strategi belajar tertentu. Sejumlah
hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar berpengaruh secara
signifikan terhadap pemilihan strategi belajar (Carson & Longhini, dalam
Chang, 2005, (Ehrman & Oxford, 1990), (Ehrman & Oxford, 1995), (Jie &
Xiaoqing, 2006). Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa
terdapat kaitan antara gaya belajar visual, auditori, individual dan kelompok
terhadap penggunaan strategi belajar bahasa; misalnya, Tabanlioglu (2003)
menemukan bahwa gaya belajar visual berkaitan dengan penggunaan
strategi afektif, gaya belajar auditori berkaitan dengan penggunaan strategi
48
memori, kognitif, afektif dan sosial, sementara gaya belajar individual
berkaitan dengan penggunaan strategi kompensasi. Rossi-Le (dalam Hsu,
2007) menemukan bahwa individu yang belajar dengan gaya kelompok
biasanya menggunakan strategi sosial.
Penelitian Saragih dan Kumara (2009) membantah temuan
penelitian-penelitan sebelumnya mengenai adanya perbedaan yang
signifikan pada strategi belajar yang digunakan oleh individu-individu
dengan gaya belajar yang berbeda. Hasil penelitian yang dilakukan Saragih
dan Kumara menunjukkan penggunaan strategi belajar tidak berbeda
ditinjau dari gaya belajarnya (F = 0,067, p > 0,05). Hasil ini menunjukkan
bahwa subjek dengan gaya belajar visual, auditori, individual maupun
kelompok menggunakan seluruh strategi belajar bahasa yang lebih kurang
sama, baik dalam frekuensi penggunaan maupun jenisnya.
Penelitian ini akan menguji kembali perbedaan penggunaan strategi
belajar ditinjau dari gaya belajarnya menurut teori Reid, dengan objek
penelitian yang berbeda, hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui lebih
lanjut terkait perbedaan penggunaan strategi belajar bahasa ditinjau dari
gaya belajarnya.
49
E. Hubungan Antara Motivasi Belajar Bahasa Inggris dengan
Strategi Belajar Bahasa
Ryan dan Deci (2009) juga menyatakan bahwa motivasi intrinsik
mengacu pada ketertarikan atau kesenangan personal yang mendorong
individu melakukan sesuatu; sementara motivasi ekstrinsik mengacu pada
hasil atau manfaat yang akan diperoleh dengan melakukan perilaku atau
tindakan tertentu. Teori ini dikenal dengan teori determinasi diri, self-
determination theory (SDT).
Woldkowski dan Jaynes (2004) menjelaskan motivasi belajar pada
mulanya adalah suatu kecenderungan alamiah dalam diri manusia, tapi
kemudian terbentuk sedemikian rupa dan secara berangsur-angsur, tidak
hanya sekedar menjadi penyebab dan mediator belajar tetapi juga sebagai
hasil belajar itu sendiri. Kemudian Soemanto (2006) menambahkan bahwa
adanya motives atau motif-motif menimbulkan need. Maksudnya ketika
seseorang mendapatkan motivasi tertentu maka orang itu berusaha
memenuhi kebutuhan tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut diketahui bahwa motivasi belajar
merupakan sesuatu yang alamiah muncul dari dalam diri seseorang. Ketika
motivasi belajar tersebut muncul, orang tersebut akan terus berusaha
mewujudkan keinginannya dengan segala upaya dan cara. Pada saat
seorang pembelajar memiliki motivasi belajar yang kuat, baik itu motivasi
belajar dalam bentuk intrinsik maupun ekstrinsik, maka pembelajar tersebut
akan terus berusaha memaksimalkan proses belajarnya, termasuk
50
didalamnya penggunaan strategi belajar. Oleh karena itu seseorang yang
memiliki motivasi belajar yang tinggi secara tidak langsung juga akan
memiliki strategi belajar yang beraneka. Hal ini tidak lain adalah untuk
memaksimalkan hasil belajarnya. Woldkowski dan Jaynes (2004)
menjelaskan motivasi belajar adalah suatu kecenderungan alamiah dalam
diri manusia, yang menjadi penyebab dan mediator belajar, dan juga
sebagai hasil belajar itu sendiri.
Saragih dan Kumara (2009) dalam penelitiannya menemukan bahwa
strategi belajar bahasa yang digunakan oleh pelajar dengan tingkat motivasi
intrinsik tinggi, sedang dan rendah berbeda secara signifikan. Pelajar
dengan motivasi intrinsik tinggi lebih sering menggunakan seluruh strategi
belajar bahasa, dibandingkan pembelajar dengan motivasi intrinsik sedang
dan rendah. Motivasi sangat erat kaitannya dengan dorongan atas sesuatu.
Motivasi belajar melingkupi: 1) adanya hasrat dan keinginan berhasil, 2)
adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, 3) adanya harapan dan cita–
cita masa depan, 4) adanya penghargaan dalam belajar, 5) adanya kegiatan
yang menarik dalam belajar, 6) adanya lingkungan yang kondusif (Uno,
2007). Lebih lanjut, Chang (2005) juga menjelaskan bahwa variabel
motivasi memiliki pengaruh yang besar terhadap penggunaan strategi
belajar bahasa. Pelajar yang memiliki motivasi yang tinggi lebih banyak
menggunakan strategi belajar dibandingkan pelajar dengan motivasi yang
rendah.
51
Lebih lanjut dalam konteks motivasi belajar bahasa, Gardner (2006)
mengemukakan motivasi belajar bahasa asing maupun bahasa kedua adalah
suatu dorongan untuk belajar bahasa baru yang dihubungkan dengan usaha,
gairah belajar dan sikap positif terhadap pembelajaran bahasa terkait.
Peranan motivasi belajar adalah dapat mengarahkan pembelajar melakukan
usaha-usaha secara lebih giat untuk belajar bahasa baru (Harré dan Gilelett,
1994), kemudian motivasi yang tinggi mendorong pembelajar mencari dan
menentukan strategi belajar yang sesuai dengan kondisi dirinya dan
kemampuan kebahasaan yang menjadi sasaran belajarnya, Gillett (1994),
menjelaskan lebih lanjut bahwa motivasi mendorong seorang pembelajar
berusaha mencari dan menentukan strategi metakognitif yang
memungkinkannya belajar dengan mudah.
Dari poin-poin yang diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa motivasi belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua maupun
bahasa asing akan mendorong seseorang untuk memilih strategi-strategi
belajar yang sesuai dengan dirinya sehingga bisa dikatakan tinggi
rendahnya motivasi belajar Bahasa Inggris akan mempengaruhi
kemampuan seseorang dalam menggunakan strategi belajar Bahasa Inggris,
sehingga siswa dengan motivasi belajar Bahasa Inggris tinggi seharusnya
lebih banyak menggunakan strategi belajar Bahasa Inggris daripada siswa
dengan motivasi Bahasa Inggris belajar sedang maupun rendah.
52
F. Landasan Teori
Oxford (1990) menjelaskan bahwa strategi belajar merupakan
tindakan tertentu yang dilakukan oleh pembelajar untuk menjadikan
pembelajaran lebih mudah, cepat, menyenangkan, mandiri, efektif, dan
lebih dapat ditransfer ke situasi yang baru. Terdapat beberapa jenis strategi
belajar bahasa Inggris, diantaranya: 1) Memori, 2) Kognitif, 3)
Kompensasi, 4) Meta-kognitif, 5) Afektif, dan 6) Sosial. Penggunaan
strategi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, dalam penelitian ini akan
mengkaji dua faktor yaitu gaya belajar dan motivasi belajar.
Strategi belajar Bahasa Inggris dalam penelitian ini berfungsi
sebagai variabel tergantung, sedangkan gaya belajar dan motivasi belajar
Bahasa Inggris dalam penelitian ini berfungsi sebagai variabel bebas.
Menurut Reid (dalam Peacock, 2000) gaya belajar adalah suatu cara
yang alami, hampir seperti kebiasaan, dan cara yang paling disukai oleh
individu dalam menyerap, memproses dan mempertahankan informasi.
Gaya belajar yang satu tidak dapat dikatakan lebih baik dari gaya belajar
yang lainnya, karena setiap gaya belajar memiliki kelebihan dan
kekurangan masing-masing (Felder & Brent, 2005). Gaya belajar sensori
dari Reid terdiri dari enam macam gaya belajar visual, auditori, kinestetik,
taktil, individual dan kelompok.
Dari beberapa teori dapat dilihat adanya perbedaan penggunaan
strategi belajar ditinjau dari gaya belajarnya. Gaya belajar visual berkaitan
dengan penggunaan strategi afektif, gaya belajar auditori berkaitan dengan
53
penggunaan strategi memori, kognitif, afektif dan sosial, sementara gaya
gelajar individual berkaitan dengan penggunaan strategi kompensasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Rossi-Le (dalam Hsu, 2007) yang juga
membahas hubungan gaya belajar dengan strategi belajar, menemukan
bahwa individu yang belajar dengan gaya kelompok biasanya
menggunakan strategi sosial.
Hubungan antara motivasi belajar Bahasa dengan penggunaan
strategi belajar salah satunya dapat ditemukan dalam penelitian Chang
(2005) yang menjelaskan bahwa variabel motivasi memiliki pengaruh yang
besar terhadap penggunaan strategi belajar bahasa. Pelajar yang memiliki
motivasi yang tinggi lebih banyak menggunakan strategi belajar bahasa
dibandingkan pelajar dengan motivasi yang rendah.
Kerangka pikir penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan
jumlah penggunaaan strategi belajar Bahasa Inggris pada kelompok-
kelompok siswa dengan gaya belajar tertentu pada tiap kelompok dan
hubungan penggunaaan strategi belajar Bahasa Inggris dengan tingkat
motivasi belajar Bahasa Inggrisnya. Berikut adalah gambar kerangka pikir
dalam penelitian ini.
54
Gaya Belajar (X1)
1. Gaya Belajar Visual
2. Gaya Belajar Audiotori
3. Gaya Belajar Kinestetik
4. Gaya Belajar taktil Strategi Belajar (Y)
1. Strategi Memori
5. Gaya Belajar Kelompok
2. Strategi Kognitif
6. Gaya Belajar Individu
3. Strategi Kompensasi
4. Strategi
Metakognitif
Motivasi Belajar (X2)
5. Strategi Afektif
1. Motivasi Intrinsik
6. Strategi Sosial
2. Pengaturan Introjeksi
3. Pengatura Ekstrinsik
Keterangan:
= Arah pengaruh variabel menunjukkan perbedaan atau hubungan
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian
G. Hipotesis
Berdasarkan penjabaran telaah pustaka dan landasan teori
sebelumnya, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan penggunaan strategi belajar Bahasa
Inggris, pada siswa-siswi SMP Budi Utama ditinjau dari
kelompok gaya belajarnya.
2. Terdapat hubungan positif antara tingkat motivasi belajar
Bahasa Inggris yang [Link] penggunaan strategi
belajar Bahasa Inggris pada siswa-siswi SMP Budi Utama.
Semakin tinggi motivasi belajar Bahasa Inggris seseorang,
semakin tinggi pula penggunaan strategi belajar Bahasa
Inggrisnya, semakin rendah motivasi belajar Bahasa Inggris
seseorang, semakin rendah pula penggunaan strategi belajar
Bahasa Inggrisnya.