BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Kebiasaan
1. Pengerian Kebiasaan
Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara periodik
dimana kebiasaan itu bukan sesuatu yang mutlak, bisa dibentuk
dan kebiasaan itu sendiri adalah titik temu dari pengetahuan,
ketrampilan dan keinginan. (Windra 2009). Kebiasaan membuang
sampah ke kanal adalah sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat
secara periodik atau berulang-ulang dalam hal ini membuang
sampah ke kanal tanpa masyarakat ketahui dampak yang dapat
ditimbulkan dari kebiasaan membuang sampah ke kanal tersebut.
Sampah bukanlah penyebab penyakit tetapi sebagai kondisi
atau media terjadinya sakit. Jenis-jenis penyakit yang secara
langsung atau tidak langsung disebabkan oleh adanya sampah
yang berserakan antara lain penyakit cacingan, infeksi kulit, kolera,
demam berdarah dan infeksi saluran pencernaan.
Sampah merupakan media pertumbuhan dan
perkembangan bakteri atau parasit serta faktor beberapa penyakit
misalnya lalat, nyamuk dan tikus perlu diketahui bahwa lalat dan
kecoa adalah faktor penularan penyakit infeksi saluran
pencernaan. Sampah yang terbuang diselokan atau kanal akan
dapat menyebabkan banjir, menghalangi penetrasi sinar matahari
ke badan air, mengganggu kehidupan flora dan fauna air bahkan
sampai mengurangi kepadatan populasi atau pemusnahan flora
dan fauna tertentu sehingga dapat munurunnya daya dukung
badan air tersebut dan tidak sesuai peruntuknya
[Link] sampah yang selama ini dilakukan oleh
masyarakat adalah dengan cara membuang sampah ke kanal, hal
ini dikarenakan masyarakat merasa lebih praktis membuang
sampah kekanal tanpa memperhatikan dampak yang dapat
ditimbulkan. Cara seperti ini kurang bisa mengatasi masalah
sampah karena dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Pencemaran lingkungan berhubungan erat dengan sampah
karena sampah merupakan sumber pencemaran. Permasalahan
sampah timbul karena tidak seimbangya produksi sampah dengan
pengolahannya dan semakin menurunnya daya dukung alam
sebagai tempat pembuangan sampah. Di satu pihak, jumlah
sampah terus bertambah dengan laju yang cukup cepat,
sedangkan di lain pihak kemampuan pengolahan sampah masih
belum memadai.
Faktor yang Mempengaruhi Kebiasaan Masyarakat
membuang Sampah ke kanal adalah karena kurangnya fasilitas
tempat sampah, jarak antara tempat pembuangan akhir yang
sangat jauh, tingkat pengetahuan masyarakat kurang.
B. Tinjauan Umum Tentang Sampah
1. Pengertian Sampah
Sampah adalah bahan buangan bukan cairan yang
dihasilkan dari aktivitas domestik, komersial, pertanian, pelayanan
umum, pembangunan, pertambangan dan industri maupun bahan
buangan yang berasal dari suatu proses alami yang mungkin
terjadi (Entjang, 2000). Sampah adalah suatu bahan atau suatu
benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia atau
benda padat yang sudah digunakan dalam suatu kegiatan
manusia dan dibuang. Sampah adalah semua zat atau benda
yang sudah tidak dipakai lagi yang berasal dari rumah ataupun
sisa-sisa oleh proses industri.
Dari beberapa pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa
sampah adalah bahan buangan bersifat padat yang dibuang oleh
manusia (pemilik aktivitas) yang berasal dari aktivitas manusia
tetapi tidak termasuk aktivitas biologis.
2. Sumber Sampah
Pada umumnya sumber sampah dihubungkan dengan
aktivitas manusia dan penggunaan (tata guna) lahan. Klasifikasi
sumber sampah yaitu :
a. Sampah yang berasal dari tempat pemukiman (residental
wastes)
Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai hasil
kegiatan rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang, seperti
sisa-sisa makanan baik yang sudah dimasak/belum, bekas
pembungkus baik kertas, plastik, daun/pakaian-pakaian bekas,
bahan-bahan bacaan, perabot rumah tangga, daun-daunan dari
kebun / taman dan sebagainnya.
b. Sampah dari tempat umum
Sampah ini berasal dari tempat umum seperti pasir,
tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api dan
sebagainya. Sampah ini berupa : kertas, plastik, botol dan
sebagainya.
c. Sampah yang berasal dari perkantoran
Sampah dari perkantoran baik perkantoran pendidikan
(perdagangan) departemen, perusahaan. Sampah ini berupa
kertas, plastik, karbon dan sebagainya, umumnya sampah ini
bersifat kering dan mudah terbakar (rubbish).
d. Sampah yang berasal dari jalan raya
Sampah ini berasal dari pembersihan jalan yang umumnya
terdiri dari kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batu-batuan,
pasir, sobekan ban, onderdil kendaraan yang jatuh, daun-
daunan.
e. Sampah yang berasal dari industri (Industry waster)
Sampah ini berasal dari kawasan industri, termasuk sampah
yang berasal dari pembangunan industri dan segala sampah
yang berasal dari proses produksi, misalnya : sampah-sampah
pengepakan barang, logam, plastik, kayu, potongan tekstil,
kaleng dan sebagainya.
f. Sampah yang berasal dari pertambangan
Sampah ini berasal dari daerah pertambangan dan jenis
tergantung dari jenis usaha pertambangan itu sendiri, misalnya
batu-batuan, tanah / cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran
(arang).
g. Sampah yang berasal dari pertanian/perkebunan (agricultural
waste)
Sampah ini sebagai hasil dari perkebunan atau pertanian,
misalnya jerami, sisa sayuran, batang padi, batang jagung,
ranting kayu yang patah.
h. Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan
Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan ini, berupa
kotoran ternak, sisa-sisa makanan, bangkai binatang.
3. Jenis Sampah
Berdasarkan karateristik, sampah dapat dibedakan menjadi :
a. Garbage
Jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan
hewan, sayur-sayuran dan hasil pengolahan, pembuatan
dan penyediaan makanan, sebagian besar berupa
bahan-bahan mudah busuk, lembab mengandung
sejumlah air.
b. Rubbish
Terdiri dari sampah yang mudah terbakar atau tidak
terdapat atau sukar terbakar yang berasal dari rumah-
rumah pusat perdagangan, kantor-kantor tetapi tidak
termasuk garbage yang mudah terbakar umumnya
berupa bahan organik seperti kertas, karbon, kardus
sedangkan yang tidak mudah terbakar berupa bahan-
bahan an organik logam-logam mineral gelas.
c. Debu (ashes)
Yaitu sisa-sisa pembakaran dari zat-zat yang mudah
terbakar baik di rumah, kantor atau industri.
d. Sampah jalanan (street sweeping)
Berasal dari pembersihan jalan dan trotoar baik
dengan tenaga manusia maupun mesin terdiri kertas-
kertas, kotoran, daun-daunan dan sebagainya.
e. Bangkai binatang (dead animal)
Yaitu bangkai-bangkai binatang yang mati karena
alam, penyakit atau kecelakaan.
4. Syarat-syarat tempat penampungan sampah
Tempat sampah adalah tempat untuk menyimpan sampah
sementara setelah dihasilkan yang harus ada pada setiap
sumber atau penghasil sampah seperti rumah tangga, rekreasi,
trotoar jalan terminal, alat kontrasepsi dan transportasi sebelum
sampah dikelola lebih lanjut.
a. Bila tempat pembuangan sampah tidak berupa kantong
harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut :
1) Terbuat dari bahan yang cukup kuat, ruang kedap air
dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian
dalamnya.
2) Mempunyai penutup yang mudah dibuka dan ditutup
tanpa harus mengotori tangan terutama untuk tempat
sampah yang menampung jenis sampah yang mudah
busuk.
3) Mudah diisi dan mudah dikosongkan serta mudah
dibersihkan.
b. Bila tempat penampungan sementara berupa bak beton
harus memenuhi persyaratan kesehatan yakni :
1) Harus kedap air, tertutup dan selalu dalam keadaan
ditutup, mudah dibersihkan sehingga mencegah
timbulnya pencemaran maupun masalah lalat, nyamuk
dan tikus.
2) Volume mampu menampung sampah dari pemakai
untuk waktu satu hari.
Menurut Entjang, sampah janganlah ditempatkan
didalam rumah atau dipojok karena akan merupakan
gudang makanan bagi tikus-tikus sehingga rumah
banyak tikusnya dan tempat sampah sebaiknya :
a. Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan tidak
mudah rusak.
b. Harus ditutup rapat sehingga tidak menarik serangga atau
binatang-binatang lainnya seperti tikus, ayam, kucing dan
serangga.
c. Ditempatkan diluar rumah bila pengumpulannya dilakukan
oleh pemerintah, tempatkanlah tempat sampah sedemikian
rupa sehingga petugas pengumpul sampah mudah
mencapainya.
5. Macam – macam tempat penampungan sampah
Sampah rumah tangga biasanya banyak berasal dari sisa
sayuran, buah-buahan, ikan atau daging serta sisa makanan
basi selain itu dapat juga berupa plastik pembungkus, kertas,
karton, wadah kaleng dan logam (Notoatmodjo 2000). untuk
macam tempat penampungan sampah rumah tangga antara
lain :
a. Kantung Plastik
Untuk jumlah yang sedikit khususnya sampah organik
sisa kegiatan dapur dan ruang makan sebaiknya
sampah tersebut dimasukkan ke dalam kantung plastik.
Keuntungannya ringan, isinya tidak banyak sehingga
menbuangnya mudah dan dapat melakukan maksimal
setiap hari serta dapat diikat atau ditutup dengan rapat
sehingga tidak menimbulkan bau.
b. Keranjang Plastik
Wadah ini sebetulnya bersifat praktis akan tetapi akan
hanya berfungsi baik untuk mengumpulkan bahan
kering. Seandainya juga digunakan untuk tempat
pengumpulan sampah basah, maka bagian dalamnya
sebaiknya dilapisi dengan kantung plastik. Dengan
demikian sampah masuk kedalam kantung plastik tanpa
mengotori keranjang plastiknya.
C. TINJAUAN UMUM TENTANG FAKTOR–FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN WARGA MEMBUANG
SAMPAH KE KANAL
Manusia tidak bisa terlepas dari pola hidup sehat dan
bersih. Salah satu parameter yang digunakan adalah pola dan
tingkah laku dalam menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan
dapat diartikan sebagai keindahan lingkungan, penilaian dan
tanggapan manusia terhadap kebersihan dan keindahan
lingkungan. Sampah sebagai benda “matter in the wrong place”
dapat menimbulkan kondisi yang kurang atau tidak nyaman dan
mengurangi keindahan karena wujud fisiknya yang berserakan
tidak pada tempatnya dan timbulnya bau pada proses
pembusukan. Kondisi ini menyebabkan menurunnya estetika
lingkungan. Sehingga masyarakat merasa tidak nyaman berada
pada lingkungannya karena selain pemandangan yang tidak
enak juga karena timbulnya bau yang tidak sedap dari proses
pembusukan sampah tersebut.
Faktor- faktor yang berhubungan dengan Kebiasaan
Masyarakat membuang sampah ke kanal adalah :
1. Fasilitas
Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan
sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat setempat hal
ini disebabkan karena fasilitas sampah yang masih kurang
bahkan hampir tidak ada dan kekurangan ini menjadi kebiasaan
buruk dan ketidakpedulian warganya sendiri dengan membiarkan
sampah berserakan dijalan raya, selokan atau kanal yang
mengundang bau yang tidak sedap.
Sampah yang ada dilokasi sumber (kantor, rumah tangga,
hotel dan sebagainya) ditempatkan dalam tempat penampungan
sementara, dalam hal ini temapat sampah. Sampah basah dan
sampah kering sebaiknya dikumpulkan dalam tempat yang
terpisah untuk memudahkan pemusnahannya.
Kita ketahui bahwa fasilitas sampah sangat dibutuhkan
karena dengan adanya fasilitas tersebut akan sangat membantu
dalam proses pembuangan sampah , yang termasuk dalam
fasilitas sampah tersebut antara lain :
a. Tong Sampah
Wadah ini mempunyai sifat tahan lama, namun kurang
praktis, berat dan biasanya bersifat stationer karena
ditanam di dalam tanah sebaiknya tong sampah tidak
ditempatkan terbuka, karena mudah terkena hujan dan bau
busuk menyebar. Selain itu akan dikerumuni lalat, tikus,
kucing dan anjing.
b. Bak Sampah
Wadah ini bersifat tahan lama dan tahan api. Bak
sampah hampir sama fungsinya dengan tong sampah.
2. Jarak
Masalah lingkungan hidup sebenarnya sudah ada sejak
dulu, masalah lingkungan bukanlah masalah yang hanya dimiliki
atau dihadapi oleh negara-negara maju ataupun negara-negara
miskin tapi masalah lingkungan hidup adalah sudah merupakan
masalah dunia dan masalah kita semua dalam hal ini masalah
lingkungan yang dimaksud adalah mengenai sampah dimana
masalah sampah ini perlu mendapat perhatian khusus.
Kebiasaan membuang sampah yang baik masih perlu
ditingkatkan, untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Sebab,
sampai saat ini kesadaran masyarakat untuk buang sampah
pada tempatnya dinilai masih rendah yang mengakibatkan tidak
semua sampah produksi rumah tangga masyarakat bisa
terangkut berhubung dengan jarak antara tempat pembuangan
akhir yang sangat jauh.
Kita ketahui bersama bahwa produksi sampah akan terus
meningkat apabila semakin banyaknya aktivitas manusia
sehingga proses pengolahan sampah akan semakin sulit
disamping itu juga faktor lain yang mempengaruhi Jarak dari
sumber sampah ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA)
yang jauh mempengaruhi kebiasaan masyarakat membuang
sampah ke kanal hal ini disebabkan upaya pemberdayaan
masyarakat menyediakan tempat sampah disetiap rumah masih
kurang.
3. Pengetahuan
Menurut Soekidjo dalam Notoatmodjo bahwa pengetahuan
merupakan hasil tahu, dan hal ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Perilaku yang didasari
pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari
oleh pengetahuan. Pengetahuan dapat membantu masyarakat
tentang pentingnya pelestarian lingkungan yang optimal.
Dengan adanya pengetahuan, masyarakat secara mandiri dapat
mewujudkan kesehatannya pribadi maupun keluarganya.
Dalam kamus Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa
pengetahuan berasal dari kata "tahu" yang berarti mengerti
sesudah melihat, menyaksikan atau setelah mengalami,
sedangkan kata pengetahuan itu sendiri berarti segala sesuatu
yang diketahui.
Menurut Azrul A yang dikutip oleh Notoatmodjo (2008) yang
mengatakan penerapan pengetahuan tiap orang berbeda-beda.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu persepsi,
emosi, lingkungan fisik maupun non fisik, kebudayaan, iklim dan
sebagainya.
Kognitif atau pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour),
karena dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku
yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan
yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan
yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu atau know diartikan sebagai mengingat kembali
suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk
kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui
dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi
harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan dan meramalkan terhadap obyek yang
dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan
hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dalam konteks atau
situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemmpuan untuk menjabarkan
materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen,
tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan dan
mengelompokkan.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam
suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain
sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi menunjuk kepada kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi
atau obyek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara atau angket untuk menanyakan tentang
isi materi yang ingin diketahui dari subyek penelitian atau
responden.
Masyarakat sebagai sampel dalam penelitian ini
diharapkan minimal memiliki tingkat pengetahuan yang
ketiga yakni aplikasi sehingga dapat mendukung proses
mengingat kembali materi yang pernah diketahui untuk
meningkatkan pencegahan terhadap demam berdarah
dengue. Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (perilaku
baru), ia harus tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat
perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya.
Pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan
sangat penting agar dapat menanggulangi permasalahan
lingkungan secara terpadu dan tuntas. Dewasa ini
lingkungan hidup sedang menjadi perhatian utama
masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia umumnya.
Semakin luas pengetahuan yang dimiliki dan semakin
baik tingkat pemahaman tentang suatu konsep disertai cara
pemikiran dan penganalisaan yang tajam dengan sendirinya
memberikan persepsi yang baik pula terhadap objek yang
diamati.
Artinya : “Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari
bapaknya, dari Rasulullah saw. : Sesungguhnya Allah SWT itu
suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang
menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai
kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena
itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)”