1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sampah adalah suatu bahan atau benda padat yang sudah
tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah
digunakan dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Sampah
merupakan salah satu masalah lingkungan yang perlu mendapat
perhatian. Permasalahan sampah tersebut semakin kompleks dalam
kaitannya dengan pengelolaannya karena, kuantitasnya semakin
meningkat, semakin bervariasi jenis komposisinya, keterbatasan
sumber dana bagi pelayanan umum, dampak perkembangan ekonomi
dan juga semakin tingginya aktivitas-aktivitas sumber potensial
adanya sampah (Notoatmodjo, 2011).
Menurut World Health Organization (WHO) sampah adalah
sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau
sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak
terjadi dengan sendirinya, Berdasarkan sumber data WHO
menyatakan bahwa Negara yang memproduksi sampah terbesar di
dunia adalah Amerika Serikat dengan jumlah sampah yang dihasilkan
sebesar 70–80 %, Pada tahun 2007, Amerika Serikat memproduksi
254 juta ton sampah (Chandra, 2007). Sedangkan menurut hasil
penelitian JICA 2008 “Japan International Coorporation Agency“
(Badan kerjasama internasional Jepang) produksi sampah terbesar di
Negara Indonesia diduduki oleh DKI Jakarta dengan jumlah sampah
2
yang dihasilkan sebesar 85 % dan Berdasarkan data Dinkes kota
Makassar sampah yang dihasilkan oleh kota Makassar sebesar 60 –
70% (Madelan, 2008). Lingkungan merupakan salah satu variabel
yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi
kesehatan masyarakat. Bersamaan dengan faktor perilaku, pelayanan
kesehatan, dan genetik, lingkungan menentukan baik buruknya status
derajat kesehatan masyarakat (Chandra, 2007).
Berdasarkan data pada tahun 2013 Volume sampah di Kota
Makassar cukup tinggi. Kota dengan luasan 177.557 ha, ini mampu
memproduksi sampah hingga 550 ton, atau sekitar 4.000 meter kubik
per hari, penanganan sampah yang diangkut dan dibuang ke Tempat
Pembuangan Akhir sebesar 26,6%, yang dibakar sebesar 15,2%,
yang dibuang ke sungai atau kanal 53,3%. dan tidak tertangani
sebesar 64,9% (Herni, 2013).
Kehadiran sampah merupakan hal yang tidak diinginkan dan
dapat menimbulkan pencemaran apabila daya asimilasi alam tidak
mampu lagi mendukungnya. Selain itu sampah erat kaitannya dengan
kesehatan masyarakat karena dari sampah tersebut dapat hidup
berbagai organisme penyebab penyakit baik secara langsung maupun
tidak langsung melalui perantara vektor. Penyakit-penyakit tersebut
seperti Tyhpus abdominalis, diare, Dengue Haemorhagic Fever
(Efendi, 2009).
3
Bertambahnya jumlah sampah (baik volume, jenis maupun
karakteristiknya) yang diproduksi tiap keluarga merupakan implikasi
dari pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi
masyarakat. Tak bisa dibayangkan bila sampah itu menumpuk di
suatu tempat sebelum diangkut. Bukan saja akan menjadi
pemandangan yang tidak sedap, tapi juga mengundang penyakit,
sehingga lingkungan hidup yang baik dan sehat, seperti amanat pasal
28H ayat (1) UUD 1945 tidak terpenuhi. Kehadiran UU No. 18 tahun
2008 tentang Pengelolaan Sampah dilatar belakangi oleh hal-hal
tersebut. Latar yang lain, diperlukan kepastian hukum, kejelasan
tanggung jawab dan kewenangan pemerintah, pemerintah daerah
serta peran masyarakat dan dunia usaha, sehingga pengelolaan
sampah berjalan proporsional, efektif dan efisien.
Kebiasaan membuang sampah yang baik masih perlu
ditingkatkan, untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Sebab,
sampai saat ini kesadaran masyarakat untuk membuang sampah
pada tempatnya dinilai masih rendah, yang mengakibatkan tidak
semua sampah produksi rumah tangga masyarakat bisa tertangani
dengan baik. berhubungan dengan pendidikan, tingkat pengetahuan
yang rendah, fasilitas yang kurang memadai, serta jarak antara
tempat pembuangan akhir yang sangat jauh.
4
Berdasarkan data yang didapatkan dari Kelurahan Jongaya
khususnya RW II/RT 05 yang merupakan salah satu kelurahan di
kotamadya Makassar, menunjukkan kondisi atau kebiasaan
masyarakat dalam hal pembuangan sampah yaitu sampah yang
dibuang ke kanal sebesar 56,1 %, dengan cara sampah dibakar
sebesar 15,3 % dan sampah yang dibuang ke TPS sebesar 10,2 %
(data kelurahan Jongaya 2013). Volume sampah ini belum tertangani
dengan baik, dimana masih terdapat beberapa warga yang
membuang sampah di kanal, sebab sampah yang terangkut hanyalah
sampah yang berada di sekitar jalan poros, sedangkan sampah yang
berasal dari areal pemukiman yang tidak dapat dilalui oleh mobil
angkutan tidak terangkut. Akibatnya banyak sampah berserakan di
kanal atau saluran pembuangan air limbah dan menebarkan bau yang
tidak sedap. Kondisi seperti itu apabila dibiarkan berlarut-larut akan
menimbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat di wilayah
Kelurahan Jongaya.
Berdasarkan dari kenyataan tersebut maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor yang berhubungan
dengan kebiasaan warga Membuang sampah ke kanal Di RW II/RT
05 Kelurahan Jongaya Makassar Tahun 2014”.
5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dalam latar
belakang maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut
“Faktor apakah yang berhubungan dengan kebiasaan warga
membuang sampah ke kanal di RW II/RT 05 Kelurahan Jongaya
Makassar tahun 2014 ?”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan
kebiasaan warga Kelurahan Jongaya RW II/RT 05 membuang
sampah ke kanal tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan terhadap
kebiasaan warga membuang sampah ke kanal.
b. Untuk mengetahui hubungan fasilitas sampah terhadap
kebiasaan warga hubungan sampah ke kanal.
c. Untuk mengetahui hubungan jarak TPS terhadap kebiasaan
warga membuang sampah ke kanal.
d. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap
kebiasaan warga membuang sampah ke kanal.
6
D. Manfaat Penelitian
1. Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
bagi institusi pendidikan, bagi peneliti, ilmu keperawatan, instansi
kesehatan atau Kelurahan tersebut.
2. Praktis
a. Bagi Institusi Kesehatan
Sebagai bahan informasi bagi instusi kesehatan terkait
dalam rangka perencanaan dan dalam menentukan arah
kebijakan pelayanan serta kepedulian terhadap lingkungan
sekitar.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sebagai
bahan bacaan bagi mahasiawa/i kesehatan UMI.
c. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan kepada masyarakat agar memiliki
kemandirian dan kesadaran untuk mewujudkan kesehatan
dengan menjaga kesehatan lingkungan.
d. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti
dalam memperluas wawasan dan pengetahuan dalam
mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Kebiasaan
1. Pengetrian Kebiasaan
Kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan secara periodik
dimana kebiasaan itu bukan sesuatu yang mutlak, bisa dibentuk
dan kebiasaan itu sendiri adalah titik temu dari pengetahuan,
ketrampilan dan keinginan, (Windra, 2009). Kebiasaan membuang
sampah ke kanal adalah sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat
secara periodik atau berulang-ulang, dalam hal ini membuang
sampah ke kanal tanpa masyarakat ketahui dampak yang dapat
ditimbulkan dari kebiasaan membuang sampah ke kanal tersebut.
Firman Allah SWT dalam surat QS. al-Rum (30), sebagai berikut :
َظَهَر اْلَفَس اُد ِفي اْلَبِّر َواْلَبْح ِر ِبَما َكَس َبْت
َأ
ْيِدي الَّناِس ِلُيِذيَقُهْم َبْعَض اَّلِذي َعِمُلوا َلَعَّلُهْم
َيْر ِج ُعوَن
Terjemahnya :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan
kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (kejalan yang benar)”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa kerusakan yang ada di
darat dan di laut / air disebabkan oleh manusia itu sendiri dan
apabila ini tidak diperhatikan atau terjadi terus menerus bisa saja
8
Allah SWT memberi sebagian dari akibat atau dampak dari
perbuatan mereka.
Permasalahan sampah kota diserahkan kepada
masyarakat, yang sebenarnya dapat diselesaikan masyarakat
sendiri dengan solusi yang menarik. Konsep yang ditawarkan,
yaitu oleh, dari, dan untuk masyarakat, dapat digunakan sebagai
dasar pijakan perilaku masyarakat terhadap sampah.
Sebagaimana diketahui, selama ini sampah yang diproduksi
masyarakat telah dibiayai oleh masyarakat dan pemerintah,
(Mulyadi, 2010).
Sampah merupakan media pertumbuhan dan
perkembangan bakteri atau parasit serta faktor beberapa penyakit
misalnya lalat, nyamuk dan tikus perlu diketahui bahwa lalat dan
kecoa adalah faktor penularan penyakit infeksi saluran
pencernaan. Sampah yang terbuang diselokan atau kanal akan
dapat menyebabkan banjir, menghalangi penetrasi sinar matahari
ke badan air, mengganggu kehidupan flora dan fauna air bahkan
sampai mengurangi kepadatan populasi atau pemusnahan flora
dan fauna tertentu sehingga dapat munurunnya daya dukung
badan air tersebut dan tidak sesuai peruntuknya semula.
Penanganan sampah yang selama ini dilakukan oleh masyarakat
adalah dengan cara membuang sampah ke kanal, hal ini
dikarenakan masyarakat merasa lebih praktis membuang sampah
9
kekanal tanpa memperhatikan dampak yang dapat ditimbulkan.
Cara seperti ini kurang bisa mengatasi masalah sampah karena
dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Pencemaran lingkungan berhubungan erat dengan sampah
karena sampah merupakan sumber pencemaran. Permasalahan
sampah timbul karena tidak seimbangya produksi sampah dengan
pengolahannya dan semakin menurunnya daya dukung alam
sebagai tempat pembuangan sampah. Di satu pihak, jumlah
sampah terus bertambah dengan laju yang cukup cepat,
sedangkan di lain pihak kemampuan pengolahan sampah masih
belum memadai, (Efendi, 2009).
Faktor yang Mempengaruhi Kebiasaan Masyarakat
membuang Sampah ke kanal adalah karena kurangnya fasilitas
tempat sampah, jarak antara tempat pembuangan akhir yang
sangat jauh, tingkat pengetahuan masyarakat kurang dan
pendidikan.
10
B. Tinjauan Umum Tentang Sampah
1. Pengertian Sampah
Sampah adalah bahan buangan bukan cairan yang
dihasilkan dari aktivitas domestik, komersial, pertanian, pelayanan
umum, pembangunan, pertambangan dan industri maupun bahan
buangan yang berasal dari suatu proses alami yang mungkin terjadi
(Entjang, 2000). Sampah adalah benda yang tidak terpakai, tidak
diinginkan dan dinuang atau sesuatu yang tidak digunakan, tidak
dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal
dari kegiatan manusia, serta tidak terjadi dengan sendirinya,
(Wahit, 2009).
Dari beberapa pengertian diatas dapat di simpulkan
bahwa sampah adalah bahan buangan bersifat padat yang dibuang
oleh manusia (pemilik aktivitas) yang berasal dari aktivitas manusia
tetapi tidak termasuk aktivitas biologis.
2. Sumber Sampah
Pada umumnya sumber sampah dihubungkan dengan
aktivitas manusia dan penggunaan (tata guna) lahan,
(Notoatmodjo, 2011). Klasifikasi sumber sampah yaitu :
a. Sampah yang berasal dari tempat pemukiman (domestic
wastes)
Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai
hasil kegiatan rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang,
11
seperti sisa-sisa makanan baik yang sudah dimasak/belum,
bekas pembungkus baik kertas, plastik, daun/pakaian-pakaian
bekas, bahan-bahan bacaan, perabot rumah tangga, daun-
daunan dari kebun / taman dan sebagainnya.
b. Sampah dari tempat umum
Sampah ini berasal dari tempat umum seperti pasir,
tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api dan
sebagainya. Sampah ini berupa : kertas, plastik, botol dan
sebagainya.
c. Sampah yang berasal dari perkantoran
Sampah dari perkantoran baik perkantoran
pendidikan (perdagangan) departemen, perusahaan. Sampah
ini berupa kertas, plastik, karbon dan sebagainya, umumnya
sampah ini bersifat kering dan mudah terbakar (rubbish).
d. Sampah yang berasal dari jalan raya
Sampah ini berasal dari pembersihan jalan yang
umumnya terdiri dari kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batu-
batuan, pasir, sobekan ban, onderdil kendaraan yang jatuh,
daun-daunan.
e. Sampah yang berasal dari industri (Industrial wastes)
Sampah ini berasal dari kawasan industri, termasuk
sampah yang berasal dari pembangunan industri dan segala
sampah yang berasal dari proses produksi, misalnya : sampah-
12
sampah pengepakan barang, logam, plastik, kayu, potongan
tekstil, kaleng dan sebagainya.
f. Sampah yang berasal dari pertambangan
Sampah ini berasal dari daerah pertambangan dan
jenis tergantung dari jenis usaha pertambangan itu sendiri,
misalnya batu-batuan, tanah / cadas, pasir, sisa-sisa
pembakaran (arang).
g. Sampah yang berasal dari pertanian/perkebunan (agricultural
waste)
Sampah ini sebagai hasil dari perkebunan atau
pertanian, misalnya jerami, sisa sayuran, batang padi, batang
jagung, ranting kayu yang patah.
h. Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan
Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan
ini, berupa kotoran ternak, sisa-sisa makanan, bangkai
binatang.
3. Jenis Sampah
Berdasarkan karateristik, (Notoatmodjo, 2011) sampah dapat
dibedakan menjadi :
a. Garbage
Jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan
hewan, sayur-sayuran dan hasil pengolahan, pembuatan dan
13
penyediaan makanan, sebagian besar berupa bahan-bahan
mudah busuk, lembab mengandung sejumlah air.
b. Rubbish
Terdiri dari sampah yang mudah terbakar atau tidak
terdapat atau sukar terbakar yang berasal dari rumah-rumah
pusat perdagangan, kantor-kantor tetapi tidak termasuk garbage
yang mudah terbakar umumnya berupa bahan organik seperti
kertas, karbon, kardus sedangkan yang tidak mudah terbakar
berupa bahan-bahan an organik logam-logam mineral gelas.
c. Debu (ashes)
Yaitu sisa-sisa pembakaran dari zat-zat yang mudah
terbakar baik di rumah, kantor atau industri.
d. Sampah jalanan (street sweeping)
Berasal dari pembersihan jalan dan trotoar baik
dengan tenaga manusia maupun mesin terdiri kertas-kertas,
kotoran, daun-daunan dan sebagainya.
e. Bangkai binatang (dead animal)
Yaitu bangkai-bangkai binatang yang mati karena
alam, penyakit atau kecelakaan.
4. Syarat-syarat tempat penampungan sampah
Tempat sampah adalah tempat untuk menyimpan
sampah sementara setelah dihasilkan yang harus ada pada setiap
sumber atau penghasil sampah seperti rumah tangga, rekreasi,
14
trotoar jalan terminal, alat kontrasepsi dan transportasi sebelum
sampah dikelola lebih lanjut.
a. Bila tempat pembuangan sampah tidak berupa kantong harus
memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut :
1) Terbuat dari bahan yang cukup kuat, ruang kedap air dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya.
2) Mempunyai penutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa
harus mengotori tangan terutama untuk tempat sampah
yang menampung jenis sampah yang mudah busuk.
3) Mudah diisi dan mudah dikosongkan serta mudah
dibersihkan.
b. Bila tempat penampungan sementara berupa bak beton harus
memenuhi persyaratan kesehatan yakni :
1) Harus kedap air, tertutup dan selalu dalam keadaan ditutup,
mudah dibersihkan sehingga mencegah timbulnya
pencemaran maupun masalah lalat, nyamuk dan tikus.
2) Volume mampu menampung sampah dari pemakai untuk
waktu satu hari.
Menurut Entjang (2000), sampah janganlah
ditempatkan di dalam rumah atau dipojok karena akan
merupakan gudang makanan bagi tikus-tikus sehingga
rumah banyak tikusnya dan tempat sampah sebaiknya :
15
a) Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan tidak
mudah rusak.
b) Harus ditutup rapat sehingga tidak menarik serangga
atau binatang-binatang lainnya seperti tikus, ayam,
kucing dan serangga.
c) Ditempatkan diluar rumah bila pengumpulannya
dilakukan oleh pemerintah, tempatkanlah tempat sampah
sedemikian rupa sehingga petugas pengumpul sampah
mudah mencapainya.
5. Macam – macam tempat penampungan sampah
Sampah rumah tangga biasanya banyak berasal dari sisa
sayuran, buah-buahan, ikan atau daging serta sisa makanan basi
selain itu dapat juga berupa plastik pembungkus, kertas, karton,
wadah kaleng dan logam (Notoatmodjo 2011). untuk macam
tempat penampungan sampah rumah tangga antara lain :
a. Kantung Plastik
Untuk jumlah yang sedikit khususnya sampah organik
sisa kegiatan dapur dan ruang makan sebaiknya sampah
tersebut dimasukkan ke dalam kantung plastik. Keuntungannya
ringan, isinya tidak banyak sehingga menbuangnya mudah dan
dapat melakukan maksimal setiap hari serta dapat diikat atau
ditutup dengan rapat sehingga tidak menimbulkan bau.
16
b. Keranjang Plastik
Wadah ini sebetulnya bersifat praktis akan tetapi akan
hanya berfungsi baik untuk mengumpulkan bahan kering.
Seandainya juga digunakan untuk tempat pengumpulan
sampah basah, maka bagian dalamnya sebaiknya dilapisi
dengan kantung plastik. Dengan demikian sampah masuk
kedalam kantung plastik tanpa mengotori keranjang plastiknya.
C. Tinjauan Umum Tentang Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kebiasaan Warga Membuang Sampah Ke Kanal
Manusia tidak bisa terlepas dari pola hidup sehat dan bersih.
Salah satu parameter yang digunakan adalah pola dan tingkah laku
dalam menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan dapat diartikan
sebagai keindahan lingkungan, penilaian dan tanggapan manusia
terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan. Sampah sebagai
benda “matter in the wrong place” dapat menimbulkan kondisi yang
kurang atau tidak nyaman dan mengurangi keindahan, karena wujud
fisiknya yang berserakan tidak pada tempatnya dan timbulnya bau
pada proses pembusukan. Kondisi ini menyebabkan menurunnya
estetika lingkungan. Sehingga masyarakat merasa tidak nyaman
berada pada lingkungannya, karena selain pemandangan yang tidak
enak juga karena timbulnya bau yang tidak sedap dari proses
pembusukan sampah tersebut.
17
faktor yang berhubungan dengan Kebiasaan Masyarakat membuang
sampah ke kanal adalah :
1. Pendidikan
Menurut Hermawan (2005) Untuk meningkatkan mutu
lingkungan, pendidikan mempunyai peranan penting karena melalui
pendidikan, manusia makin mengetahui dan sadar akan bahaya
membuang sampah ke kanal terhadap lingkungan, terutama
bahaya pencemaran terhadap kesehatan manusia dan dengan
pendidikan dapat ditanamkan berpikir kritis, kreatif dan rasional.
Semakin tinggi tingkat pendidikan selayaknya semakin tinggi
kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam pengelolaan
sampah.
Akibat dari rendahnya pendidikan dan minimnya
pengetahuan tentang membuang sampah ke kanal, maka
masyarakat kurang memperhatikan dampak yang akan
ditimbulkannya. Tingkat pendidikan masyarakat yang di hitung dari
rata-rata lama sekolah menjadi prasyarat untuk derajat kesehatan
masyarakat, baik secara langsung maupun secara tidak langsung
melalui ekonomi (Notoadmodjo, 2011).
2. Fasilitas
Kebiasaan masyarakat membuang sampah
sembarangan sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat
setempat hal ini disebabkan karena fasilitas sampah yang masih
18
kurang bahkan hampir tidak ada dan kekurangan ini menjadi
kebiasaan buruk dan ketidak pedulian warganya sendiri dengan
membiarkan sampah berserakan dijalan raya, selokan atau kanal
yang mengundang bau yang tidak sedap.
Sampah yang ada dilokasi sumber (kantor, rumah
tangga, hotel dan sebagainya) ditempatkan dalam tempat
penampungan sementara, dalam hal ini temapat sampah. Sampah
basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan dalam tempat
yang terpisah untuk memudahkan pemusnahannya. Kita ketahui
bahwa fasilitas sampah sangat dibutuhkan karena dengan adanya
fasilitas tersebut akan sangat membantu dalam proses
pembuangan sampah, (Wibowo, 2009). yang termasuk dalam
fasilitas sampah tersebut antara lain :
a. Tong Sampah
Wadah ini mempunyai sifat tahan lama, namun kurang
praktis, berat dan biasanya bersifat stationer karena ditanam di
dalam tanah sebaiknya tong sampah tidak ditempatkan terbuka,
karena mudah terkena hujan dan bau busuk menyebar. Selain
itu akan dikerumuni lalat, tikus, kucing dan anjing.
b. Bak Sampah
Wadah ini bersifat tahan lama dan tahan api. Bak
sampah hampir sama fungsinya dengan tong sampah.
19
3. Jarak
Masalah lingkungan hidup sebenarnya sudah ada sejak
dulu, masalah lingkungan bukanlah masalah yang hanya dimiliki
atau dihadapi oleh negara-negara maju ataupun negara-negara
miskin, tapi masalah lingkungan hidup adalah sudah merupakan
masalah dunia dan masalah kita semua, dalam hal ini masalah
lingkungan yang dimaksud adalah mengenai sampah, dimana
masalah sampah ini perlu mendapat perhatian khusus. Kebiasaan
membuang sampah yang baik masih perlu ditingkatkan, untuk
menciptakan lingkungan yang sehat. Sebab, sampai saat ini
kesadaran masyarakat untuk buang sampah pada tempatnya dinilai
masih rendah yang mengakibatkan tidak semua sampah produksi
rumah tangga masyarakat bisa terangkut berhubung dengan jarak
antara tempat pembuangan akhir yang sangat jauh, (Notoatmojo,
2008).
Kita ketahui bersama bahwa produksi sampah akan terus
meningkat apabila semakin banyaknya aktivitas manusia sehingga
proses pengolahan sampah akan semakin sulit disamping itu juga
faktor lain yang mempengaruhi Jarak dari sumber sampah ke
tempat pembuangan akhir sampah (TPA) yang jauh mempengaruhi
kebiasaan masyarakat membuang sampah ke kanal hal ini
disebabkan upaya pemberdayaan masyarakat menyediakan
tempat sampah disetiap rumah masih kurang.
20
4. Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo bahwa pengetahuan merupakan
hasil tahu, dan hal ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang. Perilaku yang didasari pengetahuan akan
lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Pengetahuan dapat membantu masyarakat tentang pentingnya
pelestarian lingkungan yang optimal. Dengan adanya
pengetahuan, masyarakat secara mandiri dapat mewujudkan
kesehatannya pribadi maupun keluarganya, (Notoatmojo, 2003)
Dalam kamus Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa
pengetahuan berasal dari kata "tahu" yang berarti mengerti
sesudah melihat, menyaksikan atau setelah mengalami, sedangkan
kata pengetahuan itu sendiri berarti segala sesuatu yang diketahui,
(Dessy, 2013).
Menurut Azrul A yang dikutip oleh Notoatmodjo yang
mengatakan penerapan pengetahuan tiap orang berbeda-beda.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu persepsi, emosi,
lingkungan fisik maupun non fisik, kebudayaan, iklim dan
sebagainya. Kognitif atau pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt
behaviour), karena dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa
21
perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari
pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, (Notoatmodjo,
2008) Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif
mempunyai enam tingkatan yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu atau know diartikan sebagai mengingat kembali
suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk
kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari
atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang
yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan
meramalkan terhadap obyek yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan hukum-
hukum, rumus, metode, prinsip dalam konteks atau situasi yang
lain.
22
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemmpuan untuk menjabarkan
materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi
masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya
satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan,
membedakan, memisahkan dan mengelompokkan.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah
suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi menunjuk kepada kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
obyek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan
wawancara atau angket untuk menanyakan tentang isi materi
yang ingin diketahui dari subyek penelitian atau responden.
Masyarakat sebagai sampel dalam penelitian ini
diharapkan minimal memiliki tingkat pengetahuan yang ketiga
yakni aplikasi sehingga dapat mendukung proses mengingat
23
kembali materi yang pernah diketahui untuk meningkatkan
pencegahan terhadap demam berdarah dengue. Sebelum
seseorang mengadopsi perilaku (perilaku baru), ia harus tahu
terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi
dirinya atau keluarganya. Pengetahuan tentang hubungan
antara jenis lingkungan sangat penting agar dapat
menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpadu dan
tuntas. Dewasa ini lingkungan hidup sedang menjadi perhatian
utama masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia umumnya.
Semakin luas pengetahuan yang dimiliki dan semakin
baik tingkat pemahaman tentang suatu konsep disertai cara
pemikiran dan penganalisaan yang tajam dengan sendirinya
memberikan persepsi yang baik pula terhadap objek yang
diamati.
24
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
Dalam upaya pencegahan kebiasaan warga tanjung dalam
membuang sampah ke kanal dibutuhkan adanya keterlibatan
masyarakat di dalamnya. Kesadaran masyarakat sendiri sangat
diperlukan untuk mengatasi masalah sampah dengan membangun
kesadaran untuk hidup bersih dan sehat.
Kebiasaan membuang sampah yang baik masih perlu
ditingkatkan, untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Sebab,
sampai saat ini kesadaran masyarakat untuk buang sampah pada
tempatnya dinilai masih rendah yang mengakibatkan tidak semua
sampah produksi rumah tangga masyarakat bisa terangkut berhubung
dengan tingkat pengetahuan yang rendah, fasilitas yang kurang
memadai serta jarak antara tempat pembuangan akhir yang sangat
jauh.
25
B. Bagan Kerangka Konsep
Variabel Independent Variabel Dependent
Pendidikan
Fasilitas
Kebiasaan Warga
Membuang Sampah
Jarak Tempat Sampah
Pengetahuan
Keterangan :
: Variabel yang diteliti.
: Variabel Independent.
: Variabel Dependent.
Gambar. 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
26
C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1. Variabel Independen
a. Pendidikan
Yang dimaksud pendidikan adalah jenjang pendidikan formal
yang pernah dilalui oleh responden dan mendapatkan ijazah.
Kriteria objektif :
Tinggi : Bila tingkat pendidikan responden tamat SLTA,Diploma
atau sarjana.
Rendah : apabila tingkat pendidikan responden, SLTP, SD atau
bahkan tidak sekolah.
b. Fasilitas
Yang dimaksud dengan Fasilitas adalah wadah yang digunakan
warga untuk menampung sampah.
Kriteria Objektif :
Ada : Bila responden dapat menjawab kousioner tentang
fasilitas ≥ 5 pertanyaan dengan benar.
Tidak Ada ` : Bila responden dapat menjawab < 5 pertanyaan.
c. Jarak Tempat Sampah
Yang dimaksud dengan Jarak tempat sampah adalah suatu
batasan antara tempat sampah dan tempat pembuangan
sampah.
27
Kriteria Objektif :
Jarak Sampah jauh : Bila responden dapat menjawab kousioner
tentang jarak tempat sampah ≥ 3
pertanyaan dengan benar.
Jarak Sampah dekat : Bila responden dapat menjawab < 3
pertanyaan.
d. Pengetahuan
Yang dimaksud dengan Pengetahuan adalah segala sesuatu
yang diketahui oleh responden mengenai perilaku membuang
sampah yang benar.
Kriteria Objektif :
Pengetahuan Baik : Bila responden dapat menjawab ≥ 5
pertanyaan tentang pengetahuan
dengan benar.
Pengetahuan Kurang : Bila responden dapat menjawab < 5
pertanyaan.
28
2. Variable Dependen (Kebiasaan Warga)
Yang dimaksud dengan Kebiasaan Warga adalah suatu perilaku
yang dilakukan secara berulang-ulang dalam hal ini kebiasaan
warga membuang sampah.
Kriteria Objektif :
Kebiasaan Baik : Bila responden menjawab ≥ 5 pertanyaan
dengan benar.
Kebiasaan Buruk : Bila responden menjawab < 5 pertanyaan.
29
D. Hipotesis Penelitian
1. Hipotesis Alternatif (Ha)
a. Ada hubungan tingkat pendidikan dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
b. Ada hubungan jumlah fasilitas sampah dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
c. Ada hubungan jarak tempat sampah dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
d. Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
2. Hipotesis Nol (Ho)
a. Tidak ada hubungan tingkat pendidikan dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
b. Tidak ada hubungan jumlah fasilitas sampah dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
c. Tidak ada hubungan jarak tempat sampah dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
d. Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan dengan kebiasaan
masyarakat membuang sampah ke kanal.
30
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
bersifat Analitik dengan pendekatan cross sectional study, dimana
peneliti melakukan pengukuran variabel pada saat bersamaan, yang
tujuanya untuk mendapatkan hubungan tentang faktor yang
mempengaruhi kebiasaan warga membuang sampah ke kanal di RW
II/RT 05 Kelurahan Jongaya Makassar.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan RW II/RT 05
Kelurahan Jongaya Kecamatan Tamalate.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24 Maret - 5 April
2014.
C. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai maka yang menjadi
populasi dalam penelitian ini adalah Keluarga RW II/RT 05 di
Kelurahan Jongaya Kecamatan Tamalate sebanyak 98 KK.
31
2. Sampel
Pendekatan Sampling yang dipakai ialah sampling non
probabilitas dengan metode purposive sampling (Notoatmodjo,
2012). Sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi, yaitu Keluarga di RW II/RT 05 kelurahan Jongaya
sebanyak 98 KK yang memenuhi kriteria inklusi dengan
menggunakan rumus Slovin Menurut (Arikunto, 2010) untuk
menentukan ukuran sampel minimal (n) jika diketahui ukuran
populasi (N) pada taraf signifikansi α adalah :
N.Z2.p.q
n=
α2(N-1)+Z2p.q
98.(1,96)2.0,5.0,5
n=
0,052(98-1)+(1,96)20,5.0,5
96,04
n=
1, 23
n= 78 Sampel KK
Keterangan :
N = Jumlah Populasi
n= Ukuran sampel minimal (1,96)
α= Taraf Signifikasi
Z= Standar Devisiasi Normal
32
P=Perkiraan proporsi Artibut, Jika tidak diketahui
maka p= (0,5)
q= 1-p
α= Tingkat Ketelitian (0,05)
Kriteria Inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari
suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti. Kriteria
Eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang
memenuhi kriteria inklusi dari studi karena sebagai sebab adapun
kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kriteria Inklusi
1) Bersedia menjadi responden
2) Keluarga yang tidak memiliki tempat sampah
3) Keluarga yang tidak berperilaku hidup bersih dan sehat
4) Keluarga yang berada di wilayah itu
5) Kebiasaan Keluarga yang membuang sampah ke kanal
b. Kriteria Eklusi
1) Tidak bersedia menjadi responden
2) Keluarga yang memiliki tempat sampah
3) Keluarga yang mengalami gangguan komunikasi
D. Instrumen Penelitian
33
Instrumen atau alat pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian dirancang oleh peneliti sesuai literatur yang ada,
instrumen yang digunakan adalah lembaran kuesioner. Kuesioner
yang dibuat oleh peneliti mengacu pada teori yang terkait dengan
faktor yang berhubungan dengan kebiasaan warga membuang
sampah ke kanal di RW II/RT 05 Kelurahan Jongaya Makassar.
Penilaian untuk masing-masing pertanyaan :
1. Untuk Fasilitas menggunakan skala Guttman. Pada pertanyaan
kuesioner fasilitas sampah warga telah disediakan alternatif
jawaban yaitu Ya atau Tidak. Setiap jawaban Ya akan di beri skor
atau nilai 1 dan jawaban tidak diberi skor atau niali 0. Dimana skor
tertinggi di ambil dari nilai median. Jumlah pertanyaan pengetahuan
masyarakat pada kuesioner sebanyak 10 pertanyaan, sehingga
nilai mediannya di tentukan sebagai berikut :
Skor tertinggi x jumlah pertanyaan → 1 x 10 = 10
Skor terendah x jumlah pertanyaan → 0 x 10 = 0
0-10 merupakan rentang nilai responden, jika nilai ini diurut dari
terkecil sampai terbesar, maka nilai median adalah 5.
2. Untuk Jarak Tempat Sampah menggunakan skala Guttman. Pada
pertanyaan kuesioner jarak tempat sampah warga telah disediakan
alternatif jawaban yaitu Ya atau Tidak. Setiap jawaban Ya akan di
beri skor atau nilai 1 dan jawaban tidak diberi skor atau niali 0.
Dimana skor tertinggi di ambil dari nilai median. Jumlah pertanyaan
34
pengetahuan masyarakat pada kuesioner sebanyak 6 pertanyaan,
sehingga nilai mediannya di tentukan sebagai berikut :
Skor tertinggi x jumlah pertanyaan →1x6=6
Skor terendah x jumlah pertanyaan → 0 x 6 = 0
0-6 merupakan rentang nilai responden, jika nilai ini diurut dari
terkecil sampai terbesar, maka nilai median adalah 3.
3. Untuk Pengetahuan warga menggunakan skala Guttman. Pada
pertanyaan kuesioner pengetahuan warga telah disediakan
alternatif jawaban yaitu Benar atau Salah. Setiap jawaban benar
akan di beri skor atau nilai 1 dan jawaban salah diberi skor atau
niali 0. Dimana skor tertinggi di ambil dari nilai median. Jumlah
pertanyaan pengetahuan masyarakat pada kuesioner sebanyak10
pertanyaan, sehingga nilai mediannya di tentukan sebagai berikut :
Skor tertinggi x jumlah pertanyaan → 1 x10 = 10
Skor terendah x jumlah pertanyaan → 0 x10 = 0
0-10 merupakan rentang nilai responden, jika nilai ini diurut dari
terkecil sampai terbesar, maka nilai median adalah 5.
4. Untuk kebiasaan warga (variabel dependen) menggunakan skala
Guttman. Pada pertanyaan kuesioner kebiasaan warga telah
disediakan alternatif jawaban yaitu Ya atau Tidak. Setiap jawaban
Ya akan di beri skor atau nilai 1 dan jawaban tidak diberi skor atau
niali 0. Dimana skor tertinggi di ambil dari nilai median. Jumlah
35
pertanyaan pengetahuan masyarakat pada kuesioner sebanyak 10
pertanyaan, sehingga nilai mediannya di tentukan sebagai berikut :
Skor tertinggi x jumlah pertanyaan → 1 x 10= 10
Skor terendah x jumlah pertanyaan → 0 x 10= 0
0-10 merupakan rentang nilai responden, jika nilai ini diurut dari
terkecil sampai terbesar, maka nilai median adalah 5.
E. Pengumpulan Data
1. Data Primer
Dilakukan dengan cara wawancara berstruktur dan
observasi langsung kepada warga RW II/RT 05 yang dijadikan
sampel. Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini
adalah lembar kuesioner untuk mendapat informasi yang diinginkan
peneliti.
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari RW II/RT 05 Kelurahan
Jongaya Kecamatan Tamalate Makassar.
36
F. Pengolahan dan Analisis Data
1. Pengolahan Data
a. Editing
Setelah data terkumpul maka dilakukan pemeriksaan
kelengkapan data, kesinambungan dan keseragaman data.
b. Koding
Dilakukan untuk mempermudah pengolahan data
yaitu memberikan simbol-simbol dari setiap jawaban responden.
c. Tabulating
Mengelompokan data dalam bentuk tabel yaitu
hubungan antara variabel dependen dan independen.
2. Analisis Data
Setelah memperoleh nilai dari masing-masing tabel,
selanjutnya data dianalisa dengan menggunakan komputer
program SPSS.
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dan
hasil penelitian. Analisis ini dilakukan dengan membuat tabel
distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan terhadap tiap variabel
independen dan dependen, dengan menggunakan uji statistik
37
chi-square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 yang dilakukan
dengan bantuan komputer SPSS.
G. Aspek Etik Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu
adanya rekomendasi dari pihak lain dengan mengajukan permohonan
izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini ketua RW II.
Setelah mendapatkan persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan
menekankan masalah etika penelitian yang meliputi :
1. Informed consent
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang
akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul
penelitian dan manfaat penelitian. Bila subjek menolak maka
peneliti tidak akan memaksakan kehendak dan tetap menghormati
hak-hak subjek.
2. Anonimity (tanpa nama)
Untuk manjaga kerahasian, peneliti tidak akan
mencantumkan nama responden tetapi lembar tersebut diberikan
kode.
3. Confidentiality
Kerahasiaan dari responden, peneliti hanya melaporkan
data sebagai hasil peneliti.