0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan14 halaman

Terapi Kognitif Finger Game untuk Lansia

terapi kognitif

Diunggah oleh

vinzadhea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan14 halaman

Terapi Kognitif Finger Game untuk Lansia

terapi kognitif

Diunggah oleh

vinzadhea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL TERAPI KOGNITIF “FINGER GAME” PADA

LANSIA DI PSTW SABAI NAN ALUIH SICINCIN


PROVINSI SUMATERA BARAT

Oleh Kelompok 3 :

1. Devalino Raihannanda (233110433)


2. Dhea Nabila Fitrah (233110434)
3. Farel Septa Rahabib (233110435)
4. Fella Silvani Jannan (233110437)
5. Ghina Dwi Apriliyanti (233110438)
6. Gina Sonia (233110439)
7. Helga Nurfajri Yanti (233110440)
8. Indah Fitri Ramadhani (233110441)
9. Keyshya Mauralia Putri Ramadhani (233110442)
10. Lidya Oksa Rahmadani (233110443)

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING KLINIK

( ) ( )

PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG


JURUSAN KEPERAWATAN
KEMENKES POLTEKKES RI PADANG
TA. 2025
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lansia (lanjut usia) merupakan bagian dari proses pertumbuhan dan
perkembangan yang berlansung dari anak-anak menjadi dewasa yang pada akhirnya
menua. Lansia mengalami penurunan neurologis, sensorik dan musculoskeletal
(Novianti et al., 2018). Menurut World Health Organization (WHO), lanjut usia
(lansia) adalah orang yang berusia 60 tahun atau lebih. UU Kesejahteraan Lanjut Usia
No. 13 Tahun 1998 berlaku bagi penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Umumnya
seseorang dianggap lanjut usia bila telah berusia lebih dari 60 tahun, namun definisi
ini sangat bervariasi tergantung dari pertimbangan sosial budaya, fisiologis dan
kronologis (Yuswatiningsih & Suhariati, 2021).

Kriteria hasil finger game pada lansia hipertensi meliputi penurunan


signifikan tekanan darah sistolik dan diastolik, tanda relaksasi fisik dan psikologis,
kepatuhan pasien selama sesi terapi, dan hasil yang dapat diverifikasi secara statistik.
Intervensi ini terbukti efektif sebagai terapi pendamping pengobatan farmakologis
dan dapat diulang secara rutin untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.

Permasalahan yang terjadi pada lansia adalah penurunan fungsi tubuh sejalan
dengan bertambahnya usia, salah satunya adalah penurunan fungsi kognitif.
Penurunan fungsi kognitif merupakan keadaan normal pada lansia, karena semakin
meningkatnya umur akan mengakibatkan perubahan anatomi seperti semakin
menyusutnya otak dan perubahan biokimiawi pada sususan saraf pusat sehingga
dapat menyebabkan terjadinya penurunan fungsi kognitif. Otak berfungsi sebagai
pusat pengaturan tubuh dan pusat kognitif dan merupakan organ tubuh yang sangat
rentan terhadap proses degeneratif (Sari dkk, 2016). Faktor yang dapat
mempengaruhi fungsi kognitif salah satunya adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik
dapat menstimulasi saraf sehingga dapat menghambat penurunan fungsi kognitif pada
lansia. Gerakan-gerakan yang terjadi ketika melakukan aktivitas fisik mampu
merangsang kerja sama pada otak dan bagian-bagian pada otak, sehingga aktivitas
fisik mampu mempertahankan dan meningkatkan aliran darah pada otak sebagai
nutrisi dan menjaga agar tetap sampai pada otak (Sari dkk, 2016).

“Fingers Game” adalah permainan sederhana menggunakan jari tangan yang


dirancang untuk merangsang kerja otak, melatih koordinasi gerakan, meningkatkan
konsentrasi, dan memperkuat daya ingat. Kegiatan ini dapat dilakukan secara
individu maupun kelompok dan memberikan suasana interaktif serta menyenangkan
bagi lansia ” (Padila. 2013).

Kelompok memilih intervensi finger game untuk pasien hipertensi karena


teknik ini merupakan bentuk relaksasi sederhana yang efektif menurunkan stres, salah
satu faktor utama yang dapat mengontrol tekanan darah. Finger game melibatkan
gerakan jari yang ritmis dan fokus perhatian, sehingga membantu menurunkan
aktivitas sistem saraf simpatis dan memunculkan respons relaksasi tubuh. Intervensi
ini sangat mudah dilakukan oleh pasien dari berbagai usia, termasuk lansia, karena
tidak memerlukan alat khusus, tidak membebani fisik, dan aman digunakan pada
pasien dengan kondisi kesehatan terbatas.

Selain itu, finger game dapat meningkatkan sirkulasi darah di tangan dan
memberikan sensasi nyaman yang mendukung kondisi rileks. Dari sisi keperawatan,
intervensi ini termasuk strategi non-farmakologis yang murah, sederhana, dan non-
invasif untuk membantu mengontrol tekanan darah. Sifatnya yang menyerupai
permainan juga membuat pasien lebih termotivasi dan antusias sehingga
meningkatkan partisipasi dalam terapi. Oleh karena itu, finger game dipandang
sebagai pilihan intervensi yang praktis, efektif, dan sesuai untuk mendukung
manajemen hipertensi.

B. Tujuan Terapi
1. Tujuan Umum
Meningkatkan fungsi kognitif dan kemampuan koordinasi motorik halus pada
lansia melalui stimulasi mental dan fisik yang ringan.
2. Tujuan Khusus
1) Lansia mampu mengelola dengan mempertahankan konsentrasi
2) Lansia mampu meningkatkan respon relaksasi fisiologis
3) Lansia dapat melatih ingatan jangka pendek melalui urutan gerakan jari.
4) Lansia dapat melatih koordinasi mata dan tangan.
5) Lansia merasa senang, rileks, dan lebih percaya diri setelah mengikuti
terapi.

C. Manfaat Terapi
1. Bagi Lansia: meningkatkan fungsi kognitif, memperbaiki suasana hati, serta
menurunkan tingkat stres dan kejenuhan.
2. Bagi Perawat: meningkatkan hubungan terapeutik dengan klien dan
mengembangkan kreativitas dalam intervensi gerontik.
3. Bagi Lingkungan Panti/Komunitas: menciptakan suasana positif dan
harmonis antar penghuni lansia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Terapi Kognitif
Terapi kognitif merupakan salah satu pendekatan dalam intervensi psikologis
yang berfokus pada proses berpikir individu, termasuk kemampuan mengingat,
menilai situasi, memecahkan masalah, dan menginterpretasi pengalaman hidup. Pada
lansia, terapi kognitif diarahkan untuk mempertahankan fungsi otak, mencegah
penurunan daya ingat, serta meningkatkan kualitas hidup melalui stimulasi mental
yang terstruktur. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami perubahan signifikan
dalam aspek kognitif seperti penurunan memori jangka pendek, berkurangnya
kecepatan berpikir, dan menurunnya kemampuan konsentrasi. Oleh karena itu, terapi
kognitif menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga kesehatan mental lansia.

Dalam konteks keperawatan gerontik, terapi kognitif digunakan untuk


mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif lansia, seperti daya ingat,
konsentrasi, orientasi, dan kemampuan berpikir logis. Pendekatan ini penting karena
lansia sering mengalami penurunan kognitif akibat proses degeneratif, penyakit
kronis, atau kurangnya stimulasi mental (Nugroho, W 2012).

B. Definisi Terapi Kognitif Fingers Game


Terapi kognitif Fingers Game merupakan salah satu bentuk stimulasi kognitif
yang dilakukan melalui permainan jari tangan. Permainan ini melibatkan koordinasi
antara gerakan motorik halus (jari) dan fungsi kognitif (daya ingat, perhatian, serta
konsentrasi).

Dalam pelaksanaannya, pasien atau lansia diminta untuk mengikuti instruksi


atau gerakan tertentu menggunakan jari-jarinya sesuai urutan atau hitungan yang
diberikan oleh terapis atau perawat. Misalnya, menggerakkan jari telunjuk dan ibu
jari secara bergantian, menghitung gerakan, atau menirukan pola tertentu. Fingers
game digunakan untuk melatih koordinasi otak dan tangan, meningkatkan daya ingat,
meningkatkan fokus dan perhatian, serta mencegah penurunan fungsi kognitif pada
lansia. Permainan ini juga dapat meningkatkan rasa senang, motivasi, dan interaksi
sosial selama terapi berlangsung (Nugroho, W 2012).

C. Landasan Teori Terapi Kognitif Game


1. Teori Kognitif (Aaron Beck, 1976)
Teori ini menjelaskan bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku saling
berhubungan. Perubahan dalam pola pikir akan memengaruhi emosi dan
tindakan seseorang. Dengan melatih fungsi berpikir melalui permainan seperti
Fingers Game, lansia dapat memperkuat koneksi kognitifnya sehingga lebih
mampu mengontrol reaksi emosional dan perilaku sehari-hari.
2. Teori Belajar (Cognitive Learning Theory)
Menurut teori belajar kognitif, proses belajar melibatkan persepsi, memori,
dan pemahaman. Fingers Game membantu lansia belajar melalui
pengulangan, pengamatan, dan pemrosesan informasi, yang menstimulasi
kerja otak terutama pada area memori dan konsentrasi.
3. Teori Neuroplastisitas Otak
Teori ini menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk
beradaptasi dan membentuk koneksi baru melalui latihan dan stimulasi
berulang. Fingers Game menjadi salah satu bentuk latihan ringan yang dapat
merangsang aktivitas saraf di otak, meningkatkan plastisitas neuron, dan
memperlambat proses degeneratif pada lansia.
4. Teori Aktivitas (Activity Theory of Aging)
Teori ini berpendapat bahwa lansia akan memiliki kehidupan yang lebih
bermakna dan sehat bila tetap aktif secara fisik, sosial, dan mental. Finger
Game merupakan aktivitas sederhana yang tidak hanya melatih fungsi
kognitif, tetapi juga menjaga interaksi sosial antar lansia selama kegiatan
berlangsung.
D. Faktor yang Mempengarhi Keberhasilan Terapi Fingers Game
1. Kondisi Fisik dan Kesehatan Lansia
Lansia yang mengalami kelemahan otot, nyeri sendi, atau gangguan
penglihatan mungkin mengalami kesulitan dalam mengikuti gerakan, sehingga
perlu penyesuaian intensitas dan durasi terapi.
2. Motivasi dan Partisipasi Lansia
Keberhasilan terapi sangat bergantung pada motivasi dan minat lansia untuk
berpartisipasi secara aktif dalam permainan. Sikap positif dan dukungan
emosional dapat meningkatkan hasil terapi.
3. Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Keluarga yang memberikan dorongan dan mendampingi lansia selama terapi
akan membantu memperkuat semangat dan keberlanjutan program terapi.
4. Keterampilan Perawat atau Terapis
Keberhasilan pelaksanaan Fingers Game juga dipengaruhi oleh kemampuan
perawat dalam memberikan instruksi yang jelas, suasana yang menyenangkan,
serta kemampuan mengadaptasi permainan sesuai tingkat kemampuan kognitif
lansia.
5. Frekuensi dan Durasi Terapi
Semakin rutin dan konsisten terapi dilakukan, semakin besar manfaat yang
diperoleh. Idealnya, permainan dilakukan 2–3 kali seminggu dengan durasi
sekitar 15–30 menit per sesi.
BAB III
PROPOSAL TERAPI KOGNITIF
A. Topik
Terapi kognitif : finger game atau permainan jari

B. Metode
Metode finger game merupakan bentuk terapi kognitif yang dilakukan melalui
permainan jari tangan untuk menstimulasi fungsi otak, meningkatkan
konsentrasi, serta melatih koordinasi motorik halus pada lansia.
Permainan ini menggunakan teknik gerakan sederhana jari-jari tangan yang
dilakukan secara berulang dan terarah. Dalam pelaksanaannya, perawat atau
terapis memberikan instruksi kepada peserta untuk melakukan gerakan jari
tertentu, seperti:
1. Menyentuhkan ibu jari dengan jari telunjuk, tengah, manis, dan kelingking
secara bergantian.
2. Membentuk pola angka menggunakan jari.
3. Menirukan gerakan yang dilakukan oleh pemimpin permainan (leader).
4. Melakukan kombinasi gerakan dengan irama atau hitungan tertentu.
Selama permainan, peserta diajak untuk berpikir, mengingat, dan menirukan
setiap pola gerakan yang diberikan. Aktivitas ini merangsang area otak yang
berhubungan dengan memori, konsentrasi, dan koordinasi motorik.
Metode dilakukan secara berkelompok (10-12 orang lansia) agar tercipta suasana
menyenangkan dan meningkatkan interaksi sosial antar peserta.

C. Kriteria Peserta Fingers Game (Lansia)


Peserta yang dapat mengikuti terapi kognitif Fingers Game harus memenuhi
kriteria sebagai berikut :
Kriteria Inklusi:
1. Lansia berusia 60 tahun.
2. Lansia dengan kondisi sadar penuh (tidak mengalami gangguan
kesadaran).
3. Lansia mampu mengikuti instruksi sederhana.
4. Tidak mengalami gangguan gerak berat pada tangan.
5. Bersedia mengikuti kegiatan secara sukarela.
Kriteria Eksklusi:
1. Lansia dengan gangguan kognitif berat (demensia lanjut).
2. Lansia dengan nyeri sendi ekstrem atau deformitas parah yang
menghambat pergerakan jari.
3. Lansia dengan gangguan pendengaran atau penglihatan berat yang
menghambat komunikasi.
4. Lansia yang sedang dalam kondisi sakit akut.

D. Proses Seleksi Peserta


Proses seleksi dilakukan untuk menentukan lansia yang layak mengikuti terapi
fingers game, langkah-langkah seleksi meliputi:
1. Identifikasi Awal:
Perawat melakukan pengkajian awal terhadap kondisi fisik dan kognitif
lansia melalui observasi dan wawancara ringan.
2. Penilaian Fungsi Kognitif:
Menggunakan alat sederhana seperti MMSE (Mini Mental State
Examination) atau tes orientasi waktu dan tempat, untuk menilai
kemampuan berpikir, mengingat, dan fokus lansia.
3. Penilaian Fisik:
Menilai kekuatan dan pergerakan tangan untuk memastikan lansia mampu
mengikuti gerakan Fingers Game.
4. Persetujuan dan E dukasi:
Lansia yang memenuhi kriteria diberikan penjelasan mengenai tujuan,
manfaat, dan cara pelaksanaan terapi, kemudian diminta kesediaannya untuk
berpartisipasi.

E. Uraian Struktur Kegiatan Fingers Game


Kegiatan terapi kognitif Fingers Game dilaksanakan melalui beberapa tahapan
sebagai berikut:
Waktu pelaksanaan
a. Hari/tanggal : kamis/ 13-11-2025
b. Tempat pertemuaan :wisma merpati
c. Waktu :11.00 /sd 11.30 WIB
d. Jumlah peserta : 10 lansia
Pengorganisasian
a. Moderator :
b. Leader : Dhea Nabila Fitrah
c. Co leader : Helga Nurfajri Yanti
d. Fasilitator : Ghina Dwi Apriliyanti, Lidya Oksa Rahmadani, Devalino
Raihannanda
e. Observer : Fella Silvani Jannan
f. Notulen : Gina Sonia
g. Dokumentasi : Farel Septa Rahabib, Indah Fitri Ramadhani, Keyshya
Mauralia Putri Ramadhani

F. Struktur Tugas Tim Pelaksana


Tahap Kegiatan Waktu PJ
Orientasi a. Memberikan salam 5 menit Moderator dan
b. Memperkenalkan diri / kelompok Leader
c. Meminta lansia memperkenalkan diri
d. Menanyakan bahasa yang akan
digunakan kepada lansia
e. Menjelaskan kondisi lansia saat ini
f. Menjelaskan tujuan dan prosedur
kegiatan
g. Menjelaskan aturan main:
- Lansia harus mengikuti kegiatan
dari awal sampai akhir.
- Kegiatan dilakukan selama 30
menit.
- Bila ingin keluar dari kelompok
harus meminta izin.
- Menanyakan kesiapan lansia
Kerja a. Mengatur posisi lansia sesuai
pembagian kelompok ( lansia dibagi
menjadi 2 kelompok)

b. Perawat menunjukkan satu kartu


warna acak pada peserta

c. Lansia menunjuk tangan dimana siapa


yang paling cepat dapat menebak dan
menyebutkan nama warna dengan
benar,

d. Setelah benar, peserta lain boleh


menambahkan contoh benda dengan
warna itu ( contoh “merah seperti
apel” )

e. Jika peserta menjawab dengan benar,


maka di berikan 1 nilai point, jika
jawaban salah maka diberikan point 0

f. 20 menit Leader Ulangi bergantian


hingga semua peserta dapat bergiliran

Terminasi a. Evaluasi 5 menit Leader


- Menanyakan perasaan peserta
setelah mengikuti TAK.
- Memberikan pujian atas
keberhasilan kelompok
b. Rencana Tindak Lanjut
- Menganjurkan lansia untuk bisa
melakukan kegiatan seperti ini
lagi di lain waktu
c. Berpamitan kepada klien
Setting Tempat :

: Leader
: Co leader
: Klien
: Fasilitator
: Observer
: Dokumentasi

Hasil dari observasi pelaksanaan terapi kognitif yaitu:

1. Leader berperan aktif dalam menyampaikan dan menjelaskan materi atau cara bermain
dengan baik,

2. Peran masing masing anggota lansia mampu mengikuti kegiatan dari awal hingga
selesai

3. Para lansia juga ikut serta dan aktif dalam permainan

4. 4 dari 6 lansia aktif dan 2 lainnya mengalami gangguan pendengaran jadi kurang aktif
dalam mengikuti kegitan yang dilakukan namun lansia tetap dapat mengikuti permainan
dengan didampingi para mahasiswa

5. Hasil akhir dari observer yaitu para anggota ikut berperan aktif dalam melaksanakan
kegiatan terapi kognitif dengan baik
BAB III

PENUTUP

Terapi kognitif adalah terapi jangka pendek dan dilakukan secara teratur,yang
memberikan dasar berpikir pada pasien untuk mengekspresikan perasaan negatifnya,
memahami masalahnya, mampu mengatasi perasaan negatifnya,serta mampu memecahkan
masalah tersebut. Peran perawat dalam pelaksanaan terapi kognitif diharapkan mampu
menerapkan terapi kognitif ini serta mendampingi pasien untuk memodifikasi cara
pikir,sikap, dan keyakinan untuk memutuskan perilaku yang tepat dalam menghadapi
pengobatan yang sedang dijalaninya.

Kognitif adalah suatu konsep yang komplek yang melibatkan aspek memori,
perhatian, fungsi eksekutif, persepsi , bahasa dan fungsi psikomotor (Nehlic, 2010)
Bertambahnya usia pada lansia, maka lansia juga akan mengalami masalah kesehatan, salah
satu masalah kesehatan yang sering muncul pada lansia adalah penurunan fungsi kognitif.
Fungsi kognitif dapat mempengaruhi tingkat kemandirian seseorang. Gangguan fungsi
kognitif sering berdampak pada kehidupan sosial, psikis serta aktivitas fisik para lansia.
Secara psikis gangguan kognitif ini dapat membuat para lansia mengalami frustasi hingga
depresi. Gangguan fungsi kognitif meliputi spektrum yang luas mulai dari fungsi kognitif
yang normal hingga jatuh pada demensia (Stanley, 2012).

Terapi kognitif finger game merupakan salah satu bentuk stimulasi nonfarmakologis
yang efektif untuk meningkatkan daya ingat, perhatian, konsentrasi, dan koordinasi motorik
halus pada lansia. Melalui permainan jari yang sederhana, terapi ini membantu merangsang
kerja otak dan memperbaiki fungsi kognitif tanpa menimbulkan kelelahan. Selain itu, Finger
Game dapat menciptakan suasana interaktif, menyenangkan, serta meningkatkan motivasi
dan interaksi sosial lansia. Oleh karena itu, terapi ini direkomendasikan untuk diterapkan
secara rutin sebagai bagian dari kegiatan peningkatan kualitas hidup lansia, baik secara
individu maupun kelompok (Nugroho, W 2012).
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2010). Pedoman Pelayanan Keperawatan Gerontik di Puskesmas. Jakarta:


Departemen Kesehatan.

Hurlock, E. B. (2012). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Nugroho, W. (2012). Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Jakarta: EGC.

Nursalam. (2016). Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Padila. (2013). Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2017). Fundamentals of Nursing. St. Louis: Mosby Elsevier.

Santrock, J. W. (2018). Life-Span Development. New York: McGraw-Hill Education.

Anda mungkin juga menyukai