0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan17 halaman

Penyuluhan Kontrasepsi untuk Ibu Nifas

Satuan acara penyuluhan kontrasepsi

Diunggah oleh

hananavisah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan17 halaman

Penyuluhan Kontrasepsi untuk Ibu Nifas

Satuan acara penyuluhan kontrasepsi

Diunggah oleh

hananavisah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KONTRASEPSI

isusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Pendidikan Profesi Bidan

Perceptor Akademik : Kentri Anggarina Gumanti, SST, [Link]


Perceptor Lahan : Bd. Masturoh, SST

Disusun Oleh:

Finna Shofiarisanti
NIM.250070500111040

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2025
SATUAN ACARA PENYULUHAN

PRAKONSEPSI

-​ Hari/Tanggal : 21 Agustus 2025


-​ Tempat ​ : Balai Desa Tajinan
-​ Waktu ​​ : 09.00 s/d selesai
-​ Pemateri ​ : Finna Shofiarisanti
-​ Sasaran ​ : Ibu Nifas dan Wanita Usia Sbuh (WUS)
-​ Metode ​ : Leaflet

1. Tujuan

1.1 Tujuan Intruksional Umum


Setelah diberikan penyuluhan diharapkan Ibu Nifas dan Wanita Usia Subur (WUS)
mampu memahami dan mengerti tentang KB sehingga dapat mempersiapkan jenis
KB yang akan digunakan.

1.2 Tujuan Intrusional Khusus


Setelah diberikan Penyuluhan ibu dapat
1. Dapat memahami dan menjelaskan tentang pengertian KB
2. Dapat memahami dan menjelaskan tentang manfaat KB
3. Dapat memahami dan menjelaskan tentang jenis-jenis, cara kerja, efektivitas,
keuntungan, indikasi, kontraindikasi, efek samping, cara dan waktu
pemberian atau pemasangan dari masing-masing alat kontrasepsi
4. Dapat menjelaskan tentang masalah yang mungkin terjadi jika WUS tidak
menjadi akseptor KB
2. Sasaran

Ibu Nifas, Wanita Usia Subuh (WUS)

3. Materi
1. Pengertian KB

2. Manfaat KB
3. Jenis-jenis, cara kerja, efektivitas, keuntungan, indikasi, kontraindikasi, efek
samping, cara dan waktu pemberian atau pemasangan dari masing-masing alat
kontrasepsi
4. Masalah yang mungkin terjadi jika WUS tidak menjadi akseptor

KB 4. Metode
1. Leaflet

5. Kegiatan Penyuluhan
5.1 Setting Waktu
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta

1 5 menit Pembukaan Menjawab salam


1. Membuka kegiatan dengan Mendengarkan
mengucapkan salam dan
2. Memperkenalkan diri memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan 4.
Memberikan leaflet kepada peserta 5.
Menyebutkan materi yang akan diberikan

2 15 menit Pelaksanaan Mendengarkan


1) Menjelaskan pengertian KB dan
2) Menjelaskan manfaat KB memperhatikan
3) Menjelaskan tentang jenis-jenis, cara
kerja, efektivitas, keuntungan, indikasi,
kontraindikasi, efek samping, cara
dan waktu pemberian atau
pemasangan dari masing-masing alat
kontrasepsi
4) Menjelaskan tentang masalah yang
mungkin terjadi jika WUS tidak menjadi
akseptor KB
3 10 Menit Evaluasi Mengajukan
1. Menanyakan kepada peserta tentang pertanyaan,
materi yang sudah disampaikan Menjawab,
2. Melakukan sharing dengan peserta 3. Mendengarkan
Memberikan kesempatan kepada peserta dan
untuk bertanya memperhatikan

4. 2 menit Terminasi Mendengarkan


1) Mengucapkan terimakasih atas peran dan Menjawab
serta peserta salam
2) Mengucapkan salam penutup

6. Pengorganisasian
1.​ Penanggung jawab : Qona’ah Ilmiladuni
2.​ Penyaji : Hana Navisah, Finna Shofiarisanti
3.​ Moderator : Caroline Sumira Ruliawan
4.​ Operator : Qona’ah Ilmiladuni
5.​ Dokumentasi : Thalia Putriani

7. Kriteria Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1. Kesiapan Media (Buku lembar balik, leaflet)
2. Sasaran minimal 80% orang hadir dalam ruangan
3. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa
a. Peserta memasuki ruangan yang telah disediakan
b. Penyaji menyampaikan materi selama 15 menit
c. Penyaji membuka sesi Tanya jawab selama 10 menit
d. Pengorganisasian dilakukan 2 hari sebelum pelaksanaan

b. Evaluasi Proses
1.​ Peserta mendengarkan dan memahami materi yang disampaikan oleh penyaji
2.​ Peserta tidak meninggalkan ruangan selama penyuluhan belangsung
3.​ Peserta bertanya aktif bertanya pada saat sesi tanya jawab berlangsung dan
dapat melakukan sharing yang dialami oleh peserta sesuai dengan topik
materi yang disampaikan
c. Evaluasi Hasil
1.​ Peserta memahami materi yang telah disampaikan selama acara berlangsung
2.​ Mengetahui pengertian KB, manfaat KB, jenis-jenis, cara kerja, efektivitas,
keuntungan, indikasi, kontraindikasi, efek samping, cara dan waktu pemberian
atau pemasangan dari masing-masing alat kontrasepsi, masalah yang mungkin
terjadi jika WUS tidak menjadi akseptor KB

d. Antisipasi Masalah
1. Apabila peserta tidak aktif dalam kegiatan dan tidak ada pertanyaan pada saat sesi
tanya jawab, penyaji dapat bertanya kepada peserta terkait dengan persiapan
persalinan yang sudah direncanakan saat ini.
2. Pertanyaan yang mungkin tidak dapat dijawab oleh penyaji 1 maka dilakukan oleh
penyaji yang lainnya.
MATERI

KELUARGA BERENCANA

1.1 Pengertian Program Keluarga Berencana

Keluarga Berencana diartikan sebagai salah satu dari program kegiatan untuk
membantu seorang pasangan suami istri yang bertujuan untuk mewujudkan keinginan
dalam mencegah kehamilan belum diinginkan, mengatur jarak kelahiran sesuai dengan
keinginkan pasutri, mengatur jumlah kehamilan ibu, menjarakkan periode kehamilan
didalam hubungan antar pasangan. Keluarga Berencana (KB) merupakan suatu program
dengan tujuan menciptakan keluarga yang sehat dan sejahtera dengan cara menjarakkan
kehamilan dan kelahiran dalam artian melakukan perencanaan terkaid dengan jumlah
anak dalam suatu keluarga. (Yanti & Wirastri, 2023)
Program KB dilaksanakan untuk memenuhi hak-hak reproduksi, sehingga keluarga
dapat mengatur waktu, jumlah, jarak kelahiran anak secara ideal sesuai dengan keinginan
atau tanpa unsur paksaan dari pihak [Link] Berencana (KB) dengan melalui
penggunaan metode kontrasepsi memungkinkan pasangan usia subur untuk
merencanakan kelahiran, menentukan jumlah anak yang diinginkan dan mengatur jarak
antar kelahiran. Dengan merencanakan jarak kelahiran dan mengendalikan pertumbuhan
penduduk, KB juga dapat menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan kesehatan
keluarga.

1.2 Tujuan Program Keluarga Berencana


Program Keluarga Berencana ini pada dasarnya memiliki maksud dan tujuan untuk
menekan laju pertumbuhan penduduk dengan cara memberikan solusi berupa
pemasangan ataupun pemakaian alat kontrasepsi (Dinas Kesehatan Kota Makassar,
2022) Tujuan Keluarga berencana antara lain sebagai berikut:

●​ Keluarga dengan anak ideal

●​ Keluarga sehat

●​ Keluarga berpendidikan

●​ Keluarga sejahtera
●​ Keluarga berketahanan

●​ Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya

●​ Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS).

1.3 Dampak program KB menurut Anggraini dan Wulandari (2019) antara lain:
●​ Penurunan angka kematian ibu dan anak
●​ Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi
●​ Peningkatan kesejahteraan keluarga
●​ Peningkatan derajat kesehatan
●​ Peningkatan mutu dan layanan KB-KR
●​ Peningkatan sistem pengelolahan dan kapasitas SDM
●​ Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi menajemen dalam penyelenggaraan
kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

1.4 Sasaran Program Keluarga Berencana

Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 menurut


Anggraini dan Wulandari (2020), meliputi :

●​ Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan pendudukan menjadisekitar 1,14


persen per tahun
●​ Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2per tahun.
●​ Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin
menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/ cara
kontrasepsi (unmet need) menjadi 6 persen.
●​ Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi rasional,efektif, dan
efesien.
●​ Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuanmenjadi 21
tahun.
●​ Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuhkembang
anak.
●​ Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang
aktif dalam usaha ekonomi produktiF
●​ Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalampenyelenggaraan
pelayanan program KB nasional

1.5 Kontrasepsi

1.​ Definisi kontrasepsi

Kontrasepsi juga dapat didefinisikan sebagai usaha–usaha untuk menunda


terjadinya pembuahan di rahim, dimana usaha yang dilakukan tersebut bisa bersifat
impermanen ataupun permanen. Kontrasepsi ini dilakukan oleh Pasangan Usia Subur
(PUS) yang aktif melakukan hubungan seksual dan belum menginginkan kehamilan.
2.​ Efektivitas (daya guna) kontrasepsi

Efektivitas atau daya guna pemakaian (use effectiveness), yaitu kemampuan


kontrasepsi dalam pemakaian sehari-hari dipengaruhi oleh sikap tidak hati-hati,
kurang disiplin dengan aturan pemakaian. Keberhasilan dalam menggunakan non
metode kontrasepsi jangka panjang dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan. Akseptor
KB pil yang tidak patuh tetapi berhasil kemungkinan pada saat akseptor tersebut
tidak mengkonsumsi KB pil dan tidak memasuki masa subur sehingga tidak terjadi
kehamilan (Ermawati, 2013). Hal ini sejalan dengan penelitian Widyawati et
al.,(2020) didapatkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan
dengan kejadian drop out KB. Perilaku drop out KB sebagian besar akibat efek
samping yang seharusnya dapat dicegah dengan meningkatkan pengetahuan calon
akseptor melalui konseling.

3.​ Macam-macam Metode Kontrasepsi

Macam-macam kontrasepsi menurut Mochtar (2018), antara lain:

1.​ Kontrasepsi Metode Sederhana


a.​ Tanpa Alat
1)​ KB alamiah, terdiri dari pantang berkala, metode kalender, metode suhu
badan basal, metode lendir serviks.
2)​ Coitus interuptus atau senggama terputus.
b.​ Dengan Alat
1)​ Mekanis (barrier), terdiri dari kondom pria, barierintra-vaginal
(diagfragma, kap serviks, spons, kondomwanita
2)​ Kimiawi, yang berupa spermisid (Vaginal cream, vaginal foam, vaginal
jelly, vaginal suppositoria, vaginal tablet dan vaginal soluble film).
a.​ Kontrasepsi Metode Modern
1)​ Kontrasepsi Hormonal
●​ Per-oral : pil oral kombinasi dan minipil.
●​ Suntikan atau injeksi KB, meliputi : depo proverasetiap 3 bulan,
norigest setiap 10 minggu dancyclofem setiap bulan.
●​ Sub-kutis (implant) atau alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) yang
meliputi implant dan norplant.
b.​ Kontrasepsi AKDR Non Hormonal
IUD (Intra Uteri Device )adalah Alat Kontrasepsi Dalam Rahim, yang
meliputi : Copper T, Medusa, Seven Copper T.
c.​ Metode Kontrasepsi Mantap
1)​ Pada wanita : Medis Operatif Wanita (MOW) : Tubektomi.
2)​ Pada pria : Medis Operatif Pria (MOP) : Vasektomi.

1.6 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi


Menurut Notoatmodjo (2014) perilaku terbentuk dalam diri seseorang dari dua faktor
utama yaitu faktor dari dalam diri (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Faktor internal
seperti karakteristik, motivasi, persepsi, sugesti. Sedangkan faktor eksternal atau stimulus
adalah lingkungan, sosial budaya, kepercayaan, ekonomi. Perilaku kesehatan yang dapat
diamati maupun tidak dapat diamati berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan seperti pemilihan alat kontrasepsi. Perilaku kesehatan dalam pemilihan
kontrasepsi berkaitan dengan beberapa faktor yaitu:
1.​ Umur
Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai
berulang tahun. Semakin cukup umur, seseorang akan lebih matang dalam berfikir
dan bekerja (Notoatmodjo, 2024). Umur merupakan salah satu faktor seseorang
untuk menjadi akseptor kontrasepsi. Umur berhubungan dengan struktur organ,
fungsi faaliah, komposisi biokimiawi termasuk sistem hormonal pada reproduksi
seorang wanita (Simanungkalit, 2018). Menurut Rahayu dan Prijatni (2016) Periode
usia istri antara 20 - 30 tahun merupakan periode usia paling baik untuk melahirkan,
dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 2 - 4 tahun.
Calon akseptor yang berumur lebih dari 30 tahun, kemungkinan sudah
memiliki jumlah anak yang cukup dan tidak menginginkan anak lagi. Jeniskontrasepsi
yang dipakai sebaiknya 11 disesuaikan dengan tahapan masa reproduksi.

2.​ Tingkat pengetahuan


Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam
tingkatan yaitu tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application),
analisis (analysis), sintesis (synthesis), evaluasi (evaluation). Berdasarkan penelitian
Wulan (2016) didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat
pengetahuan pasangan usia subur tentang metode kontrasepsi dengan pemakaian
kontrasepsi di Puskesmas Kartasura, responden yang pengetahuannya baik cenderung
menggunakan kontrasepsi non hormonal. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nikmawati (2017) menyebutkan bahwa terdapat
hubungan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan alat kontrasepsi.

3.​ Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk
mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau masyarakat, sehingga
mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo,
2012). Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau
kelompok orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Tingkat pendidikan suami
dan istri merupakan salah satu faktor yang menentukan pengetahuan dan persepsi
terhadap pentingnya suatu hal termasuk pentingnya pemilihan metode kontrasepsi
(Kusumaningrum, 2013). Akseptor dengan tingkat pendidikan rendah,
keikutsertaanya dalam program KB hanya ditujukan untuk mengatur kelahiran.
Sementara itu pada akseptor dengan tingkat pendidikan tinggi, menggunakan
kontrasepsi untuk mengatur kelahiran dan meningkatkan kesejahteraan keluarga
dengan cukup dua anak. Hal ini dikarenakan seseorang dengan tingkat pendidikan
lebih tinggi memiliki pandangan yang lebih luas tentang suatu hal dan lebih mudah
untuk menerima ide atau cara kehidupan baru (Indahwati et al., 2017).
4.​ Pengambilan keputusan

Menurut penelitian Setiadi dan Iswanto (2015) Pengambilan keputusan


penggunaan alat kontrasepsi dilakukan oleh pihak istri, suami maupun keputusan
bersama. Keputusan penggunaan kontrasepsi mayoritas dilakukan secara
bersamasama oleh suami dan istri. Manfaat keputusan menjadi peserta keluarga
berencana akan secara bersama-sama dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.
Penelitian yang dilakukan oleh Astuti dan Holidi (2015) bahwa keputusan
penggunaan alat kontrasepsi dominan dilakukan oleh suami dan istri secara bersama.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akbar (2016) bahwa
tidak ada hubungan peran suami dengan pengambilan keputusan kontrasepsi
hormonal (suntik) pada pasangan usia subur, pengambilan keputusan dominan
diambil oleh istri.

Ada beberapa faktor yang menjadikan ketidakadanya hubungan peran suami


dengan pengambilan keputusan kontrasepsi hormonal (suntik), yaitu budaya,
kesetaraan gender, efek samping, dan status kesehatan. Penelitian ini sejalan dengan
Puspitawati, (2013) bahwa kebudayaan yang dimotori oleh budaya patriarki
menafsirkan perbedaan biologis ini menjadi indikator kepantasan dalam berperilaku
yang akhirnya berujung pada pembatasan hak, akses, partisipasi, kontrol dan
menikmati manfaat sumber daya. Maka untuk menghindari adanya keterbatasan peran
dan fungsi hak pada setiap individu perlu adanya kesetaraan gender. Perempuan bisa
memilih atau mengambil sesuatu keputusan tanpa peran suami termasuk dalam
proses pengambilan keputusan kontrasepsi suntik.
5.​ Pengalaman
Pengalaman pemakaian kontrasepsi sebelumnya merupakan salah satu faktor
yang berperan penting dalam pemilihan metode kontrasepsi yang akan diputuskan
selanjutnya, hal ini terkait dengan pengalaman primer. Sementara pengalaman yang
dialami orang lain dalam pemakaian metode kontrasepsi dapat dijadikan pengalaman
sekunder yang dapat mempengaruhi seseorang akseptor KB dalam menentukan
metode kontrasepsi (Saragih dkk, 2018). Sebagian besar dari keseluruhan pengguna
KB yang menggunakan alat kontrasepsi menginginkan hal yang terbaik dan tanpa ada
efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi. Hal tersebut menunjukkan bawah
terdapat hubungan antara pengalaman KB dengan pemilihan metode kontrasepsi
(Indahwati et al., 2017). Hasil tersebut tidak sejalan dengan penelitian Saragih dkk
(2018) bahwa tidak ada hubungan antara faktor pengalaman dengan pemilihan
kontrasepsi Non IUD pada wanita usia subur.
6.​ Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan dalam keadaan hidup
(BKKBN, 2021). Paritas dapat dibagi menjadi beberapa istilah yaitu primipara adalah
wanita yang telah melahirkan seorang anak, multipara adalah wanita yang melahirkan
2 orang anak dan tidak lebih dari 4, grande multipara adalah wanita yang melahirkan
5 orang anak atau lebih (Manuaba, 2013). Jumlah anak merupakan salah satu faktor
yang paling mendasar mempengaruhi perilaku pasangan usia subur (keluarga) dalam
menggunakan metode kontrasepsi. Seseorang memutuskan mengikuti program KB
apabila anak yang masih hidup
sudah mencukupi jumlah anak yang diinginkan (Indahwati et al., 2017).
Jumlah anak menuju pada kecenderungan dalam membentuk besar keluarga yang
diinginkan. Jumlah anak dapat menjadi suatu faktor predisposisi 15 yang berkaitan
dengan pemilihan kontrasepsi (Saragih et al., 2018). Penelitian Mayasari et al.,
(2017) menyebutkan bahwa akseptor KB yang mempunyai anak kurang lebih atau
sama dengan 2 orang cenderung menggunakan KB suntik sebagai alat kontrasepsi
untuk mengatur jarak kehamilan. Semakin banyak anak yang dimiliki maka semakin
besar kecenderungan untuk menghentikan kesuburan sehingga memilih metode
kontrasepsi jangka panjang (Mayasari et al., 2020).
7.​ Sumber informasi
Sumber informasi merupakan segala hal yang dapat digunakan oleh seseorang
untuk mengetahui tentang hal baru dan memberikan landasan kognitif bagi
terbentuknya sikap seseorang. Sumber informasi diperoleh dari tokoh masyarakat,
tenaga kesehatan, media massa, dan keluarga yang memiliki peranan penting bagi
pasangan usia subur (PUS) dalam pemakaian kontrasepsi (Rachmayani, 2015).
Sumber informasi pada pasangan usia subur (PUS) dengan pemakaian
kontrasepsi mempunyai hubungan yang signifikan di Kelurahan Merak Kabupaten
Tangerang. Sebagian besar responden mendapat informasi kontrasepsi dari tenaga
kesehatan (Santikasari dan Laksmini, 2019). Peran petugas berhubungan dengan
pemilihan alat kontrasepsi karena sangat berperan dalam tahap akhir pemilihan alat
kontrasepsi (Andrianasti, 2014). Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam
memilih alat kontrasepsi dapat diyakinkan oleh petugas kesehatan yang menjadi
panutan di masyarakat (Simanungkalit, 2017). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian
Indriyanti (2011) bahwa sumber informasi tidak banyak mempengaruhi dalam
pemakaian kontrasepsi, namun yang paling mempengaruhi yaitu kerabat terutama
orangtua dari responden itu sendiri.
8.​ Jaminan ketersediaan kontrasepsi

Pada prinsipnya jaminan ketersediaan kontrasepsi ini berarti suatu sistem


yang akan menjamin setiap pasangan yang membutuhkan pelayanan metode
kontrasepsi sehingga dapat memperoleh alat, obat dan cara kontrasepsi yang efektif,
aman, mudah dijangkau, serta sesuai dengan kemampuan ekonomi (Saragih et al.,
2018).
DOKUMENTASI
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, B., George, E. 2021. Buku panduan praktis kontrasepsi edisi 3. Jakarta: Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Anita, S., Bancin, D. R., & Sitorus, F. (2021). PEMAHAMAN DAN DUKUNGAN SUAMI
TERHADAP KEIKUTSERTAAN IBU MENJADI AKSEPTOR KB IUD DI
KECAMATAN SECANGGANG LANGKAT. Jurnal Delima Harapan, 8(2), 70-74.
Anggraeni, Y. (2022). Pelayanan Keluarga Berencana.
ABKKBN. 2018. Policy Brief 5: Jangan Terlena dengan Pencapaian Angka Fertilitas Total
(TFR) Hasil Supas 2015 dan PMA 2015. Jakarta: Puslitbang KB dan KS. Ermawati, I.
(2013). Hubungan Antara Tingkat Kepatuhan dengan Keberhasilan Akseptor KB Pil. Sain
Med.

Hartanto, H. 2015. KB dan Kontrasepsi. Jakarta: Sinar Harapan

Huda, A., Wardani, R. S., & Purwanti, I. A. (2016). FAKTOR-FAKTOR YANG


BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN UNMET NEED KELUARGA BERENCANA DI
PUSKESMAS BANDARHARJO KECAMATAN SEMARANG UTARA (Studi di Kelurahan
Dadapsari) (Doctoral dissertation, UNIMUS).
Indahwati, L., Wati, L. R., & Wulandari, D. T. (2017). Karakterstik Ibu (Usia, Paritas,
Pendidikan, Pengalaman KB) Berhubungan dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi. Journal
of issues in Midwifery, 1(2), 9-18.
Karimang, S., Abeng, T. D. E., & Silolonga, W. N. (2020). Faktor Yang Berhubungan
Dengan Penggunaan Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Diwilayah Puskesmas Tagulandang
Kabupaten Sitaro. Jurnal Keperawatan, 8(1), 10-22.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Situasi dan Analisis Keluarga
Berencana. Kementerian Kesehatan RI, Pusat Data dan Informasi, Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Alat Bantu Pengambilan Keputusan
Ber KB. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Jakarta. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman Manajemen Pelayanan Keluarga
Berencana. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Bina Kesehatan Ibu dan Anak, Jakarta.
Kusumaningrum, R. A., Ambarwati, W. N., Ns, E. T. N., Kep, M., & Listyorini, D. (2013).
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pasangan Usia Subur (PUS) Tidak Memilih
Metode Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) Di Desa Pucangan Kecamatan Kartasura
Kabupaten Sukoharjo (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Manuaba, I. B. G. (2013). Ilmu Kebidanan, Kandungan dan Keluarga Berencana. Mayasari,
S., & Husin, A. (2017). Remaja genre: peluang menuju bonus demografi. Demography
Journal of Sriwijaya (DeJoS), 1(2), 4-8.
Marmi. (2016). Buku Ajar Pelayanan KB. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Mularsih, S.,
Munawaroh, L., & Elliana, D. (2018). Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Suami
Dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (Akdr) Pada Pasangan Usia Subur (Pus)
Di Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang. Jurnal Kebidanan, 7(2),
144.
Nikmawati, N. (2017). Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode
kontrasepsi jangka panjang. Jurnal Kebidanan, 6(12), 39-46.
Nilawati, S., & Hirawati, H. (2014). Hubungan dukungan suami dengan kepatuhan akseptor
KB suntik progestin melakukan suntik ulang di BPM ny. supiyah, Amd. keb Desa Muntung
Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung. Jurnal Keperawatan Maternitas, 2(2),
98-105.
Notoatmodjo, S., (2014), Ilmu Perilaku Kesehatan, Cetakan ke-2, Rineka Cipta. Jakarta.
Nugroho, M. A., & Widodo, P. B. (2014). Hubungan Antara Kedisiplinan Kerja Dengan
Produktivitas Kerja Pada Pegawai Kantor Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga
Berencana (Bppkb) Kabupaten Pati. Jurnal EMPATI, 3(4), 346-355.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat
Prasetyawati, A. E. (2011). Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk Kebidanan Holistk.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Prawerti, W., Runiari, N., & Ruspawan, M. (2019). Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik
Depo Medroksiprogesteron Asetat Dengan Kadar Kolesterol Pada Akseptor KB. Jurnal
Gema Keperawatan, 93–106.
Prijatni, I., Prijatni, I., & Rahayu, S. (2016). Kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.
Puspitawati, H. 2013. Konsep, Teori Dan Analisis Gender. Departemen Ilmu Keluarga Dan
Konsumen Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor
Rahmawati, R., Sukidin, S., & Suharso, P. (2018). Pemberdayaan Perempuan Korban
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan,
Perlindungan Anak Dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember. JURNAL
PENDIDIKAN EKONOMI: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, Ilmu Ekonomi Dan Ilmu Sosial,
12(2), 162-167.
Rizali, M.I. dkk. 2013. Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi
Suntik Di Kelurahan Mattoangin Kecamatan Mariso Kota Makassar Tahun 2013. Jurnal.
Bagian Biostatistik/KKB Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar
Santikasari, S., & Laksmini, P. (2019). Hubungan Sumber Informasi Dengan Pemakaian
Kontrasepsi di Kelurahan Merak Tangerang. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health
Sciences Journal, 10(1), 74-87.
Simanungkalit, N. (2017). Asuhan Kebidanan Pada Ny. P Hamil Trimester Iii Dengan
Anemia Sedang Sampai Dengan Pelayanan Keluarga Berencana Di Klinik Pratama
Tanjung Jl. Satria, Delitua.
SULISTYAWATI, D. (2013). Pelanggaran Hak Reproduksi Perempuan Dalam Pelaksanaan
Jampersal Berdasarkan Permenkes Nomor 2562/Menkes/Per/Xii/2011 (Studi kasus di dua
desa wilayah kerja puskesma Ngampel Kendal) (Doctoral dissertation, Unika Soegijapranata
Semarang).
Supiyani, T., & Akbar, A. (2020). Upaya Peningkatan Partisipasi PUS dalam Keluarga
Berencana di Dusun Gunung Kawung Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten
Tasikmalaya Tahun 2019. Jurnal Abdimas Kesehatan Tasikmalaya, 1(02), 5-8.
Widyawati, I., & Adi, A. S. (2020). Strategi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan
Anak Dan Keluarga Berencana Dalam Mengembangkan Kabupaten Layak Anak Di
Bojonegoro Tahun 2021. Journal of Civics and Moral Studies, 5(2), 33-50.

Anda mungkin juga menyukai