Proses Belajar dan Hasil Belajar Siswa
Proses Belajar dan Hasil Belajar Siswa
KAJIAN PUSTAKA
8
Sedangkan menurut Sanjaya (2008: 229) menyatakan bahwa “belajar pada
dasarnya adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi
dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang
bersifat positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap maupun
psikomotor”. Sedangkan menurut Jihad (2012: 1) mengungkapkan “belajar adalah
kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam
penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan
pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar
siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut maka dapat diambil
kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan tingkah laku pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses
belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan,
pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan, keterampilan dan kemampuan
serta perubahan aspek-aspek lain yang ada dalam individu. Kusnadi (2012: 33)
mengemukakan “tujuan belajar merupakan kemampuan siswa dalam memenuhi
suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar”.
Trianto (2009: 17) menyebutkan bahwa “pembelajaran secara sederhana
dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan
pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya
adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya dalam
rangka mencapai tujuan yang diharapkan”. Sedangkan Suherman (2003: 7)
menyatakan bahwa “pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang
memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu
siswa, sedangkan proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja
direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku”.
Alfain (2016: 114) berpendapat “proses pembelajaran seharusnya
dilakukan secara menyeluruh dan terpadu”. Menurut Djamarah dan Zain (2006:
61) “pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan
oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh siswa”.
9
Sedangkan Sanjaya (2008: 363) mendefenisikan “pembelajaran sebagai suatu
proses yang dinamis, berkembang secara terus-menerus sesuai dengan
pengalaman siswa”. Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa
dengan guru, dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar dalam rangka
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dari pembelajaran akan berdampak
pada perubahan tingkah laku dan pola pikir seseorang tersebut sebagai hasil dari
interaksinya dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku yang diharapkan adalah
perubahan tingkah laku yang mengarah ke sisi positif.
2.2 Hasil Belajar
Belajar dan hasil belajar memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat.
Hasil belajar merupakan faktor yang penting dalam pendidikan, secara umum
hasil belajar selalu dipandang sebagai perwujudan nilai yang diperoleh siswa
melalui proses pembelajaran. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3) mendefinisikan
“hasil belajar sebagai hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar”. Kegiatan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar dan hasil
belajar merupakan berakhirnya proses belajar. Hasil belajar tersebut dibedakan
menjadi dampak pengajaran dan dampak pengiring. Dampak pengajaran adalah
hasil yang dapat diukur, seperti angka rapor dan ijazah. Sedangkan dampak
pengiring adalah terapan pengetahuan dan kemampuan di bidang lain.
Menurut Kunandar (2013: 62) “hasil belajar adalah kompetensi atau
kemampuan tertentu baik kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dicapai atau
dikuasai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar”. Hamalik (dalam
Kunandar, 2013: 62) menjelaskan bahwa “hasil belajar adalah pola-pola
perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikap-sikap serta kemampuan
siswa”. Pajarini (2014: 3) mengatakan “hasil belajar merupakan suatu indikator
yang dapat menunjukkan tingkat kemampuan dan pemahaman siswa dalam
belajar”.
10
Zuhri dalam Selvika (2015: 9) menyatakan hasil belajar siswa dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga ranah (domain) antara lain:
a. Domain Kognitif (pengetahuan)
Domain kognitif mencakup tujuan-tujuan yang berkenaan dengan
kemampuan berfikir, yaitu pengenalan pengetahuan, perkembangan kemampuan
dan keterampilan intelektual. Domain kognitif memiliki enam tingkatan berfikir
yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), aplikasi atau penerapan (C3), analisis
(C4), sintesis (C5) dan evaluasi (C6).
b. Domain Afektif (sikap)
Domain afektif berhubungan dengan sikap dan nilai-nilai perilaku seseorang.
Walaupun hasil belajar matematika lebih didominasi dengan kemampuan kognitif,
nilai-nilai perilaku siswa juga merupakan dampak dari hasil belajar matematika,
siswa menjadi perhatian guru. Tipe hasil belajar afektif dapat tampak pada diri
siswa dalam berbagai tingkah laku seperti, perhatian terhadap pelajaran
matematika, motivasi dalam belajar matematika, serta menghargai setiap
pendapat. Oleh karena itu guru sebagai pengelola pembelajaran harus mampu
mendorong dan mengembangkan kesadaran siswa untuk meningkatkan perilaku-
perilaku yang diharapkan.
c. Domain Psikomotorik (Keterampilan)
Domain psikomotorik adalah bentuk keterampilan dan kemampuan siswa
[Link] ini lebih mengarahkan siswa dalam meningkatkan
kemampuannya memahami konsep dan aplikasi matematikanya. Hasil yang akan
dicapai dalam proses pembelajaran merupakan tujuan dari pembelajaran yang
mencakup tiga ranah (domain) yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Akibat dari
individu yang belajar adalah meningkatnya kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotor. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, seorang guru haruslah
memahami adanya faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, di mana
keberhasilan dan ketuntasan dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang datang dari dalam diri siswa maupun dari faktor-faktor
lingkungan sekitarnya. Menurut Slameto (2010: 54) “faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar ada dua, yaitu faktor internal (faktor dari dalam diri siswa)
11
adalah keadaan atau kondisi jasmani dan rohani dan faktor eksternal (faktor dari
luar siswa) adalah kondisi lingkungan di sekitar siswa.
Maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil kegiatan siswa
dari belajar dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau
pembelajaran yang dilakukan. Selain itu, hasil belajar merupakan suatu penilaian
akhir dari proses belajar yang telah dilakukan berulang-ulang yang membentuk
individu lebih baik lagi sehingga merubah cara berpikir serta perilaku. Hasil
belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil yang diperoleh siswa
kelasX MA Babunnajah Kampar pada proses pembelajaran matematika dalam
bentuk skor atau angka pada materi pokok trigonometrisetelah diterapkannya
pembelajaran [Link] atau angka diambil dari nilai post-test.
2.3 Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
2.3.1 Pengertian Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning)
12
Nurhadi dalam Muslich (2007: 41) menyebutkan “CTL merupakan konsep
belajar yang membantu guru dalam mengkaitkan antara materi yang dipelajari
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari”. Trianto (2009: 104) menyatakan bahwa “pembelajaran kontekstual atau
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep yang membantu
guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan”. Sedangkan Sanjaya (2008: 255)
mendefinisikan “pembelajaran kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran
yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat
menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan
nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan
mereka”.
Definisi yang dikemukakan oleh para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang menghubungkan materi
pelajaran yang diberikan guru dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga siswa melakukan proses pembelajaran dengan pemecahan masalah
untuk membangun pemikiran dan menemukan pengetahuan secara kritis dan
kreatif.
13
3) Mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga
menjadi pembelajar aktif dan terkendali.
4) Menekan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa.
5) Mendorong siswa belajar dari satu dengan yang lainnya dan belajar bersama-
sama.
6) Menggunakan penilaian autentik.
Menurut Jhonson dalam Hosnan (2014: 276), dalam pembelajaran
kontekstual ada tiga prinsip utama, yaitu:
1) Prinsip Saling Ketergantungan (Interdepence)
Setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini saling berhubungan dan
ketergantungan. Begitu pula dalam pendidikan dan pembelajaran, sekolah
merupakan sebuah sistem kehidupan yang terkait dalam kehidupan di rumah, di
tempat kerja dan di masyarakat. Dalam proses pembelajaran, siswa berhubungan
dengan bahan ajar, sumber belajar, media dan sarana prasarana belajar.
Pembelajaran kontekstual menekankan hubungan antara bahan pelajaran dengan
yang lainnya, antara teori dengan praktik, antara bahan yang bersifat konsep
dengan penerapan dalam kehidupan nyata.
2) Prinsip Perbedaan (Differentation)
Prinsip perbedaan berguna untuk mendorong siswa menghasilkan
keberagaman, perbedaan, dan keunikan yang akan menciptakan kemandirian
dalam belajar, berpikir kritis dan kreatif, serta kemampuan dalam
mengidentifikasi potensi pribadi. Sehingga siswa dapat berkolaborasi dengan
teman-temannya untuk melakukan pengamatan, menghimpun dan mencatat fakta
dan informasi menemukan prinsip-prinsip dan pemecahan masalah.
3) Pengorganisasian Diri (Self Organization)
Prinsip pengorganisasian diri atau pengaturan diri menuntut para pendidik di
sekolah agar mendorong setiap siswa untuk memahami dan merealisasikan semua
potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin. Dalam hal ini pembelajaran
kontekstual diarahkan untuk membantu para siswa untuk mencapai keunggulan
akademik, penguasaan keterampilan standar, dan pengembangan sikap dan moral.
14
Johnson dalam Hosnan (2014: 277) menyatakan:
Terdapat delapan karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu:
1) Melakukan hubungan bermakna
2) Mengerjakan pekerjaan yang berarti
3) Mengatur cara belajar sendiri
4) Bekerja sama
5) Berpikir kritis dan kreatif
6) Memelihara pribadi siswa
7) Mencapai standar yang tinggi
8) Menggunakan penilaian sebenarnya.
Pembelajaran kontekstual menurut Priyatni dalam Hosnan (2014: 278)
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran
yang mengarahkan siswa agar memiliki keterampilan dalam proses mencari
dan menemukan pemecahan masalah dalam konteks nyata atau pembelajaran
yang menghubungkan pengalaman belajar dengan lingkungan (learning in real
life setting).
2) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-
tugas yang bermakna (meaningful learning).
3) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada
siswa melalui proses mengalami, sehingga pengetahuan dan pengalaman yang
diperoleh bukan hasil transfer orang lain, tetapi diperoleh melalui interaksi
dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan (learning by doing).
4) Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling
mengoreksi (learning in a group).
5) Kebersamaan, kerja sama saling memahami dengan yang lain secara mendalam
merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang
menyenangkan (learning to know each other depply).
6) Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, dan mementingkan kerja sama
(learning to ask, to inquiry, to work together).
15
7) Pembelajaran dilaksanakan dengan cara menyenangkan yang membuat siswa
dapat menikmati pembelajaran dengan merasa nyaman, aman, dan asyik
(learning as an enjoy activity).
16
4. Masyarakat Belajar (Learning Community), maksudnya adalah membiasakan
siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari
teman dan lingkungannya. Hasil belajar diperoleh dari kerja sama antarteman,
antarkelompok melalui berbagi pengalaman dan informasi. Sehingga siswa
terbiasa untuk saling memberi dan menerima.
5. Pemodelan (Modelling), konsep pemodelan dalam pembelajaran kontekstual
maksudnya yaitu pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti
dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa
pemberian contoh tentang cara mengoperasikan sesuatu atau menunjukkan
hasil karya. Cara pembelajaran seperti ini akan lebih cepat dipahami siswa dari
pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa
menunjukkan model atau contoh.
6. Refleksi (Reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau
berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Dalam
proses pembelajaran kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat kembali apa yang
telah dipelajari. Realisasinya dapat berupa pernyataan langsung terhadap apa
yang diterima, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa
mengenai pembelajaran hari itu, diskusi, dan hasil karya.
7. Penilaian Autentik (Authentic Assessment). Komponen yang menjadi ciri khas
dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang
bisa memberikan informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa.
Penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan apa
yang sudah mereka pelajari. Penilaian autentik diarahkan pada proses
mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika
dalam proses pembelajaran berlangsung.
17
2.3.4 Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching
and Learning)
Pembelajaran kontekstual terdiri dari beberapa tahap pembelajaran yang
diawali dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan diakhiri dengan refleksi
pembelajaran. Berikut adalah tahap-tahap pembelajaran melalui pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL):
18
3 Penutup Membimbing siswa Merangkum atau Transferin
merangkum atau menyimpulkan g
menyimpulkan materi yang telah
semua materi yang dipelajari.
telah dipelajari Mengerjakan soal-
Memberikan tes. soal tes.
Sumber: Hosnan (2014: 278)
Berdasarkan tahap pembelajaran kontekstual yang diadaptasi dari Hosnan
(2014: 278) dan komponen utama dalam pembelajaran kontekstual dari Riyanto
(2009: 169), maka tahap pelaksanaan pembelajaran kontekstual dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini guru mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa silabus,
RPP, LAS, kisi-kisi soal pretest dan posttest, soal pretest dan posttest, alternatif
jawaban pretest dan posttest, penilaian autentik dan menentukan kelompok
belajar. Untuk pembentukan kelompok ditentukan berdasarkan nilai yang
diperoleh dari ulangan harian sebelumnya dengan anggota kelompok belajar
bersifat heterogen
2. Tahap Pelaksanaan
(1) Kegiatan Pendahuluan
a) Guru mempersiapkan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran
dengan cara berdo’a sebelum belajar, menanyakan kabar dan mengecek
kehadiran siswa.
b) Guru menjelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang akan
dilakukan yaitu pembelajaran kontekstual.
c) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi
kepada siswa (Relating, Cooperating).
d) Guru menyampaikan materi prasyarat yang berhubungan dengan materi
yang akan dipelajari dan menghubungkannya dengan materi yang akan
dipelajari (Relating)
e) Guru mengkontruksikan pemahaman awal siswa melalui benda-benda
nyata dan menyampaikan materi secara garis besar dengan
19
menghubungkan materi ke dalam kehidupan nyata siswa serta
memberikan contoh (Contructivism, Modelling).
f) Guru membagikan LAS kepada masing-masing siswa disetiap
kelompok.
(2) Kegiatan Inti
g) Guru meminta siswa mengamati dan memahami masalah yang terdapat
pada LAS (Contructivism).
h) Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya serta
mengajukan pertanyaan yang terkait dengan masalah yang telah diamati
dalam LAS (Questioning, Authentic Assessment).
i) Guru meminta siswa untuk berdiskusi dalam kelompoknya.
j) Mendorong siswa untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan
masalah pada LAS (Learning Community).
k) Guru berkeliling mencermati siswa bekerja pada kelompoknya masing-
masing dan memberi bantuan jika diperlukan (Questioning).
l) Guru meminta siswa menyusun informasi sehingga diperoleh jawaban
sementara (Inquiry).
m) Guru meminta siswa untuk menarik kesimpulan (Reflection).
n) Salah satu siswa mewakili kelompoknya untuk mencabut undian
(Modelling).
o) Kelompok pertama dst mempresentasikan hasil kerja (Modelling,
Learning Community, Authentic Assessment).
p) Kelompok lain memberikan tanggapan (Questioning, Learning
Community, Authentic Assessment).
(3) Kegiatan Akhir
q) Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari (Reflection,
Authentic Assessment).
r) Guru memeriksa LAS untuk mengetahui pemahaman siswa (Authentic
Assessment).
s) Guru mengingatkan siswa tentang materi yang akan dipelajari pada
pertemuan berikutnya.
20
t) Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam.
2.3.5 Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning)
Hosnan (2014: 279) mengungkapkan:
Kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran kontekstual, yaitu:
Kelebihan:
1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan nyata. Artinya, siswa dituntut untuk
dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan
kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat menghubungkan
materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, siswa akan mengetahui secara
fungsional dari mempelajari materi tersebut dan materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep
kepada siswa karena metode pembelajaran kontekstual menganut aliran
konstruktivisme, di mana seorang siswa dituntun untuk menemukan
pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme, siswa
diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghafal”.
Kelemahan:
1) Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola
kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan
dan keterampilan yang baru bagi siswa. Guru lebih intensif dalam
membimbing, siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan
dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru
bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksa kehendak,
melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai
dengan tahap perkembangannya.
2) Guru hanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau
menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar menyadari dan dengan
sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun,
dalam konteks ini, tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang
21
ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang
diterapkan semula.
2.3.6 Pengaruh Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) Terhadap Hasil Belajar Matematika
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru
menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dan
pengaruh dalam kehidupan. Pembelajaran kontekstual mengutamakan penerapan
materi pelajaran pada kehidupan sehari-hari siswa, sehingga siswa dapat
merasakan materi yang dipelajarinya itu lebih bermakna. Situasi belajar dengan
mencontohkan benda-benda, kejadian yang sering dijumpai dan menghubungkan
materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa akan menghilangkan
kejenuhan dalam belajar.
Pembelajaran kontekstual mendorong siswa ikut berpartisipasi secara aktif
karena pembelajaran berlangsung dalam bentuk kegiatan siswa bekerja sama dan
mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Kegiatan
pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep nyata yang berhubungan
dengan materi yang dipelajari. Hal ini akan membantu siswa dalam memahami
makna dan kegunaan matematika. Sehingga pembelajaran kontekstual akan
meningkatkan minat dan ketertarikan siswa dalam belajar serta dalam
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh ke kehidupan nyata. Selain
itu, menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari membuat
pembelajaran lebih bermakna yang akan berdampak pada prestasi akademik dan
meningkatnya hasil belajar siswa.
2.4 Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran secara konvensional merupakan pembelajaran yang biasa
dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran di sekolah. “Pembelajaran
konvensional adalah pembelajaran yang terpusat pada guru sehingga siswa
menjadi pasif dalam kegiatan pembelajaran” (Hosnan, 2014: 273).
Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru bidang studi matematika kelas X
22
MA Babunnajah Kampar. Penerapan pembelajaran konvensional dalam penelitian
ini berdasarkan observasi yang peneliti lakukan. Langkah-langkah pembelajaran
yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan Pendahuluan
1) Guru menyiapkan siswa dan dilanjutkan dengan mengecek kehadiran
siswa.
2) Guru memberi apersepsi tentang materi yang telah dipelajari sebelumnya.
3) Guru memberi motivasi kepada siswa yang menjawab benar dengan kata
pujian
4) Guru menyampaikan materi pokok dan tujuan dalam pembelajaran
2. Kegiatan Inti
5) Guru menjelaskan materi pelajaran dengan metode ceramah
6) Siswa mengamati penjelasan guru tentang materi
7) Guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya
8) Siswa mengajukan pertanyaan
9) Siswa mengumpulkan informasi
10) Guru memberikan contoh soal
11) Siswa memahami materi dan mencatat
12) Guru memberikan soal
13) Siswa mengerjakan soal
3. Kegiatan Penutup
14) Guru dan siswa menyimpulkan materi
15) Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari berikutnya
16) Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
2.5 Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan yaitu:
1. Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Selvika (2015: 54) menyimpulkan
bahwa terdapat pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar
matematika siswa kelas VII SMP Negeri 3 Kuantan Hilir.
23
2. Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Saputra (2013: 9) menyimpulkan
bahwa pendekatan kontekstual berpengaruh terhadap hasil belajar
matematika siswa di SMP Negeri 4 Bukit Kemuning Lampung Utara.
2.6 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis pada penelitian ini adalah
terdapat pengaruh yang signifikan pembelajaran kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas X MA
Babunnajah Kampar.
24