Nama : Muhammad Wirya Nur F
Cabang Cirebon
Pokok Materi : Studi Gerakan Islam 1
Tema : HmI Sebagai Jembatan Intelektual antara Tradisi Islam Klasik dan Gerakan Islam
Modern
Pemateri : Kyai Taufiq
Materi forum ini menyoroti peran HMI sebagai entitas yang berfungsi sebagai jembatan
intelektual antara khazanah tradisi Islam klasik dan dinamika gerakan Islam modern. Dalam
forum, pemateri menjelaskan bahwa HMI tidak hanya sekadar organisasi kader, tetapi juga
memainkan peran penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai keilmuan Islam klasik seperti
ijtihad, adab al-‘alim, dan maqāṣid al-syariah ke dalam diskursus modernisme Islam dan
gerakan sosial-politik.
Forum juga menyinggung bagaimana HMI mengadaptasi pemikiran tokoh seperti Al-Ghazali
dan Ibn Khaldun, lalu menghubungkannya dengan gagasan kontemporer seperti Islam
progresif, keadilan sosial, dan demokrasi. Beberapa peserta menekankan bahwa HMI telah
berhasil menjadikan masjid dan kampus sebagai poros utama gerakan keilmuan. Namun
muncul pula kritik mengenai lemahnya regenerasi pemikiran dan hilangnya etos keulamaan
di tengah tantangan modernitas. Hal ini memunculkan pertanyaan: Apakah HMI masih
mampu menjaga relevansi sebagai ruang sintesis antara dua kutub tradisi dan modernitas
Islam?
Gagasan HMI sebagai jembatan antara Islam klasik dan modern dapat dianalisis melalui teori
Continuity and Change dalam studi gerakan sosial Islam. Teori ini menyatakan bahwa
keberhasilan suatu gerakan Islam modern ditentukan oleh kemampuannya dalam merawat
kontinuitas nilai tradisional sembari merespons tantangan zaman secara adaptif. Dalam
konteks HMI, hal ini tampak melalui integrasi konsep habl min Allah (nilai transendental)
dan habl min al-nas (nilai sosial-politik) dalam agenda gerakannya.
Sebagai kader HMI yang aktif di tengah arus disrupsi digital dan perubahan sosial cepat, saya
menyadari bahwa peran organisasi ini sebagai jembatan antara Islam klasik dan modern
sangat relevan dengan tantangan hari ini. Di tengah derasnya informasi dan minimnya kajian
mendalam, forum ini mengingatkan saya bahwa menjadi kader HMI bukan hanya soal
pergerakan massa, tetapi juga soal kelanjutan tradisi keilmuan Islam.
Referensi
Rahmat, M. (2023). “Revitalisasi Intelektualisme Islam di Tengah Krisis Modernitas:
Tinjauan atas Peran Mahasiswa”. Jurnal Pemikiran Islam Kontemporer, 5(2), 87–103.
Harahap, D. (2021). “HMI dalam Dialektika Gerakan Islam: Antara Tradisi Keilmuan dan
Dinamika Sosial Politik”. Jurnal Studia Islamika, 28(1), 55–72