0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan26 halaman

Jenis-Jenis Makna dalam Bahasa

relasi makna

Diunggah oleh

atulummah4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan26 halaman

Jenis-Jenis Makna dalam Bahasa

relasi makna

Diunggah oleh

atulummah4
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang

Maha Esa atas limpahan rahmat, taufik, dan karunia-Nya


sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Jenis-Jenis Makna dalam Satuan Bahasa”. Makalah ini disusun
sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Semantik yang
diampu oleh Ibu Dr. Yulia Sri Hartati, S.S., [Link].

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memperdalam


pemahaman mengenai berbagai jenis makna yang terdapat dalam
satuan bahasa, serta bagaimana makna- makna tersebut
berperan dalam pembentukan arti dan pesan dalam komunikasi.
Dalam proses penyusunannya, penulis banyak mendapat arahan,
dorongan, dan bantuan dari berbagai pihak.

Untuk itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang


tulus kepada Ibu Dr. Yulia Sri Hartati, S.S., [Link]., selaku dosen
pengampu yang telah membimbing serta memberikan
pengetahuan yang sangat berharga. Ucapan terima kasih juga
penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung,
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari


sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun
sangat penulis harapkan demi perbaikan pada karya selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah
wawasan, baik bagi penulis maupun bagi para pembaca yang
ingin memahami kajian tentang makna bahasa secara lebih
mendalam.

Padang, 26 Oktober 2025


Penulis
i

ii

1.1_____________________________________________Latar Belakang 1
2.1__________________________________________Rumusan Masalah 2
3

2.1__________________________________________Pengertian Makna 3
2.2_________________________________________________Jenis Makna 4
1

3.1__________________________________________________Kesimpulan 11
12
Bahasa merupakan alat utama manusia untuk berkomunikasi,
menyampaikan pikiran, perasaan, dan gagasan. Melalui bahasa,
manusia dapat membangun hubungan sosial, mengembangkan
ilmu pengetahuan, serta mengekspresikan budaya. Namun, untuk
memahami bahasa secara mendalam, tidak cukup hanya melihat
bentuk lahiriahnya saja, melainkan juga harus memahami makna
yang terkandung di dalamnya. Makna menjadi unsur penting yang
menjadikan suatu bentuk bahasa memiliki arti dan fungsi dalam
komunikasi.

Dalam kajian semantik, makna dipelajari sebagai inti dari


penggunaan bahasa. Setiap satuan bahasa, baik kata, frasa,
maupun kalimat, mengandung makna yang dapat berbeda-beda
tergantung pada konteks dan penggunaannya. Oleh sebab itu,
memahami jenis-jenis makna menjadi hal yang sangat penting
agar seseorang dapat menafsirkan pesan bahasa secara tepat.
Kesalahan dalam memahami makna dapat menimbulkan salah
pengertian, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam
penulisan ilmiah.

Jenis-jenis makna dalam bahasa mencakup makna leksikal,


gramatikal, referensial, konotatif, denotatif, idiomatik, dan
sebagainya. Setiap jenis makna memiliki karakteristik dan fungsi
tersendiri yang memperkaya sistem makna dalam bahasa. Melalui
pemahaman terhadap berbagai jenis makna ini, pembelajar
bahasa dapat lebih mudah mengenali bagaimana suatu kata atau
kalimat memperoleh arti tertentu sesuai dengan konteksnya.

Oleh karena itu, pembahasan mengenai jenis-jenis makna


dalam satuan bahasa menjadi penting untuk dikaji. Selain dapat
menambah wawasan linguistik mahasiswa, kajian ini juga
membantu dalam memahami struktur makna bahasa Indonesia
secara lebih komprehensif. Dengan demikian, diharapkan
mahasiswa mampu menganalisis makna satuan bahasa dengan
tepat sesuai dengan konteks penggunaannya.
Adapun rumusan masalah yang menjadi pedoman dalam
pembahasan makalah yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan makna dalam kajian semantik?

2. Apa saja jenis-jenis makna yang terdapat dalam satuan


bahasa?

3. Bagaimana karakteristik dan perbedaan antara setiap jenis


makna?

4. Bagaimana peran pemahaman jenis makna dalam


menganalisis satuan bahasa?
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik
dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian
dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79)
mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata- kata dan
istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu
pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman (dalam
Mansoer Pateda, 2001:82) mengemukakan bahwa makna adalah
hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini
Ferdinand de Saussure (dalam Abdul Chaer, 1994 :286)
mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau
konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.

Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi:

1. maksud pembicara;

2. pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi


atau perilaku manusia atau kelompok manusia;

3. hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak


sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal
yang ditunjukkannya, dan

4. cara menggunakan lambang-lambang bahasa (Harimurti


Kridalaksana, 2001: 132).

Bloomfied (dalam Abdul Wahab, 1995:40) mengemukakan


bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus
dianalisis dalam batas-batas unsur- unsur penting situasi di mana
penutur mengujarnya. Terkait dengan hal tersebut, Aminuddin
(1998:50) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan
antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh
pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti.

Dari pengertian para ahli bahsa di atas, dapat dikatakan


bahwa batasan tentang pengertian makna. sangat sulit
ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki
kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai
sebuah ujaran atau kata.

Adalah bentuk ajektif yang diturunkan darı bentuk nomina


leksikon (vokabuler, kosakata, pembendaharaan kata). Satuan
dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang
bermakna. Kalau leksikon kita samakan dengan kosakata atau
perbendaharaan kata, makna leksem dapat kita samakan dengan
kata. Dengan demakan, makna leksikal dapat diartikan sebagai
makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata.
Dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai
dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observası
alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam
kehidupan kita.

Contoh kata kepala dalam kalimat kepalanya hancur kena


pecahan granat adalah makna leksikal, tetapi dalam kalimat
Rapornya ditahan kepala sekolah karena ia belum membayar
uang SPP adalah bukan bermakna leksikal. Kata memetik dalam
kalimat ibu memetik sekuntum mawar adalah bermakna leksikal..

Kalau distmak contoh-contoh diatas dapat disimpulkan


bahwa makna leksikal dari suatu kata adalah gambaran yang
nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata itu.

Makna gramatikal adalah makna yang menyangkut hubungan


intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat
berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Di dalam semantik
makna gramatikal dibedakan dari makna leksikal Sejalan dengan
pemahaman makna. (sense 'pengertian'; 'makna") dibedakan dari
arti (meaning "arti"). Makna merupakan pertautan yang ada
antara satuan bahasa, dapat dihubungkan dengan makna
gramatikal sedangkan arti adalah pengertian satuan kata sebagai
unsur yang dihubungkan. Makna leksikal dapat berubah ke dalam
makna gramtikal secara operasional.
Makna referensial yaitu sesuatu diluar bahasa yang diacu
oleh kata itu maka kata tersebut disebut kata bermakna
referensial. Misalnya kata meja dan kursi termasuk kata yang
bermakna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu
sejenis perabot rumah tangga yang disebut meja dan kursi.
Contoh lain: Orang itu menampar cane

Pada contoh diatas bahwa orang1 dibedakan maknanya dari


orang2 karena orangi sebagai pelaku (agentif) dan orang2
sebagai pengalam (yang mengalami makna yang diungkapkan
verba), hal tersebut menunjukkan makna kategori yang berbeda,
tetapi makna referensi mengacu kepada konsep yang sama
(orang manusia).

Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak


mempunyai referen (acuan). Seperti kata preposisi dan konjungsi,
juga kata tugas lamnya. Dalam hal ini kata preposisi dan
konjungsi serta kata tugas lainnya hanya memiliki fungsi atau
tugas tapi tidak memiliki makna.

Berkenaan dengan bahasan ini ada sejumlah kata yang


disebut kata-katadeiktis, yaitu kata yang acuannya tidak menetap
pada satu wujud, melainkan dapat berpindah dari wujud yang
satu kepada wujud yang lain. Yang termasuk kata-kata deikzis
yaitu: dia, saya, kamu, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok,
nanti, ini, itu.

Contoh lam referen kata di sini dalam ketiga kalimat berikut

(a) Tadi dia duduk di sini

(b) "Hujan terjadi hampir setiap hari di sini", kata walikota


Bogor.

(c) Di sini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi.

Pada kalımat (a) kata di sini menunjukan tempat tertentu


yang sempit sekali. Mungkin bisa dimaksudkan sebuah bangku,
atau hanya pada sepotong tempat dan sebuah bangku. Pada
kalimat (b) di sini menunjuk pada sebuah tempat yang lebih
luas yaitu kota Bogor. Sedangkan. pada kalimat (c) di sini
merujuk pada daerah yang meliputi seluruh wilayah Indonesia.
Jadi dari ketiga macam contoh diatas referennya tidak sama oleh
karena itu disebut makna nonreferensial.

Pembedaan makna denotatif dan konotatıf didasarkan pada


ada atau tidak adanya "ntlas rasa" pada sebuah kata. Setiap kata,
terutama yang disebut penuh, mempunyai makna denotatif,
tetapi tidak setiap kata itu mempunyai makna konotatif.

Makna denotatif (sering juga disebut makna


denotasional,makna konseptual, atau makna kognitif karena
dilihat darı sudut yang lain) pada dasarnya sama dengan makna
referensial sebab makna denotatif inı lazım diberi penjelasan
sebagai makna yang sesuai dengan hasıl observası menurut
penglihatan, pencruman, pendengaran, perasaan, atau
pengalaman lainnya. Jadı, makna denotatif ini menyangkut
informasi
-informasi faktual objektif. Lalu karena itu makna denotasi sering
disebut sebagai "makna sebenarnya" umpamanya kata
perempuan dan wanita. Kedua kata ini mempunyai makna
denotasi yang sama, yaitu manusia dewasa bukan laki-laki.
Begitu juga kata gadis dan perawan, kata istri dan bini. Kata
gadis dan perawan memiliki makna denotasi yang sama, yaitu
wanita yang belum bersuami atau belum pernah bersetubuh,
sedangkan kata istri dan bini memiliki makna denotası yang
sama, yaitu wanita yang mempunyai suami.

Makna konotatif adalah makna yang berupa kiasan atau yang


disertai nilai rasa, tambahan-tambahan sikap sosial, sikap pribadi
sikap dari suatu zaman, dan kriteria- kriteria tambahan yang
dikenakan pada sebuah makna konseptual. Seperti kata kursi,
kursi disini bukan lagi tempat duduk, melatkan suatu jabatan atau
kedudukan yang ditempati oleh seseorang. Kursi diartikan
sebagai tempat duduk mengandung makna lugas atau makna
denotatif. Kursi yang diartikan suatu jabatan atau kedudukan
yang diperoleh seseorang mengandung makna kiasan atau makna
konotatif
Pembedaan adanya makna kata dan makna istilah
berdasarkan ketepatan makna kata itu dalam penggunaan secara
umum dan secara khusus. Dalam penggunaan bahasa secara umu
ucapkan kata-kata itu digunakan secara tidak cermat sehingga
maknanya bersifat umum. Tetapi dalam penggunaan secara
khusus, dalam bidang tertentu, kata-kata itu digunakan secara
cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat.

Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan di


dalam suatu kalimat. Kalau lepas dari konteks kalimat, makna
kata itu menjadi umum dan kabur. Berbeda dengan kata yang
maknanya masih bersifat umum, maka istilah memiliki makna
yang tetap dan pasti. Ketepatan dan kepastian makna istilah itu
karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau
keilmuan tertentu.

Perbedaan antara makna kata dan istilah dapat dilihat dari contoh
berikut:

(1) Tangannya luka kena pecahan kaca.

(2) Lengannya luka kena pecahan kaca.

Kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah


bersinonim atau bermakna sama.

Namun dalam bidang kedokteran kedua kata berbeda.


Tangan bermakna bagan memiliki makna yang pergelangan
sampai dari sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan
sampai ke pangkal bahu. ke jari tangan;

Leech (1976) membedakan makna atas makna konseptual dan


makna asosiatıf.

Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan


konsepnya, makna yang sesuai dengan referensinya, dan makna
yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun. Jadi, sebenarnya
makna konseptual ini sama dengan makna referensial, makna
leksikal, dan makna denotatif
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata
berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan keadaan
diluar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan makna
"suci, atau 'kesucian', kata merah berasosiasi dengan makna
"berani' atau juga dengan golongan komunis. Makna asosiatif int
sesungguhnya sama dengan perlambang-perlambang yang
digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan
suatu konsep lam. Maka dengan demikian, dapat dikatakan
melati digunakan sebagai perlambang "kesucian", marah
digunakan sebagai perlambang "keberanian", dan dalam dunia
politik digunakan sebagai lambang golongan komunis.

Disamping itu kedalamnya termasuk juga makna-makna lain


seperti makna stilistika, makna efektif, dan makna kolokatif.

Makna stilistika berkenaan dengan gaya pemilihan kata


sehubungan dengan adanya perbedaan sosial dan bidang
kegiatan didalam masyarakat. Karena itulah dibedakan makna
kata rumah, pondok, istana, keraton, kediaman, tempat tinggal,
dan residensi.

Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara


pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan bicara
maupun terhadap objek yang dibicarakan. Makna afektif lebih
terasa secara lisan dari pada secara tertulis. Contoh "tutup mulut
kalian!" bentaknya kepada kami Makna kolokatif berkenaan
dengan makna kata dalam kaitannya dengan makna kata lain

yang mempunyai "tempat" yang sama dalam sebuah frase.


Misalnya kita dapat mengatakan gadis itu cantik, bunga itu indah,
dan pemuda itu tampan. Demikian juga dengan kata laju, deras,
kencang, cepat, dan lancar yang mempunyai makna yang sama,
tetapi pasti mempunyai kolokasi yang berbeda. kita bisa
mengatakan hujan deras, dan berlari dengan cepat, namun tidak
bisa sebaliknya hujan cepat, dan berlari dengan deras
Makna idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak
dapat "diramalkan"
dari makna unsur-unsurnya, baik secam leksikal maupun secara
gramatikal. Idiom adalah satuan-satuan bahasa (bisa berupa
kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat
diramalkan dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna
gramatikal satuan-satuan tersebut. Misalnya, menurut kaidah
gramatikal kata-kata ketakutan, kesedihan, keberatan, dan ke
bimbingan memiliki makna hal yang disebut bentuk dasarnya.
Tetapi kata kemaluan tidak memiliki makna seperti itu. Begitu
juga frase rumah kayu bermakna 'rumah yang terbuat dari kayu;
tetapi frase rumah batu selain bermakna gramatikal 'rumah yang
terbuat dari batu, juga memiliki makna lain yaitu 'pegadaian' atau
'rumah gadai'. Ada dua macam bentuk idiom dalam bahasa
indonesia yaitu: idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh
adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah
merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Idiom ada dual
macam, yaitu:

1. idiom penuh. Idiom penuh adalah idiom yang semua


unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan,
sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh
kesatuan itu. Contohnya meja hijau dan membanting
tulang.

2. Idiom sebagian. Idiom sebagian adalah idiom yang


salah satu unsurnya mas memiliki makna leksikalnya
sendiri. Misalnya buku putih, daftar hitam, dan
dokumen kuning.

peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau


dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya "asosiasi"
antara makna aslı dengan maknanya sebagai peribahasa.
Umpamanya peribahasa Seperti anjing dengan kucing yang
bermakna dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur.
Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya
anjing dan kucing jika bertemu memang selalu berkelahi, dan
tidak pernah damai.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia susunan W.J.S
Poerwadarminta ada digunakan istilah arti kiasan. Penggunaan
istilah arti kiasan ini sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Semua
bentuk bahasa (kata, frase, maupun kalimat) yang tidak merujuk
pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti
denotatif)
disebut mempunyai arti kiasan. Contohnya, putri malam dalam
arti bulan, raja siang dalam arti matahari, kapal padang pasir
dalam arti unta, pencakar langit dalam arti gedung bertingkat
tinggi, bunga desa dalam arti gadis cantik semuanya mempunyai
arti kiasan.

makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih


sempit dari keseluruhan ujaran. Makna yang asalnya lebih luas
dapat menyempit, karena dibatasi. Bloomfield mengemukakan
adanya makna sempit dan makna luas dalam perubahan makna
ujaran. Perubahan makna suatu bentuk ujaran secara semantik
berhubungan, tetapi ada juga yang menduga bahwa perubahan
terjadi dan seolah- olah bentuk ujaran hanya menjadi objek yang
relatif permanen.

Makna luas adalah makna yang terkandung pada sebuah kata


lebih luas dari yang diperkirakan. Kata-kata yang berkonsep
memiliki makna luas dapat muncul dari makna yang sempu. Kata-
kata yang memiliki makna luas digunakan untuk mengungkapkan
gagasan atau ide yang umum.

Makna konstruksi adalah makna yang terdapat didalam


konstruksi, makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata
didalam bahasa Indonesia. Makna milik dapat diungkapkan
melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukan kepunyaan.

Contohnya perempuan itu

ibu saya Itu ibu saya

Rumahnya jauh

dari sini Dimana

rumahmu

Makna proposisi adalah makna yang muncul bila kita


membatasi pengertian tentang sesuatu. Kata-kata dengan makna
proposisi kita dapatkan dibidang matematika. Makna preposisi
mengandung pula saran, hal, rencana, yang dapat dipahami,
melalui konteks.
Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan
dengan perasaan pendengar atau pembaca. Misalnya, pada
situasi makan kita berbicara tentang sesuatu yang menjijikan dan
menimbulkan perasaan jijik bagi si pendengar, sehingga ia
menghentikan kegiatan (aktivitas) makan.

Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca


suatu ekspresi yang menjijikan, atau perasaan benci. Perasaan
dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang
disebutkan diatas.

Contoh:

1. Kenapa kau sebut nama dia.

2. Kakus itu kotor sekali.

3. Ah, konyol.

4. Ia tinggal di gang yang becek itu.

Makna idesional adalah makna yang muncul sebagai akibat


penggunaan kata yang berkonsep. Kata yang dapat dicari
konsepnya atau ide yang terkandung didalam satuan kata-kata,
baik bentuk dasar maupun turunan.
Makna merupakan unsur utama dalam kajian semantik yang
menjadikan bahasa memiliki arti dan fungsi dalam komunikasi.
Tanpa adanya makna, bahasa tidak akan mampu menyampaikan
pesan secara tepat. Dalam penggunaannya, makna tidak hanya
terbatas pada hubungan antara kata dan benda yang dirujuk,
tetapi juga melibatkan konteks, situasi, serta penafsiran sosial
dan budaya dari para penuturnya.

Beragam jenis makna dalam satuan bahasa seperti makna


leksikal, gramatikal, referensial, nonreferensial, denotatif,
konotatif, idiomatik, kias, konseptual, asosiatif, hingga makna
idiomatikal dan peribahasa menunjukkan betapa luas dan
kompleksnya sistem makna dalam bahasa Indonesia. Setiap jenis
makna memiliki fungsi dan ciri khas tersendiri yang memperkaya
ekspresi linguistik.

Pemahaman terhadap jenis-jenis makna sangat penting,


terutama bagi mahasiswa bahasa dan sastra, agar dapat
menganalisis dan menafsirkan makna bahasa secara akurat.
Selain itu, pemahaman ini juga membantu menghindari
kesalahpahaman dalam komunikasi, memperdalam wawasan
kebahasaan, serta meningkatkan kemampuan dalam menulis
maupun berbicara secara efektif dan bermakna.

Dengan demikian, kajian tentang jenis-jenis makna tidak


hanya penting dalam tataran teori linguistik, tetapi juga memiliki
manfaat praktis dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, baik
dalam konteks akademik maupun sosial.
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantık Bahasa Indonesia.

Jakarta: Rineka Cipta. Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik

2 Pemahaman Ilmu makna. Bandung:


Refika Aditama

Djajasudarma, T. Fatimah, 1999. Pengantar


Kearah Ilmu Makna.
Bandung: Refika Aditama.

Anda mungkin juga menyukai