BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Nilai-Nilai Dasar BerAKHLAK
Pemahaman nilai-nilai Dasar Core Values ASN BerAKHLAK
merupakan landasan dasar yang harus dimiliki oleh seorang ASN.
Seorang ASN harus menanamkan nilai-nilai Dasar Core Values ASN
BerAKHLAK dalam diri kita dan di kehidupan sehari-hari, khususnya
pada instansi tempat kita bekerja. Penanaman nilai- nilai dasar
BerAKHLAK adalah wujud dari reformasi birokrasi guna membangun
sumber daya ASN yang berkompeten dan memiliki etos kerja yang
tinggi. Pemahaman ini juga langkah awal dari internalisasi dan habituasi
nilai-nilai dasar ASN dalam menjalankan tugas dan fungsi jabatannya
bukan hanya ketika dalam masa pelatihan dasar, tetapi diharapkan
dapat terus dilaksanakan selama masa jabatan seorang ASN. nilai-nilai
Dasar Core Values ASN BerAKHLAK merupakan akronim dari
Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif
dan Kolaboratif.
Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021 tentang
Implementasi Core Values dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara
tanggal 26 Agustus 2021, definisi dan penjelasan dari nilai-nilai
BerAKHLAK adalah sebagai berikut:
1. Berorientasi Pelayanan
Berorientasi Pelayanan merupakan salah satu nilai yang terdapat
dalam Core Values ASN BerAKHLAK yang dimaknai bahwa setiap
ASN harus berkomitmen memberikan pelayanan prima demi
kepuasan masyarakat.
Penjabaran berikut ini akan mengulas mengenai panduan perilaku
atau kode etik dari nilai Berorientasi Pelayanan sebagai pedoman bagi
1
para ASN dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, yaitu:
a. Memahami dan Memenuhi Kebutuhan Masyarakat
Nilai Dasar ASN yang dapat diwujudkan dengan panduan perilaku
Berorientasi Pelayanan yang pertama ini diantaranya:
1) mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia;
2) menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
3) membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian; dan
4) menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerja sama.
b. Ramah, Cekatan, Solutif, dan Dapat Diandalkan
Adapun beberapa Nilai Dasar ASN yang dapat diwujudkan
dengan panduan perilaku Berorientasi Pelayanan yang kedua ini
diantaranya:
1) memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur;
2) memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah; dan
3) memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap,
cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
c. Melakukan Perbaikan Tiada Henti
Nilai Dasar ASN yang dapat diwujudkan dengan panduan perilaku
Berorientasi Pelayanan yang ketiga ini diantaranya:
1) mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik; dan
2) mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai.
2. Akuntabel
Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering disamakan dengan
responsibilitas atau tanggung jawab. Namun pada dasarnya, kedua
konsep tersebut memiliki arti yang berbeda. Responsibilitas adalah
2
kewajiban untuk bertanggung jawab yang berangkat dari moral
individu, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban untuk
bertanggung jawab kepada seseorang/organisasi yang memberikan
amanat. Dalam konteks ASN Akuntabilitas adalah kewajiban untuk
mempertanggungjawabkan segala tindak dan tanduknya sebagai
pelayan publik kepada atasan, lembaga pembina, dan lebih luasnya
kepada publik. Panduan perilaku Akuntabel adalah sebagai berikut :
a. Kemampuan melaksanaan tugas dengan jujur, bertanggung
jawab, cermat, disiplin dan berintegritas tinggi
b. Kemampuan menggunakan kekayaan dan barang milik negara
secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien
c. Kemampuan menggunakan Kewenangan jabatannya dengan
berintegritas tinggi.
Nilai-nilai akuntabilitas yang dapat kita temui dilingkungan kerja
sebagai berikut :
a. Kepemimpinan: Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke
bawah dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan lingkungannya.
b. Transparansi: Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan
yang dilakukan oleh individu maupun kelompok/instansi.
c. Integritas: Integritas adalah konsistensi dan keteguhan yang tak
tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan
keyakinan.
d. Tanggung Jawab: Tanggung jawab adalah kesadaran manusia
akan tingkah laku atau perbuatannya yang di sengaja maupun
yang tidak di [Link] jawab juga berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajiban.
e. Keadilan: Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral
mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda/orang.
f. Kepercayaan: Kepercayaan adalah rasa keadilan akan membawa
3
pada sebuah kepercayaan yang akuntabilitas.
g. Keseimbangan: Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan
kerja, maka diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan
kewenangan, serta harapan dan kapasitas.
h. Kejelasan: Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus
memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan
dan hasil yang diharapkan.
i. Konsistensi: adalah sebuah usaha untuk terus dan terus
melakukan sesuatu sampai pada tercapai tujuan akhir.
3. Kompeten
Aparatur Sipil Negara merupakan jabatan profesional, yang
harus berbasis pada kesesuaian kualifikasi, kompetensi, dan
berkinerja serta patuh pada kode etik profesinya. untuk mewujudkan
ASN profesional, kompeten dan kompetitif, sebagai bagian dari
reformasi birokrasi. ASN sebagai profesi memiliki kewajiban
mengelola dan mengembangkan dirinya dan wajib
mempertanggungjawabkan kinerjanya dan menerapkan prinsip merit
dalam pelaksanaan manajemen ASN. Perilaku kompeten menjadi
bagian dasar penguatan budaya kerja di instansi pemerintah untuk
mendukung pencapaian kinerja individu dan tujuan
organisasi/instansi. Panduan perilaku (kode etik) kompeten yaitu:
a. Meningkatkan kompetensi diri untuk menjawab tantangan yang
selalu berubah
1) Pendekatan pengembangan mandiri ini disebut dengan
Heutagogi atau disebut juga sebagai teori “net-centric”,
merupakan pengembangan berbasis pada sumber pembelajaran
utama dari Internet.
2) Perilaku lain ASN pembelajar yaitu melakukan konektivitas
4
dalam basis online network.
3) Sumber pembelajaran lain bagi ASN dapat memanfaatkan
sumber keahlian para pakar/konsultan, yang mungkin dimiliki unit
kerja atau instansi tempat ASN bekerja atau tempat lain.
4) Pengetahuan juga dihasilkan oleh jejaring informal (networks),
yang mengatur diri sendiri dalam interaksi dengan pegawai
dalam organisasi dan atau luar organisasi.
b. Membantu orang lain belajar
1) Sosialisasi dan Percakapan di ruang istirahat atau di kantin
kantor termasuk morning tea/coffee sering kali menjadi ajang
transfer pengetahuan
2) Perilaku berbagi pengetahuan bagi ASN pembelajar yaitu aktif
dalam “pasar pengetahuan” atau forum terbuka (Knowledge
Fairs and Open Forums)
3) Mengambil dan mengembangkan pengetahuan yang terkandung
dalam dokumen kerja seperti laporan.
c. Melaksanakan tugas dengan kualitas terbaik
1) Pengetahuan menjadi karya: sejalan dengan kecenderungan
setiap organisasi, baik instansi pemerintah maupun swasta,
bersifat dinamis, hidup dan berkembang melalui berbagai
perubahan lingkungan dan karya manusia.
2) Pentingnya berkarya terbaik dalam pekerjaan selayaknya tidak
dilepaskan dengan apa yang menjadi terpenting dalam hidup
seseorang.
4. Harmonis
Harmoni adalah kerja sama antara berbagai faktor dengan
sedemikian rupa hingga faktor-faktor tersebut dapat menghasilkan
suatu kesatuan yang luhur. Panduan perilaku dari nilai dasar
Harmonis adalah:
5
a. Menghargai setiap orang apapun latar belakangnya
b. Suka menolong orang lain
c. Membangun lingkungan kerja yang kondusif
Ada tiga hal yang dapat menjadi acuan untuk membangun budaya
tempat kerja nyaman dan berenergi positif. Ketiga hal tersebut
adalah:
a. Membuat tempat kerja yang berenergi
Tata ruang yang baik dan keberadaan ruang terbuka sangat
disarankan. Desain ruang terbuka dapat meningkatkan
komunikasi, hubungan interpersonal dan kepuasan kerja,
sekaligus optimal mengurangi terjadinya disharmonis yang
disebabkan kurangnya komunikasi
b. Memberikan keleluasaan untuk belajar dan kontribusi
Mencari ide dari orang-orang yang berada dalam tim kerja mampu
meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki karyawan dalam
sebuah bisnis atau organisasi.
c. Berbagi kebahagiaan bersama seluruh anggota organisasi
Tak dapat dielakkan jika pendapatan adalah salah satu motivator
terbaik di lingkungan kerja. Demikian juga rasa memiliki. dengan
membagi kebahagiaan dalam organisasi kepada seluruh karyawan
dapat meningkatkan rasa Penerapan sikap perilaku yang
menunjukkan ciri-ciri sikap harmonis, tidak hanya saja berlaku
untuk sesama ASN (lingkup kerja) namun juga berlaku bagi
stakeholders eksternal. Sikap perilaku ini bisa ditunjukkan
dengan: Toleransi, Empati, Keterbukaan terhadap perbedaan.
5. Loyal
Loyal, merupakan salah satu nilai yang terdapat dalam Core
Values ASN yang dimaknai bahwa setiap ASN harus berdedikasi
dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, dengan
6
panduan perilaku:
a. Memegang teguh ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia tahun 1945, setia kepada NKRI serta
pemerintahan yang sah
b. Menjaga nama baik sesama ASN, pimpinan instansi dan negara
c. Menjaga rahasia jabatan dan negara.
Adapun kata kunci yang dapat digunakan untuk mengaktualisasikan
panduan perilaku loyal tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Komitmen yang bermakna perjanjian (keterikatan) untuk
melakukan sesuatu atau hubungan keterikatan dan rasa tanggung
jawab akan sesuatu
b. Dedikasi yang bermakna pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu
demi keberhasilan suatu usaha yang mempunyai tujuan yang
mulia, dedikasi ini bisa juga berarti pengabdian untuk
melaksanakan cita-cita yang luhur dan diperlukan adanya sebuah
keyakinan yang teguh
c. Kontribusi yang bermakna keterlibatan, keikutsertaan,
sumbangsih yang diberikan dalam berbagai bentuk, baik berupa
pemikiran, kepemimpinan, kinerja, profesionalisme, finansial atau,
tenaga yang diberikan kepada pihak lain untuk mencapai sesuatu
yang lebih baik dan efisien
d. Nasionalisme yang bermakna suatu keadaan atau pikiran yang
mengembangkan keyakinan bahwa kesetiaan terbesar mesti
diberikan untuk negara atau suatu sikap cinta tanah air atau
bangsa dan negara sebagai wujud dari cita-cita dan tujuan yang
diikat sikap-sikap politik, ekonomi, sosial, dan budaya sebagai
wujud persatuan atau kemerdekaan nasional dengan prinsip
kebebasan dan kesamarataan kehidupan bermasyarakat dan
bernegara.
e. Pengabdian yang bermakna perbuatan baik yang berupa pikiran,
7
pendapat, ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta,
kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan
dengan ikhlas.
6. Adaptif
Adaptasi adalah suatu proses yang menempatkan manusia
yang berupaya mencapai tujuan-tujuan atau kebutuhan untuk
menghadapi lingkungan dan kondisi sosial yang berubah-ubah agar
tetap bertahan. Panduan perilaku dari nilai dasar Adaptif adalah
sebagai berikut :
a. Cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan
b. Terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas
c. Bertindak proaktif
Budaya adaptif dalam pemerintahan merupakan budaya
organisasi di mana ASN memiliki kemampuan menerima perubahan,
termasuk penyelarasan organisasi yang berkelanjutan dengan
lingkungannya, juga perbaikan proses internal yang
berkesinambungan dan budaya adaptif sebagai budaya ASN
merupakan kampanye untuk membangun karakter adaptif pada diri
ASN sebagai individu yang menggerakkan organisasi untuk
mencapai tujuannya. Di sektor publik, budaya adaptif dalam
pemerintahan ini dapat diaplikasikan dengan tujuan untuk
memastikan serta meningkatkan kinerja pelayanan publik. Adapun
ciri-ciri penerapan budaya adaptif dalam lembaga pemerintahan
antara lain sebagai berikut:
1) Dapat mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan
lingkungan
Bentuk antisipasi dan kemampuan adaptasi ini diwujudkan dalam
praktek kebijakan yang merespon isu atau permasalahan publik
sesuai dengan tuntutan dan kebutuhannya
8
2) Mendorong jiwa kewirausahaan
Jiwa kewirausahaan merupakan salah satu gagasan penting dari
konsep reinventing government yang dipraktekkan di Amerika
Serikat. Dengan jiwa kewirausahaan ini maka pemerintah dan
birokrasi secara khusus melakukan pengelolaan sumber daya
organisasi secara efisien dan efektif layaknya organisasi bisnis
memaksimalkan tata kelola aset dan modalnya untuk meraih
keuntungan sebesar-besarnya
3) Memanfaatkan peluang-peluang yang berubah-ubah
Pemerintah dalam memaksimalkan kinerja pelayanan publik
maupun fungsi-fungsi lainnya seyogyanya mampu memahami dan
memaksimalkan peluang yang ada. (Diskusikan peluang apa saja
yang dapat diidentifikasi dan dimaksimalkan pemerintah dalam
menjalankan fungsinya
4) Memperhatikan kepentingan-kepentingan yang diperlukan antara
instansi mitra, masyarakat dan sebagainya
Beradaptasi juga berarti kemampuan untuk memasukan
pertimbangan kepentingan dari mitra kerja maupun masyarakat.
5) Terkait dengan kinerja instansi
Budaya adaptif seyogyanya diinternalisasi dan diwujudkan ke
dalam organisasi sebagai upaya meningkatkan kinerja instansi.
Budaya adaptif tidak dilakukan untuk menyerah pada tuntutan
lingkungan, tetapi justru untuk merespon dan bereaksi dengan
baik kepada perubahan lingkungan, dengan tujuan untuk
mempertahankan atau bahkan meningkatkan kinerja instansinya.
7. Kolaboratif
Kolaborasi adalah proses bekerja sama untuk menelurkan
gagasan atau ide dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama
menuju visi bersama, Kolaborasi menjadi hal sangat penting di tengah
tantang global yang dihadapi saat ini. Faktor yang mempengaruhi
9
keberhasilan dalam kolaborasi antar lembaga pemerintah adalah
kepercayaan, pembagian kekuasaan, gaya kepemimpinan, strategi
manajemen dan formalisasi pada pencapaian kolaborasi yang efisien
dan efektif antara entitas publik. Berikut panduan perilku nilai dasar
Kolaboratif :
a. Memberi kesempatan kepada berbagai pihak untuk berkontribusi
b. Terbuka dalam bekerja sama untuk menghasilkan bersama nilai
tambah
c. Menggerakkan pemanfaatan berbagai sumberdaya untuk tujuan
Bersama
Sebuah organisasi yang memiliki collaborative culture indikatornya
sebagai berikut:
1) Organisasi menganggap perubahan sebagai sesuatu yang alam
dan perlu terjadi
2) Organisasi menganggap individu (staf) sebagai aset berharga dan
membutuhkan upaya yang diperlukan untuk terus menghormati
pekerjaan mereka
3) Organisasi memberikan perhatian yang adil bagi staf yang mau
mencoba dan mengambil risiko yang wajar dalam menyelesaikan
tugas mereka (bahkan ketika terjadi kesalahan)
4) Pendapat yang berbeda didorong dan didukung dalam organisasi
(universitas) Setiap kontribusi dan pendapat sangat dihargai
5) Masalah dalam organisasi dibahas transparan untuk menghindari
konflik
6) Kolaborasi dan kerja tim antar divisi adalah didorong; dan
7) Secara keseluruhan, setiap divisi memiliki kesadaran terhadap
kualitas layanan yang diberikan.
10
2.2 Kedudukan dan Peran ASN
Sebagai aparatur negara, PNS memiliki peran penting dalam
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good
governance). Dalam konteks aktualisasi ini, peran PNS diwujudkan
melalui upaya memberikan edukasi, fasilitasi, dan pendampingan
kepada UMKM terkait pentingnya sertifikasi halal guna mendukung
peningkatan daya saing produk lokal di Bangka Tengah.
Seorang PNS yang bertanggung jawab dan berorientasi pada
kualitas merupakan gambaran implementasi atau penerapan sikap
mental positif PNS yang kompeten dengan memegang teguh kode
etik dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkan tuntutan unit
kerja/organisasinya merupakan wujud nyata PNS menunjukkan
sikap perilaku bela negara. Sehingga untuk dapat memperoleh
sosok PNS ideal seperti itu dapat diwujudkan dengan memahami
posisi dan perannya serta kesiapannya dalam memberikan hasil
yang terbaik dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki
untuk bersama-sama melakukan perubahan yang memberikan
manfaat secara luas dalam melaksanakan tugas-tugas
pembangunan dan pemerintahan. Adapun kedudukan dan peran
ASN berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2023 Tentang
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah sebagi berikut :
a. Kedudukan ASN
Pegawai ASN terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). PNS
merupakan warga negara Indonesia yang memenuhi syarat
tertentu, diangkat sebagai pegawai ASN secara tetap oleh pejabat
pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan,
memiliki 16 nomor induk pegawai secara nasional. Sedangkan
PPPK adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat
tertentu, yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian
11
berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansi
pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam rangka
melaksanakan tugas pemerintahan.
Dalam pelaksanaannya pegawai ASN harus melaksanakan
kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan Instansi Pemerintah serta
bebas dari pengaru dan intervensi semua golongan dan partai
politik.
b. Peran ASN
Pegawai ASN berperan sebagai perencana, pelaksana,
dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan
dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan
pelayanan publik yan bprofesional, bebas dari intervensi politik,
serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dalam menjalankan peran dan kedudukan pegawai
ASN, maka pegawai ASN berfungsi dan bertugas sebagai
berikut:
1. Pelaksana kebijakan publik
2. Pelayan publik
3. Perekat dan pemersatu bangsa
c. Hak dan Kewajiban
Hak adalah sesuatu yang patut atau layak diterima, agar
dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan
baik, meningkatkan produktivitas, menjamin kesejateraan ASN
serta akuntabel. Adapun hak PNS yang diatur dalam UU No. 20
Tahun 2023 tentang ASN adalah :
PNS berhak memperoleh :
1) penghasilan;
2) penghargaan yang bersifat motivasi;
3) tunjangan dan fasilitas;
12
4) jaminan sosial;
5) lingkungan kerja;
6) pengembangan diri; dan
7) bantuan hukum.
Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau
tanggungan yang bersifat kontraktual. Berdasarkan UU No. 20
Tahun 2023 tentang ASN, seorang ASN wajib:
1. Setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan pemerintah yang sah;
2. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan,
3. Melaksanakan nilai dasar ASN dan kode etik dan kode
perilaku ASN
4. Menjaga netralitas; dan
5. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan perwakilan Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berkedudukan di luar wilayah
Indonesia.
13