0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan67 halaman

Pengenalan Radiofarmasi dan Aplikasinya

Radiofarmasi adalah penggunaan senyawa radioaktif untuk diagnosis dan terapi penyakit manusia. Radioisotop yang digunakan harus memenuhi kriteria tertentu untuk aplikasi diagnostik dan terapeutik, termasuk waktu paruh dan jenis radiasi yang dipancarkan. Radiofarmaka, yang merupakan kombinasi dari radioisotop dan senyawa pembawa, digunakan dalam berbagai pemeriksaan medis dan harus diberikan dalam dosis yang aman dan efektif.

Diunggah oleh

diahsahara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan67 halaman

Pengenalan Radiofarmasi dan Aplikasinya

Radiofarmasi adalah penggunaan senyawa radioaktif untuk diagnosis dan terapi penyakit manusia. Radioisotop yang digunakan harus memenuhi kriteria tertentu untuk aplikasi diagnostik dan terapeutik, termasuk waktu paruh dan jenis radiasi yang dipancarkan. Radiofarmaka, yang merupakan kombinasi dari radioisotop dan senyawa pembawa, digunakan dalam berbagai pemeriksaan medis dan harus diberikan dalam dosis yang aman dan efektif.

Diunggah oleh

diahsahara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RADIOFARMASI

Radiofarmasi
Radio Farmasi, terdiri dari dua bagian utama: Radioaktif dan Farmasi (obat).
RADIOFARMASI: senyawa radio aktif yang digunakan untuk diagose,
pengobatan, terhadap penyakit manusia dan untuk kepentingan analisis

Untuk mengenal radiofarmasi harus diketahui tentang radio aktif dan radio
isotop, sehingga didefinisikan bahwa Radioisotop/radioaktif adalah senyawa
atau unsur yang dapat memancarkan radiasi elektromagnetik dari inti melalui
peluruhan radioaktif.
Dikenal juga dengan radionuclide, karena memang spesifik memancarkan
proton atau elektron dari dalam inti suatu elemen atau unsur.
Sumber radiasi dari unsur alamiah adalah thorium dan uranium
berada di lapisan bumi, sedangkan karbon dan radon berada di
udara. Sumber radiasi yang berada di air adalah tritium dan
deuterium.
Jika di tinjau jenisnya, radiasi terdiri dari:
• alpha (α),
• beta (β),
• gamma (γ),
• sinar- X
• neutron (n).
Sumber radiasi buatan manusia. Ada dua sumber :
sumber radiasi pengion dan non pengion.
• Radiasi pengion: jenis radiasi yang dapat menyebabkan efek
ionisasi apabila berinteraksi dengan sel-sel hidup. Contoh: alpha,
beta, gamma, neutron dan sinar- X.
• Radiasi nonpengion adalah jenis radiasi yang tidak menyebabkan
ionesasi apabila berinteraksi dengan ion-ion hidup. Contoh:
gelombang radio, televisi, gelombang radar dan lain-lainya.
Radioisotop/radioaktif harus dikombinasikan dengan senyawa
tertentu melalui bebarapa cara reaksi kimia. Dengan demikan
tujuan utama produksi radioisotop ialah menyediakan unsur atau
senyawa radioaktif tertentu yang memenuhi persyaratan sesuai
penggunaanya.
Radiofarmaka
Radiofarmaka yang digunakan berupa senyawa garam sederhana
atau berupa senyawa organik bertanda. Contoh Na – I – 131
berupa garam sederhana, yang digunakan untuk uji kelenjar gondok
(thyroid), Hippuran – I – 131 senyawa organik bertanda, untuk
pemeriksaan fungsi ginjal.
Rancangan radiofarmaka pada umumnya harus memenuhi syarat-
syarat tertentu antara lain :
1) Untuk diagnostik
- Waktu paruh pendek
- Aktivitas serendah mungkin
- Pemancar gamma
- Suntikan harus steril
- Energi yang dipancarkan 30- 600 Kilo elektron Volt (KeV).
2) Untuk Terapi
- Waktu paruh panjang
- Aktivitas disesuaikan dengan perhitungan yang diperlukan
- Pemancaran beta murni
- Terlokalisir ditempat yang diobati
- Energi yang dipancarkan antara 500 –1000 KeV.
Atom tersusun atas partikel-partikel subatomik, yaitu
PROTON, NEUTRON, & ELEKTRON.
terletak di inti atom

Elektron selalu mengelilingi inti atom pada


jarak tertentu, yang disebut LINTASAN
ELEKTRON (TINGKAT ENERGI) dalam
suatu ruang yang disebut ORBITAL.

Yosua Maranatha Sihotang, [Link]., Apt


Bila atom mengandung:
– ∑proton = ∑elektron  bersifat netral,
– ∑proton > ∑elektron  bermuatan (+)
– ∑proton < ∑elektron  bermuatan (-)
Ion  produk atom yang melepaskan atau menerima elektron

Elektron memiliki massa yang sangat ringan sehingga massa


elektron diabaikan. Massa atom ditentukan dari jumlah proton dan
neutron.
Nomor massa atom = jumlah proton + neutron
Neutron = Nomor atom - Nomor massa
Massa partikel elektron = 9,110 x 10-28 g
Massa partikel Proton = 1,673 x 10-24 g
Masa partikel Neutron = 1,675 x 10-24 g
Yosua Maranatha Sihotang, [Link]., Apt
Masa atom  Jumlah Proton + Neutron
Nomor atom  Jumlah Proton dalam Inti Atom
Atom Netral  Σproton = Σ elektron sehingga
Nomor Atom juga menandakan Σ elektron dalam
atom

Unsur Fe memiliki No atom = 26 shingga proton


sebanyak 26. No masa = 56  jml neutron = 56-26 =
30 di dalam inti. Berarti nomor atom Fe = 26, Jumlah
elektron = Jml proton  krn netral

Dalam unsur Pb ini, tentukan Jumlah elektron,


proton, dan neutron ?
Yosua Maranatha Sihotang, [Link]., Apt
Setiap atom dalam senyawa apapun memiliki
nomor atom tetap. Contohnya: 1 untuk hidrogen, 6 untuk
karbon, 17 untuk klorida, dsb.
tetapi atom-atom dapat memiliki nomor massa berbeda
dikarenakan jumlah neutron yang berbeda-beda.
Atom-atom yang memiliki nomor atom sama
(unsur yang sama) tetapi nomor massa
berbeda [jml neutron berbeda] disebut
ISOTOP.

Yosua Maranatha Sihotang, [Link]., Apt


INTI
Bagian Atom :

Elektron Proton Netron


Jumlah proton (Z) sama dengan jumlah elektron
Jumlah netron (N)
Jumlah Nukleon A = Z + N, sehingga dapat ditulis

atau

14
INTI
Bagian Atom :

Elektron Proton Netron


Jumlah proton (Z) sama dengan jumlah elektron
Jumlah netron (N)
Jumlah Nukleon A = Z + N, sehingga dapat ditulis

atau

15
ATOM

16
 Simbol
• Simbol
• Biasanya ditulis N diiringi simbol kimia dan N, A
adalah jumlah massa, dari nukleus, Z adalah jumlah
proton dalam nukleus, sedangkan simbol kimia
(nama unsur) N adalah jumlah netron dalam
nukleus.
• Contoh 126 C6, artinya atom C jumlah massa =12 (BA),
dan proton 6, dan neutron 6, tetapi isotop radio aktif
C-14, dapat ditulis 146C8, atau juga ditulis 14C.
• Nuklei dengan jumlah proton sama tetapi jumlah
netron bervariasi disebut isotops, contoh isotop
adalah C-11, C-12, C-13, dan C-14. Dengan proton
masing 6, 6, ;7 dan 8,
17
Istilah Dalam Atom
• Isoton
• Adalah unsur(nuklei) yang mempunyai neutron sama,
tetapi protonya bervariasi. Contoh helium 32He1, dan
isotop hidrogen 21 H1, (deuterium).
• Isobars
• Adalah nuklei yang berisi proton mapun netron
dengan jumlah yang sama. Misalnya 3He dan 3H.
(tritium). juga antara 14C dan 14N.
• Beberapa unsur atau nuklei mempunyai berbagai
isotop seperti yang terjadi pada atom karbon, terlihat
dalam tabel berikut.

18
Isotop dari atom karbon

Jml proton [Link] Total (A+Z) Katagori

6 3 9 Sangat tak stabil


6 4 10 Tak stabil
6 5 11 Tak stabil
6 6 12 Stabil
6 7 13 Stabil
6 8 14 Tak stabil
6 9 15 Tak stabil
6 10 16 Tak stabil
6 11 17 Sangat tak stabil

19
Kadar isotops, berbeda tergantung pada elemennya:
Contoh atom karbon isotop 12C dan 14C, masing-masing
dengan kadar 98,9 %, dan 1.11%., 2H, dan 1H, (99,9%
dan 0,1%),14N, dan 15N ( 99,64 % dan 0,36%)
Oksigen 16O, dan 17O,dan 18O, 99,8, 0,04,dan 0,02%)
 Isotop 14C, dapat diproduksi dengan jumlah sangat
kecil menggunakan bombardemen, demkian pula 3H.
Unsur yang penting dalam kepentingan biologis adalah
40K, dan ternyata ditemukan 0,01%, isotop K

ditemukan dalam sistem kehidupan.


Radio isotop untuk kepentingan penelitian biologis,
pengobatan maupun diagnose dapat dibuat sintetik.
20
• Tabel persentase senyawa isotop dan
massa relatif terhadap 12 C
Unsur Persen Massa Isotop Persen Massa
1H 2H 0.015 2.014102
99.985 1.0007825
12C 98,9 12.0000 13C 1.1 13.03354
14N 15N 0.36 15.000108
99.64 14.00374
16O 99.8 15.998405 17O 0.04 16.999160
19F 100 18.999180 18O 0.02 17.999160
28Si 29Si 4.7 28.973761
92.2 27.979769
31P 100 30.972063 30Si 3.1 29.73761
32S 33S 0.76 32.967145
95.0 31.972074
35Cl 75.8 34.968855 34S 4.2 33.967865
79Br 50.5 78.916344 37Cl 24.2 36.965896
127I 81Br 49/5 80.916344
100 126.904352
21
Diagnosis dengan Radioisotop
Untuk studi in-vivo
• radioisotop direaksikan dengan bahan biologik seperti darah, urin, serta
cairan lainnya yang diambil dari tubuh pasien. Sampel bahan biologik
tersebut selanjutnya direaksikan dengan suatu senyawa bertanda yang
bersifat radioaktif.
• Senyawa bertanda merupakan senyawa di mana satu atau lebih atom
penyusunnya adalah atom radioaktif dari unsur yang sama tanpa
mengubah struktur letak atom-atom dalam senyawa tersebut.
• Senyawa bertanda yang dipakai dalam kedokteran nuklir ini disebut
radiofarmaka 6. Pada umumnya, radiofarmaka terdiri dari dua
komponen, yaitu radioisotop dan senyawa pembawanya. Radioisotop
memungkinkan suatu radiofarmaka dapat dideteksi dan diketahui
lokasinya, sedang senyawa pembawa menentukan tempat akumulasi
radiofarmaka tersebut.
Diagnosis dengan Radioisotop
Untuk studi in-vitro
• dilakukan dengan teknik radioimmunoassay (RIA). Teknik ini sangat
peka serta spesifik dan biasanya digunakan untuk mengetahui
kandungan zat biologik tertentu dalam tubuh yang jumlahnya sangat
kecil.
• Misalnya, hormon insulin atau tiroksin, enzim, dan lain-lain. Prinsip
pemeriksaan RIA adalah kompetisi antara antigen (bahan biologi
yang diperiksa) dengan antigen radioaktif dalam memperebutkan
antibodi yang jumlahnya sangat terbatas. Saat ini juga dikenal teknik
lain yang serupa dengan RIA yang disebut immunoradiometric assay
(IRMA). Dalam teknik ini yang ditandai dengan radioaktif bukan
antigen, tetapi antibodinya.
Terimakasih
RADIOFARMAKA
Radiofarmaka adalah senyawa kimia yang mengandung atom radioaktif
dalam strukturnya dan digunakan untuk diagnosis atau terapi. Dengan
kata lain, radiofarmaka merupakan obat radioaktif.

Sediaan radiofarmaka dibuat dalam berbagai bentuk kimia dan fisik yang
diberikan dengan berbagai rute pemberian untuk memberikan efek
radioaktif pada target bagian tubuh tertentu.

Contoh rute pemberian: per oral (kapsul dan larutan), intravena,


intraperitoneal, intrapleural, intratekal, inhalasi, instilasi melalui tetes
mata, kateter urin, kateter intraperitoneal dan shunts.
Radiofarmaka dimanfaatkan dalam berbagai jenis pemeriksaan dalam
kedokteran nuklir. Pemeriksaan tersebut terbagi menjadi 3 kategori:
• Pemeriksaan untuk pencitraan
• Pemeriksaan ini memberikan informasi untuk tujuan diagnostik dan dilakukan
dengan memeriksa pola distribusi radioaktif dalam tubuh.
• Pemeriksaan fungsi tubuh secara in vivo
• Pemeriksaan fungsi tubuh secara in vivo bertujuan untuk mengukur fungsi organ
tubuh atau sistem fisiologis tubuh berdasarkan absorpsi, pengenceran,
konsentrasi, bahan radioaktif dalam tubuh atau ekskresi bahan radioaktif dari
tubuh setelah pemberian radiofarmaka.
• Pemeriksaan untuk tujuan terapetik
• Pemeriksaan ini bertujuan untuk keperluan penyembuhan, atau terapi paliatif.
Mekanisme kerja umumnya berupa absorpsi radiasi beta untuk menghancurkan
jaringan yang terkena penyakit.
Penggunaan Radiofarmaka
Jumlah bahan radioaktif yang diberikan pada pasien dalam kedokteran nuklir, disebut juga
sebagai dosis, dinyatakan dalam ukuran millicuries (mCi, atau 10-3 Ci).
1 Curie (Ci) = 3,7 x 1010 disintegrasi (kerusakan atom) /detik. Satuan Unit International,
kekuatan bahan radioaktif diukur dalam satuan becquerels (Bq).
1 Bq = 1 disintegrasi /detik; sehingga, 1 mCi = 37 MBq.
Jumlah radiasi yang diabsorbsi oleh jaringan tubuh disebut dosis radiasi dan dinyatakan
dengan satuan rad (dosis radiasi yang diabsorbsi).
1 rad = 100 ergs energi yang diabsorbsi oleh 1 gram jaringan. Satuan Unit Internasional (IU)
dosis yang diabsorbsi, Gray (Gy), setara dengan 1 joule energi yang diabsorbsi oleh 1 kg
jaringan (1 Gy = 100 rad).
Penggunaan kedokteran nuklir untuk tujuan diagnostik harus berprinsip bahwa penggunaan
bahan radioaktif yang diberikan harus dalam dosis yang serendah mungkin namun sudah
dapat diperoleh informasi yang diinginkan. Perlu dijaga bahwa dosis radiasi yang diabsorbsi
harus serendah mungkin. Selain itu, kondisi aseptik harus dijaga selama penyiapan karena
bahan diberikan melalui injeksi i.v.
RADIOFARMAKA
Bentuk fisika dan kimiawi sediaan radiofarmaka dapat berupa unsur
(Xenon 133, krypton 81m), ion sederhana (iodida, pertechnetate),
molekul kecil yang diberi label radioaktif, makromolekul yang diberi label
radioaktif, partikel yang diberi label radioaktif, sel yang diberi label
radioaktif.
Pemanfaatan Radionuklida Untuk
Diagnosis / Terapi Beberapa Gangguan
Penyakit SSP, TIROID, JANTUNG,
PARU-PARU & TULANG
(4 SKS RADIOFARMAKA)
Pada SSP
Radiofarmaka untuk pemeriksaan organ pada SSP ada 5 kelompok:
Nondiffusible Tracers.
Merupakan senyawa yang digunakan untuk pencitraan otak. bersifat hidrofilik
terionisasi dengan mekanisme lokalisasi pada lesi otak yang tidak spesifik, tidak dapat
memasuki otak melalui Blood-brain barrier,. tetapi, jika kondisi BBB mengalami
patologi, senyawa ini meninggalkan ruang vaskuler dan terkonsentrasi pada lesi.
Contoh senyawa yang termasuk pada kelompok ini diantaranya :
99mTc-natrium perteknetat, 99m Tc-pentetat (99mTc-DTPA), 99mTc-gluseptat (99mTc-GH),

dan senyawa untuk digunakan pada metoda positron emission tomography (PET)
yaitu 82Rb-rubidium klorida.
Pada SSP
Radiofarmaka untuk pemeriksaan organ pada SSP ada 5 kelompok:
Diffusible tracers
Senyawa ini mampu memasuki otak normal melalui sawar darah otak (Blood-brain
barrier, BBB) utuh, bersifat lipofilik netral yang berdifusi secara pasif melalui sel
endotelial kapiler otak.
Contoh:
Senyawa yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya adalah 99mTc eksametazim
(99mTc-HMPAO) dan 99mTc-bisitat (99mTc-ECD).
Pada SSP
Radiofarmaka untuk pemeriksaan organ pada SSP ada 5 kelompok:
Penanda metabolisme
Merupakan agen yang terlokalisasi pada area otak yang berhubungan dengan
aktivitas metabolik dan hipermetabolik. Penanda metabolik yang utama digunakan
dalam pencitraan PET adalah 18F-fluodeoksiglukosa (18F-FDG).
Pada SSP
Radiofarmaka untuk pemeriksaan organ pada SSP ada 5 kelompok:
Radiofarmaka untuk pemeriksaan larutan serebrospinal
• Digunakan untuk pemeriksaan ruang larutan serebospinal ini meliputi senyawa yang
tetap ada pada ruang larutan serebospinal setelah injeksi lumbar diberikan.
• Senyawa ini digunakan untuk mengevaluasi distribusi dan pergerakan larutan
serebospinal pada berbagai tahapan penyakit.
• Sebagai contoh hidrosefalus secara rutin diperiksa dengan menggunakan 111In-
pentetat (111In-DTPA).
Pada SSP
Radiofarmaka untuk pemeriksaan organ pada SSP ada 5 kelompok:
Radiofarmaka untuk pencitraan reseptor otak
Radiofarmaka untuk pencitraan reseptor otak terutama digunakan untuk penelitian.
Komponen reseptor avid yang diberi label 99mTc dan radionuklida lainnya sedang
dikembangkan.
TIROID
• Pemeriksaan yang lazim digunakan dalam kedokteran nuklir untuk mengevaluasi
pasien yang diduga mengalami gangguan tiroid adalah:
• Pemeriksaan RAIU,
• Pemindaian kelenjar tiroid, dan
• Terapi radioiodin.

Radioactive Iodine Uptake (RAIU) digunakan untuk menilai fungsi kelenjar tiroid
dengan pemeriksaan, dalam pengobatan hipertiroidisme dan kanker tiroid, dan
pencitraan untuk mendeteksi penyakit dalam kelenjar tiroid dan deteksi adanya
metastasis tiroid dengan memindai seluruh tubuh.
TIROID
Pemeriksaan Radioactive Iodine Uptake (RAIU)
• Untuk mengukur serapan radioiodin, sejumlah kecil radioiodin diberikan per oral.
• Radioaktif yang dapat digunakan 123I atau 131I-natrium iodida. (131I-natrium iodida lebih sering
digunakan, karena lebih murah dan lebih mudah diperoleh).
• Pengukuran serapan biasanya dilakukan pada jam ke-4 dan jam ke-24 setelah pemberian bahan
radioaktif.
• Dosis lazim 131I-natrium iodida adalah 4-10 µCi (148-370 kBq).
• Hasil pemeriksaan dikatakan normal jika nilainya 5 - 15% untuk serapan jam ke-4 dan 10 - 35%
untuk serapan jam ke-24.
• Pada orang-orang tertentu yang mengalami hipertiroid, hasil pemeriksaan serapan jam ke-4 akan
lebih besar daripada serapan jam ke-24. Pada kondisi ini, dapat digunakan dosis 131I yang lebih
besar karena terjadi pengembalian iodin yang lebih cepat dari normal pada kelenjar tiroidnya.
TIROID
Pemindaian tiroid
Tujuannya  untuk menilai fungsi kelenjar berdasarkan kondisi struktur. Berguna untuk
membedakan penyakit keganasan berat dengan keganasan ringan.
• 123I-natrium
iodida & 99mTc-natrium pertehnetat digunakan untuk pemindaian tiroid.
Keduanya ditangkap oleh kelenjar tiroid (seperti dipindahkan kedalam sel folikel
tiroid). Namun hanya iodin yang diatur dan dibentuk kedalam hormon tiroid.
• Baik 123I-natrium iodida dan 99mTc-natrium pertehnetat cukup adekuat untuk
pemindaian anatomi, namun 123I lebih akurat untuk pemindaian fungsional.
• 131I juga dapat digunakan untuk pemindaian tiroid, namun jarang digunakan karena
dosis radiasinya tinggi terhadap kelenjar, sehingga waktu paruhnya panjang mencapai
8,04 hari dan emisi partikel beta.
TIROID
Alasan 123I-natrium iodida lebih dipilih sebagai radioaktif :
• Karakteristik pemindaian yang baik.
• T½ pendek sekitar 13 jam,
• energi gama (159 keV) yang terdeteksi secara efesien dengan kamera gama, dan
tidak terdapat emisi beta.
• 123I-natrium iodida lebih mahal dan sulit diperoleh dibanding 99mTc-natrium
pertehnetat. 99mTc-natrium pertehnetat lebih mudah diperoleh dari generator 99Mo-
99mTc dan lebih murah sehingga 99mTc-natrium pertehnetat lebih sering dipilih

sebagai bahan radioaktif untuk pemindaian tiroid.


TIROID
Pengobatan Radioiodin
• Merupakan pengobatan pilihan penting dalam pengobatan hipertiroidisme akibat
penyakit Graves, adenoma toksik tiroid, dan toxic multinodular goite atau penyakit
Plummer. Pengobatan hipertiroidisme dapat dilakukan dengan obat antitiroid, bedah
atau terapi menggunakan 131I natrium iodida.

Keamanan Pengobatan Radioiodin


• Pasien yang menjalani pengobatan menggunakan terapi radioiodin 131I perlu berhati-hati
untuk meminimalkan paparan radiasi lain. Pasien yang diterapi dengan dosis lebih besar
dari 30mCi (1110 MBq) 131I perlu dirawat di rumah sakit dalam ruangan khusus dan
dimonitor sampai dosis yang terpakai di bawah 30 mCi (1110 MBq), hal ini dapat
disesuaikan dan tergantung pada kondisi spesifik masing-masing pasien.
JANTUNG
• Umumnya menggunakan metoda Single-Photon Emission Computed (SPECT) dan
metoda Positron Emission Tomography (PET).
• Radiofarmaka yang digunakan untuk memeriksa penyakit jantung terdiri dari empat
kelompok utama yaitu
(1) bahan perfusi untuk memeriksa aliran darah arteri koroner dan iskemik,
(2) bahan pengumpul darah untuk memeriksa fungsi jantung,
(3) bahan untuk memeriksa infark miokard, dan
(4) bahan metabolisme untuk menilai viabilitas miokard.
JANTUNG
Bahan utama yang digunakan dalam pencitraan SPECT:
• Eritrosit berlabel: 99mTc untuk pemeriksaan pengumpul darah, 201Tl-thallous klorida,
99mTc-sestamibi, dan 99mTc-tetrofosmin untuk pemeriksaan perfusi miokardia.

Pencitraan PET
• 18F-fludeoksiglukosa (18F-FDG) adalah bahan utama PET yang digunakan untuk
pemeriksaan viabilitas miokard. Waktu paruhnya yang panjang.
• Bahan lain yang digunakan pada pencitraan PET antara lain 82Rb-rubidium klorida,
15O-air, dan 13N-amonia untuk pemeriksaan perfusi, dan 11C-asetat dan 11C-palmitat

untuk pemeriksaan metabolisme.


PARU-PARU
Radiofarmaka untuk pencitraan paru-paru dapat dibagi menjadi 2 kelompok
utama:
• Bahan perfusi paru
• Bahan ventilasi paru.
Pencitraan untuk melihat fungsi paru-paru dalam kedokteran nuklir dilakukan
untuk mengevaluasi fungsi ventilasi dan perfusi paru.
PARU-PARU
• Pencitraan untuk melihat fungsi paru-paru dapat dilihat dengan melakukan
inspirasi gas inert seperti Xenon 133Xe atau aeorosol berlabel radioaktif seperti
99mTc-DTPA.
• Indikasi pencitraan ventilasi dan perfusi paru terutama untuk pemeriksaan pasien
yang diduga mengalami embolisme paru akut.
• Indikasi lainnya adalah pemeriksaan pasien transplantasi paru (misalnya cystic
fibrosis), pemeriksaan pasien yang diduga mengalami embolisme paru kronis
sebagai penyebab hipertensi paru, pemeriksaan pra-operasi pasien obstruksi
paru kronis, dan pemeriksaan fungsi paru diferensial sebelum operasi lobektomi
atau pneumonektomi.
TULANG
• Pencitraan tulang dilakukan untuk berbagai tujuan, diantaranya untuk
pemeriksaan penyakit metastase, infeksi, dan luka trauma.
• Keunggulan dari pencitraan tulang adalah sensitivitasnya yang tinggi,
sehingga dimanfaatkan untuk menilai lesi patologis pada tulang pada tahap
awal timbulnya penyakit.
• Kelemahan pencitraan tulang adalah tidak dapat mendeteksi jenis patologi
tulang.
TULANG
• Radiofarmaka yang paling sering digunakan untuk pemeriksaan tulang adalah 99m
Tc-difosfonat seperti 99m Tc-MDP (methylene diphosphonate) dan 99m Tc-HDP
(99m Tc-oxydronate).
• Dosis untuk pencitraan tulang dan distribusi dosis lazim dewasa 99m TC-HDP
atau 99m TC-MDP adalah 20 mCi (740 MBq) melalui rute intravena.
• Pencitraan pada umumnya dilakukan 2 - 3 jam setelah pemberian melalui injeksi
untuk memberikan waktu plasma dan latar belakang aktivitas jaringan yang akan
ditampilkan.
• Sekitar 40% sampai 50% dari dosis yang diinjeksikan, terlokalisasi pada tulang,
dan sisanya dikeluarkan melalui urin.
TULANG
• Dosis untuk pemindaian tulang pada dewasa, dosis yang diberikan biasanya 20-30
mCi (740 sampai 1110 MBq) melalui intravena.
• Pada anak, dosis ditentukan berdasarkan berat badan, biasanya 250-300 µCi/kg
(9,25 – 11,1 MBq/kg) dengan minimum 1-2,5 mCi (37-92,5 MBq).
• Jika terdapat kontraindikasi, pasien harus dalam kondisi terhidrasi dengan baik
setelah pemberian injeksi.
TERIMAKASIH
RADIOIMMUNOASSAY (RIA)
Radioimmunoassay (RIA)
• merupakan metode laboratorium (in vitro method) untuk mengukur dengan relative
tepat jumlah zat yang ada pada tubuh pasien dengan isotop radioaktif yang
bercampur dengan antibody yang disisipkan ke dalam sampel.
• RIA memanfaatkan radioaktivitas dari isotop radioaktif yang diinjeksikan ke dalam
sampel.
• Dasar-dasar teknik RIA atau prinsip competitive-binding radioassay ini pertama kali
dikembangkan untuk memeriksa volume darah, metabolism iodine, menentukan
kadar hormone insulin dalam plasma darah. Dengan menggunakan prinsip ini titer
atau kadar berbagai hormon, antigen, antibodi, enzim dan obat dalam darah dapat
diukur dengan ketepatan dan ketelitian yang sangat tinggi. Karena limit deteksi
yang sangat baik ini maka RIA digunakan sebagai peralatan laboratorium standar.
Radioimmunoassay (RIA) is a very sensitive in vitro assay
technique used to measure concentrations of antigens (for example,
hormone levels in blood) by use of antibodies. As such, it can be seen
as the inverse of a radiobinding assay, which quantifies an antibody
by use of corresponding antigens.

Although the RIA technique is extremely sensitive and extremely


specific, requiring specialized equipment, it remains among the least
expensive methods to perform such measurements. It requires
special precautions and licensing, since radioactive substances are
used.
• Teknik RIA adalah suatu teknik penentuan zat-zat yang berada dalam tubuh
berdasarkan reaksi imunologi yang menggunakan tracer radioaktif.
• Tracer radioaktif adalah isotop radioaktif yang akan meluruh pada melalui
proses radioaktivitas. Radioaktivitas adalah proses peluruhan isotop tidak
stabil (radioaktif) menjadi isotop yang lebih stabil dengan memancarkan
energy melalui materi berupa partikel-partikel (alpha atau beta) ataupun
gelombang elektromagnetik (sinar gamma).
• Intensitas dari sumber radioaktif dinyatakan oleh transformasi inti rata-rata per
satuan waktu. Satuan radioaktivitas dinyatakan dengan Curie (Ci).
RIA memiliki 2 keampuhan metode antara lain adalah:
• Pertama: pengukuran radioaktivitas memberikan kepekaan dan ketelitian
yang tinggi serta tidak terpengaruh oleh factor-faktor lain yang terdapat dalam
system.
• Kedua, reaksi immunologi berlangsung secara spesifik karena antigen hanya
dapat bereaksi dengan antibody yang sesuai dengannya sehingga zat lain
atau antigen lain yang tidak sesuai karakteristiknya tidak dapat ikut campur
dalam reaksi.
Prinsip Kerja
• Persaingan reaksi dalam campuran antara antigen (hormon) berlabel radioaktif
dengan antigen (hormon) tidak berlabel radioisotop untuk bereaksi dengan antibodi
spesifik, membentuk [antigen-antibodi].
• Antigen radioaktif + antibodi dengan konsentrasi tinggi. Antigen dan antibodi
berikatan satu sama lain menjadi satu zat.
• Kemudian ditambahkan zat yang tidak diketahui jenisnya yang mengandung sedikit
antigen. Zat baru ini merupakan zat yang diuji.
• Pada saat ikatan kadar protein dan steroid radioaktif konstan, penghambatan
ikatan hormon radioaktif dengan ikatan protein merupakan fungsi dari jumlah
hormon nonradioaktif yang berada pada sampel.
At equilibrium, the radioactive complex (bound) is separated from the
radioactive antigen (free). The B/F ratio is dependent upon the amount of
nonradioactive antigen.
• A known quantity of an antigen is made radioactive, frequently by labeling it with
gamma-radioactive isotopes of iodine, such as:
• 125-I attached to tyrosine. + mixed with a known amount of antibody 
[radioactive antigen-antibody]
• Then, a sample of serum from a patient containing an unknown quantity of that same
antigen is added. This causes the unlabeled (or "cold") antigen from the serum to
compete with the radiolabeled antigen ("hot") for antibody binding sites.
• As the concentration of "cold" antigen is increased, more of it binds to the antibody,
displacing the radiolabeled variant, and reducing the ratio of antibody-bound
radiolabeled antigen to free radiolabeled antigen.
• The bound antigens are then separated from the unbound ones, and the radioactivity
of the free(unbound) antigen remaining in the supernatant is measured using a
gamma counter.
Antigen concentration in unknown samples is determined by comparing the B/F
ratio to the B/F ratios obtained by incubating varying amounts of known
nonradioactive antigen with the same amount of antibody as in the unknown
sample under similar assay conditions.
Procedure
• The labelled antigen is mixed with the abs at a concentration that saturated the antigen
binding sites of the antibody molecule.
• Added increasing amounts of an unlabeled antigen of unknown concentration.
• Labelled and unlabeled antigens compete for the available binding sites on the antibody
molecule.
• With increasing concentration of the unlabeled antigen, more labelled antigen will be
displayed from the binding sites.
• Precipitation of a useful of antigen reaction.
• Antigen antibody complex precipitate.
• Separation of free and bound radio belled antigen.
• Count of bound radiolabelled antigen by precipitation of radiolabelled antigen antibody
complex with an antiserum to the antibody of the complex thus the unbound radiolabelled
antigen is left in the superintant.
Aplikasi
• tes hormon: ⑴ di hipofisis hormon gonad: hormon perangsang folikel (FSH),
hormon luteinizing (LH), testosteron (T), estradiol (E2), progesteron (P), prolaktin
(PRL), hidup hormon pertumbuhan (HGH), human chorionic gonadotropin (HCG),
laktogen plasenta manusia (HPL) dan sebagainya. ⑵ hormon kelenjar tiroid.
• deteksi tumor: alpha-fetoprotein (AFP), antigen Carcinoembryonic (CEA),
karbohidrat antigen (CA19-9), glikoprotein antigen (CA-125, CA15-3), β2-
mikroglobulin (β2-MG) ferritin radioimmunoassay (SF), khususnya antigen prostat
(PSA).
Aplikasi
• radioreceptor Analisis: reseptor yang hadir pada permukaan sel, sitoplasma atau inti dari
zat aktif biologis, dan fungsinya adalah untuk molekul sinyal ekstraseluler (ligan)
pengikatan spesifik, efek biologis dari perubahan informasi.
• Analisis Radioreceptor (radioreceptor assay, RRA) atau reseptor radioligand binding assay
(radioligand binding assay, RBA) didasarkan pada radiolabeled ligan reaksi mengikat
antara reseptor, yang merupakan molekul reseptor Analisis kuantitatif dari studi dan lokasi
sensitif dan satu teknologi yang handal.
• Secara klinis, Yang paling umum adalah analisis radioreceptor TRAb, TRAb serum
hipertiroidisme dan hipotiroidisme diagnosis penyebab penyakit memiliki makna penting.
Selain itu, desain biologis, mekanisme kerja obat, efek biologis dan menyelidiki penyebab
penyakit, diagnosis dan pengobatan dari aplikasi tersebut telah jauh berkembang
• Sekitar 60-70% kanker payudara disebabkan oleh overekspresi reseptor
hormon (RH). Jaringan payudara pada wanita sangat responsif terhadap
stimulasi hormon reproduksi. Jadi, semakin banyak hormon, maka makin
tinggi laju proliferasi (pembelahan sel) dan makin banyak terjadi replikasi DNA
sehingga segala kemungkinan untuk terjadinya kesalahan replikasi DNA atau
mutasi DNA juga makin besar.
• Hormon yang paling banyak terlibat dalam karsinogenesis dan paling sering
dikaitkan dengan kanker payudara adalah estrogen (khususnya estradiol,
E2) dan reseptornya (RE) (Deroo and Korach, 2006., Wang, et al., 2009;
Henderson and Canellos, 1990).
RADIOFARMAKA
Bentuk fisika dan kimiawi sediaan radiofarmaka dapat berupa unsur
(Xenon 133, krypton 81m), ion sederhana (iodida, pertechnetate),
molekul kecil yang diberi label radioaktif, makromolekul yang diberi label
radioaktif, partikel yang diberi label radioaktif, sel yang diberi label
radioaktif.
Terimakasih
Tugas
Radiofarmaka yang digunakan dalam Kedokteran
Nuklir.
•Radionuklida
•Bentuk Sediaan
•Penggunaan
•Dosis lazim (Dewasaa)
•Rute pemberianb

Anda mungkin juga menyukai