LAPORAN HASIL ANALISIS SERANGAN DDOS HTTP/2 “RAPID
RESET” PADA LAYANAN GOOGLE TAHUN 2023
DISUSUN OLEH:
1. LINTANG MAULIDIA (13020125120006)
2. GANIA ALMA SALSABILA (13020125120009)
3. DEVITA NAJLARANI AZIZA (13020125120016)
4. CHELSYELLA DEVVY SALSABILA (13020125120022)
5. AZILA PRIMADANI (13020125120029)
6. NABILA KIRANIA CAPRICORNESIA (13020125120031)
UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS ILMU BUDAYA
PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS
SEMARANG
2025
BAB I
PEMBAHASAN
1.1 PROFIL INSIDEN
Distributed Denial-Of-Service (DDOS) adalah istilah untuk fenomena kejahatan yang
dilakukan melalui upaya pembuatan permintaan akses palsu sebanyak-banyaknya melebihi
kapasitas suatu situs atau jaringan, sehingga membuat suatu situs tertentu tidak dapat diakses
oleh pengguna sebenarnya. DDOS mengambilalih situs atau jaringan melalui penanaman bot
atau program komputer khusus yang dirancang oleh peretas. Bot tersebut nantinya akan
memproduksi ratusan, bahkan jutaan permintaan palsu kepada jaringan atau situs yang
menjadi target dalam satu waktu. Masukan permintaan tersebut akan membuat situs atau
jaringan tidak dapat berfungsi secara optimal, atau bahkan menyebabkan adanya kerusakan
dalam situs. Selain itu, DDOS diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, antara lain:
Volumetric Attack yang bertujuan untuk memakan bandwith. Protocol Attack yang
memanfaatkan kelemahan dari keamanan jaringan, dan Application Layer Attack yang
mengirimkan jutaan permintaan akses palsu dengan membuka koneksi jaringan selama
mungkin (Olusegun, 2024).
Salah satu tipe dari DDOS, khususnya Application Layer Attack dialami oleh
penyedia situs internet Google pada tanggal 10 Oktober 2023 lalu. Pada awalnya, muncul
serangan pertama DDOS di bulan Agustus 2023 dengan ukuran serangan 7,5 kali lebih besar
dibandingkan serangan DDOS yang pernah dihadapi oleh google di tahun 2022. Kemudian,
di tanggal 10 Oktober 2023, terjadi puncak serangan DDOS terhadap situs Google dengan
permintaan akses palsu sebanyak 398 juta per detik sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh
gambar 1.0. Serangan ini menargetkan beberapa situs besar, seperti Google Services, Google
Cloud Infrastructure, dan situs milik konsumen Google, Serangan ini diduga menggunakan
metode DDOS terbaru, yakni HTTP/2 “Rapid Reset”.
Gambar 1.0 Grafik Serangan DDOS
2
HTTP/2 “Rapid Reset” adalah teknik serangan DDOS yang mengeksploitasi
kelemahan dalam sistem keamanan HTTP. HTTP/2 “Rapid Reset” beroperasi dengan
mengirimkan permintaan palsu sebanyak-banyaknya, kemudian membatalkan pesanan palsu
tersebut dan proses tersebut diulangi sampai melampaui kapasitas situs yang ditargetkan,
hingga situs tidak dapat berfungsi.
Namun, serangan DDOS menargetkan Google tidak terlalu berpengaruh secara
signifikan terhadap keberlangsungan situs Google, bahkan tidak ada data yang menyebutkan
situs E-commerce atau situs konsumen terdisrupsi atas serangan DDOS ini. Hal ini
dikarenakan Google menerapkan adanya mitigasi tambahan yang bersifat ketat dan
berkoordinasi dengan pihak lain,seperti Cloudflare dan Amazon Website System dalam
kolaborasi untuk menciptakan mitigasi terbarukan yang mengurangi kerentanan situs akan
serangan DDOS. Hal ini dapat disuimpulkan bahwa Google sukses dalam menangkis
serangan DDOS.
1.2 PENYEBAB MASALAH
Cloudflare, bersama Google dan Amazon AWS, mengungkapkan keberadaan
kerentanan zero-day baru yang dijuluki serangan "HTTP/2 Rapid Reset". Serangan ini
mengacu pada kelemahan zero-day dalam protokol HTTP/2 yang dapat dieksploitasi untuk
melakukan serangan Distributed Denial of Service (DDoS).
Serangan HTTP/2 ini menggunakan fitur “stream multiplexing”, yang memungkinkan
penyerang mengirimkan sejumlah besar permintaan dan kemudian langsung membatalkannya
berulang kali. Stream multiplexing adalah fitur inti HTTP/2 yang memungkinkan
pemanfaatan yang lebih tinggi dari setiap koneksi TCF dan memungkinkan klien untuk
memiliki beberapa permintaan yang sedang diproses tanpa mengelola beberapa koneksi
individu. Dengan mengotomatiskan pola "request, cancel, request, cancel" yang sepele ini
dalam skala besar, pelaku ancaman dapat menciptakan serangan denial of service dan
melumpuhkan server atau aplikasi apa pun yang menjalankan implementasi standar HTTP/2.
Satu hal penting yang perlu diperhatikan tentang serangan yang memecahkan rekor ini adalah
bahwa serangan tersebut melibatkan botnet berukuran sedang, yang terdiri dari sekitar 20.000
mesin. (Bourzikas, 2023).
Dalam protokol HTTP/1.1, setiap permintaan diproses secara serial. Server akan
membaca permintaan, memprosesnya, memberikan respons, dan kemudian beralih ke
permintaan berikutnya. Dalam protokol HTTP/2, klien dapat membuka beberapa aliran secara
bersamaan dalam satu koneksi TCP, di mana setiap aliran terkait dengan satu permintaan
HTTP. Secara teori, jumlah maksimum aliran yang dapat dibuka secara bersamaan dapat
dikontrol oleh server, tetapi dalam praktiknya, klien dapat membuka hingga 100 aliran untuk
setiap permintaan dan server akan memproses permintaan ini secara paralel. Perlu dicatat
bahwa batas server tidak dapat disesuaikan secara sepihak. (Snellman & Iamartino, 2023).
3
Protokol HTTP/2 memungkinkan klien untuk membatalkan aliran dengan mengirimkan
frame RST_STREAM tanpa perlu koordinasi dengan server. Serangan ini disebut Rapid Reset
karena bergantung pada kemampuan endpoint untuk mengirimkan frame RST_STREAM
dengan segera setelah mengirimkan frame permintaan, yang membuat endpoint lain mulai
bekerja dan kemudian dengan cepat mereset permintaan tersebut. Permintaan dibatalkan
meskipun koneksi HTTP/2 tetap terbuka. Keuntungan bagi penyerang adalah server masih
perlu mengelola permintaan yang dibatalkan, sementara klien tidak menanggung biaya yang
sama. Ini menciptakan ketidakseimbangan yang dapat dimanfaatkan, serta mengurangi
bandwidth yang digunakan server saat tidak mengirimkan respons.
Dalam praktiknya, Rapid Reset bekerja dengan mengirimkan serangkaian permintaan
untuk beberapa aliran data, yang kemudian langsung diikuti dengan reset untuk setiap
permintaan. Sistem target akan memproses dan menanggapi setiap permintaan, menghasilkan
log untuk setiap permintaan yang kemudian direset atau dibatalkan. Dengan demikian, sistem
target menghabiskan waktu dan sumber daya komputasi untuk menghasilkan log tersebut
meskipun tidak ada data jaringan yang dikembalikan ke penyerang. Pelaku kejahatan dapat
menyalahgunakan proses ini dengan mengirimkan permintaan HTTP/2 dalam jumlah besar,
yang dapat membuat sistem target kewalahan.
1.3 DAMPAK DARI PERMASALAHAN
1.3.1 DAMPAK BAGI PENGGUNA
Pada artikel milik Emil Kiner (2023) dijelaskan bahwa serangan DDoS 398
juta RPS “Rapid Reset” menyebabkan lonjakan trafik ekstrem yang berpotensi
membuat layanan menjadi lambat atau tidak responsif. Bagi pengguna Google Cloud
yang mengandalkan load balancer, API, dan aplikasi HTTP/2, kondisi ini dapat
menimbulkan gangguan akses, penurunan kualitas layanan, serta potensi downtime
jika mitigasi tidak dilakukan dengan cepat. Pengguna akhir mungkin mengalami
keterlambatan, error, gagal merespon (service degradation) atau kegagalan koneksi
karena server harus menangani jutaan permintaan palsu secara tiba-tiba. Pengguna
Google Cloud mengalami gangguan layanan karena peningkatan traffic yang ekstrem
akibat serangan dari 398 juta RPS. Google menyebut bahwa serangan ini berpotensi
membuat layanan berjalan sangat lambat apabila tidak mitigasi dilakukan dengan
cepat. Pengguna yang memakai load balancer, API, atau aplikasi berbasis HTTP/2
berisiko terkena gangguan selama serangan trafik berlangsung.
4
1.3.2 DAMPAK BAGI PERUSAHAAN
Serangan Rapid Reset memaksa perusahaan penyedia cloud seperti Google,
AWS, dan Cloudflare untuk mengalokasikan sumber daya tambahan demi menjaga
stabilitas sistem. Mereka harus:Meningkatkan sistem pertahanan DDoS, Menerapkan
patch zero-day, Memaksimalkan kapasitas jaringan, Melakukan investigasi keamanan
mendalam. Perusahaan juga harus merespons keluhan pelanggan, memperbaiki celah
protokol HTTP/2, dan memperbarui mekanisme mitigasi global. Semua hal ini
menambah beban operasional dan kompleksitas penanganan [Link] berskala
besar ini memaksa Google untuk mengalokasikan sumber daya teknis yang besar
untuk mempertahankan stabilitas sistem. Google menyampaikan bahwa mereka harus
melakukan mitigasi otomatis dan manual, mempatch kerentanan zero-day, serta
memperbarui sistem pertahanan mereka.
Amazon mengamati dan memitigasi lebih dari selusin serangan HTTP/2 Rapid
Reset selama dua hari pada akhir Agustus, serangan terkuat terjadi pada
infrastrukturnya dengan 155 juta permintaan per detik. Cloudflare melaporkan
puncaknya pada 201 juta permintaan per detik dan mengurangi lebih dari 1.100
serangan lainnya dengan lebih dari 10 juta RPS, dan 184 serangan lebih besar dari
rekor DDoS sebelumnya yaitu 71 juta RPS.
1.3.3 DAMPAK BAGI REPUTASI
HTTP2/Rapid Reset adalah teknik baru untuk melancarkan DDoS, atau
serangan penolakan layanan terdistribusi, dengan skala yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Itu tidak ditemukan sampai setelah itu sudah dieksploitasi untuk
memberikan DDoSes yang memecahkan rekor. Satu serangan terhadap pelanggan
yang menggunakan jaringan pengiriman konten Cloudflare mencapai puncaknya pada
201 juta permintaan per detik, hampir tiga kali lipat dari rekor Cloudflare sebelumnya
71 juta RPS. Serangan terhadap situs yang menggunakan infrastruktur cloud Google
mencapai 398 juta RPS, lebih dari 7,5 kali lebih besar dari rekor sebelumnya yang
dicatat Google sebesar 46 juta [Link] botnet yang relatif kecil untuk
mengeluarkan permintaan dalam jumlah besar, dengan potensi melumpuhkan hampir
semua server atau aplikasi yang mendukung HTTP/2, menggarisbawahi betapa
mengancamnya kerentanan ini untuk jaringan yang tidak terlindungi.
1.3.4 DAMPAK BAGI KEUANGAN
Serangan masif seperti ini mengharuskan penggunaan resource komputasi
dalam jumlah besar, termasuk kapasitas jaringan, sistem deteksi, dan infrastruktur
pertahanan. Hal ini menyebabkan biaya operasional meningkat, termasuk: Biaya
mitigasi real-time, biaya patching dan penguatan sistem, potensi kerugian pelanggan
akibat downtime. Bagi perusahaan dan pelanggan yang terkena dampaknya, gangguan
layanan dapat menyebabkan kerugian finansial tidak langsung, seperti hilangnya
5
transaksi, reputasi menurun, dan biaya pemulihan sistem. Rangkaian serangan DDoS
baru ini mencapai puncak 398 juta permintaan per detik (RPS), dan mengandalkan
teknik HTTP/2 “Rapid Reset” baru berdasarkan multiplexing aliran yang telah
memengaruhi beberapa perusahaan infrastruktur internet. Sebaliknya, serangan DDoS
yang tercatat terbesar tahun lalu mencapai puncaknya pada 46 juta RPS. Serangan
DDoS dapat memiliki dampak yang luas terhadap organisasi korban, termasuk
hilangnya bisnis dan tidak tersedianya aplikasi penting misi, yang seringkali
menghabiskan waktu dan uang korban. Waktu untuk pulih dari serangan DDoS dapat
meregang jauh melampaui akhir serangan.
1.4 TINDAKAN PERUSAHAAN
1.4.1 TINDAKAN SAAT KEJADIAN
Pada hari kesepuluh bulan Oktober tahun 2023, dunia maya gempar karena
adanya serangan penolakan layanan terdistribusI (DDoS) besar sekali yang memakai
kelemahan di aturan HTTP/2, yang disebut Rapid Reset. Serangan ini menciptakan
lonjakan lalu lintas data sampai mencapai puncaknya 398 juta permintaan tiap detik,
angka yang jauh melampaui serangan DDoS sebelumnya. Google Cloud, yang
merupakan salah satu penyedia layanan raksasa, menanggapi persoalan ini dengan
sigap dan terencana.
Setelah serangan itu terdeteksi, Google Cloud langsung mengaktifkan
perangkat penahan serangan canggih yang mereka miliki. Karena Google punya
jaringan global yang luas, mereka dapat menyaring lalu lintas yang jahat di jaringan
paling pinggir. Dengan cara ini, setiap permintaan yang mencurigakan langsung
dihentikan sebelum sempat membuat server inti kewalahan. Google juga
memutakhirkan cara mereka mengenali pola serangan, sehingga permintaan dengan
kiat Rapid Reset dapat dikenali dan diblokir otomatis. Proses ini bukan hanya
memakai saringan biasa, tapi juga pemeriksaan mendalam terhadap pola aliran data
HTTP/2 yang ganjil.
Selain itu, Google menerapkan cara pembagian beban yang bisa menyesuaikan
diri, yang menyebar rata beban lalu lintas ke berbagai pusat data. Ini memastikan tidak
ada satu lokasi pun yang terbebani berlebihan, dan layanan tetap berjalan normal untuk
para pemakai. Berkat gabungan penahanan di jaringan pinggir, penyaringan aturan,
dan penyebaran beban, Google sanggup menjaga layanan tetap stabil walau serangan
itu mencetak rekor baru.
Menghentikan lalu lintas jahat di jaringan terluar agar tidak mencapai
layanan inti dan menghindari waktu henti operasional.
Menyaring lalu lintas dengan cepat berdasarkan karakteristik serangan
Rapid Reset hanya dalam hitungan detik.
Mengarahkan alur data secara otomatis lewat penyeimbang beban
skala dunia agar tidak terjadi penumpukan di satu pusat data saja.
6
Memasang batasan kuota pada tiap sambungan untuk menekan efek
buruk dari penyalahgunaan pembatalan aliran HTTP/2.
Melalui upaya tersebut, Google menjamin bahwa layanan tetap berjalan normal
bagi pengguna, meskipun serangan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pada
saat itu.
1.4.2 TINDAKAN DI KEMUDIAN HARI
Setelah serangan berhasil diredam, Google Cloud tidak berhenti hanya pada
mitigasi sementara. Mereka menginisiasi langkah-langkah jangka panjang untuk
memperkuat pertahanan dan memitigasi risiko di masa depan. Pertama, Google
melakukan pembaruan pada protokol HTTP/2 di seluruh infrastrukturnya, memastikan
bahwa celah yang sama tidak dapat dieksploitasi lagi. Mereka juga memperkuat Cloud
Armor, layanan keamanan yang melindungi aplikasi pelanggan, dengan kemampuan
deteksi dan mitigasi serangan berbasis HTTP/2.
Google juga berbagi temuan teknis dan rekomendasi mitigasi dengan
komunitas global. Dengan mempublikasikan analisis mendalam tentang serangan ini,
Google membantu penyedia layanan lain untuk memperkuat pertahanan mereka.
Kolaborasi lintas industri menjadi kunci, di mana Google bekerja sama dengan vendor
lain untuk menyebarkan patch dan memperbaiki konfigurasi yang rentan.
Tidak hanya itu, Google mendorong penyelenggara layanan web untuk
melakukan audit keamanan, seperti membatasi jumlah stream dalam HTTP/2,
menerapkan rate limiting, dan menggunakan WAF untuk melindungi aplikasi mereka.
Semua langkah ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang lebih aman dan tahan
terhadap serangan serupa di masa mendatang.
Memperbaiki protokol HTTP/2 di seluruh sistem internal dan layanan
yang bisa diakses publik supaya celah serupa tidak bisa dimanfaatkan lagi.
Mengganti Cloud Armor supaya bisa mengenali dan menghentikan
serangan Rapid Reset secara otomatis bagi para pelanggan nanti.
Membagikan penanda serangan dan cara penanggulangannya ke
komunitas keamanan dunia serta penyedia layanan cloud lainnya lewat kerja sama
antar industri.
Mendorong pengembang dan vendor protokol HTTP/2 agar
menerapkan perubahan desain yang lebih solid terkait cara penanganan pembatalan.
Tindakan ini membuktikan bahwa Google tidak hanya berfokus pada
penyelesaian masalah saat itu, tetapi juga memperkuat keamanan secara menyeluruh
terhadap ancaman serupa di kemudian hari. (Kiner & April, 2023).
7
BAB II
PENUTUPAN
2.1 KESIMPULAN
Serangan DDoS yang menargetkan Google pada 10 Oktober 2023 merupakan salah
satu serangan terbesar yang pernah tercatat, dengan intensitas mencapai 398 juta permintaan
per detik. Serangan ini memanfaatkan kerentanan zero-day pada protokol HTTP/2 melalui
teknik “Rapid Reset”, yang bekerja dengan mengirimkan permintaan dan segera
membatalkannya secara berulang dalam jumlah besar. Mekanisme tersebut membebani server
target dan mampu melumpuhkan layanan yang tidak memiliki mitigasi memadai.
Penyebab utama serangan berasal dari pemanfaatan fitur stream multiplexing pada
HTTP/2 yang memungkinkan pembukaan banyak aliran secara paralel dan pembatalan cepat
menggunakan frame RST_STREAM. Hal ini menimbulkan ketidakseimbangan beban antara
server dan klien, sehingga server tetap harus memproses permintaan yang dibatalkan.
Serangan dilakukan menggunakan botnet berukuran sedang, namun tetap mampu
menghasilkan trafik berskala ratusan juta permintaan per detik.
Dampak serangan meliputi potensi gangguan akses bagi pengguna, peningkatan beban
operasional bagi perusahaan penyedia layanan cloud, risiko terhadap reputasi, serta kerugian
finansial akibat kebutuhan sumber daya tambahan dan potensi downtime. Namun, Google
berhasil menekan dampak tersebut melalui mitigasi cepat, filtrasi lalu lintas berbahaya,
pembaruan sistem, dan kerja sama lintas industri.
Tindakan jangka pendek dan jangka panjang yang dilakukan Google menunjukkan
pentingnya respons sigap, kolaborasi, serta pembaruan protokol keamanan dalam
menghadapi serangan DDoS modern. Kasus ini menegaskan bahwa kerentanan pada protokol
dasar seperti HTTP/2 dapat memberikan dampak signifikan, sehingga diperlukan peningkatan
keamanan berkelanjutan pada infrastruktur internet global.
2.2 REKOMENDASI
1. Patch dan Menonaktifkan Fitur Rentan pada HTTP/2
Memperbarui server HTTP/2 merupakan langkah paling mendasar karena
serangan Rapid Reset memanfaatkan kelemahan pada mekanisme RST_STREAM,
yang memungkinkan penyerang membatalkan banyak stream sekaligus tanpa
menutup koneksi. Perusahaan perlu memastikan seluruh server, proxy, load balancer,
dan reverse proxy menggunakan versi HTTP/2 yang telah diperbaiki, serta
menonaktifkan fitur rentan seperti excessive stream concurrency jika tidak benar-
benar diperlukan. Dengan langkah ini, permukaan serangan pada layer aplikasi
dapat dikurangi secara signifikan.
8
2. Menerapkan Rate Limiting dan Manajemen Koneksi di Edge
Rate limiting dan pengelolaan koneksi pada layer edge sangat penting karena
serangan HTTP/2 Rapid Reset dapat menghasilkan lonjakan trafik ekstrem hingga
ratusan juta RPS yang jauh melampaui kapasitas server biasa. Cloudflare dan AWS
menekankan bahawa mitigasi DDoS paling efektif adalah menyaring trafik sebelum
mencapai origin server, dengan memanfaatkan kemampuan sistem edge untuk
mengenali pola permintaan abnormal dan memblokirnya secara otomatis
(Cloudflare, 2023; AWS Shield, 2023). Teknik seperti dynamic throttling, IP
reputation scoring, behavior-based blocking, dan token bucket rate limiting terbukti
efektif menahan serangan skala besar. Ini memastikan kapasitas komputasi
perusahaan tidak habis hanya untuk menangani trafik berbahaya.
3. Menggunakan Web Application Firewall (WAF) Modern (Layer 7)
WAF modern mampu mengidentifikasi pola permintaan mencurigakan pada
layer aplikasi, termasuk perilaku khas Rapid Reset seperti permintaan dan
pembatalan stream berulang dalam waktu sangat singkat. AWS Shield dan ENISA
menjelaskan bahawa WAF berbasis machine learning dapat mendeteksi anomali
berdasarkan pola perilaku trafik, bukan sekadar alamat IP, sehingga lebih efektif
menghadapi bot terdistribusi (AWS Shield, 2023; ENISA, 2023). WAF juga dapat
menerapkan aturan khusus seperti membatasi jumlah stream per koneksi, memblokir
penggunaan RST_STREAM yang intensif, serta mendeteksi request tanpa payload
yang dikirim secara massal. Dengan demikian, WAF menjadi lapisan pertahanan
penting sebelum serangan mencapai aplikasi utama.
4. Menerapkan Arsitektur Zero Trust
Arsitektur Zero Trust mengutamakan prinsip “never trust, always verify”, di
mana setiap permintaan harus diverifikasi dan diautentikasi. NIST menjelaskan
bahwa Zero Trust dapat mengurangi efektivitas DDoS kerana trafik yang tidak
memiliki kredensial atau gagal dalam pemeriksaan identitas dapat langsung ditolak
tanpa membebani aplikasi atau server backend (NIST SP 800-207, 2020). Dengan
menggunakan kontrol akses, segmentasi jaringan, dan inspeksi request, serangan
berbasis bot yang mencoba mengakses endpoint secara berulang akan dihentikan
pada lapisan terdepan.
5. Migrasi Bertahap ke HTTP/3 / QUIC
HTTP/3 yang berbasis QUIC memiliki desain yang secara alami lebih tahan
terhadap serangan seperti Rapid Reset kerana tidak menggunakan mekanisme
RST_STREAM seperti HTTP/2. QUIC menggunakan UDP dan menerapkan
multiplexing dengan memisahkan tiap stream sehingga pembatalan satu stream tidak
memengaruhi stream lain serta tidak memungkinkan pembatalan massal dalam satu
koneksi (Cloudflare, 2023; University of Houston, 2023). Selain itu, HTTP/3
menawarkan enkripsi penuh, efisiensi koneksi yang lebih baik, dan kemampuan
connection migration yang mengurangi peluang eksploitasi.
9
6. Distribusi Infrastruktur dan Offloading Menggunakan CDN
Penggunaan CDN global dan arsitektur anycast membantu membagi trafik
ke berbagai node di seluruh dunia, sehingga beban tidak terpusat pada satu server.
Cloudflare menjelaskan bahwa keberhasilan mereka menahan serangan terbesar
dalam sejarah berasal dari arsitektur edge yang mampu menyerap ratusan juta RPS
tanpa membebani origin server (Cloudflare, 2023). Teknik seperti edge TLS
termination dan cache everything memungkinkan trafik berbahaya ditangani di titik
terdekat dengan bot, bukan di server internal perusahaan. Hal ini menjaga kapasitas
layanan tetap stabil meski terjadi serangan volumetrik besar pada protokol HTTP/2.
7. Monitoring Real-Time dan Threat Intelligence
Monitoring real-time sangat penting kerana serangan Rapid Reset dapat
meningkat sangat cepat dalam pola singkat namun intens. ENISA menekankan
pentingnya integrasi threat intelligence untuk mendeteksi pola serangan global
sehingga perusahaan dapat menyiapkan aturan mitigasi sebelum menjadi target
(ENISA, 2023). Penggunaan log khusus frame HTTP/2 juga dapat dilakukan agar
tim keamanan dapat menganalisis jumlah RST_STREAM abnormal, frekuensi
pembatalan request, dan pola koneksi tidak wajar. Dengan sistem alert otomatis,
respons dapat dilakukan dalam hitungan detik, yang sangat krusial dalam mitigasi
DDoS modern.
8. Stress Testing dan Redundansi Kapasitas
Stress testing dan penyediaan kapasitas cadangan memastikan bahwa
perusahaan siap menghadapi kondisi nyata seperti DDoS skala besar. Dengan
melakukan pengujian beban secara berkala, perusahaan dapat menemukan
bottleneck, mengevaluasi efektivitas firewall dan WAF, serta mengukur kemampuan
sistem menghadapi lonjakan trafik ekstrem. Pendekatan ini membantu membangun
arsitektur yang kuat terhadap serangan baru seperti Rapid Reset yang memanfaatkan
kelemahan protokol sekaligus kapasitas server.
10
DAFTAR PUSTAKA
Olusegun, J. (2024). The Impact of DDoS on E-commerce.
Cloudflare. (n.d.). Famous DDoS attacks: The largest DDoS attacks of all time.
Https://[Link]/Learning/Ddos/Famous-Ddos-Attacks/. Retrieved November
29, 2025, from [Link]
Ravie Lakshmanan. (2023, October 10). HTTP/2 Rapid Reset Zero-Day Vulnerability
Exploited to Launch Record DDoS Attacks. The Hacker News.
[Link]
[Link]#:~:text=Amazon%20Web%20Services%20(AWS)%2C%20Cloudflare%2C%2
0and%20Google,the%20companies%20said%20in%20a%20coordinated%20disclosure.
Bourzikas, G. (2023). HTTP/2 Zero-Day vulnerability results in record-breaking
DDoS attacks. October 10, 2023. [Link]
record-breaking-ddos-attack/.
Snellman, J., & Iamartino, D. (2023). How it works: The novel HTTP/2 ‘Rapid Reset’
DDoS attack. October 11, 2023. [Link]
security/how-it-works-the-novel-http2-rapid-reset-ddos-attack.
Emil Kiner, & Tim April. (2023, October 10). Google mitigated the largest DDoS
attack to date, peaking above 398 million rps. Google Cloud.
[Link]
ddos-attack-peaking-above-398-million-rps.
Dan Goodin. (2023, October 13). Biggest DDoSes of all time generated by protocol 0-
day in HTTP/2. Ars TECHNICA. [Link]
used-the-http-2-protocol-to-deliver-attacks-of-unprecedented-size/.
Cedric Pernet. (2023, October 11). New DDoS Attack is Record Breaking: HTTP/2
Rapid Reset Zero-Day Reported by Google, AWS & Cloudflare. TechRepublic.
[Link]
Cloudflare. (2023). Technical breakdown: HTTP/2 Rapid Reset.
[Link]
ENISA. (2023). ENISA Threat Landscape 2023.
[Link]
Cloudflare. (n.d.). What is HTTP/3 / QUIC?
[Link]
University of Houston. (2023). Technical Review of the HTTP/2 Rapid Reset
Vulnerability. [Link]
f23/papers/[Link]
11
Microsoft Azure. (2024). Azure DDoS Protection now supports QUIC (HTTP/3).
[Link]
now-supports-quic-protocol-%E2%80%94-securing-the-future-of-http3-/4456522
NIST. (2022). Security and Privacy Controls for Information Systems (SP 800-53).
[Link]
[Link]
NIST. (2020). Zero Trust Architecture (SP 800-207).
[Link]
AWS. (2023). AWS Shield DDoS Overview.
[Link]
12