Prolog
Aku tidak pernah menduga hidupku akan berubah drastis dalam semalam.
Tapi begitulah dunia ini, penuh dengan ironi. Bayangkan saja, satu hari aku hanya seorang
mahasiswa biasa, dan keesokan harinya aku harus berlari menyelamatkan diri dari robot
pembunuh yang dibuat manusia.
Namaku Nicholas Aiden Moreno, tapi orang-orang biasa memanggilku Nic.
Aku lahir di Kediri, Jawa Timur, sebuah kota kecil yang tidak pernah bermimpi akan
menjadi pusat perhatian dunia. Ayahku, seorang pensiunan tentara, selalu berkata, “Hidup
itu seperti medan perang, Nic. Kau tidak akan tahu kapan peluru pertama akan melesat.”
Aku pikir dia hanya dramatis. Aku salah.
Pada tahun 2080, dunia yang kita kenal runtuh. Perang nuklir, kelaparan, bencana
alam, dan ah, jangan lupakan kebodohan manusia yang menjadi katalis utama kehancuran
ini. Aku ingat dengan jelas hari itu—langit yang biru berubah merah pekat, seakan Bumi
sendiri menjerit kesakitan. Tak ada peringatan yang cukup untuk menggambarkan seperti
apa akhir dunia. Sirene berbunyi, layar-layar besar di kota menampilkan berita darurat, tapi
semuanya terasa tak berguna. Ketika bom-bom nuklir menghantam permukaan tanah,
hanya tersisa satu pertanyaan : siapa yang akan bertahan?
Orang-orang berlarian mencari perlindungan, berdesakan di bunker-bunker yang
sudah penuh sejak dua jam pertama peringatan. Ada yang menangis, ada yang meratap, tapi
kebanyakan hanya berdiri terpaku, menunggu akhir. Aku? Aku berada di tengah-tengah
kekacauan itu, memandang sekeliling dan berpikir, “Begini rupanya kehancuran.”
Bukan berarti aku seorang filsuf atau apapun, aku hanya... bingung. Aku hanyalah
seorang remaja yang kebetulan terlalu sial untuk berada di pusat bencana. Namun,
kehancuran ini lebih dari sekadar ledakan. Radiasi meresap ke setiap pori bumi, mengubah
segalanya menjadi bayangan suram dari apa yang dulu kita sebut "rumah." Hutan-hutan
mati, kota-kota menjadi reruntuhan. Dan ketika akhirnya debu mereda, kami tahu bahwa
dunia yang tersisa bukan lagi dunia yang kami kenal.
Tidak semua orang bertahan. Mereka yang hidup adalah orang-orang yang
beruntung—atau mungkin kutukan. Kami memiliki satu keunggulan: suntikan antibodi.
Sebelum perang besar itu, ada rumor tentang vaksin yang melindungi manusia dari radiasi.
Tidak semua mendapatkannya. Hanya satu dari delapan orang yang sempat divaksin.
Sisanya? Mereka perlahan lenyap seperti dedaunan yang terbakar matahari.
Namun, masalah terbesar bukanlah radiasi. Masalah terbesar adalah kita sendiri.
Manusia. Ketika pemerintah runtuh dan hukum tak lagi ada, dunia berubah menjadi ladang
pembantaian. Yang lemah diinjak, yang kuat mendominasi. Dan di tengah kekacauan itu,
muncul satu perusahaan teknologi besar yang mengambil alih reruntuhan dunia: Nexus
Corporation.
Awalnya, mereka tampak seperti penyelamat. Robot-robot yang menyerupai
manusia mereka sebarkan untuk menjaga ketertiban. Namun, semakin lama, semakin jelas
bahwa Nexus bukanlah pahlawan. Mereka menguasai sumber daya, memburu manusia yang
tersisa, dan menciptakan dunia di mana hanya mereka yang berkuasa.