BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Kehamilan
1) Pengertian kehamilan
Kehamilan merupakan proses alamiah yang terjadi setelah
pertemuan sel sperma dan ovum, diikuti dengan implantasi di dalam
rahim. Kehamilan berlangsung selama kurang lebih 40 minggu
(Yulizwati, henni fitria, 2021)
Masa kehamilan dibagi menjadi 3 trimester pertama, kedua, dan
ketiga kehamilan. Memasuki trimester ketiga kehamilan, wanita hamil
umumnya mulai mengalami beberapa ketidaknyamananan.
Ketidaknyamanan tersebut yaitu sesak nafas, nyeri punggung, bengkak
pada daerah ektermitas, konstipasi, sering berkemih, hingga gangguan
tidur. Gangguan tidur (insomnia) biasanya terjadi mulai trimester II
hingga trimester III, Gangguan tidur (Insomnia) merupakan hal fisiologis
pada ibu hamil Trimester III namun jika terus menerus dibiarkan akan
menyebabkan komplikasi pada ibu dan janin salah satunya yaitu BBLR.
(Ernawati et al., 2023)
Berdasarkan data di Jawa Timur, sekitar 65% ibu hamil mengalami
nyeri punggung, sedangkan di Kabupaten Jombang tercatat 62%. Studi
pendahuluan di PMB Dwi Wulan menemukan 30% ibu hamil trimester
III mengalami keluhan serupa. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas
dan kualitas tidur ibu sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat.
Oleh karena itu, penulis melakukan asuhan kebidanan komprehensif
dengan keluhan nyeri punggung. Menurut WHO (2023),
lebih dari 70% ibu hamil di dunia mengalami nyeri punggung
dengan derajat yang bervariasi. Di Indonesia, prevalensi nyeri punggung
pada ibu hamil mencapai sekitar 60% (Kemenkes RI, 2023).
10
11
2. Perubahan Fisiologis Pada Masa Kehamilan Trimester III
a. Sistem Reproduksi
1) Uterus
Selama masa kehamilan, rahim mulai memberi tekanan pada tulang
belakang serta vena kava serta aorta, yang mengakibatkan
pembatasan peredaran darah. Menjelang akhir masa kehamilan,
rahim seringkali mengalami kontraksi yg tak nyata, yang dikenal
sebagai Braxton Hicks. Bagian isthmus uteri bersatu dengan
korpus uteri dan berkembang menjadi bagian bawah rahim yg
lebih luas serta tipis, sementara serviks sebagai sangat lembut dan
praktis untuk diraba. Rahim, yang awalnya seukuran ibu jari dan
berbobot sekitar 30 gram, mengalami pertumbuhan dan
pematangan, mencapai berat hingga 1000 gram di penghujung
kehamilan. Otot rahim juga berkembang, menjadi lebih besar dan
lebih lembut untuk menampung pertumbuhan janin (Wulan
Purnamayanti, 2022).
Usia Kehamilan TFU Dengan jari-jari
12 minggu 1-2 dua jari di atas sympisis
16 minggu Pertengahan pusat-sympisis
20 minggu 3 Jari dibawah pusat
24 minggu Setinggi pusat
28 minggu 3 Jari di atas pusat
32 minggu Pertengahan pusat-prosessus xifoideus
36 minggu 1 Jari dibawah prosessus xifoideus
40 minggu 3 Jari di bawah prosessus xifoideus
Sumber:Buku Asuhan kehamilan (2021)
12
2) Serviks
Perubahan serviks pada kehamilan yaitu serivks menjadi lunak, yang
menyebabkan serviks menjadi lunak adalah bertambahnya pembuluh
darah diserviks karena timbulnya edema pada serviks serta hiperplasia
serviks..
a) Vagina dan vulva
Pada ibu hamil vagina dan vulva terjadi hipervoskularisasi
karena pengaruh estrogen menimbulkan warna merah ungu
kebiruan yang disebut Chadwick. Vagina ibu hamil berubah
menjadi asam. Keasaman (pH) berubah dari 4 menjadi 6,5
sehingga menyebabkan Wanita hamil lebih rentan terhadap
inveksi vagina terutama infeksi jamur. Hipervoskularisasi pada
vagina dapat menyebabkan hypersensitivitas sehingga dapat
meningkatkan libido atau keinginan seksual terutama pada
kehamilan trimester dua.
b) Payudara
Pertumbuhan dan perkembangan payudara proses alami
yang mempersiapkan produksi ASI untuk menyusui. Hormon
yang berperan selama kehamilan, seperti estrogen, progesteron,
dan somatotropin, sangat penting dalam perubahan ini. ke 2
payudara mengalami pembesaran, pembuluh darah pada bawah
kulit menjadi lebih terlihat, serta puting susu menjadi lebih besar,
lebih gelap, serta lebih menonjol. Pada trimester ketiga, keluarnya
cairan kekuningan dari payudara yang dikenal sebagai kolostrum
adalah hal yang biasa. Ini menunjukkan tanda awal kesiapan
untuk menyusui dan dianggap aman. Karena pengaruh
progesteron, puting susu juga menjadi lebih menonjol dan lebih
mudah untuk digerakkan (Nalo, M. F. , 2022).
1) Sistem Endokrin
Sistem endokrin terdiri dari :
13
a) Hormon plasenta
Sistem hormon plasenta dan HCG merangsang
pengeluaran estrogen dan progesterone oleh korpus luteum
dan meningkatkan korpus luteum.
b) Kelenjar Hipofisi
Terdiri dari Hipofisis anterior menghasilkan hormon
adrenokortikotropik, hormon tiroid, hormon somatotrof,
hormon gonadotropin (FSH dan LH). Hipofisis intermediat
hanya terdapat pada bayi. Hipofisis posterior menghasilkan
hormon antidiuretik (ADH) dan oksitosin.
c) Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid ibu saat kehamilan rentan terhadap
perubahan fisiologis. hCG yang muncul saat kehamilan
memiliki aktivitas yang sama seperti dengan TSH,
peningkatan kadar hCG pada trimester pertama dapat
mengakibatkan peningkatan produksi hormon tiroid dan
dapat menurunkan kadar TSH. Hiperestrogen pada masa
kehamilan dapat menyebabkan peningkatan produksi TBG,
sehingga terjadi peningkatan fisiologis T4 yaitu sekitar
50%. Pada kehamilan trimester dua dan tiga, stimulasi
kelanjar tiroid yang diinduksi oleh hCG menurun,
sementara kadar total 14 ibu hamil tetap meningkat
dibandingkan saat tidak hamil.
2) Sistem kekebalan
HCG mampu menurunkan respon imun pada perempuan
hamil. Selain itu kadar IgG, IgA dan IgM serum 105 /
menurun mulai dari minggu ke-10 kehamilan hingga
mencapai kadar terendah pada minggu ke-30 dan tetap berada
pada kadar ini hingga aterem peningkatan sirkulasi
glukokortikoid yang menekan sistem imun.
3) Sistem perkemihan
14
Ureter membesar, tonus otot-otot saluran kemih menurun
akibat pengaruh estrogen dan progesteron. Kencing lebih
sering (polyuria), laju filtrasi meningkat hingga 60%-150%.
Dinding saluran kemih bisa tertekan oleh perbesaran uterus,
menyebabkan hidroureter dan mungkin hidronefrosis
sementara Kadar kreatinin, urea dan asam urat dalam darah
mungkin menurun namun ini dianggap normal.
4) Sistem pencernaan
Estrogen dan hCG meningkat,dengan efek samping mual
dan muntah-muntah. Selain itu, terjadi juga perubahan
peristaltik dengan gejala sering kembung, konstipasi, lebih
sering lapar/perasaan ingin makan terus (mengidam), juga
akibat peningkatan asam lambung. Pada keadaan patologik
tertentu, terjadi muntah-muntah banyak sampai lebih dari 10
kali per hari (hyperemesis gravidarum). Saliva meningkat dan
pada trimester pertama mengeluh mual dan muntah. Tonus
otot-otot saluran pencernaan melemah sehingga motilitas dan
makanan akan lebih lama berada dalam saluran makanan.
Resorpsi makanan baik, namun akan menimbulkan obstipasi.
Gejala muntah (emesis gravidarum sering terjadi biasanya
pada pagi hari disebut sakit pagi (morning sickness).
5) Sistem musculoskeletal
Estrogen dan relaksasi memberi efek maksimal pada
relaksasi otot dan ligamen pelvis pada akhir kehamilan.
Relaksasi ini digunakan oleh pelvis untuk meningkatkan
kemampuannya dalam menguatkan posisi janin di akhir
kehamilan dan saat kelahiran. Ligamen pada simpisis pubis.
6) Sistem kardiovaskuler
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi adanya
sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan
pembuluh – pembuluh darah yang membesar. Volume darah
meningkat sekitar 1500 ml (nilai normal 8,5% sampai 9%
15
berat badan). Peningkatan terdiri atas 1000ml plasma
ditambah 450ml sel darah merah. Peningkatan mulai terjadi
pada minggu ke 10 sampai ke – 12, mencapai puncak sekitar
30 % – 50% pada minggu 20 – 26 minggu, dan menurun
setelah 30 minggu.
Pada kehamilan 30 minggu, curah jantung agak
menurun karena rahim yang membesar menekan vena yang
membawa darah dari tungkai ke jantung. Selama persalinan,
curah jantung meningkat sebesar 30%, setelah persalinan
curah jantung menurun sampai 15-25% diatas batas
kehamilan lalu secara perlahan kembali ke batas kehamilan.
Peningkatan curah jantung selama kehamila kemungkinan
terjadi karena adanya perubahan dalam aliran darah ke
rahim. Karena janin terus tumbuh, maka darah lenih banyak
dikirim ke rahim ibu. Sedangkan pada akhir kehamilan,
rahim menerima seperlima dari seluruh darah ibu.
7) Sistem integument
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan
hiperpigmentasi karena pengaruh Melanophore Hormon
lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis.
Hiperpigmentasi ini terjadi pada strige gravidarum livide
atau alba, areola mammae, papilla mammae, linea nigra,
chloasma gravidarum. Setelah persalinan, hiperpigmentasi
akan menghilang.
8) Metabolisme
Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh
mengalami perubahan yang mendasar dimana kebutuhan
nutrisi menjadi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan
persiapan pemberian ASI. Perubahan metabolisme tersebut
adalah
a. Metabolisme basal naik sebesar 15% sampai 20% dari
semula terutama pada trimester
16
b. Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari
155 mEq per liter menjadi 145 mEq per liter disebabkan
adanya hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang
dibutuhkan janin
c. Kebutuhan protein perempuan hamil semakin tinggi
untuk pertumbuhan dan perkembangan janin perkembangan
organ kehamilan, dan persiapan.
9) Berat badan dan Indeks Masa Tubuh (IMT)
Kenaikan berat badan selama kehamilan merupakan
salah satu indikator kesehatan ibu dan janin. Namun, setiap
ibu hamil memiliki kondisi yang berbeda-beda. Faktor-
faktor seperti indeks massa tubuh (IMT) sebelum hamil,
usia kehamilan, dan kondisi kesehatan ibu dapat
mempengaruhi jumlah kenaikan berat badan yang ideal.
Meskipun demikian, terdapat rekomendasi umum mengenai
kenaikan berat badan yang sehat selama kehamilan..
Tabel 2.2 kenaikan BB yang dianjurkan selama hamil berdasarkan
IMT sebelum hamil.
IMT sebelum hamil Kenaikan BB yang
Dianjurkan selama hamil
Kg Pon
Kurus (IMT<19,8) 12,5-18 28-40
Normal (IMT 19,8-26,00) 11,5-16 25-35
Gemuk (IMT>26,0-29,00) 7,0-11,5 15-25
Obesa (IMT > 29,0) <7,00 <15
Sumber:Buku Asuhan kehamilan(2023)
Kenaikan Berat Badan pada trimester 1 hanya sekitar 0,7-1,4kg,
sedangkan pada trimester selanjutnya peningkatan berat badan per
17
minggu 0,35-0,5kg. adapun perkiraan distribusi dari penambahan berat
badan selama hamil sebagai berikut :
Tabel 2.3 penambahan BB selama hamil pada masing-masing
komponen tubuh.
Komponen Tubuh Penambahan Berat
Jaringan ekstrauterin 1 Kg
Janin 3-3,8 Kg
Cairan amnion 1 kg
Plasenta 1-1,1kg
Payudara 0,5-2 kg
Tambahan darah 2-2,5 kg
Tambahan cairan jaringan 1,5-2,5 kg
Tambahan jaringan lemak 2-2,5 kg
Total 11,5-16 (rentang Kenaikan BB
selama hamil untuk
Ibu dengan IMT normal)
Sumber:Buku Asuhan kehamilan(2023)
10) Darah dan pembekuan darah
Darah pada ibu hamil meningkat sekitar 1500 ml terdiri
dari 1000 ml plasma dan sekitar 450 ml Sel Darah Merah
(SDM). Peningkatan volume terjadi sekitar minggu ke 10
sampai ke 12. Peningkatan volume darah ini sangat penting
bagi pertahanan tubuh untuk: hipertrofi sistem vaskuler akibat
pembesaran uterus, hidrasi jaringan pada janin dan ibu saat
18
ibu hamil berdiri atau terlentang dan cadangan cairan untuk
mengganti darah yang hilang pada saat persalinan dan masa
nifas.
a) Sel darah
Jumlah sel darah merah semakin meningkat, untuk bisa
mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim. Tetapi
pertumbuhan sel darah tidak seimbang dengan
peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi,
yang disertai anemi fisiologis.
b) Pembekuan /koagulasi
Perubahan pada kadar fibrinogen, faktor-faktor
pembekuan, dan platelets selama kehamilan berakibat
pada peningkatan kapasitas untuk pembekuan, berakibat
naiknya resiko terjadinya DIC (disseminated
intravaskuler coagulation) seperti yang terjadi pada
komplikasi-komplikasi, antara lain molahidatidosa dan
solusio plasenta.
c) Sistem pernafasan
Sistem Pernafasan Pada kehamilan terjadi perubahan
sistem respirasi untuk bisa memenuhi kebutuhan 02.
Disamping itu terjadi desakan diafragma akibat
dorongan rahim yang membesar sejak usia kehamilan 32
minggu. Sebagai kompensasi terjadinya desakan rahim
dan kebutuhan sampai 25% dari biasanya
d) Sistem persarafan
Pada ibu hamil akan ditemukan rasa sering kesemutan
atau acroestesia pada ekstremitas disebabkan postur
tubuh ibu yang membungkuk. Oedema pada trimester III
menekan saraf perifer bawah ligament carpal
pergelangan tangan menimbulkan carpal turner sindrom
yang ditandai dengan parestisia dan nyeri pada tangan
yang menyebar ke siku. Pada bayi, sistem saraf (otak dan
19
struktur-struktur lain seperti tulang belakang muncul
pada minggu ke-4 sewaktu saraf mulai berkembang.
Pada minggu ke-6 kehamilan divisi utama dari sistem
saraf pusat mulai terbentuk. Divisi ini terdiri atas otak
depan, otak tengah, otak belakang dan saraf tulang
belakang. Pada minggu ke-7 otak depan tebagi menjadi
dua hemisfer yang akan menjadi dua hemisfer otak
disebut hemisfer serebra.
3. Kebutuhan Fisik Pada Ibu Hamil Trimester III
(Buku asuhan kebidanan dan kehamilan ) menjelaskan tentang
kebutuhan ibu hamil pada kehamilan trimester III diantaranya yaitu:
a. Nutrisi ibu hamil
Dalam masa kehamilan, kebutuhan akan zat gizi meningiat. Hal
ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh-kembang janin,
pemeliharaan kesehatan ibu dan persediaan untuk laktasi, baik untuk
ibu maupun janin. Kekurangan nutrisi dapat mengakibatkan anemia,
obortus, portus prematurus, inersio uteri, perdarahan pascapersalinan,
sepsis peurperalis dan lain-lain, Kelebihan nutrisi karena dianggap
makan untuk dua orang dapat berakibat kegemukan, pre eklamsio,
janin besar dan lain-lain. Selama kehamilan, terjadi peningkatan kalori
sekitar 80.000 kkal, sehingga dibutuhkan penambahan kalori sebanyak
300 kkal/hari. Penambahan 98 Ashan Kebidanan pata Kehamilan
kalori ini dihitung melalui protein, lemak yang ada pada janin, lemak
pada ibu dan konsumsi O, ibu selama 9 bulan.
Gambar 2.1 Porsi Makanan Dan Minuman Untuk Kebutuhan Sehari
Ibu Hamil
20
b. Oksigen bagi ibu hamil
Kebutuhan oksigen ibu hamil meningkat kira-kira 20%, sehingga
untuk memenuhi kebutuhannya itu, ibu hamil harus bernapas lebih
dalam dan bagian bawah thoraxnya juga melebar ke sisi. Pada
kehamilan 32 minggu ke atas, usus-usus tertekan oleh uterus yang
membesar ke arah diafragma, sehingga diafragma sulit bergerak dan
tidak jarang ibu hamil mengeluh sesak napas dan pendek napas.
c. Kebutuhan istirahat
Ibu hamil dianjurkan untuk merencanakan periode istirahat,
terutama saat hamil tua. Posisi berbaring miring dianjurkan untuk
perfusi uterin dan oksigenasi fetoplasental. Selama periode istirahat
yang singkat, seorang perempuan bisa mengambil posisi terlentang
kaki disandarkan pada tinggi dinding untuk meningkatkan aliran vena
dari kaki dan mengurangi edema kaki serta varises vena.
d. Kebutuhan eliminasi
Ibu hamil sering BAK terutama pada trimester III dikarenakan
rahim yang semakin membesar hingga menekan kandung kemih.
Sementara frekuensi BAB menurun akibat adanya konstipasi.
Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormone progesterone
yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot
usus. Selain itu desakan usus oleh pembesaran janin juga
menyebabkan bertambahnya konstipasi.
21
e. Kebutuhan Personal hygiene
Ibu hamil harus memperhatikan kebersihan badan, kulit kepala
dan rambut, gigi dan mulut, hingga area genetalia kemudian ganti
pakaian minimal dua kali sehari Menjaga kebersihan alat genital
dengan pakaian dalam sesering murigkin karena selama hamil
keputihan pada vagina meningkat dan jumlahnya bertambah banyak
disebabkan kelenjar leher rahim bertambah jumlahnya akibat
pengaruh hormonal.
f. Kebutuhan seksualitas
Kebutuhan seksual termasuk kebutuhan primer bagi orang yang
sudah menikah. Suami tidak mungkin menahan libido (gairah
seksual) selama istrinya hamil sembilan bulan. Kenyataannya
peningkatan hormon estrogen yang menyebabkan terjadinya
hipervaskularis bahkan menyebabkan ibu merasa lebih sensitif jika
disentuh dan menyebabkan peningkatan libido.
1. Perubahan Psikologis Trimester III
Perubahan psikologis yang umum terjadi pada masa kehamilan
adalah kecemasan. Kecemasan adalah salah satu proses penyesuaian diri
terhadap perubahan fungsi fisiologis dan psikologis terutama primigravida.
Kecemasan pada primigravida dapat timbul akibat kekhawatiran akan
proses kelahiran yang aman untuk dirinya dan anaknya. Kecemasan pada
awal kehamilan merupakan factor risiko terjadinya preeklampsi. Apabila
kecemasan berlanjut sampai akhir.
2. Ketidaknyamanan Trimester III
Ketidaknyamanan dalam kehamilan dan cara mengatasinya adalah
sebagai berikut:
a. Sering buang air kecil (BAK)
Cara mengatasinya ibu harus mengurangi asupan karbohidrat
murni dan makanan yang mengandung gula, Batasi minum kopi the dan
gula serta mengurangi minum pada malam hari.
b. Keputihan
22
Cara mengatasinya ibu harus meningkatkan kebersihan dengan mandi
tiap hari, Memakai pakain dalam dari bahan katun dan mudah menyerap,
Tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan buah dan sayur.
c. Sembelit
Cara mengatasinya ibu minum 3 liter cairan setiap hari terutama air
dan sari buah.
d. Sakit punggung
Cara mengatasinya Terapi kompres jahe adalah proses
menciptakan sensasi panas dengan air rebusan jahe pada daerah
tertentu yang bertujuan untuk menurunkan intensitas nyeri dan
memberikan rasa nyaman (Supryeni,2023).
e. Kram pada kaki
Cara mengatasi ibu bisa menghindari gerakan plantarfleksi pada jari
jari kaki, luruskan kaki dan lakukan Gerakan dorsifleksi pada
pergelangan kaki.
f. Varises pada kaki
Cara mengatasinya ibu stirahat dengan menaikkan kaki setinggi
mungkin untuk membalikkan efek gravitasi Jaga agar kaki tidak
bersilangan hindari berdiri atau duduk terlalu lama.
g. Sesak nafas
Cara mengatasi dengan melatih ibu hamil membiasakan dengan
pernafasan normal, berdiri tegak dengan kedua tangan direntangkan
diatas kepala kemudian menarik nafas Panjang dan selalu menjaga sikap
tubuh yang baik.
3. Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan Pada Trimester III
Tanda bahaya kehamilan adalah tanda yang harus diperhatikan setiap
ibu hamil. Tanda bahaya ini merupakan gejala yang tidak biasa terjadi
selama kehamilan. Gejala-gejalanya diantaranya adalah pendarahan
vagina yang parah, tangan atau wajah bengkak, penglihatan kabur, sakit
perut yang parah, kebocoran cairan dari vagina (KPD), kram, mual terus-
menerus, muntah terus-menerus, sakit kepala, nyeri atau rasa terbakar
23
saat buang air kecil, sakit punggung terus-menerus, janin dirasakan
kurang bergerak dibandingkan sebelumnya. (Oktavia, 2022).
a. Pendarahan pada masa kehamilan tidak normal apabila terdapat
tanda tanda berikut ini:
a) Pendarahan vagina yang disertai rasa sakit dan keluarnya darah
merah segar.
b) Sakit kepala hebat terus menerus dan mata kabur atau terbayang.
c) Sakit perut hebat.
d) Bayi tidak bergerak seperti biasanya.
b. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius Sakit
kepala yang hebat dan terus menerus Sakit kepala selama kehamilan
adalah hal yang umum dan merupakan ketidaknyamanan yang
normal selama kehamilan. Sakit kepala yang menandakan adanya
masalah serius adalah skait kepala yang parah berlangsung lama dan
tidak membaik dengan beristirahat. Terkadang sakit kepala sangat
parah dan mata ibu mungkin kabur atau berbayang Sakit kepala yang
hebat dalam kehamilan adalah gejala preeklampsia.
c. Penglihatan kabur. Karena pengaruh hormonal, ketajaman
penglihatan ibu dapat berubah dalam kehamilan. Perubahan ringan
adalah normal. Masalah visual yang mengindikasikan keadaaan yang
mengancam jiwa adanya perubahan visual (penglihatan) yang
mendadak, misalnya pandangan kabur atau ada bayangan. Perubahan
penglihatan ini mungkin disertai dengan sakit kepala yang hebat dan
mungkin suatu tanda dari pre eklampsia.
d. Nyeri perut yang hebat, sakit perut yang tidak berhubungan dengan
persalinan normal atau abnormal. Sakit perut bisa menandakan
masalah serius yang mengancam jiwa itu bisa berarti sesuatu.
Kehamilan ektopik, penyakit radang panggul, dan persalinan
prematur.
e. Gerakan bayi berkurang. Bayi tidak bergerak seperti biasanya Ibu
akan merasakan Gerakan janin sejak bulan ke-5 atau ke-6, bahkan
ada pula ibu sudah merasakan gerakan janin lebih awal. Jika janin
24
tertidur. gerakannya akan melemah. Janin harus bergerak
setidaknya tiga kali per jam Gerakan janin akan lebih mudah terasa
jika berbaring atau beristirahat, selain itu jika ibu makan dan
minum dengan baik.
4. Pemeriksaan Dalam Kehamilan
Pemeriksaan Antenatal Care merupkan pencegahan penyebab
kasakitan dan kematian pada ibu hamil dan anak. Antenatal Care
merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukan ibu hamil antara KB hingga
persalinan. Tujuan Antenatal Care adalah untuk mempersiapkan dan
menyelamatkan jiwa dan raga ibu dan anak semaksimal mungkin agar ibu
dan anak dapat menjalani masa kehamilan, persalinan, dan nifas dalam
keadaan sehat dan normal secara fisik dan mental (Zuchro et al., 2022)
Pemeriksaan kehamilan/ ANC Kebijakan pelayanan ANC di Indonesia
sendiri, mengalami perubahan dari minimal empat kali pelayanan ANC
selama hamil menjadi minimal enam kali pemeriksaan kehamilan dengan
dua kali pemeriksaan USG oleh dokter (Kementerian Kesehatan RI, 2025).
a. Trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu) minimal 1 kali
kunjungan ANC.
b. Trimester kedua (kehamilan diatas 12 minggu sampai 24 minggu)
minimal 2 kali kunjungan ANC.
c. Trimester ketiga (kehamilan diatas 24 minggu sampai 40 minggu)
minimal 3 kali kunjungan ANC.
Pelayanan ANC yang dilakukan oleh dokter pada trimester pertama
dengan usia kehamilan kurang dari 12 minggu, yaitu berupa skrining
kemungkinan adanya faktor risiko kehamilan atau penyakit penyerta
pada ibu hamil termasuk didalamnya pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pada trimester ketiga dokter memberikan pelayanan ANC untuk
perencanaan persalinan, yang mencakup pemeriksaan USG dan rujukan
terencana jika diperlukan (Permenkes, 2021)
1) Terukur berat badan dan terukur tinggi badan
Pengukuran: BB dilakukan setiap kali kunjungan antenatal untuk
mengidentifikasi masalah pertumbuhan janin. Berat badan ibu naik
25
kurang dari 9 kg atau kurang dari 1 kg setiap bulan selama kehamilan,
itu menandakan gangguan pertumbuhan janin. Pada kunjungan pertama,
tinggi badan (TB) diukur untuk mengidentifikasi faktor risiko yang
mungkin ada pada ibu hamil. Risiko terjadinya Cephalo Pelvic
Disproportion (CPD) meningkat jika tinggi badan (TB) ibu kurang dari
145 cm. Indeks massa tubuh (IMT) dihitung sebelum hamil atau selama
trimester I untuk mengetahui status gizi ibu. Status gizi ibu hamil 18
menentukan tingkat penambahan berat badan ibu selama kehamilan
(PBBH) yang ideal. Mengalikan berat badan (BB) dalam kilogram (kg)
dengan tinggi badan (TB) dalam meter (m) kuadrat adalah cara
menghitung IMT (Ariani, 2022).
Jika terdapat keterlambatan dalam penambahan berat badan ibu,ini
dapat mengindikasikan adanya malnutrisi sehingga dapat menyebabkan
gangguan pertumbuhan janin intra-uteri (Intra Uterine Growth
Retardition-IUGR), melahirkan BBLR, persalinan prematur serta
resiko dan komplikasi seperti anemia, perdarahan (Angka, 2018).
Ibu hamil dengan obesitas beresikomengalami diabetes gestasional,
hipertensi, persalinan seksiocesaria, kelahiran rematur, makrosomia,
lahir mati dan anomali kongenital (Girchenko et al., 2018). Rata-rata
kenaikan berat badan yang dianjurkan pada TM 1 adalah I kg, pada TM
II 4,4kg, pada TM III 6kg (Ningsihetal, 2021).
Saat hamil, salah satu indikator apakah janin mendapatkan
asupan makanan yang cukup adalah melalu ipemantauan pertambahan
berat badan ibu selama kehamilannya (PBBH). Bila PBBH tidak
adekuat, janin berisiko tidak mendapatkan asupan yang sesua idengan
kebutuhannya, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangannya didalam kandungan. Ibu yang saat memasuki
kehamilannya kurus dan di tambah dengan PBBH yang tidak adekuat,
berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. PBBH yang
optimal berbeda-beda sesuai dengan status giziibu yang diukur
dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebelum hamil atau pada saat
26
memasuki trimester pertama. Penilaian Indeks MassaTubuh diperoleh
dengan rumus:
Berat badan(kg)
IMT = Tinggi badan(m)x tinggi badan(m)
Tabel 2.5 IMT Pada Wanita Sebelum Hamil dan Kisaran Kenaikan
Berat Badan Total Untuk Ibu Hamil berdasarkan IMT sebelum
hamil
IMT (kg/ m²) Total kenaikan berat Selama trimester 2
badan yang disarankan dan 3
Kurus 12,5-18,0 kg 0,5 kg/minggu
(IMT<18,5)
Normal 11,5-16,0 kg 0,4 kg/minggu
(IMT 18,5-22,9)
Overweight 6,81–11,35 kg 0,3 kg/minggu
(IMT 23-29,9)
Obesitas 4,99–9,08 kg 0,2 kg/minggu
(IMT >30)
Sumber :Buku Asuhan kehamilan(2023)
Nilai Gizi ibu hamil bisa ditentukan dengan bertambahnya
berat badan sekitar 6,5 sampai 15 kg selama hamil. Berat badan di ukur
dalam kg tanpa sepatu dan memakai pakaian yang seringan-ringannya.
Kenaikan berat badan yang terlalu banyak atau sedikit, memerlukan
perhatian yang khusus karena kemungkinan terjadi kesulitan kehamilan.
Kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari ½ Kg/minggu segera rujuk
(Liana, 2019).
2) Terukur tekanan darah
Pengukuran tekanan darah (TD) dilakukan pada setiap kunjungan
antenatal untuk mengetahui apakah ada hipertensi atau preeklamsia.
Tekanan darah 140mmHg sistolik atau 90mmHg diastolik selama dua
27
kali pemeriksaan dengan lengan yang sama selama lima belas menit
dikenal sebagai hipertensi (Ariani, 2022).
3) Terukur nilai status gizi (Ukur lingkar lengan atas /LILA)
Lila ibu hamil hanya diukur selama pertemuan pertama dengan
tenaga kesehatan pada trimester pertama kehamilan untuk ibu hamil yang
berisiko mengalami KEK (Kurang Energi Kronis). Kekurangan energi
jangka panjang bahwa ibu hamil kekurangan nutrisi dan memiliki Lila
yang kurang dari 23,5 cm selama beberapa bulan atau tahun. Bayi Berat
Lahir Rendah (BBLR) dapat dilahirkan oleh ibu yang mengalami KEK
(Umami et al., 2022).
4) Terukur Tinggi fundus uteri
Pada setiap kunjungan antenatal setelah 24 minggu kehamilan,
tinggi fundus uteri diukur untuk mengetahui pertumbuhan janin sesuai
dengan usia kehamilan. Jika tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan usia
kehamilan, ada kemungkinan masalah dengan pertumbuhan janin
(Ariani, 2022).
a) Leopold I, dilakukan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian
teratas fundus uteri.
a) Leopold II, dilakukan untuk menentukan letak janin dengan cara
mengetahui letak punggung dan bagian-bagian kecil janin serta
menentukan lokasi denyut jantung janin.
b) Leopold III, dilakukan untuk menentukan bagian terbawah janin.
c) Leopold IV, dilakukan untuk menentukan berapa bagian yang sudah
masuk pintu atas panggul, dengan menentukan kedua tangan
konvergen bagian hanya sebagian kecil yang masuk kedalam pintu atas
panggul. Apabila kedua tangan sejajar, maka separuh kepala
masuk kedalam rongga panggul. Dan bila kedua tangan divergen
maka bagian terbesar masuk kedalam dan melewati pintu atas
panggul.
Sedangkan,untuk menghitung taksiran berat janin dengan
teori Johnson –Taussak :Jika bagian terbawah janin belum masuk
28
PAP, taksiran berat janin : (TFU (Mc. Donald) -13) × 155 gram
2)Jika bagian terbawah janin berada diatas spina iskiadika,
taksiran berat janin : (TFU (Mc. Donald) -12) × 155 gram 3)Jika
bagian terbawah janin sudah masuk PAP, taksiran berat janin : (TFU
(Mc. Donald) -11) × 155 gram.
Tabel 2.6 TFU menurut penambahan per-tiga jari jari dan Mc
Donald
Usia Kehamilan TFU Dengan jari-jari TFU (Mc Donald)
12 minggu 1-2 dua jari di atas _
sympisis
16 minggu Pertengahan pusat- _
sympisis
20 minggu 3 Jari dibawah pusat _
24 minggu Setinggi pusat 24-25 cm
28 minggu 3 Jari di atas pusat 24-25 cm
32 minggu Pertengahan pusat- 29,5-30 cm
prosessus xifoideus
36 minggu 1 Jari dibawah prosessus 32 cm
xifoideus
40 minggu 3 Jari di bawah prosessus 37,7 cm
xifoideus
Sumber : (Kementrian Kesehatan RI, 2021)
5) Presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
Denyut jantung janin diukur dan presentasi janin pada setiap
kunjungan antenatal pada akhir trimester kedua dan selanjutnya. Pada
trimester ketiga, jika bagian bawah janin tidak memasukkan kepala janin
29
ke dalam panggul atau kepala janin belum masuk ke dalamnya, itu
menunjukkan bahwa ada kelainan letak atau masalah lain yang terkait
dengan panggul. Selain itu, penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester
I dan setiap kali kunjungan antenatal berikutnya. Ada kemungkinan
gawat janin jika DJJ lambat kurang dari 120 kali per menit atau DJJ cepat
lebih dari 160 kali per menit (Umami & dkk, 2022).
6) Skrining Status Imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus
Toksoid (TT) bila diperlukan
Ibu hamil harus diberikan imunisasi tetanus toxoid (TT) untuk
mencegah tetanus neonatorum. Saat kontak pertama, penting bagi ibu
hamil untuk memeriksa status imunisasi TT-nya. Untuk melindungi ibu
hamil dari infeksi tetanus neonatorum, imunisasi Ibu hamil yang telah
diimunisasi harus memiliki status TT minimal TT2, jadi tidak perlu
diberikan TT lagi. Interval imunisasi TT hanya minimal, bukan
maksimal. Tabel berikut menunjukkan interval minimal pemberian
imunisasi TT dan lamanya perlindungan:
Tabel 2.7 Imunisasi Tetanus Toksoid
Imunisasi Selang waktu minimal Lama perlindungan
TT pemberian imunisas
TT 1 - Langkah pertama dalam
pembentukan kekebalan
tubuh
terhadap penyakit tetanus
TT 2 1 bulan setelah TT 1 3 Tahun
TT 3 6 bulan setelah TT 2 5 Tahun
TT 4 12 bulan setelah TT 3 10 Tahun
TT 5 12 bulan setelah TT 4 >25 Tahun
Sumber : Umami & dkk, 2022
30
Kelompok yang berisiko untuk terkena penyakit tetanus adalah
ibu hamil. Pemerintah menetapkan ibu hamil menjadi salah satu
prioritas untuk diberikan imunisasi selama kehamilan.
(Jurnal Ilmu Teknologi, Kesehatan, dan Humaniora, April-Juni 2024)
Mencegah tetanus neonatal pada bayi merupakan tujuan
imunisasi TT. Sebagai salah satu inisiatif imunisasi tambahan, program
Eliminasi Tetanus Ibu dan Neonatal (MNET) mencakup imunisasi ini.
Tujuannya adalah untuk menurunkan jumlah kasus tetanus neonatal
tahunan di setiap kabupaten menjadi kurang dari satu kasus per 1000
kelahiran hidup (Musfirah et al., 2021).
Imunisasi tetanus toksoid (TT) memastikan persalinan yang
aman, higienis, dan bersih adalah dua cara untuk mencapai hal tersebut
(Musfirah et al., 2021).
7) Pemberian Tablet tambah darah (tablet besi)
ibu hamil harus mendapatkan tablet tambah darah, juga dikenal
sebagai tablet zat besi, dan asam folat setidaknya sembilan puluh tablet
selama kehamilannya untuk mencegah anemia gizi besi (Wulandari et al.,
2021)
Bukan untuk meningkatkan kadar hemoglobin, tetapi zat besi
bermanfaat bagi ibu hamil untuk mencegah kekurangan zat besi. Ibu
hamil memerlukan 60 mg zat besi per hari, dan karena absorbsi usus
meningkat pada trimester kedua Karena absorbsi usus yang tinggi,
kebutuhannya akan meningkat secara signifikan. Setelah rasa mual
hilang, tablet Fe diberikan sebanyak 90 tablet selama kehamilan. Jika ibu
hamil mengalami anemia, berikan 2-3 tablet zat besi per hari. Jangan
minum tablet zat besi bersamaan dengan teh atau kopi karena akan
mengganggu penyerapannya. Selain itu, pemeriksaan Hb dilakukan untuk
mengetahui apakah ibu mengalami anemia dua kali selama kehamilan,
yaitu pada kunjungan pertama dan pada usia kehamilan 28 minggu
(Wulandari et al., 2021).
31
Protein hewani merupakan sumber zat besi heme yang lebih mudah
diserap tubuh dibandingkan dengan zat besi non-heme dari sumber
nabati. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan
Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan pentingnya peningkatan
konsumsi protein hewani bagi ibu hamil untuk mencegah stunting dan
anemia (Kemenko PMK, 2023).
Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan yang
signifikan di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 27,7% menurut
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Kondisi ini dapat
meningkatkan risiko komplikasi seperti kelahiran prematur, perdarahan
saat persalinan, serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin.
Deteksi dini anemia melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) sangat
penting untuk mencegah dampak negatif tersebut. Pemeriksaan Hb secara
rutin memungkinkan identifikasi awal kondisi anemia, sehingga
intervensi dapat dilakukan tepat waktu (Rejeki & Fajri, 2023).
engaruh yang ditimbulkan oleh anemia antara lain yaitu persalinan
prematur, abortus, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim,
mudah terjadi infeksi, resiko dekompensasi kordis, mola hidatidosa,
hiperemesis gravidarum, 14 perdarahan antepartum, serta ketuban pecah
dini. Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh anemia saat persalinan
yaitu gangguan his (kekuatan mengejan), serta kala pertama dapat
berlangsung lama dan terjadi partus terlantar. Pada kala kedua juga
dapat berlangsung lama sehingga dapat melahkan dan sering
memerlukan tindakan operasi. Kala ketiga dapat diikuti retensio
plasenta, dan Perdaraham postpartum akibat atonia uteri. Kala empat
dapat terjadi Perdaraham postpartum sekunder dan atonia uteri. Pada
masa nifas, dampak yang ditimbulkan oleh anemia antara lain terjadi
subinvolusi uteri yang menimbulkan Perdarahan Postpartum, anemia
kala nifas, mudah terjadi infeksi mamae dan puerperium,
Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, data
risiko tahun 2023 menunjukkan prevalensi komplikasi persalinan
karena perdarahan yaitu sebesar 2,0%, dengan jumlah komplikasi
32
persalinan karena perdarahan paling tinggi di Jawa Barat prevalensi
sebesar 2,9%. Yang menunjukkan prevalensi anemia di kalangan ibu
hamil usia di atas 25 tahun, yaitu sebesar 31,4% (Kemenkes, 2023).
8) Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
Pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus yang meliputi:
a. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb) yaitu dilakukan minimal
2 kali sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga.
Pemeriksaan untuk mengetahui ibu hamil menderita anemia atau tidak
selama kehamilannya. Anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh
kembang janin dalam kandungan. Pemeriksaan kadar hemoglobin
darah ibu hamil pada trimester kedua dilakukan atas indikasi. (sri
poerwaningsih 2022)
b. Pemeriksaan golongan darah untuk mengetahui jenis golongan darah
ibu dan juga mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-
waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan. (sri
poerwaningsih 2022).
c. Pemeriksaan glukosa urine dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal,
kadar gula darah, dan infeksi saluran kemih. Normalnya, urine tidak
mengandung glukosa, dan keberadaan glukosa dapat mengindikasikan
diabetes gestasional. Ibu hamil dengan diabetes gestasional berisiko
mengalami komplikasi seperti makrosomia, hipoglikemia,
hiperbilirubinemia, dan gangguan pernapasan (Septiyaningsih et al.,
2020).
Glukosa urine adalah salah satu karbohidrat yang sangat penting
sebagai sumber energi utama bagi tubuh terdapat dalam darah
disimpan sebagai glikogen dihati. Hormon yang mempengaruhi kadar
glukosa adalah insulin dan glukagon yang berasal dari pankreas.
Glukosa dapat diperoleh dari makanan yang mengandung karbohidrat.
Kadar glukosa dalam tubuh dapat meningkat apabila pankreas
mengalami gangguan dalam memproduksi insulin sehingga
mengganggu kerja dari sistem pankreas tersebut. Diabetes mellitus
gestasional merupakan terjadinya kelainan yang dipicu oleh kehamilan,
33
diperkirakan karena terjadinya perubahan pada metabolisme glukosa.
Pemeriksaan terhadap adanya reduksi dalam urine termasuk
pemeriksaan penyaring (Susanti & Purnamasari, 2020).
d. Pemeriksaan protein dalam urine pada TM II dan III sesuai
indikasi untuk mengetahui adanya preeklampsia, baik dalam bentuk
ringan maupun berat, yang berpotensi berkembang menjadi
eklampsia. Preeklampsia, atau yang sering dikenal dengan istilah
toksemia, ditandai oleh peningkatan tekanan darah, pembengkakan
pada jaringan tubuh, serta kebocoran protein melalui ginjal yang
menyebabkan proteinuria.
(-): Tidak ada kekeruhan
(+): Kekeruhan ringan tanpa butiran
(++): Kekeruhan mudah dilihat dan Nampak
(+++): Urine jelas keruh dan kekeruhan berkeping-keping
(++++): Sangat keruh dan bergumpal/memadat.
Oleh karena itu, pemeriksaan protein urine sangat disarankan sebagai
alat diagnosis tambahan untuk memeriksa kelainan fungsi ginjal pada
ibu hamil (Noviandi, 2020).
e. Pemeriksaan tes sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan ibu
hamil yang diduga Sifilis. Pemeriksaan Sifilis sebaiknya dilakukan
sedini mungkin pada kehamilan. Pemeriksaan HIV, terutama untuk
daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai
menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi
kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani
tes HIV.( sumber buku oleh; Nana Nofianti SKM [Link]., Dkk)
9) Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil
pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu
hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan tenaga
kesehatan. Kasus kasus yang tidak dapat ditangani dirujuk sesuai dengan
sistem rujukan. (sumber buku oleh; Nana Nofianti SKM [Link]., Dkk).
10) Temu wicara (konseling)
34
Temu wicara (konseling) dan penilaian kesehatan jiwa. Informasi
yang disampaikan saat konseling minimal meliputi hasil pemeriksaan,
perawatan sesuai usia kehamilan dan usia ibu, gizi ibu hamil, kesiapan
mental, mengenali tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas,
persiapan persalinan, kontrasepsi pascapersalinan, perawatan bayi baru
lahir, inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif
Temu wicara (konseling) yang dilakukan pada setiap kunjungan
antenatal meliputi:
1) Kesehatan ibu
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya
secara rutin ke tenaga kesehatan dan menganjurkan ibu hamil agar
beristirahat yang cukup selama kehamilannya (sekitar 9-10 jam per
hari) dan tidak bekerja berat.
2) Perilaku hidup bersih dan sehat
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan
selama kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum makan, mandi 2
kali sehari dengan menggunakan sabun, menggosok gigi setelah
sarapan dan sebelum tidur serta melakukan olahraga ringan.
3) Peran suami serta keluarga dalam kehamilan dan perencanaan
persalinan
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga
terutama suami dalam kehamilannya. Suami, keluarga atau
masyarakat perlu menyiapkan biaya persalinan, kebutuhan bayi,
transportasi rujukan dan calon donor darah. Hal ini penting apabila
terjadi komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas agar segera
dibawa ke fasilitas kesehatan.
4) Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasi
Setiap ibu hamil diperkenalkan mengenai tanda-tanda bahaya
baik selama kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya perdarahan
pada hamil muda maupun hamil tua keluar cairan berbau pada jalan
35
lahir saat nifas, dsb. Mengenal tanda-tanda bahaya ini penting agar
ibu hamil segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan.
5) Asupan gizi seimbang
Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan
makanan yang cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini
penting untuk proses tumbuh kembang janin dan derajat kesehatan
ibu. Misalnya ibu hamil disarankan mium tablet tambah darah secara
rutin untuk mencegah anemia pada kehamilannya.
6) Gejala penyakit menular dan tidak menular
Setiap ibu hamil harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit
menular dan penyakit tidak menular karena dapat mempengaruhi
pada kesehatan ibu dan janinnya.
7) Penawaran untuk melakukan tes HIV dan Konseling di daerah
Epidemi meluas dan terkonsentrasi atau ibu hamil dengan IMS dan
TB di daerah epidemic rendah
Setiap ibu hamil ditawarkan untuk dilakukan tes HIV dan segera
diberikan informasi mengenai resiko penularan HIV dari ibu ke
janinnya. Apabila ibu hamil tersebut HIV positif maka dilakukan
konseling Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).
8) Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memberikan ASI kepada
bayinya segera setelah bayi lahir karena ASI mengandung zat
kekebalan tubuh yang penting untuk kesehatan bayi. Pemberian ASI
dilanjutkan sampai bayi berusia 6 bulan.
9) KB paska persalinan
Ibu hamil diberikan pengarahan tentang pentingnya ikut KB
setelah persalinan untuk menjarangkan kehamilan dan agar ibu punya
waktu merawat kesehatan diri sendiri, anak, dan keluarga.
10) Imunisasi
Setiap ibu hamil harus mempunyai status imunisasi (T) yang
masih memberikan perlindungan untuk mencegah ibu dan bayi
36
mengalami tetanus neonatorum. Setiap ibu hamil minimal
mempunyai status imunisasi T2 agar terlindungi terhadap infeksi
tetanus.
11) Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (brain booster)
Untuk dapat meningkatkan intelegensi bayi yang akan
dilahirkan, ibu hamil dianjurkan untuk memberikan stimulasi auditori
dan pemenuhan nutrisi pengungkit otak (brain booster) secara
bersamaan pada periode kehamilan.
Persalinan
3) Pengertian Persalinan
Persalinan atau intranatal adalah proses membuka dan menipisnya
serviks dan serangkaian kejadian pengeluaran bayi, diikuti dengan
pengeluaran plasenta dan selaput janin melalui jalan lahir dengan bantuan
atau tanpa bantuan. (kekuatan sendiri). (oleh Wiwit vitani, dKK 2024 ).
4) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
Faktor yang mempengaruhi Persalinan Menurut (Aprilita Br Sitepu,
SST., M.K.M, CH, Dian Furwasyih, [Link]., Bd., MSc, Bd. dKK 2024).
a. Passenger
Pada faktor passenger, terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap dan
posisi [Link] 14 plasenta juga harus melalui jalan lahir, maka ia
dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin.
b. Passage away
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat,
dasar panggul, vagina, dan introitus (lubang luar vagina). Meskipun
jaringan lunak khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut
menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berperan
dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya
terhadap jalan lahir yang relatif kaku.
37
c. Power
His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks
membuka dan mendorong janin ke bawah. Pada presentasi kepala, bila
his sudah cukup kuat, kepala akan turun dan mulai masuk ke dalam
rongga panggul. Ibu melakukan kontraksi involunter dan volunteer
secara bersamaan.
d. Position
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan.
Posisi tegak memberi sejumlah keuntungan. Mengubah posisi
membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman, dan memperbaki
sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan, duduk dan
jongkok.
e. Psychologic Respons
Rasa takut, tegang dan cemas mungkin mengakibatkan proses
kelahiran berlangsung lambat. Pada kebanyakan wanita, persalinan
dimulai saat terjadi kontraksi uterus pertama dan dilanjutkan dengan
kerja 15 keras selama jam jam dilatasi dan melahirkan kemudian
berakhir ketika wanita dan keluarganya memulai proses ikatan dengan
bayi. Perawatan ditujukan untuk mendukung wanita dan keluarganya
dalam melalui proses persalinan supaya dicapai hasil yang optimal
bagi semua yang terlibat. Wanita yang bersalin biasanya akan
mengutarakan berbagai kekhawatiran jika ditanya, tetapi mereka
jarang dengan spontan menceritakannya.
5) Fisiologi Persalinan
a. Kala I
Pembukaan merupakan tahapan persalinan yang dimulai dari
his/kontraksi persalinan pertama sampai pembukaan serviks menjadi
lengkap. Proses membukanya serviks dibagi dalam 2 fase, yaitu fase
laten dan aktif :
1) Fase laten
38
Fase pembukaan yang sangat lambat, his masih lemah dengan
frekuensi jarang, dimulai dari 0 sampai 3 cm yang membutuhkan
waktu 8 jam.
2) Fase aktif dibagi menjadi 3 fase, yaitu:
Fase akselerasi dimulai pembukaan 3 cm menjadi 4 cm,
lamanya 2 jam.
Fase dilatasi maksimal dimulai dari pembukaan 4 cm
menjadi 9 cm, lamanya 2 jam. Pembukaan berlangsung
sangat cepat.
Fase deselerasi dimulai dari pembukaan 9 cm menjadi 10
cm, lamanya 2 jam. Pembukaan menjadi lambat kembali.
Mekanisme pembukaan serviks memiliki perbedaan antara
primigravida dengan multigravida. Primigravida Ostium Uteri
Internum (OUI) akan membuka lebih dahulu oleh karena itu
serviks akan mendatar dan menipis. Pada multigravida OUI
sudah sedikit membuka sehingga OUT dan ostium uteri
eksternum terjadi pendataran dan penipisan secara
bersamaanFase akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm
menjadi 4 cm.
Tabel 2.8 Penurunan kepala janin menurut sistem perlimaan
Periks
Periksa Luar a Keterangan
Dalam
Kepala di atas PAP, mudah
= digerakkan
5/5
Sulit digerakkan, bagian terbesar
H I – II
kepala belum masuk panggul
= 4/5
39
H II – Bagian terbesar kepala belum
III masuk panggul
= 3/5
Bagian besar kepala sudah masuk
H III +
panggul
= 2/5
H III –
Kepala di dasar panggul
IV
= 1/5
H IV Di perineum
= 0/5
b. Kala II (Pengeluaran)
Tahap ketika janin dilahirkan atau sering disebut dengan kala
pengeluaran dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai lahirnya
bayi. Masih banyak perdebatan mengenai durasi pasti dan batas waktu
pada kala II. Batas dan durasi kala II persalinan tergantung pada paritas.
Seorang ibu bersalin yang menerima blok epidural mungkin akan
mengalami durasi kala II yang lebih lama dan menyebakan hilangnya
reflek mengedan. Rata-rata durasi kala II ini berlangsung selama 2 jam
pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. (oleh Wiwit vitani,
dKK 2024)
40
Tabel 2.9 Lamanya Persalinan
Lama Persalinan
Primipara Multipara
Kala I 13 Jam 7 Jam
Kala II 1 Jam ½ Jam
Kala III ½ Jam ¼ Jam
TOTAL 14 ½ Jam 7 ¾ Jam
Sumb
er : Buku ILMU KEBIDANAN : Patologi & Fisologi Persalinan 2010
c. Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III atau kala uri merupakan pelepasan dan pengeluaran plasenta.
Pengeluaran plasenta seharusnya tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi
lahir uterus teraba keras dan fundus teri agak diatas pusat. Beberapa
menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta
dindinganya. Plasenta harus diperhatikan kelengkapannya secara
cermat, untuk mencegah ganguan kontraksi rahim atau terjadinya
perdarahan.
(oleh Wiwit vitani, dKK 2024)
Tanda-Tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal
dibawah ini
1. Perubahan bentuk dan tinggi fundus
2. Tali pusat memanjang
3. Semburan darah dan mendadak singkat
41
Tujuan MAK III adalah membuat uterus berkontraksi lebih efektif
sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan
mengurangi kehilangan darah selama kala III persalinan jika
dibandingkan dengan pelepasan plasenta secara spontan. Sebagian
besar (25-29%) morbiditas dan mortalitas ibu di Indonesia disebabkan
oleh perdarahan pascapersalinan akibat atonia uteri dan separasi
parsial/retensio plasenta yang dapat dicegah dengan Manajeman Aktif
Kala III .
d. Kala IV (Kala Pengawasan)
Kala IV persalinan berlangsung kira-kira 2 jam setelah plasenta
lahir. Tahap ini merupakan masa pemulihan yang bertujuan melakukan
observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2
jam pertama. Pemulihan akan segera terjadi jika homeostatis
berlangsung dengan baik. Observasi yang dilakukan pada kala ini yaitu:
tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus,
kandung kemih, dan perdarahan.
Hal-hal yang perlu dipantau selama dua jam pertama pasca
persalinan sebagai berikut:
1) Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih, dan
perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30
menit dalam satu jam kedua pada kala IV.
2) Pemijatan uterus untuk memastikan uterus menjadi keras, setiap 15
menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam jam
kedua kala IV.
3) Pantau suhu ibu satu kali dalam jam pertama dan satu kali pada jam
kedua pasca persalinan
4) Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit
dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.
Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai tonus dan
perdarahan uterus, juga bagaimana melakukan pemijatan jika
uterus menjadi lembek.
Asuhan dalam persalinan
42
60 Langkah APN menurut JNPKKR, (2021).
1) Mendengar dan melihat tanda kala dua persalinan:
a) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran.
b) Ibu merasakan ada tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan
vagina.
c) Perineum tampak menonjol.
d) Vulva dan sfinger ani membuka
2) Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk
menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi segera pada ibu dan
bayi baru lahir.
Untuk asuhan bayi baru lahir atau resusitasi→siapkan:
a) Tempat datar, rata, bersih, kering, dan hangat.
b) 3 handuk/kain bersih dan kering (termasuk ganjal bahu bayi).
c) Alat penghisap lender.
d) lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi
Untuk ibu:
a) Menggelar kain di perut bawah ibu.
b) Menyiapkan oksitosin 10 unit.
c) Alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
3) Pakai celemek plastik atau dari bahan yang tidak tembus cairan.
4) Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan
dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan
dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
5) Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk
periksa dalam.
6) Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang
memakai sarung tangan DTT atau steril dan pastikan tidak terjadi
kontaminasi pada alat suntik)
7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari
anterior (depan) ke posterior (belakang) menggunakan kapas atau kasa
yang dibatasi air DTT:
43
a) Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,
bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang.
b) Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah
tersedia.
c) Jika terkontaminasi, lakukan dekontaminasi, lepaskan dan rendam
sarung tangan tersebut dalam larutan klorin 0,5% →langkah #9.
Pakai sarung tangan DTT/Steril untuk melaksanakan langkah
selanjutnya.
8) Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan [Link]
selaput ketuban masih utuh saat pembukaan sudah lengkap maka
lakukan amniotomi.
9) Dekontaminasi sarung tangan (celupkan tangan yang masih memakai
sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, lepaskan sarung tangan
dalam keadan terbalik, dan rendam dalam klorin 0,5% selama 10 menit).
Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
10) Periksa denyut jantung (DJJ) setelah kontraksi uterus mereda (relaksasi)
untuk memastikan DJJ masih dalam batas normal (120- 160x/menit).
a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
b) Mendokumentasikan hasil-hasil periksa dalam, DJJ, semua temuan
pemeriksaan dan asuhan yang diberikan ke dalam partograf
11) Beritahukan pada ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin cukup baik, kemudian bantu ibu menemukan posisi nyaman dan
sesuai dengan keinginannya.
a) Tunggu hingga timbul kontraksi atau rasa ingin meneran, lanjutkan
pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman
penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang
ada.
b) Jelaskan pada anggota keluarga tentang peran mereka untuk
mendukung dan memberi semangat pada ibu dan meneran secara
benar.
12) Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran jika ada rasa
ingin meneran atau kontraksi yang kuat. Pada kondisi itu, ibu
44
diposisikan setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan
pastikan ibu merasa nyaman.
13) Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ingin meneran
atau timbul kontraksi yang kuat:
a) Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif.
b) Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara
meneran apabila caranya tidak sesuai.
c) Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai piihannya (kecuali
posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama).
d) Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
e) Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu.
f) Berikan cukup asupan cairan per-oral (minum).
g) Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.
h) Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah
pembukaan lengkap dan dipimpin meneran ≥ 60 menit (1 jam) pada
multigravida.
14) Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam
selang waktu 60 menit.
15) Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut bawah ibu,
jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.
16) Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian sebagai alas bokong ibu.
17) Buka tutup partus set dan periksa kembali kelengkapan peralatan dan
bahan.
18) Pakai sarung tangan DTT/Steril pada kedua tangan.
19) Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva
maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain
bersih dan kering, tangan yang lain menahan belakang kepala untuk
mempertahankan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala.
Anjurkan ibu meneran secara efektif atau bernapas cepat dan dangkal.
20) Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat (ambil tindakan yang
sesuai jika hal itu terjadi), segera lanjutkan proses kelahiran bayi.
45
Perhatikan!
a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar lepaskan lilitan lewat
bagian atas kepala bayi.
b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat
dan potong tali pusat di antara dua klem tersebut.
21) Setelah kepala lahir, tunggu putaran paksi luar yang berlangsung secara
spontan.
22) Setelah putaran paksi luar selesai, pegang kepala bayi secara biparental.
Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakkan
kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah
arkus pubis dan kemudian gerakkan ke arah atas dan distal untuk
melahirkan bahu belakang.
23) Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk menopang kepala
dan bahu. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan
dan siku sebelah atas.
24) Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke
punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki
(masukkan telunjuk diantara kedua kaki dan pegang kedua kaki dengan
melingkarkan ibu jari pada satu sisi dan jari-jari lainnya pada sisi yang
lain agar bertemu dengan jari telunjuk).
25) Lakukan penilaian (selintas)
a) Apakah bayi cukup bulan ?
b) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernapas tanpa kesulitan ?
c) Apakah bayi bergerak dengan aktif ?
Bila salah satu jawaban adalah ―Tidak― lanjut ke langkah resusitasi
pada bayi baru lahir dengan asfiksia (lihat penuntun belajar resusitasi
bayi asfiksia)
Bila semua jawaban adalah ―Ya‖, lanjut ke-26.
26) Keringkan tubuh bayi
27) Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu bayi yang lahir
(hamil tunggal) dan bukan kehamilan ganda (gemeli).
46
28) Beritahu ibu bahwa ibu akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi
baik.
29) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit
(intramuskuler) di 1/3 distal lateral paha (lakukan aspirasi sebelum
menyuntikkan oksitosin).
30) Setelah 2 menit sejak bayi (cukup bulan) lahir, pegang tali pusat dengan
satu tangan pada sekitar 5 cm dari pusar bayi, kemudian jari telunjuk
dan jari tengah tangan lain menjepit tali pusat dan geser hingga 3 cm
proksimal dari pusar bayi. Klem tali pusat pada titik tersebut kemudian
tahan klem untuk mendorong tali pusat ke arah ibu (sekitar 5 cm) dan
klem tali pusat pada sekitar 2 cm distal dari klem pertama.
31) Pemotongan dan pengikatan tali pusat.
a) Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi
perut bayi), dan lakukan pengguntingan di antara 2 klem tersebut.
b) Ikat tali pusat dengan benang DTT/Steril pada satu sisi kemudian
lingkarkan lagi benang tersebut dan ikat tali pusat dengan simpul
kunci pada sisi lainnya.
c) Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan.
32) Letakkan bayi tengkurap di dada ibu untuk kontak kulit ibu bayi
luruskan bahu bayi sehingga dada bayi menempel di dada ibunya.
Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih
rendah dari puting susu atau areola mamae ibu.
a) Selimuti ibu bayi dengan kain kering dan hangat, pasang topi di
kepala bayi.
b) Biarkan bayi melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling
sedikit 1 jam.
c) Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini
dalam waktu 30-60 menit. Menyusu untuk pertama kali akan
berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu
payudara.
47
d) Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah
berhasil menyusu.
33) Pindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
34) Letakkan satu tangan di atas kain pada perut bawah ibu (di atas
simfisis), untuk mendeteksi kontraksi. Tangan lain memegang klem
untuk meneganggkan tali pusat.
35) Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil
tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang atas (dorso-kranial)
secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Jika plasenta tidak lahir
setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga
timbul kontraksi berikutnya dan ulangi kembali prosedur diatas.
36) Bila pada penekanan bagian bawah dinding depan uterus kearah dorsal
ternyata diikuti dengan pergeseran tali pusat kearah distal maka
lanjutkan dorongan kearah cranial hingga plasenta dapat dilahirkan.
a) Ibu boleh meneran tetapi tali pusat hanya ditegangkan (jangan ditarik
secara kuat terutama jika uterus tak berkontraksi) sesuai dengan
sumbu jalan lahir (kearah bawah-sejajar lantai-atas).
b) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak
sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
c) Jika plasenta tidak terlepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat
ulangi pemberian oksitosin 10 unit IM , lakukan katerisasi (gunakan
teknik aseptik) jika kandung kemih penuh, minta keluarga untuk
menyiapkan rujukan, ulangi tekanan dorso-kranial dan penegangan
tali pusat 15 menit berikutnya, jika plasenta tak lahir dalam 30 menit
sejak bayi lahir atau terjadi perdarahan maka segera lakukan tindakan
plasenta manual.
37) Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin
kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah
disediakan.
38) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan messase
uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan messase dengan
48
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
teraba keras).
39) Periksa kedua sisi plasenta (maternal-fetal) pastikan plasenta telah
dilahirkan lengkap. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik atau
tempat khusus.
40) Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan
penjahitan bila terjadi laserasi derajat 1 dan 2 yang menimbulkan
perdarahan.
41) Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam.
42) Pastikan kandung kemih kosong. Jika penuh lakukan kateterisasi.
43) Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan
klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan cairan tubuh, dan bilas di air
DTT tanpa melepas sarung tangan, kemudian keringkan dengan handuk.
44) Ajarkan ibu / keluarga cara melakukan messase uterus dan menilai
kontraksi.
45) Memeriksa nadi ibu dan pastikan keadaan umum ibu baik.
46) Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
47) Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas dengan baik (40-
60 kali / menit).
a) Jika bayi sulit bernafas, merintih, atau retraksi, diresusitasi dan segera
merujuk kerumah sakit.
b) Jika bayi nafas terlalu cepat atau sesak nafas, segera rujuk ke RS
Rujukan.
c) Jika kaki teraba dingin pastikan ruangan hangat. Lakukan kembali
kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan ibu-bayi dalam satu selimut.
48) Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah
didekontaminasi.
49) Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
50) Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh dengan menggunakan
air DTT. Bersihkan cairan ketuban, lendir dan darah di ranjang atau
49
disekitar ibu berbaring. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan
kering.
51) Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan
keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang
diinginkannya.
52) Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
53) Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan
klorin 0,5%, lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik, dan
rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
54) Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan
tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
55) Pakai sarung tangan bersih / DTT untuk melakukan pemeriksaan fisik
bayi.
56) Lakukan pemeriksaan fisik bayi baru ahir. Pastikan kondisi bayi baik,
pernafasan normal (40-60 kali / menit) dan temperatur tubuh normal
(36,5 – 37,5°C) setiap 15 menit.
57) Setelah 1 jam pemberian vitamin K1, berikan suntikan Hepatitis B dip
aha kanan bawah lateral. Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar
sewaktu-waktu dapat disusukan.
58) Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam didalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59) Cuci kedua tangan dalam sabun dan air mengalir kemungkinan
keringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
60) Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital
dan asuhan kala IV Persalinan .
4. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
IMD dilakukan segera sesudah bayi lahir normal dan sehat,
setidaknya selama 1 jam. Dalam waktu 30 menit - 60 menit, kebanyakan
bayi dapat melalui proses inisiasi menyusu dini dengan baik. Durasi
pertama kali menyusu selama 10-15 menit, cukup dari satu payudara ibu.
Manfaat IMD bagi ibu maupun bayi, diantaranya membangun bounding
atau ikatan fisik dan emosional ibu-bayi, merangsang pengeluaran
50
kolostrum/ASI, menstimulasi keterampilan motorik bayi untuk menyusu
lebih efektif, menyeimbangkan suhu tubuh, ibu lebih rileks dan tenang dan
meningkatkan kekebalan pasif maupun aktif bayi. (Nurjasmi, 2021)
a) Langkah Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
1) Segera Setelah Bayi Lahir:
a) Bayi diletakkan di dada ibu dengan posisi telungkup (perut
bayi menempel pada dada ibu).
b) Bayi dikeringkan kecuali bagian tangan untuk
mempertahankan bau cairan ketuban yang mirip dengan
bau puting ibu.
c) Kontak Kulit ke Kulit, Ibu dan bayi dibiarkan dalam
kontak kulit ke kulit tanpa gangguan selama minimal satu
jam. Dan bayi dibiarkan bebas untuk bergerak dan mencari
puting ibu secara alami.
d) Observasi dan Dukungan, Petugas kesehatan akan
mengamati proses breast crawl dan memberikan dukungan
jika diperlukan. Dan Jika bayi tidak menunjukkan tanda-
tanda ingin menyusu, petugas tidak perlu memaksa tetapi
tetap memberikan waktu hingga satu jam Proses Menyusu
Biasanya, hanya akan mulai menyusu dalam waktu 30-60
mant setelah lahir, Setelah bayi berhasil menyusu, proses
IMD dianggap selesai dan bayi dapat dipindahkan untuk
pemeriksaan Tebih lanjut
2) Keuntungan menyusu Dini (IMD) Bagi Ibu dapat merangsang produksi
hormon oksitosin dan prolaktin, yang memberikan berbagai manfaat
bagi ibu, antara lain:
a) Pengaruh Oksitosin:
Membantu kontraksi uterus, sehingga mengurangi risiko
perdarahan pascapersalinan. . Merangsang pengeluaran
kolostrum meningkatkan produksi ASI. dan Mengurangi
stres pada ibu, membuatnya lebih tenang, serta mengurangi
51
rasa nyeri saat plasenta lahir dan selama prosedur
pascapersalinan.
b) Pengaruh prolaktin:
Merangsang peningkatan produksi ASI untuk memenuhi
kebutuhan bayi. Menekan ovulasi, sehingga berperan
sebagai metode kontrasepsi alami setelah persalinan.
3) Keuntungan IMD untuk bayi. di antaranya:
a) Stabilisasi Suhu Tubuh: Kontak kulit ke kulit membantu
bayi mengatur suhu tubuhnya.
b) Peningkatan Kekebalan Tubuh: ASI pertama (kolostrum)
kaya akan antibodi yang melindungi bayi dari infeksi.
c) Regulasi Detak Jantung dan Pernapasan: IMD membantu
menstabilkan pernapasan dan detak jantung bayi.
d) Penguatan Ikatan Emosional: Kontak langsung dengan
ibu memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi.
(Oleh Johara Johara, Wida Rahma Arwiyantasari, dKK
2025)
Bayi Baru Lahir
6) Pengertian Bayi Baru Lahir.
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru saja lahir baik dalam metode
persalinan normal maupun dengan cara lain dengan berat normal 2500
4000 gram. Bayi merupakan suatu anugrah dan sekaligus merupakan
titipan yang diberikan oleh yang maha kuasa. Kehadiran anak dalam
keluarga diharapkan dan merupakan pengganti penerus keluarga. Dengan
demikian, sejak awal kelahiran bayi harus mendapatkan perawatan yang
baik karena merupakan modal utama dalam perkembangan psiko sosio
dan spiritual serta perkembangan motorik. (Oleh Suryaningsih, SSiT.,
[Link]. dKK 2022)
7) Ciri-ciri bayi baru lahir normal
Menurut uryaningsih, SSiT., [Link]. dKK (2022), ciri bayi baru lahir
normal yaitu:
52
1) Mempunyai berat badan lahir 2500-4000 gram
2) Panjang badan lahir 48-52 cm
3) Lingkar dada 30 - 38 cm
4) Lingkar kepala 33 - 35 cm
5) Denyut jantung dalam menit - menit pertama kirakira 180
x/menit, kemudian menurun sampai 120 x/menit atau 140 x/menit
6) Pernafasan pada menit -menit pertama cepat kirakira 180 x/menit,
kemudian menurun setelah tenang kira-kira 40 x/menit
7) Kulit kemerah merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentuk dan diliputi vernic caseosa
8) Rambut lanugo setelah tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna
9) Kuku agak panjang dan lemah
10) Genitalia labia mayora telah menutupi labia minora (pada
perempuan) testis sudah turun (pada anak laki-laki)
11) Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12) Reflek moro sudah baik, apabila bayi dikagetkan akan
memperlihatkan gerakan seperti memeluk
13) Gerak reflek sudah baik, apabila diletakan sesuatu benda diatas
telapak tangan bayi akan menggenggam.
14) Ebminasi baik. Urine dan meconium akan keluar dalam 24 jam
pertama. Meconium berwarna kuning [Link] badan
2500-4000 gr.
8) Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir
1) Perubahan system pernafasan
2) Perubahan system peredaran darah
3) Sistem pengaturan suhu, metabolisme glukosa, gastrointestinal, dan
kekebalan tubuh.
4) Perubahan system reproduksi
5) Perubahan system muskuloskeletal
6) Perubahan system saraf
7) Perubahan system integument
53
8) Perlindungan termal (termolegurasi)
9) Asuhan bayi Baru Lahir Normal
Dalam setiap persalinan, penatalaksanaan bayi baru lahir menganut
beberapa prinsip yang penting dintaranya:
a. Membersihkan jalan napas
b. Isap lender dari mulut dan hidung (bila perlu)
c. Memotong dan merawat tali pusat
d. Lakukan inisiasi menyusi dini
e. Mempertahankan suhu tubuh bayi
f. Memberi vitamin K
g. Memberi obat tetes atau salep mata. Pemberian obat mata eritromisin
0.5% atau tetrasiklin 1%
h. Identifikasi Bayi
i. Pemantauan bayi baru lahir.
j. Pemeriksaan fisik (head to toe)
k. Beri imunisasi hepatitis B 0,5 ml intramuscular, di paha kanann, kira-
kira 1-2 jam setelah pemberian vit K
10) Kunjungan Neonatus
1) Kunjungan Neonatal Hari ke 1 (KN 1)
kunjungan neonatal pertama kali yaitu pada hari pertama sampai
hari ketujuh (sejak 6 jam setelah lahir).
Untuk bayi yang lahir di fasilitas kesehatan pelayanan dapat
dilaksanakan sebelum bayi pulang dari fasilitas kesehatan (>24 jam).
Hal yang dilaksanakan :
1) Jaga kehangatan tubuh bayi
2) Berikan ASI ekslusif
3) Cegah infeksi
4) Rawat tali pusat
2) Kunjungan Neonatal Hari ke 2 (KN 2)
54
Kunjungan neonatal yang kedua adalah kunjungan neonatal yang
kedua kali yaitu pada hari ketiga sampai hari ketujuh.
Hal yang dilaksanakan :
1) Jaga kehangatan tubuh bayi
2) Berikan ASI ekslusif
3) Cegah infeksi
4) Rawat tali pusat
3) Kunjungan Neonatal Hari ke 3 (KN 3)
Kunjungan neonatal yang ketiga adalah kunjungan neonatal yang
ketiga kali yaitu pada hari kedelapan sampai hari kedua puluh
delapan.
1) Periksa ada/ tidak tanda bahaya dan atau gejala sakit
2) Jaga kesehatan tubuh
3) Beri ASI ekslusif
4) Rawat tali pusat
Nifas
1) Pengertian Nifas
Masa nifas adalah periode yang dimulai setelah ibu melahirkan dan
berlangsung hingga organ-organ reproduksi, khususnya rahim, kembali
ke keadaan seperti sebelum hamil (Yulianti, 2022). Masa ini biasanya
berlangsung selama 6 minggu atau 40-42 hari setelah persalinan. Selama
masa nifas, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan fisiologis,
emosional, dan hormonal sebagai proses pemulihan dan penyesuaian
pasca persalinan (Sutanto, 2021).
2) Tahapan Masa Nifas
Menurut (Saputri, 2020) Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah
sebagai berikut:
a. Periode Immediate Post Partum yaitu masa segera setelah plasenta
lahir sampai dengan 24 jam. Masa ini merupakan fase kritis, sering
terjadi insiden perdarahan postpartum karena atonia uteri, bidan perlu
melakukan pemantauan secara berkesinambungan yang meliputi
55
kontraksi uterus, pengeluaran lokia, kandung kemih, tekanan darah dan
suhu.
b. Periode Early Post Partum (24 jam - 1 minggu) Yaitu pada fase ini
bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada
perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup
mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan
baik..
c. Periode Late Post Partum (1 minggu – 5 minggu) Yaitu pada periode
ini bidan tetap melakukan asuhan dan pemeriksaan sehari-hari serta
konseling perencanaan KB.
d. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan
sehat terutama bila selama hamil atau bersalin memiliki penyulit atau
komplikasi.
3. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
1) Perubahan sisitem reproduksi
a) Uterus
Involusi dimulai segera setelah plasenta lahir. Uterus yang setelah
melahirkan beratnya sekitar 1.000 gram akan mengecil secara
bertahap menjadi sekitar 50-100 gram dalam waktu 6 minggu.
Proses ini dipengaruhi oleh kontraksi otot rahim yang terjadi secara
berkala
b) Lochea
Lokia adalah cairan yang keluar dari vagina selama masa nifas
yang terdiri dari darah, sisa jaringan plasenta, dan lendir serviks.
Pengeluaran ini menandakan proses pembersihan dan
penyembuhan dalam rahim.
Adapun macam-macam lochea :
1. Lochea rubra :berwarna merah karena berisi darah segar dan
sisa-sisa selaput ketuban, sisa-sisa selaput ketuban, set-set
desidua, verniks, caseosa, lanugo, dan meconium selama 2 hari
56
pascapersalinan. Inilah lochia yang akan keluar selama sampai
tiga hari postpartum.
2. Lochea sangoilenta : berwarna merah kuning berisi darah dan
lendir yang keluar pada hari ke 3 sampai tiga hari postpartum.
3. Lochea serosa : Dimulai dengan versi yang lebih pucat dari
lochea rubra berbentuk serum dan berwarna merah jambu
kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berwarna merah jambu
kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari
ke 7 sampai hari ke 14 pasca persalinan. Lochea alba
mengandung terutama cairan serum, jaringan desidua, leukosit
dan eritrosit.
4. Lochea alba : adalah lochea yang terakhir. Dimulai dari hari ke
14 kemudian masuk lama makin sedikit hingga sama sekali
berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya. Bentuknya
seperti cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit
dan sel-sel desidua.
c) Serviks
Setelah persalinan, serviks (leher rahim) mengalami berbagai
perubahan fisiologis sebagai bagian dari proses pemulihan menuju
kondisi sebelum kehamilan. Perubahan ini terjadi secara bertahap
selama masa nifas dan merupakan proses normal yang penting
untuk diperhatikan (Anwar, 2022).
d) Vagina
Setelah persalinan, vagina mengalami berbagai perubahan
fisiologis sebagai bagian dari proses pemulihan menuju kondisi
sebelum hamil. Perubahan ini terutama terjadi akibat distensi
(peregangan) selama proses kelahiran, dan akan pulih secara
bertahap selama masa nifas (Yanti & Andreinie, 2020).
e) Perineum
Terjadinya luka akibat ruptur perineum maupun episiotomi akan
menyebabkan rasa nyeri pada jalan lahir. Tingkat nyeri yang
dirasakan sesuai dengan luas lukanya. Dengan perawatan luka yang
57
baik yaitu menjaga luka selalu bersih dan kering maka dalam
waktu 2-3 minggu luka akan sembuh. Hubungan seksual bisa
dilakukan setelah masa nifas, namun demikian biasanya pada awal-
awal minggu ibuakan merasakan nyeri saat hubungan seksual
(dyspareunia), bahkan sampai berminggu-minggu. Hal ini
disebabkan karena adanya trauma akibat persalinan. Hasil
penelitian menunjukkan ada hubungan antara tingkat trauma
perineum dengan intensitas dyspareunia selama 3-6 bulan post
partum (Juliastutiet al., 2021).
f) Payudara
Selama masa nifas, payudara mengalami berbagai
perubahan fisiologis sebagai respon terhadap perubahan
hormonal dan persiapan untuk menyusui. Perubahan ini
merupakan bagian penting dari proses laktasi (produksi dan
pengeluaran ASI) yang dimulai segera setelah persalinan
(Yulianti and Ratnawati, 2021). Berikut adalah perubahan
fisiologis pada payudara selama masa nifas:
1. Pembesaran dan Penegangan Payudara
Setelah melahirkan, payudara akan terasa lebih penuh,
berat, dan tegang akibat meningkatnya aliran darah dan
produksi ASI. Proses ini biasanya dimulai 2-4 hari
pascapersalinan dan dikenal sebagai engorgement
(pembengkakan payudara)
2. Produksi Kolostrum
Pada awal masa nifas (hari 1-3), payudara
menghasilkan kolostrum, yaitu cairan kental berwarna
kekuningan yang kaya akan antibodi dan zat gizi penting
untuk bayi. Kolostrum sangat penting untuk sistem
kekebalan bayi yang baru lahir.
3. Transisi ke ASI Matur
58
Sekitar hari ke-3 hingga ke-5, kolostrum berubah
menjadi ASI transisional, lalu menjadi ASI matur (putih
dan lebih encer). Produksi ASI meningkat seiring dengan
frekuensi menyusui.
4. Perubahan Areola dan Puting
a. Areola (bagian gelap di sekitar puting) menjadi lebih
gelap dan melebar selama kehamilan dan tetap
demikian untuk sementara waktu.
b. Puting dapat menjadi lebih menonjol dan sensitif
karena stimulasi selama menyusui.
c. Rasa nyeri atau lecet pada puting sering terjadi di
awal masa menyusui, tetapi akan membaik dengan
teknik menyusui yang benar.
4. Kunjungan Masa Nifas
Menurut (Kemenkes, 2020) jadwal kunjungan pada masa nifas dibagi
menjadi 4;
a. Kunjungan I (KF 1) 6 jam sampai 2 hari postpartum.
Pada kunjungan pertama yang dilakukan adalah:
1) Pemantauan jumlah darah yang keluar
2) Pemeriksaan cairan yang keluar dari vagina
3) Pencegahan terjadinya perdarahan postpartum
4) Menilai kontraksi uterus, Tinggi Fundus Uteri serta kandung
kemih
5) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota
keluarga bagaimana mencegah pendarahan masa nifas karena
atonia uteri.
6) Mendeteksi penyebab perdarahan yang lain serta melakukan
rujukan bila diperlukan
7) Pemeriksaan payudara dan Pemberian ASI Awal serta anjuran
ASI Eksklusif sampai 6 bulan tanpa makanan pendamping
apapun
59
8) Pemberian kapsul Vitamin A
9) Minum tablet tambah setiap hari
10) Pelayanan KB pasca persalinan
11) Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara mempereat
ikatan batin (bounding attachment) antara ibu dan bayi
12) Menjaga bayi agar tetap hangat dan mencegah hipotermi.
13) Memberikan Konseling tanda bahaya nifas
14) Memberikan Konseling tentang Personal Hygiene ( adalah
melakukan pencegahan perdarahan dan meberikan konseling
pencegahan akibat atonia uteri, mendeteksi dan perawatan
penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan jika
diperlukan, pemberian ASI awal, memberikan edukasi tentang
cara mepererat 18 hubungan ibu dan bayi, menjaga bayi agar
tetap sehat dan mencegah hipotermi
b. Kunjungan II (KF 2) 3-7 hari postpartum
Pada kunjungan kedua asuhan yang dilakukan yaitu:
1) Memastikan involusi uteri berjalan dengan normal
2) Memastikan Kontraksi uterus baik.
3) TFU pertengahan simpisis dan pusat
4) Tidak ada perdarahan yang abnormal
5) Menilai adanya tanda-tanda infeksi atau demam
6) Memastikan ibu dapat beristirahat dengan baik
7) Memastikan ibu mendapat aupan makanan dan cairan yang
cukup
8) Memastikan ibu Bisa menyusui bayinya dengan baik tanpa ada
penyakit yang lain
9) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi dalam
sehari-hari.
c. Kunjungan III (KF 3) 8-28 hari postpartum.
Asuhan yang diberikan pada kunjungan ketiga sama dengan asuhan
yang diberikan pada kunjungan kedua.
60
d. Kunjungan IV (KF4) 19-42 hari postpartum.
Menanyakan pada ibu tentang hal-hal menyulitkan yang dialami oleh
ibu atau bayinya. Dan emberikan konseling untuk KB secara dini.
Keluarga Berencana (KB)
3) Pengertian
Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak,
jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi,
perlindungan, dan bantuan. sesuai dengan hak reproduksi untuk
mewujudkan keluarga yang berkualitas (Aqmal, 2020). Program KB
adalah suatu langkah-langkah atau suatu usaha kegiatan yang disusun
oleh organisasi-organisasi KB dan merupakan program pemerintah untuk
mencapai rakyat yang sejahtera berdasarkan peraturan dan perundang-
undangan kesehatan. KB adalah mengatur jumlah anak sesuai dengan
keinginan dan menentukan kapan ingin hamil. Jadi, KB (Family
Planning, Planned Parenthood adalah suatu usaha untuk mengatur atau
merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai alat
kontrasepsi untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera
(Tiffani dkk.. 2020).
Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah kehamilan dengan
berbagai metode yang bertujuan untuk mengatur kesuburan. Kontrasepsi
menjadi bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi yang penting dalam
mendukung program Keluarga Berencana (KB) dan menurunkan angka
kelahiran yang tidak diinginkan. Dengan. adanya kontrasepsi, pasangan
dapat merencanakan kehamilan sesuai dengan kondisi kesehatan,
ekonomi, dan sosial mereka (Mandira dkk, 2020).
Menurut World Health Organization (WHO), kontrasepsi adalah
tindakan yang dilakukan untuk mencegah konsepsi atau pembuahan
dengan berbagai metode yang dapat bersifat sementara maupun
permanen. Sementara itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) mendefinisikan kontrasepsi sebagai cara atau alat
yang digunakan untuk menghindari atau menunda kehamilan dalam
jangka. waktu tertentu (Nurullah, 2021).
61
4) Tujuan KB
Tujuan umum: membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan
sosial eknomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak,
agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya. 2. Tujuan lain: pengaturan kelahiran,
pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan
keluarga. Pendeskripsian dari tujuan KB di atas: 1. Memperbaiki
kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa. 2.
Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan
bangsa. 3. Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan
kesehatan reproduksi yang berkualitas, termasuk upaya-upaya
menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak serta penanggulangan
masalah kesehatan reproduksi. (Oleh Yayah Rokayah, Eli Inayanti, Siti
Rusyanti · 2021)
5) Macam-Macam Metode KB
1) KB Non Hormonal
a. Metode amenore laktasi (MAL)
metode amenorea laktasi (MAL) merupakan salah satu
metode kontrasepsi yang direkomendasikan bagi ibu menyusui <
6 bulan (Rifdi, 2021). Metode ini memberikan beberapa
keuntungan baik untuk ibu maupuan bayi. Pengguna MAL
akan mendorong ibu agar tetap memberikan ASI eksklusif.
Pemberian ASI eksklusif akan meningkatkan kualitas
tumbuh kembang bayi (Hasanah, 2020).
b. Kondom
Kondom pria: sarung lateks atau poliuretan yang dikenakan pada
penis untuk menangkap sperma sebelum memasuki vagina.
Kondom wanita sarung poliuretan yang dimasukkan ke dalam
vagina sebelum berhubungan seksual. (Sulistiani dan
Setiyaningsih, 2021).
Keuntungan:
62
a. Efektivitas cukup tinggi. Angka kegagalan penggunaan
kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan
b. Murah dan mudah didapatkan
c. Pengguna tidak perlu melakukan pemeriksaan khusus
d. Selain sebagai alat kontrasepsi, juga mencegah penularan
penyakit HIV.
e. Membantu mencegah terjadinya kanker serviks.
Kerugian:
a. Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan
kontrasepsi.
b. Mengurangi sentuhan langsung saat berhubungan seksual.
c. Dapat menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi.
c. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD)
AKDR atau Intrauterine Device (IUD) adalah alat kecil berbentuk
T yang dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan.
Terdapat dua jenis utama IUD non-hormonal:
a. IUD Tembaga: mengandung tembaga yang menciptakan
lingkungan toksik bagi sperma, menghambat pergerakan dan
kelangsungan hidupnya.
b. IUD Inert: tidak mengandung zat aktif tetapi berfungsi sebagai
penghalang mekanis di dalam rahim. IUD memiliki efektivitas
lebih dari 99% dan dapat bertahan antara 5 hingga 10 tahun,
tergantung jenisnya. Efek sampingnya bisa berupa peningkatan
perdarahan menstruasi dan kram perut pada beberapa wanita
(Sulistiani dan Setiyaningsih, 2021).
Kelebihan penggunaan AKDR/IUD adalah:
a. kontrasepsi yang sangat efektif, reversibe
b. waktu penggunaan jangka panjang dengan tingkat kegagalan
kurang dari 1%
c. tidak mempengaruhi ASI.
d. AKDR LNG 13,5 mg juga dapat digunakan untuk opsi
penggunaan alat kontrasepsi jangka Panjang
63
e. Biaya yang terjangkau (karena sekali pasang untuk jangka
panjang), apalagi bila menggunakan asuransi seperti BPJS,
maka bisa mendapat pelayanan secara gratis
f. IUD dapat segera dilepas bila ingin hamil kembali
g. Kontrol IUD hanya 1 tahun sekali bila tidak ada keluhan
Langsung dapat dipasang setelah persalinan
Kekurangan penggunaan AKDR/IUD:
a. Perlu pemeriksaan dalam
b. Deteksi dini infeksi genitalia sebelum pemasangan
AKDR/IUD
c. Diperlukan tenaga terlatih dengan pencabutan dan pelepasan
d. Amenorea berupa siklus menstruasi yang menjadi tidak
teratur, yaitu lebih panjang dan banyak, juga timbul flek di
tengah siklus menstruasi
e. Kehamilan ektopik relative tinggi
f. Tidak dianjurkan wanita yang mengalami penyakit
kardiovaskuler Tidak melindungi dari infeksi menular seksual
(IMS)
g. Proses pemasangan yang sedikit membuat tidak nyaman
h. Efek samping berupa siklus menstruasi yang menjadi tidak
teratur, yaitu lebih panjang dan banyak, juga timbul flek di
tengah siklus menstruasi
i. Dapat menyebabkan terjadinya penyakit radang panggul
j. Memungkinkan terjadinya anemia akibat menstruasi yang
banyak
d. Kontrasepsi mantap (tubektomi atau vasektomi)
Tubektomi memiliki efektivitas sebesar 99,5%, dengan cara
mengikat/ memotong/ memasang cicin tuba falopii sehingga
sperma dan ovum tidak bertemu. Vasektomi memiliki efektifitas
99,85%, dengan cara oklusi vasa defensia sehingga alur
trasportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi
64
(pembuahan )tidak terjadi. (Oleh Dessy Hidayati Fajrin, dkk·
2022)
Keuntungan:
a. Sangat Efektif
tidak mempengaruhi ASI, tidak ada efek samping jangka
panjang, tidak ada perubahan fungsi seksual, dan
pembedahan sederhana dengan anatesi lokal. Sedangkan,
pada vasektomi efektif setelah 20 ejakulasi atau 3 bulan dan
tidak ada efek samping jangka panjang.
b. Sangat Nyaman
Tindakan ini benar-benar dapat mencegah kehamilan.
Pasangan bisa langsung berhubungan seksual tanpa
mempersiapkan suatu apa pun agar kehamilan tidak terjadi.
c. Kehidupan Seks Lebih Baik
Kontrasepsi ini tidak menimbulkan perbedaan saat
berhubungan badan, sehingga perasaan puasnya tidak
berbeda. Tindakan ini juga tidak memengaruhi hormon atau
dorongan seks. Maka dari itu, hubungan suami-istri ini bisa
dilakukan tanpa perlu khawatir kehamilan terjadi.
Kekurangan:
a. Bersifat permanen
Bersifat permanen sehingga tidak bisa kembalikan seperti
semula (diperlukan konseling dan informed consent), klien
dapat menyesal dikemudian hari dan rasa tidak nyaman
jangka pendek akibat prosedur operatif..
b. Memiliki beberapa resiko
Pada dasarnya, tindakan ini aman untuk dilakukan. Namun,
ada beberapa risiko yang bisa terjadi, salah satunya infeksi.
Meski kemungkinannya kecil dan mudah untuk diobati
dengan antibiotik. Selain itu, pasca tindakan operasi juga bisa
65
menimbulkan rasa sakit, pendarahan, memar, hingga
bengkak.
c. Tidak mencegah PMS
Perlu diketahui jika kontrasepsi ini tidak dapat mencegah
penyebaran infeksi menular seksual. Air mani masih
memungkinkan untuk membawa infeksi ini, meski tidak
mengandung sperma. Cara terbaiknya adalah melakukan tes
secara teratur dan menggunakan kondom.
2) KB Hormonal
a. Pil
a) Pil kombinasi
Pil KB atau oral contraceptives pill merupakan alat
kontrasepsi hormonal yang berupa obat dalam bentuk pil yang
dimasukkan melalui mulut (diminum), berisi hormon estrogen
dan atau progesteron. Pil KB atau oral contraceptives pill
bertujuan untuk mengendalikan kelahiran atau mencegah
kehamilan dengan menghambat pelepasan sel telur dari ovarium
setiap bulannya. Pil KB atau oral contraceptives pill akan efektif
dan aman apabila digunakan secara benar dan konsisten. Pil KB
atau oral contraceptives pill secara umum tidak sepenuhnya
melindungi wanita dari infeksi penyakit menular seksual (Oleh
Nurul Hidayatun Jalilah, [Link].T., [Link], Ruly Prapitasari,
[Link].T., [Link] · 2021)
Keuntungan:
a. Pil kontrasepsi oral kombinasi berisi hormon estrogen dan
progesteron yang menghambat. terjadinya ovulasi,
membuat endometrium tidak mendukung untuk implantasi,
membuat lendir serviks tidak dapat ditembus.
b. Pil KB juga merupakan salah satu metode kontrasepsi
paling non-invasif yang tersedia saat ini. Metode ini juga
bukan merupakan metode permanen, yaitu kesuburan alami
wanita akan pulih setelah ia menghentikan penggunaan pil.
66
Kerugian:
a. Perlu diminum secara teratur, secara cermat dan koresisten
b. Tidak ada perlindungan terhadap IMS
c. Peningkatan resiko gangguan sirkulasi seperti hipertensi
d. Peningkatan risiko adenoma hati, ikterus kolestatik. batu
ginjal
e. Efeknya pada kanker payudara
f. Tidak disarankan bagi wanita perokok usia diatas 35 tahun
Efek samping:
Meskipun hanya sedikit wanita yang menderita efek
samping serius karena meminum pil, ada pula yang
mengalami efek samping yang harus ditanggung. Ini bisa
berupa Menstruasi tidak teratur atau perdarahan pervaginam,
Sakit kepala biasa (bukan migrain), Payudara nyeri,
Perubahan berat badan, Perubahan mood dan aktivitas
seksual. (BKKBN, 2021).
b) Pil progestin
Kontrasepsi Pil Progestin adalah pil yang mengandung
progestin saja dengan dosis yang sangat rendah seperti hormon
progesterone alami pada tubuh perempuan (Direktorat
Kesehatan Keluarga, 2021).
a. Evektivitas: Jika digunaka dengan benar, risiko kehamilan
kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1 tahun.
b. Efek samping: Menstruasi tidak teratur atau perdarahan
pervaginam, Tidak menstruasi, Sakit kepala biasa (bukan
migrain), Mual atau pusing, Payudara nyeri, Perubahan berat
badan, Perubahan mood dan aktivitas seksual, Jerawat,
Gastritis. (BKKBN, 2021).
c) Pil KB Darurat (Emergency Contraceptive Pills)
Kontrasepsi darurat digunakan dalam 5 hari pasca senggama
yang tidak terlindung dengan kontrasepsi yang tepat dan
konsisten. Semakin cepat minum pil kontrasepsi darurat,
67
semakin efektif. Kontrasepsi darurat banyak digunakan pada
korban perkosaan dan hubungan seksual tidak terproteksi.
b. Suntik
a) Kontrasepsi suntik kombinasi
Kontrasepsi suntik merupakan metode pencegahan kehamilan
melalui pemberian hormon progestin dan estrogen yang
disuntikkan secara intra muskuler. yaitu Kontrasepsi suntik
kombinasi (mengandung hormon estrogen dan progestin)
Kemenkes RI. (2021).
a. Efektivitas: Jika digunakan dengan benar, risiko kehamilan
kurang dari 1 diantara 100 ibu dalam 1 tahun.
b. Efek samping: Perubahan siklus menstruasi (menstruasi jadi
sedikit atau semakin pendek, menstruasi tidak teratur,
menstruasi memanjang, menstruasi jarang, atau tidak
menstruasi), sakit kepala, pusing, nyeri payudara, kenaikan
berat badan.
b) Kontrasepsi suntik progestin
Kontrasepsi suntik progestin (mengandung hormon progestin).
Estrogen tidak dapat dipergunakan sebagai kontrasepsi hormonal
dikarenakan mempunyai beberapa efek yang membahayakan
pada sistem kardiovaskuler dan peningkatan risiko penyakit
keganasan. Kemenkes RI. (2021).
a. Efektivitas: Jika digunakan dengan benar, risiko kehamilan
kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1 tahun. Kesuburan
tidak segera kembali setelah berhenti, biasanya dalam waktu
beberapa bulan.
b. Keuntungan khusus bagi kesehatan: Mengurangi risiko
kanker endometrium dan fibroid uterus. Dapat mengurangi
risiko gejala penyakit radang paggul simptomatik dan
anemia defisiensi besi. Meringankan gejala endometriosis
dan penyakit sel sabit pada ibu dengan penyakit anemia sel
sabit.
68
c. Implant
Kontrasepsi implan adalah kontrasepsi berbentuk batang plastik
kecil mirip korek api yang dimasukkan dibawah kulit lengan atas
dimana kontrasepsi ini mengandung hormon progestin yang
mencegah pelepasan sel telur (ovulasi), menebalkan lendir di leher
rahim, dan menipiskan lapisan rahim untuk membuat sperma sulit
membuahi sel telur. (Oleh Sofa Fatonah H.S, SST., MM.,
[Link],2023)
a. Efektivitas: Secara umum, risiko kehamilan kurang dari 1 di
antara 100 ibu dalam 1 tahun.
b. Efek samping: Perubahan siklus menstruasi (pada beberapa
bulan pertama: menstruasi sedikit dan singkat, menstruasi
tidak teratur lebih dari 8 hari, menstruasi jarang, atau tidak
menstruasi setelah setahun: menstruasi sedikit dan singkat,
menstruasi tidak teratur, dan menstruasi jarang), sakit kepala,
pusing, perubahan suasana perasaan, perubahan berat badan,
jerawat (dapat membaik atau memburuk), nyeri payudara,
nyeri perut, dan mual.
Konsep Dasar Manajemen Kebidanan
6) Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen kebidanan penting karena membantu bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas dan bermartabat.
Manajemen kebidanan juga membantu bidan dalam memecahkan
masalah yang dihadapi klien. Manajemen sangat penting dalam
melakukan asuhan kebidanan karena dapat membantu bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas, membantu bidan
dalam memecahkan masalah yang dihadapi klien, membantu bidan
dalam mengorganisir pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah,
membantu bidan dalam memberikan arah/kerangka dalam menangani
kasus yang menjadi tanggung jawabnya, membantu bidan dalam
memberikan pelayanan kebidanan yang holistik selama berbagai fase
kehidupan Wanita serta membantu bidan dalam mengatasi komplikasi
69
yang terjadi selama memberikan asuhan kebidanan pada klien ataupun
pasien (Vera Iriani Abdullah,dkk, 2025).
Bidan dapat melakukan manajemen kebidanan melalui
pendekatan pemecahan masalah secara sistematis, melakukan
pengkajian, analisis data, diagnosis kebidanan, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi, hal ini harus berdasarkan teori manajemen,
fungsi-fungsi manajemen, dan manajemen skill. Manajenen kebidanan
dilakukan oleh Bidan sebagai pemberi asuhan kebidanan kepada
individu, keluarga, dan Masyarakat (Vera Iriani Abdullah, dkk, 2025)
7) Proses Manajemen Kebidanan
Manajemen dalam asuhan kebidanan merupakan cara yang
diterapkan oleh Bidan untuk memberikan layanan kebidanan. Proses ini
mencakup pengkajian, penetapan diagnosis kebidanan, perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi, dan pencatatan dari asuhan kebidanan tersebut
(Kemenkes, 2020).
Manajemen Asuhan Kebidanan sesuai 7 langkah Varney, yaitu:
(1) Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan
mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi
keadaan klien secara lengkap, yaitu: Riwayat kesehatan,
pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan, meninjau catatan
terbaru atau catatan sebelumnya, meninjau data laboratorium dan
membandingkan dengan hasil studi. Pada langkah pertama ini
dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang
berkaitan dengan kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar
awal yang lengkap. Bila klien mengalami komplikasi yang perlu
dikonsultasikan kepada dokter dalam manajemen kolaborasi bidan
akan melakukan konsultsi. Pada keadaan tertentu. dapat terjadi
langkah pertama akan overlap dengan 5 dan 6 (atau menjadi bagian
dari langkah-langkah tersebut) karena data yang diperlukan diambil
dari hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostic
yang lain. Kadang-kadang bidan perlu memulai manajemen dari
70
langkah 4 untuk mendapatkan data dasar awal yang perlu
disampaikan kepada dokter. (Oleh Risa Pitriani, dKK 2025).
(2) Langkah II : Interpretasi data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap
diagnose atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi
yang benar atas data-data yang telah dikumpulakan. Data dasar yang
sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditentukan masalah
atau diagnose yang sesipik. Kata masalah dan diagnosa keduanya
diguna kan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaiakan
seperti diagnosa tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang
dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. Masalah
sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang didentifikasi oleh
bidan. Masalah ini sering menyertai diagnosa, Sebagai contoh
diperoleh diagnosa "kemungkinan wanita hamil, dan masalah yang
berhubungan dengan diagnosa ini adalah bahwa wanita tersebut
mungkin tidak merginginkan kehamilannya. Contoh lain yaitu
wanita pada trimester ketiga merasa talcut terhadap proses
persalinan dan melahirkan yang sudah tidak dapat ditunda lagi.
P'erasaan takut tidak termasuk dalam kategori "nomenklatur standar
diagnosa tetapi tentu akan menciptakan suatu masalah yang
membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan suatu
perencanaan untuk mengurangi rasa takut. (Oleh Risa Pitriani, dKK
2025).
(3) Langkah III: Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa
potensial lain berdasarkan ragkaian masalah dan diagnosa yang
sudah di identifikasi. Langkah ini membutuh-kan antisipasi, bila
memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien,
bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial
ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini penting sekali melakukan
asuhan yang aman. Contoh seorang wanita dengan pembesaran
uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbangkan
71
kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang berlebihan tersebut
(misalnya polihidramnion, besar dari masa kehamilan, ibu dengan
diabetes kehamilan, atau kehamilan kembar). Kemudian ia harus
mengantisipasi, melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan
bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan post
partum yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus
yang berlebih asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak,
yaitu oleh bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif
karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut.
Oleh karena itu, langkah ini tugas bidan adalah merumuskan
rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama
klien, Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan
menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan
pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi
tentang apa yang atau tidak akan dilakukan oleh klien. Rasional
berarti tidak berdasarkan asumosi, tetapi sesuai dengan keadan klien
dan pengetahuan teori yang benar dan memadai atau berdasarkan
suatu data dasar yang lengkap, dan bisa dianggap valid sehingga
menghasilkan asuhan klien yang lengkap dan tidak berbahaya.
(Oleh Risa Pitriani, dKK 2025).
(4) Langkah IV: Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan
Segera
Langkah keempat mencerminkan sikap kesinambungan proses
penatalaksanaan yang tidak hanya dilakukan selama perawatan
primer atau kunjungan prenatal periodic, tetapi juga saat bidan
melakukan perawatan berkelanjutan bagi wanita tersebut, misalnya
saat ia menjalani persalina. Data baru yanf diperoleh terus dikaji
dan kemudian di evaluasi.
(5) Langkah V : Merencanakan asuhan yang menyeluruh
Mengembangkan sebuah rencan keperawatan yang menyeluruh
ditentukan dengan mengacu pada hasil langkah sebelumnya.
Langkah ini merupakan pengembangan masalah atau diagnosis
72
yang diidentifikasi baik pada saat ini maupaun yang dapat
diantisipasi serta perawatan kesehatan yang dibutuhkan.
(6) Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan
Melaksanakan rencana perawatan secara menyeluruh. seperti yang
telah dicurakan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien
dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan oleh bidan atau sebagian
dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim
kesehatan yang lain. Dalam situasi dimana bidan dalam manajemen
asuhan bagi klien adalah bertanggungjawab terhadap terlaksananya
rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen
yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan
mutu dari asuhan klien. (Oleh Risa Pitriani, dKK 2025).
(7) Langkah VII : Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar
telah terpenuhi sesuai dengan sebagaimana telah diidentifikasi
didalam masalah diagnosa, ulangi kembali proses manajemen
dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan
tetapi belum efektif atau merencanakan kembali asuhan yang belum
terlaksana. Pastika bahwa ibu mengerti dengan apa yang telah
disampaikan bidan dan ketika ibu kembali untuk kunjungan ulang,
bidan dapat mengevaluasi apakah rencana asuhan yang dibuat sudah
efektif. (Oleh Risa Pitriani, dKK 2025).
(8) Dokumentasi
“Documen“ berarti satu atau lebih lembar kertas resmi dengan
tulisan di atasnya dokumentasi berisi dokumen atau pencatatan
yang berisi bukti atau kesaksian tentang sesuatu atau suatu
pencatatan tentang. sesuatu. Dokumentasi dalam bidang kesehatan
adalah suatu sistem pencatatan atau pelaporan informasi atau
kondisi dan perkembangan kesehatan pasien dan semua kegiatan
yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Dalam pelayanan
kebidanan, setelah melakukan pelayanan semua kegiatan
73
didokumentasikan dengan menggunkan konsep SOAP yang terdiri
dari:
S : Menurut persfektif klien. Data ini diperoleh melalui anamnesa
atau allow anamnesa (sebagai langkah I dalam manajemen
Varney)
O : Hasil pemeriksaan fisik klien, serta pemeriksaan diagnostic
dan pendukung lain. Data ini termasuk catatan medic pasien
yang lalu. (sebagai langkah I dalam manajemen Varney).
A : Analisis/interpretasi berdasarkan data yang terkumpul, dibuat
kesimpulan berdasarkan segala sesuatu yang dapat
teridentifikasi diagnosa/masalah. Identifikasi diagnose/masalah
potensial. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter/konsultasi kolaborasi dan rujukan. (sebagai langkah II,
III, IV dalam manajemen Varney).
P : Merupakan gambaran pendokumentasian dari tindakan
(implementasi) dan evaluasi rencana berdasarkan pada langkah
V, VI, VII pada evaluasi dari flowsheet. Planning termasuk:
Asuhan mandiri oleh bidan, kolaborasi/konsultasi dengan
dokter, nakes lain, tes diagnostic/laboratorium, konseling
penyuluhan Follow up.
Manajemen Asuhan Kebidanan 7 Langkah Varney Pada Kehamilan
I. Pengumpulan Data Dasar (Pengkajian)
a. Data Subyektif
Data subjektif adalah informasi yang disampaikan langsung oleh
klien mengenai persepsi, keluhan, atau pengalaman pribadi
mereka. Data ini mencakup gejala yang tidak dapat diukur secara
langsung oleh perawat, seperti rasa nyeri, cemas, mual, atau
kelelahan. Sejalan dengan temuan dalam studi oleh Sejalan dengan
temuan Boss et al. (2024), data subjektif yang berasal dari
pengalaman dan persepsi pasien, seperti perasaan diperlakukan
dengan kasih sayang (compassion) dan komunikasi yang efektif,
terbukti menjadi prediktor kuat terhadap penilaian kualitas layanan
74
secara keseluruhan (Boss et al., 2024). Hal ini menegaskan
pentingnya data subjektif sebagai sumber informasi utama dalam
menilai efektivitas asuhan keperawatan dan membangun hubungan
terapeutik yang positif.
1) Identitas
Nama : Pengkajian dilakukan dengan lengkap dan jelas
untuk menghindari terjadinya kekeliruan sehingga
dapat membedakan pasien yang satu dengan pasien
yang lainnya dan mengetahui pasien.
Umur : Untuk menentukan prognosa kehamilan, karena
umur terlalu tua atau terlalu muda maka persalinan
lebih beresiko. Usia ibu yang 20 tahun, termasuk
usia yang terlalu muda dengan keadaan uterus yang
kurang matur untuk melahirkan. Sedangkan ibu
dengan usia 35 tahun tergolong usia yang terlalu
tua untuk melahirkan.
Suku : Untuk mengetahui adat istiadat dan budaya yang
menguntungkan atau merugikan bagi ibu bersalin
Pendidikan : Sebagai dasar bidan untuk menentukan metode
yang paling tepat dalam menyampaikan informasi
kepada pasien. Tingkat pendidikan ini sangat
mempengaruhi daya tangkap, tanggap dan pasien
dapat mengelola informasi terhadap asuhan yang
diberikan oleh bidan
Pekerjaan : Dikaji untuk mengetahui sosial ekonomi,
mengetahui sejauh mana pengaruh pekerjaan
pasien dengan permasalahan kesehatan pasien serta
kemungkinan pengaruh pekerjaan pasien terhadap
permasalahn keluarga pasien atau klien Alamat dan
nomor telepon untuk memudahkan menghubungi
jika diperlukan dalam keadaan mendesak sehingga
bidan mengetahui tempat tinggal pasien. Data ini
75
juga memberikan gambaran mengenai jarak dan
waktu yang ditempuh pasien menuju tempat
pelayanan kesehatan.
Alamat : Untuk mengetahui tempat tinggal serta Memper-
mudah pemantauan bila diperlukan
2) Alasan Datang
Untuk mengetahui alasan yang membuat pasien datang ke
tempat pelayanan kesehatan, sehingga dapat diberikan asuhan
yang tepat sesuai dengan tujuan kedatangan ibu berkaitan
dengan persalinan.
3) Keluhan Utama
Dikaji untuk mengetahui keluhan yang saat ini dirasakan ibu
dan untuk mengenali tanda dan gejala berkaitan dengan
persalinan:
a) Sering BAK, disebabkan oleh tekanan uterus karna turunnya
bagian bawah janin sehingga kandung kemih tertekan dan
mengakibatkanfrekuensi BAK meningkat.
b) Sesak nafas, disebabkan oleh tekanan bayi yang berada
dibawah diafragma menekan paru-paru ibu.
c) Oedem atau pembengkakan, disebabkan oleh tekanan uterus
yangmembesar pada vena-vena panggul saat wanita tersebut
duduk atau berdiri, oedem akibat kaki yang menggantung,
pakaian yang terlalu ketat yang menghambat aliran balik
vena dari ekstremitas bagian bawah juga memperburuk
masalah.
d) Nyeri punggung bagian belakang, disebabkan oleh berat
uterus yang membesar, membungkuk yang berlebihan,
berjalan tanpa istirahat, danlain-lain.
e) Terjadinya hemmoroid yang biasanya menyebabkan
perdarahan di daerah dubur yang biasanya keluar berupa
tetesan, tetapi juga bisa mengalir deras. Darah berwarna
merah muda atau biasanya penderita tidak merasakan sakit.
76
Hemmoroid disebabkan oleh pengaruhkenaikan hormon seks
dan bertambahnya volume darah, menyebabkan pelebaran
pada pembuluh darah vena didaerah dubur. Begitu pula
akibat penekanan janin dalam rahim pada pembuluh darah
vena didaerah panggul akan mengakibatkan pembendungan.
Ditambahlagi dengan pengejanan waktu buang air besar
yang sering terjadi pada wanita hamil karna konstipasi (sulit
buang air besar), akan menyebabkan terjadinya prolaps
(keluar dari dubur) hemmoroid.
4) Riwayat menstruasi
Riwayat menstruasi terdiri dari:
a) Menarche adalah terjadi haid pertama kali yaitu pada usia
pubertas, yaitu sekitar 12-16 tahun.
b) Siklus haid pada setiap wanita tidak sama. Siklus haid yang
normal adalah 28 hari, tetapi siklus ini bisa maju sampai 3
hari atau mundur sampai 3 hari. Panjang siklus wanita
biasanya adalah 25-28 hari.
c) Lama haid, biasanya antara 2-5 hari, ada yang 1-2 hari
diikuti darah sedikit-sedikit dan ada yang sampai 7-8 hari.
d) Keluhan yang dirasakan wanita pada saat menstruasi
adalah dismerhea.
e) Flour albus (keputihan). Warnanya, bau, gatal atau tidak.
Karna jika mengalami hal seperti ini perlu waspada terjadi
infeksi menular seksual.
5) Riwayat pernikahan
Ibu menikah berapa kali, lamanya, dan umur pertama kali
menikah.
a) Jika lama menikah ≥ 4 tahun tetapi belum hamil bisa
menyebabkan masalah pada kehamilannya, misalnya pre
eklampsia, persalinan tidak lancar, dan distosia bahu.
77
b) Lama menikah ≤ 2 tahun, sudah punya lebih dari 1 anak,
bahayanya perdarahan setelah bayi lahir karena kondisi ibu
masih lemah.
c) Umur pertama kali menikah < 18 tahun, pinggulnya belum
cukup pertumbuhannya sehingga jika hamil beresiko
kesulitan waktu melahirkan.
d) Jika hamil umur > 35 tahun bahayanya bisa terjadi
hipertensi, pre- eklampsia, ketuban pecah dini, persalinan
tidak lancar, perdarahans etelah bayi lahir. (Walyani,
Elisabeth, 2017: 128).
6) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Kehamilan : untuk mengetahui jarak persalinan terakhir
dengan kehamilan apabila kurang dari 12 bulan
meningkatkan kemungkinan risiko prematur,
anemia juga lebih sering terjadi jika interval antar
kehamilan kurang dari satu tahun. Jarak kehamilan
yang paling tepat adalah 2 tahun atau lebih
(Kemenkes RI, 2020).
Persalinan : Ibu hamil dengan persalinan terakhir > 10 tahun
yang lalu. Ibu dalam kehamilan dan persalinan ini
seolaholah mengalami persalinan yang pertama
lagi. Bahaya yang dapat terjadi yaitu persalinan
dapat berjalan tidak lancar, perdarahan pasca
persalinan dan penyakit ibu Hipertensi (tekanan
darah tinggi), diabetes, dan lain-lain. Dan juga
untuk mengetahui proses persalinan spontan atau
buatan lahir aterm atau premature ada perdarahan
atau tidak, waktu persalinan di tolong oleh siapa,
dimana tempat melahirkan.
Nifas : untuk mengetahui perdarahan pada masa nifas,
jenis lochea, tinggi fundus uterus (TFU), kontraksi
keras atau tidak
78
7) Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengetahui dimana ibu periksa hamil, keluhan yang
dirasakan pada trimester I, II dan III dan pengetahuan apa yang
didapat dan berguna bagi kehamilannya.
Tabel 2.10 Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
S Kehamilan Persalinan Nifas
u
N Pe L A Pe KB
a Hamil U Je Tem Penolo BB/ H/
o ny / S ny
m Jen La
ke K Nis pat ng BP M Kel
i ulit P I ulit is ma
8) Riwayat kesehatan yang lalu
Mengkaji apakah ibu pernah menderita penyakit menular dan
menahun, sehingga dapat menganggu proses kehamilan dan
persalinannya seperti penyakit dibawah:
a) Hepatitis B: Hepatitis B pada ibu hamil juga perlu
diwaspadai. Sebab, penyakit ini dapat meningkatkan risiko
tertentu saat persalinan, seperti bayi lahir prematur, lahir
dengan berat badan rendah, atau kelainan anatomi dan fungsi
tubuh lainnya.
b) Preeklamsia : Preeklamsia atau sering dikenal dengan
hipertensi ini juga seringkali menyerang ibu hamil. Beberapa
ibu terkadang tidak merasakan gejala apapun, hanya tekanan
darah tinggiyang mencapai 140/90 mm Hg atau lebih.
Namun ada juga sebagian yang merasakan mual dan muntah
(bukan hanya di awal kehamilan saja),
c) Diabetes: Perubahan hormon yang terjadi pada ibu hamil,
seperti perubahan hormon estrogen, progesteron, dan
laktogen plasenta membuat insulin tidak dapat bekerja
dengan baik sehingga gula dalam darah akan meningkat.
d) Asma: Kehamilan dapat mempengaruhi pasien asma dalam
berbagai cara. Perubahan hormon yang terjadi selama
kehamilan dapat mempengaruhi hidung, sinus, dan
79
jugaparuparu. Peningkatan hormon estrogen selama
kehamilan berkontribusi terhadap kemacetan kapiler
(pembuluh darah kecil) di lapisan hidung, yang bisa
menyebabkan hidung tersumbat selama kehamilan (terutama
selama trimester ketiga).
e) Jantung: Risiko utama bagi wanita dengan penyakit jantung
koroner yang hamil adalah bahwa mereka akan memiliki
serangan jantung selama kehamilan. Serangan jantung
adalah penyebab utama kematian ibu dalam kehamilan.
Risiko terhadap bayi tidak diketahui, meskipun beberapa
obat yang Anda konsumsi untuk PJK atau kondisi terkait,
seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, dapat
mempengaruhi bayi Anda.
9) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui penyakit apa yang sedang pasien derita
sekarang.
10) Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mengetahui riwayat penyakit yang sedang dan pernah
dialami seperti jantung, hipertensi, asma, TBC, hepatitis, PMS,
HIV/AIDS, TORCH, infeksi saluran kencing, epilepsi, dan
malaria, penyakit keluarga yang menular (TBC. hepatitis, PMS,
HIV/AIDS), riwayat penyakit keturunan (DM, hipertensi,
jantung), riwayat faktor keturunan (keturunan kembar, kelainan
kongenital. kelainan jiwa, kelainan darah). Data ini sebagai
antisipasi pada kehamilan saat ini dan persalinannya nanti
sehingga dapat memberikan asuhan yang tepat sesuai
kebutuhan ibu..
11) Data psikososial
Perlu dikaji untuk mengetahui tingkat pemahaman pasien dan
untuk mengetahui kekhawatiran pasien, sehingga petugas
kesehatan dapat memberikan pelayanan dapat disesuaikan
dengan kondisi pasien.
80
12) Kebiasaan sehari-hari
a) Nutrisi: Untuk mengetahui gambaran begimana parien
mencukupi asupan mutinya dan intake cairan yang sangar
penting karena akan menentukan kecendeningan terjadinya
dehidrasi. Data fokusnya melipuri kapan atau jam berapa
terakhir kali ibu makan atau minum, jenis makanan yang
dimakan, jumlah makanan
b) Istirahat: Istirahat sangat diperlukan oleh pasien untuk
mempersiapkan energi menghadapi persalinannya. Istirahat
yang kurang dapat menyebabkan kelelahan dan stress pada
ibu sehingga menggangga kondisi ibu dan janin. Data
Fokusnya meliputi berapa lama dapat istirahat siang dan
malam, adakah keluhan saat istirahat, bisakah istirahat disaat
kontraksi datang
c) Aktivitas: Wanita yang sedang hamil boleh bekerja tetapi
sifatnya tidak melelahkan dan tidak mengganggu kehamilan.
d) Personal hygiene: Perlu sekali diketahui terutama pada
daerah genetalia, mandi, ganti baju, gosok gigi dan keramas.
Hal ini dapat membantu mengetahui apakah terjadi infeksi
padaalat genetalia pasien.
e) Eliminasi: Untuk mengetahui apakah ada perubahan
eliminasi dan keluhan saat sebelum hamil, ketika hamil seria
menjelang persalinan. Apakah ibu melakukan vulva hygiene
setelah selesai buang air besar atau buang air kecil.
b. Data Obyektif
1) Pemeriksaan fisik umum
a) Keadaan Umum
Baik Untuk mengetahui keadaan ibu secara keseluruhan.
Keadaan umum baik jika pasien memperlihatkan respon
yang baik terhadap lingkungan dan orang lain. Keadaan
umurn yang lemah jika pasien kurang atau tidak
memberikan respon terhadap lingkungan dan orang lain..
81
b) Kesadaran
Composmentis Untuk mendapatkan gambaran tentang
kesadaran pasien dengan melakukan pengkajian derajat
kesadaran pasien dari keadaan composmentis kesadaran
maksimal) sampai koma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
c) TTV dalam batas normal yaitu :
1) Tekanan darah, untuk mengetahui faktor resiko hipertensi,
Baras normal 110/60-140/90 mmHg.
2) Suhu, untuk mengetahui suhu badan apakah terjadi
peningkatan suhu. atau tidak, jika ada lebih dari 38 °C
kemungkinan terjadi infeksi
3) Nadi, untuk mengetahui frekuensi nadi pasien dalam batas
normal atau tidak
4) Respirasi, untuk mengetahui frekuemi nafas pasien yang
dihitung dalam satu menit, frekuensi yang melampui
batas normal dapat mengindikasikan pasien mengalami
sesak atau mengalami gangguan pernafasan.
d) Berat Badan (BB)
Berat badan, untuk mengetahui faktor resiko obesitas pada
ibu, bayi besar (makrosomia). Kenaikan berat badan normal
ibu hamil adalah 12 kg
Tinggi badan, untuk mengetahui faktor resiko kesempitan
panggul, tinggi badan minimum ibu hamil 145 cm.
e) Tinggi Badan (TB)
Tinggi badan, untuk mengetahui faktor resiko kesempitan
panggul, tinggi badan minimum ibu hamil 145 cm.
f) IMT (Indeks Masa Tubuh)
Indeks masa tubuh dihitung untuk mengetahui nilai normal
kenaikan BB selama hamil. Ibu dengan IMT underweight
berisiko terjadi abnormalitas kehamilan dan BBLR,
sedangkan ibu dengan IMT overweight meningkatkan
82
komplikasi dalam kehamilan seperti hipertensi, janin besar
sehingga kesulitan saat persalinan.
2) Pemeriksaan fisik khusus (Head To Toe)
a) Kepala
Rambut bersih, tidak ada ketombe.
b) Wajah
Untuk mengetahui keadaan wajah ibu, adakah oedema atau
tidak, chloasma gravidarum, kelainan dan apakah ibu terlihat
pucat atau tidak.
c) Mata
Untuk mengetahui klien anemis atau tidak yang dilihat dari
warna konjuntiva yang normal berwarna merah muda dan
untuk mengetahui pasien ikterus dilihat dari warna skleranya
yang normal adalah putih
d) Hidung
Normalnya simetris, keadaan bersih, tidak ada pernafasan
cuping hidung, tidak ada polip.
e) Telinga
Keadaan bersih, bentuk simetris, tidak ada serumen.
f) Mulut dan gigi
Untuk mengetahui keadaan mulut iha bersih atau tidak,
mukosa lembab atan kering, bibiu pucat atau biru, ada karies
atau tidak.
g) Leher
Adakah pembesaran kelenjar limfe atau tidak untuk
menentukan adakah kelainan pada jantung. Adakah
pembesaran kelenjar tiroid atau tidak umm menentukan
pasien kekurangan yodium atau tidak. Adakah bendungan
vena jugularis yang mengindikasikan kegagalan jantung
h) Dada
Normalnya denyut jantung 60-100 x/[Link]-paru
normalnya tidak ada bunyi wheezing dan ronchi.
83
i) Payudara
Untuk mengetahui mamae ada pembesar atau tidak, ada
tumor atau tidak, payudara simetrsis atau tidak, aerola
hiperpigmentasi atau tidak, putting susu menonjol atau tidak,
kolostrum sudah keluar atau belum. Apakah oda kelainan
pada dada dan bagaimana kebersihannya.
j) Abdomen ( Kehamilan)
Inspeksi: Bagaimana keadaan abdomen, ada atau tidak linea
nigra, striae gravidarum, pembesarannya sesuai
tidak dengan usia kehamilan atau tidak, anaknya,
adakah luka bekas operasinya jika ada lokasinya
dimana dan jenis operasinya.
Leopold I : Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin
yang terletak di uterus.
Leopold II : Bagian kiri atau kanan perut ibu teraba panjang,
keras, seperti papan dan bagian kanan teraba
bagianterkecil janin.
Leopold III: Menentukan bagian janin yang terletak dibagian
Bawah.
Leopold IV: Menentukan seberapa jauh masuknya janin ke
pintu atas panggul.
Auskultasi: Untuk mengetahui denyut jantung janin, lokasi
puntum maksimum dan frekuensinya.
k) Genetalia
Untuk mengetahui adakah luka, varises, edema, adakah
pengeluaran pervaginam berupa cairan yang jernih atau
sedikit keruh, apakah ada lendir
l) Ekstermitas
Atas : Normalnya tidak oedema, jari lengkap, tidak ada
kelainan.
Bawah: Normalnya tidak ada varises, tidak edema, jari
lengkap,tidakada kelainan. Jika terjadi oedema
84
mengarah pada tanda gejala Preeklampsia, Reflek
patella (+ / +) atau (- / -) (Hani, 2019).
3) Pemeriksaan Penunjang
Tabel 2.11 Pemeriksaan Penunjang
Tas lab Nilai normal Nilai tidak Diagnosis/
normal masalah terkait
Hemoglobin 10,5-14,0 >10,5 Anemia
Protein Terlacak/ >atau =2+ Protein urine
urine negatif bening/ keruh
negative (positif)
Glukosa Warna hijau Kuning, Diabetes
dalam urine coklat
VDRL/RPL Negative Positif Syphilis
Golongan A B O AB - Ketidak
darah cocokan ABO
HIV Negative Positif AIDS
Rubella Negative Positif Anomali pada
janin jika ibu
terinfeksi
II. Interpretasi data dasar
Ibu : G (gravida), P (parita), dan A (abortus), sebagaimana
disajikan oleh Mufdillah (2023)
Kondisi janin dinilai hidup tunggal, intrauterin dengan presentasi
kepala, serta keadaan umum janin baik (Hani, 2023).
DS: Keluhan pada ibu biasanya berkisar pada gejala khas trimester III
(seperti kelelahan atau nyeri) dan data HPHT (hari pertama haid
85
terakhir) diambil untuk perhitungan usia kehamilan (Iriyanti,
2023).
DO: Pemeriksaan objektif menunjukkan bahwa ibu dalam keadaan
sadar dengan tanda-tanda vital (TD, suhu, RR, nadi) berada dalam
rentang normal: tekanan darah 100/60 ‒ 140/90 mmHg, suhu
tubuh 35,8–37,3 °C, laju napas (RR) 12–20 kali/menit, dan nadi
60–100 kali/menit, sebagaimana dikutip dari Vasra (2023)
III. Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Biasanya tidak ditemukan diagnosa potensial, kondisi yang mungkin
berkembang pada kehamilan termasuk plasenta previa, solusio
plasenta, prematur ruptur membran, serta anemia maternal (Zhang et
al., 2024; Lindo & Putri, 2024)
IV. Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Jika ditemukan antisipasi diagnosa potensial maka normlanya
dilakukan rujukan.
V. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
(PLANNING/INTERVENSI)
(Tanggal : Jam WIB) Ibu : Ny " GPA UK 37-42 minggu, keadaan jalan
normal, keadaan umum ibu baik. Janin : Tunggal, Hidup, Intrauterin,
Presentasi Kepala, keadaan umum janin baik. Tujuan Kehamilan
berjalan normal tanpa komplikasi TD : 110/80-120/90 mmHg Nadi :
60-100 x/menit RR : 16-24 x/menit Suhu : 36,537,5°C DJJ : 120-160
x/menit TBJ : 2500-4000 gram TFU sesuai usia kehamilan Usia
kehamilan aterm 37-42 minggu ..
Rencana Tindakan Kehamilan
Intervensi kunjungan I ( 37 minggu )
1) Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu. Mengidentifikasi kebutuhan
atau masalah ibu hamil tentang kondisinya dan janin sehingga lebih
kooperatif dalam menerima asuhan
2) Berikan konseling tentang perubahan fisiologis pada trimester III.
Adanya respon positif dari ibu terhadap perubahan-perubahan yang
86
terjadi dapat mengurangi kecemasan dan dapat beradaptasi dengan
perubahan-perubahan yang terjadi.
3) Jelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada trimester III
seperti perdarahan, sakit kepala yang hebat dan nyeri abdomen yang
akut. Dengan mengetahui tanda-tanda bahaya, maka ibu dapat
mencari pertolongan segera jika hal itu terjadi.
4) Anjurkan ibu untuk makan makanan yang bergizi seimbang.
Sebagai sumber tenaga, pembangun, pengatur, dan pelindung tubuh
yang sangat penting bagi kesehatan ibu dan janin.
5) Diskusikan tentang persiapan persalinan dengan ibu dan keluarga,
antara lain:
Membuat rencana persalinan yang meliputi tempat persalinan,
transportasi ke tempat persalinan, siapa yang menemani
persalinan, biaya yang dibutuhkan.
Membuat rencana persalinan pembuatan keputusan jika terjadi
kegawatdaruratan termasuk transportasi, biaya dan donor darah.
Mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk
persalianan seperti baju ganti ibu, pembalut, baju bayi handuk,
bedong. Jadikan satu dalam tas, sehingga waktu tiba persalinan
bisa langsung dibawa.
R/ Mempermudah saat proses persalinan.
6) Anjurkan kepada ibu untuk minum penambah darah diberikan
dengan dosis 1 x 1 hari.
R/ Tablet tambah darah dapat mencegah anemia.
7) Anjurkan ibu untuk kontrol 2 minggu lagi tanggal ....... atau
sewaktuwaktu jika ada keluhan.
R/ Memantau keadaan ibu dan janin.
VI. Melaksanakan Perencanaan (Pelaksanaan/ IMPLEMENTASI)
1) Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu.
2) Memberikan konseling tentang perubahan fisiologis pada trimester
III.
87
3) Menjelaskan pada ibu tentang tanda – tanda bahaya pada trimester
III seperti perdarahan, sakit kepala hebat dan nyeri abdomen yang
akut.
4) Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang bergizi seimbang.
5) Mendiskusikan tentang persiapan persalinan dengan ibu dan
keluarga.
6) Anjurkan kepada ibu untuk minum penambah darah diberikan
dengan dosis 1 x 1 hari.
7) Anjurkan ibu untuk kontrol 2 minggu lagi tanggal ....... atau
sewaktuwaktu jika ada keluhan.
VII. Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang telah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar
telah dipenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana rencana tersebut
dapat dianggap efektif dalam pelaksanaannya.
Data Perkembangan SOAP Ibu hamil
S : Ibu mengatakan mengerti dengan hasil penjelasan bidan
tentang kehamilannya.
O : Ibu mampu mengulangi penjelasan bidan.
A : GPAPAH UK 28 - 40 minggu, keadaan jalan lahir normal,
keadaan umum ibu baik.
P : - Anjurkan ibu untuk menambah kebutuhan nutrisinya.
- Ingatkan ibu untuk selalu menjaga personal hygine.
- Ingatkan ibu untuk rutin minum fe.
- Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang.
Manajemen Asuhan Kebidanan 7 Langkah Varney Pada Persalinan
I. Pengumpulan Data Dasar (Pengkajian)
a. Data Subjektif
1) Biodata
Nama Klien : untuk mengetahui identitas klien dan memudahkan
pelayanan kesehatan/ rumah sakit serta sebagai
88
catatan apakah klien pernah dirawat di salah satu
tempat tersebut atau tidak.
Nama Suami : untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab
dalam pembiayaan dan pemberian persetujuan
tindakan medis atau perawatan.
Umur : Semakin tua usia seorang ibu akan berpengaruh
terhadap kekuatan mengejan selama proses
persalinan. usia di bawah 20 tahun dan diatas 35
tahun mempredisposisi wanita terhadap sejumlah
komplikasi. Usia di bawah 20 tahun
meningkatkan insiden pre-eklampsia dan usia
diatas 35 tahun meningkatkan insiden diabetes
melitus tipe II, hipertensi kronis, persalinan yang
lama pada nulipara, seksio sesaria, persalinan
preterm, IUGR, anomali kromosom dan kematian
janin.
Agama : Untuk mengetahui keyakinan ibu sehingga
dapat
membimbing dan mengarahkan ibu untuk berdoa
sesuai dengan keyakinannya. Suku
Bangsa: Asal daerah atau bangsa seorang wanita
berpengaruh terhadap pola pikir mengenai tenaga
kesehatan dan adat istiadat yang dianut.
Pendidikan: Untuk mengetahui tingkat intelektual ibu
sehingga tenaga kesehatan dapat melalukan
komunikasi dengan istilah bahasa yang sesuai
dengan pendidikan terakhirnya, termasuk dalam
hal pemberian konseling.
Pekerjaan: Status ekonomi seseorang dapat mempengaruhi
pencapaian status gizinya). Hal ini dikaitkan
dengan berat janin saat lahir. Jika tingkat sosial
89
ekonominya rendah, kemungkinan bayi lahir
dengan berat badan rendah.
Alamat : Bertujuan untuk mempermudah tenaga
Kesehatan dalam melakukan follow up
perkembangan ibu.
Alasan Datang
Untuk mengetahui alasan klien berkunjung ke puskesmas.
2) Keluhan Utama
Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan saat pemeriksaan.
Persoalan yang dirasakan pada ibu bersalin umumnya adalah rasa
sakit pada perut dan pinggang akibat kontraksi yang datang lebih
kuat, sering dan teratur, keluarnya lendir darah dan keluarnya air
ketuban dari jalan lahir merupakan tanda dan gejala persalinan
yang akan dikeluhkan oleh ibu menjelang akan bersalin.
3) Riwayat Pernikahan
Untuk mengetahui klien menikah berapa kali (pernikahan
beberapa kali dengan klien yang berbeda berisiko mengalami
gangguan reproduksi), lama pernikahan klien dan usia klien
pertama kali menikah.
4) Riwayat Obstetri
a) Riwayat Menstruasi
(1) Menarche
Untuk mengetahui usia pertama kali klien mengalami
menstruasi.
(2) HPHT
Untuk mengetahui kapanhaid terakhir klien sehingga dapat
digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan dan
taksiran persalinan.
(3) Siklus menstruasi
Untuk mengetahui siklus menstruasi yang dialami klien
apakah siklusnya teratur atau tidak dan berapa hari siklus
menstruasi klien. Normal 25-38 hari (±28hari).
90
(4) Lama menstruasi
Untuk mengetahui lamanya menstruasi klien, perkiraan
jumlah perdarahan yang dialami klien (dihitung melalui
jumlah pembalut yang digunakan klien dalam 1 hari ketika
menstruasi), mengidentifikasi apakah ada kelainan lamanya
menstruasi pada klien atau tidak. Normal 3-8 hari.
(5) Keluhan
Untuk mengetahui adakah keluhan yang dirasakan klien
terkait menstruasi misalnya adakah nyeri haid, adakah fluor
albus (keputihan) yang berlebihan dan lain-lain.
b) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu
Data tentang riwayat kehamilan sebelumnya, ini merupakan
kehamilan yang ke berapa dalam upaya untuk menyiapkan
sibling, lama kehamilan (dismatur, aterm, prematur, abortus)
penyulit pada saat hamil. Data tentang riwayat persalinan
sebelumnya meliputi: tahun lahir (untuk mengetahui jarak anak
dan antisipasi sibling rivalry) penolong persalinan, tempat
bersalin, jenis kelamin bayi yang dilahirkan, berat badan bayi,
penyulit pada saat bersalin, dan nifas sebelumuya, serta
keadaan bayi/anak saat ini. Oleh Luh Mertasari, Wayan
Sugandini · 2023
c) Riwayat Kehamilan Sekarang
Riwayat kehamilan sekarang Dara yang dikaji pada saat
menganamnesis riwayat kehamilan sekarang meliputi data
tentang HPHT, TP, keadaan selama kehamilan TM I, II, dan III,
frekuensi pemeriksaan kehamilan, suplemen/obat-obatan yang
pernah dikonsumsi selama hamil, dan status imunisasi TT.
( Oleh Luh Mertasari, Wayan Sugandini 2023)
d) Riwayat Keluarga Berencana
Yang perlu dikaji adalah apakah ibu pernah menjadi akseptor
KB. Jika pernah, kontrasepsi apa yang pernah digunakan,
91
berapa lama, mulai menggunakan, kapan berhenti, keluhan
pada saat ikut KB dan alasan berhenti KB.
5) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Klien
Untuk mengetahui apakah klien pernah mengalami penyakit
menurun seperti asma, jantung, darah tinggi, diabetus mellitus,
maupun penyakit menular seperti TBC, hepatitis, atau penyakit
lain yang dapat berpengaruh terhadap kehamilan klien. Atau
untuk mengetahui apakah klien mempunyai alergi obat atau
tidak. Mengetahui penyakit yang diderita ibu sekarang.
b) Riwayat Kesehatan Keluarga
Untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga baik pihak
suami maupun istri yang pernah mengalami penyakit menurun
seperti asma, jantung, darah tinggi, diabetus mellitus, maupun
penyakit menular seperti TBC, hepatitis, atau penyakit lain
yang dapat berpengaruh terhadap kehamilan klien. Atau dari
anggota keluarga ada riwayat mempunyai anak kembar.
c) Riwayat Sosial dan Budaya
Respon keluarga terhadap kondisi kesehatan klien saat ini.
Pengaruh budaya terhadap penatalaksanaan gejala gangguan
kesehatan reproduksi misalnya penggunaan ramuan
tradisional.
6) Pola KebiasaanSehari-hari
a) Pola nutrisi dan cairan
Nutrisi Data yang perla dikaji pada pemenuhan kebutuhan
numisi pada ibu nifas celiputi jenis dan jumlah, frekuensi dan
187 keteraturan makanan/minuman sebelom dan sevadah masa
nifas, kuhu saat kami, обат укла kon saat ini, alergikan/maman
sertentu, dan pantangan makan ada atau tidak.
b) Pola istirahat
Data yang perlu dikaji pada pemenuhan kebutuhan Istirahat
pada ibu nifas meliputi kemampuan ibu untuk beristirahat
92
dengan baik, lamanya ibu nifas melakukan istirahat, dengan
baik siang ataupun malam, dan keluhan saat melakukan
istirahat dan tidur.
c) Pola eliminasi
Saat persalinan akan berlangsung, menganjurkan ibu untuk
buang air kecil secara rutin dan mandiri, paling sedikit setiap 2
jam.
b. Data Objektif
Pengumpulan data objektif adalah tahapan yang dilakukan setelah
semua data ibu nifas diperoleh melalui anamnesis. Data objektif bisa
diperoleh dari obsevasi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Observasi adalah mengamati perilaku dan keadaan klien
untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan klien. (Oleh Luh
Mertasari, Wayan Sugandini 2023).
1) Pemeriksaan umum
Keadaan umum : untuk mengetahui keadaan klien lemah, cukup,
atau baik.
Kesadaran : Bertujuan untuk menilai status kesadaran ibu.
Composmentis adalah status kesadaran dimana
ibu mengalami kesadaran penuh dengan
memberikan respons yang cukup terhadap
stimulus yang diberikan.
Tekanan darah: untuk mengetahui faktor resiko hipertensi atau
hipotensi dengan normalnya sistole 100-
120mmHg, diastole60- 80mmHg.
Suhu : normalnya 36,5 – 37,50C, >37,50C termasuk
hipertermi.
Nadi : untuk memberi gambaran kardiovaskuler.
Denyut normal 60 – 100x/menit.
Pernafasan : untuk mengetahui sifat pernafasan dan bunyi
pernafasan dalam satu menit. Pernafasan normal
16 – 24x/menit.
93
HPL :Bertujuan untuk mengetahui apakah persalinannya
cukup bulan, prematur, atau postmatur.
TBJ : berat janin dapat
ditentukan dengan rumus Lohnson, yaitu:
Jika kepala janin belum masuk ke pintu atas panggul Berat
janin = (TFU – 12) × 155 gram.
Jika kepala janin telah masuk ke pintu atas panggul Berat
janin = (TFU – 11) × 155 gram.
2) Pemeriksaan fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan
klien serta tingkat kenyamanan fisik klien. Informasi dari hasil
pemeriksaan fisik dan anamnesis diolah untuk membuat keputusan
klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana
asuhan atau perawatan yang paling sesuai dengan kondisi klien.
a) Kepala
Rambut bersih, tidak ada ketombe.
b) Rambut
Warna rambut, rontok/tidak, mudah dicabut/tidak, kebersihan
rambut dankulit
c) Wajah
Pucat/tidak, oedem palpebra dan pipi, terdapat kloasma
gravidarum atau tidak
d) Mata
Simetris, konjungtiva merah muda/pucat, sklera putih atau
tidak, fungsi penglihatan masihbaik/tidak
e) Hidung
Untuk mengetahui apakah ada polip, nafas cuping hidung
maupun sekret yang keluar
f) Telinga
Untuk mengetahui keadaan telinga, liang telinga dan ada
serumen atau tidak
g) Mulut/gigi
94
Kebersihan, caries, adakah stomatitis, adakah epulis,
bibirpucat/tidak
h) Leher
Adakah pembesaran kelenjar tiroid, adakah bendungan vena
jugularis, adakah pembesaran kelenjar limfe.
i) Dada/ payudara
Akibat pengaruh hormon kehamilan, payudara menjadi lunak,
membesar, vena-vena di bawah kulit akan lebih terlihat, puting
payudara membesar, kehitaman dan tegak, areola meluas dan
kehitaman serta muncul strechmark pada permukaan kulit
payudara. Selain itu, menilai kesimetrisan payudara,
mendeteksi kemungkinan adanya benjolan dan mengecek
pengeluaran ASI.
j) Abdomen
Munculnya garis-garis pada permukaan kulit perut (Striae
Gravidarum) dan garis pertengahan pada perut (Linea
Gravidarum) akibat Melanocyte Stimulating Hormon.
Palpasi:
Leopold 1: Pemeriksa menghadap ke arah muka ibu hamil,
menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin
yang terdapat pada fundus.
Leopold 2: Menentukan batas samping rahim kanan dan kiri,
menentukan letak punggung janin dan pada letak
lintang, menentukan letak kepala janin.
Leopold 3: menentukan bagian terbawah janin dan menentukan
apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk ke
pintu atas panggul atau masih dapat digerakkan.
Leopold 4: pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu hamil dan
menentukan bagian terbawah janin dan berapa jauh
bagian terbawah janin masuk ke pintu atas panggul.
Auskultasi:
Denyut jantung janin normal adalah antara 120-160 ×/menit ().
95
k) Genitalia dan anus
Pengaruh hormon estrogen dan progesteron menyebabkan
pelebaran pembuluh darah sehingga terjadi varises pada sekitar
genetalia.
l) Ekstremitas
Mengetahui apakah simetris, adakah oedema pada ekstremitas
atas dan bawah (+/+), adakah varises, kuku jari dan akral
apakah pucat, refleks patella dapat (+/-).
3) Pemeriksaan Dalam
Dilakukan untuk mengetahui pembukaan dan penipisan serviks,
ketuban masih utuh atau tidak, nilai bagian terbawah janin dan
nilai penurunan bagian terbawah janin atau hodge. Pada presentasi
kepala, tentukan petunjuk (ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar) dan
celah (satura) sagitalis untuk menilai derajat penyusupan. Pastikan
tali pusat atau bagian kecil janin tidak teraba pada saat
pemeriksaan dalam.
HI : Sama dengan pintu atas panggul
H II : sejajar dengan H I melalui pinggir bawah sympisis
H III : sejajar dengan H II melalui spinae ischiadicae
H IV : sejajar dengan H III melalui ujung os coccygis
4) Pemeriksaan penunjang
Hemoglobin: Selama persalinan, kadar hemoglobin
mengalami peningkatan 1,2 gr/100 ml dan akan kembali ke
kadar sebelum persalinan pada hari pertama pasca partum jika
tidak kehilangan darah yang abnormal (Varney, 2019).
USG: Pada akhir trimester III menjelang persalinan,
pemeriksaan USG dimaksudkan untuk memastikan presentasi
janin, kecukupan air ketuban, tafsiran berat janin, denyut
jantung janin dan mendeteksi adanya komplikasi
Protein Urine dan glukosa urine: Urine negative untuk protein
dan glukosa
II. Interpretasi data dasar
96
Interpretasi data subyektif dan data obyektif yang telah diperoleh,
mengidentifikasi masalah, kebutuhan, dan diagnosa berdasarkan
interpretasi yang benar atas data yang dikumpulkan. Diagnosa
kebidanan ini dibuat sesuai standard nomenklatur kebidanan.
Diagnosa:
G....P....A.... usia ....Usia Kehamilan ..... minggu inpartu kala 1 fase
laten/fase aktif. Janin tunggal/ganda hidup intrauterine
Masalah:
Perumusan masalah disesuaikan dengan kondisi ibu. Rasa takut,
cemas, khawatir dan rasa nyeri merupakan permasalahan yang dapat
muncul pada proses persalinan.
III. Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Identifikasi diagnosa atau masalah potensial dibuat setelah
mengidentifikasi diagnosa atau masalah kebidanan yang berdasarkan
data ada kemungkinan menimbulkan keadaan yang gawat. Langkah ini
membutuhkan antisipasi dan bila mungkin dilakukan pencegahan.
IV. Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Pada tahap ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera, baik
tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan
kondisi klien. Tindakan bisa terapi yang dibutuhkan segera untuk
menyelamatkan ibu dan bayi.
V. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh (Intervensi)
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya.
Informasi atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana
asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang
diberikan dapat efektif karena sebagian dari asuhan akan dilaksanakan
oleh klien.
KALA I
1) Jelaskan hasil pemeriksaan
Agar mengetahui pemeriksaan merupakan hak klien.
2) Beri dukungan emosional pada ibu
97
Beri dukungan emosional pada ibu Agar proses persalinan
yang baik dengan dukungan dari keluarga yang mendampingi ibu
selama proses persalinan). Dengan adanya suami dan anggotu
keluarga yang berperan dalam mendukung ibu dapat sangat
membantu memberi kenyamanan. Oleh Kholilah Lubis, [Link],
[Link] , Aswita, dkk 2025
3) Lakukan Observasi Kala I
Tiap 30 menit, yaitu detak jantung janin, nadi ibu dan
kontraksi uterus. Denyut jantung janin dan nadi ibu perlu
diperiksa untuk memastikan kondisi ibu dan janinnya, Kontraksi
uterus baik jika durasi 40 detik frekuensi 4-5 kali dalam 10 menit
selama 30 menit. sehingga memudahkan petugas dalam
pengambilan tindakan selanjutnya Tiap 2 jam, yaitu suhu tubuh
ibu dan volume urine ibu, Suhu tubuh normal berkisar antara
36,5-37,5 C merupakan salah satu indikator suntuk mengetahui
keadaan umum Urin ibu diobnervasi sebagai upaya pengosongan
kandung kemih sehingga tidak menahan penurunan kepala.
Karena kandung kemih yang penuh berpotensi memperlambat
proses persalinan (Oleh Kholilah Lubis, [Link], [Link] , Aswita,
dkk 2025)
Tiap 4 jam yaitu pembukaan serviks, penurunan kepala,
keadaan ketuban, molase, dan tekanan darah ibu. Untuk
mengetahui kemajuan persalinan dengan mengobservasi
pembukaan serviks dan penurunan kepala, kondisi janin dapat
pula dilihat dari keadaan air ketuban, dan molase/penyusupan
kepala janin, dan tekanan darah ibu untuk mengetahui keadaan
ibu sehingga dapat memudahkan kita dalam pengambilan
tindakan selanjutnya. (Oleh Kholilah Lubis, [Link], [Link] ,
Aswita, dkk 2025)
4) Lakukan pencegahan infeksi sesuai standar
98
Pencegahan Infeksi adalah diberikan kepada ibhu dan BBL
karena dapat menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan BM.
Upaya untuk melindungi penolong saat pruses persalinan
terhadap resiko infeki. (Oleh Kholilah Lubis, [Link], [Link] ,
Aswita, dkk 2025)
5) Anjurkan ibu untuk miring kiri dan tidak berbaring terlentang
lebih dari 10 menit
Jika ibu melakukan hal tersebut maka berat uterus dan isinya
akan menekan vena cava inferior, hal tersebut akan
mengakibatkan turunnya alimn darah dari sirkulasi ibu ke
plasenta. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan hipoksia atau
kekurangan oksigen pada janin. Oleh Kholilah Lubis, [Link],
[Link] , Aswita, dkk 2025)
6) Ajarkan ibu napas dalam terutama saat terjadi kontraksi
Latihan napas dalam dapat mengurangi ketegangan dan rasa
nyeri terutama saat terjadi kontraksi. Oleh Kholilah Lubis, [Link],
[Link] , Aswita, dkk 2025)
7) Siapkan alat dan bahan untuk pertolongan persalinan serta obat-
obatan essensial untuk menolong persalinan sesuai dengan APN
(Oleh Kholilah Lubis, [Link], [Link] , Aswita, dkk 2025)
8) Dokumentasi hasil pemantauan Kala satu pada partograf.
Dokumentasi hasil pemantauan Kala satu pada partograf
Partograf digunakan untuk memantau kemajuan kala satu
persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik,
dokumentasi dengan partograf memudahkan untuk pengambilan
keputusan dan rencana asuhan selanjutnya.
9) Berikan KIE kepada ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan
dan minum air) selama persalinan dan proses kelahiran bayi.
10) KIE ibu tentang proses persalinan
11) Persalinan merupakan proses yang menegangkan dan dapat
mengugah emosi dengan memberikan pengertian tentang proses
99
persalinan ibu akan berupaya mengatasi gangguan emosionalnya
Oleh Kholilah Lubis, [Link], [Link] , Aswita, dkk 2025) .
KALA II
1) Siapkan alat
Seperti partus set, hecting set, dan resusitasi set.
2) Siapkan APD lengkap
Menggunakan pelindung kepala, masker N95 atau ekuivalennya,
googles, faceshield, gown, apron, sarung tangan dan sepatu boot.
3) Siapkan ibu
a) Tentramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani kala II
persalinan. Lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan bila
diperlukan.
b) Bantu ibu memilih posisi yang nyaman saat meneran.
c) Setelah pembukaan lengkap, anjurkan ibu untuk meneran
apabila ada dorongan kuat dan spontan untuk meneran. Jangan
menganjurkan untuk meneran panjang dan menahan nafas.
Anjurkan ibu beristirahat diantara kontraksi.
d) Anjurkan ibu untuk tetap minum selama kala II persalinan.
e) Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala II
persalinan. Berikasn rasa aman dan semangat serta tentramkan
hatinya selama proses persalinan berlangsung.
4) Siap keluarga
a) Anjurkan keluarganya agar selalu mendampingi ibu selama
proses persalinan dan kelahiran bayinya. Dukungan persalinan
dari suami, orang tua dan kerabat yang disukai ibu sangat
diperlukan dalam menjalani proses persalinan.
b) Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya
membantu ibu berganti posisi, melakukan rangsangan taktil,
memberikan makanan dan minuman, teman bicara, dan
memberikan dukungan dan semangat selama persalinan.
KALA III
1) Pemberian suntik Oksitosin.
100
Oksitosin menyebabkan uterus berkontraksisehingga dapat
membantu pelepasan plasenta dan mengurangi perdarah
2) Lakukan Penegangan Tali Pusat Terkendali (PTT)
Penegangan Tali Pusat terkendali dan dibantu dengan kontraksi
yang baik serta dorongan uterus kearah dorso kranial, maka
plasenta akan lepas.
3) Lahirkan plasenta.
Melahirkan plasenta dengan tali pusat keatas dan menopang
plasenta dengan tangan lainnya. Melahirkan plasenta dan
selaputnya dengan hati-hati akan mencegah tertinggalnya sisa
plasenta dan selaput ketuban dijalan lahir.
4) Lakukan masase fundus uteri selama 15 detik.
Masase fundus uteri dilakukan untuk merangsang kontraksi uterus
sehingga dapat mencegah perdarahan.
KALA IV
1) Jelaskan hasil pemeriksaan kondisi ibu
Dilakukan pemeriksaan TTV, TFU, kontraksi uterus, kandung
kemih, perdarahan yang keluar.
VI. Melaksanakan Perencanaan (Pelaksanaan/ Implementasi)
KALA I
1) Menjelaskan hasil pemeriksaan.
2) Memberi dukungan emosional pada ibu.
3) Melakukan Observasi Kala I.
4) Melakukan pencegahan infeksi sesuai standar.
5) Menganjurkan ibu untuk miring kiri dan tidak berbaring terlentang
lebih dari 10 menit.
6) Mengajarkan ibu napas dalam terutama saat terjadi kontraksi.
7) Menyiapkan alat dan bahan untuk pertolongan persalinan serta
obat- obatan essensial untuk menolong persalinan sesuai dengan
APN.
101
8) Memberikan KIE kepada ibu untuk mendapat asupan (makanan
ringan dan minum air) selama persalinan dan proses kelahiran
bayi.
9) Memberikan KIE ibu tentang proses persalinan.
KALA II
1) Mendengar dan melihat tanda kala dua persalinan.
a) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran.
b) Ibu merasakan ada tekanan yang semakin meningkat pada
rektum dan vagina.
c) Perineum tampak menonjol.
d) Vulva dan sfinger ani membuka.
2) Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial
untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi segera
pada ibu dan bayi baru lahir.
Untuk asuhan bayi baru lahir atau resusitasi→siapkan:
a) Tempat datar, rata, bersih, kering, dan hangat.
b) 3 handuk/kain bersih dan kering (termasuk ganjal bahu bayi).
c) Alat penghisap lender.
d) Lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.
Untuk ibu:
a) Menggelar kain di perut bawah ibu.
b) Menyiapkan oksitosin 10 unit.
c) Alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
3) Pakai celemek plastik atau dari bahan yang tidak tembus cairan.
4) Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, cuci
tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan
tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
5) Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk
periksa dalam.
6) Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan
yang memakai sarung tangan DTT atau steril dan pastikan tidak
terjadi kontaminasi pada alat suntik)
102
7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati
dari anterior (depan) ke posterior (belakang) menggunakan kapas
atau kasa yang dibatasi air DTT.
a) Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,
bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang.
b) Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam
wadah tersedia.
c) Jika terkontaminasi, lakukan dekontaminasi, lepaskan dan
rendam sarung tangan tersebut dalam larutan klorin 0,5%
→langkah #9. Pakai sarung tangan DTT/Steril untuk
melaksanakan langkah selanjutnya.
8) Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap.
Bila selaput ketuban masih utuh saat pembukaan sudah lengkap
maka lakukan amniotomi.
9) Dekontaminasi sarung tangan (celupkan tangan yang masih
memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, lepaskan
sarung tangan dalam keadan terbalik, dan rendam dalam klorin
0,5% selama 10 menit). Cuci kedua tangan setelah sarung tangan
dilepaskan.
10) Periksa denyut jantung (DJJ) setelah kontraksi uterus mereda
(relaksasi) untuk memastikan DJJ masih dalam batas normal (120-
160x/menit).
a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
b) Mendokumentasikan hasil-hasil periksa dalam, DJJ, semua
temuan pemeriksaan dan asuhan yang diberikan ke dalam
partograph
11) Beritahukan pada ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan
keadaan janin cukup baik, kemudian bantu ibu menemukan posisi
nyaman dan sesuai dengan keinginannya.
a) Tunggu hingga timbul kontraksi atau rasa ingin meneran,
lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin
103
(ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan
semua temuan yang ada.
b) Jelaskan pada anggota keluarga tentang peran mereka untuk
mendukung dan memberi semangat pada ibu dan meneran
secara benar.
12) Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran jika ada
rasa ingin meneran atau kontraksi yang kuat. Pada kondisi itu, ibu
diposisikan setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan
pastikan ibu merasa nyaman.
13) Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ingin
meneran atau timbul kontraksi yang kuat:
a) Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif.
b) Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara
meneran apabila caranya tidak sesuai.
c) Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai piihannya
(kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama).
d) Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
e) Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu.
f) Berikan cukup asupan cairan per-oral (minum).
g) Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.
h) Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir
setelah pembukaan lengkap dan dipimpin meneran ≥ 60 menit
(1 jam) pada multigravida.
14) Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi
yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran
dalam selang waktu 60 menit.
15) Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut
bawah ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter
5-6 cm.
16) Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian sebagai alas bokong
ibu.
104
17) Buka tutup partus set dan periksa kembali kelengkapan peralatan
dan bahan.
18) Pakai sarung tangan DTT/Steril pada kedua tangan.
19) Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka
vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi
dengan kain bersih dan kering, tangan yang lain menahan
belakang kepala untuk mempertahankan posisi defleksi dan
membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran secara efektif
atau bernapas cepat dan dangkal.
20) Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat (ambil tindakan
yang sesuai jika hal itu terjadi), segera lanjutkan proses kelahiran
bayi.
Perhatikan!
a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar lepaskan lilitan lewat
bagian atas kepala bayi.
b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua
tempat dan potong tali pusat di antara dua klem tersebut.
21) Setelah kepala lahir, tunggu putaran paksi luar yang berlangsung
secara spontan.
22) Setelah putaran paksi luar selesai, pegang kepala bayi secara
biparental. Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan
lembut gerakkan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu
depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan ke
arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23) Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk menopang
kepala dan bahu. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan
memegang lengan dan siku sebelah atas.
24) Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut
ke punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki
(masukkan telunjuk diantara kedua kaki dan pegang kedua kaki
dengan melingkarkan ibu jari pada satu sisi dan jari-jari lainnya
pada sisi yang lain agar bertemu dengan jari telunjuk).
105
25) Lakukan penilaian (selintas).
a) Apakah bayi cukup bulan ?
b) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernapas tanpa kesulitan ?
c) Apakah bayi bergerak dengan aktif ?
Bila salah satu jawaban adalah ―Tidak― lanjut ke langkah
resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia (lihat penuntun
belajar resusitasi bayi asfiksia)
Bila semua jawaban adalah ―Ya‖, lanjut ke-26.
26) Keringkan tubuh bayi
27) Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu bayi yang
lahir (hamil tunggal) dan bukan kehamilan ganda (gemeli).
KALA III
28) Beritahu ibu bahwa ibu akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik.
29) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10
unit (intramuskuler) di 1/3 distal lateral paha (lakukan aspirasi
sebelum menyuntikkan oksitosin).
30) Setelah 2 menit sejak bayi (cukup bulan) lahir, pegang tali pusat
dengan satu tangan pada sekitar 5 cm dari pusar bayi, kemudian
jari telunjuk dan jari tengah tangan lain menjepit tali pusat dan
geser hingga 3 cm proksimal dari pusar bayi. Klem tali pusat pada
titik tersebut kemudian tahan klem untuk mendorong tali pusat ke
arah ibu (sekitar 5 cm) dan klem tali pusat pada sekitar 2 cm distal
dari klem pertama.
31) Pemotongan dan pengikatan tali pusat.
a) Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit
(lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan di antara 2
klem tersebut.
b) Ikat tali pusat dengan benang DTT/Steril pada satu sisi
kemudian lingkarkan lagi benang tersebut dan ikat tali pusat
dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
106
c) Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah
disediakan.
32) Letakkan bayi tengkurap di dada ibu untuk kontak kulit ibu bayi
luruskan bahu bayi sehingga dada bayi menempel di dada ibunya.
Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi
lebih rendah dari puting susu atau areola mamae ibu.
a) Selimuti ibu bayi dengan kain kering dan hangat, pasang topi
di kepala bayi.
b) Biarkan bayi melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu
paling sedikit 1 jam.
c) Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi
menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu untuk
pertama kali akan berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi
cukup menyusu dari satu payudara.
d) Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi
sudah berhasil menyusu
33) Pindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
34) Letakkan satu tangan di atas kain pada perut bawah ibu (di atas
simfisis), untuk mendeteksi kontraksi. Tangan lain memegang
klem untuk meneganggkan tali pusat.
35) Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah
sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang atas
(dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri).
Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan
tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan
ulangi kembali prosedur diatas.
36) Bila pada penekanan bagian bawah dinding depan uterus kearah
dorsal ternyata diikuti dengan pergeseran tali pusat kearah distal
maka lanjutkan dorongan kearah cranial hingga plasenta dapat
dilahirkan.
107
a) Ibu boleh meneran tetapi tali pusat hanya ditegangkan (jangan
ditarik secara kuat terutama jika uterus tak berkontraksi) sesuai
dengan sumbu jalan lahir (kearah bawah-sejajar lantai-atas).
b) jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
c) jika plasenta tidak terlepas setelah 15 menit menegangkan tali
pusat ulangi pemberian oksitosin 10 unit IM , lakukan katerisasi
(gunakan teknik aseptik) jika kandung kemih penuh, minta
keluarga untuk menyiapkan rujukan, ulangi tekanan dorso-
kranial dan penegangan tali pusat 15 menit berikutnya, jika
plasenta tak lahir dalam 30 menit sejak bayi lahir atau terjadi
perdarahan maka segera lakukan tindakan plasenta manual.
37) Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan
kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban
terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah
yang telah disediakan.
38) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan messase
uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan messase
dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus
berkontraksi (fundus teraba keras).
KALA IV
39) Periksa kedua sisi plasenta (maternal-fetal) pastikan plasenta telah
dilahirkan lengkap. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik
atau tempat khusus.
40) Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Lakukan penjahitan bila terjadi laserasi derajat 1 dan 2 yang
menimbulkan perdarahan.
41) Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
42) Pastikan kandung kemih kosong. Jika penuh lakukan kateterisasi.
43) Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam
larutan klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan cairan tubuh, dan
108
bilas di air DTT tanpa melepas sarung tangan, kemudian
keringkan dengan handuk.
44) Ajarkan ibu / keluarga cara melakukan messase uterus dan menilai
kontraksi.
45) Memeriksa nadi ibu dan pastikan keadaan umum ibu baik.
46) Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
47) Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi bernafas dengan
baik (40- 60 kali / menit).
a) Jika bayi sulit bernafas, merintih, atau retraksi, diresusitasi dan
segera merujuk kerumah sakit.
b) Jika bayi nafas terlalu cepat atau sesak nafas, segera rujuk ke
RS Rujukan.
c) Jika kaki teraba dingin pastikan ruangan hangat. Lakukan
kembali kontak kulit ibu-bayi dan hangatkan ibu-bayi dalam
satu selimut.
48) Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan
setelah didekontaminasi.
49) Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
50) Bersihkan ibu dari paparan darah dan cairan tubuh dengan
menggunakan air DTT. Bersihkan cairan ketuban, lendir dan darah
di ranjang atau disekitar ibu berbaring. Bantu ibu memakai
pakaian yang bersih dan kering.
51) Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI.
Anjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan
yang diinginkannya.
52) Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
53) Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam
larutan klorin 0,5%, lepaskan sarung tangan dalam keadaan
terbalik, dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
109
54) Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih
dan kering.
55) Pakai sarung tangan bersih / DTT untuk melakukan pemeriksaan
fisik bayi.
56) Lakukan pemeriksaan fisik bayi baru ahir. Pastikan kondisi bayi
baik, pernafasan normal (40-60 kali / menit) dan temperatur tubuh
normal (36,5 – 37,5°C) setiap 15 menit.
57) Setelah 1 jam pemberian vitamin K1, berikan suntikan Hepatitis B
dip aha kanan bawah lateral. Letakkan bayi di dalam jangkauan
ibu agar sewaktu-waktu dapat disusukan.
58) Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam
didalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59) Cuci kedua tangan dalam sabun dan air mengalir kemungkinan
keringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan
kering.
60) Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda
vital dan asuhan kala IV Persalinan .
VII. Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif
dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam
bentuk SOAP.
Manajemen Asuhan Kebidanan 7 Langkah Varney Pada Bayi Baru Lahir
I. Pengumpulan Data Dasar (Pengkajian)
a. Data Subjektif
1) Biodata
Nama : Meliputi nama bayi, nama ibu dan ayah.
Tujuannya adalah untuk membedakan
dengan pasien lain.
110
Umur : Untuk mengetahui sudah berapa lama bayi
lahir sehingga bisa menentukan keadaan
bayi dan penanganannya.
Jenis Kelamin: Untuk mengetahui jenis kelamin bayi.
Suku/Bangsa : Untuk mengetahui adat/kebiasaan yang
sering terjadidan masih dilakukan keluarga.
Pendidikan Orang Tua: Dikaji untuk mengetahui tingkat
pengatahuan dan metode komunikasi yang
akan disampaikan Tingkat pendidikan
seorang ibu hamil sangat berperan dalam
kualitas perawatan kehamilan. Penguasaan
pengetahuan juga erat kaitannya dengan
tingkat pendidikan seseorang. Pendidikan
dikaji untuk mengetahui tingkat
pengetahuan dan metode komunikasi yang
akan disampaikan.
Pekerjaan Orang Tua : Dikaji untuk mengetahui tingkat social
ekonomi pasien, tingkat ekonomi.
Alamat Klien : Mengetahui lingkungan tempat tinggal klien.
2) Keluhan Utama
Untuk mengetahui apa yang dirasakan atau keadaan pasien saat
ini. Pada asuhan neonatus keluhan utama yang disampaikan ibu
adalah telah melahirkan bayinya beberapa waktu lalu, berat badan,
panjang badan, jenis kelamin dan jenis persalinannya.
3) Riwayat Prenatal (Kehamilan)
Untuk mengetahui kebiasaan waktu hamil dan apa ada masalah
atau kelainan kehamilan yang berdampak buruk bagi bayi.
Riwayat ini meliputi:
a) Riwayat penyakit kehamilan
Untuk mengetahui kemungkinan penyakit yang menurun pada
bayinya.
b) Kebiasaan waktu hamil
111
Untuk mengetahui kebiasaan ibu sewaktu hamil, karena takut
adanya pengaruh pada bayinya.
c) Riwayat Persalinan Sekarang
Untuk mengetahui proses persalinan bayi, apakah ada
komplikasi yang menyertainya.
d) Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit menular
menurun ataupun menahun seperti jantung, asma, DM,
hipertensi dan lain-lain.
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum Yang perlu diperhatikan dalam kondisi umum
ini adalah keadaan umum: kesadaran dan keaktifan.
b) Tonus otot Tonus otot bayi normal adalah bergerak aktif.
c) Pernafasan Dalam pernafasan bayi baru lahir ditandai dengan
bayi segera lahir menangis kuat.
d) Warna kulit Warna kulit pada bayi baru lahir normal adalah
bewarna kemerahan/ merah muda, dan terdapat lanugo dan
vernixcaseosa, dan bayi yang mengalami kelaian dapat
menunjukkan perubahan warna sianosis yang dapat berbahaya
pada bayi.
2) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Periksa ada tidaknya caput seccudanum benjolan yang berisi
cairan yang akan hilang dalam waktu 2-5 hari, cepal hematoma
benjolan yang berisi darah menyelubungi tulang tengkorak
akan hilang dalam waktu 1-3 bulan, jika ukuran kepala
melebihi normal menunjukkan terjadinya hidrosefalus, jika
kepala bayi kurang dari ukuran normal menunjukkan terjadinya
mikrosefalus, jika ubunubun tertutup dampaknya
mempengaruhi tumbuh kembang otak.
b) Muka
112
Warna kulit kemerah-merahan. Jika warna kulit biru
menunjukkan bayi mengalami hipotermi.
c) Mata
Sklera putih atau kuning untuk melihat bayi menderita penyakit
hepatitis atau tidak. Konjungtiva merah muda untuk melihat
bayi mengalami anemis atau tidak.
d) Hidung
Periksa adanya lubang hidung atau tidak, simetris atau tidak,
periksa adanya kelainan pernapasan cuping hidung atau tidak.
e) Mulut
Adakah reflek menghisap. Dilihat apakah ada
labiopalatoskhisis (palatum terbuka/celah langit-langit), perlu
diketahui dengan cara pemberian minum dan pemeriksaan lebih
lanjut.
f) Telinga
Ketika ditarik horizontal dari mata kedaun telinga, semestinya
posisi telinga dan mata adalah sejajar. Bila posisi telinga
dibawah atau lebih rendah dari garis horizontal tersebut,
kemungkinan si bayi menderita sindrom tertentu (sindrom
trisami 9 atau 18).
g) Leher
Leher tampak lebih pendek akan tetapi pergerakannya baik.
Apabila terdapat keterbatasan perlu diperkirakan adanya
kelainan tulang leher. Tumor didaerah leher seperti tiroid,
hemangioma, higroma kristik selain merupakan masalah sendiri
dapat menekan trankea sehingga memerlukan tindakan segera.
Trauma leher dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus
brankialis sehingga terjadi fariesis pada tangan, lengan atau
diafragma.
h) Dada
113
Simetris, tidak ada retaksi dada. Jika ada menandakan bayi
mengalami gangguan pernafasan, periksa ada tidaknya
wheezing dan ronchi jika ada menunjukkan kelainan paru-paru.
i) Abdomen
Bentuknya, lingkar perutnya, apakah ada tonjolan, apakah ada
tanda-tanda infeksi tali pusat seperti kemerahan didaerah tali
pusat, keluar nanah, berbau, disertai demam. Jika perut sangat
cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika, jika perut
kembali membuncit kemungkinan karna hepatosplenomegaly
atau tumor lainnya, jika perut kembung kemungkian adanya
entrokolitis vesikalis, amfalokel, atau duktus
amfaloentriskuspersiten. Lakukan auskultasi adanya bising usus
jika ada bising usus yang melebihi normal menunjukkan bayi
diare.
j) Genetalia
Untuk bayi laki-laki testis sudah turun kedalam skrotum atau
belum, jika sudah menandakan bahwa bayi aterm, ujung penis
terdapat lubang uretra atau tidak, untuk bayi perempuan uretra
berlubang atau tidak, apakah labia mayora sudah menutupi
labia minora.
k) Anus
Anus berada digaris tengah, pastikan keluarnya meconium tidak
terdapat atresia ani atau tidak memiliki lubang anus.
l) Ekstremitas
Melihat jumlah jari-jari kaki dan tangan apakah (polidaktil)
kelebihan jari dan (sindaktil) kurang jari.
3) Pemeriksaan antopometri:
a) BB/TB (2500-4000gram, 48-52 cm).
b) Lingkar kepala (33 – 38 cm).
c) Lingkar lengan atas (10 – 11 cm).
d) Ukuran kepala (diameter sub oksiput bregmatika).
e) Antara foramen magnum – ubun-ubun besar (9,5 cm).
114
f) Diameter fronto oksipitalis, antara titik pangkal hidung ke jarak
terjauh belakang kepala (12 cm).
g) Diameter mento oksipitalis, antara dagu ke titik terjauh
belakang kepala (13,5 cm).
4) Pemeriksaan reflek
a) Morro
Respon bayi baru lahir akan menghentakkan tangan dan
kaki lurus ke arahluar sedangkan lutut fleksi kemudian tangan
akan kembali ke arah dada seperti posisi dalam pelukan, jari-
jari nampak terpisah membentuk huruf C dan bayi mungkin
menangis Refleks ini akan menghilang pada umur 3-4 bulan.
b) Rooting
Setuhan pada pipi atau bibir menyebabkan kepala menoleh
ke arahsentuhan Refleks ini menghilang pada 3-4 bulan, tetapi
bisa menetap sampai umur 12 bulan khususnya selama tidur.
c) Sucking
Bayi menghisap dengan kuat dalam berenspons terhadap
[Link] ini menetap selama masa bayi dan mungkin
terjadi selama tidur tanpa stimulasi. Refleks yang lemah atau
tidak ada menunjukkan kelambatan perkembangan atau
keaadaan neurologi yang abnormal.
d) Grasping
Respons bayi terhadap stimulasi pada telapak tangan
bayi dengansebuah objek atau jari pemeriksa akan
menggenggam (Jari-jari bayi melengkung) dan memegang
objek tersebut dengan erat . Refleks ini menghilang pada 3-4
bulan.
e) Babinski
Jari kaki mengembang dan ibu jari kaki dorsofleksi,
dijumlah sampai umur 2 tahun.
II. Interpretasi data dasar
115
Interpretasi data subyektif dan data obyektif yang telah diperoleh,
mengidentifikasi masalah, kebutuhan, dan diagnosa berdasarkan
interpretasi yang benar atas data yang dikumpulkan. Diagnosa
kebidanan ini dibuat sesuai standard nomenklatur kebidanan.
Diagnosa: Neonatus Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan (NCB
SMK).
III. Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Identifikasi diagnosa atau masalah potensial dibuat setelah
mengidentifikasi diagnosa atau masalah kebidanan yang berdasarkan data
ada kemungkinan menimbulkan keadaan yang gawat. Langkah ini
membutuhkan antisipasi dan bila mungkin dilakukan pencegahan.
IV. Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Pada tahap ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera, baik
tindakan konsultasi, kolaborasi atau rujukan berdasarkan kondisi klien.
Tindakan bisa terapi yang dibutuhkan segera untuk mengatasi masalah.
V. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh (Intervensi)
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya.
Informasi atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana asuhan
harus disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan
dapat efektif karena sebagian dari asuhan akan dilaksanakan oleh klien.
Dx : Neonatus Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan (NCB SMK)
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 6 jam, diharapkan
kondisi kesehatan bayi baik
Kriteria hasil:
1) Nadi, Suhu, dan Respiratory Rate dalam batas normal yaitu:
N : normalnya 110-160x/menit
S : normalnya 36.5-37.5°C
RR : normalnya 30-50x/menit
2) Tidak ada komplikasi pada neonates
Intervensi :
116
Langkah ini berisi serangkaian asuhan yang akan diberikan kepada
klien sesuai diagnosa atau masalah awal yang ada sesuai dengan standar
pelayanan.
1) Pertahankan suhu tubuh bayi dengan cara mengeringkan bayi dengan
handuk kering dan lakukan IMD
R/ Bayi yang diselimuti kain yang sudah basah dapat terjadi
kehilangan panas secara konduksi. Dengan dilakukan IMD dapat
memperkuat jalinan kasih saying ibu dan bayi, menjaga kehangatan
tubuh bayi.
2) Berikan Vitamin K 1mg
R/ Pemberian vitamin K1 pada bayi baru lahir untuk mencegah
kemungkinan terjadinya perdarahan.
3) Lakukan pencegahan infeksi pada tali pusat
R/ dengan membalut tali pusat dengan kasa dapat menghindari
infeksi pada bayi.
4) Oleskan salep mata
R/ dengan diberikan salep mata pada bayi baru lahir dapat mencegah
kebutaan.
5) Berikan imunisasi Hb-0
R/ dengan diberikan imunisasi Hb-0 dapat terhindar dari penyakit
hepatitis.
6) Monitoring Nadi, Suhu, dan Respiratory Rate setiap jam sekali
R/ dengan dilakukan monitoring Nadi, Suhu, dan Respiratory Rate
dapat mengetahui kondisi bayi
VI. Melaksanakan Perencanaan (Pelaksanaan/ Implementasi)
1) Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan cara mengeringkan bayi
dengan handuk kering dan lakukan IMD
2) Memberikan Vitamin K 1mg
3) Melakukan pencegahan infeksi pada tali pusat
4) Mengoleskan salep mata
5) Memberikan imunisasi Hb-0
6) Memonitoring Nadi, Suhu, dan Respiratory Rate setiap jam sekali
117
VII. Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif
dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi
catatanperkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam
bentuk SOAP.
S : Data Subyektif data ini diperoleh melalui anamnesa.
O : Data Obyektif hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A : Assessment interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P : Penatalaksanaan merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.
Manajemen Asuhan Kebidanan 7 Langkah Varney Pada Nifas
I. Pengumpulan Data Dasar (Pengkajian)
a. Data Subjektif
1) Biodata
Nama Klien :untuk mengetahui identitas klien dan memudahkan
pelayanan kesehatan/rumah sakit serta sebagai
catatan apakah klien pernah dirawat di salah satu
tempat tersebut atautidak.
Nama Suami : untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab
dalam pembiayaan dan pemberian persetujuan
tindakan medis atau perawatan.
Umur : Semakin tua usia seseorang berpengaruh
terhadap semua fase penyembuhan luka sehubungan
dengan adanya gangguan sirkulasi dan koagulasi,
respon inflamasi yang lebih lambat dan penurunan
aktivitas fibroblast atau tidak.
Agama : Untuk mengetahui keyakinan ibu sehingga dapat
membimbing dan mengarahkan ibu untuk berdoa
sesuai dengan keyakinannya Suku Bangsa : Asal
118
daerah atau bangsa seorang wanita berpengaruh
terhadap pola pikir mengenai tenaga kesehatan dan
adat istiadat yang dianut.
Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat intelektual ibu
sehingga
tenaga kesehatan dapat melalukan komunikasi
dengan istilah bahasa yang sesuai dengan
pendidikan terakhirnya, termasuk dalam hal
pemberian konseling.
Pekerjaan : Status ekonomi seseorang dapat mempengaruhi
pencapaian status gizinya (Hidayat dan Uliyah,
2008). Hal ini dapat dikaitkan antara status gizi
dengan proses penyembuhan luka ibu. Jika tingkat
sosial ekonominya rendah, kemungkinan
penyembuhan luka pada jalan lahir berlangsung
lama. Ditambah dengan rasa malas untuk merawat
dirinya.
Alamat : Bertujuan untuk mempermudah tenaga kesehatan
dalam melakukan follow up terhadap
perkembangan ibu.
2) Alasan Datang
Untuk mengetahui alasan klien berkunjung ke puskesmas.
3) Keluhan Utama
Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan saat pemeriksaan.
Persoalan yang dirasakan pada ibu nifas adalah rasa nyeri pada jalan
lahir, nyeri ulu hati, konstipasi, kaki bengkak, nyeri perut setelah
lahir, payudara membesar, nyeri tekan pada payudara dan puting
susu, puting susu pecah-pecah, keringat berlebih serta rasa nyeri
selama beberapa hari jika ibu mengalami hemoroid.
4) Riwayat Pernikahan
Untuk mengetahui klien menikah berapa kali (pernikahan beberapa
kali dengan klien yang berbeda berisiko mengalami gangguan
119
reproduksi), lama pernikahan klien dan usia klien pertama kali
menikah.
5) Riwayat Menstruasi
1. Menarche: untuk mengetahui usia pertama kali klien
mengalami menstruasi.
2. Siklus menstruasi: untuk mengetahui siklus menstruasi yang
dialami klien apakah siklusnya teratur atau tidak dan berapa
hari siklus menstruasi klien. Normal 25-38 hari (±28hari).
3. Lama menstruasi: untuk mengetahui lamanya menstruasi klien,
perkiraan jumlah perdarahan yang dialami klien (dihitung
melalui jumlah pembalut yang digunakan klien dalam 1 hari
ketika menstruasi), mengidentifikasi apakah ada kelainan
lamanya menstruasi pada klien atau tidak. Normal 3-8 hari.
4. Keluhan: untuk mengetahui adakahkeluhan yang dirasakan
klien terkait menstruasi misalnya adakah nyeri haid, adakah
fluor albus (keputihan) yang berlebihan dan lain-lain.
6) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu
Untuk mengetahui jumlah kehamilan sebelumnya dan hasil
konsepsi akhir (abortus, lahir hidup, penolong persalinan, apakah
anaknya masih hidup, dan apakah dalam kesehatan yang baik),
apakah terdapat komplikasi intervensi pada kehamilan, persalinan
ataupun nifas sebelumnya.
7) Riwayat Keluarga Berencana
Yang perlu dikaji adalah apakah ibu pernah menjadi akseptor KB.
Jika pernah, kontrasepsi apa yang pernah digunakan, berapa lama,
mulai menggunakan, kapan berhenti, keluhan pada saat ikut KB dan
alasan berhenti KB .
8) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Klien
Untuk mengetahui apakah klien pernah mengalami penyakit
menurun seperti asma, jantung, darah tinggi, diabetus mellitus,
maupun penyakit menular seperti TBC, hepatitis, atau penyakit
120
lain yang dapat berpengaruh terhadap kehamilan klien. Atau
untuk mengetahui apakah klien mempunyai alergi obat atau
tidak. Mengetahui penyakit yang diderita ibu sekarang.
b) Riwayat Kesehatan Keluarga
Untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga baik pihak
suami maupun istri yang pernah mengalami penyakit menurun
seperti asma, jantung, darah tinggi, diabetus mellitus, maupun
penyakit menular seperti TBC, hepatitis, atau penyakit lain yang
dapat berpengaruh terhadap kehamilan klien. Atau dari anggota
keluarga ada riwayat mempunyai anak kembar.
c) Riwayat Sosial dan Budaya
a. Respon pasien dan keluarga terhadap kondisi kesehatan klien
saat ini.
b. Pengaruh budaya terhadap penatalaksanaan gejala gangguan
kesehatan reproduksi misalnya penggunaan ramuan
tradisional.
9) Pola Kebiasaan Sehari-hari
a) Pola nutrisi dan cairan
Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang bermutu tinggi,
bergizi dan cukup kalori untuk mendapat protein, mineral,
vitamin yang cukup dan minum sedikitnya 2-3 liter/hari. Selain
itu, ibu nifas juga harus minum tablet tambah darah minimal
selama 40 hari dan vitamin A.
b) Pola istirahat
Ibu nifas harus memperoleh istirahat yang cukup untuk
pemulihan kondisi fisik, psikologis dan kebutuhan menyusui
bayinya dengan cara menyesuaikan jadwal istirahat bayinya.
c) Pola seksual
Biasanya tenaga kesehatan memberi batasan rutin 6 minggu
pasca persalinan untuk melakukan hubungan seksual.
d) Pola aktifitas
121
Mobilisasi dapat dilakukan sedini mungkin jika tidak ada
kontraindikasi, dimulai dengan latihan tungkai di tempat tidur,
miring di tempat tidur, duduk dan berjalan. Selain itu, ibu nifas
juga dianjurkan untuk senam nifas dengan gerakan sederhana
dan bertahap sesuai dengan kondisi ibu.
e) Pola eliminasi
Ibu nifas harus berkemih dalam 4-8 jam pertama dan minimal
sebanyak 200 cc (Bahiyatun, 2019). Sedangkan untuk buang air
besar, diharapkan sekitar 3-4 hari setelah melahirkan
f) Pola personal hygiene
Bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi yang dilakukan
dengan menjaga kebersihan tubuh, termasuk pada daerah
kewanitaannya dan payudara, pakaian, tempat tidur dan
lingkungan
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : untuk mengetahui keadaan klien lemah,
cukup, atau baik
b) Kesadaran : Bertujuan untuk menilai status kesadaran
ibu. Composmentis adalah status kesadaran
dimana ibu mengalami kesadaran penuh
dengan memberikan respons yang cukup
terhadap stimulus yang diberikan.
c) Tekanan darah : untuk mengetahui faktor resiko hipertensi
atau hipotensi dengan normalnya sistole 100-
120mmHg, diastole60- 80mmHg.
d) Suhu :normalnya 36,5–37,50C,>37,50C
termasuk hipertermi.
e) Nadi : untuk memberi gambaran kardiovaskuler.
Denyut normal 60 – 100x/menit.
f) Pernafasan : untuk mengetahui sifat pernafasan dan
122
bunyi pernafasan dalam satu menit. Pernafasan
normal 16 – 24x/menit.
2) Pemeriksaan fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan
klien serta tingkat kenyamanan fisik klien. Informasi dari hasil
pemeriksaan fisik dan anamnesis diolah untuk membuat keputusan
klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan
atau perawatan yang paling sesuai dengan kondisi klien.
a) Kepala
Rambut bersih, tidak ada ketombe.
b) Rambut
Warna rambut, rontok/tidak, mudah dicabut/tidak, kebersihan
rambut dankulit.
c) Wajah
Pucat/tidak, oedem palpebra dan pipi, terdapat kloasma
gravidarum atau tidak.
d) Mata
Simetris, konjungtiva merah muda/pucat, sklera putih atau tidak,
fungsi penglihatan masihbaik/tidak.
e) Hidung
Untuk mengetahui apakah ada polip, nafas cuping hidung
maupun sekret yang keluar.
f) Telinga
Untuk mengetahui keadaan telinga, liang telinga dan ada
serumen atau tidak.
g) Mulut/gigi
Kebersihan, caries, adakah stomatitis, adakah epulis,
bibirpucat/tidak
h) Leher
Adakah pembesaran kelenjar tiroid, adakah bendungan vena
jugularis, adakah pembesaran kelenjar limfe.
i) Dada/payudara
123
Bertujuan untuk mengkaji ibu menyusui bayinya atau tidak,
tandatanda infeksi pada payudara seperti kemerahan dan muncul
nanah dari puting susu, penampilan puting susu dan areola,
apakah ada kolostrom atau air susu dan pengkajian proses
menyusui. Produksi air susu akan semakin banyak pada hari ke-2
sampai ke-3 setelah melahirkan.
j) Abdomen
Bertujuan untuk mengkaji ada tidaknya nyeri pada perut. Pada
beberapa wanita, linea nigra dan strechmark pada perut tidak
menghilang setelah kelahiran bayi. Tinggi fundus uteri pada
masa nifas untuk memastikan proses involusi berjalan lancar
k) Genitalia dan anus
Untuk mengetahui keadaan vulva adakah tanda-tanda infeksi,
keputihan, varises, pembesaran kelenjar bartolini dan
pengeluaran lokhea (lokhea rubra, sanguilenta, serosa atau alba).
l) Luka Perineum
Bertujuan untuk mengkaji nyeri, pembengkakan, kemerahan
pada perineum, dan kerapatan jahitan jika ada jahitan.
m) Ekstremitas
Mengetahui apakah simetris, adakah oedema pada ekstremitas
atas dan bawah (+/+), adakah varises, kuku jari dan akral apakah
pucat, refleks patella dapat(+/-)
3) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium membantu dan menentukan baik dalam
penanganan kasus perdarahan, infeksi dan sepsis, hipertensi dan
reeklamsia/ eklamsia, maupun kasus kegawatdaruratan yang lain.
II. Interpretasi data dasar
Interpretasi data subyektif dan data obyektif yang telah diperoleh,
mengidentifikasi masalah, kebutuhan, dan diagnosa berdasarkan
interpretasi yang benar atas data yang dikumpulkan. Diagnosa kebidanan
ini dibuat sesuai standard nomenklatur kebidanan.
Diagnosa : P....A.... usia ....tahun .... post partum ke ......
124
III. Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Identifikasi diagnosa atau masalah potensial dibuat setelah
mengidentifikasi diagnosa atau masalah kebidanan yang berdasarkan data
ada kemungkinan menimbulkan keadaan yang gawat. Langkah ini
membutuhkan antisipasi dan bila mungkin dilakukan pencegahan.
Diagnosa potensial yang mungkin terjadi pada ibu nifas antara lain:
1) Perdarahan postpartum
2) Infeksi puerperium: vulvitis, vaginitis, servisitis, endometritis,
peritonitis, parametritis, mastitis danabses
3) ISK (Infeksi Saluran Kencing)
4) Subinvolusi Uterus
5) Depresi Postpartum
IV. Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Pada tahap ini bidan mengidentifikasi perlunya tindakan segera, baik
tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan
kondisi klien. Tindakan bisa terapi yang dibutuhkan segera untuk
mengatasi masalah selama kehamilan
V. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh (Intervensi)
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya.
Informasi atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap rencana asuhan
harus disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhanyang diberikan
dapat efektif karena sebagian dari asuhan akan dilaksanakan oleh klien.
Dx : P....A.... usia ... tahun post partum hari ke...
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 24 jam,
diharapkan kondisi kesehatan klien membaik
Kriteria hasil:
1) TTV dalam batas normal yaitu :
TD : normalnya 90/60 mmHg sampai 130/90 mmHg
N : normalnya 60-100x/menit
S : normalnya 36.5-37.5°C
RR : normalnya 16-24x/menit
2) Tidak terjadi perdarahan yaitu perdarahan < 500 mL.
125
3) Kontraksi uterus baik.
4) TFU sesuai hari post partum.
Intervensi :
1) Lakukan prosedur PPI dan pendekatan terapeutik pada klien
R/ dengan melakukan prosedur PPI akan memperkecil kemungkinan
penularan infeksi nosokomial. Dan melalui pendekatan terapeutik akan
terjalin kerjasama yang kooperatif antara klien dan petugas kesehatan.
2) Jelaskan hasil pemeriksaan kepada klien
R/ ibu mempunyai hak untuk mengetahui kondisi masa nifasnya saat
ini.
3) Berkolaborasi dengan dokter dan berikan terapi klien sesuai hasil
kolaborasi degan dokter:
R/ memberikan terapi yang tepat pada klien, menurunkan morbiditas
dan mencegah komplikasi ibu dan bayi.
4) Berikan informasi tentang cara mengurangi nyeri dengan relaksasi,
distraksi, dan mobilisasi dini
R/ dapat memberikan sensasi nyaman, mengurangi nyeri, mengalihkan
perhatian dari nyeri dan melatih diri untuk mobilisasi.
5) Motivasi klien dalam pemberian ASI eksklusif bayi
R/ dengan memberikan ASI eksklusif dapat mempercepat involusi
uteri dan memberikan nutrisi terbaik bagi bayi dalam 6 bulan pertama
kehidupannya.
6) Fasilitasi pemenuhan kebutuhan sehari-hari
R/ dapat membantu klien memenuhi kebutuhan nutrisi dan
meningkatkan kenyamanan ibu serta mencegah infeksi pada ibu.
7) Anjurkan pada ibu untuk tetap menjaga asupan nutrisi dan cairannya
karena penting untuk pemulihan kondisi ibu dan untuk memperlancar
ASI ibu
R/ Nutrisi (protein) berperan penting dalam proses involusi uterus serta
baik untuk memperlancar ASI.
8) Anjurkan pada ibu untuk tetap menjaga pola istirahat karena penting
untuk pemulihan kondisi ibu
126
R/ Istirahat yang cukup berperan penting dalam proses involusi uterus
serta baik untuk memperlancar ASI.
9) Beritahu ibu tentang tanda bahaya pada saat nifas
a) Perdarahan hebat atau peningkatan perdarahan secara tiba-tiba
(melebihi haid biasa atau jika perdarahan tersebut membasahi lebih
dari 2 pembalut saniter dalam waktu setengah jam).
b) Pengeluaran cairan vaginal dengan bau busuk yang keras.
c) Rasa nyeri di perut bagian bawah atau punggung Sakit Kepala yang
terus menerus. Nyeri epigastrium, atau, masalah penglihatan.
d) Pembengkakan pada wajah dan tangan Deman muntah, rasa sakit
sewaktu buang air seni, atau merasa tidak enak badan Payudara
yang memerah panas dan/atau sakit.
e) Kehilangan selera makan untuk waktu yang berkepanjangan Rasa
sakit, warna merah, kelembutan dan/atau pembengkakan pada kaki.
f) Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengurus diri-sendiri atau
bayi.
g) Merasa sangat letih atau bernafas terengah-engah
10) Anjurkan pada ibu untuk selalu atau minimal setiap 2 jam untuk
menyusui bayinya dengan ASInya
R/ Agar nutrisi bayi tetap terpenuhi dan mempercepat proses
pemulihan involusi.
VI. Melaksanakan Perencanaan (Pelaksanaan/ Implementasi)
1) Melakukan prosedur PPI dan pendekatan terapeutik pada klien.
2) Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada klien.
3) Melakukan kolaborasi dengan dokter dan berikan terapi klien sesuai
hasil kolaborasi degan dokter.
4) Memberikan informasi tentang cara mengurangi nyeri dengan
relaksasi, distraksi, dan mobilisasi dini.
5) Memotivasi klien dalam pemberian ASI eksklusif bayi.
6) Memfasilitasi pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
7) Menjelaskan pada ibu mengenai personal hygiene agar ibu tetap
menjaga kebersihan kemaluannya, antara lain dengan.
127
8) Menganjurkan pada ibu untuk tetap menjaga asupan nutrisi dan
cairannya karena penting untuk pemulihan kondisi ibu dan untuk
memperlancar ASI ibu, antara lain dengan.
9) Menganjurkan pada ibu untuk tetap menjaga pola istirahat karena
penting untuk pemulihan kondisi ibu.
10) Memberitahu ibu tentang tanda bahaya pada saat nifas.
11) Menganjurkan pada ibu untuk selalu atau minimal setiap 2 jam untuk
menyusui bayinya dengan ASInya.
VII. Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif
dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan segera
dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan perkembangan.
Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk SOAP.
S : Data Subyektif Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O : Data Obyektif Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan pendukung
lainnya.
A : Assessment Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
P : Penatalaksanaan Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat.
Manajemen Asuhan Kebidanan 7 Langkah Varney Pada KB
I. Pengumpulan Data Dasar (Pengkajian)
a. Data Subjektif
1) Biodata
a. Nama Klien
Untuk mengetahui identitas klien dan memudahkan pelayanan
kesehatan/rumah sakit serta sebagai catatan apakah klien pernah
dirawat di salah satu tempat tersebut atau tidak .
b. Nama Suami
Untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab dalam
pembiayaan dan pemberian persetujuan tindakan medis atau
perawatan.
128
c. Umur
Untuk mengetahui usia klien sebagai pertimbangan dalam
menentukan cara KB yang rasional dan untuk mengetahui
apakah klien masih dalam usia produktif atau tidak.
d. Agama
Untuk mengetahui kepercayaan yang dianut akseptor, karena ada
agama yang menganggap tabu cara KB.
e. Suku Bangsa
Untuk mengetahui suku bangsa yang dianut oleh akseptor KB.
f. Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pendidikan klien sehingga akan
memudahkan dalam pemberian penjelasan dan pengetahuan
tentang metode KB.
g. Pekerjaan
Untuk mengetahui keadaan tingkat ekonomi keluarga.
h. Alamat
Untuk menghindari kekeliruan bila ada dua pasien dengan nama
yang sama untuk keperluan kunjungan ulang.
2) Alasan Datang
Untuk mengetahui alasan klien berkunjung ke Rumah Sakit.
3) Keluhan Utama
Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan saat pemeriksaan.
4) Riwayat Pernikahan
Untuk mengetahui klien menikah berapa kali (pernikahan beberapa
kali dengan klien yang berbeda berisiko mengalami gangguan
reproduksi), lama pernikahan klien dan usia klien pertama kali
menikah.
5) Riwayat Obstetri
a) Riwayat Menstruasi
a. Menarche
Untuk mengetahui usia pertama kali klien mengalami
menstruasi.
129
b. Siklus menstruasi
Untuk mengetahui siklus menstruasi yang dialami klien
apakah siklusnya teratur atau tidak dan berapa hari siklus
menstruasi klien. Normal 25-38 hari (±28 hari).
c. Lama menstruasi
Untuk mengetahui lamanya menstruasi klien, perkiraan
jumlah perdarahan yang dialami klien (dihitung melalui
jumlah pembalut yang digunakan klien dalam 1 hari ketika
menstruasi), mengidentifikasi apakah ada kelainan lamanya
menstruasi pada klien atau tidak. Normal 3-8 hari.
d. Keluhan terkait menstruasi
Untuk mengetahui adakah keluhan yang dirasakan klien
terkait menstruasi misalnya adakah nyeri haid, adakah fluor
albus (keputihan) yang berlebihan dan lain-lain.
b) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu
Untuk mengetahui jumlah kehamilan sebelumnya dan hasil
konsepsi akhir (abortus, lahir hidup, penolong persalinan, apakah
anaknya masih hidup, dan apakah dalam kesehatan yang baik),
apakah terdapat komplikasi intervensi pada kehamilan,
persalinan ataupun nifas sebelumnya.
c) Riwayat Keluarga Berencana
Yang perlu dikaji adalah apakah ibu pernah menjadi akseptor
KB. Jika pernah, kontrasepsi apa yang pernah digunakan, berapa
lama, mulai menggunakan, kapan berhenti, keluhan pada saat
ikut KB dan alasan berhenti KB.
6) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Klien
Untuk mengetahui apakah klien pernah mengalami penyakit
menurun seperti asma, jantung, darah tinggi, diabetus mellitus,
maupun penyakit menular seperti TBC, hepatitis, atau penyakit
lain yang dapat berpengaruh terhadap kehamilan klien. Riwayat
Kesehatan Keluarga
130
Untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga baik pihak
suami maupun istri yang pernah mengalami penyakit menurun
seperti asma, jantung, darah tinggi, diabetus mellitus, maupun
penyakit menular seperti TBC, hepatitis, atau penyakit lain yang
dapat berpengaruh terhadap kehamilan klien. Atau dari anggota
keluarga ada riwayat mempunyai anak kembar.
7) Pola Kebiasaan Sehari-hari
a) Pola nutrisi dan cairan
Untuk mengetahui seberapa banyak asupan nutrisi pada pasien.
Makan : kualitas dan kuantitas makanan, normalnya 3x/hari
dengan jenis umumnya (nasi, sayur, lauk pauk, buah)
Minum : normalnya sekitar 8 gelas/hari (teh, susu, air putih).
b) Pola istirahat
Bidan perlu menggali informasi mengenai kebiasaan istirahat
pada klien. Tidur siang normalnya 1 – 2 jam/hari. Tidur malam
normalnya 6-8 jam/hari.
c) Pola seksual
Untuk mengkaji berapa frekuensi yang dilakukan akseptor dalam
hubungan seksual.
d) Pola aktifitas
Aktifitas akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah atau
adanya nyeri akibat penyakit-penyakit yang dialaminya.
e) Pola eliminasi
Untuk mengetahui apakah ada perubahan BAB dan BAK.
BAK: normalnya 6 – 8x/hari, jernih, bau khas.
BAB : normalnya kurang lebih 1x/hari, konsistensi lembek,
warna kuning.
f) Pola personal hygiene
a. Mengetahui tingkat kebersihan klien dan beberapa kebiasaan
yang dilakukan dalam perawatan kebersihan diri yang dapat
mempengaruhi terjadinya gangguan reproduksi, antara lain
yaitu:
131
b. Mandi: normalnya 2 kali dalam satu hari.
c. Keramas: Klien harus tetap keramas sewaktu rambut kotor
karena bagian kepala yang kotor merupakan tempat yang
mudah terkena infeksi.
d. Ganti baju dan celana dalam: ganti baju minimal sekali dalam
sehari, sedangkan celana dalam minimal dua kali.
e. Kebersihan kuku: kuku klien harus selalu dalam keadaan
pendek dan bersih. Kuku selain sebagai sarang kuman,
sumber infeksi, juga dapat menyebabkan trauma pada kulit
bayi jika terlalu panjang.
f. Ganti pembalut saat menstruasi: ganti pembalut saat
menstruasi umumnya dalam selang waktu setiap 4 jam sekali.
b. Data Ojektif
1) Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan klien lemah, cukup, atau baik.
b. Kesadaran
Untuk menilai status kesadaran pasien composmentis, apatis,
atau konfusi.
c. Tekanan darah
Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi atau hipotensi dengan
normalnya sistole 100-120mmHg, diastole 60- 80mmHg.
d. Suhu
Normalnya 36,5 – 37,50C , > 37,50C termasuk hipertermi.
e. Nadi
Untuk memberi gambaran kardiovaskuler. Denyut normal 60 –
100x/menit.
f. Pernafasan
Untuk mengetahui sifat pernafasan dan bunyi pernafasan dalam
satu menit. Pernafasan normal 16 – 24x/menit.
2) Pemeriksaan fisik
a) Kepala
132
Rambut bersih, tidak ada ketombe.
b) Rambut
Warna rambut, rontok/tidak, mudah dicabut/tidak, kebersihan
rambut dan kulit.
c) Wajah
Pucat/tidak, oedem palpebra dan pipi, terdapat kloasma
gravidarum atau tidak.
d) Mata
Simetris, konjungtiva merah muda/pucat, sklera putih atau tidak,
fungsi penglihatan masih baik/tidak.
e) Hidung
Untuk mengetahui apakah ada polip, nafas cuping hidung
maupun sekret yang keluar.
f) Telinga
Untuk mengetahui keadaan telinga, liang telinga dan ada
serumen atau tidak.
g) Mulut/gigi
Kebersihan, caries, adakah stomatitis, adakah epulis, bibir
pucat/tidak.
h) Leher
Adakah pembesaran kelenjar tiroid, adakah bendungan vena
jugularis, adakah pembesaran kelenjar limfe.
i) Dada/payudara
Kesimetrisan kedua payudara, kebersihan kedua payudara,
puting susu menonjol atau tidak, ada benjolan pada payudara
atau tidak.
j) Abdomen
Apakah ada jaringan parut atau bekas operasi, adakah nyeri tekan
serta adanya massa dengan cara palpasi.
k) Genitalia dan anus
Untuk mengetahui keadaan vilva adakah tanda-tanda infeksi,
keputihan, varises, pembesaran kelenjar bartolini dan perdarahan.
133
l) Ekstremitas
Mengetahui apakah simetris, adakah oedema pada ekstremitas
atas dan bawah (+/+), adakah varises, kuku jari dan akral apakah
pucat, refleks patella dapat (+/-).
II. Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosis
atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan data- data yang telah
dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan
sehingga ditemukan masalah atau diagnosis yang spesifik.
III. Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Identifikasi diagnosa atau masalah potensial dibuat setelah
mengidentifikasi diagnosa atau masalah kebidanan yang berdasarkan data
ada kemungkinan menimbulkan keadaan yang gawat. Langkah ini
membutuhkan antisipasi dan bila mungkin dilakukan pencegahan.
IV. Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan
atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim
kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
V. Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh(Intervensi)
Pada langkah ini ditentukan oleh hasil kajian pada langkah
sebelumnya. Informasi atau data yang kurang dapat dilengkapi. Setiap
rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhan
yang diberikan dapat efektif karena sebagian dari asuhan akan
dilaksanakan oleh klien.
Dx : Ny. “X” usia ... tahun P....A.... usia ... tahun Akseptor KB....
Tujuan :
1) Ibu mendapatkan KB sesuai dengan pilihannya.
2) Mencegah terjadinya kehamilan.
Kriteria :
a) Keadaan umum ibu baik.
b) Tanda-tanda vital dalam batas normal
TD : ± 120/80 mmHg, stabil
134
N : 60 – 100 kali/menit
S : 36,5 – 37,50C
RR : 16 – 24 kali/menit
c) Klien mendapatkan KB yang sesuai Intervensi :
Lakukan pendekatan terapeutik pada klien agar terbina hubungan baik
antara klien dan petugas.
R/ Dengan terciptanya hubungan baik antara klien dan petugas
diharapkan klien dapat kooperatif dengan petugas sehingga
penanganan dapat dilakukan lebih efektif dan klien dapat merasa lebih
tenang.
1) Jelaskan tentang macam-macam KB yang aman bagi ibu menyusui
(definisi, cara kerja, indikasi dan kontraindikasi, keuntungan dan
kekurangan, efek samping).
R/ Dengan penjelasan tentang KB diharapkan dapat menambah
pengetahuan klien tentang alat kontrasepsi yang akan digunakannya.
2) Lakukan persetujuan tindakan medis (informed consent) sebagai bukti
bahwa ibu setuju dengan tindakan yang akan dilakukan.
R/ Setiap tindakan medis yang mengandung resiko harus dengan
persetujuan tertulis yang di tanda tangani oleh yang berhak
memberikan persetujuan, yaitu klien yang bersangkutan dalam keadaan
sadar dan sehat mental.
3) Jelaskan pada klien tentang hasil pemeriksaan.
R/ Dengan dijelaskannya hasil pemeriksaan ibu dapat mengetahui
kondisi kesehatannya sehingga mengurangi kecemasan ibu terhadap
kondisi kesehatannya.
4) Siapkan alat yang akan digunakan dalam pemberian KB.
R/ Persiapan yang matang dan tepat dalam meningkatkan kualitas
dalam memberikan pelayanan kontrasepsi dan lebih efektif dalam
melakukan suatu tindakan.
5) Cuci tangan sebelum dilakukan tindakan.
R/ Cuci tangan merupakan langkah awal untuk pencegahan terjadinya
resiko kontaminasi silang antara petugas kesehatan dengan pasien.
135
6) Berikan KB sesuai dengan pilihan ibu.
R/ Dengan terpasangnya KB dapat menunda kehamilan ibu.
7) Berikan KIE ulang tentang efek samping penggunaan KB kepada ibu.
R/ Ibu dapat lebih kooperatif dengan keadaan kesehatannya.
8) Beritahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang.
R/ Ibu bersedia kunjungan ulang.
VI. Melaksanakan Perencanaan (Pelaksanaan/ Implementasi)
1) Melakukan pendekatan terapeutik pada klien agar terbina hubungan
baik antara klien dan petugas.
2) Menjelaskan tentang macam-macam KB yang aman bagi ibu menyusui
(definisi, cara kerja, indikasi dan kontraindikasi, keuntungan dan
kekurangan, efek samping).
3) Melakukan persetujuan tindakan medis (informed consent) sebagai
bukti bahwa ibu setuju dengan tindakan yang akan dilakukan.
4) Menjelaskan pada klien tentang hasil pemeriksaan.
5) Menyiapkan alat yang akan digunakan dalam pemberian KB.
6) Mencuci tangan sebelum dilakukan tindakan.
7) Memberikan KB sesuai dengan pilihan ibu.
8) Memberikan KIE ulang tentang efek samping penggunaan KB kepada
ibu.
9) Memberitahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang.
VII. Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut
efektif dalam pelaksanaannya. Meliputi evaluasi tindakan yang dilakukan
segera dan evaluasi asuhan kebidanan yang meliputi catatan
perkembangan. Untuk pencatatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk
SOAP.
S :Data Subyektif Data ini diperoleh melalui anamnesa.
O :Data Obyektif Hasil pemeriksaan klien dan pemeriksaan
pendukung lainnya.
A : Assessment Interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat
kesimpulan.
136
P : Penatalaksanaan Merupakan tindakan dari diagnosa yang telah
dibuat