0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Merdeka

Diunggah oleh

Tandaon Sitanggang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Merdeka

Diunggah oleh

Tandaon Sitanggang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran

Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251


ISSN 2964-5824 (online) DOI : [Link]
Available online at [Link]

Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Merdeka Tingkat Satuan Pendidikan SD, SMP,
dan SMA

Mira Rohaeni1, Riri Gustiana Mustofa2, Septio Aji Prasetyo3, Vania Putri Nurhasanah4, Yayan
Sudrajat5
1,2,3,4 Fakultas Pascasarjana Prodi IPS, Universitas Indraprasta PGRI

Email Korespondensi : 1) vaniaputri944@[Link]

SEJARAH ARTIKEL Abstrak


Diterima : 27.02.2024 The Merdeka Belajar curriculum is here to be the answer to the tight
Direvisi : 05.03.2024 competition of human resources in the world in the 21st century. The change
Terbit : 30 April 2024 in curriculum to an independent curriculum also affects social studies
learning in elementary, junior high, high school. This research method uses
descriptive qualitative research methods, while data collection techniques use
literature study studies, namely studies that have the aim of collecting various
data and information needed for research. The results of the discussion
KATA KUNCI
obtained similarities and differences from social studies learning activities in
Social Studies
the independent curriculum from elementary, junior high, and high school
Learning,
levels. Unlike social studies learning in junior high and high school, the
Curriculum Merdeka,
learning process is carried out through activities such as showing
Education Unit Level.
relationships, using various studies, analyzing, critiquing, applying thoughts
and values, designing, applying, constructing, developing, and most
importantly the learning process is directed so that students can integrate
various basic concepts of social science through learning principles that
liberate and give freedom in thinking

Pendahuluan
Pendidikan merupakan langkah untuk memajukan suatu bangsa dan menciptakan generasi
unggul. Menurut (Hamalik, 2019) pendidikan memiliki keterhubungan dan tidak dapat
dipisahkan dalam proses pembangunan. Diharapkan proses pembangunan ini dapat
mengembangkan SDM yang unggul, berkualitas serta pembangunan di sektor ekonomi. Dan hal
ini saling berkaitan dan berlangsung bersamaan. Pendidikan diharapkan menghasilkan SDM
yang mempunyai kemampuan-kemampuan seperti dapat berkomunikasi dengan baik dan juga
mampu berkolaborasi, pintar menggunakan teknologi, berpikir kreatif dan inovatif dan dapat
memecahkan masalah.
Pada abad-21 ini disebut juga dengan era digital, hal ini ditandai dengan akses internet yang
meluas dan dapat digunakan berbagai macam aktivitas seperti dunia bisnis, hiburan dan bahkan
pendidikan. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran sekarang kini banyak melibatkan internet
untuk mendapatkan informasi, serta menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat mendukung
proses pembelajaran.

CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 242


SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online), DOI : [Link]
Available online at [Link]
Menurut (Prihantini, 2021) perserta didik saat ini berbeda dengan peseta didik sebelumnya
yang mana saat ini peserta didik dapat mengakses informasi secara cepat bahkan lebih cepat dari
gurunya. Kurikulum adalah salah satu elemen terpenting dalam pelaksanaan proses
pembelajaran di semua jenjang pendidikan. Adanya kurikulum sangat diperlukan guna
mempersiapkan program pembelajaran yang sesuai dengan target yang diharapkan, hal ini
sesuai dengan pendapat Nation & MaCalister (2010) yang mengemukakan kurikulum sebagai
seperangkat panduan yang dirancang dalam suatu program pembelajaran yang terdiri dari
prinsip-prinsip,lingkungan dan kebutuhan sesuai dengan target program pembelajaran yang
dilakukan. Perubahan Kurikulum selalu terjadi, karena kurikulum itu bersifat fleksibel.
kurikulum harus menyesuaikan dengan perubahan zaman dan kebutuhan serta kondisi peserta
didik, guna meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang ada disuatu Negara. Salah satu
bentuk dari penyempurnaan kurikulum terbaru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
adalah penerapan Kurikulum Merdeka Belajar untuk satuan pendidikan bagi tingkat dasar dan
menengah, Mulai dari sekolah dasar (SD), sampai sekolah menengah pertama (SMP), dan
sekolah menengah atas (SMA/SMK). Pada perguruan tinggi, penyempurnaan yang dilakukan
adalah mengembangkan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai bentuk
wujud keseriusan kementerian pendidikan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia.
Kurikulum Merdeka Belajar terlahir pada masa peralihan munculnya Pandemic Covid-19
yang melanda seluruh dunia. Pada tahun 2020, pemerintah sangat gencar memsosialisasikan
kebijakan Merdeka Belajar yang menjadi pedoman dan tolak ukur penyelamatan krisis
pendidikan akibat pandemic, bagi pemangku kepentingan untuk memberikan pengalaman
belajar yang menyenangkan, membahagiakan dan bermakna bagi semua peserta didik yang ada
disekolah masing-masing. Kurikulum merdeka memberikan harapan terhadap pemulihan
pembelajaran peserta didik dengan mempertimbangkan kebermaknaan dalam pembelajaran dan
keunikan dari setiap peserta didik. Kurikulum merdeka belajar merupakan bentuk evaluasi
kurikulum 2013, yang berfokus pada pembelajaran intrakurikuler yang beragam dimana konten
akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan
menguatkan kompetensi.
Kurikulum Merdeka Belajar hadir menjadi jawaban atas ketatnya persaingan SDM secara
dunia pada abad ke-21. Lukum dalam (Putriani et al., 2021) menyatakan bahwa masih ada tiga
kompetensi penting di abad ke-21, yaitu kompetensi berpikir, bertindak dan hidup. Kompetensi
berpikir mencakup berpikir kritis, berpikir kreatif, & pemecahan masalah. Kompetensi bertindak
mencakup komunikasi, kolaborasi, literasi digital & literasi teknologi. Sedangkan kompetensi
hidup di dunia mencakup inisiatif, mengarahkan diri, pemahaman dunia dan tanggung jawab
sosial. Kompetensi inilah yang seharusnya diterapkan pada pembelajaran abad ke-21
dikarenakan dalam era ini akan memerlukan orang-orang yang inovatif dan kreatif agar dapat
menyesuaikan dengan cepat. Hal inilah yang harus menjadi perhatian krusial bagi pemerintah
Republik Indonesia untuk dapat sesegera mungkin menyediakan sarana serta prasarana yang
memadai dalam menghadapi perkembangan global, terutama era society 5.0. Pengembangan
kurikulum merupakan salah satu langkah yang baik dalam membentuk karakter siswa nantinya
untuk menghadapi era tersebut.

CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 243


SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online) DOI : [Link]
Available online at [Link]
Pembelajaran IPS adalah salah satu mata pelajaran di SD, SMP, SMA IPS merupakan pelajaran
yang terintegrasi mulai dari cabang sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, serta
budaya. Adanya perubahan kurikulum menjadi kurikulum merdeka berpengaruh juga pada
pembelajaran IPS di SD, SMP, SMA. Pada hakekatnya pembelajaran IPS di sekolah bersifat
terpadu (integrated) bertujuan agar mata pelajaran ini lebih bermakna bagi peserta didik
sehingga pengorganisasian materi/bahan pelajaran disesuaikan dengan lingkungan,
karakteristik, dan kebutuhan peserta didik“ (Sapriya, 2009). Dengan begitu, peserta didik dapat
menguasai dimensi-dimensi pembelajaran di sekolah, yaitu : menguasai pengetahuan
(knowledge), ketrampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and values)“ dan bertindak (action)“
(Sapriya, 2009).
Kurikulum merdeka ini dibuat dengan berbagai pertimbangan, lalu apakah kurikulum merdeka
ini sesuai dengan pembelajaran IPS pada saat ini. Maka dari itu penulis melakukan penelitian
mengenai Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Merdeka Tingkat Satuan Pendidikan SD, SMP,
dan SMA

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, Menurut (Nugrahani &
Hum, 2014), metode diartikan sebagai sebuah metode penelitian yang ditujukan dalam
melakukan eksplorasi dan memahami suatu permasalahan sosial atau kemanusiaan. Dalam
melakukan penelitian ini, penulis gunakan adalah kajian studi pustaka yakni studi yang memiliki
tujuan mengumpulkan berbagai data serta informasi yang dibutuhkan untuk penelitian, peneliti
melakukan pengkajian literatur dari berbagai sumber literatur seperti artikel ilmiah, jurnal
pendidikan, buku-buku, serta sumber informasi lainnya yang dapat dipertanggung jawabkan.
Menurut Moloeng penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk memahami
fenomena subjek studi, seperti tindakan, persepsi, motivasi, perilaku, dll. Sementara metode
pengumpulan data dalam artikel kami ialah menggunakan metode literatur, metode ini kami
lakukan dengan mencari dan mengumpulkan data serta informasi yang memiliki kaitan dengan
topik penelitian kami. kami mengumpulkan data dan segala informasi dari buku, jurnal maupun
internet.

Hasil dan Analisis


Kurikulum Merdeka
Merdeka belajar merupakan sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh Nadhim Makarim
selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut Nadhim Makarim dikutip oleh M Badrus,
“merdeka belajar adalah kebebasan berfikir, kebebasan otonomi yang diberikan kepada elemen
pendidikan yang bertujuan memberi ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi
yang ada pada dirinya”. Merdeka belajar menjadi salah satu program inisiatif Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan bapak Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana belajar
yang bahagia dan menyenangkan. Tujuan merdeka belajar yaitu agar para guru, peserta didik,
serta orang tua bisa merasakana suasana yang bahagia. Merdeka belajar menurut Mendikbud di
dasari dari keinginan agar output dari pendidikan menghasilkan kualitas yang lebih baik dan
tidak lagi hanya menghasilkan peserta didik yang mahir dalam menghafal saja, namun juga
CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 244
SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online), DOI : [Link]
Available online at [Link]
memiliki kemampuan analisis yang tajam, penalaran serta pemahaman yang komprehensif
dalam pembelajaran untuk mengembangkan diri dan kemampuannya.
Kurikulum merdeka adalah sebuah kurikulum yang fokus terhadap sebuah kompetensi,
karena itulah siswa lebih fokus mengkaji konsep-konsep materi. Kurikulum merdeka ini
merupakan sebuah lanjutan dan pengembangan dari kurikulum 2013. Dalam kuriklum ini,
satuan pendidikan mempunyai hak dalam mengatur kegiatan pembelajaran yang disesuaikan
dengan kebutuhan dan konteks materi belajar peserta didik. Pada jenjang SD, SMP, SMA ada
beberapa perubahan mata pelajaran, misalnya pelajaran IPA dan IPS yang pada awalnya
dipelajari secara terpisah kini dilakukan penggabungan diantara kedua mata pelajaran tersebut.
Kurikulum ialah aspek yang penting dalam pembelajaran, karena kurikulum ini akan menjadi
sebuah acuan dalam melaksanaka kegiatan pendidikan lainnya.
Pendidikan juga bertanggung jawab membina peserta didik agar dewasa, berani, mandiri
dan berusaha sendiri. Dalam konteks ini, yang terpenting bukanlah memberikan pengetahuan
positif yang bersifat taken for granted kepada peserta didik, melainkan bagaimana mengajarkan
kepada peserta didik agar memiliki kekuatan bernalar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan memberikan kemerdekaan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam
proses pembelajaran dan transfer keilmuan, dalam hal ini peserta didik dianggap sebagai subjek
utama bukan hanya sekadar objek dari sebuah proses pendidikan.
Dalam konsep merdeka belajar, antara guru dan murid merupakan subjek dalam sistem
pembelajaran. Artinya guru bukan dijadikan sumber kebenaran oleh siswa, namun guru dan
siswa berkolaborasi penggerak dan mencari kebenaran. Artinya posisi guru di ruang kelas bukan
untuk menanam atau menyeragamkan kebenaran menurut guru, namun menggali kebenaran,
daya nalar dan kritisnya murid melihat dunia dan fenomena.
Merdeka belajar merupakan sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh Nadhim Makarim selaku
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut Nadhim Makarim dikutip oleh M Badrus,
“merdeka belajar adalah kebebasan berfikir, kebebasan otonomi yang diberikan kepada elemen
pendidikan yang bertujuan memberi ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi
yang ada pada dirinya”.
Merdeka belajar menjadi salah satu program inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
bapak Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia dan
menyenangkan. Tujuan merdeka belajar yaitu agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa
merasakana suasana yang bahagia. Merdeka belajar menurut Mendikbud di dasari dari
keinginan agar output dari pendidikan menghasilkan kualitas yang lebih baik dan tidak lagi
hanya menghasilkan peserta didik yang mahir dalam menghafal saja, namun juga memiliki
kemampuan analisis yang tajam, penalaran serta pemahaman yang komprehensif dalam
pembelajaran untuk mengembangkan diri dan kemampuannya.
Kurikulum merdeka adalah sebuah kurikulum yang fokus terhadap sebuah kompetensi,
karena itulah siswa lebih fokus mengkaji konsep-konsep materi. Kurikulum merdeka ini
merupakan sebuah lanjutan dan pengembangan dari kurikulum 2013. Dalam kuriklum ini,
satuan pendidikan mempunyai hak dalam mengatur kegiatan pembelajaran yang disesuaikan
dengan kebutuhan dan konteks materi belajar peserta didik. Pada jenjang SD, SMP, SMA ada
beberapa perubahan mata pelajaran, misalnya pelajaran IPA dan IPS yang pada awalnya
dipelajari secara terpisah kini dilakukan penggabungan diantara kedua mata pelajaran tersebut.
CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 245
SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online) DOI : [Link]
Available online at [Link]
Kurikulum ialah aspek yang penting dalam pembelajaran, karena kurikulum ini akan menjadi
sebuah acuan dalam melaksanaka kegiatan pendidikan lainnya.
Pendidikan juga bertanggung jawab membina peserta didik agar dewasa, berani, mandiri
dan berusaha sendiri. Dalam konteks ini, yang terpenting bukanlah memberikan pengetahuan
positif yang bersifat taken for granted kepada peserta didik, melainkan bagaimana mengajarkan
kepada peserta didik agar memiliki kekuatan bernalar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan memberikan kemerdekaan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam
proses pembelajaran dan transfer keilmuan, dalam hal ini peserta didik dianggap sebagai subjek
utama bukan hanya sekadar objek dari sebuah proses pendidikan.
Dalam konsep merdeka belajar, antara guru dan murid merupakan subjek dalam sistem
pembelajaran. Artinya guru bukan dijadikan sumber kebenaran oleh siswa, namun guru dan
siswa berkolaborasi penggerak dan mencari kebenaran. Artinya posisi guru di ruang kelas bukan
untuk menanam atau menyeragamkan kebenaran menurut guru, namun menggali kebenaran,
daya nalar dan kritisnya murid melihat dunia dan fenomena.
Dalam melaksanakan kurikulum merdeka ini perlu sekali sebuah kesiapan. Kesiapan
merupakan hal utama bagi suatu instansi pendidikan dalam berinovasi serta melaksanakan
kegiatan perubahan yang baru. Namun, kesiapan utama bukanlah terletak pada aspek sarana
prasarana saja tetapi harus memperhatikan aspek lainnya, salah satunya adalah kepemimpinan
yang mampu menyesuaikan dengan hal yang baru. Kesiapan inilah yang membutuhkan upaya serta
waktu untuk dapat menyesuaikan dengan kebijakan baru. Selain itu, fokus proses pembelajaran di
kurikulum merdeka ini lebih ditekankan pada karakter siswa, hal ini berkaitan dengan kurikulum
merdeka yang memiliki tujuan dalam menjadikan profil pelajar pancasila sebagai salah satu
tujuannya.

Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Merdeka tingkat SD (Sekolah Dasar)


Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukanlah suatu disiplin ilmu melainkan sebuah mata pelajaran
yang mempelajari kehidupan sosial yang kajiannya menggabungkan ilmu-ilmu social, seperti
sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan humaniora seperti aspek norma, nilai, bahasa, seni, dan
budaya. Tujuan Pendidikan IPS ini untuk “membina peserta didik menjadi warga negara yang baik,
yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kepedulian sosial, yang berguna bagi dirinya,
masyarakat dan negara”. Dalam mencapai tujuan tersebut maka proses pembelajaran IPS tidak
hanya menekankan pada aspek pengetahuan, dan keterampilan saja, melainkan meliputi juga aspek
moral dalam melaksanakan serta menyadari kehidupan yang penuh dengan masalah, tantangan,
hambatan, dan persaingan.
IPS adalah nama salah satu mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar. Istilah IPS di Sekolah
Dasar adalah sebuatan untuk mata pelajaran yang sendiri digabungkan dengan beberapa ilmu
sosial, humaniora, ilmu pengetahuan bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan. Disiplin
tidak dikaji dalam materi IPS sekolah dasar, karena dimensi pedagogik-psikologis dan
perkembangan umum kemampuan berpikir siswa lebih penting. Pembelajaran social merupakan
sistem pendidikan yang terdiri dari beberapa faktor yang membentuknya. Diantaranya ada peserta
didik, pendidik, media belajar, fasilitas belajar dan juga sumber belajar yang tujuannya agar peserta
didik menguasai dan memahami berbagai intregasi yang berbeda dari ilmu-lmu social yang

CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 246


SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online), DOI : [Link]
Available online at [Link]

berbeda. Seperti ekonomi, sejarah, sosial, geografi dan lain-lain. Selain ilmu sosial juga ilmu
humaniora, ilmu alam bahkan masalah sosial kehidupan.
Sehingga pembelajaran IPS di sekolah dasar lebih mengutamakan mendidik peserta didik
menjadi seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi dimana mereka mampu
melakukan konstruksi-konstruksi pemikirannya dalam situasi wajar, alami, dan mampu
mengekpresikan dirinya secara tepat apa yang mereka rasakan dan mampu melaksanakannya
sesuai tingkat dan lingkungan dimana peserta didik tersebut berada. Tujuan utama pembelajaran
IPS di sekolah dasar adalah untuk membekali kemampuan dasar kepada peserta didik dalam
mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan dan lingkunganya dalam bidang
pembelajaran di sekolah dasar.
Pada fase B kurikulum sekolah dasar mandiri, yaitu di kelas 3-4 mata pelajaran dasar-dasar
ilmu alam dan social (IPAS) yang bertujuan membangun kemampuan pengetahuan dasar. Muatan
ini membentuk dasar untuk mempersiapkan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan social
yang lebih kompleks di tingkat menengah. Mata pelajaran IPA dan IPS karena kedua mata
pelajaran ini adalah pengembangan keterampilan inkuiri atau dikenal juga sebagai kemampuan
berpikir ilmiah. Kurikulum merdeka ini merupakan salah satu program Kemendikbud Ristek yaitu
merdeka belajar. Menurut (Sasikirana & Herlambang, 2020) konsep merdeka belajar pada
kurikulum merdeka ini dinilai dapat menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0 dan era
society 4.0. Selain itu kurikulum merdeka ini memiliki tujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan.
Menurut (Kemendikbudristek, 2020) profil pelajar Pancasila adalah merupakan cerminan dari
karakteristik pelajar Indonesia yang diharapkan yaitu menjadi pelajar yang memiliki karakter,
berkompeten dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Menurut (Rachmawati et al.,
2022) profil pelajar Pancasila ini merupakan karakter serta kemampuan dalam kehidupan sehari-
hari yang harus dijalankan setiap individu. Menurut (Syafi’i, 2021) ada enam dimensi dalam profil
pelajar Pancasila, yaitu 1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak
mulia. 2) Mandiri, 3) bergotong royong 4) berkebinekaan global, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.
Ke-enam dimensi ini diharapkan dimiliki oleh semua peseta didik. Pembelajaran abad 21 ini
menjadi sebuah bagian dari kurikulum merdeka ini karena tujuan dari kurikulum merdeka itu
sendiri yaitu membentuk profil pelajar Pancasila.
Ketika mempelajari IPS dalam kurikulum merdeka tingkat SD (Sekolah Dasar), siswa dituntut
untuk memiliki keterampilan abad 21 melalui penerapan proses pembelajaran berbasis pemikiran
kritis dan pemecahan masalah. Kelebihan pembelajaran IPS adalah memiliki makna dalam
kehidupan sehari-hari (konstektual), siswa dapat memecahkan masalah dengan baik, pembelajaran
lebih bermakna, peserta didik akan merasa tertantang dan memunculkan ide-ide baru serta mudah
beradaptasi dengan lingkungan baru.
Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa berpikir kritis pada pembelajaran IPS membuat peserta
didik mampu memiliki pemahaman terhadap masalah secara mendalam, serta menarik kesimpulan
untuk dapat memecahkan masalah-masalah sosial secara terarah, evaluative, dan bijaksana untuk
menjawab tantangan abad 21.

Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Merdeka tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama)
Guru IPS adalah profesi yang tidak mudah untuk dijalani. Apalagi saat ini guru dituntut untuk
CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 247
SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online) DOI : [Link]
Available online at [Link]

profesional, oleh karena itu guru harus memiliki empat kompetensi, salah satunya adalah
kompetensi profesional kemampuan guru dalam penguasaan materi, terutama mata pelajaran IPS
terpadu di sekolah menengah pertama (SMP). Mata pelajaran IPS Terpadu ini merupakan
perpaduan dari empat mata pelajaran yaitu Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi. Tidaklah
mudah bagi seorang guru IPS Terpadu dalam menguasai keempat mata pelajaran tersebut karena
kebanyakan guru hanya menguasai mata pelajaran yang dimilikinya.
Guru IPS dalam proses pembelajaran penguasaan materi oleh guru dalam menyampaikan
materi pelajaran IPS Terpadu penyampaian materi oleh guru kepada siswa selama proses
pembelajaran berlangsung. Guru sudah mampu menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir
mata pelajaran IPS baik dalam lingkup lokal, nasional, maupun global oleh guru dalam
menyampaikan materi pelajaran dengan baik. Penyampaian materi yang jelas, menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit oleh guru membuat siswa mudah
memahami materi yang disampaikan. Guru juga membedakan materi pelajaran IPS Terpadu
dengan ilmu-ilmu sosial yang lain karena ilmu sosial sangatlah luas dan selalu dinamis (berubah-
ubah) dan mengikuti perkembangan yang ada, walaupum dibeberapa pertemuan membedakan
materi ini tidak dilakukan.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapatlah dipahami bahwa guru IPS adalah Profesi yang
tidak mudah untuk dijalani. IPS terpadu ini merupakan perpaduan dari empat mata pelajaran yaitu
geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Merdeka belajar menjadi salah satu program inisiatif.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bapak Nadiem Makarim yang ingin menciptakan suasana
belajar yang bahagia dan menyenangkan. Tujuan merdeka belajar yaitu agar para guru, peserta
didik, serta orang tua bisa merasakana suasana yang bahagia.
Merdeka belajar menurut Mendikbud di dasari dari keinginan agar output dari pendidikan
menghasilkan kualitas yang lebih baik dan tidak lagi hanya menghasilkan peserta didik yang mahir
dalam menghafal saja, namun juga memiliki kemampuan analisis yang tajam, penalaran serta
pemahaman yang komprehensif dalam pembelajaran untuk mengembangkan diri dan
kemampuannya. Konsep merdeka belajar memiliki arah dan tujuan yang sama dengan konsep
aliran filsafat pendidikan progresivism Jhon Dewey yang dimana keduanya sama menawarkan
kemerdekaan dan keleluasaan kepada lembaga pendidikan untuk mengeksplorasi potensi peserta
didik secara maksimal dengan menyesuaikan minat dan bakat peserta didik dengan ini harapannya
pendidikan diindpnesia menjadi semakin maju dan berkualitas kedepannya mampu memberikan
dampak positif secara langsung terhadap kemajuan bangsa dan negara.
Dalam konsep merdeka belajar, antara guru dan murid merupakan subjekdalam sistem
pembelajaran. Artinya guru bukan dijadikan sumber kebenaran oleh siswa, namun guru dan siswa
berkolaborasi penggerak dan mencari kebenaran. Artinya posisi guru di ruang kelas bukan untuk
menanam atau menyeragamkan kebenaran menurut guru, namun menggali kebenaran, daya nalar
dan kritisnya murid melihat dunia dan fenomena. Peluang berkembangnya internet dan teknologi
menjadi momentum kemerdekaan belajar. Karena dapat meretas sistem pendidikan yang kaku atau
tidak membebaskan. Termasuk mereformasi beban kerja guru dan sekolah yang terlalu dicurahkan
padahal yang administratif. Oleh sebabnya kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri,
dan kreatif dapat dilakukan oleh unit pendidikan, guru dan siswa.

CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 248


SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online), DOI : [Link]
Available online at [Link]

Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Merdeka tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas)
Kurikulum Merdeka sudah menciptakan ruang baru bagi setiap individu peserta didik di SMA
untuk tumbuh dan berkembang sesuai fitrah keunikannya masing-masing. Dimana peserta didik
memperoleh kebebasan dalam mengekplorasi pengetahuan secara maksimal. Dengan adanya
kegiatan-kegiatan ilmiah baik inquiry, disovery, maupun project based learning melalui kegiatan
tatap muka belajar didalam kelas maupun kegiatan belajar diluar kelas, seperti pembelajaran
dilapangan.
Menurut Muhammad Ikhwan AA, berpandangan bahwa bagi peserta didik aspek-aspek yang
terlibat pada kurikulum merdeka belajar berdampak pada keaktifan sebagai sasaran pendidikan.
Peserta didik akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan karakternya, pola fikir sampai
pertimbangan yang pasti dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sehingga diharapakan
dengan penerapan kurikulum baru, penyelenggaraan pendidikan akan semakin baik lagi. Peserta
didik akan mendapatkan pengalaman seluas-luasnya guna menerapkan pemahaman yang
didapatkan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pada pembelajaran IPS, Proses pembelajaran dilakukan melalui kegiatan seperti menunjukkan
hubungan, menggunakan berbagai kajian, menganalisis, mengkritisi, mengaplikasikan pemikiran
dan nilai-nilai, mendesain, menerapkan, mengkonstruksi, mengembangkan, dan yang paling
utama proses pembelajaran diarahkan agar peserta didik dapat memadukan berbagai konsep dasar
ilmu sosial melalui prinsip-prinsip belajar yang memerdekakan dan memberi kebebasan dalam
berpikir.
Pelaksanaan pembelajaran pada PIPS menggunakan berbagai macam metode antara lain:
diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif,
pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan lain-lain. Guru juga
menugaskan peserta didik turun ke lapangan dengan tujuan melakukan observasi, menemukan
arsip, wawancara, atau pengambilan gambar guna menambah kedalaman pengetahua. Prinsip
pembelajaran kebebasan dalam berfikir bertujuan mengembangkan potensi dan kemampuan
peserta didik guna memperoleh capaian pembelajaran. Proses pembelajaran di kelas-kelas teori
maupun praktik yang bersifat interaktif, holistik, integratif, saintifik, kontekstual, tematik, efektif,
kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik. Prinsip kebebasan dalam belajar akan mendorong
peserta didik menempuh peminatan pembelajaran sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki
peserta didik.
Hal ini sesuai dengan penerapan dari Kurikulum Merdeka yang membagi dua jenis kegiatan
menjadi dua yakni intrakurikuler dan berbasis project. Model pembelajaran berbasis project
(Project Based Learning) mengedepankan proses pembelajaran yang memanfaatkan pembuatan
project sebagai aktivitas inti dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Project based learning akan
memberikan kebebasan bagi peserta didik dalam melakukan kegiatan mulai dari eksplorasi,
observasi, interpretasi hingga penilaian untuk tujuan memperoleh pengetahuan baru, keterampilan
baru, hingga sikap social yang menjadi bekalnya di masa depan. Projek untuk menguatkan
pencapaian profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh
pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu,
sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran.
Pada sekolah di SMA pegelolaan projek dilakukan setiap minggu, yaitu setiap hari jumat.
Tugas project dilaksanakan dengan membentuk forum-forum diskusi dan berbagi Kelompok. Pada
CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 249
SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online) DOI : [Link]
Available online at [Link]

hal ini, penulis temui sebuah permasalahan baru yang terjadi diantara peserta didik, secara
keseluruhan dengan adanya tugas project memberikan dampak yang baik terkait pendalaman
kompetensi, keaktifan dan imajinasi peserta didik, tetapi adanya faktor eksternal yang terjadi
membuat pencapaian.
Dalam kegiatan pembelajaran ada dua bentuk aspek penilaian. 1. Secara formatif, dapat
dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung, penilaian ini terkait dengan sikap, perilaku dan
kebiasaan peserta didik. 2. Secara sumatif, biasanya dilakukan diakhir program pengajaran.
Dilakukan untuk menguji seberapa besar peserta didik menguasai materi yang sudah diajarkan.
Pada kurikulum merdeka, ketuntasan hasil belajar tidak lagi diukur dengan KKN. Capaian belajar
diidentifikasi melalui ketercapaian tujuan pembelajaran. Guru memberikan keleluasaan untuk
menentukan kriteria ketercapaian sesuai dengan karakteristik kompetensi. Siswa dapat lanjut ke
kelas selanjutnya sesuai dengan potret ketercapaian tujuan pembelajarannya

Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas peneliti mendapatkan temuan persamaan dan perbedaan
dari kegiatan pembelajaran IPS dalam kurikulum merdeka dari tingkat SD, SMP, dan SMA.
Ternyata terdapat persamaan tingkat SD dan SMP dari isi muatan mata pelajaran IPS Terpadu ini
merupakan perpaduan dari empat mata pelajaran yaitu Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi.
Sedangkan pada tingkat SMA isi muatan pelajaran IPS tidak terpadu, artinya mata pelajaran
terpisah. Pembelajaran IPS di sekolah dasar lebih mengutamakan mendidik peserta didik menjadi
seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi dimana mereka mampu melakukan
konstruksi-konstruksi pemikirannya dalam situasi wajar, alami, dan mampu mengekpresikan
dirinya secara tepat apa yang mereka rasakan dan mampu melaksanakannya sesuai tingkat dan
lingkungan dimana peserta didik tersebut berada. Berbeda dengan pembelajaran IPS di SMP dan
SMA, Proses pembelajaran dilakukan melalui kegiatan seperti menunjukkan hubungan,
menggunakan berbagai kajian, menganalisis, mengkritisi, mengaplikasikan pemikiran dan nilai-
nilai, mendesain, menerapkan, mengkonstruksi, mengembangkan, dan yang paling utama proses
pembelajaran diarahkan agar peserta didik dapat memadukan berbagai konsep dasar ilmu sosial
melalui prinsip-prinsip belajar yang memerdekakan dan memberi kebebasan dalam berfikir.

Referensi
Azizah, M., Sulianto, J., & Cintang, N. (2018). Analysis of Critical Thinking Skills of Elementary
School Students in Learning Mathematics Curriculum 2013. Jurnal Penelitian Pendidikan,
35(1), 61–70.
Hamalik, O. (2019). Kurikulum dan Pembelajaran. PT Bumi Aksara.
Kemendikbud. 2019. Merdeka Belajar Pokok-Pokok Kebijakan Merdeka Belajar. Jakarta:
Makalah Rapat Koordinasi Kepala Dinas Pendidikan Seluruh Indonesia
Kemendikbudristek. (2020). Kajian Pengembangan Profil Pelajar Pancasila.
[Link]

CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 250


SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online), DOI : [Link]
Available online at [Link]

Kusumastuti Adhi. 2019. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta:Lembaga Pendidikan Sukarno


Pressindo (LPSP)
Laga, Y., Nona, R. V., Langga, L., & Jamu, M. E. (2021). Persepsi Mahasiswa Terhadap Kebijakan
Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(1), 699–
706. [Link]
Loilatu, S. H., Mukadar, S., Badu, T. K., & Hentihu, V. R. (2022). Persepsi Guru Terhadap
Penerapan
Marisa, M. (2021). Inovasi Kurikulum “Merdeka Belajar” di Era Society 5.0. Santhet: (Jurnal
Sejarah, Pendidiikan Dan Humaniora), 5(1), 72. [Link]
Merdeka Belajar Melalui Model Pembelajaran Blended Learning pada SMA Negeri 12 Buru.
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 3(3), 377–386.
M. Badrus Zaman, [Link]
tengah-corona/, Diakses pada tanggal 29 Juli 2022
M.N Somantri. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung :Pascasarjana dan
FPIPS dengan Remaja Rosdakarya.
Nugrahani, F., & Hum, M. (2014). Metode penelitian kualitatif dalam Penelitian Pendidikan
Bahasa. Solo: Cakra Books, 1(1).
Pendidikan, J., Sekolah, G., Pendidikan, F. I., & Semarang, U. N. (2017). Pengaruh Persepsi Guru
Tentang Penerapan Kurikulum 2013 Terhadap Motivasi Kerja Dan Keterampilan Dasar
Mengajar Pada Guru Sd Negeri Di Kecamatan Pemalang.
Perdana, M. Y. (2021). Persepsi guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan terhadap
merdeka belajar di sekolah dasar se- kapanewon tepus. Paper Knowledge . Toward a Media
History of Documents.
Prihantini. (2021). Strategi Pembelajaran SD (B. S. Fatmawati (ed.); 2021st ed.). PT Bumi Aksara.
Putriani, Dwi, J., & Hudaidah. (2021). Inovasi pembelajaran kurikulum merdeka belajar Di Era
Society 5.0 untuk Revolusi Industri 4.0. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(3), 38–83.
Rachmawati, N., Marini, A., Nafiah, M., & Nurasiah, I. (2022). Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila dalam Implementasi Kurikulum Prototipe di Sekolah Penggerak Jenjang Sekolah
Dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 3613–3625.
[Link]
Rahmadhani, P., Widya, D., & Setiawati, M. (2022). Dampak Transisi Kurikulum 2013 Ke
Kurikulum Merdeka Belajar Terhadap Minat Belajar Siswa. 1(4).
Sasikirana, V., & Herlambang, Y. T. (2020). Urgensi Merdeka Belajar di Era Revolusi Industri 4.0
dan Tantangan Society 5.0. 8(2), 1–8. [Link]
Sapriya, dkk. 2009. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung : PT. Rosdakarya.
Siti Mustaghfiroh, Konsep Merdeka Belajar Perspektif Aliran Progresivisme John Dewey, Jurnal
Studi Guru dan Pembelajaran, Vol. 3, No. 1, Maret (2020) h. 145-146.

CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 251


SINAU: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran
Vol 2, No 3, April 2024, Hal. 242-251
ISSN 2964-5824 (online) DOI : [Link]
Available online at [Link]

Syafi’i, F. F. (2021). Merdeka belajar: sekolah penggerak. Pascasarjana Universitas Negeri


Gorontalo Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar, 2(8), 39–49.
Syukri Bayumie, Menakar Konsep Merdeka Belajar, [Link]
merdeka-belajar/, Diakses pada tanggal 29 Juli 2022

CONTACT: Nurhasanah, vaniaputri944@[Link], Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia | 252

Anda mungkin juga menyukai