0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan11 halaman

Strategi Perkuatan Struktur Beton

Dokumen tersebut membahas mengenai tinjauan pustaka tentang perkuatan struktur. Secara ringkas, dokumen menjelaskan bahwa perkuatan struktur bertujuan untuk meningkatkan kekuatan, kekakuan, dan daktalitas struktur yang ada. Metode perkuatan yang disebutkan antara lain dengan memberi lapisan beton atau baja pada struktur untuk menambah dimensi dan tulangan. Salah satu metode perkuatan yang sering digunakan untuk kol
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan11 halaman

Strategi Perkuatan Struktur Beton

Dokumen tersebut membahas mengenai tinjauan pustaka tentang perkuatan struktur. Secara ringkas, dokumen menjelaskan bahwa perkuatan struktur bertujuan untuk meningkatkan kekuatan, kekakuan, dan daktalitas struktur yang ada. Metode perkuatan yang disebutkan antara lain dengan memberi lapisan beton atau baja pada struktur untuk menambah dimensi dan tulangan. Salah satu metode perkuatan yang sering digunakan untuk kol
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

UMUM Perkuatan (strengthening) adalah suatu tindakan modifikasi struktur existing, mungkin belum terjadi kerusakan, dengan tujuan untuk menaikkan kekuatan, kekakuan serta daktalitas struktur. Penelitian tentang analisa perkuatan struktur diawali pada tahun 1960 oleh negara negara maju (As, Jepang, Cina, dll) sampai sekarang. Penelitian tersebut dilatar belakangi banyak struktur yang dirancang tanpa mengacu terhadap perkuatan dan perlindungan gempa saat itu, sehingga pada saat terjadi gempa banyak gedung serta jembatan mengalami kerusakan non struktur dan struktur. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang analisa gempa dan pengalaman tentang gempa bumi yang besar maka teori perkuatan menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan kekuatan dan daktalitas struktur hingga saat ini (www:[Link]/wiki/Seismic_retrofit). Praktek perkuatan ini sebagian besar berkaitan dengan perbaikan struktural untuk mengurangi risiko dalam penggunaan struktur. Hal tersebut adalah sama penting untuk mengurangi bahaya dan kerugian dari risiko gempa. Karena mengingat bahwa tidak adanya namanya struktur mampu memikul gempa, meskipun kinerja gempa ditingkatkan melalui design awal yang tepat atau modifikasi selanjutnya (www:[Link]/wiki/Seismic_retrofit). Secara umum dilakukannya perkuatan disebabkan oleh beberapa hal antara lain : a. b. c. d. e. f. Kesalahan perencanaan. Kesalahan pelaksanaan. Perubahan fungsi yang berakibat penambahan beban. Perkembangan ilmu pengetahuan. Timbulnya keluhan terhadap kenyamanan struktur. Perubahan persyaratan untuk memenuhi peraturan yang baru. Setelah diketahui dan dimungkinkan struktur dapat diperkuat maka langkah selanjutnya adalah pemilihan metode perkuatan untuk masing-masing elemen struktur. Pemilihan metode perkuatan dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan, antara lain :

a. b. c.

Efektivitas perkuatan Kemudahan Pelaksanaan Biaya Ada beberapa metode perkuatan yang telah dikembangkan dalam dekade

terakhir setelah pemahaman peraturan yang ada serta ketersediaan bahan (material) canggih antara lain (www:[Link]/wiki/Seismic_retrofit). a. Dengan cara memberi penyelubungan beton pada struktur Jacketing). b. Dengan cara memberi penyelubungan baja pada struktur (Steel Jacketing). c. Dengan cara memberi lapisan material komposit CFRP (Carbon Fiber Reinforced Polimer). d. Dengan cara memberi lapisan material GFRP (Glasses Fiber Reinforced Polimer). e. Dengan cara memberi lapisan material komposit (Aramic Fiber Reinforced Polimer). (Concrete

2.2. STRATEGI PERKUATAN STRUKTUR Perkuatan struktur biasanya dilakukan apabila terjadi kerusakan yang berakibat tidak terpenuhi lagi persyaratan-persyaratan yang bersifat teknik yaitu kekuatan, kekakuan, kestabilan, daktalitas serta ketahanan terhadap kinerja tertentu. Sehingga dalam memilih metode perkuatan sangat dibutukan pedoman serta strategi yang tepat untuk teknik perkuatan yang akan diterapkan. ([Link]/ejournal/[Link]/cef/article/17399 Tahun 2009). Untuk mendapatkan hasil yang maksimal di dalam perkuatan struktur pada suatu konstruksi maka ada bebarapa hal yang harus dilakukan, yaitu ([Link]/ejournal/[Link]/cef/article/17399 Tahun 2009) :

a.

Investigasi Tujuan dari Investigasi adalah : 1) Mendapatkan gambaran yang lengkap dari lokasi dan besarnya

kerusakan yang terjadi serta kemungkinan penyebabnya.

2) Memperoleh data-data struktur yang baik pada dimensi struktur, data material maupun data beban (mutu beton, mutu dan jumlah tulangan serta beban yang bekerja). 3) Mengetahui kondisi lingkungan sekitar yang ada. Data-data diatas harus benar dan akurat, karena bila data-data tersebut tidak benar maka rekomendasi perkuatan tidak tepat serta tidak tercapai sasaran. Selanjutnya data-data diatas dijadikan sebagai tahapan evaluasi. Tahapan investigasi yang akan dilakukan selanjutnya adalah : 1) Pengamatan secara visual (melakukan mapping disekitar kerusakan, dimensi dari struktur beton, dll). 2) Memeriksa dokumen-dokumen yang ada, baik dokumen perencanaan, pelaksanaan, operasional maupun perwatan. 3) Melakukan pengujian non desdruktif yang diperlukan untuk melengkapi datadata investigasi. Di dalam melakukan pengamatan secara visual, bebrapa jenis kerusakan yang akan ditemukan adalah sebagai berikut : a) Keretakan non struktur dan struktur (crack) Crack adalah retak pada permukaan beton karena mengalami penyusutan, lendutan akibat gravitasi, akibat gempa bumi maupun perbedaan temperatur yang tinggi pada waktu proses pengeringan. menjadi 3 (tiga) macam yaitu : Retak kecil dengan lebar retakan kurang dari 0,5 mm Retak sedang dengan lebar retakan antara 0,5 mm sampai 1,2 mm Retak besar dengan lebar retakan lebih dari 1,2 mm Crack ini dapat dibedakan

b) Penggelupasan (spalling) Pengelupasan (spalling) pada struktur yaitu terkelupasnya selimut beton besar atau kecil sehingga tulangan pada beton tersebut terlihat.

c) Keropos (honeycomb)

d) Karat

b. Evaluasi Setelah mendapatkan data-data dari hasil ivestigasi maka dilakukan evaluasi untuk menentukan tindakan-tindakan apa yang akan diambil. 1) Melakukan perbaikan 2) Melakukan perkuatan 3) Melakukan pembongkaran Didalam menentukan salah satu tindakan diatas, maka harus dipertimbangkan beberapa aspek yaitu : 1) Masa layan struktur 2) Fungsi struktur 3) Fungsi struktur (bangunan) 4) Biaya 5) Kemudahan pelaksanaan 6) Keindahan

ATC (The Applied Technology Council) 40 adalah salah satu dokumen yang memberikan pedoman untuk perkuatan struktur yang harus dipertimbangkan, serta

dasar-dasar memilih strategi yang tepat untuk teknik perkuatan yang akan diterapkan pada suatu bangunan (Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings, Comartin 1996). Menurut ATC40, strategi perkuatan meliputi strategi teknikal ( technical strategies ) dan strategi menajemen (management strategies). Strategi teknikal meliputi pendekatan pendekatan seperti peningkatan kekuatan elemen struktur bangunan dan meningkatkan kekakuan. Strategi manajemen meliputi penggantian fungsi gedung, konstruksi yang bertahap dan lain sebagainya. Dalam analisis ini, strategi yang digunakan adalah strategi teknikal. Melalui strategi dasar yang diterapkan, dapat ditentukan metode perkuatan yang sesuai. Berbagai aspek yang menjadi pertimbangan dalam memili teknik perkuatan yang tepat antara lain (Comartin 1996) : a. b. c. d. Persyaratan dan peraturan yang berlaku. Tujuan dan kinerja bangunan. Karakteristik struktural bangunan. Waktu dan biaya.

e. f. g. h. i.

Aspek arsitektural, estetika serta nilai sejarah bangunan. Efek pada pengguna bangunan. Ketersediaan material. Kesulitan pengerjaan dan teknik perkuatan. Risiko risiko yang mungkin terjadi.

Setelah memilih strategi yang sesuai dan meninjau aspek aspek tersebut diatas, maka perencana harus memilih teknik perkuatan yang sesuai.

2.3. CONCRETE JACKETING Concrete Jacketing merupakan salah satu teknik yang paling sering digunakan untuk memperbaiki & memperkuat strutur beton bertulang yang mengalami non kerusakan dan kerusakan. Konsep dasar metode ini adalah pembesaran dimensi dan penambahan tulangan pada elemen struktur tersebut untuk meningkatkan kinerja elemen tersebut. Pembesaran tersebut dilakukan dengan jacketing. Jacketing dari bahan beton telah terbukti sebagai sebuah solusi perkuatan yang efektif untuk meningkatkan kinerja seismik kolom (www:[Link]/wiki/Seismic_retrofit). Penelitian-penelitian tentang perkuatan untuk kolom setelah terkena gempa telah banyak dilakukan. Bett dkk. (1988) telah mengembangkan metoda perkuatan concrete jacketting dengan penambahan tulangan transversal (Bett dkk, 1988). Triwiyono dkk, telah meneliti perbaikan dan perkuatan kolom persegi dengan metode concrete jacketing dengan tulangan spiral. Pada penelitian ini dilakukan pengujian kolom asli berpenampang persegi dan diperbaiki menjadi berpenampang bulat tanpa dilakukan injeksi pada retak. Sebelum diperbaiki, kolom asli telah mencapai tingkat kerusakan cukup parah, dengan lebar retak mencapai 4 mm dan kolom tidak mampu lagi menahan beban lateral. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan kolom dengan metode concrete jacketting dapat mengembalikan kemampuan kolom dalam menahan beban lateral sebesar 80% dari kolom aslinya, meskipun sudak rusak parah. Drift ratio kolom asli maksimum 1,3 menjadi 1,6 pada kolom retrofit (Triwiyono dkk, 2000). Alcocer dkk, telah melakukan penelitian mengenai penggunaan concrete

jacketing sebagai perkuatan pada sambungan balok-kolom beton bertulang. Jacketing dilakukan pada balok, kolom dan sambungan balok-kolom. Gambar 2.2 menunjukkan

detail kolom dan balok yang telah diperkuat dengan jacketing dari beton pada penelitian tersebut. Spesimen dites dengan beban siklus dua arah, seperti terliat pada Gambar. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa concrete jacketing dapat meningkatkan kekuatan dan daktalitas suatu struktur beton bertulang (Alcocer dkk, 1991) .

Gambar 2.1. Detail kolom yang telah diperkuat dengan concrete jacketing ( Alcocer dkk. 1991 )

Gambar 2.2. Pengetesan concrete jacketing (Alcocer dkk et al. 1991) Penggunaan tulangan geser untuk kolom sejauh ini telah terbukti disamping mempunyai kemampuan terhadap gaya aksial, dan daktilitas yang tinggi, juga mampu menahan gaya geser akibat gempa yang lebih baik. Pengekangan (confinement) beton inti akibat tulangan sengkang cukup efektif (Triwiyono, 1997). Nurlina dkk (2007) telah meneliti perbaikan dan perkuatan kolom persegi dengan metode concrete jacketing dengan penampang 10x10cm dan penambahan sengkang yang divariasikan. Hasil uji hipotesis menyatakan bahwa perkuatan dengan concrette

10

jacketting memberikan kontribusi yang nyata pada peningkatan kapasitas kolom. Dengan selang 5cm variasi jarak sengkang pada kolom jacketing memberi pengaruh yang nyata terhadap kekuatan kolom existing dengan jarak sengkang 15 cm. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa peningkatan nilai P maksimum rata-rata dari kolom sebelum dijaketi dengan kolom setelah dijaketi adalah sebesar 502.778%. Dalam hal parameter beda ketebalan jaket beda tebal 0,5 cm tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase peningkatan kapasitasnya (Pn). Pengaruh yang nyata dapat terlihat pada kolom Retrofit dengan jaket 3 cm dan 4 cm. Persentase peningkatan kapasitas kolom yang paling besar terjadi pada ketebalan jaket 4 cm dengan nilai 627,778 % yang ditunjukkan dalam bentuk diagram batangan (Nurlina dkk, 2007). Soenaryo dkk, telah melakukan penelitian dengan terhadap metode concrete jacketing dengan cara memberikan persentase pembebanan terhadap sampel sebelum diperbaiki dengan concrete jacketing dengan variasi 65%, 75% dan 85% dari beban runtuh dan pengujian dilakukan pada saat kolom beton bertulang berumur 28 hari. Mutu beton yang digunakan pada kolom eksisting 265,589 kg/cm2 dengan rasio penulangan 2,1904%, sedangkan pada jacket 267,804 kg/cm2 dengan rasio penulangan 1,71% . Dalam analisa mencari kapasitas kolom setelah jacketing, mutu beton dianggap sama 267,804 kg/cm2 sesuai dengan batasan masalah yang kita buat, campuran beton yang digunakan 1 : 2.07 : 1.53 dengan faktor air semen 0,48. Benda uji berjumlah 12 buah dengan dimensi eksisting 10x10x60, pada saat Jacketing 16x16x60 dengan 4 perlakuan berdasar variasi pembebanan. Hasil uji hipotesis menyatakan bahwa variasi persentase pembebanan berpengaruh terhadap kapasitas kolom beton bertulang dalam menerima beban. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa yang paling efektif dilakukan perbaikan dengan menggunakan concrete jacketing adalah pada pembebanan 75% dari beban runtuh, karena menunjukkan peningkatan yang paling besar (Soenaryo dkk, 2007). Agar perkuatan conrete jacketing ini dapat bekerja secara maksimal, maka ada beberapa spesifikasi minimum yang harus dipenuhi. Menurut dokumen CED 39 (7428), spesifikasi minimum yang harus dipenuhi antara lain : a. Mutu beton pembungkus yang baru harus lebih besar atau sama dari mutu beton existing.

11

b.

Untuk kolom yang tulangan longitudinal tambahan tidak dibutuhkan, minimum harus diberikan tulangan 12mm di kempat ujungnya dengan sengkang 8mm.

c. d.

Minimum tebal jacketing 100 mm. Diameter tulangan sengkang minimum 8mm tidak boleh lebih kurang 1/3 tulangan longitudinal.

e.

Jarak maksimal tulangan sengkang pada daerah bentang adalah 100 mm, dan jarak vertikal antar tulangan sengkang tidak boleh melebihi 100 mm. Perkuatan dengan metode concrete jacketing biasanya digunakan pada rumah

sederhana dan gedung gedung bertingkat ( 1 3 lantai ). Khusus untuk gedunggedung tinggi dan struktur jembatan metode perkuatan dengan concrete jacketing jarang dipergunakan, biasanya perencana lebih memilih metode perkuatan lainnya. Metode concrete jacketing memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun sebagai berikut : a. Kelebihan Mampu meningkatakan daktalitas struktur dan kekuatan struktur ( kapasitas aksial, kapasitas lentur dan kemampuan geser ). Mampu menambah kekakuan struktur. Mampu meningkatkan stabilitas struktur. Biaya lebih ekonomis dibandingkan metode perkuatan lainnya.

b. Kekurangan Ukuran kolom setelah dipasang perkuatan akan menjadi lebih besar sehingga akan mengurangi ruang kosong yang ada. Jika penempatan cocrete jacketing ini tidak diperhatikan dengan baik maka dapat menyebabkan penyebaran kekakuan yang tidak merata. Kemapuan kapasitas dari concrete jacketting lebih rendah dibandingkan perkuatan dengan steel jacketing, CFRP, GFRP, AFRP.

Metode Perkuatan yang digunakan renovasi gedung Kuliah utara STPMD APMD dengan concrete jacketting dengan penambahan tulangan. Hartono (2007) Metode perkuatan concrete jacketting dengan penambahan tulangan untuk dapat memperkuat elemen struktur seperti kolom yang rusak cukup parah, agar dapat berfungsi lagi sebagai elemen pemikul beban.

12

2.4. KEGAGALAN KOLOM Dibawah ini menunjukkan beberapa tipe kegagalan kolom yang pada umumnya terjadi : a) Kegagalan geser kolom ( retak diagonal geser pada kolom pendek). Contoh kasus ini terjadi di Hotel Holiday Inn, Van Nuys pada saat gempa Northridge. b) Kegagalan kolom karena tidak mampu menahan beban bolak- balik ( ciclic load). Kolom tersebut tidak daktail. c) Kegagalan kolom karena kerusakan pada pertemuan balok-kolom. Kasus ini terjadi pada saat terjadi gempa Yogyakarta 2006. Hubungan balok-kolom yang lemah dan detailing yang salah pada joint mengakibatkan concept capacity tidak terpenuhi, sehingga dapat mengakibatkan buckling yang significan pada tulangan longitudinal. (Tumilar, 2010)

Gambar 2.3. kerusakan pada pertemuan balok-kolom 2.5. PEMILIHAN SISTEM STRUKTUR Dasar dari pemilihan struktur sistem pemikul beban gempa lateral dan vertikal harus memenuhi salah satu tipe yang diatur pada ASCE 7-10 Tabel 12.2-1 atau sistem gabungan yang diperbolehkan pada Pasal 12.2.2, 12.2.3, dan 12.2.4. Masing masing tipe dibagi berdasarkan tipe elemen vertikal yang digunakan untuk memikul beban gempa lateral. Sistem struktur yang digunakan harus memenuhi batasan dari sistem struktur dan batasan ketinggian hn, yang ada pada Tabel 12.2-1. Faktor modifikasi respon, R, faktor kuat lebih, 0, dan faktor amplifikasi defleksi, Cd yang sesuai, yang disebutkan pada 12.2-1 harus digunakan untuk menghitung gaya geser dasar, gaya komponen rencana, dan simpangan antar tingkat.

13

Dalam kasus penelitian gedung STMPD APMD sistem struktur yang digunakan berupa Special Moment Frame atau Sisten Rangka Pemikul Momen Khusus, sehingga nilai R = 8, 0 = 3, dan Cd = 5,5.

2.6. PEMILIHAN PROSEDUR ANALISIS Prosedur evaluasi harus didasarkan pada data informasi pelaksanaan yang merupakan rujukan untuk system struktur baik type, pendetailan, kekuatan material dan kondisi elemen struktur. Sesuai dengan FEMA (Federal Emergency Management

Agency) 356, secara garis besar ada 4 macam cara analisis dari evaluasi gempa pada struktur yaitu : a) The linier Static procedure. b) The linier dynamic procedure. c) The Non linier static procedure. d) The Non linier dynamic procedure. Pada studi kasus analisis gedung STPMD APMD digunakan cara : The Nonlinier Static procedure dan sesuai dengan ASCE 7-10 pasal 12.6 tentang prosedur analisis struktur yang diperbolehkan harus terdiri dari salah satu yang diperbolehkan pada ASCE 7-10, Tabel 12.6.1. Berberdasarkan pada Seismic Design Category, sistem struktur, properti dinamik, dan keteraturan struktur tersebut, atau prosedur alternatif diperbolehkan digunakan dengan persetujuan dari pihak yang mempunyai kewenangan. Prosedur analisis yang dipilih harus ditentukan berdasarkan kebutuhan yang sesuai dengan struktur tersebut yang terdapat pada ASCE 7-10, Tabel 12.6-1. Pada studi kasus analisis ini menggunakan analisis beban gempa static ekivalen. Karena adanya tuntutan untuk mempertahankan bentuk kolom tetap persegi, maka penambahan tulangan longitudinal dan sengkang ikat, diterapkan untuk perbaikan kolom yang dilakukan pada penelitian ini. Dengan pemberian tulangan sengkang dalam lapisan pelindung beton (concrete jacketing) dari kolom yang telah rusak, diharapkan mampu mengekang beton inti yang telah retak menjadi terkekang, sehingga mampu lagi menahan beban aksial lentur maupun geser. Karena kondisi beton yang terkekang sebagian besar masih utuh, maka tidak perlu digrouting, kecuali pada kolom yang mengalami spalling parah digrouting terlebih dahulu. Pada perbaikan kolom gedung

14

STPMD APMD ini menggunakan campuran bahan tambah dari produk sika, untuk kemudahan pelaksanaan pekerjaan pengecoran beton jacketting.

15

Anda mungkin juga menyukai