Pemahaman Respiratory Distress Sindrom
Pemahaman Respiratory Distress Sindrom
OLEH:
Sistem pernapasan termasuk hidung , rongga hidung dan sinus , faring , laring
(kotak suara),trakea (tenggorokan ) , dan saluran-saluran yang lebih kecil yang
mengarah ke pertukaran gas di permukaan paru-paru . Saluran pernapasan terdiri
dari saluran udara yang membawa udara dari dan ke permukaan tersebut . Saluran
pernapasan dapat dibagi menjadi bagian konduksi dan bagian pernapasan . Bagian
konduksi terdapat dari jalan masuk udara dihidung ke rongga hidung ke bronkiolus
terkecil dari paru-paru . Bagian pernapasan termasuk saluran bronkiolus
pernapasan dan kantung udara halus , atau alveoli ( al - VE ) , di mana terjadi
pertukaran gas . Sistem pernapasan termasuk saluran pernapasan dan jaringan
terkait , organ , dan struktur pendukung . Saluran-saluran kecil ini menyesuaikan
kondisi udara dengan menyaring , pemanasan , dan melembabkan itu , sehingga
melindungi bagian konduksi yang peka dan melindungi pertukaran sistem
pernapasan bawah dari partikel-partikel , patogen , dan lingkungan ekstrem .
( Martini et al 2012).
Saluran pernafasan dari atas kebawah dapat dirinci sebagai berikut, rongga
hidung, faring, laring, trakea, percabangan bronkus, paru- paru
(bronkiolus,alveolus). Rongga hidung dilapisi selaput lender yang sangat kaya
akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan faring dan selaput lender.
Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai
persambungannya dengan oesofagus pada ketinggiantulang rawan krikoid. Faring
terbagi menjadi 3 bagian yaitu nasofaring, orofaring dan laringofaring kemudian
Laring, laring berperan untuk pembentukan suara dan untuk melindungi jalan nafas
terhadap masuknya makanan dan cairan. Trakea, merupakan lanjutan dari laring
yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin kartilago yang terdiri dari tulangtulang
rawan yang terbentuk seperti C. Bronkus merupakan percabangan trachea. Setiap
bronkus primer bercabang 9 sampai 12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan
tersier dengan diameter yang semakin kecil. Struktur mendasar dari paru-paru
adalah percabangan bronchial yang selanjutnya secara berurutan adalah
bronki,bronkiolus,bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorik, duktus alveolar,
Nose Nasal Cavity Oral Cavity Larynx Trakhea Pharynx Right Primary Bronchus
Lungs 8 dan alveoli. Dibagian bronkus masih disebut pernafasan extrapulmonar
dan sampai memasuki paru-paru disebut intrapulmonary. Terakhir adalah Paru-
paru yang berada dalam rongga torak,yang terkandung dalam susunan tulang-
tulang iga dan letaknya disisi kiri dan kanan mediastinum yaitu struktur blok padat
yang berada dibelakang tulang dada. Paru-paru berbentuk seperti spins dan berisi
udara dengan pembagian udara Antara Paru kanan, yang memiliki tiga lobus Dan
paru kiri dua lobus (Setiadi, 2007).
C. Etiologi
Menurut (Marmi & Rahardjo, 2012) penyebab RDS (Respiratory Distress
Syndrome) pada neonatus yaitu terdiri dari:
a. Faktor ibu
Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari
35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit
pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi,
penyakit jantung, diabetes melitus, dan lain-lain.
b. Faktor plasenta
Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil,
plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.
c. Faktor janin
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher,
kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir,gemeli, prematur, kelainan
kongenital pada neonatus dan lain-lain.
d. Faktor persalinan
Faktor persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain.
Sindroma gagal nafas adalah perkembangan imatur pada sistem pernafasan
atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan pada [Link] afiksia
neonatorum merupakan gangguan pernafasan akibat ketidak mampuan bayi
beradaptasi terhadap [Link] masalah ini disebabkan karena adanya
masalah-masalah kehamilan dan pada saat persalinan.
Menurut Suriadidan Yulianni(2010) etiologi dari RDS yaitu:
1. Ketidakmampuan paru untukmengembangdan alveoli terbuka.
Alveoli masih kecil sehingga mengalami kesulitan berkembang dan
pengembangan kurang [Link] surfaktan untuk menjaga agar kantong
alveoli tetap berkembang dan berisi udara,sehingga pada bayi premature dimana
surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang
dan bayi akan mengalami sesak nafas.
2. Membran hialin berisi debris dari sel yang nekrosis yang tertangkap dalam
proteinaceous filtrate serum (saringan serum protein),difagosit oleh makrofag.
3. Berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram.
4. Adanya kelainan di dalam dan diluar [Link] dalam paru yang menunjukan
sindrom ini adalah pneumothoraks/ pneumomediastinum ,penyakit membran
hialin (PMH).
5. Bayi premature atau kurang bulan.
Diakibatkan oleh kurangnya produksi [Link] surfaktan ini dimulai
sejak kehamilan minggu ke-22,semakin muda usia kehamilan,maka semakin besar
pula kemungkinan terjadi RDS.
D. Klasifikasi
Dibagi menjadi dua stadium, yaitu :
1) Eksudatif
Ditandai dengan adanya perdarahan pada permukaan parenkim paru, edema
interstisial atau elveolar, penekanan pada bronkiolus terminalis, dan kerusakan
pada sel alveolar tipe I (Somantri, 2009).
2) Fibroproliferati
Ditandai dengan adanya kerusakan pada sel alveolar tipe II, peningkatan tekanan
puncak inspirasi, penurunan compliance paru, hipoksemia, penurunan fungsi
kapasitas residual, fibrolisis interstisial, dan peningkatan ruang rugi
ventilasi(Somantri, 2009).
Pada foto thorak menurut kriteria Bomsel ada 4 stadium RDS yaitu :
1) Stadium 1
Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara
2) Stadium 2
Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran air
broncogram udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer menutupi
bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru.
3) Stadium 3
Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat
lebih opaque (white lung) dan bayangan jantung hampir tidak terlihat,
bronchogram udara lebih luas.
4) Stadium 4
Seluruh thorak sangat opaque (white lung) sehingga jnatung tidak dapat terlihat.
(Warman, Waskito, & Romadhon, 2012).
E. Patofisiologi
RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya
zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel
saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan
22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid
(75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan
permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara
fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan
terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.
Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan penimbunan asam
laktat asam organic>asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi kedalam
alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik>lapisan
membrane hialin.
Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantun, penurunan
aliran darah keparum, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang
menyebabkan terjadinya atelektasis.
Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada
periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine
seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan [Link] punctum terjadi akibat
penusukan benda tajam,sehingga menyebabkan contuiniutas jaringan [Link]
umumya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan atau
[Link] hal ini adapeluang besar terjadinya infeksi hebat.
F. Manifestasi Klinis
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat
dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia
kehamilan, semakin berat gejala klinis yang ditunjukan. Gejala dapat tampak
beberapa jam setelah kelahiran. Kasus RDS kemungkinan besar terjadi pada bayi
yang lahir prematur.
Menurut (Surasmi, dkk 2013) Gejala utama Gawat napas / distress respirasi pada
neonatus yaitu :
1) Takipnea : laju napas > 60 kali per menit (normal laju napas 40 kali per menit)
2) Sianosis sentral pada suhu kamaryang menetap atau memburuk pada 48-96 jam
kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik
3) Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta pada saat inspirasi
4) Grunting : suara merintih saat ekspirasi
5) Pernapasan cuping hidung
Tabel 1. Evaluasi Gawat Napas dengan skor Downes
Pemeriksaa Skor
n 0 1 2
Frekuensi < 60 60-80 >
napas /menit /menit 80/menit
Retraksi Tidak Retraksi Retraksi
ada ringan berat
retraksi
Sianosis Tidak Sianosis Sianosis
ada hilang menetap
sianosis dengan 02 walaupu
n diberi
O2
Air entry Udara Penuruna Tidak
masuk n ringan ada udara
udara masuk
masuk
Merintih Tidak Dapat Dapat
merinti didengar didengar
h dengan tanpa alat
stetoskop bantu
Evaluasi: < 3 = gawat napas ringan
1) Napas cepat
2) Lubang hidung melebar ketika bernapas
3) Retraksi (Ketika bayi bernapas dengan cepat, kulit tertarik di antara tulang rusuk
atau di bawah tulang rusuk).
4) Bising saat bernapas atau mendengkur.
5) Bibir, bantalan kuku, dan kulit berwarna kebiruan karena kekurangan oksigen,
yang disebut dengan sianosis
Biasanya gejala RDS akan memburuk pada hari ketiga. Saat bayi membaik,
ia memerlukan lebih sedikit oksigen dan bantuan mekanis untuk bernapas. Gejala
RDS mungkin tampak seperti kondisi kesehatan lainnya.
G. Komplikasi
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada respiratory distress syndrome menurut Warman
(2012), antara lain:
1. Tes Kematangan Paru
2. Tes Biokimia
Paru janin berhubungan dengan cairan amnion,makajumlah fosfolipid dalam
cairan amnion dapat untuk menilai produksi surfaktan,sebagai tolak ukur
kematangan paru.
3. Test Biofisika
Tes biokimia dilakukan dengan shake test dengan cara mengocok cairan amnion
yang dicampur ethanol akan terjadi hambatan pembentukan gelembung oleh
unsure yang lain dari cairan amnion seperti protein,garamempedu dan asam lemak
[Link] didapatkan ring yang utuh dengan pengenceran lebih dari 2 kali (cairan
amnion:ethanol)merupakan indikasi maturitas paru [Link] kehamilan
normal,mempunyai nilai prediksi positip yang tepat dengan resiko yang kecil
untuk terjadinya neonatal RDS.
4. Analisis Gas Darah
Gas darah menunjukkan asidosis metabolic dan respiratorik bersamaan dengan
[Link] muncul karena atelectasis alveolus atau over distensi jalan napas
terminal.
5. Darah rutin dan hitung jenis
Leukositosis menunjukkan adanya [Link] menunjukkan infeksi
[Link] menunjukkan adanya sepsis.
6. Glukosa Darah
Menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia dapat menyebabkan atau
memperberat takipnea.
7. Pulse Oximetry
Menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen
8. Radiografi Thoraks
Pada bayi dengan RDS menunjukkan reticular granular atau gambaran ground-
glass bilateral,difus,air bronchograms,dan ekspansi paru yang [Link] air
bronchograms yang mencolok menunjukkan bronkiolus yang terisi udara didepan
alveoli yang [Link] jantung bias normal atau [Link]
mungkin dihasilkan oleh asfiksi prenatal,diabetes maternal,paten tductus
arteriosus(PDA),kemungkinan kelainan jantung [Link] ini mungkin
berubah dengan terapi surfaktan dini dan ventilasi mekanik yang adekuat.
I. Penatalaksanaan Medis
f. Pengkajian
1. Aktivitas/Istirahat
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama, bayi tampak semi koma saat
tidur ; meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan gerakan mata cepat, tidur
sehari rata-rata 20 jam.
2. Pernapasan dan Peredaran Darah
Bayi normal mulai bernapas 30 detik sesudah lahir, untuk menilai status kesehatan
bayi dalam kaitannya dengan pernapasan dan peredaran darah dapat digunakan
metode APGAR Score. Namun secara praktis dapat dilihat dari frekuensi denyut
jantung dan pernapasan serta wajah, ekstremitas dan seluruh tubuh, frekwensi
denyut jantung bayi normal berkisar antara 120-140 kali/menit (12 jam pertama
setelah kelahiran), dapat berfluktuasi dari 70-100 kali/menit (tidur) sampai 180
kali/menit (menangis).Pernapasan bayi normal berkisar antara 30-60 kali/menit
warna ekstremitas, wajah dan seluruh tubuh bayi adalah [Link] darah
sistolik bayi baru lahir 78 dan tekanan diastolik rata-rata 42, tekanan darah berbeda
dari hari ke hari selama bulan pertama kelahiran. Tekanan darah sistolik bayi
sering menurun (sekitar 15 mmHg) selama satu jam pertama setelah lahir.
Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik.
3. Suhu Tubuh
Suhu inti tubuh bayi biasanya berkisar antara 36,[Link] suhu tubuh
dapat dilakukan pada aksila atau pada rektal.
4. Kulit
Kulit neonatus yang cukup bulan biasanya halus, lembut dan padat dengan sedikit
pengelupasan, terutama pada telapak tangan, kaki dan [Link] biasanya
dilapisi dengan zat lemak berwarna putih kekuningan terutama di daerah lipatan
dan bahu yang disebut vernikskaseosa.
5. Keadaan dan Kelengkapan Ekstremitas
Dilihat apakah ada cacat bawaan berupa kelainan bentuk, kelainan jumlah atau
tidak sama sekali pada semua anggota tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki
juga lubang anus (rektal) dan jenis kelamin.
6. Tali Pusat
7. Pada tali pusat terdapat dua arteri dan satu vena [Link] tali pusat
harus kering, tidak ada perdarahan, tidak ada kemerahan di sekitarnya.
8. Refleks
Beberapa refleks yang terdapat pada bayi :
a) Refleks moro (refleks terkejut). Bila diberi rangsangan yang mengagetkan akan
terjadi refleks lengan dan tangan terbuka.
b) Refleks menggenggam (palmergraps). Bila telapak tangan dirangsang akan
memberi reaksi seperti menggenggam. Plantargraps, bila telapak kaki dirangsang
akan memberi reaksi.
c) Refleks berjalan (stepping). Bila kakinya ditekankan pada bidang datang atau
diangkat akan bergerak seperti berjalan.
d) Refleks mencari (rooting). Bila pipi bayi disentuh akan menoleh kepalanya ke sisi
yang disentuh itu mencari puting susu.
e) Refleks menghisap (sucking). Bila memasukan sesuatu ke dalam mulut bayi akan
membuat gerakan menghisap.
9. Berat Badan
Pada hari kedua dan ketiga bayi mengalami berat badan [Link] harus
waspada jangan sampai melampaui 10% dari berat badan [Link] badan lahir
normal adalah 2500 sampai 4000 gram.
10. Mekonium
Mekonium adalah feces bayi yang berupa pasta kental berwarna gelap hitam
kehijauan dan lengket. Mekonium akan mulai keluar dalam 24 jam pertama.
11. Antropometri
Dilakukan pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan atas dan
panjang badan dengan menggunakan pita pengukur. Lingkar kepala fronto-
occipitalis 34cm, suboksipito-bregmantika 32cm, mentooccipitalis 35cm. Lingkar
dada normal 32-34 cm. Lingkar lengan atas normal 10-11 cm. Panjang badan
normal 48-50 cm.
12. Seksualitas
Genetalia wanita ; Labia vagina agak kemerahan atau edema, tanda vagina/himen
dapat terlihat, rabas mukosa putih (smegma) atau rabas berdarah sedikit mungkin
ada. Genetalia pria ; Testis turun, skrotum tertutup dengan rugae, fimosis biasa
terjadi..
2. Diagnosa Keperawatan
1) Pola nafas tidak efektif
2) Defisit nutrisi
3. Intervensi Keperawatan
1) Pola nafas tidak efektif
Manajemen jalan napas
Observasi
Terapeutik
1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt (jaw-thrust jika curiga trauma
servikal)
2. Posisikan semi-Fowler atau Fowler
3. Berikan minum hangat
4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
5. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
6. Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal
7. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
8. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
2) Defisit nutrisi
Observasi :
Terapeutik
Edukasi
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi dimaksudkan yaitu untuk pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan
yang telah dilakukan pasien. Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses
keperawatan dan berasal dari hasil yang ditetapkan dalam rencana keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA