BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Profesi kependidikan merupakan profesi yang sering kita bicarakan
bahkan sudah sejak lama diketahuiolehbanyak orang, namun bukan tidak
mungkin mereka belum faham betul tentang apa sebenarnya profesi
kependidikan itu dan sejauh manalingkup profesi kependidikan itu.
Dalam pendidikan, istilah profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan atau
jabatan yang menuntut keahlian, dan keahlian itu diperoleh melalui
profesionalisasi baik yang dilakukan sebelum orang tersebut mengaku jabatan
maupun setelah memangku jabatan tertentu.
Terkait dengan pekerjaan mengajar dan mendidik perlu adanya
profesionalisasi dalam pendidikan karena; (1) subyek pendidikan itu manusia
yang dalam mendidik perlu dilandasi nilai-nilai kemanusiaan, (2) pendidikan
dilakukan secara sadar dan bertujuan, (3) dalam melakukan pendidikan
diperlukan teori-teori pendidikan, (4) pendidikan bertolak dari asumsi yang
positif tentang potensi manusia bahwa manusia itu punya potensi yang baik
untuk dikembangkan, (5) inti pendidikan ituterletak pada prosesnya, yaitu
dialog antara pendidik dengan terdidik, (6) tujuan utama pendidikan terletak
pada dimensi intrinsiknya, yaitu menjadikan manusia sebagai manusia yang
baik.
Sebagai profesi, profesi kependidikan mencakup profesi (subprofesi-
subprofesi): keguruan (guru), bimbingan dan konseling (konselor),
perpustakaan (pustakawan), sumber belajar (teknisi sumber belajar),
laboratorium (laboran), penelitian pendidikan (peneliti pendidikan),
administrasi pendidikan (pengelola pendidikan).
Dengan mengacu pada konsep yang benar tentang pendidikan dan tentang
pengajaran, selayaknya semua pihak sependapat bahwa pekerjaan mengajar
1
dan pekerjaan mendidik itu haruslah dilaksanakan secara professional, karena
pekerjaan itu menuntut keahlian yang professional.
B. Rumusan Masalah
1. Apa ciri-ciri profesi keguruan?
2. Apa kode etik profesi keguruan?
3. Apa kode etik guru Indonesia?
4. Apa kode etik Jabatan guru?
5. Bagaimana keadaan penerapan kode etik keguruan dewasa ini?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan
makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui ciri-ciri profesi keguruan.
2. Untuk mengetahui kode etik profesi keguruan.
3. Untuk mengetahui kode etik guru Indonesia.
4. Untuk mengetahui kode etik Jabatan guru.
5. Untuk memahami penerapan kode etik keguruan dewasa ini.
2
BAB II
ISI
A. Ciri-ciri Profesi Keguruan
Achmad Sanusi, dkk (1991: 20-21) mengemukakan tentang ciri-ciri utama
suatu profesi, sebagai berikut :
1. Suatu pekerjaan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang krusial.
2. Suatu pekerjaan yang menuntut derajat keterampilan/keahlian tertentu.
3. Pemerolehan keterampian/ keahlian tersebut bukan hanya dilakukan secara
rutin melainkan bersifat pemecahan masalah atau penanganan. Situasi kritis
dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
4. Suatu pekerjaan yang didasarkan pada suatu disiplin ilmu yang jelas,
sistematis, dan eksplisit; dan bukanhanya common sense.
5. Upaya mempelajari dan menguasai disiplin ilmu dan keterampilan/ keahlian
tersebut membutuhkan masa pendidikan/ latihan yang lama di Perguruan
Tinggi.
6. Proses pendidikan untuk pekerjaan tersebut juga merupakan wahana untuk
sosialisasi nilai-nilai professional di kalangan para siswa/ mahasiswa.
7. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi itu
berpegang teguh pada kode etik yang pelaksanaannya dikontrol oleh
organisasi profesi. Setiap pelanggan terhadap kode etik dapat dikenakan
sanksi.
8. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan untuk memberikan judgement-
nya sendiri dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah dalam
lingkup kerjanya.
9. Dalam praktek melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari
campur tangan orang luar.
10. Pekerjaan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat, dan oleh
karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula.
3
11. Pada bagian ini akan diuraikan : konsep profesi dalam pendidikan, cakupan
profesi kependidikan, profesi kependidikan dan ilmu pendidikan, dan
perlindungan terhadap profesi kependidikan.
Menurut National Education Association (NEA) (1948) ciri-ciri jabatan
guru adalah sebagai berikut :
1. Melibatkan kegiatan intelektual. Kegiatan guru dalam mendidik dan mengajar
melibatkan usaha yang sifatnya didominasi oleh kegiatan intelektual. Lebih
jauh lagi profesi guru adalah dasar dari persiapan dari semua kegiatan
professional lainnya (ibu segala profesi).
2. Menggeluti bidang ilmu yang khusus. Anggota suatu profesi terutama profesi
guru menguasai bidang ilmu yang membangun keahlian mereka secara
khusus.
3. Memerlukan persiapan latihan yang lama. Untuk menduduki jabatan profesi
guru diperlukan pendidikan melalui perguruan tinggi, pengalamanpraktek,
danpemagangan.
4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan. Setiap tahun guru
melakukan berbagai kegiatan latihan profesional untuk peningkatan dan
penyetaraan sebagai tuntutan kualifikasi profesinya.
5. Menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen. Untuk di negara
Indonesia criteria ini belum dapat dipenuhi, karena pada kenyataannya banyak
guru baru yang hanya bertahan satu atau dua tahun pada profesi mengajar
setelah itu mereka pindah kerja ke bidang lain yang lebih menjanjikan.
6. Memenuhi bakunya sendiri. Dikarenakan jabatan guru menyangkut hajat
hidup orang banyak, maka pembakuan jabatan guru ini sering tidak diciptakan
oleh anggota profesi sendiri terutama di Negara kita. Oleh karena itu criteria
ini belum dapat terpenuhi dengan baik.
7. Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi. Jabatan guru telah terkenal
secara universal sebagai suatu jabatan yang anggotanya termotivasi oleh
keinginan untuk membantu orang lain dan bukan disebabkan oleh keuntungan
ekonomi atau keuangan.
4
8. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin rapat. Di Indonesia
telah ada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang merupakan wadah
seluruh guru. Sayangnya PGRI belum mampu memberikan sanksi yang tegas
kepada guru yang melakukan kesalahan dan belum mampu memberi bantuan
kepada guru yang tertimpa fitnah/tuduhan dan semacamnya.
Dalam hal yang sama, Rochman Natawidjaja (1989) mengemukakan
adanya beberapa kriteria untuk menentukan ciri-ciri suatu profesi, yaitu :
1. Ada standar untuk kerja yang baku dan jelas.
2. Ada lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan pelakunya dengan
program dan jenjang pendidikan yang baku serta memiliki standar akademik
yang memadai dan yang bertanggung jawab tentang pengembangan ilmu
pengetahuan yang melandasi profesi itu.
3. Ada organisasi profesi yang mewadahi para pelakunya untuk mempertahankan
dan memperjuangkan eksistensi dan kesejahteraannya.
4. Ada etika dan kode etik yang mengatur penilaku etik para pelakunya dalam
memperlakukan kliennya.
5. Ada sistem imbalan terhadap jasa layanannya yang adil dan baku.
6. Ada pengakuan masyarakat (profesional, penguasa, dan awam) terhadap
pekerjaan itu sebagai suatu profesi.
Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut :
1. Standar Unjuk Kerja Guru
Secara konseptual dan umum , unjuk kerja guru itu mencakup aspek-
aspek: (a) Kemampuan profesional, (b) Kemampuan sosial, (c) Kemampuan
personal/pribadi (Depdikbud,1980).
a. Kemampuan prifesional mencakup:
1) Penguasaan materi pelajaran, yang terdiri atas penguasaan bahan yang
harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang
diajarkan itu.
2) Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan
dan keguruan.
5
3) Penguasaan proses-proses kependidikan,keguruan dan pembelajaran
siswa.
b. Kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri
kepada tuntutan kerja dan linhkungan sekitar pada waktu membawakan
tugasnya sebagai guru.
c. Kemampuan personal mencakup
1) Sikap terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap
keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.
2) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang
seyogyanya dianut oleh seorang guru.
3) Upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para
siswanya.
Standar- standar itu selanjutnya dirinci secara lebih khusus menjadi 10
kemampuan dasar guru, yaitu:
a. Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.
b. Pengelolaan program belajar mengajar
c. Pengelolaan kelas
d. Penggunaan media dan sumber pembelajaran.
e. Penguasaan landasan-landasan kependidikan.
f. Pengelolaan interaksi belajar mengajar.
g. Penilaian prestasi siswa.
h. Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan konseling.
i. Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah.
j. Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian
pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran (Depdikbud,
1980).
2. Lembaga Pendidikan Guru
6
Sejak dulu untuk menjadi guru dipersyaratkan memiliki ijasah dari
lembaga pendidikan guru. Dalam kesejarahannya, lembaga pendidikan guru itu
berubah dan berkembang ke arah pemenuhan standar pendidikan yang lebih
memadai. Pada dasarnya lembaga pendidikan guru itu dikehendaki berada pada
jenjang pendidikan tinggi, sebagaimana direkomendasikan oleh suatu konferensi
tentang status guru yang disponsori UNESCO (Achmad Sanusi, dkk, 1991:37).
Berkaitan dengan mutu lembaga pendidikan guru tersebut, sebenarnya
tidak terletak pada jenjang pendidikannya (yaitu jenjang pendidikan tinggi)”
melainkan terletak pada keandalan programnya. Kaitannya dengan keandalan
program ini, Rochman Natawidjaja, dalam Achmad Sanusi, dkk, (1991:38)
menjelaskan bahwa keandalan program pendidikan guru itu hendaknya tidak
hanya dikaji dari enam segi pokok, yaitu:
a. pengelolaan lembaga dan program pendidikan guru.
b. kurikulum
c. Staf pengajar
d. Mahasiswa peserta pendidikan guru
e. Sarana dan prasaran pendidikan
f. Sistem evaluasi yang mencakup evaluasi program, proses dan hasil
pendidikan.
Standar -standar untuk mengkaji keandalan program pendidikan guru
dalam keenam segi pokok itu meliputiaspek pendidikan akademik dan aspek
pendidikan profesioanlnya. Lembaga pendidikan guru seyogyanya dapat
menghasilkan guru sebagai seorang tenaga profesional yang juga memiliki
kemampuan akademik yang memadai.
3. Organisasi Profesi Guru
Pekerjaan dikatakan sebagai profesi, yang berfungsi sebagai lembaga
pengendali keseluruhan profedi itu, baik secara sendiri maupun secara bersama-
sama dengan pihak lain yang relevan (Rochman Natawidjaja, dalam Achmad
7
Sanusi, dkk, 1991:39). Selanjutnya dijelaskan bahwa fungsi pengendalian tersebut
diwujudkan dalam kaitannya dengan
a. Penataan standar perilaku profesional guru
b. Penataan standar kualifikasi dan wewenang guru
c. Pemberian perlindungan kepada anggotanya.
d. Pengembangan profesi beserta ilmu yang melandasinya serta
pengembangan kemampuan profesional dan akademik dari para
anggotanya.
e. Penataan alur kerjasama dengan profesi lainnya.
4. Kode Etik Guru
Pekerjaan dikatakan sebagai profesi perlu adanya kode etik yang mengatur
perilaku, tanggung jawab, dan hubungan para anggotanya dengan pihak lain yang
terkait, sehingfga para anggota memiliki patokan tantang apa yang harus dan tidak
harus dilakukan, bolahn tidak boleh dilakukan dalam melaksanakan tugas
ptofesionalnya (Rochman Natawidjaja, dalam Achmad Sanusi, 1991:34).
Selanjutnya dikemukaan bahwa dalam pengaturan perilaku, kode etik harus
menjabarkan secara eksplisit batas- batas wewenang dalam melaksanakan
tugasnya sehingga perilakunya tidak berbaur dengan perilaku khusus yang
seharusnya dilakukan oleh profesi lain.
Dalam hal ini tanggung jawab kode etik guru harus secara eksplisit
menjabarkan tanggung jawab guru dalam kaitannya dengan pengembangan
kemampuan diri sendiri, penegembangan dan nama baik profesi guru, layanan
yang diberikan kepada siswanya, dab hasil kerjanya. Sedangkan dalam hubungan
dengan pihak lain yang berkaitan. Kode etik guru harus secara
eksplisitvmenjabarkan patokan-patokan mengenaihubungannya dengan siswa,
hubungannya dengan teman sejawat dan mitranya, hubungannya dengan pihak-
pihak diluar profesi guru, dan hungannya dengan penguasa atau pemerintah.
8
5. Sistem Imbalan
Pekerjaan dikatakan profesi jika didalamnya menerapkan sistem imbalan.
Imbalan yang dimaksud tentu saja terkait dengan ketrampilan atau keahlian
tersebut diperolehnya melalui pendidikan dan pelatihan yang lama dan
komitmennya dalam memberikan jasa kepada siswa.
Dalam hubungan ini, Rochma Natawidjaja, dalam Achmas Sanusi, dkk (1991:40-
41) mengemukakan bahwa haruslah diakui bahwa suatu profesi itu tidak dapat
dipisahkan dengan masalah imbalan. Suatu profesi perlu menentukan standar yang
eksplisit mengenai sistem imbalan ini. Standar mengenai sistem imbalan itu
sebaiknya dikaitkan langsung dengan jenis dan mutu unjuk kerja yang dilakukan
anggota profesi itu dalam memberikan layanan kepada siswa.
6. Pengakuan Masyarakat
Pekerjaan dikatan sebagai profesi jika mendapatkan pengakuan, baik
pengakuan secara hukum maupun pengakuan secara faktual. Pengakuan itu
dengan sendirinya berupa pengakuan dari masyarakat, baik masyarakat penguasa,
masyarakat profesi lain, maupun masyarakat awam yang akan memanfaatkan jasa
profesi itu. Pengakuan masyarakat terhadap profesi itutidak hanya terbatas pada
pengakuan guru sebagai guru, melainkan pengakuan terhadap segala perangkat
yang berkaitan dengan profesi guru itu, termasuk pernagkat unjuk kerja, lembaga
pendidikan, organisasi profesi, kode etik guru, dan imbalannya. Dengan
pengakuan masyarakat akan profesi guru itu, maka pihak pengguna akan
mempekerjakan guru yang benar-benar memenuhi persyaratan profesional yang
telah ditetapkan.
Yang masih pertanyaan adalah apakah apabila guru itu telah diakui
sebagai suatu profesi maka semua guru dapat digolongkan kepada etugas
professional? Untuk itu, perlu diketahui lebih dahulu apa yang dijadikan tolok
ukur unjuk kerja yang profesional. Seorang guru menampilkan unjuk kerja yang
9
profesional apabila ia mampu menampilkan keandalannya dalam melaksanakan
tugasnya sebagai guru. Keandalan itu dapat dilihat dari segi:
a. Mengetahui, memahami dan menerapkan apa yang harus dikerjakan
sebagai guru.
b. Memahami mengapa ia arus melakukan pekerjaannya itu.
c. Memahami serta menghormati batas-batas kemampuan dan kewenangan
profesinya, dan menghormati profesi lain.
d. Mewujudkan pemahaman dan penghayatan itu dalam perbuatan mendidik,
mengajar dan melatih (Rochman Natawidjaja, dalam Achmad Sanusi, dkk,
1991:42)
B. Kode Etik Profesi Keguruan
Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, pekerjaan dikatakan
sebagai profesi jika memiliki kode etik. Demikian pula dalam profesi keguruan,
keberadaan kode etik merupakan suatu keharusan. Pada bagian ini dibahas
tentang: kode etik, tujuan kode etik, kode etik guru.
1. Pengertian kode etik
Kode etik guru pada dasarnya mengatur perilaku etis guru, melindungi
profesi dan individu guru, mengatur atas kewenangan guru, dan mempertahankan
kesejahteraan guru. Dalam hal pengetian kode etik ini, Soetjipto, dkk (1994:26-
27) mengemukakan sebagai berikut:
a. Menurut Undang- undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok- pokok
kepegawaian, pasal 23 menyatakan bahwa “Pegawai Negeri Sipil
mempunyai Kode Etik sebagai pedoman sikap , tingkah laku dan
perbuatan didalam san diluar kedinasan.
b. Dalam pidato pembukaan Kongres PGRI ke XII, Basuni sebagai ketua
umum PGRI menyatakan bahwa Kode Etik guru Indinesia merupakan
landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam
melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru (PGRI,
1973).
10
c. Dengan mendasarkan kepada kedua pendaptlat diatas, kode etik profesi
adalah norma- norma yang harus diindahkan oleh tiap anghota profesi
didalam melaksanakan tugas profesinya dalam hidupnya di masyarakat.
Norma-norma tersebut berisi petunjuk bagi para anggota profesi tentang
begaimana mereka melaksanakan profesinya, dan larangan- larangan, yaitu
ketentuan-ketentuan tentang apa yang tidak boleh diperbuat atau di
laksanakan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan profesi mereka,
melainkan juga menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya
dalam pergaulannya sehari-hari didalam masyarakat.
2. Tujuan Disusunnya Kode Etik
Secara umum, tujuan mengadakan kode etik adalah sebagai berikut:
a. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi: artinya, kode etik ini
dimakksudkan untuk menjaga pandangan atau kesan ari luar atau
masyarakat, agar mereka jangan sampai memandang rendah atau remeh
terhadap profesi yang bersangkutan.
b. Untuk menjaga atau memelihara kesejahteraan para anggotanya, baik
kesejahteraan lahir(material) maupun kesejahteraan batin(spiritual atau
mental).
c. Untuk meningkatkan pengapdian para anggota profesi, melalui
dirumuskannya ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan para anggota
profesi dalam menjalankan tugasnya.
d. Untuk meningkatkan mutu profesi. Untuk mencapai tujuan ini, kode etik
memuat norma-norma dan anjuran agar para anggota profesi selalu
berusaha meningkatkan mutu pengabdian para anggotanya.
e. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. Dalam hal ini, kode etik
mewajibkan kepada setiap anggota profesi untuk secara aktif berpartisipasi
dalam membina organisasi profesi dan kegiatan-kegiatan yang dirancang
organisasi.
11
Sedangkan tujuan dari kode etik profesi menurut Andrew Alson, adalah:
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa tujuan menyusun kode etik suatu
profesi adalah untuk menjunjung tinggi martabat profesi, menjaga dan
memelihara kesejahteraan para anggota profesi, meningkatkan pengabdian
anggota profesi, meningkatkan mutu profesi dan meningkatkan mutu organisasi
profesi(Soetjipto, dkk, 1994:27-29).
C. Kode Etik Guru Indonesia
Persatuan Guru Seluruh Indonesia(PGRI) telah mengeluarkan sebuah kode
etik guru yang pada dasarnya mengatur perilaku etis guru, melindungi profesi dan
individu guru, mengatur batas kewenangan guru, dan mempertahankan
kesejahteraan guru. Guru Iindonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya
sebagai guru dengan mempedomani dasar sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia
pembangunan yang ber-Pancasila.
2. Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai
dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang
anak didik, tetapi menghindari diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan
dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
12
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya
maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama berusaha mengembangkan
dan meningkatkan mutu profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik
berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu
organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijakan pemerintah
dalam bidang pendidikan.
D. Kode Etik Jabatan Guru
1. Guru sebagai manusia Pancasila hendaknya senantiasa menjunjung tinggi
dan mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
2. Guru selaku pendidik hendaknya bertekad untuk mencintai anak-anak dan
jabatannya, serta selalu menjadikan dirinya suri tauladan bagi anak
didiknya.
3. Setiap guru berkewajiban selalu menselaraskan pengetahuan dan
meningkatkan kecakapan profesinya dengan perkembangan ilmu
pengetahuan terakhir.
4. Setiap guru diharapkan selalu memperhitungkan masyarakat sekitarnya,
sebab pada hakekatnya pendidikan itu merupakan tugas pembangunan dan
tugas kemanusiaan.
5. Setiap guru berkewajiban meningkatkan kesehatan dan keselarasan
jasmaninya, berwujud penampilan pribadi yang sebaik-baiknya, agar dapat
melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Didalam hal berpakaian dan berhias, seorang guru hendaknya
memperhatikan norma-norma etika dan sopan santun.
7. Guru hendaknya bersifat terbuka dan demokratis dalam hubungan dengan
atasannya dan sanggup menempatkan dirinya sesuai dengan hierarkhi
kepegawaian.
13
8. Jalinan hubungan antara seorang guru dengan atasannya hendak selalu
diarahkan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang
menjadi tanggung jawab bersama.
9. Setiap guru berkewajiban untuk selalu memelihara semangat korps dan
meningkatkan rasa kekeluargaan dengan sesama guru dan pegawai
lainnya.
10. Setiap guru hendaknya bersikap toleran dalam menyelesaikan setiap
persoalan yang timbul, atas dasar musyawarah dan mufakat demi
kepentingan bersama.
11. Setiap guru dalam pergaulan dengan murid-muridnya tidak dibenarkan
mengaitkan persoalan politik dan ideologi yang dianutnya, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
12. Setiap guru hendaknya mengadakan hubungan yang baik dengan instansi,
organisasi atau perorangan dalam mensukseskan kerjanya.
13. Setiap guru berkewajiban untuk berpartisipasi secara aktif dalam
melaksanakan program dan kegiatan sekolah.
14. Setiap guru diwajibkan memakai peraturan-peraturan dan menekankan
self-discipline serta menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat
secara fleksibel.
(Departemen Pendidikan Guru Subproyek Persiapan Pembinaan Guru
SPG, Proyek Rehabilitasi Pendidikan Guru, Dep. P dan K, Jakarta,
1969/1970).
E. Keadaan Penerapan Kode Etik Keguruan Dewasa Ini
Dalam hal implementasi kode etik profesi keguruan, pada dasarnya
kode etik tersebut telah dan selalu diterapkan oleh semua pihak/anggota
profesi, namun masih dijumpai adanya penyimpangan/pelanggaran disana
sini dan masih manusiaawi. Kita dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk
penyimpangan/pelanggaran itu secara obyektif, seperti : perilaku asusila,
indisipliner dalam melaksanakan tugas, semangat selalu meningkatkan
profesionalitasnya kurang, dan lain sebagainya. Jadi, sampai dewasa
14
sampai secara keseluruhan para anggota profesi telah menunjukkan
komitmen yang tinggi untuk melaksanakan/menerapkan kode etik guru
Indonesia dan kode etik jabatan guru, namun masih perlu ditingkatkan
kualitas implementasinya.
15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Profesi keguruan merupakan salah satu bagian atau cabang dari profesi
kependidikan. Dengan kata lain profesi keguruan tidak sama dengan profesi
kependidikan yang lebih luas dari pada profesi keguruan.
Adapun ciri utama dari pada guru sebagai profesi, adalah apabila
didalamnya ada standar unjuk kerja yang baku dan jelas, lembaga pendidikan
khusus yang menghasilkan pelakunya dengan program dan jenjang pendidikan
yang baku dan memadai, organisasi profesi yang mewadahi para anggotanya,
etika dan kode etik yang mengatur perilaku etik para anggotanya, sistem imbalan
terhadap jasa layanan yang adil dan baku, dan pengakuan masyarakat terhadap
pekerjaan itu sebagai suatu profesi.
Profesi keguruan mempunyai kode etik yang jelas dan baku. Kode etik
guru pada dasarnya adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh tiap guru
dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat.
Disusunnya kode etik guru, pada dasarnya untuk menjunjung tinggi martabat
profesi, menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya baik lahir
maupun batin, meningkatkan pengabdian para anggota profesi, meningkatkan
mutu profesi, serta untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. Sedangkan
keadaan penerapan kode etik guru masih perlu ditingkatkan.
16
DAFTAR PUSTAKA
Suharno dan Usada. 2009. Profesi [Link]: Yuma Pustaka.
Sanusi, A.,dkk. 1991. Studi Pengembangan Model Pendidikan Professional
Tenaga Pendidika. Bandung: IKIP Bandung.
17