PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA
SEDERHANA TERHADAP PEMAHAMAN
BELAJAR SISWA PADA MATERI STRUKTUR
ATOM SISWA KELAS X DI MAN TAPANULI
SELATAN
PROPOSAL
Diajukan sebagai Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
dalam Bidang Tadris Kimia
Oleh
RISWAN EFENDI SIMATUPANG
NIM. 2220700007
PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYEKH ALI HASAN AHMAD ADDARY
PADANGSIDIMPUAN
2025
PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA
SEDERHANA TERHADAP PEMAHAMAN
BELAJAR SISWA PADA MATERI STRUKTUR
ATOM SISWA KELAS X DI MAN TAPANULI
SELATAN
PROPOSAL
Diajukan sebagai Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
dalam Bidang Tadris Kimia
Oleh
RISWAN EFENDI SIMATUPANG
NIM. 2220700007
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
Dr. Mariam Nasution, [Link]. Nur Azizah Putri Hasibuan, [Link].
NIP. 19700224 200312 2001 NIP. 19930731 202203 2001
PROGRAM STUDI TADRIS KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYEKH ALI HASAN AHMAD ADDARY
PADANGSIDIMPUAN
2025
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya
manusia yang berkualitas di era globalisasi. Setiap individu dituntut untuk mampu
mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, dan pemecahan masalah agar
siap bersaing dalam perkembangan zaman. Dalam proses tersebut, pembelajaran
di sekolah menjadi sarana utama untuk menumbuhkan pengetahuan dan
keterampilan siswa secara berkelanjutan. Hal ini menuntut adanya inovasi
berkelanjutan agar proses belajar tidak hanya berfokus pada penyampaian materi,
tetapi juga pengembangan kemampuan siswa secara menyeluruh. Transformasi
pembelajaran dari teacher-centered menjadi student-centered menjadi
keniscayaan untuk mempersiapkan generasi yang adaptif dan kompetitif dalam
menghadapi tantangan era globalisasi1.
Guru menjadi faktor penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang
bermakna. Dalam perannya sebagai fasilitator, guru dituntut mampu mengelola
kelas, menyediakan media, serta mengarahkan siswa agar aktif dalam proses
pembelajaran. Hasanah dalam artikelnya menekankan bahwa lingkungan belajar
yang kondusif akan mendorong siswa membangun motivasi internal, sehingga
lebih siap dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, metode
dan media pembelajaran yang tepat sangat diperlukan untuk meningkatkan
pemahaman belajar. Kemampuan guru dalam memilih dan mengembangkan
strategi pembelajaran yang bervariasi akan menentukan keberhasilan pencapaian
1
N. Hasanah, Pengaruh lingkungan belajar terhadap motivasi belajar siswa, Jurnal Pendidikan
Sains, 11(2), 88–95 (2023).
tujuan pembelajaran, terutama pada mata pelajaran yang memerlukan pemahaman
konseptual mendalam seperti kimia2.
Pembelajaran kimia menjadi salah satu bidang yang memiliki tantangan
besar bagi guru. Banyak konsep kimia bersifat abstrak dan tidak dapat diamati
secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat siswa
membutuhkan media visual atau alat bantu tertentu agar dapat memahami materi
dengan baik. Tanpa media yang memadai, pembelajaran kimia mudah menjadi
proses menghafal tanpa makna. Karakteristik ilmu kimia yang melibatkan tiga
level representasi—makroskopis, submikroskopis, dan simbolik menambah
kompleksitas pembelajaran yang harus dihadapi siswa. Kesenjangan antara
pengetahuan teoritis dan kemampuan memvisualisasikan fenomena kimia
seringkali menjadi hambatan utama dalam pencapaian pemahaman konseptual
yang utuh3.
Materi struktur atom merupakan salah satu materi yang paling menantang
bagi siswa di tingkat SMA. Konsep tentang proton, neutron, dan elektron berada
pada level mikroskopis yang tidak dapat dilihat secara langsung 4. Kondisi ini
menyebabkan siswa kesulitan memvisualisasikan bentuk dan susunan atom,
sehingga hanya mengandalkan hafalan yang kurang melekat dalam jangka
panjang. Kesulitan visualisasi menjadi penyebab utama rendahnya pemahaman
konsep atom di berbagai sekolah. Ketidakmampuan siswa dalam membangun
2
N. Hasanah, Pengaruh lingkungan belajar terhadap motivasi belajar siswa, Jurnal Pendidikan
Sains, 11(2), 95–100 (2023).
3
D. Sihombing, Analisis kesulitan belajar siswa pada materi struktur atom, Jurnal Pendidikan
Kimia, vol. 8, no. 1, hlm. 26, (2025).
4
F. Rambe, Tantangan pembelajaran struktur atom di sekolah menengah, Jurnal Pembelajaran
Kimia, vol. 8, no. 1, hlm. 36, (2024).
representasi mental tentang struktur atom berdampak pada kesulitan mereka
dalam memahami konsep-konsep kimia lanjutan seperti ikatan kimia, konfigurasi
elektron, dan sifat periodik unsur5.
Kesulitan tersebut diperparah dengan masih dominannya metode ceramah
dalam pembelajaran kimia. Guru menyampaikan materi melalui papan tulis atau
buku teks tanpa penggunaan media yang membantu siswa memahami konsep
abstrak. Model pembelajaran seperti ini sering membuat siswa pasif karena hanya
menerima informasi tanpa keterlibatan langsung. Putri dalam artikelnya
menjelaskan bahwa keterlibatan siswa yang rendah dalam proses belajar
berdampak signifikan terhadap penurunan pemahaman belajar. Pembelajaran yang
bersifat satu arah tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi
dengan materi secara langsung menyebabkan proses konstruksi pengetahuan tidak
terjadi secara optimal. Akibatnya, pengetahuan yang diperoleh siswa hanya
bersifat verbal dan tidak tertanam kuat dalam struktur kognitif mereka6.
Kondisi pembelajaran yang monoton membuat siswa cepat merasa bosan
dan kurang termotivasi untuk mempelajari materi struktural yang membutuhkan
konsentrasi tinggi. Ketika siswa tidak lagi menunjukkan ketertarikan terhadap
materi yang dipelajari, pemahaman konsep menjadi semakin lemah 7. Situasi ini
dapat terlihat dari rendahnya partisipasi siswa dalam diskusi dan minimnya
keberanian untuk mengajukan pertanyaan. Fenomena ini tidak hanya berdampak
5
R. Hakim, Media pembelajaran dalam meningkatkan kualitas interaksi kelas, Jurnal Teknologi
Pendidikan, vol. 9, no. 1, hlm. 13, (2023).
6
A. N. Putri, Hubungan keterlibatan siswa dan pemahaman belajar pada pembelajaran sains,
Jurnal Psikologi Pendidikan, 6(4), 201–210 (2023).
7
N. Hasanah, Pengaruh lingkungan belajar terhadap motivasi belajar siswa, Jurnal Pendidikan
Sains, vol. 11, no. 2, hlm. 88–95, (2023).
pada hasil belajar kognitif, tetapi juga mempengaruhi perkembangan sikap ilmiah
siswa seperti rasa ingin tahu, kritis, dan teliti. Pembelajaran yang tidak mampu
membangkitkan pemahaman siswa pada akhirnya akan menghasilkan generasi
yang kurang tertarik pada sains dan teknologi, padahal bidang ini sangat
dibutuhkan untuk kemajuan bangsa8.
Untuk mengatasi masalah tersebut, inovasi pembelajaran perlu dilakukan
guna membantu siswa memahami konsep kimia secara lebih konkret. Salah satu
strategi yang dapat diterapkan adalah penggunaan alat peraga sederhana. Alat
peraga sederhana berfungsi menghubungkan konsep abstrak dengan objek yang
dapat diamati, sehingga siswa memperoleh gambaran visual yang lebih jelas.
Pendekatan pembelajaran berbasis alat peraga ini sejalan dengan teori
konstruktivisme yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam
pembentukan pengetahuan. Melalui manipulasi objek konkret, siswa dapat
membangun pemahaman konseptual yang lebih kokoh dan bermakna
dibandingkan dengan hanya mendengarkan penjelasan verbal dari guru9.
Alat peraga sederhana dapat dibuat dari bahan mudah ditemukan seperti
plastisin, manik-manik, sedotan, atau styrofoam. Bahan-bahan tersebut dapat
dibentuk menjadi model atom yang merepresentasikan partikel atom. Dengan
melihat susunan partikel secara langsung, siswa dapat mengaitkan simbol-simbol
dalam teori atom dengan objek nyata. Hal ini memperkuat pemahaman mereka
terhadap materi. Penggunaan bahan-bahan sederhana dan terjangkau ini juga
8
N. Lestari, Hubungan antara minat belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA,
EduScience Journal, vol. 5, no. 3, hlm. 89, (2024).
9
F. Mahendra, Penerapan alat peraga sederhana dalam menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan, Jurnal Inovasi Pendidikan, vol. 10, no. 1, hlm. 35, (2025).
memberikan peluang bagi siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembuatan alat
peraga, sehingga mereka tidak hanya menjadi pengguna pasif tetapi juga kreator
yang mengembangkan keterampilan motorik dan kreativitas mereka10.
Penelitian oleh Widodo menunjukkan bahwa model atom visual yang
dibuat dari bahan sederhana mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam
memahami struktur atom. Siswa yang menggunakan model tersebut lebih cepat
mengidentifikasi letak proton, neutron, dan elektron serta hubungan
antarkomponen atom. Temuan tersebut membuktikan efektivitas media konkret
dalam pembelajaran kimia. Keberhasilan penggunaan model visual ini
menunjukkan bahwa pembelajaran kimia tidak harus bergantung pada teknologi
canggih atau peralatan laboratorium yang mahal, melainkan dapat dioptimalkan
melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang tersedia di lingkungan sekolah
dengan tetap menghasilkan dampak pembelajaran yang signifikan11.
Selain memperjelas konsep, penggunaan alat peraga sederhana juga
meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Ketika siswa dilibatkan
dalam proses pembuatan atau penggunaan alat peraga, mereka akan lebih aktif
dan fokus. Mawardi dalam artikelnya mengungkapkan bahwa alat peraga
mendorong terciptanya interaksi antara siswa dan guru, sekaligus memicu
kolaborasi antar siswa selama pembelajaran berlangsung. Interaksi yang terjalin
dalam kegiatan pembelajaran berbasis alat peraga menciptakan dinamika kelas
yang lebih hidup dan demokratis, dimana setiap siswa memiliki kesempatan untuk
10
M. Hidayat, Efektivitas alat peraga sederhana dalam meningkatkan hasil belajar struktur atom,
Jurnal Sains dan Pembelajaran, vol. 8, no. 2, hlm. 78, (2025).
11
S. Widodo, Model visual atom sebagai media untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa,
Jurnal Media Pembelajaran, 10(1), 15–24 (2025).
berkontribusi dan mengekspresikan pemahaman mereka. Pembelajaran kolaboratif
semacam ini juga melatih keterampilan sosial siswa seperti komunikasi,
kerjasama, dan kemampuan menghargai perspektif orang lain12.
Hariani dan Siregar dalam artikelnya menegaskan bahwa media konkret
memberikan stimulasi visual dan motorik yang dapat memperkuat pengalaman
belajar siswa. Aktivitas memanipulasi model atom membuat siswa tidak hanya
belajar dari penjelasan guru, tetapi juga dari pengalaman langsung. Pembelajaran
yang melibatkan lebih dari satu indera terbukti meningkatkan retensi informasi.
Keterlibatan multisensori dalam proses pembelajaran ini sejalan dengan prinsip
pembelajaran bermakna yang menyatakan bahwa pengetahuan akan lebih mudah
diingat dan dipahami jika diperoleh melalui pengalaman konkret yang melibatkan
berbagai modalitas belajar. Dengan demikian, alat peraga sederhana tidak hanya
berfungsi sebagai media visualisasi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran aktif
yang mengoptimalkan potensi belajar siswa13.
Kegiatan belajar yang mengundang aktivitas siswa terbukti mampu
meningkatkan pemahaman belajar. Ketika siswa merasa pembelajaran menarik,
mereka akan menunjukkan rasa ingin tahu lebih tinggi terhadap materi. Hal ini
sangat penting dalam materi struktur atom yang menuntut pemahaman mendalam.
Penggunaan alat peraga memberikan kesempatan bagi siswa untuk
mengeksplorasi konsep secara lebih bebas dan kreatif. Eksplorasi bebas ini
memungkinkan siswa untuk menemukan pola dan hubungan antar konsep secara
12
R. Mawardi, Efektivitas alat peraga sederhana dalam pembelajaran kimia di SMA, Jurnal
EduKimia, vol. 7, no. 3, hlm. 129 (2023).
13
L. Hariani & D. Siregar, Penggunaan media konkret dalam meningkatkan aktivitas belajar
sains, Jurnal Inovasi Pembelajaran, 9(1), 45–53 (2024).
mandiri, yang pada gilirannya akan memperkuat pemahaman konseptual mereka.
Pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk bereksperimen dan
menemukan sendiri pengetahuan mereka akan menghasilkan pembelajaran yang
lebih bermakna dan bertahan lama dibandingkan dengan pembelajaran yang
bersifat transmisi pengetahuan satu arah14.
Guru dapat memodifikasi bahan yang tersedia di lingkungan sekolah untuk
membuat model atom yang sesuai kebutuhan pembelajaran. Efisiensi ini menjadi
nilai tambah yang mendukung implementasi media pembelajaran tersebut. Aspek
keterjangkauan dan kemudahan implementasi ini menjadi sangat penting terutama
bagi sekolah-sekolah di daerah yang memiliki keterbatasan anggaran dan akses
terhadap fasilitas pembelajaran modern. Dengan memanfaatkan alat peraga
sederhana, kesenjangan kualitas pembelajaran antara sekolah di perkotaan dan
pedesaan dapat dikurangi, sehingga semua siswa memiliki kesempatan yang sama
untuk memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas15.
Di lapangan, kondisi di MAN Tapanuli Selatan menunjukkan rendahnya
pemanfaatan media pembelajaran. Observasi awal dan keterangan dari pihak
sekolah (guru dan siswa) menunjukkan praktik pembelajaran yang dominan
bersifat ceramah yaitu guru menjelaskan materi lalu siswa mencatat tanpa disertai
demonstrasi atau penggunaan alat peraga. Akibatnya, siswa cenderung pasif,
kesulitan membayangkan struktur atom (misal, elektron, proton, orbital), dan
14
D. Sihombing, Analisis kesulitan belajar siswa pada materi struktur atom, Jurnal Pendidikan
Kimia, vol. 8, no. 1, hlm. 41, (2025).
15
R. Hartono, Pengaruh alat peraga buatan sendiri terhadap minat dan partisipasi siswa pada
materi ikatan kimia, Jurnal Pendidikan Kimia, vol. 7, no. 1, hlm. 50, (2023).
pemahaman konseptualnya lemah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena
struktur atom adalah dasar penting bagi pemahaman materi lanjutan dalam kimia.
Sejumlah penelitian terdahulu di konteks pendidikan IPA/kimia dan mata
pelajaran lain menunjukkan hasil konsisten, yaitu alat peraga sederhana efektif
meningkatkan pemahaman, motivasi, dan minat belajar siswa. Contoh: tinjauan
empiris menunjukkan alat peraga membantu transformasi konsep abstrak menjadi
konkret sehingga mempermudah proses pembelajaran. Studi khusus pada materi
struktur, melaporkan peningkatan nilai post-test dan peningkatan kemampuan
konseptual siswa setelah penggunaan alat peraga. Selain itu, pelatihan guru dalam
penggunaan alat peraga memperkuat implementasi sehingga dampak
pembelajaran lebih optimal16.
Meskipun bukti empiris mendukung efektivitas alat peraga, banyak
sekolah termasuk konteks setempat seperti MAN Tapanuli Selatan belum
memanfaatkan alat peraga secara memadai. Alasan yang sering muncul pada studi
terdahulu meliputi keterbatasan sarana/prasarana, kurangnya keterampilan guru
dalam merancang dan mengoperasikan alat peraga, serta kebiasaan pedagogis
yang berpusat pada ceramah. Oleh karena itu, perlu penelitian di tingkat sekolah
menengah atas yang menguji secara empiris apakah dan seberapa besar
penggunaan alat peraga sederhana berpengaruh terhadap pemahaman siswa pada
materi struktur atom di MAN Tapanuli Selatan17.
16
Suwardi, S. (2019). Pengaruh Penggunaan Alat Peraga terhadap Hasil Belajar Siswa pada
Konsep-Konsep Abstrak IPA. Jurnal Pendidikan IPA, 6(1), 60.
17
A. Suryana, Pengembangan Media Pembelajaran Sederhana untuk Meningkatkan Pemahaman
Konsep Siswa pada Mata Pelajaran Kimia, Jurnal Edukimia, vol. 8, no. 2, hlm. 88, (2020).
Dengan demikian, penggunaan alat peraga sederhana menawarkan solusi
praktis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kimia, khususnya pada materi
struktur atom. Media ini tidak hanya membantu siswa memahami konsep, tetapi
juga meningkatkan keterlibatan dan pemahaman belajar mereka. Hal tersebut
penting dalam menciptakan proses belajar yang bermakna dan efektif. Lebih dari
sekadar alat bantu visual, alat peraga sederhana berpotensi menjadi katalisator
perubahan paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada guru menjadi
berpusat pada siswa, dari yang pasif menjadi aktif, dan dari yang abstrak menjadi
konkret. Transformasi pembelajaran semacam ini akan memberikan dampak
jangka panjang terhadap kualitas pendidikan sains di Indonesia18.
Berdasarkan uraian tersebut, penting untuk mengkaji sejauh mana
pengaruh penggunaan alat peraga sederhana terhadap pemahaman belajar siswa
pada materi struktur atom di MAN Tapanuli Selatan. Penelitian ini diharapkan
mampu memberikan alternatif pembelajaran yang lebih menarik serta efektif
dalam meningkatkan pemahaman siswa19. Hasil penelitian ini juga diharapkan
dapat menjadi rujukan bagi guru-guru kimia lainnya dalam mengembangkan
strategi pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik
siswa serta kondisi sekolah masing-masing.
18
N. R. Lubis dan T. Harahap, Peningkatan minat belajar siswa melalui penggunaan alat peraga
sederhana pada materi kimia abstrak, Jurnal Teknologi dan Pendidikan, vol. 10, no. 2, hlm. 80,
(2025).
19
N. Wulandari, Penggunaan alat peraga dalam mengembangkan visualisasi konsep struktur
atom siswa, Jurnal Pembelajaran IPA, vol. 9, no. 1, hlm 31 , (2024).
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian mengidentifikasi
masalah sebagai berikut :
1. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep struktur atom yang
bersifat abstrak dan tidak dapat diamati secara langsung.
2. Pemahaman belajar siswa terhadap mata pelajaran kimia masih rendah,
terutama pada materi yang menuntut kemampuan visualisasi.
3. Guru masih dominan menggunakan metode ceramah tanpa dukungan alat
bantu visual yang memadai.
4. Media pembelajaran yang digunakan belum mampu menarik perhatian
serta meningkatkan partisipasi aktif siswa.
5. Penggunaan alat peraga sederhana sebagai media pembelajaran belum
diterapkan secara optimal di kelas.
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah, maka ruang lingkup masalah yang diteliti
dibatasi pada hal-hal sebagai berikut :
1. Penelitian ini difokuskan pada pengaruh penggunaan alat peraga sederhana
dalam pembelajaran kimia pada materi struktur atom.
2. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas X MAN Tapanuli Selatan.
3. Aspek yang diteliti meliputi pemahaman belajar siswa terhadap pelajaran
kimia setelah diterapkannya penggunaan alat peraga sederhana.
4. Alat peraga sederhana yang dimaksud adalah media buatan sendiri dari
bahan mudah diperoleh yang digunakan untuk menggambarkan model
atom, seperti model Bohr, susunan elektron, dan struktur inti atom.
D. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga
sederhana, yaitu pemanfaatan media konkret yang dibuat dari bahan
mudah diperoleh seperti plastisin, styrofoam, sedotan, atau manik-manik
untuk memvisualisasikan konsep struktur atom dalam pembelajaran kimia.
Penggunaan alat peraga ini mencakup kegiatan guru dalam menyajikan
model atom, keterlibatan siswa dalam mengamati atau memanipulasi
media, serta pemanfaatan representasi visual tersebut untuk membantu
siswa memahami susunan proton, neutron, dan elektron secara lebih jelas.
2. Variabel terikat (Y) adalah pemahaman belajar siswa, yang merujuk pada
dorongan internal siswa untuk mengikuti pembelajaran kimia dengan
antusias. Pemahaman belajar ini ditunjukkan melalui perhatian siswa
selama pembelajaran, rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari,
partisipasi aktif dalam kegiatan kelas, serta sikap positif terhadap
penggunaan alat peraga sederhana sebagai media pembelajaran. Melalui
indikator tersebut, pemahaman belajar dapat diamati dari respons siswa,
keterlibatan mereka dalam proses belajar, dan keinginan untuk memahami
materi struktur atom secara lebih mendalam.
E. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
“Apakah terdapat pengaruh penggunaan alat peraga sederhana terhadap
pemahaman belajar siswa pada materi struktur atom di kelas X MAN
Tapanuli Selatan?”
F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah, maka tujuan yang ingin diperoleh
dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan alat peraga sederhana terhadap
pemahaman belajar siswa pada materi struktur atom di kelas X MAN
Tapanuli Selatan.
2. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman belajar antara siswa
yang belajar menggunakan alat peraga sederhana dan siswa yang belajar
tanpa menggunakan alat peraga sederhana.
3. Untuk mendeskripsikan efektivitas penggunaan alat peraga sederhana
dalam membantu siswa memahami konsep-konsep abstrak pada materi
struktur atom di kelas X MAN Tapanuli Selatan.
G. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori
pembelajaran kimia berbasis media konkret, khususnya dalam
memvisualisasikan konsep abstrak seperti struktur atom. Penelitian ini
memperkuat landasan teoretis mengenai pentingnya representasi visual
dalam memfasilitasi transisi pemahaman siswa dari konkret ke abstrak,
sejalan dengan teori perkembangan kognitif Piaget dan teori pembelajaran
bermakna Ausubel.
Menjadi bahan referensi akademik mengenai efektivitas
penggunaan alat peraga sederhana dalam meningkatkan pemahaman
belajar siswa. Hasil penelitian ini dapat memperkaya kajian literatur
tentang hubungan antara penggunaan media pembelajaran manipulatif
dengan peningkatan motivasi intrinsik dan keterlibatan kognitif siswa
dalam pembelajaran sains, serta memberikan bukti empiris tentang
penerapan teori konstruktivisme dalam konteks pembelajaran kimia di
tingkat SMA.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa: Membantu meningkatkan pemahaman konsep struktur
atom melalui pengalaman belajar hands-on yang memungkinkan siswa
mengonstruksi pengetahuan secara aktif, serta menumbuhkan
ketertarikan dan motivasi intrinsik dalam mengikuti pembelajaran
kimia. Penggunaan alat peraga juga dapat mengurangi kecemasan
siswa terhadap materi abstrak dan meningkatkan rasa percaya diri
dalam memahami konsep-konsep fundamental kimia yang menjadi
dasar untuk pembelajaran materi selanjutnya.
b. Bagi guru: Menjadi alternatif metode dan media pembelajaran yang
inovatif, variatif, serta mudah diterapkan dalam penyampaian materi
abstrak dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang
terjangkau. Penelitian ini juga memberikan panduan praktis bagi guru
dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran berbasis
alat peraga, sekaligus meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam
mengembangkan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student-centered learning).
c. Bagi sekolah: Mendukung peningkatan kualitas pembelajaran melalui
diversifikasi media dan metode pengajaran, menciptakan suasana kelas
yang lebih aktif, interaktif, dan kolaboratif, serta mendorong
penggunaan media pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. Hasil
penelitian ini dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk mengembangkan
kebijakan pengadaan dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran
sains, sekaligus mendukung program peningkatan literasi sains siswa
sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka.
d. Bagi peneliti lain: Menjadi sumber acuan dan dasar pengembangan
penelitian lanjutan mengenai efektivitas alat peraga sederhana maupun
media pembelajaran lainnya dalam konteks pembelajaran kimia atau
mata pelajaran sains lainnya. Penelitian ini juga membuka peluang
untuk kajian komparatif antara berbagai jenis media pembelajaran,
penelitian tindakan kelas dengan variabel yang lebih kompleks, serta
eksplorasi penerapan alat peraga pada materi kimia lainnya yang
bersifat abstrak seperti ikatan kimia, kesetimbangan kimia, atau
struktur molekul.
e. Bagi pengembangan kurikulum: Memberikan masukan empiris kepada
pemangku kebijakan pendidikan dan pengembang kurikulum tentang
pentingnya mengintegrasikan penggunaan alat peraga dan media
konkret dalam rancangan pembelajaran kimia, khususnya untuk
konsep-konsep yang memerlukan visualisasi dan manipulasi objek.
Temuan penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan
panduan implementasi kurikulum yang lebih menekankan pada
pembelajaran berbasis inquiry dan pengalaman langsung (experiential
learning).
H. Landasan Teori
1. Kerangka Teori
a. Pengertian Alat Peraga Sederhana
Menurut Rusman, alat peraga sederhana merupakan media
pembelajaran yang dibuat dari bahan murah, mudah didapat, serta
dirancang untuk membantu siswa memahami konsep abstrak melalui
visualisasi yang konkret. Prinsip dasar pembuatan alat peraga sederhana
terletak pada kesesuaian fungsi media dengan tujuan pembelajaran serta
kemudahan penggunaannya oleh guru dan siswa. Alat peraga sederhana
memiliki karakteristik utama yaitu dapat diproduksi dengan biaya
minimal, menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, serta
tetap mampu merepresentasikan konsep yang ingin disampaikan secara
akurat dan efektif20.
20
D. Putra & L. Anggraini, Peran media konkret dalam meningkatkan interaksi kelas pada
pembelajaran kimia, Jurnal EduSains, 6(2), 58–67 (2024).
Pada materi struktur atom, alat peraga seperti model atom dari
plastisin, bola styrofoam, atau rangka batang dapat digunakan untuk
memvisualisasikan posisi elektron, proton, dan neutron secara jelas. Alat
ini mempermudah siswa memahami konsep yang abstrak karena mereka
dapat melihat bentuk atom secara nyata, tidak hanya melalui ilustrasi
gambar. Penggunaan bahan-bahan sederhana ini juga memungkinkan
siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan, sehingga mereka
dapat lebih memahami struktur dan komponen-komponen atom secara
mendalam21.
Penelitian Winarno dan Putri dalam artikelnya menjelaskan bahwa
penggunaan model atom sederhana mampu meningkatkan pemahaman
siswa sebesar 35% dibandingkan pembelajaran tanpa alat peraga. Temuan
ini menunjukkan bahwa visualisasi konkret memiliki dampak signifikan
terhadap proses kognitif siswa dalam memahami konsep-konsep
mikroskopis. Selain itu, alat peraga sederhana juga memberikan
kesempatan bagi siswa untuk melakukan eksplorasi mandiri, mengamati
dari berbagai sudut pandang, dan melakukan manipulasi langsung
terhadap model yang dibuat22.
Beberapa contoh alat peraga sederhana yang umum digunakan
dalam pembelajaran struktur atom antara lain23:
21
N. Wulandari, Penggunaan alat peraga dalam mengembangkan visualisasi konsep struktur atom
siswa, Jurnal Pembelajaran IPA, 9(1), 26–35 (2024).
22
A. Winarno & D. Putri, Penerapan model atom sederhana dalam meningkatkan pemahaman
konsep siswa, Jurnal Pembelajaran IPA, 6(2), 102–110 (2024).
23
R. Hidayat, Efektivitas Penggunaan Alat Peraga Berbasis Model Atom dalam Pembelajaran
Struktur Atom, Jurnal Pendidikan Sains, vol. 9, no. 2, hlm. 112–127, (2021).
1) Model Atom dari Styrofoam atau Bola Plastik
Model ini disusun menggunakan bola styrofoam
berbagai ukuran untuk merepresentasikan inti atom dan
lintasan elektron. Elektron biasanya digambarkan dengan
bola kecil yang ditempel pada kawat atau stik. Alat ini
membantu siswa memahami susunan elektron dan struktur
inti atom dengan lebih nyata.
2) Model Atom dari Plastisin (Lilin Mainan)
Plastisin digunakan untuk membentuk proton,
neutron, dan elektron dengan warna yang berbeda. Siswa
dapat menyusun bagian-bagian atom secara mandiri
sehingga konsep partikel penyusun atom menjadi lebih
mudah dicerna.
3) Rangka Batang Elektron (Atomic Stick Model)
Alat peraga ini dibuat dari stik es krim, kawat, atau
sedotan untuk menggambarkan lintasan elektron. Model ini
membantu siswa memahami konfigurasi elektron dan level
energi dengan menunjukkan orbit-orbit secara visual.
4) Karpet Kimia (Chemical Carpet)
Merupakan media berbentuk bentangan kain atau
kertas besar berisi ilustrasi struktur atom dan tabel periodik.
Siswa dapat belajar dengan berjalan di atas karpet sambil
mencocokkan posisi partikel. Penelitian menunjukkan
media ini efektif meningkatkan pemahaman konsep struktur
atom.
5) Model Orbital dari Kawat
Kawat dibentuk menjadi lintasan-lintasan orbit yang
menunjukkan jalur elektron. Model ini biasanya dipadukan
dengan bola kecil sebagai elektron sehingga memperjelas
konsep lintasan elektron pada berbagai kulit atom.
b. Fungsi dan Manfaat Alat Peraga
Alat peraga memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi visual yang
menjembatani penyampaian materi dari guru kepada siswa sehingga
informasi yang bersifat abstrak dapat dipahami lebih. Penggunaan alat
peraga juga mampu mengurangi tingkat keabstrakan materi kimia, karena
siswa dapat melihat gambaran nyata dari konsep yang dipelajari. Fungsi
ini sangat penting terutama dalam pembelajaran sains, di mana banyak
konsep yang tidak dapat diamati secara langsung dengan panca indera
manusia, seperti struktur atom, molekul, dan partikel subatomik24.
Selain itu, alat peraga dapat menumbuhkan motivasi dan
pemahaman belajar melalui pengalaman belajar yang lebih menarik dan
interaktif. Ketika siswa dapat menyentuh, memanipulasi, dan mengamati
alat peraga secara langsung, mereka mengalami pembelajaran yang lebih
bermakna dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan verbal atau
24
R. Hakim, Media pembelajaran dalam meningkatkan kualitas interaksi kelas, Jurnal Teknologi
Pendidikan, 9(1), 12–20 (2023).
melihat gambar dua dimensi. Pengalaman sensori yang beragam ini
membantu siswa mengembangkan representasi mental yang lebih kuat
tentang konsep yang dipelajari25.
Penelitian Kurniawan menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga
meningkatkan interaksi siswa dalam kelas, terutama dalam kegiatan
diskusi dan tanya jawab. Dengan meningkatnya interaksi, keterlibatan
aktif siswa juga bertambah sehingga kualitas pembelajaran menjadi lebih
efektif. Alat peraga menjadi stimulus untuk memicu rasa ingin tahu siswa,
mendorong mereka untuk mengajukan pertanyaan, mengemukakan
hipotesis, dan melakukan investigasi lebih lanjut terhadap fenomena yang
diamati26.
Manfaat alat peraga juga mencakup aspek retensi memori jangka
panjang. Siswa yang belajar menggunakan alat peraga cenderung
mengingat informasi lebih lama karena pembelajaran melibatkan multiple
sensory channels dan pengalaman langsung. Hal ini sejalan dengan teori
dual coding yang menyatakan bahwa informasi yang diproses melalui
jalur visual dan verbal secara bersamaan akan tersimpan lebih kuat dalam
memori. Oleh karena itu, alat peraga tidak hanya membantu memahami
materi tetapi juga meningkatkan suasana belajar yang lebih dinamis,
partisipatif, dan memberikan dampak pembelajaran yang lebih permanen.
25
S. Rahmawati, Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran konstruktivistik, Jurnal Pedagogik,
10(1), 71–80 (2024).
26
A. Kurniawan, Efektivitas alat peraga dalam meningkatkan interaksi pembelajaran, Jurnal
Inovasi Pembelajaran, 7(1), 44–52 (2025).
c. Pemahaman Belajar
1) Apa itu pemahaman ?
Secara umum, pemahaman adalah kemampuan
seseorang untuk menangkap makna atau arti dari sesuatu
yang dipelajari, dilihat, atau dialami dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam konteks pembelajaran formal.
Pemahaman bukan hanya sekadar menghafal informasi
secara mekanis atau mengingat fakta-fakta yang terpisah-
pisah, tetapi juga kemampuan mengolah informasi tersebut
secara mendalam hingga seseorang dapat menjelaskan
kembali dengan kata-katanya sendiri secara sistematis dan
logis27.
Beberapa ahli memberikan definisi yang beragam
namun saling melengkapi satu sama lain dalam
menggambarkan esensi pemahaman, antara lain
a) Menurut Bloom, pemahaman merupakan tingkatan
kedua dalam ranah kognitif setelah pengetahuan, di
mana seseorang tidak hanya mengetahui fakta-fakta
yang bersifat hafalan semata, tetapi juga mampu
mengartikan, menginterpretasikan, dan menjelaskan
27
R. M. Gagné, The Conditions of Learning and Theory of Instruction, Holt, Rinehart & Winston,
New York (1985).
maknanya secara komprehensif dalam berbagai situasi
yang relevan28.
b) Menurut Piaget, pemahaman adalah hasil dari proses
berpikir aktif yang melibatkan asimilasi dan akomodasi
terhadap pengalaman baru yang diterima individu dari
lingkungannya29.
c) Menurut Winkel, pemahaman adalah kemampuan
individu untuk menangkap makna dari suatu konsep,
situasi, atau pernyataan, serta menghubungkannya
dengan pengalaman sebelumnya yang telah tersimpan
dalam struktur kognitifnya. Dengan demikian,
pemahaman tidak hanya mencakup kemampuan
mengenal atau mengingat informasi secara pasif, tetapi
juga kemampuan menafsirkan dan mengintegrasikannya
dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya30.
d) Menurut Anderson dan Krathwohl, pemahaman
mencakup kemampuan menjelaskan, menafsirkan, dan
mencontohkan suatu konsep dengan cara yang relevan
sesuai dengan konteks yang dihadapi. Seseorang
dikatakan memahami suatu hal apabila ia mampu
menjelaskan arti dari suatu gagasan dengan bahasa
28
B. S. Bloom, Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals,
McKay, New York (1956).
29
J. Piaget, Psychology and Pedagogy, Viking Press, New York (1970).
30
W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran, Grasindo, Jakarta (2009).
sendiri, menggambarkan hubungan antara ide-ide yang
berbeda secara koheren, dan menerapkannya dalam
konteks yang berbeda dari situasi awal pembelajaran.
Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman adalah proses
mental yang kompleks dan melibatkan berbagai
tingkatan kognitif yang saling berkaitan31.
e) Menurut Gagné, pemahaman merupakan hasil dari
pembelajaran bermakna, di mana individu mengaitkan
pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah
dimiliki sebelumnya secara sistematis dan terorganisir32.
Jadi bisa disimpulkan Pemahaman adalah
kemampuan kognitif yang tidak sekadar mengingat
informasi, tetapi mencakup proses mengartikan,
menafsirkan, dan menghubungkan pengetahuan baru
dengan pengalaman atau konsep yang sudah dimiliki
sebelumnya. Pemahaman terjadi ketika individu mampu
menjelaskan suatu gagasan dengan bahasa sendiri, melihat
hubungan antar konsep secara koheren, serta
menerapkannya dalam konteks yang berbeda. Dengan kata
lain, pemahaman merupakan proses mental aktif dan
bermakna yang melibatkan pengolahan informasi secara
31
L. W. Anderson & D. R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A
Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives, Longman, New York (2001).
32
R. M. Gagné, The Conditions of Learning and Theory of Instruction, Holt, Rinehart & Winston,
New York (1985).
mendalam sehingga menghasilkan makna yang utuh dan
dapat digunakan dalam berbagai situasi.
2) Bagaimana mengukurnya ?
Pemahaman (understanding/comprehension) adalah
kemampuan peserta didik untuk menangkap makna,
menjelaskan kembali, menafsirkan, serta menerapkan
informasi dalam konteks yang berbeda. Mengukur
pemahaman berarti mengevaluasi sejauh mana siswa
mampu mengolah informasi, bukan sekadar mengingatnya.
Anderson & Krathwohl menjelaskan dalam artikelnya,
pemahaman berada pada tingkat kedua dalam Taksonomi
Bloom Revisi dan ditandai dengan kemampuan
menjelaskan, menafsirkan, mengklasifikasikan,
merangkum, dan menyimpulkan. Lebih dari sekadar
hafalan, pemahaman mencerminkan proses kognitif yang
lebih dalam di mana siswa dapat mengkonstruksi makna
dari pesan pembelajaran, baik lisan, tertulis, maupun
grafis33. Dalam taksonomi Bloom telah menempatkan
pemahaman sebagai fondasi penting sebelum siswa dapat
mengaplikasikan, menganalisis, atau mengevaluasi
pengetahuan. Kemampuan ini bersifat transferable, artinya
33
L. W. Anderson & D. R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A
Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives, Longman, New York (2001).
siswa yang benar-benar paham dapat menggunakan
pengetahuannya dalam situasi baru yang belum pernah
ditemui sebelumnya34.
Berikut lima cara utama yang biasa digunakan
untuk menilai pemahaman35:
a) Tes Tertulis (Written Test)
Tes tertulis merupakan metode pengukuran yang
paling konvensional dan banyak digunakan dalam
konteks pendidikan formal. Metode ini mencakup
berbagai format soal yang dapat disesuaikan dengan
tujuan pembelajaran dan tingkat kognitif yang ingin
diukur.
Termasuk:
(1) Pilihan ganda, Mengukur kemampuan siswa
dalam mengenali jawaban yang tepat dari
beberapa alternatif yang disediakan, cocok
untuk mengukur pemahaman konsep secara luas
dalam waktu singkat.
34
B. S. Bloom, Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals,
McKay, New York (1956).
35
R. M. Gagné, The Conditions of Learning and Theory of Instruction, Holt, Rinehart & Winston,
New York (1985).
(2) Benar – salah, Menguji kemampuan siswa
dalam menilai kebenaran suatu pernyataan
berdasarkan pemahaman konsep.
(3) Menjodohkan, Mengukur kemampuan siswa
dalam menghubungkan konsep, istilah, atau
fakta yang berkaitan.
(4) Uraian (essay), Memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengekspresikan pemahaman
secara mendalam dengan kata-kata sendiri, serta
menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan
analitis.
Fungsinya adalah mengukur kemampuan siswa
dalam menjelaskan, menafsirkan, mengelompokkan,
dan menyimpulkan konsep. Tes tertulis juga
memungkinkan guru untuk menilai pemahaman siswa
secara objektif dan terstruktur, serta dapat digunakan
untuk mengukur pencapaian hasil belajar pada berbagai
tingkat kognitif sesuai dengan taksonomi Bloom.
b) Tes Lisan / Pertanyaan Kelas
Tes lisan atau pertanyaan kelas merupakan metode
penilaian formatif yang memungkinkan interaksi
langsung antara guru dan siswa. Dalam metode ini, guru
memberikan pertanyaan terbuka dan menilai
kemampuan siswa menjelaskan konsep dengan kata-
kata sendiri. Metode ini sangat efektif karena
memberikan kesempatan bagi guru untuk segera
memberikan umpan balik dan melakukan klarifikasi
jika terjadi kesalahpahaman.
Fungsinya adalah menggali pemahaman mendalam
dan mengidentifikasi miskonsepsi yang mungkin tidak
terdeteksi melalui tes tertulis. Melalui dialog dan
diskusi, guru dapat mengeksplorasi cara berpikir siswa,
menilai kedalaman pemahaman mereka, serta
membantu siswa mengonstruksi pengetahuan dengan
lebih baik. Tes lisan juga melatih kemampuan
komunikasi verbal siswa dan meningkatkan
kepercayaan diri mereka dalam menyampaikan ide.
c) Penilaian Kinerja (Performance Assessment)
Penilaian kinerja merupakan metode evaluasi yang
menekankan pada kemampuan siswa untuk
mendemonstrasikan pemahaman mereka melalui
tindakan atau produk nyata. Metode ini sangat relevan
dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dan
konstruktivistik, di mana siswa tidak hanya menerima
informasi tetapi juga mengaplikasikannya dalam situasi
autentik.
Berupa :
(1) Presentasi, Siswa menyampaikan hasil
penelitian, analisis, atau pemahaman mereka
di depan kelas, yang menunjukkan
kemampuan komunikasi dan penguasaan
materi.
(2) Proyek, Tugas jangka panjang yang
mengintegrasikan berbagai keterampilan dan
pengetahuan untuk menghasilkan produk
atau solusi tertentu.
(3) Praktikum, Kegiatan eksperimen atau
praktek laboratorium yang memungkinkan
siswa menerapkan teori dalam konteks
nyata.
(4) Studi kasus, Analisis mendalam terhadap
situasi atau masalah tertentu yang
memerlukan penerapan konsep dan
keterampilan berpikir kritis.
Fungsinya adalah menilai kemampuan siswa
mengaplikasikan pengetahuan pada situasi nyata.
Penilaian kinerja memberikan gambaran yang lebih
holistik tentang pemahaman siswa karena melibatkan
berbagai kompetensi sekaligus, termasuk keterampilan
berpikir tingkat tinggi, kreativitas, kolaborasi, dan
pemecahan masalah. Metode ini juga memotivasi siswa
untuk belajar lebih aktif dan bermakna.
d) Tugas Reflektif
Tugas reflektif merupakan metode penilaian yang
mendorong siswa untuk melakukan metakognisi, yaitu
berpikir tentang proses berpikir mereka sendiri. Melalui
refleksi, siswa dapat mengidentifikasi apa yang telah
mereka pahami, apa yang masih membingungkan, dan
bagaimana mereka mengonstruksi pengetahuan baru
dari pengalaman belajar mereka.
Contoh :
(1) Jurnal refleksi, Catatan pribadi siswa tentang
pengalaman belajar, kesulitan yang dihadapi,
dan pemahaman yang diperoleh.
(2) Ringkasan materi, Siswa merangkum konsep-
konsep penting dengan kata-kata sendiri, yang
menunjukkan kemampuan sintesis dan
pemahaman.
(3) Mind map, Representasi visual dari hubungan
antar konsep yang menunjukkan struktur
pemahaman siswa.
Fungsinya untuk melihat sejauh mana siswa
memahami dan mengolah kembali informasi. Tugas
reflektif juga membantu siswa mengembangkan
kesadaran diri tentang proses belajar mereka (self-
awareness), meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
dan membangun kemandirian dalam belajar. Guru dapat
menggunakan hasil refleksi ini untuk menyesuaikan
strategi pembelajaran agar lebih sesuai dengan
kebutuhan siswa.
e) Pretest dan Post-test
Pretest dan post-test merupakan metode pengukuran
yang membandingkan kemampuan siswa sebelum dan
sesudah proses pembelajaran. Pendekatan ini sangat
berguna untuk mengevaluasi efektivitas strategi
pembelajaran dan mengukur peningkatan pemahaman
siswa secara objektif.
(1) Pretest, Mengukur kemampuan awal siswa
sebelum pembelajaran dimulai, berfungsi
sebagai baseline untuk mengetahui pengetahuan
prasyarat dan mengidentifikasi area yang perlu
mendapat perhatian khusus.
(2) Post-test, Mengukur hasil setelah pembelajaran
selesai, untuk menilai sejauh mana tujuan
pembelajaran telah tercapai.
Perbandingan keduanya menunjukkan peningkatan
pemahaman siswa dan memberikan bukti empiris tentang
efektivitas proses pembelajaran. Selain itu, metode ini juga
membantu guru dalam melakukan diagnosis kesulitan
belajar siswa dan merencanakan intervensi yang tepat. Gain
score atau selisih antara nilai pretest dan post-test dapat
menjadi indikator yang valid untuk mengukur progress
belajar siswa36.
3) Apa saja indikator pemahaman ?
Menurut Taksonomi Bloom, pemahaman
merupakan kemampuan kognitif tingkat kedua yang
mencerminkan konstruksi makna dari materi pembelajaran,
baik lisan, tertulis, maupun grafis37. Pemahaman dapat
diamati melalui beberapa kemampuan berikut:
a) Menafsirkan (Interpreting)
Siswa mampu mengubah informasi dari satu
bentuk representasi ke bentuk lainnya, seperti
menjelaskan suatu konsep dengan bahasa sendiri,
36
R. M. Gagné, The Conditions of Learning and Theory of Instruction, Holt, Rinehart & Winston,
New York (1985).
37
R. N. Amelia, Developing and validating a rubric for measuring skills, Jurnal Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta, vol. 12, no. 1, hlm. 45, (2024).
memahami makna diagram, grafik, tabel, atau
informasi visual yang diberikan. Kemampuan ini
menunjukkan bahwa siswa tidak sekadar menghafal,
tetapi benar-benar memahami esensi dari materi
yang dipelajari. Contoh: Menjelaskan kembali
proses struktur atom menggunakan kata-kata
sendiri, atau menginterpretasikan diagram model
atom Rutherford ke dalam penjelasan naratif tentang
distribusi partikel subatomik.
b) Menyimpulkan (Inferring)
Siswa mampu menarik kesimpulan logis
berdasarkan informasi yang tersedia, menemukan
pola, atau membuat prediksi berdasarkan data yang
telah dipelajari. Proses ini melibatkan pemikiran
induktif di mana siswa menghubungkan berbagai
informasi untuk menghasilkan pemahaman baru.
Contoh: Menyimpulkan hubungan antara jumlah
proton dan nomor atom, atau memprediksi sifat
unsur berdasarkan posisinya dalam sistem periodik
unsur38.
c) Mengklasifikasikan (Classifying)
38
Assessment for Learning: A Summary of Concepts, Tactics and Strategies, International Review
of Education, hlm. 10, (2024).
Siswa dapat mengelompokkan objek,
konsep, atau informasi berdasarkan karakteristik
atau kriteria tertentu, serta mengidentifikasi kategori
yang sesuai untuk suatu contoh. Kemampuan ini
menunjukkan pemahaman tentang prinsip-prinsip
organisasi dan hubungan antar konsep. Contoh:
Mengelompokkan jenis-jenis atom berdasarkan
jumlah elektronnya, mengklasifikasikan partikel
subatomik (proton, neutron, elektron) berdasarkan
muatan dan massanya, atau mengelompokkan
unsur-unsur ke dalam golongan logam, nonlogam,
dan metaloid.
d) Membandingkan (Comparing)
Siswa dapat mengidentifikasi dan
menunjukkan persamaan serta perbedaan antara dua
atau lebih konsep, objek, atau peristiwa. Proses
perbandingan ini melibatkan analisis karakteristik
penting dari masing-masing konsep dan mendeteksi
korespondensi di antara keduanya. Contoh:
Membedakan model atom Bohr dan model atom
Thomson berdasarkan konsep dasar, kelebihan, dan
keterbatasannya; atau membandingkan karakteristik
proton, neutron, dan elektron dari segi massa,
muatan, dan lokasi dalam atom39.
e) Menjelaskan (Explaining)
Siswa mampu mengkonstruksi dan
memberikan model sebab-akibat dari suatu sistem,
serta memberikan alasan logis terkait bagaimana
atau mengapa suatu konsep, proses, atau fenomena
bekerja dengan cara tertentu. Penjelasan yang baik
mencakup pemaparan hubungan sistematis antar
bagian-bagian dalam suatu proses. Contoh:
Menjelaskan mengapa elektron bergerak dalam
kulit-kulit atau tingkat energi tertentu dan bukan
tersebar acak di sekitar inti atom, atau menjelaskan
mengapa atom-atom unsur tertentu cenderung
membentuk ion positif atau negatif40.
f) Merangkum (Summarizing)
Siswa bisa membuat ringkasan atau
abstraksi dari inti konsep yang mencakup poin-poin
utama tanpa menghilangkan makna penting atau
mengubah substansi materi. Kemampuan
merangkum menunjukkan bahwa siswa dapat
39
R. N. Amelia, Developing and validating a rubric for measuring skills, Jurnal Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta, vol. 12, no. 1, hlm. 47, (2024).
40
Y. P. Cheng, dkk., LUPDA: A Comprehensive Rubrics-Based Assessment, International Journal
of Assessment and Evaluation (Springer), vol. 33, no. 2, hlm. 123, (2025).
membedakan informasi penting dari informasi
pendukung. Contoh: Membuat ringkasan materi
struktur atom dalam 5–6 kalimat yang mencakup
konsep partikel subatomik, susunan atom, dan
perkembangan model
atom, atau merangkum teori atom Dalton beserta
postulat-postulat utamanya41.
g) Mengaplikasikan Konsep Sederhana (Applying)
Siswa dapat menggunakan pengetahuan
konseptual dasar dalam situasi konkret atau contoh
yang mudah, serta menerapkan prosedur yang telah
dipelajari untuk menyelesaikan masalah rutin.
Meskipun aplikasi merupakan level kognitif
tersendiri dalam taksonomi Bloom, kemampuan
aplikasi sederhana sering menjadi indikator
pemahaman konseptual yang kuat (Gagné, 1985).
Contoh: Menghitung jumlah neutron jika diketahui
nomor atom dan nomor massa suatu unsur,
menentukan konfigurasi elektron sederhana untuk
atom-atom unsur periode 1-3, atau mengidentifikasi
41
Assessment for Learning: A Summary of Concepts, Tactics and Strategies, International Review
of Education, hlm. 13, (2024).
isotop berdasarkan perbedaan jumlah neutron pada
atom dengan nomor atom yang sama42.
d. Materi Struktur Atom
1) Pengertian Atom
Atom adalah partikel paling kecil dari suatu unsur
yang masih memiliki sifat dan karakteristik khas unsur
tersebut. Kata "atom" berasal dari bahasa Yunani atomos
yang berarti "tidak dapat dibagi." Konsep ini pertama kali
dikemukakan oleh filsuf Yunani kuno, Democritus dan
Leucippus, sekitar abad ke-5 SM. Namun, seiring
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama
sejak abad ke-19, terbukti bahwa atom bukanlah partikel
terkecil yang tidak dapat dibagi. Atom tersusun atas
partikel-partikel subatom yang lebih fundamental, yaitu
proton, neutron, dan elektron, yang masing-masing
memiliki peran penting dalam menentukan sifat kimia dan
fisika suatu unsur43.
2) Perkembangan Teori Atom
a). Dalton (1803)
42
Y. P. Cheng, dkk., LUPDA: A Comprehensive Rubrics-Based Assessment, International Journal
of Assessment and Evaluation (Springer), vol. 33, no. 2, hlm. 126, (2025).
43
M. Hidayat, Efektivitas alat peraga sederhana dalam meningkatkan hasil belajar struktur atom,
Jurnal Sains dan Pembelajaran, 8(2), 77 (2025).
John Dalton mengusulkan teori atom pertama
yang berbasis ilmiah melalui hukum perbandingan tetap
dan hukum perbandingan berganda. Menurut Dalton,
atom adalah partikel paling kecil yang tidak dapat
dibagi lagi melalui reaksi kimia biasa dan bersifat solid
seperti bola pejal. Semua atom dari unsur yang sama
adalah identik dalam massa, ukuran, dan sifat-sifatnya,
tetapi berbeda dengan atom unsur lain. Dalton juga
menyatakan bahwa senyawa kimia terbentuk dari
gabungan dua atau lebih atom unsur yang berbeda
dengan perbandingan bilangan bulat sederhana dan
tetap. Meskipun teori Dalton memiliki keterbatasan
karena tidak menjelaskan struktur internal atom dan
keberadaan partikel subatom, teori ini menjadi fondasi
penting bagi perkembangan ilmu kimia modern44.
Gambar 1 Model Atom Dalton
44
M. Hidayat, Efektivitas alat peraga sederhana dalam meningkatkan hasil belajar struktur atom,
Jurnal Sains dan Pembelajaran, 8(2), 79 (2025).
b). Thomson (1904)
Joseph John Thomson menemukan elektron
melalui eksperimen tabung sinar katode pada tahun
1897, yang mengubah paradigma tentang atom.
Berdasarkan penemuannya, Thomson mengusulkan
model atom yang dikenal sebagai model "roti kismis"
atau "plum pudding model" pada tahun 1904. Dalam
model ini, atom digambarkan sebagai bola bermuatan
positif yang padat dan seragam, dengan elektron-
elektron bermuatan negatif tersebar secara merata di
dalamnya seperti kismis dalam roti atau kismis dalam
puding. Model ini menjelaskan mengapa atom bersifat
netral secara keseluruhan, karena muatan positif dan
negatif seimbang. Meskipun model Thomson akhirnya
terbukti tidak akurat, kontribusinya sangat penting
karena memperkenalkan konsep bahwa atom dapat
dibagi menjadi partikel-partikel yang lebih kecil45.
45
N. Khoiri, Pelatihan Penggunaan Alat Peraga Struktur Atom untuk Guru Kimia SMA, Jurnal
Pengabdian Masyarakat Sains, 5(1), 47 (2020).
Gambar 2 Model Atom Thomson
c). Rutherford (1911)
Ernest Rutherford melakukan eksperimen
hamburan sinar alfa dengan menembakkan partikel alfa
ke lembaran emas tipis. Hasil eksperimen menunjukkan
bahwa sebagian besar partikel alfa menembus lembaran
emas tanpa pembelokan, namun sebagian kecil
mengalami pembelokan besar bahkan ada yang
memantul kembali. Dari hasil ini, Rutherford
menyimpulkan bahwa atom memiliki inti (nukleus)
yang sangat kecil, padat, dan bermuatan positif yang
terletak di pusat atom, mengandung hampir seluruh
massa atom. Elektron bergerak mengelilingi inti pada
jarak yang relatif jauh, sehingga sebagian besar volume
atom adalah ruang kosong. Model atom Rutherford ini
sering disebut model atom sistem tata surya, karena
menyerupai planet-planet yang mengelilingi matahari.
Namun, model ini memiliki kelemahan karena tidak
dapat menjelaskan mengapa elektron yang bergerak
mengelilingi inti tidak kehilangan energi dan jatuh ke
dalam inti46.
Gambar 3 Model Atom Rutherford
d). Bohr (1913)
Niels Bohr menyempurnakan model atom
Rutherford dengan menggabungkan teori kuantum
Planck. Bohr mengusulkan bahwa elektron berada
dalam lintasan atau kulit tertentu yang memiliki tingkat
energi diskrit dan tetap (kuantisasi energi). Elektron
hanya dapat berpindah dari satu kulit ke kulit lain
dengan menyerap atau melepaskan energi dalam bentuk
foton dengan jumlah energi tertentu (ΔE = hf). Selama
elektron berada dalam lintasan stasioner, elektron tidak
memancarkan atau menyerap energi, sehingga atom
berada dalam keadaan stabil. Model Bohr berhasil
menjelaskan spektrum garis atom hidrogen dengan
46
S. A. Putri & Y. Ramadhan, Implementasi alat peraga dalam pembelajaran struktur atom untuk
meningkatkan keterlibatan siswa, Jurnal Pendidikan Sains Modern, 6(3), 125 (2024).
sangat akurat dan memberikan dasar pemahaman
tentang struktur elektronik atom. Namun, model ini
hanya berhasil untuk atom hidrogen dan ion dengan
satu elektron, dan tidak dapat menjelaskan spektrum
atom berelektron banyak serta efek Zeeman47.
Gambar 4 Model Atom Bohr
e). Teori Mekanika Kuantum (Schrödinger, Heisenberg)
Pada tahun 1920-an, Werner Heisenberg dan
Erwin Schrödinger mengembangkan teori mekanika
kuantum yang merevolusi pemahaman tentang struktur
atom. Heisenberg merumuskan prinsip ketidakpastian
yang menyatakan bahwa tidak mungkin mengetahui
secara pasti posisi dan momentum elektron secara
bersamaan48. Schrödinger mengembangkan persamaan
gelombang yang menggambarkan elektron sebagai
47
M. Hidayat, Efektivitas alat peraga sederhana dalam meningkatkan hasil belajar struktur atom,
Jurnal Sains dan Pembelajaran, 8(2), 80(2025).
48
S. A. Putri & Y. Ramadhan, Implementasi alat peraga dalam pembelajaran struktur atom untuk
meningkatkan keterlibatan siswa, Jurnal Pendidikan Sains Modern, 6(3), 128 (2024).
fungsi gelombang dalam ruang tiga dimensi. Dalam
teori ini, elektron tidak memiliki lintasan pasti seperti
dalam model Bohr, melainkan digambarkan dalam
bentuk orbital, yaitu daerah ruang di sekitar inti atom
dengan probabilitas tinggi untuk menemukan elektron.
Orbital memiliki bentuk tiga dimensi yang berbeda-
beda (s, p, d, f) dan masing-masing dapat menampung
jumlah elektron maksimum tertentu. Teori mekanika
kuantum memberikan deskripsi paling akurat tentang
perilaku elektron dalam atom dan menjadi dasar kimia
kuantum modern.
3) Partikel Penyusun Atom
a) Proton
Proton adalah partikel subatom yang bermuatan
listrik positif (+1 atau +1,6 × 10⁻¹⁹ coulomb) dan
terletak di dalam inti atom bersama neutron. Massa
proton adalah sekitar 1 satuan massa atom (sma)
atau 1,673 × 10⁻²⁷ kilogram. Proton ditemukan oleh
Ernest Rutherford pada tahun 1919 melalui
eksperimen penembakan partikel alfa terhadap
nitrogen. Jumlah proton dalam inti atom
menentukan nomor atom suatu unsur dan identitas
kimianya. Proton tersusun atas partikel yang lebih
fundamental yang disebut quark (dua quark up dan
satu quark down) yang diikat oleh gaya kuat nuklir.
Karena proton bermuatan positif, gaya tolak-
menolak antara proton dalam inti sangat besar,
tetapi gaya nuklir kuat yang mengikat proton dan
neutron jauh lebih kuat pada jarak sangat dekat,
sehingga inti atom tetap stabil49.
b) Neutron
Neutron adalah partikel subatom yang tidak
bermuatan listrik (netral) dan terletak di dalam inti
atom bersama proton. Massa neutron sedikit lebih
besar dari proton, yaitu sekitar 1,675 × 10⁻²⁷
kilogram atau 1,008665 sma. Neutron ditemukan
oleh James Chadwick pada tahun 1932 melalui
eksperimen penembakan partikel alfa terhadap
berilium. Neutron memiliki peran penting dalam
menjaga stabilitas inti atom karena gaya nuklir kuat
yang dihasilkannya membantu mengatasi gaya
tolak-menolak elektrostatik antara proton-proton.
Seperti proton, neutron juga tersusun atas quark
(satu quark up dan dua quark down). Neutron bebas
yang berada di luar inti atom bersifat tidak stabil
49
N. Khoiri, Pelatihan Penggunaan Alat Peraga Struktur Atom untuk Guru Kimia SMA, Jurnal
Pengabdian Masyarakat Sains, 5(1), 50 (2020).
dan akan meluruh menjadi proton, elektron, dan
antineutrino dengan waktu paruh sekitar 10 menit.
Jumlah neutron dalam inti atom dapat bervariasi
untuk unsur yang sama, menghasilkan isotop-isotop
yang berbeda.
c) Elektron
Elektron adalah partikel subatom yang bermuatan
listrik negatif (–1 atau –1,6 × 10⁻¹⁹ coulomb) dan
bergerak mengelilingi inti atom dalam orbital.
Massa elektron sangat kecil, yaitu sekitar 9,109 ×
10⁻³¹ kilogram atau 1/1836 massa proton, sehingga
kontribusinya terhadap massa total atom dapat
diabaikan50. Elektron ditemukan oleh J.J. Thomson
pada tahun 1897 melalui eksperimen tabung sinar
katode. Elektron adalah partikel fundamental yang
termasuk dalam keluarga lepton dan tidak tersusun
atas partikel yang lebih kecil. Elektron memiliki
sifat dualisme gelombang-partikel, artinya dapat
berperilaku seperti partikel maupun gelombang
tergantung kondisi pengamatan. Elektron pada kulit
terluar (elektron valensi) menentukan sifat kimia
suatu unsur dan kemampuannya untuk membentuk
50
S. Fajriah, Pengembangan Pemahaman Struktur Atom Melalui Model Representasi Ganda,
Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 5(1), 26 (2021).
ikatan kimia dengan atom lain. Pergerakan elektron
dan distribusinya dalam orbital mengikuti prinsip-
prinsip mekanika kuantum yang kompleks51.
4) Nomor Atom dan Nomor Massa
Nomor Atom (Z) adalah jumlah proton yang terdapat
dalam inti atom suatu unsur. Nomor atom menentukan
identitas unsur dan posisinya dalam tabel periodik, serta
menentukan sifat-sifat kimia dasar unsur tersebut. Untuk
atom netral, jumlah proton sama dengan jumlah elektron,
sehingga muatan total atom adalah nol. Nomor Massa (A)
adalah jumlah total proton dan neutron (nukleon) dalam inti
atom. Nomor massa menentukan massa relatif atom karena
proton dan neutron memiliki massa yang hampir sama,
sedangkan massa elektron sangat kecil dan dapat diabaikan.
Jumlah neutron (n) dalam inti atom dapat dihitung dengan
rumus: n = A – Z. Perbedaan jumlah neutron pada atom
dengan nomor atom sama menghasilkan isotop yang
berbeda. Notasi standar untuk menuliskan atom adalah
ᴬ𝘡X, di mana X adalah simbol unsur, A adalah nomor
massa, dan Z adalah nomor atom52.
51
R. N. Amelia, Developing and validating a rubric for measuring skills, Jurnal Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta, vol. 12, no. 1, hlm. 49, (2024).
52
N. Khoiri, Pelatihan Penggunaan Alat Peraga Struktur Atom untuk Guru Kimia SMA, Jurnal
Pengabdian Masyarakat Sains, 5(1), 50 (2020).
Contoh: Atom Natrium (Na): Z = 11, A = 23
Jumlah proton = 11
Jumlah elektron (atom netral) = 11
Jumlah neutron = 23 – 11 = 12
Notasi: ²³₁₁Na
5) Isotop, Isobar, dan Isoton
Isotop adalah atom-atom dari unsur yang sama
(memiliki nomor atom Z yang sama) tetapi memiliki nomor
massa A yang berbeda karena jumlah neutron yang
berbeda. Isotop suatu unsur memiliki sifat kimia yang
hampir identik karena memiliki jumlah elektron yang sama,
tetapi sifat fisiknya dapat berbeda, terutama massa dan sifat
radioaktif. Banyak unsur di alam memiliki beberapa isotop
dengan kelimpahan relatif yang berbeda-beda53.
Contoh: Karbon memiliki tiga isotop utama: ¹²C (6 proton,
6 neutron), ¹³C (6 proton, 7 neutron), dan ¹⁴C (6 proton, 8
neutron). Isotop ¹⁴C bersifat radioaktif dan digunakan
dalam metode penanggalan radiokarbon.
Isobar adalah atom-atom dari unsur yang berbeda
(memiliki nomor atom Z yang berbeda) tetapi memiliki
nomor massa A yang sama. Isobar memiliki jumlah total
nukleon yang sama tetapi komposisi proton dan neutron
53
S. S. Zumdahl & S. A. Zumdahl, Chemistry, ed. ke-10, Cengage Learning, (2019).
berbeda, sehingga sifat kimia dan fisiknya berbeda karena
merupakan unsur yang berbeda.
Contoh: ⁴⁰Ar (Argon dengan 18 proton, 22 neutron) dan
⁴⁰Ca (Kalsium dengan 20 proton, 20 neutron) keduanya
memiliki nomor massa 40 tetapi merupakan unsur yang
berbeda dengan sifat yang sangat berbeda.
Isoton adalah atom-atom yang memiliki jumlah
neutron yang sama tetapi nomor atom dan nomor massa
yang berbeda. Isoton tidak harus berasal dari unsur yang
sama dan umumnya memiliki sifat yang berbeda karena
jumlah proton mereka berbeda54.
Contoh: ¹⁴C (6 proton, 8 neutron) dan ¹⁵N (7 proton, 8
neutron) keduanya memiliki 8 neutron, tetapi merupakan
unsur yang berbeda dengan sifat kimia yang berbeda.
6) Konfigurasi Elektron
Distribusi atau penyebaran elektron pada berbagai
kulit dan subkulit atom mengikuti aturan dan prinsip
tertentu yang didasarkan pada teori mekanika kuantum.
Konfigurasi elektron menentukan sifat kimia atom,
termasuk reaktivitas, jenis ikatan yang dapat dibentuk, dan
posisi dalam tabel periodik. Elektron mengisi orbital-orbital
54
J. R. Smith, Quantum Mechanical Model in Secondary Chemistry Education, Journal of Modern
Chemical Education, vol. 9, no. 1, hlm. 33–44, (2024).
berdasarkan tingkat energi, dengan orbital berenergi rendah
diisi terlebih dahulu sebelum orbital berenergi lebih tinggi.
Aturan Pengisian Elektron, yaitu55 :
a) Prinsip Aufbau, Prinsip ini menyatakan bahwa elektron
mengisi orbital dengan tingkat energi terendah terlebih
dahulu sebelum mengisi orbital dengan tingkat energi
yang lebih tinggi. Urutan pengisian orbital mengikuti
diagram Aufbau: 1s, 2s, 2p, 3s, 3p, 4s, 3d, 4p, 5s, 4d,
5p, 6s, 4f, 5d, 6p, 7s, 5f, 6d, 7p. Urutan ini dapat diingat
menggunakan diagram diagonal atau aturan (n+l), di
mana orbital dengan nilai (n+l) lebih rendah diisi
terlebih dahulu, dan jika (n+l) sama, orbital dengan nilai
n lebih rendah diisi terlebih dahulu.
b) Larangan Pauli (Pauli Exclusion Principle): Prinsip
yang dirumuskan oleh Wolfgang Pauli ini menyatakan
bahwa tidak ada dua elektron dalam satu atom yang
dapat memiliki keempat bilangan kuantum yang sama.
Akibatnya, satu orbital maksimum hanya dapat
ditempati oleh dua elektron dengan spin yang
berlawanan (satu spin up ↑ dan satu spin down ↓).
Prinsip ini menjelaskan mengapa setiap orbital s dapat
menampung maksimum 2 elektron, orbital p total 6
55
L. Murti, Analisis Kesulitan Siswa pada Materi Struktur Atom, Jurnal Pembelajaran Sains, 7(2),
80 (2022).
elektron (3 orbital × 2 elektron), orbital d total 10
elektron (5 orbital × 2 elektron), dan orbital f total 14
elektron (7 orbital × 2 elektron).
c) Aturan Hund (Hund's Rule): Aturan yang dikemukakan
oleh Friedrich Hund ini menyatakan bahwa elektron-
elektron akan mengisi semua orbital kosong dalam
subkulit dengan spin paralel (searah) terlebih dahulu
sebelum berpasangan dalam satu orbital. Hal ini terjadi
karena konfigurasi dengan elektron yang tidak
berpasangan sebanyak mungkin memiliki energi yang
lebih rendah dan lebih stabil karena meminimalkan
tolakan elektrostatik antar elektron. Misalnya, dalam
mengisi orbital 2p yang memiliki tiga orbital (2px, 2py,
2pz), elektron pertama, kedua, dan ketiga akan masing-
masing menempati orbital yang berbeda dengan spin
searah, baru kemudian elektron keempat akan
berpasangan dengan salah satu elektron yang sudah
ada56.
Contoh: Natrium (Na), Z = 11
Natrium memiliki 11 elektron yang perlu
didistribusikan dalam orbital-orbitalnya.
Konfigurasi elektron lengkap: 1s² 2s² 2p⁶ 3s¹
56
J. R. Smith, Quantum Mechanical Model in Secondary Chemistry Education, Journal of Modern
Chemical Education, 9(1), 33 (2024)
Konfigurasi elektron singkat: [Ne] 3s¹ (menggunakan
konfigurasi gas mulia Neon sebagai inti)
Penjelasan detail:
(1) Kulit pertama (n=1): 1s² → 2 elektron
(2) Kulit kedua (n=2): 2s² 2p⁶ → 2 + 6 = 8 elektron
(3) Kulit ketiga (n=3): 3s¹ → 1 elektron
(4) Total: 2 + 8 + 1 = 11 elektron ✓
Elektron pada subkulit 3s¹ adalah elektron valensi
natrium yang bertanggung jawab atas sifat kimia reaktif
natrium, terutama kecenderungannya untuk melepaskan
satu elektron dan membentuk ion Na⁺ dengan
konfigurasi elektron yang stabil seperti gas mulia
Neon57.
7) Kulit dan Subkulit Elektron
Kulit elektron adalah tingkat energi utama tempat
elektron berada dalam atom, yang diberi simbol dengan
bilangan kuantum utama n (n = 1, 2, 3, 4, ...) atau dengan
huruf K, L, M, N, O, P, Q. Setiap kulit memiliki kapasitas
maksimum elektron yang dapat ditampung, mengikuti
rumus 2n², di mana n adalah nomor kulit. Kulit pertama (K,
n=1) dapat menampung maksimum 2 elektron, kulit kedua
(L, n=2) maksimum 8 elektron, kulit ketiga (M, n=3)
57
R. H. Petrucci, F. G. Herring, J. D. Madura, & C. Bissonnette, General Chemistry: Principles
and Modern Applications, Pearson, 11th ed., 141 (2017).
maksimum 18 elektron, dan kulit keempat (N, n=4)
maksimum 32 elektron. Setiap kulit terbagi lagi menjadi
subkulit-subkulit yang diberi label s, p, d, dan f berdasarkan
bilangan kuantum azimut (l). Subkulit s (l=0) dapat
menampung 2 elektron, subkulit p (l=1) dapat menampung
6 elektron, subkulit d (l=2) dapat menampung 10 elektron,
dan subkulit f (l=3) dapat menampung 14 elektron. Jumlah
subkulit yang dapat ada dalam suatu kulit sama dengan
nilai n: kulit pertama hanya memiliki subkulit 1s, kulit
kedua memiliki 2s dan 2p, kulit ketiga memiliki 3s, 3p, dan
3d, dan seterusnya. Perbedaan energi antar kulit dan
subkulit ini menjelaskan mengapa elektron mengisi orbital
dalam urutan tertentu dan mengapa beberapa konfigurasi
elektron lebih stabil daripada yang lain58.
8) Orbital
Orbital adalah daerah ruang tiga dimensi di sekitar
inti atom dengan probabilitas atau kemungkinan terbesar
(sekitar 90-95%) untuk menemukan elektron. Konsep
orbital berbeda dengan orbit dalam model Bohr, karena
orbital tidak menggambarkan lintasan pasti elektron
melainkan fungsi probabilitas berdasarkan persamaan
gelombang Schrödinger. Setiap orbital dapat ditempati
58
J. T. Darby, Understanding Electron Configuration and Orbital Theory, International Journal of
Chemical Sciences, 11(3), 55 (2023).
maksimum oleh dua elektron dengan spin berlawanan.
Bentuk dan orientasi orbital ditentukan oleh bilangan
kuantum azimut (l) dan bilangan kuantum magnetik (m).
Bentuk-bentuk orbital:
a) Orbital s (l=0), Berbentuk bola simetris dengan inti
atom sebagai pusat. Setiap tingkat energi memiliki
satu orbital s (total 1 orbital). Ukuran orbital s
semakin besar dengan meningkatnya nilai n (1s < 2s
< 3s < 4s). Orbital s memiliki densitas elektron yang
tinggi di dekat inti dan tidak memiliki bidang nodal
angular.
b) Orbital p (l=1), Berbentuk seperti dua lobus simetris
yang terpisah oleh inti atom, menyerupai angka 8
atau halter. Setiap tingkat energi mulai n=2
memiliki tiga orbital p (px, py, pz) yang berorientasi
tegak lurus satu sama lain sepanjang sumbu x, y,
dan z (total 3 orbital). Orbital p memiliki satu
bidang nodal yang melewati inti. Ukuran orbital p
semakin besar dengan meningkatnya nilai n, dan
semuanya memiliki bentuk yang sama tetapi
berbeda orientasi59.
59
T. L. Brown, H. E. LeMay, B. E. Bursten, & C. Murphy, Chemistry: The Central Science,
Pearson, 13th ed., 215 (2017).
c) Orbital d (l=2), Memiliki bentuk yang lebih
kompleks dengan empat lobus (kecuali dz²). Setiap
tingkat energi mulai n=3 memiliki lima orbital d
(dxy, dxz, dyz, dx²-y², dz²) dengan orientasi ruang
yang berbeda (total 5 orbital). Empat orbital d (dxy,
dxz, dyz, dx²-y²) memiliki empat lobus yang
berorientasi di antara atau sepanjang sumbu
koordinat, sedangkan dz² memiliki bentuk yang
unik dengan dua lobus utama sepanjang sumbu z
dan cincin toroidal di bidang xy. Orbital d memiliki
dua bidang nodal.
d) Orbital f (l=3), Memiliki bentuk yang sangat
kompleks dengan banyak lobus, biasanya delapan
lobus dengan berbagai orientasi. Setiap tingkat
energi mulai n=4 memiliki tujuh orbital f (total 7
orbital). Orbital f penting untuk unsur-unsur
lantanida dan aktinida, yang memiliki elektron pada
subkulit 4f dan 5f. Orbital f memiliki tiga bidang
nodal dan bentuknya sangat sulit divisualisasikan.
Bentuk kompleks orbital d dan f menjelaskan sifat-
sifat unik unsur transisi dan unsur tanah jarang.
9) Bilangan Kuantum
Bilangan kuantum adalah seperangkat empat
bilangan yang digunakan untuk mendeskripsikan keadaan
dan posisi elektron dalam atom secara lengkap berdasarkan
solusi persamaan gelombang Schrödinger. Setiap elektron
dalam atom memiliki kombinasi unik dari keempat
bilangan kuantum ini sesuai dengan Prinsip Larangan Pauli.
Bilangan kuantum memberikan informasi tentang energi,
bentuk, orientasi, dan spin elektron60.
a) Bilangan Kuantum Utama (n): Menentukan tingkat
energi atau kulit elektron dan ukuran orbital. Nilai n
adalah bilangan bulat positif (n = 1, 2, 3, 4, ...).
Semakin besar nilai n, semakin jauh elektron dari
inti, semakin tinggi energinya, dan semakin besar
ukuran orbitalnya. Bilangan kuantum utama juga
menentukan jumlah maksimum subkulit yang dapat
ada dalam suatu kulit (sama dengan nilai n) dan
jumlah maksimum elektron dalam kulit (2n²).
b) Bilangan Kuantum Azimut/Angular (l):
Menentukan bentuk orbital dan subkulit tempat
elektron berada. Nilai l bergantung pada n, dengan
rentang dari 0 hingga (n-1). Untuk n=1, l=0
(subkulit s); untuk n=2, l=0,1 (subkulit s dan p);
60
J. C. Kotz, P. Treichel, J. Townsend, & D. Treichel, Chemistry & Chemical Reactivity, Cengage
Learning, 10th ed., 198 (2018).
untuk n=3, l=0,1,2 (subkulit s, p, dan d); untuk n=4,
l=0,1,2,3 (subkulit s, p, d, dan f). Nilai l=0 untuk
orbital s (bola), l=1 untuk orbital p (dumbbell), l=2
untuk orbital d (kompleks dengan empat/dua lobus),
dan l=3 untuk orbital f (sangat kompleks). Bilangan
kuantum azimut juga berkaitan dengan momentum
angular elektron dan jumlah bidang nodal dalam
orbital61.
c) Bilangan Kuantum Magnetik (m atau ml):
Menentukan orientasi orbital dalam ruang tiga
dimensi relatif terhadap medan magnet eksternal.
Nilai m bergantung pada l, dengan rentang dari -l
hingga +l, termasuk nol. Jumlah total nilai m yang
mungkin adalah (2l+1), yang sama dengan jumlah
orbital dalam subkulit. Untuk l=0 (s): m=0 (1
orbital); untuk l=1 (p): m=-1, 0, +1 (3 orbital);
untuk l=2 (d): m=-2, -1, 0, +1, +2 (5 orbital); untuk
l=3 (f): m=-3, -2, -1, 0, +1, +2, +3 (7 orbital).
Bilangan kuantum magnetik menjelaskan
degenerasi energi orbital dalam subkulit yang sama
(energi sama untuk semua orbital p, d, atau f dalam
subkulit yang sama tanpa medan magnet) dan efek
61
F. A. Cotton & G. Wilkinson, Advanced Inorganic Chemistry, Wiley, 5th ed., 87 (1988)
Zeeman (pemisahan tingkat energi dalam medan
magnet).
d) Bilangan Kuantum Spin (s atau ms): Menentukan
arah rotasi intrinsik elektron pada sumbunya sendiri.
Elektron dapat berputar searah jarum jam atau
berlawanan arah jarum jam, yang direpresentasikan
dengan nilai spin +½ (spin up, ↑) atau -½ (spin
down, ↓). Bilangan kuantum spin tidak tergantung
pada n, l, atau m. Prinsip Larangan Pauli
menyatakan bahwa dua elektron dalam satu orbital
harus memiliki spin berlawanan untuk memiliki set
bilangan kuantum yang unik. Spin elektron
menghasilkan momen magnetik kecil dan berperan
penting dalam sifat magnetik material serta dalam
spektroskopi resonansi spin elektron (ESR)62.
Contoh: Elektron terakhir dalam atom Natrium (Na,
1s² 2s² 2p⁶ 3s¹)
Elektron pada orbital 3s¹ memiliki bilangan
kuantum:
n = 3 (kulit ketiga, tingkat energi 3)
l = 0 (orbital s, bentuk bola)
m = 0 (hanya satu orientasi untuk orbital s)
62
S. Fajriah, Pengembangan Pemahaman Struktur Atom Melalui Model Representasi Ganda,
Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 5(1), 22 (2021).
s = +½ atau -½ (spin bisa naik atau turun)
10) Spektrum Atom
Spektrum atom adalah pola karakteristik dari radiasi
elektromagnetik yang dipancarkan atau diserap oleh atom
suatu unsur ketika elektron-elektronnya mengalami transisi
antar tingkat energi. Ketika elektron dalam atom menyerap
energi (dari panas, listrik, atau cahaya), elektron dapat
melompat dari tingkat energi rendah (keadaan dasar) ke
tingkat energi yang lebih tinggi (keadaan tereksitasi).
Proses ini disebut eksitasi dan memerlukan energi tepat
sesuai dengan selisih energi antara dua tingkat tersebut (ΔE
= E₂ - E₁)63. Elektron dalam keadaan tereksitasi bersifat
tidak stabil dan cenderung kembali ke tingkat energi yang
lebih rendah dengan melepaskan energi dalam bentuk foton
(partikel cahaya). Energi foton yang dipancarkan sama
dengan selisih energi antara dua tingkat tersebut dan
mengikuti persamaan Planck: E = hf = hc/λ, di mana h
adalah konstanta Planck (6,626 × 10⁻³⁴ J·s), f adalah
frekuensi cahaya, c adalah kecepatan cahaya, dan λ adalah
panjang gelombang. Fenomena ini menghasilkan spektrum
garis yang unik untuk setiap unsur, berbeda dengan
63
M. F. Awan, Modern Atomic Theory and Quantum Model Development, Journal of Chemical
Education, 45(2), 112 (2022).
spektrum kontinu yang dihasilkan oleh benda hitam atau zat
padat yang dipanaskan.
Jenis-jenis spektrum:
a) Spektrum emisi (pancaran): Terbentuk ketika atom
memancarkan cahaya saat elektron jatuh dari tingkat
energi tinggi ke rendah. Spektrum ini berupa garis-
garis terang pada latar belakang gelap, dengan
setiap garis mewakili transisi spesifik. Contoh
spektrum emisi hidrogen menunjukkan beberapa
deret garis seperti deret Lyman (transisi ke n=1,
daerah UV), deret Balmer (transisi ke n=2, daerah
cahaya tampak), deret Paschen (transisi ke n=3,
daerah inframerah dekat), dan deret Brackett serta
Pfund (inframerah jauh).64
b) Spektrum absorpsi (serapan): Terbentuk ketika atom
menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu
saat elektron melompat dari tingkat energi rendah
ke tinggi. Spektrum ini berupa garis-garis gelap
pada latar belakang spektrum kontinu, dengan garis
gelap muncul pada panjang gelombang yang sama
dengan garis terang dalam spektrum emisi unsur
tersebut. Spektrum absorpsi digunakan dalam
64
T. L. Brown, H. E. LeMay, B. E. Bursten, & C. Murphy, Chemistry: The Central Science,
Pearson, 13th ed., 219 (2017).
spektroskopi untuk mengidentifikasi unsur dalam
bintang, atmosfer planet, dan berbagai sampel
kimia.
Spektrum atom sangat penting dalam berbagai aplikasi
praktis seperti identifikasi unsur dalam analisis kimia
(spektroskopi atom), studi komposisi bintang dan galaksi
dalam astronomi, teknologi laser, pengembangan lampu
neon dan lampu fluoresens, kembang api (warna khas dari
unsur tertentu), dan uji nyala dalam laboratorium. Setiap
unsur memiliki "sidik jari spektral" yang unik karena
struktur tingkat energinya yang khas, memungkinkan
identifikasi pasti unsur bahkan dalam campuran kompleks
atau jarak yang sangat jauh seperti bintang-bintang65.
11) Keterkaitan Struktur Atom dengan Sifat Unsur
Struktur atom, khususnya konfigurasi elektron dan
jumlah elektron valensi, menentukan hampir semua sifat
kimia dan fisika suatu unsur. Hubungan antara struktur
atom dan sifat periodik unsur membentuk dasar sistem
periodik modern dan memungkinkan prediksi perilaku
kimia unsur.
Sifat-sifat yang ditentukan oleh struktur atom:
65
J. T. Darby, Understanding Electron Configuration and Orbital Theory, International Journal of
Chemical Sciences, 11(3), 59 (2023).
a) Jari-jari atom, Ukuran atom yang diukur dari inti
hingga elektron valensi terluar. Dalam satu periode
(baris horizontal tabel periodik), jari-jari atom
menurun dari kiri ke kanan karena peningkatan
muatan inti efektif menarik elektron lebih kuat
tanpa penambahan kulit elektron baru. Dalam satu
golongan (kolom vertikal), jari-jari atom meningkat
dari atas ke bawah karena penambahan kulit
elektron baru meskipun muatan inti bertambah. Jari-
jari ion berbeda dari jari-jari atom netral: kation (ion
positif) lebih kecil dari atom netralnya karena
kehilangan elektron dan peningkatan muatan inti
efektif per elektron, sedangkan anion (ion negatif)
lebih besar karena penambahan elektron
meningkatkan tolakan elektron-elektron66.
b) Energi ionisasi, Energi minimum yang diperlukan
untuk melepaskan satu elektron dari atom netral
dalam keadaan gas menjadi ion positif (A(g) →
A⁺(g) + e⁻). Energi ionisasi pertama adalah energi
untuk melepas elektron pertama, energi ionisasi
kedua untuk elektron kedua (selalu lebih besar), dan
seterusnya. Dalam satu periode, energi ionisasi
66
R. Chang & J. Overby, General Chemistry: The Essential Concepts, ed. ke-8, McGraw-Hill,
(2019).
cenderung meningkat dari kiri ke kanan karena
peningkatan muatan inti efektif membuat elektron
lebih kuat terikat. Dalam satu golongan, energi
ionisasi menurun dari atas ke bawah karena elektron
valensi lebih jauh dari inti dan lebih mudah dilepas.
Gas mulia memiliki energi ionisasi tertinggi karena
konfigurasi elektronnya yang sangat stabil,
sedangkan logam alkali memiliki energi ionisasi
terendah67.
c) Afinitas elektron, Perubahan energi yang terjadi
ketika atom netral dalam keadaan gas menangkap
satu elektron untuk membentuk ion negatif (A(g) +
e⁻ → A⁻(g)). Nilai afinitas elektron negatif
menunjukkan energi dilepaskan (proses
eksotermik), sedangkan nilai positif menunjukkan
energi diperlukan (endotermik). Unsur golongan 17
(halogen) seperti fluor dan klorin memiliki afinitas
elektron yang sangat negatif karena dengan
menangkap satu elektron mereka mencapai
konfigurasi oktet yang stabil. Dalam satu periode,
afinitas elektron umumnya menjadi lebih negatif
dari kiri ke kanan. Gas mulia memiliki afinitas
67
R. Chang & J. Overby, General Chemistry: The Essential Concepts, McGraw-Hill, 8th ed., 137
(2019).
elektron positif karena konfigurasi elektronnya
sudah stabil dan penambahan elektron akan
mengganggu kestabilan tersebut.
d) Keelektronegatifan, Skala keelektronegatifan yang
paling umum adalah skala Pauling (0-4). Fluor
adalah unsur paling elektronegatif (≈4,0), sedangkan
fransium paling elektropositif (≈0,7). Dalam satu
periode, keelektronegatifan meningkat dari kiri ke
kanan karena peningkatan muatan inti efektif.
Dalam satu golongan, keelektronegatifan menurun
dari atas ke bawah karena peningkatan jarak
elektron dari inti. Perbedaan keelektronegatifan
antara dua atom menentukan jenis ikatan yang
terbentuk: perbedaan kecil (<0,5) menghasilkan
ikatan kovalen nonpolar, perbedaan sedang (0,5-1,7)
menghasilkan ikatan kovalen polar, dan perbedaan
besar (>1,7) menghasilkan ikatan ionik68.
e) Sifat logam/non-logam, Karakter logam suatu unsur
ditentukan oleh kemudahannya melepas elektron
(energi ionisasi rendah, keelektronegatifan rendah).
Logam cenderung membentuk kation, memiliki
kilap logam, konduktor listrik dan panas yang baik,
68
S. Fajriah, Pengembangan Pemahaman Struktur Atom Melalui Model Representasi Ganda,
Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 5(1), 28 (2021).
dapat ditempa (malleable) dan ditarik (ductile),
serta memiliki titik leleh dan titik didih yang
umumnya tinggi. Non-logam cenderung menangkap
elektron (afinitas elektron tinggi, keelektronegatifan
tinggi), membentuk anion atau berbagi elektron
dalam ikatan kovalen, umumnya rapuh dalam
bentuk padat, isolator atau semikonduktor, dan
memiliki titik leleh dan titik didih yang lebih
rendah. Dalam tabel periodik, karakter logam
meningkat dari kanan ke kiri dalam satu periode dan
dari atas ke bawah dalam satu golongan. Metaloid
(semimetal) seperti silikon dan germanium memiliki
sifat antara logam dan non-logam, penting dalam
teknologi semikonduktor.
f) Kestabilan ion, Kecenderungan atom membentuk
ion tertentu ditentukan oleh seberapa dekat
konfigurasi elektronnya dengan konfigurasi gas
mulia (aturan oktet atau duplet untuk hidrogen dan
helium). Logam golongan 1 cenderung membentuk
ion +1 (Li⁺, Na⁺, K⁺), golongan 2 membentuk ion
+2 (Mg²⁺, Ca²⁺), golongan 13 membentuk ion +3
(Al³⁺), sedangkan non-logam golongan 17
membentuk ion -1 (F⁻, Cl⁻, Br⁻) dan golongan 16
membentuk ion -2 (O²⁻, S²⁻). Unsur transisi dapat
membentuk beberapa ion dengan muatan berbeda
karena elektron d dapat terlibat dalam pembentukan
ion. Ion yang mencapai konfigurasi oktet (8 elektron
valensi) atau duplet (2 elektron) sangat stabil dan
sulit bereaksi lebih lanjut. Ukuran ion dan rasio
muatan terhadap radius (kerapatan muatan) juga
mempengaruhi kestabilan, polarisasi, dan kekuatan
ikatan dalam senyawa ionik69.
e. Hubungan Penggunaan Alat Peraga dengan Pemahaman Belajar
Pembelajaran yang menggunakan alat peraga konkret dapat
meningkatkan rasa ingin tahu siswa karena mereka dapat berinteraksi
langsung dengan objek belajar. Proses belajar melalui pengalaman
langsung atau learning by doing terbukti mampu menarik perhatian siswa
dan meningkatkan fokus mereka. Ketika siswa dapat memanipulasi model
atom, mengamati dari berbagai sudut, dan bahkan membuat sendiri alat
peraga, mereka mengalami pembelajaran yang lebih menarik
dibandingkan pembelajaran pasif yang hanya melibatkan mendengarkan
dan mencatat70.
69
M. F. Awan, Modern Atomic Theory and Quantum Model Development, Journal of Chemical
Education, 45(2), 120 (2022).
70
S. Rahmawati, Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran konstruktivistik, Jurnal Pedagogik,
10(1), 71–80 (2024).
Dalam perspektif teori konstruktivisme, siswa membangun
pengetahuannya melalui interaksi aktif dengan media nyata, sehingga
penggunaan alat peraga sangat mendukung terbentuknya pemahaman yang
bermakna. Teori konstruktivisme menekankan bahwa pembelajaran adalah
proses aktif di mana siswa mengonstruksi pengetahuan baru berdasarkan
pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Alat peraga
menyediakan pengalaman konkret yang menjadi jembatan antara konsep
abstrak dan pemahaman siswa, memfasilitasi proses akomodasi dan
asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif siswa
Penelitian Andriani dan Yusuf menunjukkan bahwa penggunaan
alat peraga dalam pembelajaran kimia meningkatkan pemahaman belajar
siswa hingga 40% dibandingkan metode ceramah. Peningkatan yang
signifikan ini mengindikasikan bahwa alat peraga memiliki daya tarik
tersendiri bagi siswa. Alat peraga menciptakan variasi dalam
pembelajaran, mengurangi kebosanan, dan memberikan pengalaman
belajar yang lebih menarik. Siswa merasa lebih terlibat dalam
pembelajaran ketika mereka memiliki kesempatan untuk berinteraksi
dengan alat peraga, mengajukan pertanyaan, dan melakukan eksplorasi
sendiri71.
Selain itu, pembelajaran berbasis media konkret menciptakan
suasana kelas yang lebih hidup dan interaktif sehingga siswa lebih
termotivasi untuk mengikuti kegiatan belajar. Alat peraga juga
71
L. Andriani & H. Yusuf, Pengaruh media konkret terhadap pemahaman belajar kimia siswa
SMA, Jurnal Pendidikan Sains, 11(2), 55–63 (2023).
memfasilitasi pembelajaran kolaboratif, di mana siswa dapat bekerja
dalam kelompok untuk mengamati, mendiskusikan, dan menyimpulkan
konsep bersama-sama. Interaksi sosial ini tidak hanya meningkatkan
pemahaman konseptual tetapi juga mengembangkan keterampilan
komunikasi dan kerja sama siswa.
Dengan demikian, penggunaan alat peraga memiliki hubungan
langsung dengan peningkatan pemahaman belajar siswa. Alat peraga
berfungsi sebagai katalis yang mengubah pembelajaran dari yang berpusat
pada guru (teacher-centered) menjadi berpusat pada siswa (student-
centered), dari pasif menjadi aktif, dan dari abstrak menjadi konkret.
Ketika siswa merasakan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna,
dan sesuai dengan gaya belajar mereka, pemahaman belajar akan tumbuh
secara alami dan berkelanjutan, yang pada akhirnya berkontribusi pada
peningkatan hasil belajar dan pencapaian tujuan pembelajaran secara
optimal.
2. Kajian/ Penelitian Terdahulu
Kajian penelitian terdahulu digunakan untuk memberikan penguat
terkait deskripsi teoritik diatas, Adapun penelitian relavan pada penelitian
ini yaitu:
1. Penelitian oleh Hartono menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga
buatan sendiri pada materi ikatan kimia dapat meningkatkan
pemahaman dan partisipasi siswa melalui pengalaman belajar yang
lebih aktif. Dalam penelitiannya, Hartono menemukan bahwa siswa
menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi ketika mereka dapat
memanipulasi langsung model-model ikatan kimia yang dibuat dari
bahan sederhana. Alat peraga buatan sendiri tidak hanya memberikan
pengalaman menarik, tetapi juga menciptakan rasa kepemilikan
terhadap proses pembelajaran karena siswa merasa terlibat dalam
menciptakan media belajar mereka sendiri. Partisipasi aktif siswa
dalam kelas juga meningkat secara signifikan, terlihat dari frekuensi
bertanya dan berdiskusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional72.
2. Hal tersebut diperkuat oleh temuan Prasetyo dan Liani yang
menjelaskan bahwa siswa lebih mudah memahami konsep abstrak
ketika mereka berinteraksi langsung dengan media konkret yang
dirancang secara sederhana. Penelitian mereka mengungkapkan bahwa
konsep-konsep kimia yang bersifat abstrak, seperti struktur molekul
dan konfigurasi elektron, menjadi lebih mudah dipahami ketika
divisualisasikan melalui media konkret yang dapat dipegang dan
diamati siswa. Media konkret berfungsi sebagai jembatan antara
konsep teoritis dengan pemahaman praktis, sehingga membantu siswa
membangun skema mental yang lebih kuat. Prasetyo dan Liani juga
menekankan bahwa kesederhanaan desain alat peraga justru
72
R. Hartono, Pengaruh alat peraga buatan sendiri terhadap pemahaman dan partisipasi siswa
pada materi ikatan kimia, Jurnal Pendidikan Kimia, 7(1), 44–52 (2023).
memudahkan siswa untuk fokus pada konsep inti tanpa terdistraksi
oleh kompleksitas media yang berlebihan73.
3. Pada penelitian lain, Wulandari menemukan bahwa penggunaan alat
peraga meningkatkan kemampuan visualisasi siswa terhadap struktur
atom, sehingga pemahaman konsep menjadi lebih cepat dan tepat.
Wulandari menjelaskan bahwa kemampuan visualisasi merupakan
keterampilan kognitif penting dalam mempelajari kimia, terutama
untuk memahami fenomena pada tingkat mikroskopis yang tidak dapat
diamati secara langsung. Melalui penggunaan alat peraga seperti model
atom tiga dimensi, siswa dapat mengembangkan representasi mental
yang lebih akurat tentang susunan proton, neutron, dan elektron dalam
atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan
alat peraga memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dalam
menggambarkan struktur atom dibandingkan dengan siswa yang hanya
belajar melalui gambar dua dimensi di buku teks74.
4. Senada dengan itu, Putra dan Anggraini menyatakan bahwa media
konkret dalam pembelajaran kimia mampu menciptakan suasana kelas
yang lebih interaktif dan mendorong keterlibatan siswa secara
menyeluruh. Penelitian mereka mengidentifikasi bahwa penggunaan
media konkret mengubah dinamika kelas dari teacher-centered
menjadi student-centered, di mana siswa tidak lagi menjadi penerima
73
A. Prasetyo & S. Liani, Media konkret dan pengaruhnya terhadap pemahaman konsep abstrak
siswa SMA, Jurnal Teknologi Pembelajaran, 5(3), 101–110 (2023).
74
N. Wulandari, Penggunaan alat peraga dalam mengembangkan visualisasi konsep struktur
atom siswa, Jurnal Pembelajaran IPA, 9(1), 26–35 (2024).
informasi pasif tetapi menjadi peserta aktif yang mengeksplorasi dan
menemukan konsep sendiri. Interaksi antar siswa juga meningkat
melalui kegiatan kelompok yang melibatkan penggunaan alat peraga,
menciptakan pembelajaran kolaboratif yang memperkaya pemahaman
melalui diskusi dan pertukaran ide. Putra dan Anggraini
menyimpulkan bahwa keterlibatan menyeluruh ini berkontribusi pada
pembentukan sikap positif siswa terhadap mata pelajaran kimia75.
5. Penelitian terbaru oleh Mahendra menyimpulkan bahwa alat peraga
sederhana dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan
melalui aktivitas langsung yang menumbuhkan rasa ingin tahu siswa.
Mahendra mengamati bahwa suasana belajar yang menyenangkan
memiliki dampak psikologis positif, mengurangi kecemasan belajar
dan meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Aktivitas langsung dengan
alat peraga membangkitkan curiosity dan mendorong siswa untuk
mengajukan pertanyaan serta melakukan eksplorasi lebih lanjut.
Penelitian ini juga menemukan bahwa lingkungan belajar yang positif
tidak hanya meningkatkan pemahaman jangka pendek, tetapi juga
membangun fondasi untuk pembelajaran berkelanjutan dan sikap
ilmiah yang lebih baik. Mahendra merekomendasikan integrasi alat
peraga sederhana sebagai strategi rutin dalam pembelajaran kimia
untuk mempertahankan motivasi belajar siswa76.
75
D. Putra & L. Anggraini, Peran media konkret dalam meningkatkan interaksi kelas pada
pembelajaran kimia, Jurnal EduSains, 6(2), 58–67 (2024).
76
F. Mahendra, Penerapan alat peraga sederhana dalam menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan, Jurnal Inovasi Pendidikan, 10(1), 33–41 (2025).
6. Temuan lain dari Hidayat menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga
tidak hanya meningkatkan pemahaman belajar, tetapi juga
memengaruhi hasil belajar secara signifikan pada materi struktur atom.
Hidayat melakukan penelitian eksperimental yang membandingkan
hasil belajar siswa dengan dan tanpa penggunaan alat peraga, dan
menemukan perbedaan yang signifikan pada nilai rata-rata kedua
kelompok. Peningkatan hasil belajar ini terjadi pada semua tingkat
kemampuan kognitif, mulai dari mengingat, memahami, hingga
mengaplikasikan konsep struktur atom. Hidayat menjelaskan bahwa
alat peraga memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan yang lebih
mendalam karena melibatkan multiple sensory channels dalam
pembelajaran77.
Dari berbagai hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
penggunaan alat peraga sederhana terbukti berkontribusi positif
terhadap peningkatan pemahaman belajar dan pemahaman konsep
kimia, baik dari aspek afektif maupun kognitif siswa.
3. Kerangka Berpikir
Pembelajaran kimia pada materi struktur atom sering dianggap
sulit oleh siswa karena konsepnya bersifat abstrak dan tidak dapat diamati
secara langsung. Kondisi ini menyebabkan siswa kurang mampu
memvisualisasikan model-model atom, sehingga pemahaman belajar
mereka cenderung rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu
77
M. Hidayat, Efektivitas alat peraga sederhana dalam meningkatkan hasil belajar struktur atom,
Jurnal Sains dan Pembelajaran, 8(2), 77–85 (2025).
menggunakan media pembelajaran yang mampu menjembatani konsep
abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami.
Salah satu media yang dapat digunakan adalah alat peraga
sederhana. Penggunaan alat peraga sederhana memungkinkan siswa
melihat representasi nyata dari konsep atom, seperti model atom Bohr,
susunan elektron, atau bagian-bagian atom. Ketika siswa dapat melihat dan
memanipulasi model tersebut secara langsung, proses pembelajaran
menjadi lebih interaktif, menyenangkan, serta mendorong aktivitas belajar
yang lebih tinggi.
Penggunaan alat peraga sederhana juga membantu menciptakan
suasana belajar yang lebih menarik. Siswa tidak hanya mendengar
penjelasan guru, tetapi ikut terlibat secara langsung dalam proses
pembelajaran, seperti mengamati, menyusun model, atau berdiskusi.
Aktivitas-aktivitas ini secara tidak langsung meningkatkan rasa ingin tahu,
perhatian, dan ketertarikan siswa terhadap materi yang dipelajari.
Gambar 5 Diagram Kerangka Berpikir
Dengan demikian, penggunaan alat peraga sederhana dipandang
mampu meningkatkan pemahaman belajar siswa. Alat peraga berfungsi
sebagai stimulus yang membuat informasi lebih mudah dipahami dan
menarik, sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. Alur logika
penelitian ini menunjukkan bahwa semakin efektif penggunaan alat peraga
sederhana, semakin tinggi pula pemahaman belajar siswa.
4. Hipotesis
Berdasarkan teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan
sebelumnya, maka hipotesis penelitian ini yaitu :
H0:Tidak terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan alat peraga
sederhana terhadap pemahaman belajar siswa pada materi struktur atom
siswa kelas X di MAN Tapanuli Selatan.
H1:Terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan alat peraga sederhana
terhadap pemahaman belajar siswa pada materi struktur atom siswa kelas
X di MAN Tapanuli Selatan.
Adapun kriterianya adalah Jika t > t
Hitung Tabel maka H0 ditolak dan H1
diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan alat
peraga sederhana terhadap pemahaman belajar siswa.
I. Metodologi Penelitian
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MAN Tapanuli Selatan, yang
beralamat di Jl. Trans Sumatera Bukittinggi , Desa Sipange Julu, Kec.
Sayur matinggi, Kab. Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pemilihan lokasi
ini didasarkan pada pertimbangan bahwa sekolah tersebut menerapkan
pembelajaran kimia pada tingkat SMA dan memiliki fasilitas serta kondisi
belajar yang sesuai untuk pelaksanaan penelitian ini.
Waktu penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Januari sampai
Maret 2025, yang mencakup tahap persiapan instrumen, pengumpulan
data, hingga analisis hasil penelitian.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan
menggunakan metode eksperimen semu (quasi experiment). Desain yang
digunakan adalah Pretest–Posttest Control Group Design, yaitu suatu
desain yang melibatkan dua kelompok: kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Kedua kelompok diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan
awal siswa sebelum perlakuan diberikan78.
Pada kelas eksperimen, siswa diberikan pembelajaran dengan
menggunakan alat peraga sederhana sebagai media bantu dalam
memahami materi struktur atom. Sementara itu, kelas kontrol memperoleh
pembelajaran dengan metode konvensional, yaitu pembelajaran tanpa
penggunaan alat peraga dan lebih berfokus pada metode ceramah serta
penjelasan teori dari guru.
Setelah proses pembelajaran berlangsung, kedua kelas diberikan
posttest untuk mengetahui perbedaan peningkatan pemahaman dan
pemahaman siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Perbandingan hasil
pretest dan posttest dari kedua kelompok inilah yang menjadi dasar untuk
melihat pengaruh penggunaan alat peraga sederhana terhadap pemahaman
belajar siswa pada materi struktur atom.
Tabel [Link] Penelitian
78
A. Siregar, Pengaruh media konkret terhadap pemahaman konsep struktur atom siswa kelas X,
Jurnal Edukimia, 5(2), 98–108 (2023).
Kelompok Pretest Perlakuan Posttest
Kelas O₁ X O₂
Eksperimen (Pembelajaran
dengan alat
peraga
sederhana)
Kelas O₃ – O₄
Kontrol (Pembelajaran
konvensional)
3. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini berupa tes hasil
belajar yang diberikan dalam dua tahap, yaitu pretest dan posttest. Pretest
diberikan sebelum perlakuan untuk mengetahui kemampuan awal serta
pemahaman belajar siswa terhadap materi struktur atom. Posttest
diberikan setelah perlakuan untuk melihat peningkatan pemahaman dan
pemahaman konsep siswa setelah penggunaan alat peraga sederhana dalam
pembelajaran struktur atom79.
Tes yang digunakan berbentuk pilihan ganda dan pernyataan
pemahaman belajar menggunakan skala Likert. Instrumen ini disusun
berdasarkan indikator pembelajaran pada materi struktur atom serta
indikator pemahaman belajar yang meliputi ketertarikan, perhatian,
keterlibatan, dan motivasi siswa. Instrumen telah melalui proses validasi
ahli (expert judgment) untuk memastikan kesesuaian isi, konstruk, dan
bahasa80.
79
N. R. Lubis dan T. Harahap, “Peningkatan pemahaman belajar siswa melalui penggunaan alat
peraga sederhana pada materi kimia abstrak,” Jurnal Teknologi dan Pendidikan, vol. 10, no. 2,
2025, hlm. 77–88.
80
S. A. Putri dan Y. Ramadhan, “Implementasi alat peraga dalam pembelajaran struktur atom
untuk meningkatkan keterlibatan siswa,” Jurnal Pendidikan Sains Modern, vol. 6, no. 3, 2024,
Tabel 3.1 Instrumen Pengumpulan Data Pretest dan Posttest
No Jenis Waktu Bentuk Tujuan Keterangan
Instrumen Pemberian Instrumen Penggunaan
1 Tes Sebelum Tes pilihan Mengetahui Mengukur
Pretest perlakuan ganda kemampuan pemahaman
(kelas materi awal siswa awal dan
eksperimen Struktur sebelum pemahaman
dan kontrol) Atom diterapkannya belajar dasar
alat peraga
sederhana
2 Tes Setelah Tes pilihan Mengetahui Dibandingkan
Posttest perlakuan ganda peningkatan dengan hasil
materi pemahaman pretest
Struktur dan
Atom pemahaman
belajar setelah
perlakuan
3 Observasi Selama Lembar Menilai Digunakan
Aktivitas pembelajaran observasi aktivitas, oleh observer
Belajar keterlibatan,
dan respons
siswa saat
penggunaan
alat peraga
sederhana
4. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
a. Uji Validitas
Validitas sadalah suatu alat untuk mengukur tingkat kevalidan
dan keselisihan instrumen. Karena butir soal yang berbentuk objektif
dapat diketahui, validitas tes dapat diuji dengan menggunakan rumus
korelasi product moment81.
hlm. 120–130.
81
M. Hidayat dan D. Lestari, “Efektivitas media pembelajaran sederhana dalam meningkatkan
pemahaman belajar siswa pada materi kimia dasar,” Jurnal Inovasi Pembelajaran Sains, vol. 9,
no. 1, 2024, hlm. 55–64.
Validitas merupakan ketepatan alat ukur untuk mengukur apa yang
seharusnya diukur dan sejauhmana informasi yang terungkap dapat
diinterpretasikan sebagai data yang objektif82. Hasil penelitian dapat
dikatakan valid apabila data yang diperoleh dan data yang benar-benar
terjadi pada objek yang diteliti. Rumus korelasi point biserial
digunakan untuk menguji validitas instrumen tes berupa pilihan ganda
(multiple choice). Test dikatakan valid jika rhitung > rtabel, dan tidak valid
jika valid jika rhitung < rtabel. Dengan menggunakan rumus ini:
r XY =N ∑ XY −¿ ¿ ¿
Keterangan:
rxy: koefesien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel
yang dikorelasikan.
Harga r hitung pada tabel korelasi product moment dengan N = 32
pada taraf signifikan 5% jika rxy> rtabel dinyatakan valid dan
sebaliknya jika rxy< rtabel dinyatakan tidak valid.
b. Uji Reabilitas
Reliabilitas adalah aspek kepercayaan, yang berarti bahwa suatu tes
dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila dapat menghasilkan
hasil yang konsisten. Untuk mengukur reliabilitas instrumen, suatu tes
biasanya diuji dalam bentuk esai dengan nilai numerik yang berkisar
82
A. Siregar, “Pengaruh media konkret terhadap pemahaman konsep struktur atom siswa kelas X,”
Jurnal Edukimia, vol. 5, no. 2, 2023, hlm. 98–108.
dari -1 > 0 > +1, semakin tinggi koefisien suatu tes, semakin
reliabilitasnya. Begitu juga sebaliknya, koefisien rendah menunjukkan
reliabilitas suatu tes rendah. Berikut ini rumus yang digunakan untuk
mencari realibilitas soal essay, yaitu:
( )( ∑Si
)
2
n
r ₁₁= 1 2
n−1 Si
Keterangan:
r11 : koefisisen realibitas tes
n : banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes
1 : bilangan konstanta
∑ 𝑆𝑖2 : jumlah varian skor dari tiap-tiap butir item
𝑆𝑡2 : varian total
Selain itu, reliabilitas juga berfungsi untuk memastikan bahwa
instrumen tes benar-benar stabil dan bebas dari kesalahan pengukuran
yang bersifat acak. Dalam konteks penelitian pendidikan, reliabilitas
yang tinggi menunjukkan bahwa instrumen mampu mengukur
kemampuan atau pemahaman belajar siswa secara konsisten meskipun
digunakan pada waktu atau kondisi yang berbeda. Oleh karena itu,
proses pengujian reliabilitas menjadi langkah penting agar hasil
penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan
menggunakan rumus reliabilitas tes esai sebagaimana dijelaskan,
peneliti dapat mengetahui sejauh mana setiap butir soal memberikan
kontribusi terhadap konsistensi total instrumen. Jika koefisien
reliabilitas mendekati +1, maka instrumen dianggap sangat andal dan
layak digunakan dalam penelitian.
5. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif, yaitu suatu teknik
analisis yang penganalisaannya dilakukan dengan perhitungan karena
berhubungan dengan angka, yaitu hasil tes yang diberikan pada siswa.
Penganalisaan dilakukan dengan membandingkan hasil tes kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Data soal tes hasil belajar yang diperoleh
kemudian diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Setiap butir soal diberikan skor berdasarkan pedoman kunci
jawaban yang telah dibuat.
b. Memberikan skor mentah pada setiap jawaban siswa pada tes
tertulis berbentuk essai berdasarkan standar jawaban yang telah
dibuat.
c. Menghitung skor total dari tes esai untuk masing-masing siswa.
d. Menentukan nilai persentase hasil belajar pada masingmasing
indikator.
Menurut Hartono perhitungan nilai persentase dicari dengan
menggunakan rumus sebagai berikut83:
R
NP= X 100 %
SM
83
R. Hartono, “Pengaruh alat peraga buatan sendiri terhadap pemahaman dan partisipasi siswa
pada materi ikatan kimia,” Jurnal Pendidikan Kimia, vol. 7, no. 1, 2023, hlm. 44–52.
Keterangan:
NP = Nilai persen yang dicari
R = Skor mentah yang diperoleh siswa
SM = Skor maksimum ideal
100 = Bilangan tetap.
Selain langkah-langkah tersebut, analisis kuantitatif juga dilakukan
untuk melihat perbedaan peningkatan hasil belajar antara kelas
eksperimen yang menggunakan alat peraga sederhana dan kelas
kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Setelah nilai
persentase hasil belajar siswa dihitung, data kemudian dianalisis
menggunakan statistik deskriptif dan inferensial untuk mengetahui
kecenderungan nilai, sebaran data, serta signifikansi perbedaan kedua
kelompok. Analisis ini bertujuan memberikan gambaran objektif
mengenai efektivitas penggunaan alat peraga sederhana dalam
meningkatkan hasil belajar dan pemahaman siswa pada materi struktur
atom. Dengan demikian, seluruh prosedur analisis dilakukan secara
sistematis agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah dan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap
pengembangan pembelajaran kimia di sekolah.
a. Uji Prasyarat.
1) Uji Normalitas.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui
kenormalan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk
menghitung kenormalannya digunakan rumus Chi Kuadrat,
yaitu:
k
( f 0 −f i ) ²
X =∑
2
i=1 fi
Keterangan:
X2 : harga Chi kuadrat
K : jumlah kelas interval
f0 : frekuansi kelompok
fi : frekuensi yang diharapkan
Harga Chi kuadrat digunakan taraf signifikan 5% dan
derajat X2hitung < X2tabel. maka distribusi sampel normal.
2). Uji Homogenitas Varians
Uji homogenitas varians digunakan untuk mengetahui
apakah kedua kelas mempunyai varians yang sama atau
tidak. Jika kedua kelompok mempunyai varians yang sama
maka kedua kelompok kelas tersebut dikatakan homogen.
Uji statistiknya menggunakan uji F dengan rumus:
2
S1
F hitung = 2
S2
Keterangan:
2
S1 : varians terbesar
2
S2 : varians terkecil
Kriteria pengujian adalah H0 diterima jika Fhitung ≥ Ftabel
berarti tidak homogen, dan jika Fhitung ≤ Ftabel berarti
dinyatakan homogen. Dengan taraf 5% dan dk pembilang
=(n1-1), dk penyebut (n2-1).
b. Uji Hipotesis
Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat
oleh peneliti bagi problema yang akan diajukan dalam penelitian.
Uji hipotesis dilakukan terhadap data Pretest dan posttest. Uji
hipotesis pada data Pretest untuk melihat keadaan awal apakah
sampel layak
digunakan untuk penelitian atau tidak. Sedangkan uji hipotesis
pada data posttest digunakan untuk melihat apakah pengaruh
penggunaan alat peraga sederhana terhadap pemahaman belajar
siswa. Berikut ini rumus uji hipotesis, yaitu:
Keterangan:
x 1= Rata-rata sampel 1
x 2= Rata-rata sampel 2
S1 = Simpangan baku sampel 1
S2 = Simpangan baku sampel 2
S12 =Varians sampel 1
S22 =Varians sampel 2
r = Korelasi antara dua sampel84
Adapun ketentuannya dengan taraf signifikansi = 0,05 yaitu
sebagai berikut:
Jika thitung > ttabel, maka H0 diterima
Jika thitung < ttabel, maka H0 ditolak.
J. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini disusun secara runtut untuk
memudahkan pemahaman terhadap alur penelitian yang dilakukan. Pembahasan
diawali dengan penyajian hasil analisis data pretest dan posttest pada kelas
eksperimen serta kelas kontrol, yang bertujuan untuk melihat perbedaan
kemampuan awal dan peningkatan pemahaman belajar siswa setelah perlakuan
diberikan. Selanjutnya, hasil analisis tersebut dijelaskan secara mendalam melalui
interpretasi nilai statistik deskriptif dan inferensial, termasuk uji normalitas, uji
homogenitas varians, serta uji hipotesis yang digunakan untuk menentukan
apakah penggunaan alat peraga sederhana memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap pemahaman belajar siswa. Pembahasan juga mengaitkan temuan
penelitian dengan teori-teori yang telah dijelaskan pada landasan teori serta hasil-
hasil penelitian terdahulu, sehingga dapat memberikan penjelasan komprehensif
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pemahaman belajar siswa.
84
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D)
Cet. Ke-23 (Bandung: Alfabeta, 2019), hlm. 38.
Di bagian akhir, pembahasan menguraikan implikasi hasil penelitian bagi
pembelajaran kimia, keterbatasan penelitian, serta rekomendasi untuk penelitian
lanjutan maupun pengembangan praktik pembelajaran yang lebih efektif
menggunakan alat peraga sederhana.
Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang masalah yang menjelaskan alasan perlunya
penelitian mengenai penggunaan alat peraga sederhana dalam meningkatkan
pemahaman belajar siswa pada materi struktur atom. Selain itu, bab ini juga
mencakup identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, serta manfaat penelitian baik secara teoritis maupun praktis.
Keseluruhan isi Bab 1 dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh
tentang urgensi dan arah penelitian.
Bab II Landasan Teori
Bab ini berisi landasan teori yang mendukung penelitian, meliputi konsep-
konsep terkait alat peraga sederhana, teori belajar, pemahaman belajar, serta
materi struktur atom. Selain itu, bab ini juga memuat hasil penelitian terdahulu
yang relevan sebagai penguat argumentasi bahwa penggunaan alat peraga dapat
memberikan kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar. Kajian teori disusun
sistematis untuk menjadi dasar dalam penyusunan kerangka berpikir dan hipotesis
penelitian.
Bab III Metodologi Penelitian
Bab ini menguraikan secara rinci metode penelitian yang digunakan, termasuk
jenis penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, desain eksperimen,
instrumen pengumpulan data, prosedur pelaksanaan penelitian, serta teknik
analisis data seperti uji normalitas, homogenitas, dan uji hipotesis. Bab ini
memastikan bahwa penelitian dapat direplikasi secara valid dan reliabel oleh
peneliti lainnya.
Bab IV Hasil Dan pembahasan Penelitian
Bab ini memuat penyajian hasil penelitian berupa data pretest dan posttest dari
kelas eksperimen dan kelas kontrol, dilengkapi dengan analisis statistik deskriptif
dan inferensial. Hasil tersebut kemudian dibahas dengan menghubungkannya pada
teori yang telah dikaji serta temuan penelitian terdahulu. Dalam bab ini juga
dijelaskan faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan pemahaman belajar siswa
setelah penggunaan alat peraga sederhana.
Bab V Penutup
Bab terakhir ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari penelitian, yang
menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan pada Bab 1. Selain itu, bab ini
juga memuat saran yang ditujukan kepada guru, sekolah, dan peneliti selanjutnya
agar dapat memanfaatkan alat peraga sederhana dalam pembelajaran maupun
mengembangkan penelitian lebih lanjut pada materi atau konteks yang berbeda.
DAFTAR PUSKATA
Amelia, R. N. (2024). Developing and validating a rubric for measuring skills.
Jurnal Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
Andriani, L., & Yusuf, H. (2023). Pengaruh media konkret terhadap minat belajar
kimia siswa SMA. Jurnal Pendidikan Sains, 11(2), 55–63.
Assessment for Learning. (2024). A summary of concepts, tactics and strategies.
(Review article).
Brown, T. L., LeMay, H. E., Bursten, B. E., & Murphy, C. (2017). Chemistry:
The Central Science (13th ed.). Pearson.
Chang, R., & Overby, J. (2019). General Chemistry: The Essential Concepts (8th
ed.). McGraw-Hill.
Cheng, Y. P., et al. (2025). LUPDA: A comprehensive rubrics-based assessment.
International Journal (Springer).
Cotton, F. A., & Wilkinson, G. (1988). Advanced Inorganic Chemistry (5th ed.).
Wiley.
Darby, J. T. (2023). Understanding Electron Configuration and Orbital Theory.
International Journal of Chemical Sciences, 11(3), 55–68.
Ebbing, D. D., & Gammon, S. D. (2016). General Chemistry (11th ed.). Houghton
Mifflin.
Fajriah, S. (2021). “Pengembangan Pemahaman Struktur Atom Melalui Model
Representasi Ganda.” Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 5(1), 22–30.
Hakim, R. (2023). Media pembelajaran dalam meningkatkan kualitas interaksi
kelas. Jurnal Teknologi Pendidikan, 9(1), 12–20.
Hariani, L., & Siregar, D. (2024). Penggunaan media konkret dalam
meningkatkan aktivitas belajar sains. Jurnal Inovasi Pembelajaran, 9(1),
45–53.
Hartono, R. (2023). Pengaruh alat peraga buatan sendiri terhadap minat dan
partisipasi siswa pada materi ikatan kimia. Jurnal Pendidikan Kimia, 7(1),
44–52.
Hartono, R. (2023). Pengaruh alat peraga buatan sendiri terhadap minat dan
partisipasi siswa pada materi ikatan kimia. Jurnal Pendidikan Kimia, 7(1),
44–52.
Hasanah, N. (2023). Pengaruh lingkungan belajar terhadap motivasi belajar siswa.
Jurnal Pendidikan Sains, 11(2), 88–95.
Hidayat, M. (2025). Efektivitas alat peraga sederhana dalam meningkatkan hasil
belajar struktur atom. Jurnal Sains dan Pembelajaran, 8(2), 77–85.
Hidayat, M., & Lestari, D. (2024). Efektivitas media pembelajaran sederhana
dalam meningkatkan minat belajar siswa pada materi kimia dasar. Jurnal
Inovasi Pembelajaran Sains, 9(1), 55–64.
Hidayat, R. (2021). Efektivitas Penggunaan Alat Peraga Berbasis Model Atom
dalam Pembelajaran Struktur Atom. Jurnal Pendidikan Sains, 9(2), 112–
120.
Khoiri, N. (2020). Pelatihan Penggunaan Alat Peraga Struktur Atom untuk Guru
Kimia SMA. Jurnal Pengabdian Masyarakat Sains, 5(1), 45–52.
Kotz, J. C., Treichel, P., Townsend, J., & Treichel, D. (2018). Chemistry &
Chemical Reactivity (10th ed.). Cengage Learning.
Kurniawan, A. (2025). Efektivitas alat peraga dalam meningkatkan interaksi
pembelajaran. Jurnal Inovasi Pembelajaran, 7(1), 44–52.
Lestari, N. (2024). Hubungan antara minat belajar dan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPA. EduScience Journal, 5(3), 88–96.
Lubis, N. R., & Harahap, T. (2025). Peningkatan minat belajar siswa melalui
penggunaan alat peraga sederhana pada materi kimia abstrak. Jurnal
Teknologi dan Pendidikan, 10(2), 77–88.
Mahendra, F. (2025). Penerapan alat peraga sederhana dalam menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan. Jurnal Inovasi Pendidikan, 10(1),
33–41.
Mawardi, R. (2023). Efektivitas alat peraga sederhana dalam pembelajaran kimia
di SMA. Jurnal EduKimia, 7(3), 120–129.
Mursalin, E. (2025). Authentic assessment based on teaching and learning. Jurnal
Pendidikan Universitas Tidar.
Murti, L. (2022). “Analisis Kesulitan Siswa pada Materi Struktur Atom.” Jurnal
Pembelajaran Sains, 7(2), 89–98.
Nasution, F. (2025). Penggunaan media konkret dalam pembelajaran kimia untuk
meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa. Jurnal Edukasi Sains, 8(1),
20–29.
Petrucci, R. H., Herring, F. G., Madura, J. D., & Bissonnette, C. (2017). General
Chemistry: Principles and Modern Applications (11th ed.). Pearson
Education.
Prasetyo, A., & Liani, S. (2023). Media konkret dan pengaruhnya terhadap
pemahaman konsep abstrak siswa SMA. Jurnal Teknologi Pembelajaran,
5(3), 101–110.
Pratama, B. (2023). Konsep struktur atom dan implikasinya dalam pembelajaran
kimia. Jurnal Kimia Dasar, 4(2), 33–42.
Putra, D., & Anggraini, L. (2024). Peran media konkret dalam meningkatkan
interaksi kelas pada pembelajaran kimia. Jurnal EduSains, 6(2), 58–67.
Putri, A. N. (2023). Hubungan keterlibatan siswa dan minat belajar pada
pembelajaran sains. Jurnal Psikologi Pendidikan, 6(4), 201–210.
Putri, S. A., & Ramadhan, Y. (2024). Implementasi alat peraga dalam
pembelajaran struktur atom untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Jurnal
Pendidikan Sains Modern, 6(3), 120–130.
Rahmawati, S. (2024). Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran
konstruktivistik. Jurnal Pedagogik, 10(1), 71–80.
Rambe, F. (2024). Tantangan pembelajaran struktur atom di sekolah menengah.
Jurnal Pembelajaran Kimia, 8(1), 33–41.
Rambe, S. (2022). Karpet Kimia sebagai Alat Peraga untuk Meningkatkan
Pemahaman Siswa pada Materi Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur.
Jurnal Inovasi Pembelajaran Kimia, 4(1), 30–38.
Rusman. (2023). Model pembelajaran berbasis media sederhana. Bandung: Graha
Edukasi.
Sardiman, A. M. (2024). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta:
Rajawali Pers.
Sheptian, R. (2024). Developing a validated essay-based assessment instrument.
Jurnal Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.
Sihombing, D. (2025). Analisis kesulitan belajar siswa pada materi struktur atom.
Jurnal Pendidikan Kimia, 8(1), 25–34.
Silaban, R. (2020). “Konstruksi Konsep Struktur Atom dalam Pembelajaran
Kimia SMA.” Jurnal EduKimia, 12(1), 14–25.
Siregar, A. (2023). Pengaruh media konkret terhadap pemahaman konsep struktur
atom siswa kelas X. Jurnal Edukimia, 5(2), 98–108.
Siregar, A. (2023). Pengaruh media konkret terhadap pemahaman konsep struktur
atom siswa kelas X. Jurnal Edukimia, 5(2), 98–108.
Slameto. (2023). Belajar dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Smith, J. R. (2024). “Quantum Mechanical Model in Secondary Chemistry
Education.” Journal of Modern Chemical Education, 9(1), 33–44.
Suryana, A. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Sederhana untuk
Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa pada Mata Pelajaran Kimia.
Jurnal Edukimia, 8(2), 89–98.
Suwardi, S. (2019). Pengaruh Penggunaan Alat Peraga terhadap Hasil Belajar
Siswa pada Konsep-Konsep Abstrak IPA. Jurnal Pendidikan IPA, 6(1),
55–63.
Wertheim, J. (2025). A new rubric designed for teaching and learning. Teaching
& Teacher Education, Taylor & Francis.
Widodo, S. (2025). Model visual atom sebagai media untuk meningkatkan
pemahaman konsep siswa. Jurnal Media Pembelajaran, 10(1), 15–24.
Winarno, A., & Putri, D. (2024). Penerapan model atom sederhana dalam
meningkatkan pemahaman konsep siswa. Jurnal Pembelajaran IPA, 6(2),
102–110.
Zumdahl, S. S., & Zumdahl, S. A. (2019). Chemistry (10th ed.). Cengage
Learning.