BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Kabupaten Ende
4.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah
Kabupaten Ende merupakan salah satu dari 22 Kabupaten/Kota di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki luas wilayah sebesar 2.046,59 km2,
dengan batas-batas sebagai berikut:
• Sebelah Utara : Laut Flores
• Sebelah Timur : Kabupaten Sikka
• Sebelah Selatan : Laut Sawu
• Sebelah Barat : Kabupaten Nagekeo
Secara administrasi terdiri atas 21 Kecamatan, 255 Desa, 23 Kelurahan,
dan 893 dusun/lingkungan. Kecamatan dengan wilayah terluas adalah Kecamatan
Nangapanda (10,42%), diikuti Detukeli, Kotabaru dan Ende, sedangkan wilayah
terkecil adalah Kecamatan Ndori (0,29%). Berdasarkan jenis pemerintahan,
terdapat 2 (dua) kecamatan yang seluruh wilayah merupakan kelurahan yaitu
Kecamatan Ende Selatan dan Ende Tengah, 10 (sepuluh) kecamatan yang tidak
mempunyai pemerintahan Kelurahan dan 9 (sembilan) kecamatan memiliki unsur
pemerintahan desa dan kelurahan.
Secara umum, wilayah Ende terbagi menjadi tiga kawasan berdasarkan
kondisinya, yaitu:
31
32
1. Wilayah Pedalaman
Wilayah pedalaman di Kabupaten Ende meliputi 163 Desa/Kelurahan,
yang tersebar pada 15 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Nangapanda, Pulau
Ende, Ende, Ndona, Detusoko, Wewaria, Wolowaru, Wolojita, Maurole,
Maukaro, Lio Timur, Kotabaru, Kelimutu, Ende Utara, dan Kecamatan
Ende Timur.
2. Wilayah Terpencil
Wilayah terpencil di Kabupaten Ende meliputi 90 desa, yang tersebar pada
13 kecamatan, yaitu: Kecamatan Nangapanda, Ende, Ndona, Wewaria,
Wolowaru, Maurole, Maukaro, Lio Timur, Kotabaru, Detukeli, Ndona
Timur, Ndori, dan Kecamatan Lepembusu Kelisoke.
3. Kawasan Pesisir/Kepulauan
Keberadaan kawasan pesisir yang ada di Kabupaten Ende terdiri dari
wilayah pesisir bagian utara dan selatan, yaitu:
a. Kawasan Pesisir Utara, meliputi : Kecamatan Maukaro, Maurole,
Wewaria dan dan Kotabaru.
b. Kawasan Pesisir Selatan, meliputi : Kecamatan Nangapanda, Ende,
Ende Utara, Ende Selatan, Ndona, Wolojita, Wolowaru, Ndori, Lio
Timur dan Pulau Ende.
c. Selain kawasan pesisir di Kabupaten Ende terdapat satu pulau kecil,
yaitu : Pulau Ende.
33
4. Kawasan Pegunungan
Hampir sebagain besar wilayah Kabupaten Ende merupakan pegunungan
dan terdapat 2 (dua) gunung berapi aktif, yaitu : Gunung Iya dan Gunung
Kelimutu serta merupakan areal kawasan hutan lindung dengan
keberadaan Taman Nasional Kelimutu dan Hutan Kemam Boleng yang
berada pada wilayah bagian tengah pegunungan yang ada di Kabupaten
Ende.
Kondisi topografi Kabupaten Ende terdiri atas perbukitan dan
pengunungan yang menempati wilayah tengah dan selatan dan dataran rendah
dengan sedikit perbukitan berada di wilayah utara. Secara keseluruhan terdapat
20,60 % wilayah kabupaten Ende (421 km2) berada pada ketinggian lebih dari 500
meter diatas permukaan laut (dpl). Kecamatan dengan tinggi rata-rata terbesar
adalah Ndona Timur (1.148 m dpl), dan yang paling rendah adalah Ende Selatan
(306 m dpl). Berdasarkan kemiringan tanah (lereng), sebagian besar wilayah
Kabupaten Ende (58,40 % atau ± 1.195 km2) berada pada kemiringan diatas 40%.
Pembagian wilayah Kabupaten Ende menurut kedalaman tanah efektif
terbagi atas : 52,96 % wilayah memiliki kedalaman tanah efektif 0 – 30 cm; dan
11,32 % memiliki kedalaman tanah efektif 30 – 60 cm; serta 30,22 % memiliki
kedalaman tanah efektif 60 – 90 cm; sementara itu 5,50 % wilayah kedalaman
tanah efektif diatas 90 cm. Jenis tanah di Kabupaten Ende didominasi tanah
mediteran dengan bentuk wilayah volcano, dengan tekstur tanah yang terdiri atas
22,99 % tekstur tanah sedang, 57,11 % tekstur tanah kasar, 3,70 % tekstur tanah
halus dan sisanya sebesar 16,90 % tidak dikategorikan.
34
Hutan lindung sepanjang bagian tengah wilayah, menyebabkan banyaknya
sebaran daerah aliran sungai (DAS) dan mata air di Kabupaten Ende. Beberapa
DAS besar antara lain kali Nangapanda, Kali Nangaba, Kali Wolowona, Kali
Loworea, Kali Ndondo, dan Kali Lowo Lande, hampir setiap tahun mengalami
banjir. Mata air tersebar pada beberapa wilayah dengan debit berkisar 4 - 17
liter/detik. Beberapa Mata Air yang ada, diantaranya : Mata Air Woloare, aekipa,
Aepana, nangapanda, Ae ino, Seke Mele, Aewanda, Aemuri, Kena Fiko dan Lio
Lo’o telah dimanfaatkan oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) untuk
pemenuhan air bersih masyarakat kota Ende, Kecamatan Nangapanda, Detusoko,
Wolowaru dan Kecamatan Maurole. Beberapa mata air dalam debit yang lebih
kecil dimanfaatkan untuk fasilitas air bersih perdesaan.
Kabupaten Ende beriklim tropis agak kering, dengan suhu berkisar antara
22,5 – 340 C. Curah hujan berkisar antara 0 - 549 mm/tahun, dengan tingkat
intensitas hujan sedang. Jumlah hari hujan sebanyak 128 hari, dengan hari hujan
terbanyak terjadi pada bulan Januari. Kelembaban udara rata-rata sebesar 80,4
gr/m3, dengan rata-rata kelembaban minimum sebesar 68,7 gr/m3 dan maksimum
sebesar 89 gr/m3.
Potensi pengembangan wilayah Kabupaten Ende didasarkan pada
karakteristik Kabupaten Ende, dan diarahkan sesuai strategi dan kebijakan
pemanfaatan pola ruang sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Perda Nomor
11 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Ende Tahun 2011-2031. Potensi sektor
menurut Rencana Wilayah Pengembangan (WP) di Kabupaten Ende meliputi 5
(lima) Wilayah Pengembangan sebagai berikut:
35
1. Wilayah Pengembangan I
Wilayah Pengembangan I, meliputi : Kecamatan Ende, Ende Tengah, Ende
Timur dan Ende Utara dan Ende Selatan. Wilayah ini memiliki potensi
pengembangan pada sektor pariwisata, perikanan dan industri. Potensi
spesifik pada wilayah ini antara lain Situs Bung Karno dan peninggalan
sejarah tugu Flores dan taman kota, serta panorama pantai dengan wisata
kuliner. Pengembangan potensi perikanan diarahkan sebagai pusat
pengumpul hasil penangkapan untuk wilayah perairan pantai selatan
dengan ketersediaan dermaga pendaratan ikan dan pabrik es di Kecamatan
Ende Selatan. Sektor industri kecil difokuskan pada pengembangan usaha
tenun ikat dan makanan. Di wilayah ini terdapat komoditas pertanian yang
memiliki nilai rasa khas yaitu ubi kayu nuabosi yang dapat dikembangkan
sebagai komoditas unggulan Kabupaten Ende, selain pengembangan
komoditas kelapa dan kopi, dan pemeliharaan usaha ternak kecil.
2. Wilayah Pengembangan II
Wilayah Pengembangan II, meliputi : Kecamatan Detusoko, Detukeli,
Lepembusu Kelisoke, Ndona Timur dan Ndona, dengan Pusat WP adalah
Kecamatan Detusoko. Wilayah ini memiliki potensi yang dikembangkan
pada sektor pariwisata, industri rumah tangga (pembuatan souvenir),
pertambangan, perkebunan dan pertanian. Potensi spesifik pada wilayah
ini meliputi lahan persawahan dengan keunikan pematangnya (sawah
bertingkat), wisata permandian air panas detusoko, pengembangan industri
rumah tangga minuman dari buah-buahan, perkampungan adat wolotopo
36
dan wologai, serta Mumi di Desa Wologai Kecamatan Detusoko. Potensi
pertanian dan perkebunan yang dapat dikembangkan adalah sayur-sayuran
dan buah, tanaman biofarma (jahe), kopi, jambu mente, kemiri. Dalam
rangka mendukung pengembangan industri, terdapat potensi pembangkit
listrik Tenaga Panas Bumi di Mutubusa Desa Sokoria Kecamatan Ndona
Timur.
3. Wilayah Pengembangan III
Wilayah Pengembangan III, meliputi : Kecamatan Wolowaru, Wolojita,
Kelimutu, Lio Timur, Ndori, dengan Pusat WP adalah Kecamatan
Wolowaru. Wilayah ini memiliki potensi pada sektor pariwisata, pertanian,
industri dan pertambangan. Potensi spesifik pada wilayah ini adalah
kawasan Taman nasional Kelimutu dengan keunikan danau tiga warnanya,
diidukung potensi perkampungan adat dan industri tenun ikat khas dan
souvenir, pengembangan agrowisata pada kawasan sekitar Taman
Nasional Kelimutu, serta pasar tradisonal di Nduaria Kecamatan Kelimutu.
Pada sektor industri berpotensi dikembangkan kawasan industri
pengolahan kacang mete, dan kakao. Potensi perkebunan yang dapat
dikembangkan adalah kopi dan kakao.
4. Wilayah Pengembangan IV
Wilayah Pengembangan IV, meliputi Kecamatan Nangapanda, Pulau Ende
dan Maukaro, dengan Pusat WP adalah Kecamatan Nangapanda. Wilayah
ini memiliki potensi pada sektor pertambangan, pariwisata, perkebunan,
dan perikanan. Potensi spesifik wilayah yang mempunyai prospek antara
37
lain batu hijau (Zeolit) di pesisir pantai selatan Kecamatan Nangapanda,
industri agro berbasis pengelolaan hasil perikanan dan kelautan, serta
wisata peninggalan benteng Portugis di Pulau Ende. Sektor pertanian dan
perkebunan yang dapat dikembangkan di wilayah ini adalah kakao, kopi,
kelapa dan cengkeh, serta areal sawah di Kecamatan Maukaro yang dapat
dikembangkan menjadi pusat produksi padi sawah di Kabupaten Ende.
Pada sektor pariwisata dapat dikembangkan wisata pantai/bahari pantai
Jaga Po di Desa Kobaleba, Pantai Maukaro, dan Danau Alam Tiwu Lewu
di desa Kebirangga Tengah Kecamatan Maukaro.
5. Wilayah Pengembangan V
Wilayah Pengembangan V, meliputi Kecamatan Maurole, Wewaria, Kota
Baru dengan Pusat WP adalah Kecamatan Maurole. Wilayah
pengembangan ini mempunyai potensi pada sektor pertanian, peternakan,
perikanan, industri dan pertambangan. Potensi spesifik wilayah ini antara
lain padi sawah mengingat ketersediaan jaringan irigasi teknis yang cukup
memadai, jambu mente, serta potensi pengembangan ternak sapi, kerbau
dan kuda. Pada sektor pariwisata dikembangkan wisata pantai seperti Ena
bara dan pantai Maurole, serta Danau Alam Tiwusora dan Danau Bou.
Wilayah ini berpotensi dalam pengembangan industri berbasis pertanian
dan perkebunan, mengingat ketersediaan suplai energi listrik (PLTU Ropa)
dan berada pada jalur jalan strategis nasional Pantura Flores.
Pengembangan potensi wilayah di Kabupaten Ende tersebut diatas sejalan
dengan kebijakan pengembangan wilayah nasional, Provinsi NTT, serta
38
kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo sebagai kabupaten yang berbatasan
langsung, yang meliputi:
1. Dalam skala wilayah nasional, Kota Ende merupakan Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW), yang didukung kebijakan pengembangan Bandara Haji
Hasan Aroeboesman sebagai Bandar Udara Pengumpul Skala Tersier,
serta termasuk dalam Kawasan Andalan Ende-Maumere, dan Kawasan
Lindung Nasional Kelimutu;
2. Dalam skala regional provinsi NTT, termasuk dalam Wilayah
Pengembangan II, dengan fokus pengembangan pada kawasan pesisir dan
kota pelabuhan, dengan arahan fungsi sebagai pusat perdagangan,
pendidikan, kesehatan, pelayanan transportasi, pelayanan pariwisata dan
agribisnis;
3. Kebijakan pengembangan wilayah Kabupaten Sikka, di wilayah
Kecamatan Mego yang diarahkan pada pengembangan hutan produksi,
serta Kecamatan Magepanda dengan arahan pengembangan di bidang
pertanian, dan peternakan (lahan penggembalaan), yang sesuai dengan
arah kebijakan pengembangan di wilayah Kecamatan Lio Timur dan
Kotabaru;
4. Kebijakan pengembangan wilayah Kabupaten Nagekeo, di wilayah
Kecamatan Wolowae yang diarahkan pada pengembangan kawasan hutan
lindung di Desa Tendatoto, dan kawasan pertanian lahan basah, pertanian
lahan kering, kebun campuran di Desa Tendakinde, yang sesuai dengan
39
arah kebijakan pengembangan di wilayah Kecamatan Nangapanda dan
Maukaro.
4.1.2 Karakteristik Demografis Kabupaten Ende
Jumlah penduduk Kabupaten Ende sampai akhir tahun 2015 mencapai
281.518 jiwa terdiri atas 135.183 jiwa (48,19 %) penduduk laki-laki dan 146.335
jiwa (51,98 %) penduduk perempuan. Jika dibanding dengan data hasil Sensus
Penduduk 2010 (SP 2010), terjadi peningkatan sebesar 20.913 jiwa dari keadaan
260.605 jiwa pada tahun 2010. Secara kewilayahan penduduk Kabupaten Ende
terkonsentrasi di daerah perkotaan (±31,38%%), terutama di Kecamatan Ende
Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa perkotaan masih merupakan daya tarik
utama bagi penduduk, baik dari desa maupun masyarakat luar wilayah untuk
mencari pekerjaan, bersekolah, serta aktifitas kegiatan lain. Realitas
perkembangan fasilitas pendidikan (tinggi), serta usaha jasa dan perdagangan
turut memengaruhi perkembangan penduduk di Kota Ende. Penduduk terbesar
berada di Kecamatan Ende Tengah sebanyak 28.244 jiwa, disusul Kecamatan
Nangapanda sebanyak 24.274 jiwa dan Ende Selatan sebanyak 23.529 jiwa,
sedangkan jumlah penduduk terkecil adalah Kecamatan Ndona Timur, yaitu
sebanyak 6.056 jiwa.
Dengan luas wilayah 2.046 km2, tingkat kepadatan penduduk Kabupaten
Ende Tahun 2015 adalah sebesar 136 jiwa/km2. Kecamatan yang mempunyai
tingkat kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Ende Tengah (3.786 jiwa/km2),
sedangkan yang paling jarang adalah Kecamatan Detukeli dengan tingkat
40
kepadatan 38 jiwa/km2. Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan
(sex ratio) keadaan tahun 2014 adalah sebesar 92. Dari total jumlah penduduk
Kabupaten Ende merupakan penduduk usia produktif / dewasa (15-49 tahun)
dengan proporsi 50,63 %, meningkat apabila dibanding tahun sebelumnya (2014)
dengan proporsi 50,51%.
4.2 Karakteristik Pelaku Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
4.2.1 Karakteristik Petani Tomat di Kabupaten Ende
Hasil survei peneliti menunjukkan bahwa rata-rata petani tomat di
Kabupaten Ende berusia antara 40 hingga 50 tahun. Menurut Mantra (2009)
kelompok penduduk umur 0 – 4 tahun dianggap sebagai kelompok penduduk
belum produktif secara ekonomis, kelompok penduduk umur 15 – 64 tahun
sebagai kelompok produktif dan kelompok penduduk umur 65 tahun keatas
sebagai kelompok penduduk yang tidak lagi produktif. Hal tersebut menunjukkan
bahwa sebagian besar orang yang bekerja sebagai petani tergolong dalam usia
produktif. Pengalaman pendidikan petani tomat rata-rata masih rendah, berkisar
tamatan SD atau SMP. Pengalaman bertani tomat rata-rata 8,5 tahun. Umur,
pendidikan dan pengalaman usahatani tomat akan mempengaruhi pola pikir petani
sehingga akan berpengaruh pada pengambilan keputusan dalam pengelolaan,
pengembangan usahatani dan pemasaran tomat.
Rata-rata jumlah anggota keluarga petani tomat yaitu empat orang. Jumlah
anggota keluarga ikut berpengaruh pada penyediaan tenaga kerja dalam agribisnis
tomat. Pada umumnya tenaga kerja keluarga yang terlibat dalam agribisnis tomat
41
adalah dua orang, sedangkan tenaga kerja luar yang dipakai juga dua orang. Luas
lahan tanam tomat yang dimiliki sepuluh petani adalah rata-rata 1.230 m2. Luas
lahan mempengaruhi pada biaya agribisnis tomat. Petani lahan sempit dengan
tenaga kerja keluarga yang tersedia, dapat menyelesaikan pekerjaan agribisnisnya,
tanpa menggunakan tenaga kerja luar, sehingga biaya agribisnisnya rendah. Jika
lahan luas, belum tentu tenaga kerja keluarga mampu mengerjakannya, sehingga
memerlukan tenaga kerja luar yang diupah, dan biaya usahatani menjadi tinggi
(Suratiyah, 2006).
4.2.2 Karakteristik Pengurus Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Pengurus kelompok agribisnis yang dipilih sebagai informan pada
penelitian ini adalah ketua kelompok tani, sehingga peneliti terbantu dalam hal
pengumpulan data, karena ketua kelompok tani tersebut mengetahui dan
memahami betul kondisi dan kegiatan petani secara keseluruhan di daerah
penelitian. Dilihat berdasarkan usia, pengurus kelompok tani sudah termasuk
dalam usia dewasa akhir yaitu 40-45 tahun dengan pendidikan terakhir SMA.
Pengurus kelompok tani mempunyai pengalaman bekerja sebagai pengurus lebih
dari delapan belas tahun, yang menunjukan bahwa sudah sangat berpengalaman.
Lama pengalaman dalam mengurus kelompok tani ini dapat dijadikan dasar dalam
membantu penelitian untuk mencari informasi yang mendukung proses penelitian
secara mendalam mengenai agribisnis dan pemasaran tomat.
42
4.2.3 Karakteristik Pedagang Pengepul Tomat di Kabupaten Ende
Pedagang pengumpul tomat yang dikaji dalam penelitian ini termasuk
dalam umur produktif yaitu antara 35-45 tahun, dengan tingkat pendidikan
terakhir SMP dan SMA. Pengalaman bekerja sebagai pedagang pengumpul tomat
adalah 20 tahun. Lama pengalaman berdagang tomat dapat membantu dalam
mengetahui seberapa jauh responden menguasai informasi mengenai seluk beluk
pemasaran tomat di Kabupaten Ende. Pedagang pengumpul tomat memperoleh
tomat dari daerah sekitar Kelimutu.
4.2.4 Karakteristik Pedagang Besar Tomat di Kabupaten Ende
Usia para pedagang besar tomat di Kabupaten Ende termasuk dalam umur
produktif yaitu 40 tahun, dengan tingkat pendidikan terakhir SMA. Pengalaman
bekerja sebagai pedagang pengumpul tomat adalah lima tahun. Lama pengalaman
berdagang tomat dapat membantu dalam mengetahui seberapa jauh responden
menguasai informasi mengenai seluk beluk pemasaran tomat di Kabupaten Ende.
Pedagang besar tomat adalah penduduk lokal di sekitar Kecamatan Kelimutu,
Kabupaten Ende.
4.2.5 Karakteristik Pedagang Eceran Tomat di Kabupaten Ende
Pedagang eceran tomat rata-rata dalam usia tua yaitu 30 hingga 50 tahun,
dengan pengalaman menempuh pendidikan formal paling rendah adalah SD dan
paling tinggi tamatan SMP. Pengalaman bekerja sebagai pedagang eceran tomat
paling lama adalah 30 tahun dan paling rendah adalah 5 tahun. Pengetahuan dan
43
pengalaman berdagang eceran tomat dapat membantu peneliti dalam meneliti
kegiatan pemasaran tomat di Kabupaten Ende. Pedagang eceran tomat adalah
penduduk lokal dari Kabupaten Ende yang berjualan di Pasar Sayuran Nduaria.
4.3 Proses Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Persiapan yang matang sangat diperlukan dalam agribisnis tomat.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya seperti tempat penanaman,
kondisi alam, benih, bahan-bahan dan peralatan dalam perawatan tanaman tomat
hingga panen sampai pasca panen. Berikut ini adalah skema agribisnis tomat yang
dilakukan petani di Kabupaten Ende.
Pemilihan Benih
Penyemaian
Persiapan Lahan
Pemindahan
Penanaman
Pemeliharaan
Pemanenan
44
Pemanenan
Pasca Panen
Gambar 4.1. Proses Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Berdasarkan skema diatas, proses agribisnis tomat dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Pemilihan benih
Pemilihan benih sangat penting diperhatikan, karena akan menyangkut
pada kualitas tomat yang dihasilkan. Petani tomat di Kabupaten Ende
memperoleh benih dengan membeli di toko-toko pertanian dan terkadang
memperoleh benih dari bantuan pemerintah daerah. Varietas yang banyak
digunakan petani tomat di Kabupaten Ende adalah varietas Marta, Permata,
Kosmonot dan Warani. Benih yang dipilih adalah benih yang sesuai selera
petani, berdaya kecambah tinggi dan disesuaikan dengan kondisi alam
sekitar tempat penanaman tomat.
2. Penyemaian
Setelah memilih benih yang akan ditanam, maka dilakukan penyemaian.
Tempat penyemaian benih adalah di potray, yang telah diisi campuran
tanah dan pupuk kandang dengan komposisi 1:3. Potray diletakan di
bawah naungan atap rumah petani atau di teras rumah, asalkan tidak
terkena sinar matahari langsung. Benih tomat ditaburkan satu benih tiap
potray. Penaburan dilakukan dengan hati – hati. Untuk lahan seluas 300 m2,
45
menggunakan benih sebanyak 750 benih tomat. Semaian disiram dengan
menggunakan gembor, dengan ukuran lubang halus.
3. Persiapan Lahan
Lahan untuk penanaman bibit tomat perlu dipersiapkan dengan
mencangkul sedalam 40 cm dan dibuat bedengan dengan lebar 1,40 – 1,60
m. Diatas bedengan dibuat lubang dengan jarak 50 – 60 cm. Jarak antar
baris lubang 70 – 80 cm sehingga tiap bedengan terdiri dari dua baris
lubang. Pada lahan juga dibuat parit antar bedengan dengan lebar 20 cm.
Lalu diberi pupuk dasar yaitu pupuk kandang.
4. Pemindahan
Setelah bibit berumur 25 – 30 hari (kira-kira berdaun empat helai), bibit
dipindah ke dalam lubang – lubang yang telah dibuat di lahan tanam.
5. Penanaman
Waktu penanaman paling tepat adalah pada saat mendekati penghujung
musim hujan. Menurut Nazaruddin (2003), pertumbuhan awal tanaman
tomat memerlukan banyak air, sedangkan ketika sudah tumbuh besar,
kebutuhan air berkurang. Tanaman tomat di lokasi penelitian di tanam
dengan sistem tumpang sari dengan komoditas hortikultura lain, untuk
mencegah serangan hama yang dapat menyerang tanaman tomat.
6. Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi penyiangan, pemangkasan, penggemburan tanah,
pemancangan ajir, pemberian pupuk susulan, dan pengguludan barisan
tanam. Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput sambil
46
menggemburkan tanah menggunakan kored. Kemudian barisan tanaman
diperbaiki guludannya. Pemangkasan dilakukan beberapa kali hingga
tersisa 1 – 3 batang utama saja. Ajir diberikan pada saat tanaman
bertambah tinggi. Ajir terbuat dari bambu yang dipotong – potong
sepanjang 1 – 1,5 m. Batang tomat diikat longgar pada ajir agar tegak,
tetapi pertumbuhannya tidak terganggu. Penyiraman dilakukan pada pagi
dan sore hari dengan gembor ketika tanaman sudah dalam fase dewasa.
Pemupukan yang diberikan adalah menggunakan pupuk Urea, TSP dan
KCL. Hama yang menyerang antara lain adalah ulat dan organisme yang
dapat menimbulkan penyakit yaitu cendawan. Cara penanggulangannya
dengan melakukan pengobatan menggunakan insektisida bagi hama ulat
dan fungisida untuk cendawan.
7. Pemanenan
Tomat dipanen pertama kali setelah berumur lebih dari dua bulan tanam
(70 – 90 hari). Panen selanjutnya dilakukan setiap dua hari sekali sampai
dengan usia empat bulan setelah tanam. Bila buah dipanen terlambat, yaitu
terlalu masak atau terlalu tua, maka banyak buah yang busuk, jatuh dan
mudah rusak selama pengangkutan.
8. Pasca Panen
Setelah melakukan pemanenan, maka tomat ditaruh sementara di dalam
rumah petani untuk disortir. Kemudian jika ada pedagang yang membeli,
maka tomat di masukan dalam keranjang tomat yang terbuat dari anyaman
bambu.
47
4.4 Analisis SWOT Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Perumusan strategi agribisnis tomat di Kabupaten Ende diawali dengan
menganalisis situasi pemasaran tomat. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor yang dapat menjadi peluang dan ancaman serta kekuatan dan
kelemahan dalam pemasaran tomat di Kabupaten Ende.
4.4.1 Strength (Kekuatan) Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Strength (kekuatan) agribisnis tomat di Kabupaten Ende diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Tersedianya lahan yang luas untuk komoditi tomat
Kabupaten Ende memiliki total luas wilayah sebesar 204.660,05 km2,
dimana luas untuk lahan pertanian adalah sebanyak 19,63% dari total luas
penggunaan lahan atau sebesar 390.172,19 km2. Berdasarkan Rencana
Wilayah Pengembangan (WP III) di Kabupaten Ende, wilayah Kecamatan
Wolowaru, Wolojita, Kelimutu, Lio Timur, Ndori, dengan Pusat WP di
Kecamatan Wolowaru, memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang
tinggi dalam pengembangan sayur-sayuran dan buah, termasuk tomat.
2. Adanya aparatur (PPL) yang mendampingi petani
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) merupakan petugas dari Badan
Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K)
kabupaten/kota yang diperbantukan untuk memberikan pengarahan,
pembinaan, dan penyuluhan di bidang pertanian dengan basis administrasi
kecamatan. Untuk mendukung tercapainya program WP dari Pemerintah
48
Kabupaten Ende terkait pengembangan lahan pertanian, apatur PPL
senantiasa memberi pendampingan kepada petani terkait pengetahun dan
keterampilan dalam agribisnis komoditi tomat di Kabupaten Ende.
3. Adanya dukungan dana dan program pemerintah melalui Dinas Pertanian
Kabupaten Ende
Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian Kabupaten Ende terus
menyalurkan berbagai bantuan pada para petani dalam rangka mendukung
program pemerintan yaitu kedaulatan pangan. Bantuan tersebut terdiri dari
berbagai bentuk, mulai dari peralatan bertani, benih, pupuk organik cair,
hingga alat mesin pertanian yang diberikan kepada para petani guna
mendorong produktivitas petani menjadi lebih baik.
4. Sumber daya alam yang tersedia mencukupi setiap kabupaten
Tomat merupakan tanaman herba yang dapat tumbuh dengan baik di
Kabuaten Ende. Selain memiliki lahan yang luas untuk budidaya tomat,
Kabupaten Ende juga menerima caha matahati yang cukup baik selama
lebih dari 10 jam per hari dengan suhu yang sejuk antara 20o – 25oC dan
kelembaban yang tinggi, yaitu lebih dari 60%. Cahaya matahari yang
diperlukan dalam pertumbuhan tomat adalah cerah. Jika dilihat pada
kondisi alam di Kabupaten Ende, maka komoditas tomat cocok diusahakan
di tempat tersebut.
5. Infrastruktur yang baik di semua lokasi kabupaten
Pembangunan Jalan Tani merupakan salah satu infrastruktur pertanian
yang sangat berperan penting dalam kemajuan dan hasil tani di Kabupaten
49
Ende. Selain infrastruktur berupa jalan, Pemerintah Kabupaten Ende juga
telah menyediakan berbagai infrastruktur penunjang, antara lain seperti
pupuk dan obat pembasmi hama lainnya pun sangat dibutuhkan oleh petani
tomat di Kabupaten Ende.
6. Produksi tomat sangat tinggi
Kecamatan Kelimutu, Lepembusu Kelisoke, Detusoko, Wolojita dan
Ndona Timur merupakan wilayah produksi tomat tertinggi di Ende. Hal itu
disebabkan kondisi dan cuaca serta struktur tanah yang tergolong baik
sehingga mampu menghasilkan produksi tomat sebanyak 2.885,44 kuintal
per hektar. Dari berbagai kecamatan penghasil tomat, Kecamatan Wolojita
memiliki tingkat produksi tertinggi, yaitu 812,00 kuintal per hektar,
kemudian disusul oleh Kecamatan Lepembusu Kelisoke dengan produksi
588,00 kuintal per hektar, sedangkan Kecamatan Maukaro memiliki
tingkat tomat terendah, yaitu 53,60 kuintal per hektar.
7. Adanya pasar harian atau mingguan untuk menjual hasil komoditi
Setiap wilayah kecamatan di Kabupaten Ende memiliki setidaknya dua
hingga tiga pasar tradisional yang menjual hasil komoditi sayur, sehingga
dapat sangat mendukung agribisnis tomat di Kabupaten Ende. Salah satu
pasar yang sangat terkenal di Kabupaten Ende adalah Pasar Nduria yang
terletak di salah satu desa di wilayah Kecamatan Kelimutu yang berjarak
45 km dari Kota Ende dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5
jam perjalanan menggunakan transportasi roda dua dan roda empat.
50
Letaknya yang strategis di kampung Nduaria pada jalur jalan Ende–
Kelimutu.
8. Distribusi mudah
Adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kota Ende berupa
infrastruktur jalan telah memudahkan proses distribusi tomat dari petani ke
pedagan pengumpul, pedagang besar dan pedagang eceran.
9. Ketersediaan sarana budidaya
Sebagai bagian dari program Rencana Wilayah Pengembangan (WP) di
Kabupaten Ende, Pemerintah Kabupten Ende telah menyebar sarana
budidaya tomat agi para petani sesuai dengan jumlah rata-rata permintaan
petani terhadap kebutuhan sarana budidaya tomat seperti benih, pupuk dan
obat-obatan, sehingga hasil produksi tomat diharapkan dapat terus
meningkat di daerah-daerah yang dikonsentrasikan sebagai wilayah
budidaya tomat.
10. Iklim dan cuaca yang mendukung
Iklim Kabupaten Ende memiliki tempertatur yang baik untuk budidaya
tomat dengan temperatur antara 24°C-28°C sehingga membuat hasil
produksi tomat berwarna merah merata. Kabupaten Ende juga memiliki
keadaan temperatur dan kelembaban yang cukup sehingga produksi dan
kualitas buah tomat cenderung stabil.
51
4.4.2 Weakness (Kelemahan) Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Weakness (kelemahan) agribisnis tomat di Kabupaten Ende diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Petani belum dapat menyediakan modal sendiri, masih bergantung pada
dana bantuan (hibah)
Dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir peranan sektor pertanian di
Kabupaten Ende terus cenderung menurun. Hal tersebut disebabkan karena
petani kurang memiliki keberanian untuk mengalokasikan dana pribadi
untuk budidaya tomat, sehingga masih bergantung pada dana bantuan
(hibah) bagi para petani. Kurangnya modal tentu saja sangat berdampak
pada produksi tomat yang dihasilkan.
2. Harga pasar yang tidak menentu
Faktor cuaca yang tidak menentu selama setahun terakhir di Kabupten
Ende merupakan salah satu penyebab harga tomat menjadi tidak menentu.
Akibatnya, hasil produksi tomat menurun kualitasnya sehingga
menyebabkan harga jual tomat menurun dan sangat berdampak pada
pendapatan hasil usaha yang diterima oleh para petani tomat di Kabupaten
Ende.
3. Ketergantungan pada bantuan pemerintah dan lembaga lain
Dari pengalaman para petani tomat di Kabupaten Ende, biaya produksi
yang dikeluarkan oleh petani untuk usaha tani tomat seluas 1 hektare,
mulai dari pengolahan lahan, pengadaan bibit, mulsa, pupuk dan obat-
obatan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit
52
sampai panen dibutuhkan biaya kurang lebih Rp. 4.950.000,-, sementara
produksi yang di hasilkan sekitar 50 ton per hektare. Jika harga terpuruk
sampai dengan Rp 500,- sampai Rp 600,- per kilogram, maka petani tomat
hanya mampu mengumpulkan Rp 3.000.000,- sampai Rp.3.600.000,- dari
hasil panen mereka, artinya petani bisa merugi hampir Rp 1.400.000
sampai Rp 2.000.000 per hektare, jumlah yang cukup besar untuk ukuran
petani, sehingga sangat tergantung pada bantuan pemerintah dan lembaga
lain yang memberikan bantuan dana dan pendukung pertanian seperti
peralatan bertani, benih, pupuk organik cair, hingga alat mesin pertanian.
4. Belum ada wadah untuk menampung hasil komoditi tomat
Salah satu komoditi sayuran dataran tinggi yang terus mengalami
peningkatan baik luas tanam, luas panen maupun produksinya di
Kabupaten Ende adalah tomat. Namun demikian, tingginya hasil produksi
tomat tidak didukung adanya sistem pemasaran yang baik. Para petani
masih bergantung pada pembeli pengumpul untuk menjual hasil panen
yang biasanya datang setelah panen selesai. Lamanya jarak tunggu antara
hari panen dan kedatangan pembeli pengumpul juga menjadi kerugian bagi
para petani karena ada banyak tomat yang rusak sebelum terjual.
5. Tidak adanya kerjasama antara petani dan kelopok tani
Kelompok tani merupakan salah satu sarana kerjasama antara sesama
petani dalam kelompok tani dan antar kelompok tani serta hubungan
dengan pemerintah serta sarana untuk mengembangkan kemampuan para
petani di Kabuaten Ende. Pendekatan kelompok tani salah satunya melalui
53
suatu aktivitas yang biasa dilakukan yaitu penyuluhan pertanian. namun
faktanya, hubungan petani dan kelopok tani di Kabupaten Ende hanya
berlangsung sebelum musim tanam tiba, sehingga kemampuan petani
hanya terkonsentrasi pada aktivitas budidaya tomat, bukan terkait
agribisnis tomat itu sendiri.
6. Ketersediaan tomat lebih banyak dari pada permintaan
Tomat merupakan komoditas sayuran yang terus mengalami peningkatan
di Kabupaten Ende dari tahun ke tahun. Namun demikian, tingkat
konsumsi tomat masyarakat di Kabupaten Ende terhadap komoditi tomat
masih rendah, sehingga petani memiliki harapan besar kepada perusahaan
pengolahan tomat.
7. Tenaga kerja muda kurang berminat menjadi petani tomat
Rendahnya minat anak muda pada pertanian tidak hanya disebabkan
karena penghasilannya rendah. Terbatasnya pengetahuan terhadap
budidaya sayuran seperti tomat juga telah membuat anak muda lebih
memilih pekerjaan lain dibandingkan menjadi petani. Jika kondisi ini
dibiarkan, Kabupaten Ende tidak akan merasakan manfaat dari baiknya
dukungan demografi sebagai potensi pengembangan agrikultur dan malah
akan membuat lahan-lahan pertanian akan dialokasikan pada sektor lain
yang hanya memberi keuntungan bagi investor.
8. Harga tomat dari daerah lain lebih murah, sehingga tomat banyak
didatangkan dari daerah lain
54
Tingginya perbedaan hasil produksi tomat di berbagai daerah di Kabupten
Ende menyebabkan penyebaran hasil produksi tomat menjadi tidak merata.
Akibatnya, beberapa daerah harus mendatangkan hasil produksi tomat dari
daerah lain, sehingga menyebabkan harga jual tomat di daerah tersebut
jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan tomat yang didatangkan dari
daerah lain.
9. Jadwal tanam kurang teratur antar kelembagaan petani
Perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun terakhir ini sangat
mempengaruhi aktivitas agribisnis tomat di Kabupaten Ende. Perubahan
iklim jangka panjang sangat telah menyebabkan penurunan produktivitas,
stabilitas dan pendapatan bagi petani di Kabupaten Ende, yang disebabkan
oleh musim produksi yang bergeser, pola tanam yang berubah, serangan
hama dan penyakit. Hal tersebut membuat jadwal tanam tomat antar
kelembagaan petani di Kabupaten Ende tidak sama baik dalam hal hasil
produksi maupun kualitas hasil produk tomat di berbagai daerah.
10. Masih kurangnya penyuluhan tentang cara budidaya tomat
Hingga saat ini para aparat Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) memiliki
kesulitan untuk mendapatkan petani yang memiliki waktu dan tertarik
untuk ikut serta dalam program penyuluhan budidaya tomat, sehingga
menjadikan peran PPL tidak maksimal. Hal tersebut juga menyebabkan
penyuluhan tentang cara budidaya tomat di berbagai daerah di Kabupaten
Ende menjadi tidak merata, sehingga banyak petani tomat yang kurang
memiliki pengetahuan dalam hal budidaya tomat yang baik.
55
4.4.3 Opportunity (Peluang) Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Opportunity (peluang) agribisnis tomat di Kabupaten Ende diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Permintaan pasar yang tinggi
Permintaan tomat di pasar-pasar di Kabupaten Ende cukup tinggi.
Biasanya tomat dibutuhkan oleh para pengelola restoran, warung makan
dan rumah tangga. Selain itu selama lima tahun terakhir, banyak
pengusaha tomat juga membutuhkan jumlah tomat yang tinggi untuk
mendukung produksinya.
2. Tawaran kemitraan dari pihak lain
Kerjasama kemitraan antara petani tomat dengan pihak investor umumnya
melibatkan pengusaha besar/kecil yang memberi modal dan membeli hasil
produksi tomat dari para petani dengan tujuan untuk menghilangkan
kesenjangan dalam berusaha. Keadaan ini tidak terlepas dari kebijakan
pemerintah mengenai kerjasama kemitraan.
3. Pemasaran antar kabupaten di daerah Flores
Adanya dukungan infrastruktur jalan dapat memaksimalkan proses
pemasaran komoditi tomat dari dan ke seluruh wilayah Flores secara
umum, sehingga dapat memperlancar arus distribusi tomat dari petani ke
konsumen secara efisien.
4. Kerjasama dengan pengusaha pengolahan tomat
Adanya kerjasama antara beberapa pengusaha pengolahan tomat yang
beroperasi di Flores telah memberi peluang yang besar dalam menjaga
56
stabilitas harga produksi komoditi tomat di Kabupaten Ende. Kerjasama
ini tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga pengusaha tomat.
Adanya kerjasama ini membuat petani dapat memiliki wadah pasti untuk
menjual hasil buminya, sedangkan para pengusaha juga dapat memastikan
hasil produksinya agar tetap stabil.
5. Beragamnya cara penjualan hasil produksi tomat di pasar bebas
Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat secara langsung dalam
pemasaran agribisnis tomat di Kabupaten Ende adalah petani tomat,
pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer. Oleh
karena itu, petani dapat memilih salah satu dari ketiga bentuk saluran
pemasaran ini.
6. Dapat membentuk Bumdes di daerah sentra produksi untuk menampung
hasil produksi
Sikap kekeluargaan yang tinggi diantara petani di Kabupaten Ende
memberi peluang terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), yaitu
merupakan usaha desa yang dikelola oleh Pemerintah Desa, dan berbadan
hukum. Pemerintah Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa
sesuai dengan kebutuhan dan potensi Desa dalam hal produksi tomat di
sekitar wilayah Kabupaten Ende, sehingga dapat memberi kepastian
ekonomi bagi para petani.
7. Ketersediaan informasi yang murah dan cepat dari internet
Adanya teknologi informasi komunikasi yang dapat digunakan secara
efektif oleh petani maka diharapkan petani memperoleh informasi yang
57
menyeluruh, sehingga petani dapat mengakses berbagai hal yang
berhubungan dengan usaha tani mereka seperti perkembangan cara
bercocok tanam, perlindungan tanaman dari hama dan penyakit dan lain
sebagainya. Selain itu, internet juga memberi peluang bagi petani untuk
bisa mengembangkan sayap usaha taninya melalui internet seperti promosi
produk pertanian, penjualan atau pemasaran secara online.
8. Permintaan pinjaman modal dari bank
Adanya program Rencana Wilayah Pengembangan (WP) di Kabupaten
Ende ternyata memberi dampak besar bagi para petani untuk mendapatkan
akses modal dari bank. Adanya kemudahan ini membuat petani bisa
mendapatkan sumber dana baru untuk mendukung aktivitas agribisnis
tomat.
9. Membuka usaha pengolahan tomat di daerah sentra produksi
Buah tomat sebagai salah satu komoditas sayuran mempunyai prospek
pemasaran yang cerah. Hal tersebut telah membuat banyak investor
tertarik untuk membuka usaha pengolahan tomat di beberapa daerah di
Kabupaten Ende.
10. Menciptakan lapangan kerja baru
Sektor pertanian dan perkebunan merupakan upaya yang dilakukan oleh
pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Adanya dukungan yang tinggi dari kelompok tani juga memberi peluang
bagi masyarakat di Kabupaten Ende yang tertarik untuk mendorong
58
masyarakat kembali menggarap lahan untuk bertani, sehingga minimal
bisa memenuhi kebutuhan sendiri.
4.4.4 Threat (Ancaman) Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Threat (ancaman) agribisnis tomat di Kabupaten Ende diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Harga tomat yang fluktuatif
Kenaikan harga atau penurunan harga yang tinggi dari komoditas tomat di
Kabupten Ende banyak disebabkan oleh terbatas stok akibat banyak
tanaman rusak karena gangguan iklim yang tidak menentu. Selain itu,
adanya permainan dari pihak pedagang juga menjadi faktor yang membuat
harga tomat sangat fluktuatif.
2. Kurangnya kepedulian generasi muda dalam agribisnis tomat
Salah satu hal yang perlu dibenahi dari sektor pertanian adalah masalah
sumber daya manusia (SDM). Masalah ini terjadi secara merata di seluruh
Indonesia, khususnya di Kabupaten Ende. Sumber daya manusia yang
bekerja kebanyakan sudah berusia lebih dari 40 tahun, sedangkan yang
berusia muda yaitu kurang dari 35 tahun hanya sekitar 5%. Jika beberapa
tahun kedepan permasalahan ini tidak segera ditangani akan berdampak
pada pemenuhan kebutuhan komoditi tomat di Kabupaten Ende.
3. Tidak adanya larangan mendatangkan tomat dari daerah lain
Tingginya perbedaan produksi komoditi tomat di kecamatan-kecamatan
pengembangan budidaya tomat di Kabupaten Ende telah menyebabkan
59
pemerintah daerah setempat memberlakukan kebijakan pemerataan
distribusi dari setiap wilayah. Salah satu fampak negatif dari kebijakan
tersebut adalah mudah masuknya komoditi tomat dari daerah lain yang
harganya lebih murah dibandingkan harga hasil produksi tomat di daerah
tersebut.
4. Sarana dan prasarana terbatas
Adanya kebijakan pemerintah daerah di Kabupaten Ende untuk
memberikan sarana dan prasarana yang sesuai dengan tingkat kemampuan
produksi komoditi tomat telah membuat wilayah-wilayah dengan tingkat
produksi rendah memiliki akses yang cukup terhadap sarana dan prasaran
budidaya tomat. Hal tersebut membuat wilayah-wilayah seperti ini tidak
dapat mengejar ketinggalan dari wilayah lain yang memiliki hasil produksi
tinggi seperti di Kecamatan Wolojita dan Kecamatan Lepembusu Kelisoke.
5. Kualitas tanah yang semakin memburuk
Kualitas tanah yang tinggi menggambarkan kualitas lingkungan dan
kesuburan tanah yang tinggi, sehingga kualitas tanah menjadi faktor
penting bagi budidaya tomat. Namun demikian, kondisi iklim yang tidak
menentu selama lima tahun terakhir telah membuat kualitas tanah di
Kabupaten Ende semakin memburuk, sehingga berdampak pada
penurunan kualitas tomat yang diproduksi.
6. Ketersediaan benih dan pupuk terbatas
Beberapa varietas unggul tomat yang sudah dihasilkan pemulia atau
produsen benih yang menghasilkan kualitas produksi, rasa, bentuk, umur
60
panen, ketahanan simpan dan toleran terhadap penyakit tertentu seringkali
sulit didapatkan bahkan hilang pada masa-masa tertentu, sehingga
membuat petani kesulitan untuk membudidayakan benih tomat yang
kurang tahan terhadap cuaca dan kualitas tanah yang semakin memburuk.
Keterbatasan pupuk untuk beberapa varietas baru tomat juga membuat
petani kesulitas untuk menghasilkan tomat yang berkualitas.
7. Kurangnya kepedulian pemerintah terhadap harga tomat
Ada beberapa daerah di Kabupaten Ende, khususnya Kecamatan Maukaro,
yang mengalami kerugian akibat rendahnya harga jual tomat di wilayah
tersebut. Banyak petani merugi karena buah tomat dihargai rendah antara
Rp 500 sampai dengan Rp 1.000/kg oleh pedagang pengepul. Para petani
berharap Pemerintah ikut campur tangan dalam hal penyediaan pasar dan
pengolah buah tomat, sehingga taraf perekonomian petani tomat di
Kabupaten Ende dapat terbantu.
8. Pemasukan tomat dari daerah lain menyebabkan persaingan harga yang
tinggi
Persaingan harga yang tinggi karena perbedaan tingkat produksi di
beberapa daerah di wilayah Kabupaten Ende membuat petani di daerah
lain tidak dapat menghadapi persaingan harga, sehingga banyak petani
yang merugi.
9. Kelebihan produksi menyebabkan harga tomat turun
Harga tomat dari beberapa petani di wilayah Kabupaten Ende seringkali
menurun tajam. Banyak petani yang tidak memanen tomat karena harga
61
jualnya saat dinilai sangat buruk. Murahnya harga tomat seingkali terjadi
ketika panen raya.
10. Iklim yang tidak menentu
Faktor cuaca sangat mempengaruhi dalam produksi tomat. Bila cuaca
sedang baik (intensitas hujan rendah dan tidak berkabut) produksi tomat
menjadi melimpah dan membuat harga menjadi menurun. Namun, apabila
cuaca sedang tidak bersahabat (intensitas hujan tinggi dan kabut tebal)
maka produksi menjadi menurun, karena banyak tanaman tomat yang
terkena penyakit seperti busuk daun dan layu yang disebabkan oleh
cendawan. Kondisi tersebut akan membuat pasokan tomat di pasaran
berkurang, sedangkan permintaan besar, sehingga membuat harga menjadi
tinggi bagi konsumen akhir.
Selanjutnya, faktor-faktor yang dapat menjadi peluang dan ancaman serta
kekuatan dan kelemahan dalam pemasaran tomat di Kabupaten Ende dapat
dijelaskan pada tabel berikut.
62
Tabel 4.1 Hasil Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal
Faktor Internal
Strengths Bobot Rating Skor
1. Tersedianya lahan yang luas untuk komoditi 0.08 4 0.33
tomat
2. Adanya aparatur (PPL) yang mendampingi 0.08 3 0.25
petani
3. Adanya dukungan dana dan program 0.11 4 0.44
pemerintah melalui Dinas Pertanian
Kabupaten Ende
4. Sumber daya alam yang tersedia mencukupi 0.08 3 0.25
setiap kabupaten
5. Infrastruktur cukup baik di semua lokasi 0.11 4 0.44
kabupaten
6. Produksi tomat sangat tinggi 0.11 4 0.44
7. Adanya pasar harian atau mingguan untuk 0.11 4 0.44
menjual hasil komoditi
8. Distribusi mudah 0.08 3 0.25
9. Ketersediaan sarana budidaya (benih, 0.11 4 0.44
pupuk, obat-obatan)
10. Iklim dan cuaca yang mendukung 0.11 3 0.33
3,64
Weaknesses Bobot Rating Skor
1. Petani belum dapat menyediakan modal 0.09 3 0.27
sendiri, masih bergantung pada dana
bantuan (hibah)
2. Harga pasar yang tidak menentu 0.12 4 0.48
3. Ketergantungan pada bantuan pemerintah 0.09 3 0.27
dan lembaga lain
4. Belum ada wadah untuk menampung hasil 0.09 3 0.27
komoditi tomat
5. Tidak adanya kerjasama antara petani dan 0.09 3 0.27
kelopok tani
6. Ketersediaan tomat lebih banyak dari pada 0.12 4 0.48
permintaan
7. Tenaga kerja mudah kurang berminat 0.12 3 0.36
menjadi petani tomat
63
Weaknesses Bobot Rating Skor
sehingga tomat banyak didatangkan dari
daerah lain
9. Jadwal tanam kurang teratur antar 0.09 3 0.27
kelembagaan petani
10. Masih kurangnya penyuluhan tentang cara 0.09 3 0.27
budidaya tomat
3.24
Faktor Eksternal
Opportinities Bobot Rating Skor
1. Permintaan pasar yang tinggi 4 0.11 4
2. Tawaran kemitraan dari pihak lain 3 0.09 3
3. Pemasaran antar kabupaten di daerah Flores 3 0.09 3
4. Kerjasama dengan pengusaha pengolahan 4 0.11 4
tomat
5. Beragamnya cara penjualan hasil produksi 3 0.09 3
tomat di pasar bebas
6. Dapat membentuk Bumdes di daerah sentra 4 0.11 4
produksi untuk menampung hasil produksi
7. Ketersediaan informasi yang murah dan 4 0.11 4
cepat dari internet
8. Permintaan pinjaman modal dari bank 4 0.11 4
9. Membuka usaha pengolahan tomat di 3 0.09 3
daerah sentra produksi
10. Menciptakan lapangan kerja baru 3 0.09 3
3.57
Threats Bobot Rating Skor
1. Harga tomat yang fluktuatif 0.12 4 0.48
2. Kurangnya kepedulian generasi muda dalam 0.09 3 0.27
agribisnis tomat
3. Tidak adanya larangan mendatangkan tomat 0.09 3 0.27
dari daerah lain
4. Sarana dan prasarana terbatas 0.09 3 0.27
64
Threats Bobot Rating Skor
5. Kualitas tanah yang semakin memburuk 0.09 3 0.27
6. Ketersediaan benih dan pupuk terbatas 0.09 3 0.27
7. Kurangnya kepedulian pemerintah terhadap 0.09 3 0.27
harga tomat
8. Pemasukan tomat dari daerah lain 0.12 4 0.48
menyebabkan persaingan harga yang tinggi
9. Kelebihan produksi menyebabkan harga 0.12 3 0.36
tomat turun
10. Iklim yang tidak menentu 0.09 3 0.27
3.24
Sumber: Data diolah (2019)
Hasil penilaian faktor internal telah menunjukkan bahwa agribisnis tomat
di Kabupaten Ende memiliki keunggulan (strengths) sebesar 0,40 poin
dibandingkan kelemahan (weaknesses). Hasil penilaian faktor eksternal juga telah
menunjukkan bahwa agribisnis tomat di Kabupaten Ende memiliki keunggulan
(opportunities) sebesar 0.33 poin dibandingkan ancaman yang dihadapinya
(threat). Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa agribisnis tomat di Kabupaten
Ende berada kuadran I (SO), yaitu progresif, sehingga agribisnis tomat di
Kabupaten Ende dapat menerapkan strategi berorientasi pertumbuhan (Pasaribu,
2012). Selanjutnya, posisi agribisnis tomat di Kabupaten Ende dapat digambarkan
sebagai berikut.
65
Gambar 4.1. Posisi Agribisnis Tomat di Kabupaten Ende
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa posisi agribisnis tomat di Kabupaten
Ende berada pada kuadran S-O, sehingga strategi yang baik untuk memperbaiki
kekuatan (strength) adalah untuk dapat mengambil alih seluruh peluang
(opportunities) yang ada sehingga rancangan strategi pemasaran yang telah dibuat
nantinya dapat dijalankan dengan baik untuk meningkatkan posisi agribisnis tomat
di Kabupaten Ende. Beberapa alternatif strategi yang dapat digunakan diantaranya
adalah dengan melakukan perluasan pemasaran tomat ke daerah baru dan
Melakukan strategi penetrasi pasar.
Perluasan pemasaran tomat ke daerah baru merupakan strategi yang
didukung dengan adanya kekuatan berupa tersedianya lahan yang luas untuk
komoditi tomat, adanya aparatur (PPL) yang mendampingi petani, sumber daya
alam yang tersedia mencukupi setiap kabupaten, infrastruktur cukup baik di semua
lokasi kabupaten, produksi tomat sangat tinggi, mudahnya distribusi, serta adanya
peluang seperti permintaan pasar yang tinggi, pemasaran antar kabupaten di daerah
66
Flores, dan dapat membentuk Bumdes di daerah sentra produksi untuk menampung
hasil produksi, dan ketersediaan informasi yang murah dan cepat dari internet.
Melihat beberapa kekuatan dan peluang tersebut, maka kelompok petani
tomat diharapakan untuk dapat mengembangkan daerah pemasaran tomat. Jadi,
petani tidak hanya memasarkan tomat di daerah Kabupaten Ende dan daerah yang
biasa petani memasarkannya saja, tetapi dapat memasarkan tomat ke luar daerah
lain. Petani dapat mencari daerah pemasaran baru, dengan bantuan dari pedagang
eceran dari luar daerah Kabupaten Ende. Petani dapat memperoleh bantuan berupa
informasi-informasi pemasaran di luar daerah atau di tempat asal pedagang eceran
tersebut. Bahkan, bila kelompok tani tomat ingin maju, dapat mencari daerah
pemasaran baru ke luar negeri. Dengan mendapatkan daerah pemasaran baru, maka
diharapkan permintaan akan produk tomat dapat meningkat, sehingga pendapatan
petani tomat di Kabupaten Ende dapat bertambah.
Strategi lainnya yang dapat digunakan adalah dengan melakukan strategi
penetrasi pasar. Alternatif strategi ini tercipta berdasarkan adanya faktor kekuatan
yaitu adanya aparatur (PPL) yang mendampingi petani, adanya dukungan dana dan
program pemerintah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Ende, infrastruktur cukup
baik di semua lokasi kabupaten, produksi tomat sangat tinggi, adanya pasar harian
atau mingguan untuk menjual hasil komoditi, serta adanya faktor peluang seperti
permintaan pasar yang tinggi, tawaran kemitraan dari pihak lain, pemasaran antar
kabupaten di daerah Flores, kerjasama dengan pengusaha pengolahan tomat,
beragamnya cara penjualan hasil produksi tomat di pasar bebas, ketersediaan
informasi yang murah dan cepat dari internet, permintaan pinjaman modal dari bank,
67
membuka usaha pengolahan tomat di daerah sentra produksi dan menciptakan
lapangan kerja baru.
Dalam penerapannya, kelompok petani tomat dapat melakukannya dengan
cara aktif mengikuti pameran-pameran hortikultura yang diselenggarakan di daerah
Kabupaten Ende. Hal tersebut bertujuan, untuk memperkenalkan produk tomat dari
petani lokal dan meyakinkan pelanggan dan konsumen potensial lokal bahwa
produk tomat yang dihasilkan oleh kelompok petani tomat di Kabupaten Ende tidak
kalah bagus dengan produk tomat dari daerah lain. Selain itu, dengan mengikuti
kegiatan ini, kelompok petani tomat dapat menjaring pelanggan baru sehingga
permintaan tomat menjadi bertambah. Dengan demikian, pendapatan petani tomat
dapat meningkat karena didukung permintaan pasar lokal.