TUGAS BESAR MATA KULIAH
MEKATRONIKA
ABS (ANTI-BLOCKING SYSTEM)
Disusun oleh :
Rifat Allam Muttaqin
2460047010
Program Studi Teknik Mesin - Fakultas Teknologi Manufaktur
Universitas Jenderal Achmad Yani
Bandung - Cimahi
2025
Bab I
Pendahuluan
1.1 Pengertian
Sistem rem anti terkunci atau anti-lock braking system (ABS) merupakan sistem pengereman
pada mobil agar tidak terjadi penguncian roda ketika terjadi pengereman mendadak/keras.
Anti-lock Brake Systems dirancang untuk mencegah terjadinya penguncian roda ( wheel lockup)
saat pengeman mendadak di segala medan [Link] saat pengeraman adalah:
- Mobil tetap stabil
- Arah kemudi stabil ( Vehicle Stability )
- Mengerem lebih cepat (jarak pengereman lebih dekat, kecuali jalan tanah, bersalju)
- Penguasaan kontrol kendaraan menjadi maksimal (tinggat kestabilan)
Gambar 1
1 Jika roda depan terkuci, mobil tidak mungkin bisa di arahkan
2 Jika roda belakang terkunci, mobil bisa tidak stabil dan tergelincir ke salah satu sisi
Gambar 2: sudut pengereman
Jika permukaan jalan saat pengereman tidak rata, roda2 yang mengalami selip akan
mudah terkunci dan mobil akan berputar putar . namun dengan sistem ABS mobil akan tetap
stabil sampai mobil tersebut berhenti.
Gambar 3: pengereman jalan lurus
1.2 Jenis ABS (Anti-Lock Brake Types)
a. 4-Sensor 4-Channel ( Independent control )
Jenis ABS ini mempunyai empat wheel sensor dan 4 hydraulic control channel dan
masingmasing mengontrol secara tersendiri. Sistem ini mempunyai tingkat keamanan dan
jarakpemberhentian yang lebih pendek di berbagai macam kondisi jalan. Namun apabila
permukaan jalannya licin, besar gaya rem antara kanan dan kiri yang tidak rata akan
mengakibatkan terjadi gerakan Yawing pada bodi kendaraan sehingga bisa mengurangi
kestabilan. Karena itulah,kebanyakan mobil yang dilengkapi dengan tipe 4 channel ABS
memasukkan satu select low logic pada roda belakang agar mobil tetap stabil, di berbagai
macam kondisi jalan.
Gambar 4: Independent control
b. 4-Sensor 3-Channel (Roda depan: independent, Roda belakang : Select low )
Dipakai untuk mobil FF (Front engine Front driving), kebanyakan berat kendaraan
terpusat di rodadepan dan berat titik tengah kendaraan saat direm juga berpindah ke depan
hampir 70%, gaya pengereman ini dikontol oleh roda depan. Artinya adalah kebanyakan
tenaga pengeremandibangkitkan oleh roda depan, sehingga agar ABS bisa efektif, maka
diperlukan pengaturantersendiri (independent control) pada roda [Link] demikian,
roda belakang yang gaya pengeremannya lebih sedikit, juga sangat pentinguntuk memastikan
kendaraan aman saat dilakukan pengereman. Karena itulah apabila saat ABS roda belakang
bekerja di permukaan jalan yang licin, maka independent control pada rodabelakang
mengatur agar gaya pengereman roda2 belakang tidak merata sehingga mobilmengalami
yawing. Untuk menhindari gerakan yawing ini dan untuk menjaga agar mobil tetapaman saat
ABS bekerja di berbagai kondisi jalan, maka tekanan rem roda belakang diaturberdasarkan
kecenderungan roda mana yang mengalami lock-up. Konsep pengaturan ini dikenaldengan
‘Select-low control’.
c. 4-Sensor 3-Channel (Roda depan;indendent control,Roda belakang ; Select control )
Mobil yang dilengkapi dengan H-bake line system mempunyai sistem kontrol ABS jenis ini.
2channel untuk roda depan dan satunya lagi untuk roda belakang. Roda belakang
dikontrolbersama dengan select low control logic. Untuk X-brake line system, diperlukan 2
channels (2brake port di dalam unit ABS) untuk mengatur roda belakang dikarenakan
masing-masing rodabelakang mempunyai jalur rem yang berbeda.
Gambar 5: Select Control
d. 1-Sensor 1-Channel ( Roda belakang: Select low control )
Dipakai untuk mobil yang dilengkapi dengan H-bake line system, hanya untuk
mengontrol tekanan roda belakang. Pada rear diffirential dipasang satu wheel speed sensor
yang berfungsi untuk mendeteksi kecepan roda. Cara kerjanya adalah saat dilaukan
pengeraman mendadak rodadepan akan terkunci, sehingga kestabilan kemudi mobil akan
hilang dan jarak henti padapermukaan jalan yang mempunyai daya gesek rendah (low) juga
akan bertambah jauh. Sistem ini hanya akan membantu untuk penghentian lurus.
Gambar 6: select low control
1.3 ABSCM
ABS terdiri dari wheel speed sensor yang berfungsi untuk mendeteksi kecenderungan
suatu roda mengalami penguncian, HCU (Hydraulic Control Unit) mensuplai tekanan
rem ke setiap roda berdasarkan output signal dari ABSCM (control module).
1.3 ABSCM (CONTROL MODULE)
Dari sinyal wheel speed sensor, ABSCM akan menghitung dan memperkirakan
akselerasi, deselerasi dan slip rasio, pengaturan solenoid valve dan return pump, gunanya
adalah adalah untuk mencegah terjadinya wheel lock-up. ABSCM dapat mengatur sistem
monitoring pada sirkuit dan mematikan dirinya sendiri apabila sistem mengalami
kegagalan. Pengemudi dapat mengetahui adanya kegagalan sistem pada ABS apabila
lampu peringatan ABS menyala.
1) Komposisi dasar ABSCM
Apabila ABS mengalami kegagalan, ABSCM akan mematikan kerja sistem untuk
memastikan keselamatannya. Karena apabila kerja dari solenoid valve tidak normal,
dapat mempengaruhi tekanan rem terhadap roda. Karena alasan inilah ABSCM dapat
menganalisa dan mengantisipasi semua kemungkinan kegagalan pada sistem. Untuk
memasang ABSCM secara langsung pada HCU (Hydraulic Control Unit),
semiconductor yang ada di dalam ABSCM harus tahan pada suhu antara - 40 s/d 125
derajat celsius.
Berkatpengembangan teknologi semiconductor dan ukurannya yang kecill,
sekarang ini yang popular banyak dipakai adalah tipe (ABSCM + HCU). Misalnya
Bosch ABS versi 5.0 atau yang lebih tinggi,versi MK-20i atau yang lebih tinggi
keluaran TEVES dan EBC 325 Kelsey Hayes mewakili integrated [Link]
masukan merupakan double-monitored dan double-calculated. Input-nya juga
[Link] menghindari kesalahan pengoperasian pada ECU, maka
dipasang dua microprocessor yang embandingkan dan memonitor hasilnya, dan ECU
sebagai tambahan dimonitor oleh SAS (Safety Assurance System) atau intelligent
Watch-Dog untuk mencegah kesalahan pengoperasian pada ECU. Satu IC mengatur
solenoid2 untuk setiap channel-nya dan Power MOSFET dengan proteksi sirkuit yang
bisa diandalkan sebagai pengganti relay yang mengatur kerja solenoid dan arus besar
saat motor bekerja.
Selanjutnya untuk mengurangi pumping dan pengaruh kick-back yang berlebihan,
maka dipakai motor speed control dengan mircopocessor 16 bit agar perhitungan
kecepatan roda dan performa ABS menjadi lebih baik, dengan kemampuan 5
millidetik per siklus kerja. 4 komponen utama yang terdapat pada sistem ABS :
a) Sirkuit penguat input Wheel Speed Sensor
Dari setiap wheel speed sensor yand dipasang pada roda, di dalam
sirkuitnya dipasang bentuk gelombang arus. Bentuk gelombang tersebut
dikuatkan dan dirubah menjadi bentuk gelombang persegi, dan dikirim ke
Microcontroller. Sesuai dengan jenis ABS, jumlah wheel speed sensor akan
berubah dan jumlah sirkuit penguatnya juga akan berubah.
b) Microcontroller
Acuan kecepatan, rasio selip, rata2 akslerasi/deselerasi dan kerja solenoid
dan motor dihitungberdasarkan informasi dari setiap rodanya. Sirkuit ini
mendeteksi gelombang sensor kecepatanroda setiap detiknya. Microcontroller
menghitung acuan kecepatan berdasarkan kecepatanrodanya, kemudian
membandingkan kecepatan referensi dan momen kecepatan roda
untukmemperkirakan rasio selip dan rata2 akselerasi dan deselerasinya. Solenoid
valve mengaktifkanoutput sirkuit untuk pressure dump, hold, menaikkan sinyal ke
solenoid pada roda yang terkuncisesuai dengan perkiraan sinyal pengaturan
seperti slip ratio, akselerasi/deselerasi.
c) Sirkuit menagaktifkan Solenoid Valve
Sirkuit ini gunanya adalah untuk mengatur arus solenoid valve dan
menghidupkan atau mematikanpressure dump, hold, menaikkan sinyal
Microcontroller.
d) Voltage Regulator, Motor Relay & Failsafe Relay Driver circuit, Lamp Driver
circuit,Communication circuit
Memonitor tegangan suplai (5V, 12V) yang sedang dipakai untuk
ABSCM dalam keadaan stabilberdasarkan batasan tegangannya. Alat ini dapat
mendeteksi adanya kegagalan sistem danmengaktifkan valve relay, motor relay.
Apabila ada kerusakan pada sistem ABS, maka sistemakan dihentikan
dikarenakan valve/motor relay menjadi off dan lampu peringan ABS akan
menyala untuk memberitahukan kepada si pengemudi bahwa ada kerusakan pada
sistem ABS. Bila adakerusakan pada ABS, maka rem yang bekerja adalah normal,
seperti pada rem biasanya.
BAB 2
PERANCANGAN
2.1 Skema ABS
Sebuah sistem rem anti penguncian dirancang untuk aplikasi kendaraan tertentu.
Sebuah truk yang tidak menarik sebuah trailer, seperti mixer semen, akan memiliki ABS
sedikit berbeda dari sebuah traktor truk yang menarik satu atau lebih trailer. Demikian
juga, sebuah sistem rem anti penguncian untuk trailer akan memiliki desain yang
[Link] untuk mobil mungkin bahkan lebih spesifik dan dapat dirancang tertentu
Gambar 7: skema ABS
Gambar 8 : Skema ABS 2
Terlepas dari produsen atau jenis kendaraan, sistem rem anti penguncian semua
beroperasi dalam cara yang sama. sensor kecepatan roda ditempatkan pada setiap roda
yang akan dikontrol. Setiap sensor kecepatan biasanya memiliki roda bergigi yang
berputar pada kecepatan yang sama dengan roda kendaraan atau poros. Jika rem
diterapkan dan satu atau lebih roda dipantau tiba-tiba mulai mengurangi kecepatan pada
tingkat yang lebih tinggi dari yang lain, controller akan mengaktifkan sistem anti
penguncian.
Nama merek dan model mobil. Sejak ABS komponen harus sesuai dan fungsi
bersama dengan komponen kendaraan yang ada di setiap model, proses desain dan
pembuatan sistem rem anti penguncian baru, dilakukan dalam kemitraan antara produsen
mobil dan pemasok ABS.
2.2 Raw Materials
Roda bergigi atau gigi di sensor kecepatan terbuat dari besi lunak, biasanya cor.
Besi dipilih karena memiliki permeabilitas magnet yang tinggi dan reluctance magnetik
rendah. reluctance Magnetik secara kasar setara dengan hambatan listrik, dan kadang-
kadang roda bergigi disebut sebagai reluctor. Fungsi roda bergigi adalah untuk
memungkinkan medan magnet permanen untuk mudah melewati setiap gigi
menyebabkan konsentrasi sesaat kekuatan medan yang menginduksi arus di kumparan
pick-up. Koil pick-up memiliki magnet permanen di inti, dibungkus dengan gulungan
kawat tembaga.
Controller biasanya menggunakan transistor dikenal sebagai hot-side drivers yang
mengendalikan tenaga pada sirkuit dan bukan pada pentanahan. Transistor ini
menghasilkan panas lebih dari biasanya dalam sirkuit elektronik. Daripada ditempatkan
dalam plastik atau rumah baja tersegel, mereka melekat pada rumah aluminium cor
dengan heat sink bersirip untuk mengusir panas.
Solenoida tekanan hidrolik rem yang digunakan dalam mobil memiliki standar konstruksi
elemen koil tembaga dengan katup baja dan tubuh. Mereka ditempatkan dalam casing
yang sama dengan sistem master silinder rem yang biasanya cast dari aluminium.
Kabel listrik adalah tembaga, sering dengan isolasi polyethylene cross-linked.
Untuk mencegah interferensi frekuensi radio (RFI), di mana daya tinggi sinyal radio
mungkin akan diterima melalui kabel dan menyebabkan sistem untuk aktif, semua kabel
baik terlindung atau kabel dijalankan sebagai pasangan dipelintir untuk membatalkan
efek dari gelombang radio . Konektor plastik dengan kontak tembaga didalamnya.
2.3 The Manufacturing Process
Proses manufaktur untuk anti-lock brake system terdiri dari Pembuatan bagian
komponen dan kemudian memasangnya pada kendaraan.
a) Pembuatan Master Rem Silinder
Master silinder mencakup badan solenoid sebagai unit tunggal.
piston Primer dan sekunder, kumparan selenoid, reservoir caps dan seals,
akumulator tekanan, dan banyak katup yang dipasang. Badan solenoid memiliki
penutup yang menempel pada master silinder dengan empat atau lebih sekrup.
b) Membuat Sensor Kecepatan Roda
berupa Roda Bergigi dilapisi besi.
Koil diletakkan disekitar inti magnet permanen didalam mesin. Seluruh bagiannya
dibungkus dalam plastic dengan dilengkapi konektor elektronik.
c) Membuat controller
Komponen kontroler tersolder pada circuit board.
board terkoneksi didalam pelindung dan dipasang dalam aluminium dasar.
Sambungan listrik luar disediakan untuk kabel input dari masing-masing sensor
kecepatan, dan kabel output ke solenoid pada master rem silinder.
d) Pemasangan ABS
baja pipa saluran rem untuk semua roda dipasang pada rangka bodi. Pada sekat
antara ruang mesin dan ruang pengendara. Kabel listrik untuk ABS juga
disediakan untuk seneor msing-masing roda.
Master rem silinder dipasang didekat pedal rem. Garis rem dilekatkan pada
selenoid .
sensor roda ditekan keluar secara konstan tetapi tetap didalam roda. Kumparan
solenoid dipasang dengan ujungnya didekat sensor kecepatan. Kumparan ini
terhubung ke kontroler
kontroler dipasang dibawah panel instrument atau dibagian bawah kendaraan.
Aliran listrik dari baterai kendaraan.
2.4 Quality Control
Gagasan dari suatu sistem elektronik yang mampu mengambil alih operasi rem kendaraan
adalah suatu hal yang mengganggu bagi sebagian orang. Untuk alasan ini, pengoperasian
sistem ini benar-benar teruji terlebih dahulu, dan kualitas instalasi terus ditinjau.
Selain itu, semua ABS dirancang untuk perihal gagal-aman, setiap kegagalan komponen
apapun akan menyebabkan sistem gagal sedemikian rupa untuk tetap emungkinkan operasi
yang aman secara keseluruhan rem.
BAB 3
CARA KERJA
Kendaraan dengan ABS dilengkapi dengan pedal-actuated,dual-brake system. Sistem
dasar pengereman hidrolik terdiri dari:
1. ABS hydraulic control valves dan electronic control unit (ECU)
2. Anti-lock brake control module
3. Front anti-lock brake sensors / rear anti-lock brake sensors
ABS beroperasi sebagai berikut:
1. Ketika rem digunakan, cairan dipaksa dari port outlet silender master rem ke port inlet
HCU. Tekanan ini diteruskan melalui empat katup solenoida biasanya terbuka yang di
dalamnya terdapat HCU, kemudian melalui port outlet HCU untuk setiap roda.
2. Sirkuit (belakang) utama dari silinder master menyuplai rem-rem depan.
3. Sirkuit (depan) sekunder dari silinder master menyuplai rem-rem belakang.
4. jika modul kontrol ABS merasakan roda terkunci, berdasarkan data anti-lock brake
sensor, akan menutup katup solenoid biasanya terbuka untuk rangkaian itu. Hal ini
mencegah lagi cairan yang memasuki sirkuit itu.
5. Modul kontrol anti-lock brake yang melihat kembali dari roda yang terpengaruh sinyal
sensor anti-lock brake.
6. Jika roda masih melambat, maka sistem akan membuka katup solenoid untuk sirkuit
tersebut.
7. Setelah roda yang dikenai kembali melaju, modul kontrol anti-lock brake mengembalikan
katup solenoida ke kondisi normal yang memungkinkan aliran fluida ke rem yang dikenai
kerja.
8. Modul kontrol anti-lock brake memonitor komponen elektromekanis dari sistem.
9. Kerusakan dari ABS akan menyebabkan modul kontrol anti-lock brake untuk mematikan
atau menghambat sistem. Namun, tetap ada daya-bantu pengereman normal.
10. Kehilangan cairan hidrolik di dalam silinder maste rem akan menonaktifkan sistem anti-
lock. Sistem anti-lock brake 4-wheel merupakan pemonitoran diri sendiri. Ketika saklar
pengapian berubah ke posisi RUN, modul control anti-lock brake akan melakukan cek
awal diri pada sistem listrik anti-lock ditunjukkan dengan indikator cahaya tiga detik
ABS.
11. Selama kendaraan beroperasi, dalam keadaan normal dan saat pengereman anti-lock,
modul control anti-lock brake memonitor semua sistem anti-lock elektrik dan beberapa
operasi hidrolik.
12. Setiap kali kendaraan dijalankan, saat setelah kecepatan kendaraan mencapai sekitar 20
km / h (12 mph), modul kontrol anti-lock brake menyalakan pompa motor untuk sekitar
satu-setengah detik. Pada saat ini, suara mekanis dapat didengar. Ini adalah fungsi normal
check-diri oleh modul kontrol anti-lock brake.
13. Ketika kecepatan kendaraan berada di bawah 20 km / h (12 mph), ABS dimatikan.
14. Sebagian besar malfungsi ABS dan traction control system, akan menyebabkan indikator
kuning peringatan ABS menyala.