0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Lafi: Penjaga Malam Desa Tersembunyi

Diunggah oleh

Fadra AP
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Lafi: Penjaga Malam Desa Tersembunyi

Diunggah oleh

Fadra AP
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”


Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.


Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”


Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.
Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.
“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”


Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.


Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”


Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.
Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.
“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”


Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.


Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”


Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.
Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.
“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”


Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.


Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”


Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.
Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”

Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.
“LAFI DAN MALAM YANG TAK BERAKHIR”

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan tua, ada seorang pemuda bernama Lafi. Semua orang
mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tenang, dan selalu membantu. Namun ada satu hal aneh
tentang dirinya: ia tidak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam.

Bukan karena takut gelap, bukan juga karena larangan orang tua—justru orang tuanya sudah
lama tiada. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.

Suatu malam, desanya digemparkan oleh suara dentuman keras dari arah hutan. Seperti pohon
besar tumbang. Penduduk panik, dan kepala desa meminta beberapa pemuda untuk mengecek.
Lafi, yang kebetulan sedang berjalan pulang, ikut terperangkap dalam kerumunan.

“Ayo ikut, Lafi!” kata teman dekatnya, Ardan.

Lafi langsung pucat. “M-maaf… aku harus pulang. Sekarang.”

“Pulang gimana? Kita harus bantu desa!”

Namun Lafi tetap mundur. Ardan melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya. Tetapi karena situasi genting, Ardan dan warga lain akhirnya pergi sendiri.

Malam itu desa gelap gulita. Angin membawa suara aneh dari hutan—seperti bisikan panjang
yang tidak punya sumber. Ardan dan rombongan kembali dengan wajah tegang.

“Ada sesuatu di hutan… tapi kami nggak tahu apa,” kata Ardan.

Keesokan paginya, kabar aneh muncul: jejak kaki besar seperti hewan, tapi bentuknya seperti
milik manusia, ditemukan mengarah ke desa. Penduduk mulai cemas.

Malam berikutnya, dentuman muncul lagi. Kali ini lebih dekat.

Ardan, yang curiga pada perubahan sikap Lafi, memutuskan mengawasinya. Ia bersembunyi di
dekat rumah Lafi, menunggu sampai malam.

Ketika jam menunjukkan pukul sebelas, pintu rumah Lafi terbuka perlahan. Lafi keluar… tapi
bukan sebagai dirinya.

Matanya berwarna perak, kulitnya tampak retak seperti batu, dan di sekeliling tubuhnya ada
cahaya samar. Tubuhnya bergerak cepat menuju hutan, seperti ditarik oleh sesuatu.

Ardan terkejut hingga hampir menjatuhkan ranting tempat ia bersembunyi.

“Lafi… selama ini kamu apa…?”


Ardan nekat mengikuti dari kejauhan. Lafi berhenti di tengah hutan, tepat di sebuah batu besar
yang dipenuhi simbol kuno. Cahaya dari tubuhnya semakin kuat.

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul makhluk besar berwujud bayangan, berjalan dengan langkah
berat. Makhluk itu mengaum rendah, membuat tanah bergetar.

Dan yang mengejutkan—Lafi membalas dengan suara yang sama.

Seolah… mereka berbicara.

Makhluk itu mundur perlahan, kemudian menghilang ke dalam gelap. Cahaya tubuh Lafi
meredup. Ia terjatuh, kembali ke wujud normal.

Ardan mendekat. “Laf! Kau baik-baik saja?!”

Lafi membuka mata pelan. “Ardan… jangan bilang ke siapa pun. Aku… penjaga terakhir. Kalau
aku tidak keluar malam-malam, makhluk itu akan masuk ke desa.”

Ardan terdiam.

“Ini tugasku sejak lahir,” lanjut Lafi. “Tugas yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ardan menelan ludah. “Tapi kau sendirian…”

Lafi tersenyum lemah. “Mulai malam ini… aku nggak sendirian lagi.”

Ardan mengangguk. “Aku akan bantu. Apapun itu.”

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi dentuman. Tidak ada lagi jejak kaki besar. Karena desa itu
kini dijaga oleh dua orang—Lafi dan sahabatnya.

Anda mungkin juga menyukai