0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Pendapat Hukum Pencabutan IUPK PT GMC

Diunggah oleh

22410072
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Pendapat Hukum Pencabutan IUPK PT GMC

Diunggah oleh

22410072
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

No: 017/AAHP/GMC/XXI/2022 Jakarta, 26 April 2022

Kepada Yang Terhormat,


PT Gadjah Mada Coal
Jl. Lubuk Beringin Nomor 138, Manggul, Kecamatan Lahat,
Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan

U.P. Ibu Yustisia Reagan Panuluh - Direktur Utama

Perihal: Pendapat Hukum (Legal Opinion)

Dengan Hormat,
Sebagaimana isi surat yang telah disampaikan oleh pihak PT Gadjah Mada Coal (“PT
GMC”) kepada kami Arkan Austin Harsyandi & Partners, mengenai permintaan pendapat
hukum atas dicabutnya Izin Usaha Pertambangan Khusus (“IUPK”) oleh Pemerintah
Republik Indonesia sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2022 (“Keppres No.
1/2020”) dan keterangan Presiden pada 6 Januari 2022. Dengan ini kami sampaikan pendapat
hukum sebagai berikut:

Dalam memberikan pendapat hukum ini, kami memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut:
1. Seluruh salinan dokumen yang diberikan kepada kami sesuai dengan aslinya;
2. Seluruh dokumen tersebut dikeluarkan dan diberikan oleh pihak yang berwenang
untuk itu; dan
3. Seluruh tanda tangan yang terdapat dalam dokumen yang kami terima merupakan
tanda tangan yang asli.

Pendapat hukum ini didasarkan pada kualifikasi sebagai berikut:


1. Pendapat hukum yang kami berikan terbatas pada hukum Republik Indonesia yang
berlaku pada tanggal pendapat hukum ini diberikan; dan
2. Pendapat hukum yang kami berikan terbatas pada fakta dan dokumen yang kami
jadikan sebagai acuan, sehingga apabila terdapat pergeseran atau perubahan terhadap
fakta dan/atau dokumen yang kami jadikan acuan tersebut, maka berubah pula
pendapat hukum yang kami berikan.
A. DUDUK PERKARA (STATEMENT OF FACT)
Pada tahun 2021 pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Energi Sumber Daya
dan Mineral Republik Indonesia Nomor 139.K/HK.02/MEM.B/2021 tentang Pemenuhan
Kebutuhan Batubara dalam Negeri. Pada intinya, melalui keputusan menteri ini pemerintah
menetapkan persentase penjualan batubara untuk kebutuhan dalam negeri Domestic Market
Obligation (“DMO”) sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari rencana jumlah produksi
batubara tahunan wajib dipenuhi. PT Gadjah Mada Coal (“PT GMC”) sendiri dalam
menjalankan kegiatannya bekerjasama dengan PT Joha Tambang dan PT Beringin Tambang
yang memegang Izin Usaha Jasa Pertambangan (“IUJP”) untuk melaksanakan kegiatan
usaha jasa pertambangan. Namun Izin Usaha Pertambangan Khusus (“IUPK”) PT GMC
dicabut pada tanggal 4 April 2022 dan termasuk dalam 2.078 izin usaha pertambangan yang
tidak produktif yang perintah pencabutannya tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 1
Tahun 2022 dan keterangan Presiden pada 6 Januari 2022. Kedua badan usaha itu merasa
dirugikan akibat pencabutan IUPK milik PT GMC dan menganggap PT GMC telah
mengingkari kewajiban yang disepakati dalam kerjasama.
Kemudian pada tanggal 18 April 2022 PT GMC bersurat kepada Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (“Kementerian ESDM”) sebagai tanggapan
atas pencabutan izin yang dilakukan kepadanya dengan alasan bahwa pemenuhan DMO tidak
dapat terlaksana oleh sebab adanya pandemi COVID-19 yang menimbulkan kerugian bagi
PT GMC berdasarkan kajian internal perusahaan yang dilaksanakan pada pertengahan tahun
2021 sehingga perusahaan menetapkan untuk fokus kepada kegiatan ekspor terlebih dahulu
dalam rangka menstabilkan keuangan perusahaan.
Akan tetapi hingga saat ini surat yang dilayangkan PT GMC kepada Kementerian
ESDM belum ditanggapi sama sekali. Dalam hal ini sebelum izin PT GMC dicabut,
pemegang izin menjalankan izin yang diberikan kepada Kementerian ESDM secara
produktif, tidak pernah mengalihkan izin tersebut kepada pihak lain, menjalankan izin
tersebut sesuai dengan peruntukan dan peraturan yang ada, serta melaporkan Rencana Kerja
Anggaran dan Biaya (“RKAB”) secara berkala.

B. PERMASALAHAN HUKUM (LEGAL ISSUES)


1. Apakah pencabutan IUPK milik PT GMC yang dilakukan oleh pemerintah sah
menurut hukum? Terkait upaya hukumnya, apa mekanisme yang dapat ditempuh oleh
PT GMC atas pencabutan IUPK?
2. Berapa lama jangka waktu upaya hukum yang dapat dilakukan PT GMC? Kemudian,
dokumen apa saja yang diperlukan dalam melakukan upaya hukum tersebut?
3. Mengenai efek dari pencabutan IUPK oleh pemerintah, apakah ketidakmampuan PT
GMC dalam memenuhi tanggung jawab terhadap kerjasama dengan pemilik IUJP

2
yaitu PT Joha Tambang dan PT Beringin Tambang merupakan bentuk dari force
majeure atau wanprestasi?

C. BAHAN HUKUM DAN DOKUMEN ACUAN (RULES AND DOCUMENT)


1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara (“UU No. 5/1986”);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (“UU
No. 9/2004”);
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara (“UU No. 51/2009);
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara
(“UU Minerba”);
6. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (“PP No. 96/2021”);
7. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 8 Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Untuk
Memperoleh Putusan Atas Penerimaan Permohonan Guna Mendapatkan Keputusan
Dan/Atau Tindakan Badan Atau Pejabat Pemerintah; (“PERMA No. 8 Tahun
2017”);
8. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 Tahun 2020 tentang
Tata Cara Pemberian Wilayah, Perizinan, Dan Pelaporan Pada Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral Dan Batubara (“Permen ESDM 7/2020”);
9. Putusan Mahkamah Agung Nomor 3389/K/Sip/Pdt/1984;
10. Keputusan Menteri ESDM Nomor 139.K/HK.02/MEM.B/2021 tentang Pemenuhan
Kebutuhan Batubara dalam Negeri (“Kepmen ESDM No.
139.K/HK.02/MEM.B/2021”);
11. Perjanjian/Kontrak Jasa Pertambangan antara PT GMC dengan PT Joha Tambang;
12. Perjanjian/Kontrak Jasa Pertambangan antara PT GMC dengan PT Beringin
Tambang;
13. Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) milik PT GMC;
14. Surat Keputusan pencabutan IUPK oleh Kementerian ESDM;
15. Rencana Kerja Anggaran dan Biaya (RKAB) milik PT GMC;
16. Anggaran Dasar milik PT GMC yang telah disahkan Departemen Kehakiman
Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.X.A.5/515/20 pada 15 Mei 1984;

3
17. Surat yang ditulis oleh PT GMC kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral pada 18 April 2022.

D. ANALISIS HUKUM (ANALYSIS)


1. Pencabutan IUPK PT GMC
Pencabutan IUPK milik PT GMC oleh Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (“Ditjen Minerba”) Kementerian ESDM, tidak
dibenarkan oleh hukum. Adapun peraturan yang terdapat di Indonesia, baik secara jelas
maupun eksplisit menyatakan bahwa pencabutan izin memang dapat dilakukan dengan tanpa
adanya peringatan tertulis apabila perusahaan pertambangan dalam hal ini PT GMC
melakukan beberapa hal yang tidak diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan,
antara lain:1
a. pelanggaran pidana yang dilakukan oleh pemegang izin;
b. hasil evaluasi menteri karena menimbulkan kerusakan lingkungan dan
tidak menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik; dan
c. pemegang izin dinyatakan pailit.

Menurut kami, untuk menyelesaikan permasalahan hukum ini maka upaya hukum
yang dapat dilakukan oleh PT GMC yaitu litigasi atau penyelesaian sengketa di Pengadilan.
Kompetensi Pengadilan yang akan ditempuh yaitu melalui Pengadilan Tata Usaha Negara
(“PTUN”). Perihal gugatan / permohonan melalui PTUN dapat dilihat dari Keputusan
Presiden Nomor 1 Tahun 2022 (“Keppres No. 1/2020”) untuk memerintahkan pencabutan
2.078 izin usaha pertambangan yang tidak produktif, dalam hal ini PT GMC yang merasa
dirugikan atas Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”) ini.2 Dikarenakan PT GMC juga
termasuk dalam pencabutan 2.078 izin usaha pertambangan tersebut.
Berdasarkan perspektif hukum administrasi di Indonesia, PT GMC dapat melakukan
gugatan / permohonan ke PTUN dengan dasar terkait pencabutan perizinan. PT GMC dapat
mengajukan gugatan / permohonan tertulis dengan memuat tuntutan agar KTUN yang
disengketakan dinyatakan batal atau tidak sah,3 serta memohon kepada PTUN untuk dapat
menetapkan penerbitan kembali IUPK yang telah dicabut pada tanggal 4 April 2022.

2. Jangka Waktu Upaya Hukum dan Dokumen yang Perlu Dipersiapkan


Bagi pihak yang namanya terdapat pada KTUN diatur di dalam peraturan perundang-
undangan, dapat melayangkan gugatan / permohonan ke PTUN selama tenggang waktu 90

1
Pasal 188 PP No. 96 Tahun 2021
2
Pasal 1 angka 9 UU No. 51/2009
3
Pasal 53 ayat (1) UU No. 9/2004

4
hari setelah diterimanya atau diumumkannya Keputusan Badan atau pejabat KTUN.4 Hal
yang dimaksud demikian adalah PT GMC dapat melayangkan gugatan / permohonan ke
PTUN setelah IUPK tersebut dicabut oleh Kementerian ESDM. Berikut kami jelaskan terkait
timeline pencabutan IUPK milik PT GMC:

No. Waktu Keterangan

Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor


1 Tahun 2022 dan keterangan Presiden pada
1. 6 Januari 2022 6 Januari 2022 yang memerintahkan
pencabutan 2.078 izin usaha pertambangan
yang tidak produktif.

2. 4 April 2022 Pencabutan IUPK milik PT GMC.

PT GMC bersurat kepada Kementerian


3. 18 April 2022
ESDM.
PT GMC memohon meminta pendapat
4. 26 April 2022 hukum kepada Arkan Austin Harsyandi &
Partners.

Pada timeline tersebut, jangka waktu untuk melayangkan gugatan / permohonan ke PTUN
masih dapat dilakukan, karena melihat tenggang waktu dari pencabutannya yaitu 4 April
2022.
Dalam pengajuan gugatan ke PTUN, PT GMC perlu mempersiapkan dokumen yang
diperlukan seperti surat maupun tulisan yang masih terdapat hubungannya dengan gugatan
yang akan diajukan,5 dokumen tersebut di antaranya:
a. Surat Gugatan yang diajukan oleh PT GMC;
b. Salinan Keppres No. 1/2020;
c. Salinan daftar perusahaan IUP & IUPK yang dicabut oleh pemerintah;
d. IUPK PT GMC yang telah dicabut;
e. Anggaran Dasar PT GMC sejumlah 1 (Satu);
f. Surat keputusan pencabutan IUPK oleh Kementerian ESDM; dan
g. Surat yang ditulis oleh PT GMC kepada Kementerian ESDM pada 18 April 2022.

4
Pasal 55 UU No. 5/1986
5
Pasal 100 UU No. 5/1986

5
3. Terkait Force Majeure atau Wanprestasi yang dilakukan oleh PT GMC
Menurut kami, dalam kasus yang sedang dialami oleh PT GMC terhadap
kewajibannya dalam kontrak kerjasama jasa pertambangan dengan PT Joha Tambang dan
PT Beringin Tambang selaku pemilik IUJP adalah bentuk dari Force Majeure. Dikarenakan
dalam hal ini pencabutan IUPK PT GMC oleh pemerintah dilakukan secara tidak
direncanakan. Selain itu dalam pencabutannya, tidak terdapat surat peringatan yang
dilayangkan oleh Kementerian ESDM kepada PT GMC sehingga PT GMC tidak dapat
memberi tahu terlebih dahulu kepada kedua perusahaan yang memiliki IUJP tersebut.
Hal ini menjadi catatan tersendiri lantaran dalam tahapan pencabutan izin tambang
terdapat ketentuan yang telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan salah satunya
pemberian surat peringatan terhadap perusahaan pertambangan yang bersangkutan.6 Akan
tetapi, pencabutan izin memang dapat dilakukan dengan tanpa adanya peringatan tertulis
apabila perusahaan pertambangan dalam hal ini PT GMC melakukan beberapa hal yang
termuat di dalam Pasal 188 PP No. 96 Tahun 2021 (penjelasan terkait hal tersebut terdapat
pada ke-5 pendapat hukum ini). Atas dasar hal tersebut, PT GMC dalam hal ini tidak
mengetahui sama sekali apabila IUPK miliknya akan dicabut dan membuat kerjasama
dengan PT Joha Tambang dan PT Beringin Tambang menjadi bermasalah.
Terkait dengan Force Majeure atau keadaan memaksa sendiri, Pasal 1244
KUHPerdata telah menjelaskan bahwa subjek hukum dapat dimintai ganti rugi apabila subjek
hukum tersebut tidak dapat membuktikan alasan yang jelas serta tidak dapat melaksanakan
prestasi tepat waktu karena suatu hal yang tak terduga.
Yurisprudensi7 terkait kategori Force Majeure telah diatur dalam Putusan Mahkamah
Agung Nomor 3389/K/Sip/Pdt/1984 yaitu administrasi dari penguasa, perintah dari
penguasa, tindakan administratif mengikat, dan kejadian mendadak yang tidak dapat diatasi.

6
Pasal 95 ayat (2) PERMEN ESDM No. 7/2020
7
Merupakan putusan Mahkamah Agung yang bermuatan terobosan hukum sehingga terus-menerus diikuti oleh
pengadilan-pengadilan di bawah hierarki Mahkamah Agung.

6
E. KESIMPULAN (CONCLUSIONS)
1. KTUN yang merugikan PT GMC yaitu pencabutan IUPK yang tertera dalam Keppres
No. 1/2020 dapat digugat ke PTUN atas dasar perizinan dengan tujuan pembatalan
KTUN tersebut serta penerbitan kembali IUPK yang telah dicabut.
2. Terkait kontrak kerjasama dengan PT Joha Tambang dan PT Beringin Tambang,
upaya yang kami rekomendasikan dan dapat dilakukan oleh PT GMC adalah
melakukan renegosiasi kontrak kerjasama antara PT Joha Tambang dan PT Beringin
Tambang.
3. Kemudian, kami juga menyarankan kepada pihak PT GMC bahwa keadaan memaksa
(dengan alasan pencabutan IUPK oleh pemerintah) harus segera diberitahukan oleh
pihak yang bersangkutan yaitu kepada PT Joha Tambang dan PT Beringin Tambang.

Demikianlah pendapat hukum ini kami berikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima
kasih.

Hormat kami,

Austin Hubacher Gustaf William IX


Managing Partner Arkan Austin Harsyandi & Partners

Anda mungkin juga menyukai