MAKALAH
Hakikat, Rasional dan Manfaat Etnomatematika
Mata Kuliah: Etnomatematika
Dosen pengampu:
Farah Heniati Santosa, [Link].
Disusun oleh:
Martini
Tuhfatul Aspia’
Safinatunnaja Husaini
Ahmad Wirama Utama Asmara
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN
TAHUN 2025/2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika” dengan baik dan tepat waktu.
Makalah ini disusun sebagai salah satu upaya untuk memperdalam pemahaman mengenai
pentingnya keterkaitan antara budaya dan pembelajaran matematika. Melalui kajian
etnomatematika, diharapkan pembelajaran matematika dapat menjadi lebih bermakna,
kontekstual, serta mampu menumbuhkan apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal yang ada
di masyarakat.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat berbagai
kekurangan, baik dalam isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini di masa
yang akan datang.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah memberikan dukungan, bimbingan, dan motivasi dalam proses penyusunan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya
dalam memahami dan menerapkan konsep etnomatematika dalam pembelajaran matematika.
Anjani, 01 November 2025
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................i
Daftar Isi ..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................…. 1
C. Tujuan.......................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Apa hakikat atau pengertian etnomatematika..............................................2
B. Bagaimana rasionalitas penerapan etnomatematika dalam pembelajaran
matematika...................................................................................................2
C. Apa manfaat etnomatematika pada pembelajaran matematika...................3
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................5
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Matematika sering dianggap sebagai ilmu yang abstrak, formal, dan terlepas dari
kehidupan nyata. Dalam praktik pendidikan, banyak siswa yang merasa matematika sulit
dipahami karena penyajiannya tidak dikaitkan dengan pengalaman atau budaya mereka
sehari-hari. Padahal, dalam realitas kehidupan masyarakat, banyak aktivitas yang sebenarnya
mengandung unsur matematika tanpa disadari, seperti dalam sistem pengukuran tradisional,
perhitungan dalam perdagangan, pola hiasan kain batik, seni arsitektur rumah adat, dan lain
sebagainya.
Fenomena inilah yang menjadi dasar munculnya konsep etnomatematika, yaitu
cabang kajian yang mengaitkan antara matematika dan budaya. Istilah ethnomathematics
diperkenalkan pertama kali oleh Ubiratan D’Ambrosio pada tahun 1985. Menurut
D’Ambrosio, etnomatematika merupakan studi tentang bagaimana kelompok masyarakat
tertentu mengembangkan, memahami, dan menggunakan konsep-konsep matematika dalam
konteks budaya mereka sendiri. Dengan kata lain, etnomatematika menegaskan bahwa setiap
budaya memiliki bentuk dan praktik matematika yang khas, meskipun berbeda dari
matematika formal yang diajarkan di sekolah.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia yang sangat beragam budaya, penerapan
etnomatematika memiliki potensi besar untuk menjadikan pembelajaran matematika lebih
bermakna, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal. Oleh karena itu, pembahasan tentang
hakikat, rasionalitas, dan manfaat etnomatematika dalam pembelajaran matematika menjadi
sangat penting untuk dipahami oleh pendidik maupun calon guru.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa hakikat atau pengertian etnomatematika?
2. Bagaimana rasionalitas etnomatematika dalam pembelajaran matematika?
3. Apa manfaat etnomatematika pada pembelajaran matematika?
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk:
1. Menjelaskan hakikat atau pengertian etnomatematika.
2. Menguraikan rasionalitas penerapan etnomatematika dalam pembelajaran
matematika.
3. Menjabarkan manfaat etnomatematika pada pembelajaran matematika.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat atau Pengertian Etnomatematika
Secara etimologis, kata etnomatematika berasal dari tiga unsur, yaitu:
Ethno yang berarti kelompok sosial atau budaya tertentu,
Mathema yang berarti kegiatan belajar, memahami, atau menjelaskan,
dan Tics yang berarti teknik, cara, atau seni melakukan sesuatu.
Dengan demikian, etnomatematika dapat diartikan sebagai studi mengenai cara
masyarakat dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan aktivitas matematis
berdasarkan latar budaya mereka.
Menurut D’Ambrosio (1985), etnomatematika adalah bentuk matematika yang
digunakan oleh kelompok budaya tertentu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
dalam konteks sosial dan lingkungan mereka. Ini berarti, matematika tidak hanya dimiliki
oleh lembaga pendidikan atau masyarakat modern, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-
hari masyarakat tradisional melalui praktik budaya mereka.
Sebagai contoh:
Pola simetri dan geometri pada batik, tenun, dan anyaman bambu,
Sistem pengukuran waktu dan arah mata angin dalam adat masyarakat,
Penggunaan konsep bilangan dan perhitungan dalam perdagangan tradisional,
Struktur bangunan rumah adat yang mencerminkan konsep proporsi dan
keseimbangan,
serta pola tanam dan irigasi pertanian tradisional yang memperlihatkan keteraturan
matematis.
Dengan memahami hakikat etnomatematika, kita dapat melihat bahwa matematika adalah
ilmu yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat, bukan sekadar kumpulan rumus
yang diajarkan di kelas. Etnomatematika menegaskan bahwa setiap budaya memiliki cara
berpikir dan berlogika yang dapat disejajarkan dengan konsep-konsep matematika formal.
B. Rasionalitas Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika
Rasionalitas penerapan etnomatematika dalam pembelajaran matematika berkaitan
erat dengan pentingnya menjadikan pembelajaran lebih bermakna, kontekstual, dan
relevan dengan kehidupan siswa. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma pendidikan
modern yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar, di mana
pengalaman dan budaya lokal mereka menjadi sumber pengetahuan.
Menurut Bishop (1988), kegiatan matematika sebenarnya sudah ada dalam semua
kebudayaan manusia, meskipun bentuk dan istilahnya berbeda. Oleh karena itu, mempelajari
etnomatematika berarti menghargai bahwa setiap kelompok budaya memiliki bentuk
“berpikir matematis” yang khas.
Beberapa alasan rasional penerapan etnomatematika dalam pembelajaran antara lain:
1. Meningkatkan relevansi pembelajaran.
Siswa lebih mudah memahami konsep matematika jika dikaitkan dengan pengalaman
budaya yang mereka alami sehari-hari. Misalnya, konsep simetri dan pola dapat
dipelajari melalui motif batik daerah setempat.
2. Meningkatkan motivasi dan minat belajar.
Dengan menghadirkan unsur budaya dalam pembelajaran, matematika menjadi lebih
menarik dan bermakna, bukan hanya kumpulan rumus tanpa konteks.
3. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Analisis terhadap fenomena budaya seperti bentuk rumah adat, pola tenun, atau sistem
kalender tradisional menuntut siswa untuk berpikir logis dan menemukan hubungan
dengan konsep matematika formal.
4. Menanamkan nilai karakter dan kebanggaan budaya.
Pembelajaran yang berakar pada budaya lokal membantu siswa memahami bahwa
ilmu pengetahuan tidak bertentangan dengan tradisi, melainkan saling memperkaya.
5. Mendukung pendidikan multikultural.
Dengan mengenalkan berbagai bentuk praktik matematika dari beragam budaya di
Indonesia, siswa belajar menghargai perbedaan dan keberagaman.
Secara pedagogis, penerapan etnomatematika juga sejalan dengan pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) dan Realistic Mathematics Education (RME), yang
menekankan pentingnya mengaitkan konsep matematika dengan konteks nyata agar siswa
dapat membangun sendiri pemahamannya.
C. Manfaat Etnomatematika pada Pembelajaran Matematika
Penerapan etnomatematika dalam pembelajaran memiliki banyak manfaat, baik dari
sisi akademik maupun sosial-budaya. Menurut Rosa dan Orey (2011), etnomatematika dapat
meningkatkan pemahaman konseptual siswa sekaligus memperkaya wawasan budaya
mereka.
Beberapa manfaat utamanya antara lain:
1. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar.
Siswa merasa pembelajaran matematika lebih dekat dengan kehidupan mereka,
sehingga lebih antusias dan termotivasi untuk belajar.
2. Membantu memahami konsep abstrak.
Konsep-konsep matematika yang sulit dapat dijelaskan melalui contoh konkret dari
budaya lokal, misalnya konsep bangun datar dengan pola ukiran tradisional.
3. Menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal.
Dengan mengaitkan matematika dengan unsur budaya, siswa belajar bahwa warisan
budaya mereka mengandung nilai ilmiah dan logika yang tinggi.
4. Mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking
Skills).
Ketika siswa diminta menganalisis hubungan antara konsep matematika dan praktik
budaya, mereka dilatih untuk mengobservasi, menganalisis, dan menggeneralisasi
pola matematis.
5. Menanamkan nilai-nilai karakter dan sosial.
Melalui pembelajaran berbasis budaya, siswa juga belajar nilai-nilai seperti kerja
sama, gotong royong, ketelitian, dan tanggung jawab.
6. Melestarikan budaya bangsa.
Etnomatematika menjadi media pelestarian budaya lokal karena mengajarkan siswa
untuk menghargai, mendokumentasikan, dan memahami praktik-praktik budaya yang
mengandung nilai matematis.
Dengan demikian, penerapan etnomatematika tidak hanya meningkatkan kualitas
pembelajaran matematika, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian budaya dan
pembentukan karakter generasi muda.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Etnomatematika adalah studi tentang hubungan antara matematika dan budaya, yang
menekankan bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki cara berpikir dan praktik
matematis sendiri. Dalam pembelajaran matematika, etnomatematika berfungsi untuk
mengaitkan konsep-konsep abstrak dengan konteks nyata dalam budaya lokal siswa, sehingga
pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan.
Rasionalitas penerapan etnomatematika terletak pada upaya menjadikan matematika lebih
manusiawi, kontekstual, serta sebagai sarana pelestarian budaya dan pendidikan karakter.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar matematika sebagai ilmu, tetapi juga
sebagai bagian dari kehidupan dan identitas budaya mereka.
Secara keseluruhan, etnomatematika memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan, di
antaranya meningkatkan motivasi belajar, memperdalam pemahaman konsep, menumbuhkan
apresiasi terhadap budaya, serta memperkuat karakter dan jati diri bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Bishop, A. J. (1988). Mathematical Enculturation: A Cultural Perspective on
Mathematics Education. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
D’Ambrosio, U. (1985). Ethnomathematics and Its Place in the History and
Pedagogy of Mathematics. For the Learning of Mathematics, 5(1), 44–48.
Marsigit. (2016). Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta:
UNY Press.
Rosa, M., & Orey, D. C. (2011). Ethnomathematics: The Cultural Aspects of
Mathematics. Revista Latinoamericana de Etnomatemática, 4(2), 32–54.
Noto, M. S., & Pramuditya, S. A. (2019). Etnomatematika dalam Konteks
Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Matematika, 13(2), 75–86.
Ascher, M. (1991). Ethnomathematics: A Multicultural View of Mathematical Ideas.
Pacific Grove: Brooks/Cole.
Zaslavsky, C. (1999). Africa Counts: Number and Pattern in African Culture.
Chicago: Lawrence Hill Books.
Suryanto, A. (2017). Integrasi Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika di
Indonesia. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 6(1), 45–58.