0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan17 halaman

Perbandingan Pembelajaran Kontekstual dan Konvensional

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan17 halaman

Perbandingan Pembelajaran Kontekstual dan Konvensional

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

FARABI

Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika

Perbedaan Kemampuan Berpikir Kreatif Dan Berpikir Kritis Siswa


yang Diajar Menggunakan Pembelajaran Konvensional Dengan
Kontekstual

Ronald Mahmud Sitorus1, Ilham Nazaruddin2


1
Prodi Pendidikan Matematika, STKIP Amal Bakti, Medan, Indonesia
2
Pendidikan PGSD, STKIP Amal Bakti, Medan, Indonesia
Email: ronaldregen710@[Link]

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran kontekstual
dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional, (2) Untuk mengetahui bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran
kontekstual dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional, (3) Untuk mengetahui
aktivitas siswa selama proses pembelajaran yang diajarkan dengan pembelajaran kontekstual dan
yang diajarkan dengan pembelajaran Konvensional, (4) Untuk mengetahui respon siswa terhadap
kegiatan yang diajarkan dengan pembelajaran kontekstual dan yang diajarkan dengan
pembelajaran konvensional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 2 Binjai.
Kemudian secara acak dipilih tiga kelas dari semua kelas X SMA Negeri 2 binjai yaitu kelas XA,
kelas XB, dan kelas XC dimana kelas XA sebagai kelas eksperimen dan kelas XB sebagai kelas
kontrol serta kelas XC sebagai kelas uji coba instrumen. Kelas uji coba digunakan untuk
menyempurnakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan menerapkan pembelajaran
kontekstual. Instrumen penelitian ini menggunakan tes berpikir kreatif dan berpikir kritis matematis.
Instrumen tersebut telah di uji oleh validator dan telah memenuhi syarat validitas isi, serta koefisien
reabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Dari hasil perhitungan uji F, dihasilkan bahwa
Fhitung = 102,477 dan Ftabel = 4,006873 dengan taraf signifikan sebesar 5% Jika Fhitung ≥ Ftabel
maka H0 ditolak dan Ha diterima artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan
berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran kontekstual dengan siswa yang memperoleh
pembelajaran konvensional (2) Dari hasil perhitungan uji F, dihasilkan bahwa Fhitung = 7,557737
dan Ftabel = 4,006873 dengan taraf signifikan sebesar 5% Jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0 ditolak dan
Ha diterima artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa
yang memperoleh pembelajaran kontekstual dengan siswa yang memperoleh pembelajaran
konvensional, (3) Keaktifan siswa dalam pembelajaran kontekstual dan konvensional memenuhi
batas toleransi, (4) Rata – rata persentase keseluruhan komponen respon siswa terhadap
pembelajaran kontekstual dan konvensional lebih besar atau sama dengan 80%, maka disimpulkan
bahwa respon siswa terhadap pembelajaran kontekstual dan konvensional adalah positif (5) Proses
penyelesaian jawaban siswa dengan menggunakan pembelajaran kontekstual memiliki kriteria baik.
Hal ini ditunjukkan dengan jawaban siswa dalam menyelesaikan tes kemampuan berpikir kreatif
dan berpikir kritis siswa lebih baik pada kelas pembelajaran kontekstual dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional.
Kata kunci: Pembelajaran Kontekstual, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan
berpikir kritis siswa
ABSTRACT
This study aimed to determine (1) To know that there are significant differences between creative
thinking abilities of students who obtain contextual learning and students who received conventional
learning, (2) To know that there are significant differences between critical thinking skills students
acquire learning Contextual and the students who received conventional learning, (3) To determine
the activity of students during the learning process taught by contextual learning and being taught
by Conventional method, (4) To determine the students' response to the activities taught by contextual
learning and being taught by conventional teaching, The study population was class X SMA Negeri
2 Binjai. Then randomly selected from all three classes of class X SMA Negeri 2 Binjai is class XA,
XB, and the class of XA and XC as an experimental class, and control class as a class of XB and XC
as the class of test instruments. Class tests are used to enhance learning device that was developed
by applying contextual learning. The research instrument used tests of creative thinking and critical
thinking mathematically. The instrument has been tested by the validator and has qualified content
validity and reliability coefficients. The results showed that (1) From the results of the F test
calculation, resulting that = 102.477 and = 4.006873 with significance level of 5% If Fhitung ≥ Ftabel
then H0 rejected and Ha accepted means there is a significant difference between the creative
thinking abilities of students who obtain contextual learning with students who received conventional
learning (2) The calculation of F test, and the result that Fhitung = 7,557737 and Ftabel = 4,006873
with significance level of 5% If Fhitung ≥ Ftabel then H0 rejected and Ha accepted means that there
are significant differences between students' critical thinking skills who obtain contextual learning
with students who received conventional learning, (3) ) The active participation by students in
contextual learning and conventional meets the tolerance limits, (4) Averages percentage of total
components of students' responses to contextual learning and conventional greater than or equal to
80%, then concluded that students' response to conventional and contextual learning is positive (5)
The process of settlement of the students' answers using contextual learning has both criteria. This
is shown by the students' answers in completing the test the ability of creative thinking and critical
thinking of students are better on the class contextual learning compared to conventional learning.
Keywords: Contextual learning, Students’ creative thinking skills and critical thinking skills

A. Pendahuluan sangat menentukan kualitas pendidikan yaitu guru


Salah satu diantara masalah besar yang yang kualitasnya tinggi, proses belajar mengajar
dihadapi dunia pendidikan di Indonesia akhir- yang tepat dan buku pelajaran.
akhir ini yang banyak diperbincangkan dari Proses belajar mengajar yang baik harus
berbagai kalangan adalah rendahnya kualitas sesuai dengan prinsip pembelajaran. Prinsip
pendidikan. Pembelajaran adalah inti dari aktivitas pembelajaran menurut Larsen dan Freeman (1986
pendidikan, oleh sebab itu pemecahan masalah dalam Supani dkk. 1997/1998) adalah represent
rendahnya kualitas pendidikan harus difokuskan the theoretical framework of the method. Prinsip
pada kualitas pembelajaran. Komponen- pembelajaran adalah kerangka teoritis sebuah
komponen yang dapat berpengaruh terhadap metode pembelajaran. Kerangka teoretis adalah
kegiatan proses pembelajaran adalah guru, siswa, teori-teori yang mengarahkan harus bagaimana
alat dan media dan faktor lingkungan (Sanjaya, sebuah metode dilihat dari segi:
2006:52). Kualitas pembelajaran dapat 1. Bahan yang akan dibelajarkan,
diwujudkan bilamana proses pembelajaran 2. Prosedur pembelajaran (bagaimana siswa
direncanakan dan dirancang secara matang dan belajar dan bagaimana guru mengajarkan
seksama tahap demi tahap dan proses demi proses
bahan),
(Edgar, 2005:168).
Menurut Survei Human Developement 3. Gurunya, dan
Indeks, kualitas sumber daya manusia saat ini 4. Siswanya.
menduduki peringkat ke-105. Peringkat ini Dengan model tersebut guru dapat
gambaran nyata masih rendahnya mutu membantu siswa mendapatkan atau memperoleh
pendidikan di Indonesia. Ada tiga variabel yang informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan
mengekspresikan ide diri sendiri. Selain itu, model Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah
belajar juga mengajarkan bagaimana mereka lemahnya “kreativitas siswa”. Salah satu cara
belajar. mengatasinya adalah dengan mengajak siswa
Suatu model pembelajaran akan memuat belajar mengamati. Memanfaatkan indrawi untuk
antara lain: (a) Deskripsi lingkungan belajar, (b) melihat fenomena. Tidak hanya mengamati, tetapi
Pendekatan, metode, teknik, dan strategi, (c) didorong untuk bertanya, menalar, dan mencoba.
Manfaat pembelajaran, (d) Materi pembelajaran Berdasarkan fungsi dan tujuan Pendidikan
(kurikulum), (e) Media, dan (f) desain Nasional tersebut kita ketahui bahwa salah satu
pembelajaran. Ada banyak model pembelajaran hasil (output) yang diharapkan dari sebuah proses
yang dapat digunakan dalam implementasi pendidikan ialah agar para peserta didik menjadi
pembelajaran di antaranya sebagai berikut (lihat manusia kreatif. Karena tidak dapat dipungkiri,
Octavia Shilphy A, 2020): (a) Model untuk mengantisipasi perkembangan ilmu
pembelajaran kontekstual (CTL), (b) Model pengetahuan dan teknologi yang semakin maju,
pembelajaran berdasarkan masalah, (c) Model maka perkembangannya menuntut lahirnya
pembelajaran konstruktivisme, (d) Model dengan manusia-manusia yang kreatif, profesional, dan
pendekatan lingkungan, (e) Model pengajaran mempunyai kepedulian terhadap masalah-
langsung, (f) Model pembelajarn terpadu, dan (d) masalah yang timbul dalam masyarakat. Oleh
Model pembelajaran interaktif. (Octavia Shilphy karena itu, pendidikan yang diselenggarakan harus
A, 2020). menggarahkan anak didik untuk dapat menjadi
Pembelajaran kontekstual adalah kreatif.
pembelajaran yang menekankan kepada proses Kreativitas memang penting, namun bangsa
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat Indonesia ternyata masih menghadapi persoalan
menemukan materi yang dipelajari dan dalam masalah ini. Khususnya dalam pendidikan,
menghubungkan dengn situasi kehidupan nyata pakar-pakar dalam bidang pendidikan melihat
sehingga mendorong siswa secara penuh untuk bahwa kreativitas bangsa Indonesia masih
dapat menemukan materi yang dipelajari dan tergolong rendah. Hal tersebut ternyata juga
menghubungkannya dengan situasi kehidupan berlaku dalam bidang matematika dan sains,
nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat sebagaimana hasil penelitian internasional dalam
menerapkannya dalam kehidupan mereka (Anam, bidang matematika dan IPA (TIMSS) untuk kelas
2021:24). dua SLTP (eighth grade), menunjukan bukti
Metode pembelajaran kontekstual yang bahwa soal – soal matematika tidak rutin yang
semacam ini lebih menekankan kepada para memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi
peserta didik untuk melihat, merasakan, pada umumnya tidak berhasil dijawab dengan
mendengar dan mengalami apa yang disampaikan benar oleh sampel siswa Indonesia”. Hal ini
oleh tenaga pendidiknya di dunia [Link] berarti kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa
kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan yang di antaranya kemampuan berpikir kritis dan
dan keseimbangan antara kompetensi sikap, kreatif dalam matematika perlu menjadi perhatian
keterampilan dan pengetahuan. Hal itu sejalan utama.
dengan amanat UU No.20 tahun 2003 Hasil wawancara dengan guru di SMA
sebagaimana tersurat dalam penjelasan pasal 35: Negeri 2 Binjai pada tanggal 23 Maret 2019,
“kompetensi lulusan merupakan kualifikasi diperoleh keterangan bahwa guru masih
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, mengajarkan materi kepada siswa dengan metode
pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan pembelajaran konvensional dan memberikan soal-
standar yang telah disepakati”. Hal ini sejalan pula soal rutin. Hal ini menyebabkan kemampuan
dengan pengembangan kurikulum berbasis berpikir kreatif dan kritis siswa kurang tergali
kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 akibatnya akan berdampak pada penguasaan
dengan mencangkup kompetensi sikap, konsep matematika di jenjang pendidikan siswa
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. berikutnya. Selain itu diperoleh juga keterangan
Secara konseptual kurikulum 2013 jelas ada bahwa di sekolah tersebut belum pernah
perubahan signifikan. Perubahan itu tentunya di dilaksanakan evaluasi pembelajaran khususnya
maksudkan untuk menjadikan pendidikan menjadi untuk mengukur kemampuan berpikir matematis
lebih baik. Salah satu alasan Pemerintah merubah peserta didik.
Kurikulum 2006 menjadi Kurikulum 2013, Dari hasil observasi uji awal di SMA Negeri
diindikasikan dari yang dikemukakan oleh 2 Binjai pada tanggal 24 Maret 2019, peneliti
mendapatkan siswa kesulitan dalam Umumnya Kesalan-
menyelesaikan soal yang berhubungan dengan kesalahan terjadi adalah
ruang lingkup kehidupan sehari-hari yang dapat siswa masih belum
mengembangkan Kemampuan Berpikir Kreatif memahami maksud soal
siswa pada saat menyelesaikannya. Salah satu sebenarnya, sehingga siswa

materi yang dianggap sulit oleh siswa yaitu tidak mampu menjawab soal

tentang Geometri Bidang Datar. Kenyataan yang dengan benar yang berkaitan

terjadi di lapangan sebagian siswa tidak dengan kemampuan berpikir


Fleksibilitas.
memahami maksud soal yaitu tidak mengetahui
apa yang diketahui dan apa yang ditanya pada Gambar 2. Proses penyelesaian siswa pada tes
soal. Untuk memperoleh gambaran lebih jelas, uji awal
berikut ini akan disajikan salah satu contoh soal uji Dari jawaban siswa di atas, terlihat bahwa
awal di SMA Negeri 2 Binjai. Ada sebuah kawat kemampuan berpikir kreatif siswa masih rendah.
yang berbentuk garis seperti gambar di bawah ini, Hal ini terlihat siswa mencoba menyelesaian soal
dengan ukuran 𝐵𝑁 = 8 𝑐𝑚. jika panjang 𝐵𝑁 = tersebut, banyak siswa yang mengalami kesulitan
1 untuk menentukan ukuran panjang kawat tersebut.
AB . Berapakah ukuran panjang kawat
4 Dari 30 siswa yang menjawab soal tersebut hanya
tersebut? 2 siswa yang menjawab soal tersebut (6,7%) yang
Dari penelitian uji awal yang dilakukan menjawab benar, 19 siswa (63,3%) menjawab
peneliti dilapangan pada tanggal 24 Maret 2019 salah dan 9 siswa (30%) tidak mampu menjawab
pada tes kemampuan berpikir kreatif dapat dilihat sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa
perbandingan antara hasil alternatif jawaban yang kemampuan berpikir kreatif siswa masih rendah.
benar dengan jawaban yang dibuat siswa. Berikut Selain kemampuan berpikir kreatif, tak
ini adalah alternatif jawaban yang benar pada kalah pentingnya adalah kemampuan berpikir
contoh soal kemampuan berpikir kreatif di atas kritis siswa. Kemampuan berpikir kritis siswa
adalah sebagai berikut: dalam dalam pembelajaran matematika sangat
penting untuk diperhatikan, hal ini dikarenakan
melalui kemampuan berpikir kritis matematika
Dik BN = 8 cm siswa bisa menyusun rencana penyelesaian
masalah yang paling tepat untuk digunakan
misalnya mengungkap teorema/konsep/definisi
yang akan digunakan, menggali akibat dari suatu
pernyataan, menggali kemungkinan adanya bias
dan sebagainya.
Dari hasil observasi uji awal di SMA Negeri
2 Binjai pada tanggal 24 Maret 2019, peneliti
mendapatkan siswa kesulitan dalam
menyelesaikan soal yang berhubungan dengan
ruang lingkup kehidupan sehari-hari yang dapat
Gambar 1. Alternatif Jawaban yang benar mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis
pada contoh soal kemampuan siswa pada saat menyelesaikannya. Salah satu
berpikir kreatif materi yang dianggap sulit oleh siswa yaitu
tentang Geometri Bidang Datar. Kenyataan yang
Dan berikut ini salah satu contoh jawaban terjadi di lapangan sebagian siswa tidak
siswa dari persoalan di atas, memahami maksud soal yaitu tidak mengetahui
apa yang diketahui dan apa yang ditanya pada
soal. Untuk memperoleh gambaran lebih jelas,
berikut ini akan disajikan salah satu contoh soal uji
awal di SMA Negeri 2 Binjai.
Sebuah pesawat terbang pada ketinggian 1,6 km
0
mulai bergerak naik dengan sudut konstan 28 .
a) Bagaimana cara menghitung ketinggian
pesawat tersebut dalam waktu 35 detik
kemudian dengan kecepatan konstan 320 Umumnya Kesalan-

km/jam ? kesalahan terjadi adalah


siswa masih belum
b) Berapa ketinggian pesawat tersebut dalam memahami maksud
waktu 35 detik kemudian dengan kecepatan soal sebenarnya,
konstan 320 km/jam ! sehingga siswa tidak
mampu menjawab soal
dengan benar pada saat
siswa mencoba
menjawab soal.

Gambar 5. Salah satu proses penyelesaian


jawaban siswa pada tes uji awal
Gambar 3. Contoh soal uji awal di SMA Negeri
kemampuan berpikir kritis
2 Binjai
siswa
Dari penelitian uji awal yang dilakukan
peneliti dilapangan pada tanggal 24 Maret 2019 Dari jawaban siswa di atas, terlihat
pada tes kemampuan berpikir kritis dapat dilihat bahwa kemampuan berpikir kritis siswa masih
perbandingan antara hasil alternatif jawaban yang rendah. Hal ini terlihat siswa mencoba
benar dengan jawaban yang dibuat siswa. Berikut menyelesaian soal tersebut, banyak siswa
ini adalah alternatif jawaban yang benar pada yang mengalami kesulitan untuk menentukan
contoh soal kemampuan berpikir kritis di atas ketinggian pesawat tersebut dalam waktu 35
adalah sebagai berikut: detik kemudian dengan kecepatan konstan
320 km/jam . Hal ini juga terlihat tampaknya
siswa telah terbiasa belajar matematika
dengan cara menghapal rumus-rumus atau
prosedur-prosedur rutin dalam
menyelesaiakan soal.
Dari 30 siswa yang menjawab soal
tersebut hanya 3 siswa yang menjawab soal
tersebut (10%) yang menjawab benar, 19
siswa (63,3%) menjawab salah dan 8 siswa
(26,7%) tidak mampu menjawab sama sekali.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan
berpikir kritis siswa masih rendah. Hingga saat
ini, pembelajaran untuk meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kreatif dan Berpikir Kritis
siswa belum begitu membudaya di kelas, guru
selalu terfokus hanya pada soal-soal rutin yang
diberikan sehingga pembelajaran tidak sesuai
dengan tuntutan kurikulum 2013, dimana
kurikulum 2013 lebih menekankan pada dimensi
pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu
menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan
ilmiah tersebut meliputi, mengamati, menanya,
menalar, mencoba, dan membentuk jejaring.
Gambar 4. Alternatif Jawaban yang benar
pada contoh soal kemampuan B. Metode Penelitian
berpikir kritis Penelitian ini dilaksanakan pada kelas X
semester 2 tahun ajaran 2018/2019 di SMA Negeri
Dan berikut ini salah satu contoh jawaban 2 Binjai dengan jadwal yang akan dikoordinasi
siswa dari persoalan di atas, dengan kegiatan sekolah. Adapun alasan peneliti
memilih lokasi di SMA Negeri 2 Binjai sebagai Jenis Materi Indikator Nomor Bentuk
Kemampuan Ajar Yang Diukur Soal Soal
berikut: Berpikir
1. Karena sekolah SMA Negeri 2 Binjai dekat Kreatif
Berpikir luwes Geomet menyatakan
dengan tempat tinggal peneliti sehubungan (flexibility) ri hubungan 1,2,3,4,5 Uraian
dengan biaya dan waktu penulis yang sebab akibat
dalam sebuah
terbatas. permasalahan
2. Sepanjang sepengetahuan peneliti, untuk Berpikir Geomet - mengemu
keaslian ri kakan ide-
sampai saat ini belum pernah ada penelitian (originality) ide baru 1,2,3,4,5 Uraian
yang meneliti tentang Perbedaan Kemampuan dalam
meyelesai
Berpikir Kreatif dan Berpikir Kritis Siswa kan
masalah
yang diajar dengan Pembelajaran - Memberik
Konvensional dan Kontekstual di SMA an cara
penyelesai
Negeri 2 Binjai. an lain
Penelitian ini melibatkan dua jenis dari yang
sudah
instrumen yaitu test dan non-test (bukan test). biasa
Instrumen dalam bentuk test digunakan untuk Berpikir Geomet menerapkan
mengukur kemampuan berpikir kreatif dan elaborasi ri sebuah
(Mengel konsep dari 1,2,3,4,5 Uraian
berpikir kritis siswa. Sedangkan instrumen dalam aborasi) konsep yang
bentuk non-testnya yaitu lembar pengamatan umum
digunakan
kegiatan belajar siswa (aktivitas siswa). Berikut dalam
ini uraian dari kedua jenis instrumen yang masalah
dikembangkan: khusus
termasuk
dalam
1. Test Kemampuan Berpikir Kreatif kemampuan
(Instrumen-1) memperinci
(elaborasi)
Test untuk mengukur kemampuan berpikir
.Penilaian untuk jawaban kemampuan
kreatif ini terdiri dari soal dalam bentuk essay agar
berpikir kreatif matematik siswa disesuaikan
dapat terlihat sistematisasi alur pikir,
dengan keadaan soal dan hal – hal yang
kelengkapan, kejelasan dan kelogisan, jawaban,
ditanyakan. Adapun pedoman penyekoran
serta ketepatan representainya. Banyaknya butir
didasarkan pada pedoman penilaian rubrik untuk
soal dalam penelitian ini 5 butir soal. Setelah soal
kemampuan berpikir kreatif matematik sebagai
disusun, kemudian dilakukan telaah terhadap butir
berikut:
soal secara kualitatif yang bertujuan untuk
menguji butir soal dari kesesuaian materi,
Tabel 2. Pedoman Penskoran Tes Kemampuan
konstruksi, dan bahasa. Hal ini berkaitan erat
Berpikir Kreatif Siswa
dengan validasi isi. Selanjutnya, untuk menjamin Aspek Yang
validasi isi dilakukan dengan menyusun kisi- kisi Menjadi Indikator Skor
soal tes kemampuan berpikir kreatif matematik Penilaian Guru
Jawaban tidak Lengkap atau cara
sebagai berikut: yang digunakan tidak berhasil
1
Paling tidak satu jawaban benar
Tabel 1. Kisi – Kisi Kemampuan Berpikir Kelancaran
diberikan dan satu cara
digunakan untuk memecahkan
2
Kreatif Matematik soal
Jenis Materi Indikator Nomor Bentuk Paling tidak dua jawaban benar 3
Kemampuan Ajar Yang Diukur Soal Soal diberikan dan dua cara digunakan
Berpikir Seluruh jawaban benar dan 4
Kreatif beberapa pendekatan/cara dipakai
Berpikir Geomet - Menulis Keluwesan Tidak menjawab Soal 0
lancer ri banyak 1,2,3,4,5 Uraian
(Fluency) cara (Fleksibilitas) Menjawab soal dengan salah dan 2
dalam tidak beragam
menjawab Memberikan jawaban soal yang 4
soal. tidak beragam namun benar
- Menjawab Memberikan jawaban yang 6
soal lebih beragam tetapi salah
dari satu
Memberikan jawaban yang 8
jawaban
beragam dan benar
Keaslian Cara/Prosedur yang digunakan mengacu pada teknik penskoran Hancock (1995),
(originality) bukan merupakan solusi 2
pemecahan masalah yaitu:
Cara yang dipakai merupakan Jawaban diberi nilai 4, apabila:
solusi pemecahan masalah,
4  Jawaban komplit dan benar untuk
namun yang digunakan
merupakan solusi umum pertanyaan yang diberikan
Cara yang digunakan tidak lazim  Illustrasi keterampilan pemecahan masalah,
digunakan dan berhasil dalam penalaran, dan komunikasi yang sempurna
6
menyelesaikan masalah. Cara
yang digunakan oleh satu orang  Jika jawaban terbuka, jawaban semuanya
Cara yang digunakan berbeda benar.
dari yang umum dan menarik
serta berhasil dalam memecahkan 7
 Pekerjaannya ditunjukkan dan atau
masalah. Cara yang digunakan dijelaskan (clearly)
lebih dari satu orang.  Memuat sedikit kesalahan
elaborasi Sedikit atau tidak ada penjelasan 0
(Mengelaborasi)
Langkah-langkah pemecahan Jawaban diberi nilai 3, jika :
masalah yang tidak akurat dan 1
hasilnya salah  Jika jawaban terbuka, banyak jawaban yang
Langkah-langkah pemecahan benar
masalah yang tidak akurat namun 2  Jawaban benar untuk soal yang diberikan
hasil yang diberikan benar
Langkah-langkah pemecahan  Illustrasi keterampilan pemecahan masalah,
3
masalah akurat tetapi hasil salah penalaran dan komunikasi yang baik
Langkah – langkah pemecahan  Pekerjaan ditunjukkan dan atau dijelaskan
masalah akurat dan memberikan 4
hasil yang benar  Memuat beberapa kesalahan dalam
matematika
Sebelum digunakan instrument ini dalam
penelitian terlebih dahulu diujicobakan untuk Jawaban diberi skor 2, apabila :
mengetahui sejauh mana instrument yang disusun  Penyimpulan terlihat tidak akurat
dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dan  Kekurangan dalam berpikir kritis tingkat
seberapa jauh keterandalannya. Setelah tinggi terlihat jelas
diujicobakan hasil uji coba dianalisis secara  Beberapa jawaban dari soal tidak lengkap
statistic untuk mengetahui realibilitas dan  Illustrasi ketrampilan pemecahan masalah,
validitas setiap soal. Tujuan analisis untuk melihat penarikan dan komunikasi yang cukup
apakah soal yang diujicobakan reliable dan valid  Banyak kesalahan dari penalaran
untuk menjadi instrument dalam penelitian ini. matematika yang muncul
 Muncul beberapa keterbatasan dalam
2. Test Kemampuan Berpikir Kritis pemahaman konsep matematika
(Instrumen-II)
Menurut Arikunto (2011:162) mengatakan
bahwa soal-soal berbentuk esai (uraian) biasanya Jawaban diberi skor 1 jika:
jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 buah  Banyak terjadi kesalahan perhitungan
soal dalam waktu kira-kira 90 s.d 120 menit. matematika yang muncul
Berdasarkan pendapat Arikunto maka tes  Muncul masalah dalam meniru ide
kemampuan berpikir kritis pada penelitian ini matematika tetapi tidak dikembangkan
terdiri dari 10 soal berbentuk uraian. Dipilih tes  Keterampilan pemecahan masalah,
berbentuk uraian tersebut, karena dengan tes penalaran dan atau komunikasi kurang
berbentuk uraian dapat diketahui proses (poor).
pengerjaan siswa dalam menyelesaikan soal  Terdapat sedikit pemahaman matematika
matematika, dengan demikian diharapkan dapat yang diilustrasikan
dengan tepat diidentifikasi tingkat kemampuan  Siswa jarang mencoba beberapa hal\
siswa berdasarkan jenjang kognitif yang dicapai
siswa. Jawaban diberi nilai 0, apabila :
Kriteria pemberian skor setiap butir soal  Keseluruhan jawaban tidak ada atau tidak
dalam tes penelitian ini berdasarkan pedoman tampak
penskoran soal – soal, dimana tiap butir soal  Tidak muncul ketrampilan pemecahan
mempunyai bobot nilai maksimal 4 (empat) dan masalah
minimal 0 (nol). Adapun criteria penskorannya
 Sama sekali pemahaman matematikanya
tidak muncul 3) Pemilihan format
 Tidak menjawab semua kemungkinan yang Tahap ini bertujuan untuk memilih format
diberikan yang sesuai dengan faktor-faktor yang telah
 Terlihat dengan jelas mencoba – coba atau dijabarkan dalam kompetensi dasar, yaitu format
sekedar menebak jawaban untuk mendesain isi pembelajaran, strategi,
Sebelum digunakan instrumen ini dalam metode pembelajaran dan sumber pembelajaran
penelitian terlebih dahulu diujicobakan untuk yang akan dikembangkan. Isi pembelajaran
mengetahui sejauh mana instrument yang disusun mengacu pada hasil analisis materi, hasil analisis
dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dan tugas dan indikator hasil belajar yang telah
seberapa jauh keterandalannya. Setelah dirumuskan pada tahap pendefinisian. Strategi
diujicobakan hasil uji coba dianalisis secara pembelajaran yang akan digunakan yaitu siswa
statistik untuk mengetahui reabilitas dan validitas aktif belajar melalui penerapan pembelajaran
setiap soal. Tujuan analisis untuk melihat apakah kontekstual dan pembelajaran konvensional.
soal yang diujicobakan reliable dan valid untuk Metode pembelajaran yang digunakan yaitu
menjadi instrument dalam penelitian ini. ceramah, demonstrasi dan latihan. Sumber belajar
Pada tahap perancangan (design) dalam yang akan dikembangkan terdiri dari buku
penelitian ini disebut Draft-I. Perangkat petunjuk guru dan Lembar Aktivitas Siswa (LAS).
pembelajaran yang akan dihasilkan adalah
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku 4) Perancangan Awal
guru (BG), buku siswa (BS), Lembar Aktivitas Perancangan awal perangkat pembelajaran dan
Siswa (LAS) dan tes kemampuan hasil belajar instrumen penelitian meliputi: Rencana
(THB). Kegiatan dalam tahap ini meliputi: Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Buku Guru
penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan (BG), Lembar aktivitas Siswa (LAS), tes
format, dan perancangan awal. kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis.

1) Penyusunan tes C. Hasil dan Pembahasan


Dasar penyusunan tes adalah analisis Tabel 3. Hasil Analisis Pretest Kemampuan
spesifikasi tujuan pembelajaran yang dijabarkan Berpikir Kreatif dan Berpikir Kritis
dalam indikator pencapaian hasil belajar. Tes yang Matematika Siswa
dimaksud adalah tes kemampuan hasil belajar
(THB) pada pokok bahasan Geometri Bidang Kontekstual Konvensional

Datar. Prosedur penyusunan tes adalah sebagai Test

berikut:
xmin x m aks x s xmin x m aks x s

a) Penentuan tujuan pembelajaran yang Berpikir


30 42 35,5 2,4 29 42 34,2 2,63
dijabarkan dalam indikator pencapaian Kreatif

hasil belajar. Berpikir


38 49 44,6 2,6 37 52 44,13 3,05
Kritis
b) Penentuan kisi-kisi tes
c) Penyusunan tes
d) Penentuan pedoman penskoran. Pada Tabel 3 terlihat jelas bahwa rerata pretest
Penskoran yang digunakan adalah kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis
Penilaian Acuan Patokan (PAP), karena matematika pada kelompok pembelajaran kontekstual
dan konvensional berbeda
PAP beroreantasi pada tingkat
kemampuan siswa terhadap materi yang
Tabel 4. Pretest Kemampuan Berpikir Kreatif
diteskan, sehingga skor yang
Matematika Siswa pada Kelompok
diperoleh mencerminkan persentase
Pembelajaran Kontekstual Secara
kemampuan.
Kuantitatif
2) Pemilihan media Interval Jumalah Kategori
No Persentase
Kegiatan ini bertujuan untuk memilih Nilai Siswa Penilaian

media yang tepat dan sesuai dengan isi pelajaran, 0 ≤ SKBK<


1 30 100% Sangat Kurang
45
yaitu penyesuaian antara analisis materi, dan
45 ≤ SKBK<
analisis tugas. Media yang digunakan berupa 2
65
0 0% Kurang

papan tulis, alat tulis dan media cetak berupa LAS


Interval Jumalah Kategori
No Persentase Tabel 6. Pretest Kemampuan Berpikir Kritis
Nilai Siswa Penilaian
65 ≤ SKBK<
Matematika Siswa pada Kelompok
3
75
0 0% Cukup
Pembelajaran Kontekstual Secara
4
75 ≤ SKBK<
0 0% Baik
Kuantitatif
90
90 ≤ SKBK≤ Jumalah Kategori
5 0 0% Sangat Baik No Interval Nilai Persentase
100 Siswa Penilaian
0 ≤ SKBK<
1 13 43,3% Sangat Kurang
45
Tabel 5. Pre-test Kemampuan Berpikir Kreatif 45 ≤ SKBK<
2 17 56,7% Kurang
Matematika Siswa pada Kelompok 65
Pembelajaran Konvensional Secara 3
65 ≤ SKBK<
0 0% Cukup
Kuantitatif 75
75 ≤ SKBK<
4 0 0% Baik
Jumalah Kategori 90
No Interval Nilai Persentase 90 ≤ SKBK≤
Siswa Penilaian 5 0 0% Sangat Baik
0 ≤ SKBK< 100
1 30 100% Sangat Kurang
45
45 ≤ SKBK<
2 0 0% Kurang Tabel 7 Pretest Kemampuan Berpikir Kritis
65
65 ≤ SKBK<
Matematika Siswa pada Kelompok
3
75
0 0% Cukup
Pembelajaran Konvensional Secara
4
75 ≤ SKBK<
0 0% Baik
Kuantitatif
90
90 ≤ SKBK≤ Jumalah Kategori
5 0 0% Sangat Baik No Interval Nilai Persentase
100 Siswa Penilaian

0 ≤ SKBK<
1 15 50% Sangat Kurang
Dari tabel 4 dan Tabel 5 menunjukkan 45
45 ≤ SKBK<
bahwa, kemampuan berpikir kreatif pada kedua 2 15 50% Kurang
65
kelompok hampir sama, dalam hal ini masih 65 ≤ SKBK<
banyak siswa yang berada di bawah kategori 3
75
0 0% Cukup

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu : ≤ 65, 75 ≤ SKBK<


4 0 0% Baik
sehingga dapat disimpulkan pada kelompok 90
90 ≤ SKBK≤
pembelajaran kontekstual terdapat 100 % yang 5 0 0% Sangat Baik
100
berada di bawah KKM, demikian pula dengan
kelompok pembelajaran konvensional yaitu 100
%. Dalam hal ini, kemampuan berpikir kreatif Dari tabel 6 dan Tabel 7 menunjukkan
matematika siswa pada kelompok pembelajaran bahwa, kemampuan berpikir kritis pada
kontekstual sama saja dengan kelompok kedua kelompok hampir sama, dalam hal ini
pembelajaran konvensional. Untuk lebih jelasnya masih banyak siswa yang berada di bawah
dapat dicermati Gambar 7 yang merangkum hasil kategori Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
pretest kemampuan berpikir kreatif matematika yaitu : ≤ 65, sehingga dapat disimpulkan pada
siswa pada masing-masing kelompok berikut ini
kelompok pembelajaran kontekstual terdapat
100 % yang berada di bawah KKM, demikian
pula dengan kelompok pembelajaran
konvensional yaitu 100 %. Dalam hal ini,
kemampuan berpikir kritis matematika siswa
pada kelompok pembelajaran kontekstual
sama saja dengan kelompok pembelajaran
konvensional. Untuk lebih jelasnya dapat
dicermati Gambar 8 yang merangkum hasil
pretest kemampuan berpikir kritis matematika
siswa pada masing-masing kelompok berikut
Gambar 6. Hasil pretest kemampuan berpikir ini.
kreatif matematika siswa
kelompok pembelajaran konvensional hampir
tidak berbeda. Secara kuantitatif, hasil postes
kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis
pada masing-masing pembelajaran dapat dilihat
pada Tabel 10 berikut ini:

Tabel 10. Postes Kemampuan Berpikir Kreatif


Matematika Siswa pada Kelompok
Pembelajaran Kontekstual Secara
Gambar 7. Hasil pretest kemampuan berpikir
Kuantitatif
kritis matematika siswa Kategori
No. Interval Nilai Jumlah Siswa Persentase
Penilaian
Tabel 8. Pengujian Perbedaan Rerata
1 0 ≤ SPKM <45 0 0% Sangat Kurang
Kemampuan Berpikir Kreatif
2 45 ≤ SPKM < 65 3 10 % Kurang
dan Kemampuan Berpikir Kritis
3 65 ≤ SPKM < 75 16 53,3 % Cukup
Matematik Siswa Kelompok
Pembelajaran Kontekstual dan 4 75 ≤ SPKM < 90 11 36,7 % Baik

Pembelajaran Konvensional 5 90 ≤ SPKM≤100 0 0% Sangat Baik

Aspek Kelompok t hitung t tabel Kesimpulan

Kemampuan Kontekstual Tidak Ada


Tabel 11. Postes Kemampuan Berpikir Kreatif
Berpikir Kreatif
1,963 2,002
Perbedaan
Matematika Siswa pada Kelompok
Konvensional
Pembelajaran Konvensional Secara
Kemampuan Kontekstual Tidak Ada
0,639 2,002 Kuantitatif
Berpikir Kritis Konvensional Perbedaan
Kategori
No. Interval Nilai Jumlah Siswa Persentase
Penilaian
1 0 ≤ SPKM< 45 5 16,7 % Sangat Kurang
Berdasarkan hasil pengolahan pada Tabel 8 2 45 ≤ SPKM< 65 24 80 % Kurang
di atas, data skor pretes kemampuan berpikir 3 65 ≤ SPKM< 75 1 3,3 % Cukup
kreatif dan kemampuan berpikir kritis matematika 4 75 ≤ SPKM< 90 0 0% Baik

siswa menghasilkan t hitung = 1,963 (untuk 5 90 ≤ SPKM≤100 0 0% Sangat Baik

kemampuan berpikir kreatif) dan 0,639 (untuk


kemampuan berpikir kritis) serta t tabel = 2,002,
Dari Tabel 10 dan Tabel 11 menunjukkan
jadi t hitung dalam daerah penerimaan maka Ho
bahwa kemampuan berpikir kreatif pada kedua
diterima. Ini berarti tidak terdapat perbedaan yang
kelompok berbeda, dalam hal ini masih banyak
signifikan kemampuan berpikir kreatif antara
siswa yang berada di bawah kategori Kriteria
kelompok pembelajaran kontekstual dengan
Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu ≤ 65, sehingga
kelompok pembelajaran konvensional. Dengan
dapat disimpulkan pada kelompok pembelajaran
kata lain, kemampuan berpikir kreatif dan
kontekstual terdapat 10 % yang berada di bawah
kemampuan berpikir kritis matematika siswa pada
KKM, demikian pula dengan kelompok
kedua kelompok tidak berbeda sebelum diberikan
pembelajaran konvensional yaitu 96,7 %. Dalam
perlakuan.
hal ini, kemampuan berpikir kreatif pada
kelompok pembelajaran kontekstual lebih baik
Tabel 9. Hasil Analisis Postes Kemampuan
dari pada kelompok pembelajaran konvensional.
Berpikir Kreatif dan Kemampuan
Untuk lebih jelasnya dapat dicermati Gambar 9
Berpikir Kritis
yang merangkum hasil postes kemampuan
Kontekstual Konvensional berpikir kreatif pada masing-masing kelompok
Tes
xmin xmaks s xmin xmaks s berikut ini.
Kemampuan
Berpikir 50 86 73,4 8,56 42 66 53,83 6,84
Kreatif
Kemampuan
Berpikir 58 75 66,56 3,75 50 80 69,3 7,08
Kritis

Pada tabel 9 terlihat jelas bahwa rerata


postes kemampuan berpikir kreatif dan
kemampuan berpikir kritis matematika siswa pada
kelompok pembelajaran kontekstual dan
postes kemampuan berpikir kritis pada masing-
masing kelompok berikut ini.

Gambar 8. Hasil Postes Kemampuan Berpikir


Kreatif
Gambar 10. Hasil Postes Kemampuan Berpikir
Tabel 12. Postes Kemampuan Berpikir Kritis Kritis
pada Kelompok Pembelajaran
Kontekstual Secara Kuantitatif Tabel 14. Kadar Aktivitas Siswa Kelompok
Pembelajaran Kontekstual
No. Interval Nilai Jumlah Persentase Kategori
Pertemuan
Siswa Penilaian
1 0 ≤ SPKM<45 0 0% Sangat Kurang Aspek yang diamati x Acuan Toleransi

2 45 ≤ SPKM< 6 20 % Kurang 1 2 3 4
(PWI
(PWI)

65 )

3 65 ≤ SPKM<
75
21 70 % Cukup Mendengarkan/memperhatikan
penjelasan guru/teman
20.7 19,3 24.6 27.6 23,05 15%  
PWI
25%
4 75 ≤ SPKM< 3 10 % Baik
90 Membaca (buku yang relevan/buku
siswa dan membaca LAS)
18.7 15.4 19.3 12.4 16.45 10%  
PWI
5 90 ≤ SPKM≤ 0 0% Sangat Baik 20%
100 Menulis (menyelesaikan
masala/mempresentasikan hasil kerja,
rangkuman/kesimpulan, hal-hal yang
30.7 31.8 32.8 26.5 30.45 30%  
PWI
40%
penting
Tabel 13. Postes Kemampuan Berpikir Kritis
 
Berdiskusi/bertanya antara siswa

pada Kelompok Pembelajaran dengan temannya, dan antara siswa


dengan guru
20.5 23.3 28.4 38.3 27.6 25% PWI
35%

Konvensional Secara Kuantitatif Perilaku siswa yang tidak relevan


0%  
PWI
dengan KBM (mengganggu 1.4 9.4 2.9 1.5 3.8
teman/permisi dari kelas) 5%

No. Interval Nilai Jumlah Persentase Kategori


Siswa Penilaian
1 0 ≤ SPKM< 45 0 0% Sangat Kurang
Dari tabel 14 menunjukkan bahwa
2 45 ≤ SPKM< 65 6 20 % Kurang Persentase kegiatan mendengarkan sebesar 23,05
3 65 ≤ SPKM<75 16 53,3 % Cukup merupakan proporsi waktu yang baik bagi siswa
4 75 ≤ SPKM< 90 8 26,7 % Baik dengan batas toleransi aktivitas yang ditetapkan
5 90 ≤ SPKM ≤100 0 0% Sangat Baik sebesar 15%  PWI  25%. Hal ini menunjukkan
adanya minat siswa untuk mendengarkan
penjelasan dari guru bahkan sesama siswa . Pada
Dari Tabel 12 dan Tabel 13 menunjukkan Kegiatan membaca memiliki rerata sebesar 16.45,
bahwa kemampuan berpikir kritis matematika hal tersebut merupakan proporsi waktu yang baik
siswa pada kedua kelompok hampir sama, dalam bagi siswa dengan batas toleransi yang sudah
hal ini masih banyak siswa yang berada dibawah ditentukan yaitu 10%  PWI  20%. Hal tersebut
kategori Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) menunjukkan bahwa siswa cenderung aktif dalam
yaitu ≤ 65, sehingga dapat disimpulkan pada membaca buku siswa maupun LAS hal ini
kelompok pembelajaran kontekstual terdapat 20 memungkinkan kesiapan siswa dalam belajar dari
% yang berada dibawah KKM, demikian pula rumah sudah cukup baik.
dengan kelompok konvensional yaitu 20 % juga. Selanjutnya pada kategori menulis
Dalam hal ini, kemampuan berpikir kritis siswa memiliki rata-rata 30.45 merupakan proporsi
pada kelompok pembelajaran kontekstual sama waktu yang cukup baik bagi siswa dengan batas
saja dengan kelompok pembelajaran toleransi yang sudah ditetapkan yaitu 30%  PWI
konvensional. Untuk lebih jelasnya dapat  40%. Hal ini menunjukkan bahwa menulis
dicermati Gambar 10 yang merangkum hasil merupakan hal yang biasa saja dalam
menyelesaikan masalah, sehingga siswa
cenderung mengemukakan ide mereka pada memungkinkan kesiapan siswa dalam belajar dari
lembar kertas. Pada kategori berdiskusi, rerata rumah sudah cukup baik.
yang diperoleh sebesar 27.6 merupakan proporsi Selanjutnya pada kategori menulis
waktu yang cukup baik bagi bagi siswa dengan memiliki rata-rata 30.9 merupakan proporsi waktu
batas toleransi yang sudah ditetapkan yaitu 25% yang cukup baik bagi siswa dengan batas toleransi
 PWI  35%. Hal tersebut menunjukkan bahwa yang sudah ditetapkan yaitu 30%  PWI  40%.
siswa sudah mulai dapat menemukan makna Hal ini menunjukkan bahwa menulis merupakan
berdiskusi dengan baik, dimana tidak ditemukan hal yang biasa saja dalam menyelesaikan masalah,
lagi beberapa siswa yang beranggapan bahwa sehingga siswa cenderung mengemukakan ide
siswa pintar menjadi ketua kelompok diskusi dan mereka pada lembar kertas. Pada kategori
mengerjakan sendiri tanpa menayakan pendapat berdiskusi, rerata yang diperoleh sebesar 27.9
siswa yang lain. Demikian juga dengan kategori merupakan proporsi waktu yang cukup baik bagi
perilaku siswa yang tidak relevan, nilai rata- bagi siswa dengan batas toleransi yang sudah
ratanya yaitu 3.8, merupakan proporsi waktu yang ditetapkan yaitu 25%  PWI  35%. Hal tersebut
baik bagi siswa dengan batas toleransi yang sudah menunjukkan bahwa siswa sudah mulai dapat
ditetapkan yaitu 0%  PWI  5%. Hal ini menemukan makna berdiskusi dengan baik,
menegaskan bahwa selama kegiatan pembelajaran dimana tidak ditemukan lagi beberapa siswa yang
kontekstual berlangsung tidak begitu terlihat jelas beranggapan bahwa siswa pintar menjadi ketua
siswa yang meminta izin keluar ruangan, ataupun kelompok diskusi dan mengerjakan sendiri tanpa
perilaku siswa yang mengganggu temannya. menayakan pendapat siswa yang lain. Demikian
juga dengan kategori perilaku siswa yang tidak
Tabel 15. Kadar Aktivitas Siswa Kelompok relevan, nilai rata-ratanya yaitu 4.3, merupakan
Pembelajaran Konvensional proporsi waktu yang baik bagi siswa dengan batas
toleransi yang sudah ditetapkan yaitu 0%  PWI
Aspek yang diamati
Pertemuan

x
Acuan
Toleransi
 5%. Rerata pada kelompok pembelajaran
1 2 3 4
(PWI) (PWI) konvensional lebih tinggi jika dibandingkan
Mendengarkan/memperhat
15%  PWI dengan kelompok pembelajaran kontekstual.
ikan penjelasan 21.7 17,3 24.6 25.6 22.3 Yang artinya bahwa selama kegiatan
guru/teman  25% pembelajaran konvensional berlangsung masih
10%  PWI
Membaca (buku yang
relevan/buku siswa dan 18.5 15.4 19.3 13.4 16.65
terdapat siswa yang meminta izin keluar ruangan.
membaca LAS)  20% Berikut ini Gambar 11 yang menyajikan
Menulis (menyelesaikan
persentase aktivitas siswa pada masing-masing
masala/mempresentasikan
hasil kerja, 31.7 32.8 32.5 26.5 30.9
30% PWI kelompok pembelajaran.
rangkuman/kesimpulan,  40%
hal-hal yang penting 35
Rerata (PWI)

 PWI
30

Berdiskusi/bertanya antara
25

siswa dengan temannya, 25%


21.5 22.3 28.4 39.5 27.9 Konte
 35%
20

dan antara siswa dengan


kstual
15

guru
10

 PWI
Perilaku siswa yang tidak 5

relevan dengan KBM 0% 0

2.4 9.4 2.9 2.5 4.3


(mengganggu
teman/permisi dari kelas)
 5% Mendengar Membaca Menulis Diskusi Perilaku siswa
yang tidak
relevan

Dari tabel 15 menunjukkan bahwa Aspek yang diamati


Persentase kegiatan mendengarkan sebesar 23,3
merupakan proporsi waktu yang baik bagi siswa
dengan batas toleransi aktivitas yang ditetapkan Gambar 11. Persentase aktivitas siswa pada
sebesar 15%  PWI  25%. Hal ini menunjukkan masing-masing kelompok
adanya minat siswa untuk mendengarkan pembelajaran
penjelasan dari guru bahkan sesama siswa . Pada
Kegiatan membaca memiliki rerata sebesar 16.65,
hal tersebut merupakan proporsi waktu yang baik
bagi siswa dengan batas toleransi yang sudah
ditentukan yaitu 10%  PWI  20%. Hal tersebut
menunjukkan bahwa siswa cenderung aktif dalam
membaca buku siswa maupun LAS hal ini
Tabel 16. Analisis Kovarians untuk Rancangan Dari hasil perhitungan pada table 17 untuk
Lengkap Kemampuan Berpikir kemampuan berpikir kritis matematik diperoleh F
Kreatif Siswa = 16.2745 dan berdasarkan tabel F, untuk α = 5 %
Analisis Variansi untuk variabel X dan Y diperoleh F (1-α, 1 : n – 2) = F (0.95, 1, 33) = 4,19. Berarti
F ≥ F (0.95, 1, 33). Ho ditolak dan diterima Ha.
SSTOy 9226,183
Artinya ada pengaruh positif (signifikansi) hasil
SSTRy 5742,817 uji awal kemampuan berpikir kritis matematik
siswa (X) terhadap hasil uji akhir siswa (Y) untuk
SSEy 3483,367 strategi pembelajaran konvensional.
Tabel 18. Analisis Varians untuk Uji
SSTOx 389,6 Independensi Kemampuan
SSTRx 21,6 Berpikir Kritis Matematika pada
Pembelajaran Kontekstual
SSEx 368
SSR SSTO SSE MSR MSE
Fhitung Ftabel
Analisis Variansi Gabungan 149,45 409,367 259,917 149,45 9,28274 16,0998 4,19597

SSTOxy 977,4 Dari hasil perhitungan pada Tabel 18 untuk


kemampuan berpikir kritis matematik diperoleh
SSTRxy 352,2 F* = 16,0998 dan berdasarkan Tabel F, untuk α =
5% diperoleh: F(1-α, 1 : n-2) = F(0,95, 1, 33) = 4,19. Berarti
SSExy 625,2 F* ≥ F(0,95, 1, 33). Ho ditolak dan diterima Ha.
SSTO(adj) 6774,154 Artinya ada pengaruh positif (signifikansi) hasil
uji awal kemampuan berpikir kritis matematik
SSE(adj) 2421,206 siswa (X) terhadap hasil uji akhir siswa (Y) untuk
SSTR(adj) 4352,947 strategi pembelajaran kontekstual.

MSTR(adj) 4352,947 Tabel 19. Analisis Kovarians untuk Rancangan


MSE(adj) 42,4773
Lengkap Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa
F* 102,477
F(0,95,1,58) 4,006873 Analisis Variansi untuk variabel X dan Y
SSTOy 1977,733
Dari hasil perhitungan untuk kemampuan
berpikir kreatif pada tabel 4.36 diperoleh F* = SSTRy 112,0667
MSTRadj 4352 ,947
= = 102,477 dan SSEy 1865,667
MSEadj 42,4773
berdasarkan tabel F, untuk α = 5% diperoleh SSTOx 467,9333
F(0,95,1,58) = 4,0068. Berarti F* ≥ F(0,95,1,58) sehingga SSTRx 3,266667
Ho : r1 = r2 = 0 ditolak. Hal ini berarti ada
perbedaan yang signifikan antara kemampuan SSEx 464,6667
berpikir kreatif siswa yang dikenai perlakuan
pembelajaran konvensional dengan siswa yang Analisis Variansi Gabungan
dikenai perlakuan pembelajaran kontekstual
SSTOxy 531,4667
Tabel 17. Analisis Varians Untuk Uji SSTRxy -19,1333
Independensi Kemampuan
Berpikir Kritis Matematika pada SSExy 550,6
Kelas Pembelajaran Konvensional
SSTO(adj) 1374,107
SSR SSTO SSE MSR MSE Fhitung Ftabel
SSE(adj) 1213,241
535,309 1456,3 920,991 535,309 32,8925 16,2745 4,19597
SSTR(adj) 160,8659
dilihat melalui perbedaan pandangan terhadap
MSTR(adj) 160,8659
karakteristik pembelajaran anatar lain :
MSE(adj) 21,28493 a. Bahan Ajar
F* Bahan ajar yang dikembangkan dikemas
7,557737
dalam bentuk sajian masalah-masalah yang nyata
F(0,95,1,58) 4,006873 (kehidupan sehari-hari). Bermula dari
permasalahan yang nyata siswa diberikan
Dari hasil perhitungan untuk kemampuan kesempatan untuk belajar mengembangkan
berpikir kritis pada tabel 19 diperoleh F* = potensi melalui suatu aktivitas, memecahkan
MSTRadj 160,8659 masalah dan menemukan solusi penyelesaian.
= = 7,557737 dan Siswa didorong bertindak aktif mencari jawaban
MSEadj 21,28493 atas masalah, keadaan atau situasi yang dihadapi
berdasarkan tabel F, untuk α = 5% diperoleh dan menarik kesimpulan melalui proses berpikir
F(0,95,1,58) = 4,006873. Berarti F* ≥ F(0,95,1,58) ilmiah yang kritis, logis dan sistematis.
sehingga Ho : r1 = r2 = 0 ditolak. Hal ini berarti Dalam pembelajaran konvensional, bahan
terdapat perbedaan yang signifikan antara ajar yang digunakan adalah sama dengan yang
kemampuan berpikir kritis siswa yang dikenai dipakai oleh guru dan kegiatan pembelajaran lebih
perlakuan pembelajaran konvensional dengan banyak dilakukan dengan membahas contoh soal
siswa yang dikenai perlakuan pembelajaran bersama kelompok ahli dan dilanjutkan dengan
kontekstual mempresentasikan hasil kerjanya sekaligus
membenarkan hasil kerjanya yang telah di
Pembahasan evaluasi oleh guru, serta mengerjakan kuis untuk
Pada bagian ini akan diuraikan deskripsi memperoleh skor perkembangan. Hal inilah yang
dan interprestasi data hasil penelitian. Deskripsi membuat kedua kelompok lebih baik dalam proses
dan interprestasi dilakukan terhadap kemampuan pembelajaran matematika.
berpikir kreatif siswa, kemampuan berpikir kritis b. Guru
siswa, aktivitas siswa, dan respon siswa terhadap Pada kelompok pembelajaran kontekstual
masing-masing pembelajaran, dan pola jawaban ditegaskan bahwa guru sebagai fasilitator,
siswa berdasarkan faktor-faktor yang dilibatkan berkeliling dari kelompok satu ke kelompok yang
dalam penelitian diantaranya adalah sebagai lain untuk mengamati dan memberi dorongan
berikut : tentang berbagai kemungkinan proses
penyelesaian soal yang baik dan benar. Berbeda
1. Faktor Pembelajaran dengan pembelajaran konvensional dimana guru
Melihat hasil penelitian yang telah menjelaskan kepada siswa dan memberikan
dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa contoh soal dalam menyelesaikan soal
pembelajaran kontekstual secara signifikan lebih matematika.
baik dalam meningkatkan kemampuan berpikir Kendala yang dihadapi guru dalam
kreatif siswa jika dibandingkan dengan menerapkan kedua pembelajaran adalah
pembelajaran konvensional. Begitu juga dengan kecerdasan siswa di kelas relatif bervariasi, maka
kemampuan berpikir kritis siswa bahwa tingkat kesulitan yang dihadapi siswa dalam
pembelajaran kontekstual secara signifikan lebih menyelesaikan soal pun beragam pula. Kesulitan
baik dalam meningkatkan kemampuan berpikir guru dalam membelajarkan siswa dengan
kritis siswa jika dibandingkan dengan kecerdasan yang heterogen dapat diminimalkan
pembelajaran konvensional. dengan cara siswa bekerja sama dalam kelompok
Jika kita perhatikan karakteristik kedua yang terdiri dari empat sampai lima orang. Mereka
pembelajaran di atas, maka hal tersebut adalah berinteraksi secara kooperatif untuk memecahkan
sesuatu yang wajar hal itu disebabkan karena, masalah, yaitu saling berbagi gagasan/pendapat
secara teoritis pembelajaran kontekstual memiliki melalui tanya jawab dan coba-coba, Bentuk
keunggulan dalam meningkatkan kemampuan intervensi guru pada saat siswa bekerja sama
berpikir kreatif dan berpikir kritis siswa. dilakukan guru secara tidak langsung, yaitu
Sehingga, apabila keunggulan-keunggulan ini dengan menggunakan teknik scaffolding dan
dimaksimalkan dalam pembelajaran di kelas pengajuan petunjuk. Dalam teknik scaffolding
sangat memungkinkan proses pembelajaran guru dituntut terampil menggunakan teknik
menjadi lebih baik. Keunggulan tersebut dapat bertanya, diantaranya yang sangat penting adalah
memecah pertayaan kompleks bagi siswa menjadi individu menghadapi tantangan dan pengalaman
pertayaan-pertayaan yang lebih sederhana yang baru.
terjangkau pikiran siswa pada saat itu. Pertayaan d. Kemampuan Berpikir Kritis
yang diajukan guru berupa pertanyaan terarah. Berdasarkan hasil tes kemampuan
Perbedaan kedua kelompok pembelajaran berpikir kritis dari kelas kontrol dan kelas
tersebut terlihat pada proses pembentukan eksperimen dapat dilihat dari gabungan gambar
pengetahuan yang dilakukan guru dengan cara berikut ini :
yang sangat berbeda. Pada pembelajaran
kontekstual guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menyelesaikan masalah dengan
menggunakan cara berpikir kreatif mereka sendiri
sesuai dengan pengetahuan matematika yang telah
mereka miliki. Sementara pada pembelajaran
konvensional guru hanya menjelaskan kepada
siswa bagaimana caranya mengerjakan soal pada
contoh soal kemudian membimbing siswa pada
saat siswa mengerjakan tugas mereka.
c. Kemampuan Berpikir Kreatif
Berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir Gambar 13. Tes Kemampuan Berpikir Kritis
kreatif dari kelas kontrol dan kelas eksperimen Siswa
dapat dilihat dari gabungan gambar berikut ini:
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa
tingkat kemampuan berpikir kritis pada kelas
kontrol tidak ada orang yang masuk pada kategori
sangat kurang, untuk kategori kurang ada 6 orang,
untuk kategori cukup ada 16 orang, untuk kategori
baik ada 8 orang, dan untuk kategori sangat baik
tidak ada. Sementara di kelas eksperimen tidak
ada orang yang masuk kategori sangat kurang,
untuk kategori kurang ada 6 orang, untuk kategori
Gambar 12. Tes Kemampuan Berpikir Kreatif cukup ada 21 orang, untuk kategori baik ada 3
Siswa orang, dan untuk kategori sangat baik tidak ada.
Terlihat bahwa terdapat perbedaan yang
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa signifikan dan kecenderungan hasil yang lebih
tingkat kemampuan berpikir kreatif pada kelas tinggi antara kemampuan berpikir kritis di kelas
kontrol ada 5 orang yang termasuk pada kategori kontrol dengan kemampuan berpikir kritis di kelas
sangat kurang, untuk kategori kurang ada 24 eksperimen.
orang, untuk kategori cukup ada 1 orang, untuk Hal ini dapat diakibatkan karena perbedaan
kategori baik tidak ada, dan untuk kategori sangat tingkat kognitif dan metode yang digunakan oleh
baik tidak ada. Sementara di kelas eksperimen guru dalam melaksanakan kegiatan belajar
untuk kategori sangat kurang tidak ada, untuk mengajar. Hal ini sejalan dengan teori
kategori kurang ada 3 orang, untuk kategori cukup perkembangan Piaget yang menyakini bahwa
ada 16 orang, untuk kategori baik ada 11 orang, perkembangan intelektual terjadi pada saat
dan untuk kategori sangat baik tidak ada. Terlihat individu menghadapi tantangan dan pengalaman
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dan baru.
kecenderungan hasil yang lebih tinggi antara e. Peran Aktif Siswa
kemampuan berpikir kreatif di kelas kontrol Dari hasil analisis deskriptif data aktivitas
dengan kemampuan berpikir di kelas eksperimen. aktif siswa dan berdasarkan kriteria yang
Hal ini dapat diakibatkan karena perbedaan ditetapkan diperoleh kesimpulan bahwa aktivitas
tingkat kognitif dan metode yang digunakan oleh aktif siswa dalam pembelajaran kontekstual
guru dalam melaksanakan kegiatan belajar adalah memenuhi batas toleransi waktu ideal. Hal
mengajar. Hal ini sejalan dengan teori ini dimungkinkan karena pembelajaran
perkembangan Piaget yang menyakini bahwa kontekstual memiliki beberapa karakteristik yaitu
perkembangan intelektual terjadi pada saat masalah dari soal-soal terbuka.
Dilihat dari persentase aktivitas siswa konvensional lebih besar atau sama dengan 80%,
berdiskusi antara sesama teman sebesar 27.6% maka disimpulkan bahwa respon siswa terhadap
dan aktivitas mencatat hal-hal yang relevan pembelajaran konvensional adalah positif. Jika
16.45%, persentase ini sudah efektif. Hal ini dibandingkan dengan rata-rata keseluruhan respon
terjadi karena pembelajaran kontekstual membuat pada pembelajaran konvensional maka
siswa saling berpikir bersama dan bekerja sama. pembelajaran kontestual sedikit lebih baik dari
Siswa yang memiliki kemampuan yang lemah ikut pada pembelajaran konvensional
aktif berdiskusi dan bertanya dengan siswa yang
memiliki kemampuan yang tinggi. Hal ini sesuai D. Kesimpulan dan Saran
pendapat Vigotsky bahwa perlunya interaksi yang 1. Kesimpulan:
terus-menerus baik antara siswa satu dengan yang Dari hasil penelitian dan analisa data yang
lain, maupun antara siswa dengan guru sehingga sudah diuraikan, dapat diambil beberapa
siswa mendapat manfaat positif dari interaksi kesimpulan sebagai berikut :
tersebut. 1. Dari hasil perhitungan uji F, dihasilkan
Berkurangnya dominasi guru dalam bahwa Fhitung = 102,477 dan Ftabel =
menerangkan materi, membuat siswa memiliki
banyak waktu untuk dapat menyelesaikan masalah 4,006873 dengan taraf signifikan sebesar 5%
dengan baik. Siswa berdiskusi dalam Jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0 ditolak dan Ha
kelompoknya masing-masing untuk menemukan diterima artinya terdapat perbedaan yang
cara penyelesaian masalah. Hal ini didukung oleh signifikan antara kemampuan berpikir kreatif
data hasil penelitian tentang rata-rata persentase siswa yang memperoleh pembelajaran
aktivitas siswa yang menggunakan waktu kontekstual dengan siswa yang memperoleh
menemukan cara untuk menyelesaikan masalah pembelajaran konvensional.
sebesar 30.45%. 2. Dari hasil perhitungan uji F, dihasilkan
Rara-rata persentase aktivitas siswa bahwa Fhitung = 7,557737 dan Ftabel =
berdiskusi/bertanya antara siswa dengan
temannya, dan antara siswa dengan guru yaitu 4,006873 dengan taraf signifikan sebesar 5%
27.6%. Walaupun aktivitas ini melebihi batas Jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0 ditolak dan Ha
toleransi tetap hal ini menunjukkan bahwa diterima artinya terdapat perbedaan yang
kemampuan siswa yang menyampaikan ide dan signifikan antara kemampuan berpikir kritis
berdiskusi dengan guru adalah sejalan. Aktivitas siswa yang memperoleh pembelajaran
siswa selama pembelajaran kontekstual terlihat kontekstual dengan siswa yang memperoleh
aktif dan kritis serta memiliki semangat yang pembelajaran konvensional
tinggi dalam memecahkan masalah yang 3. Keaktifan siswa dalam pembelajaran
diberikan. Sementara untuk kategori penilaian kontekstual dan konvensional memenuhi
portofolio dapat disimpulkan bahwa siswa batas toleransi.
menganggap sepele dengan tugas yang diberikan
oleh guru sehingga rata-rata persentase portofolio 4. Rata – rata persentase keseluruhan komponen
memiliki nilai yanr terendah. respon siswa terhadap pembelajaran
f. Respon Siswa kontekstual dan konvensional lebih besar
Dari hasil analisis deskriptif data aktivitas atau sama dengan 80%, maka disimpulkan
aktif siswa dan berdasarkan kriteria yang bahwa respon siswa terhadap pembelajaran
ditetapkan diperoleh kesimpulan bahwa respon kontekstual dan konvensional adalah positif.
siswa dalam pembelajaran kontekstual adalah 5. Proses penyelesaian jawaban siswa dengan
positif. Jika dilihat dari rata – rata persentase menggunakan pembelajaran kontekstual
respon siswa dari keseluruhan komponen memiliki kriteria baik. Hal ini ditunjukkan
pembelajaran yaitu terhadap materi pelajaran, dengan jawaban siswa dalam menyelesaikan
buku siswa, lembar aktifitas siswa, suasana tes kemampuan berpikir kreatif dan berpikir
belajar, dan cara guru mengajar dalam kritis siswa lebih baik pada kelas
pembelajaran konvensional sebesar 87,08%; pembelajaran kontekstual dibandingkan
berdasarkan kriteria pencapaian efektifitas yang dengan pembelajaran konvensional.
ditetapkan yaitu respon siswa dikatakan positif
apabila rata – rata persentase keseluruhan
komponen respon siswa terhadap pembelajaran
2. Saran kritis siswa pada pokok bahasan
Berdasarkan hasil penelitian dan Geometri Bidang Datar sehingga dapat
kesimpulan yang telah disajikan maka selanjutnya dijadikan masukan bagi sekolah untuk
peneliti menyampaikan saran yang kiranya dapat dikembangkan sebagai strategi
memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang pembelajaran yang efektif untuk mata
terkait atas hasil penelitian ini, diantaranya: pelajaran lain.
a. Bagi Guru Matematika c. Kepada Peneliti Lanjutan
 Pembelajaran kontekstual pada  Dapat dilakukan peneliti lanjutan
pembelajaran matematika yang dengan pembelajaran kontekstual dalam
menekankan kemampuan berpikir melihat perbedaan kemampuan berpikir
kreatif dan berpikir kritis siswa sangat kreatif dan berpikir kritis siswa untuk
baik sehingga dapat dijadikan sebagai memperoleh hasil penelitian yang
salah satu alternatif untuk menerapkan inovatif.
pembelajaran matematika yang inovatif  Sebelum dilakukan penelitian, peneliti
khususnya dalam mengajarkan materi perlu bersosialisasi dalam
Geometri Bidang Datar. memperkenalkan tentang pembelajaran
 Perangkat pembelajaran yang dihasilkan kontekstual kepada guru dan siswa
dapat dijadikan sebagai bandingan bagi sehingga penelitian dapat dilakukan
guru dalam mengembangkan perangkat dengan baik.
pembelajaran matematika dengan  Rancanglah perangkat pembelajaran
pembelajaran kontekstual pada pokok dengan efektif, sesuaikan indicator
bahasan geometri bidang datar. kemampuan dan alokasi waktu yang
 Diharapkan guru matematika dapat harus dicapai
menciptakan suasana pembelajaran
yang menyenangkan, memberi E. Daftar Pustaka
kesempatan pada siswa untuk Octavia Shilphy A. 2020. Model model
mengungkapkan gagasannya dalam Pembelajaran : Yogyakarta :CV Budi Utama
bahasa dan cara mereka sendiri, berani
beragumentasi sehingga siswa akan Saeful Anam. 2021 Group Investigation; Konsep
lebih percaya diri serta berpikir kreatif dan Implementasi dalam Pembelajaran.
dan berpikir kritis dalam menyelesaikan Lamongan: Academia Publication
masalah yang dihadapinya.
 Diharapkan guru perlu menambah Arikunto, Suharsimi.2011. Dasar-Dasar Evaluasi
wawasan tentang teori-teori Pendidikan. Jakarta : Bumi .Aksara.
pembelajaran dan model pembelajaran
yang inovatif agar dapat Asra, Sumiati, 2013. Metode Pembelajaran.
melaksanakannya dalam pembelajaran Bandung : Wacana Prima.
matematika sehingga pembelajaran
biasa secara sadar dapat ditinggalkan Hartono. [Link] Untuk Penelitian .
sebagai upaya dapat meningkatkan hasil Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
belajar siswa.
b. Kepada Lembaga Terkait Istarani, 2012. 58 Model Pembelajaran Inovatif.
 Perlu adanya sosialisasi dalam Medan : Media Persada
memperkenalkan pembelajaran
kontekstual kepada guru dan siswa Komalasari, Kokom. 2013. Pembelajaran
sehingga kemampuan yang dimiliki Kontekstual. Bandung : Refika Aditama.
siswa khususnya kemampuan berpikir
kreatif dan berpikir kritis siswa dapat Riduwan. 2013. Metode dan Teknik Menyusun
meningkat. Tesis. Bandung : Alfabeta.
 Diharapkan pembelajaran kontekstual
dapat dijadikan sebagai salah satu Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran
alternatif dalam meningkatkan Jakarta :Grafindo Persada.
kemampuan siswa khususnya Sagala, S. 2003. Konsep Dan Makna
kemampuan berpikir kreatif dan berpikir Pembelajaran. Bandung : Alfabeta

Anda mungkin juga menyukai