1.
Data identitas singkat
• Jurnal A (WhatsApp — Phishing, 2024): artikel review / studi literatur yang meninjau
modus phishing & mitigasinya di WhatsApp; fokus pada ancaman phishing, pencegahan,
dan temuan studi terkait.
• Jurnal B (LINE — Forensik, 2016): prosiding penelitian eksperimental tentang proses
investigasi forensik pada aplikasi LINE (skenario cyberbullying), berisi metodologi praktis
dan penggunaan tool recovery.
2. Tujuan & cakupan penelitian
• Jurnal A (WhatsApp): mengumpulkan dan meninjau literatur tentang ancaman phishing
di WhatsApp, menganalisis modus, faktor penyebab, dan rekomendasi pencegahan
(pendekatan kualitatif / studi literatur). Cakupan: ancaman phishing, modus (link
berbahaya, APK palsu, clickjacking), statistik dan edukasi.
• Jurnal B (LINE): menganalisis proses investigasi forensik digital pada LINE melalui
eksperimen/skenario; fokus pada tahapan preservation → collection → examination →
analysis dan alat/teknik pengangkatan bukti (rooting, Kamas Lite, AFLogical, dsb.).
Cakupan: praktik forensik, recovery pesan/gambar, alat.
Intinya: A adalah literature review (penekanan pada ancaman & pencegahan); B adalah studi
eksperimental forensik (penekanan pada teknik recovery bukti).
3. Metode forensik & alat yang dibahas / dipakai
• Jurnal A (WhatsApp): mengutip berbagai studi yang memakai metodologi NIST,
DFRWS, alat seperti Magnet Axiom, MOBILedit, ForensicallyBeta untuk autentikasi
gambar (ELA) dan pengumpulan bukti dari ponsel / cloud; namun jurnal ini lebih meninjau
metode daripada melakukan eksperimen langsung.
• Jurnal B (LINE): praktik langsung — skenario dibuat, perangkat di-root (ZenFone
RootKit), kemudian data diangkat memakai Kamas Lite dan AFLogical OSE; menekankan
proses collection (rooting) dan examination untuk mengungkap pesan/hapus yang terkait
cyberbullying. Metode tahapan forensik: preservation, collection, examination, analysis.
Perbandingan alat/teknik: Jurnal B lebih detail pada tool teknis & langkah laboratorium; Jurnal
A menyajikan gambaran alat/standar umum dan teknik otentikasi (termasuk ELA untuk gambar)
dari beberapa studi.
4. Temuan utama
• Jurnal A (WhatsApp): WhatsApp rentan terhadap phishing; modus umum: tautan
berbahaya, APK palsu (undangan/kurir), manipulasi gambar (kwitansi palsu). Menekankan
perlunya edukasi pengguna, 2FA, antivirus, plugin anti-phishing, dan kerja sama platform
+ penegak hukum. Menyebutkan bukti statistik (mis. temuan Kaspersky terkait puluhan
ribu tautan berbahaya) dan pentingnya standar forensik (NIST/DFRWS) untuk
memperoleh bukti.
• Jurnal B (LINE): Dengan rooting + tool recovery, pesan (termasuk yang dihapus) dan
media pada LINE dapat diungkap sebagai bukti; skenario menunjukkan proses investigasi
yang berhasil memulihkan bukti untuk kasus cyberbullying. Menyajikan workflow praktis
investigasi dan daftar alat yang efektif dalam studi mereka.
Implikasi: A menyorot ancaman dan pencegahan pada level pengguna & kebijakan; B
membuktikan bahwa bukti digital dapat diambil secara teknis dari perangkat pelaku.
5. Kekuatan dan kelemahan masing-masing jurnal
Jurnal A (WhatsApp — 2024)
• Kekuatan: komprehensif dalam meninjau modus phishing modern; relevan untuk
kebijakan, edukasi, dan mitigasi. Menyajikan berbagai studi dan rekomendasi pencegahan.
• Kelemahan: tidak melakukan eksperimen lapangan sendiri → kurang detail prosedural/lab
untuk rekonstruksi bukti forensik.
Jurnal B (LINE — 2016)
• Kekuatan: praktikal — menyajikan skenario eksperimen, langkah rooting, tools yang
dipakai; langsung berguna untuk penyidik/peneliti yang ingin mereplikasi.
• Kelemahan: fokus pada LINE (bukan WhatsApp), dan penelitian relatif lebih tua (2016)
sehingga tooling / versi aplikasi / metode penyimpanan data mungkin sudah berubah;
etika/rooting juga menimbulkan isu legalitas pada bukti jika tidak mengikuti prosedur yang
tepat.
6. Relevansi untuk kasus bullying melalui WhatsApp (kebutuhan tugasmu)
• Dari Jurnal A: sangat relevan untuk memahami modus komunikasi berbahaya (tautan,
APK, gambar manipulasi) di WhatsApp dan aspek pencegahan serta standar forensik yang
direkomendasikan. Berguna untuk bagian latar belakang, identifikasi modus dan
rekomendasi pencegahan.
• Dari Jurnal B: meskipun fokusnya LINE, metodologi forensik (preservation → collection
→ examination → analysis), teknik rooting, dan penggunaan tool recovery adalah
transferable ke WhatsApp pada perangkat Android; berguna untuk bagian metodologi /
prosedur teknis (bagaimana mengekstrak pesan, memulihkan pesan terhapus, memproses
bukti).
7. Rekomendasi untuk laporan perbandingan (yang bisa langsung kamu copy-paste)
1. Pendahuluan singkat: jelaskan kenapa WhatsApp/instant messenger relevan untuk
bullying & phishing (gunakan data dari Jurnal A).
2. Metodologi perbandingan: bandingkan jenis studi (review vs eksperimental), tahun,
sample/cakupan, metode forensik yang dibahas.
3. Tabel perbandingan (singkat) — contohnya:
Aspek Jurnal A (WhatsApp, 2024) Jurnal B (LINE, 2016)
Jenis studi Review literatur Eksperimental/lab
Fokus Phishing & pencegahan Teknik recovery bukti (cyberbullying)
Metode Meninjau NIST/DFRWS, ELA, Rooting, Kamas Lite, AFLogical, proses
forensik Magnet/MOBILedit preservation→analysis
Modus phishing, rekomendasi Bukti pesan/gambar dapat direcovery
Hasil
pencegahan meskipun dihapus
Komprehensif untuk
Kelebihan Praktis & replikatif
kebijakan/edukasi
Keterbatasan Kurang eksperimen Tertuju pada LINE; tooling & versi lama
(Rujukan ke masing-masing file).
4. Analisis kritis singkat: jelaskan kenapa gabungan keduanya diperlukan:
A. memberi konteks ancaman & standar;
B. memberi langkah teknis untuk pengumpulan bukti.
5. Kesimpulan & rekomendasi praktis: mis. untuk investigasi bullying WA:
(a) Amankan perangkat (preservation)
(b) Gunakan metode collection yang sesuai (backup/physical/ACPI)
(c) Gunakan tool yang mendukung WhatsApp DB (Magnet/Cellebrite/ADB extraction),
(d) Terapkan teknik autentikasi gambar jika diperlukan (ELA/Forensically),
(e) Dokumentasikan chain of custody & patuhi hukum saat rooting/akses. (Ambil dasar
rekomendasi pencegahan dari Jurnal A).