BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1 Kualitas produk
Menurut Kotler dan Keller (2016:164) menyatakan bahwa kualitas produk dapat
memberikan hasil atau kinerja yang baik agar konsumen puas dengan produk yang dijual oleh
perusahaan. Menurut Kotler dan Amstrong (2014:248) kualitas produk adalah keragaman suatu
produk yang fungsinya dapat dilakukan dalam mudahnya pengoperasian dengan ciri-ciri
produk. Menurut Kotler (2012:163) menyatakan bahwa pentingnya kualitas produk dapat
dijelaskan dari dua sudut yaitu yang pertama manajemen operasional, kualitas produk
merupakan salah satu kebijakan penting dalam meningkatkan daya saing produk yang harus
memberikan kualitas produk dari pesaing. Kedua dari sudut pemasaran, kualitas produk yaitu
harga, promosi dan saluran distribusi yang dapat meningkatkan volume penjualan dan
memperluas pangsa pasar perusahaan berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa kualitas produk adalah sebagai produk bebas cacat (sesuai standar),
kemampuan dalam memenuhi fungsi-fungsinya yang ditentukan untuk memenuhi kepuasan
pelanggan.
2.1.2 Indikator kualitas produk
Menurut Kotler (2016:203) mengungkapkan ada tujuh indikator yang mempengaruhi
kualitas produk, yaitu:
1. Kesesuaian dengan spesifikasi
Conformance adalah kesesuaian kinerja produk dengan standar yang dinyatakan suatu
produk. Ini semacam “janji” yang harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki
kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan standarnya.
2. Daya Tahan
Daya tahan menunjukan usia produk, yaitu jumlah pemakian suatu produk sebelum produk
itu digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu semakin awet, produk yang
awet akan dipersepsikan lebih berkualitas dibanding produk yang cepat habis atau cepat
diganti.
3. Kinerja
Kinerja merupakan karakteristik atau fungsi utama suatu produk. Ini manfaat atau khasiat
utama produk yang kita beli. Biasanya ini menjadi pertimbangan pertama kita dalam
membeli suatu produk.
4. Fitur Produk
Dimensi fitur merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang melengkapi manfaat
dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau option bagi konsumen. Kalau manfaat utama
sudah standar, fitur sering kali ditambahkan. Idenya, fitur bisa meningkatkan kualitas
produk kalau pesaing tidak memiliki.
5. Keandalan
Dimensi keandalan adalah peluang suatu produk bebas dari kegagalan saat menjalankan
fungsinya.
6. Kemampuan diperbaiki
Sesuai dengan maknanya, disini kualitas produk ditentukan atas dasar kemampuan
diperbaiki: mudah, cepat, dan kompeten.
7. Keindahan
Keindahan menyangkut tampilan produk yang bisa membuat konsumen suka. Ini sering
kali dilakukan dalam bentuk desain produk atau kemasannya. Beberapa merek diperbarui
“wajahnya” supaya lebih cantik di mata konsumen.
2.1.3 Harga
Menurut Kotler dan Keller (2012:25) harga merupakan sejumlah nilai yang dapat
ditukarkan konsumen dengan mempunyai manfaat dari memiliki atau menggunakan produk
atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga terhadap semua pembeli. Oleh karena itu, harga
mempunyai banyak bentuk dan fungsi, seperti sewa, uang, upah, bunga tarif biaya
penyimpanan, gaji dan komisi semuanya merupakan harga yang harus dibayar untuk
mendapatkan barang atau jasa.
Harga juga sebagai faktor penentu terciptanya penjualan, dan dikaitkan dengan
kemampuan financial yang dimiliki konsumen. Sedangkan menurut Fadil dan Utama
(2015:139) berpendapat bahwa harga merupakan besaran yang dibayar oleh konsumen untuk
mendapatkan produk atau jasa yang ditawarkan oleh penjual. Selanjutnya menurut Suparyanto
dan Rosad (2015:141) harga adalah jumlah sesuatu yang memiliki nilai pada umumnya berupa
uang yang harus dikorbankan untuk mendapatkan suatu produk.
2.1.4 Indikator Harga
Indikator yang dapat mempengaruhi variabel harga menurut Kotler dan Amstrong
(2012:278), adalah sebagai berikut :
1 Keterjangkauan Harga
Konsumen dapat menjangkau harga yang telah ditentukan oleh perusahaan. Di suatu
produk terdapat beberapa jenis dalam satu merek dan harganya pun bervariatif dari yang
termurah sampai termahal. Dengan harga yang ditentukan dapat dijangkau, para konsumen
akan banyak yang membeli produk.
2 Kesesuaian harga
Dengan kualitas Harga kerap dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen,
seseorang kerap menjadikan harga yang relatif tinggi diantara dua barang karena mereka
melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga yang relatif lebih tinggi seseorang akan
cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga akan lebih baik.
3 Daya saing Harga
Terkadang konsumen kerap membandingkan harga suatu produk dengan produk yang
lainnya. Sehingga dalam hal ini mahal atau murahnya harga pada suatu produk menjadi
pertimbangan oleh konsumen pada saat membuat keputusan untuk membeli produk tersebut.
2.1.5 Citra Merek
Citra merek merupakan penjelasan assosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek
produk tertentu. Citra merek adalah pengamatan dan kepercayaan konsumen yang tertanam di
ingatan atau dibenak konsumen (Tjiptono, 2015:49). Kotler dan Keller (2016:235),
menyatakan bahwa penilaian konsumen pada suatu merek adalah sebagai refleksi dan assosiasi
yang ada didalam pikiran atau benak konsumen dalam mengigat suatu merek produk tertentu.
Citra merek adalah cara masyarakat menganggap merek atau brand secara aktual (Kotler
dan Keller, 2012:274). Menurut Kotler (2013:437) yang mengintrepetasi adalah konsumen dan
yang di intrepetasikan adalah informasi. Informasi citra dapat dilihat dari logo atau symbol
yang digunakan oleh perusahaan untuk mewakili produknya. Di mana simbol dan logo ini
bukan hanya sebagai pembeda dari para pesaing sejenis namun juga dapat merefleksikan mutu
dan visi misi perusahaan tersebut. Selain logo, iklan juga memegang peranan penting untuk
menciptakan sebuah citra merek. Penggunaan iklan adalah untuk meningkatkan citra merek,
dimana di dalam iklan konsumen dapat melihat langsung apa yang produk tersebut berikan.
Brand image yang dibangun dapat menjadi identitas dan cerminan dari visi, kesunggulan,
standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari pelaku usaha atau pemiliknya.
2.1.6 Indikator Citra Merek
Indikator Citra Merek Adapun indikator citra merek menurut Ratri (2017:50) yaitu
sebagai berikut:
1. Atribut produk (product attribute)
Merupakan hal-hal yang berkaitan dengan merek tersebut sendiri, seperti kemasan,
rasa, harga, dan lain-lain.
2. Keuntungan konsumen (consumer benefits)
Merupakan kegunaan produk dari merek tersebut.
3. Kepribadian merek (brand personality)
Merupakan asosiasi yang mengenai kepribadian sebuah merek apabila merek tersebut
adalah manusia.
2.1.7 Proses keputusan pembelian
Tujuan pemasaran adalah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan serta memuaskan
konsumen sasaran. Untuk meraih keberhasilan, pemasar harus dapat melihat faktor-faktor yang
mempengaruhi konsumen dan mengembangkan pemahaman mengenai bagaimana konsumen
melakukan proses keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:158) proses
keputusan pembelian adalah membeli merek yang paling disukai.
2.1.8 Faktor-Faktor Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:159) perilaku pembelian konsumen dipengaruhi
oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1. Faktor Budaya
Faktor budaya mempunyai pengaruh yang luas dan mendalam pada perilaku konsumen.
Pemasar harus memahami peran yang dimainkan oleh budaya, subbudaya, dan kelas sosial
pembeli.
a. Budaya
Budaya adalah penyebab keinginan dan perilaku seseorang yang paling dasar. Setiap
kelompok atau masyarakat mempunyai budaya dan pengaruh budaya pada perilaku pembelian
bisa sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain.
b. Sub budaya
Masing-masing budaya mengandung subbudaya yang lebih kecil, atau kelompok orang
yang berbagi sistem nilai berdasarkan pengalaman hidup dan situasi yang umum. Sub budaya
meliputi kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis.
c. Kelas Sosial
Kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang relatif permanen dan berjenjang dimana
anggotanya berbagi nilai, minat, dan perilaku yang sama.
2. Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok kecil,
keluarga, serta peran dan status sosial konsumen.
a. Kelompok
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang
mempunyai pengaruh langsung dan tempat dimana seseorang menjadi anggotanya disebut
kelompok keanggotaan. Sebaliknya, kelompok referansi bertindak sebagai titik perbandingan
atau titik referensi langsung (berhadapan) atau tidak langsung dalam membentuk sikap atau
perilaku [Link] referensi memperkenalkan perilaku dan gaya hidup baru kepada
seseorang, mempengaruhi sikap dan konsep diri seseorang, dan menciptakan tekanan untuk
menegaskan apa yang mungkin mempengaruhi pilihan produk dan merek seseorang.
b. Keluarga
Anggota keluarga bisa sangat mempengaruhi perilaku pembeli. Keluarga adalah
organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan telah diteliti secara
ekstensif. Pemasar teratrik pada peran dan pengaruh suami, istri, serta anak-anaknnya dalam
pembelian barang dan jasa yang berbeda.
c. Peran dan Status
Posisi seseorang dalam masing-masing kelompok dapat didefinisikan dalam peran dan
status. Peran terdiri dari kegiatan yang diharapkan dilakukan seseorang sesuai dengan orang-
orang disekitarnya. Masing-masing peran membawa status yang mencerminkan nilai umum
yang diberikaan kepadanya oleh masyarakat.
3. Faktor Pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti usia dan tahap
siklus hidup pembeli, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri.
a. Usia dan Tahap Siklus Hidup
Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli sepanjang hidup mereka. Selera
makanan pakaian, parabot, dan rekreasi sering berhubungan dengan usia. Pembeli juga
dibentuk oleh tahap siklus hidup keluarga, tahap-tahap yang dilalui keluarga ketika mereka
menjadi matang dengan berajalannya waktu.
b. Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang mereka beli. Pemasar berusaha
mengidentifikasi kelompok perkerjaan yang mempunyai minat diatas rata-rata pada produk dan
jasa mereka.
c. Situasi Ekonomi
Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk. Pemasar barang-barang
yang sensitif terhadap pendapatan mengamati gejala pendapatan pribadi, tabungan, dan suku
bunga. Jika indikator ekonomi menunjukan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-langkah
untuk merancang ulang, mereposisi dan menetapkan harga kembali untuk produk mereka
secara seksama.
d. Gaya Hidup
Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam keadaan
psikografisnya. Jika digunakan secara cermat, konsep gaya hidup dapat membantu pemasar
memahami nilai konsumen yang berubah dan bagaimana gaya hidup mempengaruhi perilaku
pembelian.
e. Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian setiap orang berbeda-beda mempengaruhi perilaku pembelian. Kepribadian
mengacu pada karakteristik psikologis unik yang menyebabkan respons yang relatif konsisten
dan bertahan lama terhadap lingkungan orang itu [Link] pemasar menggunakan konsep
yang berhubungan dengan kepribaadian. Konsep diri seseorang (disebut citra diri) gagasan
dasar konsep diri adalah bahwa kepemilikan seseorang ditunjukan dan mencerminkan identitas
mereka.
f. Faktor Psikologis
Faktor pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat foaktor psikologis utama:
motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keayakinan dan sikap.
a. Motivasi
Seseorang senantiasa mempunyai banyak kebutuhan. Salah satunya adalah kebutuhan
biologis, timbul dari dorongan tertentu seperti rasa lapar,haus dan ketidak nyamanan.
b. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana orang memilih, mengatur, dan meninterpretasikan
informasi untuk membentuk gambaran dunia yang berarti.
c. Pembelajaran
Pembelajaran menggambarakan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari
pengalaman.
d. Keayakinan dan Sikap
Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu. Sikap
mengambarkan evaluasi, perasaan, dan tendensi yang relatif konsisten dari seseorang terhadap
sebuah objek atau ide.
2.1.8 Indikator Proses keputusan pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:176) indikator dari proses keputusan pembelian
adalah sebagai berikut:
1. Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian dimulai dengan pengenalan kebutuhan. Pembeli menyadari suatu
masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh rangsangan internal ketika salah satu
kebutuhan normal seseorang seperti lapar dan haus timbul pada tingkat yang cukup tinggi
sehingga menjadi dorongan. Kebutuhan juga bisa dipicu oleh rangsangan eksternal.
Contohnya, suatu iklan atau diskusi dengan teman.
2. Pencarian informasi
Konsumen yang tertarik mungkin mencari lebih banyak informasi atau mungkin tidak.
Jika dorongan konsumen itu kuat dan produk yang memuasakan ada didekat konsumen itu,
konsumen mungkin akan membelinya kemudian. Jika tidak, konsumen bisa menyimpan
kebutuhan itu dalam ingatannya atau melakukan pencarian informasi yang berhubungan
dengan kebutuhan.
Kosumen dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber. Sumber ini meliputi
sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, rekan), sumber komersial (iklan, wiraniaga, situs
web, penyalur, kemasan, tampilan), sumber publik (media masa,organisasi pemeringkat
konsumen, media sosial , pencarian online dan ulasan sejawat), dan sumber pengalaman
(penanganan, pemeriksaan, pemakaian produk.
3. valuasi Alternatif
Evaluasi alterrnatif yaitu bagaimana konsumen memproses informasi untuk sampai pada
pilihan merek. Konsumen tidak menggunakan proses evaluasi yang sederhana dan tunggal
dalam semua situasi pembelian. Sebagai gantinya, beberapa evaluasi dilaksanakan. Konsumen
sampai pada sikap terhadap merek yang berbeda melalui beberpa prosedur evaluasi.
Bagaimana cara konsumen mengevaluasi alternatif bergantung pada kosnumen pribadi dan
situasi pembelian tertentu.
4. Proses keputusan pembelian
Dalam tahap evaluasi, konsumen menentukan peringkat merek dan membentuk niat
pembelian. Pada umumnya, proses keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek
yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan
pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain dan faktor kedua adalah faktor situasional
yang tidak terduga.
5. Perilaku Pasca Pembelian
Pekerjaan pemasar tidak berakhir ketika produk telah dibeli. Setelah membeli produk
konsumen akan merasa puas atau tidak puas dan terlibat dalam perilaku pasca pembelian yang
harus diperhatikan oleh pemasar. Hubungan antara ekpektasi konsumen dan kinerja anggapan
produk dapat menentukan kepuasan dan ketidakpuasan pembeli terhadap suatu pembelian.
Semakin besar antara ekpektasi dan kinerja, semakin besar pula ketidakpuasan konsumen.
2.2 Review Jurnal Terdahulu
Penelitian yang pertama yang dilakukan oleh Amalia dan Asmara (2017) yang dimuat
Jurnal Manajemen dan Keuangan Vol. 6 no 1 Edisi Mei 2017 ISSN: 2252- 844X dengan judul
“pengaruh citra merek, harga, dan kualitas produk terhadap proses keputusan pembelian
handphone merek xiaomi dikota langsa. Populasi yang digunakan didalam penelitian ini adalah
konsumen yang sudah pernah membeli dan menggunakan handphone merek Xiaomi dikota
Langsa. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian ini menggunakan metode analisis
regresi linier berganda dan koefisien determinasi Uji t dan Uji f. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa hasil uji t dan f variabel citra merek, harga, dan kualitas produk
berpengaruh secara signifikan terhadap proses keputusan pembelian dan hasil dari analisis
koefisien determinasi citra merek, harga, dan kualitas produk mempengaruhi proses keputusan
pembelian sebesar 30,4% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya.
Penelitian yang kedua yang dilakukan oleh Wulandari dan Utama (2020) yang dimuat
jurnal of business and management Vol.7 no.1 2020 ISSN: 2337-5965 dengan judul “pengaruh
kualitas produk, harga, dan promosi terhadap keputusan membeli handphone realme
dimatahari singosaren”. Populasi pada penelitian ini adalah Pengguna Handphone REALME
di Matahari Singosaren Surakarta sampel yang digunakan sebanyak 100 pelanggan. Metode
yang digunakan adalah Pengujian Instrumen, Uji Asumsi Klasik, analisis Linier berganda, Uji
t, Uji F, dan Uji R2. Hasil penelitian ini persamaan regresi dapat disimpulkan bahwa produk,
harga, dan promosi berpengaruh positif terhadap keputusan membeli. Hasil Uji t dapat
disimpulkan bahwa variabel kualitas produk berpengaruh positif tetapi tidak signifikan dan
variabel harga dan promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan membeli.
Hasil uji f menunjukkan bahwa variabel kualitas produk, harga, dan promosi berpengaruh
secara bersama-sama terhadap keputusan membeli. Hasil uji koefisien determinasi R2 0,183
yang berarti bahwa kualitas produk, harga, dan promosi mampu mempengaruhi keputusan
membeli sebesar 18,3%, sisanya 81,7% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini.
Penelitian yang ketiga yang dilakukan oleh Listiana dan Aida (2021) yang dimuat jurnal
PAMATOR Vol. 14 no.1, april 2021 ISSN: 1829-7935 dengan judul “pengaruh harga, kualitas
produk, citra merek dan proses keputusan pembelian produk smartphone Xiaomi”. Populasi
yang digunakan didalam penelitian adalah pengguna smartphone Xiaomi di daerah Pasuruan
dengan sampel sebanyak 97 responden. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive
sampling dengan bantuan software PLS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harga
berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap citra merek maupun proses keputusan
pembelian. Citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap proses keputusan
pembelian dimana kualitas produk berpengaruh positif terhadap proses keputusan pembelian.
Penelitian keempat dilakukan oleh Zulkarnaen dan Soekotjo (2017) yang dimuat Jurnal
Ilmu dan Riset Manajemen Volume 6, nomor 11, November 2017 e-ISSN: 2461-0593 dengan
judul “pengaruh brand ambassador, promosu dan harga terhadap proses keputusan pembelian
smartphone vivo v5 plus di plasa marina”. Populasi yang digunakan didalam penelitian ini
adalah yaitu konsumen Vivo V5 Plus di Plaza Marina Surabaya. Metode penelitian yang
digunakan adalah accidental sampling, Uji Asumsi Klasik, analisis Linier berganda, Uji t, Uji
F, dan Uji R2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel brand ambassador memiliki
pengaruh signifikan dan positif terhadap proses keputusan pembelian dengan koefisien regresi
sebesar 0,394 dan tingkat signifikansi 0,000. Variabel promosi memiliki pengaruh signifikan
dan positif terhadap proses keputusan pembelian dengan koefisien regresi sebesar 0,626 dan
tingkat signifikansi 0,000. Sedangkan variabel harga memiliki pengaruh signifikan dan negatif
terhadap proses keputusan pembelian. Secara simultan, variabel brand ambassador, promosi,
dan harga memiliki pengaruh signifikan terhadap proses keputusan pembelian dengan tingkat
signifikansi sebesar 0,000.
Penelitian kelima yang dilakukan oleh Zhafran dan Trianasari (2021) yang dimuat jurnal
e-Proceeding of management Vol.8, No.5 oktober 2021 ISSN: 2355-9357 dengan judul
“pengaruh kualitas produk, harga, dan citra merek yang diterapkan pada produk iphone
terhadap proses keputusan pembelian konsumen di Indonesia". Populasi dalam penelitian ini
adalah para pengguna iphone dengan sampel sebanyak 385 responden. Metode penelitian ini
adalah metode kuantitatif dengan teknik purposive sampling dengan bantuan software SPSS
22. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa citra merek berpengaruh signifikan terhadap
proses keputusan pembelian, kualitas produk berpengaruh signifikan, dan harga berpengaruh
signifikan terhadap proses keputusan pembelian.
Penelitian keenam yang dilakukan oleh Tamara, Allie dan Wadud (2021) yang dimuat
International Journal Of Marketing & Human Resource Research Vol.2, No.1, January 2021
e-ISSN: 2746-4040 dengan judul “The Effects of Brand Image and Price on Purchase
Decision of Vivo Smartphones in Pampangan district”. Populasi dalam penelitian ini adalah
data penjualan smartohone Vivo di Distrik Pampangan, OKI Regency pada bulan Juli sampai
Desember 2019. Dengan jumlah sampel sebanyak 53 responden. Metode yang digunakan ini
adalah multiple linear regression. Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa citra merek
dan harga berpengaruh signifikan terhadap proses keputusan pembelian.
Penelitian ketujuh yang dilakukan oleh Rai (2021) yang dimuat Journal Of Asian
Finance, Economic and Business Vol 8 No 2 2021 ISSN: 2288-4637 dengan judul “Factor
Affecting Smartphone Purchase Intention of Consumer in Nepal”. Populasi dalam penelitian
ini adalah orang yang menggunakan smartphone di Kathmandu. Dengan jumlah sampel 294
responden. Metode yang digunakan ini adalah analisis deskriptif dengan analisis korelasi dan
SEM cara pengambilan data yang digunakan adalah dengan metode analisis jalur regresi
dengan bantuan software SPSS AMOS 24. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa brand
personality tidak berpengaruh signifikan terhadap proses keputusan pembelian, lalu product
attributes dan harga berpengaruh signifikan terhadap proses keputusan pembelian kepada
smartphone di Nepal.
Penelitian Kedelapan yang dilakukan oleh Fitriani dan Achmad (2021) yang dimuat
International Journal of Economics, Business and Accounting Research (IJEBAR) Vol-5,
Issue-2, June 2021 E-ISSN: 2614-1280 dengan judul “the effects of brand identification and
brand image on brand love and brand loyalty on ipgone smartphone product users in
Samarinda”. Populasi dalam penelitian adalah pengguna smartphone Iphone lebih dari sekali
dengan jumlah sampe sebanyak 100 responden. Teknik pengguna sampel dalam penelitian ini
adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Dengan bantuan
software Smart PLS versi 3.8.9 dan juga menggunakan SPSS versi 25 untuk menguji validitas
dan reabilitas. Hasil dalam penelitian adalah brand identification berpengaruh positif dan
signifikan terhadap brand love, lalu brand identification berpengaruh positif tetapi tidak
signifikan terhadap brand loyalty, citra merek berpengaruh positif tetapi tidak signifikan
terhadap brand loyalty, brand love berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand loyalty.
2.3 Keterkaitan Antar Variabel
2.3.1 Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Proses Keputusan pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:158) proses keputusan pembelian adalah membeli
merek yang paling disukai. Dapat di katakan konsumen dapat menentukan pilihannya sendiri
dari berbagai alternaif pilihan yang ada terhadap produk yang paling sesuai dengan kebutuhan
yang diinginkan.
Menurut Tjiptono (2015:105) bahwa definisi konvensional dari kualitas merupakan
performasi sebagai gambaran langsung dari suatu produk, keandalan, mudah untuk digunakan,
estetika dan sebagainya. Dalam arti strategi, kualitas adalah segala sesuatu yang dapat
memberikan kebutuhan konsumen sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen
Menurut Swastha dan Handoko (2012:102) salah satu dari tujuh komponen yang ada
adalah proses keputusan pembelian tentang jenis produk. Konsumen dapat mengambil
keputusan untuk membeli sebuah barang atau jasa ketika konsumen tersebut menganggap
produk itu dibutuhkan. Kualitas produk yang diberikan perusahaan adalah strategi yang tepat
untuk menarik perhatian konsumen. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Listiana dan Aida
(2021) mengatakan bahwa kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap proses keputusan
pembelian.
2.3.2 Pengaruh Harga Terhadap Proses Keputusan pembelian
Menurut Fadil dan Utama (2015:139) berpendapat bahwa harga merupakan besaran yang
dibayar oleh konsumen untuk mendapatkan produk atau jasa yang ditawarkan oleh penjual.
Selanjutnya menurut Suparyanto dan Rosad (2015:141) harga adalah jumlah sesuatu yang
memiliki nilai pada umumnya berupa uang yang harus dikorbankan untuk mendapatkan suatu
produk.
Dengan harga yang sesuai dengan manfaat yang dirasakan maka konsumen akan
memutuskan untuk membeli produk tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Zhafran
dan Trianasari (2021), mengatakan bahwa harga berpengaruh signifikan terhadap proses
keputusan pembelian.
2.3.3 Pengaruh Citra Merek Terhadap Proses keputusan pembelian
Menurut Kotler dan Keller, (2012:274) citra merek adalah cara masyarakat menganggap
merek atau brand secara aktual Menurut Kotler (2013:437) yang mengintrepetasi adalah
konsumen dan yang di intrepetasikan adalah informasi. Informasi citra dapat dilihat dari logo
atau symbol yang digunakan oleh perusahaan untuk mewakili produknya. Di mana simbol dan
logo ini bukan hanya sebagai pembeda dari para pesaing sejenis namun juga dapat
merefleksikan mutu dan visi misi perusahaan tersebut. Selain logo, iklan juga memegang
peranan penting untuk menciptakan sebuah citra merek. Penggunaan iklan adalah untuk
meningkatkan citra merek, dimana di dalam iklan konsumen dapat melihat langsung apa yang
produk tersebut berikan. Brand image yang dibangun dapat menjadi identitas dan cerminan
dari visi, kesunggulan, standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari pelaku usaha atau
pemiliknya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Fera dan Pramuditha (2021) mengatakan
bahwa citra Merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap proses keputusan pembelian.
2.4 Pengembangan Hipotesis
Berdasarkan teori diatas, maka penelitian ini memiliki hipotesis sebagai berikut:
H1: Diduga kualitas produk berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian smartphone
Xiaomi pada mahasiswa STIE Indonesia
H2: Diduga harga berpegaruh terhadap proses keputusan pembelian smartphone Xiaomi pada
mahasiswa STIE Indonesia
H3: Diduga citra merek berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian smartphone
Xiaomi pada mahasiswa STIE Indonesia
2.5 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dari penelitian ini adalah adanya Kualitas Produk (X1), Harga (X2)
dan Citra Merek (X2) terhadap Proses keputusan pembelian (Y). Dalam penelitian ini akan
dipaparkan tentang bagaimana pengaruh nyata antara Kualitas Produk, Harga dan Citra merek
terhadap Proses keputusan pembelian. Berdasarkan pada analisis yang dilakukan , maka
kerangka konseptual penelitian ini ditunjukkan pada gambar 2.1 yaitu :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Kualitas
Produk (X1)
Proses keputusan
Harga(X2) pembelian (Y)
Citra Merek
(X3)