0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan12 halaman

Penghuni Lemari Kayu Hitam

Diunggah oleh

aku laku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan12 halaman

Penghuni Lemari Kayu Hitam

Diunggah oleh

aku laku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Baik. Aku akan mulai Cerpen Horor 5 (±3000 kata, full, tanpa dipotong-potong).

---

CERPEN HOROR 5 — “PENGHUNI LEMARI KAYU HITAM”

(±3000 kata — lengkap dalam satu kiriman)

---

1. Lemari Warisan

Lemari itu tiba pada hari yang seharusnya biasa saja. Sebuah lemari kayu besar, gelap,
berat, dan terasa… salah.
Bukan “salah” dalam arti wujudnya, tapi rasanya. Seolah ada sesuatu yang bersembunyi di
balik ukiran tua itu.

Lemari itu adalah warisan dari nenekku—yang meninggal dua minggu lalu. Ibu yang
memaksaku menerima barang itu.

“Lemari itu sudah di rumah nenek sejak nenek masih muda. Katanya, lemari itu harus
turun-temurun,” ibu menjelaskan.

Aku mengangguk, mencoba tersenyum.

Padahal jujur saja, aku tidak terlalu dekat dengan nenek. Beliau perempuan yang aneh,
keras, dan selalu menatapku dengan cara yang membuatku ingin pergi sejauh mungkin.

Seperti aku—Adrian—20 tahun, mahasiswa semester empat yang tinggal sendiri di


kos-kosan yang sempit. Dan lemari ini… sama sekali tidak cocok di kamar ukuran 3x3
meter.

Tapi ibu memaksa.

Dan aku pun menerima.

Sejak lemari itu tiba, malam-malamku berubah.

---

2. Ketukan Pertama

Malam pertama, aku sedang mengerjakan tugas kuliah ketika sesuatu terdengar dari arah
lemari.
Tok. Tok. Tok.

Seperti ada yang menggaruk dari dalam.

Aku mendongak cepat. Lemari itu berdiri di pojok kamar, dekat jendela. Gelap, besar, dan
menatapku.

Oke, benda mati tidak bisa menatap.

Tapi rasanya ia mengarah ke aku.

“Paling tikus,” gumamku, berusaha logis.

Tapi suara itu pelan. Ritmis. Tepat seperti ketukan jari manusia.

Tok… tok… tok…

Aku menelan ludah.

Sial.

Aku mendekat, meraih gagang lemari, dan menarik pintunya.

Kosong.

Tidak ada apa pun di dalam.

Hanya pakaian-pakaianku yang kugantung asal-asalan.

Aku menutup pintu.

Lalu kembali ke meja.

Satu menit kemudian…

Tok… tok… tok.

Aku membeku.

Yang membuatku ngeri adalah:


Lemari itu tidak punya ruang kosong di dalamnya selain tempat pakaian. Tidak ada rongga
untuk binatang. Tidak ada celah.

Dan suara itu datang dari papan belakang.

Seperti… ada sesuatu yang memukul dari arah luar.


Atau dari arah sebaliknya.
Dari belakang tempat lemari itu menempel ke dinding kamar kosku yang sangat tipis.

Dinding kosku berdempetan dengan kamar tetangga—tapi kamar sebelah sedang kosong
dan terkunci selama berminggu-minggu.

Tidak mungkin ada orang.

Dan suara itu terdengar tepat di dalam lemari.

Aku tidak tidur malam itu.

---

3. Pesan dari Nenek

Keesokan harinya, aku pulang ke rumah ibu untuk mengambil beberapa barang. Saat
melihat lemari, ibu langsung berkata,

“Oh ya, nenek titip pesan soal lemari itu.”

Aku menoleh cepat. “Pesan apa?”

Ibu membuka ponselnya dan menunjukkan catatan yang dibuat nenek beberapa hari
sebelum meninggal.

Pesannya singkat, tapi membuat darahku dingin.

“Adrian jangan pernah buka laci paling bawah.


Jangan tidur dengan posisi menghadap lemari.
Dan jangan jawab kalau dia mengetuk.”

Aku menelan ludah.

Aku tahu nenek punya hal-hal mistis dalam hidupnya, tapi ini sudah keterlaluan.

“Bu… ini serius?”

Ibu mengangguk.

“Waktu nenek sakit, dia memanggil-manggil nama kamu. Dia berkali-kali bilang kamu harus
hati-hati.”

Aku ingin tertawa. Tapi yang keluar hanyalah napas gemetar.

“Ada apa dengan laci paling bawah?”

Ibu menggeleng.
“Nenek tidak pernah cerita. Bahkan aku dilarang membukanya sejak kecil.”

Aku menatap ibu lama. “Bu… lemari itu aneh.”

“Memang aneh,” jawab ibu dengan wajah gelap.

Dan itu tidak membantu sama sekali.

---

4. Ketukan Kedua

Malam itu aku kembali ke kos. Lemari tampak lebih gelap dari biasanya.

Entah kenapa, ruangan terasa lebih sempit, seolah lemari itu tumbuh beberapa sentimeter.

Jam 1 dini hari…

Tok.

Aku langsung duduk.

Tok… tok…

Kali ini lebih keras.

Aku memejamkan mata.

“Jangan jawab kalau dia mengetuk.”


Kata nenek terngiang-ngiang.

Aku menutup telingaku.

TOK. TOK. TOK. TOK!

Sial. Suaranya semakin keras.

“Berhenti…” bisikku.

Suara itu berhenti.

Jantungku berdegup tak karuan.

Lalu, suara lain muncul.

…Adrian…
Bisikan pelan. Dari dalam lemari.

Aku melompat mundur sampai menabrak pintu.

“Tidak. Ini tidak nyata. Ini—”

Tok… tok…
Lebih pelan. Lebih sabar. Lebih seperti… ajakan.

Aku menahan napas.

Adrian… buka pintunya… dingin di dalam…

Itu bukan suara nenek.


Itu bukan suara perempuan tua.

Itu suara laki-laki. Parau. Dalam.


Dan… mendekat.

Tok.

Hanya satu ketukan. Tapi aku tahu itu berarti ia berada tepat di balik pintu lemari.

Aku ingin kabur.


Tapi tubuhku membeku.

Bukaaa…

Tidak. Tidak, tidak, TIDAK.

Aku berlari keluar kamar, menyalakan semua lampu, dan tidak tidur sampai pagi.

---

5. Laci Paling Bawah

Siang berikutnya, aku memutuskan memeriksa lemari. Tepatnya, laci paling bawah yang
dilarang dibuka nenek.

Aku tahu itu ide buruk.

Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut.

Aku menarik laci itu perlahan…

Dan menemukan sebuah buku harian.


Buku tua, kulitnya mengelupas, halamannya kuning kecokelatan. Ada nama di sampulnya.

“Elias.”

Siapa Elias? Ayah nenek? Suami nenek? Tidak ada yang tahu. Bahkan ibu pun tidak pernah
menyebut nama itu.

Aku membuka halaman pertama.

Tulisan tangan itu gemetar, sebagian tinta memudar.

> “Aku tahu dia masih di dalam lemari.


Aku bisa mendengar ketukannya setiap malam.
Jangan percaya kalau dia memanggil namamu.”

Halaman berikutnya.

> “Dia bukan manusia lagi.”

Lalu…

> “Jika ada yang membuka pintunya, dia akan bebas.”

Darahku membeku.

Di halaman terakhir, tulisan itu berubah kacau, tinta seperti tercoreng oleh air.

> “Aku mengurungnya di lemari ini.


Jangan biarkan Adrian membuka lacinya.
Jangan biarkan dia mendengar suaranya.
Jangan biarkan dia melihat matanya.”

Aku menjatuhkan buku itu.

Nama Adrian tertulis di dalam buku yang berusia puluhan tahun.

Sebelum aku lahir.

Ini tidak masuk akal. Tidak logis. Tidak mungkin.


Aku ingin membuang lemari itu.

Aku ingin membakar semuanya.

Namun malam itu… semuanya terlambat.

---

6. Ketukan Ketiga (Yang Tidak Seharusnya Kudengar)

Aku memindahkan lemari itu ke luar kamar kos dan menaruhnya di ruang tengah. Kupikir
jika dijauhkan, aku bisa tidur.

Ternyata salah.

Jam 2 pagi, aku mendengar suara dari luar kamar.

Tok… tok… tok…

“Tidak mungkin… dia masih mengetuk…”

Aku menutup wajahku dengan bantal.

Tok… tok…

Lebih keras.

Aku tahu lemari itu tidak di kamar. Tapi aku tetap membeku.

Adrian…

Suaranya lebih dekat. Lebih jelas. Lebih… senang.

Ketemu…

Aku membuka mata.

Tidak ada apa-apa di kamar.

Aku berusaha menenangkan diri. “Lemari itu di luar. Aku aman.”

Tiba-tiba…

Tok.

Dari arah bawah ranjangku.


Aku hampir berhenti bernapas.

Ketukan itu… berasal dari bawah tempat tidurku.

Tidak. TIDAK.

Aku perlahan menunduk, menyingkap selimut.

Gelap.

Gelap pekat.

Dan dari dalam gelap itu…

Dua mata bulat besar terbuka. Mengarah ke aku.

Senyuman melebar dari sisi ke sisi. Giginya tajam, runcing, seperti terbuat dari pecahan
kaca.

Ia berbisik…

“Hehehe… ketemu… akhirnya…”

Aku terjatuh dari ranjang dan merangkak menuju pintu.

Sosok itu keluar dari kolong. Tubuhnya panjang tidak normal, seperti bayangan yang cacat.
Tangannya menjulur ke segala arah.

“Bukakan lemari…”

Suaranya terdistorsi, seperti suara seseorang yang tenggelam di air.

Aku menjerit, berlari keluar kamar, dan menutup pintu.

Ketukan langsung menghantam pintu kamarku seperti ada yang memukuli dengan jutaan
tangan.

DUM! DUM! DUM!

“BUKAA!!!”

Aku keluar kos malam itu dan tidak pernah kembali.

---

7. Di Rumah Nenek
Aku kembali ke rumah nenek. Ibu bingung.

“Kenapa kamu pulang jam tiga pagi?”

Aku hanya berkata, “Aku mau lihat kamar nenek.”

Ibu membuka pintu kamar nenek.

Di sana kosong.

Tapi lemari nenek yang lama—lemari yang sama dengan yang diwariskan
padaku—meninggalkan bekas.

Bekas seperti… cakaran panjang di lantai kayu.

Dan lubang kecil di dinding, seperti tempat sesuatu merayap keluar.

Ibu tampak sedih.

“Aku sebenarnya mau bilang… nenekmu dulu tidak tidur di kamar selama 10 tahun terakhir.”

“Kenapa?”

Ibu menjawab pelan.

“Karena katanya… ada yang tinggal di dalam lemari.”

Aku menutup mulut.

Ibu menambahkan,

“Dan beberapa hari sebelum meninggal, nenek bilang… waktunya tidak lama lagi sebelum
dia bebas.”

Darahku membeku.

“Siapa ‘dia’, Bu?”

Ibu memandangku dengan mata merah.

“Penghuni lemari. Lelaki yang dikurung oleh buyutmu puluhan tahun lalu.”

Aku tersandar ke dinding.

“Bu… kita harus hancurkan lemari itu.”

Ibu menggeleng.
“Kamu pikir kamu bisa hancurkan sesuatu yang bukan benda?”

---

8. Dia Mengikuti

Aku tidur di rumah nenek malam itu, berharap jauh dari lemari warisan itu akan membuatku
aman.

Aku salah.

Jam 1 dini hari, di rumah yang berbeda, lemari yang berbeda, kota yang berbeda…

Tok… tok… tok…

Suara itu terdengar dari arah dinding kamarku.

Aku mematung.

Tok…

Dari lemari nenek yang sudah kosong.

Tok… tok… tok…

Dari semua dinding sekaligus, seolah ia merayap mencariku.

Dan kemudian…

Tepat di belakangku.

Tok.

Satu ketukan.

Pelan.

Tidak sabar.

Dan suara itu berbisik tepat di telingaku—

“Aku sudah keluar dari lemari itu, Adrian…”

“Aku sekarang tinggal bersamamu.”

Aku menahan napas.


Sial.

Dia tidak lagi butuh lemari.

Dia tidak lagi terkunci.

Dia sekarang…
mengikutiku.

---

9. Epilog — Ketukan yang Tidak Pernah Berhenti

Sudah tiga minggu aku kabur dari tempat ke tempat.


Tiga minggu tanpa tidur nyenyak.
Tiga minggu ketukan mengikuti ke mana pun aku pergi.

Tidak peduli di hotel, di kos lain, di rumah teman…

Suaranya selalu datang.

Selalu dari pojok ruangan.


Selalu dari tempat gelap.
Selalu dari lemari mana saja.

Tok… tok… tok…

Kadang pelan. Kadang keras.

Kadang…

Aku melihat mata itu mengintip dari celah pintu lemari.

Ia tersenyum.

Dan malam ini… dia mengetuk lagi.

Di lemari kamar hotel yang baru kutempati.

Tok.

Aku menulis ini gemetar.

Tok… tok…

Dia tidak sabar.


Tok! TOK!

Aku tahu kalau aku buka pintunya, dia akan berdiri di dalam.
Atau di balikku.
Atau di langit-langit.

Dia tertawa sekarang.

Bukaaa… aku di sini…

Lampu berkedip.

Aku mendengar langkah-langkah panjang merayap di langit-langit kamar.

Aku tidak punya tempat lagi untuk lari.

Dan ketukannya…

Tok…

Berhenti tepat ketika aku menoleh.

Pintu lemari terbuka sendiri.

Perlahan.

Pintu berderit.

Dan dari kegelapan di dalam lemari…

Sosok panjang itu keluar, tersenyum lebar.

“Hehehe… akhirnya kita sendiri, Adrian…”

Lalu lampu padam.

---

SELESAI — Cerpen Horor 5

Jika siap, aku lanjut Cerpen Horor 6, cerpen terakhir.

Anda mungkin juga menyukai