0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Pentingnya Program Anti-Bullying Sekolah

a

Diunggah oleh

sdn pajegan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Pentingnya Program Anti-Bullying Sekolah

a

Diunggah oleh

sdn pajegan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bullying di sekolah telah menjadi masalah serius yang mengancam keamanan dan

kesejahteraan siswa. Perilaku ini dapat menimbulkan dampak negatif jangka panjang bagi korban
maupun pelaku. Namun, ada harapan. Program anti-bullying yang efektif dapat menciptakan
lingkungan belajar yang aman dan positif bagi semua siswa.

Tulisan ini membahas tentang pentingnya program anti-bullying di sekolah, jenis-jenis


bullying, dampak bullying, strategi pencegahan, peran berbagai pihak, dan langkah-langkah
membangun budaya sekolah yang inklusif. Berikut uraiannya:

Mengapa Program Anti-Bullying Sangat Penting?


Bayangkan seorang siswa yang takut pergi ke sekolah setiap hari karena terus-menerus
diejek dan diintimidasi oleh teman-temannya. Situasi ini sayangnya masih sering terjadi di banyak
sekolah. Program anti-bullying hadir untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif.
Program anti-bullying bertujuan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman
bagi semua siswa. Ini penting agar mereka dapat fokus belajar tanpa rasa takut atau cemas.
Dengan adanya program ini, kita bisa membangun budaya saling menghormati di antara siswa.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

‫َيا َأُّيَها اَّلِذيَن آَمُنوا اَل َيْس َخ ْر َقْوٌم ِّمن َقْوٍم َعَس ٰى َأن َيُكوُنوا َخ ْيًر ا ِّمْنُهْم َواَل ِنَس اٌء ِّمن ِّنَس اٍء‬
‫َأ‬ ‫َأ‬
‫َعَس ٰى ن َيُكَّن َخ ْيًر ا ِّمْنُهَّن ۖ َواَل َتْلِمُز وا نُفَس ُكْم َواَل َتَناَبُز وا ِباَأْلْلَقاِب ۖ ِبْئَس ااِل ْسُم اْلُفُس وُق َبْعَد‬
‫ُأ‬
‫اِإْليَماِن ۚ َوَمن َّلْم َيُتْب َف وَٰلِئَك ُهُم الَّظاِلُموَن‬

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena)
boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan
pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan
(yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling
mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-
buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak
bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini dengan jelas melarang kita mengolok-olok atau mencela orang lain. Ini menjadi
dasar penting dalam upaya mencegah bullying di sekolah.

Apa Saja Jenis Bullying yang Sering Terjadi?


Bullying bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Ada bullying fisik seperti memukul atau
mendorong. Bullying verbal meliputi ejekan dan ancaman. Bullying sosial berupa pengucilan dari
kelompok. Cyberbullying terjadi melalui media sosial atau pesan teks.
Kita perlu memahami semua jenis bullying ini agar bisa mengenalinya sejak dini. Dengan
begitu, kita bisa mengambil tindakan tepat untuk mencegah dan menghentikannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak boleh menzalimi dan
membiarkannya dizalimi.” (HR. Bukhari No. 2442)
Hadits ini mengingatkan kita untuk saling melindungi dan tidak membiarkan siapa pun menjadi
korban bullying.

Bagaimana Dampak Bullying pada Siswa?


Seorang siswa yang menjadi korban bullying mungkin mengalami penurunan prestasi
akademik. Ia juga bisa mengalami depresi, kecemasan, atau bahkan memiliki pikiran untuk bunuh
diri. Dampak ini bisa bertahan hingga dewasa jika tidak ditangani dengan baik.
Bullying juga berdampak negatif pada pelakunya. Mereka berisiko terlibat dalam perilaku
antisosial di masa depan. Bahkan saksi bullying pun bisa mengalami stres dan rasa bersalah.
Allah SWT berfirman:

‫َوَمن َيْكِسْب َخ ِطيَئًة َأْو ِإْثًما ُثَّم َيْر ِم ِبِه َبِريًئا َفَقِد اْحَتَمَل ُبْهَتاًنا َوِإْثًما ُّمِبيًنا‬

“Dan barangsiapa berbuat kesalahan atau dosa, kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak
bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. An-Nisa:
112)

Ayat ini mengingatkan kita akan besarnya dosa menuduh orang yang tidak bersalah. Ini
relevan dengan kasus bullying di mana korban sering dituduh tanpa alasan.

Strategi Apa yang Efektif untuk Mencegah Bullying?


Pencegahan bullying membutuhkan pendekatan menyeluruh. Kita bisa mulai dengan
edukasi tentang dampak bullying kepada semua siswa. Pelatihan keterampilan sosial dan empati
juga penting untuk membangun hubungan positif antar siswa.
Sekolah perlu memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas dan ditegakkan secara konsisten.
Pengawasan di area rawan bullying seperti kantin atau toilet juga perlu ditingkatkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bantulah saudaramu, baik dalam keadaan berbuat zalim atau dizalimi.” (HR. Bukhari No. 2444)

Hadits ini mengajarkan kita untuk aktif mencegah bullying, baik dengan menghentikan
pelaku maupun membela korban.
Siapa Saja yang Berperan dalam Program Anti-Bullying?
Program anti-bullying membutuhkan kerja sama semua pihak. Guru berperan penting dalam
mendeteksi dan menangani kasus bullying di kelas. Orang tua perlu mendidik anak tentang perilaku
baik dan melaporkan jika anaknya menjadi korban.
Siswa sendiri bisa menjadi “upstander” yang berani membela korban dan melaporkan
bullying. Konselor sekolah berperan dalam memberikan dukungan psikologis bagi korban dan
pelaku.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan
positif. Ini sejalan dengan firman Allah SWT:

‫َوَتَعاَوُنوا َعَلى اْلِبِّر َوالَّتْقَوٰى ۖ َواَل َتَعاَوُنوا َعَلى اِإْلْثِم َواْلُعْدَواِن‬

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Bagaimana Membangun Budaya Sekolah Inklusif?


Budaya sekolah yang inklusif adalah kunci pencegahan bullying jangka panjang. Kita bisa
mulai dengan mengajarkan nilai-nilai toleransi dan menghargai perbedaan. Kegiatan yang
melibatkan kerja sama antar siswa dari berbagai latar belakang juga penting.
Sekolah bisa mengadakan program “buddy system” di mana siswa senior membantu
juniornya beradaptasi. Perayaan keberagaman melalui festival budaya juga bisa meningkatkan rasa
saling menghargai.
Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia
cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari No. 13)

Hadits ini mengajarkan kita untuk memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan,
prinsip dasar dalam menciptakan lingkungan yang inklusif.

Bagaimana Mengevaluasi Efektivitas Program?


Evaluasi rutin diperlukan untuk memastikan program anti-bullying berjalan efektif. Kita bisa
melakukan survei anonim kepada siswa tentang pengalaman mereka terkait bullying. Data ini bisa
digunakan untuk menyesuaikan strategi jika diperlukan.
Pertemuan rutin antara guru, orang tua, dan siswa juga penting untuk mendiskusikan
kemajuan program. Kita perlu tetap fleksibel dan siap menyesuaikan pendekatan berdasarkan hasil
evaluasi.
Dengan komitmen dan kerja sama semua pihak, kita bisa menciptakan lingkungan sekolah
yang aman dan positif bagi semua siswa. Program anti-bullying yang efektif tidak hanya mencegah
perilaku negatif, tetapi juga membangun karakter dan keterampilan sosial yang berharga bagi masa
depan siswa.
Mari kita berkomitmen untuk menciptakan sekolah bebas bullying. Setiap anak berhak
merasa aman dan dihargai di sekolah. Dengan mengambil langkah nyata dalam program anti-
bullying, kita bisa membuat perbedaan positif dalam kehidupan banyak siswa. Mulailah dari diri
sendiri, keluarga, dan komunitas terdekat. Bersama-sama, kita bisa menciptakan generasi yang
lebih empatik, toleran, dan saling menghargai
Ekosistem sekolah yang baik dan kondusif dapat mendorong peserta didik mengembangkan
potensi terbaiknya. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk peserta didik
menimba ilmu. Tidak hanya mempelajari materi pelajaran, tapi juga mempelajari cara bersosialisasi,
pengembangan bakat dan minat serta mengembangkan karakter-karakter baik.
Akan tetapi, sangat disayangkan di satuan pendidikan masih banyak kasus perundungan
pada peserta didik. Ini mengakibatkan efek negatif baik pada korban maupun pelaku. Menurut data
Komisi Perlindungan Anak Indonesia kasus perundungan terhadap anak lebih banyak terjadi dialami
siswa Sekolah Dasar, Menengah bahkan sampai di Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta,
bahkan terjadi juga di Pondok Pesantren.
Perundungan tidak hanya terjadi secara langsung atau secara fisik, tetapi juga sudah
merambah kepada dunia maya yang disebut dengan cyber bullying. Bahkan kasus cyber bullying
meningkat seiring anak-anak banyak menghabiskan waktu di sosial media, terutama di masa
pandemi Covid-19.
Terkait hal ini, Kemendikbudristek melalui Direktorat Sekolah Dasar dan Menengah
memandang perlu edukasi dan memperkuat guru, orang tua maupun pemangku kepentingan terkait
bentuk maupun dampak dari perundungan dengan melalui webinar yang bertajuk setop
perundungan, ciptakan sekolah aman, nyaman dan menyenangkan,

Bullying atau Perundungan Masih Menjadi Masalah di Sekolah


Bullying atau perundungan masih menjadi masalah serius di banyak sekolah di Indonesia.
Banyak siswa yang menjadi korban perundungan dan mengalami stres, depresi, bahkan bunuh diri.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah meluncurkan program sekolah anti-perundungan.

Program Sekolah Anti-Bullying atau Perundungan


Program sekolah anti-bullying atau perundungan adalah program yang bertujuan untuk
mencegah perundungan di sekolah. Program ini melibatkan semua pihak di sekolah, termasuk guru,
siswa, orang tua, dan staf sekolah. Program ini terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pendidikan
dan pelatihan hingga penegakan hukum.

Tahap Pendidikan dan Pelatihan


Tahap pertama dari program sekolah anti-perundungan adalah pendidikan dan pelatihan.
Guru dan siswa akan diberi pelatihan tentang apa itu perundungan, bagaimana mencegahnya, dan
bagaimana menangani korban perundungan. Orang tua juga akan diberi pelatihan tentang cara
mengenali tanda-tanda perundungan dan bagaimana membantu anak-anak mereka.

Tahap Pencegahan
Tahap kedua dari program sekolah anti-bullying atau perundungan adalah pencegahan.
Sekolah akan melakukan banyak hal untuk mencegah perundungan terjadi. Misalnya, sekolah akan
membuat aturan yang jelas tentang perilaku yang dilarang, seperti intimidasi, penghinaan, atau
kekerasan. Sekolah juga akan mengadakan kegiatan yang mempromosikan persahabatan dan
kebersamaan di antara siswa.

Tahap Penegakan Hukum


Tahap ketiga dari program sekolah anti-bullying atau perundungan adalah penegakan
hukum. Jika ada siswa yang melanggar aturan tentang perundungan, sekolah akan mengambil
tindakan tegas dan sesuai dengan hukum. Tindakan ini dapat berupa hukuman atau sanksi yang
sesuai dengan tingkat pelanggaran.

Manfaat Program Sekolah Anti-Perundungan


Program sekolah anti-bullying atau perundungan memiliki banyak manfaat. Pertama,
program ini akan membantu mencegah perundungan di sekolah. Kedua, program ini akan
membantu siswa yang menjadi korban perundungan untuk mendapatkan perlindungan dan bantuan.
Ketiga, program ini akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, karena siswa
akan merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah.
Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang dapat mencakup kekerasan fisik,
verbal, sosial, atau bahkan cyberbullying. Fenomena ini dapat terjadi di berbagai tingkat pendidikan,
terutama di sekolah, dan dampaknya sangat besar terhadap kesehatan mental dan emosional
korban. Untuk itu, penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam lingkungan sekolah—baik itu siswa,
guru, orang tua, maupun pihak sekolah—untuk bekerja sama dalam mencegah dan mengatasi
bullying. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah terjadinya bullying
di sekolah:
1. Membangun Lingkungan Sekolah yang Positif
Salah satu cara paling efektif untuk mencegah bullying adalah dengan menciptakan budaya
sekolah yang inklusif dan penuh pengertian. Sebuah lingkungan yang mendukung saling
menghargai dan menghormati antar sesama dapat mengurangi potensi terjadinya bullying. Hal
ini dapat dicapai dengan:
 Mengedepankan nilai-nilai kesetaraan, kejujuran, dan saling menghormati dalam kegiatan
sehari-hari.
 Menyelenggarakan kegiatan yang mengembangkan keterampilan sosial, seperti kerja sama
tim, empati, dan komunikasi yang efektif.
 Mengadakan program atau kegiatan yang memperkenalkan keberagaman dan toleransi,
seperti workshop tentang perbedaan budaya, agama, dan latar belakang sosial.
2. Edukasi tentang Bahaya Bullying
Edukasi adalah kunci untuk mencegah bullying. Sekolah harus memberikan pemahaman
kepada seluruh warga sekolah, baik siswa maupun guru, mengenai apa itu bullying,
dampaknya, serta cara untuk melaporkan atau menghentikan perundungan. Beberapa cara
untuk mengedukasi tentang bullying antara lain:
 Menyelenggarakan seminar atau pelatihan tentang bullying yang dapat diikuti oleh siswa,
guru, dan orang tua.
 Menerapkan program sosialisasi tentang hak asasi manusia dan perlindungan anak di
kelas-kelas.
 Memberikan informasi mengenai cara melapor kepada pihak berwenang jika terjadi bullying,
serta bagaimana cara menjadi oleh-oleh yang baik dan mendukung teman yang menjadi
korban.
3. Penerapan Kebijakan Anti-Bullying yang Tegas
Sekolah perlu memiliki kebijakan yang jelas dan tegas terhadap bullying. Kebijakan ini harus
diterapkan secara konsisten dan mencakup prosedur pelaporan dan tindakan yang akan
diambil ketika terjadi perundungan. Kebijakan tersebut dapat mencakup:
 Mendefinisikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan bullying, termasuk berbagai jenis
bullying seperti fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying.
 Menyusun sanksi yang sesuai untuk pelaku bullying, serta memberikan dukungan bagi
korban.
 Menciptakan saluran pengaduan yang aman dan rahasia bagi siswa yang menjadi korban
bullying atau yang menyaksikan perundungan.
4. Melibatkan Orang Tua dalam Proses Pencegahan
Peran orang tua sangat penting dalam mencegah bullying. Orang tua dapat memberikan
pengaruh positif terhadap sikap dan perilaku anak, baik di rumah maupun di sekolah. Langkah-
langkah yang dapat diambil orang tua antara lain:
 Membimbing anak untuk memahami pentingnya menghormati sesama, empati, dan
menghindari perilaku yang dapat menyakiti orang lain.
 Mendorong anak untuk berbicara terbuka jika mereka mengalami atau menyaksikan
bullying.
 Berkolaborasi dengan sekolah untuk mendukung kebijakan dan program anti-bullying yang
ada.
5. Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa
Keterampilan sosial yang baik dapat membantu siswa dalam berinteraksi secara positif dengan
teman-teman mereka. Sekolah dapat mengadakan pelatihan atau program yang mengajarkan
keterampilan sosial dan emosional, seperti:
 Mengajarkan cara untuk menyelesaikan konflik secara damai tanpa kekerasan.
 Mengembangkan keterampilan dalam mengelola emosi dan belajar untuk mengontrol impuls
agresif.
 Melatih siswa untuk menjadi pendengar yang baik, serta mengajarkan pentingnya berbicara
dengan cara yang sopan dan penuh hormat.
6. Pemberdayaan Siswa sebagai Agen Perubahan
Siswa yang merasa memiliki peran dalam mencegah bullying akan lebih aktif dalam menjaga
keharmonisan di sekolah. Oleh karena itu, pemberdayaan siswa sangat penting. Langkah-
langkah yang dapat dilakukan adalah:
 Membentuk kelompok siswa yang bertugas sebagai "teman sebaya" atau peer support yang
dapat membantu korban bullying dan mencegah perundungan di kalangan teman-
temannya.
 Mengadakan kampanye anti-bullying yang melibatkan siswa, di mana mereka bisa
menyuarakan pentingnya persahabatan dan saling mendukung.
 Menyediakan ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman dan mendiskusikan masalah
yang mereka hadapi secara terbuka dalam kelompok diskusi atau konseling.
7. Mendukung Korban Bullying
Penting bagi sekolah untuk memberikan dukungan penuh kepada korban bullying. Korban perlu
merasa didengar dan dipahami agar mereka dapat pulih dari dampak psikologis yang
ditimbulkan. Beberapa hal yang bisa dilakukan sekolah adalah:
 Menyediakan layanan konseling bagi korban bullying, baik secara individu maupun
kelompok.
 Menjamin keamanan korban dengan mengambil langkah-langkah preventif, seperti
mengatur jadwal atau kegiatan yang meminimalkan kontak dengan pelaku bullying.
 Memberikan perhatian khusus kepada anak yang terlihat cemas atau depresi akibat
pengalaman bullying, dan mengusahakan pemulihan secara bertahap.
8. Pemantauan dan Evaluasi Berkala
Pencegahan bullying di sekolah harus dilakukan secara berkelanjutan dan dievaluasi secara
berkala. Sekolah perlu melakukan pemantauan terhadap dinamika sosial di lingkungan sekolah
dan menilai efektivitas program anti-bullying yang sudah diterapkan. Langkah-langkah yang
bisa diambil antara lain:
 Melakukan survei atau wawancara dengan siswa secara rutin untuk mengetahui apakah
bullying masih terjadi dan bagaimana mereka merasakannya.
 Memantau perkembangan korban bullying dan memastikan mereka mendapatkan dukungan
yang dibutuhkan.
 Menyusun laporan dan evaluasi tahunan tentang implementasi kebijakan anti-bullying di
sekolah.

Kesimpulan
Perundungan masih menjadi masalah serius di banyak sekolah di Indonesia. Untuk
mengatasi masalah ini, pemerintah telah meluncurkan program sekolah anti-bullying atau
perundungan. Program ini melibatkan semua pihak di sekolah dan terdiri dari tiga tahap: pendidikan
dan pelatihan, pencegahan, dan penegakan hukum. Program sekolah anti-perundungan memiliki
banyak manfaat, termasuk mencegah perundungan, membantu korban perundungan, dan
meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
Berikut ini adalah beberapa peraturan pemerintah dan panduan tentang pencegahan dan
penanganan tindak kekerasan dilingkungan satuan pendidikan :
Anak merupakan aset masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga
setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak
atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan. Indonesia
telah mengatur perlindungan bagi anak di dalam Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo.
Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak Pasal 54 telah disebutkan
bahwa :
 Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang
dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang
bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.
 Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga
kependidikan, aparat pemerintah, dan/atau Masyarakat.
Tindakan bullying memiliki dampak yang sangat parah bagi korban, diantaranya kognitif,
afeksi, serta konatif. Dampak kognitif yang dirasakan korban ialah hilangnya konsentrasi belajar
sampai menurunnya jumlah nilai dalam pelajaran. Sedangkan dampak afeksi pada korban bullying
sering merasa malu, pilu, marah, serta dendam. Adapun dampak konatif pada korban bullying ialah
membalas dendam dengan memakai kekerasan secara raga, dan membalas dengan mencari celah
dan melakukan cyberbullying pada pelaku agar merasakan hal yang sama, dan ada pula yang
merusak benda-benda sekitar ketika korban bullying tidak dapat melawan dan diam untuk
memendamnya sendiri, bahkan tak sedikit yang melakukan tindakan putus asa seperti bunuh diri.
Korban perundungan sering merasa tidak nyaman, akibatnya bisa terbawa sampai mereka dewasa.
Bullying yang sering dirasakan korban bisa mengurangi bahkan menghilangkan rasa percaya dirinya
dengan adanya tekanan mental, sehingga tak sedikit pula yang berani melakukan bunuh diri. Bukan
hanya kesehatan mental yang terganggu pada korban perundungan, dampak kesehatan raga juga
dirasakan seperti timbul sakit kepala, otot tegang, perut terasa sakit, jantungan yang bisa
menyebabkan penyakit kronis.
Hal demikian yang dapat dilakukan dalam menangani tindakan kekerasan berupa bullying,
dengan melakukan beberapa cara atau tindakan untuk mengatasi terjadinya bullying, yaitu :
Mengatasi Bullying Melalui Konseling Behavior
Selama ini, beberapa upaya telah dilakukan sekolah untuk pelaku tindakan bullying, dengan
memberikan hukuman sanksi dan dipanggilnya orang tua pelaku ke sekolah untuk bekerja sama
dalam memberi penanganan. Namun hasil yang didapat belum cukup efektif, sebab perubahan
sikap dan perilaku pelaku bullying hanya sementara. Solusi alternatif dilakukan sekolah dalam
menangani bullying dengan melakukan konseling behavioral. Konseling behavioral adalah suatu
proses membantu orang agar belajar menangani masalah interpersonal, emosional, serta
kepentingan tertentu. Konselor memiliki peran dalam membantu orang belajar atau mengubah
perilaku. Selain itu, konselor memiliki peran untuk menciptakan proses belajar konvisi sehingga klien
dalam mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.
Pembentukan Tim Anti-Bullying
Strategi ini disampaikan langsung oleh kepala sekolah serta di ketuai oleh guru bimbingan
konseling. Guru bimbingan konseling dan kepala sekolah masing-masing mengambil 4 orang dalam
tiap kelas tanpa diketahui oleh siswa lainnya, dengan begitu setiap terjadi tindakan bullying, tugas
tim anti-bullying melaporkan kepada guru BK tanpa diketahui siswa lainnya, dengan tujuan pelaku
tidak dendam dengan tim antibullying yang sudah melaporkan tindakannya tersebut. Selanjutnya,
proses itu dilakukan oleh guru bimbingan konseling dalam menindak lanjuti proses itu. Tim anti-
bullying dibentuk dengan harapan dan tujuan untuk mencegah siswa yang ingin melakukan bullying
tanpa diketahui oleh siapapun.
Memantau Media Sosial Siswa
Salah satu strategi Ismaeliyah School dalam mencegah tindakan bullying adalah dengan memantau
media sosial para siswa, dengan membuat akun khusus sekolah serta melakukan pertemanan
dengan seluruh siswa yang memiliki akun Facebook, Instagram, Twitter, dan Media sosial lainnya.
Dengan begitu kegiatan siswa di jaringan internet bisa di pantau agar tidak terjadinya tindakan
cyberbullying.
Menanamkan Ajaran Aqidah Akhlak Untuk Siswa
Perkembangan karakter anak dan penanaman akhlak yang baik sangat dipengaruhi oleh pendidikan
agama. Dalam kerangka ini, guru Aqidah Akhlak mempunyai peranan penting dalam mencegah dan
mengatasi kasus-kasus bullying. Untuk mengatasi perundungan secara efektif, guru Aqidah Akhlak
menggunakan berbagai strategi, antara lain meningkatkan pemahaman siswa tentang prinsip-prinsip
moral dan memberikan teladan keteladanan melalui ajaran dan kehidupan Nabi dan Nabi lainnya.
Selain itu, guru menetapkan komitmen yang tegas, menerapkan aturan yang ketat, dan menerapkan
sanksi yang jelas bagi mereka yang terlibat dalam insiden intimidasi. Selanjutnya pengenalan
kegiatan ekstrakurikuler seperti kegiatan tahfiz Al-Qur'an bertujuan untuk mengoptimalkan waktu
siswa dan membina hubungan lebih dekat dengan Al-Qur'an. Pembentukan tim Nasyid khusus
mahasiswi juga digalakkan. Selain itu, praktik menyapa orang lain ditegaskan sebagai kegiatan
wajib, dengan tujuan untuk mengecilkan hierarki sosial berdasarkan kasta atau usia, karena salam
dipandang sebagai tindakan kebaikan dan doa.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Aspek Perlindungan Anak Dalam Tindak Kekerasan (Bullying) Terhadap Siswa Korban
Kekerasan Di Sekolah (Studi Kasus Di Smk Kabupaten Banyumas), Jurnal Dinamika Hukum Vol. 9
No. 3 September 2009
Ian, A., & Raya, P. (2021). Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengurangi Kasus Bullying
di Madrasah. 1, 537–546.
Nasir, A. (2018). Konseling Behavioral: Solusi Alternatif Mengatasi Bullying Anak Di Sekolah.
KONSELING EDUKASI “Journal of Guidance and Counseling,” 2(1), 67–
82. [Link]
Mahmudah, W. R., Hasan, N., (2022). Metode Pembelajaran Akidah Akhlak Dalam Melakukan
Tindakan Preventif Terhadap Bullying: Studi Kasus Kelas 9 Mts Nu Cantigi, Vicratina: Jurnal Ilmiah
7.

Anda mungkin juga menyukai