0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan21 halaman

Profil dan Struktur PT Hendra Putra Mandiri

PT. Hendra Putra Mandiri adalah perusahaan konstruksi yang didirikan pada tahun 2015, berfokus pada pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Kalimantan Barat. Perusahaan ini memiliki keunggulan dalam tim profesional, teknologi terkini, dan komitmen terhadap kualitas serta keberlanjutan. Struktur organisasi proyek melibatkan pemilik proyek, konsultan pengawas, dan kontraktor pelaksana, dengan pembagian tugas yang jelas untuk mencapai tujuan proyek secara efektif.

Diunggah oleh

trikurniasari043
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan21 halaman

Profil dan Struktur PT Hendra Putra Mandiri

PT. Hendra Putra Mandiri adalah perusahaan konstruksi yang didirikan pada tahun 2015, berfokus pada pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Kalimantan Barat. Perusahaan ini memiliki keunggulan dalam tim profesional, teknologi terkini, dan komitmen terhadap kualitas serta keberlanjutan. Struktur organisasi proyek melibatkan pemilik proyek, konsultan pengawas, dan kontraktor pelaksana, dengan pembagian tugas yang jelas untuk mencapai tujuan proyek secara efektif.

Diunggah oleh

trikurniasari043
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Gambaran Umum Perusahaan

2.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan


PT. Hendra Putra Mandiri merupakan perusahaan konstruksi yang
bergerak dibidang jasa kontruksi jalan yang ber Alamat di Kabupaten Kubu Raya,
Provinsi Kalimantan Barat. Berdiri sejak tahun 2015, PT. Hendra Putra Mandiri
telah menjadi salah satu pemimpin di industri konstruksi dengan spesialisasi
utama dalam pembangunan infrastruktur dan proyek komersial skala besar,
khususnya infrastruktur jalan dan jembatan.

2.1.2 Keunggulan PT. Hendra Putra Mandiri


Keunggulan PT. Hendra Putra Mandiri terletak pada tim profesional yang
berpengalaman, teknologi konstruksi terkini yang digunakan, dan kemitraan
strategis dengan pemasok dan mitra bisnis. Pendekatan yang kolaboratif dan
solusi yang terfokus membuat PT. Hendra Putra Mandiri menjadi pilihan utama
dalam industri. PT. Hendra Putra Mandiri mengutamakan integritas, keamanan,
inovasi, dan kepuasan pelanggan. PT. Hendra Putra Mandiri berkomitmen untuk
beroperasi dengan standar tertinggi dalam hal kualitas, keamanan, dan
keberlanjutan lingkungan.

2.1.3 Budaya Kerja di PT. Hendra Putra Mandiri


PT. Hendra Putra Mandiri mendorong budaya kerja yang inklusif, di mana
setiap individu dihargai dan diinspirasi untuk berinovasi. PT. Hendra Putra
Mandiri mempromosikan kolaborasi tim, etika kerja yang tinggi, dan sikap
proaktif dalam menghadapi tantangan
2.2 Struktur Organisasi Proyek
Proyek Rekonstruksi Peningkatan Jalan Tanjung – Marau yaitu sepanjang
4.400 m panjang efektif di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dengan Nomor
Kontrak : 620/06/SP/TJG-MRU/PUPR-B/2025 memiliki struktur organisasi yang
saling berkaitan, serta kerja sama yang harus terkoordinasi dengan baik terhadap
pihak–pihak yang terlibat dalam suatu organisasi proyek.

Pihak–pihak yang terlibat dalam organisasi tersebut adalah :


1. Pemilik Proyek (Bouwheer atau Owner)
2. Konsultan Pengawas (Supervisi)
3. Kontraktor (Pelaksana)

Pemilik Proyek
DINAS PUPR
PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Konsultan Supervisi Kontraktor Pelaksana


PT. TRITUNGGAL PT. HENDRA PUTRA
REKAYASA KHATULISTIWA MANDIRI

Keterangan :
= Jalur Perintah
= Jalur Konsultasi

Sumber : PT. Hendra Putra Mandiri


Gambar 2.1 Struktur organisasi proyek
1. Pemilik Proyek (owner atau Bouwherr)
Pemilik proyek atau pemberi (Owner atau Bouwherr) adalah suatu badan
usaha atau perorangan, baik pemerintah maupun swasta yang memiliki,
memberikan pekerjaan, serta membiayai suatu proyek dalam proses pembangunan
suatu bangunan (Dimyati, Hamdan dan Nurjaman Kadar., 2014). Pada umumnya
pemilik proyek akan menerbitkan surat perintah kerja (SPK) dan dokumen
kontrak kepada penyedia jasa setelah penyedia jasa dinyatakan memenangkan
lelang proyek konstruksi. Pemilik proyek mempunyai tugas dan tanggung jawab
sebagai pengguna jasa yaitu :
a. Menunjuk dan mengangkat wakilnya bagi kebutuhan perencanaan dan
pelaksanaan. Dalam hal ini mengangkat kontraktor pelaksana, pengawas
proyek yang terpilih melalui sistem lelang.
b. Mengesahkan keputusan yang menyangkut biaya, mutu, dan waktu
pelaksanaannya.
c. Menyelesaikan perselisihan menyangkut proyek yang terjadi antara
bawahannya dengan pihak pemborong.
d. Menyediakan dan mengusahakan pendanaan bagi kontraktor pelaksana.
e. Menyediakan lahan untuk tempat pelaksanaan pekerjaan.
f. Ikut mengawasi jalannya pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan dengan
cara menempatkan atau menunjuk suatu badan atau orang untuk bertindak
atas nama pemilik.
g. Memberikan keputusan terhadap perubahan waktu pelaksanaan dengan
memperhatikan pertimbangan yang diberikan oleh konsultan.
h. Menerima dan mengesahkan pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan oleh
penyedia jasa jika produknya telah sesuai dengan apa yang dikehendaki.
Memberikan hasil lelang secara tertulis kepada masing – masing kontraktor.

Pemilik proyek juga memiliki beberapa wewenang, yaitu :


a. Membuat Surat Perintah Kerja (SPK).
b. Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah direncanakan.
c. Meminta pertanggungjawaban kepada para pelaksana proyek atas hasil
pekerjaan konstruksi.
d. Memutuskan hubungan kerja dengan pihak pelaksana proyek yang tidak
dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan isi surat perjanjian kontrak.
Dalam pemilik proyek (Owner atau Bouwherr) memiliki struktur organisasi,
sebagai berikut:

PEMILIK PROYEK (OWNER)


DINAS PUPR
PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PENJABAT PEMBUAT KOMITMEN

SUPERVISI (KONSULTAN)
KONTRAKTOR PELAKSANA
PT. TRITUNGGAL REKAYASA
PT. HENDRA PUTRA MANDIRI
KHATULISTIWA

Sumber : PT. Hendra Putra Mandiri


Gambar 2.2 Struktur organisasi pemilik proyek (Owner)

Dalam proses pelaksanaan pekerjaan, pemilik proyek dibantu oleh:


1) Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Berdasarkan Perpres RI Nomor 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua
atas Perpres Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa
Pemerintah, yang disebut PPK adalah pejabat yang bertanggung jawab atas
Pelaksanaan Pengadaan Barang atau Jasa. Sedangkan berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 45 tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pendapatan dan
Belanja Negara, PPK adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA atau KPA
untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan
pengeluaran anggaran belanja negara.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka PPK adalah pejabat yang berwenang
untuk mengambil keputusan dan tindakan yang berakibat pada pengeluaran
anggaran dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang atau jasa.
Jika kita lihat mekanisme pencairan anggaran belanja negara, maka peran PPK
ada pada mekanisme Uang Persediaan (UP) dan mekanisme Langsung (LS). Pada
mekanisme UP PPK berwenang untuk mengambil tindakan yang berakibat pada
pengeluaran, sedangkan mekanisme LS PPK bertanggung jawab atas pelaksana
pengadaan.
Berdasarkan Perpres 70 tahun 2012, PPK memiliki tugas dan pokok kewenangan
sebagai berikut :
a) Menetapkan rencana pelaksanaan pengadaan barang atau jasa yang meliputi
spesifikasi teknik barang atau jasa, Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan
rancangan kontrak.
b) Menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang atau Jasa.
c) Menyetujui bukti pembelian atau menandatangi kuitansi atau surat Perintah
Kerja (SPK) atau surat perjanjian.
d) Melaporkan pelaksanaan atau penyelesaian pengadaan barang atau jasa
kepada PA atau KPA.
e) Menyerahkan hasil pekerjaan pengadaan barang/jasa kepada PA/KPA dengan
berita acara penyerahan.
f) Melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan
hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA atau KPA setiap triwulan.
g) Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan barangatau
jasa.

2) Konsultan Pengawas (Supervisi)


Konsultan pengawas adalah organisasi atau perorangan yang bersifat
multidisiplin yang bekerja untuk dan atas nama pemilik proyek (Owner). Selain
pengertian itu, konsultan pengawas merupakan suatu badan hukum yang di
percaya oleh pimpinan proyek, agar diperoleh suatu kualitas bangunan yang
maksimal dan sesuai dengan perencanaan. Pengawas proyek mempunyai kegiatan
antara lain :
a) Melakukan pengawasan berkala serta memberikan pengarahan, petunjuk, dan
penjelasan kepada pelaksana konstruksi serta meneliti hasil-hasil yang telah
dikerjakan.
b) Mengawasi kemajuan pekerjaan fisik konstruksi.
c) Mengawasi penetapan waktu pelaksanaan dalam penyelesaian proyek.
d) Membuat laporan harian, mingguan, dan bulanan atas kemajuan pekerjaan.
e) Seksi tata usaha bertugas dalam administrasi teknis, laporan bulanan, laporan
triwulan, laporan berkala, dan lain–lain.
f) Menyusun dokumen untuk Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan pendaftaran
gedung–gedung milik negara.
g) Membuat dan menyusun as built drawing.
h) Mengontrol pelaksanaan pengujian terhadap kualitas pekerjaan (Quality
Control).
i) Memberikan rekomendasi progres report pekerjaan pelaksana untuk meminta
dana kepada pemilik proyek (Owner) untuk membiayai pelaksanaan
pekerjaan selanjutnya.
j) Memberikan teguran atau peringatan kepada pelaksana konstruksi apabila
dalam pelaksanaan pekerjaan terjadi penyimpangan dari spesifikasi dan
gambar–gambar teknis.
k) Mempersiapkan, mengawasi, dan melaporkan hasil pelaksanaan proyek
kepada pemilik proyek (Owner).

3) Kontraktor (Pelaksana)
Kontraktor (pelaksana) adalah perusahaan berbadan hukum yang bergerak
dalam bidang pelaksanaan pemborongan. Kontraktor dapat berupa perseorangan
ataupun badan hukum, baik pemerintah maupun swasta yang telah ditetapkan dari
pemilik proyek serta telah menandatangani Surat Perjanjian Kerja (SPK)
(Dimyati, Hamdan dan Nurjaman Kadar., 2014). Kontraktor juga sebagai pihak
yang ditunjuk oleh pemilik proyek harus merealisasikan gambar–gambar rencana,
rencana kerja dan syarat serta kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan konstruksi
proyek membuat shop drawing atau gambar kerja dari gambar konstruksi
konsultan perencana, membuat jadwal pekerjaan, pengadaan pekerja, dan lain
sebagainya. Kontraktor mempunyai kegiatan pelaksanaan konstruksi antara lain
(Dimyati, Hamdan dan Nurjaman Kadar., 2014) :
a) Melaksanakan semua kesepakatan yang ada dalam kontrak kerja, baik dari
segi penjadwalan pelaksanaan maupun masa pemeliharaan.
b) Menyediakan tenaga kerja, bahan, perlengkapan, dan jasa yang diperlukan
sesuai dengan spesifikasi teknis dan gambar yang telah ditentukan.
c) Membuat laporan harian, mingguan, dan bulanan yang diserahkan kepada
direksi.
d) Bertanggung jawab atas kualitas dan mutu pekerjaan. Serta membayai ganti
rugi akibat kecelakaan yang terjadi pada waktu pelaksanaan kerja.
e) Berhak menerima sejumlah biaya pelaksanaan pekerjaan yang telah selesai
dari pemberi tugas dengan kesepakatan yang tercantum dalam kontrak kerja.

Struktur organisasi perusahaan PT. Hendra Putra Mandiri merupakan wadah


bagi kegiatan–kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan,
agar tujuan perusahaan dapat tercapai dengan baik maka diperlukan pembagian
tugas serta tanggung jawab antara masing–masing anggota kegiatan yang terjadi
di dalam perusahaan tidak mungkin dapat ditangani oleh pemimpin secara
sekaligus, apalagi pada perusahaan yang berskala besar.
Dalam pembagian tugas dan wewenang maka perlu disusun suatu kerangka
yang dapat menunjukan dan memperinci setiap tugas yang akan dilaksanakan
yaitu dengan membentuk struktur organisasi. Struktur organisasi sangat penting
bagi perusahaan karena dapat menggambarkan garis–garis kekuasaan dan
tanggung jawab antar bagian. Struktur organisasi PT. Hendra Putra Mandiri dapat
dilihat dibawah ini :
Kontraktor pada pekerjaan proyek ini terdiri dari :
1) Komisaris
Komisaris mempunyai wewenang tertinggi dalam perusahaan untuk mengatur dan
mengawasi jalannya perusahaan. Adapun tugas dan wewenang dari komisaris,
antara lain :
a) Melakukan pengawasan atas kebijakan direksi dalam menjalankan
perusahaan serta memberikan nasehat kepada anggota direksi.
b) Mengawasi kebijakan–kebijakan yang dibuat direktur dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
c) Berhak untuk mengetahui segala kegiatan perusahaan yang telah dijalankan
oleh direksi.
d) Setiap waktu berhak memberhentikan untuk sementara anggota direksi
apabila anggota direksi tersebut bertindak bertentangan dengan anggaran
dasar atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2) Direktur
Direktur proyek adalah orang yang bertanggung jawab memimpin tim
manajer proyek, yang juga dapat mencakup kontraktor, subkontraktor,
pengembang perangkat lunak, pengembang web, desainer grafis, penguji,
insinyur jaringan, dan staf lain yang penting dalam proyek. Mereka bekerja di
berbagai industri seperti konstruksi hingga IT. Direktur memiliki tugas dan
tanggung jawab yaitu :
a) Bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengerahkan sistem-sistem
prosedur, rencana serta program dalam devisi konstruksi.
b) Bertanggung jawab atas tercapainya target yang telah ditentukan perusahaan
dalam bidang konstruksi.

3) Site Manager
Site manager adalah profesional yang bertanggung jawab untuk memastikan
bahwa proyek konstruksi selesai tepat waktu dan sesuai anggaran. Terkadang
profesi ini juga dilekatkan dengan istilah manajer konstruksi, manajer proyek,
dan agen lokasi.
Site manager bekerja di lokasi konstruksi dan pekerjaannya sering kali
dimulai tepat sebelum konstruksi. Site manager yang lebih senior akan
bertanggung jawab atas keseluruhan proyek dan mungkin dikenal sebagai
manajer proyek atau direktur proyek.
Ada beberapa tugas utama seorang site manager, itu mencakup:
1. Mengawasi arah proyek, memastikan bahwa spesifikasi dan persyaratan klien
terpenuhi, meninjau kemajuan dan berhubungan dengan surveyor kuantitas
untuk memantau biaya.
2. Terhubung klien, profesional konstruksi lainnya dan, kadang-kadang, anggota
masyarakat yang berkaitan dengan koordinasi dan mengawasi pekerja
bangunan.
3. Terlibat dalam pemilihan alat dan bahan.
4. Membuat inspeksi keselamatan dan memastikan keamanan konstruksi dan
lokasi.
5. Memeriksa dan menyiapkan laporan situs, desain dan gambar.
6. Menjaga prosedur kontrol kualitas
7. Menemukan cara untuk mencegah terjadinya masalah dan memecahkan
masalah yang muncul
8. Menilai dan meminimalkan risiko.
9. Menulis laporan dan membuat dokumen.
10. Membantu menegosiasikan kontrak dan mengamankan izin
dan lisensi.

Umumnya site manager bekerja di lokasi di mana pun lokasi


tersebut berada, ini menyebabkan site manager harus selalu
siap sedia untuk berpindah ke lokasi proyek manapun sesuai
dengan kebutuhan.

4) Quantitiy Engineer
Quantity Engineer, juga dikenal sebagai Quantity Surveyor
atau QS, adalah seorang profesional dalam industri konstruksi
yang memiliki peran penting dalam manajemen aspek kuantitas
proyek. Mereka bertanggung jawab untuk mengukur,
mengestimasi, dan mengelola berbagai aspek biaya dan bahan
yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek konstruksi.
Salah satu tugas utama seorang Quantity Engineer adalah
merencanakan dan menghitung kuantitas material yang
diperlukan untuk proyek konstruksi. Ini melibatkan analisis
terhadap rencana desain dan spesifikasi proyek untuk
menentukan jumlah bahan seperti beton, baja, dan material
bangunan lainnya yang dibutuhkan.

5) Quality Engineer
Quality Control Engineer (Insinyur Pengendali Kualitas)
adalah profesional yang bertanggung jawab untuk memastikan
bahwa produk atau layanan yang dihasilkan memenuhi standar
kualitas yang ditetapkan. Mereka bekerja dalam berbagai
industri, seperti manufaktur, konstruksi, teknologi informasi,
layanan kesehatan, dan sektor lainnya.

Tugas utama seorang Quality Control Engineer meliputi:


1. Perencanaan dan PengembanganKualitas
Mereka terlibat dalam merancang dan mengimplementasikan
sistem
pengendalian kualitas untuk memastikan bahwa proses produksi
atau
layanan memenuhi standar yang ditetapkan. Ini melibatkan
pengembangan prosedur dan metode inspeksi, penentuan
spesifikasi kualitas, dan pemilihan alat pengujian yang sesuai.
2. Pengawasan dan Pengujian
Quality Control Engineer melakukan pengawasan dan pengujian
produk
atau layanan dalam berbagai tahap produksi atau penyediaan.
Mereka
memastikan bahwa bahan baku, komponen, atau produk jadi
memenuhi
standar kualitas yang telah ditetapkan. Mereka juga melakukan
analisis data dan mengidentifikasi penyimpangan atau
ketidaksesuaian yang perlu ditindaklanjuti.

3. Identifikasi Ketidaksesuaian
Jika terjadi ketidaksesuaian terhadap standar kualitas, Quality
Control
Engineer akan melakukan investigasi untuk mengidentifikasi
akar
penyebab masalah. Mereka bekerja sama dengan tim terkait,
seperti
insinyur produksi, operator, atau pemasok, untuk menganalisis
masalah menentukan tindakan perbaikan, dan
mengimplementasikan langkahlangkah pencegahan.

4. Peningkatan Proses
Quality Control Engineer berperan dalam mengidentifikasi
peluang untuk
meningkatkan proses produksi atau penyediaan layanan.
Mereka
menganalisis data kualitas, melacak tren, dan mengusulkan
perubahan atau
peningkatan untuk mengurangi cacat atau meningkatkan
efisiensi dan
kepuasan pelanggan.

5. Pelaporan dan Dokumentasi


Sebagai bagian dari tanggung jawab mereka, Quality Control
Engineer melakukan pelaporan dan dokumentasi terkait dengan
hasil inspeksi, pengujian, dan tindakan perbaikan yang diambil.
Mereka menyimpan catatan dan data kualitas yang akurat, yang
digunakan untuk pemantauan, audit, dan pemeliharaan rekam
jejak kualitas produk atau layanan.

6) Surveyor
Surveyor adalah seseorang yang melakukan survei atau
pengukuran untuk mendapatkan data tentang suatu wilayah
atau objek tertentu. Surveyor dapat melakukan survei untuk
berbagai tujuan, seperti survei tanah untuk tujuan konstruksi
atau survei peta yang bertujuan untuk navigasi jalan.

Surveyor memiliki sejumlah tugas dan tanggung jawab ketika


bekerja. Mengutip situs Indeed, berikut tugas dan tanggung
jawab surveyor:

1. Melakukan survei dan pemetaan lahan untuk keperluan


konstruksi, seperti
pembangunan jalan, gedung, instalasi listrik, dan lain
sebagainya.
2. Membuat laporan dari hasil survei, kemudian disampaikan
kepada pemilik
atau investor properti baru.
3. Mengawasi staff di lapangan saat bekerja.
4. Menganalisis data survei dan mengecek sertifikat tanah
atau bangunan.
5. Mencatat garis dan bidang properti atau lahan secara
akurat.

7) Bendahara
Bendahara adalah orang yang bertanggung jawab kepada
pemimpin proyek atas pengaturan pembiayaan sesuai dengan
peraturan yang berlaku pada pelaksanaan keuangan.
Tugas dan kewajiban Bendahara yaitu:
a) Mematuhi peraturan-peraturan serta ketentuan-ketentuan
yang berlaku bagi pelaksanaan keuangan Daerah dan
Negara.
b) Membuat buku kas umum beserta buku penunjangnya.
c) Bertangung jawab atas uang kas proyek yang diamanatkan
oleh pemimpin proyek.
d) Menyelenggarakan pengurusan keuangan baik bersifat
penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran serta
bertanggung jawab sepenuhnya atas pengolahan keuangan
proyek.
e) Membuat surat pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran
pembangunan.

8) Penanggung Jawab Teknis (Project Manager)


Project manager adalah seseorang yang bertanggung jawab untuk
mengatur, merencanakan, dan melaksanakan project dengan berdasarkan
anggaran dan penjadwalan. Project manager juga bertanggung jawab untuk
memimpin tim, menentukan tujuan, berkomunikasi dengan para stakeholder,
dan menyelesaikan project dari awal hingga akhir. Seorang project manager
juga memiliki tugas dan tanggung jawab lainnya di antaranya :
a) Memulai proyek seperti memeriksa kelayakan dan menyusun anggaran,
tim, dan sumber daya.
b) Melaksanakan perencanaan yang mencakup penetapan tujuan dan sasaran,
menentukan peran dan penjadwalan tugas agar sesuai dengan kebutuhan
klien.
c) Memimpin dan memotivasi tim proyek dan para pemangku kepentingan
(stakeholder)
d) Mengelola proyek yang mencakup mengkoordinasikan tim
proyek agar mereka tetap pada jalurnya dan menjaga
proyek sesuai anggaran.
e) Melakukan kegiatan pemantauan dan pengendalian untuk
melacak kemajuan proyek.
f) Mengidentifikasi dan mengelola risiko untuk memastikan
proyek tepat waktu.
g) Menerapkan perubahan yang diperlukan selama proses
proyek.
h) Membuat laporan secara teratur kepada manajemen dan
klien.
i) Mengevaluasi keberhasilan dan tantangan untuk
meningkatkan pembelajaran untuk proyek berikutnya.

9) Administrasi Proyek
Administrasi proyek merupakan perorangan atau kelompok orang yang
mengatur kegiatan administrasi yang berkaitan dengan penanganan proyek dan
pengadalian mutu. Tugas-tugas administrasi proyek antara lain:
a) Menyelengarakan pembukuan dan penyusunan laporan keuangan proyek.
b) Mengupayakan terlenggaranya administrasi yang tertib.
c) Menyelenggarakan tata usaha surat menyurat.
d) Mengatur dan memenuhi kebutuhan pelaksanaan proyek.

2.3 Hubungan Kerja Dalam Proyek


Hubungan kerja dalam pelaksanaan konstruksi adalah hubungan dalam
pelaksanaan pekerjaan antara unsur–unsur keterkaitan dan keterlibatan dalam
pelaksanaan konstruksi. Pelaksanaan proyek konstruksi dalam pengelolaannya
perlu adanya hubungan yang baik dan bersinergi serta kekompakan antara unsur–
unsur pelaksana konstruksi untuk mencapai hasil yang optimal dari segi biaya,
waktu dan mutu. Dalam sebuah proyek konstruksi, antara pemilik proyek,
konsultan, dan kontraktor terdapat hubungan kerja untuk mencapai hasil yang
efektif. Secara garis besar hubungan kerja pelaksana konstruksi sebagai berikut
(Dimyati, Hamdan dan Nurjaman Kadar., 2014)
1. Hubungan Kerja antara Pemilik Proyek dengan Kontraktor :
a) Ikatan berdasarkan kontrak.
b) Kontraktor memberikan layanan jasa profesional, dimana produk yang
dihasilkan berupa bangunan sebagai realisasi dari keinginan pemilik
proyek sesuai dengan peraturan dan syarat–syarat.
c) Kontraktor berkewajiban melaksanakan pekerjaan proyek dengan baik dan
hasil yang memuaskan.
d) Kontraktor harus mampu mempertanggungjawabkan dalam pelaksanaan
konstruksi kapada pemilik proyek (Owner).
e) Pemilik proyek (Owner) membayar semua biaya pelaksanaan sesuai
dengan yang tertera dalam dokumen kontrak kepada kontraktor agar
proyek berjalan lancar sesuai dengan ketentuan yang telah menjadi
kesepatakan kedua belah pihak.

2. Hubungan Kerja antara Pemilik Proyek dengan Konsultan


a) Ikatan berdasarkan kontrak.
b) Konsultan memberikan layanan konsultasi, dimana produk
yang dihasilkan berupa gambar rencana, peraturan dan
syarat–syarat.
c) Merencanakan dan membuat gambar rencana bangunan
sesuai dengan yang diinginkan pemilik proyek (Owner).
d) Membuat rencana kerja dan syarat (RKS).
e) Pemilik proyek memberikan biaya jasa atau konsultasi
yang diberikan oleh konsultan.
f) Koordinasi atau rapat proyek secara rutin.

3. Hubungan Kerja antara Konsultan dengan Kontraktor :


a) Ikatan berdasarkan peraturan dengan kontraktor.
b) Melaksanakan pembangunan proyek tersebut dengan mengacu pada
gambar rencana yang dibuat oleh konsultan perencana.
c) Konsultasi hal–hal terhadap perubahan gambar rencana dalam pelaksanaan
proyek ke konsultan perencana.
d) Memberi masukan dan saran ke konsultan perencana.
e) Konsultan memberi jawaban terkait pertanyaan–pertanyaan kontraktor.
f) Koordinasi atau rapat proyek secara rutin.
g) Konsultan merealisasikan menjadi sebuah hasil konstruksi.

2.4 Pengendalian Proyek


Pada umumnya, terdapat tiga kendala utama yang saling
berketergantungan dalam suatu proyek, yaitu : Waktu, Biaya,
dan Lingkup. Ketiga kendala utama atau constraint tersebut
juga dikenal dengan Segitiga Manajemen Proyek.
Keseimbangan ketiganya sangat menentukan kualitas proyek
yang dilaksanakan.
1. Waktu (time)
Waktu merupakan salah satu faktor terpenting dalam menangani
suatu proyek. Setiap proyek memiliki batas waktu dalam penyelesaiannya,
ada yang memerlukan waktu panjang atau waktu pendek. Waktu
penyelesaian tugas dalam suatu proyek sangat tergantung pada jumlah
orang dan pengalaman serta keterampilan orang–orang tersebut dalam
mengerjakan tugas–tugasnya.
Kegagalan dalam memenuhi batas waktu penyelesaian proyek akan
berakibat buruk terhadap organisasi, misalnya terjadi teguran dari
pelanggan, denda akibat keterlambatan, mengurangi kepercayaan
pelanggan terhadap organisasi dan biaya-biaya lainnya. Salah satu
penyebab ataupun alasan terjadinya kegagalan dalam memenuhi batas
waktu penyelesaian proyek dalam suatu organisasi adala kurangnya
sumber daya yang dimilikinya
Menurut buku “Project Management Body Of Knowledge (PMBOK)”,
proses penanganan waktu manajemen proyek terdiri dari :
a. Plan Schedule Management (Manajemen Perencanaan Jadwal).
b. Define Activities (Pendefinisian Kegiatan).
c. Sewuence Activities (Urutan Kegiatan).
d. Estimate Activity Resources (Estimasi Sumber Daya Kegiatan).
e. Estimate Activity Durations (Estimasi Durasi atau Jangka Waktu
Kegiatan).
f. Develop Schedule (Pengembangan Jadwal).
g. Control Schedule (Pengendalian Jadwal).

2. Biaya (cost)
Setiap proyek memerlukan biaya dalam pelaksanaannya. Biaya–biaya
tersebut diantaranya seperti biaya tenaga kerja, biaya peralatan, dan biaya–
biaya sumber daya lainnya. Oleh karena itu, penganggaran (Budgeting)
atau perkiraan biaya merupakan suatu hal yang sangat penting untuk
memastikan proyek yang dijalankan tersebut dibawah biaya tertentu.
Kadang–kadang manager proyek harus mengalokasikan sumber daya
tambahan untuk mencapai batas waktu yang ditentukan sehingga
memerlukan biaya tambahan dan juga memungkinkan munculnya biaya
penalty akibat keterlambatan dalam penyelesaian proyek.

Beberapa proses dalam penanganan biaya dalam manajemen proyek


diantaranya seperti :
a. Cost Estimating (Estimasi Biaya), yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan proyek.
b. Cost Budgeting (Penganggaran Biaya), yang menggabungkan estimasi
biaya sumber daya yang dibutuhkan, paket pekerjaan dan biaya–biaya
kegiatan lainnya sehingga membentuk suatu rencana biaya yang
sistematis.
c. Cost Control (Pengendalian Biaya), faktor–faktor yang mengakibatkan
fluktuasinya biaya dapat dikendalikan dengan beberapa alat
manajemen biaya.

3. Lingkup (Scope)
Lingkup atau Scope adalah hasil akhir yang ingin dicapai oleh
pelaksanaan proyek itu sendiri. Hasil akhir tersebut harus didefinisikan
secara spesifik dan dikomunikasikan ke semua anggota tim yang
melaksanakan tugas–tugas dalam proyek. Pada umumnya, kompoenen
utama dalam lingkup adalah kualitas produk akhir. Seorang manajer
proyek harus mengetahui cara untuk mengelola lingkup (scope) dalam
suatu proyek termasuk perubahannya yang akan berdampak pada waktu
dan biaya.

Setiap proyek mengalami enam tahapan seperti di bawah ini :


a. Project Definition (Pendefinisian Proyek), yaitu mendefinisikan tujuan
proyek dan fakta–fakta yang harus dipertimbangkan agar proyek yang
dilaksanakan tersebut berhasil dengan kualitas yang diinginkan.
b. Project Initiation (Inisialisasi Proyek), yaitu perencanaan awal
terhadap sumber daya yang akan digunakan sebelum suatu proyek
dimulai.
c. Project Palnning (Perencanaan Proyek), yaitu menguraikan dengan
jelas bagaimana sebuah proyek harus dijalankan. Pada project
planning ini, akan terlihat dengan jelas pentingnya Segitiga
Manajemen Proyek yaitu waktu, biaya, dan ruang lingkup suatu
proyek.
d. Project Execution (Pelaksanaan Proyek), yaitu melakukan pekerjaan
agar proyek yang dimaksud tersebut berhasil sesuai dengan keinginan.
e. Project Monitoring & Controling (Pemantauan dan Pengendalian
Proyek), yaitu pengambilan langkah–langkah yang diperlukan
sehingga pengoperasian proyek berjalan dengan lancar.
f. Project Closure (Penutupan Proyek), yaitu menerima hasil akhir dari
proyek dan menghentikan semua penggunaan sumber daya.

Anda mungkin juga menyukai