BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biomassa
Biomassa merupakan materi organik yang berasal dari tumbuhan maupun
hewan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.
Keunggulan biomassa sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil terletak pada
kemampuannya menghasilkan panas atau energi listrik serta tingkat emisi karbon
dioksida (CO₂) yang relatif rendah. Selain itu, biomassa berkontribusi dalam proses
penyerapan karbon dioksida selama fase pertumbuhan vegetatif, yang secara tidak
langsung membantu menekan dampak lingkungan melalui efisiensi pemanfaatan
energi. Penggunaan biomassa sebagai sumber energi telah dikenal jauh sebelum
konsep energi terbarukan dan energi alternatif berkembang secara luas. Secara
historis, kayu telah menjadi sumber bahan bakar utama untuk keperluan memasak
dan pemanasan di banyak wilayah di dunia, dan praktik ini masih berlangsung di
sejumlah negara termasuk Indonesia, meskipun jumlah penggunanya mengalami
penurunan seiring waktu.
Biomassa dapat diperoleh dari tanaman secara langsung maupun melalui
jalur tidak langsung, seperti hasil sampingan dari aktivitas peternakan dan industri
pangan, dalam jumlah yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber
energi. Dalam konteks ini, istilah "tidak langsung" merujuk pada biomassa yang
dihasilkan sebagai produk samping dari sektor agrikultur dan industri pengolahan.
Biomassa juga dikenal sebagai “fitomassa” dan kerap disinonimkan dengan
bioresource, yaitu sumber daya yang berasal dari organisme hidup. Sumber-sumber
biomassa mencakup ratusan hingga ribuan spesies tumbuhan, baik yang berasal dari
wilayah daratan maupun perairan, serta berbagai produk limbah dari kegiatan
pertanian, kehutanan, industri pengolahan, dan peternakan.
Salah satu potensi besar dari biomassa adalah tanaman energi, yang kelak
dapat mendukung pengembangan perkebunan energi skala besar, meskipun hingga
kini masih belum banyak dikomersialisasikan. Biomassa secara umum mencakup
6
7
berbagai bentuk bahan organik seperti kayu, rumput Napier, biji rapeseed, eceng
gondok, rumput laut jenis makro, mikroalga chlorella, serbuk gergaji, serpihan
kayu, jerami, sekam padi, limbah dapur, lumpur pulp, serta kotoran hewan. Selain
itu, jenis tanaman perkebunan seperti kayu putih, poplar hibrida, kelapa sawit, tebu,
dan rumput gajah juga termasuk dalam kategori biomassa yang berpotensi tinggi
sebagai sumber energi terbarukan (Susila Herlambang et al., 2017).
2.2 Pohon Pisang
Pisang merupakan tanaman herba berukuran besar yang memiliki ciri khas
berupa daun panjang dan lebar yang tumbuh langsung dari pangkal batang semu.
Struktur batang pisang tergolong lunak karena tersusun atas pelepah-pelepah daun
yang saling melingkupi, sedangkan bagian batang yang lebih keras umumnya
berada di bawah permukaan tanah. Daunnya bertangkai panjang dan tersusun
menyebar, dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi tergantung pada spesiesnya.
Tangkai buah pisang menghasilkan rangkaian bunga dalam jumlah besar, yang
kemudian berkembang menjadi buah dalam susunan yang disebut sebagai sisir.
Buah pisang tumbuh berkelompok dalam satu tandan bunga, di mana ukurannya
cenderung mengecil dari bagian atas ke bawah.
Pertumbuhan buah diawali dari kemunculan bakal buah atau sisir, yang
muncul secara bertahap hingga jantung pisang berhenti memproduksi sisir. Setiap
sisir umumnya terdiri atas 10 hingga 20 buah, dan satu tandan dapat memuat antara
enam hingga 20 sisir, tergantung pada jenis varietasnya. Buah pisang yang masih
muda berwarna hijau dan akan berubah menjadi kuning seiring dengan proses
pematangan.
8
Gambar 2. 1 Pohon Pisang (Sumber:Dokumen Pribadi)
Dari segi klasifikasi taksonomi, pisang termasuk ke dalam genus Musa dan
famili Musaceae. Berbagai spesies pisang tersebar luas di wilayah Melanesia dan
Asia Tenggara, dengan salah satu jenis yang paling umum dibudidayakan adalah
pisang hutan. Spesies ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik terhadap
berbagai kondisi lingkungan, termasuk hutan, daerah perbukitan, dan dataran
rendah. Selain itu, tanaman pisang juga dapat dibudidayakan secara tumpangsari
bersama tanaman pangan lain seperti jagung dan singkong. Tanaman pisang bersifat
produktif sepanjang tahun dan dapat dipanen kapan saja, namun hanya
menghasilkan buah satu kali selama siklus hidupnya sebelum akhirnya mati. Buah
pisang memiliki nilai gizi yang tinggi dan dapat dikonsumsi dalam bentuk segar
maupun melalui proses pengolahan. Selain itu, pisang juga sering dimanfaatkan
dalam pengobatan tradisional karena kandungan nutrisinya yang beragam..
Gambar 2. 2 Batang Pisang (Sumber: Dokumen Pribadi)
Secara geografis, tanaman pisang berasal dari kawasan Asia Tenggara dan
menyebar secara luas ke berbagai belahan dunia. Penyebaran ke arah barat meliputi
wilayah Samudra Atlantik, Pulau Madagaskar, Benua Afrika, hingga Amerika
Tengah dan Amerika Latin. Sementara itu, penyebaran ke arah timur melalui
Samudra Pasifik menjangkau wilayah Kepulauan Hawaii. Dalam sistem klasifikasi
tumbuhan, pisang tergolong dalam subdivisi tumbuhan berbunga dan divisi
tumbuhan berbiji, serta memiliki kekerabatan dekat dengan keluarga Orchidaceae.
9
Dalam konteks penelitian ini, limbah batang pisang yang melimpah dan
belum dimanfaatkan secara optimal memiliki potensi besar sebagai bahan baku
alternatif dalam pembuatan briket. Kandungan serat, selulosa, hemiselulosa, dan
lignin pada batang pisang menjadikannya salah satu biomassa yang menjanjikan
sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Klasifikasi ilmiah pisang adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 1 Klasifikasi ilmiah pisang
No Tingkat Taksonami Keterangan
1. Kingdom Plantae
2. Subkingdom Tracheobionta
3. Superdivisi Spermatophyta
4. Divisi Magnoliophyta
5. Kelas Liliopsida
6. Subkelas Commelinidae
7. Ordo Zingiberales
8. Famili Musaceae
9. Genus Musa
10. Spesies Contoh: Muasa acuminata(pisang
biasa),musa balbisiana,dll.
Pada gambar 2.1 menjelaskan klasifikasi ilmiah pisang, kemungkinan besar
itu adalah diagram pohon filogenetik, tabel klasifikasi, atau ilustrasi yang
menunjukkan hubungan antara berbagai spesies dalam genus Musa.
Tanaman pisang memiliki karakter morfologi yang khas dan mudah dikenali
dibandingkan dengan spesies tanaman lainnya. Sebagai tumbuhan herba berukuran
besar, tanaman ini umumnya tumbuh hingga ketinggian antara dua hingga tiga
meter. Struktur batangnya berbentuk silindris, tersusun dari lapisan-lapisan pelepah
daun yang mengandung kadar air tinggi. Ketika batang mengalami luka, cairan
berupa getah akan keluar, menandakan tingginya kandungan air di dalam jaringan
batang.
Secara struktural, batang pisang terdiri atas dua bagian utama, yaitu batang
asli dan batang semu. Batang asli terletak di bawah permukaan tanah dan
10
menyerupai umbi batang, berfungsi sebagai pusat pertumbuhan yang menghasilkan
daun dan jantung pisang. Sementara itu, batang semu merupakan bagian batang
yang tampak di atas permukaan tanah dan terbentuk dari pelepah-pelepah daun
yang menyatu secara berlapis-lapis, memberikan kekuatan mekanis untuk
menopang tanaman. Batang ini memiliki warna bervariasi dari hijau hingga
kecokelatan, dan bersifat lunak karena tidak memiliki jaringan kambium.
Pertumbuhan batang semu berlangsung secara bertahap, dengan lapisan baru
menggantikan lapisan lama yang mengering.
Daun pisang memiliki ukuran yang besar dan bentuk memanjang, dengan
tulang daun utama yang membujur di tengah. Daun muda berwarna hijau muda,
sedangkan daun dewasa berwarna hijau tua. Panjang daun dapat mencapai dua
meter dengan lebar sekitar 40 hingga 50 sentimeter. Tulang daun berfungsi sebagai
penopang utama dan membagi permukaan daun menjadi dua bagian simetris. Daun
pisang memiliki tekstur yang mudah robek, dan jika diamati secara detail, terdapat
garis-garis melintang pada permukaan daunnya. Selain itu, bagian tulang dan
pelepah daun juga mengandung banyak udara, sebagaimana ditemukan pada
batangnya.
Tanaman pisang juga menghasilkan bunga yang dikenal sebagai jantung
pisang, dinamakan demikian karena bentuknya menyerupai jantung manusia.
Bagian luar bunga dilindungi oleh kelopak berwarna merah tua, sedangkan bagian
dalamnya terdiri dari daun penumpu bunga berwarna kuning yang tersusun rapat
dalam formasi spiral. Kelopak bunga atau braktea ini biasanya berukuran antara 10
hingga 25 sentimeter. Sebagai tumbuhan berumah satu, pisang memiliki alat
reproduksi yang terpisah dalam satu individu: bunga betina tumbuh di bagian
bawah, sedangkan bunga jantan berada di bagian tengah dan atas. Kedua jenis
bunga ini tersusun dalam dua baris horizontal dan dibedakan berdasarkan struktur
reproduktifnya. Bunga betina memiliki bakal buah berbentuk persegi dan benang
sari yang tidak berkembang sempurna, sedangkan bunga jantan tidak memiliki
bakal buah dan hanya terdiri atas lima benang sari.
Beberapa varietas pisang yang dikenal luas di Indonesia antara lain Pisang
Raja, Pisang Ambon, Pisang Mas, Pisang Tanduk, Pisang Kepok, Pisang Klutuk,
Pisang Susu, dan Pisang Cavendish. Pisang tidak hanya dikonsumsi buahnya,
11
melainkan seluruh bagian tanamannya memiliki potensi pemanfaatan. Daun,
bunga, dan batang pisang diketahui memiliki manfaat tambahan, baik dalam sektor
pertanian, pengobatan tradisional, maupun industri rumah tangga. Oleh karena itu,
tanaman ini sering disebut sebagai tanaman multifungsi, sebanding dengan kelapa
dalam hal kegunaannya.
Secara umum, setelah proses panen buah, batang pisang kerap kali dianggap
sebagai limbah dan dibuang, padahal bagian ini menyimpan potensi manfaat yang
signifikan. Salah satu bentuk pemanfaatan limbah batang pisang adalah sebagai
media tanam atau bahan kompos. Limbah ini tergolong dalam limbah organik
pertanian dengan volume dan massa yang cukup besar, sehingga berpotensi
menimbulkan permasalahan dalam pengelolaan lingkungan.
Pengomposan menjadi salah satu solusi yang efektif, mengingat batang
pisang mengandung unsur-unsur penting seperti karbon, nitrogen, fosfor, dan
kalium yang diperlukan dalam proses dekomposisi dan pembentukan pupuk
organik.
Komposisi Kimia batang pisang
Tabel 2. 2 Komposisi Kimia
No Komponen Kandungan %
1. Glukosa 74%
2. Xylosa 13,1%
3. Galaktosa 2,5%
4. Arabinosa 9,1%
5. Mannosa 1,3%
6. Lignin 12%
7. Celulosa 34-40%
8. Holocelulosa 60-65%
9. Abu 14%
10. Potasium 33,4%
11. Kalsium 7,5%
12. Magnesium 4,3%
13. Silikon 2,7%
14. Fosfor 2,2%
Pada Tabel 2.2 menjelaskan bahwa komposisi kimia Batang pisang
(terutama batang semunya) memiliki komposisi kimia yang beragam, tergantung
pada jenis pisang, umur tanaman, dan kondisi lingkungan.
12
Batang pisang memiliki potensi pemanfaatan yang signifikan di bidang
pertanian, salah satunya sebagai media tanam dalam budidaya jamur. Bahkan
secara alami, jamur kerap tumbuh pada batang pisang yang telah ditebang,
meskipun tanpa melalui proses budidaya yang intensif. Bagian batang ini, yang
dikenal pula sebagai gedebong atau gedebok, mengandung unsur hara makro seperti
nitrogen (N), yang esensial untuk pertumbuhan vegetatif tanaman, serta fosfor (P)
dan kalium (K), yang berperan dalam perkembangan akar dan pembentukan bunga
dan buah. Selain itu, kompos yang berasal dari batang pisang memiliki kandungan
karbon organik (C-organik) yang cukup tinggi, yaitu sekitar 29,7%, yang
menjadikannya sebagai bahan organik yang potensial dalam meningkatkan
kesuburan tanah.
Batang pisang juga mengandung kadar pati yang tinggi, yang berfungsi
sebagai sumber energi bagi tanaman maupun sebagai substrat bagi pertumbuhan
mikroorganisme lokal. Mikroorganisme ini berperan penting dalam proses
dekomposisi bahan organik, sehingga mendukung proses pengomposan. Selain
kandungan nutrisinya, batang pisang diketahui mengandung senyawa bioaktif
seperti flavonoid, antrakuinon, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut berfungsi
dalam merangsang pembentukan akar serabut, yang pada gilirannya meningkatkan
efisiensi penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman.
Lebih lanjut, batang pisang memiliki kandungan air yang tinggi, yakni
sekitar 80%, yang menjadikannya sangat sesuai sebagai media tanam alternatif,
khususnya pada musim kemarau. Kandungan air yang melimpah ini dapat
membantu mengurangi frekuensi penyiraman yang dibutuhkan oleh tanaman,
sehingga efisiensi dalam pengelolaan air dapat tercapai.
2.3 Briket
Briket merupakan salah satu bentuk bahan bakar padat yang umumnya
dihasilkan dari bahan-bahan organik seperti arang, sekam padi, serbuk gergaji,
tempurung kelapa, serta residu dari aktivitas pertanian dan perkebunan. Briket
biasanya dicetak dalam bentuk silinder atau balok guna memudahkan penyimpanan
dan penggunaannya. Proses produksinya melibatkan pemadatan material bahan
baku menggunakan mesin tekan bertekanan tinggi, sehingga menghasilkan produk
13
bahan bakar yang lebih kompak, tahan lama, dan efisien. Briket termasuk bahan
bakar berpori dengan kandungan karbon yang tinggi, diperoleh melalui proses
pemanasan pada suhu tertentu.
Secara teknis, briket dihasilkan dari campuran serbuk bahan baku seperti
batu bara, biomassa, atau material organik lainnya yang dipadatkan melalui
tekanan. Briket digunakan sebagai sumber energi alternatif untuk kebutuhan rumah
tangga maupun industri, karena memiliki nilai kalor tinggi dan menghasilkan emisi
yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Selain itu,
penggunaannya sebagai bentuk pemanfaatan limbah pertanian menjadikannya
solusi yang lebih ramah lingkungan.
Briket banyak diterapkan sebagai bahan bakar alternatif dalam kegiatan
rumah tangga maupun industri skala kecil, khususnya untuk keperluan memasak
dan pemanas. Dibandingkan dengan bahan bakar konvensional seperti kayu bakar
atau arang biasa, briket memiliki beberapa keunggulan, antara lain efisiensi
pembakaran yang lebih tinggi, kontribusi terhadap pengurangan limbah dan emisi
gas rumah kaca, serta kemudahan dalam penyimpanan dan penanganan karena
bentuknya yang seragam dan padat.
Secara umum, briket dibuat dari campuran serbuk bahan organik yang
dicampur dengan larutan perekat, kemudian dicetak dan dipanaskan hingga
mencapai bentuk, ukuran, dan tingkat kepadatan tertentu (Kurniati & Suprihatin,
2009). Berbagai bahan dapat digunakan dalam produksi briket, seperti sekam padi,
serbuk gergaji, kayu, tempurung kelapa, dengan tambahan bahan perekat seperti
tepung kanji, tapioka, molase, atau daun muda tanaman tertentu.
Sebagai bahan bakar alternatif, briket harus memenuhi sejumlah kriteria,
antara lain: tidak menghasilkan asap atau bau, memiliki efisiensi termal yang tinggi,
mudah dinyalakan, tahan terhadap penanganan dan transportasi, serta memiliki
kadar abu dan zat terbang (volatile matter) dalam rentang yang sesuai (Marisa,
2010). Briket juga harus memiliki kepadatan optimal untuk menghindari kerusakan
selama distribusi dan mengurangi kebutuhan ruang penyimpanan.
Kualitas briket ditentukan oleh dua aspek utama, yaitu kekompakan
bentuknya hingga saat penggunaan dan kemampuannya dalam menghasilkan energi
secara efisien. Briket tidak boleh mudah hancur selama proses penanganan dan
14
penyimpanan, serta harus memiliki karakteristik bahan bakar yang unggul, seperti
bentuk yang seragam dan densitas yang optimal.
Berbagai jenis biomassa yang dapat dijadikan bahan baku briket meliputi
serbuk gergaji (limbah industri kayu), tempurung kelapa, sekam padi, tongkol
jagung, ampas tebu, serabut kelapa, kulit kacang, dan bahkan rumput laut kering
serta sampah organik terpilih seperti daun dan ranting. Bahan-bahan tersebut
memiliki kandungan karbon yang tinggi dan dapat diproses menjadi briket melalui
metode pengeringan, pencampuran, dan pemadatan.
Adapun klasifikasi sumber bahan baku briket meliputi:
1. Limbah dari pengolahan kayu seperti serbuk gergaji, serpihan kayu, dan
kulit kayu.
2. Limbah pertanian seperti jerami, sekam padi, dan ampas tebu.
3. Bahan berserat seperti sabut kelapa dan serat goni.
4. Limbah pangan seperti kulit kacang dan biji buah.
5. Bahan selulosa dari limbah kertas atau karton (Patabang, 2011).
Kriteria mutu briket yang ideal mencakup:
1. Tidak menghasilkan asap dan bau menyengat saat proses pembakaran.
2. Memiliki kekuatan mekanis (>6 kg/cm²) untuk menghindari kerusakan fisik
selama penanganan.
3. Mampu mempertahankan suhu pembakaran stabil pada kisaran 350°C
selama 8–10 jam.
4. Setelah dibakar, masih memiliki struktur padat yang mudah diangkat dari
tungku.
5. Tidak menghasilkan emisi gas berbahaya seperti karbon dioksida dalam
kadar tinggi.
Kepadatan menjadi parameter penting dalam pembuatan briket. Briket yang
terlalu padat sulit terbakar, sedangkan yang terlalu longgar akan mudah hancur dan
memiliki kecepatan pembakaran yang tinggi, sehingga menurunkan efisiensi energi
(Kurniati & Suprihatin, 2009).
15
Untuk pengujian briket arang, perlu diperhatikan beberapa persyaratan yang
disajikan dalam Tabel 2.3.
Tabel 2. 3 Standarisasi Mutu Briket Arang
Sifat Kualitas Briket Arang Standar
P3HH SNI 01- Jepang Inggris Amerika
62352-
2000
Kerapatan g/cm3 >0,7 - 1-2 0,84 1
Kadar Air(%) <8 <8 6-8 3-4 6
Keteguhan Tekan (kg/cm2 ) >12 - 60 12,7 62
Zat Mudah Menguap(%) <30 <15 15-30 16 19
Kadar Abu(%) <8 <8 3-6 8-10 18
Karbon Terikat(%) >60 - 60-80 75 58
Nilai Kalor(kal/g) >6.000 >5.000 6.000- 7.300 6.500
7.000
(Rindayatno,2017)
Tabel 2.3 menjelaskan bahwa Briket arang adalah bahan bakar padat yang
dibuat dari serbuk kayu, tempurung kelapa, sekam padi, atau limbah biomassa
lainnya yang telah dikarbonisasi. Standarisasi mutu briket arang bertujuan untuk
memastikan efisiensi pembakaran, keamanan, dan kualitas produk.
2.3.1 Nilai Kalor
Nilai kalor dinyatakan sebagai heating value, merupakan ukuran panas atau
energi yang akan dihasilkan diukur sebagai nilai kalor bawah (NKB atau gross
colorific value). NKB mengasumsikan air yang keluar dengan produk
pengembunan tidak seluruhnya terembunkan (masih ada kandungan air dalam
produk). NKA mengasumsikan bahwa seluruh uap yang dihasilkan selama proses
pembakaran seluruhnya terembunkan (Sani, 2009)
1. Berdasarkan Bahan Bakunya
Berdasarkan bahan bakunya, ada dua jenis briket yang digunakan :
a) Organik
Bahan baku organik biasanya berasal dari limbah pertanian dan hutan.
b) Anorganik
Bahan baku ini biasanya berasal dari limbah perkotaan dan limbah pabrik.
2. Berdasarkan Proses Pembuatannya Berdasarkan proses pembuatannya, ada dua
jenis briket yang digunakan :
16
a) Jenis Karbonisasi
Pada jenis briket ini, bahan mengalami proses karbonisasi sebelum dicetak
menjadi briket. Selama proses karbonisasi, zat-zat terbang yang terdapat dalam
bahan dasar briket dikurangi hingga mencapai kadar yang sangat rendah, sehingga
produk yang dihasilkan bebas dari bau dan asap. Meskipun demikian, biaya
produksi menjadi lebih tinggi karena proses karbonisasi menyebabkan rendemen
bahan dasar mencapai sekitar 50%. Briket jenis ini lebih sering digunakan untuk
keperluan rumah tangga karena keamanannya yang lebih terjamin.0
b) Jenis Non-Berkarbonisasi
Briket jenis ini mengalami proses karbonisasi setelah bahan bakunya
dicetak menjadi briket, yang menjadikannya lebih murah. Karena zat terbang masih
terkandung dalam briket, penggunaannya sebaiknya dilakukan dengan
menggunakan tungku untuk memastikan pembakaran yang sempurna, di mana zat
terbang akan terbakar habis oleh api di permukaan tungku. Briket jenis ini
umumnya digunakan dalam industri skala kecil (Adriana, 2010).
2.3.2 Kadar Air
Kadar air merupakan parameter penting yang menunjukkan jumlah air yang
terkandung dalam briket arang. Kandungan air ini berbanding terbalik dengan nilai
kalor yang dihasilkan, sehingga semakin tinggi kadar air dalam briket, maka
semakin rendah pula energi kalorinya. Dengan demikian, kadar air menjadi salah
satu faktor krusial yang memengaruhi kualitas pembakaran briket. Kelembapan
yang tinggi dalam briket dapat menyulitkan proses penyalaannya dan menurunkan
efisiensi pembakaran.
Kehadiran air dalam karbon berkaitan erat dengan sifat higroskopis karbon
itu sendiri, yaitu kemampuannya menyerap air dari lingkungan. Semakin banyak
dan besar pori-pori yang terbentuk pada struktur karbon aktif, maka luas
permukaannya pun meningkat, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan
menyerap air.
Pengukuran kadar air bertujuan untuk menilai sifat higroskopis bahan baku
briket, karena kadar air yang tinggi akan menurunkan nilai kalor serta menyulitkan
proses pembakaran. Ukuran partikel bahan lignoselulosa juga berpengaruh
17
terhadap kadar air, di mana partikel yang lebih kecil cenderung menyerap lebih
banyak air. Selain itu, suhu dan kelembapan udara sekitar turut memengaruhi daya
serap air pada briket. Tingginya kadar air dapat menghambat inisiasi nyala api dan
menyebabkan suhu pembakaran menjadi tidak optimal.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), kadar air yang
direkomendasikan untuk briket arang adalah maksimal 8%. Pengendalian kadar air
sangat penting guna menghasilkan briket berkualitas baik yang memiliki stabilitas
api tinggi, mudah dinyalakan, dan tidak menimbulkan asap berlebih. Proses
pengeringan dapat dilakukan secara alami, yakni dengan menjemur briket di bawah
sinar matahari selama beberapa hari untuk mencapai kadar air yang sesuai.
Briket arang yang mengandung karbon umumnya memiliki nilai kalor tinggi
dan mampu menyala dalam waktu lama. Dalam pengujian, briket arang
menunjukkan kadar air sebesar 5,37%, yang masih berada dalam batas standar SNI.
Selain itu, briket ini memiliki densitas rata-rata sebesar 11,23 g/cm³, yang
mencerminkan kepadatan dan kualitas kompaksi yang baik.
2.3.3 Densitas
Densitas atau kerapatan merupakan besaran fisik yang menyatakan massa
suatu benda dalam satu satuan volume. Dalam konteks penelitian briket, densitas
sangat penting karena berkaitan langsung dengan efisiensi pembakaran dan kualitas
bahan bakar yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai densitas suatu briket, maka
semakin padat struktur materialnya, sehingga proses pembakaran akan berlangsung
lebih lama dan stabil. Briket yang memiliki densitas tinggi umumnya memiliki
ruang antar partikel yang lebih sedikit, sehingga udara lebih sulit masuk dan
pembakaran berlangsung perlahan namun stabil. Sebaliknya, briket dengan densitas
rendah biasanya lebih mudah terbakar karena adanya ruang kosong yang cukup
besar di antara partikel, namun akan cepat habis terbakar sehingga efisiensinya
rendah. Oleh karena itu, pengukuran densitas sangat penting untuk menilai kualitas
fisik briket sebagai bahan bakar alternatif. Nilai densitas ini dipengaruhi oleh
komposisi bahan penyusun, tekanan saat pencetakan, serta kadar air dalam bahan.
Dalam penelitian ini, perbedaan komposisi batang pisang, plastik LDPE, dan
18
tepung kulit singkong memberikan pengaruh terhadap variasi nilai densitas yang
dihasilkan pada setiap sampel briket.
2.4 Proses Pencetakan
Tahap proses pencetakan briket dilakukan dengan cara pengepresan dengan
alat press hidrolik. Menarapkan tekanan pada biobrieket menyebabkan briket
menebal atau mengurangi volume, sehingga meningkatkan permukaan kontak dan
memungkinkan ikatan briket yang lebih baik(Moeksin,2017).
Pencetakan dengan cara pengepresan bertujuan untuk membentuk kontak
permukaan dengan perekat pada bahan yang akan direkatkan. Kemudian perekat
dicampur dan memulai tekanan, lalu mengalir dalam fase cair ke permukaan bahan.
Perekat mengalami perpindahan bersama dengan aliran dari permukaan
menggunakan perekat ke permukaan yang belum mengunakan perekat. Ketika
tekanan yang lebih tinggi digunakan, maka kerapatan kekuatan tekan yang
dihasiikan briket lebih tinggi (Patabang, 2013).
2.5 Perekat
Bubuk arang yang sudah dihaluskan akan diproses menjadi briket. Butiran
bubuk arang memiliki kualitas alami yang cenderung memisah dan dapat dibentuk
dengan perekat sesuai kebutuhan. Penentuan jenis perekat sangat mempengaruhi
kualitas briket saat penyalaan serta pembakaran. Setiap perekat memiliki daya rekat
yang berbeda sehingga perlu diperhatikan faktor harga dan ketersediaan (Sudrajat,
1983).
Menurut Abdullah (1991), saat pembuatan briket terdapat dua jenis perekat
umum digunakan, antara lain perekat asap (molase, tar, pitch) dan perekat tanpa
asap (pati dan dekstrin). Untuk keperluan rumah tangga sebaiknya briket yang
digunakan adalah perekat tanpa asap.
Partikel-partikel dalam bahan baku yang digunakan dalam pembuatan briket
memerlukan perekat untuk memastikan pengikatan antar bahan tersebut.
Berdasarkan fungsi dan kualitasnya, pemilihan bahan perekat dapat dikelompokkan
sebagai berikut (Masthura et al., 2019):
19
Berdasarkan sifat atau bahan baku perekat briket,karakteristik bahan perekat
untuk pembuatan briket adalah sebagai berikut:
a. Memiliki gaya kohesi yang kuat ketika dicampurkan dengan semikokas atau
batubara.
b. Mudah terbakar dan tidak menghasilkan asap.
c. Mudah diperoleh dalam jumlah yang besar dan memiliki harga yang terjangkau.
d. Tidak menghasilkan abu, tidak beracun, dan tidak membahayakan.
Perekat merupakan suatu zat atau bahan yang memiliki kemampuan untuk
mengikat dua benda melalui ikatan pada permukaan. Beberapa istilah terkait
perekat yang memiliki sifat khusus antara lain glue, mucilage, paste, dan cement.
Glue adalah perekat yang terbuat dari protein hewani, seperti kulit, kuku, urat, otot,
dan tulang, yang digunakan dalam industri pengolahan kayu. Mucilage adalah
perekat yang dibuat dari getah dan air, terutama digunakan untuk perekat kertas.
Paste adalah perekat berbasis pati yang dibuat dengan memanaskan campuran pati
dan air hingga membentuk pasta. Sedangkan cement adalah perekat yang berbahan
dasar karet yang mengeras melalui proses penguapan pelarut.
Perekat kulit singkong adalah lem alami yang dibuat dari ekstrak pati yang
terdapat dalam kulit singkong. Pati pada kulit singkong memiliki sifat lengket yang
dapat digunakan sebagai bahan perekat dalam berbagai aplikasi.
a. Karakteristik Perekat dari Kulit Singkong
1. Sifat Perekat Alami; Kandungan pati pada kulit singkong menjadi sumber utama
daya rekat. Ketika dipanaskan dengan air, pati berubah menjadi zat kental dan
lengket.
2. Ramah Lingkungan; Perekat ini berasal dari limbah pertanian yang mudah
terurai di alam, tidak menghasilkan limbah beracun, dan aman bagi lingkungan.
3. Biaya Efektif; Penggunaan kulit singkong sebagai perekat adalah solusi hemat
biaya, terutama karena memanfaatkan bahan yang sering kali dibuang sebagai
limbah
b. Penggunaan Perekat dari Kulit Singkong
1. Pembuatan Briket; Perekat kulit singkong dapat digunakan sebagai bahan
pengikat dalam produksi briket organik, seperti briket dari serbuk kayu,
tempurung kelapa, atau limbah batang pisang.
20
2. Kerajinan dan Industri Kreatif: Cocok untuk kerajinan tangan yang
membutuhkan perekat non-sintetis.
3. Pertanian: Kadang digunakan dalam komposisi media tanam atau untuk
memperbaiki tanah karena perekat alami ini aman bagi lingkungan dan dapat
terurai.
Perekat kulit singkong menjadi solusi inovatif yang memanfaatkan limbah
kulit singkong untuk berbagai keperluan, mengurangi ketergantungan pada perekat
berbahan kimia sintetis, serta mendukung prinsip ekonomi sirkular dan
keberlanjutan. Kadar air briket kulit singkong dan tempurung kelapa bervariasi
tergantung pada persentase perekat yang digunakan:
1. Perekat 5% memiliki kadar air rata-rata 4,5504%
2. Perekat 9% memiliki kadar air rata-rata 5,4823%
Tepung kulit singkong dapat digunakan sebagai bahan baku glue karena
memiliki kadar air yang rendah, yaitu 2%. Tepung kulit singkong juga mudah larut
dalam air dan mengandung serat 14,64%.
c. Penggunaan Perekat Sampah Plastik pada Briket
1. Penambahan plastik LDPE dapat meningkatkan kepadatan briket,
membuatnya lebih keras dan tahan lama dibandingkan dengan briket yang
hanya menggunakan perekat alami.
2. Briket dengan campuran LDPE cenderung memiliki nilai kalor yang lebih
tinggi, sehingga menghasilkan panas yang lebih besar dan waktu
pembakaran yang lebih lama.
3. Memanfaatkan sampah plastik sebagai perekat dapat mengurangi jumlah
limbah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan
membantu mengatasi masalah pencemaran plastik.
4. Sifat Termoplastik LDPE yaitu Plastik LDPE bersifat termoplastik, artinya
ia dapat meleleh pada suhu tertentu (sekitar 105-115°C) dan kembali
mengeras ketika dingin. Sifat ini memungkinkan LDPE untuk berfungsi
sebagai perekat alami, mengikat partikel arang dari bahan organik
(misalnya, batang pisang) menjadi briket yang padat dan kokoh.
21
2.5.1 Hubungan Antara Massa Tekan Terhadap Nilai Kalor Briket
Hubungan antara tekanan massa dan nilai kalor briket dijelaskan dalam
penelitian Maryati Doloksaribu (2014) yang berjudul “Pembuatan Briket Arang
dari Tanah Gambut Pengganti Kayu Bakar”. Penelitian tersebut menunjukkan
bahwa tekanan memiliki pengaruh terhadap nilai kalor briket arang dari tanah
gambut, di mana nilai kalor meningkat seiring dengan peningkatan tekanan. Hal ini
disebabkan oleh peningkatan kerapatan briket akibat tingginya tekanan massa saat
proses pencetakan.
Penelitian lain oleh Coates, Wayne (1999) yang mengkaji briket biomassa
dari limbah kapas, bertujuan untuk memperoleh briket biomassa dengan ketahanan
yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air yang lebih tinggi
menyebabkan briket menjadi lebih tahan, dan semakin tinggi tekanan
pemberiketan, semakin baik pula sifat ketahanan briket biomassa tersebut.
Menurut penelitian oleh Dra. Yenni Darvina, [Link] dan Dra. Nur Asma,
[Link] (2011) dengan judul “Upaya Peningkatan Kualitas Briket Dari Arang
Cangkang dan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) melalui Variasi Tekanan
Pengepresan” menyimpulkan bahwa peningkatan tekanan pengepresan berbanding
lurus dengan peningkatan nilai kalor dan kerapatan briket.
2.6 Differential Scanning Calorimetry (DSC)
Differential Scanning Calorimetry (DSC) atau kalorimeter pemindaian
diferensial merupakan salah satu instrumen karakterisasi termal yang digunakan
untuk mengukur perubahan panas pada suatu sampel relatif terhadap bahan
referensi yang bersifat inert, selama proses pemanasan atau pendinginan yang
terkontrol secara terprogram.
Analisis menggunakan DSC dilakukan dengan membandingkan suhu antara
sampel dan referensi selama siklus perubahan suhu. Dalam kondisi normal tanpa
adanya perubahan termal pada sampel, suhu antara sampel dan referensi akan tetap
sama. Namun, ketika terjadi peristiwa termal seperti pelelehan, dekomposisi, atau
perubahan struktur kristalin, suhu sampel akan mengalami deviasi. Jika peristiwa
tersebut bersifat endotermik (menyerap panas), suhu sampel akan lebih rendah
22
dibandingkan referensi; sebaliknya, jika bersifat eksotermik (melepas panas), suhu
sampel akan lebih tinggi dari referensi.
Proses pengukuran dilakukan dengan memanaskan atau mendinginkan
sampel dengan massa yang diketahui, sehingga memungkinkan deteksi perubahan
aliran panas (heat flow). Melalui teknik ini, berbagai transisi termal seperti titik
leleh, transisi kaca (glass transition), perubahan fasa, dan reaksi pelestarian dapat
teridentifikasi. Karena kemampuannya dalam mendeteksi berbagai fenomena
termal, DSC banyak diaplikasikan dalam beragam sektor industri, termasuk
farmasi, polimer, pangan, kertas, manufaktur, pertanian, semikonduktor, dan
elektronik.
Prinsip kerja DSC didasarkan pada pemberian panas melalui elemen
pemanas yang disalurkan ke sampel dan referensi melalui heat sink dan resistor
termal. Aliran panas yang diterima oleh masing-masing akan bergantung pada
perbedaan panas antara heat sink dan pemegang sampel atau referensi. Heat sink
dirancang memiliki kapasitas panas yang jauh lebih besar dibandingkan sampel,
sehingga mampu mengkompensasi fenomena endotermik dan eksotermik yang
terjadi pada sampel. Dengan menjaga suhu antara sampel dan referensi tetap
konstan, perbedaan jumlah panas yang diberikan dapat diukur secara akurat.
Penggunaan bahan standar seperti indium dan seng dalam proses kalibrasi
memungkinkan dilakukannya analisis kuantitatif terhadap perubahan termal yang
belum diketahui sifatnnya.