SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PENYAKIT DIABETES MELITUS
Oleh:
RIZAL ACHMAD NURDIYANTO
2511040088
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2025
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
DIABETES MELITUS
A. Topik
Topik Pembahasan : Diabetes Melitus
Sub Pokok Pembahasan : Diabetes Melitus
Sasaran : Pasien di ruang Teratai RSUD Banyumas
Waktu : 15 menit
Tempat : Ruang Teratai RSUD Banyumas
Penyuluh : Rizal Achmad Nurdiyanto
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan selama 15 menit, klien dapat mengetahuai tentang
penyakit diabetes melitus dan mendemonstrasikan senam kaki diabetes melitus
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan, pasien dapat :
a) Menjelaskan pengertian diabetes melitus
b) Menjelaskan penyebab diabetes melitus
c) Menjelaskan tanda dan gejala diabetes melitus
d) Menjelaskan pengertian senam diabetes melitus
e) Menjelaskan manfaat senam kaki diabetes melitus
f) Mampu mendemonstrasikan senam kaki diabetes melitus
C. Materi
Terlampir
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demonstrasi
E. Media
1. Leaflet
F. Kegiatan
No Waktu Kegiatan Penyuluh Sasaran
1. 2 menit Pembukaan 1. Mengucapkan salam pembuka 1. Menjawab
2. Memperkenalkan diri dan salam
persepsi materi 2. Mendengarkan
dan
memperhatikan
2. 7 menit Isi Menjelaskan mengenai: 1. Memperhatikan
1. Pengertian diabetes melitus 2. Mempraktikkan
2. Penyebab diabetes melitus senam
3. Tanda dan gejala diabetes 3. Bertanya
melitus
4. Komplikasi diabetes melitus
5. Tatalaksana diabetes melitus
6. Pengertian senam kaki
diabetes melitus
7. Manfaat senam kaki diabetes
melitus
8. Tata Cara senam kaki
diabetes melitus
9. Memberikan kesempatan
kepada pasien untuk
mengajukan pertanyaan jika
belum jelas
3. 6 menit Evaluasi dan 1. Memberi kesempatan kepada 1. Bertanya
Penutup pasien untuk bertanya 2. Mendengarkan
2. Menyimpulkan materi yang 3. Menjawab
telah disajikan salam
3. Evaluasi dan pembagian
leaflet
4. Memberi salam
G. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Ruangan kondusif untuk dilakukan penyuluhan
b. Media dan materi tersedia dan memadai
c. Pasien dan keluarga kooperatif
d. Penyelenggaran penyuluhan dilakukan
2. Evaluasi Proses
a. Ketepatan waktu pelaksanaan
b. Pasien antusias terhadap materi penyuluhan
c. Pasien tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan penyuluhan selesai
d. Pasien terlibat aktif dalam kegiatan penyuluhan
3. Evaluasi Hasil
a. Penyaji mengajukan beberapa pertanyaan secara langsung kepada responden
tentang materi penyuluhan yang telah dijelaskan
b. Responden mampu menjawab dengan benar 60% dari pertanyaan yang
diajukan oleh penyuluh
H. Daftar Pustaka
Hidayah (2020). The Relationship of Health Behavior with the Area of Sugar Content
and Quality of Life of Diabetes Patients. Jurnal Kesehatan Primer, 108(2),
114–123. [Link]
Purnamasari (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Dalam
Menjalankan Diet Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. Thesis, 2, 47–171.
LAMPIRAN MATERI
1. Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes mellitus merupakan kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik terjadinya hiperglikemia oleh karena kelainan kerja insulin, sekresi
Insulin, atau keduanya. Diabetes mellitus juga sebagai kumpulan gejala yang ditandai
peningkatan gula darah secara absolut atau relatif (Hidayah, K. N., Puspita, S., &
Farida, S. N, 2020)
Diabetes mellitus adalah sekelompok gangguan metabolisme yang ditandai
oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) dan kekurangan dalam
produksi atau aksi insulin yang diproduksi oleh pankreas di dalam tubuh. Diabetes
mellitus adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia
akibat defek pada sekresi insulin, aksi insulin, atau kedua. Hiperglikemia kronis
diabetes terkait dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan kegagalan berbagai
organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. (Purnamasari,
2019).
2. Penyebab Diabetes Melitus
a. Faktor predisposisi
1) Usia Seseorang dengan usia 45 tahun keatas rentan terserang DM tipe 2 karena
degenerasi sel beta pankreas dan penurunan ak tivitas mitokondria otot
memicu terjadinya resistensi insulin
2) Riwayat keluarga dengan DM Anak yang dilahirkan dari ibu dengan DM dan
diabetes ges tasional memiliki resiko tinggi terserang DM tipe 2 di masa
depan. Jika salah satu orang tua menderita DM maka resikonya 10%
sedangkan jika kedua orang tuanya mem iliki DM faktor resikonya 75%
b. Faktor presipitasi
1) Obesitas
Seseorang yang mengalami obesitas memiliki resiko 2,7 kali lebih besar
terserang diabetes daripada orang dengan indeks masa tubuh (IMT) normal
dikarenakan peningkatan asam lemak (free fatty acid) mengganggu transporter
glukosa ke membran plasma dan menyebabkan resistensi insulin pada jaringan
otot dan adiposa
2) Pola Makan
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang
dibutuhkan tubuh dapat memicu timbulnya Diabetes Mellitus, hal ini
dikarenakan jumlah atau kadar insulin oleh sel β pankreas memiliki kapasitas
maksimum untuk disekresikan. Oleh karena itu mengkonsumsi makanan
secara berlebihan dan tidak diimbangin dengen sekresi insulin dalam jumlah
memadai dapat menyebabkan Diabetes Mellitus
3) Kurangnya Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik dapat mengontrol gula darah. Glukosa akan dirubah
menjadi energi pada saat beraktifitas fisik. Aktifitas fisik mengakibatkan
insulin semakin meningkat sehingga ka dar gula dalam darah akan berkurang.
Pada orang yang jarang berolahraga atau kurang beraktifitas fisik, zat
makanan yang masuk kedalam tubuh tidak dibakar tetapi ditimbun didalam
tubuh sebagai lemak dan gula. Jika insulin tidak mencukupi untuk mengubah
glukosa menjadi energi maka akan men imbulkan Diabetes Mellitus
4) Stress
Adanya peningkatan risiko diabetes mellitus pada kondisi stress
disebabkan oleh produksi hormone kortisol secara ber lebihan pada saat
seseorang mengalami stress. Produksi kor tisol yang berlebih ini akan
menyebabkan sulit tidur, depresi, yang kemudian akan membuat individu
tersebut menjadi le mas dan nafsu makan berlebih. Oleh karena itu ahli nutrisi
biologis Shawn Talbott menjelaskan bahwa pada umumnya orang yang
mengalami stres panjang juga akan mempunyai kecenderungan berat badan
berlebih yang merupakan salah satu faktor diabetes mellitus
3. Tanda dan Gejala Diabetes Melitus
Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolongkan menjadi 2 yaitu gejala akut dan
gejala kronik:
a. Gejala akut penyakit DM
Gejala penyakit DM bervariasi pada setiap penderita, bahkan mungkin tidak
menunjukkan gejala apa pun sampai saat tertentu. Permulaan 19 gejala yang
ditunjukkan meliputi serba banyak (poli) yaitu banyak makan (poliphagi), banyak
minum (polidipsi), dan banyak kencing (poliuri). Keadaan tersebut, jika tidak
segera diobati maka akan timbul gejala banyak minum, banyak kencing, nafsu
makan mulai berkurang atau berat badan turun dengan cepat (turun 5-10 kg dalam
waktu 2-4 minggu), mudah lelah, dan bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa
mual.
b. Gejala kronik penyakit DM
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita DM adalah kesemutan, kulit
terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit, kram, mudah
mengantuk, mata kabur, biasanya sering ganti kacamata, gatal di sekitar kemaluan
terutama pada wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual
menurun, dan pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg .
4. Komplikasi
Komplikasi yang timbul pada diabetus melitus adalah:
a. Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung,
stroke, aterosklerosis, dan tekanan darah tinggi.
b. Kerusakan saraf atau neuropati. Kadar gula darah yang berlebihan dapat merusak
saraf dan pembuluh darah halus. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya sensasi
kesemutan atau perih yang biasa berawal dari ujung jari tangan dan kaki, lalu
menyebar ke bagian tubuh lain. Neuropati pada sistem pencernaan dapat memicu
mual, muntah, diare, atau konstipasi.
c. Kerusakan mata, salah satunya dibagian retina. Retinopati muncul saat terjadi
masalah pada pembuluh darah di retina yang dapat mengakibatkan kebutaan jika
dibiarkan. Glaukoma dan katarak juga termasuk komplikasi yang mungkin terjadi
pada penderita diabetes.
d. Ganggren faktor yang berpengaruh terhadap kejadian gangrene pada penderita
DM diantaranya adalah neuropati, tidak terkontrol gula darah (hiperglikemi) yang
berkepanjangan akan menginisiasi terjadinya hiperglisolia (keadaan dimana sel
kebanjiran masuknya glukosa akibat hiperglikemia kronik), hiperglisolia kronik
akan mengubah homeostasis biokimiawi sel yang kemudian berpotensi untuk
terjadinya perubahan dasar terbentuknya komplikasi DM. Ganggren adalah rusak
dan mem busuknya jaringan, daerah yang terkena gangren biasanya bagian ujung-
ujung kaki atau tangan. Gangren kaki diabetik luka pada kaki yang merah
kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi dipembuluh
darah sedang atau besar ditungkai, luka gangren merupakan salah satu komplikasi
kronik diabetes melitus.
1. Tatalaksana Diabetes melilitus
a. Terapi Farmakologi
1. Obat Oral : Berbagai jenis obat oral dapat diresepkan, seperti: Metformin,
Glimepiride, Glibenclamide, Vidagliptine dll.
2. Injeksi : Terapi insulin seringkali menjadi pilihan jika obat oral tidak cukup
untuk mengontrol gula darah. Beberapa jenis obat injeksi insulin diantaranya
adalah :
– Inj. Novorapid
– Inj. Novomix
– Inj. Humalog mix
– Inj. Ryzodegh, dll.
a. Terapi Non-Farmakologi (Kunci Sehat Pasien DM)
1. Pola Makan Sehat :
Mengikuti prinsip 3J (Jadwal, Jumlah, Jenis) sangat penting.
o Jadwal : Tepat waktu makan.
o Jumlah : Porsi yang terukur.
o Jenis : Memilih makanan dengan indeks glikemik (IG) rendah, tinggi serat,
rendah gula, dan rendah kalori.
2. Olahraga Teratur
Aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Contohnya
termasuk berjalan santai, bersepeda, senam atau yoga.
3. Manajemen Stres :
Mengelola stres sangat penting karena dapat mempengaruhi kadar gula
darah. Teknik relaksasi seperti relaksasi otot progresif, meditasi, atau tidur
cukup dapat membantu.
4. Pemeriksaan Gula Darah Rutin
Memantau kadar gula darah secara teratur sangat penting untuk menilai
efektivitas terapi dan membuat penyesuaian yang diperlukan.
5. Hindari Rokok dan Alkohol
Merokok dan konsumsi alkohol dapat berdampak negatif pada pengelolaan
diabetes.
6. Perawatan Luka
Waspada terhadap luka dan pastikan penyembuhan luka berjalan optimal,
terutama dengan menjaga kadar gula darah terkontrol.
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PURWOKERTO
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
(SOP) SENAM KAKI DIABETES MELITUS
Definisi Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh
pasien diabetes mellitus untuk mencegah terjadinya luka dan
membantu memperlancarkan peredaran darah bagian kaki.
Tujuan 1. Meningkatkan penggunaan insulin oleh tubuh.
2. Membantu pembakaran lemak tubuh serta membantu
mengontrol berat badan.
3. Memperbaiki sirulasi darah.
4. Memperkuat otot-otot kecil.
5. Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki.
6. Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha.
7. Mengatasi keterbatasan gerak sendi.
Indikasi dan 1. Indikasi
Kontra Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita
Indikasi diabetes melitus dengan tipe I maupun tipe II. Namun
sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita
diabtes melitus sebagai tindakan pencegahan dini.
2. Kontraindikasi
a. Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti
dispnue atau nyeri dada.
b. Klien yang depresi, khwatir atau cemas.
Prosedur 1. Persiapan alat: kertas koran 2 lembar, kursi (jika tindakan
dilakukan dalam posisi duduk).
2. Persiapan klien: kontrak topik, waktu, tempat dan tujuan
dilaksanakan senam kaki.
3. Persiapan lingkungan: ciptakan lingkungan yang nyaman
bagi pasien, jaga privasi pasien.
Pelaksanaan 1. Duduk dengan baik di atas kursi sambil meletakkan kaki
ke lantai.
2. Sambil meletakkan tumit di lantai, jari-jari kedua belah
kaki diluruskan ke atas dan dibengkokkan ke bawah
sebanyak 10 kali.
3. Sambil meletakkan tumit di lantai, angkat telapak kaki ke
atas. Kemudian, jari-jari kaki diletakkan di lantai sambil
tumit kaki diangkat ke atas. Langkah ini diulangi sebanyak
10 kali.
4. Tumit kaki diletakkan di lantai. Bagian depan kaki
diangkat ke atas dan putaran 360º dibuat dengan
pergerakan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.
5. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan
putaran 360º dibuat dengan pergerakan pada pergelangan
kaki sebanyak 10 kali.
6. Kaki diangkat ke atas dengan meluruskan lutut. Putaran
360º dibuat dengan pergerakan pada pergelangan kaki
sebanyak 10 kali.
7. Lutut diluruskan dan dibengkokkan ke bawah sebanyak 10
kali. Ulangi langkah ini untuk kaki yang sebelah lagi.
8. Letakkan sehelai kertas koran di lantai. Remas kertas itu
menjadi bola dengan kedua kaki. Kemudian, buka bola itu
menjadi kertas yang lebar menggunakan kedua belah kaki.
Langkah ini dilakukan sekali saja
Sumber Revalda Ningsih, R., & Praja Satria, A. (2021)
RIZ
UNIVER
RIZAL ACHM
UNIVERSITAS MUHA