0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan30 halaman

Definisi dan Komponen Pariwisata

Dokumen ini membahas tentang pariwisata, termasuk pengertian, atraksi wisata, dan komponen-komponen yang terkait. Pariwisata didefinisikan sebagai aktivitas perjalanan sementara untuk mendapatkan pengalaman dan kepuasan, sedangkan atraksi wisata mencakup daya tarik yang menarik pengunjung. Selain itu, dokumen juga menjelaskan tentang fasilitas, aksesibilitas, dan pelayanan tambahan yang mendukung kegiatan wisata.

Diunggah oleh

dzaqirikhsan123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan30 halaman

Definisi dan Komponen Pariwisata

Dokumen ini membahas tentang pariwisata, termasuk pengertian, atraksi wisata, dan komponen-komponen yang terkait. Pariwisata didefinisikan sebagai aktivitas perjalanan sementara untuk mendapatkan pengalaman dan kepuasan, sedangkan atraksi wisata mencakup daya tarik yang menarik pengunjung. Selain itu, dokumen juga menjelaskan tentang fasilitas, aksesibilitas, dan pelayanan tambahan yang mendukung kegiatan wisata.

Diunggah oleh

dzaqirikhsan123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pariwisata

1. Pengertian Pariwisata

Secara etimologi, kata pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri atas

dua kata yaitu pari dan wisata. Pari berarti “banyak” atau “berkeliling”, sedangkan

wisata berarti “pergi” atau “bepergian”, dalam bahasa Inggris disebut dengan kata

“tour”, sedangkan untuk pengertian jamak, kata “Kepariwisataan” dapat digunakan

kata “tourisme” atau “tourism”.

Menurut Prof. Salah Wahab dalam Suwena, Pariwisata itu merupakan suatu

aktifitas manusia yang dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara

bergantian diantara orang-orang dalam suatu negara itu sendiri (di luar negeri),

meliputi pediaman orang dari daerah lain (daerah tertentu), suatu negara atau benua

untuk sementara waktu dalam mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda

dengan apa yang dialaminya dimana ia memperoleh pekerjaan.2

Menurut James J. Spillane dalam Suwena, pariwisata adalah kegiatan melakukan

perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui

sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan

2
Ketut Suwena and Ngurah Widyat Maja, Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata (Pustaka Larasan, 2017).

9
tugas, dan berziarah.3 Sedangkan Menurut Soekadijo dalam Suwena, pariwisata

adalah gejala yang kompleks dalam masyarakat, di dalamnya terdapat hotel, objek

wisata, souvenir, pramuwisata, angkutan wisata, biro perjalanan wisata, rumah makan

dan masih banyak lagi.4 Berdasarkan dari teori diatas menurut James. Spillane dan

Soekadijo pariwisata adalah kegiatan perjalanan seseorang yang didalamnya

mempunyai komponen yang berupa hotel objek wisata dan lain sebagainya.

Menurut Suwantoro dalam Suwena, pariwisata adalah suatu proses kepergian

sementara dari seseorang atau lebih menuju temat lain di luar tempat tingalnya karena

suatu alasan dan bukan melakukan kegiatan yang menghasilkan uang sedangkan

menurut Koen Meyers dalam Suwena, pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang

dilakukan untuk sementara waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan

alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk bersenang-

senang, memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau waktu libur

serta tujuan-tujuan lainnya.5

Jadi bisa disimpulkan dari teori diatas bahwasannya pariwisata adalah aktivitas

perjalanan sementara menuju suatu negara atau daerah yang dilakukan manusia untuk

memperoleh pengalaman dan kepuasan yang mana didalamnya terdapat hotel, objek

3
Suwena and Widyat Maja.
4
Suwena and Widyat Maja.
5
Suwena and Widyat Maja.

10
wisata, souvenir, pramuwisata, angkutan wisata, biro perjalanan serta rumah makan

dan bukan untuk mendapatkan uang.

2. Atraksi Wisata

Daya Tarik Wisata atau Atraksi wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan

seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan

rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang

dikunjungi dalam jangka waktu sementara objek wisata merupakan tempat yang

menjadi pusat daya Tarik dan dapat memberikan kepuasan khususnya pengunjung.6

Menurut Chafid Fandeli dalam Nuraeni, objek wisata adalah representasi dari tata

hidup manusia, seni, budaya, dan sejarah, serta tempat dan kondisi alam yang menarik

bagi turis. Sementara itu, menurut Yoeti dalam Nuraeni, objek wisata adalah energi

menarik wisatawan yang tidak perlu direncanakan sebelumnya dan dapat dinikmati

secara instan.7

Menurut Maryani dalam Sri Wahyuni, Yang menyatakan bahwasannya suatu

daya tarik wisata dapat menarik untuk dikunjungi wisatawan jika memenui syarat-

syarat sebagai berikut:

6
Suwena and Widyat Maja.
7
Nuraeni L, ‘ANALISIS KEPUASAN PENGUNJUNG PADA OBJEK WISATA PANTAI GALESONG DI KABUPATEN
TAKALAR PROVINSI SULAWESI SELATAN’ (Universitas Muhammadiah Makasar, 2018).

11
1. What to see, artinya di tempat tersebut harus ada objek dan atraksi wisata

yang berbeda dengan yang dimiliki daerah lain. Hal tersebut berarti bahwa

daerah tersebut harus memiliki daya tarik khusus dan atraksi budaya

sebagai hiburan (entertainment) bagi wisatawan.

2. What to do, artinya di tempat tersebut harus di sediakan fasilitas rekreasi

yang dapat membuat wisatawan betah untuk tinggal lebih lama.

3. What to buy, artinya adanya di daerah tujuan wisata harus tersedia fasilitas

untuk berbelanja (tempat Souvenir dan kerajinan tangan) sebagai oleh-

oleh untuk dibawa ke tempat asal.

4. What to arrived, artinya adanya kemudahan aksesibilitas untuk

menunjang daya tarik wisata, seperti kendaraan yang digunakan dan

berapa lama untuk tiba di tempat tujuan.

5. What to stay, artinya pada daerah tujuan wisata terdapat tempat untuk

wisatawan tinggal selama berlibur.8

Sementara itu menurut yoeti dalam Sri Wahyuni menyatakan bahwasannya

atraksi atau daya tarik wisata (attraction) yang akan dijual kepada wisatawan, harus

memenuhi tiga persyaratan, yaitu :

1) Something to see.

2) Something to do.

8
Wahyuni Sri, ‘PERBANDINGAN RELATIF KUALITAS ATRAKSI WISATA PANGANDARAN TERHADAP DESTINASI
WISATA KELAS DUNIA’ (INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL BANDUNG, 2020).

12
3) Something to buy.9

Menurut yoeti atraksi merupakan motivasi bagi wisatawan, mengapa ia

memilih suatu DTW tertentu untuk dikunungi diantara lain adalah: a) Natural

Attraction, b) Building Attraction, c) Cultural Attractions, d) Social Attractions.10

Sedangkan menurut Suwena & Widyatmaja atraksi ialah komponen signifikan yang

dapat menarik wisatawan. Terdapat banyak sekali alasan pada saat wisatawan

berkunjung ke suatu destinasi.11Umumnya wisatawan yang berkunjung ke suatu

destinasi wisata untuk menikmati hal-hal yang tidak bisa mereka nikmati setiap hari.

Ada tiga modal atraksi yang menarik pengunjung, yaitu:

(1) Istilah "daya tarik wisata alam" mengacu pada daya tarik wisata yang lebih

banyak didasarkan pada keindahan dan keunikan alam, seperti kemampuan

untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam, deburan ombak, dan pantai

dengan pasir putih yang indah.

(2) Daya tarik wisata budaya adalah daya tarik wisata yang lebih banyak

didasarkan pada hasil karya dan kreasi manusia, baik berupa peninggalan

budaya (situs/warisan budaya) maupun budaya yang masih hidup (budaya

masyarakat setempat). adapun contoh daya tarik wisata budaya di Indonesia

9
Sri.
10
Oka Yoeti, Tours and Travel Marketing (PT Pradnya Paramita, 2016).
11
Suwena and Widyat Maja.

13
yang banyak dikunjungi wisatawan adalah situs-situs budaya, museum, desa

tradisional, dan kawasan kota lama.

(3) Daya tarik wisata buatan daya tarik buatan merupakan daya tarik buatan

manusia yang diluar dari kegiatan wisata alam dan wisata budaya. Daya tarik

wisata buatan manusia ini memiliki fasilitas yang bisa menunjang aktivitas

wisatawan seperti fasilitas rekreasi/wahana hiburan, fasilitas tempat istirahat

dan lain sebagainya.12

Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwasannya daya tarik wisata atau atraksi

wisata adalah daya tarik suatu tempat yang menjadi kunjungan karena memiliki

keindahan dan nilai baik dalam bentuk alami, buatan manusia, sejarah dan budaya

yang bersifat statis ataupun intangible yang mempunyai syarat something to

see,something to do, something to buy, something to arrived, dan something to stay.

3. Indikator Atraksi

Menurut Alvianna dan Ningtyas dalam Salsabila, atraksi wisata memiliki ciri

khas sebagai berikut :

1) Panorama yang terdiri dari lingkungan,alam, dan pemandangan wisata

2) Keunikan yang memiliki konsep dan tema yang menarik wisatawan untuk

berkunjung.

12
Suwena and Widyat Maja.

14
3) Keindahan yang memiliki atraksi wisata yang dapat menarik wisatawan

dengan keindahannya.

4) Kesenian yang memiliki atraksi wisata yang memiliki konsep seni dan

edukasi.13

4. Fasilitas (Amenities)

Menurut Yoeti yang termaksud dalam kelompok ini adalah semua fasilitas yang

fungsinya memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal untuk sementara waktu di

DTW yang dikunjungi, dimana mereka dapat santai menikmati dan berpartisipasi

dalam kegiatan yang tersedia di DTW tersebut termaksud di dalamnya berupa : a)

Accommodation Units, b) Restaurants, Bars and Cafes. c) Transport at the

Destination. d) Sport & Activities, e) Other Facilites : Craft Course,Languange

Schools. f) Retail Otlets, g) Other Services : Hairdressing, Information Services, and

Tourist Polices.14

Menurut I Ketut Suwena & I Gusti Ngurah Widyatmaja, pengertian fasilitas

(amenities) adalah segala macam prasarana dan sarana yang diperlukan oleh

13
Sahda Salsabila and Theodosia C. Nathalia, ‘Pengaruh Atraksi Wisata Dan Fasilitas Terhadap Kepuasan
Pengunjung Di Taman Mini Indonesia Indah Pasca Revitalisasi’, Journal Of Tourism And Economic, 6.2
(2023), pp. 195–206, doi:10.36594/jtec/e6v6n2a5.
14
Yoeti, Tours and Travel Marketing.

15
Wisatawan mencakup hal-hal seperti penginapan (akomodasi), tempat makan

(restoran), mobil atau transportasi, dan agen perjalanan.15

5. Aksessibilitas (Accessibilities)

Menurut Yoeti accessibilites merupakan unsur-unsur kemudahan yang

disediakan bagi wisatawan untuk berkunjung dan untuk itu mereka harus membayar

dengan harga yang wajar, diantaranya:

a. Infrastructure : Highway, Airports, Railways, seaports.

b. Equitment : Size, speed, and Range of public transport vehicles.

c. Opration Factors : Route operated, Frequency of Services, Price

Charged.

d. Government Retransgulation : The Range of Regulatory Control over port

Operations.16

Sedangkan menurut I Ketut Suwena & I Gusti Ngurah Widyatmaja accessibilites

adalah jalan ataupun pintu utama menuju wilayah tujuan wisata access berarti dalam

aktivitas pariwisata. Airport, pelabuhan, halte, serta seluruh berbagai jasa transportasi

yang lain jadi access berarti dalam pariwisata. Sebaliknya, transferabilitas adalah

15
Suwena and Widyat Maja.
16
Yoeti, Tours and Travel Marketing.

16
kemudahan bergerak dari satu area ke area lain. Pariwisata tidak akan ada tanpa

kemudahan transfer. Selain itu, faktor-faktor berikut memungkinkan transferabilitas:

1. Sambungan antara wilayah. Konektivitas antardaerah, juga disebut sebagai

ikatan antar daerah, berkaitan dengan determinan perjalanan wisata, yaitu

komplementaritas antara motif ekspedisi dan atraksi wisata. Jika ada orang di

wilayah tertentu yang memiliki motif untuk melakukan ekspedisi tertentu, ada

atraksi wisata yang cocok dengan motif tersebut, sehingga orang mungkin

ingin melakukan ekspedisi ke wilayah tersebut. Di sini, konektivitas berarti

komplementaritas antar area.

2. Tidak ada hambatan yang menghentikan transfer antar wilayah, dan

3. ada fasilitas angkutan antar wilayah yang tersedia.17

6. Pelayanan Tambahan (Ancillary service)

Menurut I Ketut Suwena & I Gusti Ngurah Widyatmaja Pemerintah daerah suatu

daerah tujuan wisata wajib memberikan pelayanan tambahan (ancillary services) atau

biasa disebut pelayanan pelengkap kepada wisatawan dan peserta wisata. Layanan

yang diberikan meliputi: pemasaran, pembangunan fisik (jalan raya, rel kereta, air

minum, listrik, telepon, dan lain-lain) serta mengkoordinir segala macam aktivitas

17
Suwena and Widyat Maja.

17
dan dengan peraturan perundang-undangan baik di objek wisata maupun di jalan raya.

Misalkan, wisatawan memperoleh pelayanan informasi di Tourism Information

Center (TIC), baik berupa penjelasan langsung maupun bahan cetak seperti brosur,

buku, leaflet, poster, peta dan lain sebagainya. Jasa pendukung lainnya yang sangat

penting adalah jasa pemandu. Pemandu harus memahami informasi mengenai daerah

tempat ia bekerja. Pengetahuan tentang pelayanan dan keramahtamahan juga sangat

diperlukan. Pemandu tidak hanya sekedar memberikan informasi, tapi juga harus

dapat meningkatkan kesadaran wisatawan untuk menghormati alam dan budaya

setempat. Jasa pendukung tersebut sangat tergantung pada daerah atau tujuan wisata,

semakin terpencil, maka jasa pendukung akan semakin minim. Namun hal ini

umumnya dapat dimaklumi karena wisatawan yang memilih pergi ke tempat terpencil

sudah mempersiapkan diri dengan kondisi lapangan yang terbatas.18

B. Wisata Budaya

1. Komponen Wisata Budaya

wisata budaya mempunyai komponen di dalamnya, menurut buku Pedoman

Pengembangan Wisata Sejarah Dan Warisan Budaya dijelaskan terdapat terdapat

empat (4) komponen, yaitu:

18
Suwena and Widyat Maja.

18
1) Produk Budaya

Produk warisan budaya dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud.

Kategori warisan budaya berwujud terdiri dari dua kategori: warisan budaya

yang bergerak (misalnya, manuskrip, lukisan, patung, dll.) dan warisan

budaya tak bergerak (misalnya, bangunan bersejarah, situs arkeologi,

monument, dll.) dan warisan budaya tidak berwujud (misalnya, seni

pertunjukan, museum, dll.).

2) Produk naratif

Produk budaya yang dipilih selanjutnya akan diartikan dan diinterpretasikan

oleh ahli. Produk interpretasi bertujuan untuk menyampaikan topik-topik

penting yang berkaitan dengan suatu tempat atau produk budaya (interpretasi

tempat). Produk ini sangat penting untuk menjelaskan nilai atau makna dari

produk budaya tertentu yang orang awam tidak dapat membaca atau

menikmatinya.

3) Produk wisata

Rencana perjalanan (itinerary) dan durasi perjanan wisata termasuk dalam

produk ini. Wisatawan dapat menggunakan pola perjalanan untuk

melanjutkan perjalanan di dalam atau antar lokasi. Ada kemungkinan bahwa

pola perjalanan ini adalah upaya sistematis untuk mengumpulkan barang

budaya dan naratif di satu lokasi untuk dipajang atau digunakan wisatawan.

19
Destinasi ini memiliki nilai yang signifikan dan kisah menarik tentang

warisan benda dan benda tak benda.

4) Produk destinasi

Produk ini mencakup layanan dan fasilitas tambahan seperti amenitas,

infrastruktur pendukung, dan aksesibilitas wisata. Ini juga dianggap sebagai

model manajemen kelola wisata budaya dan sejarah yang sangat penting

untuk pengembangan masa depan.19

2. Penyajian Dan Penyimpanan Koleksi Museum

Museum mempunyai koleksi untuk dipamerkan dan diinformasikan kepada

pengunjung yang datang agar pengunjung yang datang dapat menikmati

kunjungannya terhadap museum. Koleksi yang tidak dipamerkan disimpan dalam

ruang penyimpanan (storage).20 Supaya tidak terjadi kebosanan kepada pengunjung

perlu diadakan pergantian koleksi yang dipamerkan dengan yang disimpan. Menurut

Yogaswara dalam Susilo, koleksi yang berada baik di ruang pamer maupun diruang

simpan harus cukup terlindung dari api, coretan dan bencana alam. Perlu ditetapkan

prosedur penanganan dalam keadaan darurat.

19
Wayan Giri Adnyani, Pedoman Pengembangan Wisata Sejarah Dan Warisan Budaya (Pesona Indonesia,
2019).
20
Susilo SH, ‘MUSEUM IKLAN DAN WADAH KOMUNITAS DESAIN GRAFIS DI DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA’ (UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA, 2017).

20
Ada beberapa macam pameran di museum yaitu: (1) pameran tetap, (2) pameran

temporen, dan (3) pameran di ruang terbuka. Pameran perlu memperhatikan penataan

benda koleksinya, dalam penataan pameran yang perlu diperhatikan antara lain:

1) Sasaran idealnya

Maksud dan tugas harus direncanakan oleh kurator yang bersangkutan.

Kurator harus memperhatikan segala akibat dan berpikir matang sebelum

mengadakan pameran agar pameran tersebut tidak terjadi secara kebetulan,

karena yang akan mengunjunginya adalah kalangan luas, yaitu orang-orang

dengan keinginan dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda

2) Persyaratan teknis

Maksud dan tugas harus direncanakan oleh kurator yang bersangkutan.

Kurator harus memperhatikan segala akibat dan berpikir matang sebelum

menyelenggarakan suatu pameran agar pameran tersebut tidak terjadi secara

kebetulan, karena pengunjungnya adalah berbagai kalangan, yaitu masyarakat

yang mempunyai keinginan dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda.

a) Tata pameran, meliputi segala penataan yang dimulai dengan

menempatkan koleksi di dalam gedung. Untuk pameran terdapat beberapa

sistematika, di antaranya system periode, system disiplin ilmu, regional,

dan system benda sejenis.

21
b) Cahaya (lighting), baik cahaya alam ataupun buatan harus memenuhi

persyaratan ideal dari segi koleksi, keindahan, dan penerangan.

c) Label, harus padat, ringkas dan dapat dimengerti. Dilihat dari bentuk atau

tempatnya harus indah dan jelas bagi bagi selururh kalangan masyarakat.

d) Kondisi udara, sirkulasi udara di dalam ruangan pameran harus

memenuhi persyaratan yang baik, baik bagi koleksi maupun pengunjung.

e) Peralatan audiovisual, untuk memperjelas dapat digunakan sound

system dan film.

f) Lukisan dan diorama, digunakan untuk menerangkan peristiwa sejarah.

g) Keamanan, keamanan museum harus mendapatkan perhatian serius,

diupayakan koleksi yang peka dihindarkan dari sentuhan pengunjung, dan

bantuan dari bagian keamanan sangat diperlukan. Bila dalam keadaan

perang (kerusuhan), keamanan museum harus diatur dalam tingkat

nasional.

h) Lalu lintas pengunjung, sangat diperlukan kedisiplinan dan pengaturan

sirkulasi pengunjung. Perhatian pengunjung akan berkurang apabila

suasananya berdesak-desakan, selain itu bahaya pencurian dalam kondisi

seperti itu sangat besar. Penataan dalam di ruang. Selain itu, dengan

22
pertimbangan yang berdasarkan sejarah maka benda-benda tersebut

dipamerkan di tempat peristiwa itu terjadi.21

3. Pertunjukan Wayang

Di dalam pertunjukan sebuah wayang tentu ada elemen atau unsur wayang yang

diperlukan ataupun mendukung seperti musik, tema, property, kostum, panggung dan

penonton. Menurut [Link] ada tiga unsur untuk menjalankan pertunjukan

wayang yaitu:

1) Dalang

Dalang merupakan tokoh utama dalam teater wayang. Seorang dalang

bertugas menuturkan kisah pewayangan sebagai pemain watak. Untuk itu, ia

harus bisa menirukan suara tokoh dan menyuarakan dialog.

2) Niyaga

Niyaga dikenal sebagai pengrawit atau penabun gamelan yang membantu

dalang untuk mengiringi pertunjukan wayang wayang.

21
SH.

23
3) Waranangga

Waranangga adalah wanita pelantun tembang-tembang atau lagu dalam

pertunjukan wayang.22

4. Workshop

Workshop adalah salah satu aktivitas dalam museum wayang yang bertujuan

untuk mengajarkan peserta bagaimana cara pembuatan wayang, menurut GreatNusa

(2023) workshop adalah suatu bentuk pembelajaran yang fokus pada interaksi

langsung antara peserta dan instruktur atau fasilitator. Dalam workshop, peserta aktif

terlibat dalam kegiatan belajar yang praktis dan interaktif, seperti diskusi kelompok,

latihan, studi kasus, dan simulasi.23 Sedangkan workshop menururt kamus Oxford,

workshop adalah pertemuan dimana sekelompok orang terlibat dalam diskusi dan

aktivitas insentif tentang topik atau proyek tertentu. Jadi bisa disimpukan

bahwasannya workshop adalah suatu perkumpulan seseorang dalam bentuk

pembelajaran yang berfokus pada peserta dan instruktur atau fasilitator yang

keduanya saling berdiskusi tentang topik atau proyek tertentu.

Dikutip dari deepublish store, adapun point di dalam workshop adalah sebagai

berikut:

22
‘Mengenal Kesenian Wayang: Jenis, Unsur, Dan Prestasi’
<[Link]
[accessed 4 June 2024].
23
‘Workshop Adalah: Definisi, Manfaat, Dan Tips Memilihnya’ <[Link]
adalah/> [accessed 4 June 2024].

24
1) Komunikasi dua arah

2) Peserta menerima materi berupa teori dan praktik

3) Jumlah peserta terbatas agar efektif

4) Peserta berperan aktif.24

5. Wisatawan

Menurut I Ketut Suwena & I Gusti Ngurah Widyatmaja dalam bukunya, Secara

etimologis, kata "wisatawan" berasal dari kata sansekerta "wisata", yang berarti

"perjalanan" atau "travel" dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, kata "wisatawan"

berarti "perjalanan", tetapi dalam pengertian umum orang Indonesia, kata

"wisatawan" tidak selalu dikaitkan dengan kata "tourist" dalam bahasa Inggris.

Namun, jika kita memperhatikan kata "tourist", itu berasal dari kata "tour", yang

berarti perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Orang yang melakukan perjalanan

"tour" ini disebut "tourist" di Inggris.25

Menurut Yoeti, istilah wisatawan harus diartikan sebagai seseorang, tanpa

membedakan ras, kelamin, bahasa, dan agama, yang memasuki wilayah suatu negara

yang mengadakan perjanjian yang lain daripada negara di mana orang itu biasanya

tinggal dan berada di situ tidak kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 6 bulan, di

dalam jangka waktu 12 bulan berturut-turut, untuk tujuan non imigrasi yang legal,

24
Deepublish Store, ‘Workshop adalah: Pengertian, Jenis dan Contoh’, Deepublish Store, 2024
<[Link] [accessed 4 June 2024].
25
Suwena and Widyat Maja.

25
seperti: perjalanan wisata, rekreasi, olah raga, kesehatan, alasan keluarga, studi,

ibadah keagamaan, atau urusan usaha (business).26

Menurut UU RI Nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, wisatawan adalah

orang yang melakukan wisata. Sedangkan menurut Suwantoro 2004 wisatawan

(tourist) yaitu seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu perjalanan

wisata, jika lama tinggalnya sekurang-kurangnya 24 jam maka mereka disebut

(excursionist). Jika disimpulkan dari kedua teori tersebut wisatawan adalah seseorang

atau rombongan orang yang melakukan kegiatan wisata dan jika lama tinggalnya

sekurang-kurangnya 24 jam atau menginap maka mereka disebut (excursionis).

Dapat disimpulkan dari teori diatas bahwasannya wisatawan adalah seseorang

atau suatu kelompok orang yang sedang berkunjung di suatu daerah untuk melakukan

perjalanan/kegiatan wisata, namun tidak untuk tinggal di tempat tujuan maupun untuk

bekerja, dan jika wisatawan itu menginap maka mereka dapat disebut (excursionis).

6. Jenis Dan Macam Wisatawan

Menurut I Ketut Suwena & I Gusti Ngurah Widyatmaja dituliskan dalam

bukunya,27 mengklasifikasi jenis wisatawan sebagai berikut :

26
Oka Yoeti, Pengantar Ilmu Pariwisata (ANGKASA, 2016).
27
Suwena and Widyat Maja.

26
1. Wisatawan asing (foreign tourist)

adalah individu asing yang melakukan perjalanan wisata ke suatu negara yang

tidak biasanya tinggal. (Hal ini biasanya dapat dilihat dari status

kewarganegaraannya, dokumen perjalanan, dan jumlah uang yang

dihabiskannya).

2. Domestic Foreign Tourist

Orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal pada suatu negara, yang

melakukan perjalanan wisata di wilayah negara dimana ia tinggal (seperti orang

yang bekerja di kedutaan besar).

3. Domestic tourist

Seseorang warga negara suatu negara yang melakukan perjalanan wisata dalam

batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan negaranya.

4. Indigenous Foreign Tourist

Orang yang tinggal di luar negeri karena pekerjaan atau tanggung jawab di luar

negeri kembali ke negara asalnya dan mengunjungi wilayah negara asalnya.

5. Transit tourist

Orang yang pergi ke suatu negara dengan kapal udara, kapal laut, atau kereta api

terpaksa mampir atau singgah di suatu pelabuhan, bandara, atau stasiun bukan

atas kemauannya sendiri

27
6. Bussiness tourist

Orang yang melakukan perjalanan (apakah orang asing atau warga negara sendiri)

untuk tujuan lain bukan wisata; namun, perjalanan tersebut akan dilakukan setelah

tujuannya yang utama selesai.

Cohen dalam Suwena juga mengklasifikasikan wisatawan atas dasar familiarisasi

daerah yang hendak dikunjungi, dan tingkat pengorganisasian dari perjalanan wisata

menjadi empat yaitu:

1. Drifter

ialah turis yang mau mendatangi wilayah yang sama sekali belum diketahuinya,

serta bepergian dalam jumlah kecil.

2. Explorerf

ialah turis yang menyerahkan pengetahuan perjalanannya kepada agen ekspedisi,

serta mendatangi wilayah tujuan wisata yang telah populer.

3. Individual mass tourists

wisatawan yang menginformasikan perjalanan mereka kepada agen perjalanan

dan mengunjungi tempat wisata terkenal.

28
4. Organized mass tourists

ialah turis yang cuma ingin mendatangi wilayah tujuan wisata yang telah

diketahui, dengan sarana semacam yang bisa ditemuinya ditempat tinggalnya,

dengan perjalanannya senantiasa dipimpin oleh pemandu wisata.28

C. Kepuasan Pengunjung/Wisatawan

1. Pengertian Kepuasan Wisatawan

Dalam bidang pemasaran pariwisata, salah satu konsep terpenting yang dibahas

adalah siklus kepuasan, loyalitas, dan nilai tamu/wisatawan. Memahami sepenuhnya

tamu adalah cara terbaik untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas tamu serta

memberikan nilai terbaik. untuk pariwisata. Prinsip utama kepuasan adalah

perbandingan antara apa yang diharapkan dengan tingkat kinerja yang dirasakan oleh

wisatawan. Artinya kepuasan itu merupakan perbandingan antara kinerja dan

harapan, jika kinerja produk yang dirasakan lebih tinggi dari harapan maka wisatawan

akan senang atau puas.29

Menurut Kotler dalam Nuraeni, “kepuasan adalah tingkat perasaan dimana

seseorang menyatakan hasil perbandingan atas kinerja produk (jasa yang diterima dan

yang diharapkan)”. Sedangkan menurut Engel dalam Nuraeni, “kepuasan konsumen

merupakan evaluasi purna beli dimana alternative yang dipilih sekurang-kurangnya

28
Suwena and Widyat Maja.
29
Suwena and Widyat Maja.

29
memberikan hasil (outcome) sama atau melampui harapan pelanggan, sedangkan

ketidakpuasan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan

pelanggan”. Sedangkan menurut Rangkuni dalam Nuraeni, ” Kepuasan pelanggan

adalah tanggapan pelanggan terhadap ketidaksesuaian antara kinerja saat ini dan

tingkat kepentingan sebelumnya”.30

Menurut Mowen dalam Nuraeni, “kepuasan konsumen adalah sikap keseluruhan

terhadap suatu barang atau jasa setelah perolehan (acquation) dan pemakaiannya”. 31.

Serta menurut Swan dan Bowers dalam Rahayu, menjelaskan kepuasan sebagai

perilaku pasca [Link] pelanggan melibatkan aspek kognitif dan afektif

dalam fase prapembelian, pembelian, dan pascapembelian.32 Jadi kesimpulan dari

teori yang sudah dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwasannya kepuasan adalah

perasaan pasca pembelian barang atau jasa seseorang yang harapannya terpenuhi.

2. Indikator Kepuasan Pelanggan

Indikator untuk mengukur kepuasan pelangan, menurut Indrasari dalam Ramadhini

adalah:

a. Kesesuaian harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi

disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan

pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.

30
L.
31
L.
32
Sri Rahayu, Kepuasan Dan Loyalitas Pelanggan (Anugrah Jaya, 2019).

30
b. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan

apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.

c. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan

menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa

tersebut kepada orang lain seperti,keluarga,teman,dan lainnya.33

3. Harga

Harga adalah sebuah nilai tukar dari produk barang atau jasa yang pada dasarnya

diakui dalam satuan mata uang seperti Rupiah, Ringgit, Real dan lain sebagainya.

Menurut Tjipto dalam Ramadhini mengatakan bahwa harga merupakan bagian yang

melekat pada produk tersebut. Sedangkan menurut Koler dalam Ramadhini harga

adalah sejumlah uang yang dibayarkan atas jasa, atau jumlah nilai yang konsumen

tukar dalam rangka mendapatkan manfaat dari memiliki atau menggunakan barang

atau jasa. Dapat disimpulkan dari kedua teori tersebut harga adalah nilai yang dapat

ditukar oleh konsumen untuk mendapatkan barang atau jasa yang sesuai dengan

kualitas yang ditawarkan.34

33
Ramadhini Nur Syafitri, ‘PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN
PELANGGAN E-COMMERCE SHOPEE PADA JASA PENGIRIMAN BARANG SICEPAT HALU DI JAKARTA’ (Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, 2022).
34
Nur Syafitri.

31
Tabel 2.2 Indikator Kepuasan Pengunjung Museum Wayang

Pameran koleksi a. Menurut saya semua jenis

(sumber Susilo 2011) koleksi wayang di museum

seusai harapan

b. Menurut Saya koleksi alat

musik terlihat bagus

c. Menurut saya koloeksi

panggung di museum terlihat

bagus

d. Menurut saya label informasi

pada benda koleksi dapat dibaca

dengan jelas

e. Menurut saya tata letak koleksi

yang disediakan nyaman untuk

di lihat

f. Menurut saya pencahayaan di

dalam museum baik

g. Menurut saya lalu lintas

pengunjung di Museum

membuat nyaman

32
h. Setelah melihat koleksi museum

saya berniat berkunjung kembali

i. Setelah melihat koleksi museum

saya berniat merekomendasikan

museum ini kepada

teman/kerabat

Workshop pembuatan wayang a. Menurut saya ruangan

(Sumber [Link], GreatNusa) workshop terasa nyaman

b. Saya merasa puas dengan

interaksi instruktur yang baik

c. Menurut saya kegiatan

workshop sesuai harapan

d. Menurut Saya alat dan bahan

untuk membuat wayang

memadai

e. Setelah melakukan kegiatan

workshop Saya bersedia

berkunjung kembali

f. Setelah melakuan kegiatan

workshop Saya bersedia

33
merekomendasikan museum

wayang kepada teman/kerabat

Sumber : Susilo 2011 dan [Link], GreatNusa

D. Museum Sebagai Destinasi Wisata Budaya

1. Pengertian Dan Fungsi museum

Museum adalah salah satu bentuk pendidikan informal di mana orang dapat

memperoleh perspektif, keterampilan, nilai, dan pengalaman belajar sepanjang usia.

Menurut asal kata "museum", Mouseion, yang berasal dari Bahasa Latin, artinya

adalah sebuah kuil atau tempat untuk sembilan Dewi Muses, anak-anak dari Dewa

Zeus, yang bertanggung jawab untuk menghibur mereka. Mouseion juga digunakan

sebagai tempat penelitian, tempat kuliah, perpustakaan, dan cendekiawan.

Museum adalah lembaga nirbala yang bersifat permanen yang membantu

masyarakat dan perkembangan mereka. Tugas museum adalah mengumpulkan,

melestarikan, meneliti, mengomunikasikan, dan memamerkan warisan sejarah

manusia dalam bentuk benda dan tak benda serta lingkungannya untuk tujuan

pembelajaran, penelitian, dan rekreasi.

Beberapa tugas museum juga disusun oleh ICOM, seperti mengumpulkan dan

menjaga warisan alam dan budaya, dokumentasi dan penelitian ilmiah, konservasi

34
dan preservasi, pengenalan kebudayaan internasional dan regional, penyebaran dan

pemerataan ilmu untuk umum, pengenalan dan penghayatan budaya, cermin

pertumuhan peradaban manusia, dan visualisasi warisan alam dan budaya. Pupuk rasa

syukur dan taqwa kepada Tuhan YME.

E. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini ada beberapa penelitian terdahulu atau jurnal yang

mempunyai hubungan dengan penelitian ini, dengan persoalan yang diteliti mengenai

kepuasan pengunjung dalam menikmati atraksi wisata di Museum Wayang Kota Tua

Jakarta. Adapun penelitian terdahulu sebagai berikut :

1. Selly Novita (2021)

Judul “Analisis Kepuasan Pengunjung Pada Objek Wisata Taman Rusa Aceh

Besar”. Persamaan penelitian ini mengkaji variabel kepuasan pengunjung dan

juga menggunakan pendekatan kuantitatif.

2. Boby Dimas Parwoto dkk (2020)

Judul “Penataan Benda Koleksi Museum Terhadap Pengunjung di Museum

Wayang dan Museum Sejarah Jakarta Kawasan Kota Tua Jakarta”. Persamaan

penelitian ini mengkaji variabel kepuasan pengunjung dan juga menggunakan

pendekatan kuantitatif serta bertempatan juga di Museum Wayang.

35
3. Aisha Astriecia (2018)

Judul “Kepuasan Pengunjung Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Serta

Konsep Pengembangannya”. Persamaan penelitian ini adalah mengkaji variabel

kepuasan pengunjung dan juga menggunakan pendekatan kuantitatif.

4. Nuraeni L (2018)

Judul “Analisis Kepuasan Pengunjung Pada Objek Wisata Pantai Galesong Di

Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan”. Persamaan penelitian ini

mengkaji variabel kepuasan pengunjung.

F. Kerangka berfikir

Produk pariwisata adalah kumpulan produk yang terpadu yang terdiri dari

objek wisata, daya tarik, transportasi, akomodasi, dan hiburan. Setiap komponen telah

disiapkan oleh setiap perusahaan dan ditawarkan secara terpisah kepada wisatawan

dan pengunjung. Pengunjung Museum Wayang menikmati pameran, pertunjukan

wayang, dan kelas pembuatan wayang, yang merupakan produk yang diteliti

penelitian ini.

Tingkat Kepuasan adalah tingkat kepuasan seorang pengunjung atau

wisatawan setelah melakukan dan menikmati sesuatu, baik barang maupun jasa. Ini

disebabkan oleh kebutuhan dan keinginan pengunjung terhadap produk wisata yang

memenuhi standar pelayanan dan barang. Wisatawan dan pengunjung yang puas akan

36
merespons objek wisata dengan baik, baik untuk kunjungan ulang maupun untuk

memberi tahu teman tentangnya.

Tabel 2.3 Kerangka Berfikir

Museum Wayang

Analisis Kepuasan

Kepuasan:
Atraksi:
Bagaimana
Pameran Koleksi kepuasan
pengunjung
Workshop
terhadap koleksi
pembuatan wayang
museum
Bagaimana
kepuasan workshop

Kepuasan pengunjung

37
G. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di

mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat

pertanyaan.35 Adapun hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut ialah :

1. H0 : Tingkat kepuasan pengunjung terhadap atraksi wisata di Museum

Wayang berada kategori tidak puas.

2. H1 : Tingkat kepuasan pengunjung terhadap atraksi wisata di Museum

Wayang berada pada kategori puas.

Penjelasan:

1. Hipotesis Nol (H0):

Hipotesis ini menyatakan bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap atraksi

wisata di Museum Wayang berada pada kategori tidak puas. Artinya, pengunjung

merasa kurang puas atau senang dengan atraksi wisata yang disajikan oleh

Museum Wayang.

2. Hipotesis Alternatif (H1):

Hipotesis ini menyatakan bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap atraksi

wisata di Museum Wayang berada pada kategori puas. Artinya, pengunjung

merasa puas atau suka dengan atraksi wisata yang disajikan oleh Museum

Wayang.

35
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods) (ALFABETA, 2017).

38

Anda mungkin juga menyukai