1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sistem pendidikan di Indonesia seiring jalannya waktu telah melalui
berbagai macam perubahan. Perubahan-perubahan itu dilakukan sebagai usaha
pembaharuan untuk memajukan mutu pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan
nasional semakin mengalami kemajuan, pendidikan di sekolah-sekolah telah
menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena
terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru
selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan
semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan
bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan nasional yang mencakup seluruh
komponen yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan nasional barulah ada
artinya apabila dalam pendidikan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran
sejarah siswa terlihat kurang antusias, daya kreativitasnya rendah, dan siswa
bersikap acuh tak acuh. Sebabnya mungkin karena guru kurang menguasai materi
dan strategi pembelajarannya kurang tepat sehingga kurang memiliki daya
dukung.
Tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian melalui
pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi maupun
masyarakat, serta mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas
dan berkarakter.
2
Untuk tercapainya tujuan Pendidikan tersebut, telah ditempuh berbagai
upaya oleh pemerintah. Upaya-upaya tersebut hampir mencakup seluruh
komponen pendidikan seperti pengadaan buku-buku pelajaran, peningkatan
kualitas guru, proses pembelajaran, pembaharuan kurikulum, serta usaha lainnya
yang berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Belum lama ini, telah terjadi pergeseran pendekatan sistem mengajar yaitu
dari guru yang mendominasi kelas menjadi guru sebagai fasilitator dalam proses
pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus
menciptakan kondisi belajar yang aktif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran harus
menantang, mendorong eksplorasi member pengalaman sukses, dan
mengembangkan kecakapan berfikir siswa (Dimyati, 2006:116).
Penerapan metode pembelajaran dan alat peraga yang dipilih guru
merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas pembelajaran. Hamalik
(2010:22) juga menyatakan bahwa, “untuk lebih mengefektifkan komunikasi dan
interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran, di
sekolah perlu digunakan metode dan teknik pembelajaran yang tepat”.
Berdasarkan pendapat teersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas
pembelajaran akan meningkat jika guru mampu menciptakan kondisi belajar yang
aktif, kreatif, dan mengefektifkan komunikasi interaksi guru dan siswa
menggunakan metode diskusi dengan media pembelajaran yang tepat.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penerapan metode diskuis dan
penggunaan media belum tampak diterapkan secara optimal. Hal ini ditunjukkan
oleh tindakan guru pada saat mengajar. Guru hanya menggunakan buku pegangan
yang ada dan hanya mengandalkan metode ceramah, tanpa menggunakan media
yang sesuai dengan materi. Akibatnya aktivitas, partisipasi, dan hasil belajar siswa
menjadi rendah.
Dalam rangka meningkatkan hasil belajar IPS kiranya diperlukan strategi
pembelajaran yang tepat serta metode pembelajaran yang bervariasi. Metode
pembelajaran bervariasi adalah pemanfaatan berbagai macam metode
pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Salah satunya, yakni penggunaan
metode diskusi yang dibimbing langsung oleh guru secara lebih mendalam.
3
Dengan pembelajaran seperti ini siswa akan memperoleh pemahaman yang
mendalam dari kejadian-kejadian yang lebih luas. Bahkan nilai-nilai yang dapat
dipetik oleh para siswa dalam peristiwa tersebut juga dapat dicapai dengan baik.
Sebab belajar sejarah pada hakekatnya adalah belajar dari pengalaman masa
lampau untuk kepentingan masa sekarang.
Aktivitas dan hasil belajar siswa yang rendah, khususnya pada mata
pelajaran IPS merupakan permasalahan yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran. Permasalahan dalam kegaiatan pembelajaran dapat ditinjau dari
beberapa aspek. Ditinjau dari aspek siswa, yang mempengaruhi hasil belajar
muncul dari factor internal dan eksternal. Dimyati, (2016:34) mengatakan bahwa
faktor internal siswa meliputi sikap terhadap belajar, motivasi berprestasi,
konsentrasi belajar, mengolah bahan belajar, menyimpan perolehan hasil belajar,
menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi, kebiasaan belajar
dan cita-cita siswa, sedangkan faktor eksternal dapat berupa guru, sarana dan
prasarana, kebijakan penilaian, lingkungan social, dan kurikulum sekolah.
Karena rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V.2 SD Kebalen
02 khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial , maka dilaksanakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang
ada dengan judul: UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL
BELAJAR SISWA KELAS V.2 SDN KEBALEN 02 MELALUI
PENGGUNAAN METODE DISKUSI PADA MATA PELAJARAN IPS.
Metode ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa,
partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap, motivasi, dan kemampuan
berbicara. Dengan menerapkan metode diskusi diharapkan dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa SD kelas V.2 SDN Kebalen 02 khususnya mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang timbul dalam
pembelajaran telah diidentifikasikan sebagai berikut :
4
a. Rendahnya aktivitas baik berupa partisipasi maupun minat siswa dalam
pembelajaran IPS
b. Hasil belajar IPS siswa masih dalam kategori kurang
c. Motivasi siswa dalam belajar IPS kurang
2. Analisis Masalah
Berdasarkan identifikasi tersebut diatas, dapat dianalisis bahwa
a. Proses pembelajaran kurang memotivasi siswa
b. Materi yang diajarkan masih belum dipahami oleh siswa secara baik
c. Perlunya penerapan strategi pembelajaran yang efektif unutk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Berdasarkan analisis masalah, alternatif pemecahan masalah atau tindakan
perbaikan yang dapat dan sesuai untuk dilakukan adalah dengan menerapkan
Metode diskusi pada saat pembelajaran IPS tentang Sejarah Peninggalan Masa
Hindu, Buddha, dan Islam untuk memperbaiki aktivitas siswa dan meningkatkan
hasil belajar siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 tahun ajaran 2018/2018.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian ini
difokuskan pada permasalahan pokok sebagai berikut.
1. Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan aktivitas belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02?
2. Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02?
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian perbaikan
pembelajaran yang ingin dicapai sebagai berikut:
5
1. Menerapkan metode diskusi untuk meningkatkan aktivitas belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02
2. Meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V.2
SDN Kebalen 02 dengan menerapkan metode diskusi
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini dilakukan dengan memberi manfaat dalam rangka
permasalahan yang diteliti. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini akan mengkaji metode pembelajaran yang sesuai
untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS melalui metode diskusi.
Dengan demikian temuan penelitian ini akan memperkaya khasanah
pengetahuan di bidang metode pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Dari penelitian ini siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih
bermakna, sehingga siswa menjadi lebih menguasai dan terampil dalam
pembelajaran pemecahan masalah dengan penerapan metode diskusi
sehingga hasil belajar lebih meningkat dalam mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial.
b. Bagi Guru
Informasi hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi serta
masuka berharga bagi para guru dalam melakukan berbagai upaya untuk
meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dengan penerapan
metode diskusi, khususnya dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
dan mata pelajaran lain pada umunya.
c. Bagi Orang Tua Siswa
Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bahwa betapa pentingnya
perhatian orang tua dengan aktivitas dan prestasi belajar putra-putrinya.
Dengan demikian, akan menggugah hati para orang tua siswa untuk
berpartisipasi aktif dalam rangka menyukseskan pendidikan putra-
putrinya.
6
d. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga bagi
kepala sekolah untuk mengambil suatu kebijakan yang paling tepat dalam
kaitan dengan upaya menyajikan strategi pembelajaran yang efektif dan
efesien di sekolah.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil belajar IPS Siswa
1. Hakikat IPS
Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan terjemahan dari (social
studies). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menurut Nursid Sumaatmajda (1984: 10)
diartikan sebagai “ilmu yang mempelajari bidang kehidupan manusia di
masyarakat, mempelajari gejala dan masalah sosial yang terjadi dari bagian
kehidupan tersebut”. Artinya Ilmu Pengetahuan Sosial diartikan sebagai kajian
terpadu dari ilmu-ilmu sosial serta untuk mengembangkan potensi sosial. Di
dalam program sekolah, Ilmu Pengetahuan Sosial dikoordinasikan sebagai
bahasan sistematis serta berasal dari beberapa disiplin ilmu antara lain:
Antropologi, Arkeologi, Geografi, Ekonomi, Geografi, Ekonomi, , Hukum,
Filsafat, Ilmu Politik, Psikologi Agama, Sosiologi, dan juga mencakup materi
yang sesuai dari Humaniora, matematika serta Ilmu Alam.
Berdasarkan dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengajaran IPS
merupakan studi terintregasi tentang kehidupan sosial dari bahan realita
kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.
Dengan demikian IPS memiliki peranan yang sangat penting yaitu untuk
mendidik siswa guna mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar
dapat mengambil bagian secara aktif dalam kehidupannya kelak sebagai anggota
masyarakat dan warga negara yang baik, yaitu warga negara yang bangga dan
cinta terhadap tanah airnya.
Menurut Nana Sudjana (2005: 3) hakikat hasil belajar adalah perubahan
tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Menurut Nana Sudjana (1989: 38-40) hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi
oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang
datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri
8
siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar
sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor
kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar,
minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi,
faktor fisik dan psikis.
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan program pendidikan yang berupaya
mengembangkan pemahaman siswa tentang bagaimana manusia sebagai individu
dan kelompok hidup bersama dan berinteraksi dengan lingkungannya baik fisik
maupun sosial. Pembelajaran Ilmu Pendidikan Sosial ataupun pengetahuan sosial
bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan sosial, yang berguna bagi kemajuan dirinya sebagai individu
maupun sebagai anggota masyarakat (Saidihardjo, 2005: 109).
Dari penjelasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa Pendidikan Ilmu Sosial
merupakan suatu program pendidikan pada siswa untuk mengenal dunia sosial
yang ada di sekitar ligkungannya.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang
diberikan mulai SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji
seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu
sosial.
Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu
dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam
kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik
akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu
yang berkaitan (BSNP, 2006: 159).
Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut:
a. Mengenal konsep- konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
lilngkungannya.
b. Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,
inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
9
c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai- nilai sosial dan
kemanusiaan.
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam
masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global (BSNP,
2006: 159).
2. Hasil belajar IPS
Hasil belajar merupakan segala upaya yang menyangkut aktivitas otak
(proses berfikir) terutama dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses
berfikir ini ada enam jenjang, mulai dari yang terendah sampai dengan jenjang
tertinggi (Suharsimi Arikunto, 2003: 114-115). Keenam jenjang tersebut adalah:
(1) Pengetahuan (knowledge) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat
kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus- rumus dan lain sebagainya,
tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. (2) Pemahaman
(comprehension) yakni kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu setelah
sesuatu itu diketahui dan diingat melalui penjelasan dari kata- katanya sendiri. (3)
Penerapan (application) yaitu kesanggupan seseorang untuk menggunakan ide-
ide umum, tata cara atau Metode pembelajaran- Metode pembelajaran, prinsip-
prinsip, rumus- rumus, teori- teori, dan lain sebagainya dalam situasi yang baru
dan kongkret. (4) Analisis (analysis) yakni kemampuan seseorang untuk
menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian- bagian yang lebih kecil
dan mampu memahami hubungan diantara bagian- bagian tersebut. (5) Sintesis
(synthesis) adalah kemampuan berfikir memadukan bagian- bagian atau unsur-
unsur secara logis, sehingga menjadi suatu pola yang baru dan terstruktur. (6)
Evaluasi (evaluation) yang merupakan jenjang berfikir paling tinggi dalam ranah
kognitif menurut Taksonomi Bloom. Penelitian disini adalah kemampuan
seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide, atas
beberapa pilihan kemudian menentukan pilihan nilai atau ide yang tepat sesuai
kriteria yang ada (Anas Sudijono, 2005: 50- 52).
Pada pendidikan formal, semua bidang studi dan bidang pendidikan harus
memanfaatkan dasar mental yang ada pada tiap anak untuk meningatkan
10
kemampuan mentalnya kearah kematangan dan kedewasaan dalam arti seluas-
luasnya. Oleh karena itu penyelenggara pendidikan dan pengajaran harus
dilaksakan secara teratur, terarah, dan terencana sesuai dengan pengembangan
dasar dan kemampuan mental anak, agar tujuan pendidikan dan pengajaran
tercapai secara maksimal (Nursid Sumaatmadja, 2001: 2).
Dalam kegiatan belajar mengajar setiap guru selalu berusaha melakukan
kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Kegiatan pembelajaran secara efektif disini dimaksudkan agar
pembelajaran tersebut dapat membawa hasil atau berhasil guna, dan kegiatan
pembelajaran secara efisien dimaksudkan agar pembelajaran tersebut dapat
berdaya guna atau tepat guna baik di lingkungan sekolah maupun dalam
kehidupan bermasyarakat.
3. Penilaian hasil belajar IPS
Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek
tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut
berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgment.
Interpretasi dan judgment merupakan tema penilaian yang mengimplikasikan
adanya suatu perbandingan antara kriteria dan kenyataan dalam konteks situasi
tertentu. Atas dasar itu maka dalam kegiatan penilaian selalu ada objek/program,
ada criteria, dan ada interpretasi/judgment. Penilaian hasil belajar adalah proses
pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria
tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar
siswa.
Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku
sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif,
afektif, dan psikomotoris.
Oleh sebab itu, dalam penilaian hasil belajar, peranan tujuan instruksional
yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku yang diinginkan dikuasai siswa
menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian. Penilaian proses belajar
11
adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh
siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran (Nana Sudjana, 2005: 3)
B. Metode Diskusi Terbimbing
1. Pengertian Diskusi
Merupakan cara mengajar dalam pembahasan dan penyajian materinya
melalui suatu problema atau pertanyaan yang harus diselesaikan Berdasarkan
pendapat atau keputusan secara bersama. Dengan model diskusi ini berarti ada
proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat saling tukar
menukar pengalaman, maupun informasi, untuk memecahkan masalah.
Pelaksanaan model diskusi dalam proses belajar mengajar akan dapat
mempertinggi partisipasi siswa secara individual dan mengembangkan rasa
sosial. Selain itu juga merupakan pendekatan yang demokratis serta
mengembangkan kepemimpinan (Soedarno, dkk 2008)
Metode diskusi terbimbing memang belum terbiasa digunakan oleh
guru untuk mata pelajaran sejarah. Mungkin hal ini disebabkan guru belum
mengerti bahwa metode diskusi merupakan metode mengajar yang sangat
efektif untuk menyampaikan materi pelajaran, khususnya materi pelajaran IPS
dibandingkan dengan metode ceramah. Selain itu mungkin guru memang tidak
tahu manfaat dari diskusi terbimbing. Kemungkinan yang lain guru merasa
kawatir kalau siswanya menjadi ribut dan mengacaukan kelas bila
menggunakan metode diskusi terbimbing.
Metode diskusi terbimbing adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran
dengan menugaskan siswa atau kelompok pelajar melaksanakan percakapan
ilmiah untuk mencapai kebenaran dalam rangka mewujudkan tujuan
pengajaran (Karo-karo, 2004 : 25 ) Pendapat tersebut didukung oleh Syaiful
Bahri yang menyatakan metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran
dimana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa
pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan
dipecahkan bersama (Bahri, 1997 : 99).
Metode diskusi dalam batas tertentu dapat dilaksanakan dalam kegiatan
belajar mengajar. Diskusi merupakan suatu pengalaman belajar yang
12
melibatkan dua atau lebih individu dan saling berhadapan muka serta
berinteraksi secara verbal mengenai tujuan dan sasaran tertentu melalui tukar
menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah
(Wahab, 1986 : 320).
Pengalaman berdiskusi banyak memberikan keuntungan kepada siswa.
Hal ini disampaikan antara lain oleh Ulih Bukit yang menunjukkan kelebihan-
kelebihan metode diskusi terbimbing antara lain : (a) dapat berfungsi
mengulangi bahan pelajaran yang telah disajikan, (b) dapat menumbuhkan dan
memperkembangkan sikap dan cara berpikir ilmiah, (c) dapat membina bahasa
para pelajar, (d) dapat memperkecil atau menghilangkan rasa malu / takut
serta dapat memupuk keberanian siswa, (e) dapat memupuk kerja sama,
toleransi dan rasa sosial (Karo-karo, 1984 : 26) Kebaikan-kebaikan metode
diskusi yang tersebut di atas, didukung oleh Aziz Wahab dengan menyebutkan
keuntungan-keuntungan penggunaan metode diskusi, antara lain : siswa akan
memperoleh berbagai informasi dalam memecahkan suatu masalah, dapat
meningkatkan pemahaman siswa terhadap masalah-masalah penting, dapat
mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi serta dapat
meningkatkan keterlibatan siswa dalam perencanaan dan pengambilan
keputusan (Wahab, 1986 : 3.20).
Lebih lanjut Aziz Wahab mengemukakan bahwa diskusi dapat
dilaksanakan dalam kelompok besar dan dapat pula dalam kelompok kecil.
Kegiatan dalam kelompok, walupun terjadi interaksi dan tukar menukar
informasi belum tentu dapat disebut diskusi bila tidak memenuhi persyaratan
tertentu. Kegiatan dan percakapan dalam kelompok baru dapat disebut diskusi
bila memenuhi syarat-syarat : (a) melibatkan kelompok yang terdiri dari 5
sampai 6 anggota, (b) berlangsung dalam interaksi tatap muka secara informal
dimana semua anggota kelompok mendapat kesempatan untuk melihat,
mendengar serta berkomunikasi secara bebas dan langsung, (c) mempunyai
tujuan yang ingin dicapai dalam kerja sama anatara anggota kelompok, (d)
berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju suatu
kesimpulan.
13
Dari berbagai macam model metode diskusi, peneliti ini menggunakan
metode diskusi terbimbing dengan tujuan memperoleh umpan balik mengenai
sejauh mana TKP dapat dicapai serta membantu siswa yang pendiam untuk
mengemukakan pendapatnya.
2. Keunggulan Metode Diskusi
Metode diskusi mempunyai keunggulan, sebagai berikut : (1) siswa
bertukar pikiran, (2) siswa dapat menghayati permasalahan, (3) merangsang siswa
untuk berpendapat, (4) dapat mengembangkan rasa tanggung jawab/solidaritas,
(5) membina kemampuan berbicara, (5) siswa belajar memahami pikiran orang
lain, dan (6) memberikan kesempatan belajar. Metode diskusi digunakan : (1)
untuk memotivasi, perhatian dan minat dalam Berdiskusi, (2) mampu
melaksanakan diskusi, (3) mampu belajar secara bersama, (4) mampu
mengeluarkan isi pikiran atau pendapat, dan (5) mampu memahami pendapat
orang lain.
Diskusi kelas menurut Rusyan (1987 : 152) adalah salah satu diskusi yang
guru sebagai penyaji suatu masalah kepada siswa dan siswa sebagai anggota
diskusi menanggapi pokok masalah yang disampaikan. Menurutnya, pimpinan
diskusi selalu guru dapat dilakukan oleh siswa dan pembicaraan diatur ketua dan
sekertaris diskusi. Lebih lanjut Rusyan berpendapat bahwa dalam diskusi kelas ini
permasalahan yang diajukan akan dicari jalan keluarnya dengan cara menampung
berbagai pendapat, ide atau gagasan. Guru atau siswa yang ditunjuk sebagai
pemimpin diskusi mengambil keputusan atas jalan keluar dari permasalahan yang
dihadapi Rusyan (1997 : 154)
Pemimpin diskusi menurut Roestiyah (1987 : 7) haruslah seorang siswa
yang mengatur pembicaraan agar diskusi berjalan lancar seorang pemimpin
diskusi haruslah seorang yang memahami dan menguasai masalah yang akan
didiskusikan, berwibawa, dan disegani temantemannya, berbahasa baik dan
lancar, dapat bertindak tegas, adil dan demokratis serta memiliki keterampilan
mengatur teman-temannya. Lebih lanjut menurutnya seorang guru harus dapat
berperan antara lain :
a. Pengatur lalu lintas pembicaraan
14
Pemimpin diskusi harus dapat mengatur duduk siswa sesuai teknik diskusi
bertanya kepada anggota diskusi secara berturut-turut, menjaga agar peserta
tidak berebut dalam berbicara, dan mendorong peserta yang pendiam dan
pemalu.
b. Benteng penangkis
Bertugas mengembalikan pertanyaan kepada kelompok diskusi apabila
diperlukan dan memberi petunjuk apabila mengalami hambatan.
c. Penunjuk jalan
Bertugas memberi petunjuk umum mengenai kemajuan yang telah dicapai
dalam kelompok diskusi itu. Dalam bagian akhir diskusi, kegiatan-kegiatan
yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Memperhatikan permasalahan yang dibahas telah cukup dibicarakan dan
memberi bahan pertimbangan untuk membuat pemecahan atau
kesimpulan.
2) Menyimpulkan berbagai pendapat
3) Diperlukan tindak lanjut dalam bentuk tugas atau dicukupkan sampai
pada kesimpulan.
4) Menilai pelaksanaan diskusi apakah telah berhasil dengan baik dan
menghasilkan tujuan yang diharapkan.
Secara umum, menurut Rusyan (2007 : 156) peranan guru dalam diskusi
kelas antara lain :
a. Sebagai fasilitator
Guru hendaknya berusaha memberikan berbagai kemudahan belajar siswa
dengan cara memberikan berbagai kemungkinan sehingga siswa dapat
memanfaatkan fasilitas, bahan, alat yang diperlukan untuk menunjang
kegiatan belajar siswa melalui diskusi.
b. Sebagai pengawas
Guru sebaiknya mengawasi pelaksanaan diskusi dari segi teknis, materi,
aktifitas, dan arah serta sasaran sesuai dengan tujuan diskusi yang diharapkan.
c. Sebagai ahli atau expert atau agent of instruction
15
Guru sebaiknya menguasai materi permasalahan yang didiskusikan agar
menjadi sumber dan pengarah siswa yang berdiskusi.
d. Sebagai penghubung kemasyarakatan atau sosializing agent
Guru dituntut untuk menguasai dan menunjukkan berbagai kemungkinan ke
arah pemecahan sesuai dengan perkembangan, kenyataan, dan nilainilai dalam
masyarakat.
Dari berbagai pendapat di atas mengenai metode diskusi terbimbing dapat
disimpulkan bahwa diskusi terbimbing merupakan proses komunikasi dua arah
dengan cara memberikan kesempatan pada kedua belah pihak untuk dapat
mencurahkan perasaan secara lebih terbuka sehingga memberikan peluang untuk
berkembangnya ide-ide dari seluruh siwa yang terlibat dan berpartisipasi
didalamnya secara lebih bebas.
Proses belajar mengajar dengan model ini berarti adanya proses interaksi
antara dua atau lebih individu yang terlibat saling tukar menukar pengalaman,
informasi, memecahkan masalah. Pelaksanaan model diskusi dalam proses belajar
megajar akan dapat mempertinggi partisipasi siswa secara individual dan
mengembangkan rasa sosial. Selain itu juga merupakan pendekatan yang
demokratis serta mengembangkan kepemimpinan. Model diskusi diantaranya
model sinektiks, model pertemuan kelas, dan model diskusi kelompok.
a. Model Sinektiks
Menurut Gordon ada empat ide yang menantang pandangan lama tentang
kreatifitas :
1) Menitik beratkan kreatifitas sebagai salah satu bagian dari pekerjaan dan
waktu senggang sehari-hari. Oleh karena itu model ini dirancang untuk
meningkatkan kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah,
mengekspresikan sesuatu secara kreatif, menunjukkan emphati dan
memiliki wawasan sosial. Disamping itu ditekankan pula makna ide-ide
yang dapat diperkuat melalui aktivitas yang kreatif denagn carakita
melihat sesuatu lebih luas.
16
2) Proses kreativitas bukanlah hal yang misterius. Proses tersebut dapat
dipaparkan, karena dapat melatih seseorang secara langsung sehingga
dapat meningkatkan kreativitas.
3) Penemuan yang kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan
ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya.
4) Penemuan kreatif dari individu dan kelompok pada dasarnya sangat
serupa. Individu dan kelompok membangkitkan ide dan hasil dalam
bentuk yang serupa (Winataputra, 2009 : 121-122).
Dalam pelaksanaan model sinektiks, siswa bebas berdialog dan guru
membimbing, membantu konseptualisasikan proses mental. Selain itu guru juga
mengamati dan mencatat keterlibatan siswa dalam diskusi. Tahap-tahap
pelaksanaan model sinektiks dalam proses belajar mengajar menurut Joyce dan
Weil (2006 : 168) adalah sebagai berikut :
1) Deskripsi kondisi saat ini : siswa memaparkan situasi yang sedang diamati.
2) Proses analogi langsung : siswa mengemukakan berbagai analogi, selanjutnya
memilih salah satu untuk dieksplorasi.
3) Analogi personal : siswa menjadikan dirinya sebagai analogi dari keadaan
yang dianalogikan pada tahap sebelumnya.
4) Konflik yang dipadatkan : siswa mengambil apa yang dipaparkan pada fase
kedua dan ketiga, kemudian membuat beberapa konflik yang dipadatkan dan
meilih salah satu. Konflik yang dipadatkan ialah cara mengkontraskan dua ide
dengan memberi label singkat, bisanya hanya dengan dua kata, misal “sangat
galak dan sangat ramah”.
5) Analogi langsung : para siswa mengemukakan dan memilih analogi langsung
yang lain berdasarkan pada konflik yang dipadatkan. Analogi langsung
merupakan perbandingan sederhana tentang dua obyek atau konsep.
6) Pengujian kembali tugas semula : guru mengarahkan siswa untuk kembali
pada tugas awal dengan menggunakan analogi yang terakhir.
b. Model Diskusi Kelompok
Model ini merupakan gabungan dari model sinektiks dengan model
pertemuan kelas. Hanya jumlah peserta relatif kecil. Siswa dikelompokkan
17
menjadi beberapa group sekitar 5 atau 6 orang, sehingga kesempatan individua
(masing-masing siswa) untuk berpartisipasi dalam diskusi menjadi lebih banyak.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subyek, Tempat, dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan subyek penelitian yaitu
seluruh siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 yang bertempat di [Link] Ayu
Rt.02/014 [Link] Kec. Babelan Kab. Bekasi. Penelitian ini dilaksanakan
mulai tanggal 10 Agustus 2018 sampai dengan 31 Agustus 2018. Dilaksanakan
sebanyak tiga siklus. Jumlah siswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini
adalah sebanyak 34 orang siswa.
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
No Hari/Tanggal Mata Pelajaran Materi Ket
Jumat, Peninggalan Sejarah
0 IPS Prasiklus
10/08/2018 Masa Hindu
Kamis, IPS Peninggalan Sejarah
1 Masa Hindu Siklus I
16/08/ 2018
Jumat, IPS Peninggalan Sejarah
2 Masa Buddha Siklus II
24/08/ 2018
Jumat, IPS Peninggalan Sejarah
3 Masa Islam Siklus III
31/08/ 2018
Dalam penelitian ini terdapat beberapa pihak yang membantu, diantaranya
adalah berikut ini:
18
1. Bapak Riri Sadiana, [Link]. selaku Supervisor 1
2. Bapak [Link], [Link]. sebagai Kepala SDN Kebalen 02
3. Ibu Neneng Humaidah, [Link] sebagai supervisor 2
4. Para siswa dan siswi kelas V.3 SDN Kebalen 02.
5. Bapak Suhandi Wibowo, [Link]. Sebagai ketua PokJar Sukakarya
6. Bapak Maryadi, S.H. Sebagai pengurus pokjar Sukakarya
7. Keluarga yang selalu memberi motivasi dan semangat dalam penelitian dan
penulisan laporan ini
8. Rekan Mahasiswa UT PokJar Sukakarya Semester 2 program Bidang Ilmu
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena
penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.
Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan
bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang
diinginkan dapat dicapai.
Menurut pengertiannya, penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-
hal yang terjadi di sekelompok masyarakat atau sasara, dan hasilnya langsung
dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Arikunto, Suharsimi, 2002:
82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya
partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran.
Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan
tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan invovatif yang dicoba sambil
jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-
pihakyang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat mendukung satu sama lain.
Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip
sebagai berikut :
a. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi criteria, yaitu benar-
benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam
jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.
19
b. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien, artinya terpilih
dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.
c. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci, dan terbuka, setiap langkah dari
tindakan dirumuskan secara tegas, sehingga orang yang berminat terhadap
penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.
d. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang
berkelanjtan(on-going), mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan
terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti, tetapi menjadi
tantangan sepanjang waktu. (Arikunto, Suharsimi, 2002: 82-83).
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan,
maka penelitian ini menggunakan Metode penelitian tindakan dari kemmis dan
Taggert (dalam Arikunto, Suharsimi, 2002: 83) yaitu berbentuk spiral dari siklus
yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana),
action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah
pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan,
pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan
pendahuluan yang berupa identifikasi permasalah. Siklus spiral dari tahap-tahap
penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 3.1.
a. Rencana Tindakan
Rencana Tindakan dalam penelitian ini meliputi dua siklus dengan 4
(empat) kali pertemuan. Masing-masing Siklus I (dua) kali pertemuan dengan
rincian pertemuan pertama untuk kegiatan pembelajaran Siklus I dan pertemuan
kedua untuk evaluasi siklus dan seterusnya. Satu kali pertemuan tersedia waktu 2
x 35 menit. Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
Penelitian tindakan menekankan kegiatan (tindakan) dengan meng-uji
cobakan suatu indeks dalam praktik atau situasi nyata dalam skala mikro, yang
diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas
proses belajar mengajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu
kajian sistimatik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktik pendidikan oleh
sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran,
berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.
20
Putar
an 1
Refleksi Rencana
Rencana
awal/rancangan
awal/rancangan Putar
an 2
Tindakan/
Observasi
Rencana yang
Refleksi Rencana yang
direvisi
direvisi Putar
an 3
Tindakan/
Observasi
Rencana yang
Refleksi Rencana yang
direvisi
direvisi
Tindakan/
Observasi
Gambar 3.1. Alur Pelaksanaan PTK
b. Tindakan Perbaikan Pembelajaran
Langkah-langkah penelitian kelas ini dipilih Metode spiral dari Kemmis
dan Taggart yang terdiri dari beberapa siklus tindakan pembelajaran berdasarkan
refleksi mengenai hasil dari tindakan-tindakan pada siklus sebelumnya. Setiap
siklus tersebut terdiri dari empat tahapan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan (observasi), dan refleksi. Prosedur PTK sebenarnya terdiri dari 2
siklus atau lebih. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin
dicapai. Maka dalam penelitian tindakan ini direncanakan 2 siklus dengan
21
prosedur: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, 4) refleksi.
Secara rinci digambarkan sebagai berikut:
1. Siklus I
a. Perencanaan
1) Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Peneliti merancang pembelajaran dengan memberi tugas pada siswa
untuk mempelajari materi atau bahan pelajaran yang diberikan.
3) Peneliti dan guru kelas merencanakan pembentukan kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 5 atau 6 siswa yang dibentuk dengan
kemampuan akademik yang berbeda-beda.
4) Merancang soal-soal evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur
hasil belajar siswa yang terdiri dari 20 soal pilihan ganda yang
disesuaikan dengan materi Sejarah Peninggalan Masa Hindu, Buddha,
dan Islam
5) Peneliti membuat lembar pengamatan. Lembar ini digunakan untuk
mengetahui motivasi siswa selama proses pembelajaran.
b. Pelaksanaan/Tindakan
1) Peneliti menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan (Power
Point).
2) Peneliti mengadakan presensi terhadap kehadiran siswa.
3) Peneliti memberikan motivasi dengan cara menginformasikan
kegunaaan materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
4) Dengan metode ceramah bervariasi dan media power point peneliti
menjelaskan materi dengan singkat.
5) Peneliti membentuk kelompok yang beranggotakan 5 atau 6 siswa dan
mengatur tempat duduk siswa agar setiap kelompok dapat saling
bertatap muka atau berhadap-hadapan.
6) Peneliti memberikan lembar wacana rangkuman materi yang akan
dipelajari oleh setiap kelompok.
7) Peneliti memberi tugas pada tiap kelompok untuk membuat pertanyaan
tanpa jawaban (kupon pertanyaan), kemudian menukarkan pertanyaan
22
yang telah dibuat tersebut sehingga tiap kelompok mendapat
kesempatan menjawab pertanyaan dari kelompok lain.
8) Peneliti menunjuk salah satu kelompok untuk menjawab pertanyaan,
masing-masing dalam kelompok menjawab kupon pertanyaan dan
memberi kesempatan untuk memeriksa dengan jawaban kelompok
pembuat pertanyaan.
9) Peneliti mengawasi jalannya kegiatan dengan tetap menjadi nara
sumber utama.
10) Peneliti dan siswa menganalisis hasil akhir pembelajaran pada materi
tersebut.
11) Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi siklus I pada akhir pelajaran dan
dibahas pada pertemuan selanjutnya.
c. Pengamatan
Pada penelitian tindakan kelas ini, pengamatan dilaksanakan dengan
beberapa aspek yang diamati adalah sebagai berikut :
1) Pengamatan terhadap siswa yang meliputi:
a) Ketepatan dalam mengumpulkan tugas,
b) Aktivitas siswa bertanya,
c) Keberanian menjawab pertanyaan,
d) Kemampuan siswa menganalisis permasalahan,
e) Keberanian mengemukakan pendapat,
f) Kerjasama
2) Pengamatan terhadap guru dalam mengajar meliputi:
a) Kemampuan mengembangkan potensi siswa,
b) Penguasaan materi,
c) Kejelasan dalam penyajian materi,
d) Ketepatan antara waktu dan materi pelajaran,
e) Kemampuan menjadi nara sumber,
f) Kemampuan menganalisis dan menyimpulkan,
g) Kemampuan berkomunikasi dengan siswa
d. Refleksi
23
Refleksi merupakan langkah analisis hasil kerja siswa. Refleksi pada
siklus I dilaksanakan segera setelah tahap pelaksanaan/tindakan dan observasi
selesai. Pada tahap ini peneliti dan guru kelas mendiskusikan hasil yang meliputi
kelebihan dan kekurangan pada siklus I. Hasil refleksi ini akan digunakan sebagai
perbaikan dalam pelaksanaan siklus II.
2. Siklus II
e. Perencanaan
1) Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
2) Peneliti merancang pembelajaran dengan memberi tugas pada siswa
untuk mempelajari materi/bahan pelajaran yang diberikan. Materi
dalam penelitian ini adalah kondisi sosial negara.
3) Peneliti dan guru kelas merencanakan pembentukan kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 5 atau 6 siswa yang dibentuk dengan
kemampuan akademik yang berbeda-beda.
4) Merancang soal-soal evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur
hasil belajar siswa yang terdiri dari 20 soal pilihan ganda.
5) Penelitian membuat lembar pengamatan. Lembar ini digunakan untuk
mengetahui motivasi siswa selama proses pembelajaran.
f. Pelaksanaan/Tindakan
1) Peneliti menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan (media
power point).
2) Peneliti mengadakan presensi terhadap kehadiran siswa.
3) Peneliti memberikan motivasi dengan cara menginformasikan
kegunaaan materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
4) Dengan metode ceramah bervariasi dan media power point, peneliti
menjelaskan materi dengan singkat.
5) Peneliti membentuk kelompok yang beranggotakan 5 atau 6 siswa dan
mengatur tempat duduk siswa agar setiap kelompok dapat saling
bertatap muka atau berhadap-hadapan.
6) Peneliti memberikan lembar wacana rangkuman materi yang akan
dipelajari oleh setiap kelompok. Dalam pembelajaran, tiap anggota
24
kelompok diberi permasalahan yang berbeda-beda kemudian tiap
kelompok mengirimkan duta atau delegasi yang mempunyai
permasalahan yang sama untuk mendiskusikan. Selanjutnya anggota
dari tiap kelompok kembali pada kelompok masing-masing dan
mempunyai tugas untuk menginformasikan hasil diskusi dengan
sesama anggota kelompok lain. Kemudian dilajutkan dengan kegiatan
diskusi antar kelompok
7) Peneliti mengawasi jalannya kegiatan dengan tetap menjadi nara
sumber utama.
8) Peneliti dan siswa menyimpulkan hasil belajar pada materi tersebut.
9) Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi siklus II pada akhir pelajaran.
g. Pengamatan
Pada penelitian tindakan kelas ini, pengamatan dilaksanakan dengan
beberapa aspek yang diamati adalah sebagai berikut.
1) Pengamatan terhadap siswa yang meliputi:
a) Ketepatan dalam mengumpulkan tugas,
b) Aktivitas siswa bertanya,
c) Keberanian menjawab pertanyaan,
d) Kemampuan siswa menganalisis permasalahan,
e) Keberanian mengemukakan pendapat,
f) Kerjasama
2) Pengamatan guru dalam mengajar yang meliputi:
a) Kemampuan mengembangkan potensi siswa,
b) penguasaan materi,
c) Kejelasan dalam penyajian materi,
d) Ketepatan antara waktu dan materi pelajaran,
e) Kemampuan menjadi nara sumber,
f) Kemampuan menganalisis dan menyimpulkan,
g) Kemampuan berkomunikasi dengan siswa
3) Sarana dan prasarana yang meliputi:
a) Menata tempat duduk siswa,
25
b) buku-buku pelajaran yang menunjang,
c) alat peraga yang diperlukan, dan
d) gambar yang ditempel di dinding harus menunjang proses pembelajaran.
h. Refleksi
Refleksi merupakan langkah analisis hasil kerja siswa. Refleksi pada
siklus II dilaksanakan segera setelah tahap pelaksanaan/tindakan dan observasi
selesai. Pada tahap ini peneliti dan guru kelas mendiskusikan hasil yang meliputi
kelebihan dan kekurangan pada siklusI II. Hasil refleksi ini untuk mendapatkan
kesimpulan apakah tujuan penelitian tercapai atau tidak. Di akhir siklus II ini,
harapan target yang ingin dicapai peneliti yaitu untuk meningkatkan motivasi, dan
hasil belajar siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 dapat tercapai.
3. Siklus III
a. Perencanaan
1) Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
2) Peneliti merancang pembelajaran dengan memberi tugas pada siswa
untuk mempelajari materi/bahan pelajaran yang diberikan. Materi
dalam penelitian ini adalah Sejarah Peninggaln Masa Hindu, Buddha,
dan Islam.
3) Peneliti dan guru kelas merencanakan pembentukan kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 5 atau 6 siswa yang dibentuk dengan
kemampuan akademik yang berbeda-beda.
4) Merancang soal-soal evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur
hasil belajar siswa yang terdiri dari 20 soal pilihan ganda.
5) Penelitian membuat lembar pengamatan. Lembar ini digunakan untuk
mengetahui motivasi siswa selama proses pembelajaran.
b. Pelaksanaan/Tindakan
1) Peneliti menyiapkan media pembelajaran yang diperlukan (media
power point).
2) Peneliti mengadakan presensi terhadap kehadiran siswa.
3) Peneliti memberikan motivasi dengan cara menginformasikan
kegunaaan materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
26
4) Dengan metode ceramah bervariasi dan media power point, peneliti
menjelaskan materi dengan singkat.
5) Peneliti membentuk kelompok yang beranggotakan 5 atau 6 siswa dan
mengatur tempat duduk siswa agar setiap kelompok dapat saling
bertatap muka atau berhadap-hadapan.
6) Peneliti memberikan lembar wacana rangkuman materi yang akan
dipelajari oleh setiap kelompok. Dalam pembelajaran, tiap anggota
kelompok diberi permasalahan yang berbeda-beda kemudian tiap
kelompok mengirimkan duta atau delegasi yang mempunyai
permasalahan yang sama untuk mendiskusikan. Selanjutnya anggota
dari tiap kelompok kembali pada kelompok masing-masing dan
mempunyai tugas untuk menginformasikan hasil diskusi dengan
sesama anggota kelompok lain. Kemudian dilajutkan dengan kegiatan
diskusi antar kelompok
7) Peneliti mengawasi jalannya kegiatan dengan tetap menjadi nara
sumber utama.
8) Peneliti dan siswa menyimpulkan hasil belajar pada materi tersebut.
9) Siswa mengerjakan soal-soal evaluasi siklus II pada akhir pelajaran.
c. Pengamatan
Pada penelitian tindakan kelas ini, pengamatan dilaksanakan dengan
beberapa aspek yang diamati adalah sebagai berikut.
1) Pengamatan terhadap siswa yang meliputi:
a) Ketepatan dalam mengumpulkan tugas,
b) Aktivitas siswa bertanya,
c) Keberanian menjawab pertanyaan,
d) Kemampuan siswa menganalisis permasalahan,
e) Keberanian mengemukakan pendapat,
f) Kerjasama
2) Pengamatan guru dalam mengajar yang meliputi:
a) Kemampuan mengembangkan potensi siswa,
b) penguasaan materi,
27
c) Kejelasan dalam penyajian materi,
d) Ketepatan antara waktu dan materi pelajaran,
e) Kemampuan menjadi nara sumber,
f) Kemampuan menganalisis dan menyimpulkan,
g) Kemampuan berkomunikasi dengan siswa
3) Sarana dan prasarana yang meliputi:
a) Menata tempat duduk siswa,
b) buku-buku pelajaran yang menunjang,
c) alat peraga yang diperlukan, dan
d) gambar yang ditempel di dinding harus menunjang proses pembelajaran.
d. Refleksi
Refleksi merupakan langkah analisis hasil kerja siswa. Refleksi pada
siklus III dilaksanakan segera setelah tahap pelaksanaan/tindakan dan observasi
selesai. Pada tahap ini peneliti dan guru kelas mendiskusikan hasil yang meliputi
kelebihan dan kekurangan pada siklus III. Hasil refleksi ini untuk mendapatkan
kesimpulan apakah tujuan penelitian tercapai atau tidak. Di akhir siklus II ini,
harapan target yang ingin dicapai peneliti yaitu untuk meningkatkan motivasi, dan
hasil belajar siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 dapat tercapai. Sehingga tidak perlu
diadakan siklus IV sebagai langkah perbaikan.
C. Teknik Analisis Data
1. Teknik Pengumpulan Data
1) Sumber Data
Sumber Data penelitian tindakan kelas ini meliputi :
a) Hasil belajar siswa sebelum tindakan dan hasil belajar siswa materi
pokok Sejarah Peninggalan Masa Hindu, Buddha, dan Islam. Nilai
yang diperoleh berupa kentuntasan hasil belajar yaitu adanya
peningkatan dari sebelum dan setelah dilakukan tindakan
b) Lembar observasi aktivitas siswa dan guru serta respon siswa dalam
kegiatan pembelajaran
c) Lembar kerja Siswa (LKS)
2) Teknik Pengumpulan Data
28
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dari lapangan adalah :
1) Observasi, penulis melihat dan mengamati langsung sekaligus
mencatat objek-objek di lapangan guna memperoleh data atau
keterangan-keterangan yang akurat, objektif dan dapat dipercaya.
2) Tes Tertulis, penulis mengadakan tes tertulis kepada peserta didik
untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi
Sejarah Peninggalan Masa Hindu, Buddha, dan Islam
3) Analisis Data
Analisis data terdiri atas proses analisis untuk mengetahui tes hasil belajar
siswa. Hasil belajar siswa dikatakan mengalami peningkatan secara individu
apabila telah mencapai skor 70. Rumus yang digunakan untuk mengetahui
keberhasilan dan peningkatan secara individu adalah :
Keterangan :
NS : Nilai Peningkatan Hasil belajar
: Jumlah Skor jawaban benar tiap siswa
: Jumlah item soal
Kemudian untuk peningkatan hasil belajar secara klasikal jika 70% dari
seluruh peserta didik dalam kelas telah mencapai nilai 70. Untuk menghitung
kriteria peningkatan hasil belajar secara klasikal adalah dengan rumus :
Keterangan :
: Nilai Peningkatan hasil belajar secara klasikal
: Jumlah siswa tuntas belajar secara klasikal
29
: Jumlah total siswa
2. Indikator Penelitian
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPS dengan pokok bahasan Sejarah Peninggalan Masa Hindu,
Buddha, dan Islam pada siswa kelas SDN Kebalen 02 dengan menggunakan
Metode pembelajaran Diskusi diharapkan akan mengalami peningkatan dari total
pencapaian sebelumnya menjadi minimal nilai 70 Hasil belajar siswa dikatakan
meningkat belajar secara individu apabila mencapai skor 70. Sedangkan untuk
peningkatan hasil belajar secara klasikal jika mencapai 85% dari siswa mendapat
nilai di atas 70
30
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Prosedur penelitian yang digunakan pada penelitian perbaikan
pembelajaran ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan
meningkatkan hasil belajar siswa IPS pada materi pokok Sejarah Peninggalan
Masa Hindu, Buddha, dan Islam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa
tahapan yaitu tahap pra siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III
Pada Tahap pra siklus terdapat banyak siswa yang tidak tuntas dalam
belajarnya yaitu hanya mencapai rata-rata nilai 61,3 dan hal ini masih sangat jauh
dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu
nilai per individu adalah 70. Setelah dilakukan tindakan Siklus I menggunakan
Metode pembelajaran diskusi terbimbing oleh peneliti dan supervisor 2, maka
terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang pada tahap pra siklus nilai rata-rata
siswa hanya mencapai 61,3 dan persentase ketuntasan adalah 46,7% naik menjadi
71,17 pada Siklus I dengan persentase ketuntasan 70,58%. Walau telah
mengalami peningkatan hasil belajar siswa, namun rata-rata tersebut belum
memenuhi standar ketuntasan yang telah ditentukan yaitu nilai rata-rata siswa
secara individu adalah 70 dan persentase mencapai 70%.
Siklus II pembelajaran tetap menggunakan Metode pembelajaran diskusi
terbimbing oleh peneliti dan guru mitra dengan beberapa perbaikan pada tahap
pelaksanaannya dari hasil refleksi siklus I, dari hasil analisis evaluasi siklus II ini
diketahui telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang pada tahap siklus I
nilai rata-rata siswa hanya mencapai 71,17 dan persentase ketuntasan adalah
70,58% pada Siklus II rata-rata siswa 75,7 dan persentase ketuntasan yang dicapai
31
adalah 82,35. Walau telah mengalami peningkatan hasil belajar siswa, namun
rata-rata tersebut belum memenuhi standar ketuntasan yang telah ditentukan yaitu
nilai rata-rata siswa secara individu adalah 70 dan persentase mencapai 85%.
Setelah mengadakan observasi pada Siklus II, maka antara peneliti dan
guru mitra berdiskusi untuk memecahkan masalah yang terjadi pada Siklus I,
siklus II dan merencanakan tindakan untuk pelaksanaan Siklus III, maka dalam
pelaksanaan tindakan Siklus III lebih terkoordinir sehingga pada tahap Siklus III
ini terjadi peningkatan hasil belajar secara maksimal yaitu nilai rata-rata siswa
mencapai 81,47 dan persentase ketuntasan mencapai 100%. Dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa Metode pembelajaran Diskusi yang diterapkan pada mata
pelajaran IPS materi Sejarah Peninggalan Masa Hindu, Buddha, dan Islam
berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02.
Adapun data hasil penelitian dari masing-masing siklus akan dipaparkan
pada Pembahasan Hasil Penelitian.
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Analisis Siklus I
Penelitian tindakan kelas pada siklus I dilaksanakan oleh peneliti dan
supervisor 2 dengan langkah-langkah yang sesuai dengan Rencana pelaksanaan
Pembelajaran, dari hasil penelitian tentang meningkatkan hasil belajar melalui
pembelajaran diskusi terbimbing dengan sub pokok bahasan peninggalan sejarah
masa Hindu. Pada siklus I siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 diperoleh data
Tabel 4.1 Hasil Tes Siklus I
Keterangan
No. Nama Siswa KKM Nilai Belum
Tuntas
Tuntas
1 A. Gemilang Sepputro 70 65 √
2 Fatmawati 70 √
3 Revalina Adi Pratiwi 55 √
32
70 √
4 Amanda Fauziah
5 Andinda Nur Marsya 70 50 √
60 √
6 Anggun Putri Handayani
7 Banu Haikal 75 √
85 √
8 Charissa Muthia
90 √
9 Dina Yulianti
60 √
10 Ekya Raisya Azzahra
85 √
11 Ezra Fitrandani
75 √
12 Faqih Setyo Wardana
70 √
13 Fathimah Dinda Maharani
85 √
14 Irgi Ahmad Fahrezi
65 √
15 Junita Wmillia Zuhair
50 √
16 Kayza Raffi Nur Al Khalifi
75 √
17 Leni Tri Utami
70 √
18 Miftahul Fajriyah
55 √
19 M. Andrian Farella
20 Muhammad Ali Firmansyah 75 √
75 √
21 [Link] Fatih Putra
22 [Link] Mubarak 80 √
23 [Link] Aditiya 75 √
33
24 Naila Fauziyah 60 √
70 √
25 Rasya Aditia
26 Rossa Aulia Simbolon 65 √
27 Ruth Natalie 85 √
28 Satria Surya Zhatiawan 75 √
29 Talitha Dwi Andini 70 √
30 Yuwen Maulidya Risa 85 √
70 √
31 Rizla Alfaqih 80
32 Keysha Feby Haryanto 75 √
33 Keysya Naomi 70 √
34 Gamal Henryansyah 70 √
Jumlah 2420
Rata-Rata 71,17
Ketuntasan 70,58%
Tabel 4.2
Keterangan Hasil Tes Siklus I
Hasil Post Tes Siklus I
Nilai Tertinggi 90
Nilai Terendah 50
Rata-Rata Nilai 71,17
Prosentase Ketuntasan 70,58%
Berkaitan dengan hasil tes akhir yang dilakukan di akhir pembelajaran
pada Siklus I didapat bahwa rata-rata hasil belajar pada tahap siklus I yaitu 71,17.
Sudah terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I ini, namun dari data
yang diperoleh ada 6 peserta didik yang belum tuntas sehingga persentase
ketuntasan adalah 70,58% yang berada dibawah standar 85%. Ini menunjukkan
penelitian ini belum maksimal dan masih perlu diadakan perbaikan.
34
Setelah observasi selesai dilaksanakan peneliti bersama guru mitra sebagai
kolaborator dalam Penelitian tindakan kelas pada siswa kelas SDN Kebalen 02
kemudian mengadakan diskusi berkaitan dangan pelaksanaan Metode
pembelajaran pembelajaran diskusi terbimbing untuk membahas tentang hal-hal
yang harus diperbaiki berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Setelah selesai melaksanakan pembelajaran pada siklus I ini guru bersama
peneliti melaksanakan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran tersebut
dengan mendiskusikan kendala/masalah yang dihadapi ketika berada di kelas.
Dari hasil evaluasi siklus menghasilkan beberapa catatan yang harus direfleksikan
pada pelaksanaan pembelajaran tahap siklus II. Pada tahap Siklus I ini sudah
menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa, namun masih belum maksimal.
Ada beberapa hal yang menyebabkan kurang maksimalnya pembelajaran pada
siklus I disebabkan diantaranya :
a. Masih ditemukannya siswa yang memanfaatkan kesempatan pembelajaran ini
untuk bermain, dibuktikan dengan mereka tidak mengamati kelompok yang
sedang melaksanakan peran
b. Ada siswa yang merasa malu untuk melaksanakan peran yang ditujukan
kepadanya sehingga saling lempar peran
c. Dalam pelaksanaan peran, masih terdapat siswa yang kurang memahami
perannya sehingga menjadi asal-asalan dan bercanda dengan kelompoknya
Meskipun ada hal-hal yang tidak diharapkan muncul dalam pembelajaran,
namun hal ini yang dapat dijadikan pertimbangan untuk masuk ke Siklus II agar
hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai dengan melakukan perbaikan-
perbaikan.
2. Analisis Siklus II
Penelitian tindakan kelas pada siklus II dilaksanakan oleh peneliti dan
diobservasi oleh supervisor 2 dengan langkah-langkah yang sesuai dengan
Rencana pelaksanaan Pembelajaran, dari hasil penelitian tentang meningkatkan
hasil belajar melalui pembelajaran Diskusi dengan sub pokok bahasan komponen-
35
kompoenen pada peta. Pada siklus II siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 diperoleh
data :
Tabel 4.3 Hasil Tes Siklus II
Keterangan
No. Nama Siswa KKM Nilai Belum
Tuntas
Tuntas
1 A. Gemilang Sepputro 70 75 √
2 Fatmawati 80 √
65 √
3 Revalina Adi Pratiwi
75 √
4 Amanda Fauziah
75 √
5 Andinda Nur Marsya
60 √
6 Anggun Putri Handayani
7 Banu Haikal 80 √
85 √
8 Charissa Muthia
95 √
9 Dina Yulianti
10 Ekya Raisya Azzahra 70 √
85 √
11 Ezra Fitrandani
75 √
12 Faqih Setyo Wardana
70 √
13 Fathimah Dinda Maharani
14 Irgi Ahmad Fahrezi 85 √
36
60 √
15 Junita Wmillia Zuhair
16 Kayza Raffi Nur Al Khalifi 70 √
75 √
17 Leni Tri Utami
70 √
18 Miftahul Fajriyah
60 √
19 M. Andrian Farella
20 Muhammad Ali Firmansyah 75 √
80 √
21 [Link] Fatih Putra
22 [Link] Mubarak 80 √
75 √
23 [Link] Aditiya
24 Naila Fauziyah 65 √
75 √
25 Rasya Aditia
26 Rossa Aulia Simbolon 65 √
27 Ruth Natalie 85 √
28 Satria Surya Zhatiawan 75 √
29 Talitha Dwi Andini 70 √
30 Yuwen Maulidya Risa 85 √
31 Rizla Alfaqih 80 √
32 Keysha Feby Haryanto 75 √
33 Keysya Naomi 70 √
34 Gamal Henryansyah 75 √
Jumlah 2540
Rata-Rata 75,7
Ketuntasan 82,35%
37
Tabel 4.4
Keterangan Hasil Tes Siklus II
Hasil Post Tes Siklus II
Nilai Tertinggi 95
Nilai Terendah 60
Rata-Rata Nilai 75,7
Prosentase Ketuntasan 82,35%
Berkaitan dengan hasil tes akhir yang dilakukan di akhir pembelajaran
pada Siklus II didapat bahwa rata-rata hasil belajar pada tahap siklus II yaitu 75,7.
Sudah terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II ini, namun dari data
yang diperoleh ada 4 peserta didik yang belum tuntas sehingga persentase
ketuntasan adalah 82,35% yang berada dibawah standar 85%. Ini menunjukkan
penelitian ini belum maksimal dan masih perlu diadakan perbaikan.
Setelah observasi selesai dilaksanakan peneliti bersama guru mitra sebagai
kolaborator dalam Penelitian tindakan kelas pada siswa kelas SDN Kebalen 02
kemudian mengadakan diskusi berkaitan dangan pelaksanaan Metode
pembelajaran pembelajaran diskusi terbimbing untuk membahas tentang hal-hal
yang harus diperbaiki berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Setelah selesai melaksanakan pembelajaran pada siklus II ini guru bersama
peneliti melaksanakan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran tersebut
dengan mendiskusikan kendala/masalah yang dihadapi ketika berada di kelas.
Dari hasil evaluasi siklus menghasilkan beberapa catatan yang harus direfleksikan
pada pelaksanaan pembelajaran tahap siklus III. Pada tahap Siklus II ini sudah
menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa, namun masih belum maksimal.
Ada beberapa hal yang menyebabkan kurang maksimalnya pembelajaran pada
siklus III disebabkan diantaranya :
a. Ada siswa yang merasa malu untuk melaksanakan peran yang ditujukan
kepadanya sehingga saling lempar peran
b. Dalam pelaksanaan peran, masih terdapat siswa yang kurang memahami
perannya sehingga menjadi asal-asalan dan bercanda dengan kelompoknya
38
Meskipun ada hal-hal yang tidak diharapkan muncul dalam pembelajaran,
namun hal ini yang dapat dijadikan pertimbangan untuk masuk ke Siklus III agar
hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai dengan melakukan perbaikan-
perbaikan.
3. Analisis Siklus III
Seperti pada tahap pra siklus dan siklus III, observasi dilaksanakan oleh
peneliti dan guru mitra sebagai kolaborator untuk berupaya meningkatan hasil
belajar siswa khusunya pada mata pelajaran IPS materi menggambar peta
sederhana. Harapannya bahwa penelitian ini akan berdampak pada hasil belajar
dan pemahaman terhadap materi pelajaran yang menjadi pokok bahasan. Pada
Siklus II ini dilakukan di kelas V.2 SDN Kebalen 02 pada tanggal 16 Agustus
2018 Tindakan yang dirumuskan pada siklus I dan siklus II di atas akan
diterapkan pada siklus III. Metode pembelajaran yang digunakan pada siklus III
ini sama dengan tindakan pada siklus I dan siklus II, yaitu menggunakan Metode
pembelajaran diskusi terbimbing.
Langkah perbaikan yang dilakukan antara lain :
a. Sebelum pelaksanaan tindakan, guru memberikan informasi bahwa bagi
kelompok yang perannya bagus dan sesuai dengan materi yang diajarkan akan
mendapatkan penghargaan atau hadiah. Ini bertujuan agar siswa dapat
termotivasi dan serius dalam melaksanakan tugasnya
b. Guru lebih memperhatikan aktivitas siswa yang melakukan peran dan siswa
yang mengamati sehingga semua siswa dapat terpantau dan tidak lagi
bercanda.
Dari hasil penelitian tentang meningkatkan hasil belajar siswa melalui
Metode pembelajaran diskusi terbimbing pada sub pokok bahasan peninggalan
sejarah masa Buddha pada siklus III siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 diperoleh
data sebagai berikut :
Tabel 4.5 Hasil Tes Siklus III
Keterangan
No. Nama Siswa KKM Nilai Belum
Tuntas
Tuntas
39
1 A. Gemilang Sepputro 70 80 √
2 Fatmawati 85 √
3 Revalina Adi Pratiwi 70 √
80 √
4 Amanda Fauziah
85 √
5 Andinda Nur Marsya
70 95 √
6 Anggun Putri Handayani
7 Banu Haikal 85 √
90 √
8 Charissa Muthia
100 √
9 Dina Yulianti
10 Ekya Raisya Azzahra 85 √
85 √
11 Ezra Fitrandani
90 √
12 Faqih Setyo Wardana
85 √
13 Fathimah Dinda Maharani
85 √
14 Irgi Ahmad Fahrezi
15 Junita Wmillia Zuhair 75 √
16 Kayza Raffi Nur Al Khalifi 70 √
75 √
17 Leni Tri Utami
70 √
18 Miftahul Fajriyah
19 M. Andrian Farella 85 √
20 Muhammad Ali Firmansyah 75 √
21 [Link] Fatih Putra 90 √
40
22 [Link] Mubarak 85 √
75 √
23 [Link] Aditiya
80 √
24 Naila Fauziyah
75 √
25 Rasya Aditia
75 √
26 Rossa Aulia Simbolon
27 Ruth Natalie 85 √
28 Satria Surya Zhatiawan 75 √
29 Talitha Dwi Andini 80 √
30 Yuwen Maulidya Risa 85 √
31 Rizla Alfaqih 80 √
32 Keysha Feby Haryanto 75 √
33 Keysya Naomi 70 √
34 Gamal Henryansyah 90 √
Jumlah 2770
Rata-Rata 81,47
Ketuntasan 100%
Tabel 4.6
Keterangan Hasil Tes Siklus III
Hasil Post Tes Siklus I
Nilai Tertinggi 100
Nilai Terendah 70
Rata-Rata Nilai 81,47
Prosentase Ketuntasan 100%
41
Berkaitan dengan hasil akhir yang dilaksanakan di akhir pembelajaran
pada siklus III didapat bahwa rata-rata nilai hasil tes pada siklus III yaitu 81,47
yang berada di atas standar yang ditentukan yaitu di atas 70. Dari data yang
diperoleh pada tahap siklus III yaitu tidak ada peserta didik yang belum tuntas
sehingga persentase ketuntasan adalah 100% yang berada di atas standar 85%.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian pada siklus I ini siswa yang
belum berhasil ada 10 siswa, dari siklus II dietahui jumlah siswa yag belum tuntas
adalah . Keberhasilan pada siklus ini ada beberapa faktor yang menyebabkan
meningkatnya hasil belajar siswa, antara lain :
a. Peserta didik lebih termotivasi untuk melaksanakan perannya dalam
pembelajaran. Hal ini ditandai dengan siswa kelihatan lebih bersemangat
dalam menghayati perannya dan lebih tepat dalam mengerjakan tugas
dibandingkan dengan tindakan siklus I dan siklus II.
b. Kerja kelompok siswa sudah mulai kompak dan terarah
c. Kelompok yang melakukan peran sudah tidak takut dan malu-malu lagi.
Mereka banyak yang tampil berani
d. Siswa sudah lebih memahami materi dan tugasnya dalam melaksanakan
peran
e. Guru selalu memberikan bimbingan dan pengarahan selama pembelajaran
f. Pembelajaran menjadi menyenangkan karena bervariasi dan melibatkan
anak secara langsung dan tidak monoton di kelas yang menjenuhkan
4. Analisis Penelitian Pasca Tindakan Pelaksanaan Siklus
Hasil diskusi tersebut berkaitan dengan pembahasan hasil tindakan dari
tahap pra siklus, Siklus I, siklus II dan Siklus III yaitu hasil tes akhir menunjukkan
peningkatan dari tahap pra siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III dapat
ditunjukkan pada tabel 4.5 Perbandingan Rata-Rata Tes Akhir dan Prosentase
Tabel 4.7 Perbandingan Hasil Tes Tiap Siklus
No. Pelaksanaan Siklus Rata-Rata Persentase Ketuntasan
1 Pra Siklus 61,3 46,7%
2 Siklus I 71,17 70,58%
3 Siklus II 75,7 82,35%
42
4 Siklus III 81,47 100%
Dari perolehan hasil belajar siswa pada tahap pra siklus dan Siklus I
terlihat adanya peningkatan rata-rata nilai tes siswa yaitu 71,17 dari tahap pra
siklus yang semula 61,3. Sedangkan pada tahap Siklus II rata-rata nilai meningkat
menjadi 75,7. Dari yang semula yaitu hanya 71,17 dan pada siklus III rata-rata
siswa telah mencapai 81,47. Ini menunjukkan bahwa penggunaan Metode
pembelajaran diskusi terbimbing yang dilaksanakan pada tindakan Siklus I hingga
Siklus III menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa kelas V.2 SDN Kebalen
02 pada mata pelajaran IPS dengan materi pokok Sejarah Peninggalan Masa
Hindu, Buddha, dan Islam.
Proses peningkatan hasil belajar siswa secara keseluruhan dapat dilihat
pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2
Gambar 4.1
Peningkatan Rata-Rata Siswa
Gambar 4.2
Peningkatan Persentase Ketuntasan
43
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
A. Simpulan
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan ada beberapa hal yang perlu
disimpulkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil
belajar IPS siswa kelas V.2 SDN Kebalen 02 pada pokok bahasan peninggalan
sejarah masa Hindu, Buddha dan Islam. Aktivtias siswa selama pembelajaran
terus menigkat tiap siklusnya dan peningkatan hasil belajar siswa tiap siklus.
Rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan tiap siklusnya, pada siklus I
rata-rata siswa 71,17, pada siklus II adalah 75,7 dan pada siklus III rata-rata nilai
siswa mencapai 81,47. Persentase ketuntasan yang dicapai siswa juga selalu
44
mengalami peningkatan dari siklus I hingga siklus III berturut-turut adalah
70,58%, 82,35% dan 100%. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa
hasil dari nilai ketuntasan siswa dan rata-rata sudah tercapai setelah menggunakan
metode diskusi terbimbing.
Untuk meningkatkan pembelajaran dengan metode diskusi ada beberapa
komponen yang dapat mendukung pencapaian tujuan peningkatan hasil belajar
siswa siswa terhadap bidang studi IPS Sejarah. Yang terukur dalam hasil belajar
IPS Sejarah, yaitu penggunaan metode pembelajaran diskusi terbimbing. Dengan
alasan memberdayakan potensi siswa dalam menggali pengetahuannya. Metode
diskusi terbimbing dapat berguna dan mampu mengantarkan siswa pada tujuan
pembelajaran sejarah yang ingin dicapai berdasarkan kurikulum yang berlaku.
Sesuai dengan kurikulum bahwa tujuan Pembelajaran IPS / Sejarah untuk
memahami perkembangan bangsa Indonesia dengan memahami perkembangan
kemasyarakatan bangsa Indonesia terutama bangsa Indonesia dengan dunia
Internasional.
B. Saran Tindak Lanjut
Saran yang dapat diambil dari terlaksannya penelitian iniadalah sebagai
berikut :
1. Perlunya guru membentuk kelompok belajar pada siswa, sehingga siswa dapat
belajar diskusi antar teman yang dapat menciptakan kreatifitas siswa dalam
meningkatkan pemahaman dalam diskusi.
2. Disarankan ada penelitian yang lebih lanjut tentang penggunaan metode
diskusi terbimbing agar hambatan-hambatan dalam pelaksanaan metode
tersebut dapat diatasi, sehingga penggunaan metode diskusi terbimbing benar-
benar memiliki manfaat bagi siswa dan guru sehingga hasil belajar dapat
mencapai nilai ketuntasan.
3. Disarankan kepada para peneliti bidang pendidikan hendaknya hasil penelitian
ini dapat dijadikan bahan perbandingan atau masukan untuk melakukuan
45
penelitian yang lebih luas. Masalah itu mungkin dapat dijadikan bahan
penelitian yang mendalam praktis dan aplikatif.
DAFTAR PUSTAKA
Abu. Ahmadi, 1999. Psikologi Sosial, Jakarta. Rineka Cipta
Adi, Suryanto dkk. (2012). Evaluasi Pembelajaran di SD. Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka.
Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES Press.
Aqib, Zaenal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.
Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.
BumiAksara.
Asrori, Mohammad. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : CV Wacana
Prima.
46
Dahlan, MD. 1990. Metode-Metode Mengajar. Bandung: CV. Diponegoro.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2005. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djuharie, O. Setiawan. 2001. Pedoman Penulisan Skripsi Tesis
[Link]: Yrama Widya.
Hamali, Oemar k, 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
[Link] Diakses pada 10 Agustus 2018, Jam 17.00 WIB
Kamaraga, Hansiswany. 2007. Perencanaaan Pengajaran Sejarah. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Kasmadi, Hartono. 1996. Pengembangan Pembelajaran dengan Pendekatan
Metode-Metode Pengajaran Sejarah. Semarang: IKIP Semarang Press
Margono. 2006. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Moleong. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan Sebuah Panduan Praktis.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Munib, Ahmad. 2005. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UNNES Press.
Muslimin, Ibrahim dan Muhammad Nur, 2000. Pembelajaran Berdasarkan
masalah (Buku ajar mahasiswa).Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Nurhadi, 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan [Link]: Grasindo
Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Sakri, Adjat. 1997. Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung: ITB Bandung.
Sanjaya,Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung.: Sinar
Baru Al Resindo.
Sutrisno, dkk.2009. Mengenal Lingkungan Sosial (IPS Kelas V.2). Departemen
Pendidikan Nasional.
47
Tim FKIP-UT. (2007). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta :
Universitas Terbuka.
Wahyudin, D dkk. (2007). Pengantar Pendidikan. Jakarta : Universitas Terbuka
Wardani, I G. A. K. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas
Terbuka.
Widya, I Gede. 2009. Dasar-Dasar Pengembangan Strategi serta Metode
Pengajaran Sejarah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Yamin, Martinis. 2007. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan
Pendidikan. Jakarta: Putra Grafika.