SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
SEKSI 7.17
PENGUJIAN PEMBEBANAN JEMBATAN
7.17.1 UMUM
1) Uraian
Pengujian pembebanan jembatan dilaksanakan dengan tujuan untuk:
a) Mengetahui tingkat keselamatan jembatan.
b) Menentukan tingkat keamanan konstruksi struktur terhadap beban layan.
c) Menentukan kondisi awal operasi penggunaan jembatan yang didasarkan dari
kekakuan jembatan yang didapatkan dari nilai frekuensi dasar jembatan.
2) Pekerjaan Seksi Lain Yang Berkaitan Dengan Seksi Ini
a) Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas : Seksi 1.8
b) Keselamatan dan Kesehatan Kerja : Seksi 1.19
c) Beton dan Beton Kinerja Tinggi : Seksi 7.1
d) Beton Pratekan : Seksi 7.2
e) Baja Struktur : Seksi 7.4
3) Standar Rujukan
Standar Nasional Indonesia (SNI):
SNI 1725:2016 : Pembebanan untuk Jembatan
SK SNI T-12-2004 : Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan
SK SNI T-03-2005 : Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan
4) Pengajuan Kesiapan Kerja
a) Persiapan Teknis
Beberapa hal yang perlu dilaksanakan dalam persiapan teknis ini di antaranya:
i) Mengumpulkan gambar dan dokumen perancangan.
ii) Melakukan komunikasi (diskusi) dengan perancang jembatan yang
akan diuji serta pelaksana konstruksi untuk mendapatkan informasi
mengenai kondisi desain, dan konstruksi jembatan sehingga dapat lebih
mudah dalam memprediksi perilaku jembatan.
iii) Melakukan kajian pada gambar dan dokumen perancangan terkait
dengan analisa struktur dan pemodelan jembatan.
Sebelum melaksanakan pengujian di lapangan, perlu dilakukan pengkajian
mengenai data perancangan jembatan, meliputi gambar dan data
rancangan/desain (Drawings) dan juga data dan gambar jembatan setelah
pembangunan (As Built Drawings). Dari pengkajian dua macam dokumen ini,
bisa didapatkan gambaran mengenai kondisi jembatan saat perancangan dan
pembangunan, sehingga dapat diprediksi kondisi jembatan saat ini berdasarkan
7 - 179
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
hasil desk study, apakah terdapat perubahan dari rancangan/desain dengan
pembangunan di lapangan.
b) Persiapan Administratif
Persiapan administratif mencakup penyelesaian surat-menyurat dan perizinan
di lokasi pengujian. Proses perizinan ini melibatkan Dinas Pekerjaan Umum,
Dinas Perhubungan, dan Kepolisian setempat. Jenis surat yang perlu
dipersiapkan di antaranya:
i) Surat Permohonan Izin Pelaksanaan Pengujian
Surat Permohonan Izin Pelaksanaan Pengujian ini diberikan lampiran
berupa proposal teknis rencana pengujian. Surat Permohonan Izin
Pelaksanaan Pengujian ini ditujukan pada:
1) Balai Besar/Balai Pelaksanaan Jalan Nasional untuk
Jalan Nasional.
2) Dinas PU/Kimpraswil Provinsi untuk Jalan Provinsi.
3) Dinas PU/Kimpraswil Kabupaten/Kota untuk Jalan
Kabupaten/Kota.
ii) Surat Permohonan Kerjasama Pelaksanaan Pengujian
1) Kepolisian untuk Jalan Nasional.
2) Dinas Perhubungan Provinsi dan Kepolisian Daerah untuk
Jalan Provinsi.
3) Dinas Perhubungan Kabupaten/Kota dan Kepolisian Resort
untuk Jalan Kabupaten/Kota.
Setelah proses perizinan ini mendapatkan persetujuan, maka pengujian
pembebanan pada jembatan dapat dilaksanakan.
7.17.2 PERALATAN
Setiap alat yang akan digunakan harus dipastikan terlebih dahulu dalam keadaan baik
dan telah dikalibrasi, sehingga siap dipergunakan.
1) Peralatan Utama
a) Peralatan Uji Visual
Peralatan utama yang diperlukan saat pelaksanaan uji visual selain formulir
pemeriksaan detail kondisi jembatan ditentukan jenis peralatan untuk jembatan
struktur baja dan struktur beton, di antaranya:
i) Jembatan Struktur Baja :
1) Crack Detection Microscoupe/Crack Meter
2) Kunci momen (torgue wrench)
3) Total Station
4) Waterpass
7 - 180
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
ii) Jembatan Struktur Beton :
1) UPV (Ultrasonic Pulse Velocity)
2) Hammer Test
3) Crack Detection Microscoupe/Crack Meter
4) Total Station
5) Waterpass
b) Peralatan Uji Beban Statik
Peralatan utama yang diperlukan saat pelaksanaan uji beban statik di antaranya:
i) Strain Gauge
Strain gauge memiliki kekhususan tersendiri untuk struktur baja dan
beton, sehingga dalam penggunaannya, untuk pengujian statik di
jembatan baja digunakan strain gauge baja, dan untuk di struktur beton
digunakan strain gauge beton.
ii) Data Logger Static
iii) Switch Box (jika dibutuhkan)
iv) Total Station
v) Truk Uji
c) Peralatan Uji Beban Dinamis
Peralatan utama yang diperlukan saat pelaksanaan uji beban dinamik di
antaranya:
i) Blastmate atau Accelerometer 3 arah
ii) Data Logger Dynamic
iii) Switch Box (jika dibutuhkan)
iv) Balok Uji
v) Truk Uji
2) Peralatan Pendukung Pengujian
Peralatan pendukung pada saat pelaksanaan pengujian, di antaranya:
a) Kelengkapan Memanjat (untuk memasang sensor, dll)
b) Baju Lapangan
c) Safety hat
d) Handy Talky
e) Pilox
f) Palu + Paku (secukupnya)
g) Plastik Tipis (pelindung hujan)
h) Double Tape
i) Gunting
j) Kamera Digital
k) Handycam
l) Walking Measure
7 - 181
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
3) Peralatan Keselamatan Kerja
Peralatan keselamatan kerja diperlukan dan harus dipersiapkan untuk menghindari
terjadinya kejadian yang tidak dikehendaki pada waktu melakukan pekerjaan pengujian
maupun persiapan. Beberapa peralatan keselamatan kerja yang dibutuhkan di
antaranya:
a) Peralatan Safety Hat, berguna untuk melindungi kepala dari jatuhan maupun
benturan benda keras selama pelaksanaan pengujian maupun persiapan/
pemasangan alat.
b) Safety shoes, berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau
melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
c) Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang
berhubungan dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau
mengencangkan baut dan sebagainya.
d) Safety Belt, berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh,
terutama pada saat memasang peralatan sensor.
e) Full body harness, untuk bekerja di ketinggian melebihi 1,24 meter, berguna
untuk me1indungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, terutama pada saat
memasang pera1atan sensor.
7.17.3 PELAKSANAAN
1) Aturan Pengujian Beban
Pada uji pembebanan struktur jembatan, beberapa hal yang perlu diperhatikan di
antaranya:
a) Pengujian harus memberikan informasi mengenai kondisi tegangan dan
deformasi bagian utama dalam struktur jembatan.
b) Pengujian harus mencerminkan daya dukung beban struktur
Daya dukung merupakan indeks sintetik mekanika fisik dari struktur, termasuk
kekuatan, kekakuan, stabilitas respon, dinamis, dan lain-lain. Hal ini juga
berbeda untuk sistem struktural yang berbeda. Oleh karena itu, dalam dasar
analisis struktural sebelumnya, metode yang tepat harus diadopsi dalam
pengujian untuk mengevaluasi daya dukung beban struktur.
c) Beban uji harus tidak menyebabkan kerusakan struktur
Tujuan dari pengujian pembebanan jembatan adalah untuk mempero1eh
kapasitas beban aktual jembatan dan menjamin pelayanan yang aman di bawah
beban lalu lintas. Oleh karena itu, pengujian yang dilakukan tidak boleh
menyebabkan kehancuran atau kerusakan pada struktur jembatan. Dari
pelaksanaan pengujian, tidak menyebabkan kerusakan retak baru, tidak ada
beton terkelupas atau kerusakan lainnya, lendutan maksimum dikontrol dalam
rentang yang diizinkan, dan regangan penampang I stres dikendalikan tidak
melebihi nilai yang diizinkan.
7 - 182
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
2) Dokumen Pengujian
a) Kertas kerja
Untuk mendukung pelaksanaan pengujian, diperlukan beberapa kertas kerja
yang berisi catatan mengenai:
i) Dokumen perencanaan
Dokumen perencanaan terdiri dari: as built drawing, spesifikasi teknis,
dan analisa struktur.
ii) Data Kriteria Teknis
Kriteria teknis jembatan di antaranya yaitu:
Tabel [Link]) Kriteria Teknis Jembatan
Uraian Satuan Kriteria Teknis/Indeks
Jumlah Lajur
Beban Lalu Lintas
Kecepatan lalu lintas desain km/jam
Referensi periode desain tahun
Jumlah lebar lantai jembatan m
Lebar Jalur mobil m
Lebar jalur motor m
Kemiringan longitudinal dek m
Kemiringan melintang dek %
Radius kurva vertikal %
Kecepatan air desain m
Kecepatan angin desain m/detik
Tahan Gempa m/detik
Level muka air desain m
iii) Data Material
Komponen data material utama yang digunakan pada pembangunan
jembatan.
b) Form Pengujian
Sebagai acuan dalam pelaksanaan pengujian di lapangan, maka diperlukan
beberapa form isian yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mencatat hasil
pengujian serta memberikan gambaran mengenai langkah-langkah pengujian
beserta hasilnya. Form pengujian yang digunakan dapat diambil dari BMS.
Form yang digunakan di antaranya terdiri dari:
i) Form Pemeriksaan Detail Kondisi Jembatan (Visual)
Form Pemeriksaan Detail Kondisi Jembatan (Visual) berisi mengenai:
1) Identitas jembatan, meliputi: nomor, nama, dan lokasi
jembatan
2) Waktu pemeriksaan dan identitas pemeriksa
3) Elemen yang perlu dilakukan pemeriksaan
4) Jenis tindakan yang perlu dilakukan Foto dokumentasi
jembatan
7 - 183
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
5) Daftar kerusakan elemen
6) Evaluasi elemen
7) Catatan dan gambar
ii) Form Pengujian Beban Statis
Form Pengujian Behan Statik berisi mengenai:
1) Identitas jembatan, meliputi: nomor, nama, dan lokasi
jembatan.
2) Waktu pemeriksaan dan identitas pemeriksa.
3) Informasi jumlah dan posisi beban yang digunakan (berupa
table dan gambar)
4) Informasi jumlah dan posisi sensor yang digunakan (berupa
tabel dan gambar)
5) Catatan hasil pengamatan lendutan
iii) Form Pengujian Beban Dinamis
Form Pengujian Behan Dinamis berisi mengenai:
1) Identitas jembatan, meliputi: nomor, nama, dan lokasi
jembatan
2) Waktu pemeriksaan dan identitas pemeriksa.
3) Sketsa Penempatan alat pencatat getaran
4) Catatan hal-hal yang menjadi perhatian saat pelaksanaan
pengujian
c) Proposal Pengujian
Proposal pengujian berisi uraian mengenai:
i) Maksud dan tujuan pengujian
ii) Metode yang akan dilaksanakan
iii) Langkah-langkah pelaksanaan pengujian
iv) Kebutuhan SDM dan peralatan
v) Analisa basil pemodelan
vi) Hasil yang diharapkan
3) Pengujian Lapangan
a) Pemeriksaan Visual
Pada pemeriksaan visual ini diperlukan tenaga ahli yang terlatih yang dapat
mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat
membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya. Sebagai
contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis retak yang
mungkin terjadi pada struktur beton.
7 - 184
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
Tahapan yang dilaksanakan pada pemeriksaan visual:
i) Lakukan pemeriksaan kondisi umum jembatan
Dilakukan pemeriksaan detail yang pada pelaksanaannya mencatat
kerusakan atau kelainan penting yang terdapat pada elemen-elemen
struktur jembatan secara detail.
ii) Lakukan pemeriksaan retak dengan alat UPV dan alat pengukur retak
untuk jembatan beton.
Pemeriksaan retakan diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat
dan lengkap mengenai kondisi retak yang ada sehingga dapat diambil
kesimpulan seberapa jauh retakan yang ada mempengaruhi struktur
serta untuk mengetahui atau mengindikasikan penyebab terjadinya
keretakan.
Alat yang digunakan untuk memeriksa kedalaman keretakan ini adalah
Pundit yaitu alat pengujian Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) dan untuk
lebar retak digunakan crackmeter dengan menggunakan tambahan
berupa kaca pembesar untuk mengukur lebar retak yang terjadi. Untuk
dapat membedakan jenis-jenis retak tersebut beserta penyebabnya,
perlu dilakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak
yang terjadi. Dari penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan
awal mengenai penyebab retak.
Dari pengujian dengan alat UPV dan pengukur retak ini akan
didapatkan data-data kedalaman, lebar dan panjang retak serta ada
tidaknya rongga atau keropos pada betonnya. Elemen-elemen jembatan
yang diperiksa kondisinya (kemungkinan retaknya) adalah bagian-
bagian yang bersifat struktural dan terbuat dari beton yaitu kepala
jembatan, pilar, gelagar dan pelat lantai jembatan.
iii) Lakukan pengujian tekan yang lebih akurat mengenai kuat tekan beton.
Dari hasil pemeriksaan visual ini, dapat dituangkan dalam proposal
pengujian pembebanan yang di dalamnya berisi penentuan jumlah
beban dan pemodelan pengujian dengan sudah mempertimbangkan
jika terdapat kerusakan yang telah terjadi pada jembatan.
b) Pengujian Beban Statis
i) Kriteria beban yang dikerjakan pada struktur:
1) Total beban statis yang diberikan harus dihitung sedemikian
rupa sehingga tidak mengakibatkan kerusakan pada elemen
struktur jembatan. Dalam beberapa pengujian besamya beban
yang diambil tidak melebihi 50% beban UDL.
2) Total beban harus didistribusikan ke dalam sejumlah titik
pembebanan sehingga dapat mewakili beban lalu lintas yang
sebenamya.
3) Behan diberikan secara bertahap, mulai dari posisi beban yang
memberikan efek minimal.
4) Beban yang diberikan simetris.
5) Dari tahap beban ke beban berikutnya harus diberi jarak waktu
yang cukup untuk struktur merespon beban yang diberikan.
7 - 185
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
Hal ini dapat dilihat apakah jembatan masih mengambil
penammbahan lendutan atau tidak
ii) Tahapan pengujian:
1) Persiapan :
a) Persiapan Perencanaan (di kantor)
Perhitungan jumlah beban dan konfigurasi truk yang
digunakan:
Jumlah beban yang akan diterapkan tergantung pada
rencana beban yang akan diterapkan, dengan tetap
memegang prinsip bahwa pengujian yang dilakukan
adalah pengujian yang tidak merusak (non destructive
test), sehingga penentuan jumlah beban yang
digunakan sebisa mungkin tidak akan menyebabkan
kerusakan pada jembatan yang diuji ·namun tetap
dapat menghasilkan data sesuai dengan yang
diperlukan.
b) Persiapan Pelaksanaan (di lapangan)
i) Setelah persiapan awal dan investigasi
lapangan, atur item-item pengujian bila perlu
.
ii) Tandai posisi pembebanan pada lantai sesuai
dengan titik-titik pengujian dan tanda-
tanda acuan yang telah ditetapkan sebelumnya
iii) Pemasangan Sensor
Strain gauge ditempatkan pada titik yang akan
memiliki tegangan terbesar. Lokasi tersebut
disesuaikan dengan hasil pemodelan yang
telah dilaksanakan oleh ahli jembatan .
iv) Setel Alat: Data Logger Static dan switch box
jika jumlah sensor melebihi kapasitas data
logger.
v) Periksa kondisi sensor dan alat siap digunakan
dan tidak ada gangguan.
vi) Hubungkan instrumen dan perlengkapan,
periksa apakah masing-masing sistem bekerja
segera setelah elektrifikasi.
vii) Tempatkan Total Station di lokasi yang dapat
menjangkau seluruh penampang jembatan.
viii) Persiapan Truk Uji
Truk yang akan digunakan sebagai beban
pada saat pengujian harus dipersiapkan
terlebih dahulu sesuai dengan jumlah beban
yang direncanakan dan ketersediaannya di
lokasi pengujian.
7 - 186
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
Truk yang akan digunakan harus tercatat
konfigurasi dan jumlah bebannya, sehingga
perlu dilakukan penimbangan terlebih dahulu.
Timbangan yang digunakan untuk
mengetahui beban truk harus dikalibrasi
terlebih dahulu agar dapat menunjukan
jumlah beban yang akurat.
ix) Pemeriksaan dan Kekencangan Baut
Untuk pengujian jembatan konstruksi baja,
pastikan semua baut dalam kondisi terpasang
dengan baik dan kencang sesuai dengan
momen kekencangannya.
x) Tentukan waktu pembebanan sesuai dengan
kondisi lapangan dan cuaca.
2) Pelaksanaan Pengujian
Pengujian Beban Loading dan Un-loading
a) Pastikan kembali kondisi semua alat tetap dalam
kondisi baik, terutama strain gauge
b) Catat kondisi awal (inisiasi) dengan menekan tombol
data logger static sehingga didapat data pembacaan
sensor awal.
c) Lakukan pembacaan pada total station untuk semua
lokasi pengamatan (TS-0) pacta awal truk tiba, dan
setelah truk diam.
d) Tempatkan truk pada tengah bentang sesuai dengan
perencanaan awal secara bertahap hingga keseluruhan
truk berada di jembatan dan semua data terbaca setiap
tahapannya.
e) Skema pembebanan:
Pembebanan dilakukan secara bertahap untuk melihat
perilaku jembatan pada saat pengujian maupun paska
pengujian. Skema pembebanan statik adalah sebagai
berikut:
i) Loading :
• Tahap 1, tidak ada truk
• Tahap 2, truk yang digunakan 4 buah
ditempatkan di masing-masing
pinggir kiri dan kanan bentang
jembatan
• Lanjutkan terus setiap tahapan
hingga truk mencapai tengah bentang
atau hingga batas maksimum beban
yang direncanakan
• Setiap tahapan selalu dicatat kondisi
lendutan yang terjadi dan
dikoordinasikan dengan tenaga ahli
struktur untuk mendapatkan instruksi
selanjutnya.
7 - 187
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
ii) Un-loading :
• Tahap Un-loading 1, truk memenuhi
setengah bentang jembatan
• Tahap Un-loading 2, truk yang
digunakan dikurangi 2 buah dan
semua truk di depannya mundur
sepanjang (10 + panjang truk) m.
• Lakukan terus hingga truk dijembatan
kembali kosong.
Sepanjang pengujian, perpindahan struktur
sebagaimana regangan elemen struktural di dalam
lokasi kritisnya diukur dengan menggunakan berbagai
teknik dan peralatan pengukuran.
Secara umum, perpindahan dapat dipertimbangkan
suatu ukuran kekakuan struktural, sedangkan
reganganan adalah suatu ukuran kerja bahan di dalam
struktur itu.
Perpindahan struktur akibat pembebanan statis dapat
diukur dalam arah horisontal dan arah vertikal tetapi
perpindahan vertikal, dinyatakan pada umumnya
sebagai lendutan elemen struktural, diukur dalam
setiap kasus, menggunakan dial gauge (strain gauge),
LVDT (transducer dengan perbedaan voltase linier)
yang difabrikasi, pengukuran kerataan atau teknik
pengukuran lain.
Nilai-nilai yang terukur dari perpindahan,
kebanyakannya adalah lendutan, dibandingkan
dengan nilai-nilai yang terhitung yang sesuai untuk
beban standar, beban perancangan dan dan sesuai
dengan kendaraan yang diterapkan pada pengujian.
c) Pengujian Beban Dinamis
Uji dinamis pada jembatan jalan raya dapat dilakukan menggunakan
pembebanan berikut:
• lalu-lintas normal,
• kendaraan atau mesin uji,
• pelepasan mendadak lendutan dengan mewujudkan suatu beban yang
berkait dengan struktur,
• pembuatan gelombang eksitasi sinusoidal,
• alat masukan energi,
• pengereman kendaraan atau suatu mesin pada jembatan,
• Impak yang dihasilkan oleh suatu kendaraan yang berjalan melalui
palang baku (dalam kasus jalan raya).
Pemeriksaan getaran jembatan dilakukan untuk mengetahui apakah perilaku
getaran jembatan yang ada masih memenuhi kriteria-kriteria getaran jembatan
atau tidak. Kriteria-kriteria getaran pada jembatan tersebut yaitu meliputi
kriteria kekakuan, kriteria daya layan, kriteria kapasitas beban pikul dan kriteria
redaman. Pengujian getaran dilakukan dengan memanfaatkan beban bergerak
atau lalu lintas kendaraan yang bermuatan berat lewat. Pengukuran getaran
jembatan menggunakan alat vibrocorder yang menghasilkan rekaman getaran
7 - 188
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
pada kertas film dengan sensor berupa tranduser yang ditempatkan pada
setengah bentang.
Pengujian seperti itu memberikan informasi tentang beberapa karakteristik
dinamis yang dipilih dari jembatan secara umum. Selama pengujian dinamis,
parameter berikut ini menandai perilaku dinamis suatu jembatan pada
umumnya diukur:
• frekuensi alami
• bentuk mode,
• faktor redaman.
Secara sederhana, metode pengujian beban dinamis menggunakan alat sensor
pencatat getaran adalah sebagai berikut:
• Siapkan alat sensor untuk mendapatkan getaran arah horisontal (dalam
hal ini digunakan alat STS-WiFi)
• Tempatkan sensor pada puncak pilar/pangkal jembatan
• Tempatkan alat pencatat getaran di lokasi yang aman dan bebas dari
gangguan
• Kalibrasikan alat pencatat getaran untuk mendapatkan rekaman yang
baik.
• Lewatkan kendaraan (truk uji) pada sebuah balok kayu ukuran tertentu
(sesuai perencanaan).
• Lakukan pencatatan getaran.
d) Pengendalian dan Keamanan Pengujian
Selama seluruh proses pelaksanaan pengujian, personil pengujian harus
menguasai situasi lapangan untuk mengendalikan pembebanan. Hal tersebut
akan memberikan dampak pengujian yang baik, di samping jaminan keamanan
bagi personil, peralatan dan perlengkapan, serta jembatan. Terdapat beberapa
komponen yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:
i) Pengendalian pembebanan
Luas pembebanan dan gaya internal per-bagian harus ditingkatkan
secara gradual dari level yang lebih rendah ke level yang lebih tinggi
langkah demi langkah dalam memenuhi prosedur pembebanan yang
telah dispesifikasikan. Harus selalu siap untuk menghentikan
pembebanan atau unloading pada setiap saat.
ii) Pengukuran titik pengujian
Titik-titik pengukuran harus diukur dan dikalkulasi selama seluruh
proses uji pembebanan. Seluruh data harus dikumpulkan dan dianalisis
untuk menentukan status pengujian setiap saat. Jika nilai pengukuran
aktual jauh di bawah nilai kalkulasi, maka pembebanan harus
dihentikan sementara untuk mengetahui alasan, kemudian untuk
menentukan kalau pengujian akan berlanjut.
iii) Observasi pada proses pembebanan
Personil harus ditugaskan untuk mengobservasi titik-titik lemah
struktur guna memeriksa apakah terdapat retakan, kerusakan, bunyi
yang abnormal, getaran yang abnormal, dan sebagainya, pada uji
7 - 189
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
pembebanan. Jika terjadi ketidak-normalan, maka hal tersebut harus
dilaporkan segera untuk mengambil ukuran-ukuran dan tindakan yang
relevan.
iv) Kriteria untuk menghentikan pembebanan
Pembebanan harus dihentikan jika terjadi hal-hal sebagai berikut:
- Tegangan pada titik pengukuran mencapai atau melebihi nilai
kendali yang telah diperhitungkan dengan teori elastik
menurut standar desain.
- Perpindahan/defleksi titik pengukuran melebihi nilai yang
diperkenankan.
- Distribusi defleksi yang diukur secara aktual pada gelagar
sepanjang jembatan sangat berbeda dari yang telah
diperhitungkan, atau deformasi yang diukur secara aktual jauh
di atas nilai yang telah diperhitungkan
- Keruskan-kerusakan lain yang akan berpengaruh pada
kapasitas dukung atau tingkat layanan jembatan.
Untuk menjamin keamanan serta kemudahan implementasi pengujian,
dan untuk mencegah kecelakaan, maka aturan-aturan berikut ini harus
diikuti secara ketat dalam pengujian, di antaranya:
- Bangun kesadaran akan keselamatan, tingkatkan kewaspadaan
dan hindari kecelakaan kerja.
- Dasar kunci pelaksanaan pekerjaan harus ditata dengan
fasilitas-fasilitas proteksi dan pencahayaan, staf pengujian
harus mengenakan helm dan sabuk pengaman.
- Selama pengujian, perhatikan keamanan dan perlindungan air
bagi peralatan dan perlengkapan.
- Staf pengujian harus memahami instruksi-instruksi lapangan.
- Personil yang tidak berkepentingan dilarang keras memasuki
area pengujian.
Untuk menghindari terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan
pengambilan data di lapangan, beberapa hal perlu dipastikan terlebih
dahulu, di antaranya:
- Pastikan saat pelaksanaan pengujian dimulai, peruman dari
pemerintah setempat telah didapatkan dengan pemberian
waktu pengujian sesuai dengan rencana.
- Pastikan waktu pelaksanaan pengujian di lapangan sesuai
dengan rencana yang telah disepakati agar semua persiapan
dapat dimatangkan dari semua pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan pengujian.
Persiapkan semua perlengkapan dan alat siap untuk menerima segala
kondisi alam, seperti panas dan hujan. Berikan penutup jika alat tidak
tahan terhadap cuaca dengan tetap menjaga kinerjanya agar tetap
berjalan dengan baik.
7 - 190
SPESIFIKASI UMUM 2018 (Revisi 2)
7.17.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
1) Cara Pengukuran
Kuantitas Pengujian Pembebanan Jembatan sebagai dasar pembayaran harus diukur
sesuai dengan jumlah elaksanaan pengujian selesai dikerjakan dan laporan diterima.
2) Dasar Pembayaran
Kuantitas pekerjaan Pengujian Pembebanan Jembatan akan ditentukan sebagai-mana
disyaratkan di atas, akan dibayar pada Harga Penawaran per satuan pengukuran untuk
Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan ditunjukkan dalam Daftar Kuantitas dan
Harga.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
7.17.(1) Pengujian Pembebanan Jembatan Buah Jembatan
7 - 191