0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Tafsir Sufistik Ayat Mahabbah

MATKULL TAFSIR SOSPOL

Diunggah oleh

Anjela Kharomah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Tafsir Sufistik Ayat Mahabbah

MATKULL TAFSIR SOSPOL

Diunggah oleh

Anjela Kharomah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH TAFSIR SUFI

PEMBAHASAN SUFISTIK TAFSIR AYAT MAHABBAH (AL-BAQARAH


165) & (ALI IMRAN 31-32)

( MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH STUDI TAFSIR SUFI
ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR )
DOSEN PENGAMPU : [Link], [Link],[Link]

DISUSUN OLEH :

Maulana Halim Hafiz ( 2331030041 )

Wisnu Airlangga Alfatih Muhammad ( 2331030049 )

PROGRAM STUDI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA AGAMA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

TAHUN AJARAN 2025 / 2026


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobil’alamin, dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah


SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Penyusunan tugas ini tentunya penulis telah banyak mendapat bantuan dan arahan dari
berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada
Dosen Pengampu dan seluruh rekan-rekan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
tugas ini.

Makalah yang berjudul “PEMBAHASAN SUFISTIK TAFSIR AYAT MAHABBAH”


disusun guna memenuhi tugas dari dosen pengampu bapak [Link], [Link],[Link] dengan
mata kuliah Bahasa Indonesia. Semoga makalah ini dapat membantu para pembaca dalam
belajar mata kulaih Metode Penelitian Ilmu Al Qur’an dan Tafsir.

Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan. Oleh Karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun
sehingga pembuatan makalah yang akan datang dapat lebih baik.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Bandar lampung, 5 November 2025

Kelompok
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................. 2

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG .................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. MAHABBAH ........................................................................................................... 5

B. TAFSIR SUFISTIK QS ALBAQARAH 165 ............................................................ 7

C. TAFSIR SUFISTIK QS ALI IMRAN 31 .................................................................. 9

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN ..................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 13


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam khazanah Islam, mahabbah atau cinta merupakan konsep spiritual yang sangat
penting dan mendalam. Ia bukan sekadar perasaan emosional, melainkan sebuah jalan ruhani
yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Dalam pandangan para sufi, mahabbah
adalah puncak dari perjalanan spiritual (sulūk) yang menuntun seorang hamba menuju
makrifatullah — yaitu pengenalan dan kedekatan sejati dengan Allah. Al-Qur’an sebagai
sumber utama ajaran Islam, banyak menyinggung tentang cinta, baik cinta kepada Allah,
cinta Allah kepada hamba-Nya, maupun cinta yang salah arah kepada selain-Nya.
Dua ayat yang sering dijadikan dasar dalam pembahasan mahabbah ialah QS. Al-
Baqarah ayat 165 dan QS. Ali Imran ayat 31. Dalam Al-Baqarah: 165, Allah mengingatkan
manusia tentang bahaya mencintai selain-Nya dengan kecintaan yang seharusnya hanya
ditujukan kepada Allah. Ayat ini menggambarkan bahwa sebagian manusia menjadikan
tandingan-tandingan bagi Allah dalam cinta dan pengabdian, padahal cinta sejati hanya
pantas diberikan kepada Sang Pencipta. Sementara dalam Ali Imran: 31, Allah menjelaskan
ukuran dan bukti nyata cinta kepada-Nya, yakni dengan mengikuti Rasulullah ‫ﷺ‬. Ayat ini
menegaskan bahwa mahabbah kepada Allah tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan
dalam bentuk ketaatan dan ittiba’ kepada sunnah Nabi.
Dalam tradisi tasawuf, kedua ayat tersebut menjadi landasan dalam menjelaskan
hakikat cinta ilahi. Para sufi seperti Rabi’ah al-‘Adawiyah, al-Ghazali, dan Ibn al-Qayyim
menafsirkan mahabbah bukan hanya sebagai kewajiban moral, melainkan sebagai keadaan
ruhani (hal) yang menggerakkan hati menuju Allah. Cinta kepada Allah dipandang sebagai
sumber segala kebaikan, motivasi utama ibadah, dan tujuan akhir perjalanan spiritual.
Melalui cinta, seorang sufi melepaskan keterikatan duniawi dan mencapai kedamaian batin
yang hakiki.
Dengan demikian, pembahasan sufistik terhadap tafsir ayat mahabbah menjadi
penting untuk dikaji, sebab di dalamnya terkandung pemahaman yang tidak hanya bersifat
teologis, tetapi juga spiritual dan etis. Kajian ini akan mengungkap bagaimana para sufi
memahami makna cinta kepada Allah, serta bagaimana makna tersebut dapat diaplikasikan
dalam kehidupan seorang mukmin. Oleh karena itu, makalah ini berjudul “Pembahasan
Sufistik Tafsir Ayat Mahabbah (Al-Baqarah: 165) dan (Ali Imran: 31)”, yang bertujuan
untuk menggali nilai-nilai cinta ilahi dalam perspektif Al-Qur’an dan tasawuf.
BAB II

PEMBAHASAN

A. MAHABBAH

Maḥabbah secara etimologi berasal dari bahasa Arab Ahabba-Yuhibbu (yang memiliki arti
mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam.1 Ibn Qayyim AlJawziyah
mengungkapkan bahwa kata al-Hubb memiliki sinonim sebanyak 50 kata bahkan lebih, di
antaraya adalah kata al-maḥabbah (cinta), al-‘alaqah (ketergantungan), al-hawa’
(kecenderungan hati), al-sabwah (keriduan), al-sababah (rindu berat), alshaghaf (mabuk
kepayang), al-miqah (jatuh hati), al-wujdu (rindu bercampur sedih), alkalaf (derita karena cinta),
al-tatayyum (pemujaan), al-‘ishq (kasmaran), al-jawu (yang membara), al-danaf (sakit karena
cinta), al-sajwu (yang menyedihkan/merana), al-shawq (rindu), al-khilabah (yang memperdaya),
al-balabil (yang menggelisahkan), al-tabarih (yang memberatkan), al-sadam (sesal dan sedih),
al-ghamarat (tidak dasar atau mabuk), al-wah (yang menakutkan), al-ikhti’ab (yang membuat
merana), al-wasub (kepedihan), al-hanin (penuh kasih sayang), al-futun (cinta yang penuh
cobaan), al-rasis (gejala cinta), al-wudd (kasih yang tulus) dan al-marhamah (perasaan sayang).2
Pada perkembangan selanjutnya, kata mahabbah dipakai untuk menunjukkan ahwal atau kondisi
seseorang dalam ilmu tasawuf, yang berarti rasa cinta yang mendalam seseorang secara ruhaniah
kepada Allah Swt.
Dalam Tasawuf, maḥabbah merupakan pijakan bagi segala kemuliaan hal (keadaan), sama
halnya dengan taubat yang merupakan dasar bagi segala kemuliaan maqam, Maqam adalah
sebuah istilah dalam dunia sufistik yang menunjukkan arti tentang suatu nilai etika yang akan
diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang salik (seorang hamba pencari kebenaran spiritual
dalam praktik ibadah) dengan melalui beberapa tingkatan mujahadah secara gradual; dari suatu
tingkatan laku batin menuju pencapaian tingkatan maqam berikutnya dengan suatu bentuk
amalan (mujahadah) tertentu; sebuah pencapaian kesejatian hidup dengan pencarian yang tak
kenal lelah, beratnya syarat dan beban kewajiban yang harus dipenuhi. Seseorang yang sedang
menduduki atau memperjuangkan untuk mencapai suatu maqam harus menegakkan nilai-nilai
yang terkandung dalam maqam yang sedang dikuasainya. Oleh karena itu, dia akan selalu sibuk
dengan berbagai riyadah.
Karena maḥabbah pada dasarnya adalah anugerah yang menjadi dasar bagi segenap hal.

1
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), 96.
2
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Taman Jatuh Cinta dan Rekreasi Orang-Orang Dimabuk Rindu, penerjemah: Bahrun
Abu Bakar Ihzan Zubaidi (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2000), 39-41.
Kaum sufi menyebutnya sebagai anugerah (mawhib). Mah}abbah merupakan buah dari tauhid
dan ma‘rifah. Setiap maqam dan hal berasal darinya.3 Maḥabbah dalam ajaran tasawuf erat
kaitannya dengan perasaan cinta seorang hamba kepada Tuhan. Lebih luas lagi, mahabbah
mengandung makna memeluk dan mematuhi perintah Tuhan serta membenci sikap yang
menunjukkan pembangkangan kepada Tuhan. Selain itu, mah}abbah memuat arti pengosongan
perasaan di dalam hati dari segala sesuatu selain-Nya.
Bagi kaum sufi, seorang hamba adalah pecinta sedangkan Allah adalah Sang Kekasih.
Karena pada hakikatnya setiap perbuatan itu harus ditujukan kepada Allah, Dia juga termasuk
pemberi cinta. Cinta Allah kepada para sufi itu mendahului cinta mereka kepada Allah. Selain
itu, para sufi sangat jarang menyebut-menyebut cinta Allah kepada manusia, tetapi sebaliknya
mereka sering menyebut-menyebut cinta manusia kepada Allah. Cinta manusia kepada Allah ini
adalah suatu kewajiban seorang hamba, sedangkan cinta Allah kepada manusia merupakan
rahmat di mana sang hamba tidak memiliki tuntutan sama sekali terhadap hal itu. Bagi para sufi,
Allah adalah suatu objek unik dan tidak dapat diperbandingkan pemujaannya.4
Al-Ghazali menyebutkan bahwa hakikat cinta adalah perasaan yang yang amat senang ketika
telah dekat dengan Allah. Sebagaian sufi mengatakan, hakikat dekat dengan-Nya adalah
hilangnya panca indera dari hati muncul ketenangan hati ketika berada di hadapan Allah.5Ketika
hati seseorang benar-benar mencintai Allah, maka ia telah bersiap-bersiap memperoleh puncak
kesempurnaan dan memperoleh karunia Allah yang melimpah. Tetapi berseminya rasa cinta
hanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu. Rasa cinta kepada Allah tidak bisa dirasakan
semua orang. Sesungguhnya cinta adalah kemuliaan yang dipilihkan Allah untuk para kekasih-
Nya. Sesungguhnya rasa cinta adalah anugerah yang dengan sendirinya mengalir dari
kemurahan Allah, sebelum bisa diupayakan oleh kehendak manusiawi.6 Seseorang dapat
mencintai Tuhan jika ia melakukan dua hal, pertama: memutuskan interaksi duniawi dan
mengeluarkan rasa cinta kepada selain Allah dari hati. Kedua: kuatnya penganalan terhadap
Allah. hal itu dapat terjadi setelah mensucikan hati dari segala kesibukan duniawi.7
Abu Talib al-Makki sebagaimana dikutip oleh Annemarie Schimmel merangkum gagasan
tasawuf moderat dengan mengatakan bahwa bagi orang yang beriman, cinta kepada Tuhan dan
utusan-Nya haruslah diutamakan dari segalanya. Karena Rasulullah menjadikan cinta kepada
Tuhan sebagai suatu syarat keimanan.8 Dan termasuk kecintaan itu adalah mengikuti Nabi saw.
dalam segala petunjuknya, kezuhudan, akhlak dan meneladani segala hal darinya. Serta

3
Abu Hamid al-Ghazali, Jalan Menuju Tuhan: Panduan Membentuk Kejernihan Jiwa (Jakarta: Azan, 2001), 53.
4
Marget Smith, Rabi’ah: Pergulatan Spiritual Perempuan (Surabaya: Risalah Gusti, 1997), 105-106.
5
Abu Hamid al-Ghazali, Jalan Menuju Tuhan: Panduan Membentuk Kejernihan Jiwa (Jakarta: Azan, 2001), 56.
6
Muhammad al-Ghazali, Menghidupkan Ajaran Rohani Islam (Jakarta: Lentera, 2001), 385.
7
H.A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, 242-244.
8
Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 167.
berpaling dari keindahan dan kemilaunya dunia. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikan
Nabi sebagai petunjuk, serta bukti pada ummat-Nya. Termasuk kecintaan terhadap Allah adalah
lebih mengutamakan kecintaan terhadap Allah di atas diri maupun keinganan diri agar dapat
memulai dalam segala urusan-Nya sebelum urusan diri sendiri. Tanda seorang pecinta adalah
sejalan dengan yang dicintai, dan mengikuti jalan-jalannya dalam segala urusan dan
mendekatkan kepadanya dengan segala upaya, serta menjauhi hal-hal yang menghambat
tujuanya itu.9

B. Tafsir Sufistik Q.S. Al-Baqarah 165

‫ظلَ ُم ْْٓوا اِ ْذ‬


َ َ‫ِّل َولَ ْو َي َرى الَّ ِذ ْين‬ َ َ‫ّٰللا َوالَّ ِذ ْينَ ٰا َمنُ ْْٓوا ا‬
ِ ِۙ ‫ش ُّد ُح ًّبا ِ ه‬ ِ ِۗ ‫ب ه‬ ِ ‫اس َم ْن َّيتَّ ِخذُ ِم ْن د ُْو ِن ه‬
ِ ‫ّٰللا اَ ْندَادًا ُّي ِح ُّب ْونَ ُه ْم َك ُح‬ ِ َّ‫َو ِمنَ الن‬
‫۝‬ ١٦٥ ‫ب‬ِ ‫ش ِد ْي ُد ا ْلعَذَا‬ ‫ِّل ج َِم ْيعً ِۙا َّواَنَّ ه‬
َ َ‫ّٰللا‬ َ ِۙ َ‫يَ َر ْونَ ا ْلعَذ‬
ِ ‫اب اَنَّ ا ْلقُ َّوةَ ِ ه‬
Artinya : “Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai
tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-
orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang
berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu
semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal).”

Menurut Sahl al-Tustarī makna ayat ini bukan sekadar kecaman terhadap penyembah
berhala, tetapi juga terhadap siapa saja yang menjadikan selain Allah sebagai pusat
kecintaannya.
Dalam tafsir batin Tustarī, “andād” (tandingan-tandingan) tidak hanya berarti berhala fisik,
tetapi juga segala sesuatu yang menyaingi Allah dalam hati — seperti hawa nafsu, keinginan
dunia, atau rasa cinta kepada makhluk secara berlebihan.
Cinta sejati kepada Allah adalah cinta yang menaklukkan semua cinta selain-Nya; ketika
mahabbah kepada Allah memenuhi hati, tidak tersisa ruang untuk selain-Nya.10
Buya Hamka, kalimat andadan dalam ayat diatas dimaknai dengan tandingan-
tandingan, atau dengan tandingan–tandingan itu orang-orang mempersekutukan Allah.
Menurutnya, orang-orang musyrik itu mencintai yang lain sebagaimana ia mencintai Allah.
Oleh karena cintanya telah terbagi, maka tauhid pun sudah tidak ada lagi dalam jiwanya,
jika tauhid sudah tidak adalagi, maka retak pulalah imannya.
“Tetapi orang-orang yang beriman lebih cintalah mereka akan Allah.”

9
‘Abd al-Halim Mahmud, Hal Ihwal Tasawuf: Analisa Tentang al-Munqidz Minadhdhalal (Indonesia: Darul Ihya,
[Link]), 269
10
Tafsīr al-Tustarī, ed. Gerhard Böwering, London: Royal Asiatic Society, 2002
Pada penggalan ayat setelahnya ini, ia mengatakan bahwa meskipun orang yang
beriman mencintai yang lain selain Allah, namun kecintaan mereka terhadapyang lain
itu merupakan bentuk dorongan dari cinta Allah. Misalnya, orang-orang beriman itu
mencintai tanah air karena tanah air merupakan pemberian dari Allah. Mereka mencintai
anak, istri dan harta benda, karena mereka meyakini bahwa anak dan istri begitupun harta
benda merupakan amanat dari Allah yang harus dijaga. Oleh karenanya, jika di tilik
kembali cinta orang-orang yang beriman, maka terbuktilah bahwa, cinta mereka hanyalah
satu untuk Allah semata atau tidak terbagi kepada selain-Nya. “Padahal kalau mengertilah
oerang-orang yang zalim itu, seketika mereka melihat azab, bahwasanya kekuatan ada
pada Allah, dan bahwasanya Allah adalah sangat pedih siksa-Nya.” Kemudian ia
melanjutkan, jika sekiranya orang-orang yang zalim itu mengerti bahwasanya di akhirat nanti,
tandingan-tandingan yang mereka cintai itu ternyata atidak ada kekuatannya sama
[Link] semasa hidup di dunia mereka tidak akan mengadakan tandingan-tandingan
bagi Allah. Oleh karena mengadakan tandingan-tandingan bagi Allahtelah menjadi diri
mereka musyrik, maka azab yang amat pedih menanti mereka di akhirata dan tidak ada
satupun dari tandingan-tandingan yang mereka cintai itu dapat menolong mereka.11
M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah memberikan penjelasan bahwa ayat diatas
Allah berfirman diantara manusia ada orang-orang yang menyembah apa yang dianggapnya
tandingan –tandingan selain Allah, baik berupa bintang, berhala, maupun manusia yang telah
tiada, atau pemimpin-pemimpinnya. Padahal tandingan-Nyajuga ciptaan-Nya, bahkan mereka
tidak hanya menyembahnya namun juga [Link] mentaatinya dan bersedia
melakukan apapun yang diperintahkan sebagaimana mereka mencintai Allah. Kondisi mereka
berbeda dengan orang yang beriman. Orang-orang yang beriman cintanya kepada Allah akan
semakin kuat, karena citanya akan lebih mantap daripada kaum musrikin terhadap tuhan atau
sesembahan yang mereka sembah. Hal ini dikarenakan orang-orang yang beriman
mencintai Tuhannya tanpa balas, mereka membuktikan cintannya dengan cara meyakini serta
mempelajari sifat-sifat Tuhan yang maha indah. Cintanya orang yang beriman dan yang
mempersekutukan Allah itu berbeda. Karena sesungguhnya mereka yang menyekutukan
Allah akan mengetahui balasan-Nya pada hari kiamat.12

11
Haji Abdul Malik Abdul Karim Abdullah, Tafsir Al-Azhar Juz I, ( Jakarta : Panji Mas, ), H. 371-373
12
Muhammad Latif, “Konsep Cinta "Al HUBB" Menurut M. Quraish Shihab dan M. Said Ramadhan Al
Buthi”,Skripsi Institut Agama Islam Negeri(IAIN), (Salatiga: Perpustakaan, Insitut Agama Islam Negeri (IAIN)
2019), h. 41.
C. Penafsiran Sufistik Q.S. Ali Imran Ayat 31-32

‫سو َل فَاِن‬
ُ ‫الر‬ ٰ ‫۝قُل اَ ِطيعُوا‬
َّ ‫ّللاَ َو‬ َ ُ‫ّللا‬
٣١ ‫غفُور َّر ِحيم‬ ٰ ‫ّللاَ فَاتَّ ِبعُونِي يُح ِبب ُك ُم‬
ٰ ‫ّللاُ َويَغ ِفر لَكُم ذُنُوبَكُم َو‬ ٰ َ‫قُل اِن كُنت ُم ت ُِحبُّون‬
٣٢ َ‫ب ال ٰك ِف ِرين‬
‫۝‬ ٰ َّ‫تَ َولَّوا فَاِن‬
ُّ ‫ّللاَ َل يُ ِح‬
Artinya : “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ”Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya apabila mereka
berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. Ali ‘Imran
[3]: 31-32)

Di awal penafsirannya, al-Bursawi terlebih dahulu menjelaskan asbab al-nuzul dari ayat
ini. Ia menerangkan bahwa ayat ini diturunkan ketika Rasulullah mengajak Ka‘ab ibn al-
Ashraf dan para sahabatnya kepada keimanan, maka mereka berkata: “kami adalah anak laki-
laki Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Maka Allah berfirman kepada Rasul-Nya: “Katakanlah
kepada mereka: ‘Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah, aku menyeru kalian kepada
keimanan. Apabila kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku dalam menjalankan agama-Nya
dan laksanakanlah perintahku, niscahya Allah mencantaimu dan meridhaimu.”13
Penjelasan asbab al-nuzul ayat ini oleh al-Bursawi dimaksudkan untuk memperkuat
argumentasi penafsirannya. Karena sebuah penafsiran bukan hanya bersumber dari
argumentasi aqli saja, tetapi perlu didukung dengan dalil naqli juga. Hal ini memberi indikasi
bahwa metode penafsiran yang digunakannya masih berpijak pada pemaknaan zahir ayat.
Setelah menjelaskan asbab al-nuzul dari ayat ini, al-Bursawi kemudian menerangkan
tentang maḥabbah. Menurutnya, maḥabbah berarti condongnya jiwa kepada sesuatu karena
ada kesempurnaan yang diketahui oleh jiwa terhadap sesuatu, sehingga jiwa mau menanggung
hal-hal yang mendekatkan kepada-Nya. Bila seseorang mengetahui bahwa kesempurnaan
yang hakiki hanya pada Allah dan bahwa setiap yang dilihatnya sebagai kesempurnaan yang
hakiki hanya pada Allah dan bahwa setiap yang dilihatnya sebagai kesempurnaan diri-Nya,
atau melihat kesempurnaan yang ada pada selain-Nya itu sebagai kesempurnaan yang berasal
dari Allah, karena Allah, dan pada Allah, maka cintanya itu hanya untuk Allah. Kecintaan ini
menuntut kehendak untuk mentaati-Nya dan merasa senang atas apa-apa yang telah
ditetapkan-Nya untuknya. Oleh karena itu, maḥabbah diinterpretasikan sebagai kehendak
untuk berbuat taat. Dan maḥabbah dijadikan suatu kelaziman dalam mengikuti Rasulullah
saw., dalam mentaati dan menolongnya.14

13
Isma‘il Haqqi al-Bursawi, Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Istanbul: Matbu’ah ‘Uthmaniyah, 1928), Jilid II, 22.
14
Isma‘il Haqqi al-Bursawi, Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Jilid II, 22
Dari penafsiran al-Bursawi di atas, dapat dipahami bahwa maḥabbah menurutnya adalah
sebuah kecondongan dalam jiwa seseorang terhadap sesuatu yang sempurna. Ketika jiwa itu
sudah condong, maka ia akan rela untuk menempuh segala hal yang dapat mendekatkan
dirinya kepada sesuatu yang dicintainya itu. Ketika seorang hamba mengetahui bahwa
kesempurnaan yang hakiki hanya milik Allah, maka cintanya hanya diberikan untuk-Nya.
Maḥabbah menuntut kehendak untuk mentaati-Nya dan merasa senang atas segala sesuatu
yang telah ditetapkan-Nya. Karena itu, al-Bursawi dalam penjelasannya mengintrepretasikan
maḥabbah sebagai kehendak untuk selalu berbuat taat. Di samping itu, maḥabbah juga
dijadikan suatu keharusan dalam mengikuti, mentaati dan menolong Rasulullah saw. Karena
Rasulullah saw. adalah orang yang paling dicintai Allah swt.
Penjelasan Bursawi mengenai maḥabbah di atas, senada dengan apa yang dikatakan oleh
‘Abd al-Halim Mahmud bahwa tanda seorang pecinta adalah sejalan dengan yang dicintai,
dan mengikuti jalan-jalan-Nya dalam segala urusan dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan
segala upaya, serta menjauhi hal-hal yang menghambat tujuanya tersebut.15 Dengan kata lain,
jika seorang hamba telah mencintai Allah, maka ia akan sepenuh jiwa melakukan segala yang
disukai-Nya dengan tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Dhat yang dicintainya.
Ketika seseorang telah benar-benar mencintai Allah, maka ia akan memperoleh puncak
kesempurnaan dan memperoleh karunia-Nya yang melimpah.16 Kemudaian AlBursawi>
menggambarkan karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang mencintaiNya, yaitu
dengan menyingkapkan hijab dari dalam hati mereka dengan memaafkan keteledoran mereka
dalam mengerjakan perintah-Nya, kemudian Dia mendekatkan mereka kepada surga-surga
kemulian-Nya. Maḥabbah diungkapkan dengan cara isti‘arah atau mushakalah.17
Uraian al-Bursawi mengenai maḥabbah tidak jauh berbeda dengan Ibn ‘Arabi. Hanya saja
jika al-Bursawi menitik beratkan obyek maḥabbah kepada Allah, sedangkan Ibn ‘Arabi lebih
menitik beratkan pembahasannya kepada Nabi Saw. sebagai kekasih Allah. Ibn ‘Arabi
mengungkapkan bahwa sesungguhnya Nabi Saw. adalah kekasih Allah, dan setiap orang yang
menyeru kepada maḥabbah wajib untuk mengikutinya. Karena barangsiapa yang mencintai
kekasih-Nya maka akan dicintai-Nya. Oleh karena itu, wajib untuk mencintai Nabi dengan
mengikuti jejak, suluk, jalan, perkataan, perbuatan, hal, sirah dan ‘aqidahnya. Maḥabbah tidak
akan bisa dicapai tanpa cara-cara tesebut, karena hal itu merupakan poros, bentuk ekspresi,
dan tarekat merupakan azimat dari maḥabbah. Barangsiapa yang tidak bertarekat maka tidak
akan bisa mencapai maḥabbah. Jika mengikutinya dengan sungguh-sungguh, maka batin, sirr,

15
‘Abd al-Halim Mahmud, Hal Ihwal Tasawuf: Analisa Tentang al-Munqidz Minadhdhalal (Indonesia: Darul Ihya,
[Link]), 269.
16
Muhammad al-Ghazali, Menghidupkan Ajaran Rohani Islam, 385.
17
Isma‘il Haqqi al-Bursawi, Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Jilid II, 22.
hati dan jiwanya akan sesuai dengan batin, sirr, hati dan jiwa Nabi saw., dan itu merupakan
sebenar-benarnya ekspresi maḥabbah. Hal itu merupakan bagian dari mahabbatullah ta’ala
dengan azimat dari pencinta. Allah akan menemui orang yang mencintai-Nya dan
memuliakannya dengan batin dan ruh Nabi saw. serta dengan cahaya maḥabbah kepada-
Nya.18
Dari penjelasan Ibn ‘Arabi, seseorang yang ber-mahabbah kepada Allah, wajib baginya
untuk mengikuti Rasulullah saw. Karena secara logika, seorang hamba yang mencintai
kekasih-Nya maka akan dicintai oleh-Nya pula. Oleh karena itu, kewajiban mencintai Nabi
dengan mengikuti suluk, perkataan, perbuatan, hal dan segala sesuatu yang diajarkannya
adalah sebuah implikasi dari mahabbah kepada Allah. Apabila seorang hamba mengikuti Nabi
dengan sungguh-sungguh, maka batin, sirr, hati dan jiwanya akan sesuai dengan Nabi saw.
Lebih lanjut, Ibn ‘Arabi memandang bahwa mahabbah kepada Allah tidak akan dapat digapai
tanpa melelaui tahapan tesebut, karena hal itu merupakan poros dari mahabbah.

18
Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Tafsir al-Qur'an al-Karim (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001), Jilid I, 124.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa maḥabbah merupakan
kecondongan jiwa seorang hamba kepada Dhat yang Maha Sempurna. Dari
kecondongan tersebut menuntut ia untuk mentaati Dhat yang dicintainya. Atas ketaatan
itu, Allah akan membalas cintanya dengan karunia perjumpaan yang agung,
perjumpaan yang selalu dirindukan oleh sumua hamba yang mencintai-Nya. Selain itu,
maḥabbah juga menumbuhkan rasa senang dalam diri seseorang terhadap segala
ketetapan Allah Swt. kepadanya.
Seseorang hamba yang ber-maḥabbah kepada Allah, wajib baginya untuk mencintai
dan mengikuti Rasulullah Saw. Karena dengan mencintai kekasih-Nya, maka ia akan
dicintai oleh-Nya juga. Adapun bentuk kecintaan seorang hamba Allah kepada Nabi
Saw. adalah dengan mengikuti suluk, perkataan, perbuatan, hal dan segala sesuatu yang
diajarkannya.
Maḥabbah hamba kepada Tuhannya merupakan ahwal yang sangat halus yang dapat
dirasakan di dalam jiwanya. Ahwal tersebut menghasilkan dorongan kuat untuk
melakukan semua yang Allah perintahkan kepadanya dengan penuh keihklasan. Dari
ahwal itu pula ia akan selalu mendahulukan Allah dari segala sesuatu selain-Nya.
Maḥabbah seseorang hamba kepada Allah memiliki syarat yang harus dipenuhi.
Mah}abbah tidak boleh terbagi dengan ahwal apapun. Seorang hamba yang
bermahabbah akan fana‘ dengan maḥabbahnya tersebut. Selain itu, dibutuhkan totalitas
dari seorang hamba dalam ber-maḥabbah. Dengan totalitas tersebut, ia akan tenggelam
dan terbawa dengan rasa cintanya tersebut kepada Dhat yang ia cintai. Maḥabbah
hamba kepada Tuhannya juga haruslah tanpa sebab, Jika tidak, tentu akan
menggerogoti ketulusan cintanya itu. Cinta yang tulus kepada Dhat yang dikasihi akan
membawa seorang pecinta larut menenggelamkan hati dan pikirannya kepada Sang
Kekasih, dan ia akan menikmati setiap kelarutannya tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Bursawi, Isma‘il Haqqi. Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. Istanbul: Matbu’ah ‘Uthmaniyah,
1928.

Mahmud, ‘Abd al-Halim. Hal Ihwal Tasawuf: Analisa Tentang al-Munqidz Minadhdhalal.
Indonesia: Darul Ihya, [Link].

Al-Ghazali, Muhammad. Menghidupkan Ajaran Rohani Islam. Jakarta: Lentera, 2001. Hamka.
Renungan Tasauf. Jakarta: Republika, 2017.

Ibn ‘Arabi, Muhyiddin. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001.

Yunus, Mahmud. (1990). Kamus Arab Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Taman Jatuh Cinta dan Rekreasi Orang-Orang Dimabuk Rindu,
penerjemah: Bahrun Abu Bakar Ihzan Zubaidi (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2000), 39-
41

Smith, Marget. Rabi’ah: Pergulatan Spiritual Perempuan. Surabaya: Risalah Gusti, 1997.

Al-Ghazali, Abu Hamid. Jalan Menuju Tuhan: Panduan Membentuk Kejernihan Jiwa. Jakarta:
Azan, 2001.

Mustofa, H. A. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Schimmel, Annemarie. Dimensi Mistik Dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Mahmud, ‘Abd al-Halim. Hal Ihwal Tasawuf: Analisa Tentang al-Munqidz Minadhdhalal.
Indonesia: Darul Ihya, [Link].

Gerhard Böwering . Tafsīr al-Tustarī, ed., London: Royal Asiatic Society, 2002.

Haji Abdul Malik Abdul Karim Abdullah, Tafsir Al-Azhar Juz I, ( Jakarta : Panji Mas, ).

Muhammad Latif, “Konsep Cinta "Al HUBB" Menurut M. Quraish Shihab dan M. Said
Ramadhan Al Buthi”,Skripsi Institut Agama Islam Negeri(IAIN), (Salatiga:
Perpustakaan, Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) 2019),

Anda mungkin juga menyukai