MAKALAH TAFSIR KLASIK (AN-NASAFI’)
(Makalah Ini Di Buat, Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir klasik)
Dosen Pengampu: Prof. Dr.H. Bukhori Abdul Somad [Link]
Disusun Oleh: Kelompok 10
Syakilla Mardea Nandra (2331030048)
Rahmawati (2331030045)
Cahya Salsabila (2331030064)
PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
TAHUN 2025 M / 1447 H
i
KATA PENGANTAR
Puji Syukur atas kehadirat Allah atas rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Makalah Tafsir Klasik (An-Nasafi’)” tepat
pada waktunya. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah “Studi Tafsir Sufi” oleh
Bapak Prof. Dr.H. Bukhori Abdul Somad [Link] dan selain itu makalah ini bertujuan untuk
menambah wawasan, dan ilmu pengetahuan bagi para pembaca.
Kami menyadari bahwa selama penulisan makalah ini kami mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak, oleh sebab itu kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dan
khususnya kepada rekan tim penyusun atas segala kontribusinya. Tidak lupa pula kami ucapkan
terimakasih sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr.H. Bukhori Abdul Somad [Link] yang telah
membimbing kami dan meluangkan waktunya sampai detik ini.
Kami mengetahui bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, karena masih adaNya
kekurangan, baik dalam hal isi, maupun sistematika, dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu,
kami mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi para pembaca dan penuntut
ilmu.
Bandar Lampung, 07 Oktober 2025
Kelompok 10
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ...........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................1
A. Latar Belakang ................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan .............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................................3
A. Biografi Singkat Imam Al-Nasafi ...................................................................................3
B. Karakteristik dan Deskripsi Tafsir An-Nasafi ...............................................................4
C. Metode dan Corak Penafsiran ........................................................................................4
D. Contoh Penafsiran: Pendekatan bi al-Ma’tsur dan bi al-Ra’yi ...................................6
E. Kontribusi dan Relevansi Tafsir Imam Al-Nasafi .........................................................7
BAB III PENUTUP ..................................................................................................................8
Kesimpulan ...........................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu tafsir memiliki peranan yang sangat penting dalam memahami kandungan Al-Qur’an secara
mendalam. Seiring perkembangan zaman, muncul berbagai corak dan metode penafsiran yang
dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan dan mazhab para mufassir. Dari sekian banyak karya tafsir
yang lahir pada masa klasik, Tafsir An-Nasafī atau Madarik at-Tanzil wa Ḥaqa’iq at-Ta’wīl menjadi
salah satu karya yang menonjol karena penyajiannya yang ringkas namun padat. Karya ini
menggambarkan upaya seorang ulama untuk memadukan antara kedalaman ilmu dan kejelasan
penjelasan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Konteks sejarah lahirnya Tafsir An-Nasafī tidak lepas dari perkembangan intelektual Islam di
wilayah Asia Tengah pada abad ke-6 Hijriah. Saat itu, tradisi keilmuan Islam sangat berkembang,
terutama dalam bidang tafsir, fikih, dan kalam. Banyak ulama menulis tafsir yang panjang dan
mendalam, namun belum semua dapat dijangkau oleh kalangan pelajar dan masyarakat umum.
Maka, Al-Nasafī hadir dengan tujuan menyusun tafsir yang lebih sederhana dan sistematis agar
mudah dipelajari tanpa kehilangan nilai ilmiahnya.
Selain itu, Tafsir An-Nasafī juga memiliki ciri khas dalam pendekatannya. Ia tidak hanya
berorientasi pada aspek kebahasaan, tetapi juga memperhatikan konteks hukum dan teologi sesuai
dengan mazhab Hanafi dan pemikiran Maturidi. Pendekatan ini menjadikan tafsirnya bersifat
moderat, menolak pandangan ekstrem dalam perdebatan kalam, serta tetap menghargai rasionalitas
dalam memahami teks Al-Qur’an. Dengan demikian, tafsir ini tidak hanya menjadi sumber
keilmuan, tetapi juga menjadi jembatan antara rasionalitas dan spiritualitas dalam studi Islam klasik.
Melalui gaya bahasanya yang ringkas dan padat, Tafsir An-Nasafī berhasil menarik perhatian banyak
kalangan, baik dari kalangan akademisi maupun santri. Tafsir ini banyak digunakan sebagai rujukan
dalam madrasah-madrasah dan perguruan tinggi Islam di berbagai negara. Oleh karena itu,
mempelajari tafsir ini menjadi penting agar kita dapat memahami bagaimana para ulama klasik
menafsirkan Al-Qur’an secara ilmiah dan kontekstual. Kajian terhadap Tafsir An-Nasafī juga
membantu menelusuri perkembangan metodologi tafsir dalam tradisi Islam hingga masa modern.
B. Rumusan Masalah
1. Siapakah sosok al-Nasafī dan bagaimana latar belakang keilmuannya?
2. Apa tujuan dan konteks penulisan Tafsir An-Nasafī pada masa klasik?
3. Bagaimana metode dan corak penafsiran yang digunakan dalam tafsir tersebut?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan Tafsir An-Nasafī dibandingkan dengan tafsir
klasik lainnya?
5. Bagaimana contoh konkret penafsiran yang terdapat dalam kitab Madarik at-Tanzil
wa Ḥaqa’iq at-Ta’wīl?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui biografi dan latar belakang keilmuan al-Nasafī sebagai penulis Tafsir
An-Nasafī.
2. Memahami tujuan serta konteks penulisan tafsir tersebut pada masa klasik.
3. Menganalisis metode dan corak penafsiran yang digunakan dalam Tafsir An-Nasafī.
4. Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan tafsir ini dibandingkan dengan karya
tafsir lainnya.
5. Memberikan contoh konkret penafsiran ayat dalam Madarik at-Tanzil wa Ḥaqaʾiq at-
Ta’wīl untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap tafsir klasik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Singkat Imam Al-Nasafi
Imam Al-Nasafi memiliki nama lengkap Abdullah bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi. Ia
dilahirkan di kota Nasaf yang kini dikenal sebagai Qarshi di Uzbekistan pada akhir abad ke-
6 Hijriah, sekitar tahun 630 H atau 1232 M. Imam Al-Nasafi dikenal sebagai seorang ulama
besar yang memiliki keluasan ilmu dalam berbagai bidang seperti tafsir, fiqih, ushul fiqih,
dan teologi Islam. Ia bermazhab Hanafi dalam fiqih dan beraliran Maturidi dalam akidah,
dua aliran yang sama-sama menekankan keseimbangan antara penggunaan akal dan wahyu
dalam memahami ajaran Islam. Dalam perjalanan hidupnya, beliau menjadi salah satu tokoh
penting dalam pengembangan ilmu tafsir dan memberikan kontribusi besar terhadap tradisi
keilmuan Islam di Asia Tengah.
Kehidupan Al-Nasafi berlangsung pada masa yang penuh dengan tantangan intelektual dan
sosial. Abad ke-13 M dikenal sebagai masa di mana peradaban Islam mengalami banyak
tekanan, salah satunya akibat serangan bangsa Mongol yang menghancurkan banyak pusat
keilmuan di Baghdad. Hal ini berdampak besar pada hilangnya banyak manuskrip dan
catatan sejarah, termasuk biografi para ulama besar seperti beliau. Meskipun demikian,
pengaruh dan karya-karya Al-Nasafi tetap bertahan dan menjadi rujukan penting bagi para
ulama setelahnya. Beliau wafat pada tahun 710 H atau 1310 M dan dimakamkan di wilayah
antara Khurasan dan Asfahan. Warisan intelektualnya terus dipelajari oleh generasi Muslim
dari masa ke masa.
Beberapa karya besar yang dihasilkan oleh Imam Al-Nasafi antara lain kitab tafsir
monumental Madarik al-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil, kitab teologi Al-‘Aqaid an-Nasafiyyah
yang menjadi rujukan penting dalam ilmu kalam, dan Kanz ad-Daqa’iq dalam bidang fiqih
mazhab Hanafi. Karya-karya ini menunjukkan keluasan wawasan dan ketajaman analisis
beliau dalam mengkaji teks-teks keagamaan. Melalui karya-karya tersebut, Imam Al-Nasafi
dikenal sebagai ulama yang mampu menggabungkan antara pendekatan tekstual dan
rasional, sehingga ilmunya bersifat menyeluruh dan mendalam.
B. Karakteristik dan deskripsi Tafisr An-Nasafi
Tafsir Madürik At-Tanzil wa haqaiq At-Tawil atau yang lebih dikenal dengan Tafsir An-
Nasafi merupakan sebuah karya Imam An-Nasafi, yang diuraikan dengan bahasa yang
ringkas namun tidak mengurangi keluasan makna, dan panjang namun tidak membosankan.
Penulisnya mengumpulkan di dalanmya unsur-unsur P'rab dan Qira 'at. Mermasukkan unsur-
unsur Balaghah Badi, serta makna-makna yang mendalam yang disadur dari Tufxir Al-
Kaxysyaf Kemudian juga memuat tanya-jawab yang ditulis oleh Zamakhsyari, namun
dengan metode yang tidak sama.
Buku ini terdiri dari empat juz dalam dua jilid yang diterbitkan di Beirut pada tahun 2008,
jilid satu terdiri dari surat Al-fatihah sampai surat Al-Isra sedangkan jilid dua terdiri dari
surat Al-Kalifi sampai surat Al-Nax. Buku tafsir ını pernah dırıngkas oleh Syaikh Zamuddin
Abu Muhammad, Abdurrahman ibn Abu Bakar ibn Al-Ainy.
Perlu juga untuk diketahui, sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi bahwa Imam al-
Nasafi dalam tafsinya meringkas Tafsir Al-Baidhawi yang ditulis oleh imam Al-Baidhowi
dan Tafsir al-Kasysvaf yang ditulis oleh Az-Zamakhsyarı. Hanya saja beliau meninggalkan
pemahaman mu tazilah yang ada dalam Al-Kasysvaf dan menenpuh jalur yang sesuai dengan
pemahaman Ahlu As-Sunnah wa Al-Jama'ah. Selain itu dia juga mengutip sisi Balaghah
Badi, makna yang tersirat dan dalam, serta tanya jawab yang ditulis oleh Az-Zamakhsyarı
dalam tatsırnya. Hanya saja dengan metode lain yang tidak sama dengan metode Az-
Zamakhsyarı tersebut.
C. Metode dan Corak Penafsiran
Dalam menyusun tafsirnya, Imam Al-Nasafi menggunakan metode tahlili, yaitu metode
penafsiran yang menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara berurutan sesuai dengan urutan
mushaf. Setiap ayat dikaji secara mendalam dari segi bahasa, hukum, akidah, serta konteks
sejarah turunnya ayat tersebut. Metode ini memungkinkan pembaca untuk memahami makna
Al-Qur’an secara menyeluruh, baik dari sisi linguistik maupun teologis. Beliau juga sangat
memperhatikan hubungan antar ayat (munasabah) sehingga makna ayat tidak berdiri sendiri,
tetapi saling menjelaskan antara satu dengan yang lainnya.
Sumber penafsiran Imam Al-Nasafi terbagi menjadi dua, yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir
bi al-ra’yi. Tafsir bi al-ma’tsur dilakukan dengan menafsirkan ayat menggunakan ayat lain,
hadis Nabi Muhammad ﷺ, atau pendapat sahabat dan tabi’in. Sementara tafsir bi al-ra’yi
adalah penafsiran berdasarkan ijtihad dan rasionalitas, dengan tetap berpegang pada kaidah-
kaidah syariat yang benar. Melalui pendekatan ini, Imam Al-Nasafi menunjukkan
kemampuannya dalam memadukan kekuatan dalil naqli dan aqli secara harmonis.
Sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 89:
ْ اب تِ ْبيَانًا ِلك ُِل ش َْيء َوهُدًى َو َرحْ َمةً َوبُش َْرى ِل ْل ُم
َسلِمِ ين َ َ علَ ْيكَ ا ْل ِكت
َ َونَ َّز ْلنَا
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu,
serta sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
Ayat ini menjadi landasan utama bahwa penafsiran terhadap Al-Qur’an harus menjelaskan
makna yang terkandung di dalamnya secara menyeluruh dan membawa manfaat bagi
kehidupan manusia.
Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an, An-Nasafi sebenamya tidak memiliki
kecenderungan khusus menggunakan satu corak yang Spesifik secara mutlak, misalnya
bercorak fiqih saja, bercorak lughawi, adabi wa ijtima'i, falsafi, dan lain sebagainya. Namun
mengandung segala unsur yang mungkin berkaitan dari setiap ayat yang ditafsirkannya. Hal
ini barangkali adalah konsekuensi dari metode tafsir tahlili yang ditempuh oleh Imamal-
Nasafi dalam tafsimya ini.
Namun, setidaknya ada beberapa corak yang bisa diidentifikasi dari pembacaan terhadap
penafsiran Imam An-Nasafi dalamtafsimya. Di antaranya ialah sebagai berikut:
1. Corak Fiqih
Hal ini disimpulkan sebagai salah satu corak dari penafsiran Imam An-Nasafi adalah karena
memang di kebanyakan kesempatan beliau memang banyak mengulas persoalan hukum,
kauriyyah, Imam An-Nasafi tidak melewatkannya begitu saja, beliau memberikan penjelasan
yang panjang lebar mengenai ayat ini.
2. Corak Lughowi
Pendekatan bahasa merupakan suatu hal yang mendasar dalam penafsiran. Hal ini
dikarenakan pemahaman yang akan dibangun tidak bisa dilepaskan dari tradisi gramatika
kebahasaan Arab. Selain itu, al-Qur'an diturunkan dengan berbahasa Arab, tentu saja secara
tidak langsung memiliki konsekuensi keterikatan yang sangat kuat dengan pemahaman
seluk-beluk bahasa Arab itu sendiri. Dan dalamhal ini Imam An-Nasafi mengurai segi qira'at,
i'rob, balaghoh, Ma'ani.
D. Contoh Penafsiran
Pendekatan bi al-Ma’tsur dan bi al-Ra’yi Pendekatan bi al-ma’tsur dapat ditemukan dalam
penafsiran Imam Al-Nasafi terhadap Surah Ali Imran ayat 172:
سنُوا مِ ْن ُه ْم َواتَّقَ ْوا أَ ْج ٌر عَظِ ي ٌم
َ ح ۚ ِللَّ ِذينَ أ َ ْح
ُ سو ِل مِ ْن بَ ْع ِد َما أَصَابَ ُه ُم ا ْلقَ ْر
ُ الر
َّ ّلِل َو ْ الَّ ِذينَ ا
ِ َّ ِ ستَجَابُوا
(Yaitu) orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul setelah mereka menderita luka-
luka (dalam perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa di antara
mereka akan mendapat pahala yang besar.
Imam Al-Nasafi menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan keteguhan iman para sahabat
Rasulullah ﷺyang tetap patuh kepada Allah meskipun sedang mengalami luka dan
penderitaan. Beliau mengaitkan ayat ini dengan firman Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 9
yang berbunyi:
ت لَ ُه ْم َم ْغف َِرةٌ َّوا َ ْج ٌر عَظِ ْي ٌم ّٰللاُ الَّ ِذينَ ٰا َمنُ ْوا َوعَمِ لُوا ال ه
ِ صل ِٰح ع َد ه
َ َو
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa bagi
mereka ampunan dan pahala yang besar.
Melalui cara ini, Imam Al-Nasafi memperlihatkan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an saling
menjelaskan dan menguatkan satu sama lain. Pendekatan ini juga menunjukkan sikap kehati-
hatian beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan tetap berpegang pada dalil yang kuat.
Sedangkan pendekatan bi al-ra’yi terlihat dalam penafsiran beliau terhadap Surah As-Sajdah
ayat 4:
َ علَى ا ْل َع ْر ِش َما لَ ُك ْم ِم ْن د ُْون ِٖه مِ ْن َولِي ٍ َو ََل
ش ِفي ٍْع َ ستَ َوى ِ ت َو ْاْل َ ْرضَ َو َما بَ ْينَ ُه َما فِي
ْ ست َّ ِة أَيَّ ٍام ث ُ َّم ا ِ اوا
َ س َم َ َّٰللاُ الَّذِي َخل
َّ ق ال َّ
َا َ َف ََل تَتَذَ َّك ُر ْون
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam
enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kalian selain Dia seorang
pelindung pun dan pemberi syafaat pun. Maka apakah kalian tidak mengambil pelajaran?
Imam Al-Nasafi menafsirkan frasa “علَى ا ْلعَ ْر ِش ْ ”ث ُ َّم اbukan dalam arti Allah menempati
َ ست َ َوى
tempat tertentu, melainkan bermakna bahwa Allah berkuasa dan mengatur seluruh alam
semesta. Penafsiran seperti ini menegaskan kemurnian tauhid dan menghindari tasybih
(penyerupaan Allah dengan makhluk). Ini menunjukkan ketelitian teologis beliau dalam
menjaga kesucian konsep ketuhanan.
E. Kontribusi dan Relevansi Tafsir Imam Al-Nasafi
Tafsir Madarik al-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil memberikan pengaruh besar terhadap
perkembangan ilmu tafsir klasik. Karya ini menjadi rujukan utama bagi para mufassir dan
ulama fiqih di berbagai generasi. Ciri khas tafsir ini terletak pada keseimbangannya antara
teks dan rasio, antara nash dan konteks. Imam Al-Nasafi menunjukkan bahwa penafsiran Al-
Qur’an bukan hanya upaya akademik, tetapi juga bentuk ibadah dan pengabdian kepada
Allah.
Kontribusi penting dari karya ini adalah memberikan pemahaman bahwa tafsir harus
bersumber dari dalil yang kuat, disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan tetap
relevan dengan situasi umat. Relevansi tafsir ini juga terlihat dalam konteks modern, di mana
banyak umat Islam menghadapi tantangan pemikiran liberal dan ekstrem. Pendekatan
moderat Imam Al-Nasafi dapat dijadikan contoh dalam memahami Al-Qur’an secara
rasional tanpa kehilangan nilai-nilai tradisionalnya.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 108:
ير ٍة أَنَا َو َم ِن اتَّبَعَنِي
َ علَى بَ ِص َ قُ ْل ٰ َه ِذ ِه
ِ َّ سبِيلِي أ َ ْدعُو إِلَى
َ ّٰللا
Katakanlah: Inilah jalanku; aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru (kalian) kepada
Allah dengan penuh kesadaran.
Ayat ini mencerminkan semangat Imam Al-Nasafi dalam berdakwah melalui karya tafsirnya.
Tafsir Madarik al-Tanzil tidak hanya menjelaskan makna ayat, tetapi juga menjadi sarana
dakwah yang mengajarkan pentingnya ilmu, kesadaran, dan keseimbangan dalam
memahami wahyu. Karya beliau tetap relevan sepanjang masa dan menjadi warisan berharga
dalam khazanah keilmuan Islam.
BAB III
KESIMPULAN
Tafsir Madarik al-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil karya Imam Al-Nasafi merupakan salah satu tafsir
klasik yang memiliki nilai ilmiah tinggi dan tetap relevan hingga saat ini. Melalui gaya penulisan
yang ringkas namun padat, Imam Al-Nasafi berhasil memadukan antara kedalaman ilmu tafsir,
rasionalitas akal, dan keteguhan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Imam Al-Nasafi sendiri dikenal sebagai ulama besar mazhab Hanafi dan berakidah Maturidi, yang
menekankan keseimbangan antara wahyu dan akal dalam memahami ajaran Islam. Latar belakang
intelektual dan sosial pada masanya turut memengaruhi lahirnya tafsir ini sebagai bentuk respons
terhadap kebutuhan umat akan tafsir yang mudah dipahami, tetapi tetap ilmiah.
Dalam penafsirannya, beliau menggunakan metode tahlili dengan memadukan dua pendekatan
utama, yaitu bi al-ma’tsur dan bi al-ra’yi. Hal ini menjadikan tafsirnya bersifat komprehensif,
moderat, dan bebas dari unsur ekstremitas. Selain itu, penafsirannya menunjukkan sikap kehati-
hatian, kedalaman analisis, serta penghormatan terhadap prinsip tauhid yang murni.
Karya ini memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ilmu tafsir dan menjadi rujukan
penting di dunia Islam. Relevansinya di era modern tampak pada pesan moderasi dan keseimbangan
antara ilmu, iman, dan rasionalitas. Dengan demikian, mempelajari Tafsir An-Nasafi bukan hanya
menambah wawasan keilmuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual dan intelektual dalam
memahami Al-Qur’an secara utuh
DAFTAR PUSTAKA
Al-Nasafi, A. A. (n.d.). Madarik al-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Suyuthi, J. (2019). Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Dar al-Fikr.
Al-Zarkasyi, B. (2018). Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
As-Sabuni, M. A. (2017). At-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.
Az-Zamakhsyari, A. (2018). Al-Kasysyaf ‘an Haqaiq al-Tanzil. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-
‘Arabi.
Hidayat, M. (2021). Telaah Kitab Madarik al-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil Karya Imam al-Nasafi.
Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 12(2), 115–128.
Rahman, A. (2020). Biografi Imam al-Nasafi dan Seputar Tafsirnya. Jurnal Kajian Islam Klasik,
5(1), 45–59.
Al-Qaththan, M. (2016). Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah.
Shihab, M. Q. (2013). Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui
dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Qur’an. Tangerang: Lentera Hati.
Yahya, A. (2022). Studi Komparatif Metode Tafsir Imam Al-Nasafi dan Imam Al-Zamakhsyari.
Jurnal Studi Al-Qur’an, 14(1), 77–92.