0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan75 halaman

Rencana Pembelajaran Ta'awudz MI 2025

Dokumen ini adalah rencana pembelajaran untuk mata pelajaran Akidah Akhlak di MI Al Hidayah Mulyadadi, yang berfokus pada pemahaman kalimat ta'awudz sebagai ungkapan cinta kepada Allah dan permohonan perlindungan. Materi dirancang untuk melibatkan peserta didik melalui berbagai pendekatan pembelajaran, termasuk visual, auditori, dan kinestetik, serta mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan keimanan. Pembelajaran dilakukan dengan metode yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, serta melibatkan orang tua dalam proses belajar.

Diunggah oleh

Nurul Feje
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan75 halaman

Rencana Pembelajaran Ta'awudz MI 2025

Dokumen ini adalah rencana pembelajaran untuk mata pelajaran Akidah Akhlak di MI Al Hidayah Mulyadadi, yang berfokus pada pemahaman kalimat ta'awudz sebagai ungkapan cinta kepada Allah dan permohonan perlindungan. Materi dirancang untuk melibatkan peserta didik melalui berbagai pendekatan pembelajaran, termasuk visual, auditori, dan kinestetik, serta mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan keimanan. Pembelajaran dilakukan dengan metode yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, serta melibatkan orang tua dalam proses belajar.

Diunggah oleh

Nurul Feje
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM

Penyusun : Nada Yulfani Wulandari, S,Pd


Instansi : MI Al Hidayah Mulyadadi
Tahun Penyusunan : 2025/2026
Jenjang Madrasah : MI
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Fase / Kelas : A/2
Semester/Bab : 1/1
Alokasi Waktu : 6 JP (3 kali pertemuan)

Identifikasi IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


1. Pengetahuan Awal : Peserta didik sudah mendengar dan
mengucapkan lafal ta’awudz saat mengaji, namun belum memahami
kalimat thayyibah ta’awudz sebagai landasan kehidupan sehari-hari
supaya terwujudnya interaksi yang harmonis dalam konteks
beragama,berbangsa, dan bernegara dan Peserta didik belum
memahami keutamaan bacaan kalimat thayyibah ta’awudz dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Minat : Peserta didik memiliki minat yang tinggi
terhadap cerita, gambar, dan kegiatan interaktif yang melibatkan
gerakan dan suara.
3. Latar Belakang : Peserta didik berasal dari lingkungan keluarga yang
beragam, dengan tingkat pemahaman dan pembiasaan amalan harian
yang berbeda-beda.
4. Kebutuhan Belajar :
 Visual : Membutuhkan gambar-gambar ilustratif
seperti anak yang sedang membaca lafal ta’awudz sebelum
berzikir dan berdoa dan Gambar anak membaca ta’awudz dan doa
sebelum tidur.
 Auditori : Membuthkan penjelasan secara lisan yang
hangat dan penuh cinta, mendengarkan kisah-kisah teladan, dan
melantunan lafal ta’awudz secara bersama-sama
 Kinestetik : Membutuhkan praktik langsung melafalkan
ta'awudz, permainan peran sederhana, dan kegiatan mewarnai
atau menulis kaligrafi.

● Materi Pelajaran: Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:


Konseptual : Memahami makna ta'awudz sebagai permohonan
perlindungan yang lahir dari rasa cinta dan keyakinan penuh kepada
Allah Swt., serta mengenal sosok setan sebagai musuh terbesar
manusia karena setan selalu menjauhkan manusia dari cinta Ilahi.
Prosedural : Mengetahui waktu yang tepat untuk melafalkan
kalimat ta'awudz sebagai bentuk pembiasaan dalam mencintai Allah
Swt. di setiap menjalankan aktivitas.
● Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Materi ini
sangat relevan karena setiap anak pernah merasakan takut, gelisah,
marah, atau malas. Kalimat ta'awudz diajarkan sebagai 'senjata cinta'
dari Allah Swt. yang dapat digunakan oleh mereka supaya merasa
tenang dan terlindungi.
● Tingkat Kesulitan: Rendah. Konsep perlindungan mudah dipahami
oleh anak-anak, terutama jika dihubungkan dengan rasa cinta dan aman
yang mereka dapatkan dari orang tua.
● Struktur Materi: Materi disusun secara sistematis mulai dari
pengenalan bacaan lafal ta’awudz, arti, mufrodat, waktu pengucapan,
sampai keutamaan membaca ta’awudz, semuanya dibingkai dalam
tema cinta kepada Allah Swt.
● Integrasi Nilai dan Karakter: Mengintegrasikan nilai keimanan,
ketawakalan, keberanian (karena merasa dilindungi Allah), dan
kesadaran diri untuk selalu terhubung dengan Allah Swt. melalui zikir
sebagai wujud cinta.
DIMENSI PROFIL LULUSAN

Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan


Berakhlak Mulia: Peserta didik meyakini Allah Swt. sebagai satu-satunya
pelindung dan membiasakan diri memohon pertolongan-Nya, sebagai
wujud cinta dan takwa.
 Kewargaan: Kewargaan: Memahami bahwa menahan amarah (salah
satu godaan setan) adalah bentuk cinta dan kebaikan terhadap teman dan
lingkungan sekitar.
 Benalar Kritis: Mampu mengidentifikasi situasi-situasi di mana ia
perlu memohon perlindungan Allah (misalnya saat merasa takut, gelisah
atau akan berbuat buruk).
 Kreativitas: Mampu menceritakan kembali dengan bahasa sederhana
mengapa kita perlu membaca ta'awudz setelah mendengar kisah Nabi
Adam as.
 Kemandirian: Mampu secara mandiri mengucapkan ta'awudz ketika
akan memulai aktivitas baik tanpa perlu selalu diingatkan.
 Komunikasi: Mampu melafalkan kalimat ta'awudz dengan jelas dan
benar (makhrajnya).
Panca Cinta :
● Topik Panca Cinta: Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
● Materi Insersi: Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagai
inti dan muara kehidupan.
Desain Pembelajaran Capaian Pembelajaran :
Pada Fase A, Elemen akidah peserta didik mampu mengenal Allah Swt.
melalui pemahaman kalimat tayyibah ta’awudz , dan nama-nama Allah Swt.
(Asmaul Husna) Al-Hafiz dan Al-Waliy. Elemen Akhlak, peserta didik
diarahkan dan dibimbing untuk memahami nilai-nilai dalam kehidupan
sehari-hari melalui ungkapan positif dan kebiasaan berperilaku baik seperti
berterima kasih dan rendah hati dan mengindari akhlak tercela seperti egois,
berkata kasar dan Berbohong. Elemen Adab, peserta didik mampu
memahami norma yang berkaitan dengan perilaku sehari-hari seperti adab
bersin dan menguap, dan elemen kisah keteladan Nabi dan Rasul dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti kisah keteladan Nabi
Nuh a.s.
Lintas Disiplin Ilmu
 Al-Qur’an Hadis: Memahami bahwa ta'awudz adalah adab utama
sebelum membaca Al-Qur'an.
 Bahasa Arab : Mengenal arti, mufrodat dalam lafal kalimat
tahhayibah ta’awudz.
 Bahasa Indonesia: Membuat cerita sederhana berdasarkan pengalaman
dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Pembelajaran :
1. Pertemuan 1: Peserta didik dapat menjelaskan makna kalimat ta'awudz
sebagai ungkapan cinta dan permohonan perlindungan kepada Allah
Swt. dengan benar. (2 JP).
2. Pertemuan 2: Peserta didik dapat mengidentifikasi waktu-waktu yang
dianjurkan untuk membaca kalimat ta'awudz sebagai kebiasaan baik
yang dilandasi cinta. (2 JP).
3. Pertemuan 3: Peserta didik dapat menyebutkan keutamaan membaca
kalimat thayyibah ta’awudz untuk mendapatkan ketenangan dan
merasakan cinta dari Allah Swt. (2 JP).
Materi Terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta

 Bismillāh – saat memulai kegiatan.


• Alhamdulillāh – saat bersyukur.
• Subhānallāh – saat melihat yang indah.
• Astaghfirullāh – saat melakukan kesalahan.
• Lā ilāha illallāh – penguatan iman.
• Allāhu Akbar – saat kagum atau bersemangat.
 Nilai Cinta
Membiasakan berkata baik dan lembut.
• Menumbuhkan syukur, ketenangan, dan cinta kepada Allah.
• Melatih anak jujur, sopan, dan mudah meminta maaf.

Topik Pembelajaran: Mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari


peserta didik, seperti: "Apa yang kamu lakukan kalau tiba-tiba merasa
takut saat di rumah sendirian?", "Bagaimana rasanya kalau mau marah
sekali sama teman? Siapa yang membisiki kita untuk marah?", "Kalau
kita malas shalat, dan belajar itu godaan dari siapa?".

Praktik Pedagogis a. Model Pembelajaran : Discovery


Learning, Cooperative Learning
b. Pendekatan: Deep Learning (Mindful,
Meaningful, Joyful Learning)
 Mindful Learning: Mengajak peserta
didik untuk berhenti sejenak, menarik
napas, dan benar-benar merasakan makna
perlindungan saat melafalkan ta'awudz.
 Meaningful Learning: Menghubungkan
lafal ta'awudz dengan kisah Nabi Adam
as. dan pengalaman nyata peserta didik,
sehingga menjadi relevan dan bermakna.
 Joyful Learning: Belajar melalui cerita,
permainan, dan suasana kelas yang penuh
cinta dan kegembiraan.
c. Metode Pembelajaran: Ceramah
interaktif, tanya jawab, bercerita
(storytelling), dan demonstrasi.
d. Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi
 Diferensiasi Konten: Menyediakan materi
melalui berbagai media: buku teks dengan
gambar, dan video animasi kisah.
 Diferensiasi Proses: Peserta didik dapat
belajar secara individu (menghafal),
berpasangan (praktik tanya jawab), atau
kelompok (diskusi sederhana).
 Diferensiasi Produk: Peserta didik dapat
menunjukkan pemahamannya dengan cara
bercerita, dan menuliskan kembali lafal
ta'awudz.

Kemitraan Pembelajaran a. Lingkungan Madrasah: Bekerja sama


dengan guru lain untuk membiasakan
membaca kalimat tayyibah ta'awudz
sebelum memulai pelajaran apapun.
b. Lingkungan Luar
Madrasah/Masyarakat: Melibatkan
orang tua untuk mendampingi dan
mengingatkan anak membaca ta'awudz di
rumah (misalnya sebelum
tidur,makan,shalat atau mengaji).
c. Mitra Digital: Memanfaatkan platform
video online untuk menayangkan kisah-
kisah Islami yang relevan dan aman bagi
anak.

Lingkungan Pembelajaran ● Ruang Fisik: Menata ruang kelas yang


kondusif, bersih, dan dihiasi dengan
kaligrafi Surah Al-Fatihah untuk
menciptakan lingkungan belajar yang
inspiratif.
● Ruang Virtual: Memanfaatkan grup
WhatsApp orang tua untuk berbagi
video murottal dan informasi
perkembangan belajar anak.
● Budaya Belajar: Membangun budaya
saling menyemangati, menghargai
perbedaan kemampuan, dan merayakan
setiap pencapaian bersama sebagai
wujud ukhuwah.

Pemanfaatan Digital a. Menampilkan video animasi tentang kisah


Nabi Adam a.s. dan godaan setam.

Pengalaman Belajar Langkah-Langkah Pembelajaran


AWAL
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya
2. Pembahasan: Makna Kalimat Thayyibah Ta’awudz
● Salam Pembuka: Guru membuka pelajaran dengan salam, senyum,
dan sapaan yang hangat, menunjukkan rasa cinta kepada peserta
didik.
● Doa: Mengajak peserta didik berdoa bersama, diawali dengan
ta'awudz sebagai wujud cinta dan permohonan agar pembelajaran
diberkahi.
● Apersepsi: Guru bertanya, "Anak-anak, siapa yang paling sayang
sama kita? Tentu Allah Swt. Kalau kita cinta kepada Allah, kita
pasti ingin selalu dekat dan dilindungi oleh-Nya, kan? Hari ini kita
akan belajar kalimat cinta untuk memohon perlindungan-Nya."

INTI
PERTEMUAN 1
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
● Mengamati (Meaningful): Guru menampilkan gambar anak sedang
mengaji dan bertanya apa yang biasa dibaca sebelum mulai. Guru
kemudian menampilkan kaligrafi ta'awudz yang indah.
● Menanya: Guru memantik rasa ingin tahu, "Kira-kira, kenapa ya kita
harus baca kalimat ini? Siapa yang mau kita hindari?"
● Mengeksplorasi (Joyful): Guru bercerita dengan ekspresif tentang
kisah Nabi Adam as. di surga dan bagaimana Iblis (setan) menggoda
karena iri dan tidak punya rasa cinta. Guru menekankan bahwa setan
tidak suka melihat kita berbuat baik karena cinta kepada Allah.
● Mengasosiasi (Mindful): Guru menjelaskan bahwa ta'awudz adalah
cara kita berkata, "Ya Allah, aku cinta pada-Mu, lindungi aku dari
godaan setan yang jahat." Peserta didik diajak memejamkan mata
sejenak dan merasakan bagaimana Allah yang Maha Pengasih akan
melindungi mereka.
● Mengomunikasikan: Peserta didik secara klasikal, per kelompok, lalu
individu melafalkan kalimat ta'awudz. Guru memberikan contoh dengan
makhraj yang benar.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
● Proses: Anak yang sudah lancar bisa mencoba menulisnya di papan
tulis, sementara yang lain bisa fokus melafalkan atau mewarnai tulisan
ta'awudz yang sudah disiapkan.
● Produk: Peserta didik menceritakan kembali apa arti ta'awudz menurut
pemahaman mereka.
● KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
● Refleksi: Guru bertanya, "Bagaimana perasaan kalian setelah tahu ada
kalimat cinta yang bisa melindungi kita dari setan?"
● Rangkuman: Guru bersama peserta didik menyimpulkan bahwa
ta'awudz adalah bukti cinta kita kepada Allah dan permintaan agar
selalu dalam penjagaan-Nya.
● Tindak Lanjut: Mengajak peserta didik untuk membiasakan membaca
ta'awudz sebelum mengaji di rumah.
● Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 2 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya
2. Pembahasan: Waktu Membaca Kalimat Ta’awudz
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Salam dan Doa: Guru menyapa dengan penuh semangat dan
mengajak berdoa, diawali dengan ta'awudz.
● Review: Guru mengingatkan kembali pelajaran sebelumnya tentang
makna ta'awudz sebagai perisai cinta dari Allah.
● Apersepsi: Guru bertanya, "Kapan saja kita butuh perlindungan
dari Allah yang kita cintai? Apakah hanya saat mengaji?"
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
● Mengamati (Meaningful): Guru menunjukkan beberapa
gambar/kartu situasi: (1) anak mau shalat, (2) anak mau membaca
Al-Qur'an, (3) anak merasa takut di tempat gelap, (4) anak mulai
merasa ingin marah kepada temannya.
● Menanya: "Dari gambar-gambar ini, kapan saja ya setan suka
datang mengganggu kita?"
● Mengeksplorasi (Joyful): Peserta didik dibagi menjadi beberapa
kelompok kecil. Setiap kelompok mendapatkan satu kartu situasi
dan diminta mendiskusikan mengapa pada saat itu kita perlu
membaca ta'awudz.
● Mengasosiasi: Guru menjelaskan bahwa setiap kali kita akan
melakukan kebaikan sebagai wujud cinta kita pada Allah (shalat,
mengaji), setan pasti akan datang untuk mengganggu. Maka, kita
dahului dengan memohon perlindungan.
● Mengomunikasikan: Setiap kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya. Guru memberikan penguatan bahwa cinta kita kepada
Allah harus dibuktikan dengan selalu mengingat-Nya di setiap
keadaan.
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
- Proses: Kelompok dengan kemampuan verbal tinggi bisa
menjelaskan dengan kata-kata, kelompok lain bisa dengan cara
bermain peran singkat.
- Produk: Peserta didik membuat daftar (tulis atau gambar) waktu-
waktu membaca ta'awudz.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
● Refleksi: "Sekarang kita jadi tahu, ternyata Allah Swt. ingin kita
selalu terhubung dengan-Nya setiap saat ya, bukan hanya di waktu-
waktu tertentu."
● Rangkuman: Guru merangkum waktu-waktu utama membaca
ta'awudz (akan shalat, membaca Al-Qur'an, saat marah, saat takut,
dan sebelum memulai kebaikan).
● Tindak Lanjut: Memberi 'misi cinta' kepada peserta didik: "Coba
hari ini sampai besok, setiap mau melakukan sesuatu yang baik,
ucapkan ta'awudz ya!"
● Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya
2. Pembahasan: Keutamaan Membaca ta’awudz
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Salam dan Doa: Seperti biasa, diawali dengan salam hangat dan
doa bersama.
● Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik menjalankan
'misi cinta' dari pertemuan sebelumnya. "Siapa yang kemarin
membaca ta'awudz? Apa yang kalian rasakan?"
● Apersepsi: "Kalau Allah Swt. yang Maha Hebat dan Maha
Penyayang sudah melindungi kita, kira-kira apa ya yang akan kita
rasakan? Pasti hebat sekali rasanya!"
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
● Mengamati (Mindful): Guru mengajak peserta didik melakukan
simulasi sederhana. "Coba bayangkan kalian sedang marah sekali...
rasanya panas di dada. Sekarang, coba pejamkan mata, tarik napas,
dan ucapkan A'uudzubillaahi minasy-syaithaanir-rajiim... Apa yang
terasa?"
● Menanya: "Kenapa ya hati kita bisa jadi lebih tenang setelah
membaca ta'awudz?"
● Mengeksplorasi (Joyful): Guru menjelaskan keutamaan membaca
ta'awudz. Contoh: "Ta'awudz itu seperti kita punya selimut cinta
dari Allah, jadi hati kita hangat dan tenang."
● Mengasosiasi (Meaningful): Guru menghubungkan setiap
keutamaan dengan bukti cinta Allah. "Allah menenangkan hati kita
karena Allah cinta dan tidak mau kita sedih. Allah membuat ibadah
kita khusyuk karena Allah cinta dan ingin bertemu kita dalam
shalat."
● Pembelajaran Berdiferensiasi:
- Proses: Peserta didik bisa memilih keutamaan membaca ta’awudz
yang paling mereka tau dan menceritakannya.
- Produk: Membuat cerita sederhana dengan tulisan "Keutamaan
membaca ta’awudz" dan dihiasi gambar-gambar (misalnya, gambar
hati yang tersenyum).

Memahami
(Prinsip: Berkesadaran, Bermakna)
 Kesadaran Linguistik & Spiritual: Peserta didik memahami lafadz
lengkap Ta'awudz (‫ )َاُعْوُذ ِباللِه ِمَن الَّش ْيَطاِن الَّرِج ْيِم‬dan artinya
("Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk") dengan
kesadaran bahwa ini adalah dialog cinta untuk meminta
perlindungan sempurna dari Allah (Al-Waliyyu).
 Pemaknaan Emosional: Peserta didik memahami bahwa
mengucapkan Ta'awudz berarti mencari ketenangan hati (sakinah)
dan rasa aman (perlindungan) dari gangguan internal (seperti rasa
marah, iri, atau takut) dan eksternal (godaan buruk), sehingga
Ta'awudz menjadi bermakna bagi kontrol diri sehari-hari.
 Aplikasi Fungsional: Peserta didik memahami kapan dan mengapa
Ta'awudz diucapkan (sebelum membaca Al-Qur'an, saat marah, saat
merasa takut/khawatir) sebagai bentuk penyerahan diri yang tulus
kepada Allah.

Mengaplikasi
(Prinsip: Bermakna, Menggembirakan)
 Latihan Pelafalan Penuh Makna: Peserta didik melafalkan
Kalimat Ta'awudz secara bersama-sama dan individual, dengan
penekanan pada kekuatan niat (keseriusan memohon perlindungan)
dan intonasi yang lembut dan tenang, bukan tergesa-gesa. Ini
dilakukan melalui metode membaca berirama yang
menggembirakan.
 Permainan Peran Emosional: Peserta didik berpartisipasi dalam
permainan peran sederhana yang mensimulasikan situasi pemicu
emosi negatif (misalnya, berebut mainan, merasa takut di tempat
gelap, atau sangat marah). Mereka dilatih untuk secara spontan
menghentikan perilaku negatif tersebut dan mengucapkan Ta'awudz
sebagai solusi bermakna untuk mengembalikan ketenangan.
 Proyek "Benteng Perlindungan": Peserta didik membuat atau
menggambar simbol yang mewakili "Benteng Perlindungan"
mereka, menuliskan Ta'awudz di dalamnya, dan menjadikannya
pengingat untuk beraksi cepat mencari perlindungan Allah saat
merasa terancam.

Merefleksi
(Prinsip: Berkesadaran, Menggembirakan)
 Refleksi Perilaku Harian: Peserta didik merefleksikan perubahan
perilaku yang terjadi setelah rutin ber-Ta'awudz—apakah mereka
menjadi lebih tenang saat menghadapi rasa takut, lebih cepat
mereda marahnya, atau lebih mudah menahan godaan untuk
berbuat curang. Refleksi ini dilakukan melalui jurnal singkat atau
diskusi kelompok kecil.
 Berbagi Kisah Kebaikan: Peserta didik menceritakan pengalaman
mereka tentang bagaimana Ta'awudz menolong mereka keluar dari
situasi sulit atau negatif (misalnya, "Aku tadinya mau marah, tapi
aku ingat Ta'awudz, dan aku jadi tenang"). Kegiatan ini dilakukan
dengan cara berbagi cerita baik yang menggembirakan dan
menginspirasi teman lainnya.
 Mengukuhkan Kesadaran: Peserta didik menyimpulkan bahwa
rutin ber-Ta'awudz adalah wujud nyata cinta kepada diri sendiri dan
kepada Allah, karena kita memilih untuk menjaga hati kita tetap
bersih dan tenang di bawah perlindungan-Nya.

● PENUTUP
Refleksi: "Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita.
Hanya dengan satu kalimat, kita bisa mendapatkan banyak sekali
kebaikan dan ketenangan."
● Rangkuman: Menyimpulkan bersama keutamaan dari membaca
kalimat ta'awudz.
● Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk menjadikan
ta'awudz sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup mereka, sebagai
zikir cinta kepada Allah.
● Penutup: Salam dan doa.

Asesmen Asesmen pada Awal a. ASESMEN DIAGNOSTIK (AWAL


Pembelajaran Pembelajaran:
PEMBELAJARAN)
Asesmen pada Proses Tanya jawab lisan di awal pertemuan
Pembelajaran:
pertama untuk mengetahui sejauh mana

Asesmen pada Akhir peserta didik mengenal kalimat ta'awudz.


Pembelajaran: (Contoh: "Siapa yang pernah dengar bacaan
A'udzubillah? Kapan biasanya dibaca?")
b. ASESMEN FORMATIF (PROSES
PEMBELAJARAN)
- Observasi: Mengamati keaktifan
peserta didik saat berdiskusi, bertanya, dan
menjawab.
- Penilaian Kinerja: Menilai
kemampuan peserta didik dalam melafalkan
ta'awudz dan saat bermain peran.
- Penilaian Lisan: Mengajukan
pertanyaan singkat di sela-sela kegiatan
untuk mengecek pemahaman. ("Jadi, apa
artinya ta'awudz?", "Kapan kita baca
ta'awudz?")
c. ASESMEN SUMATIF (Akhir
Pembelajaran)
- Tes Lisan: Meminta setiap peserta
didik untuk melafalkan dan mengartikan
kalimat ta'awudz secara individu.
- Unjuk Kerja: Meminta peserta didik
memilih salah satu gambar situasi (marah,
takut, gelisah, berzikir, berdoa, mengaji, dan
sebelum tidur) dan mendemonstrasikan apa
yang harus dilakukan (membaca ta'awudz).
- Penugasan: Memberi tugas sederhana
di rumah untuk menggambar salah satu
keutamaan membaca ta'awudz (misalnya,
gambar anak tidur nyenyak setelah membaca
ta'awudz).

PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM

Penyusun : Nada Yulfani Wulandari, S,Pd


Instansi : MI Al Hidayah Mulyadadi
Tahun Penyusunan : 2025/2026
Jenjang Madrasah : MI
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Fase / Kelas : A/2
Semester/Bab : 1/2
Alokasi Waktu : 6 JP (3 kali pertemuan)

Identifikasi IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


1. Pengetahuan Awal: Peserta didik sudah mendengar istilah Asmaul Husna secara
umum, namun belum memahami makna khusus dan cara meneladani Asmaul Husna
Al-Hafiz dan Al-Waliy sebagai landasan kehidupan sehari-hari.
2. Minat : Peserta didik memiliki minat yang tinggi terhadap cerita, gambar,
kegiatan interaktif (misalnya "Tepuk Asmaul Husna").
3. Latar Belakang: Peserta didik berasal dari lingkungan keluarga yang beragam,
dengan tingkat pemahaman dan pembiasaan amalan harian yang berbeda-beda.
4. Kebutuhan Belajar:
 Visual: Membutuhkan, gambar ilustratif (misalnya, gambar bumi yang terpelihara,
gambar anak menolong teman).
 Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang hangat, mendengarkan kisah-kisah
teladan, dan menyanyikan lagu Asmaul Husna.
 Kinestetik: Membutuhkan praktik langsung (misalnya, membuat "Perisai
Pelindung" dari kertas), permainan peran sederhana, dan mewarnai kaligrafi.
● Materi Pelajaran: Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
 Konseptual : Memahami makna Al-Hafiz (Allah Maha Memelihara) dan
Al-Waliy (Allah Maha Melindungi/Penolong) sebagai wujud cinta dan
kekuasaan Allah Swt.
 Prosedural : Mengetahui dan mempraktikkan cara meneladani sifat Al-
Hafiz (menjaga diri/lingkungan) dan Al-Waliy (menolong/melindungi
sesama) sebagai bentuk pembiasaan dalam mencintai Allah Swt.
1. Relevansi Kehidupan Nyata Peserta didik :Materi ini sangat relevan karena
setiap anak perlu merasa aman (merasa dilindungi Allah) dan belajar
bertanggung jawab menjaga barang miliknya/lingkungannya (memelihara).
2. Tingkat Kesulitan : Rendah. Konsep memelihara dan melindungi mudah
dipahami oleh anak-anak, terutama jika dihubungkan dengan peran orang tua.
3. Struktur Materi: Materi disusun secara sistematis mulai dari pengenalan
asmauul husna, arti, meneladani asmaul husna Al-Hafiz (Allah Maha
Memelihara) dan Al-Waliy (Allah Maha Melindungi/Penolong) semuanya
dibingkai dalam tema cinta kepada Sang Pencipta.
4. Integrasi Nilai dan Karakter: Mengintegrasikan nilai keimanan, ketawakalan,
keberanian (karena merasa dipelihara dan dilindungi Allah), dan kesadaran diri
untuk selalu terhubung dengan Allah Swt. melalui zikir sebagai wujud cinta.

DIMENSI PROFIL LULUSAN


1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
Berakhlak Mulia: Peserta didik meyakini Allah Swt. sebagai satu-satunya
yang memelihara makhluk ciptaannya, melindungi makhluk-Nya dari
kerusakan. membiasakan diri memelihara sesuati yang telah di ciptakan oleh
Allah Swt. dan memohon perlindungan-Nya, sebagai wujud cinta dan takwa.
2. Kewargaan: Kewargaan: Memahami bahwa memelihara seluruh alam semesta
beserta isinya dan melindungi makhluk-Nya dari kerusakan adalah bentuk cinta
dan kebaikan terhadap teman dan lingkungan sekitar.
3. Benalar Kritis: Mampu mengidentifikasi situasi-situasi di mana ia perlu
memelihara dan melindungi (misalnya memelihara hatinya dari menuruti hawa
nafsu dan melindungi orang yang lemah dan terzalimi).
4. Kreativitas: Mampu menceritakan kembali dengan bahasa sederhana mengapa
kita perlu mengimani bahwa Allah Swt. mempunyai asmaul husna Al-Hafiz dan
Al-Waliy.
5. Kemandirian: Mampu secara mandiri mengucapkan asmaul husna Al-Hafiz
dan Al-Waliy beserta artinya.
6. Komunikasi: Mampu melafalkan asmaul husna Al-Hafiz dan Al-Waliy beserta
artinya. dengan jelas dan benar.

Panca Cinta :
● Topik Panca Cinta: Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
● Materi Insersi: Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagai inti dan
muara kehidupan.
Desain Capaian Pembelajaran :
Pembelajara Pada Fase A, Elemen akidah peserta didik mampu mengenal Allah Swt. melalui
n
pemahaman kalimat tayyibah ta’awudz , dan nama-nama Allah Swt. (Asmaul Husna)
Al-Hafiz dan Al-Waliy. Elemen Akhlak, peserta didik diarahkan dan dibimbing untuk
memahami nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari melalui ungkapan positif dan
kebiasaan berperilaku baik seperti berterima kasih dan rendah hati dan mengindari
akhlak tercela seperti egois, berkata kasar dan Berbohong. Elemen Adab, peserta didik
mampu memahami norma yang berkaitan dengan perilaku sehari-hari seperti adab
bersin dan menguap, dan elemen kisah keteladan Nabi dan Rasul dan menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari seperti kisah keteladan Nabi Nuh a.s.
Lintas Disiplin Ilmu
 Bahasa Arab : Mengenal arti, dalam bacaan asmaul husna Al-Hafiz dan
Al-Waliy.
 Bahasa Indonesia: Menulis cerita tentang "Bagaimana aku memelihara diri
dan lingkunganku" sebagai cerminan sifat Al - Hafiz. Menceritakan kembali
kisah perlindungan (wilayah) Nabi atau tokoh yang saleh dari bahaya (sesuai
sifat Al - Waliy).
 Seni Rupa : Membuat poster yang menggambarkan makna Al- Hafiz
(misalnya, gambar tangan yang melindungi bumi) atau Al- Waliy (misalnya,
gambar perisai).

Tujuan Pembelajaran :
1. Pertemuan 1: Peserta didik dapat menjelaskan makna Al-Hafiz (Allah Maha
Memelihara) sebagai wujud cinta Allah yang menjaga segala ciptaan-Nya.(2
JP)
2. Pertemuan 2: Peserta didik dapat menjelaskan makna Al-Waliy (Allah Maha
Melindungi) sebagai wujud cinta Allah yang memberi petunjuk dan
perlindungan. .(2 JP)
3. Pertemuan 3: Peserta didik dapat menunjukkan minimal 2 contoh perilaku
meneladani Al-Hafiz dan Al-Waliy dalam kehidupan sehari-hari. .(2 JP)

Materi Terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta

 Menumbuhkan Syukur, Ketenangan, dan Cinta kepada Allah:

 Syukur: Bersyukur karena dijaga oleh Al-Hafiz yang tidak pernah lalai.

 Ketenangan: Merasa tenang dan aman karena mengetahui Al-Waliy selalu ada sebagai

tempat berlindung.

 Cinta: Meningkatkan cinta karena Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan saat

kita lupa atau salah.


Topik Pembelajaran: Mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari peserta
didik, seperti ‘’ "Siapa yang menjaga mata kita agar tetap bisa melihat? Siapa yang
menjaga jantung kita agar terus berdetak tanpa kita suruh?" dan kettika kamu
melihat temanmu terjatuh dan tasnya berantakan. Apa yang harus kamu lakukan?
Saat kamu menolongnya, kamu sedang meneladani sifat siapa..

Praktik Pedagogis 1. PRAKTIK PEDAGOGIK


 Model Pembelajaran : Project Based
Learning (PjBL) dan Inquiry-Based Learning
(Pembelajaran Berbasis Inkuiri).
 Pendekatan: Deep Learning (Mindful
Learning, Meaningful Learning, Joyful
Learning).
- Mindful Learning: Mengajak peserta didik
hadir seutuhnya, merasakan koneksi spiritual,
dan merenungkan makna Asmaul Husna Al-
Hafiz dan Al-Waliy.
- Meaningful Learning : Menghubungkan
Asmaul Husna Al-Hafiz dan Al-Waliy dengan
pengalaman hidup nyata dan nilai-nilai luhur
yang mereka temui
- Joyful Learning : Menciptakan suasana kelas
yang penuh kegembiraan, antusiasme, dan tanpa
tekanan, sehingga proses belajar menjadi
pengalaman yang disukai dengan cara melalui
cerita dan tepuk asmaul husna.
 Metode Pembelajaran: Ceramah interaktif,
Metode Diskusi Kelompok dan Tanya Jawab
Interaktif Metode Jurnal Refleksi
 Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi
- Diferensiasi Konten : Menyediakan materi
tentang Al-Hafiz dan Al-Waliy melalui media,
buku teks dengan gambar, cerita( stoyteling) dan
video animasi kisah
- Diferensiasi Proses : Peserta didik yang cepat
mendengarkan penjelasan, memahami langsung
mempraktikkan dengan cara menuliskan 5 hal
yang mereka mohon pemeliharaan dari Al-Hafiz
dan Fokus berdiskusi tentang penerapan Al-
Waliy , praktik tanya jawab dan diskusi
kelompok.
- Diferensiasi Produk: Peserta didik dapat
menunjukkan pemahamannya dengan membuat
Puisi yang menceritakan kisah seseorang yang
terselamatkan atau terhindar dari bahaya karena
keyakinan kepada Al-Hafiz dan Al-Waliy.

Kemitraan Pembelajaran  Lingkungan Madrasah: Guru


mengintegrasikan pengamalan sifat Al-Hafiz
dan Al-Waliy ke dalam tata tertib (misalnya,
membiasakan menjaga kebersihan dan barang
milik sendiri,orang lain, sebagai bentuk
menghargai pemeliharaan Allah).
 Lingkungan Luar Madrasah/ Masyarakat:
Melibatkan orang tua untuk mendampingi
dan mengingatkan anak mengamalkan zikir
dan doa harian di rumah (misalnya, doa
sebelum makan, doa tidur, doa keluar rumah)
sebagai permohonan pemeliharaan kepada
Allah Swt. (Al-Hafiz) dan memohon
perlindungan kepada Allah Swt. (Al-Waliy).
 Mitra Digital: Memanfaatkan platform video
online untuk menayangkan kisah-kisah Islami
yang relevan dan aman bagi anak

Lingkungan Pembelajaran Penataan Ruang Kelas yang Kondusif:


● Ruang kelas ditata bersih, rapi, dan nyaman
(mencerminkan pemeliharaan/ Al-Hafiz).
Kebersihan adalah bagian dari iman dan bentuk
pemeliharaan diri.
● Sediakan "Pojok Ketenangan" (Sakinah Corner)
dihiasi kaligrafi Asmaul Husna Al-Waliy
(Pelindung). Ruangan ini menjadi tempat anak
bisa menarik napas, beristighfar, dan mencari
ketenangan saat merasa marah atau sedih,
meyakini perlindungan Allah.

Pemanfaatan Digital  Menayangkan video kisah Nabi (misalnya,


Nabi Musa saat bayi dihanyutkan atau Nabi
Ibrahim saat dibakar).
 Memutar audio lantunan Asmaul Husna Al-
Hafiz dan Al-Waliy dengan irama yang
tenang di awal pembelajaran.
.

Pengalaman Langkah-Langkah Pembelajaran


Belajar AWAL
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya
2. Pembahasan: Menjelaskan makna Al-Hafiz (Maha Memelihara)
3. Skema Pembelajaran

● Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat. Salah
satu Peserta didik memimpin doa. Guru mengajak Peserta didik berdiri
untuk melakukan Tepuk Asmaul Husna Al-Hafiz secara sederhana..
● Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik menjalankan
'misi cinta'. "Siapa yang kemarin menerapkan Asmaul Husna Al-Hafiz
Apa yang kalian rasakan?"
● Apersepsi: Siapa yang menjaga mata kita agar tetap bisa melihat?
kemudian Guru meminta Peserta didik menarik napas, menutup mata
sejenak, dan merasakan nikmat penjagaan (pemeliharaan) yang mereka
rasakan saat itu dan siapa yang melindungi kita dari orang yang jahat?
INTI
PERTEMUAN 1 (2 JP : 70 MENIT)
4. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya
5. Pembahasan: Menjelaskan makna Al-Hafiz (Maha Memelihara)
6. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat. Salah
satu Peserta didik memimpin doa. Guru mengajak Peserta didik berdiri
untuk melakukan Tepuk Asmaul Husna Al-Hafiz secara sederhana..
● Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik menjalankan
'misi cinta'. "Siapa yang kemarin menerapkan Asmaul Husna Al-Hafiz
Apa yang kalian rasakan?"
● Apersepsi: Siapa yang menjaga mata kita agar tetap bisa melihat?
kemudian Guru meminta Peserta didik menarik napas, menutup mata
sejenak, dan merasakan nikmat penjagaan (pemeliharaan) yang mereka
rasakan saat itu dan siapa yang melindungi kita dari orang yang jahat?
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
 Eksplorasi (Inquiry/Content) Diferensiasi Konten (Visual & Auditori):
 Visual: Guru menayangkan video animasi
kisah Nabi Musa saat bayi dihanyutkan dan
Nabi Ibrahim yang dibakar api (api padam
karena dijaga Allah Swt.).
 Auditori: Guru menambahkan storytelling
(cerita) yang menekankan bagaimana Allah
menjaga Nabi Ibrahim (Al-Hafiz)).
 Guru menjelaskan arti Al-Hafiz: Maha
Memelihara.
 Penemuan Konsep  Guru memberikan Ceramah Interaktif
(Meaningful) dengan mengajukan pertanyaan: "Apa saja
bukti Allah itu Al-Hafiz di sekitar kita?"
 Peserta didik menjawab (misalnya: kita
tidak sakit, barang kita tidak hilang, bumi
tidak jatuh).
 Guru mengaitkan: Allah memelihara daan
melindungi alam semesta adalah wujud
Cinta dan Kekuasaan-Nya.
 Pembelajaran
Berdiferensiasi:
 Diferensiasi Proses  Tantangan Cepat (Kesiapan Tinggi): Peserta
didik yang cepat memahami langsung
mempraktikkan Jurnal Refleksi (menuliskan
5 hal yang mereka mohon pemeliharaan dari
Al-Hafiz) di buku mereka.
 Bimbingan Kelompok Kecil (Kesiapan
Rendah): Guru membimbing kelompok
yang masih kesulitan dengan flashcard
bergambar (gambar mata, jantung, bumi)
sambil mengulang makna Al-Hafiz.
 Diferensiasi Produk  Peserta didik membuat produk membuat
cerita sederhana dengan tulisan, bagaimana
aku memelihara hewan kesayangku dan
dihiasi gambar-gambar.

KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)


● Refleksi: " Guru meminta beberapa Peserta didik menyampaikan satu
kalimat refleksi: "Setelah belajar Al-Hafiz, aku berjanji akan... (seperti
menjaga kebrsihan).
● Rangkuman: Guru merangkum bahwa Al-Hafiz dan Al-Waliy adalah
bukti cinta Allah kepada kita. Cara kita membalas cinta itu adalah
dengan ikut menjaga diri dan lingkungan..
● Tindak Lanjut: Mengingatkan Peserta didik untuk bercerita kepada
orang tua tentang Al-Hafiz dan membiasakan dalam kehidupan sehari-
hari.
● Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 2 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya dan Makhluk
Ciptaan-Nya
2. Pembahasan: Menjelaskan makna Al-Waliy (Maha Melindungi)
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat. Salah
satu Peserta didik memimpin doa. Guru mengajak Peserta didik berdiri
untuk melakukan Tepuk Asmaul Husna Al-Waliy secara sederhana..
● Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik menjalankan 'misi
cinta' dari pertemuan sebelumnya. "Siapa yang kemarin menerapkan
Asmaul Husna Al-Waliy Apa yang kalian rasakan?"
● Apersepsi: Guru mereview singkat materi Al-Hafiz (Maha Memelihara).
Guru menyambung materi: "Kalau Allah memelihara, Dia juga pasti
Melindungi kita. Nama-Nya adalah Al-Waliy.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
 Eksplorasi Diferensiasi Konten (Visual & Auditori):
(Inquiry/Content)  Visual: Guru menayangkan gambar
yang menggambarkan Perisai Pelindung
atau tangan yang memberi petunjuk.
 Auditori: Guru menceritakan kisah
perlindungan (wilayah) Nabi atau tokoh
yang saleh dari bahaya (misalnya Nabi
Musa saat dikejar Fir'aun.
 Penemuan Konsep  Guru memimpin Diskusi Kelompok:
(Meaningful) Guru memicu dengan pertanyaan:
"Kapan kita merasa takut, sedih, atau
digoda untuk berbuat jahat? Apa yang
kita lakukan?" Jawaban diarahkan pada
pemahaman bahwa di saat-saat itulah
kita menjadikan Allah sebagai Al-Waliy
(melindungi).
 Pembelajaran
Berdiferensiasi:
 Diferensiasi  Cerita dan Praktik Tanya Jawab dengan
Proses cara berpasangan membuat skenario
sederhana: "Aku digoda setan untuk
mencontek." "Aku langsung minta
perlindungan Al-Waliy
 Diferensiasi  Peserta didik membuat produk membuat
Produk cerita sederhana dengan tulisan, tentang
kisah seseorang yang terselamatkan atau
terhindar dari bahaya karena keyakinan
kepada Al-Waliy.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
● Refleksi: " Guru meminta beberapa Peserta didik menyampaikan:
"Setelah belajar Al-Waliy, aku tahu kalau aku sedang takut, aku
harus...".
● Rangkuman: Guru merangkum: Al-Waliy melindungi kita, dan cara
kita membalas cinta-Nya adalah dengan selalu menjadikan-Nya
Pelindung.
● Tindak Lanjut: Mengingatkan Peserta didik untuk mengamalkan doa
keluar rumah sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Al-
Waliy.
● Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Makhluk-Nya
2. Pembahasan: menunjukkan perilaku meneladani Al-Hafiz dan Al-Waliy
dalam kehidupan sehari-hari
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
● Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat Guru
menyapa dengan penuh semangat dan mengajak berdoa.
● Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik menjalankan
'misi cinta' dari pertemuan sebelumnya. amu melihat temanmu terjatuh
dan tasnya berantakan. Apa yang harus kamu lakukan? Saat kamu
menolongnya, kamu sedang meneladani sifat siapa?" (Diarahkan ke Al-
Hafiz atau Al-Waliy)
● Apersepsi: Guru mereview makna Al-Hafiz (Memelihara) dan Al-
Waliy (Melindungi). Guru melakukan Tepuk Asmaul Husna gabungan
Al-Hafiz atau Al-Waliy untuk pemanasan.

KEGIATAN INTI (50 MENIT)


Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
 Implementasi Peneladanan  Guru memimpin Diskusi Kelompok untuk
merumuskan contoh peneladanan:
Kelompok 1 dan 2: Fokus meneladani Al-
Hafiz (misalnya, menjaga kebersihan,
menjaga rahasia teman, menjaga lisan).
Kelompok 3 dan 4: Fokus meneladani Al-
Waliy (misalnya, menolong teman,
melindungi dari bullying, tidak egois).

 Pembelajaran
Berdiferensiasi:
 Diferensiasi Proses  Bimbingan Kelompok Kecil (Kesiapan
Rendah): Guru membimbing kelompok
yang masih kesulitan sambil mengulang
makna Al-Waliy.
 Diferensiasi Produk  Peserta didik membuat produk membuat
cerita sederhana dengan tulisan, bagaimana
aku melindungi diri sendiri dan lingkungan
dan dihiasi gambar-gambar.

KEGIATAN PENUTUP
● Refleksi: " Guru meminta beberapa Peserta didik menyampaikan:
"Setelah belajar Al-Waliy, aku tahu kalau aku sedang takut, aku
harus...".
● Rangkuman: Guru merangkum: Al-Waliy melindungi kita, dan cara
kita membalas cinta-Nya adalah dengan selalu menjadikan-Nya
Pelindung.
● Tindak Lanjut: Mengingatkan Peserta didik untuk mengamalkan doa
keluar rumah sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Al-
Waliy.
● Penutup: Salam dan doa.

Asesmen Asesmen pada Awal a. ASESMEN DIAGNOSTIK (AWAL


Pembelajara Pembelajaran:
n PEMBELAJARAN)
Asesmen pada Proses Tanya jawab lisan di awal pertemuan pertama
Pembelajaran:
untuk mengetahui sejauh mana peserta didik

Asesmen pada Akhir mengenal Siapa yang pernah dengar nama-nama


Pembelajaran: indah Allah? Sebutkan salah
satunya!"Pengetahuan umum Asmaul Husna.
"Siapa yang menjaga kalian saat tidur? Siapa
yang menjaga barang-barang kalian agar tidak
hilang?"Pemahaman awal konsep pemeliharaan.
"Kalau kalian takut, kepada siapa kalian minta
tolong?"
b. ASESMEN FORMATIF (PROSES
PEMBELAJARAN)
- Observasi: Mengamati keaktifan dan kerja sama
peserta didik saat diskusi kelompok merumuskan
contoh peneladanan Al-Waliy menolong dan
melindungi teman.
- Penilaian Kinerja: Menilai kemampuan peserta
didik dalam melafalkan Al-Hafiz dan Al-Waliy
dengan benar, dan saat bermain peran (meminta
perlindungan dan memelihara sesuatu).
- Penilaian Lisan: Mengajukan pertanyaan singkat
di sela-sela kegiatan: "Jadi, apa bedanya Al-Hafiz
dan Al-Waliy?" atau "Sebutkan satu hal yang kamu
jaga hari ini sebagai bentuk meneladani Al-Hafiz
- Penilaian Jurnal Refleksi: Mengecek hasil tulisan
Peserta didik yang mencatat 5 hal yang mereka
mohon pemeliharaan dari Al-Hafiz
c. ASESMEN SUMATIF (Akhir Pembelajaran)
- Tes Lisan: Meminta setiap peserta didik secara
individu untuk: Melafalkan Al-Hafiz dan Al-Waliy
dengan benar. Mengartikan Al-Hafiz (Maha
Memelihara) dan Al-Waliy (Maha Melindungi).
- Unjuk Kerja: Menilai Produk Proyek Akhir puisi
dan cerita sederhana berdasarkan rubrik yang fokus
pada: Kejelasan makna Al-Hafiz dan Al-Waliy yang
disampaikan. Relevansi contoh peneladanan yang
dimuat.
- Penugasan: Memberi tugas terstruktur di rumah:
Membuat daftar 3-5 doa harian (sebelum makan,
sebelum tidur, dll.) dan menuliskan mengapa doa
tersebut merupakan permohonan kepada Al-Hafiz
dan Al-Waliy.
PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM

Penyusun : Nada Yulfani Wulandari, S,Pd


Instansi : MI Al Hidayah Mulyadadi
Tahun Penyusunan : 2025/2026
Jenjang Madrasah : MI
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Fase / Kelas : A/2
Semester/Bab : 1/3
Alokasi Waktu : 6 JP (3 kali pertemuan)

Identifikasi IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


1. Pengetahuan Awal: Peserta didik sudah sering mengucapkan "terima
kasih" dan "maaf" dalam interaksi sehari-hari, namun belum memahami
kaitan berterima kasih (syukur) sebagai wujud cinta kepada Allah dan
kaitan rendah hati (tawadhu') sebagai sikap yang dicintai-Nya.
2. Minat: Peserta didik memiliki minat yang tinggi terhadap cerita teladan,
permainan peran, dan kegiatan kreatif (membuat kartu ucapan, tepuk
akhlak).
3. Latar Belakang: Beragam, dengan tingkat pembiasaan adab dan etika
sosial yang bervariasi di rumah.
4. Kebutuhan Belajar (Diferensiasi Konten):
 Visual: Membutuhkan ilustrasi (gambar anak bersalaman, gambar
ekspresi wajah saat dipuji) dan kartu bergambar "Kartu Ungkapan
Terima Kasih".
 Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang hangat,
mendengarkan kisah teladan (Nabi yang tawadhu'), dan menyanyikan
lagu tentang syukur.
 Kinestetik: Membutuhkan praktik langsung (permainan peran),
membuat mini-book "Jurnal Syukur", dan praktik gerakan tubuh saat
bersikap rendah hati.
● Materi Pelajaran: Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
Konseptual : Memahami makna ta'awudz sebagai permohonan perlindungan
yang lahir dari rasa cinta dan keyakinan penuh kepada Allah Swt., serta
mengenal sosok setan sebagai musuh terbesar manusia karena setan selalu
menjauhkan manusia dari cinta Ilahi.
Prosedural : Mengetahui waktu yang tepat untuk melafalkan kalimat
ta'awudz sebagai bentuk pembiasaan dalam mencintai Allah Swt. di setiap
menjalankan aktivitas.
● Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Materi ini sangat relevan
karena setiap anak pernah merasakan takut, gelisah, marah, atau malas. Kalimat
ta'awudz diajarkan sebagai 'senjata cinta' dari Allah Swt. yang dapat digunakan
oleh mereka supaya merasa tenang dan terlindungi.
● Tingkat Kesulitan: Rendah. Konsep perlindungan mudah dipahami oleh anak-
anak, terutama jika dihubungkan dengan rasa cinta dan aman yang mereka
dapatkan dari orang tua.
● Struktur Materi: Materi disusun secara sistematis mulai dari pengenalan
bacaan lafal ta’awudz, arti, mufrodat, waktu pengucapan, sampai keutamaan
membaca ta’awudz, semuanya dibingkai dalam tema cinta kepada Allah Swt.
● Integrasi Nilai dan Karakter: Mengintegrasikan nilai keimanan, ketawakalan,
keberanian (karena merasa dilindungi Allah), dan kesadaran diri untuk selalu
terhubung dengan Allah Swt. melalui zikir sebagai wujud cinta.
DIMENSI PROFIL LULUSAN
1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Tuhan Yang Maha Esa
dan Berakhlak Mulia: Meyakini bahwa bersyukur adalah perintah agama
dan merendahkan hati adalah ciri hamba yang dicintai Allah.

2. Kewargaan: Mampu menunjukkan empati dan menghargai orang lain


dengan mengucapkan terima kasih yang tulus. Menjaga kerukunan dengan
bersikap rendah hati.
3. Benalar Kritis: Mampu membedakan sikap rendah hati dan sombong dalam
studi kasus sederhana.
4. Kreativitas: Mampu merancang cara kreatif untuk mengungkapkan rasa
terima kasih dengan cara membuat kartu ).
5. Kemandirian: Mampu secara mandiri mengucapkan terima kasih dan
bersikap rendah hati tanpa disuruh.
6. Komunikasi: Mampu menyampaikan rasa terima kasih dan menunjukkan
sikap rendah hati secara verbal maupun non-verbal dengan jelas.

Panca Cinta :
● Topik Panca Cinta: Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
● Materi Insersi: Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagai inti dan
muara kehidupan.
Desain Capaian Pembelajaran :
Pembelajara
n Pada Fase A, Elemen Akhlak, peserta didik diarahkan dan dibimbing untuk
memahami nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari melalui ungkapan positif
dan kebiasaan berperilaku baik seperti berterima kasih dan rendah hati,
serta mengindari akhlak tercela seperti egois, berkata kasar, dan berbohong.
Lintas Disiplin Ilmu
 Bahasa Indonesia: Menulis kalimat sederhana untuk kartu
ucapan terima kasih. Menceritakan kembali kisah
keteladanan tentang kerendahan hati.
 Seni Rupa: Membuat Kartu Ucapan Terima Kasih sederhana
yang kreatif.

 Pendidikan Pancasila: Praktik interaksi sosial: memuji tanpa


menyombongkan diri.
Tujuan Pembelajaran :
1. Pertemuan 1: Peserta didik dapat menjelaskan makna Berterima Kasih
(Syukur) kepada Allah dan manusia serta menunjukkan contoh
pengamalannya. (2 JP)

2. Pertemuan 2: Peserta didik dapat menjelaskan makna Rendah Hati


(Tawadhu') dan mengidentifikasi contoh sikap rendah hati dalam interaksi
harian. (2 JP)

3. Pertemuan 3: Peserta didik dapat mendemonstrasikan gabungan sikap


Berterima Kasih dan Rendah Hati melalui proyek seni dan bermain peran.
(2 JP)
Materi Terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta

Bersikap rendah hati ,berterimakasih = Cinta Sesama manusia


Topik Pembelajaran: Mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-
hari:"Apa yang kamu rasakan dan katakan saat Ibumu membuatkan makanan
kesukaanmu?""Bagaimana sikapmu saat kamu memenangkan lomba
mewarnai, sementara temanmu ada yang tidak menang?"

Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Project Based


Learning (PjBL) dan Inquiry-Based
Learning.

Pendekatan: Deep Learning (Mindful


Learning, Meaningful Learning, Joyful
Learning).
Mindful Learning: Mengajak peserta didik
hadir seutuhnya, merenungkan nikmat kecil
yang diterima hari ini.
Meaningful Learning: Menghubungkan
ucapan terima kasih dengan akar syukur
kepada Allah sebagai sumber segala nikmat.
Joyful Learning: Menciptakan suasana
kelas yang penuh kegembiraan melalui
Tepuk Syukur dan permainan peran.
Metode Pembelajaran: Ceramah interaktif,
Metode Diskusi Kelompok dan Tanya
Jawab Interaktif, Permainan Peran, Metode
Jurnal Refleksi.
Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi:
Diferensiasi Konten: Menyediakan materi
melalui video kisah teladan, flashcard
ekspresi, dan lembar kerja menulis.

Diferensiasi Proses: Memilih antara


menulis refleksi (bagi yang cepat) atau
praktik demonstrasi (bagi yang kinestetik).

Diferensiasi Produk: Membuat mini-book


Syukur, Poster.

Kemitraan Pembelajaran Lingkungan Madrasah: Guru kelas dan guru


lain membiasakan menanyakan: "Apakah
sudah berterima kasih hari ini?" atau memuji
Peserta didik yang menunjukkan sikap rendah
hati saat berprestasi.

Lingkungan Luar Madrasah/Masyarakat:


Melibatkan orang tua untuk mendampingi
anak membuat Jurnal Syukur harian di
rumah, mencatat minimal 3 hal yang patut
disyukuri.

Mitra Digital: Memanfaatkan platform video


online untuk menayangkan kisah teladan
tentang Kerendahan Hati Nabi Muhammad
SAW atau tokoh saleh lainnya.

Lingkungan Pembelajaran ● Ruang Fisik: Menata ruang kelas yang


kondusif, bersih,
● Ruang Virtual: Memanfaatkan grup
WhatsApp orang tua untuk berbagi video
● Budaya Belajar: Membangun budaya saling
menyemangati, menghargai perbedaan
kemampuan, dan merayakan setiap pencapaian
bersama sebagai wujud ukhuwah.

Pemanfaatan Digital  Menayangkan video kisah teladan tentang


Syukur dan Tawadhu'.
 Memutar audio lantunan kalimat Syukur
(Alhamdulillah) atau lagu anak tentang
Berterima Kasih di awal pembelajaran.

Pengalaman Langkah-Langkah Pembelajaran


Belajar AWAL
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Cinta sesama.
2. Pembahasan: Memahami makna berterima kasih (Syukur) kepada Allah
dan manusia serta menunjukkan contoh pengamalannya.

○ Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat.


Salah satu Peserta didik memimpin doa.
○ Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik
menjalankan 'misi cinta' yaitu tentang Berterima Kasih (Syukur).
"Siapa yang kemarin sudah mengucapkan terima kasih kepada
teman atau orang tua? Apa yang kalian rasakan?
○ Apersepsi: Guru bertanya, "Apa yang kamu katakan jika kamu
memenangkan lomba di kelas, sementara temanmu ada yang
sedih? Guru menjelaskan bahwa sikap tidak sombong inilah yang
dinamakan Rendah Hati (Tawadhu') Bagaimana sikap tubuhmu?"
(Mengarahkan Peserta didik untuk memilih sikap tidak
menyombongkan diri).
INTI
PERTEMUAN 1 (2 JP : 70 MENIT)
3. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Cinta sesama.
4. Pembahasan: Memahami makna berterima kasih (Syukur) kepada Allah
dan manusia serta menunjukkan contoh pengamalannya.
5. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat.
Salah satu Peserta didik memimpin doa.
 Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik menjalankan
'misi cinta' yaitu tentang Berterima Kasih (Syukur). "Siapa yang
kemarin sudah mengucapkan terima kasih kepada teman atau orang
tua? Apa yang kalian rasakan?
 Apersepsi: Guru bertanya, "Apa yang kamu katakan jika kamu
memenangkan lomba di kelas, sementara temanmu ada yang sedih?
Guru menjelaskan bahwa sikap tidak sombong inilah yang
dinamakan Rendah Hati (Tawadhu') Bagaimana sikap tubuhmu?"
(Mengarahkan Peserta didik untuk memilih sikap tidak
menyombongkan diri).
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
Eksplorasi Diferensiasi Konten (Visual & Auditori):
Konsep  Guru menayangkan video animasi singkat
(Inquiry/Content) (Mitra Digital) tentang seorang anak yang
bersyukur atas berbagai nikmat (makanan,
kesehatan, keluarga).
 Guru menambahkan storytelling (cerita) yang
menekankan bagaimana semua nikmat itu
berasal dari Allah Swt.
Penemuan  Guru menjelaskan arti dari Berterima Kasih
Konsep (Syukur) sebagai wujud cinta kita kepada
(Meaningful) Allah dan manusia.
 Guru memperkenalkan kalimat syukur:
"Alhamdulillah". * Guru memimpin pelafalan
"Alhamdulillah" secara berulang, menekankan
maknanya: "Segala puji bagi Allah."
 Guru mengecek pemahaman: "Mengapa kita
harus bilang Alhamdulillah?" (Jawaban
diarahkan: karena semua nikmat dari Allah).
Pembelajaran
Berdiferensiasi:
Diferensiasi  Guru membagi peserta didik berdasarkan
Proses kesiapan: Tantangan Cepat (Kesiapan Tinggi):
Peserta didik diminta menulis 5 hal yang
mereka syukuri hari ini (Menggunakan kalimat
"Alhamdulillah, aku bersyukur karena...").
 Bimbingan Kelompok Kecil (Kesiapan
Rendah): Guru membimbing kelompok ini
dengan menggunakan kartu Bergambar
(gambar makanan, sepatu, buku) dan melatih
mereka mengucapkan Alhamdulillah sambil
menunjuk gambar.
Diferensiasi  Guru menjelaskan bahwa wujud terima kasih
Produk kepada manusia bisa dilakukan dengan kata-
kata dan perbuatan. Peserta didik mulai
merancang draft untuk Kartu Ucapan Terima
Kasih Sederhana (untuk ibu, ayah, atau
teman) yang akan diselesaikan di pertemuan
berikutnya.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
● Refleksi:
- Guru: "Anak-anak, hari ini kita sudah belajar tentang makna syukur,
baik kepada Allah Swt. yang telah memberikan segalanya, maupun
kepada sesama yang telah membantu kita. Sekarang, coba renungkan.
Setelah belajar ini, satu hal yang kamu tahu tentang syukur adalah:
'Aku harus berterima kasih kepada Allah dengan cara...' dan 'Aku
harus berterima kasih kepada temanku dengan cara...
- Guru meminta 2-3 Peserta didik menyampaikan refleksinya. Contoh
jawaban Peserta didik : "Aku harus berterima kasih kepada Allah
dengan cara rajin salat dan menjaga lingkungan-Nya." atau "Aku
harus berterima kasih kepada temanku dengan cara mengucapkan
terima kasih dan membalas kebaikannya suatu saat nanti.".
● Rangkuman: Hebat! Ingat, wujud Cinta Allah Swt. kita adalah dengan
syukur (berterima kasih). Syukur kepada Allah adalah dengan taat dan
bersungguh-sungguh menggunakan nikmat-Nya untuk kebaikan. Wujud
Cinta sesama kita juga dengan syukur, yaitu dengan menghargai,
mengucapkan terima kasih, dan mendoakan kebaikan bagi mereka yang
telah membantu kita.
● Tindak Lanjut: Guru mengingatkan peserta didik, mulai sekarang, mari
kita jadikan kebiasaan: Tulis atau ucapkan satu ucapan syukur yang
spesifik kepada Allah Swt. dan satu ucapan terima kasih yang tulus
kepada orang di sekitarmu setiap hari. Ini adalah bukti nyata bahwa kita
mengamalkan Panca Cinta: Cinta Allah dan Cinta sesama
● Penutup: Guru: "Terima kasih atas semangat belajar hari ini. Semoga
ilmu tentang syukur ini membawa keberkahan. Mari kita tutup pelajaran
hari ini dengan berdoa bersama.

PERTEMUAN 2 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Cinta sesama.
2. Pembahasan: Menjelaskan makna Rendah Hati (Tawadhu') dan
mengidentifikasi contoh sikap rendah hati dalam interaksi harian
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat.
Salah satu Peserta didik memimpin doa.
 Review: Guru menanyakan pengalaman peserta didik menjalankan
'misi tentang Berterima Kasih (Syukur). Siapa yang sudah membuat
kartu ucapan berterima kasih kepada orang tua?
 Apersepsi: Guru bertanya, "Apa yang kamu lakukan jika kamu
memenangkan lomba di kelas, sementara temanmu ada yang sedih?
Guru menjelaskan bahwa sikap tidak sombong inilah yang
dinamakan Rendah Hati (Tawadhu') Bagaimana sikap tubuhmu?"
(Mengarahkan Peserta didik untuk memilih sikap tidak
menyombongkan diri).
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
Eksplorasi  Guru memulai dengan pertanyaan pemantik:
Konsep "Apa bedanya percaya diri dengan sombong?
Apa bedanya pendiam dengan rendah hati?"
 Peserta didik diajak berdiskusi singkat.
 Guru kemudian menjelaskan makna Rendah
Hati (Tawadhu'):
- Tawadhu' adalah sikap tengah-tengah; tidak
merendahkan diri secara berlebihan, namun
juga tidak menyombongkan diri.
- Secara hakikat, Tawadhu' adalah menyadari
kelemahan diri di hadapan Allah Swt.
(sebagai wujud Cinta Allah Swt.) dan
memperlakukan orang lain dengan hormat,
tanpa merasa lebih baik (sebagai wujud Cinta
sesama).

Penemuan  Guru menekankan bahwa Tawadhu' adalah kunci


Konsep untuk mendapatkan cinta dan pertolongan Allah
(Meaningful) (Cinta Allah Swt.) dan merupakan ciri orang yang
disukai sesama (Cinta sesama).

Pembelajaran
Berdiferensiasi:
 Guru membagi peserta didik menjadi 3
Diferensiasi
kelompok.
Proses
 Guru memberikan kartu kasus (atau
menuliskannya di papan tulis) yang berisi
berbagai situasi interaksi harian (misalnya:
mendapat nilai tertinggi, memenangkan
pertandingan, ditegur oleh guru, diminta
bantuan oleh teman).
 Tugas Kelompok: Setiap kelompok diminta
untuk mengidentifikasi dan menuliskan dua
respons terhadap kasus tersebut:
- Respons Sombong/Takabur
- Respons Rendah Hati/Tawadhu'

Diferensiasi  Guru meminta Peserta didik membuat


Produk komitmen harian sederhana tentang Tawadhu'
(misalnya: "Besok, aku akan mendengarkan
pendapat temanku tanpa memotong
pembicaraannya, meskipun aku tahu
jawabannya.")

KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)


● Refleksi:
- Guru memimpin refleksi untuk materi yang baru dibahas: "Anak-
anak, hari ini kita telah memahami bahwa Rendah Hati (Tawadhu')
adalah cara kita menunjukkan Cinta Allah Swt. dan Cinta sesama."
- Guru: "Sekarang, coba sampaikan: 'Setelah belajar Tawadhu', aku
tahu bahwa kalau aku punya kelebihan, aku harus menggunakannya
dengan cara..."
- Guru meminta 2-3 Peserta didik menyampaikan refleksinya. Contoh
jawaban Peserta didik: "Aku harus menggunakannya untuk membantu
teman yang kesulitan belajar, bukan untuk menyombongkan diri."
atau "Aku harus selalu berterima kasih kepada Allah dan tidak pernah
merasa lebih hebat dari orang lain.
● Rangkuman: Ingat! Tawadhu' adalah wujud nyata Cinta Allah Swt.,
karena kita sadar semua kelebihan datang dari-Nya. Dan Tawadhu'
adalah wujud Cinta sesama, karena kita memperlakukan orang lain
dengan hormat, tanpa merendahkan, dan siap membantu tanpa pamrih.
● Tindak Lanjut: Guru mengingatkan peserta didik: "Sebagai tindak
lanjut, mulai sekarang, mari kita lakukan Satu Aksi Tawadhu' setiap hari.
Contohnya: mendengarkan orang lain sampai selesai tanpa memotong
pembicaraan, atau mengucapkan terima kasih atas kritik tanpa marah. Ini
adalah bukti nyata bahwa kita mengamalkan Panca Cinta: Cinta Allah
dan Cinta sesame.
● Penutup: Terima kasih atas partisipasi aktif kalian hari ini. Semoga ilmu
tentang Rendah Hati ini bisa kita praktikkan di mana pun kita berada.
Mari kita tutup pelajaran ini dengan doa Bersama.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah Swt. dan Cinta sesama.
2. Pembahasan: Mendemonstrasikan gabungan sikap Berterima Kasih dan
Rendah Hati melalui proyek seni dan bermain peran
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Guru menyambut Peserta didik dengan hangat dan
penuh semangat. Salah satu Peserta didik memimpin doa pembuka untuk
memulai kegiatan.
 Review: Guru mengingatkan kembali konsep utama yang akan dinilai
dalam proyek: "Anak-anak, ingat, dalam proyek kalian nanti, Guru akan
melihat dua hal penting yang merupakan wujud Cinta Allah Swt. dan
Cinta sesama:" Syukur: Apakah dialogperan kalian menunjukkan rasa
terima kasih kepada Allah dan orang lain? Tawadhu': Apakah sikap
tubuh dan perkataan kalian menunjukkan kerendahan hati dan tidak
sombong?
 Apersepsi: Guru menyampak kepada peserta didik bahwa Hari ini
adalah kesempatan kalian untuk menunjukkan bahwa ilmu yang kita
pelajari tidak hanya di kepala, tetapi bisa kita praktikkan dengan indah!
Mari kita tunjukkan contoh terbaik dari seorang Muslim yang bersyukur
dan rendah hati!" (Guru mempersilakan kelompok pertama untuk
bersiap).
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
Tahap Aktivitas Guru dan Peserta Didik
Penyajian  Guru menetapkan kriteria penilaian (fokus pada
Kelompok kejelasan Sikap Syukur dan Sikap Tawadhu'
dalam dialog dan akting). · Setiap kelompok
maju ke depan kelas untuk mendemonstrasikan
proyek bermain peran mereka (yang telah
disiapkan sebelumnya, mungkin juga melibatkan
properti seni/visual). · Setiap demonstrasi
berlangsung antara 3-5 menit, diikuti oleh 1-2
menit untuk applause dan umpan balik singkat
dari Guru.
 Guru menggunakan lembar observasi untuk
mencatat sejauh mana setiap kelompok berhasil:
Menggabungkan Syukur: Menunjukkan rasa
terima kasih atas nikmat atau bantuan (Cinta
Allah Swt.). dan menggabungkan Tawadhu':
Menunjukkan kerendahan hati saat menerima
pujian, memenangkan sesuatu, atau membantu
orang lain (Cinta sesama)
Penemuan  Luar biasa! Kalian sudah berhasil menunjukkan
Konsep bahwa Cinta Allah Swt. (Syukur) dan Cinta
(Meaningful) sesama (Tawadhu') adalah dua sikap yang tidak
bisa dipisahkan. Orang yang bersyukur adalah
orang yang rendah hati, dan orang yang rendah
hati akan selalu bersyukur atas apa yang ia
miliki." · Guru mengaitkan demonstrasi ini
dengan nilai-nilai Panca Cinta sebagai pedoman
hidup sehari-hari.
Pembelajaran
Berdiferensiasi:
 Peserta didik bekerja dalam kelompok
Diferensiasi
(diasumsikan sudah terbentuk di pertemuan
Proses
sebelumnya), di mana mereka dapat saling
mendukung dan belajar dari kekuatan anggota
kelompok yang berbeda (misalnya, yang kuat
dalam akting membantu yang kuat dalam
konsep).
 Guru berkeliling saat kelompok
berlatih/mempersiapkan diri (jika ada waktu
singkat sebelum tampil) atau memberikan umpan
balik segera setelah tampil. Guru fokus pada
kriteria (Syukur dan Tawadhu

Diferensiasi  Produk akhir adalah Demonstrasi Proyek Seni


Produk dan Bermain Peran yang wajib menampilkan
gabungan sikap Syukur dan Tawadhu

Memahami
 (Prinsip: Berkesadaran, Bermakna)
• Kesadaran Linguistik & Spiritual: Peserta didik memahami makna
Alhamdulillāh sebagai rasa terima kasih kepada Allah dan Subhānallāh
sebagai pengakuan atas kebesaran Allah sehingga tumbuh rasa cinta dan
hormat dalam hati.
• Pemaknaan Emosional: Peserta didik memahami bahwa bersyukur
membuat hati bahagia dan menghilangkan iri, sedangkan rendah hati
membuat hati tenang dan menjauhkan dari sifat sombong.
• Aplikasi Fungsional: Peserta didik memahami kapan mengucapkan
Alhamdulillāh (saat mendapat nikmat) dan kapan mengucapkan Subhānallāh
(saat melihat keindahan/keajaiban) sebagai bentuk cinta dan kedekatan
dengan [Link] Allah.

Mengaplikasi
(Prinsip: Bermakna, Menggembirakan)
• Latihan Pelafalan Bermakna: Peserta didik melafalkan Alhamdulillāh dan
Subhānallāh dengan lembut, tenang, dan penuh perasaan, melalui latihan membaca
bersama yang menyenangkan.
• Permainan Situasi: Peserta didik mengikuti permainan sederhana, misalnya:
– Saat guru menunjukkan gambar nikmat (buah, hadiah), mereka menjawab:
Alhamdulillāh.
– Saat melihat gambar pelangi, gunung, atau laut, mereka menjawab: Subhānallāh.
• Proyek Mini “Pohon Cinta”: Peserta didik membuat gambar pohon. Daun yang
ditempel bertuliskan momen-momen ketika mereka mengucapkan Alhamdulillāh
(daun hijau) dan Subhānallāh (daun biru).
Merefleksi
(Prinsip: Berkesadaran, Menggembirakan)
• Refleksi Harian: Peserta didik menceritakan kapan hari ini mereka bersyukur
(Alhamdulillāh) dan kapan mereka merasa takjub (Subhānallāh) sehingga membantu mereka
merasa lebih tenang dan bahagia.
• Berbagi Kisah Baik: Peserta didik berbagi pengalaman sederhana, misalnya: “Aku dapat
nilai bagus, aku bilang Alhamdulillāh,” atau “Aku lihat langit indah, aku bilang
Subhānallāh.”
• Kesadaran Diperkuat: Peserta didik menyimpulkan bahwa membiasakan Alhamdulillāh
dan Subhānallāh adalah wujud cinta kepada Allah karena mereka menjaga hati tetap lembut,
bersih, dan penuh kebaikan.
● PENUTUP
Refleksi: "Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita. Hanya dengan
satu kalimat, kita bisa mendapatkan banyak sekali kebaikan dan
ketenangan."
● Rangkuman: Menyimpulkan bersama keutamaan dari membaca kalimat
ta'awudz.
● Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk menjadikan ta'awudz
sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup mereka, sebagai zikir cinta kepada
Allah.
● Penutup: Salam dan doa.
Asesmen Asesmen pada Awal ASESMEN PEMBELAJARAN
Pembelajara Pembelajaran: a. ASESMEN DIAGNOSTIK (AWAL
n PEMBELAJARAN)
Asesmen pada Proses
Pembelajaran: Mengukur pemahaman awal Peserta didik
tentang konsep Tawadhu' dan Syukur yang
Asesmen pada Akhir
telah dipelajari di pertemuan sebelumnya,
Pembelajaran:
serta kesiapan mereka dalam mengaitkan
kedua konsep [Link] bentuk
pertanyaan lisan singkat saat review di
Kegiatan Pendahuluan. Seperti Sebutkan satu
cara kita berterima kasih (Syukur) kepada
Allah Swt, Apa yang kamu ingat tentang
sikap Rendah Hati (Tawadhu')?, Menurutmu,
apakah orang yang selalu bersyukur bisa
menjadi sombong?
b. ASESMEN FORMATIF (PROSES
PEMBELAJARAN)
- Observasi: Memantau kemajuan belajar
Peserta didik, memberikan umpan balik
segera, dan menilai penguasaan konsep
selama proses demonstras.
- Penilaian Kinerja: Menilai kemampuan
peserta didik dalam mempraktekan
berterimakasih dan rendah hati dalam
kehidupan sehari-hari sebagai bukti cinta
kepada Allah Swt.
- Penilaian Lisan: Guru mencatat respons
Peserta didik yang menyampaikan
refleksi. (Diharapkan responsnya
menggabungkan kedua konsep, misalnya:
"Aku harus menggunakan hadiah dari
Allah (Syukur) untuk membantu orang
lain tanpa pamer (Tawadhu
- Penilaian Jurnal Refleksi: Peserta didik
diminta menulis dalam jurnal harian
mereka selama 3-5 hari ke depan,
mencatat "Satu Aksi Gabungan Syukur
dan Tawadhu'" yang mereka lakukan hari
itu.
c. ASESMEN SUMATIF (Akhir
Pembelajaran)
- Tes Lisan: Meminta setiap peserta didik
secara individu memberikan contoh
penanaman berterima kasih dan rendah
hati
- Unjuk Kerja: Mengukur penguasaan
akhir Peserta didik terhadap konsep Panca
Cinta (Syukur dan Tawadhu') dan
kemampuan mereka mengaplikasikannya
dalam konteks kehidupan nyata.
- Penugasan: Peserta didik diminta menulis
dalam jurnal harian mereka selama 3-5
hari ke depan, mencatat "Satu Aksi
Gabungan Syukur dan Tawadhu'" yang
mereka lakukan hari itu.
PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM

Penyusun : Nada Yulfani Wulandari, S,Pd


Instansi : MI Al Hidayah Mulyadadi
Tahun Penyusunan : 2025/2026
Jenjang Madrasah : MI
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Fase / Kelas : A/2
Semester/Bab : 1/4
Alokasi Waktu : 6 JP (3 kali pertemuan)

Identifikasi IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


1. Pengetahuan Awal : Peserta didik sudah melakukan kegiatan bersin dan
menguap sehari-hari, namun belum memahami adab yang benar
(menutup mulut, mengucapkan Hamdalah) sebagai bentuk ibadah dan
wujud cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

2. Minat : Peserta didik memiliki minat yang tinggi terhadap cerita,


gambar, dan kegiatan interaktif (role playing) yang menirukan gerakan
adab yang baik.
3. Latar Belakang : Peserta didik berasal dari lingkungan yang beragam,
dengan tingkat pembiasaan adab harian yang berbeda-beda.
4. Kebutuhan Belajar :
o Visual : Membutuhkan gambar-gambar ilustratif anak yang bersin
dengan menutup mulut dan membaca Hamdalah, serta gambar
Rasulullah (visualisasi ajaran Sunnah) sebagai inspirasi.
o Auditori : Membutuhkan penjelasan secara lisan yang hangat dan
penuh motivasi, mendengarkan kisah Sunnah Rasulullah, dan
melafalkan Hamdalah dan doa bersin secara bersama-sama.
o Kinestetik : Membutuhkan praktik langsung (simulasi) adab bersin
dan menguap, permainan peran sederhana, dan kegiatan menulis atau
mewarnai kata "Alhamdulillah".
● Materi Pelajaran
Jenis Pengetahuan Yang Akan Dicapai

○ Konseptual : Memahami bahwa adab bersin (mengucapkan Hamdalah)


adalah wujud syukur dan cinta kepada Allah SWT yang memberikan
kesehatan, sementara adab menguap (menutup mulut) adalah wujud cinta
kepada Rasulullah SAW dengan mengamalkan Sunnahnya.
○ Prosedural : Mampu mempraktikkan adab bersin dan menguap yang benar,
tepat, dan penuh kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.
● Relevansi Dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik : Materi ini sangat relevan
karena bersin dan menguap adalah kegiatan alami yang terjadi setiap hari. Adab
diajarkan sebagai rutinitas harian yang dapat diubah menjadi amalan berpahala,
menghubungkan kegiatan fisik biasa dengan spiritualitas (rasa cinta dan syukur
kepada Allah).
● Tingkat Kesulitan : Rendah. Konsep praktik adab sangat mudah dipahami dan
dipraktikkan oleh anak-anak.
● Struktur Materi : Materi disusun mulai dari pengenalan adab bersin
(Hamdalah dan menutup mulut), adab menguap (menutup mulut dan menahan),
hingga penerapan adab tersebut sebagai wujud kepatuhan dan kebersihan diri.
● Integrasi Nilai dan Karakter : Mengintegrasikan nilai syukur, kebersihan diri
(menjaga kesehatan), menghargai orang lain (tidak membuat suara/tampilan
yang tidak pantas), serta keteladanan (mengikuti Sunnah Rasulullah).

DIMENSI PROFIL LULUSAN


1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
Berakhlak Mulia : Peserta didik meyakini bahwa bersin adalah nikmat
yang harus disyukuri (Hamdalah) dan mengamalkan adab sebagai wujud
ketakwaan dan akhlak mulia.

2. Kewargaan : Memahami bahwa adab bersin dan menguap yang baik


(menutup mulut) adalah bentuk menghargai kebersihan dan kenyamanan
lingkungan sekitar.
3. Benalar Kritis : Mampu membedakan adab bersin yang baik dan yang
tidak baik (misalnya, bersin tanpa menutup mulut).
4. Kreativitas : Mampu membuat poster atau gambar sederhana yang berisi
pesan adab bersin/menguap.
5. Kemandirian : Mampu secara mandiri mempraktikkan adab bersin dan
menguap tanpa perlu diingatkan oleh guru atau orang tua.
6. Komunikasi : Mampu melafalkan Hamdalah dan doa bersin yang benar,
serta mengucapkan doa bagi orang lain yang bersin (Yarhamukallah).

Panca Cinta :
● Topik Panca Cinta: Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
● Materi Insersi: Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagai inti dan
muara kehidupan.
Desain Capaian Pembelajaran :
Pembelajara Pada Fase A, Elemen Adab, peserta didik mampu memahami norma yang
n berkaitan dengan perilaku sehari-hari, termasuk adab bersin dan menguap,
dan menerapkannya sebagai wujud akhlak mulia.

Lintas Disiplin Ilmu


1. Al-Qur’an Hadis : Memahami hadis-hadis yang berkaitan dengan adab
bersin dan menguap (Sunnah Rasulullah).

2. Bahasa Arab : Mengenal lafal dan arti kata Alhamdulillah dan


Yarhamukallah.
3. Bahasa Indonesia : Membuat kalimat sederhana tentang pentingnya adab
dalam menjaga kebersihan.

Tujuan Pembelajaran :
1. Pertemuan 1 : Peserta didik dapat menjelaskan dan mempraktikkan
adab bersin (mengucapkan Hamdalah dan menutup mulut) sebagai
wujud syukur dan cinta kepada Allah Swt. (2 JP).

2. Pertemuan 2 : Peserta didik dapat menjelaskan dan mempraktikkan adab


menguap (menahan dan menutup mulut) sebagai wujud cinta dan
pengamalan Sunnah Rasulullah SAW. (2 JP).
3. Pertemuan 3 : Peserta didik mampu mempraktikkan adab interaksi
ketika ada orang lain yang bersin (mendoakan) sebagai wujud cinta
kepada sesama (kewargaan). (2 JP).

Materi Terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta

(Adab Bersin dan Menguap)

Praktik Pedagogis a. Model Pembelajaran : Discovery Learning,


Cooperative Learning, Project Based
Learning (Sederhana).
b. Pendekatan : Deep Learning (Mindful,
Meaningful, Joyful Learning)
 Mindful Learning : Mengajak peserta didik
menyadari bahwa bersin adalah mekanisme
tubuh yang menakjubkan dari Allah yang
harus disyukuri. Menghubungkan praktik
adab dengan perintah Allah (syukur) dan
Sunnah Rasulullah (cinta), sehingga adab
menjadi bermakna.
 Joyful Learning : Belajar melalui permainan
simulasi, lagu, dan cerita Sunnah.
c. Metode Pembelajaran : Ceramah interaktif,
tanya jawab, demonstrasi, dan simulasi
(role playing).
d. Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi
 Diferensiasi Konten : Menyediakan materi
melalui media gambar (visual), kisah
(auditori), dan kartu adab (kinestetik).
 Diferensiasi Proses : Peserta didik dapat
mempraktikkan adab secara individu,
berpasangan (saling mendoakan saat
bersin), atau kelompok (membuat sketsa
adab). Peserta didik dapat menunjukkan
pemahamannya dengan cara lisan
(melafalkan doa), praktik (demonstrasi
adab), atau membuat poster mini.

Kemitraan Pembelajaran a. Lingkungan Madrasah : Bekerja sama dengan


guru lain untuk memastikan adab ini
diterapkan di luar kelas (misalnya saat
istirahat).
b. Lingkungan Luar Madrasah/Masyarakat :
Melibatkan orang tua untuk mendampingi
dan mempraktikkan adab ini di rumah
(sebelum makan, saat berkumpul keluarga).
c. Mitra Digital : Menayangkan video singkat
tentang keajaiban tubuh manusia saat bersin
sebagai bentuk syukur.

Lingkungan Pembelajaran a. Ruang Fisik : Menempelkan poster sederhana


berisi ilustrasi adab bersin dan menguap.
b. Budaya Belajar : Membangun budaya saling
menghormati dan mengingatkan akan adab
sebagai wujud saling cinta.

Pemanfaatan Digital a. Menampilkan video animasi yang


menggambarkan Hadis tentang adab bersin
dan menguap.

Pengalaman Langkah-Langkah Pembelajaran


Belajar AWAL
1. Topik Panca Cinta : Cinta Allah Swt. (Syukur atas Nikmat Sehat)

2. Pembahasan : Makna dan Praktik Adab Bersin

● Salam dan Doa: Guru membuka dengan salam dan doa.

● Review: Guru menyampaikan adab bersin dan menguap. Bersin adalah sesuatu
perbuatan yang di cintai Allah Swt. Sedangkan menguap adalah sesuatu hal
yang dibenci Allah Swt.

● Apersepsi: Guru bertanya, "Anak-anak, siapa yang hari ini sudah bersin?
Bagaimana rasanya? Siapa yang memberikan kita sehat?" Guru menghubungkan
bersin dengan nikmat kesehatan dari Allah.

INTI
PERTEMUAN 1 (2 JP : 70 MENIT)
3. Topik Panca Cinta : Cinta Allah Swt. (Syukur atas Nikmat Sehat)

4. Pembahasan : Makna dan Praktik Adab Bersin

5. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Guru membuka dengan salam dan doa.

 Review: Guru menyampaikan adab bersin dan menguap. Bersin


adalah sesuatu perbuatan yang di cintai Allah Swt. Sedangkan
menguap adalah sesuatu hal yang dibenci Allah Swt.

 Apersepsi: Guru bertanya, "Anak-anak, siapa yang hari ini sudah


bersin? Bagaimana rasanya? Siapa yang memberikan kita sehat?"
Guru menghubungkan bersin dengan nikmat kesehatan dari Allah.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Meaningful): Guru memantik dengan simulasi, "Coba
bersin tanpa ditutup! (suara pelan, hanya pura-pura). Apa yang
terjadi? Guru menjelaskan pentingnya menutup mulut dengan
tangan,sapu tangan dan tissue.
 Menanya: "Setelah bersin, kita harus bilang apa? Kenapa harus
bilang itu?"
 Mengeksplorasi (Joyful): Guru mengajarkan lafal "Alhamdulillah"
(bagi yang bersin) dan "Yarhamukallah" (bagi yang mendengar),
dengan melantunkan melalui nada lagu sederhana. Peserta didik
meniru dan mempraktikkan.
 Mengasosiasi (Mindful): Guru menjelaskan bahwa bersin adalah
nikmat dikeluarkan penyakit, dan Hamdalah adalah ungkapan
syukur, bukti cinta kepada Allah yang Maha Penyayang.
 Mengomunikasikan: Guru membagi anak menjadi berpasangan.
Satu anak pura-pura bersin (Alhamdulillah), anak yang lain
mendoakan (Yarhamukallah).
 Pembelajaran Berdiferensiasi:
- Proses : Anak Kinestetik melakukan simulasi role playing bersin
berpasangan. Anak Auditori fokus pada pelafalan Hamdalah dan
doa dengan makhraj yang benar.
- Produk : Peserta didik menceritakan kembali dengan bahasa
sederhana kenapa harus bilang Alhamdulillah saat bersin.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: Guru bertanya, "Sekarang kita tahu, bersin yang biasa saja
bisa jadi pahala kalau kita bersyukur kan?"
 Tindak Lanjut: Memberi 'misi cinta': "Mulai sekarang, setiap bersin
harus ingat Allah ya!"
 Penutup: Salam dan doa
PERTEMUAN 2 (2 JP : 70 MENI)
1. Topik Panca Cinta : Cinta Rasulullah SAW (Mengamalkan Sunnah)

2. Pembahasan : Makna dan Praktik Adab Menguap


3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Guru menyapa dengan penuh semangat.

 Review: Mengingatkan kembali adab bersin.


 Apersepsi: Guru bertanya, "Siapa yang pernah mengantuk di kelas?
Kenapa kita menguap? Ternyata menguap itu datangnya dari setan,
lho! Nah, kalau kita cinta Rasulullah, kita pasti akan ikuti cara Nabi
untuk mengalahkan godaan setan ini, kan?"
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Meaningful): Guru menayangkan gambar (atau
menceritakan) bagaimana Rasulullah mengajarkan kita untuk menahan
dan menutup mulut saat menguap. Guru menjelaskan bahwa setan
akan masuk dan tertawa saat kita menguap lebar-lebar.
 Menanya: "Mengapa kita harus menutup mulut saat menguap? Apa
bedanya kalau kita tutup dan tidak ditutup?"
 Mengeksplorasi (Joyful): Guru mengajak peserta didik
mempraktikkan 3 cara: (1) Menguap lebar tanpa ditutup (Simulasi),
(2) Menguap sambil menahan, (3) Menguap sambil menutup mulut
dengan punggung tangan kiri. Guru menekankan: tahan sebisa
mungkin, jika tidak mampu, tutup!
 Mengasosiasi (Mindful): Guru menjelaskan bahwa adab menahan
dan menutup mulut saat menguap adalah bentuk mengikuti Sunnah
Rasulullah (bukti cinta kita kepada Nabi), sekaligus bentuk menjaga
kehormatan diri dan menghargai orang lain.
 Mengomunikasikan: Peserta didik secara individu
mendemonstrasikan adab menguap yang benar.
 Pembelajaran Berdiferensiasi:
- Proses : Kelompok Auditori fokus pada alasan syar'i tentang
menguap. Kelompok Kinestetik fokus pada praktik dan gerakan
menahan menguap yang benar.
- Produk : Peserta didik menggambar ekspresi anak yang menguap
dengan dan tanpa ditutup.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: Alhamdulillah, sekarang kita tahu cara menguap yang
dicintai Rasulullah.
 Tindak Lanjut: Mulai hari ini, mari kita buktikan cinta kita kepada
Nabi dengan menguap sesuai Sunnah ya!
 Penutup: Salam dan doa
PERTEMUAN 3 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta : Akhlak Mulia (Cinta Sesama dan Kebersihan)
2. Pembahasan : Integrasi Adab Bersin, Menguap, dan Mendoakan
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Diawali dengan salam hangat dan doa.
 Review: Meninjau ulang adab bersin dan menguap.
 Apersepsi: "Adab yang kita pelajari tidak hanya untuk diri sendiri,
tapi juga untuk teman kita. Kalau teman kita bersin, apa yang harus
kita lakukan? Ini adalah wujud cinta dan peduli kita kepada
sesama."
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Mindful): Guru menampilkan urutan adab bersin
lengkap dengan doanya
 Menanya: "Kenapa kita harus menjawab 'Yahdikumullah'? Kenapa
tidak hanya diam saja?" (Jawaban: Itu adalah Sunnah, bentuk
adab yang sempurna, dan mendoakan kebaikan untuk teman).
 Mengeksplorasi (Joyful): Melakukan permainan peran (role playing)
"Rantai Doa Bersin". Peserta didik melakukan simulasi bersin
berantai dan mendoakan secara bergantian.
 Mengasosiasi (Meaningful): Guru menyimpulkan bahwa seluruh
adab ini (bersin, menguap, mendoakan) adalah rangkaian akhlak
mulia yang jika dilakukan, akan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya,
serta membuat teman-teman merasa nyaman dan dihargai.
 Mengomunikasikan: Peserta didik diminta membuat janji/ikrar
sederhana tentang komitmen mereka mempraktikkan adab ini di
rumah dan di madrasah.
 Pembelajaran Berdiferensiasi:
- Proses : Peserta didik berpasangan, mencoba mempraktikkan
seluruh adab secara mandiri.
- Produk : Membuat komik strip 3 kotak sederhana tentang
urutan adab bersin lengkap.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: "Subhanallah, sekarang kita tahu bahwa adab kecil pun
bisa menjadi ladang pahala dan bukti cinta kita kepada Allah dan
sesama."
 Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk menjadikan adab ini
sebagai kebiasaan baik seumur hidup.
 Penutup: Salam dan doa

Memahami
(Prinsip: Berkesadaran, Bermakna)
• Kesadaran Linguistik & Spiritual: Peserta didik memahami bahwa ketika bersin
dianjurkan mengucapkan “Alhamdulillāh” sebagai bentuk syukur kepada Allah yang
telah memberi kesehatan, dan ketika mendengar orang lain bersin, kita mengucapkan
“Yarhamukallāh” sebagai doa kebaikan.
• Makna Adab Saat Menguap: Peserta didik memahami bahwa menguap berasal dari
rasa lelah sehingga disunnahkan menutup mulut dan tidak mengeluarkan suara,
sebagai wujud menjaga sopan santun dan mengendalikan diri.
• Pemaknaan Emosional: Peserta didik memahami bahwa adab bersin dan menguap
membuat interaksi lebih nyaman, menjaga kebersihan, dan menunjukkan akhlak baik
kepada orang lain.
• Aplikasi Fungsional: Peserta didik memahami kapan mengucapkan Alhamdulillāh
(setelah bersin), kapan mengucapkan Yarhamukallāh (kepada orang yang bersin),
serta bagaimana menutup mulut ketika menguap.
Mengaplikasi
(Prinsip: Bermakna, Menggembirakan)
• Latihan Pelafalan Bermakna: Peserta didik berlatih mengucapkan
“Alhamdulillāh” setelah bersin (simulasi), serta “Yarhamukallāh” ketika mendengar
teman bersin, dengan irama lembut dan sopan.
• Permainan Situasi:
– Guru mengatakan: “Ada anak bersin…” Lalu peserta didik menjawab bersama:
“Yarhamukallāh.”
– Guru menunjukkan gambar anak menguap. Peserta didik menunjukkan cara
menutup mulut dengan tangan atau lengan.
• Proyek Mini “Kartu Adab Baik”: Peserta didik membuat dua kartu kecil:
– Kartu 1: “Jika bersin → ucapkan Alhamdulillāh.”
– Kartu 2: “Jika menguap → tutup mulut dan jangan bersuara.”
Kartu dihias dan bisa ditempel di meja belajar.
Merefleksi
(Prinsip: Berkesadaran, Menggembirakan)
• Refleksi Harian: Peserta didik menceritakan apakah hari ini mereka bersin dan
apakah sudah mengucapkan Alhamdulillāh, atau apakah mereka menguap dan sudah
menutup mulut.
• Berbagi Kisah Baik: Peserta didik berbagi pengalaman sederhana, misalnya: “Tadi
pagi aku bersin dan langsung bilang Alhamdulillāh,” atau “Waktu mengantuk aku
tutup mulut supaya sopan.”
• Kesadaran Diperkuat: Peserta didik menyimpulkan bahwa menjaga adab bersin
dan menguap adalah tanda akhlak baik, rasa syukur kepada Allah, dan bentuk peduli
kepada kenyamanan orang lain.
 PENUTUP
Refleksi: "Subhanallah, sekarang kita tahu bahwa adab kecil pun
bisa menjadi ladang pahala dan bukti cinta kita kepada Allah dan
sesama."
 Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk menjadikan adab
ini sebagai kebiasaan baik seumur hidup.
 Penutup: Salam dan doa

Asesmen Asesmen pada Awal a. ASESMEN DIAGNOSTIK (AWAL


Pembelajara Pembelajaran: PEMBELAJARAN)
n Tanya jawab lisan : "Apa yang kalian lakukan
Asesmen pada Proses
Pembelajaran: saat bersin?", "Pernahkah kalian melihat
teman menguap lebar-lebar?" (Mengecek
Asesmen pada Akhir
pengetahuan awal).
Pembelajaran:
b. ASESMEN FORMATIF (PROSES
PEMBELAJARAN)
 Observasi : Mengamati praktik peserta didik
saat simulasi berpasangan (apakah menutup
mulut, apakah melafalkan Hamdalah).
 Penilaian Kinerja : Menilai keaktifan peserta
didik saat bermain peran "Rantai Doa
Bersin".
 Penilaian Lisan : Menanyakan di sela-sela
kegiatan: "Tunjukkan bagaimana cara
menguap yang benar!", "Apa doa yang kita
ucapkan saat mendengar teman bersin?"
c. ASESMEN SUMATIF (AKHIR
PEMBELAJARAN)
 Tes Lisan/Praktik : Meminta setiap peserta
didik mendemonstrasikan secara individu:
- Adab bersin lengkap (tindakan dan ucapan).
- Adab menguap (tindakan
menahan/menutup).
- Ucapan saat mendoakan teman yang bersin.

 Penugasan : Memberi tugas 'Misi Adab di


Rumah' (melaporkan minimal 5 kali praktik
adab bersin dan menguap yang benar,
ditandatangani oleh orang tua).
-

PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM


Penyusun : Nada Yulfani Wulandari, S,Pd
Instansi : MI Al Hidayah Mulyadadi
Tahun Penyusunan : 2025/2026
Jenjang Madrasah : MI
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Fase / Kelas : A/2
Semester/Bab : 1/5
Alokasi Waktu : 6 JP (3 kali pertemuan)

Identifikasi IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK


 Peserta didik telah berinteraksi sosial sehari-hari dan mungkin
pernah mengalami atau melakukan akhlak tercela ini (misalnya
berebut mainan, marah, atau berdalih). Namun, mereka belum
1. Pengetahuan
memahami dampak buruknya secara spiritual (Cinta Allah) dan
Awal
sosial (Cinta Sesama).

 Peserta didik memiliki minat tinggi terhadap cerita teladan (kisah


Nabi/Sahabat), permainan peran (role-playing) yang melibatkan
2. Minat
konflik dan resolusi damai, serta kegiatan mewarnai/menggambar
ekspresi emosi.

 Peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam, sehingga


3. Latar
tingkat pemahaman dan penerapan akhlak mulia perlu
Belakang
distandarisasi dan diseragamkan dengan dasar kasih sayang.

4. Kebutuhan  Visual: Gambar/Poster ekspresi wajah (marah, sedih, damai),


Belajar simbol hati yang 'kotor' karena bohong/kasar dan 'bersih' karena
jujur/santun. Auditori: Mendengarkan kisah Nabi tentang kejujuran
dan kasih sayang, melafalkan doa atau kata-kata santun.
 Kinestetik: Role-playing skenario konflik (berbagi, meminta maaf),
membuat gerakan 'kontrol emosi' (menarik napas), membuat 'Kartu
Janji Akhlak Mulia'.

● Materi Pelajaran
Jenis Pengetahuan Yang Akan Dicapai

Deskripsi
Komponen
Konseptual: Memahami bahwa egois, berkata kasar, dan
berbohong adalah perbuatan yang merusak hubungan
dengan Allah dan sesama, dan bahwa Allah mencintai
1. Jenis Pengetahuan kejujuran dan kasih sayang. Prosedural: Mampu
mengendalikan keinginan diri (tidak egois), memilih kata-
kata yang lembut (tidak kasar), dan berkata jujur dalam
situasi sulit.
Materi ini sangat relevan karena berkaitan langsung dengan
konflik harian peserta didik (perebutan mainan,
2. Relevansi Kehidupan
kekecewaan, alasan tidak mengerjakan tugas). Adab
diajarkan sebagai 'senjata cinta' untuk menyelesaikan
masalah dengan damai.
Rendah-Sedang. Konsep sangat mudah dipahami, namun
3. Tingkat Kesulitan praktik pengendalian emosi (tidak berkata kasar saat
marah) membutuhkan bimbingan intensif dan pembiasaan.
Pengenalan sifat tercela, dampak buruk, kisah teladan sifat
4. Struktur Materi
mulia, hingga praktik solusi dan pembiasaan.
Empati, Syukur, Kejujuran, Pengendalian Diri (Sabr), Kasih
5. Integrasi Nilai
Sayang.
DIMENSI PROFIL LULUSAN

Penerapan dalam Materi


Dimensi
1. Keimanan dan Peserta didik meyakini bahwa Allah membenci sifat tercela
Ketakwaan dan mencintai orang yang jujur, santun, dan suka berbagi.

2. Kewargaan Mampu berinteraksi dengan empati, menghargai hak teman,


dan menggunakan bahasa yang menyatukan (bukan memecah
belah).
Mampu membedakan perkataan yang menyakiti dan perkataan
3. Bernalar Kritis
yang menenangkan, serta memikirkan dampak perilaku egois.
Mampu menemukan cara-cara kreatif untuk meminta maaf
4. Kreativitas
atau menyelesaikan konflik tanpa harus marah atau berbohong.
Mampu secara mandiri mengakui kesalahan dan meminta maaf
5. Kemandirian
(kejujuran) tanpa disuruh.
Mampu mengungkapkan perasaan dan keinginan dengan kata-
6. Komunikasi
kata yang sopan, lembut, dan jujur.
Panca Cinta :
● Topik Panca Cinta: Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
● Materi Insersi: Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagai inti dan muara
kehidupan.
Desain Capaian Pembelajaran :
Pembelajaran
Pada Fase A, Elemen Akhlak, peserta didik mampu memahami, menghindari, dan
menunjukkan sikap menjauhi akhlak tercela (egois, berkata kasar, berbohong) serta
menerapkannya dalam interaksi sosial sehari-hari sebagai perwujudan akhlak mulia dan
bukti Cinta kepada Allah serta sesama.

Lintas Disiplin Ilmu

1. Al-Qur’an Hadis: Memahami hadis-hadis tentang keutamaan jujur, bahaya dusta,


dan anjuran berkata baik.
2. Bahasa Indonesia: Memperkaya kosakata emosi dan perasaan, serta menyusun
kalimat ajakan berbagi atau permintaan maaf yang santun.
3. Seni Budaya: Menggambar atau mewarnai ekspresi wajah sedih,marah,senang dan
damai.

Tujuan Pembelajaran :

1. Pertemuan 1 (Egois): Peserta didik dapat menjelaskan bahaya sifat egois dan
mempraktikkan sikap berbagi serta empati sebagai wujud Cinta Kepada Sesama (2
JP).
2. Pertemuan 2 (Berkata Kasar): Peserta didik dapat menjelaskan dampak buruk
berkata kasar dan mempraktikkan komunikasi santun sebagai wujud Menjaga Lisan
(2 JP).
3. Pertemuan 3 (Berbohong): Peserta didik dapat menjelaskan pentingnya berkata
jujur dan mempraktikkan kejujuran sebagai wujud Cinta Kepada Allah SWT (2 JP).

Materi Terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta


Akhlak (Menjauhi Sifat Egois, Berkata Kasar, Berbohong)

Praktik Pedagogis Komponen Deskripsi

Discovery Learning, Cooperative Learning,


Model Pembelajaran
Project Based Learning (Sederhana).
Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful
Learning): Mindful Learning: Mengajak
peserta didik menyadari dampak buruk
akhlak tercela pada hati mereka dan orang
Pendekatan lain. Meaningful Learning: Menghubungkan
akhlak mulia dengan janji surga (Cinta Allah)
dan persahabatan sejati (Cinta Sesama).
Joyful Learning: Belajar melalui permainan,
cerita, dan simulasi.
Ceramah interaktif, tanya jawab, demonstrasi,
Metode Pembelajaran
dan simulasi (role playing).
Diferensiasi Konten: Menyediakan materi
melalui kisah teladan (auditori), gambar
ekspresi (visual), dan kartu janji (kinestetik).
Strategi
Diferensiasi Proses: Peserta didik dapat
Berdiferensiasi
menunjukkan pemahaman melalui lisan
(diskusi), praktik (role-playing), atau produk
(gambar/poster mini).
Kemitraan 1. Lingkungan Madrasah: Bekerja sama dengan guru lain
Pembelajaran untuk memastikan penggunaan bahasa santun dan
kejujuran diprioritaskan di lingkungan sekolah.
2. Lingkungan Luar Madrasah: Melibatkan orang tua
untuk memantau dan memberikan apresiasi terhadap
setiap perilaku berbagi, santun, atau jujur yang dilakukan
anak di rumah (melalui 'Jurnal Akhlak').
3. Mitra Digital: Menayangkan video animasi tentang
kekuatan kata-kata dan pentingnya kejujuran.

Lingkungan 1. Ruang Fisik: Menempelkan "Pohon Kata Santun" di


Pembelajaran kelas, di mana setiap daun berisi kata-kata positif yang
harus dibiasakan.
2. Budaya Belajar: Membangun budaya saling mengoreksi
dengan lembut (penuh cinta) jika ada teman yang berkata
kasar atau berbohong.
Pemanfaatan Digital Menampilkan video animasi pendek yang menggambarkan
konsekuensi logis dari sikap egois dan kebohongan.

Pengalaman Langkah-Langkah Pembelajaran


Belajar 1. AWAL
Topik Panca Cinta: Cinta Sesama (Empati dan Berbagi)
2. Pembahasan: Menjauhi Sifat Egois (Aku dan Kamu)
 Salam dan Doa: Guru menyapa dengan salam penuh kasih sayang.
 Doa: Mengajak peserta didik berdoa bersama,
 Apersepsi: Guru menunjukkan dua mainan yang sama. "Kalau kamu dan
temanmu sama-sama ingin mainan ini, apa yang kamu lakukan? Siapa yang
paling hebat di mata Allah?" Guru menghubungkan sifat egois dengan
kurangnya empati.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Meaningful): Guru membacakan kisah sederhana tentang dampak
anak yang egois (tidak punya teman) dan anak yang suka berbagi (disayangi).
 Menanya: "Kenapa kalau kita egois, teman-teman jadi menjauh? Kenapa
Rasulullah suka orang yang berbagi?"
 Mengeksplorasi (Joyful): Simulasi Role-Playing Konflik. Peserta didik
berpasangan. Satu anak egois, satu anak sabar. Lalu ditukar perannya. Guru
membimbing resolusi: mencoba berbagi atau bergantian.
 Mengasosiasi (Mindful): Guru menjelaskan bahwa berbagi adalah bukti cinta
kepada sesama, dan orang yang berbagi akan dicintai oleh Allah.
 Diferensiasi:
- Proses: Anak Kinestetik fokus pada simulasi berbagi. Anak Visual membuat
sketsa sederhana ekspresi sedih saat tidak diajak main.
- Produk: Peserta didik mempresentasikan cara yang paling baik untuk
meminta giliran mainan.

KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)


 Refleksi: Guru bertanya, "Sekarang kita tahu, berbagi itu ternyata lebih
menyenangkan, ya kan?"
 Tindak Lanjut: Memberi 'Misi Cinta' pertama: "Mulai hari ini, coba berbagi
minimal satu hal dengan teman,saudara di rumah."
 Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 2 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Akhlak Mulia (Menjaga Lisan)
2. Pembahasan: Menjauhi Berkata Kasar (Lisan Penuh Cinta)
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Guru menyapa dengan semangat.
 Review: Mengingatkan kembali adab berbagi (anti-egois).
 Apersepsi: Guru menunjukkan gambar 'hati' yang bersih. "Coba ucapkan
kata-kata kasar (pura-pura). Lihat, hati kita jadi kotor, lho! Apa yang terjadi
pada telinga teman kita kalau mendengar kata kasar?"
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Meaningful): Guru menayangkan visualisasi (atau cerita) bahwa
kata-kata kasar seperti paku yang menancap di kayu, susah dicabut dan
meninggalkan bekas.
 Menanya: "Mengapa kita harus menjaga lisan kita? Apa ganti kata-kata kasar
agar tetap enak didengar?"
 Mengeksplorasi (Joyful): Aktivitas Peserta didik menulis atau menggambar
kata-kata pengganti yang santun (misalnya, ganti "Aku benci kamu" dengan
"Aku tidak suka caramu bermain").
 Mengasosiasi (Mindful): Guru menjelaskan bahwa lisan yang lembut adalah
Sunnah Rasulullah (bukti cinta Nabi), dan menjaga lisan adalah menjaga hati
kita dari kotoran.
 Diferensiasi:
- Proses: Anak Auditori fokus pada pelafalan kalimat permintaan maaf dan
terima kasih yang tepat. Anak Visual membuat poster mini tentang "Lisan
Penjaga Hati".
- Produk: Peserta didik secara individu mendemonstrasikan cara
menyampaikan rasa marah dengan kata-kata santun.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: "Alhamdulillah, sekarang kita punya Bank Kata Santun. Mulai
sekarang, ayo kita buka Bank Kata Santun kita!"
 Tindak Lanjut: Melatih penggunaan 3 kata ajaib (Tolong, Terima Kasih,
Maaf) di rumah.
 Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Kepada Allah SWT
2. Pembahasan: Menjauhi Berbohong
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Diawali dengan salam hangat.
 Review: Meninjau ulang adab lisan (berkata santun).
 Apersepsi: "Apa yang terjadi kalau kita janji mau datang, tapi tidak datang?
Apa yang terjadi kalau kita berbohong tentang tugas sekolah? Siapa yang
paling sedih kalau kita berbohong? Jawabannya adalah Allah."
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
- Mengamati (Mindful): Guru menceritakan kisah teladan tentang kejujuran
(misalnya kisah Nabi Muhammad kecil yang dijuluki Al-Amin). Guru
menekankan bahwa Allah selalu melihat kita.
- Menanya: "Mengapa kejujuran itu sulit dilakukan? Mengapa Allah sangat
mencintai orang yang jujur?"
- Mengeksplorasi (Joyful): Peserta didik diminta membuat 'Kartu Janji
Akhlak Mulia' (Kinestetik) yang berisi janji untuk berkata jujur kepada guru,
orang tua, dan teman, ditandatangani oleh diri sendiri.
- Mengasosiasi (Meaningful): Guru menyimpulkan bahwa kejujuran adalah
dasar dari semua amal saleh dan bukti paling kuat dari cinta kita kepada
Allah, karena kita jujur meskipun tidak ada yang melihat.
- Diferensiasi:
- Proses: Peserta didik berpasangan, mencoba mempraktikkan cara
mengakui kesalahan dengan jujur.
- Produk: Membuat komik strip 3 kotak sederhana tentang urutan berbuat
salah, berani jujur, dan menerima maaf.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: "Subhanallah, sekarang kita tahu bahwa berani jujur itu hebat! Itu
adalah ciri anak yang dicintai Allah."
 Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk menjadikan kejujuran
sebagai kebiasaan baik seumur hidup.
 Penutup: Salam dan doa.

Memahami
(Prinsip: Berkesadaran, Bermakna)
• Kesadaran Linguistik & Spiritual: Peserta didik memahami bahwa salam
“Assalāmu‘alaikum” adalah doa keselamatan kepada orang lain, dan “Wa‘alaikumussalām”
adalah jawaban yang juga merupakan doa balasan kebaikan.
• Makna Adab Salam: Peserta didik memahami bahwa mengucapkan salam dapat
menumbuhkan rasa cinta, persaudaraan, dan kedamaian di antara sesama.
• Pemaknaan Emosional: Peserta didik memahami bahwa memberi salam dengan senyum
membuat hati orang lain gembira, sedangkan menjawab salam menunjukkan sikap hormat
dan menghargai.
• Aplikasi Fungsional: Peserta didik memahami kapan mengucapkan salam (saat datang,
bertemu, masuk ruangan) dan kapan menjawab salam (ketika ada yang memberi salam).
Mengaplikasi
(Prinsip: Bermakna, Menggembirakan)
(Prinsip: Bermakna, Menggembirakan)
• Latihan Pelafalan Bermakna: Peserta didik berlatih mengucapkan “Assalāmu‘alaikum”
dengan suara lembut dan senyum, serta menjawab “Wa‘alaikumussalām” dengan sopan dan
jelas.
• Permainan Situasi:
– Guru berkata: “Anak A masuk kelas…” Peserta didik menjawab bersama:
“Assalāmu‘alaikum.”
– Guru berkata: “Temannya menjawab…” Peserta didik menjawab: “Wa‘alaikumussalām.”
• Proyek Mini “Kartu Salam Baik”: Peserta didik membuat dua kartu kecil:
– Kartu 1: “Jika bertemu → ucapkan Assalāmu‘alaikum.”
– Kartu 2: “Jika diberi salam → jawab Wa‘alaikumussalām.”
Kartu dihias dan ditempel di meja atau dinding kelas.
Merefleksi
(Prinsip: Berkesadaran, Menggembirakan)
• Refleksi Harian: Peserta didik menceritakan apakah hari ini mereka memberi salam
kepada guru/teman dan apakah sudah menjawab salam dengan baik.
• Berbagi Kisah Baik: Peserta didik berbagi pengalaman sederhana, misalnya: “Tadi aku
masuk kelas dan memberi salam,” atau “Teman menyapaku dan aku menjawab salam dengan
sopan.”
• Kesadaran Diperkuat: Peserta didik menyimpulkan bahwa membiasakan salam adalah
bentuk akhlak mulia, penyebab tumbuhnya kasih sayang, serta cara menyebarkan kedamaian
kepada sesama.
 PENUTUP
Refleksi: "Subhanallah, sekarang kita tahu bahwa berani jujur itu hebat! Itu
adalah ciri anak yang dicintai Allah."
 Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk menjadikan kejujuran
sebagai kebiasaan baik seumur hidup.
 Penutup: Salam dan doa.
a. Asesmen pada Awal Pembelajaran:
ASESMEN DIAGNOSTIK
Tanya Jawab Lisan: "Apa yang kamu lakukan saat kamu ingin mainan yang sama
dengaln temanmu?", "Pernahkah kamu marah dan mengeluarkan kata-kata yang
tidak baik?" (Mengecek pengetahuan dan pengalaman awal).
b. ASESMEN FORMATIF
 Observasi: Mengamati praktik peserta didik saat simulasi role-playing (apakah
berbagi, apakah menggunakan kata santun).
 Penilaian Kinerja: Menilai keaktifan peserta didik saat membuat "Bank Kata
Santun" dan "Ikrar Jujur".
 Penilaian Lisan: Menanyakan di sela-sela kegiatan: "Apa bahaya dari
berbohong?", "Ganti kata ini menjadi kata yang santun!"
c. ASESMEN SUMATIF
 Tes Praktik/Demonstrasi: Meminta setiap peserta didik mendemonstrasikan
secara individu atau berpasangan:
- Pertemuan 1: Demonstrasi cara menolak permintaan teman dengan santun
(menghindari kata kasar).
- Pertemuan 2: Demonstrasi cara mengakui kesalahan kecil (misalnya
menjatuhkan pensil teman) dengan jujur.
- Pertemuan 3: Demonstrasi sikap berbagi.
 Penugasan: Memberi tugas 'Misi Akhlak di Rumah' (melaporkan minimal 5
kali praktik berbagi, berkata santun, dan jujur selama seminggu, ditandatangani
oleh orang tua).

Asesmen pada Akhir  ASESMEN SUMATIF


Pembelajaran:  Tes Praktik/Demonstrasi: Meminta setiap
peserta didik mendemonstrasikan secara individu
atau berpasangan:
 Pertemuan 1: Demonstrasi cara menolak
permintaan teman dengan santun (menghindari
kata kasar).
 Pertemuan 2: Demonstrasi cara mengakui
kesalahan kecil (misalnya menjatuhkan pensil
teman) dengan jujur.
 Pertemuan 3: Demonstrasi sikap berbagi.
 Penugasan: Memberi tugas 'Misi Akhlak di
Rumah' (melaporkan minimal 5 kali praktik
berbagi, berkata santun, dan jujur selama
seminggu, ditandatangani oleh orang tua).

PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM

Penyusun : Nada Yulfani Wulandari, S,Pd


Instansi : MI Al Hidayah Mulyadadi
Tahun Penyusunan : 2025/2026
Jenjang Madrasah : MI
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Fase / Kelas : A/2
Semester/Bab : 1/6
Alokasi Waktu : 6 JP (3 kali pertemuan)

Identifikasi IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK

Deskripsi
Kategori
Peserta didik mungkin sudah pernah mendengar sepenggal kisah Nabi Nuh
1. Pengetahuan dan bahtera, namun belum memahami nilai-nilai inti seperti kesabaran
Awal dalam berdakwah dan pentingnya menaati perintah Allah (perintah
membuat perahu).
Peserta didik memiliki minat tinggi terhadap cerita petualangan (bahtera
2. Minat besar dan banjir), visualisasi (gambar kapal dan hewan), serta kegiatan
menggambar dan mewarnai.
Peserta didik memiliki latar belakang pemahaman agama yang beragam,
3. Latar
sehingga kisah ini menjadi dasar untuk menanamkan keyakinan (akidah)
Belakang
tentang kebenaran para Nabi dan rasul.
 Visual: Gambar-gambar ilustrasi Nabi Nuh, bahtera, dan hewan-hewan
4. Kebutuhan berpasangan.
Belajar
 Auditori: Mendengarkan kisah Nabi Nuh yang diceritakan secara
heroik dan penuh haru.

 Kinestetik: Membuat model sederhana perahu (origami ).

● Materi Pelajaran
Jenis Pengetahuan Yang Akan Dicapai

Deskripsi
Komponen
1. Jenis Pengetahuan Konseptual: Memahami bahwa Allah mengutus Nabi untuk
membimbing manusia, dan mukjizat (Bahtera Nuh) adalah bukti
kekuasaan Allah.
Prosedural: Mampu menunjukkan sikap sabar ketika diejek/tidak
disukai dan mampu bersikap taat pada perintah orang tua/guru
sebagai latihan taat kepada Allah.

2. Relevansi Kehidupan Relevan dengan pentingnya mendengarkan nasihat orang yang


lebih tua (guru/orang tua) dan bersabar ketika keinginan tidak
dipenuhi atau saat diejek teman.
3. Tingkat Kesulitan
Rendah. Alur cerita petualangan (bahtera) mudah ditangkap oleh
anak-anak.

4. Struktur Materi Kisah disusun mulai dari awal dakwah Nabi Nuh, ejekan
kaumnya, perintah membuat bahtera, mukjizat banjir, hingga
pelajaran yang dapat diambil.
5. Integrasi Nilai
Ketaatan, Kesabaran, Keteguhan Iman, Kepedulian, dan Kasih
Sayang terhadap seluruh makhluk hidup.

DIMENSI PROFIL LULUSAN

Penerapan dalam Materi


Dimensi
1. Keimanan dan Peserta didik meneladani kesabaran dan ketaatan Nabi Nuh kepada
Ketakwaan perintah Allah SWT.
Belajar untuk tidak mencemooh atau mengejek pekerjaan orang
2. Kewargaan
lain (seperti kaum Nuh mengejek Nabi Nuh).
Mampu memahami bahwa menaati Allah adalah pilihan terbaik,
3. Bernalar Kritis meskipun secara logika (saat itu) membuat perahu di daratan
terlihat aneh.
Mampu membuat model sederhana Bahtera Nuh atau menggambar
4. Kreativitas
adegan penting dalam kisah tersebut.
Mampu mengerjakan tugas (seperti Nabi Nuh membuat bahtera)
5. Kemandirian
dengan sabar dan tekun tanpa terpengaruh ejekan.
Mampu menceritakan kembali kisah Nabi Nuh dengan urutan yang
6. Komunikasi
benar dan mengambil hikmahnya.
Panca Cinta :
● Topik Panca Cinta: Cinta Kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
● Materi Insersi: Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagai inti dan muara
kehidupan.
Desain Capaian Pembelajaran :
Pembelajara Pada Fase A, Elemen Kisah Teladan, peserta didik mampu menceritakan kembali kisah
n Nabi Nuh a.s. dan meneladani sifat ketaatan, kesabaran, dan kepedulian beliau sebagai
perwujudan akhlak mulia dan bukti Cinta kepada Allah serta sesama makhluk.

Lintas Disiplin Ilmu


1. Al-Qur’an Hadis: Mengenal Surah Nuh.

2. Bahasa Indonesia: Mengenal dengan singkat tentang banjir, air, dan pentingnya
hewan berpasangan (pelestarian alam) melalui cerita.
3. Seni Budaya: Menggambar sketsa bahtera dan hewan.

Tujuan Pembelajaran :

1. Pertemuan 1 (Ketaatan): Peserta didik dapat menceritakan peran Nabi Nuh


dalam berdakwah dan meneladani ketaatan beliau pada perintah Allah
(membuat perahu) sebagai wujud Cinta Kepada Allah Swt. (2 JP)

2. Pertemuan 2 (Kesabaran): Peserta didik dapat menjelaskan tantangan yang


dihadapi Nabi Nuh (ejekan dan penolakan) dan meneladani kesabaran beliau selama
950 tahun sebagai wujud Keteguhan Iman (2 JP).
3. Pertemuan 3 (Kepedulian): Peserta didik dapat menceritakan peristiwa banjir
bandang dan meneladani kepedulian Nabi Nuh terhadap makhluk hidup
(mengangkut hewan) sebagai wujud Cinta Kepada Sesama Makhluk (2 JP).
Materi Terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta

(Kisah Teladan (Nabi Nuh a.s.)

Praktik Pedagogis 1. Praktik Pedagogik


 Model Pembelajaran: Inquiry Based Learning,
Storytelling, Project Based Learning
(Sederhana).
 Pendekatan: Deep Learning (Mindful,
Meaningful, Joyful Learning):
- Mindful Learning: Mengajak peserta
didik merenungkan bahwa pertolongan
Allah datang bagi orang yang sabar dan
taat.
- Meaningful Learning: Menghubungkan
ketaatan kecil (di madrasah) dengan
ketaatan besar (Nabi Nuh).
- Joyful Learning: Belajar melalui cerita
heroik, gambar, dan kerajinan tangan.
 Metode Pembelajaran: Ceramah, Storytelling
(bercerita), tanya jawab, dan membuat
kerajinan.
 Strategi Berdiferensiasi:
- Diferensiasi Konten: Menyediakan cerita
melalui buku bergambar (visual), audio
cerita Nabi (auditori), dan timeline kisah
(kinestetik).
- Diferensiasi Proses: Peserta didik dapat
menunjukkan pemahaman melalui lisan
(menceritakan kembali), praktik (membuat
model perahu), atau gambar urutan kisah.

Kemitraan Pembelajaran  Lingkungan Madrasah: Guru-guru lain


memberikan contoh sikap sabar dan taat.
 Lingkungan Luar Madrasah: Orang tua
menceritakan kembali kisah Nabi Nuh
dengan fokus pada nilai sabar dan ketaatan
saat di rumah.
 Mitra Digital: Menayangkan video singkat
ilustrasi banjir bandang dan bahtera Nabi
Nuh.

Lingkungan Pembelajaran 1. Ruang Fisik: Menempelkan timeline


bergambar kisah Nabi Nuh.

2. Budaya Belajar: Membangun budaya saling


mendukung dan menghargai usaha keras (anti-
mengejek).

Pemanfaatan Digital Menampilkan video animasi pendek yang


menggambarkan ketekunan Nabi Nuh membuat
bahtera.

Pengalaman Langkah-Langkah Pembelajaran


Belajar AWAL
1. Topik Panca Cinta: Cinta Allah SWT (Ketaatan)
2. Pembahasan: Nabi Nuh dan Perintah Membuat Bahtera
3. Skema Pembelajaran

 Salam dan Doa: Pembukaan dengan semangat.


 Apersepsi: "Anak-anak, siapa yang paling kalian cintai? Kalau kita cinta Allah,
kita harus bagaimana?" Guru menghubungkan cinta dengan ketaatan.
PERTEMUAN 1 (2 JP : 70 MENIT)
4. Topik Panca Cinta: Cinta Allah SWT (Ketaatan)
5. Pembahasan: Nabi Nuh dan Perintah Membuat Bahtera
6. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Pembukaan dengan semangat.
 Apersepsi: "Anak-anak, siapa yang paling kalian cintai? Kalau kita cinta Allah,
kita harus bagaimana?" Guru menghubungkan cinta dengan ketaatan.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Meaningful): Guru bercerita tentang Nabi Nuh, dakwahnya, dan
perintah Allah untuk membuat perahu di daratan (sebuah perintah yang sulit
dipahami saat itu).
 Menanya: "Mengapa Nabi Nuh mau membuat perahu di tempat yang tidak ada
airnya? Apa itu namanya ketaatan?"
 Mengeksplorasi (Joyful): Guru membagikan kertas origami/karton. Aktivitas
"Perahu Ketaatan": Peserta didik membuat model sederhana perahu.
 Mengasosiasi (Mindful): Guru menekankan bahwa ketaatan Nabi Nuh adalah
bukti cinta beliau kepada Allah, meskipun dicemooh. Kita harus meneladaninya
dengan taat kepada guru dan orang tua.
 Diferensiasi:
Proses: Anak Kinestetik fokus pada membuat perahu. Anak Auditori fokus pada
mendengarkan detail cerita ketaatan Nabi.
Produk: Peserta didik menulis/menggambar janji untuk taat pada satu perintah
hari ini.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: "Alhamdulillah, sekarang kita tahu cara menjadi pemberani yang sabar."
 Tindak Lanjut: Melatih penggunaan kata-kata positif saat merasa kesal di rumah.
 Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 2 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Akhlak Mulia (Kesabaran)
2. Pembahasan: Menghadapi Ejekan Kaum yang Ingkar
3. Skema Pembeajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Guru menyapa dengan semangat.
 Review: Mengingatkan kembali ketaatan Nabi Nuh.
 Apersepsi: "Apa yang kamu rasakan kalau diejek saat menggambar? Nabi Nuh
diejek saat membuat perahu, lho! Apa yang beliau lakukan?"
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Meaningful): Guru menceritakan detail ejekan yang diterima Nabi
Nuh saat membangun bahtera dan bagaimana beliau menjawabnya dengan sabar
dan keyakinan.
 Menanya: "Mengapa Nabi Nuh tidak marah? Apa itu Sabar? Apakah sabar itu
diam saja?"
 Mengeksplorasi (Joyful): Peserta didik secara berpasangan melakukan simulasi:
satu anak mengejek (pelan), anak lain menahan diri (mengambil napas) dan
menjawab dengan sabar (meneladani Nabi Nuh).
 Mengasosiasi (Mindful): Guru menjelaskan bahwa kesabaran Nabi Nuh selama
950 tahun adalah bukti cinta yang luar biasa. Allah sangat mencintai orang yang
sabar.
 Diferensiasi:
 Proses: Anak Auditori fokus pada mendengarkan dialog ejekan dan jawaban sabar
Nabi Nuh. Anak Visual membuat poster mini "Wajah Sabar".
 Produk: Peserta didik mempresentasikan cara yang santun untuk merespons ejekan.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: Sekarang kita jadi tau bahwaa kita tidak boleh saling mengejek kita harus
saling mengingatkan ke hal-hal yang baik."
 Tindak Lanjut: Melatih penggunaan kata-kata positif saat merasa kesal di rumah.
 Penutup: Salam dan doa.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 70 MENIT)
1. Topik Panca Cinta: Cinta Sesama Makhluk (Kepedulian)
2. Pembahasan: Banjir Bandang dan Penyelamatan
3. Skema Pembelajaran
KEGIATAN PENDAHULUAN (10 MENIT)
 Salam dan Doa: Diawali dengan salam hangat.
 Review: Meninjau ulang kesabaran Nabi Nuh.
 Apersepsi: "Siapa yang sayang sama kucing? Siapa yang sayang sama
burung? Kenapa Nabi Nuh membawa semua hewan ke dalam perahu?
Padahal beliau sedang sibuk menyelamatkan diri sendiri.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Mengamati (Mindful): Guru menceritakan bagian puncak kisah: turunnya
banjir bandang, Nabi Nuh membawa hewan berpasangan, dan kesedihan
Nabi Nuh melihat anaknya sendiri tidak mau taat. Menanya: "Mengapa
Nabi Nuh peduli pada hewan-hewan itu? Apa pelajaran tentang kasih
sayang yang kita dapatkan dari kisah ini?"
 Mengeksplorasi (Joyful): Aktivitas "Pasangan Hewan": Guru menyediakan
gambar hewan. Peserta didik mencocokkan hewan berpasangan dan
menempelkannya di 'Bahtera Kelas'.
 Mengasosiasi (Meaningful): Guru menyimpulkan bahwa kasih sayang dan
kepedulian Nabi Nuh mencakup semua makhluk hidup (bahkan hewan).
Cinta kepada Allah membuat kita peduli pada ciptaan-Nya.
 Diferensiasi:
- Proses: Peserta didik berpasangan, mencoba menceritakan kembali
urutan kejadian banjir bandang.
- Produk: Membuat komik strip 3 kotak sederhana tentang urutan seperti
Perintah Allah, Banjir, dan Hewan terselamatkan.
KEGIATAN PENUTUP (10 MENIT)
 Refleksi: "Subhanallah, sekarang kita tahu bahwa cinta Allah mengajarkan kita
untuk peduli pada semua yang diciptakan-Nya."
 Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk selalu menyayangi hewan
peliharaan atau tumbuhan di rumah.
 Penutup: Salam dan doa

Memahami
(Prinsip: Berkesadaran, Bermakna)
• Kesadaran Linguistik & Spiritual: Peserta didik memahami bahwa ketika bersin dianjurkan
mengucapkan “Alhamdulillāh” sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah memberi
kesehatan, dan ketika mendengar orang lain bersin, kita mengucapkan “Yarhamukallāh”
sebagai doa kebaikan.
• Makna Adab Saat Menguap: Peserta didik memahami bahwa menguap berasal dari rasa
lelah sehingga disunnahkan menutup mulut dan tidak mengeluarkan suara, sebagai wujud
menjaga sopan santun dan mengendalikan diri.
• Pemaknaan Emosional: Peserta didik memahami bahwa adab bersin dan menguap
membuat interaksi lebih nyaman, menjaga kebersihan, dan menunjukkan akhlak baik
kepada orang lain.
• Aplikasi Fungsional: Peserta didik memahami kapan mengucapkan Alhamdulillāh (setelah
bersin), kapan mengucapkan Yarhamukallāh (kepada orang yang bersin), serta bagaimana
menutup mulut ketika menguap.
Mengaplikasi
(Prinsip: Bermakna, Menggembirakan)
• Latihan Pelafalan Bermakna: Peserta didik berlatih mengucapkan
“Alhamdulillāh” setelah bersin (simulasi), serta “Yarhamukallāh” ketika mendengar
teman bersin, dengan irama lembut dan sopan.
• Permainan Situasi:
– Guru mengatakan: “Ada anak bersin…” Lalu peserta didik menjawab bersama:
“Yarhamukallāh.”
– Guru menunjukkan gambar anak menguap. Peserta didik menunjukkan cara
menutup mulut dengan tangan atau lengan.
• Proyek Mini “Kartu Adab Baik”: Peserta didik membuat dua kartu kecil:
– Kartu 1: “Jika bersin → ucapkan Alhamdulillāh.”
– Kartu 2: “Jika menguap → tutup mulut dan jangan bersuara.”
Kartu dihias dan bisa ditempel di meja belajar.
Merefleksi
(Prinsip: Berkesadaran, Menggembirakan)
• Refleksi Harian: Peserta didik menceritakan apakah hari ini mereka bersin dan apakah
sudah mengucapkan Alhamdulillāh, atau apakah mereka menguap dan sudah menutup
mulut.
• Berbagi Kisah Baik: Peserta didik berbagi pengalaman sederhana, misalnya: “Tadi pagi
aku bersin dan langsung bilang Alhamdulillāh,” atau “Waktu mengantuk aku tutup mulut
supaya sopan.”
• Kesadaran Diperkuat: Peserta didik menyimpulkan bahwa menjaga adab bersin dan
menguap adalah tanda akhlak baik, rasa syukur kepada Allah, dan bentuk peduli kepada
kenyamanan orang lain.
 PENUTUP
Refleksi: "Subhanallah, sekarang kita tahu bahwa adab kecil pun bisa
menjadi ladang pahala dan bukti cinta kita kepada Allah dan sesama."
 Tindak Lanjut: Mendorong peserta didik untuk menjadikan adab ini
sebagai kebiasaan baik seumur hidup.
 Penutup: Salam dan doa
Asesmen pada Awal A. Asesmen Pembelajaran
Pembelajaran: ASESMEN DIAGNOSTIK

Asesmen pada Proses  Tanya Jawab Lisan: "Siapa nama Nabi yang membuat
Pembelajaran: perahu besar?", "Kenapa beliau membuat perahu itu?".
ASESMEN FORMATIF (Proses Pembelajaran)
Asesmen pada Akhir
 Observasi: Mengamati ketekunan peserta didik saat
Pembelajaran:
membuat 'Perahu Ketaatan' dan sikap mereka saat
simulasi 'Tameng Sabar'.
 Penilaian Kinerja: Menilai keaktifan dan partisipasi
peserta didik dalam diskusi dan aktivitas kelompok.
Asesmen
 Penilaian Lisan: Menanyakan di sela-sela kegiatan:
Pembelajara
"Tunjukkan sikap sabarmu!", "Apa perintah Allah
n
kepada Nabi Nuh?".
ASESMEN SUMATIF (Akhir Pembelajaran)
 Tes Praktik/Lisan: Meminta setiap peserta didik:
- Menceritakan kembali satu nilai teladan utama dari Nabi
Nuh (misalnya sabar atau taat).
- Mendemonstrasikan sikap taat kepada guru/orang tua.
 Penugasan: Memberi tugas untuk melaporkan minimal 3 kali
praktik meneladani kesabaran atau ketaatan Nabi Nuh di
rumah selama seminggu, ditandatangani oleh orang tua.
-

Anda mungkin juga menyukai