BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengetahuan
1. Definisi pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau
diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. Perkembangan
teori pengetahuan telah berkembang sejak lama. Filsuf pengetahuan
yaitu Plato menyatakan pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang
dibenarkan (valid)” (justified true belief). Menurut Notoatmojo
(2020), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2020), pengetahuan adalah sesuatu
yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar
ini dipengaruhi berbagai factor dari dalam, seperti motivasi dan factor
luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan social
budaya. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui
atau disadari oleh seseorang (Budiman, 2021).
2. Jenis pengetahuan
1) Pengetahuan Implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih
tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-
faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,
perspektif, dan prinsip.
8
9
2) Pengetahuan Eksplisit
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah
didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam
wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan
dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan
(Budiman, 2021).
3. Tahapan pengetahuan
Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom (2020) ada 6
tahapan, yaitu sebagai berikut.
a. Tahu (know)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat
peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,
metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi tersebut secara benar.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi
10
masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya
satu sama lain.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek (Budiman, 2021).
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang,
yaitu:
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses
belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang
tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi
seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik
dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak
informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang
didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya
11
dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan
pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya.
b. Massa media/informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal
maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek
(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau
peningkatan kemajuan. Majunya teknologi akan tersedia
bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi
pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana
komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,
surat kabar, majalah dan lain-lain. Dalam penyampaian
informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula
pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini
seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya
pengetahuan terhadap hal tersebut.
c. Social budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa
melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.
Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya
walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan
menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk
12
kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan
tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik
ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh
setiap individu.
e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam
memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman
belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman
belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan
mengambil keputusan yang merupakan manifestasi satu
keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari
masalah nyata dalam bidang kerjanya.
13
f. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan
lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan social
serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya
menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya
akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.
5. Pengukuran tingkat pengetahuan
Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai
materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan
seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban
yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan. Pengukuran bobot
pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:
a. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman
b. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi dan analisis
c. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
dan evaluasi.
Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau
responden.
14
Arikunto (2021) membuat kategori tingkat pengetahuan
seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai
presentase yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥75%
b. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%.
c. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya ≤55%
B. Remaja
1. Pengertian
Remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi
ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa
bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua
melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar (Ali & Ashrori,
2021). Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa
kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12
atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal
dua puluh tahun (Papalia, Olds & Feldman, 2020).
2. Tahapan masa remaja
Menurut Soetjiningsih (2020) tahapan masa remaja adalah :
a. Masa remaja awal : 11-13 tahun
Remaja pada fase ini masih terkesima dengan perubahan
tubuh dan dorongan yang menyertai perubahan tersebut. Remaja
akan mengembangkan pemikiran baru, cepat tertarik pada lawan
jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Remaja menjadi
15
individu yang sulit dipahami oleh orang dewasa karena
kepekaan yang berlebihan dan egosis (Sarwono, 2020).
b. Masa remaja pertengahan : 14-16 tahun
Remaja usia 14-16 tahun sangat membutuhkan teman dan
merasa senang jika banyak teman yanng menyukai dirinya.
Remaja cenderung akan berteman dengan teman yang
mempunyai sifat yang dengan dirinya. Selain itu remaja merasa
bingung jika dihadapkan dengan pilihan antara solidaritas atau
tidak, berkumpul atau sendirian, optimis atau pesimis, idealis
atau materialistis dan lain-lain. Remaja akan mencari jati diri,
keinginan berkencan, dan mengembangkan kemampuan berpikir
abstrak (Monks, Knoers & Haditono, 2022).
c. Masa remaja akhir : 17-21 tahun
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa
dan ditandai dengan pencapaian lima hal, yaitu minat yang
makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek; egonya mencari
kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam
pengalaman-pengalaman baru; terbentuk identitas seksual yang
tidak akan berubah lagi; egosentrisme (terlalu memusatkan
perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara
kepentingan diri sendiri dengan orang lain; dan tumbuh
“dinding” yang memisahkan diri pribadinya dan masyarakat
umum (Sarwono, 2020).
16
Remaja pada Fase remaja akhir merupakan fase
pemantapan menuju kedewasaan yang ditandai dengan
tercapainya lima hal, yaitu tumbuhnya minat terhadap fungsi
intelek; remaja akan mementingkan egonya untuk berkumpul
dengan teman-temannya demi pengalaman baru; membentuk
identitas seksual yang tidak lagi berubah; remaja cenderung
akan mengganti sifat egosentris menjadi lebih seimbang antara
kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain; dan
munculnya penyekat antara remaja dengan masyarakat umum
(Sarwono, 2020).
Saputro (2021) menjelaskan bahwa kehidupan remaja
memiliki ciri-ciri yang membedakan kehidupan remaja dengan
masa-masa sebelum dan sesudahnya yaitu:
1) Remaja mulai menyampaikan kebebasannya dan haknya
untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak
terhindarkan, ini dapat menciptakan ketegangan dan
perselisihan, dan bias menjauhkan remaja dari
keluarganya.
2) Remaja lebih mudah dipengaruhi oleh teman-temannya
daripada ketika mereka masih kanak-kanak. Ini berarti
bahwa pengaruh orangtua semakin lemah. Anak remaja
berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda
bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan
17
keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah dalam hal
mode pakaian, potongan rambut, kesenangan musik yang
kesemuanya harus mutakhir.
3) Remaja mengalami perubahan fisik yang signifikan, baik
pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksual
yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan
menjadi sumber perasaan salah dan frustrasi.
4) Meningkatnya percaya diri (over confidence) pada remaja
yang diikuti dengan meningkatnya emosi dan
mengakibatkan remaja sulit diberikan nasihat dari oang
tua.
3. Perkembangan remaja
Sarwono (2020) menjelaskan bahwa perkembangan remaja meliputi:
a. Perubahan fisik
Perubahan fisik merupakan gejala primer dalam
pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan-perubahan
psikologis muncul antara lain karena perubahan-perubahan fisik.
Di antara perubahan-perubahan fisik itu, yang pengaruhnya
paling besar pada perkembangan jiwa remaja adalah
pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan
tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan
haid pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki) dan
tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh.
18
b. Perkembangan kognitif
Pada tahap ini individu bergerak melebihi dunia yang
aktual dan konkrit, dan berpikir lebih abstrak dan logis.
Kemampuan untuk berpikir lebih abstrak menjadikan remaja
mengembangkan citra tentang hal-hal yang ideal. Dalam
memecahkan masalah, pemikiran operasional formal lebih
sistematis, mengembangkan hipotesis mengapa sesuatu terjadi
seperti itu, kemudian menguji hipotesis secara deduktif.
c. Perkembangan psikososial
Pada tahap ini individu mengeksplorasi siapa mereka, apa
keadaan mereka dan ke mana mereka pergi menuju
kehidupannya. Ini adalah tahap perkembangan identitas versus
kebingungan identitas. Jika remaja mengeksplorasi peran
dengan cara yang sehat dan sampai pada jalur positif dalam
kehidupan, mereka mendapat identitas positif. Jika identitas
remaja dipaksakan oleh orang tua, remaja kurang
mengeksplorasi peranperan yang berbeda dan jalan positif ke
masa depan tidak ditemukan, kebingungan identitas akan terjadi.
4. Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan (development tasks) adalah tugas-tugas
atau kewajiban yang harus dilalui oleh setiap individu pada setiap
tahapan usia, sesuai dengan kebutuhan pribadi yang timbul dari dalam
dirinya dan tuntutan yang datang dari masyarakat di sekitarnya.
19
Tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst (1972
yang dikutip oleh Sarwono, 2020) adalah sebagai berikut :
a. Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara
efektif.
b. Menerima hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya
baik laki-laki maupun perempuan.
c. Menerima peran jenis kelamin masing-masing (laki-laki atau
perempuan).
d. Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap
orang tua dan orang dewasa lainnya.
e. Mempersiapkan karier ekonomi.
f. Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
g. Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab.
h. Mencapai sistem nilai dan etika tertentu sebagai pedoman
tingkah lakunya.
5. Faktor yang memengaruhi perkembangan remaja
Sabariah (2021) menjelaskan bahwa terdapat dua faktor yang
memengaruhi perkembangan remaja yaitu:
a. Faktor endogen merupakan faktor yang ada dalam diri sendiri
baik secara fisik maupun psikis yang berasal dari gen
(keturunan) orang tuanya.
b. Faktor eksogen merupakan faktor yang berasal dari luar dirinya,
meliputi faktor lingkungan, baik fisik maupun sosial.
20
C. Perilaku Seks Bebas
1. Definisi Perilaku Seks Bebas
Secara umum, semua perilaku, segala jenis perilaku yang
didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenis bersumber dari
psikiatri dan kesehatan mental, dan berkisar dari munculnya rasa suka
hingga tindakan berkencan, berciuman, dan melakukan freeseks,
diistilahkan dengan perilaku seksual. didefinisikan sebagai berbagai
jenis perilaku seksual dengan berganti orang (Ismail, 2021).
Akibat dari Perilaku seks bebas yang menjadi sumber masalah
dari kesehatan alat reproduksi pada remaja. Sangat diperlukan edukasi
mengenai seks terutama untuk generasi penerus agar terhindar dari
masalah yang berkaitan dengan pernikahan dini (Mesra dan Fujiah,
2021).
Marak terjadi kebebasan dalam lingkungan yang sangat banyak
melakukan seks, sangat penting memiliki pengetahuan yang lebih
bukan hanya dalam pembahasan yang jorok bahkan tabu tetapi ketika
mampu mengetahui pelajaran tentang seks maka mampu membedakan
dan tidak terjerumus sehingga bisa bergerak tanpa pengawasan dan
bimbingan (Shofiyah, 2020).
2. Faktor Pendorong penyebab terjadinya perilaku seks
21
Perilaku yang dapat mempengaruhi dari seks bebas, berikut
faktor pendorong menurut (Ansar, 2021) :
a. Umur
Umur reproduksi yang sehat adalah antara umur 20-30
tahun, ibu dikatakan berisiko tinggi apabila hamil pada umur <
20 tahun atau > 35 tahun (Ryadi, 2022). Kehamilan yang terjadi
pada usia remaja (<20 tahun) dapat mengakibatkan beberapa
komplikasi seperti kelahiran tidak cukup bulan (prematur),
kurang sempurnanya pertumbuhan janin, tindakan operasi saat
persalinan sangat sering terjadi, terlambatnya proses pemulihan
alat reproduksi setelah persalinan, penyakit infeksi setelah
persalinan sering terjadi, dan air susu ibu (ASI) yang dihasilkan
tidak cukup (Manuaba et al., 2020), hal ini disebabkan karena
alat reproduksi belum matang untuk hamil. Umur >35 tahun
masuk dalam umur kehamilan yang berisiko tinggi karena pada
umur ini akan mungkin menghadapi tantangan seperti kelebihan
berat badan, adanya penyakit degeneratif seperti diabetes dan
hipertensi yang dapat mempengaruhi persalinan dan anak yang
dilahirkan (Kenny et al., 2020).
Marak terjadi kebebasan dalam lingkungan yang sangat
banyak melakukan seks, sangat penting memiliki pengetahuan
yang lebih bukan hanya dalam pembahasan yang jorok bahkan
tabu tetapi ketika mampu mengetahui pelajaran tentang seks
22
maka mampu membedakan dan tidak terjerumus sehingga bisa
bergerak tanpa pengawasan dan bimbingan (Shofiyah, 2020).
Umur adalah lamanya usia ibu yang terhitung mulai saat
dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam
berpikir dan bekerja. Hal ini sebagian dari pengalaman dan
kematangan jiwa. Masa reproduksi wanita dibagi menjadi 2
periode:
1) Reproduksi (20-35 tahun)
2) Tidak reproduksi (< 20 dan > 35 tahun)
b. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil pengidraan manusia, atau hasil
tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya
(mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengindraan
menghasilkan pengetahuan yang dipengaruhi oleh intensitas
perhatian dan presepsi terhadap objek. Sebagian besar
pengetahuan seseorang diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2020).
Berdasarkan pemaparan (Wawan dan Dewi, 2020),
pengetahuan yang didapatkan dengan sendirinya disebabkan
akan faktor pendidikan. Pengetahuan memiliki hubungan yang
erat terhadap pendidikan, dimana seseorang mempunyai
pendidikan tinggi jadi seseorang semakin luas pengetahuannya.
23
Namun tidak berarti seseorang memiliki pendidikan rendah maka
pengetahuan yang dimiliki rendah juga. Pengetahuan seseorang
meningkat tidak hanya diperoleh dari pendidikan non-formal,
seseorang tersebut bisa mendapatkannya melalui non-formal.
Pengetahuan seseorang mengenai sebuah hal memiliki makna
sebagai aspek positif serta negatif. Kedua aspek memberi
pengaruh terhadap perilaku seseorang. Banyaknya aspek positif
serta objek yang dimiliki, semakin positif sikap yang dimiliki
pada objek tersebut.
Sedari kita lahir hingga tumbuh dewasa telah diberikan
ilmu pengetahuan agar kita mampu memahami dan mengerti
semua yang dihadapkan kepada kita. informasi kesehatan
reproduksi berpengaruh dengan perilaku seksual pada remaja.
Seiring meningkatnya pengetahuan tentang pendidikan seks,
remaja khususnya banyak yang enggan untuk terlibat dalam
praktik seksual yang berisiko.
c. Sikap
Sikap ialah tanggapan manusia ketika mereka memperoleh
sesuatu dalam kejadian atau pengalaman yang sedang dialami.
Menurut Notoatmodjo (2020), sikap adalah reaksi atau
respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu
stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan
untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif
24
tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas,
tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Dalam arti
lain, sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan
reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka.
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat
negatif, antara lain:
1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati,
menyenangi, mengharapkan objek tertentu.
2) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi,
menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu.
3. Dampak Seks Bebas
(Putri, 2021) dampak perilaku seks bebas akibat perilaku seksual
antara lain:
a. Hamil diluar nikah
b. Penyakit yang ditimbulkan akibat perilaku seksual
Penyakit menular yang dialami oleh pria yaitu ada benjolan
yang isinya cairan, luka pada alat kelamin, luka tetapi tidak
merasakan sakit, ruam kemerahan, kutil serta gatal pada alat
kelamin. Penyakit menular yang dialami oleh Wanita yaitu ketika
buang air besar terasa nyeri di perut dan ketika berhubungan,
adanya lender dari vagina, terasa gatal dan keluar cairan.
4. Pencegahan Perilaku Seks Bebas
25
Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai & tradisi leluhur.
Meski tidak sekaku dulu, nilai dan norma tetap ditegakkan oleh
masyarakat Indonesia, membuat aturan tentang mana yang seharusnya
dilakukan dan tidak dilakukan. Bisa dikenal sebagai ideal (Masra dan
Fouzia, 2021) mengatakan ada beberapa cara pencegahan agar
terhindar dari perilaku seks:
a. Peran orang tua
Orang tua sangat berperan buat anak sebagai tempat untuk
bercerita dan saling bertukar pikiran untuk menanyakan perihal
Seks Edukasi. Orang tua juga harus berpikiran terbuka mengenai
hubungan diluar nikah.
b. Peran tokoh masyarakat
Perilaku seksual mampu diatasi dengan melibatkan tokoh
masyarakat di daerah tersebut. Sebagai tokoh masyarakat,
mereka yang memberikan wadah untuk membuka isu tentang
seks pranikah dikalangan anak muda.
c. Peran pemuka agama
Selain melibatkan tokoh masyarakat tentu pemuka agama
mampu berperan lebih unttuk mengajarkan kepada kaum
millennials muda untuk memotivasi dan mengembangkan sikap
yang bijaksan terutama perihal seksual.
26
d. Peran tenaga kesehatan
Petuga Kesehatan mempunyai peran yang sangat penting
dengan memberikan informasi untuk memberi perawatan yang
terbaik untuk alat reproduksi mereka dan menjelaskan apa
bahaya dari seks pranikah serta adanya penyakit akibat dari
perilaku seksual antara lain penyakit menular seksual, HIV dsb.
27
D. Kerangka Teori
Perilaku sekx bebas
Pengetahuan Faktor Pendorong penyebab terjadinya
perilaku seks:
Keterangan : 1. Sikap
Diteliti
Tidak diteliti
Kerangka teori sumber : Ansar (2021), Ryadi (2022), Manuaba et al.,
(2020), Kenny et al., (2020), Shofiyah (2020),
Notoatmodjo (2020), Wawan dan Dewi (2020),
Riyanto (2021).
28
E. Kerangka Konsep
- Pengetahuan remaja
- Umur Perilaku Seks
- Jenis kelamin Bebas
Gambar 2.2 : Kerangka Konsep