0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan21 halaman

Teori dan Faktor Pengetahuan Remaja

Dokumen ini membahas tentang pengetahuan, remaja, dan perilaku seks bebas. Pengetahuan didefinisikan sebagai hasil dari pengalaman dan pengindraan, dengan jenis pengetahuan implisit dan eksplisit serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Masa remaja dijelaskan sebagai fase transisi dengan ciri-ciri perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial yang mempengaruhi perilaku individu.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan21 halaman

Teori dan Faktor Pengetahuan Remaja

Dokumen ini membahas tentang pengetahuan, remaja, dan perilaku seks bebas. Pengetahuan didefinisikan sebagai hasil dari pengalaman dan pengindraan, dengan jenis pengetahuan implisit dan eksplisit serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Masa remaja dijelaskan sebagai fase transisi dengan ciri-ciri perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial yang mempengaruhi perilaku individu.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengetahuan

1. Definisi pengetahuan

Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau

diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. Perkembangan

teori pengetahuan telah berkembang sejak lama. Filsuf pengetahuan

yaitu Plato menyatakan pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang

dibenarkan (valid)” (justified true belief). Menurut Notoatmojo

(2020), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2020), pengetahuan adalah sesuatu

yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar

ini dipengaruhi berbagai factor dari dalam, seperti motivasi dan factor

luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan social

budaya. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui

atau disadari oleh seseorang (Budiman, 2021).

2. Jenis pengetahuan

1) Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih

tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-

faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,

perspektif, dan prinsip.

8
9

2) Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah

didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam

wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan

dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan

(Budiman, 2021).

3. Tahapan pengetahuan

Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom (2020) ada 6

tahapan, yaitu sebagai berikut.

a. Tahu (know)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat

peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,

metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi tersebut secara benar.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi


10

masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya

satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek (Budiman, 2021).

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang,

yaitu:

a. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan

kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan

berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses

belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang

tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi

seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik

dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak

informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang

didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya


11

dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan

pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula

pengetahuannya.

b. Massa media/informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal

maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek

(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau

peningkatan kemajuan. Majunya teknologi akan tersedia

bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi

pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana

komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,

surat kabar, majalah dan lain-lain. Dalam penyampaian

informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula

pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini

seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal

memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya

pengetahuan terhadap hal tersebut.

c. Social budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa

melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.

Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya

walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan

menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk


12

kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan

mempengaruhi pengetahuan seseorang.

d. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.

Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya

pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan

tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik

ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh

setiap individu.

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu

cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara

mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam

memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman

belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan

pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman

belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan

mengambil keputusan yang merupakan manifestasi satu

keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari

masalah nyata dalam bidang kerjanya.


13

f. Usia

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Semakin bertambah usia semakin berkembang pula

daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan

lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan social

serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya

menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya

akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.

5. Pengukuran tingkat pengetahuan

Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai

materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan

seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban

yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan. Pengukuran bobot

pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:

a. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman

b. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi dan analisis

c. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,

dan evaluasi.

Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau

responden.
14

Arikunto (2021) membuat kategori tingkat pengetahuan

seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai

presentase yaitu sebagai berikut:

a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥75%

b. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%.

c. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya ≤55%

B. Remaja

1. Pengertian

Remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi

ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa

bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua

melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar (Ali & Ashrori,

2021). Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa

kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12

atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal

dua puluh tahun (Papalia, Olds & Feldman, 2020).

2. Tahapan masa remaja

Menurut Soetjiningsih (2020) tahapan masa remaja adalah :

a. Masa remaja awal : 11-13 tahun

Remaja pada fase ini masih terkesima dengan perubahan

tubuh dan dorongan yang menyertai perubahan tersebut. Remaja

akan mengembangkan pemikiran baru, cepat tertarik pada lawan

jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Remaja menjadi


15

individu yang sulit dipahami oleh orang dewasa karena

kepekaan yang berlebihan dan egosis (Sarwono, 2020).

b. Masa remaja pertengahan : 14-16 tahun

Remaja usia 14-16 tahun sangat membutuhkan teman dan

merasa senang jika banyak teman yanng menyukai dirinya.

Remaja cenderung akan berteman dengan teman yang

mempunyai sifat yang dengan dirinya. Selain itu remaja merasa

bingung jika dihadapkan dengan pilihan antara solidaritas atau

tidak, berkumpul atau sendirian, optimis atau pesimis, idealis

atau materialistis dan lain-lain. Remaja akan mencari jati diri,

keinginan berkencan, dan mengembangkan kemampuan berpikir

abstrak (Monks, Knoers & Haditono, 2022).

c. Masa remaja akhir : 17-21 tahun

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa

dan ditandai dengan pencapaian lima hal, yaitu minat yang

makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek; egonya mencari

kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam

pengalaman-pengalaman baru; terbentuk identitas seksual yang

tidak akan berubah lagi; egosentrisme (terlalu memusatkan

perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara

kepentingan diri sendiri dengan orang lain; dan tumbuh

“dinding” yang memisahkan diri pribadinya dan masyarakat

umum (Sarwono, 2020).


16

Remaja pada Fase remaja akhir merupakan fase

pemantapan menuju kedewasaan yang ditandai dengan

tercapainya lima hal, yaitu tumbuhnya minat terhadap fungsi

intelek; remaja akan mementingkan egonya untuk berkumpul

dengan teman-temannya demi pengalaman baru; membentuk

identitas seksual yang tidak lagi berubah; remaja cenderung

akan mengganti sifat egosentris menjadi lebih seimbang antara

kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain; dan

munculnya penyekat antara remaja dengan masyarakat umum

(Sarwono, 2020).

Saputro (2021) menjelaskan bahwa kehidupan remaja

memiliki ciri-ciri yang membedakan kehidupan remaja dengan

masa-masa sebelum dan sesudahnya yaitu:

1) Remaja mulai menyampaikan kebebasannya dan haknya

untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak

terhindarkan, ini dapat menciptakan ketegangan dan

perselisihan, dan bias menjauhkan remaja dari

keluarganya.

2) Remaja lebih mudah dipengaruhi oleh teman-temannya

daripada ketika mereka masih kanak-kanak. Ini berarti

bahwa pengaruh orangtua semakin lemah. Anak remaja

berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda

bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan


17

keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah dalam hal

mode pakaian, potongan rambut, kesenangan musik yang

kesemuanya harus mutakhir.

3) Remaja mengalami perubahan fisik yang signifikan, baik

pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksual

yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan

menjadi sumber perasaan salah dan frustrasi.

4) Meningkatnya percaya diri (over confidence) pada remaja

yang diikuti dengan meningkatnya emosi dan

mengakibatkan remaja sulit diberikan nasihat dari oang

tua.

3. Perkembangan remaja

Sarwono (2020) menjelaskan bahwa perkembangan remaja meliputi:

a. Perubahan fisik

Perubahan fisik merupakan gejala primer dalam

pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan-perubahan

psikologis muncul antara lain karena perubahan-perubahan fisik.

Di antara perubahan-perubahan fisik itu, yang pengaruhnya

paling besar pada perkembangan jiwa remaja adalah

pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan

tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan

haid pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki) dan

tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh.


18

b. Perkembangan kognitif

Pada tahap ini individu bergerak melebihi dunia yang

aktual dan konkrit, dan berpikir lebih abstrak dan logis.

Kemampuan untuk berpikir lebih abstrak menjadikan remaja

mengembangkan citra tentang hal-hal yang ideal. Dalam

memecahkan masalah, pemikiran operasional formal lebih

sistematis, mengembangkan hipotesis mengapa sesuatu terjadi

seperti itu, kemudian menguji hipotesis secara deduktif.

c. Perkembangan psikososial

Pada tahap ini individu mengeksplorasi siapa mereka, apa

keadaan mereka dan ke mana mereka pergi menuju

kehidupannya. Ini adalah tahap perkembangan identitas versus

kebingungan identitas. Jika remaja mengeksplorasi peran

dengan cara yang sehat dan sampai pada jalur positif dalam

kehidupan, mereka mendapat identitas positif. Jika identitas

remaja dipaksakan oleh orang tua, remaja kurang

mengeksplorasi peranperan yang berbeda dan jalan positif ke

masa depan tidak ditemukan, kebingungan identitas akan terjadi.

4. Tugas perkembangan remaja

Tugas perkembangan (development tasks) adalah tugas-tugas

atau kewajiban yang harus dilalui oleh setiap individu pada setiap

tahapan usia, sesuai dengan kebutuhan pribadi yang timbul dari dalam

dirinya dan tuntutan yang datang dari masyarakat di sekitarnya.


19

Tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst (1972

yang dikutip oleh Sarwono, 2020) adalah sebagai berikut :

a. Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara

efektif.

b. Menerima hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya

baik laki-laki maupun perempuan.

c. Menerima peran jenis kelamin masing-masing (laki-laki atau

perempuan).

d. Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap

orang tua dan orang dewasa lainnya.

e. Mempersiapkan karier ekonomi.

f. Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga.

g. Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab.

h. Mencapai sistem nilai dan etika tertentu sebagai pedoman

tingkah lakunya.

5. Faktor yang memengaruhi perkembangan remaja

Sabariah (2021) menjelaskan bahwa terdapat dua faktor yang

memengaruhi perkembangan remaja yaitu:

a. Faktor endogen merupakan faktor yang ada dalam diri sendiri

baik secara fisik maupun psikis yang berasal dari gen

(keturunan) orang tuanya.

b. Faktor eksogen merupakan faktor yang berasal dari luar dirinya,

meliputi faktor lingkungan, baik fisik maupun sosial.


20

C. Perilaku Seks Bebas

1. Definisi Perilaku Seks Bebas

Secara umum, semua perilaku, segala jenis perilaku yang

didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenis bersumber dari

psikiatri dan kesehatan mental, dan berkisar dari munculnya rasa suka

hingga tindakan berkencan, berciuman, dan melakukan freeseks,

diistilahkan dengan perilaku seksual. didefinisikan sebagai berbagai

jenis perilaku seksual dengan berganti orang (Ismail, 2021).

Akibat dari Perilaku seks bebas yang menjadi sumber masalah

dari kesehatan alat reproduksi pada remaja. Sangat diperlukan edukasi

mengenai seks terutama untuk generasi penerus agar terhindar dari

masalah yang berkaitan dengan pernikahan dini (Mesra dan Fujiah,

2021).

Marak terjadi kebebasan dalam lingkungan yang sangat banyak

melakukan seks, sangat penting memiliki pengetahuan yang lebih

bukan hanya dalam pembahasan yang jorok bahkan tabu tetapi ketika

mampu mengetahui pelajaran tentang seks maka mampu membedakan

dan tidak terjerumus sehingga bisa bergerak tanpa pengawasan dan

bimbingan (Shofiyah, 2020).

2. Faktor Pendorong penyebab terjadinya perilaku seks


21

Perilaku yang dapat mempengaruhi dari seks bebas, berikut

faktor pendorong menurut (Ansar, 2021) :

a. Umur

Umur reproduksi yang sehat adalah antara umur 20-30

tahun, ibu dikatakan berisiko tinggi apabila hamil pada umur <

20 tahun atau > 35 tahun (Ryadi, 2022). Kehamilan yang terjadi

pada usia remaja (<20 tahun) dapat mengakibatkan beberapa

komplikasi seperti kelahiran tidak cukup bulan (prematur),

kurang sempurnanya pertumbuhan janin, tindakan operasi saat

persalinan sangat sering terjadi, terlambatnya proses pemulihan

alat reproduksi setelah persalinan, penyakit infeksi setelah

persalinan sering terjadi, dan air susu ibu (ASI) yang dihasilkan

tidak cukup (Manuaba et al., 2020), hal ini disebabkan karena

alat reproduksi belum matang untuk hamil. Umur >35 tahun

masuk dalam umur kehamilan yang berisiko tinggi karena pada

umur ini akan mungkin menghadapi tantangan seperti kelebihan

berat badan, adanya penyakit degeneratif seperti diabetes dan

hipertensi yang dapat mempengaruhi persalinan dan anak yang

dilahirkan (Kenny et al., 2020).

Marak terjadi kebebasan dalam lingkungan yang sangat

banyak melakukan seks, sangat penting memiliki pengetahuan

yang lebih bukan hanya dalam pembahasan yang jorok bahkan

tabu tetapi ketika mampu mengetahui pelajaran tentang seks


22

maka mampu membedakan dan tidak terjerumus sehingga bisa

bergerak tanpa pengawasan dan bimbingan (Shofiyah, 2020).

Umur adalah lamanya usia ibu yang terhitung mulai saat

dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat

kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam

berpikir dan bekerja. Hal ini sebagian dari pengalaman dan

kematangan jiwa. Masa reproduksi wanita dibagi menjadi 2

periode:

1) Reproduksi (20-35 tahun)

2) Tidak reproduksi (< 20 dan > 35 tahun)

b. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil pengidraan manusia, atau hasil

tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya

(mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengindraan

menghasilkan pengetahuan yang dipengaruhi oleh intensitas

perhatian dan presepsi terhadap objek. Sebagian besar

pengetahuan seseorang diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2020).

Berdasarkan pemaparan (Wawan dan Dewi, 2020),

pengetahuan yang didapatkan dengan sendirinya disebabkan

akan faktor pendidikan. Pengetahuan memiliki hubungan yang

erat terhadap pendidikan, dimana seseorang mempunyai

pendidikan tinggi jadi seseorang semakin luas pengetahuannya.


23

Namun tidak berarti seseorang memiliki pendidikan rendah maka

pengetahuan yang dimiliki rendah juga. Pengetahuan seseorang

meningkat tidak hanya diperoleh dari pendidikan non-formal,

seseorang tersebut bisa mendapatkannya melalui non-formal.

Pengetahuan seseorang mengenai sebuah hal memiliki makna

sebagai aspek positif serta negatif. Kedua aspek memberi

pengaruh terhadap perilaku seseorang. Banyaknya aspek positif

serta objek yang dimiliki, semakin positif sikap yang dimiliki

pada objek tersebut.

Sedari kita lahir hingga tumbuh dewasa telah diberikan

ilmu pengetahuan agar kita mampu memahami dan mengerti

semua yang dihadapkan kepada kita. informasi kesehatan

reproduksi berpengaruh dengan perilaku seksual pada remaja.

Seiring meningkatnya pengetahuan tentang pendidikan seks,

remaja khususnya banyak yang enggan untuk terlibat dalam

praktik seksual yang berisiko.

c. Sikap

Sikap ialah tanggapan manusia ketika mereka memperoleh

sesuatu dalam kejadian atau pengalaman yang sedang dialami.

Menurut Notoatmodjo (2020), sikap adalah reaksi atau

respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu

stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan

untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif


24

tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas,

tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Dalam arti

lain, sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan

reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka.

Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat

negatif, antara lain:

1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati,

menyenangi, mengharapkan objek tertentu.

2) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi,

menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu.

3. Dampak Seks Bebas

(Putri, 2021) dampak perilaku seks bebas akibat perilaku seksual

antara lain:

a. Hamil diluar nikah

b. Penyakit yang ditimbulkan akibat perilaku seksual

Penyakit menular yang dialami oleh pria yaitu ada benjolan

yang isinya cairan, luka pada alat kelamin, luka tetapi tidak

merasakan sakit, ruam kemerahan, kutil serta gatal pada alat

kelamin. Penyakit menular yang dialami oleh Wanita yaitu ketika

buang air besar terasa nyeri di perut dan ketika berhubungan,

adanya lender dari vagina, terasa gatal dan keluar cairan.

4. Pencegahan Perilaku Seks Bebas


25

Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai & tradisi leluhur.

Meski tidak sekaku dulu, nilai dan norma tetap ditegakkan oleh

masyarakat Indonesia, membuat aturan tentang mana yang seharusnya

dilakukan dan tidak dilakukan. Bisa dikenal sebagai ideal (Masra dan

Fouzia, 2021) mengatakan ada beberapa cara pencegahan agar

terhindar dari perilaku seks:

a. Peran orang tua

Orang tua sangat berperan buat anak sebagai tempat untuk

bercerita dan saling bertukar pikiran untuk menanyakan perihal

Seks Edukasi. Orang tua juga harus berpikiran terbuka mengenai

hubungan diluar nikah.

b. Peran tokoh masyarakat

Perilaku seksual mampu diatasi dengan melibatkan tokoh

masyarakat di daerah tersebut. Sebagai tokoh masyarakat,

mereka yang memberikan wadah untuk membuka isu tentang

seks pranikah dikalangan anak muda.

c. Peran pemuka agama

Selain melibatkan tokoh masyarakat tentu pemuka agama

mampu berperan lebih unttuk mengajarkan kepada kaum

millennials muda untuk memotivasi dan mengembangkan sikap

yang bijaksan terutama perihal seksual.


26

d. Peran tenaga kesehatan

Petuga Kesehatan mempunyai peran yang sangat penting

dengan memberikan informasi untuk memberi perawatan yang

terbaik untuk alat reproduksi mereka dan menjelaskan apa

bahaya dari seks pranikah serta adanya penyakit akibat dari

perilaku seksual antara lain penyakit menular seksual, HIV dsb.


27

D. Kerangka Teori

Perilaku sekx bebas

Pengetahuan Faktor Pendorong penyebab terjadinya


perilaku seks:

Keterangan : 1. Sikap

Diteliti

Tidak diteliti

Kerangka teori sumber : Ansar (2021), Ryadi (2022), Manuaba et al.,


(2020), Kenny et al., (2020), Shofiyah (2020),
Notoatmodjo (2020), Wawan dan Dewi (2020),
Riyanto (2021).
28

E. Kerangka Konsep

- Pengetahuan remaja
- Umur Perilaku Seks
- Jenis kelamin Bebas

Gambar 2.2 : Kerangka Konsep

Anda mungkin juga menyukai