0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan32 halaman

Tinjauan Teori Pengetahuan dan Pernikahan Dini

Dokumen ini membahas tentang pengetahuan, jenis-jenisnya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, termasuk pendidikan, media, sosial budaya, lingkungan, pengalaman, dan usia. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang pernikahan dini, tujuan, manfaat, dan kesiapan yang diperlukan untuk melangsungkan pernikahan. Kesiapan tersebut mencakup aspek fisik, mental, dan materi yang harus diperhatikan sebelum menikah.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan32 halaman

Tinjauan Teori Pengetahuan dan Pernikahan Dini

Dokumen ini membahas tentang pengetahuan, jenis-jenisnya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, termasuk pendidikan, media, sosial budaya, lingkungan, pengalaman, dan usia. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang pernikahan dini, tujuan, manfaat, dan kesiapan yang diperlukan untuk melangsungkan pernikahan. Kesiapan tersebut mencakup aspek fisik, mental, dan materi yang harus diperhatikan sebelum menikah.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengetahuan

1. Definisi pengetahuan

Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau

diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. Perkembangan

teori pengetahuan telah berkembang sejak lama. Filsuf pengetahuan

yaitu Plato menyatakan pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang

dibenarkan (valid)” (justified true belief). Menurut Notoatmojo

(2018), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), pengetahuan adalah sesuatu

yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar

ini dipengaruhi berbagai factor dari dalam, seperti motivasi dan factor

luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan social

budaya. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui

atau disadari oleh seseorang (Budiman, 2018).

2. Jenis pengetahuan

1) Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih

tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-

faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,

perspektif, dan prinsip.

10
11

2) Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah

didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam

wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan

dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan

(Budiman, 2018).

3. Tahapan pengetahuan

Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom (2019) ada 6

tahapan, yaitu sebagai berikut.

a. Tahu (know)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat

peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,

metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi tersebut secara benar.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi


12

masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya

satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek (Budiman, 2018).

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang,

yaitu:

a. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan

kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan

berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses

belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang

tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi

seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik

dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak

informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang

didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya


13

dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan

pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula

pengetahuannya.

b. Massa media/informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal

maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek

(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau

peningkatan kemajuan. Majunya teknologi akan tersedia

bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi

pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana

komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,

surat kabar, majalah dan lain-lain. Dalam penyampaian

informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula

pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini

seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal

memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya

pengetahuan terhadap hal tersebut.

c. Social budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa

melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.

Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya

walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan

menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk


14

kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan

mempengaruhi pengetahuan seseorang.

d. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.

Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya

pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan

tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik

ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh

setiap individu.

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu

cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara

mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam

memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman

belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan

pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman

belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan

mengambil keputusan yang merupakan manifestasi satu

keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari

masalah nyata dalam bidang kerjanya.


15

f. Usia

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Semakin bertambah usia semakin berkembang pula

daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan

lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan social

serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya

menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya

akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.

5. Pengukuran tingkat pengetahuan

Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai

materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan

seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban

yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan. Pengukuran bobot

pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:

a. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman

b. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi dan analisis

c. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,

dan evaluasi.

Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau

responden.
16

Arikunto (2018) membuat kategori tingkat pengetahuan

seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai

presentase yaitu sebagai berikut:

a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥75%

b. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%.

c. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya ≤55%

Dalam membuat kategori tingkat pengetahuan bisa juga

dikelompokkan menjadi dua kelompok jika yang diteliti masyarakat

umum, yaitu sebagai berikut:

a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥50%

b. Tingkat pengetahuan kategori Kurang Baik jika nilainya ≤50%

(Budiman, 2018).

B. Remaja

C. Pernikahan Dini

1. Pengertian

Menurut Sarwono dalam Desiyanti (2019) pernikahan usia dini

yaitu suatu ikatan yang dilakukan oleh seseorang yang masih dalam

usia muda atau pubertas. Pernikahan usia dini adalah pernikahan yang

dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang wanita, yang umur

keduanya masih dibawah umur minimum yang diatur oleh undang-

undang (Rohmah, 2018).


17

Pernikahan dibawah umur atau dikenal dengan pernikahan dini

adalah pernikahan yang seharusnya tidak dilaksanakan karena belum

adanya kesiapan baik secara jasmani dan rohani untuk dapat

melaksanakan pernikahan atau pernikahan dini merupakan sebuah

ikatan dua insan lawan jenis antara seorang wanita dan seorang laki-

laki yang berada pasa masa remaja untuk hidup bersama dalam satu

ikatan keluarga (Dian, 2018).

Pernikahan usia dini (early mariage) merupakan suatu

pernikahan formal atau tidak formal yang dilakukan dibawah usia 18

tahun (UNICEF, 2018). Seseorang yang telah melakukan ikatan lahir

batin antara pria dengan wanita sebagai seorang suami istri dengan

tujuan membentuk keluarga, baik yang dilakukan secara hukum

maupun secara adat/kepercayaan dapat dikatakan pula sebagai

pernikahan. Apabila suatu pernikahan tersebut dilakukan oleh

seseorang yang memiliki umur yang relatif muda maka hal itu dapat

dikatakan dengan pernikahan dini.

2. Tujuan Pernikahan

Pernikahan juga mempunyai tujuan seperti yang dikemukakaan oleh

Zakiyah Darajat dkk (2019), yaitu :

a. Untuk memenuhi penyempurnaan agama karena pernikahan

adalah perintah yang harus dilaksanakan oleh orang yang

beragama,
18

b. Untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam menyalurkan

syahwatnya dan berbagi kasih saying anatara dua manusia,

c. Untuk mendapatkanseorang keturunan dlaam meneruskan

keluarga

d. Untuk menjaga diri dari kejahatan misalnya terjindar dari

penyakit HIV,

e. Kelima, yaitu untuk menumbuhkan kesungguhan dalam

bertanggung jawab pada setiap hak serta kewajiban,

f. Adanya pernikahan dapat membentuk masyarakat yang tentram

dan saling menyayangi,

g. Pernikahan bertujuan untuk menata keluarga, hal tersebut

dikarenakan kelurga merupakan salah satu unsur pendidikan

yang paling utama dalam membangun pendidikan informal

pertama oleh seorang anak, segala perilaku yang dilakukan

orang tua akan selalu diadobsi atau dicontoh oleh anaknya.

Dalam pernikahan juga terdapat hikmah suatu pernikahan yang

dijalani yaitu : salah satu jalan untuk membuat anak-anak menjadi

lebih mulia dan memperbanyak anak, dalam menikah juga akan

menimbulkan naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling

melengkapi dalam kehidupan dengan anak-anak dan dapat

menumbuhkan perasaan ramah, cinta dan kasih sayang, dapat

menimbulkan kesadaran tanggung jawab sebagai istri sehingga

menimbulkan sikap rajin dan bersungguh-sungguh dalam mendalami


19

bakat yang dimiliki, dalam diri suami juga menimbulkan sikap rela

berkorban dan pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Terdapat Menurut Erica (2019), mengemukakan bahwa ada 15

tujuan pernikahan, yaitu : sebagai ibadah, untuk iffah atau

menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, menyempurnakan agama,

menikah merupakan sunah utusan Allah, melahirkan anak yang dapat

mendoakan orang tuanya, menjaga masyarakat dari keburukan,

runtuhnya moral, dan perzinaan, legalitas untuk melakukan hubungan

intim, menciptakan tanggung jawab bagi suami dalam memimpin

rumah tangga, memberi nafkah keluarga dan membantu istri di rumah,

mempertemukan tali keluarga yang berbeda sehingga memperkokoh

tali kekeluargaan, saling mengenal dan menyayangi, menjadikan

ketenangan dan kecintaan dalam jiwa suami dan istri, sebagai pilar

untuk membangun rumah tangga sesuai keyakinan.

3. Manfaat Pernikahan

Dalam sebuah pernikahan ada manfaat yang dapat dirasakan

oleh setiap pasangan yang menikah. Manfaat pernikah yang di

kemukakan menurut Indriyani, (2018) sebagai berikut : manfaat

pernikahan menurut hukum perdata yaitu sebuah ikatan pernikahan

yang dapat mengasilkan keturunan yang sah dari sepasang suami istri

dan sah menjadi seorang ibu dan ayahdalam suatu keluarga yang

terbentuk. Manfaat pernikahan yang kedua menurut undang-undang

pernikah berdasarkan peraturan yang terkandung dalam undang –


20

undang no 1 tahun 1974 yang berkaitan dengan perkawinan pada bab

1 pasal 1 menetapkam jika sebuah perkawinan merupakan suatu

ikatan yang terjadi secara lahir dan batin antara dua orang yaitu

seorang pria dengan seorang wanita yang memiliki status sebagai

suami istri yang memiliki tujuan sama dalam membangun kebagian

bersama melalui keluarga. Adapun rumah tangga yang bahagia dan

kekal merupakan tujuan bagi setiap individu dan merupakan

kewajiban dalam menjalankan perintah dari Tuhannya. Berdasarkan

dengan pasal 2 ayat 1 dalam peraturan perundang-undangan sebuah

perkawinan merupakan proses yang dilegalkan atau disahkan

berdasarkan dengan masing-masing hukum agama atau kepercayaan.

4. Kesiapan Pernikahan

Menurut (Asmuji, 2018), dalam melangsungkan sebuah

pernikahan setiap individu yang akan menikah harus mempunyai

kesiapan fisik, mental maupun batin dan beberapa hal yang tidak

kalah penting yang harus diperhatikan sebagai berikut:

a. kesiapan ilmu adalah salah satu bagian yang penting dalam

melakukan pernikahan misalnya kesiapan terkait dengan

pemahaman hukum fiqih yang didalamnya berkaitan dengan

hukum pernikahan baik sebelum atau nikah, kesiapan ilmu

merupakan bagian yang sangat penting untuk dipertimbangkan

dalam mempersipkan pernikahan. Selain itu juga, kesiapan

materi untuk pelaksanaan pernikahan terbagi menjadi dua hal


21

diantaraya adalah, harta yang digunakan untuk mahar atau mas

kawin dan harta atau materi yang disiapkan untuk nafkah yang

diberikan suami kepada istri dalam memenuhi segala kebutuhan

sehari – hari yang secara langsung menjadi tugas dan tanggung

jawab dari suami pada istrinya.

b. Kesiapan pernikahan yang harus diperhatikan selanjutnya adalah

kesiapan fisik seperti : pemeriksaan kesehatan pranikah

merupakan pemeriksaan kesehatan pranikah sangat penting

karena untuk mendeteksi adanya penyakit bawaan atau

keturunan seperti thalassemia, hemofhilia, buta warna. Sehingga

calon pengantin dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan

bertanggung jawab. Persiapan gizi pranikah merupakan salah

satu cara untuk menanggulangan KEK yaitu seorang remaja atau

calon pengantin wanita dengan KEK apabila tidak mendapatkan

perbaikan gizi akan beresiko melahirkan dengan berat badan

bayi rendah (Asmuji, 2018).

c. Dalam mempersiapkan psikis dan psikososial untuk menikah

merupakan hal yang sangat penting karena setiap pasangan yang

baru menikah akan mengalami proses adaptasi setelah menikah.

Pasangan pengantin baru akan mengalami perubahan dalam

kehidupan, perempuan akan menjadi istri dan pria akan menjadi

suami yang akan menjadi pemimpin keluarga dan akan menjadi

ayah dan ibu. Dalam menjalani perubahan status dan peran


22

masing-masing individu sebagai proses awal adaptasi pasti akan

mengalami berbagai hal konflik atau masalah yang timbul antara

lain dapat mencukupi kebutuhan keluarga, tidak dapat

memenuhi kebutuhan atau keinginan pasangan, selain itu juga

tidak pandain dalam bergaul bersama masyarakat di lingkungan

tempat tinggalnya akan menjadikan suatu permasalahan

tersendiri bagi suatu rumah tangga, selanjutnya hal yang dapat

memicu munculnya konflik adalah kurangnya mendapatkan

sebuah kepuasan biologis dalam hubungan seks, kemudian

kurangnya cinta kasih sayang yang disurahkan anatar pasangan,

serta tidak mampu melepaskan diri dari ikatan masa lampau

atau pengalaman yang tidak menyenangkan, Asmuji, 2018).

d. Dalam pernikahan memerlukan kedewasaan melakukan

kelangsungan pernikahan, kedewasaan ada dua yaitu : dewasa

secara fisik adalah sesorang dikatakan matang secara fisik

apabila berhasil atau mampu dalam memberikan seoarang

keturunan didalam rumah tangga. Masa awal dikatakan desawa

adalah saat masa akil baliq. Selanjutnya dewasa secara mental

adalah seseorang dikatan dewasa secara mental apabila telah

mampu mengendalikan fikiran, emosi, dan kemauan secara

selaras dan seimbang dan mampu mengahadpi persoalan hidup

(Diyan, 2018).

5. Usia Dini
23

Usia dini pada usia remaja menurut WHO yaitu dengan

memakai batasan umur 10-20 tahun sebagai usia dini. Sedangkan

menurut Undang-Undang Perlindungan Anak bab 1 pasal 1 ayat (1)

bahwa yang dimaksud dengan usia dini adalah seseorang yang belum

berusia 18 (delapan belas) tahun, batasan tersebut diatas menegaskan

bahwa anak usia dini adalah bagian dari usia remaja. Sementara itu

menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) batasan

usia remaja adalah 10 - 21 tahun. Remaja adalah suatu masa dimana

individu dalam proses pertumbuhannya terutama fisiknya yang telah

mencapai kematangan, dengan batasan usia berada pada usia 11-24

tahun dan belum menikah (Sarwono dalam Purba, 2019).

6. Batasan Usia Ideal Untuk Menikah

Batasan usia yang diizinkan dalam pernikahan menurut UU

Perkawinan dalam pasal 7 ayat (1) yaitu, jika pihak pria sudah

mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun, dan pihak wanita sudah

mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Jika ada penyimpangan

terhadap pasal 7 ayat (1) ini, dapat meminta dispensasi kepada

Pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak

pria maupun wanita (pasal 7 ayat 2).

Menurut Departemen Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan

Anak dan Keluaraga Berencna (DPPPAKB) usia ideal untuk menikah

adalah usia 21 (dua puluh satu) tahun pada perempuan dan 25 (dua

puluh lima) tahun pada laki-laki.


24

Tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan usia yang paling

baik dalam melangsungkan pernikahan, namun untuk menentukan

usia yang ideal dalam pernikahan dapat dikemukakan beberapa hal

sebagai bahan pertimbanagan (Purba, 2019) yaitu:

a. Kematangan Fisiologis atau Kejasmanian

Keadaan kejasmanian yang cukup matang dan sehat

diperlukan dalam melakukan tugas sebagai akibat pernikahan.

b. Kematangan Psikologis

Banyak hal yang timbul dalam pernikahan yang

membutuhkan pemecahan masalahnya dari segi kematangan

psikologisya. Adanya kebijaksanaan dalam keluarga menuntut

kematangan psikologis dan segi-segi atau masalah-masalah yang

lain. Menurut Walgito (2019), dalam pernikahan dituntut adanya

kematangan emosi agar seseorang dapat menjalankan

pernikahan dengan baik. Beberapa tanda kematangan emosi

adalah mempunyai tanggung jawab, memiliki toleransi yang

baik, dan dapat menerima keadaan dirinya maupun keadaan

orang lain seperti apa adanya kematangan ini pada umumnya

dapat dicapai setelah umur 21 tahun.

c. Kematangan Sosial, Khususnya Sosial–Ekonomi

Kematangan sosial, khususnya sosial-ekonomi diperlukan

dalam pernikahan karena hal ini merupakan penyangga dalam

memutar roda keluarga akibat pernikahan. Umur yang masih


25

muda, pada umumnya belum mempunyai pegangan dalam hal

sosial-psikologi, padahal kalau seseorang telah memasuki

pernikahan, maka keluarga tersebut harus dapat berdiri sendiri

untuk kelangsungan keluarga bergantung itu, tidak bergantung

kepada pihak lain termasuk orang lain.

d. Tinjauan Masa Depan atau Jangka ke Depan

Umumnya keluarga menghendaki adanya keturunan, yang

dapat melangsungkan keturunan keluarga, disamping itu umur

manusia terbatas, pada suatu waktu akan mengalami kematian.

Sejauh mungkin diusahakan bila orang tua telah lanjut usia,

anak-anaknya telah dapat berdiri sendiri, tidak lagi menjadi

beban orang tuanya, oleh karena itu pandangan kedepan perlu

dipertimbangkan dalam pernikahan.

e. Perbedaan Antara Perkembangan Pria dan Wanita

Perkembangan antara pria dan wanita tidaklah sama,

artinya kematangan pada wanita tidak akan sama jatuhnya

dengan pria, seorang wanita yang umumnya sama dengan

seorang pria, tidak berarti kematangan segi psikologisnya juga

sama. Sesuai dengan segi perkembangan, pada umumnya wanita

lebih dahulu mencapai kematangan dari pada pria.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan

mengingat bahwa peranan suami dalam memberikan pengarahan

lebih menonjol pada umur yang sebaiknya untuk


26

melangsungkan pernikahan pada wanita umur 23-24 tahun,

sedangkan untuk pria umur 26-27 tahun, pada rentan umur

tersebut pada umumnya telah mencapai kematangan

kejasmanian, psikologis, dan dalam keadaaan normal pria umur

sekitar 26-27 tahun telah mempunyai sumber penghasilan untuk

menghidupi keluarga sebagai akibat pernikahan tersebut

(Walgito, 2019).

7. Faktor-Faktor Peneyebab Pernikahan Usia Dini

Menurut (Noorkasiani, 2018) faktor-faktor yang menyebabkan

terjadinya pernikahan usia dini di Indonesia adalah:

a. Faktor individu

1) Pengetahuan

Seorang wanita yang mempunyai pengetahuan

tentang resproduksi yang baik pasti akan lebih

mempertimbangkan tentang hal usia pernikahannya,

karena mereka mengetahui apa saja akibat dari

pernikahan usia dini terhadap kesehatan reproduksinya.

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia,

atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera

yang dimilikinya. Pada waktu penginderaan sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi

oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.


27

Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui

indera pendengaran dan indera penglihatan.

Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai

intensitas yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi

dalam 6 tingkatan pengetahuan yaitu:

(1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai recall (menggali) memori

yang telah ada sebelumnya setelah mengamati

sesuatu.

(2) Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu objek

tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi

orang tersebut harus dapat menginterpretasikan

secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

(3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah

memahami objek yang dimaksud dapat

menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang

dketahui tersebut pada situasi yang lain.

(4) Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk

menjabarkan dan/atau memisahkan, kemudian

mencari hubungan antara komponen-komponen


28

yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang

diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu

sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila

orang tersebut telah dapat membedakan, atau

memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram

(bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

(5) Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang

untuk merangkum atau meletakkan dalam satu

hubungan yang logis dari komponen-komponen

pengetahuan yang dimiliki.

(6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang

untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap

suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan pada

suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-

norma yang berlaku di masyarakat.

Pengukuran Pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi

materi yang ingin diukur dan subyek penelitian atau

responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita

ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-

tingkat tersebut.
29

Menurut Arikunto (2018) penentuan tingkat

pengetahuan responden dibagi dalam 3 kategori, yaitu

baik, cukup, dan kurang. Kriterianya sebagai berikut :

(1) Tingkat pengetahuan katagori Baik jika nilainya

>50%.

(2) Jika pengetahuan katagori kurang jika nilainya

<50%.

2) Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk

mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam

dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi

pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk

menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi seseorang

akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari

orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak

informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan

yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat

kaitannya dengan pendidikan di mana diharapkan

seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut

akan semakin luas pula pengetahuannya.


30

b. Faktor keluarga

Peran orang tua dalam menentukan pernikahan anak-anak

mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

1) Sosial ekonomi keluarga

Ekonomi keluarga yang rendah tidak cukup

menjamin kelanjutan pendidikan anak sehingga apabila

seorang anak perempuan telah menamatkan pendidikan

dasar dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan

tinggi, ia hanya tinggal di rumah.

Terjadi pada masyarakat yang tergolong menengah

ke bawah. Biasanya berawal dari ketidakmampuan mereka

melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih

tinggi. Terkadang mereka hanya bisa melanjutkan sampai

sekolah menengah saja atau bahkan tidak bias mengenyam

sedikitpun kenikmatan pendidikan, sehingga menikah

merupakan sebuah solusi dari kesulitan yang mereka

hadapi. Terutama bagi perempuan, dimana kondisi

ekonomi yang sulit, para orang tua lebih memilih

mengantarkan putri mereka untuk menikah, karena paling

tidak sedikit banyak beban mereka yang akan berkurang.

Tetapi berbeda dengan anak laki-laki yang mempunyai

peran dalam kehidupan berumah tangga sangatlah besar.

Sehingga bagi kaum adam minimal harus mempunyai


31

keterampilan terlebih dahulu sebagai modal awal

membangun rumah tangga mereka. Bagai sebuah keluarga

yang miskin, pernikahan usia dini dapat menyelamatkan

masalah sosial ekonomi keluarga.

Akibat beban ekonomi yang dialami, orang tua

mempunyai keinginan untuk menikahkan anak gadisnya.

Pernikahan tersebut akan memperoleh dua keuntungan,

yaitu tanggung jawab terhadap anak gadisnya menjadi

tanggung jawab suami atau keluarga suami dan adanya

tambahan tenaga kerja di keluarga, yaitu menantu yang

dengan sukarela membantu keluarga istrinya.

Motif ekonomi, harapan tercapainya keamanan

sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak

orangtua menyetujui pernikahan usia dini (UNICEF,

2020). Secara umum, pernikahan anak lebih sering

dijumpai di kalangan keluarga miskin, meskipun terjadi

pula di kalangan keluarga ekonomi atas. Di banyak

negara, pernikahan anak seringkali terkait dengan

kemiskinan. Sayangnya, pernikahan gadis ini juga

menikah dengan dengan pria berstatus ekonomi tak jauh

berbeda, sehingga menimbulkan kemiskinan baru.


32

c. Faktor masyarakat lingkungan

1) Adat istiadat (budaya)

Terdapat anggapan di berbagai daerah di Indonesia

bahwa anak gadis yang telah dewasa, tetapi belum

berkeluarga, akan dipandang “aib” bagi keluarganya.

Upaya orang tua untuk mengatasi hal tersebut ialah

menikahkan anak gadis yang dimilikinya secepat mungkin

sehingga mendorong terjadinya pernikahan usia dini.

Budaya berasal dari sangskerta (buddhayah) yaitu

bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi”atau “akal”

semua hal-hal yang berkaitan dengan akal. Kebudayaan

merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya

terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian,

moral, kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai

anggota masyarakat.

Faktor budaya bisa jadi merupakan salah satu

penyebab pernikahan [Link] layak menikah menurut

budaya dikaitkan dengan datangnya haid pertama bagi

wanita. Dengan demikian banyak remaja yang belum

layak menikah, terpaksa menikah karena desakan budaya.

Faktor budaya juga turut mengambil andil yang

cukup besar, karena kebudayaan ini diturunkan dan sudah

mengakar layaknya kepercayaan. Dalam budaya setempat


33

mempercayai apabila anak perempuannya tidak segera

menikah, itu akan memalukan keluarga karena dianggap

tidak laku dalam lingkungannya. Atau jika ada orang yang

secara finansial dianggap sangat mampu dan meminang

anak mereka, dengan tidak memandang usia atau status

pernikahan, kebanyakan orang tua menerima pinangan

tersebut karena beranggapan masa depan sang anak akan

lebih cerah, dan tentu saja ia diharapkan bisa mengurangi

beban sang orang tua. Tak lepas dari hal tersebut, tentu

saja banyak dampak yang tidak terpikir oleh mereka

sebelumnya.

Menurut beberapa penelitian, perkawinan usia muda

terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan

perawan tua sehingga segera dikawinkan. Orang tua

menganggap bahwa perkawinan dalam usia muda

mempunyai suatu faktor pematangan. Dibalik motivasi

orang tua yang ingin sekali untuk segera mengawinkan

anak-anaknya ialah demi melepaskan mereka dari

tanggung jawab atas perilaku kejahatan dan kenakalan

anaknya.

Terdapat hubungan yang signifikan antara sosial

budaya terhadap menikah usia muda, ada kecenderungan

pengaruh budaya masyarakat menyebab menikah usia


34

muda. Keberadaan budaya lokal memberi pengaruh

terhadap pelaksanaan menikah usia muda, sehingga

masyarakat tidak memberikan pandangan negatif terhadap

pasangan yang melangsungkan pernikahan meskipun pada

usia yang masih remaja. Hal ini yang menyebabkan kaum

pemuka adat tidak merniliki kemampuan untuk dapat

mengatur sistem budaya yang mengikat bagi warganya

dalam melangsungkan perkawinan karena batasan tentang

seseorang yang dikatakan dewasa masih belum jelas.

Menurut beberapa penelitian menyatakan bahwa

menikah merupakan kodrat manusia, dan sebagian

masyarakat juga meyakini bahwa pada wanita sejak mulai

mentsruasi beranggapan kesiapan wanita untuk

berketurunan dan tidak bertentangan dengan norma agama

tertentu, agama islam yang mereka anut.

Budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat

seperti anggapan negatif terhadap perawan tua terkesan

tidak laku jika tidak menikah melebihi usia 18 tahun atau

kebiasaan masyarakat yang menikah di usia sekitar 14-16

tahun, menikah pada kisaran usia ini dianggap sebagai

suatu kebanggaan, hal inilah menjadi faktor yang

mendorong tingginya jumlah perkawinan muda. Sebagian

orang tua berharap mendapat bantuan dari anak setelah


35

menikah karena rendahnya ekonomi keluarga. Faktor yang

mempengaruhi median usia kawin pertama perempuan

diantaranya adalah faktor sosial, ekonomi, budaya dan

tempat tinggal (desa/kota).

8. Dampak Pernikahan Usia Dini

Dampak yang terjadi akibat pernikahan usia dini menurut

(Kumalasari, 2019) yaitu:

a. Kesehatan perempuan

1) Alat reproduksi belum siap menerima kehamilan sehingga

dapat menimbulkan berbagai komplikasi

2) Kehamilan dini dan kurang terpenuhinya gizi bagi dirinya

sendiri

3) Resiko anemia dan meningkatnya angka kejadian depresi

4) Beresiko pada kematian usia dini

5) Meningkatkan angka kematian ibu (AKI)

6) Studi epidemiologi kanker serviks: resiko meningkat lebih

dari 10 kali bila jumlah mitra seks 6/ lebih atau bila

berhubungan seks pertama dibawah uais 15 tahun

7) Semakin muda perempuan memiliki anak pertama,

semakin rentan terkena serviks

8) Resiko terkena penyakit menular seksual

9) Kehilangan kesempatan mengembangkan diri


36

b. Kualitas anak

1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) sangat tinggi, adanya

kebutuhan nutrisi yang harus lebih banyak untuk

kehamilannya dan kebutuhan pertumbuhan ibu sendiri.

2) Bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang berusia dibawah

18 tahun rata-rata lebih kecil dan bayi dengan BBLR

memiliki kemungkinan 5-30 kali lebih tinggi untuk

meninggal.

c. Keharmonisan keluarga dan perceraian

1) Banyaknya pernikahan usia muda berbanding lurus

dengan tingginya angka perceraian

2) Ego remaja yang masih tinggi

3) Banyaknya kasus perceraian merupakan dampak dari

mudanya usia pasangan bercerai ketika memutuskan untuk

menikah

4) Perselingkuhan

5) Ketidakcocokan hubungan dengan orang tua maupun

mertua

6) Psikologis yang belum matang, sehingga cenderung labil

dan emosional

7) Kurang mampu untuk bersosialisasi dan adaptasi

Dampak yang terjadi akibat pernikahan usia dini pada ibu dan

bayi menurut (Teguh Firmansyah, 2020) yaitu:


37

a. Dampak bagi ibu

1) Intra uterin fetal death

Intra uterin fetal death atau kematian janin dalam

kandungan adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda

kehidupan janin dalam kandungan. Keadaan ini sering di

jumpai pada kehamilan di bawah 20 minggu dan sesudah

20 minggu, yaitu ditandai kematian janin bila ibu tidak

merasakan gerakan janin, biasanya berakhir dengan

abortus.

2) Premature

Persalinan prematur adalah suatu proses kelahiran bayi

sebelum usia kahamilan 37 minggu atau sebelum 3

minggu dari waktu perkiraan persalinan. Resiko terjadinya

kehamilan Premature, antara lain :

a) Usia ibu saat hamil kurang dari 20 tahun

b) Wanita dengan gizi yang kurang atau anemia

c) Lemahnya serviks

3) Perdarahan

Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan

karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses

involusi.
38

4) Kematian ibu

Kematian ibu saat melahirkan disebabkan oleh perdarahan

dan infeksi.

b. Dampak bagi bayi

a) Kemungkinan janin lahir belum cukup usia kehamilan

atau kurang dari 37 minggu, pada saat umur kehamilan

tersebut pertumbuhan janin belum sempurna.

b) BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) yaitu, bayi yang lahir

dengan berat badan kurang dari 2.500 gram. Kebanyakan

hal ini di pengaruhi oleh umur ibu saat hamil kurang dari

20 tahun dari ibu kurang gizi.

9. Pencegahan Pernikahan Usia Dini

Cara menghindari pernikahan usia dini menurut Teguh

Firmansyah (2019) memiliki 3 cara, yaitu:

a. Pendidikan Agama

Pendidikan agama adalah cara awal dalam pencegahan

pernikahan usia dini. Hal tersebut dengan memperbanyak

beribadah dan mengetahui batas umur menikah dalam agama

Islam.

b. Didikan Orang tua

Didikan orang tua mengutamakan persoalan pribadi anak.

Misal anak putri, selain sekolah juga mengisi waktu dengan cara

mengajarkannya memasak. Sementara untuk anak laki-laki,


39

tambahannya orangtua mengarahkannya dengan cara membantu

orangtuanya, semisal pergi ke sawah.

c. Menjauhi Pergaulan Negatif

Menjauhi pergaulan negatif, ini sangat perlu dijauhi oleh

seorang anak, sebab pergaulan seperti itu sangat menyesatkan

bagi seorang anak di bawah umur.

Sedangkan menurut Dokter Internsip Puskesmas Aikmel dalam

Duta SMART (2019) solusi dalam pencegahan pernikahan usia dini

adalah :

a. Pendidikan

Supaya dapat menata dan merencanakan masa depan yang

lebih cerah.

b. Bekerja

Jika orangtua tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya

karena faktor ekonomi, lebih baik anak diarahkan ke kegiatan

positif seperti bekerja.


40

D. Kerangka Teori

Pernikahan Dini

Pengertian Tujuan pernikahan

Manfaat pernikahan Kesiapan pernikahan

Batasan Usia Ideal Untuk Menikah


Usia dini
a. Kematangan Fisiologis atau
Kejasmanian
Faktor-Faktor
b. Kematangan Psikologis
Peneyebab
c. Kematangan Sosial, Khususnya
Pernikahan Usia Dini
Sosial–Ekonomi
1. Faktor individu d. Tinjauan Masa Depan atau
a. Pengetahuan Jangka ke Depan
b. Pendidikan e. Perbedaan Antara Perkembangan
2. Faktor keluarga Pria dan Wanita
a. Sosial ekonomi
keluarga
3. Faktor masyarakat
Dampak Pernikahan Usia Dini
lingkungan
a. Adat istiadat
(budaya) Pencegahan Pernikahan Usia Dini

Keterangan : yang di teliti

Tidak di teliti

Gambar 2.1 Kerangka teori sumber : Noorkasiani (2018), Arikunto (2018),

UNICEF (2018).
41

E. KerangkaKonsep

1. Pengetahuan
Pernikahan Dini
2. Pendidikan

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

Anda mungkin juga menyukai