BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengetahuan
1. Definisi pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau
diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. Perkembangan
teori pengetahuan telah berkembang sejak lama. Filsuf pengetahuan
yaitu Plato menyatakan pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang
dibenarkan (valid)” (justified true belief). Menurut Notoatmojo
(2018), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), pengetahuan adalah sesuatu
yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar
ini dipengaruhi berbagai factor dari dalam, seperti motivasi dan factor
luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan social
budaya. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui
atau disadari oleh seseorang (Budiman, 2018).
2. Jenis pengetahuan
1) Pengetahuan Implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih
tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-
faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,
perspektif, dan prinsip.
10
11
2) Pengetahuan Eksplisit
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah
didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam
wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan
dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan
(Budiman, 2018).
3. Tahapan pengetahuan
Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom (2019) ada 6
tahapan, yaitu sebagai berikut.
a. Tahu (know)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat
peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,
metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi tersebut secara benar.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi
12
masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya
satu sama lain.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek (Budiman, 2018).
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang,
yaitu:
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses
belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang
tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi
seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik
dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak
informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang
didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya
13
dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan
pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya.
b. Massa media/informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal
maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek
(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau
peningkatan kemajuan. Majunya teknologi akan tersedia
bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi
pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana
komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,
surat kabar, majalah dan lain-lain. Dalam penyampaian
informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula
pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini
seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya
pengetahuan terhadap hal tersebut.
c. Social budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa
melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.
Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya
walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan
menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk
14
kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan
tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik
ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh
setiap individu.
e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam
memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman
belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman
belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan
mengambil keputusan yang merupakan manifestasi satu
keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari
masalah nyata dalam bidang kerjanya.
15
f. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan
lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan social
serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya
menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya
akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.
5. Pengukuran tingkat pengetahuan
Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai
materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan
seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban
yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan. Pengukuran bobot
pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:
a. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman
b. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi dan analisis
c. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
dan evaluasi.
Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau
responden.
16
Arikunto (2018) membuat kategori tingkat pengetahuan
seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai
presentase yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥75%
b. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%.
c. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya ≤55%
Dalam membuat kategori tingkat pengetahuan bisa juga
dikelompokkan menjadi dua kelompok jika yang diteliti masyarakat
umum, yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥50%
b. Tingkat pengetahuan kategori Kurang Baik jika nilainya ≤50%
(Budiman, 2018).
B. Remaja
C. Pernikahan Dini
1. Pengertian
Menurut Sarwono dalam Desiyanti (2019) pernikahan usia dini
yaitu suatu ikatan yang dilakukan oleh seseorang yang masih dalam
usia muda atau pubertas. Pernikahan usia dini adalah pernikahan yang
dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang wanita, yang umur
keduanya masih dibawah umur minimum yang diatur oleh undang-
undang (Rohmah, 2018).
17
Pernikahan dibawah umur atau dikenal dengan pernikahan dini
adalah pernikahan yang seharusnya tidak dilaksanakan karena belum
adanya kesiapan baik secara jasmani dan rohani untuk dapat
melaksanakan pernikahan atau pernikahan dini merupakan sebuah
ikatan dua insan lawan jenis antara seorang wanita dan seorang laki-
laki yang berada pasa masa remaja untuk hidup bersama dalam satu
ikatan keluarga (Dian, 2018).
Pernikahan usia dini (early mariage) merupakan suatu
pernikahan formal atau tidak formal yang dilakukan dibawah usia 18
tahun (UNICEF, 2018). Seseorang yang telah melakukan ikatan lahir
batin antara pria dengan wanita sebagai seorang suami istri dengan
tujuan membentuk keluarga, baik yang dilakukan secara hukum
maupun secara adat/kepercayaan dapat dikatakan pula sebagai
pernikahan. Apabila suatu pernikahan tersebut dilakukan oleh
seseorang yang memiliki umur yang relatif muda maka hal itu dapat
dikatakan dengan pernikahan dini.
2. Tujuan Pernikahan
Pernikahan juga mempunyai tujuan seperti yang dikemukakaan oleh
Zakiyah Darajat dkk (2019), yaitu :
a. Untuk memenuhi penyempurnaan agama karena pernikahan
adalah perintah yang harus dilaksanakan oleh orang yang
beragama,
18
b. Untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam menyalurkan
syahwatnya dan berbagi kasih saying anatara dua manusia,
c. Untuk mendapatkanseorang keturunan dlaam meneruskan
keluarga
d. Untuk menjaga diri dari kejahatan misalnya terjindar dari
penyakit HIV,
e. Kelima, yaitu untuk menumbuhkan kesungguhan dalam
bertanggung jawab pada setiap hak serta kewajiban,
f. Adanya pernikahan dapat membentuk masyarakat yang tentram
dan saling menyayangi,
g. Pernikahan bertujuan untuk menata keluarga, hal tersebut
dikarenakan kelurga merupakan salah satu unsur pendidikan
yang paling utama dalam membangun pendidikan informal
pertama oleh seorang anak, segala perilaku yang dilakukan
orang tua akan selalu diadobsi atau dicontoh oleh anaknya.
Dalam pernikahan juga terdapat hikmah suatu pernikahan yang
dijalani yaitu : salah satu jalan untuk membuat anak-anak menjadi
lebih mulia dan memperbanyak anak, dalam menikah juga akan
menimbulkan naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling
melengkapi dalam kehidupan dengan anak-anak dan dapat
menumbuhkan perasaan ramah, cinta dan kasih sayang, dapat
menimbulkan kesadaran tanggung jawab sebagai istri sehingga
menimbulkan sikap rajin dan bersungguh-sungguh dalam mendalami
19
bakat yang dimiliki, dalam diri suami juga menimbulkan sikap rela
berkorban dan pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Terdapat Menurut Erica (2019), mengemukakan bahwa ada 15
tujuan pernikahan, yaitu : sebagai ibadah, untuk iffah atau
menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, menyempurnakan agama,
menikah merupakan sunah utusan Allah, melahirkan anak yang dapat
mendoakan orang tuanya, menjaga masyarakat dari keburukan,
runtuhnya moral, dan perzinaan, legalitas untuk melakukan hubungan
intim, menciptakan tanggung jawab bagi suami dalam memimpin
rumah tangga, memberi nafkah keluarga dan membantu istri di rumah,
mempertemukan tali keluarga yang berbeda sehingga memperkokoh
tali kekeluargaan, saling mengenal dan menyayangi, menjadikan
ketenangan dan kecintaan dalam jiwa suami dan istri, sebagai pilar
untuk membangun rumah tangga sesuai keyakinan.
3. Manfaat Pernikahan
Dalam sebuah pernikahan ada manfaat yang dapat dirasakan
oleh setiap pasangan yang menikah. Manfaat pernikah yang di
kemukakan menurut Indriyani, (2018) sebagai berikut : manfaat
pernikahan menurut hukum perdata yaitu sebuah ikatan pernikahan
yang dapat mengasilkan keturunan yang sah dari sepasang suami istri
dan sah menjadi seorang ibu dan ayahdalam suatu keluarga yang
terbentuk. Manfaat pernikahan yang kedua menurut undang-undang
pernikah berdasarkan peraturan yang terkandung dalam undang –
20
undang no 1 tahun 1974 yang berkaitan dengan perkawinan pada bab
1 pasal 1 menetapkam jika sebuah perkawinan merupakan suatu
ikatan yang terjadi secara lahir dan batin antara dua orang yaitu
seorang pria dengan seorang wanita yang memiliki status sebagai
suami istri yang memiliki tujuan sama dalam membangun kebagian
bersama melalui keluarga. Adapun rumah tangga yang bahagia dan
kekal merupakan tujuan bagi setiap individu dan merupakan
kewajiban dalam menjalankan perintah dari Tuhannya. Berdasarkan
dengan pasal 2 ayat 1 dalam peraturan perundang-undangan sebuah
perkawinan merupakan proses yang dilegalkan atau disahkan
berdasarkan dengan masing-masing hukum agama atau kepercayaan.
4. Kesiapan Pernikahan
Menurut (Asmuji, 2018), dalam melangsungkan sebuah
pernikahan setiap individu yang akan menikah harus mempunyai
kesiapan fisik, mental maupun batin dan beberapa hal yang tidak
kalah penting yang harus diperhatikan sebagai berikut:
a. kesiapan ilmu adalah salah satu bagian yang penting dalam
melakukan pernikahan misalnya kesiapan terkait dengan
pemahaman hukum fiqih yang didalamnya berkaitan dengan
hukum pernikahan baik sebelum atau nikah, kesiapan ilmu
merupakan bagian yang sangat penting untuk dipertimbangkan
dalam mempersipkan pernikahan. Selain itu juga, kesiapan
materi untuk pelaksanaan pernikahan terbagi menjadi dua hal
21
diantaraya adalah, harta yang digunakan untuk mahar atau mas
kawin dan harta atau materi yang disiapkan untuk nafkah yang
diberikan suami kepada istri dalam memenuhi segala kebutuhan
sehari – hari yang secara langsung menjadi tugas dan tanggung
jawab dari suami pada istrinya.
b. Kesiapan pernikahan yang harus diperhatikan selanjutnya adalah
kesiapan fisik seperti : pemeriksaan kesehatan pranikah
merupakan pemeriksaan kesehatan pranikah sangat penting
karena untuk mendeteksi adanya penyakit bawaan atau
keturunan seperti thalassemia, hemofhilia, buta warna. Sehingga
calon pengantin dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan
bertanggung jawab. Persiapan gizi pranikah merupakan salah
satu cara untuk menanggulangan KEK yaitu seorang remaja atau
calon pengantin wanita dengan KEK apabila tidak mendapatkan
perbaikan gizi akan beresiko melahirkan dengan berat badan
bayi rendah (Asmuji, 2018).
c. Dalam mempersiapkan psikis dan psikososial untuk menikah
merupakan hal yang sangat penting karena setiap pasangan yang
baru menikah akan mengalami proses adaptasi setelah menikah.
Pasangan pengantin baru akan mengalami perubahan dalam
kehidupan, perempuan akan menjadi istri dan pria akan menjadi
suami yang akan menjadi pemimpin keluarga dan akan menjadi
ayah dan ibu. Dalam menjalani perubahan status dan peran
22
masing-masing individu sebagai proses awal adaptasi pasti akan
mengalami berbagai hal konflik atau masalah yang timbul antara
lain dapat mencukupi kebutuhan keluarga, tidak dapat
memenuhi kebutuhan atau keinginan pasangan, selain itu juga
tidak pandain dalam bergaul bersama masyarakat di lingkungan
tempat tinggalnya akan menjadikan suatu permasalahan
tersendiri bagi suatu rumah tangga, selanjutnya hal yang dapat
memicu munculnya konflik adalah kurangnya mendapatkan
sebuah kepuasan biologis dalam hubungan seks, kemudian
kurangnya cinta kasih sayang yang disurahkan anatar pasangan,
serta tidak mampu melepaskan diri dari ikatan masa lampau
atau pengalaman yang tidak menyenangkan, Asmuji, 2018).
d. Dalam pernikahan memerlukan kedewasaan melakukan
kelangsungan pernikahan, kedewasaan ada dua yaitu : dewasa
secara fisik adalah sesorang dikatakan matang secara fisik
apabila berhasil atau mampu dalam memberikan seoarang
keturunan didalam rumah tangga. Masa awal dikatakan desawa
adalah saat masa akil baliq. Selanjutnya dewasa secara mental
adalah seseorang dikatan dewasa secara mental apabila telah
mampu mengendalikan fikiran, emosi, dan kemauan secara
selaras dan seimbang dan mampu mengahadpi persoalan hidup
(Diyan, 2018).
5. Usia Dini
23
Usia dini pada usia remaja menurut WHO yaitu dengan
memakai batasan umur 10-20 tahun sebagai usia dini. Sedangkan
menurut Undang-Undang Perlindungan Anak bab 1 pasal 1 ayat (1)
bahwa yang dimaksud dengan usia dini adalah seseorang yang belum
berusia 18 (delapan belas) tahun, batasan tersebut diatas menegaskan
bahwa anak usia dini adalah bagian dari usia remaja. Sementara itu
menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) batasan
usia remaja adalah 10 - 21 tahun. Remaja adalah suatu masa dimana
individu dalam proses pertumbuhannya terutama fisiknya yang telah
mencapai kematangan, dengan batasan usia berada pada usia 11-24
tahun dan belum menikah (Sarwono dalam Purba, 2019).
6. Batasan Usia Ideal Untuk Menikah
Batasan usia yang diizinkan dalam pernikahan menurut UU
Perkawinan dalam pasal 7 ayat (1) yaitu, jika pihak pria sudah
mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun, dan pihak wanita sudah
mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Jika ada penyimpangan
terhadap pasal 7 ayat (1) ini, dapat meminta dispensasi kepada
Pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak
pria maupun wanita (pasal 7 ayat 2).
Menurut Departemen Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan
Anak dan Keluaraga Berencna (DPPPAKB) usia ideal untuk menikah
adalah usia 21 (dua puluh satu) tahun pada perempuan dan 25 (dua
puluh lima) tahun pada laki-laki.
24
Tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan usia yang paling
baik dalam melangsungkan pernikahan, namun untuk menentukan
usia yang ideal dalam pernikahan dapat dikemukakan beberapa hal
sebagai bahan pertimbanagan (Purba, 2019) yaitu:
a. Kematangan Fisiologis atau Kejasmanian
Keadaan kejasmanian yang cukup matang dan sehat
diperlukan dalam melakukan tugas sebagai akibat pernikahan.
b. Kematangan Psikologis
Banyak hal yang timbul dalam pernikahan yang
membutuhkan pemecahan masalahnya dari segi kematangan
psikologisya. Adanya kebijaksanaan dalam keluarga menuntut
kematangan psikologis dan segi-segi atau masalah-masalah yang
lain. Menurut Walgito (2019), dalam pernikahan dituntut adanya
kematangan emosi agar seseorang dapat menjalankan
pernikahan dengan baik. Beberapa tanda kematangan emosi
adalah mempunyai tanggung jawab, memiliki toleransi yang
baik, dan dapat menerima keadaan dirinya maupun keadaan
orang lain seperti apa adanya kematangan ini pada umumnya
dapat dicapai setelah umur 21 tahun.
c. Kematangan Sosial, Khususnya Sosial–Ekonomi
Kematangan sosial, khususnya sosial-ekonomi diperlukan
dalam pernikahan karena hal ini merupakan penyangga dalam
memutar roda keluarga akibat pernikahan. Umur yang masih
25
muda, pada umumnya belum mempunyai pegangan dalam hal
sosial-psikologi, padahal kalau seseorang telah memasuki
pernikahan, maka keluarga tersebut harus dapat berdiri sendiri
untuk kelangsungan keluarga bergantung itu, tidak bergantung
kepada pihak lain termasuk orang lain.
d. Tinjauan Masa Depan atau Jangka ke Depan
Umumnya keluarga menghendaki adanya keturunan, yang
dapat melangsungkan keturunan keluarga, disamping itu umur
manusia terbatas, pada suatu waktu akan mengalami kematian.
Sejauh mungkin diusahakan bila orang tua telah lanjut usia,
anak-anaknya telah dapat berdiri sendiri, tidak lagi menjadi
beban orang tuanya, oleh karena itu pandangan kedepan perlu
dipertimbangkan dalam pernikahan.
e. Perbedaan Antara Perkembangan Pria dan Wanita
Perkembangan antara pria dan wanita tidaklah sama,
artinya kematangan pada wanita tidak akan sama jatuhnya
dengan pria, seorang wanita yang umumnya sama dengan
seorang pria, tidak berarti kematangan segi psikologisnya juga
sama. Sesuai dengan segi perkembangan, pada umumnya wanita
lebih dahulu mencapai kematangan dari pada pria.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan
mengingat bahwa peranan suami dalam memberikan pengarahan
lebih menonjol pada umur yang sebaiknya untuk
26
melangsungkan pernikahan pada wanita umur 23-24 tahun,
sedangkan untuk pria umur 26-27 tahun, pada rentan umur
tersebut pada umumnya telah mencapai kematangan
kejasmanian, psikologis, dan dalam keadaaan normal pria umur
sekitar 26-27 tahun telah mempunyai sumber penghasilan untuk
menghidupi keluarga sebagai akibat pernikahan tersebut
(Walgito, 2019).
7. Faktor-Faktor Peneyebab Pernikahan Usia Dini
Menurut (Noorkasiani, 2018) faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya pernikahan usia dini di Indonesia adalah:
a. Faktor individu
1) Pengetahuan
Seorang wanita yang mempunyai pengetahuan
tentang resproduksi yang baik pasti akan lebih
mempertimbangkan tentang hal usia pernikahannya,
karena mereka mengetahui apa saja akibat dari
pernikahan usia dini terhadap kesehatan reproduksinya.
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia,
atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera
yang dimilikinya. Pada waktu penginderaan sampai
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi
oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.
27
Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui
indera pendengaran dan indera penglihatan.
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai
intensitas yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi
dalam 6 tingkatan pengetahuan yaitu:
(1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai recall (menggali) memori
yang telah ada sebelumnya setelah mengamati
sesuatu.
(2) Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu objek
tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi
orang tersebut harus dapat menginterpretasikan
secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
(3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah
memahami objek yang dimaksud dapat
menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
dketahui tersebut pada situasi yang lain.
(4) Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk
menjabarkan dan/atau memisahkan, kemudian
mencari hubungan antara komponen-komponen
28
yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang
diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu
sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila
orang tersebut telah dapat membedakan, atau
memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram
(bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
(5) Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang
untuk merangkum atau meletakkan dalam satu
hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki.
(6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang
untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap
suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan pada
suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-
norma yang berlaku di masyarakat.
Pengukuran Pengetahuan dapat dilakukan dengan
wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi
materi yang ingin diukur dan subyek penelitian atau
responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-
tingkat tersebut.
29
Menurut Arikunto (2018) penentuan tingkat
pengetahuan responden dibagi dalam 3 kategori, yaitu
baik, cukup, dan kurang. Kriterianya sebagai berikut :
(1) Tingkat pengetahuan katagori Baik jika nilainya
>50%.
(2) Jika pengetahuan katagori kurang jika nilainya
<50%.
2) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk
mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam
dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi
pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk
menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi seseorang
akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari
orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak
informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan
yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat
kaitannya dengan pendidikan di mana diharapkan
seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut
akan semakin luas pula pengetahuannya.
30
b. Faktor keluarga
Peran orang tua dalam menentukan pernikahan anak-anak
mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
1) Sosial ekonomi keluarga
Ekonomi keluarga yang rendah tidak cukup
menjamin kelanjutan pendidikan anak sehingga apabila
seorang anak perempuan telah menamatkan pendidikan
dasar dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan
tinggi, ia hanya tinggal di rumah.
Terjadi pada masyarakat yang tergolong menengah
ke bawah. Biasanya berawal dari ketidakmampuan mereka
melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih
tinggi. Terkadang mereka hanya bisa melanjutkan sampai
sekolah menengah saja atau bahkan tidak bias mengenyam
sedikitpun kenikmatan pendidikan, sehingga menikah
merupakan sebuah solusi dari kesulitan yang mereka
hadapi. Terutama bagi perempuan, dimana kondisi
ekonomi yang sulit, para orang tua lebih memilih
mengantarkan putri mereka untuk menikah, karena paling
tidak sedikit banyak beban mereka yang akan berkurang.
Tetapi berbeda dengan anak laki-laki yang mempunyai
peran dalam kehidupan berumah tangga sangatlah besar.
Sehingga bagi kaum adam minimal harus mempunyai
31
keterampilan terlebih dahulu sebagai modal awal
membangun rumah tangga mereka. Bagai sebuah keluarga
yang miskin, pernikahan usia dini dapat menyelamatkan
masalah sosial ekonomi keluarga.
Akibat beban ekonomi yang dialami, orang tua
mempunyai keinginan untuk menikahkan anak gadisnya.
Pernikahan tersebut akan memperoleh dua keuntungan,
yaitu tanggung jawab terhadap anak gadisnya menjadi
tanggung jawab suami atau keluarga suami dan adanya
tambahan tenaga kerja di keluarga, yaitu menantu yang
dengan sukarela membantu keluarga istrinya.
Motif ekonomi, harapan tercapainya keamanan
sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak
orangtua menyetujui pernikahan usia dini (UNICEF,
2020). Secara umum, pernikahan anak lebih sering
dijumpai di kalangan keluarga miskin, meskipun terjadi
pula di kalangan keluarga ekonomi atas. Di banyak
negara, pernikahan anak seringkali terkait dengan
kemiskinan. Sayangnya, pernikahan gadis ini juga
menikah dengan dengan pria berstatus ekonomi tak jauh
berbeda, sehingga menimbulkan kemiskinan baru.
32
c. Faktor masyarakat lingkungan
1) Adat istiadat (budaya)
Terdapat anggapan di berbagai daerah di Indonesia
bahwa anak gadis yang telah dewasa, tetapi belum
berkeluarga, akan dipandang “aib” bagi keluarganya.
Upaya orang tua untuk mengatasi hal tersebut ialah
menikahkan anak gadis yang dimilikinya secepat mungkin
sehingga mendorong terjadinya pernikahan usia dini.
Budaya berasal dari sangskerta (buddhayah) yaitu
bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi”atau “akal”
semua hal-hal yang berkaitan dengan akal. Kebudayaan
merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya
terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai
anggota masyarakat.
Faktor budaya bisa jadi merupakan salah satu
penyebab pernikahan [Link] layak menikah menurut
budaya dikaitkan dengan datangnya haid pertama bagi
wanita. Dengan demikian banyak remaja yang belum
layak menikah, terpaksa menikah karena desakan budaya.
Faktor budaya juga turut mengambil andil yang
cukup besar, karena kebudayaan ini diturunkan dan sudah
mengakar layaknya kepercayaan. Dalam budaya setempat
33
mempercayai apabila anak perempuannya tidak segera
menikah, itu akan memalukan keluarga karena dianggap
tidak laku dalam lingkungannya. Atau jika ada orang yang
secara finansial dianggap sangat mampu dan meminang
anak mereka, dengan tidak memandang usia atau status
pernikahan, kebanyakan orang tua menerima pinangan
tersebut karena beranggapan masa depan sang anak akan
lebih cerah, dan tentu saja ia diharapkan bisa mengurangi
beban sang orang tua. Tak lepas dari hal tersebut, tentu
saja banyak dampak yang tidak terpikir oleh mereka
sebelumnya.
Menurut beberapa penelitian, perkawinan usia muda
terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan
perawan tua sehingga segera dikawinkan. Orang tua
menganggap bahwa perkawinan dalam usia muda
mempunyai suatu faktor pematangan. Dibalik motivasi
orang tua yang ingin sekali untuk segera mengawinkan
anak-anaknya ialah demi melepaskan mereka dari
tanggung jawab atas perilaku kejahatan dan kenakalan
anaknya.
Terdapat hubungan yang signifikan antara sosial
budaya terhadap menikah usia muda, ada kecenderungan
pengaruh budaya masyarakat menyebab menikah usia
34
muda. Keberadaan budaya lokal memberi pengaruh
terhadap pelaksanaan menikah usia muda, sehingga
masyarakat tidak memberikan pandangan negatif terhadap
pasangan yang melangsungkan pernikahan meskipun pada
usia yang masih remaja. Hal ini yang menyebabkan kaum
pemuka adat tidak merniliki kemampuan untuk dapat
mengatur sistem budaya yang mengikat bagi warganya
dalam melangsungkan perkawinan karena batasan tentang
seseorang yang dikatakan dewasa masih belum jelas.
Menurut beberapa penelitian menyatakan bahwa
menikah merupakan kodrat manusia, dan sebagian
masyarakat juga meyakini bahwa pada wanita sejak mulai
mentsruasi beranggapan kesiapan wanita untuk
berketurunan dan tidak bertentangan dengan norma agama
tertentu, agama islam yang mereka anut.
Budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat
seperti anggapan negatif terhadap perawan tua terkesan
tidak laku jika tidak menikah melebihi usia 18 tahun atau
kebiasaan masyarakat yang menikah di usia sekitar 14-16
tahun, menikah pada kisaran usia ini dianggap sebagai
suatu kebanggaan, hal inilah menjadi faktor yang
mendorong tingginya jumlah perkawinan muda. Sebagian
orang tua berharap mendapat bantuan dari anak setelah
35
menikah karena rendahnya ekonomi keluarga. Faktor yang
mempengaruhi median usia kawin pertama perempuan
diantaranya adalah faktor sosial, ekonomi, budaya dan
tempat tinggal (desa/kota).
8. Dampak Pernikahan Usia Dini
Dampak yang terjadi akibat pernikahan usia dini menurut
(Kumalasari, 2019) yaitu:
a. Kesehatan perempuan
1) Alat reproduksi belum siap menerima kehamilan sehingga
dapat menimbulkan berbagai komplikasi
2) Kehamilan dini dan kurang terpenuhinya gizi bagi dirinya
sendiri
3) Resiko anemia dan meningkatnya angka kejadian depresi
4) Beresiko pada kematian usia dini
5) Meningkatkan angka kematian ibu (AKI)
6) Studi epidemiologi kanker serviks: resiko meningkat lebih
dari 10 kali bila jumlah mitra seks 6/ lebih atau bila
berhubungan seks pertama dibawah uais 15 tahun
7) Semakin muda perempuan memiliki anak pertama,
semakin rentan terkena serviks
8) Resiko terkena penyakit menular seksual
9) Kehilangan kesempatan mengembangkan diri
36
b. Kualitas anak
1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) sangat tinggi, adanya
kebutuhan nutrisi yang harus lebih banyak untuk
kehamilannya dan kebutuhan pertumbuhan ibu sendiri.
2) Bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang berusia dibawah
18 tahun rata-rata lebih kecil dan bayi dengan BBLR
memiliki kemungkinan 5-30 kali lebih tinggi untuk
meninggal.
c. Keharmonisan keluarga dan perceraian
1) Banyaknya pernikahan usia muda berbanding lurus
dengan tingginya angka perceraian
2) Ego remaja yang masih tinggi
3) Banyaknya kasus perceraian merupakan dampak dari
mudanya usia pasangan bercerai ketika memutuskan untuk
menikah
4) Perselingkuhan
5) Ketidakcocokan hubungan dengan orang tua maupun
mertua
6) Psikologis yang belum matang, sehingga cenderung labil
dan emosional
7) Kurang mampu untuk bersosialisasi dan adaptasi
Dampak yang terjadi akibat pernikahan usia dini pada ibu dan
bayi menurut (Teguh Firmansyah, 2020) yaitu:
37
a. Dampak bagi ibu
1) Intra uterin fetal death
Intra uterin fetal death atau kematian janin dalam
kandungan adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda
kehidupan janin dalam kandungan. Keadaan ini sering di
jumpai pada kehamilan di bawah 20 minggu dan sesudah
20 minggu, yaitu ditandai kematian janin bila ibu tidak
merasakan gerakan janin, biasanya berakhir dengan
abortus.
2) Premature
Persalinan prematur adalah suatu proses kelahiran bayi
sebelum usia kahamilan 37 minggu atau sebelum 3
minggu dari waktu perkiraan persalinan. Resiko terjadinya
kehamilan Premature, antara lain :
a) Usia ibu saat hamil kurang dari 20 tahun
b) Wanita dengan gizi yang kurang atau anemia
c) Lemahnya serviks
3) Perdarahan
Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan
karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses
involusi.
38
4) Kematian ibu
Kematian ibu saat melahirkan disebabkan oleh perdarahan
dan infeksi.
b. Dampak bagi bayi
a) Kemungkinan janin lahir belum cukup usia kehamilan
atau kurang dari 37 minggu, pada saat umur kehamilan
tersebut pertumbuhan janin belum sempurna.
b) BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) yaitu, bayi yang lahir
dengan berat badan kurang dari 2.500 gram. Kebanyakan
hal ini di pengaruhi oleh umur ibu saat hamil kurang dari
20 tahun dari ibu kurang gizi.
9. Pencegahan Pernikahan Usia Dini
Cara menghindari pernikahan usia dini menurut Teguh
Firmansyah (2019) memiliki 3 cara, yaitu:
a. Pendidikan Agama
Pendidikan agama adalah cara awal dalam pencegahan
pernikahan usia dini. Hal tersebut dengan memperbanyak
beribadah dan mengetahui batas umur menikah dalam agama
Islam.
b. Didikan Orang tua
Didikan orang tua mengutamakan persoalan pribadi anak.
Misal anak putri, selain sekolah juga mengisi waktu dengan cara
mengajarkannya memasak. Sementara untuk anak laki-laki,
39
tambahannya orangtua mengarahkannya dengan cara membantu
orangtuanya, semisal pergi ke sawah.
c. Menjauhi Pergaulan Negatif
Menjauhi pergaulan negatif, ini sangat perlu dijauhi oleh
seorang anak, sebab pergaulan seperti itu sangat menyesatkan
bagi seorang anak di bawah umur.
Sedangkan menurut Dokter Internsip Puskesmas Aikmel dalam
Duta SMART (2019) solusi dalam pencegahan pernikahan usia dini
adalah :
a. Pendidikan
Supaya dapat menata dan merencanakan masa depan yang
lebih cerah.
b. Bekerja
Jika orangtua tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya
karena faktor ekonomi, lebih baik anak diarahkan ke kegiatan
positif seperti bekerja.
40
D. Kerangka Teori
Pernikahan Dini
Pengertian Tujuan pernikahan
Manfaat pernikahan Kesiapan pernikahan
Batasan Usia Ideal Untuk Menikah
Usia dini
a. Kematangan Fisiologis atau
Kejasmanian
Faktor-Faktor
b. Kematangan Psikologis
Peneyebab
c. Kematangan Sosial, Khususnya
Pernikahan Usia Dini
Sosial–Ekonomi
1. Faktor individu d. Tinjauan Masa Depan atau
a. Pengetahuan Jangka ke Depan
b. Pendidikan e. Perbedaan Antara Perkembangan
2. Faktor keluarga Pria dan Wanita
a. Sosial ekonomi
keluarga
3. Faktor masyarakat
Dampak Pernikahan Usia Dini
lingkungan
a. Adat istiadat
(budaya) Pencegahan Pernikahan Usia Dini
Keterangan : yang di teliti
Tidak di teliti
Gambar 2.1 Kerangka teori sumber : Noorkasiani (2018), Arikunto (2018),
UNICEF (2018).
41
E. KerangkaKonsep
1. Pengetahuan
Pernikahan Dini
2. Pendidikan
Gambar 2.2 Kerangka Konsep