0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan4 halaman

Metode Perhitungan Saturasi Air dalam Formasi

Dokumen ini membahas berbagai metode untuk menghitung saturasi air dalam formasi geologi, termasuk Simandoux, Indonesian Equation, Waxman-Smith, dan Dual Water Model. Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan, terutama dalam memperhitungkan kehadiran shale dan jenis air dalam batuan. Metode Dual Water menawarkan analisis yang lebih detail dengan mempertimbangkan perbedaan antara bound water dan free water, meskipun memerlukan pengujian laboratorium untuk aplikasi yang tepat.

Diunggah oleh

rafiqfarhan412
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan4 halaman

Metode Perhitungan Saturasi Air dalam Formasi

Dokumen ini membahas berbagai metode untuk menghitung saturasi air dalam formasi geologi, termasuk Simandoux, Indonesian Equation, Waxman-Smith, dan Dual Water Model. Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan, terutama dalam memperhitungkan kehadiran shale dan jenis air dalam batuan. Metode Dual Water menawarkan analisis yang lebih detail dengan mempertimbangkan perbedaan antara bound water dan free water, meskipun memerlukan pengujian laboratorium untuk aplikasi yang tepat.

Diunggah oleh

rafiqfarhan412
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MUHAMMAD RIZKI

16/404642/PTK/11059

Saturation Water
1. Simandoux (1963)

Persamaan saturasi ini berdasarkan log resistivitas, log densitas, dan log neutron. Metode
Simandoux menggunakan log densitas dan log neutron untuk menentukan porositas. Adapun
fraksi lempung dapat ditentukan dari log Gamma Ray, SP dan indicator kehadiran lshale lainnya.
Metode ini baik digunakan pada pasir yang mengandung dispersed dan laminated shale.

Formula :

[√ ( ) ]
2
0 , 4 . Rw 5 .∅ e Vsh Vsh
Sw= . + −
∅e
2
Rw . Rt Rsh Rsh

Metode Simandoux memiliki kelebihan diantaranya pada persamaan diatas kehadiran shale
sudah mulai diperhitungkan. Selain itu metode ini sangat baik dalam melakukan perhitungan
water saturation pada formasi yang memiliki kadar salinitas air yang tinggi atau saline water.
Metode ini memiliki kelemahan yaitu metode ini tidak memperhitungkan cara persebaran
dan jenis shale yang ada. Padahal jenis shale yang berbeda tentu akan menyebabkan dampak
yang berbeda pula pada pembacaan log.

2. Indonesian Equation (1971)

Persamaan ini dikembangkan berdasarkan karakteristik tipikal dari fresh water yang berada pada
suatu formasi dan tingginya kandungan shale yang berkisar antara 30% - 70% yang sering
dijumpai pada reservoar minyak di Indonesia. Dalam metode ini, hubungan konduktivitas antara
Rt dan Sw merupakan hasil dari konduktivitas lempung, air formasi dan konduktivitas lainnya
yang diakibatkan interaksi anatara kedua konduktivitas tersebut.

Formula :

[ ]
m
n
1 Vshd ∅ e2
= + . Sw 2
√ Rt √ Rsh √a . Rw
dimana :

Vsh
d=1− atau d=1
2

Metode ini memiliki keleebihan dimana kehadiran shale sudah diperhitungkan. Metode ini
sangat baik dalam melakukan perhitungan water saturation pada formasi yang mengandung low
salinity water / fresh water. Metode ini memiliki kelemahan yaitu metode ini tidak
memperhitungkan cara persebaran dan jenis shale yang ada. Padahal jenis shale yang berbeda
tentu akan menyebabkan dampak yang berbeda pula pada pembacaan log.

3. Waxman – Smith (1968)

Waxman-Smith menurunkan persamaan untuk mencari Sw dalam shaly-sand berdasarkan


physical model yang menghubungkan konduktifitas formasi yang jenuh air dengan
konduktivitas air serta kandungan shale yang ada pada suatu formasi.

Formula :

2
1 Sw B . Qv . Sw
= ¿ + ¿
Rt F . Rw F

dimana :
F* dan Sw : rongga pori yang saling berhubungan.
B : konstanta yang sangat bergantung pada nilai Rw.
Qv : konstanta yang dapat ditentukan dengan mengkalikan volume clay
dengan nilai CEC (Cation Exchange Capacity ).

Metode ini didasarkan pada percobaan laboratorium dan prinsip petrofisika yang baik.
Meskipun demikian, terdapat kekurangan yaitu tidak bisanya didapatkan nilai CEC dari
perhitungan log. Korelasi dari data yang diberikan dapat dibuat berdasarkan CEC dari analisis
core dan data log lainnya.

4. Dual Water Model (1977)

Dual water model mengusulkan bahwa terdapat dua jenis air berbeda yang dapat
ditemukan dalam lubang pori suatu batuan, yaitu :
 Air yang berada dekat dengan permukaan butiran disebut sebagai bound water atau
clay water dengan resistivitasnya Rwb. Air ini memiliki sifat yang saline dimana hal ini
ditunjukkan dengan tingginya nilai resistivitas air ini.
 Air yang berada jauh dari permukaan suatu butiran disebut free clay water dengan
resistivitasnya Rwf. Air ini memiliki sifat yang lebih fresh dan dicirikan dengan sifatnya
yang lebih tidak resistif dibandingkan dengan bound water. Air ini juga memiliki
kemampuan untuk berpindah-pindah antar pori dalam batuan.
Formula :

Cw . Sw ( CwB−Cw ) . VqQv . Sw
2
Ct = +
F0 F0

dimana :
CwB : konduktivitas bound water.
VqQv : jumlah shale yang berdampak langsung pada jumlah bound water
dan kemampuannya untuk terkonduksi.
F0 : total dari porositas batuan yang saling terhubung.

Model ini mengasumsikan bahwa jumlah bound water secara langsung berkaitan dengan
kandungan shale yang ada pada formasi. Jika volume shale bertambah, maka porositas yang
akan terisi oleh bound water juga akan bertambah besar. Metode ini memperhitungkan
perbedaan air yang ada pada suatu formasi yaitu free water dan bound water.

Metode Dual Water ini memiliki kelebihan diantaranya dapat memperhitungkan dampak
kehadiran shale secara lebih spesifik karena pada metode ini kehadiran shale diteliti dampaknya
hingga tingkat ion. Sehingga baik jenis shale maupun cara pendistribusiannya dapat terlihat dari
nilai CEC nya. Hal ini menyebabkan perhitungan dengan menggunakan metode ini menjadi
sangat detail. Selain itu, metode ini juga sudah memperhitungkan perbedaan air yang ada pada
suatu formasi yaitu free water dan bound water.

Metode ini memiliki kekurangan yaitu metode ini tidak dapat langsung diaplikasikan dari
data log karena metode ini membutuhkan pengujian laboratorium untuk mengetahui nilai CEC
nya dengan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Daftar Pustaka

Dwiyono, I.F., Winardi S., 2014, Proseiding Seminar Nasional Kebumian Ke-7: Kompilasi
Metode Water Saturation Dalam Evaluasi Formasi, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas
Teknik, Universitas Gadjah Mada

Kumar, H. K. C., 2010, On the Application of Simandoux and Indonesia Shaly Sand Resistivity
Interpretation Models in Low and High Rw Regimes, 8th Biennial International Conference
& Exposition on Petroleoum Geophysics.

Kurniawan, 2002, Evaluation of the Hydrocarbon Potential in Low – Salinity Shaly Sand, MSc
Thesis at Dept. of Petroleum Engineering of Louisiana State University and Agricultural and
Mechanical College.

Anda mungkin juga menyukai